Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 2: Ajakan Pesta Dansa


"—akan menjemputku di rumahku, Theo?"

Suara itu membuyarkan lamunannya. Theo menoleh ke gadis di sampingnya.

"Kalau kau tidak mau ya sudah, aku hanya menawarkan kok—"

Theo mengangkat tangannya sebelum gadis itu melanjutkan perkataannya.

"Aku mau, Pad—"

Tidak. Sebenarnya dia tidak mau untuk makan malam bersamanya hari ini. Tentu dia lebih memilih bersama sahabat-sahabatnya. Tapi untuk menyenangkan gadis yang resmi menjadi kekasihnya saat ini—Theo harus membahagiakannya.

"Tidak. Theo, dengar—asal kau tahu ya, aku sering memergoki tatapanmu dengan Daphne Greengrass."

Hening. Tidak ada yang berani bersuara. Theo pun tidak berani mengelak. Sungguh—Theo menyesali keputusannya untuk berdua dengan Padma saja di kantin saat istirahat kedua. Lihat, separuh anak-anak kantin bahkan melirik-lirik mereka. Sementara kelima sahabatnya sedang sibuk mengobrol entah apa.

"Padma. Itu tidak sengaja." Oke. Tidak sengaja tapi berkali-kali. Alasan yang logis, Theo. Padma mendengus.

"Tidak sengaja tapi berkali-kali. Alasan yang logis, Theo," sindir Padma. Dia mulai bangkit dari kursinya—

"Kau mau ke mana?" Theo menahan tangan Padma.

"Pergi, tentu saja. Supaya kau bisa lebih puas memandangi Greengrassmu itu."

.


.

"Jadi kau akan menjemputku di rumahku, Theo?"

Padma mengerang kesal kepada Theo. Ucapannya tidak didengar sama sekali. Kekasihnya terus melamun—melamunkan Daphne Greengrass mungkin?

Oh, jangan kira Padma Patil bodoh. Tentu saja dia sering melihat Theo mencuri-curi pandang ke arah Daphne Greengrass. Bahkan kadang Padma memergoki Daphne melirik-lirik kekasihnya.

Padma menelan ludah sebentar, untuk melanjutkan perkataannya.

"Kalau tidak mau ya sudah, aku hanya menawarkan kok—"

Theo mengangkat tangannya. Padma menghentikan ucapannya yang berupa setengah kalimat.

"Aku mau, Pad—"

Haha. Padma tertawa sinis dalam hati. Daritadi saja dia terus melamun, memangnya dia tahu apa yang Padma katakan sekarang?

"Tidak. Theo, dengar—asal kau tahu ya, aku sering memergoki tatapanmu dengan Daphne Greengrass."

Skakmat! Sekarang Theo tidak berani bersuara. Padma pun tidak. Dia tahu ucapannya terlalu cepat untuk hubungan mereka yang berjalan, berapa bulan ya? Padma tidak mengingatnya.

"Padma. Itu tidak sengaja," jawab Theo. Padma mendengus.

"Tidak sengaja tapi berkali-kali. Alasan yang logis, Theo," sindir Padma. Padma mulai bangkit dari kursinya—

"Kau mau ke mana?" Theo menahan tangan Padma.

"Pergi, tentu saja. Supaya kau lebih puas memandangi Greengrassmu itu."

Dan dengan perkataan itu Padma pergi dari kantin, menyebabkan para penghuni kantin menengok padanya—karena Padma menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.

Padma sudah keluar dari kantin dan melangkahkan kakinya ke toilet perempuan—

Namun ada yang mencegatnya.

"Halo, Patil."

Suara cempreng menyambutnya.

Padma mendongak ke atas—memastikan perkiraannya benar.

Benar saja—empat perempuan, tiga berambut hitam dan satu berambut merah berada di depannya dengan gaya menyebalkan.

Padma melirik kanan dan kiri dan kebetulan di sekitarnya kosong.

"Apa maumu?" tanya Padma, berusaha tidak terlihat takut. Hello? Dia sendiri, sementara musuhnya berempat. Pansy Parkinson dan Daphne Greengrass menyeringai sinis, sementara dua orang di belakangnya hanya tersenyum licik. Padma menelan ludah—

"Mauku banyak, Patil." Kini Daphne Greengrass menjawabnya. Padma mengangkat alis.

"Putuskan Theo. Itu saja." Pansy melanjutkan perkataan Daphne. Pansy mengernyitkan dahinya.

"Dan apa hak kalian untuk menyuruhku seperti itu?" tantang Padma.

"Oh, tentu saja hak kita banyak, darling." Astoria maju, mengangkat dagu Padma tinggi-tinggi—

"Adik kelas nggak sopan!" Padma membuang tangan Astoria, membuat Daphne darah tinggi.

"Dia lebih sopan daripadamu, Patil! Kau, perebut kekasih orang—"

"Siapa yang merebut kekasihmu, Greengrass?"

"Tak sadarkah kau bahwa kekasihmu itu dulu adalah calon kekasihku?" Daphne dan Padma saling berhadapan, dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi. Ketiga lainnya menonton di belakang Daphne.

"Kau sangat menjijikkan, Greengrass." Padma membuat gerakan seakan membuang ludah.

"Bukannya kau lebih menjijikkan, Patil? Sok cantik, sok alim, sok pintar—"

"Aku memang pintar." Padma tidak diterima dibilang bodoh—meskipun tidak secara langsung.

"Pintar merebut kekasih orang, tentunya." Daphne mencibir sinis.

"Kau berbicara apa sih? Aku saja tidak pernah melihatmu berdekatan dengan Theo dari kelas 10—"

"Kita tidak suka mengumbar kemesraan seperti kau, Patil."

"Kau iri karena kau suka pada Theo tapi kau tidak bisa menjadi kekasihnya kan? Haha, terima saja, Greengrass."

"Kalau kau tidak centil di depan Theo, aku akan menjadi kekasihnya."

"Itu tidak ada hubungannya, keparat—"

"BERANINYA!"

PLAK!

Daphne Greengrass menampar pipi Padma Patil dengan kencang, menimbulkan bekas kemerahan di pipi Padma yang berkulit coklat.

"GREENGRASS!"

.


.

Di antara kelima teman-temannya, Theo boleh dibilang orang yang paling pendiam selain Draco—Draco sih kebawa sama sifat coolnya. Selain itu, Theo juga bukan orang yang suka mencampuri urusan orang ataupun membuntuti orang. Tidak, itu bukan sifatnya.

Tapi entah kenapa setelah melihat Padma—kekasihnya pergi dari kantin, lalu tiba-tiba keempat gadis yang duduk tidak jauh beberapa meja darinya—Pansy and the Gang juga ikut pergi, Theo mempunyai perasaan yang buruk.

Maka dengan diam-diam, dia membuntuti kelima orang itu.

Dengan alasan 'mau ke perpustakaan' yang ditatapi heran oleh kelima kawannya, Theo berjalan pelan-pelan di belakang, kadang-kadang bersembunyi jika salah satu dari mereka menoleh ke belakang.

Padma menuju toilet perempuan, sementara Pansy and the Gang mengikuti Padma dengan langkah yang lebih cepat. Theo mulai curiga. Benar-benar curiga.

Padma tidak menyadari ada orang lain yang berada di belakangnya, karena dia menunduk.

Berusaha tidak terlihat, Theo bersembunyi di balik pilar dekat toilet perempuan.

Benar dugaan Theo. Padma dihadang oleh keempat orang itu—

"Halo, Patil."

Pansy Parkinson dengan gaya sok berkuasanya, menyambut Padma dengan suara cemprengnya.

Perdebatan-perdebatan dimulai. Theo benar-benar tidak habis berpikir. Mereka semua melabrak Padma karena dirinya.

Ya, dirinya, Theodore Nott.

Hah! Daphne mengaku calon kekasihnya?

Mimpi!

Theo mulai terkikik, Padma menyebut Daphne keparat—

Dan tiba-tiba ada suara tamparan yang sangat kencang. Theo segera keluar dari tempat persembunyiannya.

"GREENGRASS!" Theo berteriak kencang, membuat kelima kepala menoleh ke arahnya. Daphne menurunkan tangannya yang tiba-tiba bergetar.

"The—The—Theo? Se ... sejak kapan kau di sini?" Daphne mundur perlahan-lahan secara teratur, menatap Theo dengan tatapan tidak percaya. Mata Theo berkilat-kilat penuh kemarahan. Sementara Pansy, Astoria dan Ginny sudah berancang-ancang kabur dari tempatnya. Theo melirik sekilas ke arah Padma—sebelah pipinya memerah, dan kedua matanya juga memerah, berkaca-kaca.

Theo menghampiri Padma yang tubuhnya sudah bergetar, menahan tangis sekaligus kesakitan. Theo membelai-belai rambut Padma.

"Brengsek—tidak usah menampar kekasihku, keparat!"

Sekali lagi—sifat suka mencampuri urusan orang lain bukanlah sifat Theo. Tapi jika 'orang' tersebut adalah kekasihnya, apakah dia tidak boleh ikut campur?

"Theo—tidak, aku tidak sengaja—"

"Salah sendiri Patil sudah mengata-ngatai Daphne duluan, Nott." Ginny angkat bicara. Theo mendelik ke arah adik kelasnya, yang langsung mengkeret ketakutan.

"Haha, tidak sengaja tapi menamparnya keras begitu, bagus sekali, Greengrass, apa sih maumu? Kau selalu mengganggu kehidupanku!" Theo mulai maju mendekati Daphne. Pansy meringis melihatnya.

"Theo, tidak—itu tidak seperti yang kau lihat."

"Asal kau tahu ya, aku mendengar percakapan kalian dari tadi!"

"Sejak kapan?" Pansy bertanya, heran. Dia merasa daritadi tidak ada yang mengikutinya.

"Sejak kau bilang 'halo, Patil'."

Daphne bergetar.

"Dan kau, Greengrass, memangnya apa yang aku lakukan sehingga kau berkata aku calon kekasihmu?"

"Itu, eh—"

TEEEET!

Bel berbunyi. Kali ini Daphne sangat bersyukur kepada bel yang berbunyi tersebut. Theo mendesis di kuping Daphne.

"Ingat, urusan kita belum selesai, Greengrass."

Dan Theo menggandeng tangan Padma lalu berjalan cepat menuju kelas masing-masing.

.


.

"Kali ini kita belajar tentang Microsoft Powerpoint untuk presentasi." Suara Professor Lupin terdengar di laboratorium komputer yang dihuni oleh anak-anak kelas XI-IPA-2. Professor Lupin—guru laki-laki yang berambut coklat madu dengan senyum yang selalu ramah yang mengajar TIK di sekolah ini. Hermione tersenyum. Dia sudah tahu tentang Microsoft Powerpoint, tentu saja. Bahkan dia sudah baca lima bab sehabis materi ini.

Saat Professor Lupin membelakangi mereka, sebuah surat terlempar di meja komputer Hermione.

Hell, aku sudah belajar ini sejak SMP. Membosankan.

D.M.

Hermione tersenyum geli membaca surat yang ditulis oleh kawannya, Draco Malfoy—sedang menguap di meja belakang. Hermione mengambil pulpen, lalu menulis sesuatu di bawah tulisan Draco tadi.

Tidak boleh begitu. Siapa tahu ini lebih sulit lagi.

H.G.

Secepat mungkin, agar tidak terlihat oleh Prof. Lupin, Hermione meremas-remas kertas itu dan melemparnya ke belakang, tepat di meja Draco. Draco langsung membuka kertas itu dan menyeringai sinis.

Ah, sama saja. Kau lihat deh Padma Patilkekasih Theo. Lihat wajahnya. Matanya bengkak. Apakah Theo bertengkar dengannya? Kau lihat kan tadi Padma pergi dari kantin begitu saja dan Theo menyusul dengan membuat alasan yang tidak masuk akal ke kita?

D.M.

POK!

Kali ini remasan kertas tersebut terkena kepala Hermione. Hermione cepat-cepat menyembunyikannya di dalam tasnya, belum sempat membacanya—karena Prof. Lupin keburu menengok ke arahnya.

"Ya, Miss Granger?"

"Err— tidak, Prof. Lupin."

"Apa yang ada di kepalamu?"

"Eng—rambut?"

Seluruh penghuni laboratorium tertawa. Prof. Lupin menggeleng-gelengkan kepala.

"Maksudku, tadi yang menimpa kepalamu?"

"Tidak ada, Professor—"

"Sebaiknya kau memerhatikan pelajaran, Miss Granger, kau juga, Miss Patil. Daritadi kulihat kau melamun."

"Baik, Professor." Kedua gadis itu menjawab bersamaan. Draco mendengus dan memberi isyarat kepada Hermione tolong-kau-baca-suratnya. Hermione mengangguk pelan. Setelah memastikan Prof. Lupin tidak memperhatikannya lagi, Hermione pelan-pelan membuka suratnya.

Hermione menoleh ke arah Padma. Benar, gadis itu tidak terlihat bersemangat. Padahal Hermione tahu salah satu pelajaran kesukaan Padma adalah TIK—komputer. Hermione kan lumayan akrab dengannya, walaupun tidak seakrab dia dengan kelima teman lelakinya.

Nanti pulang sekolah kita tanyai Theo.

H.G.

Tidak mau ambil resiko ketahuan Prof. Lupin lagi, Hermione menitipkan surat tersebut kepada teman di belakangnya agar menyodorkan itu kepada Draco.

Draco mengangguk kecil dan segera memasukkan kertas itu ke dalam tasnya, pertanda dia tidak mau membalas surat itu lagi.

Dan pelajaran hari itu pun berjalan cukup lancar.

.


.

Pulang sekolah, Draco dan Hermione buru-buru mengejar Theo sebelum lelaki itu kabur. Harry, Blaise dan Ron yang ada di belakang mereka hanya mengenyitkan dahi—heran.

"THEO!" Suara Hermione nyaring sekali, sehingga semua siswa yang mau berjalan keluar sekolah menoleh ke arahnya. Hermione nyengir. Theo menoleh kepada Hermione.

"Ah, ya?"

Hermione terengah-engah lalu memposisikan dirinya berdiri di hadapan Theo.

"Kita ada ekskul hari ini, tahu? Professor Flitwick sudah bilang tentang ini kan, kemarin lusa—"

Professor Flitwick adalah guru prancis, seni sekaligus vokal yang berperawakan pendek, berkumis tetapi baik hati. Professor Flitwick mengajar ekskul pendalaman bahasa Prancis di Hogwarts Senior High School. Hermione dan Theo mengikuti ekskul ini.

Theo mengangguk-angguk.

"Terus kenapa kau mau pulang?"

"Aku lupa."

Hermione mendengus.

"Kau ada masalah apa sama Padma?" tanya Draco langsung, tanpa memperdulikan pelototan dari Hermione maupun tatapan keheranan dari Harry, Blaise dan Ron yang tadi tidak berbicara apa-apa.

Theo mengangkat alis.

"Hey, aku tidak ada masalah apa-apa dengannya."

"Dia melamun di pelajaran TIK tadi. Bayangkan, Padma Patil melamun saat pelajaran!" bentak Draco. Theo melotot.

"Greengrass keparat—"

"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Hermione.

"Apa sih yang terjadi? Ceritakan pada kami!" Ron mewakili kedua temannya yang juga bingung. Mereka bertiga memandangi Theo, Hermione dan Draco bergantian.

"Kau seharusnya minta cerita pada dia." Draco menunjuk Theo.

"Sudahlah." Harry menengahi. "Draco, bukannya kita juga ada ekskul futsal hari ini? Besok kami menagih ceritamu, Theo." Harry menarik tangan Draco yang memasang tampang tidak suka pada Harry. Blaise meringis.

"Ya sudah, Ron, ayo pulang. Kita tidak ada ekskul basket hari ini. Bye, Harry, Draco, Hermione, Theo!" Blaise melambaikan tangannya kepada keempat temannya. Tidak sengaja Blaise melihat Lavender Brown melihat Ron dengan tatapan mupeng—muka pengen. Blaise merasa cewek itu bakal ngiler sebentar lagi jika dia tidak menarik Ron untuk segera pulang bersama.

Hermione hanya menatap tajam Theo, lalu mendahului Theo menuju kelas bahasa Prancis.

Hermione membuka hpnya, dan terdapat dua sms.

Hermione membuka yang pertama.

From: Mum

Hermione dear, hari ini mungkin Mum pulang agak malam, Mum tidak tahu dengan Dad. Masak sendiri ya?

Hermione tersenyum kecil dan mengetik pesan balasan untuk ibunya.

To: Mum

Oke, Mum. Aku juga ada ekskul, nih.

Lalu Hermione membuka balasan yang kedua. Untuk yang ini, dia tersenyum lebar.

From: Love

Mind to dinner with me tonight, at 'our' restaurant?

Hermione tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Our Restaurant itu artinya restoran mereka berdua—yang sering mereka datangi untuk makan berdua.

To: Love

Okay. Kebetulan Mum juga tidak masak hari ini. Jemput, ya? Aku ada ekskul sih. Mungkin kamu bisa main ke rumah aku dulu. Sekarang baru jam 01.45 p.m.

Dan Hermione menekan send.

Hermione tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang benci melihat Hermione membalas sms dari Viktor Krum—kekasihnya.

.


.

Harry mengerang pelan melihat pemandangan di depannya. Luna Lovegood—adik kelasnya yang berada di kelas X-IPA-1, yang kutu buku tetapi cantik, berambut pirang.

Harry juga tidak tahu kenapa gadis tersebut mau-maunya melihat ekstrakulikuler futsal seperti hari ini. Setahunya—gadis ini hanya suka nongkrong di perpustakaan atau di kelas. Setahunya juga—gadis ini ikut ekskul melukis. Harry tidak tahu mengapa dia tahu banyak tentang gadis ini. Sungguh. Gadis ini tidak terlalu populer, mengingat statusnya yang suka nongkrong di perpustakaan. Tetapi karena Harry beserta kedua kawannya yang lain, Draco dan Hermione adalah anggota pengurus OSIS yang sempat mengurus MOS, maka mau tak mau dia pernah melihat wajah gadis itu.

Dan dia sedikit tertarik.

Oke ralat, bukan sedikit tertarik, tetapi tertarik.

Tadinya Harry merasa geer bahwa gadis itu sedang tersenyum ke arahnya, namun dia melirik ke belakang, memastikan bahwa dugaannya tidak salah—

Ada Draco Malfoy di belakangnya. Oh, tentu saja. Hampir semua gadis tertarik dengan kawannya yang satu itu. Harry mengeluh. Dia masih kalah dengan Draco—walaupun dia juga populer.

Harry mendekat kepada gadis itu, yang kembali dengan buku yang entah sejak kapan berada di tangannya.

"Lovegood?"

Mungkin menyapa duluan bagus, batin Harry. Luna menoleh ke arah seniornya yang sedang merona merah ada di hadapannya.

"Harry?"

Harry merasa ingin melompat-lompat saat itu juga.

Pertama, gadis di depannya menoleh dari buku yang ia baca dengan serius untuk menoleh kepadanya.

Kedua, gadis itu mengetahui namanya.

Dan ketiga—gadis itu memanggilnya dengan nama depan. Really! Bahkan Harry memanggilnya dengan marga keluarga.

Mau tidak mau Harry nyengir lebar.

Harry memposisikan duduknya di sebelah Luna. Mumpung dia lagi istirahat juga.

"Tumben kamu ke sini? Err—maksudku—aku tidak pernah melihatmu di sini." Harry mengacak-acak rambut hitamnya yang sudah berantakan itu. Hell! Bahkan dia sudah terlihat sangat ingin tahu di sini.

"Aku tidak boleh ke sini?" Luna mulai bangkit, membereskan buku dan tasnya.

"Ehh, bukan begitu, duduklah! Aku hanya bertanya." Harry mencengkram lengan Luna dan memaksa gadis itu duduk. Luna duduk kembali dengan senyum kecil di wajahnya.

"Mau melihat Draco Malfoy, ya?" Entah kenapa pertanyaan itu muncul saja di mulutnya. Tetapi kemungkinan besar benar, 'kan? Kebanyakan anak-anak perempuan datang ke sini untuk melihat Draco atau dirinya—Harry tersenyum kecil ketika menyadari fakta itu.

"Memang kenapa?"

Ugh! Harry merasa ingin menenggelamkan dirinya ke sumur sekarang juga. Gadis ini kenapa tidak mau menjawab pertanyaan secara langsung saja, sih? Dan suaranya, astaga—halus dan manis sekali.

"Tidak apa-apa sih, aku hanya penasaran saja." Harry menoleh ke arah lain, memaksakan dirinya untuk tidak menoleh ke arah Luna Lovegood lagi.

"Tidak. Bukan itu. Aku bukan seperti gadis-gadis lain yang menyukai pria seperti mayat hidup itu—"

Dan Harry tertawa terbahak-bahak.

Mayat hidup, katanya. Jika Pansy Parkinson mendengar ini, mungkin Luna sudah diberi lima puluh tamparan dalam beberapa detik.

"Lho, kenapa ketawa? Memang benar, kan? Kulit pucat, jarang bicara—"

"Yeah—HAHAHA."

Harry masih terus tertawa-tawa. Harry bertanya-tanya dalam hati: kenapa aku tidak menyadari hal ini sejak dulu? Sementara Luna hanya tersenyum memandang langit cerah yang berada di atasnya. Mengamati awan-awan yang berpindah-pindah.

"Tetapi aku ke sini mau melihat permainanmu. Kata anak-anak di kelasku, kau sangat jago di bidang futsal."

Harry langsung berhenti tertawa. Dia merasakan pipinya memanas. Harry merona.

Harry Potter merona karena perkataan Luna Lovegood.

"Err—terima kasih."

"Itu bukan aku yang bilang lho, itu anak-anak di kelasku yang bilang."

Harry Potter kembali mengerang karena menyadari bahwa dia geer lagi.

"Tapi kuakui permainanmu sejak tadi bagus juga."

Harry tersenyum.

"Terima kasih, Love—"

"Luna saja."

"Luna."

Mereka tertawa kecil bersama. Tidak menyadari bahwa beberapa anak-anak yang berada di lapangan tersebut sedang memperhatikan ke arah mereka berdua—termasuk Ginny Weasley yang wajahnya sudah memerah, semerah wajahnya.

Menahan amarah dan cemburu.

.

.

.

"Buka buku kalian halaman 73." Suara Professor Snape yang lebih terdengar berbisik namun terdengar oleh seluruh kelas itu—memerintah anak-anak kelas XI-IPA-2 itu agar membuka buku halaman 73. Draco Malfoy yang biasanya penuh minat dengan pelajaran Professor Snape hari ini hanya diam, hanya menuruti perkataan Professor Snape, tidak aktif seperti biasa.

Hermione hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku Draco. Mood Draco memang sering uring-uringan akhir-akhir ini, entah kenapa. Tetapi biasanya walaupun mood Draco berubah—dia tetap semangat di kelas kimia nya Professor Snape.

Apa yang membuat Draco berubah?

"Mr. Malfoy, jangan melamun atau aku akan menyuruhmu mengangkat kaki dari kelas ini." Professor Snape menatap tajam pada Draco. Draco terduduk tegak saking kagetnya.

"O ... oke ... sir, eh, Professor Snape."

Professor Snape mendengus, melanjutkan pelajarannya yang sempat tertunda karena menegur sang Tuan Muda Malfoy.

Hermione melirik ke arah Padma. Padma yang menyadari dirinya dilirik-lirik—menoleh dan tersenyum pada Hermione. Yang dibalas dengan senyum kikuk oleh Hermione.

Ternyata hubungannya dan Padma masih lancar setelah pertengkaran satu bulan yang lalu, walaupun Padma dengan Theo sangat tidak lancar. Pertengkaran yang masih dibicarakan sampai hari ini, terjadi saat hari besoknya setelah Padma melamun di pelajaran Professor Lupin—pelajaran TIK.

Flashback,
Kantin,
Istirahat pertama.

"Sudah bisa melupakan Daphne Greengrass ya, Theo?" sindir Padma keji dengan suara kencang di kantin. Otomatis seluruh kepala menoleh ke arahnya. Tetapi sepertinya Fleur Delacouryang sedang menangani salah satu anak kelas X yang cukup tampan untuk menembaknyatidak terlalu memerdulikan suara sinis Padma yang terdengar oleh seluruh penghuni kantin. Daphne yang namanya dibawa-bawa, ikut menoleh. Pansy and the Gang yang lain juga. Intinya, hampir semua penghuni kantin sedang menoleh kepadanya.

Theo mengernyitkan dahinya, lalu mengangkat alisnya.

Padma termasuk siswi yang cerdas di Hogwarts Senior High School ini. Memorinya cukup kuat dan dia tidak cepat melupakan sesuatu. Apalagi tentang acara tatap-tatapan Theo dan Daphne biasanya di kantin.

"Apa maksudmu?" Rahang Theo mengeras, ujung bibirnya mengkedut-kedut, wajahnya memerah, memandang Padma tajam. Padma hanya tersenyum sinis.

"Itu loh, Daphne Greengrass selingkuhanmu"

Theo menggebrak meja.

"Apa maksudmu?" Nada suara Theo meninggi, tetapi mengulangi pertanyaan yang sama. Blaise sudah mau menghampiri meja Theo dan Padma, tetapi ditahan oleh Ron dan Harry. Draco dan Hermione masih serius mengamati pertengkaran pasangan itu.

Padma masih tidak menghilangkan senyum sinisnya.

"Maksudku, bukannya kau ada hubungan dengan dia? Tidak usah berpura-pura di hadapanku, Theo. Aku melihat sendiri kok kalau kau sering bertatapan dengan dia. Atau perkataan dia benar, bahwa sebenarnya kau juga menyukai dia—"

"Jangan berbicara sembarangan, Padma Patil. Sedetik aku melihat mukanya saja aku sudah ingin muntah."

Daphne yang mendengarnya menahan amarah, wajahnya ikut memerah. Astoriasebagai adiknya, mengelus-elus rambut panjang kakaknya. Padma masih tersenyum sinis. Mungkin sudah berlatih di rumah untuk memberikan senyum sinis ini kepada Theo.

"Aku tidak peduli kau membelaku saat kemarin mereka berempat melabrakku."

"Padma, jangan memaksaku melakukan ini." Theo sudah mengepal tangannya, ingin meninju wajah Padma saking kesalnya. Tetapi kemudian dia ingat bahwa Padma masih kekasihnya. Masih.

"CUKUP! THEO! KAU GILA!" Harry berteriak, menghampiri Theo yang sekujur tubuhnya sudah dibasahi peluh. Menahan amarah yang tidak habis-habisnya. Ron, Blaise, Draco dan Hermione ikut ke meja Theo dan Padma. Hermione berada di belakang Padma, mengelus-elus rambut hitam Padma, memberinya ketenangan. Sementara Pansy and the Gang juga sudah siap-siap menuju ke meja itu. Anak-anak yang lain masih tidak sudi untuk memalingkan muka dari pertandingan seru itu.

"Kalian harusnya tadi mendengar, bahwa daritadi dia menuduhku yang tidak-tidak! Ini semua gara-gara kau, Greengrass!" Theo menunjukan kepal tinjunya pada salah satu gadis di Pansy and The Gang. Gadis yang menatap Theo dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran. Daphne Greengrass.

"Aakumemangnya apa yang ku lakukan?" Suara Daphne terdengar gemetar. Fleur yang menonton sejak tadi, walaupun pura-pura tidak peduli, menggumam tidak jelas yang terdengar seperti 'drama anak kecil'. Fleur lalu pergi bersama Cho Changtidak memperdulikan salah satu anak kelas XI yang mau menembaknyalelaki keempat yang mengejar Fleur hari ini.

"Kau yang membuatku dan kekasihku seperti ini, Greengrass. Kau mengadu domba kami berdua. Berharap kami putus lalu aku berkencan denganmu, eh? JANGAN MIMPI SELAMA KAU MASIH BERADA DALAM GANG DIA!" Theo menunjuk Pansy dengan kesal bercampur gemas, ingin menendang Pansy ke jurang sedalam-dalamnya.

"Oh, jadi benar kan? Kalau Daphne tidak gabung di gang dia, kau mau berkencan dengannya? Oke. Terima kasih untuk perhatianmu selama ini. Aku ingin ke kelas." Padma menyedot jus jeruk untuk terakhir kalinya, lalu pergi meninggalkan Theo dan seluruh penghuni kantin yang melongo.

Theo sudah keceplosan.

Daphne tersenyum puas.

"Nah, jadi siapa yang membuat kalian bertengkar lalu putus? Sepertinya kau sendiri, Theodore Nott. Kalian semua! Ngapain lihat-lihat?!" Daphne mengedarkan tatapan kesal pada seluruh penghuni kantin, yang langsung diam dan langsung melanjutkan aktivitas masing-masing. Lumayan kan, opera sabun gratis.

Theo sudah tidak tahan lagi. Dia menghampiri meja Daphne, lalu memecahkan salah-satu-gelas-beling-entah-punya-siapa, dan mengambil pecahannya, lalu menusukkannya di salah satu lengan Daphne sehingga berdarah.

"THEO! SAKIT! KAU KENAPA SIH! AKUAKU MENGATAKAN YANG SEBENARNYA KAN!? LAGIAN KAU YANG MEMBUAT KALIAN BERDUA PUTHEO!" Daphne mengerang kesakitan, lengannya tergores panjang dan berdarah. Kantin kacau. Ada yang mendukung Theo, ada yang mendukung Padma and the Gang. Theo tidak tanggung-tanggung melakukan kekerasan pada gadis yang sempat dicintainya dulu. Tidak. Theo tidak mencintainya lagi. Theo yakin itu.

Daphne menangis. Walaupun dia tahu bahwa dia adalah gadis yang kuat, tetapi dia tetap tidak tahan dengan sakit yang berada di lengannya, dan di hatinya. Semua orang tidak akan tahu betapa sakitnya ditusuki pecahan beling oleh pria yang kau cintai. Sangat-kau-cintai.

"Itu rasa sakit yang kurasakan sekarang, Greengrass. Aku tidak peduli aku akan mendapat SP atau apa. Aku muak dengan drama yang kau buat bersama gangmu ini. Parkinson, Weasley, dan adik perempuanmu yang manja ini. Aku tidak peduli. Aku mohon JANGAN GANGGU HUBUNGAN AKU DENGAN SIAPAPUN. JANGAN PERNAH!" Theo menggebrak meja sekali lagi, lalu pergi meninggalkan kantin. Bahkan para penjual makanan di kantinpun tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Theo pergi.

Daphne mengeluh kesakitan, Pansy and The Gang membantunya untuk memapahnya ke rumah sakit sekolah.

Sementara Ron, Harry, Blaise, Draco dan Hermione hanya termangu di tempat.

TEEET! Bel berbunyi, membuyarkan lamunan Hermione di kelas kimia Professor Snape. Setelah memberi tugas—yang langsung disoraki oleh seluruh penghuni kelas—Professor Snape meninggalkan kelas tersebut, tidak memperdulikan cemoohan pada siswa tentang dirinya.

"Draco?" Hermione menghampiri meja Draco yang belum dibereskan sama sekali. Draco hanya menoleh, lalu kembali menelungkupkan diri di meja.

"Hoii Draco! Bumi padamu!" Hermione mengguncang-guncang tubuh Draco. Draco menoleh lagi, kali ini agak lama.

"Apa?" jawabnya, terdengar malas-malasan. Wajahnya yang pucat semakin terlihat pucat. Matanya ditemani oleh kantung hitam di bawahnya. Hermione menggeleng-geleng kepalanya.

"Ayo ke kantin! Pasti sudah ditunggu sama yang lain!" Hermione menarik paksa tubuh Draco yang notabene lebih berat darinya. Draco tersenyum kecil, geli melihat tingkah Hermione yang kekanak-kanakkan.

Hermione cemberut.

"Ya, ya. Tunggu."

Draco merapikan sedikit rambutnya yang acak-acakan, lalu membiarkan tangannya digenggam Hermione.

Membiarkan seluruh kehangatan yang diberikan oleh genggaman Hermione menyebar di seluruh tubuhnya.

Draco sadar itu apa. Tapi dia diam. Dia mengelak bahwa dia suka pada sahabatnya sendiri. Melihat waktu itu Blaise bonyok di tangan Ron, Harry, dan Theo saat Blaise menyatakan suka pada Hermione saja Draco sudah bergidik ngeri. Untung kejadiannya tahun lalu, saat mereka semua masih kelas X, masih polos-polosnya dan belum bersahabat seperti sekarang.

Hanya pria beruntung yang berhasil mendapatkan hati gadis rambut coklat mengembang itu. Viktor Krum. Pria beruntung yang bisa memacari Hermione sampai sekarang. Gadis yang dicintainya ...

.


.

"Sudah mau pesta natal. Kau baru mengumumkannya kemarin, kan?" Ron bertanya pada Draco Malfoy—si Ketua OSIS yang mengumumkan tentang Pesta Dansa Natal dua minggu lagi. Dan dengan itu artinya—membawa pasangan kencan untuk dansa. Dan keenam orang ini belum menemukan orang yang pas untuk diajak ke Pesta Dansa Natal itu.

Draco mengangguk pelan.

"Kenapa kau tidak mengajak Brown saja, eh?" Blaise menggoda Ron. Ron bersemu merah. Telinganya juga menjadi merah.

"KAU KENCAN DENGAN LAVENDER BROWN SEKARANG!?" seru Harry kencang, membuat beberapa kepala menoleh padanya. Harry nyengir pada orang-orang itu, lalu menoleh kembali ke sahabat-sahabatnya.

Ron tidak menjawab.

"Itu benar," jawab Hermione singkat, melihat Ron dan Lavender kemarin berpegangan tangan berdua—

Theo diam. Tidak berkomentar apapun. Dia tidak punya ide untuk mengajak siapa. Dia. Sudah. Diputuskan. Oleh. Padma. Patil.

Ron mendelik ke arah Hermione yang membocorkan rahasia yang belum dia berikan kepada teman-temannya yang lain itu. Hermione mengacungkan tangan bersimbol 'peace'.

"Kau sendiri dengan siapa, Hermione? Krum kan sudah lulus," tanya Harry.

DEG!

Tiba-tiba jantung Draco berdetak tidak karuan. Apakah dia harus mengajak Hermione? Tapi membayangkan pukulan-pukulan keras dari teman-temannya di muka mulusnya ini...

Ergh. Sepertinya tidak jadi.

"Siapa ya?" Hermione terlihat berpikir keras. Walaupun sekarang musim dingin, Hogwarts Senior High School tetap menuntut anak didiknya untuk bersekolah, dengan seragam musim dingin yang juga disediakan oleh sekolah itu. Maka dari itu memasuki bulan Desember—Hogwarts tetap buka. Tetapi saat Natal dan Tahun Baru, Hogwarts akan libur.

"Sama aku aja, Hermione." Blaise menatap Hermione dengan penuh harap, membuat kelima pasang mata yang tertuju pada Hermione langsung menuju kepada Blaise dengan tatapan mematikan.

"Katanya kau tampan dan diincar kakak kelas, Blaise? Kalau begitu bisa dong, menggaet salah satu kakak kelas untuk ikut denganmu di Pesta Dansa Natal ini—" sindir Ron pada Blaise. Blaise mengacungkan jempolnya.

"Oke! Lihat nanti, aku akan datang bersama salah satu kakak kelas yang cantik. Tapi yang jelas, bukan Fleur Delacour.. Uh, itu cewek akan datang dengan siapa ya?" Blaise menggumam-gumam tidak jelas.

"Kita tidak ada urusannya dengan si Delacour." Theo mencemooh sinis. Yang lain mengangguk-angguk.

"Kau dengan siapa, Harry?" giliran Hermione yang bertanya. Harry bersemu merah ... mukanya merona. Dia mengacak-acak rambut hitamnya sendiri—gugup karena pertanyaan Hermione itu.

"Oh ya, kudengar-dengar, kau sedang mendekati anak kelas X-IPA-1, siapa itu namanya ... Loony Lovegood. Betul, Harry?" Ron mengunyah-ngunyah makanannya sambil menatap penasaran pada Harry. Harry menunduk.

"Bukan Loony, Ron. Luna..." bibir Harry terasa bergetar mengucapkan nama itu. Dadanya berdesir halus. Rasa rindu tiba-tiba datang. Rindu dengan gadis polos yang lebih muda setahun dengannya itu. Harry menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Siapa tahu Luna Lovegood tidak suka padanya? Nanti dia malah sakit hati...

"Oke. Hermione belum tahu, aku dengan—err, kalian tahu lah, lalu Blaise akan mengajak salah satu kakak kelas—awas kalau tidak dapat, Blaise. Dan Harry dengan Loony—maksudku Luna Lovegood, jangan menatapku seperti itu, Harry. Lalu kalian bagaimana, kedua cowok single yang daritadi diam saja?" Ron menyerocos, lalu menatap Theo dan Draco yang hanya diam.

Theo benar-benar tidak tahu harus mengajak siapa ... dia menyukai Padma Patil dari luar dan dalam. Sifatnya pun baik, tidak terlalu cerewet seperti kembarannya, Parvati. Dia benar-benar menyukai Padma, dan tidak menganggapnya pelarian. Namun mungkin sedikit hatinya masih tersisa untuk Daphne, sehingga dia tidak menjaga perasaan Padma. Dan sampai detik ini Theo belum berbaikan dengan Padma, bahkan untuk menjadi teman sekalipun.

Theo sangat menyesali hal itu. Menyesali bahwa dia dan Padma putus karena Greengrass.

Theo menggeleng. Seandainya tahun ini dia benar-benar tidak tahu harus mengajak siapa, mungkin dia akan mengajak Hermione. Berdoa supaya gadis itu mau, walaupun harus mendapat 'izin resmi' dari Viktor Krum, kekasih Hermione.

Draco juga sedang berpikir keras. Pasti banyak gadis yang mau datang bersamanya. Tetapi dia juga harus memilih yang tepat, tidak hanya asal pilih.

Dan dia ingin sekali mengajak Hermione. Tetapi bayangan tentang wajah putih mulusnya akan bonyok plus akan dimusuhi oleh sahabat-sahabatnya, Draco mengurungkan niat. Lagipula, Hermione belum tentu mau datang bersamanya, kan...

Maka Draco menggeleng juga.

"Ah, kalian, bagaimana sih. Tidak asik sekali," cemooh Blaise, menatap Theo dan Draco dengan tatapan melecehkan.

"Aku tahu kau masih sedih karena Padma, mate," Harry menepuk pundak Theo pelan, sekaligus menghindari tatapan Ginny Weasley—adik Ron—yang sedari tadi melirik ke arahnya. Ugh. Sangat menggelikan.

Theo mengangguk lemah.

"Jangan sedih, Theo. Aku tahu kalau Padma masih mencintaimu, kok. Mau ke pesta dansa bareng dia ya?" tanya Hermione, ikutan sedih melihat nasib temannya yang di ujung tanduk ini.

"Aku tidak tahu," gumam Theo pelan. Sementara itu, Theo melirik ke arah Padma Patil, yang ternyata sedang beradu pandang dengan Daphne Greengrass, yang kedua pasang bola mata mereka berkilat-kilat marah. Theo dengan secepat kilat membuang muka dari pandangan itu.

"Kau, Draco! Kau tahun kemarin kan tidak mengajak siapa-siapa karena Pesta Dansa Natal tidak wajib untuk anak kelas X. Tapi tahun ini wajib. Jadi kau mengajak siapa?" tanya Ron, penasaran. Siapa yang akan diajak oleh pangeran tampan Hogwarts ini?

"Sudah kubilang, belum tahu." Draco mengelak kesal. Padahal dalam hati dia sudah punya satu tujuan ... gadis berambut coklat yang sedang menatapnya tajam dari tadi. Seolah menunggu jawaban.

"Baiklah!" Draco sedikit berteriak, kesal karena daritadi ditatapi tanpa henti.

"Oke, kalau kalian mau tahu—"

Draco menghela napas sebentar. Menatap mata Hermione, mungkin hanya sedetik. Lalu kembali menatap kepada sahabat-sahabatnya yang lain.

"Mungkin, mungkin aku akan mencoba mengajak—"

Perkataan Draco terputus karena terlihat sekarang beberapa anak cowok sedang berada di belakang Fleur, membawa bunga atau coklat. Yang lain bergidik ngeri. Fred dan George Weasley—kakak kembar Ron dan Ginny—seperti biasa, memasang taruhan. Fleur menatap kesal pada rombongan laki-laki yang mengejarnya itu. Ada dua alasan mengejar Fleur seperti itu.

Yang pertama, untuk menembak Fleur, lagi.

Yang kedua, untuk mengajak Fleur ke pesta dansa yang diadakan dua minggu lagi. Suatu keberuntungan jika diterima Fleur—walaupun hanya ke pesta dansa yang diadakan satu malam itu saja.

"Fleur Delacour," sambung Draco. Semua cengo. Hermione menautkan alis seakan bilang kau-gila-Draco. Harry dan Blaise membuka mulutnya dengan sangat tidak elite. Theo mengernyitkan dahi berkali-kali. Dan Ron lebih parah—menyemburkan makanan yang berada di mulutnya sehingga sedikit terkena Theo dan Blaise yang duduk bersebelahan.

"AKHIRNYA!" Blaise kembali ke ekspresi semula, nyengir-tidak-jelas. Semuanya menoleh heran kepadanya.

"Akhirnya kau menjadi cowok normal, Draco—"

"Apa maksudmu?" Draco tidak terima dikatakan tidak menjadi cowok normal selama ini.

"Aku kira kau tidak bisa melihat cewek dengan baik. Akhirnya matamu berfungsi juga untuk mengajak Fleur Delacour. Kupikir sampai mati kau tidak tertarik dengannya—" Semuanya terkikik atau tertawa, walaupun salah satu di antara mereka melakukannya dengan terpaksa.

"—kalau Wood kakak kelas kita tidak tertarik padanya wajar, dia sudah punya Johnson. Lalu beberapa adik kelas X takut dengan kakak kelas lainnya. Kalau kau? Masih single, dikejar-kejar wanita, tapi tidak tertarik pada siapapun. Akhirnya kau menunjukkan ketertarikanmu juga," lanjut Blaise panjang lebar. Draco mendelik, namun sedetik kemudian dia mengerti.

"Tidak ada salahnya kan mengajak dia? Yah, walaupun aku tahu tahun lalu dia juga tidak ikut pesta dansa karena kakinya keseleo atau apalah. Sementara dua tahun lalu aku tidak tahu dia ikut atau tidak, kita semua belum masuk sekolah ini," kata Draco, berusaha menjelaskan kepada semuanya. Walaupun dia juga tidak yakin dengan pilihannya sendiri untuk mengajak Fleur Delacour. 98% kemungkinan akan ditolak...

"Oke. Tinggal Theo dan Hermione. Kenapa kalian tidak berdua pergi bersama saja?" celetuk Blaise iseng. Hati Draco dag-dig-dug tidak karuan lagi. Dia datang dengan Theo? Argh!

"Boleh," jawab Hermione tersenyum manis, menoleh kepada Theo, meminta persetujuan.

Theo mendesah dalam hatinya. Hermione memang menjadi pilihannya, tetapi pilihan terakhirnya ... sementara tadi dia berniat untuk mengajak Padma—walaupun kemungkinan 99% ditolak—untuk ke pesta dansa. Tetapi akhirnya Theo mengangguk, menatap mereka semua.

"Oke," jawab Theo. Meninggalkan kekesalan Draco di hatinya yang paling dalam.

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Errsorry kalau chapter ini mengecewakan.

So ... Lemme to reply reviews at ch 1

BlueDiamond13 & Brilliant Hermione: ehehe, thanks lhoo XD

Tinkebot: ehehe, thanks lhoo xD iya, sengaja belum dibuat terlalu spesifik karena chapter 1 untuk pengenalan tokoh-tokohnya terlebih dahulu x))

cla99: ehehe, thanks lhoo xD iya, akan saya usahakan nggak ada typo lagi yaa

megu takuma & : this is a next chap!

Untuk tebakan pairing ... nggak saya jawab dulu deh. Silakan kalian telusuri perlahan-lahan... *eak*

BlueDiamond13: thanks ya:D ini udah dilanjutken.

caca. cullen: yap lihat saja hubungan mereka nanti.

Review?:D