Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 7: Pendalaman Bahasa Perancis


"Theo sakit?" tanya Daphne tak percaya pada sosok berparas cantik di depannya, adiknya sendiri, Astoria Greengrass.

"Theo sakit," ulang Astoria menegaskan. Mereka berdua sedang berada di rumah mereka, kediaman Greengrass yang letaknya tak jauh dari kediaman Parkinson.

"Kau tahu darimana?" Daphne mengernyitkan dahinya, masih tak percaya.

"Tadi Dra—maksudku Malfoy—mengatakan bahwa dia habis mengantarkan Theodore Nott ke rumahnya. Tidak mungkin tidak ada apa-apa jika tidak ada sesuatu yang terjadi," jelas Astoria, lalu mengambilkan tas Daphne yang berada di kamarnya dan menyerahkannya pada Daphne.

Daphne kebingungan.

"Kau mau menjenguk Theo ke rumahnya, kan?"

"Ta—tapi—"

"Nih." Astoria mengambil sesuatu dari saku seragamnya dan menyodorkannya kepada Daphne. "Aku dapat dari teman sekelasnya Nott itu. Masih pukul dua sore, pergilah." Astoria mendorong tubuh Daphne agar mau pergi ke rumah Theo berbekal alamat yang tadi diberikannya kepada Daphne.

"Ba—baiklah. Thanks, Tori…"

"Anytime."

Daphne membaca ulang kertas yang tadi disodorkan Astoria. Alamat Theodore Nott.

Daphne menghirup napas dalam-dalam.

Semoga kedatangannya tidak sia-sia.

.


.

Hermione Jean Granger. Hermione Jean Granger. Hermione Jean Granger.

Berharap dengan mengucapkan nama tersebut tiga kali, orang tersebut langsung muncul di hadapan si penyebut nama. Walaupun itu tidak mungkin terjadi, karena si pemilik nama sedang di kelas bersama Professor Flitwick dan siswa-siswi yang ikut ekskul pendalaman bahasa Perancis sekarang.

Dia sedang ekskul futsal sekarang—walaupun tidak bisa dibilang ekskul karena hanya briefing perlombaan futsal yang diikuti beberapa sekolah di London, lagian sedang musim salju—ditemani cekikik-cekikik gadis-gadis yang berada di sekitarnya.

Seorang Draco Malfoy baru pertama kali mengalami cinta yang sesulit ini. Ralat, dia memang baru pertama kali merasakan cinta dan mengalaminya sendiri.

Dan yang ia sesali sampai sekarang adalah, mengapa dia harus mengajak Fleur Delacour ke Pesta Dansa Natal—yang notabene adalah sepupunya sendiri—yang baru dia ketahui saat hari Sabtu kemarin.

"Draco." Seseorang menepuk pundak Draco dari belakang. Draco menoleh. Harry Potter, tidak ditemani cengiran lebar seperti biasanya.

"Kenapa kau?" Kini Harry mengambil tempat duduk di sebelah Draco, dan memandang lurus ke depan, seperti yang dilakukan Draco.

"Menurutmu?"

"Hermione?"

Otomatis Draco menoleh ke arah Harry dengan pandangan yang tak bisa dilukiskan kata-kata. Amat sangat terkejut. Sangat bukan Draco Malfoy.

Harry terkekeh.

"Ada apa dengan Hermione?" Harry bertanya lagi, tidak memperdulikan ekspresi terkejut Draco.

"A—apanya Hermione?" Sang Malfoy gelagapan.

"Lho, aku kan bertanya padamu, kok bertanya balik, sih?"

Wajah Draco memerah.

"Ada apa dengan Hermione? Sampai-sampai wajahmu memerah begitu," ulang Harry, kini sambil tersenyum geli.

Draco tidak mau menjawab, tapi dia menatap Harry dengan tatapan yang tajam.

"Aku tidak bilang aku memikirkan Hermione."

Krik.

"Oh, ya? Tapi wajahmu sampai memerah begitu saat ku sebut nama Hermione. Coba kusebut tiga kali. Hermione Hermione Hermione."

Draco mendengus.

"Aku tidak memerah karena nama Hermione. Aku memerah karena cuacanya panas sekali. Lihat, mataharinya terik sekali, 'kan?"

"Salju turun begini kau bilang cerah?"

"Uhm, okay. Aku tahu kau belum mau bercerita tentang hubungan khususmu dengan Hermione. Lain kali cerita, ya!"

Dengan sekali tepukan di pundak, Harry melompat berdiri dan pergi dari sana, sambil mengusap-usap tangannya yang dingin.

Draco tercenung.

Benarkah dia memiliki hubungan khusus dengan Hermione?

Hubungan apa?

Hubungan tanpa status iya.

.

.

.

Theo sedang sakit, dan Draco berpendapat bahwa Theo tidak akan bisa pergi ke Pesta Dansa Natal untuk tiga hari ke depan. Dan, untuk tiga hari ke depan, Hogwarts Senior High School diliburkan, apalagi untuk cuaca yang dingin seperti ini.

Jika Theo tidak bisa hadir, maka Hermione tidak mendapat pasangan dansa dan kemungkinan Draco bisa mengajaknya untuk berdansa…

Bagaimana dengan Fleur Delacour?

Draco bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menjauh dari sana—mengabaikan gadis-gadis yang memperhatikannya dari tadi—dan melangkah menuju kelas ekskul pendalaman bahasa Perancis.

Pesta Dansa Natal diadakan tanggal delapan belas Desember. Draco mengeluh. Seandainya saja diadakan tanggal dua puluh lima, maka itu akan menjadi hadiah yang terindah untuk dirinya sendiri dan Hermione Granger…

Apa yang dia pikirkan?!

Draco memejamkan mata, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Cuaca dingin sekali sekarang! Beberapa salju mengenai rambut pirang-platina Draco dan mantel saljunya.

Dingin sekali.

Sesampainya di depan kelas ekskul pendalaman bahasa Perancis, Draco mengintip lewat jendela. Bagus, sudah mau pulang. Hanya ada beberapa anak yang mengikuti ekskul ini. Pastilah—siapa yang mau untuk ekskul dengan cuaca sedingin ini? Tapi tidak. Masih ada yang mau. Hermione Granger salah satunya.

Draco menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas, dan mencari-cari sosok dengan rambut gelombang tebal berwarna cokelat.

Ketemu! Hermione—mengusap hidungnya berkali-kali—mulai bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan kelas, didahului oleh Professor Flitwick terlebih dahulu.

"Hermione!" Dengan tergesa-gesa, Draco menghampiri Hermione yang bersin-bersin di depan kelas.

"Dr—hatchiii!—Draco?" sepertinya Hermione sudah melupakan mimpinya tentang acara penembakan Draco ke Hermione.

"Kau kedinginan, Hermione." Draco menatap mantel yang lebih tipis darinya itu—yang sedang digunakan Hermione—dengan pandangan mencela.

"Aku ti—hatchii!—dak kedinginan!" Hermione mengusap-usap hidungnya lagi, lalu menyatukan kedua telapak tangannya dan menggosok-gosokannya.

"Mukamu memerah!"

"Ti—tidak!"

"Banyak alasan!"

"A—apa?"

Draco segera menarik Hermione ke pelukannya tanpa bicara apa-apa lagi. Iya, pelukan, di depan pintu kelas, dengan sebagian anak-anak ekskul belum pulang karena mencari kehangatan di dalam kelas.

Hermione tidak menyadari dengan apa yang terjadi di dalam kelas—yaitu cekakak cekikik yang bertebaran saat mereka berpelukan erat seperti itu. Hermione malah mengeratkan pelukannya, dan sesekali suara bersin terdengar.

Sesekali Draco menoleh ke belakang, memastikan bahwa para murid yang lain seharusnya pulang bukannya berdiam di kelas seperti itu.

"Baiklah, kami pulang, Malfoy! Maaf telah mengganggu acara bermesraanmu, pfftt—" kelakar seorang siswa terdengar, dan yang lain serempak tertawa. Lalu mereka semua yang masih berada di dalam kelas segera membereskan peralatan tadi yang digunakan untuk belajar, lalu memakai tasnya dan mulai bangkit.

"Permisi … pfftt." Tawa cekikikan yang tertahan masih terdengar. Draco cepat-cepat menarik Hermione lebih erat dan bergeser sedikit dari pintu keluar. Draco mendengus pelan.

Satu persatu dari mereka keluar dari pintu kelas sambil sesekali mengerling ke arah Draco yang melotot geram kepada mereka dan Hermione yang menyandarkan kepalanya di bahu Draco sambil berpelukan. Hey—bahkan ada yang mengedipkan matanya.

Setelah mereka semua sudah selesai keluar—atau begitulah menurut Draco—dia segera menengok ke arah kelas, memastikan bahwa tidak ada yang mengintip mereka lagi.

"Kau—kau tidak mau pulang, Hermione?" ujar Draco, dengan kaku membelai-belai rambut Hermione yang berada di dekapannya.

"Hngg—" gumaman tidak jelas terdengar dari bibir mungil Hermione. Ah, bibir itu… merah sekali. Ingin rasanya Draco mencicipinya sekali sekali.

Apa yang barusan dia pikirkan?

"Ayo pulang. Kalau di sini terus kita bisa mati kedinginan, Hermione!"

"…"

"Hermione? Kau tidak tertidur, kan?"

"… dak."

"Aku anggap itu sebagai tidak."

Hening lagi. Hanya terdengar butiran-butiran salju yang turun dari langit ke bumi. Putih. Khas salju.

Napas Draco sudah cukup sesak sebenarnya, karena dipeluk dengan erat seperti itu. Tapi, tak apalah—untuk Hermionenya.

"… co."

Draco menunduk—karena Hermione lebih pendek sedikit darinya—dan merasakan bahwa ucapan Hermione yang tidak jelas tadi adalah memanggil namanya.

"Apa, 'Mione?" Draco berbisik tepat di telinga Hermione, dan membuat Hermione kegelian dan segera menatap langsung sepasang mata itu. Sepasang mata kelabu. Sepasang mata yang membuatnya sudah jatuh cinta … pada pandangan pertama.

"Pulang." Hermione segera merenggangkan pelukannya, dan melepaskan pelukannya sama sekali. Entah—menurutnya—ada sesuatu yang hilang.

Ah—Si Pemuda dengan kulit pucat juga merasakan sesuatu yang hilang itu.

Draco berdehem sebentar—untuk menetralkan suaranya, atau hatinya, entahlah—dan mengangguk pelan. Lalu mereka berdua berjalan bersama-sama.

"Harry ke mana? Bukannya kau hari ini briefing futsal dengannya, ya?" tanya Hermione, dengan dahi berkerut-kerut. Dan entah ke mana bersin-bersinnya mulai hilang sedari tadi.

"Pulang bareng Lovegood kali," jawab Draco cuek. Ingin sekali tangannya menggenggam tangan mungil yang sedang berjalan di sebelahnya itu—gengsi. Kenapa gengsi? Padahal tadi pagi saja dia berani mencium bibir Hermione tepat di depan Pansy and the Gang. Ah, entahlah…

CUP!

Semua terlintas di pikirannya dan langsung dilakukannya begitu saja—kecupan singkat di bibir yang tak lebih dari tiga detik.

Tapi menyebabkan efek yang kurang dari tiga detik.

Pipi putih Hermione dan pipi pucat Draco sama-sama memerah. Tapi Draco tidak menyesal melakukannya—toh sekarang, entah dia mendapat keberanian darimana—menggenggam tangan Hermione dengan erat.

"Draco," panggil Hermione sambil berbisik, walaupun pipinya masih memerah.

"Apa?" sahut Draco kegirangan, mengira Hermione akan meresmikan hubungan mereka sekarang juga, dan menggenggam tangan Hermione lebih erat.

"Kumpulan anak-anak ekskul pendalaman bahasa Perancis memperhatikan kita … tepat di belakang pohon cemara itu." Hermione mengarahkan jari telunjuk kanannya yang tidak sedang digenggam oleh Draco ke arah pohon cemara yang sudah dihias oleh salju.

.

.

.


.

Harry menatap Luna yang memeluk mantel tebalnya dengan erat dengan sebelah tangan, dan sebelah tangan lagi multi-function, memegang buku sekaligus membolak-balikkan halaman buku yang sedang dibacanya.

"Luna?" Harry menatap Luna dengan pandangan bertanya, seraya melirik sebentar ke arah buku yang dibaca Luna.

"Oh, Harry," sahut Luna datar masih asyik membaca bukunya. Selang beberapa detik, halaman buku dibalikkan.

"Daritadi aku mencarimu. Uhm, aku kira, kita tidak jadi pulang bersama hari ini." Harry memasang tampang memelas yang lucu, tapi sia-sia saja—Luna tetap mematokkan sepasang matanya ke halaman-halaman bukunya.

Omong-omong, ya, akhir-akhir ini Harry dan Luna memang rutin pulang bersama.

"Oh, tentu jadi, Harry. Habis aku bosan, tidak tahu harus melakukan apa ketika menunggumu sedang briefing." Luna mulai mengambil pembatas buku di balik saku mantelnya dan menyelipkan ke halaman buku yang tadi dia baca, dan menutup bukunya.

Harry nyengir.

"Luna, mau dengar berita menarik, nggak?" Sepertinya Harry terkena syndrome anak-anak ekskul pendalaman bahasa Prancis yang hobi gosip.

"Boleh, apa?" Luna tersenyum manis sambil mendongak menatap sepasang mata emerald Harry. Ah, ditatap seperti itu, membuat wajah Harry menjadi samar-samar merona merah.

"Ehm, itu. Kata anak-anak yang ekskul PBP, ehm—Draco dan Hermione berpelukan mesra di depan kelas ekskul mereka." PBP itu singkatan pendalaman bahasa Perancis. Mungkin Harry tidak mau mengucapkan 'judul' ekskul yang panjang itu.

"Wah, bagus, dong. Akhirnya hubungan mereka berkembang juga." Luna masih tersenyum, tetapi mulai bangkit dari tempat duduknya tersebut. Dia menunggu Harry di salah satu ruang kelas yang kosong.

"Hah? Kau juga tahu ya, hubungan khusus mereka?" Harry memberanikan diri untuk mengenggam tangan Luna, tetapi Luna menepis halus.

"Tidak usah, tidak apa-apa—" ditolak itu rasanya sakit, bung, "—ah, iya, aku tahu dari cara mereka saling menatap. Ayahku kuliah psikologi dulu."

"Oh, begitu. Pantas." Harry tersenyum canggung, dan berjalan di depan Luna agar gadis itu tidak melihat wajahnya yang merona merah karena malu. Apakah gadis itu juga bisa mendeteksinya karena jantungnya berdebar-debar terus ketika melihat gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu?

"Harry." Luna berjalan lebih cepat dari Harry untuk menyamakan langkah.

Harry menoleh.

"Di belakang pohon cemara itu kok, banyak sekali yang berkumpul." Luna menunjuk ke arah pohon cemara yang hampir seluruhnya sudah terkena salju. Tetapi memang, di belakang pohon tersebut banyak sekali yang sedang berkumpul. 100% anak-anak ekskul PBP.

Harry mengangguk sambil mengernyitkan dahi. Hembusan napasnya menghasilkan uap-uap tipis di udara.

"Ke sana, yuk." Harry sedikit berlari untuk menuju pohon cemara yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya tadi. Pohon cemara yang terletak di ujung halaman sekolah mereka.

Sesampainya di pohon cemara tersebut, anak-anak ekskul PBP segera berbisik-bisik kepada Harry dan Luna untuk berkumpul bersama mereka.

"Itu! Lihat! Sepertinya Malfoy mengajak Granger kencan!" Seorang lelaki dengan tubuh gempal menunjuk-nunjuk dengan semangat saat adegan Draco berbincang-bincang dengan Hermione.

"Ssst, diam! Hei, Potter, Lovegood! Kalian benar-benar tidak mau menonton dari sini, ya? Lebih jelas, lho!"

Harry dan Luna menggeleng bersamaan, tetapi memfokuskan kedua matanya—khusus Harry, empat—ke arah Draco dan Hermione.

"Wah, sepertinya mereka berbincang-bincang serius." Seorang gadis dengan teropong melihat dengan serius.

"GYAA!"

"Ssst! Apa-apaan kau ini, Chelle? Untung mereka tidak langsung menoleh ke sini!" Harry dan Luna saling bertatapan dengan heran.

"Apa yang terjadi?" tanya Harry akhirnya, kepada si gadis yang tadi memegang teropong dan dipanggil Chelle.

"Merekaaa! Berciuman!" Chelle berteriak—tetapi tertahan karena menyadari bahwa Draco dan Hermione sudah menoleh ke arah mereka.

"HAH?!"

Mereka semua langsung berebut mengambil teropong. Yang berhasil mendapat teropong tersebut ternyata si pemuda bertubuh gempal, dan segera melihat ke arah mereka.

"Mana? Mana? Kok mereka hanya berjalan berdua saja?" Sepertinya dia kecewa.

"Tidak berciuman, cuma kecupan singkat di bibir selama kurang lebih tiga detik," sahut Chelle, tapi tatapannya berbinar-binar.

"Yahhhhh…" Sontak mereka protes serempak. Harry tertawa geli sementara Luna senyum-senyum.

"Ah, kau sih, Chelle. Mereka langsung pergi, kan … kalau tidak mereka pasti melanjutkan ciuman itu!"

"Tidak ada hubungannya denganku! Draco memang hanya mengecup begitu. Ah, seandainya saja salah satu dari mereka melumat terlebih dahulu…"

"Heh!"

Semuanya langsung cengar-cengir.

.


.

Daphne menatap cemas rumah di depannya. Tak begitu besar, tapi tak bisa dibilang kecil juga. Warna cat rumahnya oranye. Sebenarnya rumah tersebut bisa saja menjadi asri, melihat bagaimana banyaknya pot yang terletak secara rapi di halamannya. Tetapi musim salju yang seperti ini tidak akan bisa membuat tanaman-tanaman hias tumbuh menarik.

Dengan aksi tarik-buang napas yang dia lakukan selama empat menit di depan pintu rumah tersebut, Daphne memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang berada di depannya. Berusaha menghalau rasa kedinginan yang ada. Yang ada, dia lebih diliputi kecemasan daripada kedinginan.

Tok, tok, tok.

Tiga kali ketukan di pintu dan ternyata belum cukup membuat salah satu penghuni rumah tersebut untuk membuka pintu rumahnya.

Tok, tok, tok.

Tiga kali lagi sebagai tambahan, dan Daphne menunggu selama beberapa detik, sampai akhirnya pintu terbuka dan menampilkan sosok pria yang gagah, tetapi masih dikatakan cukup tampan, dengan senyum menghiasi wajahnya. Mirip Theodore Nott. Like father like son.

"Umm, selamat siang, umm—Mr. Nott?" sapa Daphne ragu-ragu. Dia belum pernah melihat rupa ayah Theo sebelumnya, tetapi dia mengasumsikan sendiri bahwa pria yang kira-kira dua puluh lima tahun lebih tua darinya ini adalah ayah Theo.

"Yes, Miss Greengrass, selamat siang! Silahkan masuk!" Sepertinya Mr. Nott ini sangat kegirangan sampai tidak menyadari bahwa gadis di depan pintu rumahnya sedang melongo.

"Anda … tahu nama keluarga saya?" Daphne masih melongo, tetapi mulai melepas sepasang boots yang tadi dia gunakan sebagai alas kakinya secara perlahan-lahan, dan mulai melangkah masuk mengikuti si Tuan Rumah yang berada di hadapannya. Dinding-dinding rumahnya diwarnai warna oranye, senada seperti cat depannya. Sepertinya penghuni rumah ini memang pecinta oranye.

Mr. Nott yang sedari tadi diam saja, segera menoleh dan masih menyambut Daphne dengan senyumnya yang ceria.

"Wah, bagaimana aku tidak tahu, Miss Greengrass. Kau kan pasangan hidup anakku. Bagaimana anakku tidak terpesona jika gadisnya cantik sebegininya. Dan aku baru tahu kalau anakku mempunyai hobi untuk mengoleksi foto—wah, duduk dulu, Miss Greengrass!" Mr. Nott dan Daphne segera duduk di sofa berwarna putih bersih dengan beberapa bantal di atas sofa tersebut. Daphne masih tidak dapat menyembunyikan keheranannya— "Ah! Sepertinya aku harus mulai mengakrabkan diri dengan calon menantuku. Siapa nama depanmu? Aduh, aku lupa. Penyebab usia, sepertinya. Dane Greengrass? Dape Greengrass? Da—"

"Daphne Greengrass, sir." Daphne memotong perkataan Mr. Nott karena saking gregetannya.

"Ah ya, Daphne Greengrass! Nama yang cantik! Uh. Sepertinya aku harus mengenalkanmu pada istriku tercinta—"

"Jangan! Jangan!" Daphne buru-buru mencegah Mr. Nott untuk memanggil seseorang—atau yang Daphne asumsikan, istrinya.

Bagaimana mungkin, Daphne Greengrass, dengan segala keluguannya dan menganggap bahwa yang mengenalnya di rumahnya ini hanya Theo, itupun Daphne tidak tahu apakah Theo mau mengakui bahwa dia mengenalnya atau tidak—tetapi ternyata ayah Theo ini, malah sudah mengenal Daphne, dan mengatakan bahwa Daphne adalah pasangan hidup anakku ditambah dengan calon menantuku? Bah!

Mr. Nott yang tadi sudah berseri-seri segera memasang wajah bingung.

"Kenapa?"

"Umm—eh—itu—aku takut menganggu istrimu, sir." Daphne menjawab dengan sopan, berusaha untuk tidak gagap.

Mr. Nott berseri-seri lagi.

"Benar-benar menantu yang sempurna, eh? Istriku memang sedang tidur. Punya kekasih seperti kau ini masih disembunyikan oleh anak laki-lakiku yang satu itu. Dasar pelit, hormon anak muda … apa susahnya memberitahu orang tua bahwa sudah punya kekasih?"

Daphne masih bingung.

"Err—sir— kalau boleh tahu, darimana Anda mengetahui nama saya, apalagi mengasumsikan saya sebagai—uhm—" Daphne sebenarnya ingin mencelupkan dirinya ke kubang lumpur saja sekalian, "—kekasih Theo?"

Mr. Nott terkekeh.

"Kau ini, masih malu-malu dengan calon mertua sendiri, ya? Theo kan menyimpan foto-fotonya di satu album khusus, dan tanpa sengaja aku membukanya. Isinya foto-fotomu semua, bahkan dengan tanggal, bulan, dan tahun yang lengkap. Masa kau tidak tahu, sih? Oh iya, Theo sudah sering menceritakan tentangmu kepadaku. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu secara langsung…"

Daphne menganga. Tidak menyangka bahwa Theo mau menyimpan foto-fotonya di album khusus.

"Theo—menceritakan apa?"

Mr. Nott nyengir.

"Dia bilang kau cantik. Walaupun agak judes dibandingkan dengan adikmu, tapi yah, menurutku kau juga cocok dengannya, Dane—"

"Daphne, sir," ralat Daphne.

"Ah ya, Daphne. Kau cocok sekali dengannya! Theo memang tidak menjelaskan secara spesifik bahwa kau itu kekasihnya, sih. Tapi menurutku, kau pasti kekasihnya. Benar, kan?"

"Mr. Nott, saya ingin menjenguk—" telan ludah, "—Theo," ujar Daphne sesegera mungkin, sebelum pria yang ada di hadapannya mulai mengoceh lagi hubungan antara dirinya dan Theo yang tidak ada apa-apa.

"Oh ya! Pasti itu tujuanmu! Tadi temannya, si Drake—"

"Draco, sir," ralat Daphne lagi. Sepertinya ayah Theo memang memiliki syndrome mengubah nama depan orang.

"Ah, ya, Draco Malfoy, mau berbaik hati mengantarkan Theo sampai ke rumah di tengah salju begini. Mari, kuajak kau ke kamarnya. Dan, lepaskan mantelmu dulu, Dane, rumah kami cukup hangat." Mr. Nott berdiri, dan Daphne tidak mau repot-repot meralat nama depannya yang diucap dengan salah lagi.

Mereka menaiki tangga, dan menemukan kamar dengan gantungan di depannya,

Theodore Nott.

Tanpa ragu-ragu, Mr. Nott mengetuk pintu di hadapannya.

"Theo, kekasihmu menjenguk, nih!"

Glek.

Cukup lama sampai akhirnya terdengar sahutan, "masuk."

Mr. Nott membuka pintu kamar tersebut perlahan-lahan. Daphne merasa bahwa jantungnya akan melompat sekarang juga saking berdebar-debarnya.

"Theo, Dane sudah datang. Dad tinggal dulu, ya." Mr. Nott mengerling sebentar sebelum menutup pintu.

"—dan Theo, kondisimu belum cukup untuk melakukan itu. Lain kali saja, ya." Dan terdengar suara tutupan pintu.

Ayahnya mesum sekali…

"Lain kali aku harus memberitahu Dad kalau namamu Daphne, bukan Dane." Theo membuka percakapan, dan mengubah posisi tidur-tidurannya menjadi duduk.

"Uhm. Cepat sembuh, Theo." Akhirnya hanya itu yang bisa diucapkannya. Di antara sekian pertanyaan di dalam benaknya, hanya itu yang bisa diucapkannya.

Hening. Terdengar detik-detik jarum jam dari kamar Theo, tetapi tidak ada suara yang lain selain itu.

"Sorry." Si pemuda buka suara.

"A—apa?"

"Membuat Dad beranggapan kau adalah kekasihku."

Kalau itu sungguhan sih tidak apa.

"No problem."

"Terima kasih sudah mau menjengukku."

"Sama-sama."

Canggung.

"Tadi kau ke mana? Aku tidak melihatmu di sekolah," tanya Theo.

"Uhm, aku—aku—"

"Ya?"

"Ah, mungkin kau saja kali yang tidak melihat aku. Aku masuk, kok."

Dan pembicaraan mengalir…

Seolah mereka benar-benar sepasang kekasih yang baru bertemu setelah kecanggungan saat pertama kali bertemu tadi.

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Hello

Thya. : ahh, sorry banget, ya? memang kurang sehat saat ngetik chap kemarin. Semoga chap ini bisa memuaskanmu, dan maaf banget jika masih jelek x( untuk mimpi Hermione, bakal jadi kenyataan, tapi nggak sekarang *malah spoiler*

Claire nunnaly: pengennya sih gitu. Tetapi jodoh Theo tetep Dahpne *digebok* tenang. Theo Daphne saya perdalam di chap ini

Shizyldrew: complicated. Yes. I'm sure ._.

BlueDiamond13: hihi, iya cuma mimpi… thanks

Shinta malfoy: haha, Draco tak akan separah(?) itu, nak(?) :3 pengennya sih begitu, tapi entah kenapa cerita mereka jadi saling nyambung menyambung, jadi mau tak mau ada konflik lainnya._. hehe, kalo sempet, ya:D

R. Jack Skelenton: uhm, iya juga, ya. Oke deh. Akan diperlambat, Jack. Jadi chapter ini belum pesta dansa

Amuto & Sanggul Syahrini: hehe, thanks, ya ini sudah update

Ochan malfoy: hehe, nggak apa-apa wah, GWS ya._. '-')/ hehehe, xD pesta dansa nggak jadi minggu ini, jadinya minggu depan, biar pada penasaran juga *plak* hehe, thanks, ya

Ms. Loony Lovegood: hehe, ceritanya waktu itu Fleur sama Draco sama-sama nggak tau kalau mereka sepupuan ada penjelasannya sedikit di chap ini, semoga lebih gampang dimengertiXD

Anyaaa: haha, malfoynya lempeng ya? Ntar dikuatin(?) deh :3 iya ini banyak kok porsi mereka, ini sudah update

Yap, sesuai saran R. Jack Skelenton, alurnya dilambatin dan pesta dansanya chapter 11.

INI APAAAAAAN *BAKAR LAPTOP* *MUTILASI(?)* Sumpah kepengen hint Dramionenya lebih banyak ini kenapa jadi kebanyakan Daphne Theoooo! -_- mana adegan mereka opening sama closing, lagi-_- maafkan saya, readers, otak saya juga lagi kacau gara-gara sekarang guru semakin menggila memberi peer yang banyaknya segunung-gunung =w= belum lagi udah menjelang akhir semester, ulangannya juga numpuk =3= setelah sekian lama tak update, nggak tau deh ini bisa memuaskan atau nggak. Atau malah ada yang udah lupa sama fic ini sama sekali? =w=

Review?