Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing. Chapter ini difokuskan kepada Draco/Hermione dan Theo/Daphne.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 8: Pesta Dansa


Berbagai macam mobil berjejer rapi di depan gedung tersebut setelah jalan yang dipenuhi salju tersebut dikeruk dari tiga jam yang lalu. Masih ada salju yang menghalangi, namun tidak begitu bermasalah.

Gedung tersebut sengaja disewa oleh Hogwarts Senior High School sendiri, dengan biaya yang tidak bisa dikatakan murah. Berbagai jenis peralatan dan tempat khusus pesta juga sudah dipersiapkan, serta beberapa dekorasi-dekorasi lainnya. Tak lupa, beberapa staff sekolah, dari Kepala Sekolah sampai security juga ikut dalam pesta natal yang diadakan satu tahun sekali itu.

Oh ya, serta para remaja yang masih labil—ups—juga ikut dalam perayaan pesta natal yang sudah dipersiapkan kurang lebih enam jam yang lalu.

Dibalik mantel musim dingin yang tebal, terdapat gaun yang indah dan jas yang bermerek. Tak ketinggalan, lapisan make-up di wajah gadis-gadis yang berstatus sebagai siswi Hogwarts Senior High School itu.

Hermione Jean Granger—atau Miss Granger di mata para staff—atau si-Granger-sialan di mata Pansy and the Gang—atau Hermione di mata teman-temannya—sedang berjalan linglung di aula besar yang dijadikan sebagai tempat pesta tersebut—dengan warna dekorasi utama berwarna merah dan hijau.

Hermione memakai dress dengan warna peach yang lembut dengan panjang lima centimeter di bawah lutut, senada dengan rambutnya yang digerai yang terletak di bagian pundak kanan dan kirinya. Memakai sepasang high heels yang baru dia pakai setelah melepas sepatu boots tadi, dia juga memasang cincin putih polos di jari manis lengan kanannya, yang dihadiahkan oleh Mrs. Granger saat natal tahun lalu. Ah—jika dilihat sekilas, seperti cincin pertunangan…

Sederhana. Hermione memang tidak suka memakai yang ribet-ribet. Make-upnya pun tipis, hanya bedak dan lipgloss berwarna merah muda cerah. Yah, walaupun dia rasa dia agak percuma juga datang ke sini, toh hanya Pesta Dansa Natal yang diadakan sekolah dan dia pun tak punya pasangan dansa.

Fix, Theo tidak bisa datang hari ini. Tapi entah kenapa, firasat Hermione berkata bahwa akan ada hal yang penting yang akan dia dapatkan hari ini, di sini…

"Hermione?"

Hermione menoleh, mendapati pemuda tampan yang tingginya hampir setara dengannya. Pemuda yang sedang memasang cengiran khasnya sambil membetulkan letak kacamata bulatnya yang miring.

"Kau—" Harry speechless dan geleng-geleng kepala, "—kau cantik sekali, Hermione," puji Harry.

"Trims—"

"Draco pasti tidak bisa mengalihkan pandangannya darimu barang sedetik saja." Harry terkekeh sambil memerhatikan wajah Hermione yang sudah merona merah.

"Harry! Kau bicara apa, sih?"

"Kau tahu jelas apa yang sudah bicarakan, Hermione Malfoy." Harry nyengir lebar sekali.

"Apa?" Kini Hermione benar-benar malu dan salah tingkah.

"Lupakan saja. Kau lihat Luna?"

"Err—aku tidak lihat dia daritadi."

"Ah, begitu. Oke! Nah, Draco, kau sudah lihat wajah cantik kekasihmu?" Harry berbicara pada seseorang yang di belakang Hermione. Seseorang yang tepat di belakang Hermione.

Hermione—dengan gelagapan—segera menoleh ke belakang.

Pemuda tampan dengan tinggi yang lebih tinggi darinya beberapa centimeter itu sedang menatap lurus-lurus ke arah Harry. "Dia—dia belum resmi menjadi kekasihku, Harry Potter."

"Wah, jadi kapan diresmikannya?"

"Doakan saja hari ini."

"Eh—apa yang kalian bicarakan?!" Hermione menatap Harry dan Draco bergantian. Hermione merasa dia ingin lantai marmer aula ini segera menelannya bulat-bulat sekarang juga.

"Ah, tidak ada." Harry mengibas-ngibaskan tangannya, seolah menganggap itu angin lalu. "Aku mau mencari Luna dulu. Blaise dan Ron sebentar lagi akan datang," tukas Harry, menatap Draco dengan tatapan kau-tahu-apa dan Hermione untuk yang terakhir kalinya sebelum dia pergi, sampai akhirnya dia benar-benar melangkahkan kakinya pergi dari situ.

Draco berdehem sebentar.

"Sebenarnya, aku tidak jadi menjadi pasangan pesta dansa Fleur hari ini, Hermione," kata Draco, melirik sekilas kepada Hermione yang berada di sebelahnya.

"O— oh, begitu," sahut Hermione, tidak tahu mesti berkata apa. "Uhm—memangnya kenapa?"

"Dia tidak mau hadir hari ini, katanya kakinya keseleo," jawab Draco, lalu kemudian dia menyadari bahwa jawaban Fleur itu agak aneh. Semacam déjà vu

"Tahun lalu juga dia mengatakan kakinya keseleo," ujar Hermione sebal. Bilang saja malas menghadiri Pesta Dansa Natal ini.

"Yah, mungkin memang kakinya keseleo."

"Terjadi dua tahun berturut-turut saat Pesta Dansa Natal sekolah dimulai? Benar-benar hebat." Hermione mendengus.

"Tidak tahu juga." Draco angkat bahu, lalu menoleh ke arah Hermione lagi. "Kaucantiksekalimalamini."

Hermione ikut-ikutan menoleh ke arah Draco dengan mengernyitkan dahi dan pandangan heran. "Pardon me?"

"Tidak jadi."

Suasana di dalam aula tersebut sudah mulai ramai. Beberapa pasangan malah sudah mulai bermesraan di pojok-pojok aula. Terlihat juga beberapa staff sekolah yang mengobrol dengan staff pengelola gedung ini. Hermione dan Draco sama-sama memperhatikan ada panggung yang lumayan besar di bagian paling depan aula, juga pohon natal yang berada di sudut-sudut ruangan.

Lalu ada speaker yang terletak di bagian kanan dan kiri panggung. Ada mike stand beserta mikenya sendiri di atas panggung. Tak lupa tulisan Merry Christmas di bagian belakang panggung—padahal perayaan natal dirayakan tujuh hari kemudian.

Saat perasaannya tenang seperti ini, Hermione jadi teringat pada Theo. Bagaimana keadaan sahabatnya sekarang? Baik-baik sajakah? Hermione jadi merasa tidak enak karena bukannya menjenguk Theo, malah bersenang-senang di sini.

Lain pula dengan Draco. Jika Hermione memikirkan Theo, maka Draco memikirkan Daphne. Kalau dia tidak salah dengar, Daphne Greengrass—kakak Astoria Greengrass—juga tidak hadir hari ini dengan alasan yang tidak begitu jelas. Yah, Draco hanya bisa mengharapkan keajaiban bahwa Daphne mengunjungi Theo di rumahnya dan mereka berdua bisa memperjelas hubungan mereka.

Semoga saja ….

Dan entah sejak kapan, pandangan Draco dan Hermione bersirobok, menyiratkan hal dan perasaan yang sama.

.


.

"Memilih berkencan saat yang lain merayakan perayaan natal bersama? Aah! Hal menarik, Dane. Aku sangat senang dengan kehadiranmu di sini!" Mr. Nott menatap Daphne yang sedang tersipu-sipu dengan pandangan kagum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Ah—bukan kencan, sir, maksudku—aku mau menjenguk Theo—emm—"

"Jangan malu-malu begitu! Ayo, masuk! Mau sampai kapan kau berdiri di depan pintu dengan mantel yang tipis seperti itu?" Mr. Nott menarik—atau menyeret— Daphne agar masuk ke dalam rumahnya yang hangat.

Sesampainya di dalam, Daphne merasakan nyaman. Tidak ada apa-apa lagi. Walaupun kemungkinan besar dia adalah satu-satunya siswi yang tidak ikut dalam pesta perayaan natal tersebut, Daphne tidak menyesal.

Kekuatan cinta memang memudarkan segalanya…

"Err—?" Seorang wanita berparas anggun yang seumuran dengan Mr. Nott berdiri canggung dari duduknya. Tersenyum grogi, dia segera menyikut-nyikut lengan suaminya.

"Dia siapa?" bisik Mrs. Nott. Walaupun berbisik, Daphne bisa mendengar suaranya.

"Oh dia!" Bukannya balas berbisik, Mr. Nott malah tergelak dengan kencang. Tawanya menggelegar. "Masa kau tidak tahu, Lin? Dia Dane Greengrass! Kekasih Theo!"

—biarkan Daphne untuk tidak memaki-maki Mr. Nott sekarang.

"Oh." Mrs. Nott yang Daphne tahu bernama depan Lin atau sejenisnya, segera maju dan menyalami Daphne dengan formal. "Linda Nott, kau bisa panggil aku Mrs. Nott. Senang bertemu dan berkenalan denganmu, Dane Greengrass." Mrs. Nott tersenyum.

"Err—Daphne Greengrass. Nice to meet you too, Mrs. Nott," ujar Daphne, ikut tersenyum.

"Daphne? Tadi kata Paul namamu Dane—"

"Uhm—Mr. Nott memang suka menyebut namaku sebagai Dane…"

Linda Nott mengangguk-angguk maklum, dan kemudian langsung menggedikkan dagu ke lantai dua, tepatnya—ke arah kamar Theo.

"Lepas saja mantelmu, Daphne. Rumah kami hangat." Pelan-pelan tapi pasti, Mrs. Nott melepaskan mantel yang melekat pada tubuh Daphne sedari tadi. Ya, rumah keluarga Nott ini memang hangat, apalagi dengan perapian besar di ruang utama ini.

"Trims."

"Anytime. Paul, tidak keberatan kalau Daphne ke kamar Theo untuk membiarkan mereka bermesraan, kan?" Tiba-tiba saja Mrs. Nott nyengir jahil. Daphne bergidik. Astaga.

"Aku tentu tidak keberatan, Lin. HAHAHAHA."

Daphne berasumsi kalau Mrs. Nott ini seorang psycho penjodohan anak. Entahlah. Tunggu—memangnya ada penyakit seperti itu?

"Uh, oke." Mrs. Nott mendelik sebentar ke arah Mr. Nott, dan tersenyum ke arah Daphne lagi. "Setelah sesi bermesraan dengan Theo—" Mrs. Nott melirik ke arah jam sebentar. Sekarang pukul lima lewat sembilan belas menit. "—kau bersedia untuk aku tanya-tanyai sebentar?"

"Err, oke," sahut Daphne, sedikit grogi. Oh, daritadi dia memang sudah grogi. "Jadi—boleh aku ke atas sekarang?"

Pasangan itu malah tertawa-tawa.

"Tidak sabar, eh? Silakan!" Paul segera menunjuk ke arah kamar Theo dengan semangat. Daphne mengangguk kepada pasangan Nott tersebut sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke arah tangga. "Permisi."

Sepertinya setelah Daphne naik ke tangga, pasangan Nott tersebut mulai berbisik-bisik.

"—lihat, tingkah lakunya sopan. Aku rasa dia cocok untuk menjadi istri generasi Nott selanjutnya—"

"—wajahnya cantik, pula. Perpaduan sempurna antara anak kita yang tampan dengan dia yang cantik. Jika mereka mempunyai anak, maka benar-benar sempurna—"

"—tapi, Paul, aku baru tahu Theo mempunyai kekasih, aku terkejut juga ketika mengetahui dia adalah pasangan anak kita—"

"—kau itu tidak pernah memerhatikan anakmu, sih—"

.


.

Aula yang menjadi perayaan pesta natal tersebut semakin ramai seiring dengan orang-orang yang berdatangan. Rencananya, pada pukul enam pesta natal tersebut dimulai.

Harry dan Luna tentu saja sudah mulai berbincang-bincang di aula ruangan tersebut. Blaise dan Ron juga sudah datang, bedanya mereka mengobrol berdua, bukan bersama pasangannya sendiri.

Sementara Draco dan Hermione, daritadi sampai sekarang tidak merubah posisi berdiri mereka sama sekali sejak perbincangan lewat mata mereka mengenai Theo dan Daphne.

Dan mereka (masih) berdiri dalam diam.

Beralih dari Draco dan Hermione, ada juga Cho Chang dan Cedric Diggory yang sedang berdebat, lalu tak jauh dari situ, ada juga Ginny Weasley dan Roger Davies yang bertengkar. Entah saran dari siapa, tiba-tiba saja keempat orang tersebut sudah berkumpul dan bertengkar dengan seru.

"Aku mengetahuinya dari Pansy!" seru Ginny, menarik perhatian orang-orang di aula. "Kalian memang tidak tahu diri! Sudah punya kekasih, tapi masih mau teman kencan yang lain!"

"Bukan begitu, Ginny, tadinya kau dan dia memang sedang berjalan sendiri-sendiri di mall itu, dan tidak sengaja bertemu," sergah Davies.

"Bohong sekali, kalian berciuman, kok," ujar Cedric, menatap marah pada Cho Chang yang sedang menunduk menatap lantai marmer aula tersebut.

"Cedric, aku—"

"Kau—" Ginny menunjuk Roger Davies tepat di hidungnya, "—cowok brengsek!"

Ginny menangis terisak-isak.

"Lagipula, ya—" Roger kini gantian menunjuk Ginny yang mengelap air matanya memakai punggung telapak tangan, "—aku juga tahu dari si Parkinson itu kalau kau sukanya sama Potter, bukan denganku. Jadi sekarang, kita apa bedanya?"

"Apa?"

"Dengar ya, kau menjadikan aku pelarian, 'kan?"

"Pansy memberitahukannya padamu?"

"Menurutmu, siapa yang memberitahukan rahasia terdalammu padaku?"

"Pansy bukan orang yang seperti itu!" Ginny menatap marah pada Pansy yang sekarang berdiri di belakang Cedric Diggory.

"Dan Cho—" Kini Cedric melanjutkan permasalahannya yang belum selesai dengan Cho Chang yang menangis dalam diam, "—kalau kau memang bosan denganku, lebih baik kau bilang daripada harus menjadi seperti ini. Kita … akhiri saja." Selesai.

"Ced—Cedric, bukan seperti itu! Aku— aku hanya merasa kesal! Selama ini kau terus-terusan bersikap cuek padaku! Aku juga butuh orang yang bisa memperhatikan aku! Aku masih mencintaimu!"

"Diam."

Tes. Air mata jatuh dari mata ke hati.

"Pansy!" Kini sepertinya perhatian teralih lagi ke Ginny dan Davies. "Kau tidak memberitahukannya pada Roger, kan?"

Pansy menyeringai.

"Sayangnya, ia benar."

Ginny menatap Pansy tak percaya.

"Kau jahat! Kau kan sahabatku!"

Pansy malah terkekeh, membuatnya terlihat seperti pemeran-pemeran sinetron antagonis yang siap membongkar rahasia musuhnya. "Kalian semua bukan sahabatku. Yang sahabatku adalah diriku sendiri. Kalian semua pengikutku."

"Dasar gila," desis seorang siswa, diikuti angguk-anggukan yang lainnya.

"Nah, sekarang terbukti kan, siapa yang menikungku duluan?" ujar Roger, menatap Ginny dengan tatapan menantang.

"Ma—maafkan aku…"

"Hey, tadi namaku disebut-sebut, ya?" Harry datang tiba-tiba, diikuti Luna di sampingnya. Hati Ginny mencelos.

"Bukan urusanmu, Potter," sahut Roger sinis.

"Aku hanya bertanya, brengsek."

"Bisa meminta perhatian kalian sekarang?" suara si Kepala Sekolah, Albus Dumbledore, terdengar jelas dari mike yang dia pegang. Memakai jas resmi dan kacamata bulan-separuhnya (walaupun sekarang terlihat aneh sekali dia memakai itu), Professor Dumbledore menatap satu persatu anak yang berada di aula itu. Seketika itu juga, aula menjadi sunyi senyap.

"Nah, selamat sore, anak-anakku sekalian. Sekarang sudah pukul enam sore tepat, dan seperti pada pengumuman berminggu-minggu yang lalu, pesta perayaan natal akan dilaksanakan sekarang juga. Namun sebelumnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dulu. Pertama, jangan ada satupun yang membuat keributan di sini."

Tatapan Professor Dumbledore terpancang pada Cho, Cedric, Roger, Ginny, dan Harry.

"Kedua, tolong tetap jaga kebersihan selama kalian masih di sini. Ingat, ini adalah tempat umum dan tempat untuk bersama. Ketiga, saya persilakan untuk pasangan Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS untuk berdansa pertama kali, di depan panggung."

Kemudian, aula menjadi gelap karena lampunya dimatikan. Oh, tidak. Ada satu lampu sorot yang menyorot Draco dan Hermione yang sedang melongo karena merasa salah dengar.

Mereka tidak tahu ada acara dansa untuk pasangan Ketua dan Wakil Ketua OSIS.

"Majuuuu!"

"Woiii, dansaaaa! Nanti acaranya jadi tambah lama gara-gara kalian!"

"Cieeee yang tiga hari yang lalu ciuman pas jemput Hermione habis ekskul PDP ciee…"

"Oh, jadi gosip itu benar?"

"Iya! Malah Potter dan Lovegood juga lihat, bukan anak-anak ekskul PDP doang."

"Bagaimana cara mereka berciuman?!"

"Gosip terbaru! Akhirnya mereka benar-benar berkencan!"

"Huh, aku kira si Granger belum putus dari Krum. Ternyata mereka sudah putus, ya?"

"Aku malah kira Malfoy jadian dengan si Delacour."

"Mereka itu sepupuan, tahu!"

"Oh, ya?! Aku tidak tahu!"

—dan gosip-gosip pun bertebaran saat itu juga. Dengan ragu-ragu (atau yakin) Draco menggandeng Hermione menuju ke depan panggung. Orang-orang yang berada di dekat situ segera menyingkir agar tempat Draco dan Hermione lebih luas.

Musik mengalun. Lampu sorot benar-benar hanya menyorot mereka berdua saja. Draco sendiri tidak yakin mau mulai darimana—

"Draco, pegang pinggangku," bisik Hermione, lalu segera memegang bahu kanan Draco dengan lengan kirinya agak kaku. Jujur saja, Hermione tidak pandai berdansa.

"Err … o—okay?" Nadanya bukannya merujuk pada menyetujui, tapi lebih pada bertanya. Tapi Draco tetap meletakkan lengan kanannya pada pinggang Hermione. Lengan berdua yang masih kosong—tanpa dituntun—segera mengenggam lembut tangan partnernya masing-masing.

Hermione mulai mundur, dan Draco melangkah maju. Draco mundur, Hermione maju. Selangkah demi selangkah mereka lakukan, seolah mereka sedang berdua saja. Tanpa mereka tahu, dalam kegelapan yang ada, banyak pasang mata yang iri sekali dengan mereka.

Terutama Pansy Parkinson.

Lalu Draco dan Hermione menjauhkan sedikit tubuh mereka masing-masing, dan Hermione berputar dengan anggun sehingga dia kembali lagi dekat dengan Draco, tetapi jemari-jemarinya tidak terlepas dengan Draco. Jari-jari mereka masih bersama.

Hati mereka masih bersama.

Dan entah darimana asalnya, kemudian pasangan-pasangan yang lain juga mulai berdansa. Lampu sorot juga tidak selalu mengarah ke arah Draco dan Hermione, tetapi ke pasangan-pasangan yang lainnya juga.

Oh, lihat, bahkan Professor Dumbledore dan Professor McGonagall juga berdansa.

.


.

Tok, tok.

"Theo?"

"Siapa di luar?"

"Err— Daphne Greengrass."

Tidak ada jawaban. Tapi tak sampai tiga menit, pintu di hadapan Daphne sudah terbuka dan menampilkan Theo yang sedang dalam kondisi acak-acakkan.

Daphne hampir saja tertawa jika Theo tidak menatap tajam padanya.

"Jangan tertawa," cegahnya, sebelum Daphne benar-benar meledakkan tawa. "Kapan kau datang? Aku baru saja bangun tidur, makanya berantakan begini," lanjut Theo, sambil mengucek-ucek matanya dengan punggung telapak tangannya.

"Pfft—maaf mengganggumu." Daphne menatap Theo dari atas ke bawah. Berantakan, memang. Tapi sepertinya sudah sehat. "Kau sudah sehat, kan?"

"Lumayan, tapi kadang-kadang masih pusing. Hey, kau belum menjawabku. Kapan kau datang?"

"Err, baru tadi."

Kini Theo yang menatap Daphne dari atas ke bawah sampai dia teringat sesuatu. Theo melotot pada Daphne yang melongo karena terkejut.

"Apa?" tanya Daphne, tidak bisa menyembunyikan keheranannya karena tiba-tiba Theo melotot kepadanya dengan pandangan mengerikan.

"Kau—kau tidak ke pesta dansa?"

"Oh," sahut Daphne ceria. "Aku malas datang ke sana. Tidak ada pasangan pesta dansa, sebenarnya. Haha, menyedihkan, ya?" Daphne tertawa hambar, menutupi kecanggungannya sejak tadi.

Theo jadi merasa tidak enak karena menolak ajakan pesta dansa Daphne tempo hari.

"Maaf…" gumamnya pelan. Tapi dapat didengar Daphne.

"Tidak apa. Lagian jika kau jadi pasanganku, hari ini kau juga tidak bisa datang."

Hening sebentar sampai Theo berdehem.

"Daphne?"

"Hmm?"

"Mau sampai kapan kita mengobrol di tengah-tengah pintu kamar seperti ini? Ayo masuk. Astaga, aku memang tidak sopan."

Daphne terkekeh.

"Memangnya tidak apa-apa kalau aku masuk?"

"Waktu kemarin-kemarin kan kau sudah masuk karena disuruh Dad."

Daphne tersenyum, lalu masuk setelah Theo membelakanginya.

Interior kamar khas pria, didominan biru dan hitam. Tidak bisa dibilang luas, tetapi nyaman karena letaknya rapi. Ada meja untuk meletakkan komputer di sebelah kiri kasur, juga ada lemari yang ukurannya sedang terletak di sebelah pintu yang sepertinya pintu untuk menuju kamar mandi. Di sebelah kanan kasur terdapat lampu meja. Ada juga rak buku yang terletak tepat di sebelah pintu masuk. Daphne memerhatikan sebentar. Buku-buku pelajaran sekolah.

"Aku bingung, kenapa ayahmu selalu menganggapku, err—"

"Kekasihku?"

"—yah, begitulah. Padahal aku tidak pernah mengkonfirmasi apa-apa. Dan sekarang, ibumu juga tahu bahwa aku, err—"

"Kekasihku?"

"—ya, jadi, bagaimana aku harus bersikap selanjutnya?" tanya Daphne dengan sedikit rasa kesal dan frustrasi. Kesal karena ayah dan ibu Theo yang beranggapan salah, frustrasi karena hubungannya dengan Theo juga flat. Tidak ada yang lebih di saat dia berharap sesuatu yang lebih.

"Ya sudah, biarkan saja." Theo lalu duduk di pinggir kasur, dan Daphne menyusul duduk di kursi yang terletak di depan meja komputer. "Lama-lama mereka akan mengerti," lanjut Theo.

"Bagaimana mereka akan mengerti kalau—argh, sudahlah."

"Kalau apa?"

"Tidak jadi."

Hening menyelimuti mereka. Daphne merasa senang karena Theo tidak mendiamkannya lagi, yah—walaupun hal itu juga sudah terjadi tiga hari lalu. Tapi, walaupun dia tidak menjadi yang lebih dengan Theo, dia merasa senang karena dia dekat dengan Theo.

Itu saja cukup untuknya.

Theopun sepertinya berpikiran sama. Menurutnya, status hubungan mereka dibiarkan mengalir saja pelan-pelan. Walaupun sangat pelan.

Theo berdehem lagi.

"Daphne?"

"Hmm?"

"Kau naik apa ke sini? Apakah kau tidak kedinginan?"

"Aku naik taxi. Tidak, mantelku sudah diletakkan di ruang tamu tadi." Daphne tersenyum kaku. Theo sudah bisa menanyai begini saja sudah beruntung.

"Hmm."

"Apa?"

"Tidak."

Hening lagi.

"Theo?"

"Ya?"

"Apakah kau tahu dengan siapa Hermione berdansa sekarang?" Daphne melirik jam dinding yang terletak di atas kasur. Pukul enam lewat lima belas menit. Seharusnya acara sudah dimulai.

"Aku juga tidak tahu, Daphne," sahut Theo setelah berpikir-pikir sebentar. "Mungkin dengan Draco."

"Draco Malfoy dengan Fleur Delacour, 'kan?"

"Siapa tahu si Delacour membuat alasan kaki keseleo lagi." Theo terkekeh, tanpa ia sadari bahwa baru saja apa yang dikatakannya seratus persen benar.

"Keren sekali." Daphne mendengus.

"Well?"

"Apa?"

Theo melirik dirinya sendiri yang memakai kaos putih polos dengan celana selutut, dan Daphne yang memakai kaos berwarna hijau dengan celana jeans panjang.

"Mau—"

Tarik napas. Buang.

"Ya?" Daphne menunggu dengan sabar.

"—berdansa?"

.


.

Lampu sorot sudah diarahkan ke arah panggung yang daritadi sudah ramai karena kehadiran band sekolah, yang bernama The Weird Brother. Ada Dean Thomas sebagai drummer, Neville Longbottom sebagai pianist, serta Seamus Finnigan sebagai guitarist sekaligus vocalist.

Aula yang tadi hening karena semua pasangan berdansa, kini benar-benar ramai karena band ini.

"Yeaaaaaaaaah we're ready! Rock man!"

Semua tertawa. Mereka mengalunkan musik yang sangat berisik, well, tetapi ini menjadi sangat menyenangkan karena kehadiran mereka. Saat di tengah musik, entah mereka semua mendapatkan usul darimana, tiba-tiba sudah ada yang mengangkat tubuh Professor Flitwick yang mungil diangkat-angkat di udara.

"BERSENANG-SENANG SEMUAAAAA!" seru Seamus dibalik mikenya, lalu melanjutkan nyanyian terakhirnya.

Dan mereka semua bertepuk tangan, bahkan masih ada yang mengangkat-angkat tubuh mungil Professor Flitwick.

Kemudian ada beberapa yang sudah sedikit pegal, segera melangkahkan kakinya menuju kursi terdekat dan meminum minuman yang tersedia. Oh, minuman yang tersedia adalah anggur.

Hermione, dengan senyum sumringah—entah senyum karena pertunjukan heboh tadi atau karena dia dansa dengan Draco—segera duduk di tempat terdekat dengan segelas anggur di tangannya.

Draco menyusul beberapa menit kemudian.

"Capek?"

"Sedikit, ya," sahut Hermione, lalu meneguk anggurnya sedikit.

"Hermione—" Draco menatap sepasang mata hazel Hermione sebentar sampai akhirnya dia merasa tidak sanggup untuk menatap lama-lama, dia melanjutkan, "—kau lebih suka keramaian atau yang lebih privasi?"

Hermione tidak mengerti.

"Maksudnya?"

"Maksudnya, kau lebih suka keramaian atau yang lebih privasi?" Draco mengulang pertanyaannya.

"Err—yeah, sebenarnya aku tidak begitu mengerti apa maksud dari pertanyaanmu, tapi aku lebih memilih yang lebih privasi. Ehm, memangnya kenapa?"

Hermione mendapat bahwa Draco sedang menatap cincin putih polos di jari manis lengan kanannya.

"Kau lebih suka yang lebih privasi, huh?" Draco meneguk anggurnya sedikit.

"Y— ya," sahut Hermione, kini ikut-ikutan menatap cincin putih polos tak bersalah hadiah natalnya tahun lalu.

"Oke. Bisa ikut denganku?"

"Ke mana?"

Draco tidak menjawab, dia meletakkan gelas yang sudah kosong di meja sebelahnya, lalu menarik tangan Hermione yang sedang tidak memegang gelas.

"Draco?"

"Letakkan saja dulu gelasnya."

"Uhm—oke."

Hermione hanya bisa pasrah ketika Draco menariknya keluar dari aula gedung tersebut, dan mereka menuju ke ruangan lain.

Ruangannya tidak luas. Bisa dikatakan kecil. Tapi ada banyak hal yang menarik perhatian Hermione. Sepasang kursi berwarna hitam elegant yang terletak berhadap-hadapan, yang dipisahkan oleh sebuah meja bertaplak meja pink tua dengan lilin beraroma mawar di tengahnya.

Dan tiba-tiba saja lampu di ruangan tersebut mati. Menyisakan cahaya dari lilin beraroma mawar di tengah meja yang memisahkan kedua kursi tersebut.

"Draco?"

Draco memilih untuk tidak menjawab lagi, dan segera menarik kursi satunya untuk Hermione duduk. Setelah Hermione duduk, baru dia sendiri menarik kursi dan duduk di atasnya.

Hermione baru sadar, selain lilin beraroma mawar di atas meja tersebut, ada juga dua hidangan yang sama-sama berisi beef steak, lengkap dengan pisau dan garpunya. Ada juga dua gelas minuman air putih.

"Draco? Ini kau yang buat?"

Draco hanya tersenyum misterius dan segera mengambil pisau dan garpu.

"Makan dulu."

Singkat, jelas, dan padat. Hermione hanya mengikuti maunya Draco dan ikut mengambil pisau dan garpu walaupun dia tidak begitu lapar.

.


.

"Apa?"

Tubuh Daphne sontak bergetar. Tentu saja dia kaget dengan ajakan Theo yang tiba-tiba. Tapi Theo sudah berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Daphne, lalu membungkuk. Layaknya seorang pangeran yang mengajak seorang putri untuk berdansa.

"Eh?"

Dengan masih pemikiran yang kacau dan bingung, Daphne menerima uluran tangan Theo.

Dan mereka berdansa di antara meja komputer dan lemari, dengan rak buku dan kasur sebagai hiasan. Dengan baju kaos dan celana yang melekat di tubuh masing-masing. Tidak ada musik.

Daphne memaju-mundurkan kakinya dengan teratur, begitu juga dengan Theo. Sampai—

"Aww!" Daphne mengeluh dan menoleh ke belakang. Theo tertawa.

"Makanya hati-hati."

"Aku tidak tahu terjeduk lemari ternyata bisa sesakit ini," ujar Daphne, dan dia meringis. Lalu Daphne dan Theo kembali melanjutkan dansanya, dengan harmoni hati sebagai musik pendamping.

"Theo?"

"Hmm?"

Mereka kini tidak memaju-mundurkan kaki lagi, tetapi mereka berdua hanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan lambat, jari-jari mereka bertautan satu sama lain, dan kepala Daphne menyender di bahu Theo.

"Kenapa tidak bernyanyi saja?"

"Aku tidak bisa bernyanyi."

"Sama."

Mereka tertawa bersama-sama. Ada rasa kehangatan di dalam hati mereka masing-masing. Rasa kehangatan dan keindahan yang tidak bisa dilihat dengan mata yang telanjang. Kehangatan dan keindahan yang dirasakan di masing-masing hati dan jiwa.

"Daphne?"

"Ya?"

"Apakah kau boleh berkunjung ke rumah laki-laki malam-malam begini? Bagaimana dengan orangtuamu?"

"Orangtuaku sedang bekerja di luar negeri. Astoria sedang menghadiri pesta dansa. Yah, sebenarnya aku sendiri juga sih kalau di rumah." Daphne lalu mendongak, tetapi tidak menghentikan langkah kaki ke kanan dan ke kiri yang teratur tersebut. "Kenapa? Kau mau mengusirku pulang, ya?"

"He—hey! Bukan begitu maksudku!"

Daphne tertawa.

"Sekarang sudah pukul tujuh," gumam Theo, setelah tadi menoleh ke belakang sebentar untuk melihat jam dindingnya. "Bagaimana nanti kalau kau pulang? Naik apa? Aku ragu ada taxi malam-malam begini, apalagi di cuaca bersalju seperti sekarang."

Walaupun cuaca sedang bersalju, hati mereka berdua hangat.

"Nanti aku minta Astoria agar meminta sopir untuk menjemputku ke sini."

"Anak orang kaya."

"Hey! Bukan begitu!"

Mereka tertawa lagi. Padahal—sungguh—tidak ada yang bisa ditertawakan.

"Theo?"

"Hmm?"

"Bagaimana hubunganmu dengan Padma Patil sekarang?"

Sunyi.

"Biasa saja," sahut Theo, dengan nada datar. "Kenapa tanya-tanya begitu?"

"Tidak apa-apa." Daphne jadi merasa tidak enak. "Lupakan saja. Mulutku memang kadang suka ceplas-ceplos. Kau sudah mandi?"

Nah, malah pertanyaan aneh.

"Pertanyaanmu membuatku bingung, Daphne."

"Err—abaikan saja, kalau begitu."

Mereka masih menggerakkan kakinya ke kanan dan ke kiri, seolah tak mengenal lelah. Seolah mereka diberi energi tambahan ketika bersama orang yang disayangi. Seolah—banyak seolah yang lainnya.

"Daphne, kau menginjak kakiku."

"Eh?" Daphne menoleh ke bawah dan segera menggeser kakinya. "Maaf. Aku memang tidak pandai berdansa, sebenarnya."

"Same with me, then."

Daphne bersandar lagi di bahu Theo.

"Tidak apa-apa, kan?"

"Tidak apa-apa apanya?"

"Aku bersandar begini?"

"Tidak apa-apa."

Tak ada kata-kata lagi yang terucap setelah itu. Hanya hening mendominasi, diikuti dansa yang melangkah ke kiri dan ke kanan. Tidak ada kata sayang dan cinta.

Tetapi mereka berdua tahu masing-masing mempunyai rasa itu.

.


.

Draco dan Hermione sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing, dan mengelap mulut mereka dengan serbet yang tersedia di meja.

"Jadi?"

Hermione memerhatikan Draco yang mulai berdiri dari kursi, lalu mendorong kursi tersebut agar masuk lebih dalam ke arah meja.

"Dansa?"

"Lagi?"

"Tidak mau juga tidak apa-apa." Draco mengambil posisi untuk menarik kursi lagi, tapi Hermione buru-buru mencengkram lengan Draco.

"Mau."

Hermione tersenyum tipis, dan menggenggam lengan Draco untuk menuntunnya ke daerah kosong ruangan itu.

Jari-jari mereka bertautan, dengan kepala Hermione bersandar di pundak Draco, lalu menggerakkan kakinya ke arah kiri dan kanan.

Mirip Theo dan Daphne.

Bedanya, ruangan Draco dan Hermione romantis, sementara ruangan Theo dan Daphne hanyalah sebuah kamar tanpa hiasan apa-apa.

"Hermione," bisik Draco tepat di telinga Hermione, membuat wajah Hermione merona merah, tetapi Draco tidak melihat perubahan warna wajahnya. Apalagi, ruangan mereka lebih didominasi gelap.

"Apa?"

"Kau tahu tidak? Menurutku, cincinmu ini—" Draco mengelus cincin yang berada di jari manis lengan kanan Hermione, "—perlu diganti," lanjutnya.

"Kenapa?" tanya Hermione keheranan.

"Aku ganti, ya?"

"Ganti dengan apa? Ini cincin hadiah dari Mum untuk natal tahun lalu." Kini Hermione mendongak, menatap Draco dengan penasaran.

"Ah." Draco melepaskan tautan tangan mereka—walaupun Hermione merasa kecewa, tapi dia tidak bilang apa-apa—dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

Draco mendekatkan diri ke arah lilin beraroma mawar, dan Hermione mengikutinya.

"With this?" Draco mengeluarkan kotak kecil berbahan beludru berwarna merah.

"Tunggu, itu apa?"

Hermione merasa bodoh karena menanyakan hal seperti itu. Tentu saja dia tahu itu apa. Tetapi dia lebih penasaran dengan motif Draco menunjukannya padanya.

Dibukanya kotak tersebut dengan Draco, dan terdapat dua cincin berwarna putih, hampir mirip seperti punya Hermione, bedanya, ada huruf DH di tengah-tengah cincin tersebut.

"A—apa?"

"Aku rasa, aku tidak perlu berkata-kata lagi," ujar Draco, tersenyum. "Hal-hal yang setiap hari kita lakukan bersama sepertinya sudah cukup untuk mengatakan apa maksudku menunjukkanmu cincin ini."

"A—apa?"

Hermione jadi seperti orang bodoh dan dungu, walaupun sebenarnya dia sudah tahu maksud Draco, tapi lagi-lagi kata tersebut spontan muncul dari bibir mungilnya.

"Aku mencintaimu."

Deg.

"Jadi, bolehkah aku menggantikan cincin yang terletak di jari manismu itu dengan ini?"

Hermione speechless dan melongo. Mulutnya menganga.

"Nah." Tanpa menunggu jawaban Hermione, Draco segera melepaskan cincin putih polos yang berada di jari manis lengan kanan Hermione, dan meletakkannya di kotak beludru merah tersebut, dan menggantikannya dengan cincin berukir inisial DH di jari manis Hermione.

Cantik. Apalagi, ukurannya pas.

"Ini sebagai tanda 'kau milikku'."

"…"

"Bagaimana menurutmu?"

"…"

"Lihat, aku juga memasangnya di jari manisku." Draco memasangkan cincin berinisial DH yang satunya lagi dan memasangnya di jari manisnya.

"Hermione?"

"…"

"Hermione Granger!"

"Eh?"

Hermione sepertinya sadar dari transnya lalu segera menatap sepasang mata kelabu Draco yang daritadi menatapnya dengan penuh pertanyaan.

"Terima kasih…" bisiknya pelan. Namun, ruangan yang sepi itu cukup membuat Draco mendengar semua yang dikatakan Hermione. "Aku mencintaimu … selalu."

"Forever?"

"… and always."

Sepertinya masih ada yang belum lengkap.

Draco menatap Hermione dengan penuh arti, sampai akhirnya Hermione mengerti. Draco mengenggam tangan Hermione dan mendekapnya di dada, lalu melepaskannya, dan memeluk Hermione.

Draco menundukkan kepalanya, memejamkan sepasang matanya. Hermione mendongakan wajah, memejamkan sepasang matanya.

Bibir itu bertemu ….

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Halo. Selamat datang kembali di chapter 11. Pesta dansa.

Bulu Idung: hehe, makasih, ya! X) iya, udah berusaha untuk update cepet tapi sepertinya masih susyah. Ini udah dipanjangin, ada 4k++ words tanpa A/N & disclaimer ini udah update! :D

Fressia Athena: hehe, thanks ya X) ini udah update! :D

Ms. Loony Lovegood: kurang greget? Maaf deh , mungkin lagi gak feel saat buat yang itu. Hehe, makasih, ya. Ini udah update! :D

Edogawa. Rui: hehe, makasih, ya! ini focusnya ke Draco & Hermione + Theo & Daphne, kok! jadi adegan mereka seimbang hehe XD tapi nggak tau deh banyakan siapa /plak. Ini udah update! :D

BlueDiamond13: thanks, blue! XD ini udah update! :D

Guest, lohahaa & dindaa: thanks, ya! ini udah update! :D

Ladyusa: hehe, iya nggapapa. Nih, di chap ini, sudah ada #kode /plak. Hehe, muup yaaa, tapi entar hargin dikasih hint sedikit kok walaupun kebanyakan harlun ini udah update! :D

Ochan malfoy: hihi, iya pada demen ngintip, ntar kasih jadi bintitan ah (?) ;p hihihi. Makasih, ya! amin XD

Anyaaa: hihi, di sini draconya ga lempeng kok XD ini udah dipanjangin, ada 4k++ words tanpa A/N & disclaimer ini udah update! :D

OKE. Jadi bagaimana pemirsah? /plaked. Udah berusaha bikin sepanjang mungkin, tapi sepertinya kemampuan saya hanya di 4k++ -_- maaf juga kalau adegannya kurang romantthhhissss. Ini dibuatnya hari ini juga, lho.

Chapter ini adalah awal konflik baru, readers. Sudah mendapat #kode apa itu konflik barunya?~

Oke, review akan membuat saya tambah semangat untuk melanjutkan fic ini.

[Edited: 03.29.2014: Lirik lagu Hippogriff - The Weird Sisters saya hapus yang nyempil di tengah fic. Songfic dilarang di FFn, jadi maaf atas ketidaknyamanan kalian semua]

Review? :D