Ini adalah hari pertama Hinata mulai bekerja di Namikaze Corp. Dia sudah menyiapkan semuanya dengan baik dan teliti. Dari ramalan zodiac yang dibacanya kemarin malam, hari ini adalah hari keberuntungannya. Bukannya Hinata percaya ramalan atau semacamnya, hanya saja dia berharap apa yang dikatakan ramalan itu benar.
Dia sudah menyemir sepatu hitam berhak lancipnya, yang sekarang terlihat lebih mengkilap. Setelan baju kerjanya yang berwarna ungu amethyst itu sudah disetrika licin. Rambut biru gelapnya yang awalnya sepinggang pun sudah dipotong, kini tinggal setengah punggungnya yang membuatnya terlihat dewasa. Dia ingin tampil berbeda kali ini.
Yup. Hinata sudah siap untuk pergi bekerja. Tas tangan berwarna hitam sudah dijinjingnya. Sekali lagi dia memperhatikan penampilannya di cermin. Sempurna!
Saat dia mulai melangkahkan kakinya keluar pintu rumah, dia hanya berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar.
"Ittekimasu!"
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Love at First Chat © Nimarmine
Romance/ Drama
Rate T
NaruHina always and forever
Warning: Out of Character, Alternative Universe, Typo(s), bahasa kurang baku, cerita pasaran.
Dipersembahkan untuk NHLicious. Tidak suka? Jangan menyiksa diri Anda.
Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini. Jika ada kesamaan ide, saya tidak tahu apa-apa.
Yosh … Douzo!
.
.
.
Love at First Chat
….
Hiruk pikuk suasana perkantoran sudah mulai terasa. Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tetapi sudah banyak karyawan yang datang. Padahal jam kerja baru dimulai pukul setengah delapan.
Hinata tidak mau terlambat di hari pertamanya bekerja. Dia ingin menjadi karyawan teladan. Ya, setidaknya supaya dia bisa bertahan lama di perusahaan ini, tanpa harus dipecat dengan alasan sering terlambat atau pun kurang disiplin.
Dia menuju ke arah lift, kemudian menekan tombol yang menunjukkan angka dua. Setelah pintu lift terbuka, dia kemudian menuju ruangan dimana dia wawancara kemarin. Dia ingin menemui sang General Manager, Shizune, untuk menanyai di divisi mana dia ditempatkan.
Dia mengetuk pintu sebanyak dua kali, kemudian masuk setelah mendapat izin. "Sumimasen, Shizune-buchou."
"Oh, ternyata kau, Hinata-san. Silahkan duduk."
Hinata sedikit membungkuk sebelum mengucapkan, "Terima kasih."
"Kau ke sini pasti ingin menanyakan dimana kau ditempatkan." Setelah mendapat anggukan dari Hinata, Shizune melanjutkan. "Mulai sekarang, kau akan bekerja di divisi Produk. Ini adalah bagian dimana kau akan membantu menemukan ide untuk terus mengembangkan produk kita. Kurasa, kau mampu di posisi ini."
Hinata merasa sedikit gugup. Dia cukup ragu dengan pekerjaannya nanti. Tapi dia tidak akan tahu sebelum mencoba. "Baik, saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Bagus. Tekad seperti itu yang aku inginkan."
Namikaze Corp adalah perusahaan yang berindustri di bidang makanan dan minuman ringan. Mereka harus terus memperbarui produknya agar mampu bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis. Untuk itu, mereka membutuhkan seseorang yang mempunyai kreatifitas tinggi dalam menciptakan produk siap saing. Mereka tidak pernah main-main dalam memilih karyawan.
Orang yang dipercaya dalam perekrutan karyawan, salah satunya adalah Shizune ini. Karena pengalamannya yang sudah menggunung itu, dia mampu melihat seseorang dengan potensi yang baik.
"Kuharap kau bisa bekerja sama dengan baik dengan karyawan yang lainnya. Dan manager di divisi Produk adalah Naruto Namikaze. Kau sudah pernah bertemu dengannya, kan? Pemuda yang kemarin masuk ruangan ini."
Bingo! Keakuratan ramalan sudah terbukti. Semoga keberuntungannya terus berlanjut. Hinata tersenyum di dalam hati. "Ah! Iya. Namikaze-san jugalah yang menunjukkan ruangan ini."
"Baguslah kalau begitu. Walau pun dia serampangan, tapi dia itu pekerja keras. Semoga kau bisa betah dengannya."
Hinata tidak tahu maksud lain dibalik perkataan General Manager ini. Oleh sebab itu, dia kalem saja melihat senyum tipis wanita cantik itu. "Ya, pasti saya akan betah."
Shizune melihat jam dinding yang berada tepat di atas pintu ruangannya, yang menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Tidak terasa perbincangannya dengan Hinata memakan waktu cukup lama.
"Baiklah, sebentar lagi kerja akan dimulai. Ini kartu pegawaimu, silahkan absen dengan ini." Ujar Shizune sambil menyerahkaan kartu berwarna kuning muda tersebut.
"Terima kasih, Shizune-buchou. Saya permisi dulu."
"Ya."
Setelah keluar dari ruangan General Manager, Hinata menuju mesin pencatat kehadiran untuk memasukkan kartunya ke sana. Kemudian, dia mencari ruangan divisi Produk melalui denah ruangan yang ada di setiap koridor perusahaan. Setelah ketemu, dia langsung memasuki lift menuju lantai delapan, dimana ruangan divisi itu berada.
Dia memasuki ruangan secara perlahan. Baru dua orang yang berada di sana. Mereka menoleh ketika mendengar suara ketukan sepatu Hinata yang bertemu dengan lantai.
"Sumimasen." Sapa Hinata.
"Ah! Kamu pasti supervisor baru itu, ya?" perempuan cantik berambut pink terlihat gembira menyambut kedatangan Hinata. Dia segera berjalan menuju arah Hinata berdiri sekarang.
"I-iya." Nah, gugup Hinata kumat.
"Salam kenal, aku Sakura Haruno. Dan orang tua yang lagi main game itu namanya Rock Lee-san." Sakura mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya sekaligus staff lain yang juga ada diruangan itu.
"Hei! Hei! Apa maksudmu dengan orang tua, Sakura-san?" protes Lee. "Yo! Salam kenal, supervisor-san." Lanjutnya.
Hinata menerima uluran tangan Sakura dengan malu-malu, "Saya Hinata Hyuuga. Salam kenal, Haruno-san," kemudian membungkuk sedikit ke arah Lee. "Salam kenal, Lee-san."
"Aaa … tidak. Jangan terlalu formal begitu, Hinata-san. Panggil aku Sakura saja."
"Baiklah, Sakura-san."
"Syukurlah kamu masuk divisi ini. Tadinya kami sudah khawatir karena divisi ini belum ada supervisornya, jadi kalau ada apa-apa kami langsung bicara pada manager." Jelas Sakura. "Staff di sini hanya berpendidikan sampai Diploma 3, makanya posisi supervisor belum ada yang mengisi." Lanjutnya.
Hinata mengangguk mengerti.
"Astaga! Gara-gara aku menahanmu, kita sampai berdiri begini. Maaf ya, Hinata-san." Sakura menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Dia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Sakura-san. Saya malah senang karena sudah diajak ngobrol." Ujar Hinata sopan.
Sakura bersorak girang yang malah membuat Hinata kaget. "Kyaa … kamu benar-benar kawaii, Hinata-san."
"Eh?"
"Kamu itu manis, pemalu tapi ramah. Benar-benar kawaii." Sakura menyukai hal-hal yang berbau kawaii dan moe. Dia akan bersorak kegirangan jika berhadapan dengan orang mau pun benda yang dianggapkan 'kawaii', contohnya saat ini.
Hinata yang tidak mengerti apa yang dilihat 'kawaii' dari dirinya hanya bisa tersenyum.
"Oh iya, mari kutunjukkan mejamu."
Mereka pun berjalan menuju pojok ruangan. Meja seorang supervisor memang diletakkan di pojok ruangan yangmana bisa dijangkau oleh semua staff.
"Aku kembali ke mejaku dulu, Hinata-san."
Sebelum Sakura berbalik, Hinata memanggilnya. "Ano, Sakura-san."
"Iya."
Hinata membungkukkan sedikit badannya. "Terima kasih dan mohon bantuannya."
"Yup, aku juga." Ujar Sakura yang kemudian segera kembali ke mejanya.
"Sakura-san cantik dan ramah. Semoga aku bisa berteman baik dengannya."
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Satu per satu staff mulai berdatangan. Ucapan sapa saling bersautan di ruangan tersebut. Mereka segera memulai aktivitas seperti biasa, melanjutkan pekerjaan yang kemarin belum selesai atau pun mengerjakan pekerjaan baru. Tidak lama kemudian, seorang pemuda dengan rambut pirang nyentrik memasuki ruangan tersebut.
"Selamat pagi, semua." Sapanya sambil tersenyum cerah seperti biasanya.
"Naruto-buchou, selamat pagi."
Naruto berjalan menuju ruangannya, yang terletak di sebelah kanan dari pintu masuk. Tanpa sengaja tatapannya terarah pada pojok ruangan, dimana seorang gadis yang dari kemarin sudah mencuri perhatiannya duduk. Gadis itu sedang membaca laporan-laporan lama untuk dipelajarinya, sehingga tidak menyadari kehadiran manager divisinya tersebut.
Naruto yang semulanya sudah ingin masuk ruangannya, segera berbalik dan keluar lagi karena ingin menemui seseorang.
"Naruto-buchou mau kemana lagi tuh?" tanya seorang staff kepada teman di sebelahnya.
"Entahlah … panggilan alam, mungkin." Jawabnya enteng.
"Oh…."
.
.
Shizune yang sedang membaca laporan keuangan bulan ini kaget ketika pintu ruangannya tiba-tiba dibuka dengan tergesa-gesa. "Astaga, Naruto! Sudah berapa kali kukatakan kalau mau masuk ruangan, ketuk pintu dulu. Kau membuatku kaget."
Naruto malah terkekeh. "Maaf, General Manager-sama. Aku tidak sempat."
"Tidak sempat katamu? Mengintip kakekmu–Jiraiya—yang lagi boker saja kau masih sempat, dan berhenti memanggilku General Manager-sama. Itu membuatku risih."
"Enak saja. Aku tidak pernah melakukan hal rendahan begitu. Baik, baik, Shizune-buchou."
"Hn, apa yang membawamu kemari?"
Naruto terdiam sejenak, sebelum bertanya, "Gadis itu … kenapa dia ada di divisi Produk?"
"Maksudmu Hinata-san? Aku melihat ada potensi besar dalam dirinya, makanya aku meletakkannya di sana. Memang kenapa? Apa kau tidak suka ada dia di divisi itu?"
"Bu-bukan begitu." Sanggah Naruto cepat. "Aku malah sangat senang." Lanjutnya dalam hati.
"Lantas?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memastikan kalau dia memang di divisi itu."
"Apa? Kau datang ke sini seperti dikejar setan bahkan tidak sempat mengetuk pintu hanya karena ingin memastikan bahwa dia memang ditempatkan di divisi Produk? Semakin lama aku semakin tidak mengerti jalan pikiranmu, Naruto."
Naruto hanya menyengir lebar. "Kalau begitu aku kembali ke ruanganku dulu. Terima kasih Shizune-buchou."
"Tidak perlu berterima kasih untuk info seperti itu."
"Tidak, tidak. Aku berterima kasih untuk hal lain."
"Oh, baiklah. Semoga berhasil."
Naruto mengangguk sebelum menutup pintu dan segera kembali ke ruangannya.
"Sepertinya aku cocok menjadi mak comblang." Shizune terkekeh sendiri sebelum melanjutkan kerjaannya yang sempat tertunda.
~~~~~LAFC~~~~~
Hinata bingung. Dia belum berpengalaman dengan pekerjaan ini. Dia tidak mengerti, kenapa Shizune-buchou menempatkannya di posisi supervisor hanya karena dia seorang sarjana? Ya, seperti yang Sakura bilang, staff di sini hanya berpendidikan Diploma 3, makanya dialah yang akhirnya mengisi posisi ini. Tapi, apa yang harus dia lakukan? Yang dia tahu, tugas supervisor adalah mengawasi dan mengarahkan pekerjaan para staff.
Yah, setidaknya Hinata harus bersyukur karena bisa diterima di perusahaan ini, ditambah langsung diposisikan di tingkatan yang agak tinggi. Dari yang Hinata dengar, perusahaan ini memang merekrut pegawai besar-besaran, apalagi di bagian proses produksinya. Oleh karena itu, dia harus bekerja ekstra agar penjualan produk perusahaan ini semakin meningkat.
"Mungkin aku harus bertanya pada manager."
Tunggu dulu. Bertanya pada manager sama saja bertanya pada pemuda yang dengan lancangnya telah membuat hatinya berdebar tak karuan. Membayangannya saja sudah membuatnya malu. Tiba-tiba Hinata tersentak. Dia juga baru sadar kalau dia juga sudah lancang jatuh cinta pada atasannya.
Eh? dia … jatuh cinta?
Pipi Hinata merona. Apa ini bisa disebut dengan cinta?
Apa hanya karena obrolan pertamanya dengan pemuda bermata sedalam samudra itu bisa membuatnya jatuh cinta?
Hinata tidak mengerti. Dia belum berpengalaman dengan perasaan seperti ini. Yang jelas, dia suka dengan rasa berdebar ini.
Saat dia sedang menikmati perasaan asing ini, penyebabnya pun sedang berjalan ke arahnya. Astaga … apa dia sedang melihat pangeran? Oh, tidak. Dia melihat seorang bule nyasar sekarang; pangeran bulenya. Lihat cengiran lebar itu. Lihat tubuh tegap yang dibalut kemeja biru itu. Lihat seikat bunga mawar merah itu.
Hinata menepis pemikiran anehnya. Tidak ada seikat mawar merah di sana. Inilah susahnya menjadi seseorang yang suka berimajinasi. Yah, semoga saja wajahnya tidak terlihat konyol saat ini.
"Selamat pagi, Hinata." Sapa Naruto dengan cengiran gantengnya.
Oh … suaranya masih semaskulin saat pertama mereka bicara.
Karena posisi Hinata yang strategis, tidak sedikit staff yang memperhatikan percakapan mereka. Khususnya para permpuan yang malah sudah siap dengan gossip baru, salah satunya Sakura. Manager mereka itu memang ramah, tetapi sangat jarang menyapa seorang gadis terlebih dahulu, kecuali seseorang yang sudah lama dikenalnya. Makanya mereka mengira ada yang istimewa dari sikap Naruto tersebut. Oleh sebab itu, jangan sampai adegan yang jarang terjadi ini terlewatkan oleh mereka.
"Selamat pagi, Namikaze-buchou."
"Naruto saja, please. Seperti yang lain memanggilku."
"U-um … Na-Naruto-buchou."
"Nah, begitu lebih baik. Oh, ya. Selamat datang, Hinata. Semoga kamu betah di sini. Orang-orang di sini memang biasa iseng, tapi semuanya baik."
"Iya, saya pasti betah, Naruto-buchou. Saya masih banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya." Hinata membungkukkan badannya dibalas bungkukan Naruto juga.
"Mohon bantuannya juga. Baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaannya. Kalau ada yang ingin ditanyakan, datang saja ke ruanganku."
"Terima kasih, Naruto-buchou."
"Yosh!" Naruto tersenyum ramah dan langsung memasuki ruangannya.
Sepeninggalan Naruto, Hinata segera melemaskan tubuhnya yang tegang. Jangan ditanya bagaimana debaran jantungnya saat ini. Imajinasinya berteriak! Kalau saja Naruto lebih lama di sana, mungkin dia akan pingsan.
Sakura yang menyadari sikap Hinata hanya terkikik pelan, agar tidak ketahuan sang supervisor yang lagi merona hebat tersebut. Siapa sih yang tahan dengan pesona manager sekaligus sepupu jauhnya itu? Kecuali dia sih, tentunya. Karena hatinya hanya untuk manusia es, julukan Sakura untuk sahabat si pirang. Sepertinya dia harus turun tangan dalam romansa ini.
Debaran jantung Hinata masih berpacu cepat. Dia mengipasi wajahnya dengan tangannya. Dinginnya ruangan full-AC ini malah tidak terasa olehnya. Dia berkeringat dingin saking groginya. Satu hal yang Hinata sadari, dia benar-benar jatuh cinta pada atasannya. Dan perasaan ini tidak bisa dilarang.
-TBC-
Buchou : manajer
A/N : sinetron banget, ya? Wahaha! *ketawa garing*
Ini pendek! Ya, saya tau. :3 Saya gak bisa bikin ff panjang-panjang. Takutnya jadi ngelantur kemana-mana dan akhirnya membosankan. :v
Jujur, saya ragu dengan chapter 2 ini. Apa feelnya dapat? Atau malah terasa amat sangat aneh?
Hubungan NaruHinanya masih belum kelihatan, ya? Chapter depan akan terlihat perkembangannya, dan dijelaskan bagaimana sifat Hinata sebenarnya. :D #spoiler
Anw, saya minta maaf karena ff ini updatenya lama banget. Udah hampir 4 bulan, ya? :") maafkan dakuuu~~~
Semoga ceritanya gak mengecewakan, ya.
Yosh! Makasih udah berkenan baca. ^-^
16022014
Love shower,
Maru
