Tittle: Liar

Author: Park Chan Gyu

Main cast: Park Chan Yeol, Byun Baek Hyun

Other cast: cari lah sebisa anda/?

Genre: drama,romance, alur gaje (GS)

Disclaimer: cast miliki Tuhan keluarga agency dan para fans, tapi BaekYeol itu milik saya PROTES?

Warning: ini hanya fantasy belaka okeh, GenderSwitch , gajering banget deh

Summary: gadis beasiswa di SM high school selalu saja mendapat perlakuan yang tidak baik dari murid murid kalangan atas, tapi dia memiliki rahasia yang membuat banyak orang akan tercengang, apa itu?

….

….

Park… Chan… Gyu…

HAPPY READING~

Namja kecil berumur 10 tahun mendekati gadis bertubuh mungil yang sedang duduk dibangku taman belakang rumah. Memakaikan jepitan hasil karyanya sendiri diponi panjang Gogi.

''Gogi semakin manis'' puji namja mungil itu menampakkan senyum bodohnya. Yeoja mungil itu bingung dan mengambil jeepitan yang berada di poninya yang panjang itu

''bunga kering?'' namja mungil itu mengangguk dengan cepat

''aku membuatnya sendiri'' yeoja mungil itu mengembalikan jepitan berhiaskan bunga lili yang sudah mongering

''aku tidak suka'' yeoja mungil itu langsung pergi masuk kerumah milik Himme untuk menemui anak itu. namja mungil berkacamata langsung murung ketika benda yang ia buat susah payah ternyata ditolak oleh gadis kecil yang ia sayangi itu. karna kesal, Dobi membuang benda itu lalu memilih untuk pulang kerumahnya

.

.

.

.

Hari ini Baekhyun berangkat sekolah, sesampainya disekolah banyak mata meliriknya, bukan tatapan sinis melainkan tatapan takut. Yang biasanya menjauhi karna dia jelata kini menjauh karna Baekhyun anak pertama dari keluarga Kim yang terkenal sangat kaya itu. Baekhyun menundukkan kepalanya, kini rahasianya sudah terkuak, entah dia akan tetap dibully oleh penguasa atau tidak.

''Baekhyun!'' yeoja itu mengangkat kepalanya

''Luhan?''

''ah kau mempunyai rahasia yang membuat semua terkejut kau tau!''

''kau juga mempunyai rahasia kan? Bersama penguasa berwajah datar dan cadel itu!'' Luhan diam, sepertinya kenyataan bahwa dia menjalin hubungan bersama Sehun sudah ketahuan oleh teman baiknya ini

''ngomong-ngomong aku tidak akan ujian disini'' beritahu Luhan merangkul pundak sempit milik temannya ini

''lalu?''

''aku akan kembali ke China, aku mau ijazah ku berwarga negaraan China'' jelas Luhan

''kau membiarkanku bertahan disini sendiri?''

''hei! Kau ini sudah selamat dari bully karna kau anak dari Tuam Kim, man!'' Baekhyun menghela nafas mengingat bahwa statusnya kini sudah berubah, marganya juga bukan Byun lagi tapi Kim, Marganya sejak lahir.

.

.

.

.

Hanmi berjalan melewati koridor yang kosong, gadis bermata musang itu berpapasan dengan yeoja bermarga Son yang belum lama ini berada di Korea. Tepat ketika bersampingan, lengan kiri Wendy ditahan, kepalanya menengok ke pelaku itu, begitupun dengan Hanmi. Dia bahkan menampakkan senyum liciknya kearah Wendy lalu melepaskan genggaman dan berlalu, membuat Wendy terbingung-bingung dengan tingkah yeoja bermarga Yoo

''kau selangkah lebih lamban, Son'' gumam Hanmi yang sudah menjauh dar Wendy. Sungguh senyuman itu senyuman paling mengerikan…

''jadi kebakaran itu disengaja?'' Tanya seorang gadis berumur 15 tahun menatap tak percaya detektif yang memeriksa TKP secara rahasia

''ya, aku fikir ini disengaja'' jawab detektif itu bermarga Kang

''lalu siapa pelakunya?'' detektif itu melihat notenya

''mungkin orang terdekat, yang sering mengunjungi rumahmu dan yeah dekat dengan keluargamu'' jawab detektif itu. yeoja yang sudah beranjak remaja mencoba berfikir dan memutar otaknya

''jika benar, ini gila!'' pekik gadis itu

.

.

.

.

Baekhyun memasuki kelasnya, biasanya dia akan mendapat tatapan jijik dan cemoohan yang membuat telinganya selalu berdengung. Tapi sekarang tidak, berubah menjadi tatapan gugup dan sesekali terdengar bisikan. Tanpa peduli, gadis beasiswa itu menuju bangku dan mendudukinya. Di atas mejanya terdapatboneka berukuran sangat mini berbentuk kartun yang sangat disukai oleh seseorang. Baekhyun mengambilnya dan menatap intens boneka mini itu

''shippo, Himme…''

Gogi kembali mengunjungi rumah besar itu, kali ini dia membawa bingkisan. Hari ini adalah ulang tahun adik kesayangannya setelah kkame, dia ingin memberikan kado. Pintu terbuka, Gogi berlari menuju ruangan yang dapat dipastikan tempat adiknya tengah bermain

''Himme, lihat eonnie bawa sesuatu!'' gadis yang sedang mengunyah buah itu berlari dengan tergesa-gesa menuju kakak perempuannya

''apa itu eonnie?'' Tanya gadis mungil tu menatapnya dengan penasaran. Gogi menyodorkan bingkisan itu. dengan cepat Himme mengambil dan membukanya

''woah! SHIPPO!'' girang yeoja mungil itu ketika mendapat hadiah

''selamat ulang tahun yang ke-10, Himme'' ucap Gogi

''terimakasih eonnie!''

Seseorang yang duduk tak jauh dari Baekhyun melirik kearah gadis itu. tersenyum kecil melihat raut wajah yang berubah ketika mendapati boneka mungil yang sengaja ditaruhnya

Ternyata kelas IIX-A sedang ulangan harian, selama mendekati ujian nasional kelas IIX akan sering ulangan dan latihan untuk persiapan. Baekhyun mencoba untuk focus dalam ulangan Bahasa inggris, tapi entah kenpa pikirannya seperti terbagi-bagi. Dia melirik Hanmi saat anak itu sudah menyelesaikan ulangan itu.

Ulangan sudah selesai, dan murid dikelas A menghela nafas lega. Termasuk Baekhyun, gadis itu berjalan melewati koridor yang sepi. Matanya menatap serius boneka mungil ditangannya. Boneka yang dulu ia hadiahkan untuk teman yang sudah dianggapnya seperti adik

.

.

.

.

Jongin sedang berada di café, menunggu seseorang yang sudah ia kabari. Sembari menunggu ia chattingan dengan tunangan tercintanya. Bunyi lonceng di café itu berbunyi menandakan datangnya pelanggan, mata Jongin teralih dan tersenyum saat mendapati pelanggan itu adalah orang yang ingin dia temui

''maaf'' ucap orang itu duduk berhadapan dengan namja bermarga Kim tersebut

''tak apa'' balas Jongin

''kau ingin membicarakan apa?'' Tanya orang itu to the point, Jongin tersenyum kecil. Gadis yang selalu memasang wajah dinginnya memang tak suka bertele-tele dan selalu menepati janji, itulah kenapa Jongin selalu meminta bantuan orang ini

''bukan kah kau itu dia?'' Tanya Jongin menunjukkan foto yang sudah cukup using. Gadis itu –Hanmi- menatap intens foto yang juga ia miliki

''darimana kau mendapatkannya?''

''itu tidak penting, cukup jawab saja''

''ya'' jawab Hanmi dengan sangat singkat. Jongin tesenyum, berarti pemikirannya tidak salah

''jadi kau gadis itu, kau benar-benar misterius, Bung!'' Hanmi tetap memasang wajah dinginnya

''sudah? Aku pulang'' pamit Hanmi meninggalkan Jongin

''seperti biasa, kau datang dan pergi sesuka hatimu'' gumam Jongin

''tapi aku merindukan dirimu yang dulu'' lirih Jongin

''Kkame!'' panggil seorang gadis kecil kuncir kuda berlari ke namja kecil yang sedang bermain robot

''aku mencarimu!'' ucap yeoja mungil itu berjongkok menatap namja kecil yang acuh padanya

''Kkame masih marah pada Himme ya'' gadis kecil itu memberengut, namja kecil itu melirik sedikit, ada perasaan tak enak pada gadis kecil cerewet yang begitu ia sukai

''Kkame tidak marah pada Himme'' namja kecil itu tetap focus dengan robot transformernya

''tapi tadi Kkame menjauhi Himme, Gogi eonnie mengatakan kalau Kkame sedang marah'' gadis kecil itu mengerjapkan mata musangnya yang lucu

''Kkame tidak marah kok, jadi Himme ayo tersenyum lagi ne'' namja kecil itu tersenyum berharap gadis kecil bawel itu membalas senyumannya. Dan benar gadis mungil itu tersenyum dan menampakkan eyesmilenya

''Kkame sudah tidak marah lagi, benar ya?'' namja yang dipanggil Kkame itu mengangguk kecil

''mungkin jika mereka tidak pergi, kau akan tetap menjadi Himme yang manis dan polos'' tambah Jongin menyesap coffe latte yang tadi dipesannya

.

.

.

.

Seorang gadis berumur 11 tahun menatap sendu foto ibu tercinta yang begitu ia rindukan. Tatapan ceria yang selalu Nampak diwajah cantiknya kini meredup digantikan tatapan kosong. Hatinya yang selalu penuh dengan kegembiraan kini pun juga mengosong. Mata yang selalu ikut tersenyum ketika bibir itu tersenyum menjadi dingin. Tak ada kehangatan dalam diri itu, tak ada kegembiraan didalamnya. Gadis kecil itu bagaikan mayat hidup, setelah mengetahui kenyataan sebenarnya. Kenyataan menyakitkan yang begitu menyayat hati

gadis kecil yang kini sudah meranjak dewasa menginjak umur 18 tahun, mengingat lagi dirinya yang dulu ketika di bohongi oleh ayah yang harusnya memberitahukan kebenaran bukan kebohongan. Mengingat ketika dirinya ditinggal oleh orang-orang yang disayangi dan dilupakan. Gadis itu menggenggam erat gelas kaca yang taka da isinya, menggenggamnya sangat erat, sorotan matanya menunjukkan kebencian dan luka yang teramat dalam

''anak-mu lah yang akan merasakan apa yang ku-rasakan, Son!'' desisnya

.

.

.

.

Malampun tiba, keluarga Park sedang memiliki acara makan malam bersama keluarga yang akan menjadi besan mereka. Membahas tentang masa depan dan juga membahas masa lalu yang terdengar indah namun tidak bagi gadis bermata musang yang juga berada disana.

''jadi, kapan Chanyeol dan Wendy akan ke jenjang lebih serius? Bertunangan mungkun?'' Tanya yeoja yang sudah paruh baya, sepertinya dia ibu dari gadis yang ada disebelah anak tertua keluarga Park

''bagaimana kalau minggu depan?'' Tanya balik yeoja yang tak kalah cantik dengan mata pandanya dan sudah paruh baya

Chanyeol hanya diam saja, sedikit melirik kea rah yeoja yang selalu memasang wajah dingin. Dirinya masih harus memecahkan teka-teki dan mengingat masa lalunya. Sebenarnya, Chanyeol sudah bertanya ttentang masa lalunya kepada gadis dingin itu, tapi yang didapatkannya hanyalah jawaban singkat dan dingin

''Chanyeol, kau setuju jika acara pertunangan-mu bersama Wendy dilakukan mingun depan?'' Tanya nyonya Park kepada sang anak yang terlihat pendiam akhir-akhir ini. Yang ditanya hanya menatap sang ibu

''aku rasa itu terlalu cepat eomma'' tolak Chanyeol dengan halus

''iya ahjumma, aku berpendapat dengan Chanyeollie'' sambung Wendy memeluk mesra lengan kiri milik kekasihnya, membuat sepasang mata musang itu jijik melihatnya

''aku ke toilet'' izin gadis yang selalu diam dan dingin

''hyena berbulu merak, Cih!'' sinis gadis itu dalam perjalanan keluar rumah mewah iitu,yang ternyata adalah Hanmi, dia diundang oleh keluarga Park untuk mendatangi makan malam.

Hanmi tidak ke toilet melainkan memilih untuk pulang kerumahnya. Berlama-lama di acara makan malam itu bisa membuat darahnya mendidih menahan amarah yang berlomba-lomba untuk keluar

''kau sudah pulang?'' Tanya seorang pria paruh baya yang sedang menikmati the hangat diruang tamu yang begitu luas, saat melihat putri satu-satunya baru pulang dari acara makan malam di salah satu kerabat mendiang istrinya.

''terllau membosankan'' jawab Hanmi dingin menaiki tangga menuju lantai dua yang terdapat kamar pribadinya

''bukankah ada keluarga calon kakak ipar-mu?'' Tanya pria tua itu yang ternyata adalah ayah dari Yoo Hanmi

''aku tak peduli'' jawab Hanmi lagi memasuki kamar dan menyalakan lampu. Mendudukkan dirinya di kursi belajarnya, tangannya terulur mengambil foto yang diambil sekitar 9 tahun yang lalu

''Chanyeol sudah tahu Himme adalah aku, tapi Baekhyun belum'' gumamnya memandangi salah satu yeoja mungil berambut lurus sepinggang yang tengah tersenyum dan berpose 'V'. menaruh foto itu lalu mengambil gantungan boneka berbentuk siput berwarna merah muda

''jika aku memakainya, kau akan mengenaliku Kim''

.

.

.

.

Sebulan lagi, anak XII akan mengikuti ujian Negara untuk melanjutkan ke universitas pilihan masing masing. Baekhyun yang sedang focus belajar, tiba-tiba teralihkan oleh kedatangan seorang gadis yang dulunya selalu ikut membully, walau hanya sekedar melihat saja. Entahlah dia merasa curiga pada gadis bermarga Yoo yang selalu terlihat misterius itu. matanya terbelalak saat melihat gantungan tas yang dipakai oleh gadis dingin tersebut

''gantungan itu?''

''eonnie, gantungan eonnie sangat bagus ne!'' puji gadis mungil terus menerus menatapi gantungan dengan bandul berbentuk siput berwarna merah muda yang ada di tas kecil milik gadis yang lebih tua darinya

''Himme mau?'' tawar Gogi melepaskan gantungan itu dari tasnya

''Himme mau eonnie!'' jawab Himme penuh semangat. Gogi memberikannya walau ada perasaan tak rela, bagaimanapun gantungan itu pemberian dari namja gembul yang ia sukai

''ini untuk Himme saja, tolong dijaga dengan baik ne!'' ucap Gogi penuh saying, Himme menerima benda itu

''Gumawo eonnie, Himme pasti akan menjaganya!'' girang Himme, Gogi menatap adik perempuannya. Gadis yang lebih muda darinya ini memang periang dan juga sangat polos!

Baekhyun teringat lagi akan masa lalunya, ia mencoba menghilangkan firasat bahwa gadis dingin itu adalah Himme, tapi itu tidak berhasil. Gadis itu memilih untuk ke lokernya mengambil sesuatu yang tertinggal. Gadis berwajah datar tersebut menatap kepergian Baekhyun, merasa puas dengan yang di lakukannya

Baekhyun membuka lokernya setelah menggunakan kunci. Matanya menangkap sesuatu tergeletak diatas buku tebalnya. Mengambilnya karna rasa penasaran, mungkin saja itu surat terror? Baekhyun jadi merinding memikirkannya. Tanpa ragu gadis itu membuka suratnya dan membaca isi dari surat tersebut. Dia sangat terkejut membacanya

'kau belum mengingatku? Bahkan seseorang yang kehilangan ingatannya mampu mengenaliku dengan cepat, aku selalu ada disekitarmu, mengawasimu dengan caraku, temui aku di rumah tua yang selalu kau kunjungi 7 tahun yang lalu'

Baekhyun gemetar, terbukti dan kertas yang ia pegang ikut bergetar. Merasa firasatnya kali ini benar, dia yakin gadis berdarah dingin itu adalah seseorang yang selalu menghantui pikirannya setelah Chanyeol.

.

.

.

.

Menjelang sore, terdapat wanita paruh baya yang masih memiliki wajah cantik berdiri di depan gerbang yang didalamnya terdapat rumah tua yang dulu seing ia kunjungi. Tapi setelah kejadian itu, dirinya tak pernah datang lagi, dia memilih menetap di negri orang, Belanda. Seorang gadis berdiri di belakang wanita tua itu

''mengingat masa lalu-mu, nyonya Son?'' Tanya orang itu, membuat wanita tua yang tengah melamun membalikkan badannya. Menatap tak percaya seseorang gadis yang semalam ada di acara makan malam keluarga Park

''kau…'' gadis itu tersenyum miring, terlihat seperti seorang evil

.

.

.

.

Chanyeol kembali mendapat bingkisan. Sepertinya itu adalah petunjuk selanjutnya yang Hanmi kirimkan untuknya. Membuka bingkisan dan menatap bingung isi bingkisan tersebut. Sebuah kalung liontin dengan ukiran huruf 'G & D' berwarna keemasan. Dia membuka liontin tersebut, dan terlonjak kaget ketika mendapati isi liontin tersebut bertuliskan 'Chanyeol' lalu 'Baekhyun'

Memori yang telah lama menghilang tiba-tiba muncul dengan bersamaan. Membuat kepala Chanyeol berdenyut dan ini lebih parah dari yang sebelumnya. Pria itu bahkan menggeram karna rasa sakit dikepalanya tak hilang-hilang, sampai akhirnya… tubuhnya kehilangan kesadaran

.

.

.

.

Baekhyun memasuki rumah tua yang sering ia kunjungi dulu. Dalam dirinya ada keraguan, tapi otaknya terus menyuruh kaki-kaki mungil itu berjalan ke rumah tua yang sudah lama tak dihuni. Menghelas nafas mencoba menguatkan dirinya. Dia melihat gadis yang memiiki postur tubuh tak asing membelakanginya, tubuh itu tergerak dan kini berpapasan langsung dengan Baekhyun

''annyeong, nona Kim'' sapa gadis itu membuat Baekhyun terkejut lalu kaki-kaki mungilnya melemas saat mengetahui bahwa firasatnya benar

''Yoo Hanmi…'' panggil Baekhyun dengan nada pelan, gadis yang dipanggil Hanmi hanya tersenyum tipis

''akhirnya kau mengingatku bukan?'' Tanya Hanmi mendekati Baekhyun

''Himme…'' gadis berwajah dingin itu berdiri tepat dihadapan Baekhyun

PLAK! Sebuah tamparan telak di pipi kanan hanmi. Yeoja itu tersenyum miris

''kenapa… kenapa kau baru muncul!'' pekik Baekhyun dengan air mata yang nyaris tumpah itu

''dan kenapa meninggalkan-ku sendirian?'' Tanya Hanmi dengan nada dingin tanpa peduli pipinya yang terasa panas akibat tamparan yang begitu kencang. Mata sipit Baekhyun membola, lidahnya menjadi kelu, air matanya tak dapat dibendung dan mengalir begitu deras melewati pipi mulusnya, kakinya melemas dan perlahan jatuh ke lantai ruangan tamu yang dingin

''bukan mauku untuk pergi dari Himme dan Dobi!''

''orang tua-ku membawaku pergi dari kalian'' isak Baekhyun, tatapan Hanmi berubah menjadi sendu

''tak apa meninggalkan-ku, tapi kau meninggalkan Dobi oppa sendiri, dia berusaha untuk berdiri sendiri'' ucap Hanmi dengan suara bergetar, walau dia tak ada untuk oppa tersayang karna Chanyeol kecil dilarikan ke luar negri tapi dia tahu kondisi oppanya yang sebenarnya karna yeah dari kecil Himme terkenal sebagai seorang 'stalker' yang ternyata keturunan dari kakeknya yang bermarga Park tersebut, Park harabeoji yang juga kakek kandung Chanyeol dan Jimin

Baekhyun semakin kejar mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Hanmi atau Himme

''jika oppa benar-benar kembali dari ingatannya, apa yang akan kau lakukan?'' Hanmi berjongkok untuk berhadapan langsung dengan eonnienya

''aku akan meminta maaf''

''kau tau, penyesalan tak akan merubah segalanya'' ucap Hanmi yang sudah kembali menjadi dingin

''ya aku tau, mungkin aku akan menghilang dari kehidupannya''

''kau telah meninggalkannya sejak dulu, Kim'' Baekhyun merasa de javu, dulu Jongin pernah mengatakan itu padanya dan kini terulang lagi

''baiklah, aku tak akan menghilang, tapi aku akan jaga jarak, mungkin'' perkataan Baekhyun membuat Hanmi tertawa kecil

''sejak kau berada di Korea, kau menjaga jarak. Padahal dia tertarik padamu, meski kau orang miskin dan bermarga Byun, marga yang begitu hina bagi keluarga Park'' ejek Hanmi, Baekhyun terkejut, itukah mengapa Chanyeol selalu berusaha membully-nya, apa itu hanya meminta perhatian semata?!

''ku peringatkan, jika kau pergi aku lah yang akan mengejarmu, jika dia membencimu aku akan membantumu, tenang dia masih mencintai cinta pertamanya bukan Wendy'' ujar Hanmi, sungguh setelah 10 tahun lamanya Hanmi tak pernah berbicara panjang kini dia berbicara cukup panjang pada Baekhyun, mungkin karna menyangkut masa lalu, entahlah…

Baekhyun menatap tak percaya gadis dingin yang dulu dikenalnya begitu ceria. Hanmi meninggalkan Baekhyun sendiri, kebiasaan Hanmi selalu meninggalkan orang, mungkin karna dulu dia yang sering ditinggalkan

.

.

.

.

''umma… umma!'' panggil namja gembul dengan kacamata kotaknya memanggil sang ibu

''ada apa Dobi?'' Tanya sang ibu yang sedang berada didapur membuat kue

''umma tau tidak nama asli Gogi?'' Tanya balik Namja kecil itu yang sudah berdiri di sebelah ibunya

''Gogi? Anak dari keluarga Kim itu?'' namja mungil itu mengedikkan bahunya tidak tau

''oh dia bernama Kim Baekhyun sayang, kenapa?''

''lalu nama Dobi sebenarnya siapa?''

''Park Chanyeol, anak dari Yifan Park dan Zitao Park'' jawab nyonya Park memasukkan adonan ke dalam oven

''ooohhh Baekhyun dan Chanyeol ternyata'' Dobi menganggukkan kepalanya

''ada apa memangnya?'' Tanya Zitao sang ibu yang sudah mengatur suhu panas oven

''aku mau membeli liontin dan menulis nama kita berdua'' jawab namja mungul berumur 10 tahun itu menunjukan senyum kelincinya, membuat sang ibu ikut tersenyum

Chanyeol bangun dari tidurnya, ingatan itu telah muncul. Keringat yang membasahi kulit tak ia pedulikan, yang ia pedulikan adalah orang yang telah lama menghantuinya dan kini ia telah mengetahui siapa orang itu

''Kim Baekhyun…'' lirihnya

.

.

.

.

.

Chanyeol setengah berlari menuju rumah tua yang ternyata tak begitu jauh darinya. Dia harus bisa benar-benar mengingat masa lalunya walau pada kenyataan dia sudah mengingatnya. Pria itu sudah didepan rumjah tua yang semasa kecilnya selalu ia singgahi. Kakinya melangkah masuk kedalam rumah tersebut

ketiga bayangan anak kecil kembali muncul. Dan ketiganya tengah bermain masak-masakan, mereka tertawa bersama-sama, oh betapa indahnya masa itu bagi Chanyeol. Tangannya terkepal, ada rasa kebencian yang muncul begitu saja ketika mengingat tragedy tersebut. Mata bulatnya menatap foto berukuran 10R yang terdapat wanita cantik tengah memeluk putrinya yang tak kalah cantik

''Ahri ahjumma…'' ucap Chanyeol ketika melihat bayangan seseorang yang selalu ada untuknya tengah bermain bersama gadis kecil yang ia ketahui adalah Himme, adik sepupu satu-satunya yang memiliki gender wanita.

.

.

.

.

''jadi yeoja yang selama ini membuatku pulang pergi Korea-Belanda adalah Hanmi, umma?'' Tanya gadis bermarga Son kepada sang ibu yang tengah memasang wajah seriusnya

''sepertinya kau sulit untuk mendapatkan kunci itu'' ucap sang ibu menatap anaknya yang begitu terobsesi pada namja bermarga Park yang seumuran dengannya

''lalu bagaimana caranya? Aku tidak mau waktu yang sudah lama ku relakan terbuang sia-sia, hanya karna yeoja dingin itu, umma!''

''kau tidak tau! Gadis itu juga kunci bisu dari segalanya, beruntung dia hanya tau bahwa kecelakaan itu tidak disengaja!'' bentak sang ibu terlihat emosi, oh apakah kecelakaan yang merenggut nyawa anak kedua dari keluarga Park itu disengaja?

.

.

.

.

TBC

A/N: marga Wu Yi Fan, Huang Zitao sama Byun Baekhyun, aku rubah ya. Maaf nih aku telat update T^T aku baru selesai sama tugasku dan baru ada paketan hehe. Aku bayar rasa minta maaf aku dengan chap yang panjang, mungkin chap kedepannya juga panjang kayak chap ini soalnya udah mau End hihi, tenang aku bikin HapEnd kok tapi kalo dianggepnya gantung, aku usahain buat bikin sequelnya. Jangan lupa review lagi ^^