Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 5: Salah Paham


Hari Minggu.

Biasanya pada hari Minggu, Hermione akan melewatkan waktu bersama dengan kucing oranyenya—yang diberi nama Crookshanks—tetapi kucing itu sudah mati dua hari yang lalu. Atau biasanya dia jalan bersama teman-temannya di mall atau di manapun, yang penting hang out, tetapi teman-teman Hermione sedang tidak bisa jalan-jalan sekarang. Sibuk, katanya. Atau biasanya Hermione akan menghabiskan waktu bersama orang tuanya, tetapi mereka sedang sibuk. Atau—

—kencan bersama Viktor.

Salahkan waktu yang membuat semuanya semakin terlambat. Tetapi Hermione sepertinya tidak peduli, atau pura-pura tidak peduli. Entahlah, dia sedang tidak ingin berdebat bersama hatinya, walaupun pada dasarnya dia orang yang suka beradu argumen.

Dia lelah.

Sepertinya semua orang yang disayanginya memang sudah tidak ada waktu lagi dengannya. Teman-temannya sekarang sudah jarang menghubunginya lagi—abaikan Draco yang sedari tadi mengsmsnya terus menerus untuk mengkonfirmasi jawaban yang kemarin—dan orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya.

Hari Minggu yang ini benar-benar membuat Hermione bosan.

Dia sudah belajar untuk ulangan Kimia hari Sabtu nanti, ulangan TIK untuk satu minggu yang akan datang, dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang akan dikumpulkan dua atau tiga minggu lagi.

Hermione sudah selesai membaca semua buku-buku pelajarannya, bahkan ada yang beberapa diulang lagi olehnya.

Dan sekarang dia benar-benar bosan.

Hermione mendengus kesal melihat handphonenya yang daritadi tiada henti untuk meng'konsumsi' sms. Dan sms itu dari Draco. Ternyata dia benar-benar menepati janji untuk mengganggu Hermione di hari Minggu jika gadis itu tidak mau menjawab pertanyaannya kemarin.

Hermione bosan.

"Mungkin jalan-jalan di mall terdekat bisa membuat pikiranku segar," katanya pada dirinya sendiri dengan tidak yakin. Tidak biasanya dia ke mana-mana sendirian.

Tapi akhirnya dia laksanakan juga perintahnya kepada dirinya sendiri itu. Mengambil baju kaos dan celana jeans—Hermione bukanlah orang yang peduli amat dengan penampilan—lalu memberi bedak pada wajahnya dan lip gloss kepada bibirnya.

Selesai. Dia menyambar tasnya, lalu mengambil handphone dan dompetnya, dan dimasukkan ke tas.

Dia mengunci pintu kamar, turun ke bawah lewat tangga, lalu segera mengunci pintu depan dan menggembok pagar juga.

Sekarang saatnya untuk pergi. Oh, tidak terlalu jauh. Sekitar lima belas menit dan Hermione akan sampai di mall itu. Mall yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Hermione mengecheck handphonenya lagi. Dan Draco masih belum berhenti untuk mengiriminya sms. Hebat. Empat puluh tiga sms dari Draco semua dan belum satupun yang dibuka oleh Hermione.

Hermione mengeluh. Tapi sambil jalan, dibukanya juga sms dari Draco dari bawah—

From: Draco M.

Aku menunggu jawabanmu yang kemarin.

Selanjutnya,

From: Draco M.

Ada pulsa, kan? Jangan pelit untuk memberikan satu sms saja.

Dan,

From: Draco M.

Sampai sms yang ke lima puluh jika kau belum balas juga, aku akan meneleponmu sampai kau jawab.

ARGH!

Hermione menggeleng-geleng frustrasi. Dia tidak mau membaca yang lainnya. Paling hal yang sama juga. Dasar cowok yang boros.

Hermione menyerah, belum lima menit dia berjalan, sms masuk lagi.

From: Draco M.

Sms yang ke empat puluh empat, nih. Nggak mau balas juga, ya?

Hermione mengernyit. Dia benar-benar serius soal sms ke lima puluh itu, ya?

Hermione mendecak tidak percaya. Akhirnya dengan rasa frustasi dicampur kesal dan sedikit marah, akhirnya dia membalas sms itu dengan huruf besar-besar sekaligus tanda seru yang banyak.

To: Draco M.

BERHENTI MENGIRIMIKU SMS TERUS MENERUS, DRACO MALFOY! KAU MENGGANGGU HARI MINGGUKU YANG CERAH!

Sent

Sebenarnya hari Minggu Hermione tidak cerah-cerah amat, sih. Bukannya tadi sudah dibilang dia amat sangat bosan?

Hermione baru saja memutuskan untuk mematikan handphonenya saat sms masuk lagi—

From: Draco M.

Well, jawab pertanyaanku kalau begitu. Gampang, kan?

Hermione benar-benar mematikan handphonenya sekarang tanpa berpikir dua kali. Lagian kenapa dia bisa sejujur itu sih waktu kemarin?

Tapi, daripada dia dicium secara paksa lagi? Hermione tidak mau hal itu terjadi.

Dan pada akhirnya Hermione beradu argumen dalam dirinya sendiri.

Dasar Hermione Granger.

.


.

Hermione sampai di mall tujuannya. Sendiri. Ya, akhirnya dia benar-benar ke mall sendiri tanpa siapapun.

Hermione menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia tidak ada tujuan apapun ke sini. Dia hanya ingin menghilangkan kebosanan—

Sampai dia melihat pemandangan yang menakjubkan.

Ya, menakjubkan bagi dirinya, tapi bagi orang lain tidak. Apa yang menakjubkan dari seorang laki-laki dan perempuan sedang bergandengan tangan berduaan dengan mesranya?

Masalahnya, laki-laki dan perempuan itu adalah—

Adalah—

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Draco Malfoy, dan—

.

.

.

.

.

Fleur Delacour.

Hermione harus mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan penglihatannya benar dan normal. Perlahan-lahan, dia dekati pasangan itu.

Mau menguntit, sekaligus menguping. Tetapi mall itu lumayan ramai, apalagi dengan adanya musik-musik yang diperdengarkan, semakin mempersulit Hermione.

Bukankah—bukankah si Tuan Muda Malfoy itu baru saja mengsmsnya terus menerus dari tadi?

Well, tapi sejak sepuluh menit yang lalu Hermione memang tidak mengcheck handphonenya lagi. Dengan tergesa-gesa, dia segera mengaktifkan kembali handphonenya.

Sambil diam-diam menguntit 'pasangan'—Hermione mendecih sebentar—itu, Hermione dengan sabar menunggu sms Draco yang mungkin akan datang lagi.

Tapi nyatanya, memang sudah tidak ada sms dari Draco.

Hermione mengeluh. Tadinya dia mengira Draco ingin mengetahui bahwa Hermione benar-benar menyukainya karena Draco juga membalas perasaannya, ternyata—pria yang diharapkan membalas perasaannya malah berkencan dengan gadis lain. Iya, berkencan. Berduaan. Di mall. Berpegangan tangan.

Hermione yakin 100% bahwa penglihatannya tidak salah. Draco dan Fleur sama-sama punya rambut pirang. Bedanya, yang cowok punya pirang pendek, yang cewek pirang panjang.

Dan—memang tidak salah. Hermione melihat lagi, dan wajah mereka benar-benar Draco Malfoy dan Fleur Delacour, sepasang populer di Hogwarts Senior High School.

Hermione jadi sedih.

"—Malfoy, sebenarnya aku tidak menginginkan ini." Hermione mendengarkan samar-samar suara si cantik Delacour. Apanya yang tidak diinginkan? Apanya?

"Aku bosan di rumah, kau tahu?" sekarang suara si pria yang terdengar. Hermione jadi tambah kesal. Oh, jadi si Draco yang mengajaknya ya? Sementara Hermione malah dikirimi sms-sms tidak jelas, bukan diajak ke mall? Yang diajak malah si Fleur?

Oke, kalau begitu.

Hermione baru saja ingin melangkah pergi jauh-jauh dari pasangan itu, ketika suara si pria terdengar lagi—

"Handphoneku malah pake lowbat segala, lagi. Aku tambah bosan."

Si perempuan hanya mengangkat alis seolah tidak peduli, lalu melepaskan pegangan tangan antara dirinya dan si pria.

"Aku mau ke sana dulu." Yang perempuan menunjuk ke arah Bread Talk. Draco buru-buru menyusulnya.

Hermione MUAK!

Dia menyesal kenapa dia mengikuti kata hatinya untuk pergi ke mall ini. Dia menyesal kenapa harus melihat pemandangan menyakitkan itu dari mata kepalanya sendiri. Dia menyesal...

Dia sebenarnya ingin sekali keluar dan pulang dari mall itu, tapi entah kenapa kakinya tidak bisa digerakkan. Kaku. Seolah ada magnet yang menahannya. Padahal dia sudah muak untuk melihat ke'mesra'an pasangan itu.

Hermione ingin menangis, tapi tak bisa.

Hermione ingin marah, tetapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Sebenarnya, si Malfoy itu bukan siapa-siapanya kan? Lalu kenapa dia merasa ... seperti ini?

Seperti dikhianati?

Hermione merutuki diri sendiri, dan pada akhirnya dia melangkahkan kakinya keluar dari mall tersebut.

.


.

Keesokan harinya, Hermione super cuek terhadap Draco. Tidak peduli tatapan-tatapan aneh dari teman-temannya yang lain.

"Kau kenapa, Hermione?" tanya Blaise akhirnya saat keheningan menyelimuti mereka berenam daritadi di meja mereka, di kantin sebelum masuk sekolah.

Hermione hanya mengangkat bahu, lalu mengambil sebuah buku tebal dari tasnya dan mulai membaca.

Blaise mengangkat alis. Diikuti yang lainnya.

Niatnya sih cuma nyuekin Draco, tapi keempat yang lainnya kena imbasnya juga. Kasihan.

"Theo, Daphne memperhatikanmu terus tuh dari meja belakang." Ron menunjuk-nunjuk meja belakang mereka yang berisi empat orang perempuan secara diam-diam. Theo hanya mengangkat bahu.

"Hari ini semuanya kena syndrome angkat bahu ya?" sindir Draco sinis, terutama ditujukan pada Hermione. Tapi sepertinya Hermione tidak mendengar, atau pura-pura tidak mendengar.

"Aku tidak," sahut Harry, berusaha netral. Kepalanya daritadi tolah-toleh ke seluruh penjuru kantin, berupaya mencari Luna, tetapi sepertinya anak itu memang tidak pernah ke kantin.

Draco mendengus.

"Bloody hell, sebenarnya apa yang sedang terjadi sih?" protes Ron, sambil mengunyah-ngunyah ayamnya. Yang lain hanya mengernyit jijik, minus Hermione karena dia tidak memperhatikan Ron tetapi memperhatikan bukunya.

"Aku juga tidak tahu," jawab Blaise. Harry dan Theo menggeleng. Tapi Draco diam saja. Draco juga sebenarnya tidak tahu ada apa, tapi apa ada hubungannyakah dengan smsnya kemarin yang mengganggu Hermione? Sampai-sampai Hermione benar-benar merasa terganggu?

Atau ada hal yang lain?

Setahu Draco, dia tidak berbuat salah pada Hermione.

"Woy, Hermione! Lupakan bukumu sejenak!" seru Ron, merebut buku Hermione dari pegangan Hermione. Hermione melotot marah.

"Kembalikan!" Hermione berseru tak kalah keras kepalanya.

"Tidak sampai kau jawab pertanyaan kami," sahut Ron akhirnya. Hermione mendengus.

"Tidak ada apa-apa dan kembalikan bukuku. Sekarang." Hermione melotot lagi kepada Ron yang mengkeret ketakutan.

Ron menyerah dipelototi seperti itu, dan mengembalikan buku tebal Hermione secara tidak ikhlas. Hermione tersenyum kemenangan.

"Hermione, kau sudah mengerjakan pr dari Professor McGonagall?" tanya Draco, ingin mengetahui apakah Hermione benar-benar marah atau tidak.

Hermione hanya mengangguk singkat tanpa menoleh sedikitpun pada Draco.

"Aku pergi dulu," kata Hermione akhirnya, memasukkan bukunya ke dalam tasnya, dan melangkah menjauh dari kantin.

Harry menoleh ke arah Draco.

"Dia tidak mengajakmu, mate?"

Draco menggeleng sambil menatap punggung Hermione yang menjauh dengan keheranan.

Apa sebenarnya salahnya?

"Aku menyusul, deh," katanya, lalu melambai kepada keempat temannya yang lain.

Yang lain hanya mengangguk keheranan.

.


.

Fleur menatap kepergian Hermione dan Draco yang tiba-tiba lewat ekor matanya. Well, mungkin dia tahu apa yang menyebabkan mereka menjadi seperti 'itu'.

Kemarin Fleur melihat dengan mata kepalanya sendiri kok, kalau Hermione ada dimall itu juga.

Tapi Fleur tidak suka menyampuri urusan orang lain—jadi dia tidak memberi tahu apa-apa kepada Draco.

Well, bukan urusannya kan?

Meskipun, Draco adalah—

"Fleur." Suara Cho terdengar dan memotong lamunan Fleur. Fleur menoleh dan mengangkat alis.

"Ya?"

"Kau melamun lagi." Cho menekankan kata lagi. Fleur hanya mengangkat bahu.

"Ada masalah?"

"Tidak," jawab Fleur singkat, lalu menoleh ke arah sembarang lagi. Sempat dia melihat si Parkinson adik kelasnya mencuri-curi pandang ke arah Draco.

Draco memang banyak fansnya, persis dirinya sendiri. Haha, Fleur bangga akan hal itu.

Lalu dilihatnya lagi sepintas si trio Johnson, Bell dan Spinnet sedang berkumpul.

Hal-hal yang biasa. Seperti biasanya.

Tetapi mungkin ada yang tidak biasa semenjak sesuatu yang dia ketahui kemarin—

"Sudah menyiapkan gaun pesta dansa?" tanya Cho lagi, menginterupsi lamunan Fleur.

Fleur mengangguk, lalu menanyai Cho balik, "Kau?"

Cho cemberut.

"Belum! Cedric tidak mau menemaniku membeli gaun baru, kemarin dia sibuk dengan acara futsalnya segala macam! Padahal setahuku tidak ada ekskul tambahan untuk futsal kemarin," keluh Cho.

"Akan ada lomba futsal untuk beberapa sekolah di London. Sekolah kita termasuk, dan Diggory pacarmu itu ketuanya, ada pertemuannya kemarin," jelas Fleur.

Cho mengangkat alis.

"Kau tahu darimana?"

Fleur tersenyum tipis—tipis sekali, nyaris tidak kelihatan.

"Malfoy."

Tapi sepertinya Cho tidak terlihat terkejut.

"Wah, dia banyak cerita padamu ya? Sial, Cedric bahkan tidak bilang apa-apa, dia hanya bilang 'sibuk'." Cho cemberut lagi. Fleur hanya menepuk-nepuk pundak Cho.

"Sabar," katanya, tersenyum manis.

.


.

Draco menemukan koridor sepi saat akhirnya dia bisa menyusul Hermione.

"Hermione, tunggu," ujar Draco, tidak berteriak—tidak mau menjadi pusat perhatian seandainya ada yang lewat koridor ini. Hermione menoleh.

"Apa?"

"Apa salahku?" tanya Draco langsung pada pointnya. Hermione mengangkat bahu lalu melanjutkan melangkah.

"Hermione. Jawab."

"Tidak ada apa-apa dan jangan terus memaksaku seperti aku budakmu, Draco Malfoy!"

"Aku tidak menganggapmu budak."

"Lantas mengapa kau selalu menyuruhku menjawab pertanyaan-pertanyaanmu yang sangat mengganggu seperti kemarin? Lalu sekarang kau memaksaku untuk menjawabmu juga? Itu pemaksaan!"

"Jadi karena itu kau marah padaku." Draco mengucapkannya lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. "Lagian, kemarin handphoneku sudah low, jadi aku sudah tidak mengsmsmu lagi, err—"

"Ugh. Tidak. Lupakan."

Hermione berjalan cepat-cepat menuju kelasnya, walaupun dia akan menjadi siswi dengan sepuluh menit lebih cepat sebelum masuk pelajaran.

Tapi Draco juga mengejarnya.

"Kau ke mana saja kemarin? Kenapa handphonemu dimatikan?" tanya Draco di belakang Hermione, masih berusaha mengejarnya dengan berjalan cepat.

"Memang sengaja kumatikan."

"Memangnya kau ke mana?"

Hermione tidak menjawab yang itu, dan terus melangkah lebih cepat lagi, dan mungkin sebentar lagi dia akan berlari.

"Hermione, memangnya kau ke mana?" ulang Draco sekali lagi, berusaha tidak terlihat 'memaksa' seperti yang dikatakan Hermione

Hermione akhirnya menghentikan langkahnya yang kelewat cepat.

"Aku ke mall." Nadanya naik beberapa oktaf, tetapi berusaha tidak bergetar.

Draco terlihat seperti terkejut.

"Mall ... mall mana? Maksudmu, bukan mall yang di dekat rumahmu itu kan?" tanya Draco lagi. Tapi Hermione mengangguk.

"Err—kau—kau jam berapa perginya?"

"Jangan menyembunyikan sesuatu dariku, Draco Malfoy. Aku tahu kok kemarin kau kencan dengan Fleur Delacour."

"Kau melihatnya?" Draco benar-benar terkejut sekarang.

Hermione berbalik dan melangkah lagi.

"Tidak, Hermione, tunggu, itu bukan—"

"Bukan seperti yang kulihat? Basi."

Akhirnya Hermione sampai di kelasnya, dan dilihatnya di sana sudah ada beberapa orang, seperti Padma Patil.

Hermione segera menaruh tasnya di mejanya, dan mengambil buku tebal yang tadi, lalu melanjutkan membaca.

"Hey, Hermione, kau belum mendengar penjelasanku."

"Dan aku tidak butuh penjelasan itu, terima kasih," sahut Hermione dengan nada tajam di balik bukunya. Draco segera menaruh tasnya di meja belakang Hermione.

"Hermione, asal kau tahu ya—"

"Aku tidak perlu itu, Draco."

"Tapi aku mau memberitahukan sesuatu kepadamu."

"Sesuatu bahwa kau sudah resmi menjadi kekasih Fleur Delacour? Oh, terima kasih. Aku jadi tahu sekarang."

"Hermione! Tatap aku dan abaikan bukumu sekarang!"

"Kau tidak tahu etika ya? Aku sedang membaca dan kau menyuruhku berhenti? Di mana otak cerdasmu yang katanya kedua di bawahku itu, Draco?"

Draco mendengus.

"Kau mau aku cium seperti kemarin Sabtu lagi?"

Hermione melotot di balik bukunya, menyerah, dan akhirnya menutup bukunya dengan kencang lalu berbalik menatap Draco.

"Apa maumu?"

"Jangan konyol, Hermione. Aku mau kau mendengar penjelasanku."

Hermione memutar bola mata. Terkesan seperti drama baginya.

"Bukannya kau yang konyol?"

"Dengar Hermione, kemarin itu—"

"Hey, Hermione, kau sudah mengerjakan tugas Professor McGonagall?" tanya Padma di seberang meja.

"Aku sudah mengerjakan itu seminggu yang lalu sejak tugas itu diberikan," jawab Hermione bangga. Padma mengangguk-angguk.

"Susah, ya?"

"Cari referensi di buku-buku, tidak terlalu susah, kok."

"Iya, sih. Kalau aku sih tanya pada orang tuaku, untungnya mereka tahu."

Hermione mengangguk, lalu mendekati Padma dan mulai mendiskusikan pelajaran sampai bel berbunyi.

Draco kesal setengah mati.

.


.

Hari Senin tidak menjadi hari yang lebih baik bagi Theodore Nott. Setelah insiden Hermione yang tiba-tiba menjadi super menyebalkan—atau super cuek—lalu Draco yang menyusulnya dengan buru-buru, sekarang Pansy and The Gang duduk di meja belakangnya.

Theo sih berusaha untuk tidak peduli, sama seperti Harry yang terlihat terganggu juga—tetapi suara cekikikan-cekikikan dari meja belakang memang benar-benar menganggu. Plus tatapan dari Daphne dan Ginny yang mengganggu Theo dan Harry.

"—iya, ya, kemarin aku juga sempat ke sana, dan aku melihat Malfoy dan Delacour pegangan tangan, kasihan sekali nasibmu, Pansy." Terdengar suara centil Ginny Weasley dari meja belakang. Sontak meja Ron, Blaise, Theo dan Harry langsung hening dan menatap horror satu sama lain.

Mereka saling berbicara lewat tatapan mata.

"Itu seriusan? Bloody Hell!"

"Aku tidak tahu Draco dan Delacour seserius itu."

"Aku juga tidak tahu, oh astaga..."

"Pantas tingkah Draco terlihat mencurigakan."

Theo memutar bola mata tanpa sadar. Lalu pemikiran baru menghantam otaknya.

Apakah Hermione juga melihat itu? Sampai dia hari ini super-duper menyebalkan? Apakah—?

Mungkin memang benar. Mereka lalu berbicara lewat tatapan mata lagi...

"Kita harus menanyai Draco habis-habisan saat istrahat."

Harry terlihat ingin memprotes. Dia sedikit berbisik, takut kedengaran yang lain—

"Jangan istirahat pertama, please? Aku ingin menemui Luna..." bisiknya. Yang lain mendengus.

"Kalau kau mau berkencan dengannya ya sudah, kami ingin mengetahui peristiwa ini secepatnya."

Harry mengeluh. Mungkin istirahat kedua kesempatannya.

Kemudian mereka berempat menajamkan pendengaran, siapa tahu mendapat info heboh lagi. Tetapi gadis-gadis di meja belakang mereka sudah menggosipkan hal lain, seperti kutek terbaru, merk baju termahal, dan pesta dansa yang diadakan tiga hari lagi.

"Sudah mau bel masuk, aku duluan ya, yuk, Harry! Mau bareng nggak nih?" Blaise melirik arlojinya, lalu menoleh ke arah Harry yang sepertinya juga sudah siap-siap mau pergi dari situ. Ron dan Theo juga sudah bersiap-siap.

Dan mereka berempat meninggalkan meja kantin dengan beribu-ribu pertanyaan bersarang di otak mereka.

.


.

Istirahat pertama, mereka memang langsung mencegat Draco dan langsung menyeretnya ke kantin.

Draco kebingungan.

"Apa?" tanyanya, setelah meja mereka lima menit lebih dilanda keheningan.

"Kau berkencan dengan Fleur Delacour kemarin di mall?" tanya Ron langsung.

Hermione memutar bola mata. Oh, dia benci ini. Dia benci mengetahui kenyataan bahwa Draco memang benar-benar berkencan dengan Fleur. Dia benci mengetahui fakta bahwa Draco tidak menyukainya sama sekali. Dia benci...

Meja mereka hening lagi. Draco ingin menjawab, tetapi hanya membuka mulut, lalu menutupnya lagi, dan terus menerus begitu.

"Draco?" Blaise melambai-lambaikan tangannya di depan Draco.

"Kau benar-benar berkencan dengannya, ya?" tanya Ron lagi.

"Kau tidak memberitahu kami soal kencan itu!" Kini Harry yang ngomong.

"Tenang saja, mate, aku tidak akan merebutnya darimu, kok," kata Blaise, sementara Theo hanya mengangguk-angguk menyetujui semua perkataan dari teman-temannya.

Draco menghela napas tak sabar.

"Dengar, kalian semua—" Draco menatap mereka satu persatu, terutama kepada Hermione yang sepertinya ingin kabur dari meja itu.

"Aku pergi dulu, ya. Aku mau ke perpustakaan, ada hal penting yang mau dikerjakan—"

"Eeh, tidak bisa. Kau harus ikut mendengar ini juga," potong Theo, lalu memaksa Hermione duduk lagi. Hermione melotot kepada Theo, tetapi Theo tidak peduli.

"Jadi, kapan aku bisa menjelaskan kepada kalian semua?" Draco memandang tajam pada Hermione yang gelagatnya ingin kabur lagi.

"Theo, dan kalian semua, dengar ya, perpustakaanku lebih penting daripada ocehan kalian tentang Draco berkencan dengan Delacour."

Theo dan Draco menggeleng bersamaan.

"Tidak, Hermione. Tetap di sini dan dengarkan apa yang terjadi, dan Draco hanya butuh menjawab ya atau tidak, kan? Jadi tidak akan lama." Theo berdebat lagi, menahan tangan Hermione yang ingin bangkit dari tempat duduknya.

Hermione mengeluh.

"Memangnya tugas apa, Hermione?" tanya Harry. Hermione hanya memutar bola matanya, tidak berniat menjawab.

"Nah, jadi kapan aku bisa menjelaskan?" Draco bertanya lagi. Dia tidak sabar untuk menjelaskan kepada mereka semua tentang peristiwa ini.

"Silakan," kata Blaise dan Harry bersamaan. Draco mendelik.

"Oke, dengar, kalian semua—"

Hermione bersiap untuk memotong perkataan Draco, tapi dicegah oleh yang lainnya.

.

.

.

"Nah, jadi kapan aku akan menjelaskan?" Draco bertanya untuk yang ke-sekian kali. Dia tidak sabar untuk menjelaskan kepada mereka semua tentang hubungannya dengan Fleur. Padahal dia dan Fleur … ah, sudahlah. Dia hanya ingin segera menyelesaikan permasalahan ini secepat mungkin.

"Silakan," kata Blaise dan Harry bersamaan. Draco mendelik.

"Oke, dengar, kalian semua—"

"Bisakah aku pergi dari sini? Please, aku sudah tahu kok kalau Draco dan Fleur berkencan, jadi bisakah kalian melepaskan aku dan aku segera ke perpustakaan?" Hermione menatap mereka satu persatu. Hermione harus menghindar. Dia muak dengan segala kenyataan bahwa sejak kemarin Draco dan Fleur sudah berpacaran. Atau lebih lama dari kemarin?

Hermione tidak mau mendengarnya langsung, apalagi dari Draco.

Draco menatap tajam pada Hermione.

"Bisakah kau diam? Aku ingin bicara tapi salah satu dari kalian selalu memotong!"

Hening.

Setelah dua menit tidak ada yang berbicara, akhirnya Draco memulai.

"Oke, kalian semua. Dengar baik-baik! Pertama, aku dan Fleur sama sekali tidak berkencan. Okay? Mum saudara jauh dari Mumnya Fleur, jadi—"

"—kau adalah sepupu Fleur," sambung Theo. Draco mengangguk-angguk antusias.

"Jadi, aku tidak berkencan dengan Fleur."

Mulut mereka semua menganga. Yang paling lebar Hermione.

"Tapi—kau seperti mesra sekali dengannya—kau berpegangan tangan dengannya—kau—kau—"

"Itu bukan mesra, tapi erat. Mum menyuruhku untuk menjaga Fleur karena Mum dan Mum Fleur akan pergi berbelanja." Draco mendelik kesal kepada Hermione. Sudah puas kan gadis itu sekarang? Menyimpulkan sesuatu dari satu pandangan, sih.

Wajah Hermione memerah.

"Wah, satu keluarga jadi sepasang populer di Hogwarts, keren tuh," celetuk Ron. Draco hanya mendengus mendengarnya.

"Nah, Hermione, kok tidak langsung ke perpustakaan?" sindir Draco. Wajah Hermione tambah memerah. Tapi, daripada menanggung malu—

"Ya sudah. Aku ke perpustakaan dulu. Bye, all." Hermione memasukkan bukunya yang sedaritadi dia pegang ke dalam tas, menyeruput jus jeruk untuk yang terakhir kalinya, dan meninggalkan kantin itu secepat mungkin.

Draco tersenyum miring.

Cemburu, eh?

.


.

Sambil melangkah ke perpustakaan, Hermione mengumpat dalam hati. Sepupunya toh? Kok nggak bilang-bilang?

Sampai hati Hermione panas begini.

Tapi di sisi lain Hermione jadi lega. Cuma sepupu. Setidaknya dia sudah menyingkirkan satu saingan, kan?

Tapi masih ada cewek-cewek paling menyebalkan menurut Hermione. Iya, Pansy and the Gang. Kumpulan orang nggak penting yang suka mengganggu Hermione.

Nah, panjang umur—yang baru saja daritadi diumpat-umpat muncul.

"Halo, Granger."

Hermione ingin merobek mulut pemilik suara cempreng itu sekarang juga. Hermione menaikkan alisnya sambil menatap Pansy dengan tatapan membunuh.

"Apa maumu?"

"Baru putus dari Krum, ya?" tanya Parkinson sambil tersenyum licik.

"Bukan urusanmu." Hermione menjawab dengan ketus, lalu mau melangkah lagi, tapi dicegat oleh Parkinson.

"Eiitts, tenang dulu, Nona. Urusan kita belum selesai, lho." Parkinson menyeringai penuh kemenangan.

"Urusan? Urusan kita? Sejak kapan aku punya urusan denganmu, Parkinson?"

"Sejak kau mendekati Drakie ku."

Hermione mau muntah sekarang juga.

"Aku tidak kenal dengan orang yang bernama Drakie," sahut Hermione pedas. Sungguh, kalau bukan jabatannya sebagai Wakil Ketua OSIS sekaligus murid terpandai di angkatannya, Hermione ingin mencakar Parkinson dan pengikut-pengikutnya yang lain.

"Jangan pura-pura bodoh, Granger. Katanya murid terpintar di angkatan kita? Kok tolol, ya?"

Sabar, Hermione. Sabar.

Dari ekor matanya, Hermione dapat melihat Daphne Greengrass celingak-celinguk mencari seseorang.

"Mencari Theo, eh?"

"Diam kau, Granger—" Daphne tidak menatapnya saat menjawabnya. Dia tetap mencari-cari Theo. "—gara-gara kau, hubunganku dengan Theo jadi gagal total."

Hermione memicingkan matanya.

"Apa maksudmu?"

"Hah! Tolol—"

"Parkinson!" seru seseorang kencang, memotong perkataan Daphne. Pansy yang merasa namanya dipanggil, menoleh ke arah suara.

Betapa senangnya dia.

"Halo, Drakie~ ada apa mencariku?" suara Pansy dari cempreng menjadi cempreng-centil. Hermione hatinya panas sekarang. Lebih panas daripada yang tadi.

"Jangan ganggu dia lagi." Draco menunjuk Hermione dengan dramatis, dan memeluk pinggang Hermione. Hermione terkesiap.

"A—apa?" Pansy megap-megap. Yang lain juga, hanya saja yang lain mau mengambil ancang-ancang untuk pergi dari tempat itu.

"Dia." Draco mengecup kening Hermione, "adalah—" Draco mengecup hidung Hermione, "—kekasihku." Draco mencium bibir Hermione dengan lembut.

"Draco, apa yang kau lakukan—" Hermione terkejut setengah mati, dan melepaskan pelukan Draco dari pinggangnya. Draco menyeringai.

"Nah, sudah lihat kan, kalian semua? Pergi sana! Jangan ganggu kekasihku lagi, terutama kau, Parkinson."

Tanpa disuruh pun mereka akan pergi.

Tapi Pansy Parkinson dan Astoria Greengrass memandang dendam pada Hermione sebelum melangkahkan kakinya menjauh dari koridor tersebut.

"Tadi apa yang kau lakukan, Draco Malfoy?!" bentak Hermione setelah keempat cewek itu pergi.

"Kenapa? Bukannya kau sekarang senang? Kau cemburu kan aku jalan dengan Fleur kemarin? Kau juga menyukaiku, kan?"

Darah Hermione merambat sampai ke pipi.

"Aku mau ke perpustakaan," kata Hermione akhirnya setelah tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membebaskan diri dari Draco.

"Mana ciuman untukku?"

"Apa?"

"Mana ciuman untukku, dear?"

"Draco, sesungguhnya aku benci hal ini. Kau belum ngomong apa-apa dan kau langsung menyebutku sebagai kekasihku di depan Pansy and the Gang. Lalu, kau malah seenaknya menciumku di depan mereka. Sekarang kau malah menyebutku dear—"

Cup.

"Tidak bisa diam," kekeh Draco, lalu mengacak-ngacak rambut Hermione.

"DRACO!"

"Apa?"

"Sebenarnya apa yang kau lakukan?!"

"Bukannya aku sudah menjadi kekasihmu? Harusnya itu wajar kan?"

"Kau belum memberikan kepastian apapun! Menyatakan perasaan juga belum—"

Eh, keceplosan. Hermione menggigit bagian dalam bibirnya. Apa yang baru saja dia katakan? Mengharapkan pernyataan cinta dari Draco Malfoy?

Draco menyeringai lebih lebar.

"Nah, kau juga suka padaku, kan?"

"Err—"

"Draco, Hermione, kalian berdua dicari oleh Professor Snape. Menagih kertas HVS dengan lima puluh kalimat, katanya," ujar Blaise saat melewati mereka berdua.

Draco mendengus kesal.

Kenapa selalu ada cara untuk menghalangi dia menyatakan perasaan kepada Hermione?

.


.

"Kau tidak apa, Pansy?" Daphne menatap Pansy khawatir. Tapi Pansy menggeleng dengan penuh dendam, matanya menyorot sinar kemarahan.

"Aku ingin membunuh seseorang sekarang," katanya ketus.

"Whoa! Santai, Pans. Yang perlu kita lakukan hanya menyingkirkan si Granger-sialan," celetuk Ginny Weasley. Tangan Pansy mengepal.

"Aku memang ingin menyingkirkannya, sebenarnya. Bagaimana ya, caranya—"

"Kita tidak bisa memisahkan mereka berdua kalau mereka terus bersahabat seperti itu."

"Masalahnya, mereka sekarang BERPACARAN! Kau tadi tidak dengar Drakieku bilang apa? BER-PA-CA-RAN! Granger-sialan tidak tahu diri. Apa coba cantiknya dia dibanding aku?"

Tidak ada yang berani melawan Pansy lagi. Tapi napas Pansy masih memburu, matanya juga masih menyorot sinar kemarahan, dan tangannya masih mengepal.

"Kalau ada satu cara untuk menghancurkan kebahagiaan Granger, apapun ... aku akan senang hati melakukannya," kata Daphne jujur. Dia memang jujur. Dia ingin memusnahkan Hermione juga karena adanya Hermione mengganggu hubungannya dengan Theo.

Pansy mengangguk, diikuti dua adik kelas pengikut mereka yang lainnya.

"Mungkin bolos akan menenangkan hatiku. Mau ikut?" tawar Pansy kepada mereka bertiga. Tetapi Ginny dan Astoria menggeleng. Daphne masih ragu-ragu.

"Mau tidak, Daph? Sekalian cari gaun Pesta Dansa Natal untuk tiga hari lagi."

"Umm, okay—"

Pansy menyeringai senang.

"Nah, sampai jumpa, bocah-bocah!" Ginny dan Astoria mendengus dikatai bocah-bocah. Lalu Pansy dan Daphne segera pergi.

.


.

Ronald Weasley—yang biasa dipanggil Ron—terkantuk-kantuk di mejanya. Bayangkan saja, pelajaran Sejarah. Siapapun akan bosan dengan pelajaran ini, apalagi Ron. Yah, kecuali anak-anak rajin seperti Hermione itu, batinnya.

Mengingat nama Hermione, Ron jadi berpikir bahwa Hermione akhir-akhir ini berubah. Bukan Hermione saja. Draco dan Theo pun berubah. Tiga dari teman-temannya sudah berubah, dan untungnya Blaise dan Harry masih waras untuk tidak ikut-ikutan melankolis seperti tiga yang lainnya.

Iya, Hermione, Draco, dan Theo Ron anggap sebagai orang-orang melankolis seperti orang putus cinta. Kalau Theo memang beneran putus cinta, Hermione juga, walaupun Hermione mengaku tidak suka Krum—

Tapi kalau si pangeran es itu?

Banyak yang memuja dan mengaguminya, bahkan ada yang bisa mengatakannya secara langsung, tapi Draco tidak menggubris satupun. Tapi ada yang berbeda sekarang.

Kadang tatapan Draco penuh harapan, kadang sedih, kadang kecewa, kadang ingin mendekati—

Hermione Granger.

Nah, walaupun di pelajaran nilai Ron nggak bagus-bagus amat, setidaknya dia bisa sedikit menganalisis soal beginian, apalagi soal sahabat dekatnya.

Dia tahu bahwa dari kelima sahabatnya yang percaya sepenuhnya kepadanya mungkin hanya Blaise dan Harry. Theo pendiam, bisa menyimpan ceritanya sendiri. Hermione kalau cerita langsung kepada semuanya, begitu juga Draco.

Mungkin, jarak persahabatan mereka sekarang sudah menjauh. Tidak seperti dulu, akrab, ceria, cerita dengan satu sama lain, hang-out bersama...

Apa yang membuat mereka menjauh?

Mungkin karena faktor yang paling amat mendasar, percintaan. Sekarang semuanya seolah sibuk dengan dunia mereka sendiri, melupakan orang yang penting dalam berbagi.

Sahabat.

Ron merindukan sebagaimana mereka berkumpul dan bercanda ria lagi bersama. Tertawa bergembira seolah tidak ada beban yang lepas. Ron ingin agar semua seperti dulu lagi.

Mungkin sekarang sudah tidak bisa.

Ron menghela napas.

Seandainya bisa, tidak akan sama seperti dulu. Dulu semuanya begitu indah.

Lavender Brown—kekasih Ron sekarang—menatap khawatir kepada Ron.

"Ada apa, Won Won?" bisik Lavender, takut kedengaran Professor Binns yang sedang mengoceh di depan kelas.

Pada awal-awal mereka pacaran, Ron berjengit mendengar nama itu. Mungkin sekarang karena sudah terbiasa, Ron tidak memberikan reaksi apa-apa terhadap nama itu.

"Tidak apa-apa," jawab Ron, berbisik tak kalah pelan dibanding Lavender tadi. Lavender mengangkat bahu.

"Kalau mau cerita, cerita saja."

Ron mengangguk singkat, lalu berpura-pura memperhatikan pelajaran Professor Binns agar tidak dikenai hukuman.

Andai saja, semua seperti dulu lagi ...

.


.

Istirahat pertama. Harry mengeluh.

Hari ini dia super duper sebal dengan Professor yang bernama Professor Snape, si guru kimia dengan rambut hitam berminyak dan hidung bengkok.

Heran, padahal hampir semua murid tidak menyukai cara mengajarnya, tetapi Professor Snape tetap bertahan di Hogwarts.

Harry mendengus tanpa sadar. Dia benci, hari ini dia dipermalukan di depan kelas hanya gara-gara menjatuhkan ballpoint di kelas—yang kata Snape mengganggu ketenangan kelas—sehingga Harry dihukum berdiri di depan kelas, lagi.

"Ada apa, Harry?"

Deg. Suara ini. Suara yang dari kemarin tidak didengarnya. Suara yang dirindukannya. Memangnya kelihatan sekali ya, kalau dia sedang cemas?

"Luna," sapa Harry, mengabaikan pertanyaan Luna. Ternyata Harry tanpa sadar melangkahkan kakinya ke perpustakaan, sehingga bertemu wanita pujaannya itu.

"Halo, Harry. Ada apa?"

"Err— tadi aku dihukum Professor Snape," kata Harry, sedikit takut. Bagaimana jika Luna menganggapnya orang bodoh yang di kelas bisanya dihukum saja? Bagaimana kalau Luna menjauhinya?

"Oh, begitu," sahut Luna singkat.

"Memangnya kau tidak pernah dihukum olehnya?" tanya Harry heran.

"Tentu tidak, dong."

Harry merona merah. Sialan. Dia tampak memalukan sekali di depan Luna.

"Luna, sudah membeli gaun untuk Pesta Dansa Natal?"

"Aku tidak membelinya," jawab Luna, yang sekarang jalan bersebelahan dengan Harry. Blaise yang kebetulan lewat, segera mengedipkan matanya kepada Harry.

"Kok tidak bilang-bilang?" tanya Blaise, menggedikkan dagu ke arah Luna.

"Apanya yang tidak bilang-bilang?"

"Ah, kau ini—kau berpacaran dengannya kan?"

Buk. Tinju yang tak terlalu keras terkena kepala Blaise. Blaise (pura-pura) merintih dan (pura-pura) cemberut. "Tega sekali kau, Harry."

Harry hanya nyengir dan menyusul Luna yang sudah mau sampai ke perpustakaan.

"Kau tidak beli?" tanya Harry lagi, setelah berhasil menyusul Luna menuju perpustakan. Luna tersenyum.

"Ibuku masih ada gaun pesta dansa dan aku tidak ingin menyia-nyiakan uang untuk membelinya."

Harry hanya mengangguk, lalu melongo setelah di depan perpustakaan. Dia tidak tahu apakah harus masuk atau tidak.

Luna, yang sepertinya bisa membaca isi pikiran Harry, berkata—

"Harry, aku masuk, ya. Kalau tidak mau masuk tidak apa-apa, kok. Kita bisa bertemu lagi. Sampai jumpa!"

Dan Luna menghilang di balik pintu.

Wajah Harry merona lagi. Lebih merah.

.


.

"Hermione." Draco mengejar Hermione yang akan kabur darinya setelah pelajaran Professor McGonagall hari ini.

"Hermione, tunggu. Maaf bila aku lancang menciummu, tapi—"

"Tapi apa, Draco? Kau sudah tiga kali menciumku dan tanpa seizinku! Kau menciumku secara paksa. Kau tidak menghargai perasaanku! Kau—" Hermione kehilangan kata-kata.

"Hermione, mengertilah." Draco mencengkram bahu Hermione erat agar Hermione tidak kabur. Beberapa murid yang lewat sedikit melihat drama kecil yang dibuat oleh Draco dan Hermione, tetapi keduanya tidak peduli.

"Hermione. Aku—aku juga mencintaimu," kata Draco akhirnya, menghembuskan napas lega. Tidak menyadari bahwa daritadi dirinya menahan napas.

Akhirnya diungkapkannya juga.

"Aku tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, Draco." Hermione berkata berusaha menutupi kegugupan dan kepanikan dari wajahnya. Dia tidak tahu kalau Draco juga membalas cintanya, tapi—mengapa setelah Draco mengungkapkannya, ini menjadi lebih rumit?

"Aku melihatnya," kata Draco lagi. "Kau cemburu saat aku mengajak Fleur sebagai teman dansa nanti saat pesta natal. Kau cemburu saat aku jalan dengan Fleur di mall hari Minggu. Kau cemburu saat aku tadi memanggil Parkinson. Kau cemburu saat tadi aku dipasangkan tugas kelompok dengan Patil saat pelajaran Professor McGonagall—"

"Tidak, kau salah paham. Oh, lepaskan aku, Draco. Aku ingin ke kantin sekarang. Yang lain sudah menunggu kita."

"Tidak. Katakan dulu bahwa kau mencintaiku, lalu aku akan membalas perkataanmu dengan mengatakan aku mencintaimu juga, dan kita akan berciuman, setelah itu kita baru ke kantin." Draco bersikeras. Hermione terkejut. Apa-apaan itu?

"Tidak romantis sekali, Draco. Aku baru tahu caramu menembak cewek seperti itu," cibir Hermione pedas.

"Oh, mau yang romantis? Oke. Ayo kita ke kantin sekarang, akan aku tunjukkan cara beromantis ria."

Hermione mendengus, tetapi akhirnya mengikuti langkah Draco ke kantin.

.


.

Theo mengerang pelan. Kepalanya pusing.

Akhir-akhir ini dia jarang tidur, kepalanya pusing dan pandangannya sering berkunang-kunang. Banyak yang dia lakukan sehingga sering tidur larut malam.

Terkadang dia mengerjakan pekerjaan rumahnya, atau menonton TV, atau hanya sekedar makan. Dan yang paling sering adalah, memikirkan Daphne Greengrass.

Hubungan mereka rumit. Lebih rumit dari aljabar dan teorema Pythagoras yang diajarkan Professor Vector. Lebih rumit daripada bagian-bagian tubuh makhluk hidup seperti yang diajarkan Professor Sprout. Lebih rumit.

Dan Theo benci ini.

Dia tidak melihat Daphne seharian ini setelah dari kantin saat sebelum masuk sekolah, dan dia tidak punya ide ke mana perginya anak sulung keluarga Greengrass tersebut. Dia rindu dengan Daphne.

Dia ingin mengecup kening Daphne lagi seperti kemarin-kemarin.

Dan hari ini Theo tidak bisa ke kantin bertemu teman-temannya. Bagaimana bisa ke kantin jika tubuhnya saja tidak bisa berdiri?

Kepalanya sakit sekali, lebih dari sekedar pusing. Matanya susah dibuka. Jadi, Theo hanya duduk diam di kursinya, sementara teman-temannya yang lain sudah keluar dari kelas terlebih dahulu.

Theo memejamkan matanya. Mungkin akan bisa menenangkan hati dan pikirannya.

.


.

Draco dan Hermione sudah sampai di kantin. Ron, Blaise, dan Harry sudah duduk di tempat mereka seperti biasa. Mereka tidak melihat Theo, dan tidak mau ambil pusing dengan kenyataan itu. Paling-paling Theo ke toilet atau apa, baru nanti menyusul ke sini.

Di kantin, Draco mengenggam erat tangan Hermione, dan menyeretnya menuju tempat mereka berenam biasa duduk. Lalu tanpa tedeng aling-aling, Draco menaiki meja yang sedang dipakai oleh Ron, Blaise, dan Harry tadi.

"Apa-apaan ini?" Blaise bertanya dengan nada tak terima. Goyangan di meja akibat Draco menaikinya, mengakibatkan jus yang baru diminumnya menyiprat ke segala arah, termasuk baju seragamnya.

Draco nyengir.

Hermione punya firasat buruk. Tidak, dia ingin menenggelamkan saja dirinya sendiri ke dalam laut agar tidak mendengarkan apa yang ingin Draco katakan.

"PERHATIAN, SEMUA!" teriak Draco, dan semua kepala menoleh ke arahnya. Beberapa murid perempuan cekikikan, tapi Draco mengabaikannya.

"AKU INGIN KALIAN MENDENGARKAN SEMUA PERKATAANKU!" teriak Draco lagi, memastikan semua penghuni yang ada di kantin tersebut sedang mendengarkannya, termasuk penjual makanan dan minuman di kantin.

"AKU SEDANG MENCINTAI SESEORANG…"

"Ooooohhh…" Terdengar suara dramatis dari segala penjuru ruangan, termasuk kakak kelas. Hermione ingin kabur sekarang juga, tetapi entah kenapa kakinya tidak bisa digerakkan.

"AKU INGIN TAHU BAHWA AKU MENCINTAI DIA SEPENUH HATI, AKU INGIN DIA MEMBALAS CINTAKU JUGA."

"Pasti Fleur," terdengar bisik-bisik. Tapi Draco mengabaikan itu. Hermione meringis dalam hati. Apa benar Fleur? Tapi kan, mereka sepupu—

"AKU INGIN AGAR 'DIA' YANG KUMAKSUD MENGERTI SIAPA YANG KUMAKSUD. DIA ADALAH ORANG YANG KUCINTAI SELAMA INI." Terdengar suara 'ohhh' dramatis lagi dari seluruh penjuru ruangan. Bahkan Ron, Blaise, dan Harry ikut-ikutan kehebohan itu.

Hermione menyesal mengapa meminta cara romantis.

Berikutnya, dia benar-benar menyesal plus malu setengah mati.

"HERMIONE JEAN GRANGER, MAUKAH KAU MENJADI KEKASIHKU?"

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Hiyattt. Updatenya hari Senin ternyata bisanya, hihi._.

Balasan review:

DraconisChantal: Woah, makasih lhoo ya x)) iya, diusahakan gak ada typo, sih. Jadi kalau ada, saya benar-benar gak teliti. *digampar* ini next chapnya ;)

BlueDiamond13: Sipp! Kok kamu sama Chantal sama2 males login ya … *telengerobak*. Ini next chapnya ;)

caca: Kenapa eww? Ngeselin ya? Iya, emang ngeselin mereka. *digaplok*. Haha, diusakan gak miris lagi:p

crdcuhvfteytd, ziah & Autoria: woahh, thanks yaa x)) ini next chapnya ;)

Shinta Malfoy: Aminnn *loh* xD hehe, iyaa. Happy ending kok, tenang aja *yah, bocor deh* iya, pairing HarryLuna emang ngehibur kok *malah muji*. Iyap.. hehe. Di sini ada satu rahasia yang belum mereka ungkapkan tentang Draco-Fleur. Ini next chapnya ;)

Shizyldrew: iyaa, kan Emma Watson yang meranin *lah* xD

Ochan Malfoy: gak semua tau kok, kayanya Theo doang x)) sama Fleur sekarang:p hehehe. Ini next chapnya ;)

thya. : hehe thanks yaaa x)) kalo tentang pairingnyaa.. kamu baca teruss yaaa xDD

Kutil Parkinson & : hehe thanks yaa x)) ini next chapnya ;)

megu takuma: wkakwa, kan masih dibikin malu2 gimanaa gituuuuu xD hihi. Ini nih, ada konflik baru soal dramione:p ini next chapnya;)

Yap! Skali lagi, thanks, all

Aliooonggg: hihi :p ini udah update. ;)

thya. a. meong: ini udh update, hehe;) thanks yaa

caca: umm untuk pair.. lihat nanti deh ya. Ini udh update;)

shizyldrew: maaf ya.. hehe xD ini udah berusaha dipanjangin, kok:p

BlueDiamond13: ini udh update;)

Ochan malfoy: heheee :D wkwk, bikin greget ya? Enak dong *eh. Ini udh update ;)

Winey: kyaa, thanks udah mau menyukai fic ini, hehe :D untuk prediksi kamu, bener gak ya…. *kedap kedip sok misterius*

Panu Parkinson: hehee, thanks yaa sengaja dibikin gantung:p ini next chapnya ;)

Shinta malfoy: heheee:D untuk prediksi kamu, bener gak ya…. *kedap kedip sok misterius*

Tambah ancurkah? *meringis* maaf. Abisnya yang saya pikirkan tentang chap ini tentang bagaimana Dramionenya bisa jadian. Jadisebenarnya saya akan tambah sedih jika kalian tidak mau review karya saya.

Review? :D