Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.
Enjoy!
.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19
.
Chapter 9: Pasangan Baru
Dua puluh empat Desember.
Hermione Granger melirik arloji yang berada di lengan kirinya. Pukul delapan lewat tiga puluh. Ah, masih ada banyak waktu yang akan dikerjakan sebelum Natal.
Kini dia berkumpul di salah satu kediaman keluarga Granger yang lainnya, karena pada perayaan Natal tahun ini—juga tahun-tahun sebelumnya—berkumpul di salah satu kediaman keluarga Granger lalu merayakannya bersama-sama.
Hermione memang menyukai menjadi pusat perhatian, tetapi dia tidak suka keramaian—apalagi jika bukan dia yang sebagai pusat perhatian. Kini semua mata tertuju pada Maurice Granger, sepupu Hermione yang cantik jelita dengan sepasang bola mata berwarna keabu-abuan—mengingatkan Hermione sedikit kepada Draco—serta rambut ikal coklatnya yang lembut—bukan rambut ikal mengembang seperti Hermione.
Maurice Granger adalah sepupu Hermione yang berulang tahun pada dua puluh lima Desember nanti, yang artinya, akan bersamaan dengan hari Natal. Maurice sedikit jutek dan galak, tetapi dia baik kepada orang-orang yang juga baik kepadanya. Dia sangat tidak menyukai orang yang angkuh dan menyebalkan. Oh, sebut saja Pansy Parkinson.
Ngomong-ngomong soal Pansy, Hermione jadi berpikir apa reaksi Pansy Parkinson ketika mengetahui bahwa dia dan Draco Malfoy sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Yeah, belum ada yang tahu kabar tersebut selain Hermione dan Draco sendiri. Kata Draco, dia ingin mengadakan surprise saat nanti masuk sekolah. Yah— sebagai kekasih yang baik, Hermione menuruti keinginan Draco.
Lalu soal hubungan Theo dan Daphne, Hermione tidak mengetahui lebih jauh. Dia hanya tahu bahwa mereka semakin dekat, tetapi status hubungan mereka masih belum jelas. Hermione hanya berharap bahwa Theo bisa berjodoh dengan Daphne.
Lalu dengan Ginny Weasley. Hermione tidak mengerti dengan remaja yang satu itu. Ginny itu orangnya baik, jujur saja—jika saja adik kelasnya itu tidak bergabung dengan Pansy and The Gang yang kurang kerjaan itu. Dulu sebelum Ginny masuk Hogwarts, Hermione dan teman-temannya yang lain sering mengunjungi keluarga Weasley, dan Ginny termasuk salah satu anggota keluarga kesukaan Hermione. Entah kenapa sejak Ginny masuk Pansy and The Gang, kelakuannya berubah drastis, menjadi centil dan menyebalkan.
Setelah peristiwa Pesta Dansa Natal kurang lebih satu minggu yang lalu, Ginny jadi sering berkumpul bersama Hermione, Draco, Harry, Ron, Blaise, dan Theo saat mereka mengunjungi rumah keluarga Weasley. Ginny memang menjadi ramah seperti dulu dan tidak menyebalkan, tapi, bukannya Hermione menganggap Ginny sebagai pengganggu, hanya saja, Ginny yang terus menerus melirik ke arah Harry Potter membuat Hermione cemas dengan hubungan Harry dan Luna selanjutnya.
Dan di Christmas Eve ini, Hermione mempunyai satu harapan: semoga hubungan dia dan keluarganya, hubungan dia dengan Draco, serta hubungannya dengan teman-temannya baik-baik saja.
Ya.
Hermione hanya bisa berharap.
"Hermione!" seru Mrs. Granger kepada Hermione. Hermione menghentikan lamunannya dan segera menoleh ke arah ibunya.
"Ada apa?"
"Ayo, bantu Mum untuk menghias dekorasi kue untuk Maurice!"
Hah—Maurice lagi.
Hermione menghela napas dan akhirnya—dengan terpaksa—dia bangkit dari tempat duduknya.
.
.
Dingin.
Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Draco sekarang. Di mana-mana dingin. Entah karena musim dingin yang semakin lama semakin memuncak—atau situasi di rumahnya.
Dingin. Keluarganya tidak ada yang bersifat hangat untuk menyambut Natal. Dan Draco tahu, seharusnya dia tidak boleh—dan tidak bisa—untuk berharap lebih kepada keluarganya yang sibuk terus menerus. Lucius Malfoy dan Narcissa Malfoy sama-sama pengusaha, dan mereka berdua tidak ada yang mau meluangkan waktu bersama anak tunggal mereka, Draco Malfoy.
Dan sekarang, Draco kesepian.
Dia ingin sekali untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan Hermione sekarang, tetapi saat dihubungi, Hermione tidak merespon sama sekali. Seharusnya Draco tahu bahwa sekarang Hermione sedang sibuk dengan keluarga besarnya. Terkadang Draco ingin sekali mempunyai keluarga besar dan berkumpul bersama-sama saat Natal.
Bukannya sendirian seperti ini.
Dipandanginya handphone yang berlatarkan foto Hermione tersebut.
Cantiknya.
Andai saja dia mengungkapkan perasaannya lebih lama—lebih cepat daripada Viktor Krum. Seandainya saja dia sudah bersama dengan Hermione sejak dulu, mungkin perasaannya tidak begitu tersiksa. Gangguan dari Pansy and the Gang memang sangat menyebalkan.
Apalagi Pansy Parkinson dan Astoria Greengrass yang mengejar-ngejarnya dari dulu—sampai sekarang.
Draco menghela napas, lalu memandangi foto Hermione lagi.
"I miss you…"
.
.
Sembilan Januari.
Sembilan Januari—waktu di mana para siswa dan siswi Hogwarts Senior High School mengenyam pendidikan lagi. Di mana konflik baru akan dimulai. Ya, konflik baru akan dimulai.
Jalan yang baru saja diambil oleh Ginny Weasley untuk memisahkan diri dari Pansy and The Gang membuatnya dalam masalah—walaupun bukan masalah besar. Tetapi masalah yang membuat dia dan teman-temannya yang lain akan merasa terganggu.
Kurang lebih, begitulah target dari sang ketua, Pansy Parkinson yang kini menyeringai penuh kemenangan ke arah Ginny yang sedang berkumpul bersama Harry Potter dan teman-temannya.
"Daphne," panggil Pansy ke arah Daphne yang kini sedang mencuri-curi pandang ke arah Theo. "Aku rasa hubunganmu dengan Theo akan semakin baik."
Daphne memalingkan pandangan dari acara menatap Theodore Nott dan mendelik tidak senang ke arah gadis yang memanggilnya tadi.
"Bukan urusanmu," sahutnya ketus.
Pansy mendengus, lalu mulai membuka pembicaraan kepada si bungsu Greengrass. "Astoria, dengar tidak gosip tentang Drakey yang berpacaran dengan Granger-sialan itu?"
"Dengar."
"Oh, great. Itu sungguhan atau hanya gosip?"
"Sungguhan."
Pansy Parkinson hampir tersedak dari jusnya jika dia tidak mengingat kalau dia si Pansy Parkinson yang harus menjaga attitude di tempat umum. "Begitu, ya?"
"Ya."
Kedua Greengrass amat sangat menyebalkan hari ini.
Pansy Parkinson memilih untuk menatap kesepuluh jari tangannya yang dihias—menurutnya—dengan cantik dan menarik. Seandainya saja dia tidak lebih lambat dari si Granger yang kegenitan. Seandainya saja dia bisa memutar waktu. Yah, seandainya saja. Dan kini, dia sibuk berpikir bagaimana cara memberikan pelajaran kepada Ginny Weasley yang seenaknya saja meninggalkan gengnya begitu saja.
—karena semua pengkhianat patut diberi pelajaran. Bukankah begitu?
Lagi-lagi terpampang seringai licik di wajah yang mirip anjing pug milik Pansy Parkinson. Meminta perhatian kepada kedua Greengrass di hadapannya, mereka bertiga kemudian berdiskusi.
.
.
"Ah … ada pasangan yang sedang merajut tali kasih di sana," ujar Blaise usil, menatap Draco dan Hermione bergantian. Hermione hanya tersipu malu-malu sementara Draco siap melempari Blaise dengan apa aja.
"Jangan urusi aku, Zabini. Bagaimana kau dengan Spinnet?"
"Biasa saja. Aku lebih tertarik dengan Katie Bell sekarang."
"Dasar, playboy yang tidak laku."
"Apa maksudmu?"
"Yeah, seharusnya kau tahu apa maksudku."
"Sialan. Dasar ferret."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Seharusnya kau tahu apa maksudku."
"Tukang kopi kata-kata orang!"
"Hush. Kalian berisik sekali!" seru Theo menatap Draco dan Blaise dengan tatapan tidak suka. Tak dipungkiri, mereka berdua langsung berhenti bercekcok dan menatap Theo dengan tatapan sedikit heran. Tidak, tidak. Theo itu pemuda yang pendiam dan jarang sekali komen soal hal ini itu. Yang biasanya paling bawel sih Ron … atau Blaise sendiri.
Nah, kini mari kita lihat ke arah Harry Potter yang bungkam, tidak bersuara daritadi. Kacamata bulatnya terus turun dari bagian hidungnya dan dinaikkan lagi olehnya. Oh, mungkin itu kegiatan rutin yang dilakukan Harry sekarang selain bernafas dan berkedip.
"Apa yang kaulakukan, Harry?" tanya Ron sembari menyedot jus jeruk dari gelasnya. Sekali-kali sepasang mata birunya mengawasi sang adik yang duduk berdampingan dengan Harry.
"Kenapa kau memelototi aku terus, Ron?" tanya Ginny merasa risih. Ya, Ginny Weasley yang duduk di sebelah Harry Potter.
"Aku tidak memelototimu, adik kecil—" sahut Ron dengan nada yang ditekankan dalam nada adik kecil, "—aku hanya mengawasimu."
"Tatapanmu bukan seperti mengawasi."
"Itu adalah hakku dan bukan urusanmu."
"Gez. Banyak sekali orang yang ribut hari ini," keluh Theo kesal menatap kedua bersaudara Weasley. Yang disindir diam saja, tetapi sambil menatap sengit satu sama lain.
"Kau sensitif sekali hari ini," timpal Hermione, diikuti anggukan teman-teman yang lainnya.
"Mungkin sedang PMS," celetuk Blaise tanpa dosa. Segera saja Theo melayangkan jitakannya kepada kepala Blaise.
Theo hanya memutar kedua bola matanya. Entahlah, mungkin efek musim dingin yang dia tidak sukai atau karena dia tidak bisa berdekatan lagi dengan Daphne Greengrass, mengingat gadis berambut hitam dan berwajah anjing pug menyebalkan itu selalu berada dekat-dekat dengan Daphnenya.
—nya. Walaupun belum resmi, tapi Theo sudah yakin Daphne akan benar-benar menjadi miliknya.
"Aku hanya ingin lihat," kata Ron tiba-tiba, membuat semua kepala teman-temannya menoleh kepadanya. "Berapa lama hubungan Draco dan Hermione akan bertahan."
"Hmm, mungkin akan lama," sahut Blaise. Draco dan Hermione hanya senyum-senyum sendiri. "Dan kalau aku boleh bertanya, bagaimana hubunganmu dengan Lavender, Ron?"
"Sudah kandas."
"APA?!"
Siiing.
Hening.
"Saat Natal kemarin memang sudah putus," lanjut Ron dengan nada datar dan mimik mukanya yang biasa, tidak seperti orang yang kehilangan kekasih.
"Siapa yang memutuskan?"
"Aku."
Hening lagi sampai akhirnya terdengar celetukan 'oh' dari salah satu di antara mereka. Entah siapa.
"Harry," panggil Ginny. Yang lain langsung pura-pura sibuk padahal mereka semua menguping. Blaise dan Ron pura-pura makan dengan lahap, Theo pura-pura melamun, dan Draco dan Hermione pura-pura berpacaran dengan mesra (walaupun untuk mereka berdua, hal ini memang benar).
"Apa?" sahut Harry acuh tak acuh. Merasa risih juga berdekatan dengan gadis lain selain Hermione dan Luna.
"Nanti saat istirahat mau membantu aku mengerjakan matematika?"
"Aku sibuk," jawab Harry cepat, lalu membuang muka. Demi apa pun, dia ingin cepat-cepat bel masuk sekolah daripada harus dikupingi oleh teman-temannya seperti itu.
Terdengar kikikkan tertahan—entah dari siapa. Harry mendengus tanpa disadarinya.
.
.
Saat berjalan berdua, mereka berdua adalah bahan olok-olokkan yang paling—istilahnya—enak untuk diledek. Pasangan baru. Pantas saja. Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS. Sahabat jadi cinta. Ah, betapa indahnya jika tidak ada para pengganggu di kehidupan asmara mereka.
Kini mereka berdua berpegangan tangan untuk memasuki kelas pertama—kelas kimia. Ya, kelas Professor Snape yang amat sangat galak dan menyebalkan.
"Sudah makan?" tanya Draco tiba-tiba. Hermione seperti tersadar dari transnya, lalu menoleh ke arah Draco dan tersenyum kikuk. "Su—sudah. Kau?"
Maklum. Baru jadi pasangan baru.
"Aku sudah," jawab Draco tersenyum maskulin, lalu merapatkan dirinya ke arah Hermione. "Tidak perlu malu-malu begitu, Hermione. Kau sudah resmi menjadi kekasihku sekarang," lanjutnya sambil mengusap-usap cincin berinisial DH yang berada di jari manis Hermione.
Blush.
"Aku hanya takut aku tidak pantas bagimu."
"Kau akan selalu pantas."
"Begitu?"
"Pasti. Aku meyakininya dari dulu. Bahkan ketika kau bersama Krum—"
"Jangan bahas yang itu."
"—oke."
Hening sejenak. Koridor-koridor yang mereka lewati kini seperti tersebar confetti dan cupid-cupid beterbangan di atas kepala mereka. Tak lupa lambang berbentuk hati di sekitar mereka. Benar-benar pasangan yang dilanda asmara. Tak heran jika ada siulan-siulan iseng saat mereka berdua lewat.
"Aku tidak habis pikir bagaimana anak-anak itu selalu suka ikut campur urusan orang," gerutu Draco kesal setelah meladeni anak-anak kelas satu yang menatap jahil ke arah dirinya dan Hermione.
"Jangan kasar begitu," tegur Hermione lembut.
"Mereka menyebalkan."
"Mereka sirik karena tidak mempunyai hubungan seperti kita. Apalagi pangeran mereka telah direbut olehku."
"Begitu, hm?" Tiba-tiba saja Draco sudah berpindah tempat dari sebelah Hermione menjadi di hadapan Hermione. Seringai jahil terpampang di wajah putih-pucatnya. Hermione bergidik sendiri.
"Y— ya. Apa yang mau kau lakukan?"
"Sedikit memberi pertunjukan pada mereka yang telah menganggap pangerannya sudah direbut oleh putrinya," bisik Draco dengan nada sensual di telinga Hermione.
Tanpa banyak omong lagi, Draco segera mengecup bibir Hermione sekilas dengan ditonton oleh—lumayan—banyak siswa dan siswi. Hermione langsung melotot dan meraba bibirnya merahnya. Wajahnya merona merah. Sepasang mata hazelnya menatap Draco tidak percaya, seolah mengatakan aku-tidak-mau-kau-melakukan-ini-di-depan-umum.
"Ciiieeee, romantiisssnyaaa!"
"Traktiran, dong!"
"Aduuuuh, pakai acara pamer kemesraan segala. Sini Draco mesra-mesraannya sama aku ajaaa!"
"Kapan ya, aku punya cowok kayak gitu?"
"Dudududuh…"
"Kira-kira mereka berbulan madu di mana, ya?"
"Sepertinya di Roma keren. Atau Brazil."
"Paris saja! Kota paling romantis!"
"Ah, sudah terlalu pasaran. Bagusan juga Hawaii. Coba bayangkan Draco dan Hermione pergi berduaan ke Hawaii dengan menggendong beberapa anak—"
"Ah! Iya! Kira-kira mereka akan punya berapa anak, ya? Satu? Dua?"
"Uhm. Mungkin dua! Kembar! Satu laki-laki dengan rambut seperti Malfoy dan sepasang mata Granger, satu lagi dengan rambut seperti Granger dengan sepasang mata Malfoy! Aaah, pasti lucu."
"Menarik!"
"Hei, aku tunggu undangan pernikahan kalian, lho!"
—dan ucapan-ucapan mereka semakin melantur, membuat kedua pipi putih Hermione kembali memerah dengan sendirinya. Malu—dan senang, rupanya.
Setelah mereka berdua sudah mulai menjauh dari kehebohan tersebut, Draco mendekatkan bibirnya ke telinga Hermione, membuat Hermione bergidik geli. "Menurutmu, Hermione, kira-kira kita akan berbulan madu ke mana?"
…
Wajah Hermione memerah lagi.
Ah, Hermione tidak bisa memungkiri bagaimana bahagianya dia sekarang. Sahabat-sahabatnya sudah berkumpul lagi, sehat, tidak ada yang sakit. Keluarganya, terutama ibu dan ayahnya—kini sudah kembali ke rumah dan membuat rumah Hermione kembali hangat dengan kehadiran mereka. Nilai-nilainya sesuai harapan. Sepertinya tidak ada beban. Yah, kecuali penghalang-penghalang kecil dan menyebalkan macam Pansy and The Gang. Tapi itu tidak ada pengaruh sama sekali untuk Hermione.
Hermione berpikir lagi. Kata orang-orang, hidup itu seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah. Tapi menurut Hermione sendiri, hidup ibarat timbangan yang harus balance—atau istilah lainnya, seimbang—agar kehidupan yang kita jalani tidak timpang sebelah. Di saat kau mempunyai kesenangan, berarti kau juga harus ada kesedihan. Hei, apa artinya hidup jika tidak ada resiko dan masalah? Setiap orang pasti mempunyai masalah.
Hermione hanya mempunyai feeling yang tidak enak dengan hidupnya yang saat ini benar-benar timpang sebelah ke arah kesenangan. Dia hanya khawatir suatu saat, bahwa satu sisi timbangan yang lain akan 'balas dendam' dan menghadiahkan suatu kenyataan yang tidak enak nanti untuk hidupnya.
Semoga saja—Hermione berharap, untuk kali ini saja—bahwa teori yang sedang dipikirkannya ini salah. Salah besar.
Semoga saja.
Semoga ….
.
.
Hermione hanyalah seorang anak gadis yang beruntung memiliki kedua orangtua yang rajin bekerja sehingga penghasilan mereka cukup banyak untuk anak tunggal sepertinya. Memiliki otak yang haus akan pengetahuan, dan mengasah otaknya sehingga membuatnya tampil cemerlang saat di kelas. Memiliki kepribadian yang unik dan menarik, inner beauty yang membuatnya cantik dengan caranya sendiri. Memiliki sahabat-sahabat yang ada untuknya baik suka maupun duka. Memiliki kekasih yang mengerti dirinya, menyukai apa adanya dia dan selalu ada untuknya.
Kini Hermione mengerti kebahagiaan. Bahagia itu sederhana, saat orang-orang yang dia sayangi selalu berada untuknya. Tak kurang apa pun. Lengkap.
"Hermione! Tebak Mum memasak apa untukmu!" seru Mrs. Granger dengan bahagia dari ruang dapur, lalu dengan hati-hati menuju ruang tengah, di mana terdapat Hermione dan suaminya.
"Aku tidak ditanya?" tanya Mr. Granger pura-pura merengut. Mrs. Granger hanya tersenyum jahil lalu menyeringai. "Tidak."
"Tch!"
"Tingkahmu kanak-kanak sekali, hei!"
Hermione hanya tersenyum geli lalu menatap piring yang dibawa oleh Mumnya. Ah, kesukaannya. Cupcake dengan melted chocolate.
"Jangan ditatapi saja, Hermione! Ayo dong, disantap!" seru Mrs. Granger gembira dan tersenyum lebar. Hermione tersenyum dan mulai mengambil cupcake dengan tangan kanan, lalu sedikit membuka telapak tangan di tangan kiri, untuk mengantisipasi remah-remah atau cokelat yang jatuh dari tempatnya.
Ah, dia menyukai kehangatan keluarga seperti ini.
.
.
"Kau suka ini?" tanya Draco sambil memberikan beberapa brosur kepada Hermione tentang tempat-tempat wisata dan menarik. "Bagaimana kalau liburan musim panas nanti, kita ke tempat-tempat ini? Yah, aku sih, sesuai pilihanmu saja, Hermione."
Hermione tersenyum, lalu melihat-lihat brosur yang diberikan Draco. Ada Italia. Brazil. New Zealand. Hawaii. Prancis. Rusia. China. Thailand. Ah, Jepang pun ada.
"Oh, jadi hanya Hermione yang diajak?" cibir Blaise. Dia menatap iri pada sejoli yang bermesraan di kantin sekolahan tersebut.
"Tidak hanya Hermione saja, Zabini. Kita, kita semua," sahut Draco. Blaise ber-oh ria.
"Las Vegas sepertinya menarik," gumam Hermione, lalu melihat-lihat lagi brosur tersebut. Draco hampir tersedak air ludahnya sendiri.
"Las Vegas? Kota metropolitan itu? Geez, Hermione. Jangan-jangan kau mau berjudi ya di kasinonya?"
"Mungkin. Ada bagusnya 'kan mencoba-coba?"
Draco cengo.
"Bercanda, Draco!" seru Hermione lalu tertawa-tawa. "Hmm. Asia sepertinya menarik, nih. Tapi aku tidak tahu apa yang cocok…"
"Ehm, boleh menginterupsi sebentar?"
Suasana kemudian hening. Draco menatap tidak suka pada gadis yang baru saja memotong perkataan kekasihnya.
"Apa, Weasley?" sahut Draco ketus pada Ginny.
"Kaubilang 'kita semua'… uhm, apakah aku termasuk?"
Draco memutar bola mata.
"Aku menyerahkan semuanya kepada Hermione. Jangan tanya aku, tanya saja pada Hermione." Sementara Ginny mulai bertanya kepada Hermione, Ron mulai berkontak mata kepada Draco, tolong-jangan-berikan-dia-kesempatan-kepada-kita-karena-tidak-menyenangkan-ada-bocah-seperti-dia.
Draco hanya mengangkat bahu.
"Aaaah! Sepertinya menyenangkan jika kita pergi ke—"
Tiba-tiba handphone Hermione berbunyi. Dia menatap nama yang tertera di layar ponsel. Maurice? Maurice Granger, sepupunya? Untuk apa sepupunya tiba-tiba menelepon di saat dia sekolah begini?
Setelah memberi isyarat kepada teman-temannya, Hermione mengangkat telepon yang berada di ponselnya.
"Halo?"
"Halo, Hermione?!"
"Ya, ini aku, Maurice. Tidak usah berteriak seperti itu—"
"Ini penting!"
Hermione membelalakkan sepasang mata hazelnya secara tiba-tiba. Dulu, saat Maurice meneleponnya saat masih di Junior High School, berita yang disampaikan Maurice adalah berita kematian.
Tidak ….
"A—apa yang terjadi?" sahut Hermione tergagap, berharap tidak terjadi seperti tahun-tahun yang lalu. Tidak. Tidak akan ada berita kematian di keluarga Granger hari ini.
"Pulang sekarang juga!"
"Apa yang terjadi?!"
"A—a—ada—"
"Cepatlah!" seru Hermione sedikit tidak sabar. Teman-temannya sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada Hermione di telepon.
"Berita buruk, Hermione. Ibumu tewas ditabrak kendaraan tidak bertanggung jawab saat menyeberang di jalan. Kini ayahmu berada di rumah sakit, bersama kedua orang tuaku dan aku sendiri. Kau harus ke sini secepatnya, Hermione. Aku tahu, aku turut berduka. Ayahmu sangat tidak menerima kenyataan ini. Sekarang kami semua berada di Rumah Sakit—Hermione? Kau masih di sana?"
Ponsel Hermione sukses terjatuh dengan mulus dari tangan pemiliknya. Setetes demi tetes air mata meluncur begitu saja dari kedua mata hazelnya.
Ibunya meninggal.
IBUNYA MENINGGAL.
.xOx.
TO BE CONTINUE
A/N: Halo. Sudah lama tidak update membuat saya kekurangan ide untuk cerita ini, tapi saya masih harus menambahkan plot untuk kelanjutan Dramione selanjutnya. Tak menutup kemungkinan, hubungan Dramione nanti ada hubungannya juga dengan TheoDaphne.
Terima kasih kepada Shinta Malfoy, BlueDiamond13, caca, Hamba Allah, cla99, Ms. Loony Lovegood, fortunaa. princess, Ochan malfoy, Ladyusa, Guest, MichelleOey, valerieva, anonymous, Wiandavirgo yang sudah mereview chapter sebelumnya, serta beberapa para readers yang lain baik mereview chapter sebelum2nya lagi, fav, follow, dan sebagainya. Terima kasih sudah menyampaikan pujian, kritikan, dan segala macam usul untuk fic ini.
Saya akan terus berusaha untuk memerbaiki karya-karya tulisan saya. Saya terus berusaha agar kalian semakin tertarik dengan karya saya. Berkat kalian yang setia untuk memberi dukungan, LFH sudah mencapai dua belas chapter.
Oke, saya harap maklum kalau para readers amat sangat tidak terpuaskan dengan chapter yang ini. Romancenya hanya nyempil sedikit, itu pun kalau pantas disebut romance. Sekarang saya menekankan konflik baru, karena nanti akan ada hubungannya dengan Draco-Hermione juga. Konflik baru ini jangan diremehkan, dampaknya buruk bagi Hermione, juga kelangsungan hubungan sosialisasinya nanti.
Soal Ginny … maaf, tidak bermaksud untuk bashing chara. Di sini saya sudah bikin dia untuk sedikit merubah jalannya, benar?
Pansy masih jahat. Theo Daphne gantung. Ron Lavender putus. Harry Luna jadi sedikit berantakan (dengan kehadiran Ginny). Ginny berbalik jalan. Ron masih kurang suka dengan Ginny (well, ini akan menjadi OOC sekali)
Well, maaf jika romance nya dikit. Ini genre 'kan ada friendship juga, 'kan? Jadi saya sedikit menambah unsur friendship yang sudah lama menghilang dari fic ini.
Sekali lagi maaf, readers. Maklumilah saya yang sangat kebelet untuk menyelesaikan fic ini, tapi moodnya ga ada, tapi dipaksain, hasilnya begini. Mohon minta saran agar bisa diperbaiki.
Review? :D
