Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing. Chapter ini hanya menceritakan bagaimana Hermione, Ron, Harry, Draco, Blaise, dan Theo bertemu kemudian menjadi sahabat. Jadi jangan bingung ketika timelinenya berubah drastis dari chapter 1-12.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 10: Bonus (1)


Dia berdiri terpaku di depan gerbang sekolah tersebut.

Tidak terlalu luas, tetapi sepertinya nyaman. Gadis yang memakai seragam SMPnya kini menunduk. Mulai hari ini, dia sudah bukan anak SMP lagi.

"Umm—kamu anak baru, 'kan?"

Hermione menoleh ke samping kanannya. Seorang pemuda berbadan besar yang sepertinya senior—dia memang senior karena sudah memakai seragam SMA—menyapa Hermione dengan senyumannya yang ramah. Hermione mengangguk.

"Kau tidak boleh terus di sini. Sekarang kita semua harus berkumpul di lapangan untuk penyambutan tahun ajaran yang baru. Kau belum memakai seragam SMA?"

Hermione berpikir sebentar.

"Memangnya yang lain sudah pakai seragam?"

"Sudah."

"Berarti seragamku belum sampai."

Si pemuda berbadan besar itu mengangguk. "Tidak apa-apa. Masih banyak yang belum memakai seragam sekolah ini. Silakan masuk."

Hermione mengangguk lagi dan segera bergegas menuju lapangan yang sudah dipenuhi anak-anak sekolah tersebut.

Hogwarts Senior High School.

Sekolah tersebut memiliki bangunan yang besar dan luas—Hermione salah menilai karena tadi dia hanya melihat dari luar saja. Sebenarnya Hermione tidak mau bersekolah di sini, tetapi kedua orang tuanya bersikeras agar dia bersekolah di sini. Entah kenapa.

Hermione menghela napas. Semua teman-teman lamanya bersekolah di tempat yang berbeda dengannya—dan Hermione tahu sendiri, kalau dia sangat susah mencari teman dengan sifatnya yang bossywell, Hermione mengakui itu.

Hermione tersentak sebentar sebelum akhirnya dia menyadari bahwa para OSIS sudah berada di depan lapangan dan Hermione masih bengong di ujung lapangan.

"CEPAT KE SINI!"

Seorang pemuda dengan kulit pucat dan berambut pirang-platina menarik Hermione dari ujung lapangan ke tengah lapangan. Tubuhnya bermandikan keringat, dan Hermione merasa sedikit jijik karena tangannya digenggam oleh orang yang sedang berkeringat.

"Siapa kau?!" tanya Hermione saat mereka berlari.

"Cepat baris!"

"Heeh?!"

Hermione menurut saja saat dia diseret ke salah satu barisan. Hermione mengelap tangannya dengan roknya lalu menoleh ke pemuda yang tadi menyeretnya.

"Siapa kau?" tanyanya lagi.

"Malfoy."

Hermione menatap Malfoy dengan sengit dari atas sampai bawah.

"Aku tidak menyuruhmu untuk menyeret-nyeret aku seperti tadi."

"Kau tidak lihat kalau para OSIS itu sudah menatapmu seperti mangsa mereka? Mereka akan menghukummu, bodoh!"

"Aku juara umum!"

"Well, terserah." Malfoy memutar kedua bola matanya lalu memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Hermione melihat seragamnya. Seragam sekolah ini. Err—apakah benar kalau masih ada orang yang belum mendapat seragam?

Hermione menoleh ke kanan dan ke kiri. Astaga, ramainya. Dan dia tidak mengenal satu pun anak-anak di sini. Oke, kecuali Malfoy dan senior yang baik hati tadi.

"Siapa namamu?"

Hermione mengernyit dan menoleh ke sebelahnya di mana si Malfoy sedang berdiri. Pemuda berkulit pucat itu ikut-ikutan mengernyitkan dahinya. "Kenapa ekspresimu begitu? Belum pernah ditanyai namanya?"

"Hermione Granger."

Malfoy mengulurkan tangannya.

"Draco Malfoy."

Hermione menerimanya lalu kembali menoleh ke depan. Para OSIS masih sibuk memersiapkan ini itu dan upacara belum dimulai juga. Para guru tidak mau ikut turun tangan—tugas OSIS, katanya. Guru akan turun ke lapangan jika para murid sudah bisa diam dan tenang.

Hermione benci dengan suara yang berisik seperti ini. Dia tidak suka kegaduhan.

"BAGAIMANA INI! AKU BELUM MENDAPAT SERAGAM SEMENTARA YANG LAIN SUDAH DAPAT—"

"Diam dulu, Ron. Nanti kau akan diberi seragam jika stoknya datang."

"KAU ENAK, HARRY! BAGAIMANA DENGANKU—ASTAGA, APAKAH HANYA AKU SENDIRI YANG MASIH MEMAKAI SERAGAM SMP?! MEMALUKAN, TAHU TIDAK?!"

"Ron, kau berisik sekali—"

"HARRY, BAGAIMANA INI!"

Hermione ingin menyumpal mulut orang yang bernama Ron itu.

Dia menoleh ke kanan dan kiri lagi, berusaha untuk mencari sumber suara. Hermione menyipitkan matanya ketika dia melihat seorang pemuda berambut merah menyala dan berambut hitam berantakan saling berdebat. Hermione menarik napas sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menghampiri mereka.

"Hei, kalian berdua." Hermione menepuk pundak kedua pemuda tersebut bersamaan. Mereka berdua terkejut sementara Hermione memutar bola matanya. Dia menoleh ke arah pemuda yang memakai seragam SMP. "Kau Ron, 'kan? Aku juga masih memakai seragam SMP. Jadi tolong diam supaya upacaranya cepat dimulai dan kita bisa belajar dengan tenang."

Orang yang bernama Ron itu mengembuskan napas lega.

"Terima kasih sudah menenangkan temanku yang baw—" Harry menghentikan ucapannya ketika dia sadar Ron sedang melotot kepadanya. "—siapa namamu? Aku Harry. Harry Potter."

Hermione tersenyum manis. "Hermione Granger."

"Aku Ron Weasley."

"Hermione Granger."

"Kau sudah menyebutnya tadi."

"Well, kau 'kan mengulurkan tanganmu juga sehingga aku membalasnya."

"Kau aneh."

"Terserah." Hermione baru saja mau kembali ke tempatnya, tetapi tiba-tiba saja ada tangan yang meraih tangannya. "Kau jangan ke mana-mana. Siapa yang menyuruh kau mondar-mandir?"

Hermione mengenali suara ini. "Jangan mengaturku, Malfoy."

"Aku tidak mengaturmu. Kau seperti kucing kecil yang tersesat dengan sepasang mata hazelmu yang besar. Aku kasihan melihatnya."

"Aku tidak perlu dikasihani." Hermione menyentak tangannya dan kembali ke barisan. Dirasakannya kalau Draco Malfoy mengikutinya di belakang. Hermione membiarkan Si Pucat itu mengikutinya dan sekarang baris di belakangnya.

"Kau marah?"

"Tidak."

"Bagus."

Hermione mendengus. Ayolah, kapan upacara ini akan berakhir? Hermione ingin cepat-cepat belajar dan menemukan hal baru—tunggu, semua buku-buku SMAnya sudah dia habiskan saat liburan kemarin.

Ketua OSIS dengan rambut merah menyala—Hermione jadi mengingat Ron—berdehem dengan menggunakan mikrofon. Keributan yang berada di lapangan terhenti seketika.

"Mohon perhatiannya semua, upacara akan segera dimulai. Diharapkan agar semuanya tetap tenang sampai upacara selesai. Terima kasih."

Semuanya benar-benar diam. Beberapa anak seangkatan Hermione sekarang sudah menunduk ketakutan.

"ITU KAKAKKU!"

"Diam, Ron."

Hermione mendengar suara teriakan dari barisan belakang. Semua ikut menoleh ke belakang karena teriakan yang lumayan kencang tadi.

"Kakakmu? Ketua OSIS? Hebat juga, ya." Seorang gadis berambut hitam pendek menatap sinis pada Ron. "Tidak meyakinkan."

"Dia itu Percy Weasley, putra kebanggaan di keluarga!" seru Ron tampak tidak terima.

"Aku tidak peduli," sahut gadis berambut hitam pendek tadi. Hermione sangat tidak suka melihat wajahnya yang menyebalkan. "Ayo kita pergi, Daphne. Siapa tahu kita dapat menemukan pemuda tampan."

Hermione mendengus lagi.

"Pansy, apakah yang seperti itu yang kau mau?" Hermione mendengar suara lain. Kalau tidak salah dia temannya yang wajahnya menyebalkan itu, Daphne. Berarti gadis yang berambut hitam pendek itu bernama Pansy.

Hermione menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Daphne. Pemuda tinggi dengan kulit putih, lumayan tampan. Rambutnya berwarna gelap. Sepertinya anak baru juga, mengingat dia berada di barisan anak-anak kelas sepuluh.

"Aku tidak suka gayanya. Penyendiri. Seperti tidak punya teman saja."

Daphne mengangguk tapi menoleh sekilas ke pemuda tadi dan tersenyum. Pemuda tersebut menyadarinya, dan mengangkat ujung bibirnya sedikit.

Well, Hermione menyadari tangannya ditarik lagi.

"Malfoy. Bisakah kau membiarkanku untuk bebas sebentar?"

"Kau tidak boleh ke mana-mana."

Hermione memutar kedua bola matanya dan mengangguk pasrah. "Apakah Ron marah dikatai Pansy tadi?"

"Aku tidak tahu."

Mereka kembali berbaris di tempatnya setelah kegaduhan-kegaduhan itu selesai. Lapangan itu menjadi sepi dan sunyi, tetapi Hermione menyukainya.

"Selamat pagi, semuanya."

"Pagiiiiiiiiiii."

Hermione tidak tahu apakah sapaan balasan dari murid-murid tersebut karena terlalu bersemangat atau tidak niat. Oh, entahlah. Hermione hanya berharap upacara ini tidak lama dan cepat selesai.

Setelah urutan-urutan upacara yang seperti biasanya, akhirnya tiba di mana saat para murid-murid menyukai sesi ini. Pengenalan pengurus-pengurus OSIS. Anak-anak baru—terutama para gadis—ingin mengetahui siapa saja para pengurus OSIS yang tampan.

Hermione tidak terlalu peduli, tetapi matanya tertuju pada sosok pemuda yang tadi menyapanya di gerbang sekolah.

Jadi dia OSIS?

Hermione menyipitkan matanya sedikit lagi. Tidak, dia tidak salah. Itu benar-benar pemuda yang tadi.

"Selamat pagi, semuanya. Nama saya Viktor Krum. Kalian semua bisa memanggil saya Viktor, terima kasih." Pemuda itu kini membungkukkan tubuhnya dan menyerahkan mikrofon ke temannya yang lain.

Viktor Krum.

Hermione mendengar beberapa gadis menjerit-jeritkan namanya dalam bisikan. Hormon anak muda…

"Kau tertarik pada dia?"

Hermione terkejut dan menoleh ke belakang.

"Tidak usah mengejutkan ku begitu, Malfoy!"

"Kau tertarik pada dia?"

"Pada siapa?!"

"Yang itu."

Hermione mengabaikan Draco Malfoy dan mengamati pengurus OSIS yang lainnya. Setelah sesi perkenalan tersebut, kini beralih ke sesi-sesi selanjutnya.

Terus begitu sampai upacara selesai.

.


.

"Akhirnyaaaaaaa!"

Hermione buru-buru lari ke kelasnya, kelas X-IPA-2. Dia benar-benar tidak sabar untuk belajar—dan oh, tentunya untuk mendapat teman baru, walaupun Hermione kurang yakin dia bisa mendapat teman yang banyak di hari pertama.

"Kita sekelas rupanya."

Hermione menoleh. Pemuda berambut pirang-platina dan kulit pucat—

"Berhenti mengikutiku, Malfoy."

"Aku tidak mengikutimu. Kebetulan saja kita satu kelas sehingga aku sekarang berada di belakangmu lagi."

Great, Draco Malfoy benar-benar di belakangnya dan duduk dengan santai di kursi yang berada di belakangnya tersebut.

Hermione memerhatikan anak-anak yang masuk. Ada seorang siswa dengan wajah bulat yang lucu dan mimiknya gugup dan ketakutan. Ada anak yang berkulit cokelat dan putih jalan bersama. Ada gadis berambut keriting coklat, ada yang kembar, ada—oh, Harry dan Ron satu kelas dengannya juga rupanya.

Wait, Hermione juga melihat pemuda yang ditunjuk Daphne tadi. Dia memang bersikap diam dan mengabaikan orang-orang yang tidak berhubungan dengannya.

Hermione memerhatikan anak-anak yang masuk lagi. Matanya tertuju pada gadis berambut panjang dan kulit putih bersih. Sepasang matanya hijau cerah.

Itu Daphne! Hermione tidak salah mengenalinya. Berarti dia tidak sekelas dengan Pansy. Entah kenapa Hermione sangat senang menerima kenyataan tersebut. Dia mengembuskan napas lega.

"Astaga, dia tampan sekali!"

"Yang mana?"

"Itu, yang berambut pirang duduk di belakang gadis berambut cokelat—"

"Siapa sih namanya?!"

Draco menatap sekelilingnya dengan malas dan memberikan tatapan jangan-ganggu-aku. Semua gadis yang tadi membicarakannya langsung diam.

Seorang guru dengan wajah ramah masuk ke ruangan kelas. Berambut cokelat madu dan wajahnya benar-benar ramah—dia terus tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tapi dia menutupinya dengan senyumnya.

"Selamat pagi semuanya."

"Selamat pagi, Professor!"

"Tidak usah memanggilku Professor." Guru tersebut kembali mengeluarkan senyumnya yang menawan. "Panggil saja aku Mister Lupin."

Dia menuliskan namanya di papan tulis yang tersedia. Remus Lupin.

"Aku adalah wali kelas kalian," lanjutnya. Dia menatap siswa-siswi yang berada di kelasnya satu persatu. "Aku harap kita dapat bekerja sama dengan baik sampai tahun ajaran berakhir nanti."

"Baik, Mr. Lupin."

"Akan lebih baik kalau kita saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Aku berikan kalian waktu sepuluh menit untuk saling berkenalan dengan teman-teman yang berada di kelas. Dengan syarat, tidak ada kegaduhan. Mengerti?"

"Mengerti!"

"Baiklah." Lupin menoleh ke arah jam dinding yang terletak di dinding dan kembali menoleh ke depan. "Sekarang!"

Hermione mengangkat tangannya bahkan sebelum semua memulai untuk berkenalan dengan satu sama lain. Lupin memersilakan Hermione untuk mengutarakan maksudnya.

"Maaf, mister, bukan bermaksud untuk menggurui atau bagaimana. Kenapa kita tidak memerkenalkan diri kita sendiri di depan kelas sehingga seluruh siswa dan siswi di kelas ini bisa mengenalnya secara langsung? Apalagi, dengan cara tersebut lebih cepat dan tidak akan menimbulkan kegaduhan."

Lupin tersenyum.

"Saran yang bagus, Miss—"

"Granger."

"Miss Granger." Lupin tersenyum lagi. "Baiklah, dari absen pertama silakan maju dan memerkenalkan dirinya di depan kelas."

"Abbott, Hannah!"

Seorang gadis pemalu maju di depan kelas dan cepat-cepat menyebutkan namanya lalu menunduk. Dia memilin-milin seragam SMAnya yang masih baru.

"Baiklah, Miss Abbott, silakan duduk."

"Brown, Lavender."

Seorang gadis berambut cokelat ikal maju. Roknya menari-nari mengikuti pergerakan sang pemilik. Wajahnya sedikit—err—centil?

"Halo, semuanya!" Dia melambaikan tangannya dengan ceria. "Namaku Lavender Brown. Biasa dipanggil Lav. Kalian mau panggil Lav-lav juga boleh."

Hermione ingin muntah.

"Baiklah, Miss Brown, silakan duduk."

Terus begitu hingga giliran Hermione sendiri. Hermione tersenyum dan maju dengan percaya diri. "Namaku Hermione Granger. Kalian bisa memanggilku Hermione. Salam kenal semuanya."

Draco Malfoy senyum-senyum sendiri di tempat duduknya, membuat Hermione menaikkan alisnya dan mendelik kepadanya.

"Greengrass, Daphne."

Dengan semangat Hermione memerhatikan Daphne Greengrass. Sepertinya Hermione pernah mendengarnya, entah di mana. Atau imajinasinya saja? Mungkin …

"Daphne Greengrass. Biasa dipanggil Daphne. Atau Daph," ujar Daphne singkat di depan kelas. Sepasang mata hijaunya menatap tajam ke seluruh kelas.

Tatapannya berhenti sebentar di pemuda yang tadi dia lihat di lapangan, lalu dia segera memalingkan wajahnya. "Terima kasih."

Berlanjut lagi sampai kepada nama seseorang—

"Nott, Theodore."

Pemuda yang pendiam itu maju. Daphne sedikit mengeluarkan ketertarikannya walau tidak terlalu ketara, tetapi Hermione merasakan hal itu. Hermione mendengar salah seorang gadis kembar yang tadi masuk membisiki kembarannya yang satu lagi. "Padma, itu yang tadi kau perhatikan saat upacara, 'kan?"

"Theodore Nott. Biasa dipanggil Theodore. Atau Theo," ujar Theo. Singkat, padat, dan jelas. Astaga, persis seperti bagaimana Daphne tadi menyampaikan perkenalannya. Mereka berdua memang cocok.

Theo segera duduk kembali tanpa disuruh oleh Lupin. Terus berlanjut lagi sampai ke nama yang Hermione kenal betul.

"Potter, Harry."

Pemuda berambut hitam berantakan itu maju. Dia membetulkan kacamata bulatnya sebentar, lalu cengar-cengir sedikit dan akhirnya memerkenalkan dirinya. "Namaku Harry Potter. Kalian bisa panggil aku Harry."

Terus begitu.

"Malfoy, Draco."

Draco maju. Gadis-gadis yang berada di kelas ber'ah' dan 'oh' saat melihat pemuda idaman mereka maju ke depan. Draco tidak menanggapi mereka sama sekali.

Lalu giliran Ron Weasley. Dia tidak pandai menyusun kata-kata—padahal hanya memerkenalkan diri saja.

"Yap, selesai. Terima kasih atas usulmu, Hermione Granger. Ini lebih cepat dari yang kubayangkan." Lupin berdiri dari kursinya dan Hermione tersenyum menanggapi. "Sekarang kita harus segera ke laboratorium komputer karena saya mengajar mata pelajaran tersebut. Cukup membawa alat tulis saja. Mari ikut aku."

… dan pelajaran hari pertama pun dimulai.

.


.

Bel istirahat berbunyi.

Hermione menyempatkan dirinya untuk ke lantai atas sebentar, untuk menemui Viktor Krum. Dia harus berterimakasih kepada pemuda tersebut karena berbaik hati kepadanya tadi. Walaupun kebaikannya tidak sebesar—Hermione sebal menyebutnya—Malfoy yang menyeretnya sehingga tidak terkena hukuman dari para OSIS.

BRUUK!

"Eh, maaf."

Hermione mengaduh dan mengumpat sedikit lalu mendongak. Pemuda berkulit gelap kini berada tepat di hadapannya.

"Maaf, aku tidak sengaja." Si pemuda mengulangi perkataannya.

"Tidak apa-apa."

Pemuda berkulit gelap itu membantu Hermione berdiri. Hermione mengernyit melihatnya. Pemuda itu memakai seragam SMP—berarti dia anak baru. Dan kenapa anak itu berada di lantai atas?

"Oh, jangan heran melihatku." Pemuda itu nyengir dan menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Dia berbisik kepada Hermione. "Aku sedang mengincar kakak kelas yang katanya paling cantik di sini. Tapi sepertinya aku salah tempat, katanya si cantik itu ada di lantai dua. Siapa ya namanya, err—Fleur Delacour kalau tidak salah."

Hermione cengo.

"Oh iya, namaku Blaise Zabini." Pemuda itu kembali mengulurkan tangannya.

"Hermione Granger."

"Oke, sampai nanti! Kalau nanti kita ketemu lagi kita akan berbincang-bincang lagi. Aku tidak ada waktu sekarang. Bye!"

Hermione masih cengo. Sepuluh detik kemudian, dia menyadari bahwa dia ditatap dengan aneh oleh kakak-kakak kelas. Hermione buru-buru pergi dari situ dan kembali turun ke lantai bawah.

Misinya gagal. Hermione berjalan dengan gontai menuju ke kelasnya.

"Aku mencarimu ke mana-mana, Hermione."

Dengan cepat Hermione menoleh ke belakang. Draco Malfoy.

"Dan sejak kapan kau berada di sini?"

"Ini kelasku dan aku berhak berada di sini."

Oh, ya. Hermione sudah berada di kelasnya. Dia jadi merasa bodoh.

"Mau ke kantin?"

Amat sangat mengejutkan karena yang melontarkan pertanyaan itu bukan Draco, tapi Hermione sendiri. "Kau sudah memutuskan untuk berbaik hati kepadaku?"

"Berisik."

Akhirnya mereka berdua berjalan dengan jarak yang amat berjauhan menuju ke kantin.

.


.

"Tempat duduknya penuh."

Hermione dan Draco sudah membawa nampan ke mana-mana, tetapi mereka tidak mendapatkan tempat duduk sama sekali. Sungguh, kantinnya benar-benar penuh dan lumayan menyesakkan. Padahal kantin tersebut luas sekali.

"Itu Harry dan Ron!" seru Hermione senang. Dia menyeret Draco dengan tangan kirinya dan menghampiri kedua temannya itu. "Aku boleh numpang di sini?"

"Bwoweh waja," sahut Ron dengan kosakata belepotan. Dia berbicara sambil makan. Hermione melotot kepadanya. "Telan dulu, Ron!"

Ron hanya mengangguk tak peduli.

Harry tersenyum menanggapinya dan memersilakan baik Hermione dan Draco untuk duduk di tempat duduk mereka.

"Ramai sekali," kata Hermione membuka percakapan.

"Kata kakakku memang selalu seperti ini. Lebih ramai lagi jika—"

Perkataan Ron terpotong.

"Fleuuur! Maukah kau jadi kekasihkuuuu?!"

Semua kepala yang berada di kantin menoleh ke sumber suara. Seorang senior kelas tiga tengah berjalan menghampiri meja seorang gadis yang cantik dengan rambut pirang. Wajahnya benar-benar cantik dan anggun.

"Maaf." Si gadis cantik itu berkata, lalu dia kembali melanjutkan makannya seperti tidak terjadi apa-apa. Si senior kelas tiga yang malang berjalan gontai ke tempatnya dan diledek oleh teman-teman seangkatannya.

"Aku sedang mengincar kakak kelas yang katanya paling cantik di sini."

Hermione mengingat perkataan dari Blaise Zabini tadi. Apakah gadis cantik itu Fleur Delacour yang tadi dikatakan oleh Blaise?

"Harry, Ron, apakah kalian tahu gadis itu siapa?"

"Fleur Delacour," jawab mereka bersamaan. "Hei, kau tidak menanyaiku?" tanya Draco yang duduk di sebelah Hermione.

"Aku kira kau tidak tahu."

"Memangnya dia yang paling cantik di sini?" tanya Hermione. Dia penasaran dengan kata-kata Blaise tadi. Pemuda itu sepertinya—well—agak genit. Suatu keajaiban jika Blaise bisa menaklukan hati gadis yang cantik itu.

"Menurutku lebih cantik temannya," sahut Harry. Dia menunjuk ke gadis yang duduk di sebelah Fleur. Gadis itu berambut hitam panjang. "Keturunan Asia. Dia lebih manis menurutku."

"Siapa namanya?"

"Cho Chang."

"Jangan pedulikan Harry, Hermione. Kataku lebih cantik Fleur. Tidak ada satu pun pemuda yang diterima olehnya—menurut kakakku sih begitu."

"Kakakmu yang Ketua OSIS itu banyak mengetahui informasi, ya."

"Bukan yang itu!" Ron menyahut cepat. Dia mengelap bibirnya yang belepotan terlebih dahulu. Draco diam sambil mendengarkannya berceloteh sementara Harry dan Hermione menatap Ron penuh minat. "Kakakku di sini ada tiga."

"Heh?!"

"Yang satu berada di tingkat paling atas, Ketua OSIS yang sebentar lagi akan pensiun, Percy Weasley. Lalu yang kelas sebelas ada Fred dan George Weasley. Mereka kembar dan merekalah yang memberitahuku gosip seputar sekolah."

Harry dan Hermione mengangguk-anggukkan kepala mereka.

"Lalu apakah kau tahu tentang Viktor Krum?" tanya Hermione. Draco menoleh dengan cepat.

"Oh, dia anak OSIS yang lumayan populer. Penggemarnya lumayan banyak dan dia lumayan pintar."

"Kenapa semuanya memakai kata 'lumayan'?"

"Kata kakakku seperti itu."

Hermione hanya menghela napas. Draco segera membuka mulutnya yang tertutup rapat daritadi. "Kenapa kau menanyakan Krum?"

"Tidak ada apa-apa."

"Mungkin dia cemburu, Hermione."

Draco menoleh ke arah Harry. Dia melihat pemuda tersebut mengedip jahil kepadanya dan memberikan tatapan jangan-berbohong-kepadaku.

"Itu omong kosong, Harry."

Mereka berempat makan makanan mereka dalam diam. Tidak ada satu pun yang bersuara, karena mereka menikmati makanan mereka. Ron sempat nambah dua kali lagi sebelum akhirnya dia mengatakan kalau dia kekenyangan.

"Kenyaaaang~" Ron mengelus-elus perutnya dan bersender di kursinya. Harry dan Draco sudah selesai makan daritadi, sementara Hermione sudah mau selesai. Dia kebanyakan mengamati keadaan di sekitarnya daripada menyuapkan makanan ke mulut.

"Hermione, kau sudah kenyang belum?" tanya Ron kepada Hermione. Hermione mengangguk—karena dia memang merasa kenyang.

"Baiklah, untukku saja, ya?"

"He? Bukankah kaubilang kalau kau kekenyangan?"

"Tidak jadi."

.


.

Hari berikutnya, Hermione sudah terbiasa dengan Draco, Harry, dan Ron yang berada di sekitarnya. Hermione menyukai teman-teman barunya—dan dia juga mulai melunakkan sikapnya kepada Draco dengan memanggilnya 'Draco' bukan 'Malfoy'.

"Hermione Granger!"

Hermione menoleh ketika namanya disebut. Dia pernah mendengar suara itu, entah kapan. Tunggu…

"Blaise Zabini?"

"Hermione! Kita ketemu lagi! Mau ngobrol sebentar?"

"Boleh. Bagaimana kalau di kantin?"

"Hm, tidak buruk. Aku bisa melihat Fleur dengan leluasa di sana."

Hermione cengo lagi.

"Tapi aku bersama teman-temanku, tidak apa-apa?" tanya Hermione kepada Blaise. Blaise malah menyeringai. "Aku juga membawa temanku. Kalau tidak salah, dia berasal dari kelasmu."

"Benarkah?"

"Theodore Nott."

Hermione mengenal nama itu.

Jadinya, mereka berenam menuju ke kantin dalam keheningan yang canggung. Hermione perempuan sendiri dan dia merasa tidak enak. Tapi apa boleh buat, dia memang lebih nyaman begini—

Mereka duduk di tempat yang sudah biasa Harry, Ron, Hermione, dan Draco duduki. Ron sangat suka tempat itu, katanya. Lebih leluasa untuk mengambil makanan.

"Aku Blaise Zabini, dari X-IPS-2."

Blaise mengulurkan tangannya ke Harry, Ron, dan Draco.

"Kau yang waktu itu menunggu di halte bus, 'kan? Aku melihatmu," ucap Draco dengan nada datar. Blaise mengangguk. "Dan aku melihatmu mengendarai mobil mewah—"

"Bukan seperti itu maksudku," sahut Draco ketus.

"Theo, kau sudah mengenal kami semua?" tanya Hermione. Theo mengangguk. "Kalian semua 'kan teman sekelasku. Ingatanku tidak secetek itu."

"Dia kan bertanya dengan baik-baik," ucap Draco lagi, kini kepada Theo. Theo mengangkat bahu dengan cuek.

"Sudahlah Draco." Hermione menengahi mereka semua. Tak lama kemudian, meja tersebut merupakan meja paling ramai yang pernah ada di kantin itu.

"Aku suka dengan kalian semua," ujar Blaise blak-blakan. "Bagaimana kalau besok kita berkumpul lagi seperti ini?"

"Hm, boleh."

Yang lain mengangguk setuju. Senyum Hermione mengembang.

… inikah teman?

.


.

Mereka berenam menjadi akrab.

Walaupun sikap mereka masih jauh dari kata dewasa—kecuali Theo dan Hermione—tetapi mereka semua bisa saling berbagi dan tertawa bersama. Abaikan saja Blaise yang berbeda kelas dari mereka semua. Toh, mereka masih bisa bertemu saat istirahat.

Pansy Parkinson—oh, Hermione baru mengetahui nama lengkapnya—sering menyapa Draco dengan sapaan 'Drakieee~' ketika bertemu. Gadis-gadis banyak yang menyatakan cintanya kepada Draco Malfoy, tetapi ditolak mentah-mentah olehnya. Dia bersikap cuek dengan orang lain—yang dimaksud adalah bukan dari kelima temannya. Tetapi saat berada bersama teman-temannya, sikap cueknya hampir tidak ada sama sekali.

Lain Draco, lain pula Blaise. Blaise lebih sering diincar oleh kakak-kakak kelas, entah kenapa. Blaise tetap tebar pesona—tetapi Blaise lebih memusatkan perhatian kepada Hermione. Sekali lagi, entah kenapa.

Hermione seringkali merasa ganjil dengan hubungan Theo dan Daphne. Mereka berdua hanya senyum seadanya ketika bertemu, tetapi tidak pernah ngobrol panjang lebar. Mungkin dilihat sekilas mereka adalah teman, tetapi tatapan mata mereka berdua berbeda—Hermione tahu itu.

Harry mengincar Cho Chang—teman Fleur, dan dia masih berusaha mendapatkan perhatian dari kakak kelasnya itu. Sementara Ron tidak peduli dengan urusan seperti itu. Dia lebih memikirkan makanannya.

Hermione geleng-geleng sendiri. Dia tersenyum dalam hati. Viktor dan dia menjadi dekat. Mereka seperti sepasang kekasih, padahal tidak. Terkadang Viktor dan Hermione sering pulang bersama karena rumah mereka searah.

Sementara musuh … yah, di dunia ini, kau pasti ada musuh. Begitu pula Hermione. Sering kali dia mendapati gadis-gadis tidak suka melihatnya berjalan bersamaan dengan kelima pemuda populer di sekolah.

—terutama Pansy Parkinson.

Tapi Hermione tidak menanggapi mereka. Dia sudah cukup bahagia, itu saja.

Hermione tidak akan menyesali masa-masa SMA.

.


.

Tiga bulan kemudian, Blaise menyatakan cinta kepada Hermione. Wajahnya babak belur oleh teman-temannya. Draco mendapat jatah paling banyak untuk memukul Blaise.

Sebulan setelah insiden tersebut, Harry dan Cho Chang berpacaran. Tak lama kemudian, Theo menyusul dengan menjadi kekasih Padma Patil. Padahal Hermione mengira bahwa Theo akan berpacaran dengan Daphne Greengrass.

Empat bulan kemudian, Hermione berpacaran dengan Viktor Krum yang menghebohkan seisi sekolah karena Viktor tidak pernah menembak cewek satu pun.

Hubungan Draco dan Hermione renggang sedikit, tetapi Draco kembali mencairkan suasananya dengan Hermione. Sebenarnya, Hermione tidak tahu apa yang menyebabkan Draco marah kepadanya. Tapi Hermione merasa bahagia karena Draco tidak menjauhinya lagi.

Dan saat tahun ajaran baru berakhir, 'petualangan' mereka akan dimulai.

… untuk menguji persahabatan mereka yang sejati.

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Hello, all. Welcome to this chapter.

aira setiawan: Halo, Aira ;D alur kecepatan? Maaf, ya. Nggak konsen saat ngebuatnya. Semoga yang ini memuaskan :'D

larastin: Banyak yang protes alur kecepatan, sayang Dx lagi ga konsen sih waktu itu. Peristiwa kematian Mrs. Granger? Liat di chapter depan, yaa ~

valerieva: Iyaa kaval maaf yaa Dx udah pendek kecepetan lagi. Sekarang lagi ditekankan di friendship dulu, nggak apa-apa kan? Chapter depan roman nambah, janji deh XD

cla99: Nggak nggak, nggak sad ending kok tenang XD iya aku emang agak labil, nih. Maaf ya. Di chapter ini juga friendship lebih ditekankan daripada romance. Nggak apa-apa, kan? Chapter depan roman nambah, janji deh XD

BlueDiamond13: Thanks, dear. Ini sudah update lagi XD mind to RnR again? (;;

fortunaa. princess: Iya, memang alurnya kecepatan. Tidak usah minta maaf, akulah yang salah XD sudah update. Mind to RnR again? (;

Autoria: Thanks, dear. Ini sudah update. Mind to RnR again? (;

Ladyusa: Memang kurang sayang Dx maafkan sayaaaaah Dx emm gimana ya? Kasitau nggak yaa ~ XD wkwkwk. Yaudah sinisini bantuin aku bikin (;;

Guest: Emm? Tunggu di chapter depan, ya:D Ini sudah update. Mind to RnR again? (;

LuluIslamiah: Iyaah … ini sudah dilanjutkan, ya. Mind to RnR again? (;

caca: Tunggu di chapter depan, ya. Sekarang lagi flashback ke masa lalu dulu. Ini sudah update, mind to RnR again? (;

gothicamylee: Thanks, ya! :D ini sudah update, mind to RnR again? (;

Karena dari seorang atau dua orang (saya lupa) chapter ini saya hanya memberikan bonus saat mereka semua masih kelas sepuluh.

Chapter depan kembali saat mereka sudah kelas sebelas.

Let's see. Ada yang keberatan karena saya menempatkan bagian bonus ini di sini? Maaf sekali, ide untuk chapter selanjutnya sedang mampet dan ide ini sedang berada di kepala saya. Maaf juga kalau misalnya alur terlalu cepat.

Tapi saya bangga karena saya masih punya niat untuk melanjutkan multichap ini. Oh, mungkin ini akan sedikit banyak chapter nantinya. Maaf jika membuat kalian semua menunggu (jika ada) :))

Dan saya akan merasa sangat senang jika masih ada yang menantikan kelanjutan chapter ini.

NB: Yang bingung dengan kejadian-kejadian di chapter ini, dipersilakan untuk kembali membaca chapter-chapter awal. Di sini jumlah words juga sudah saya panjangin, jadi lebih panjang dari chapter sebelumnya.

Review? :D