SEBELUMNYA

"Aku tidak belajar sama sekali untuk ulangan hari ini." Hermione melangkahkan kakinya sejajar dengan Draco menuju ke gerbang sekolah. "Gara-gara Maurice."

"Aku ingin membunuhnya."

Hermione memelototi Draco. Draco cengengesan. "Bercanda."

"Nah, Draco. Aku pulang dulu."

"Tidak ada ciuman selamat tinggal?"

"Tidak ada."

"Kejamnya."

Di balik percakapan tersebut, di balik perjalanan singkat mereka dari sekolah sampai gerbang sekolah, di balik kedekatan dan kisah mereka, seorang Pansy Parkinson hanya bisa merengut iri di belakang mereka.

Selalu.

Entah sampai kapan semuanya akan berjalan seperti ini.


Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 13: Alasan Maurice


"Uwaaaaah!"

Gadis bernama Maurice Granger itu meletakkan handphonenya secara kasar di meja kaca tersebut. Semenjak kematian ibu dari Hermione Granger, dia memang tinggal di sini—di kediaman Hermione Granger.

Maurice bergumam secara tak sadar.

"Dia apa kabar, ya?"

Maurice kemudian mengambil ponselnya kembali, menatap foto yang berada di layar ponselnya. Postur lelaki tegap dengan wajah yang tampan. Atletis. Menawan.

"Krum …."

Dia kembali menutup ponsel bermodel flipnya. Menghela napas, dia memejamkan matanya dan menunggu Hermione kembali.

.


.

"Aku pulang."

Yang ditunggu sudah datang. Hermione memasuki rumah yang dikenalinya bertahun-tahun itu; ugh, tentu saja sangat berbeda dibandingkan saat keluarganya masih lengkap.

Sudahlah.

Ayahnya ada tugas lagi hari ini—entah kapan dia akan pulang ke rumah ini lagi. Hermione tidak tahu apakah ayahnya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Hermione berharap yang terbaik.

"Hermione!"

Maurice turun dari sofa dengan menggebu-gebu, ekspresi khawatir terpancar dari wajahnya. Bola mata keabu-abuannya menatap Hermione dengan serius.

"Ya…?"

Hermione menatap Maurice dengan bingung. Apalagi sih yang dipikirkan oleh gadis licik ini? Well, mari sama-sama licik, kalau begitu.

"Bagaimana?" Maurice terlihat penasaran. "Si Malfoy itu?" lanjutnya, sambil menahan napasnya sendiri.

"Oh, dia…" Hermione menundukkan kepalanya. Dia menarik salah satu lengan bajunya—menutupi kegugupannya sendiri. Perlahan-lahan, dia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Maurice dalam-dalam. "Kami sudah putus."

"Benarkah?!"

Hermione mengangguk. Pelan.

"Sayang sekali hubungan kalian harus berakhir sampai di sini." Terlihat ekspresi Maurice yang tampak sedih, tetapi sangat berbeda dengan nada suaranya yang ceria. "Tapi kau memang harus lebih hati-hati untuk memilih kekasih, Hermione."

"Ah, ya. Terima kasih atas usulmu, Maurice."

"Mau teh manis? Atau mau tidur siang dulu? Akan aku siapkan."

"Aah, tidak usah." Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku akan ke kamar saja. Tidak usah repot-repot."

"Oke."

Maurice meninggalkan Hermione dan kembali ke lantai atas, sementara Hermione menatap ponsel berwarna putih milik Maurice yang tertinggal di meja kaca ruang tamu.

Bingo.

.


.

"Pertandingan futsal akan diselenggarakan bulan depan dan kau hanya bengong saja, Harry?"

Harry mengabaikan Draco.

"Diggory semakin bagus bermain futsalnya," ungkap Draco, tidak menyadari bahwa Harry yang sama sekali tidak mendengarkannya.

Beberapa detik yang diisi keheningan membuat Draco akhirnya menoleh pada Harry.

"Harry?"

"Ah, aku boleh keluar dari futsal tidak?"

"Jangan bercanda," ujar Draco tidak terima. "Apa yang akan dikatakan oleh Diggory nanti? Kau tidak malu dengan Chang ya?"

"Tidak."

"Lovegood?"

Diam sebentar.

"Ugh."

"Apa sih masalahmu?"

"Ginny Weasley."

"Oh, yeah, itu—" sebenarnya Draco juga tidak bisa menerima Ginny begitu saja di kelompok mereka. Hanya saja, Ginny adik dari Ron Weasley sehingga Draco menampakkan respectnya terhadap gadis berambut merah itu. "Dia masih mengejar-ngejar?"

"Menurutmu?"

Draco diam.

"Rasanya aku mau buang ponsel saja," keluh Harry, menatap ponselnya yang sedaritadi terus menyala. "Semua telepon dan pesan berasal dari Ginny Weasley."

"Kalau aku jadi kau—"

"Dan kau tidak akan pernah jadi aku, Draco," sela Harry. "Kau dengan mudah mendapatkan gadis yang kauincar, sementara aku—"

"Ini sudah keluar dari topik."

"Oke." Harry menghela napas. Dia sudah mengelilingi kursi lapangan di sini dengan keempat matanya beberapa kali, tapi tidak menemui sosok Lovegood sama sekali.

Sama sekali.

.


.

Hari Minggu.

Semenjak Hermione melihat wallpaper yang berada di ponsel Maurice Granger berkali-kali dan memastikan dia tidak salah lihat, dia mengambil keputusan bahwa: Maurice mempunyai perasaan khusus pada Viktor Krum.

…apa itu alasannya sehingga Maurice ingin membuat hubungannya dan Draco hancur? Supaya dia tidak mendapatkan kebahagiaan lagi?

Apa sih motifnya?

Dan sebenarnya, Hermione sendiri sudah terlalu capek untuk bermain-main dengan topeng seperti ini. Dia bukanlah orang yang munafik—well, katakanlah, bukan seperti Maurice.

"Hermione?"

Terdengar suara dari ruang makan. Hermione mengangkat kepalanya.

"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu."

"A-ah, oke."

Biasanya, mereka akan bergantian untuk menyiapkan makanan. Maurice untuk breakfast, Hermione untuk lunch, dan mereka berdua memasak untuk dinner bersama-sama.

Hermione meninggalkan ponselnya dan diletakkannya di tempat tidur, lalu mulai keluar dan menghadapi Maurice Granger dengan wajah yang teramat ceria hari ini.

"Maurice?"

"Ya?"

"Hari ini wajahmu ceria sekali."

"Hu-um." Maurice menatap roti dengan sosis bersama susunya dengan ekspresi yang masih tidak berubah. "Benarkah?"

"Ah, lupakan saja."

Hermione juga mulai mengigit makanannya dan menelannya masuk ke kerongkongan. Kali ini Maurice yang memulai pembicaraan sembari meneguk susunya.

"Kau benar-benar sudah putus, 'kan?"

"Um, ya."

Sepertinya dia sudah gila, batin Hermione, menatap Maurice yang senyam-senyum sendiri yang penyebabnya bahkan tidak jelas. Tunggu, sepertinya sudah jelas.

"Sepertinya kau bahagia sekali ketika mendengar aku sudah putus dengan Draco Malfoy, Maurice—" Hermione mengangkat alisnya. Dia ingin melihat ekspresi tercinta Maurice Granger.

Ekspresi Maurice berubah. Kegiatannya yang baru saja ingin mengambil roti terhenti. Dia menatap Hermione Granger seperti ular menatap singa.

"Oh? Maaf kalau kau merasa seperti itu."

"Jadi, bisa kauceritakan tentang foto Viktor Krum yang berada di ponselmu?"

Sekarang Maurice Granger benar-benar berhenti. Dia menatap Hermione seolah menantang. Hermione menatap balik; sekarang singa yang menatap ular.

"Sepertinya aku tidak pernah menyuruhmu membuka ponselku tanpa seizin aku—pemiliknya, Hermione Granger. Kau tahu apa yang namanya privasi?"

"Dan kau tahu apa yang namanya munafik?"

Hermione dan Maurice memutar kedua bola matanya bersamaan. Tidak ada yang memakan sarapannya. Mereka berdua hanya saling menatap dan berpikir.

Apa yang dia inginkan?

"Maurice, aku menunggu jawabanmu, lho."

"Aku tidak peduli," sahut Maurice. "Itu hakku. Tidak ada yang melarangku untuk menyimpan foto Viktor Krum. Benar?"

"Tapi kalau itu berhubungan dengan aku—" Hermione berdiri dari kursinya. Beberapa detik kemudian, Maurice mengikuti jejaknya untuk berdiri satu sama lain. "—aku juga berhak tahu."

"Siapa yang bilang kalau itu berhubungan denganmu?"

"Aku."

"Jangan geer, Hermione Granger. Mentang-mentang Viktor Krum itu mantan kekasihmu, terus kau memojokkan aku dan bilang kalau aku tidakberhak untuk menyimpan fotonya, begitu?"

"Aku sama sekali tidak mengatakan seperti itu."

"Matamu mengatakannya."

"Tidak." Hermione merasakan kesabarannya semakin menipis. "Dulu aku memang punya hubungan dengannya, tapi sekarang sudah tidak—dan sebenarnya aku tidak peduli kau ada rasa atau tidak dengan Viktor Krum. Aku hanya menyangka kalau kau ingin aku memutuskan hubungan dengan Draco itu gara-gara kau iri dengan apa yang aku dapatkan—"

"Oh?" Seringaian muncul dari kedua bibirnya. "Jadi kau sudah mengetahuinya, ya?"

Hening sebentar.

"Aku masih menjalin hubungan dengan Draco." Hermione duduk lagi. Dia merasa tidak enak karena akhir-akhir ini menjadi cepat marah, apalagi dalangnya Maurice Granger. "Apakah itu cukup mengejutkanmu?"

"Apa?"

"Aku. Masih. Menjalin. Hubungan. Dengan. Draco. Malfoy."

"Apa?"

"Mungkin kau harus ke dokter. Pendengaranmu menjadi kurang baik sekarang." Hermione meneguk susunya, menghabiskan sarapannya, lalu mulai ke tempat cuci piring.

Sosok Maurice menghalangi jalannya.

"Jadi kau membohongiku?"

"Well, itu hanya bercanda." Hermione tersenyum tipis. Dia menjadi teringat percakapan kemarin dengan Draco.

"Kau mengerti kan, Draco? Pokoknya, aku akan bilang kita sudah putus. Beberapa hari kemudian, aku bilang aku hanya bercanda supaya dia kapok."

"Ya ya," ujar Draco sambil melihat Hermione dengan malas. "Asalkan itu bukan kenyataan—"

"Kau sudah mengatakan itu dua kali," kata Hermione dan mengacungkan kedua jari di tangan kanannya, jari telunjuk dan jari tengah. "Aku tahu apa yang kulakukan, Draco Malfoy."

"Bercanda?"

"Iya, ahahaha." Hermione tertawa. Lucu sekali—mengingat tidak ada yang pantas jadi bahan tertawaan. "Aku mempunyai lelucon yang bagus, 'kan?"

PRANG!

Terdengar suara piring dan gelas pecah. Hermione mengerjapkan mata. Ya, benar—suara itu adalah suara piring dan gelas yang pecah miliknya.

"Apa yang kaulakukan, Maurice—"

"Itu sama sekali bukan lelucon, Granger."

"Well, sebenarnya kau juga Granger."

"Sialan." Maurice menatap pecahan-pecahan beling yang berada di dekatnya dan Hermione. "Aku tidak punya waktu bermain-main denganmu, Hermione Granger."

"Sama. Maurice, kau bisa minggir? Aku harus membersihkan pecahan-pecahan yang berserakan ini."

"Silakan melewatiku kalau bisa."

Maurice mengambil dua pecahan yang cukup besar—dan tajam, tentunya—lalu menahan Hermione dengan menangkap kedua bahu mungil itu di kedua tangannya.

"Well?"

"Permisi."

Hermione membelalakkan matanya.

Dirasakannya perih setelah mengucapkan permisi. Perih. Perih. Perih.

Perih di lengannya. Kedua tekanan yang tadi dia rasakan di bahu sudah tidak ada, digantikan dengan perih yang menjalar di lengan kirinya.

Tentu saja, Maurice yang menahan bahu Hermione tadi sudah memindahkan tangannya untuk menusukkan pecahan beling tersebut kepada Hermione.

"Tolong dibersihkan ya, Hermione." Maurice tersenyum. Dia membuang pecahan yang tadi dia ambil sembarangan, lalu bersiap pergi. "Aku ada acara hari ini. Happy Sunday!" Maurice melangkahkan kakinya menjauhi daerah dapur dan ruang makan.

Darahnya terus mengalir. Daripada tidak melakukan apa-apa, Hermione memutuskan untuk merobek kain di bagian lengannya dan melilit bagian pergelangan tangan yang tadi tertusuk beling.

Sialan.

Hermione tidak pernah tahu kalau Maurice sekeji ini. Yang dia tahu adalah Maurice yang baik hati padanya, sepupu terbaiknya, dan orang yang tidak pernah membohonginya.

… sampai hatinya dipenuhi dengan iri dan dengki.

Sepertinya jiwa Maurice sekarang memang sudah tidak beres. Dan lagi—masalah Viktor Krum itu … analisisnya mendekati benar.

Atau memang benar?

.


.

"Apa yang terjadi dengan lenganmu, Hermione?"

Draco tersadar ada yang berbeda saat dia menggenggam lengan Hermione. Dia juga mendengar suara ringisan dari Hermione saat dia tidak sengaja menekan pergelangan tangannya.

"Oh, ini…"

Hermione tidak ingin merepotkan Draco, atau memicu adanya pertengkaran antara Draco dan Maurice lagi. Tapi Hermione juga tidak mau memendam sendirian, karena dia sadar bahwa Draco adalah orang yang paling dia butuhkan saat ini. Tapi—

Terlalu banyak tapi dan akhirnya Hermione memutuskan untuk bercerita. Draco duduk mendengarkan Hermione yang sedang bercerita dengan suara yang pelan di meja kantin, serta menunggu teman-temannya yang belum datang di hari Senin pagi ini.

Hermione tidak terlalu banyak menceritakan bagian soal Viktor Krum karena takut Draco akan mengamuk—well, Hermione juga tahu bahwa ada aturan 'tidak boleh menceritakan banyak hal tentang mantan kepada kekasih yang sekarang'.

Itu terjadi padanya saat ini.

Setelah mendengarkan cerita Hermione yang panjang, dimodifikasi sedikit dengan tidak membahas tentang Viktor Krum terlalu banyak, Draco berinisiatif untuk meluncur ke rumah Hermione sekarang dan membunuh Maurice.

"Draco, tunggu—"

"Dia itu brengsek, Hermione."

"Lagipula percuma." Draco duduk lagi dan mengernyitkan dahinya. "Dia juga bersekolah. Tetapi tentu saja tidak sekolah di sini. Intinya dia sudah berada di sekolahnya untuk bersekolah, dan jadwal pulang-perginya hampir sama dengan Hogwarts Senior High School."

"Keep calm, Draco." Hermione melanjutkan. Tolong, jangan ada lagi pertengkaran di belakangnya. Dia menginginkan semua masalah-masalah ini cepat selesai. "Kalau dia benar-benar suka dengan Viktor, mungkin aku akan menghubungi Viktor untuk mendekatinya—"

"Aku sama sekali tidak setuju dengan cara itu," sergah Draco cepat. Mendengar nama Viktor membuat telinga dan kepalanya sedikit panas. "Ide lain?"

"Wajah cemburumu itu lucu, Draco."

"Apa?" Sekarang Draco merasakan pipinya memanas. "Apanya yang wajah cemburu? Tidak! Sama sekali tidak, aku tidak—"

"Wajahmu memerah."

"Tidak. Oke, hentikan ini. Pokoknya aku tidak setuju cara yang tadi. Membunuh Maurice itu cara yang paling praktis, cerdas, cepat, dan tidak butuh Viktor Krum untuk melakukan apapun."

"Dan itu sadis."

"Dan itu sangat bagus. Baiklah, aku memutuskan untuk membunuh Maurice malam ini di rumahmu. Mungkin aku harus menyamar? Jadi ayahmu, misalnya?"

"Aku sama sekali tidak setuju dengan cara itu," sela Hermione, mengikuti kata-kata Draco tadi—sama persis. "Ide lain?"

"Mematikan Maurice."

"Itu bukan ide lain."

"Tetapi itu lain. Mungkin kita harus membuatnya gila sehingga dia harus berada di Rumah Sakit Jiwa dan tidak mengganggu kita lagi? Itu ide yang bagus, 'kan?"

"Tidak. Aku sama sekali tidak setuju dengan ide-idemu. Aku rasa kau yang gila."

"Apa?"

"Sepertinya kau yang gila, Draco." Hermione terkekeh. Draco hanya menatap Hermione dengan tatapan jangan-menertawakan-aku-seperti-itu.

"Siapa yang mau dibunuh?"

Hawa membunuh ini datang lagi. Draco sudah tahu, jadi dia langsung meninju pemuda tersebut di perut dengan kencang dan menatap Hermione dengan senyuman yang dipaksa.

"Hehe."

"Apa yang kaumaksud dengan hehemu itu?!" Hermione menjitak Draco di dahi. "Theo, kau tidak apa-apa?"

"Siapa yang mau dibunuh?"

"Itu—"

"Theo, mau bertarung sepulang sekolah?"

"DRACO!"

"Sekarang juga boleh."

"TIDAK!"

Hermione menahan Draco dan Theo di tengah-tengah. Dasar anak cowok gila, gerutu Hermione. Mana ada cara bertarung untuk menenangkan seseorang?

Yeah—kecuali untuk Theodore Nott.

"Apa-apaan sih, Hermione?"

"Jangan aneh-aneh." Hermione menahan Draco di tempat, sementara membiarkan Theo yang masih berdiri dengan wajah yang campur aduk. "Aku rasa membiarkannya lebih baik daripada harus tonjok-tonjokkan sepulang sekolah."

"Tapi menurutku—"

"Dan itu menurutmu, bukan menurutku—"

"Hai!"

Harry dan Ron datang dengan wajah ceria, diikuti oleh gadis berambut merah yang bergelayut manja di lengan Harry. Harry terlihat risih, lalu tiba-tiba dia tersadar dengan aura yang tidak mengenakkan dari Theo.

"Theo? Tadi aku ditanyai oleh Daphne Greengrass. Dia mencari—"

"Ron!"

"Maaf."

Ron memang ceplas-ceplos. Kadang ada gunanya dan lebih sering lagi kalau itu tidak ada gunanya. Hermione menatap cemas pada Theo. Hubungannya dengan Daphne benar-benar kacau.

"Di mana dia?"

Suatu kejutan kalau Theo mau menghampiri Daphne terlebih dahulu. Harry mangap, Draco mangap, Ron mangap, Ginny dan Hermione melotot. Serius nih?

"Err—tadi kalau tidak salah di depan ruang UKS—"

Theo langsung menyambar tas sekolahnya dan meninggalkan mereka semua untuk menghampiri Daphne. Harry panik. Ron heboh. Ginny khawatir.

"Apaan, sih?" tanya Hermione penasaran. "Bukannya itu pertanda baik kalau misalnya Theo mau menghampiri Daphne terlebih dahulu? Siapa tahu dia memaafkan gadis itu."

"Bukan itu masalahnya, Hermione," ujar Harry setelah sedikit tenang. "Masalahnya, perkataan Ron tadi belum selesai."

"Gara-gara kau memotong perkataanku, Harry Potter."

"Oke, maaf." Harry membetulkan letak kacamata yang tadi melorot ke hidung. "Sebenarnya Daphne Greengrass bukan mencari Theo."

"Apa?"

"Tadi Greengrass menanyakan keberadaan Blaise Zabini kepada kami bertiga."

"Apa?"

"Sebenarnya Greengrass tidak bermaksud mencari Theo—"

"KENAPA KAU TIDAK BILANG DARITADI!" seru Hermione dengan kencang. Dia langsung panik. Beberapa siswa yang sudah berada di kantin tersebut menatap Hermione dengan tatapan ini-sekolah-bukan-hutan. "Keadaannya akan tambah bertambah buruk."

"Memangnya kenapa, Hermione?"

"Theo itu sedang dalam mood terburuknya, Ginny Weasley." Hermione menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. "Aku takutnya dia salah paham dengan Blaise jika menemui Blaise dan Daphne sedang dalam keadaan yang berdekatan. Lagian, Ron, kenapa sih kau harus memberitahukan Theo kalau Daphne mencari Blaise?"

"Aku pikir dia tahu keberadaan Blaise."

"Bodoh," desis Hermione. "Aku ingin mengejarnya, tapi sepertinya sudah terlambat…"

"Jangan." Draco menahan Hermione yang baru saja ingin berdiri mengejar Theo. "Keadaannya akan lebih parah jika kau menyusul dia."

"Semoga saja Blaise belum datang atau Daphne tidak mengatakan dia mencari Blaise."

"Tunggu, kenapa Daphne mau mencari Blaise?"

Iya. Kenapa Daphne Greengrass yang tidak pernah berbicara satu patah katapun pada Blaise ketika bertemu sekarang malah mencari Blaise?

Kenapa?

"Draco, kau tahu kenapa?"

Draco menggeleng sambil berpikir keras. Oke, dia sudah lama mengenal Blaise dan dia tahu kalau Blaise memang genit terhadap perempuan, terutama kakak kelas. Jarang sekali dia mengincar yang seangkatan, apalagi adik kelas. Seandainya dia berniat untuk mengincar Greengrass pun—bukannya dia tahu kalau Greengrass dan Theo memiliki 'hubungan tanpa status' yang tidak jelas sampai sekarang?

Bukannya Blaise yang paling mendukung Theo dengan Daphne?

Apaan, sih? Kenapa jadi malah kacau begini?

Rasanya Draco benar-benar ingin membunuh Maurice Granger agar semua kekesalannya hilang. Maurice sialan. Berani sekali dia menusuk Hermione dengan beling. Draco tahu Hermione orang yang kuat, berkepribadian, dan tidak manja—itu sebabnya dia menyayangi Hermione sepenuh hati walaupun masih banyak orang yang lebih dan lebih daripada Hermione. Tapi kalau sampai main tangan…

Draco jadi pusing. Semoga masalah Theo-Daphne-Blaise cepat seleasi. Dia juga harus menanyai Blaise secepatnya; apa urusan pemuda berkulit gelap itu dengan Daphne Greengrass. Dia tidak tahu ya bagaimana kalau Theo sudah marah?

.


.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.

.

.

.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.

.

.

.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.

Maurice menggerutu, tapi kemudian dia tersadar dan diam. Dia kembali menatap ponselnya, berusaha menghubungi nomor yang sudah tidak aktif dari tiga bulan yang lalu.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.

Di sekolah, Maurice memang termasuk tipe yang introvert—penyendiri. Dia tidak suka bergaul dengan anak-anak di sekolahnya, dia sendiri tidak tahu kenapa. Dia lebih suka membaca buku atau memainkan ponselnya selama istirahat berlangsung.

Dan kali ini dia mencoba untuk menghubungi nomor Viktor Krum ke-dua puluh empat kalinya. Andai saja dia tahu kalau nomor itu sudah tidak aktif dan sudah diganti.

"Kenapa sih…" Maurice menggigit bibirnya dengan cemas. Dia takut terjadi apa-apa dengan Viktor. "Dia tidak apa-apa, 'kan? Kenapa aku tidak bisa menghubunginya?"

Maurice mencoba lagi, gagal lagi.

Mungkin benar, kalau dia sudah gila.

Maurice memutuskan untuk menghentikan panggilannya yang sia-sia setelah menghubungi nomor Viktor lebih dari tiga puluh kali. Sepertinya dia memang harus mengunjungi Viktor sepulang sekolah nanti di rumahnya dan mendapatkan nomornya…

Tuh, kan. Dia benar-benar gila.

.


.

"Hermione!"

Draco mempercepat langkahnya. Dia menyusul Hermione yang melangkah cepat sekali ke ruang UKS. "Hermione, tunggu!"

"Diam, Draco!" seru Hermione dengan tidak sabaran. "Aku tidak akan tenang kalau tidak tahu sama sekali apa yang sedang terjadi antara Theo, Daphne, dan Blaise."

"Kita bisa menanyainya nanti."

"Bagaimana kalau tidak ada yang mau menjawab pertanyaan kita?" tanya Hermione gusar. "Nah, Draco, pernahkah kau berpikir kalau persahabatan kita hancur gara-gara cinta?"

"Apa?"

"Yang aku maksud bukan kita, tentu saja." Hermione memelankan langkah dan suaranya, lalu Draco mulai menyeimbangkan posisinya sehingga sekarang sejajar dengan Hermione.

"Lalu siapa? Harry dengan Ginny?"

"Aku bisa merasakan kalau Harry tidak nyaman dengan gadis itu."

"Well, lalu?"

Hermione diam, menunggu agar Draco berpikir dan menebak siapa yang dia maksud.

"Tunggu, Hermione—maksudmu bukan Theo, Daphne, dan Blaise, 'kan?"

"Seharusnya kau sudah tahu kelakuan Blaise dari dulu."

"Tapi Blaise itu orangnya loyal dan tidak mungkin mengkhianati sahabatnya sendiri—" perkataan Draco terpotong.

"Kita hanya bisa menyiapkan kemungkinan yang terburuk, 'kan, Draco?"

Draco diam. Dia berpikir. Tidak mungkin, 'kan? Seandainya Daphne memutuskan untuk menemui Blaise, mungkin alasan yang paling logis adalah meminta Blaise untuk membantunya mendapatkan Theo.

Yah, mungkin itu yang terjadi.

Mungkin.

… mungkin.

"Sebentar lagi kita akan sampai di ruang UKS."

Draco mengangguk patuh. Dia sekarang memutuskan untuk kembali di belakang Hermione, untuk menunggu tindakan Hermione selanjutnya.

"Sial!" Draco berseru tertahan. Mulutnya seperti dibekap oleh sesuatu. Itu tangan Hermione.

"Hwemiawebwaone!"

"Diam!" desis Hermione di telinga Draco. "Sekarang sepertinya benar-benar akan ada pertengkaran lagi. Jangan banyak komentar, Draco."

Draco mengangguk dan akhirnya Hermione melepaskan bekapannya.

"What the—"

.


.

"Aku kira kau berniat menemuiku di sini, Greengrass," suara Theo penuh penekanan. Tajam. Dalam. Dan mengerikan untuk situasi saat ini.

"Aku sama sekali tidak menyebutkan namamu—" ujar Daphne takut-takut. Dia menatap Blaise yang berada di sebelahnya. "Aku rasa aku bertanya pada Potter dan Weasley keberadaan Blaise, bukan kau, Theo—"

"Oh, Blaise, ya?" Theo menarik kedua alisnya. Baru kali ini dia menangkap kesan yang aneh. Oh, yeah, Daphne Greengrass yang menyebutkan nama kecil Blaise itu mungkin adalah kesan 'aneh' yang dia tangkap.

"Kalau kau berkenan, Theo, bisa meninggalkan aku dan Daphne sebentar?"

Blaise. Daphne. Bagus. Sejak kapan mereka berdua jadi seakrab itu? Dan sejak kapan, demi apapun, sejak kapan Blaise menggenggam tangan Daphne seperti itu?!

"Kau mengusirku, Blaise?" Theo merasakan dia ingin membunuh seseorang siapapun juga saat ini. Siapapun. Membunuh Blaise. Atau Zabini. Atau Blaise Zabini.

"Hanya sebentar," sahut Blaise sambil menampilkan cengirannya. Theo terlihat tidak suka. "Boleh, 'kan? Yah, kalau kau cemburu sih—"

"Aku sama sekali tidak cemburu." Theo mengepalkan kedua tangannya erat. Daphne rasa dia ingin kabur saja sekarang, asalkan tidak bersama Theo yang sedang marah. "Jadi bisa kauceritakan tentang genggaman mesra kalian berdua di hadapanku sekarang?"

"Ini?" Blaise mengangkat genggaman tangannya dengan Daphne tinggi-tinggi, menunjukkan kepada Theo. "Menurutmu ini apa? Yeah, kurasa aku tidak mau membiarkan perempuan ini tersakiti terlalu lama, Theo. Jadi lebih baik aku sembuhkan saja dia."

"Maksudmu?"

"Maksudku, kau itu pemuda paling labil yang pernah aku temui. Plin plan. Dan kau seperti banci."

Sebuah tinju tepat di wajah mendarat di wajah Blaise. Genggamannya dengan Daphne terlepas. Hermione bisa melihat langsung kalau Theo benar-benar mengerikan. Really. Benar-benar mengerikan.

"Ayo kita buktikan kalau aku bukan banci," desis Theo. "Dan aku sama sekali tidak plin plan."

"Lalu apa maksudmu membuat Daphne merasa terbuang seperti itu?"

"Terbuang?"

"Bukannya setelah kau berpacaran dengan Padma, kau meninggalkannya begitu saja? Terus ketika putus, kau mulai mendekatinya lagi—"

"Aku sama sekali tidak mendekatinya, sialan."

"Well, tapi menurutku begitu."

Daphne menahan bahu Theo. Sekali, dan langsung ditepis kasar oleh Theo.

"Lihat? Kau bermain kasar, bahkan terhadap perempuan. Seumur hidupku aku berjanji untuk tidak memukul perempuan, termasuk banci."

Kali ini tendangan.

Sepertinya Blaise senang sekali memainkan emosi Theo. Dia tidak berusaha menghindar, tidak berusaha mengelak, apalagi berusaha untuk menyerang.

"Pukul saja sepuasmu. Aku sudah bilang kalau aku tidak pernah menyerang perempuan, termasuk banci."

Cukup. Theo yang sedang marah tidak bisa dikendalikan dengan apapun. Theo yang sedang marah lebih mengerikan daripada Hermione ataupun Draco.

Tidak. Bahkan tidak bisa dibandingkan dengan siapapun.

Theo mengangkat tubuh Blaise yang sudah berdarah di beberapa tempat, lalu bersiap-siap untuk melemparnya ke luar gedung sekolah. Ini sudah keterlaluan dan parah.

"Theo!"

Daphne berusaha menurunkan Blaise dari tangan Theo. Melihat wajah Daphne yang terluka seperti sekarang membuat Theo luluh dan melepaskan cengkramannya pada Blaise.

"Blaise, kau juga! Kenapa sih kau—"

Ucapan Daphne terhenti karena bibirnya terkunci oleh bibir yang lain.

Dan jangan salahkan Hermione dan Draco yang amat terkejut dengan semua kejutan ini. Situasi sedang kacau.

Benar-benar kacau.

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Hello, guys! Sudah lama nggak ketemu c;

Well, ada yang tahu siapa yang mencium Daphne di scene terakhir? Blaise atau Theo? Theo atau Blaise?

Maaf updatenya lama sekali, semuanya. Saya benar-benar sibuk sama tugas dan ulangan yang selalu ada dan minta 'dilahap'. Apalagi mendengar kabar kalau FFn sedang kacau karena diblock apalah itu, benar nggak sih? Saya berharap kalau FFn baik-baik saja o/

Dan di sini sudah mulai terungkap 'kan kenapa Maurice jadi sebeeeel banget sama Hermione padahal dulunya dia sayang banget sama Hermione? Di sini Maurice bukan 'gila' beneran ya. Maksudnya sikapnya menjadi agak berbeda yang Hermione dan dia sendiri kenal sehingga Hermione dan MauriceDraco juga ikut-ikutan untuk menyebut Maurice gila.

Theo saya bikin super super super cepet banget tersulut emosinya. Maklumin lah ya, remaja labil. Dia itu termasuk tipe diam-diam menghanyutkan. Biasa diem-diem doang, sekarang mainnya pukul-pukulan.

Scene Dramione di sini agak kurang, saya tahu itu ;w; maafkan saya. Ini genrenya Romance &Friendship, right? Jadi saya berusaha untuk menyeimbangkan keduanya:D

Perbaiki kesalahan-kesalahan saya, ya. Dan saya berterima kasih kepada readers yang masih mau menunggu fic ini walaupun updatenya lama banget. Makasih yang udah nungguin, dan udah support. …pembaca setia LFH, ada yang mau ikut poll di profile saya?

Oke, ini ocehannya cukup panjang. Saya beri penjelasan singkat tentang tokoh yang di chapter ini konfliknya lebih terasa, biar nggak terlalu bingung.

Last, review? :D

.:. balasan review .:.

Jeanimint: Nggak apa-apa, kok. Hehe. Sudah update kok. Mau review lagi? ^^

Adis: Oke, nak! o/ oke, ini balasan sejuta peluk dan cium untuk kamu XD masa sih gaada typo sama sekali? Wkwk. Zuzo? Alay:p yang bener cuco XD amin deh amin amin :') ini sudah update. Mau review lagi? ^^

dramione lovers: Wah maaf yaa hihi, tapi emang Maurice di sini dibikin nyebelin, kok. Ini sudah update, mau review lagi? ^^

Guest: Ini sudah update, mau review lagi? ^^

Upil: Terimakasih, hehe :'33 maaf banget ya kalau lama banget updatenya, abis sibuk hehe :'3 ini sudah update, mau review lagi? ^^

Fadila malfoy: Ini sudah dilanjutkan hehe sudah update, mau review lagi? ^^

moonlight: kayaknya aku tahu ini siapa MAKASIH! :D

salsabienlananda: Iya gapapa, tapi sudah review kan? Hehe XD beneran keren? Makasih banyak yaa :')) makasih juga supportnya. Ini sudah update, mau review lagi? ^^

Rev: Wahaha chapter 12 apa 13 nih? XD memang, hihi. Ini sudah update, mau review lagi? ^^

Yang punya akun FFn saya balas lewat PM ya. Terima kasih atas reviewnya, saya sangat menghargainya!:D