Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.
Enjoy!
.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19
.
Chapter 6: Cho, Cedric, Roger, dan Ginny
"…"
"Hermione? Hermiioooneee?"
"…"
"Hermione Granger?!"
"…"
"HERMIONE!"
"Eh?!"
Hermione celingak-celinguk, takut kalau-kalau dia dilabrak oleh fans-fansnya Draco karena pemuda itu berani menembaknya di kantin di atas meja—
Tapi Hermione nyengir. Pastilah Draco tahu jawabannya, 'kan?
"Ya, aku mau, Draco," kata Hermione, tersenyum manis pada Draco yang menatapnya keheranan—
Tunggu. Di mana ini?
Hermione mengucek-ngucek matanya.
Ini di dalam kelas—dan di dalam kelas ini yang ada hanya dirinya dan—Draco Malfoy yang daritadi membangunkannya.
MEMBANGUNKANNYA?!
Bah!
Yang tadi cuma mimpi toh?
Draco melotot pada Hermione.
"Mau apa, Hermione? Kau ini! Sudah kubangunkan berkali-kali tetapi susah sekali. Teman-teman sudah menunggu kita, tahu! Kau sudah sepuluh menit tertidur! Hei, sehabis Professor McGonagall keluar, kau langsung tertidur! Kau gila, ya, Hermione? Apa kau juga sakit seperti Theo? Blaise, Ron, dan Harry sekarang lagi di kelas Theo, dan aku bilang pada mereka kalau aku akan menyusul. Eh, kau malah ikut-ikutan tertidur di kelas—"
"Tunggu!" potong Hermione, sebelum Draco melanjutkan ocehannya. "Aku tertidur di kelas? Aku tertidur di kelas?! Aku, Hermione Jean Granger, tertidur di kelas?! Dan yang tadi hanya mimpi?"
"Ya dan bersyukurlah kau tertidur di kelas tepat saat Professor McGonagall keluar, Hermione. Yang lain tidak tahu kau tertidur. Sekarang, bangun! Kita ke kelas Theo. Dia lagi sakit, tahu!"
"Ap—apa?"
Tapi tangan Hermione sudah keburu ditarik oleh Draco. Hermione tidak peduli tangannya diapakan, dia sedang mencerna apa yang dia alami tadi.
Yang tadi hanya mimpi, dan Draco yang di mimpinya itu memang hanya mimpi, dan Hermione terlalu berharap ketinggian agar Draco mau menyatakan cintanya di kantin dan berdiri di atas meja sambil berteriak.
Hermione jadi senewen pada Draco.
Kenapa mimpinya tidak jadi kenyataan saja sih?!
Ah, lagian Draco kan orangnya bersikap cool, mana mau dia menyatakan cinta di atas meja sambil berteriak gitu, ramai pula.
Hermione menghela napas.
Draco yang mengalami atmosfer perubahan gadis di sebelahnya, segera menoleh dan mengangkat alis.
"Apa?" tanya Draco, lalu melanjutkan langkah kakinya ke kelas Theo, dan tak lupa menyeret Hermione yang seperempat masih kebingungan, seperempat masih kecewa, seperempat kesal pada Draco yang tidak melaksanakan seperti apa yang terjadi di mimpinya, dan seperempat marah kepada mimpinya yang tidak jadi kenyataan.
"Bukan urusanmu," jawab Hermione ketus, dan melepaskan pegangannya kepada Draco. Dia dengan semangat menggebu-gebu karena kesal—berjalan dengan cepat menuju kelas Theo, dan untungnya sudah sampai.
Hermione segera melihat meja Theo yang sudah dipenuhi oleh empat orang. Blaise, Ron, Harry, dan Theo itu sendiri yang sepertinya masih tertidur.
"Theo?"
"Sssstt..." Harry menunjukkan jari telunjuknya di bibirnya, meminta Hermione untuk diam. Hermione mengangguk dan duduk di bangku sebelah Ron.
Draco menyusul satu menit kemudian dan kebingungan karena Hermione tiba-tiba marah padanya. Marah karena dia menciumnya tadi sebelum masuk kelas? Hey, Hermione juga suka padanya, 'kan?
Blaise yang menyadari ada yang tidak beres, segera menggedikkan dagunya diam-diam ke arah Draco dan Hermione bergantian, lalu bertanya pada Ron dan Harry lewat tatapan mata.
'Hey, mereka kenapa, sih?'
Ron dan Harry sama-sama angkat bahu membuat Blaise memutar bola matanya.
Hermione, tanpa mereka berlima sadari, memegang dahi Theo dengan punggung telapak tangannya. Hermione segera melotot kesal pada mereka bertiga—Blaise, Ron, dan Harry.
"Kalian tidak mengecheck Theo daritadi?"
"Tidak," jawab mereka bertiga kompak. Hermione melotot lebih lebar lagi.
"Dia demam, tahu! Bodoh kalian semua, aaarrgggh!"
"Eh?"
"Ah, tidak nyambung!" bentak Hermione kesal.
"Apanya?" tanya Ron polos.
Hermione memutar bola mata.
"Bangunkan dia, para pria pintar, dan antar dia pulang. Masih ada lima jam pelajaran lagi kalau kalian tidak mau Theo hanya tidur di sini tanpa diberi pengobatan apa-apa. Setidaknya kalau di rumah, dia bisa beristirahat lebih nyaman dan diberi obat untuk sakit demamnya," ceramah Hermione pada mereka.
"Dia sakit demam?" Blaise bertanya.
"Ya sudah, aku bangunkan," kata Draco akhirnya, tidak memperdulikan pertanyaan Blaise, dan mengguncang-guncang tubuh Theo.
"Theo?" Draco memakai metode yang sama untuk membangun Hermione, memanggil-manggil namanya, tetapi sepertinya percuma saja karena Theo tidak bergerak sedikitpun.
"Theo?" Draco memanggil lagi, dengan suara yang lebih kencang.
"…nee," gumam Theo tidak jelas. Yang lain langsung memasang telinga baik-baik.
"Apa, Theo? Kau mau ke rumah siapa untuk beristirahat? Aku, Blaise, Harry, Draco, atau Hermione?" tanya Ron. Yang lain hanya menggertakan gigi. Ron memang benar-benar konslet otaknya.
"Ya ke rumah dia sendiri lah, Ron..." Harry berusaha agar tidak berteriak mengatakan hal itu. Ron mengangguk-angguk.
"... phne..."
"Ha?!" Hermione yang otaknya lebih cepat bereaksi segera menatap sahabat-sahabatnya satu persatu. Yang lain menatap balik Hermione dengan tatapan bertanya.
"Tolong panggilkan Daphne Greengrass sekarang!" perintah Hermione tanpa basa-basi, menatap tajam pada mereka semua.
"Err—Hermione—Greengrass tidak masuk tadi," kata Ron ragu-ragu. Hermione menghela napas. Ya, yang memang sekelas dengan Daphne kan hanya Ron di antara mereka berenam, dan yang tahu kebenarannya hanya Ron, dan Hermione tidak mau repot-repot tanya yang lain lagi.
"Kenapa?"
"Tidak ada keterangan. Dengar-dengar si Parkinson juga tidak masuk."
"Bolos," keluh Hermione, menatap Theo iba. Padahal ia ingat tadi, sebelum masuk sekolah dia masih bertemu Pansy and the Gang.
"Sebenarnya ada apa?" Draco bertanya, tidak memperdulikan sikap Hermione yang semenjak bangun tidur menjadi aneh padanya.
"Tadi dia menggumamkan nama Daphne."
"HAH?!"
Hermione mengelus-elus dadanya sendiri, berusaha sabar dengan kebodohan keempat sahabatnya.
"Dia benar-benar punya 'hubungan' dengan si Greengrass itu, ya?" Blaise membentuk kedua jari telunjuknya di atas dan membentuk tanda kutip di bagian kata hubungan.
"Tidak tahu," jawab Hermione singkat. "Sekarang salah satu dari kalian tolong antar dia ke rumahnya. Bisa, kan? Masalahnya aku tidak tahu alamat Theo sama sekali."
Draco menunjuk tangan, bersedia mengantar Theo ke rumahnya. Hermione mengangkat bahu. "Ya sudah," ujarnya singkat, lalu berusaha membangunkan Theo lagi.
"Theo?"
"Hng…"
"Theodore Nott," bisik Hermione tepat di telinga Theo—yang entah kenapa membuat wajah Draco memanas—dan Theo langsung terlonjak dari tempat duduknya.
"Ka—kalian? Sedang apa di sini?"
Bah. Theo ikut-ikutan 'kebodohan' temannya.
Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau, Theo—" Hermione menunjuk Theo yang sedang mengucek-ngucek matanya, "—tadi tertidur—" Hermione menatap Theo yang sedang celingak-celinguk seperti orang linglung di kelasnya sendiri, "—dan menggumamkan nama Daphne."
Theo menoleh ke arah Hermione dengan cepat ketika nama Daphne disebut.
"A—apa?"
Hermione mengibas-ngibaskan tangannya.
"Ah, sudahlah. Susah berbicara dengan orang seperti kalian." Hermione melirik sekilas jam dinding yang ada di kelas, dan bersiap-siap untuk pergi. "Cepat sembuh, Theo." Hermione menepuk pundak Theo.
"Hey, mau ke mana?" cegah Harry, memegang tangan Hermione sebelum pergi. Hermione menggedikkan dagunya kepada jam dinding.
Dua menit lagi akan masuk kelas.
Harry mengangguk mengerti dan segera melepaskan tangannya. Draco yang melihat hal itu, tubuhnya terasa panas lagi. Entah kenapa.
Draco berdehem sebentar sebelum Hermione benar-benar keluar dari kelas Theo. Hermione menoleh, dan mengangkat alisnya.
"Hermione, aku mau bicara sebentar denganmu—"
"Bukannya sekarang kau seharusnya melapor ke guru piket untuk izin mengantarkan Theo pulang, Draco?"
Draco mengeluh.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Hermione melangkahkan kakinya keluar sambil menyumpah-nyumpah dirinya sendiri.
"Bodoh, bodoh! Kenapa mengharapkan terlalu tinggi!" gumam Hermione, memukul-mukul jidatnya sendiri.
.
.
"Daphne, kau tahu tidak? Kau terlihat seperti orang yang akan mati besok dibanding gembira karena sedang ke mall tanpa memikirkan pelajaran," sindir Pansy, melirik pada Daphne yang wajahnya tidak segembira dirinya. Daphne mengangkat bahu.
"Entahlah," sahutnya singkat, menolah-nolehkan kepalanya di mall tersebut, entah untuk mencari apa atau siapa.
"Kau mengharapkan tiba-tiba Theodore Nott muncul tepat di depan hidungmu lalu menyatakan cinta, ya?" Pansy terkekeh.
"Oh, diam, Parkinson." Wajah Daphne memerah karena ucapan yang tepat sasaran dari Pansy tersebut.
"Hey, memangnya Chang keturunan Asia mantan Potter itu sudah putus dari Diggory, ya?" tanya Pansy secara tiba-tiba. Daphne mengernyitkan dahi. Sejak kapan Pansy peduli dengan Cho Chang? Atau Cedric Diggory? Jangan-jangan—
"Wah! Kau sudah tidak menyukai Malfoy lagi, Pans? Hm, Diggory, ya, boleh juga—"
"Bukan itu, bodoh!" Pansy melotot ke arah Daphne yang sedang meledeknya habis-habisan, "lihat di sana, kalau aku tidak salah, itu Cho Chang—" Daphne menengok ke arah yang Pansy tunjuk.
"Benar, itu Cho Chang," sahut Daphne seolah tidak peduli.
"Jawab dulu pertanyaanku. Memang dia sudah putus dengan Diggory?"
"Wah, Pans. Kau benar-benar menyukai Cedric Diggory ya?"
Pansy menjitak kepala Daphne.
"Aww!"
"Jangan hanya meledekku, Daphne Greengrass, apalagi olokanmu itu tidak beralasan. Jawab saja kenapa, sih? Lihat pria yang sedang bermesraan dengannya."
"Umm, okay—tumben, kau peduli amat—umm, tunggu—itu, itu, itu bukannya—"
"Otakmu sedang lelet, ya, Daphne?" Pansy menyeret Daphne agar ikut dengannya bersembunyi di balik sebuah pilar untuk membuntuti Cho Chang dan—
"Ro—Roger Davies?"
"Pacarnya Ginny," desis Pansy tepat di telinga Daphne. Ah, ya, tunggu, Daphne baru ingat—
"Apa?! Tunggu—"
"Jangan kencang-kencang, bodoh!" Pansy menjitak kepala Daphne lagi. Daphne hanya mendengus jengkel. "Makanya aku tanya, Chang dengan Diggory sudah putus belum?" tanya Pansy, mengulang pertanyaannya yang tadi. Hingar bingar musik di mall membuat Pansy agak mengencangkan suaranya agar Daphne mendengar pertanyaannya.
"Umm—setahuku belum—"
"Nah, berarti mereka—"
"—berselingkuh…"
Pansy dan Daphne saling menatap horror di balik pilar.
"Eh, tapi ngomong-ngomong, aku baru sadar kalau Cho Chang dan Roger Davies ikutan bolos juga..."
Pansy menjitak kepala Daphne lagi.
.
.
"Jadi, ada yang bisa menjelaskan bagaimana cara kerja hukum Archimedes?" Suara Professor Slughorn menggema di ruang kelas XI-IPA-3. Harry—yang sudah bersemangat jika bertemu fisika, apalagi dia anak kesayangan Professor Slughorn, segera mengangkat tangan.
"Ya, Mr. Potter?"
"Hukum Archimedes, umm, jika massa benda lebih berat dibanding massa jenis zat cair, maka benda tersebut akan tenggelam. Jika massa benda lebih ringan dibanding massa jenis zat cair, maka benda tersebut akan terapung. Dan jika massa benda dan massa jenis zat cair sama, maka benda tersebut akan melayang," jelas Harry, tersenyum puas.
"Bagus, Harry Potter. Lima poin tambahan untuk nilai tugasmu." Professor Slughorn segera mengambil daftar nilai dari meja guru dan ballpoint dari saku kemejanya, membalik-balikkan kertas daftar nilai tersebut sehingga muncullah kelas XI-IPA-3, dan matanya meneliti nama 'Potter, Harry', lalu segera memberikan tulisan '+5' di kolom khusus tambahan nilai.
Harry nyengir. Yang lain mendengus tidak terima. Masa Harry terus yang dapat tambahan nilai?!
Harry bersyukur saat itu juga karena dia tidak satu kelas dengan Hermione. Bayangkan saja jika dia sekelas dengan Hermione, mana bisa dia dengan santainya mengacungkan tangan lebih cepat dari yang lain?
"Harry." Blaise menyikut-nyikut Harry dari kursinya, yang walaupun bersebelahan dengan Harry tapi masih berjarak jauh. Harry menoleh dan mengangkat alisnya. "Apa?"
"Si Loony Lovegood itu menerima ajakanmu ke pesta dansa?" tanya Blaise dengan sedikit berbisik, takut ketahuan Professor Slughorn—guru fisika mereka. Harry mendengus pelan.
"Luna Lovegood, Blaise Zabini. Bukan Loony, okay?"
"Okeeeee, Mr. Potter. Kau sudah diterima ajakannya?"
"Sudah," jawab Harry dengan sedikit nyengir, sepasang mata emeraldnya berbinar-binar semangat. "Memangnya kenapa kau tanyakan itu?" tanya Harry, sedikit menundukkan kepala agar tidak terlihat Professor Slughorn sedang mengobrol.
"Tidak apa-apa, tanya saja."
"Aku kira kau dibatalkan oleh Alicia Spinnet."
"Pria tampan sepertiku tidak mungkin ditolak ataupun dibatalkan ajakannya, Mr. Potter."
Harry mendecih pelan. Blaise terkekeh.
"Ya, ada yang mau ditanyakan, Mr. Zabini?" Professor Slughorn mengarahkan matanya kepada si pria berkulit gelap.
Blaise merutuk.
.
.
Tak ada yang lebih menyedihkan dibanding nasibnya sendiri.
Ya, Astoria Greengrass sedang merenungi nasibnya sebagai Astoria Greengrass—yang menurutnya—adalah sial.
Memang, banyak yang bilang bahwa dia cantik, anggun, dan bahkan lebih berwibawa dari kakaknya—Daphne Greengrass—yang lebih 'berandalan' dibanding dirinya.
Ada juga yang bilang bahwa Astoria adalah orang yang paling beruntung karena dianugerahi wajah cantik dan keluarganya juga dikenal oleh banyak orang—Greengrass, yah, walaupun, Astoria tidak bisa dibandingkan dengan Fleur Delacour.
Selama ini, Astoria tidak pernah menyesali dirinya sebagai Astoria Greengrass sampai suatu pernyataan menohok dirinya.
Dia pernah mendengar dari Ginny, bahwa ada seseorang yang menggosipkannya dekat tangga. Kakak kelas, sih. Tapi apakah Astoria tidak boleh marah?
"—ya. Kecantikannya sih memang sudah digosipkan sebagai adik kelas paling cantik tahun ini. Tapi katanya dia menyukai si Malfoy itu, ya? Hah, masa dari Granger saja kalah."
"Katanya sih dia juga terlalu takut terhadap Parkinson, soalnya dia sendiri dan kakakknya sudah masuk gangnya Parkinson. Menyedihkan, ya?"
"Wah, Malfoy diperebutkan dua orang cewek di satu gang sekaligus?"
"Hmm, ya—"
"Beruntungnya si Granger itu, karena bisa menjadi gadis paling dekat dengan Malfoy..."
"Hey, kau tidak dengar bahwa Malfoy mengajak Fleur ke Pesta Dansa Natal nanti? Itu berita terheboh seminggu ini, tahu!"
"Aku dengar dari Cho sih, Fleur itu sepupunya Malfoy..."
"Dunia itu sempit, ya..."
Itulah memori yang diingat Astoria atas percakapannya dengan Ginny kemarin, yang Ginny menceritakan tentang kedua kakak kelas yang menggosipkan dirinya, Draco, Granger dan Fleur Delacour sekaligus.
Dan pada kenyataannya, Astoria memang kalah telak dari Hermione Granger. Ya, Hermione Granger kakak kelasnya yang satu kelas dengan gebetannya, kakak kelas perempuan yang dinobatkan paling pintar seangkatannya, kakak kelas perempuan yang tidak terlalu cantik-cantik amat, bahkan kalah dibandingkan dengan dirinya, kakak kelas perempuan yang dekat dengan Draco Malfoy...
Astoria menghela napas di kelas Professor Hagrid. Dia tidak bisa mencerna dengan baik apa yang dikatakan Professor berambut brewokan itu.
Dia benci kenyataan bahwa dia kalah dari Hermione Granger.
Dan dia senang bisa menindas Hermione bersama gangnya, walaupun Granger tidak terlalu terganggu dengan hal itu, dan walaupun Astoria jarang langsung berbicara face to face dengan Hermione.
Tiga hari lagi Pesta Dansa Natal yang harus dia akui, dia benci menghadiri pesta ini, karena pada akhirnya dia harus melihat Draco berpasangan dengan cewek lain, walaupun itu sepupunya sekaligus.
Astoria tidak bisa terima kenapa dia bisa kalah dari Hermione Granger.
Dia lebih cantik dari Hermione, jelas. Banyak laki-laki yang menyatakan suka kepadanya, dan semuanya dia tolak hanya demi menunggu Draco Malfoy.
Dan lagi-lagi, Astoria benci kenyataan bahwa Draco tidak menoleh lebih dari satu kali kepadanya.
Coba saja dengan Hermione Granger.
Bahkan kadang Astoria melihat Draco menggenggam tangan Granger.
Astoria sering mendengar pernyataan langsung ataupun tak langsung yang menyatakan bahwa dia lebih pantas menyandang nama Malfoy dibandingkan Granger ataupun Fleur Delacour.
Astoria mengingat-ngigat percakapan yang ia dengar diam-diam saat satu bulan yang lalu atau dua bulan yang lalu. Tidak terlalu jelas.
"Lihat, si bungsu Greengrass itu. Cantik, ya? Tidak banyak omong, pendiam, tidak terlalu angkuh macam Fleur. Aristokrat sekali. Kurasa dia lebih cocok dengan Malfoy dibanding Delacour."
"Bagaimana dengan Granger?"
Yang ditanyai cekikikan.
"Hermione Granger yang berambut semak itu? Hah! Aku bahkan hanya melihat dia bisa dibanggakan dengan kepintarannya saja..."
"Hush! Jangan ngomong begitu. Gitu-gitu Hermione cewek paling dekat dengan Draco Malfoy saat ini, lho..."
"Lha, aku tidak peduli. Lagian mereka mengakunya bersahabat, kan? Kurasa Malfoy juga tak tertarik dengan cewek macam dia..."
Kalimat terakhir membuat Astoria menyunggingkan ujung bibirnya ke atas. Ya, tidak mungkin kan Draco suka dengan Hermione Granger? Hey, lihat, Draco Malfoy! Aku lebih pantas untukmu!
Astoria merasa gila karena sudah berteriak-teriak dalam hati.
Oh, dia memang sudah tergila-gila dengan Draco Malfoy, kan? Pangeran es yang cool, yang belum pernah berpacaran sama siapapun...
Astoria ingin berteriak tepat di depan wajah si kulit pucat itu: "Hey, Draco Malfoy nan tampan! Lihat aku sekali-kali, jangan hanya Granger saja. Lihat aku! Adik kelas yang menunggu pernyataan cinta darimu semenjak masuk ke sekolah ini!"
Tapi sepertinya tidak mungkin mengingat Granger selalu berdekatan dengan Malfoy.
TEEET!
Astoria terlonjak dari tempat duduknya. Bel tiba-tiba yang menginterupsi lamunannya itu membuatnya terkejut bahkan tidak sadar bahwa Professor Hagrid sudah keluar dari kelas.
Astoria mengangkat bahu, lalu segera merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja, dan segera keluar dari kelas untuk menemui Ginny Weasley yang berada di kelas yang berbeda dengannya.
Dia berjalan dengan lunglai, mengingat bahwa dia kalah dari Hermione Granger, sampai dia melihat seseorang—
—tepat di depan matanya—
Pangerannya...
"D—D—Draco—Draco Malfoy?" Astoria gelagapan, segera merapikan rambut dan pakaiannya agar terlihat rapi di depan pangeran berkulit pucat itu.
Draco hanya mengangguk, dan segera melangkahkan kakinya menjauh dari si bungsu Greengrass itu.
Tapi Astoria menahannya.
"Err—tunggu—"
Draco berdecak tidak senang.
"Apa, Greengrass? Kau membuang waktuku."
"Err—Draco? Boleh kupanggil begitu?"
Draco hanya mengangkat bahu, menandakan 'terserah', lalu menggoyang-goyangkan kakinya dengan tidak sabar.
"Kau—kau ke Pesta Dansa Natal dengan siapa?"
Ups, pertanyaan bodoh, Astoria! Batin Astoria dalam hati. Draco mengernyitkan dahinya.
"Kau tidak mendengar kabar bahwa aku mengajak Fleur Delacour, ya?"
"Umm—aku lupa, sorry. Umm—tadinya aku ingin mengajak kau untuk ke pesta dansa—umm—"
Draco mengangkat bahu lagi dengan tidak peduli, dan segera menepis dengan kasar tangan Astoria yang daritadi berada di tangannya.
"Greengrass, aku ada urusan. Aku sudah ketinggalan pelajaran karena mengantarkan Theo ke rumahnya tadi, dan aku sekarang ingin meminjam catatan dan menanyai tugas—"
"Theo? Theodore Nott? Ada apa dengannya?"
Draco mendengus sebal.
"Bukan urusanmu, Greengrass. Sekarang aku mau pergi dulu."
Draco meninggalkan Astoria dengan hati berkeping-keping, walaupun Astoria senang juga bisa berbicara dengan Draco empat mata saja.
Dan, apa tadi? Ada apa dengan Theodore Nott sampai harus dibawa ke rumahnya oleh Draco?
Astoria harus menyampaikan berita ini kepada kakaknya yang sangat mencintai seorang Theodore Nott ...
.
.
"Oi, Loony! Kau dicariin kakak kelas kece tuh di depan ..." Seorang perempuan dengan penuh bintik-bintik di wajahnya dan rambut yang dikepang, menunjuk ke arah seorang pria berkacamata bulat dengan rambut hitam berantakan yang tercetak jelas di atas kepalanya.
Harry Potter.
Harry yang mendengar perempuan tersebut memanggil Luna dengan Loony, segera berteriak tidak terima.
"Hey, kau, gadis berkepang!"
Yang dipanggil segera menoleh, dan tersipu malu karena yang memanggil adalah si Harry Potter yang mencari Loony—eh—Luna Lovegood.
"Ya?"
"Jangan memanggil dia Loony! Namanya Luna! Otakmu bodoh sekali ya tidak bisa membedakan 'Loony' dan 'Luna'?"
Si gadis berkepang terlonjak dari tempatnya.
"Maaf, Harry Potter—aku tidak tahu dia sudah menjadi kekasihmu—umm—"
Harry mengibas-ngibaskan tangannya sambil nyengir.
"Tidak apa-apa. Hey, Luna! Mau keluar dari kelasmu sebentar?" Harry berteriak dari kelas Luna—X-IPA-1—dan membuat beberapa orang yang berada di kelas tersebut segera menyoraki Harry dan Luna, termasuk Colin Creevey. Harry menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, sambil menggerak-gerakkan kakinya gelisah, tidak betah bersama adik-adik kelas yang jahil ini.
Luna segera membereskan buku yang berada di atas mejanya, dan berjalan dengan langkah yang pelan ke tempat Harry berada.
"Ada apa, Harry?"
"Mau berbincang-bincang sebentar? Ngobrol, gitu..."
"Mau ngobrol apa?"
Harry ingin mengacak-acak rambut pirang panjang yang berada di hadapannya itu sekarang juga.
"Ya, ngobrol aja gitu..."
"Umm, oke."
Harry dan Luna sudah berjalan jauh dari kelas Luna, dan Harry bersyukur akan hal itu.
"Harry?"
"Ya?" Harry menjawab terlalu cepat karena bingung setelah bertemu Luna, entah ingin membicarakan apa—dia hanya kangen...
"Kau tadi tidak marah si Kelley menyebutmu kekasihku?"
Oh, jadi nama gadis berkepang berbintik-bintik itu namanya Kelley, ya...
Tapi kemudian Harry sadar apa yang Luna maksud.
Kau-tadi-tidak-marah-si-Kelley-menyebutmu-kekasihku?
Tentu saja tidak, Luna! Aku kan menyukaimu...
Tapi ditelannya saja kata-katanya tadi.
"Umm, aku tidak marah—"
"Oh, aku kira kau marah gara-gara digosipkan berpacaran dengan gadis aneh sepertiku, haha..." Luna tertawa hambar dan Harry segera menoleh kepadanya.
"Ada apa?"
"Oh, tidak, Harry. Ayahku pernah berkata bahwa Wrackspurts akan memasuki telingamu dan mengganggu otakmu, mungkin kepalaku sedang kemasukan Wrackspurts..."
Harry menggaruk-garuk telinganya dengan kebingungan.
"Apa itu Wrackspurts?"
Luna hanya tersenyum dan melanjutkan berjalan.
.xOx.
TO BE CONTINUE
A/N: Hello, all. Maaf buat updatenya agak telat dari biasanya
Thya. a. meong: huahaha, buat tamatt sihh masih agaak lama:p sabar dikit, yaa x)) makanya review terus biar aku tambah semangat *eh? *modusxD
Caca: umm, liat di sini ya… :p xD
Ochan malfoy: iyaa, tapi sekarang updatenya rabu malemm x(( *mewek(?) ahahaha, Harry sama Luna belom kok, tunggu nanti, ya… iyaa haha xD ini udah update..
Guest: hehe, iya nih Draconya ga sopanxD :p romantic? Ahh, jadi malu *eh?
blueDiamond13: thanks, diamond! Aaaw perfect :$ thanks a lot xD
Zian: wakakaka, iya aku juga ga ngebayangin gimana kalo jadi Hermione xD hihi, 4 jempoool makasih yaa x))
Amuto: makasih, ya! Ini udah dilanjut;)
Shizyldrew: haha:p ditonjok gak ya? XD
Shinta malfoy: haha, ayo kita beli truk terus tubrukin ke pansy! X))
Kutu Voldemort: makasih yaa :'' xDD ini x))
Cla99: thanks, cla, udah mau review di sela2 ujianmu (?) umm, iya, ngga ngena ya? *nyengir kuda* di sini ada surprisenya kenapa nembaknya gak ngena gitu *nyengir lagi*
Fressia Athena: persahabatan mereka berlima dengan 'Mione? Hmm, apa mau aku bikin side storynya? Hehe, thanks, ya. Ini ;)
Ya, jadi ceritanya Ginny Weasley sudah berpacaran dengan Roger Davies, anak kelas XII. Chapter depan pesta dansa natal. Ya, mungkin memang agak cepat mengingat pesta dansa natal seharusnya tiga hari lagi, tetapi sepertinya jika diperlambat fic ini chapternya akan lebih banyak.
Nah, bisa berikan saya semangat untuk mengetik lewat...
Review? :D
