Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC.
Enjoy!
.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19
.
Chapter 3: Viktor Krum
Hermione memandang layar handphonenya dengan emosi. Apa-apaan ini? Apa yang baru saja didengarnya tadi saat istirahat di sekolah?
Draco Malfoy ingin mengajak Fleur Delacour?
Bahkan gadis yang selalu bersamanya satu tahun ini tidak diajaknya sama sekali! Padahal ... padahal dia tahu waktu itu Hermione belum ada pasangan.
Draco Malfoy ingin mengajak Fleur Delacour?!
Hermione mengempaskan dirinya ke kasur.
Cukuplah sudah pengorbanan yang dia lakukan selama ini.
Berpacaran dengan Viktor Krum untuk membuatnya cemburu. HAHA. Bahkan Draco mengajaknya untuk Pesta Dansa Natal saja tidak mau!
Ya, Hermione Jean Granger selama ini tidak menyukai Viktor. Oh, mungkin suka. Tapi hanya sebagai teman. Digaris bawahi itu. Hanya. Sebagai. Teman.
Hermione selama ini berusaha bahagia menjadi kekasihnya. Tidak menunjukkan kekesalan apapun. Mereka jarang bertengkar. Menjaga hubungan mereka agar tetap awet dan harmonis.
Tapi—apa?
Boro-boro cemburu. Untuk mengajak Pesta Dansa Natal saja harus yang selevel dengannya. Haha, selevel. Hermione tahu dia tidak secantik dan seanggun Fleur. Tapi, setidaknya pandanglah dia. Dia yang selama ini berada di sampingnya selama satu tahun ini.
Mungkin ini karma baginya. Ya, karma. Karma karena memanfaatkan cinta Viktor yang tulus demi mendapatkan pujaan hatinya sejak pertama kali masuk Hogwarts Senior High School.
Hermione mendengus. Baru saja dia ingin membanting handphone ke lantai menjadi pelampiasannya, handphone itu berbunyi. Ditengoknya.
Love
Calling
Hermione menghela napas. Mungkin ini waktu yang tepat. Mungkin hari ini juga dia akan bertemu dengan Viktor untuk memutuskannya. Mungkin, ini waktu yang tepat...
Hermione menekan tombol hijau.
"Halo—"
"Halo, love!" Suara berat Viktor di telepon terdengar bersemangat.
"Hmm, ya? Tumben menelepon?"
"Hng, ada waktu nanti malam? Aku mau berbicara, penting—"
"Ah, ya, aku bisa, Viktor! Oke, di mana? Jam berapa?"
"Kau bersemangat sekali?"
Hermione tersenyum kecil, walaupun ia tahu Viktor tidak dapat melihatnya.
"Umm, tidak—karena, aku juga ingin berbicara denganmu..."
"Ah, tepat sekali kalau begitu. Baiklah, jam enam sore kujemput di rumahmu, di restoran yang biasa."
"Oke."
"Bye, love, aku masih ada tugas di kampus."
"Bye—"
Belum selesai Hermione berbicara, telepon sudah diputus. Hermione sedang menduga-duga apa yang dikatakan Viktor sehingga sebegitu pentingnya dan harus bertemu langsung.
Hmm. Mau putus juga kah?
Tetapi dia terdengar bersemangat tadi. Ah, mungkin dia bersemangat untuk memutuskan ceweknya yang brengsek dan memanfaatkannya.
Hermione tersenyum sinis, lalu lama kelamaan bulir-bulir bening berkeluaran dari manik hazelnya. Hermione memendamkan wajahnya di bantal.
Menangis, dan menunggu waktu hingga pukul 06.00 p.m.
Berharap semuanya baik-baik saja. Ya, semoga baik-baik saja.
.
.
"Ha—halo, Luna," sapa Harry, gugup. Hari ini dia ada latihan lagi, dan sekarang dia sedang istirahat.
"Halo, Harry," sahut Luna, lalu kembali membaca buku tebal yang dia bawa sedari tadi.
"Boleh aku duduk di sini?"
"Kalau aku bilang tidak boleh, kau tetap duduk, kan?"
Harry nyengir. Luna tersenyum. "Boleh, kok."
Harry duduk di samping Luna. Hening.
"Kau akhir-akhir ini sering datang ke sini, ya?" tanya Harry, membuka percakapan. Berusaha agar suaranya tidak bergetar.
"Ya," jawab Luna, tidak berpaling dari buku yang dibacanya.
"Melihat Draco Malfoy, ya?" tanya Harry lagi, agak tidak rela. Luna mengangguk.
Harry menelan ludah. Seperti ada sesuatu yang membuatnya susah menelan ludah.
"O—oh," jawab Harry, kembali mengangguk. Tadinya Harry sedikit geer, tapi yah—terkadang kenyataan sangat jauh dari harapan yang diinginkan.
"Aku melihat permainan sekaligus anak-anak tim futsalnya, Harry. Nah—Malfoy itu termasuk anak tim kan?"
Harry menepuk dahinya, seakan baru mengerti.
"Oh, iya ya," jawab Harry seperti orang dungu. Luna tersenyum manis, dan tiba-tiba memalingkan wajah dari buku yang dibacanya, mungkin tidak konsentrasi lagi.
"Memangnya kenapa?"
Mampus kau, Harry. Sekarang Harry benar-benar gelisah.
"Err—tidak apa-apa, sih—kukira kau tidak suka futsal." Harry nyengir, menutupi kegelisahannya. Luna mengangguk-angguk mengerti.
Suara bising dari lapangan membuat mereka melupakan percakapan mereka tadi. Sampai akhirnya—Harry ingat apa yang harus ia sampaikan kepada gadis yang lebih muda satu tahun di sebelahnya ini.
"Err—Luna?" panggil Harry, membuat Luna sadar dari lamunannya.
"Harry?"
"Apakah kau sudah—eng, sudah—apakahkausudahmendapatkanpasangandansanatal?"
Luna mengernyit, tidak mengerti perkataan Harry yang kelewat cepat.
"Sorry?"
Pipi Harry merona merah.
"Maksudku—err—apakah kau sudah mendapatkan pasangan dansa natal?" Harry menghembuskan napas lega. Mungkin lega karena dapat menyalurkan 'pertanyaan'nya ke gadis berambut pirang ini.
"Belum," jawab Luna tersenyum singkat. Harry menggaruk-garuk bagian kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Err—"
"HOI, HARRY POTTER! JANGAN BERPACARAN TERUS! LATIHAN MAU DIMULAI LAGI!" teriak Cedric Diggory—laki-laki jangkung berkulit putih sekaligus kekasih Cho Chang—yang menempati kelas XII-IPA-1.
Harry nyengir, dan mengangguk-angguk.
"Aku latihan dulu, Luna—tadi, aku bermaksud mengajakmu menjadi pasanganku di Pesta Dansa Natal—kalau kau tidak keberatan dan belum mempunyai pasangan—"
"HARRY!" teriak Cedric lagi, mengentak-entakkan kakinya.
"IYA!" balas Harry, sambil teriak juga, lalu melambaikan tangannya pada Luna yang belum sempat menjawab tawarannya.
Harry lalu berlari menuju lapangan, berharap semoga ajakannya diterima. Sementara—Luna Lovegood yang tadi ditawari menjadi pasangan pesta dansa seorang Harry Potter—sedang tersipu dan tersenyum malu-malu.
.
.
Hermione mengucek-ucek matanya setelah merasakan dirinya ingin ke kamar mandi. Dia baru bangun dari tidur siangnya hari ini.
Iseng-iseng Hermione menengok ke arah jam dinding manis yang bertengger di bagian tembok kamarnya—pukul 05.35 p.m. Hermione langsung melotot.
JANJINYA DENGAN VIKTOR!
Hermione langsung melesat ke kamar mandi, tidak memperdulikan kakinya tanpa sengaja menendang handphonenya ke lantai, dan mulai terdengar orang mandi di kamar mandi.
—dengan tergesa-gesa.
Setelah sekitar dua menit Hermione di kamar mandi—ya, dua menit—Hermione segera mengambil baju seadanya untuk dipakai untuk pergi dengan Viktor. Dapat. Blus biru dengan celana jeans 7/8. Sebodo amat kalau parah, batin Hermione—toh mungkin ini kencannya yang terakhir dengan Viktor.
Setelah memakai sekaligus sedikit berdandan—memakai bedak dan lip gloss, Hermione bercermin di kamarnya, lalu menoleh ke arah jam.
05.40 p.m.
Hermione baru menyadari satu hal. Rumahnya masih sepi. Mungkin ayah dan ibunya belum pulang. Hermione menyambar tas dan handphonenya—yang berada di lantai. Hermione mendengus. Untung tidak kenapa-kenapa.
Terdapat 3 sms dan 1 missed call.
Hermione membuka missed callnya.
Love.
Ah—batin Hermione lagi. Mungkin aku harus mengganti nama kontak Viktor nanti. Maafkan aku...
Hermione membuka sms pertamanya.
From: Love
Aku sudah di depan rumahmu.
Hermione mengernyitkan dahinya. Bukannya sekarang belum pukul 06.00 p.m.? Viktor buru-buru sekali. Hermione mengecek kapan sms itu dikirim. Pukul 05.20 p.m. Yah—Hermione sudah telat sekali.
Sembari membuka sms keduanya, Hermione mengecek sekali lagi penampilannya di cermin, lalu buru-buru mengambil kunci untuk mengunci pintu kamarnya.
From: Harry P.
Hoy, 'Mione. Aku tadi sudah mengajak Luna. Bukan mengajak sih, tapi menawarkan. Yah sama saja, lah. Menurutmu, aku diterima atau tidak? Dia belum menjawabku, tadi pas dia mau menjawab, si Diggory sudah memanggil-manggil untuk latihan. Butuh saran nih, sobatmu lagi galau.
Hermione mendecak-decakkan lidahnya. Di saat dia buru-buru begini—Harry malah curhat. Sambil menuruni tangga terburu-buru—dan berdoa supaya tidak terjatuh—Hermione mengetik sms balasan.
To: Harry P.
Kau mengajaknya bagaimana? Berdoa saja semoga diterima. Kau beneran naksir sama dia, ya?
Hermione sudah mencapai lantai bawah. Dia sudah mau membuka sms ketiganya, tetapi ditunda dulu, karena sekarang yang lebih penting adalah bagaimana cara Viktor mau mendengarkan penjelasannya karena tidak membalas sms, tidak mengangkat telepon, dan meninggalkannya selama beberapa menit.
Hermione membuka pintu depan rumahnya. Di sana Viktor berdiri di depan mobil mewahnya. Hermione buru-buru mengunci pintu rumahnya—ayah dan ibunya mempunyai kunci yang sama—lalu segera menghampiri Viktor—setelah menutup pagar rumahnya.
"Maaf sekali, Viktor—aku tidak menyangka kau secepat ini. Aku ketiduran."
"Tidak apa-apa," jawab Viktor, lalu membuka pintu mobil untuk Hermione. Setelah Hermione masuk, gantilah dia yang memasuki mobil dan mulai menyetir mobilnya.
Di dalam mobil dua-duanya diam. Hermione merasa canggung sekali—mungkin ini terakhir kalinya dia di dalam mobil ini. Hermione membuka sms ketiganya yang sempat tertunda.
From: Blaise Z.
Aku ingin mengajak Alicia Spinnet besok. Pasti dia terima ajakanku.
Hermione mendengus tanpa sadar dan Viktor menoleh kepadanya.
"Ada apa?"
"Tidak—sms dari teman yang isinya over pede."
Viktor lalu mengangguk dan mengalihkan pandangannya lagi menuju ke depan. Hermione membalas sms Blaise.
To: Blaise Z.
Kau itu pede sekali ya? Bagaimana kalau dia tidak menerima ajakanmu?
Tepat satu detik setelah dia membalas sms Blaise—ada satu lagi sms baru. Hermione mengernyit. Oh ya—handphonenya sedang dalam silent sehingga dia tidak menyadari ada satu sms lagi yang datang begitu cepatnya.
Hermione membukanya.
From: Harry P.
Lama sekali balasnya? Kencan dengan Viktor, eh? Yeah, aku mengajaknya dengan bilang begini—tadi, aku bermaksud mengajakmu menjadi pasanganku di Pesta Dansa Natal—kalau kau tidak keberatan dan belum mempunyai pasangan, begitu.
Hermione mengangkat alisnya.
To: Harry P.
Tidak romantis sekali.
Yeah, terkirim. Hermione tidak memperdulikan pertanyaan Harry yang pertama dan kedua. Hermione menoleh ke arah Viktor—yang terlihat gugup, gelisah, dan mengeluarkan keringat di saat yang bersamaan.
"Kau kenapa?" tanya Hermione, memecahkan keheningan yang dari tadi terjadi di mobil itu.
"Eh? Apa?" tanya Viktor menoleh ke arah Hermione sebentar, lalu konsentrasi lagi dengan menyetir.
"Kau kenapa? Sepertinya kau sedang, err—gugup?" Hermione mengulang pertanyaannya.
"Tidak apa-apa." Kali ini Viktor tidak menoleh ke arah Hermione, tetapi sedang tersenyum yang sepertinya dipaksakan.
Hermione mengangguk-angguk mengerti, walaupun ada firasat yang tidak mengenakkan di dalam hatinya.
Viktor menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran mewah. Setelah memarkirkannya dengan tepat, dia mengajak Hermione masuk ke restoran tersebut.
"Mau makan apa?" tanya Viktor, Hermione menjawab—
"Seperti biasa."
Viktor mengangguk.
"Chicken cordon bleu satu porsi, spaghetti bolognesse satu porsi, dan dua gelas air putih."
Si waitress mengangguk dan segera pergi setelah mencatat pesanannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya keduanya berbarengan, lalu tertawa bersama.
"Kau dulu," tunjuk Hermione akhirnya. Viktor menggeleng.
"Kau dulu saja, sepertinya punyamu lebih penting."
Hermione menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kau yang mengajak aku duluan, jadi punyamu lebih penting," elak Hermione lagi. Viktor mengambil napas dalam-dalam—
Dan entah darimana, lagu If You're Not The One – Daniel Bedingfield mengalaun. Hermione mempunyai feeling—
—benar saja, Viktor mulai mengeluarkan cincin.
If you are not mine, then why does your heart return, my call?
If you are not mine, would I have the strength at all... *)
Hermione tidak perlu tahu apa yang dikatakan Viktor selanjutnya...
"Maukah kau menjadi tunanganku?"
"Vik—Viktor—" Hermione membekap mulutnya sendiri.
Viktor tersenyum. Tidak—senyuman itu justru membuat Hermione bertambah gelisah. Hermione tidak menyangka bahwa yang akan dibicarakan Viktor adalah ini. Sangat bertolak belakang dengan apa yang akan disampaikannya. Diputuskannya—
"Hermione?" Suara Viktor terdengar sangat jauh...
Waktu terus berjalan dan sebagian pengunjung restoran sedang menoleh ke arahnya, menunggu jawabannya—
"Kita baru beberapa bulan, Viktor—" desah Hermione.
"Tapi aku merasa sudah sangat yakin, bahwa kita akan terus bisa bersama—"
"Maaf—" jawab Hermione akhirnya.
Lagu telah berakhir. Seperti harapan Viktor yang juga berakhir hari ini.
Hari ini.
Viktor mendesah kecewa yang amat dalam. Bahkan makanan mereka yang sudah datang, mereka tidak tahu.
"Kenapa?" Itu akhirnya pertanyaan yang bisa diluncurkan Viktor dari beratus-ratus pertanyaan di kepalanya.
"Aku—ak—aku, tidak bisa—" Hermione menggelengkan kepala berkali-kali.
"Memangnya apa yang ingin kau katakan hari ini?"
Hermione mengeluh dalam hati. Akhirnya pertanyaan ini tiba.
Akhirnya.
"Kurasa—"
Hermione menghela napas.
"Kurasa kita sampai di sini saja."
Enam kata. Satu kalimat. Cukup untuk mengakhiri semua-muanya yang berjalan beberapa bulan ini.
"Itukah alasanmu untuk menolakku hari ini?"
Hermione tidak menjawab. Tidak menggeleng ataupun mengangguk.
"Kenapa?" Viktor memberondongnya lagi dengan pertanyaan. Hermione sungguh tidak sanggup lagi.
"Apa ada pria lain yang membuatmu tertarik dengannya daripada aku?"
"Maaf—"
"Dia datang ke kehidupanmu setelah atau sebelum kita berpacaran?"
"Maaf—"
"Apakah—"
"Viktor, maafkan aku," potong Hermione, akhirnya. Dia sungguh merasa tidak enak. Gadis brengsek macam dia tidak pantas mendapat pria yang sangat tulus mencintainya seperti Viktor. Dia mempermainkannya seolah-olah dia boneka yang dapat dia permainkan seenaknya.
"Bukan salahmu," Viktor berkata, akhirnya. Hermione terkejut.
"Ini mungkin salahku karena tidak bisa melindungi dan membahagiakanmu dengan baik, sehingga aku membuatmu bosan," lanjut Viktor dengan nada yang amat sangat kecewa dan sedih.
"Tidak, Viktor, jangan berkata seperti itu, kau melindungi dan membahagiakanku dengan baik—"
"Mungkin aku kurang tampan—"
Jika situasinya sedang tidak seperti ini, mungkin Hermione akan tertawa. Tetapi kenyataannya tidak.
"Tidak, Viktor, kau tampan—"
"Aku tidak tahu apa alasanmu yang membuatmu ingin kita berpisah, tapi—yah—sebetulnya aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja—aku amat mencintaimu."
Hermione menunduk.
"Kita masih bisa berteman kan?" bisik Viktor perlahan di telinga Hermione.
Hermione tersenyum senang.
"Teman," balasnya.
"Mari makan, aku mulai lapar."
.
.
Keesokan harinya, istirahat pertama, di Hogwarts Senior High School ...
"Baik, siapa duluan?" tanya Ron di sela-sela kunyahan ayam panggangnya. Hermione mendelik ke arahnya dengan tatapan mencela. Oh ya—Hermione belum memberitahukan siapapun hubungannya yang kandas kemarin malam.
"Blaise saja dulu," kata Draco.
"Mengapa tidak kau dulu?" tanya Blaise dengan nada menantang.
"Yang waras dan tampan selalu terakhir," sahut Draco dengan nada angkuh. Blaise mendengus, yang lainnya tertawa.
"Aku juga waras dan amat sangat tampan dibanding dirimu."
Giliran Draco mendengus.
"Oh, ayolah, aku ingin melihat kehebatanmu merayu kakak kelas," bujuk Draco, dengan tatapan memelas.
"Baiklah." Blaise bangkit dari kursinya, dan mulai mendekati meja kelompok kakak kelas—Angelina Johnson, Katie Bell dan Alicia Spinnet.
Blaise mendekati salah satunya, dan akhirnya diketahui oleh kelima sobat lainnya bernama Alicia Spinnet.
Setelah beberapa menit Blaise berbicara dengannya—sepertinya Alicia Spinnet—mengangguk-angguk antusias.
Blaise tersenyum puas dan melambaikan tangan ke arah mereka bertiga, lalu kembali ke mejanya tadi.
"Lihat sendiri kan?" Blaise bertanya dengan nada kemenangan. Theo mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya mudah sekali," kata Theo, tidak percaya dengan penglihatannya tadi.
"Tidak seru." Harry membuat gerakan tangannya ke samping, seolah-olah menampar angin. Blaise melotot ke arahnya.
"Maksudnya?"
"Coba kalau kau mengajaknya di tengah-tengah kantin, saat kantin hening," lanjut Harry dengan santainya.
"Kalau bagian itu, sebaiknya dilakukan oleh Draco Malfoy, mate." Blaise mengeluarkan seringai liciknya. Draco menimpuknya dengan tasnya, dan Blaise langsung mengaduh kesakitan.
"Tidak akan."
"Tapi itu ide yang bagus, Draco." Ron mengangguk-angguk setuju.
"Merlin..."
"Siapa itu Merlin?" tanya Ron dengan dungunya.
"Merlin semacam yang berkuasa di dunia sihir, tidak tahu juga sih," jawab Hermione, Si Pintar. Draco mengangguk-angguk.
"Lalu mengapa kau memanggil-manggil Merlin? Memang dunia sihir ada?" tanya Harry lagi. Draco mulai kesal.
"Ah, lupakan. Cepat atau lambat aku harus mengajak si Delacour juga." Draco menoleh ke arah Fleur yang sepertinya sudah akan bangkit dari kursinya. Ah, sial—sepertinya dia benar-benar harus mengajak Fleur di tengah-tengah kantin. Ingatkan dia untuk menonjok Blaise nanti.
"Tuh, mate." Blaise menunjuk-nunjuk ke arah Fleur dengan semangatnya. Draco menepis tangannya kesal.
Draco juga mulai bangkit dari kursinya.
Draco mendekati Fleur yang sedang berjalan dengan anggunnya—
Dan tiba-tiba seluruh penghuni kantin menoleh ke arah mereka berdua. Ada yang melongo, kaget, speechless, melotot, khusus untuk Pansy Parkinson—menyemburkan jus yang sedang diminumnya ke arah Daphne Greengrass.
"Hoi, Fleur Delacour."
Panggilan Draco membuat kantin tiba-tiba menjadi sunyi senyap. Aktivitas mereka semua berhenti. Fred dan George yang baru akan memasang taruhan, tetapi bingung mau memasang apa—karena cowok yang satu ini berbeda dari cowok yang biasanya mendekati Fleur.
"Err— taruhan untuk si Malfoy mengajaknya kencan?" bisik Fred akhirnya, mengeluarkan lima dollar.
"Hng—apa ya—taruhan untuk si Malfoy mengajaknya ke pesta dansa?" George mengeluarkan lima dollar juga. Mereka menahan napas.
Fleur menoleh ke arah Draco dengan angkuhnya, mengangkat alis dan memberi tatapan 'apa?'
"Ehem, sudah ada pasangan untuk ke pesta dansa?"
"Belum," jawab Fleur singkat. Draco mengangguk lagi. Sejujurnya—dia juga nervous.
"Mau pergi bersamaku?"
HA! Semua penghuni kantin langsung melotot ke arah Draco berbarengan, seolah sudah diatur. Mengapa begitu?
Faktor pertama; Draco Malfoy tidak pernah melirik Fleur lebih dari satu kali.
Faktor kedua; Draco Malfoy tidak pernah mendekati Fleur.
Faktor ketiga; apakah Draco Malfoy sudah tobat?
George memberikan senyum kemenangan kepada Fred dan meraup sepuluh dollar dari meja makan. Fred mendengus, tapi tidak kencang.
Fleur memberi tatapan kepada Draco seperti menilai, dari atas ke bawah.
"Kau itu Draco Malfoy yang anak kelas XI-IPA-2 ya?"
"Yap."
"Yang pernah digosipkan gay karena tidak pernah mendekatiku?"
Draco menatapnya malas. Beberapa anak perempuan yang mendengarnya langsung terkikik.
"Baiklah. Ini nomor teleponku. Nanti jika sudah harinya, kukabarkan kapan kau akan menjemputku. Tolong beri aku pesan terlebih dahulu supaya aku tahu nomormu." Fleur menyerahkan sebuah kertas yang sepertinya sudah tertera oleh nomor telepon.
Fleur melenggang pergi.
Semua penghuni kantin seperti terkena shockwave. Baik laki-laki maupun perempuan ada yang menjerit-jerit histeris.
Dua.
Orang.
Idola.
di.
Hogwarts.
Akan.
Menjadi.
Pasangan.
di.
Pesta.
Dansa.
Natal.
Pansy Parkinson sepertinya sudah pingsan di tempat duduknya.
.xOx.
TO BE CONTINUE
*) Lirik lagu If You're Not The One - Daniel Bedingfield.
A/N: I'm back! Sungguh kecewa dengan review yang ada, sangat sedikit x(( tapi thanks banget yang udah bersedia review...
Review membuat saya lebih bersemangat untuk melanjutkan sebuah ff.
[Edited 03.12.2014: Lirik lagu If You're Not The One saya kurangi, tidak full satu lagu. Songfict dilarang di FFn. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya]
Review? :D
