Kalau ada yang menanyainya apa yang membuatnya jatuh hati dengan pria bertubuh besar dan tegap itu, dia hanya menggelengkan kepalanya.

Cinta tidak butuh alasan, 'kan?

Dia tidak tahu mengapa dia bisa mencintai Viktor Krum, mantan kekasih sepupunya itu, dia tidak tahu mengapa … tapi sekarang dia tahu alasannya. Mungkin alasan ini terdengar masuk akal; mungkin juga tidak.

Maurice Granger mencintai Viktor Krum karena Maurice mencintainya. Cukup. Tidak ada alasan lain lagi.


Disclaimer:Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many pairing.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 14: Mantan


Ciuman itu terlepas setelah Daphne mendorong-dorong pemuda yang berada di hadapannya. Orang ini monster. Ganas, liar, dan menyeramkan. Daphne ingin menangis sekaligus tertawa. Apa yang terjadi?

"Theo…"

Keadaan hening beberapa saat. Ada saat di mana Daphne ingin membalas ciuman yang tiba-tiba itu, mendesak hatinya yang menggebu-gebu, melayangkan seluruh jiwanya, membuai otaknya yang sedang terfokus dengan Theodore Nott, dan membuat seluruh inderanya seperti lumpuh.

Terlalu indah untuk dirasakan dan terlalu pedih untuk dikenang, mengingat ciuman tadi—mungkin—hanyalah pelampiasan Theo yang kesal, marah, dan sedang ingin membunuh orang.

"Itu baru laki, bukan banci," komentar Blaise setelah keheningan masih berlangsung selama beberapa menit. Dia duduk dan bersandar di salah satu dinding. "Hoi, Theo. Lain kali coba lakukan lebih lembut dan menyenangkan. Aku tak suka caramu yang seperti itu, terkesan liar."

"Diam, brengsek."

"Aku sedang menyulut api yang membara, ya?" Blaise terkekeh. Tidak terlihat marah sedikit pun setelah semua yang dilakukan Theo padanya. "Aku tidak bermaksud untuk membuat Daphne berpaling darimu, tenang saja. Aku hanya menyembuhkannya. Aku sudah bilang, 'kan?"

"Berisik."

Theo, yang kini hanya bisa berkomentar dengan kata-kata sinis, juga tidak tahu apa yang dia lakukan tadi. Mencium Daphne di depan Blaise—well, dia tidak tahu ada dua pengintip lainnya.

"Theo, Blaise benar," ujar Daphne akhirnya. Dia meringis ketika menyadari ada bagian dari bibirnya yang tergigit. "Aku hanya meminta Blaise untuk membantuku agar bisa mendapatkanmu kembali, aku tidak tahu lagi cara apa yang bisa aku lakukan, aku ter—aku terlalu … men—"

Pemuda yang diajak bicara menghampiri Daphne dan mengacak rambutnya pelan, lalu mendatangi Blaise yang masih duduk dan membersihkan sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah.

Theo mengulurkan tangannya. Blaise menatap tangan yang terulur itu dengan pandangan yang meledek. Theo menatapnya bete.

"Oke, oke." Blaise menerima uluran tangan itu, berdiri, lalu tertawa terbahak-bahak. Theo menyipitkan matanya.

"Maaf," bisiknya, nyaris tak terdengar, mungkin yang mendengarnya hanya dia sendiri dan Blaise. Tapi Blaise cuma nyengir dan menepuk pundak sahabatnya. "Lain kali aku akan menghajarmu kalau tidak sedang dalam mode banci."

Blaise mengambil langkah seribu sebelum Theo kembali menyerangnya.

.


.

"Yah, begitulah…" Hermione lega dan segera menarik Draco menjauh dari tempat kejadian. Draco mencibir.

"Pertunjukannya belum selesai, tahu. Siapa tahu Theo akan mencium Greengrass lagi—"

"Draco!"

Draco nyengir. Lorong kelas sepi, mungkin tadi sudah bel pelajaran, tapi Draco tidak peduli. Dia berhenti di salah satu lorong.

"Draco?"

Draco memeluk Hermione tiba-tiba dengan erat. Rasanya hangat walaupun musim dingin, rasanya nyaman walaupun mereka berpelukan di lorong sekolah, rasanya mereka menjadi lebih hidup…

"Kau ingat sekarang tanggal berapa, Hermione?"

Draco masih memeluk Hermione yang kini juga balas memeluknya. Hermione mengingat-ingat, dan dia tidak tahu kenapa tiba-tiba Draco menanyai itu padanya.

"Umm…"

Tentu saja mereka sedang berada di bulan Februari, di mana puncaknya musim dingin di Eropa sedang berlangsung. Tanggalnya … sebelas?

"Sebelas Februari?" tanya Hermione. Dia akhir-akhir ini menjadi kurang memerhatikan tanggal. Lagipula, hidupnya sedang kacau, dan dia sedang berusaha memerbaiki hidupnya yang kacau ini.

"Tepat," bisik Draco tepat di telinga Hermione. Draco menyeringai. "Dan tiga hari kemudian adalah Hari Valentine."

Valentine … sekarang Hermione tahu kenapa Draco menanyai soal tanggal kepadanya.

"Draco, bisa lepaskan pelukanmu? Aku sudah ketinggalan pelajaran, tahu…"

Rupanya Hermione baru menyadari kalau mereka terlambat masuk kelas.

"Sekali-sekali sepertinya tidak apa-apa, Hermione. Kau terlalu memerhatikan pelajaran dan jarang memerhatikan aku—"

"Apanya—" Hermione merasakan wajahnya memanas. "—aku juga memerhatikanmu—"

"Jarang sekali." Rasanya Draco seperti ingin membunuhnya dengan membuat tulangnya remuk. Pelukannya semakin erat. "Aku merasa nyaman seperti ini, Hermione Granger."

"Draco, sakit," rintih Hermione akhirnya. Draco melepaskan pelukannya. "Sorry, aku terlalu—yeah, aku—"

Mengucapkan 'rindu' saja sulit.

Hermione tersenyum memaklumi. "Ayo ke kelas sekarang."

"Tunggu, Hermione."

Hermione menghentikan langkahnya.

"Kenapa?"

"Kau tidak iri dengan Theo dan Greengrass yang tadi berciuman dengan ganas di depan Ruang UKS tadi?"

Hermione hanya memukul pundak Draco pelan lalu berjalan cepat menuju ruangan kelasnya. Draco nyengir.

.


.

Namanya sudah lama tidak didengar, tapi sekalinya didengar, dia membawa kabar heboh.

Gadis yang bisa dikatakan perfect itu, ya, katakanlah tidak ada yang sempurna, dan itu berlaku baginya, terutama sifatnya yang angkuh. Di kantin sekolah dia menggoyang-goyangkan bahu Cho Chang dan menunjukkan wajah yang 'tidak percaya' sehingga membuat anak-anak yang lain menoleh kepadanya.

"Seriusss? Seriusss?! Masa sih?"

Cho Chang juga menceritakannya dengan tidak ikhlas, entah apa yang terjadi, terkadang sepasang matanya terlihat berkaca-kaca ingin menangis.

"Ada apaan?" Ron menyikut lengan Harry untuk melihat ke arah mantannya dan Fleur Delacour. "Heboh amat itu berdua."

"Oh." Harry melihat mereka berdua sekilas, lalu menatap Ron lagi. "Cedric Diggory kecelakaan. Kakinya patah. Tidak tahu dua atau hanya satu yang patah."

Draco—dengan tidak elitnya—menyemburkan minuman yang hampir saja tertelan.

"HAH?!" Serius, seperti bukan Draco Malfoy. "Kok kau tidak memberitahukan aku?!"

"Memangnya penting ya?"

"PENTING LAH!" Kemudian Draco sadar diri dan kembali jaga image. "Futsal! Futsal bulan depan gimana kalau nggak ada dia?!"

"Batal," jawab Harry dengan senang dan lega. Pihak sekolah juga tidak mau menyiksa batin Cedric yang sangat giat berlatih untuk mengikuti pertandingan tersebut, tetapi malah tidak bisa mengikutinya. "Dari awal aku juga udah nggak niat ikut pertandingan itu. Tapi kasihan juga sih Diggory, dia niat sekali mengikuti pertandingan itu."

"Aku juga niat," sahut Draco. Dia masih tidak terima pertandingan futsal untuk bulan depan dibatalkan. Otomatis sekolah mereka tidak akan bisa memenangkan kejuaraan untuk tahun ini. "Memangnya kenapa bisa sampai patah tulang begitu?" Rupanya prihatin juga dia. Yang lain ikut mendengarkan juga.

"Entahlah, tanya saja sama Delacour. Dia kan sepupumu."

Hermione langsung menatap Draco dengan tatapan gak-usah-tanya-dia.

"Kenapa?" tanya Draco langsung. Tumben Hermione bisa melarang-larangnya seperti itu. Yah, Draco tidak marah sih, dia senang kalau Hermione jadi protektif seperti itu.

"Ng—nggak! Nggak apa-apa."

"Aku hanya mencintaimu, Hermione, tenang saja~"

Hermione langsung meneguk air putihnya buru-buru dan tidak berani menatap Draco langsung.

"Haha, lucu kalian."

"Berisik kau, Blaise Zabini."

"Apa sih, Malfoy?"

"Kau iri karena tidak punya pacar, ya?"

Kali ini Ron yang tersedak makanannya. Mungkin dia tersinggung atau apalah, tidak tahu. Ginny langsung menepuk-nepuk pundak Ron dan ditepis cepat olehnya.

"Walah, Ron, kenapa kau tidak cari pacar juga? Jangan ikut-ikutan Zabini," celetuk Draco iseng. Draco dan Blaise memang paling tidak bisa akur, dan mereka suka memanggil dengan nama belakang walaupun hanya bercanda.

"Sialan," dengus Ron dan Blaise bersamaan.

"Hoi, aku juga belum punya pacar." Harry menatap Draco dengan sengit. "Tau deh yang sekarang pacaran terus…"

"Bukan begitu, Harry," sela Hermione. Dia langsung menendang kaki Draco yang mengaduh (pura-pura) kesakitan. "Mungkin karena sebentar lagi Valentine, dia takut kalau tidak ada yang memberikan cokelat atau kartu Valentine kepada kalian."

Mulut mereka membentuk O besar sementara Hermione cengengesan.

"Ya. Pokoknya gitu…" sambung Draco. Padahal tujuannya murni untuk meledek. Ya sudahlah…

"By the way, sudah lima menit istirahat dan Theo belum muncul juga?" tanya Blaise. Draco langsung menyahut.

"Mungkin ada 'urusan'." Dia membentuk tanda kutip khayalan di udara pada kata urusan. Blaise langsung mengangguk-angguk paham.

"Ada apaan?" tanya Harry dan Ron penasaran, sementara Ginny diam saja tetapi juga ada rasa penasaran di wajahnya.

"Jadi begini …"

.


.

Theo memutuskan untuk merenung di balkon, ditemani dengan Daphne Greengrass yang berjarak setengah meter di sebelahnya.

"Theo—"

"Diam dulu, Daphne."

Ada kegelisahan tersendiri yang tak dapat diungkapkan. Daphne memerhatikan orang yang berlalu-lalang, tapi sebenarnya dia menyadari kalau dia tidak begitu memerhatikan. Lagipula, Pansy dan Astoria pasti sudah menunggunya di kantin. Tapi kesempatan berduaan dengan Theo sangat jarang.

Theo juga sama. Setelah kelakuannya yang bisa dibilang tidak sopan itu, mencium Daphne dengan kasar dan melukai bibirnya, Theo tidak berani berbicara lebih banyak. Yang dia lakukan hanyalah menghela napas beberapa kali.

"Daphne, kau suka warna apa?"

"Hah?"

Daphne cengo. Menanyakan warna kesukaan? Kenapa tiba-tiba sekali?

"Jawab saja."

"Emm…"

Theo menunggu jawaban Daphne sambil menyangga wajahnya dengan tangan di balkon.

"Sebenarnya aku suka hijau zamrud," jawab Daphne malu-malu. Untuk apa Theo menanyakan hal itu kepadanya?

Untuk pertama kalinya setelah lima menit berada di tempat yang sama dengan jarak setengah meter, Theo menatap mata Daphne. Sepasang mata hijau Daphne yang nyaris menyerupai hijau zamrud.

"Seperti yang kuduga." Theo memasang wajah datar kemudian kembali menghadap balkon.

"U—untuk apa?"

"Tidak apa-apa." Theo membalikkan tubuhnya dan membelakangi balkon tersebut. "Aku hanya bertanya."

Kemudian Theo pergi dan berjalan dengan santai menuju kantin, tempat di mana teman-temannya sedang berkumpul.

Daphne menatap Theo dengan kebingungan.

.


.

"Nah, lalu—"

"Maaf menginterupsi sebentar." Tiba-tiba ada suara yang memotong cerita Draco dan Blaise yang sedang menceritakan peristiwa Theo-Daphne tadi. Sebenarnya Blaise sebal karena dibuntuti oleh Draco dan Hermione, tapi sudah terjadi, jadi dia tidak berkata apa-apa lagi.

"Lavender Brown?"

"Ya, ini aku." Lavender mencuri pandang ke arah Ron sebentar, kemudian menatap Hermione dan Draco bergantian. "Kalian dipanggil oleh Professor McGonagall."

"Hah?" Hermione shock. Dia tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa, kenapa tiba-tiba dia dan Draco dipanggil? Apa gara-gara mereka lalai dalam menjalankan tugas sekolah dan tugas OSIS? Apa guru-guru tahu mereka berpacaran dan mereka jadi kurang bertanggung jawab? Apa—

"Ada apa memangnya?" Draco menggenggam tangan Hermione, berusaha menenangkan gadis itu. "Kami melakukan kesalahan apa?" lanjutnya.

"Mana aku tahu," kata Lavender jengkel. "Aku sedang menyisir rambutku dan tiba-tiba dia datang untuk menyuruhku memanggil kalian berdua."

"Draco…" Hermione menatap Draco cemas. Seumur hidupnya dia adalah siswi paling teladan yang ada di sekolah, tidak pernah mendapat masalah dengan guru, bertanggung jawab, disiplin—

"Cepatlah." Lavender menatap mereka berdua tidak sabaran. "Nanti aku yang kena omel."

Lavender melirik ke arah Ron sekali lagi, sementara yang dilirik pura-pura tidak tahu apa-apa. Kemudian dia pergi menjauhi kantin.

"Blaise, lanjutkan saja ceritanya. Aku dan Hermione akan menemui Professor McGonagall sekarang."

"Hati-hati, mate." Blaise menepuk pundak Draco dan Hermione bersamaan. "Ceritakan pada kami apa masalahnya nanti."

Draco memberikan jempol pada mereka semua dan menyusul Hermione yang sudah jalan duluan. Hermione berkeringat dingin dan perutnya serasa mulas. Dia tidak pernah melanggar peraturan. Dia disiplin…

"Hermione, jangan khawatir. Aku ada di sini."

"Tapi…"

"Tenanglah. Kita juga belum tahu pasti apa masalahnya. Mungkin saja tugas khusus untuk kita atau apa, belum tentu kita akan mendapat masalah, 'kan?"

Hermione mengangguk pelan. Dia tegang sekali. Apa yang terjadi sampai dia dan Draco dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah?

.


.

Tok, tok.

"Masuk."

Dua orang masuk ke dalam ruangannya. Perempuan dan laki-laki. Hermione Granger dan Draco Malfoy.

Minerva menatap mereka berdua tajam dan menyuruh mereka duduk dengan gestur tangannya. Wajah pucat Hermine membuat Minerva sedikit prihatin.

"Kalian tidak melakukan kesalahan apa-apa."

Hermione langsung mengembuskan napas lega dan Draco sedikit tersenyum. Setidaknya mereka tidak bermasalah seperti yang mereka pikirkan tadi.

"Langsung to the point saja … aku rasa kalian sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Mr. Diggory."

Hermione dan Draco mengangguk. Mereka baru saja mengetahuinya dari Harry Potter tadi.

"Sampai detil atau tidak?"

"Umm, kurasa tidak," jawab Hermione. Mereka hanya mengetahui garis besarnya bahwa Cedric kecelakaan dan kakinya patah.

"Berarti aku harus menjelaskan dari awal." Minerva memijit-mijit pelipisnya. Dia terlihat lelah, ditambah kerutan-kerutan wajahnya yang tidak dapat disamarkan lagi.

"Ini peristiwa yang … well, menyedihkan. Kemarin sepulang sekolah, Cedric Diggory menaiki motor kebut-kebutan, mungkin dia sedang depresi—"

Mungkin karena hubungannya yang retak dengan Cho Chang, batin Hermione.

"—yang selanjutnya terjadi adalah dia tidak memerhatikan jalan, kemudian dia tertabrak sebuah mobil sedan dan membuat Mr. Diggory tertimpa motornya sendiri dan membuat kedua kakinya patah."

"Mengerikan."

"Sementara itu, pengemudi mobil sedan itu hanya mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya, tetapi tidak sampai patah tulang. Dia membiayai seluruh biaya Rumah Sakit Mr. Diggory, padahal bukan sepenuhnya kesalahannya."

"Jadi?" tanya Draco. Untuk apa mereka berdua dipanggil ke sini?

"Karena kalian berdua selaku Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS, kami, pihak sekolah, ingin mengunjungi Mr. Diggory dengan beberapa perwakilan murid. Ketua OSIS, Wakil Ketua OSIS, dan beberapa teman seangkatannya."

"Jadi begitu…" Draco dan Hermione bergumam bersamaan lalu tersenyum. Mereka mengangguk kompak.

"Kalian setuju? Baguslah. Kita akan mengunjunginya sepulang sekolah."

"Oh iya, Professor. Siapa yang dimaksud dengan teman seangkatan Diggory yang akan mengunjungi dia juga?"

"Oliver Wood dan Fleur Delacour." Hermione berjengit mendengar nama Fleur Delacour. Walaupun mereka sepupu, tetap saja kan, mereka itu terlihat cocok—Hermione benci mengakuinya—dan mereka nanti akan berada di dalam satu kendaraan untuk mengunjungi Cedric.

"Tadinya pihak sekolah menawarkan Ms. Chang," ujar Minerva pelan. "Tetapi Ms. Chang terlihat ragu dan akhirnya menolak. Lalu kami gantikan dengan Ms. Delacour."

"Wow," komentar Draco. "Cho Chang berinisiatif menghindari Cedric Diggory."

"Kurasa pertemuan kita sampai di sini dulu." Minerva tersenyum ramah. "Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing."

"Terima kasih, Professor."

.


.

Setelah mengatakan semua kejadian kepada teman-temannya dan berpisah saat pulang sekolah, Draco, Hermione, Oliver, dan Fleur berada di satu mobil dan suasana sedikit canggung.

Mereka ditemani oleh Mr. Lupin yang sedang menyetir mobil. Oliver duduk di sebelah Mr. Lupin, sementara Hermione, Draco, dan Fleur duduk berderet di belakang.

"Jadi …" Mr. Lupin membuka pembicaraan. "… kalian akan mengunjungi dua orang hari ini. Terserah kalian sistemnya mau seperti apa, mau kalian berempat mengunjungi dua-duanya secara bergantian, atau membagi menjadi dua kelompok masing-masing dua orang dan langsung mengunjungi dua korban tersebut."

"Dua?" Draco menaikkan alisnya. "Seingatku, Professor McGonagall hanya mengatakan kalau kita akan menjenguk Cedric Diggory."

"Kalian belum diberitahu?" sela Oliver yang duduk di depan. "Kita akan mengunjungi dua korban kecelakaan."

"Siapa?" tanya Hermione penasaran.

"Yang satu mengendarai motor, yang satu mengendarai mobil sedan. Ingat cerita Professor McGonagall?" Mr. Lupin mencoba memberitahu mereka.

"Oh, jadi kami akan mengunjungi yang membawa mobil sedan itu juga," kata Hermione menyimpulkan. Dia mengangguk-angguk.

"Granger, memangnya kau tidak tahu siapa yang membawa mobil sedannya?" Fleur angkat bicara.

Hermione mengernyitkan dahinya. Draco juga ikut-ikutan bingung. Apa maksudnya?

"Aku tidak tahu," jawab Hermione. "Memangnya aku kenal orangnya? Siapa?"

Fleur berdecak-decak. Mr. Lupin hanya tersenyum simpul dan Oliver Wood menatap pemandangan di luar jendela.

Draco dan Hermione menjadi orang paling bodoh di mobil.

"Siapa?" ulang Hermione. Benar-benar penasaran.

"Kau sangat mengenal orangnya, Granger. Alumni tahun lalu."

Draco dan Hermione sama-sama menukar pandangan yang bertanya-tanya.

"Viktor Krum."

.


.

Setelah di mobil shock setengah mati, ditambah Draco yang kurang senang walaupun Viktor Krum hanyalah korban kecelakaan, ditambah Delacour yang terlampau ketus kepadanya, ditambah dengan kegundahannya sendiri karena Draco (lumayan) akrab dengan Delacour, ditambah—

Ah, sudahlah. Hermione harus memfokuskan dirinya di Rumah Sakit. akhirnya mereka memutuskan untuk membagi diri mereka menjadi dua kelompok, Draco-Hermione mengunjungi Viktor Krum, Oliver-Krum mengunjungi Cedric Diggory, dan Mr. Lupin akan mengunjungi mereka berdua bergantian, supaya mereka bisa mengunjungi sebelum jam besuk habis.

"Draco, kuharap kau jangan membuat keributan di Rumah Sakit."

"Yah, kalau dia tidak mencoba macam-macam, aku tidak akan mencari ribut."

"Draco." Hermione berhenti sebentar, mencoba menghentikan Draco dari pikiran aneh-anehnya. Hermione mengeluarkan nada yang serius. "Aku mengunjungi Viktor untuk mengetahui keadaannya, sekaligus untuk membereskan masalahku dengan Maurice. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kau boleh di sana, mendengar dan memerhatikan, tapi jangan menginterupsi. Tolong."

Draco tidak bisa mengatakan apa-apa karena raut wajah Hermione yang benar-benar serius. Kemudian mereka berdua berjalan lagi menuju ruangan Viktor Krum.

"Jika masalahku dan Maurice clear, bebanku menjadi sangat ringat. Itu masalah terbesarku sekarang, Draco. Mungkin Viktor mau mencoba menghubungi Maurice, mengajak kencan, terserahlah … aku senang bisa membantu Maurice mendapatkan Viktor."

"Bagaimana kalau Krum masih mencintaimu?"

Langkah Hermione terhenti mendadak. Dia mengigit bibirnya dan memainkan seragam sekolahnya.

"Aku … aku tidak tahu."

"Kau tidak tahu perasaanku bagaimana rasanya saat kau memutuskan untuk mengunjungi Krum ketimbang Diggory."

"Aku sudah bilang, aku tidak ada maksud tertentu. Aku hanya ingin—"

"Terserahlah," potong Draco. "Begini, bisa kaubayangkan kalau misalnya aku lebih memilih untuk menjadi partner Fleur dibanding kau?"

"Draco, itu masalah yang lain lagi—"

"Hampir sama," sergah Draco. Dia tidak mau kalah.

"Draco—"

"Bisa kaubayangkan?"

"Draco!"

"Oke. Baik. Aku minta maaf." Akhirnya dia yang memulai, dan dia yang meminta maaf. "Kunjungi Krum dan selesaikan masalahnya, lalu semuanya beres. Benar?"

Hermione mengangguk mantap.

"Baik. Aku setuju." Walaupun masih ada rasa dendam yang amat sangat terhadap Maurice Granger, terutama karena berani sekali melukai pergelangan tangan Hermione.

.


.

Kata orang, kalau kau masih berteman baik dengan mantan kekasihmu, ada dua kemungkinan. Pertama, kalian tidak pernah saling mencintai. Kedua, kalian masih saling mencintai.

Tapi … ada juga yang mengatakan kalau cinta kepada seseorang tidak pernah hilang, hanya saja cinta itu menjadi pudar, sedikit terhapuskan karena kehadiran yang lain, karena, sekali lagi … cinta tidak pernah hilang.

Maka, Padma Patil mencoba tersenyum kepada Theodore Nott yang baru saja pulang dari ekskul PBP.

Theo menatap Padma dengan canggung. Perpisahan mereka yang terakhir kali memang menyakitkan, memberikan opera sabun gratis pada orang-orang di kantin, bonusnya adalah dia melukai lengan Daphne dengan pecahan gelas atau piring, entahlah, dia lupa … dan dia belum meminta maaf kepada Daphne atas kejadian itu, tapi Daphne masih mencintainya dengan tulus. Lalu pertemuan terakhirnya dengan Padma juga sangat menyedihkan.

"Padma." Akhirnya Theo memutuskan untuk mengangkat bibirnya sedikit dan menyapa Padma Patil.

"Theo," sapa Padma.

"Kau belum pulang?" Seingat Theo, Padma tidak ada jadwal apa-apa hari ini.

"Belum," jawabnya. "Parvati sedang dipanggil oleh Professor Snape dan aku harus menunggunya."

Theo mengangguk canggung. Dia tidak tahu harus berbicara apa, tetapi jika dia langsung pergi meninggalkan Padma Patil begitu saja, akan terasa sangat tidak sopan. Kalau kata Blaise, dia akan kembali menjadi mode banci. Sialan, batin Theo.

"Yeah … jadi bagaimana kau dengan Thomas?"

Theo mengangkat kedua tangannya dan meletakannya di belakang kepala, lalu bersandar di salah satu pilar sekolah.

Padma sepertinya terkejut karena pertanyaan Theo, tetapi dia berusaha menanggapinya dengan santai.

"Kami baik." Padma memerhatikan gaya Theo yang tidak pernah berubah—pendiam, cuek, tetapi jika bersama orang yang menurutnya dekat, dia bisa menjadi sangat perhatian. "Aku dan dia … kami sudah … yeah."

"Itu kabar bagus. Selamat."

"Trims." Padma tersenyum lebar. "Bagaimana dengan kau?"

Theo mengeluarkan ekspresi aneh, mungkin itu ekspresi tergalaunya, entah. Kemudian dia mengangkat bahu.

"Bisa kaulihat, aku baik-baik saja."

"Theo, aku rasa kau mengerti maksudku."

"Tidak ada perkembangan."

"Sayang sekali, aku kira kau dan dia akan menjalin hubungan setelah kita—"

"Aku selalu berlaku buruk padanya." Theo mengembuskan napasnya dengan tidak nyaman. Uap-uap karena napasnya di musim dingin terlihat di udara. "Dia juga berlaku buruk pada sahabatku. Aku rasa kita tidak akan pernah bersama."

Padma menatap Theo dengan heran.

"Jadi kau masih memersalahkan soal dia yang berteman dengan Parkinson? Well, Theo, kalau aku boleh berpendapat … jika Hermione benar-benar sahabatmu, aku rasa dia tidak akan keberatan jika kau menjalin hubungan dengan Greengrass. Lagipula, Greengrass juga ogah-ogahan berteman dengan Parkinson."

Perkataan Padma ada benarnya juga. Tapi Theo tidak akan menyalahkan Hermione untuk urusan ini. Ini hanyalah masalah yang dibuat oleh Parkinson dengan otak udangnya dan sifat yang kekanak-kanakkan.

"Dan … tadi kaubilang kau selalu berlaku buruk padanya?"

"Aku pernah melukai tangannya dengan beling. Aku pernah menamparnya. Aku sering memakinya. Aku sering melukai mentalnya, well, dan tadi…"

"Tadi?"

"Tadi aku … menciumnya dengan kasar karena emosi yang tidak bisa terkontrol."

Padma mengangkat alisnya.

"Theo, kau harus minta maaf padanya."

"Sulit." Theo merubah posisi. Dia meletakkan kedua tangannya di kedua saku mantel, lalu menunduk ke bawah. Hawa dingin di bulan Februari—musim yang paling dibencinya—seperti sangat mendukungnya untuk bersedih sepanjang hari. "Aku merasa tidak pantas lagi bersanding dengannya. Aku adalah pemuda yang kasar."

Padma tahu. Dia pernah ditampar juga oleh Theo saat mereka menjalin hubungan dulu. Tapi jika Theo mencintai seseorang, dia akan menjaga orang itu seperti menjaga porselen yang mudah pecah.

"Aku tidak tahu kenapa Daphne masih mau berbicara denganku walaupun aku sering berlaku kasar padanya, memaki dia, menolak dia secara terang-terangan … aku tidak tahu kenapa. Dia terlalu baik untuk pemuda kasar seperti aku."

"Theo, kau hanya tidak bisa mengontrol emosi untuk dirimu sendiri. Kau memang sering berlaku kasar—tapi kalian saling mencintai kan?"

Theo diam. Dia sendiri tidak tahu apa yang mendorongnya untuk menceritakan semuanya kepada Padma Patil. Sebuah senyum dari Padma, sapaan, basa-basi, kemudian ujung-ujungnya Theo curhat pada Padma. Theo bahkan tidak mengatakan secuil kata pun pada sahabat-sahabatnya yang lain. Mungkin ini yang membuatnya menyukai Padma—pendengar yang baik, dan bisa menyesuaikan diri dengan dia yang sifatnya seperti pembunuh.

"Kalau dia masih mencintaiku … umm … aku tidak tahu pasti."

Mungkin dia memang banci.

Padma tersenyum. Dia tahu, dari awal, Theo memang hanya mencintai Daphne. Ada saat di mana Padma sangat membenci dan iri kepada Daphne, tetapi kemudian dia sadar, Daphne Greengrass adalah gadis yang beruntung. Theo memang kasar, tapi dia pelindung. Dia sangat mencintai Daphne, tapi dia juga loyal kepada sahabatnya.

"Theo … kau tidak akan tahu rasanya kehilangan ketika kau tidak merasakannya langsung."

Theo menoleh kepada Padma dengan cepat.

"Jangan menyesal jika Greengrass nanti dimiliki oleh orang lain. Dia sangat sabar menunggumu, dan sebagai seorang perempuan dan aku tahu rasanya, kesabarannya bisa habis, dan mungkin rasa itu juga akan pudar."

"Aku…"

"Cobalah lakukan sesuatu yang membuat Greengrass yakin kalian saling mencintai. Kalau kau masih tidak mau membuat status dengannya, oke, tapi setidaknya beri kepastian."

"Aku memang sudah merencanakan sesuatu."

"Bagus kalau begitu."

Padma menangkap sosok kembarannya yang sudah melambai-lambaikan tangannya. Padma akhirnya meraih tangan Theo yang berada di mantelnya dan menggenggamnya erat.

"Kau harus berterima kasih padaku dan traktiran jika kau dan Daphne Greengrass jadian."

Theo kali ini tersenyum. Tulus.

.


.

Keadaannya super canggung. Jadi begini—Viktor Krum masih terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit, Hermione berdiri dengan jarak tiga puluh sentimeter dari tempat Viktor Krum berbaring, dan Draco menggeser dirinya sejauh mungkin dari mereka berdua.

"Ehm, Vik—"

"Ehem!"

Situasi yang kedua: Hermione mencoba untuk memanggil Viktor Krum, dan selalu disela oleh Draco Malfoy yang daritadi meliriknya dengan gelisah. Hermione mencoba menyabarkan dirinya sendiri.

"Draco, biarkan aku berbicara dengan Viktor sebentar."

"Krum."

"Oke, baiklah. Viktor Krum."

"Panggil dia Krum."

"Viktor—" Hermione mengabaikan Draco yang bersungut-sungut dan melanjutkan perkataannya. Viktor yang masih terbaring lemah menatap kedua orang tersebut dengan alis terangkat, kemudian tersenyum geli. "—bagaimana kabarmu?"

"Bisa kaulihat sendiri." Viktor masih tersenyum. "Bagaimana denganmu?"

Kemudian sepasang mata Viktor Krum menatap cincin indah yang melekat di jari manis Hermione. Draco tersenyum puas dan menatap Viktor seakan-akan mengatakan, "lihat itu, Krum. Hermione sudah menjadi milikku, jadi jangan coba-coba untuk mendekati dia lagi."

Tapi sepertinya Viktor Krum tidak terlalu peduli lagi.

"Well, aku baik." Hermione tersenyum manis. "Kau … itu berbahaya sekali, tahu. Aku juga tidak tahu kenapa kalian bisa bertabrakan, padahal kau juga orang yang hati-hati, Viktor. Lain kali—"

"Ehem!"

"Yeah, pokoknya itulah." Hermione menatap sebal pada Draco. "Jadi, sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu…"

"Sepupumu meneleponku setiap waktu. Pada akhirnya, aku membuang kartuku yang lama dari tiga bulan yang lalu dan menggantinya dengan yang baru," ujar Viktor Krum tanpa ditanya.

"Maurice Granger itu memang menyebalkan," timpal Draco. Dia menatap Hermione dan Viktor bergantian dua detik sekali. "Hermione, cepat selesaikan urusanmu sebelum ruangan ini tambah panas—"

"Kalau kau kepanasan, lebih baik kau keluar saja, Draco."

Situasi ketiga: Draco menjadi orang paling pendiam di antara mereka bertiga, dan menatap Viktor dengan tatapan membunuh.

"Viktor, sebenarnya aku juga ingin membicarakan hal itu." Hermione menarik napas dalam-dalam. Mau tidak mau, dia menjadi sedikit gugup. "Jadi—"

"Jadi?"

"Dia menyukaimu," sahut Hermione cepat. "Dia benar-benar menyukaimu. Dia—well—dia sampai membenciku karena aku sempat menjadi—emm—"

"Dia melukai tangan Hermione."

"Apa?"

"Maurice. Granger. Melukai. Tangan. Hermione. Granger," jawab Draco dengan seluruh kata-kata yang ditekan. "Itu gara-gara kau, Krum."

"Draco, diam dulu."

"Oke."

"Maurice Granger melukai tanganmu, Hermione?"

"Err—tidak usah terlalu dipermasalahkan. Bukan salah dia, kok. Aku pernah menemukan handphonenya yang terletak di meja. Dan aku tidak sengaja melihat wallpapernya, kalau itu fotomu, Viktor—"

"Fotoku?"

"Aku sudah mengatakan, 'kan? Dia sangat menyukaimu … mungkin mencintaimu. Aku—maaf kalau terdengar memaksa, tapi aku … aku ingin kalau dia bahagia juga."

"Kau ingin aku membahagiakan orang yang telah melukaimu, Hermione?"

"Viktor—"

"Hermione, sepertinya ini percuma. Lebih baik kita cepat-cepat pulang," keluh Draco. Dia mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan karena 'panas' tadi. "Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan. Sudah aku bilang, cara yang paling ampuh adalah mematikan Maurice."

"Mematikan Maurice?"

"Tidak usah mendengarkan dia, Viktor." Hermione sudah sangat kesal terhadap Draco yang daritadi berkomentar. "Nah, aku mohon … sekali saja … maaf kalau terdengar sangat memaksa dan egois. Tapi, bisakah kau mengajak Maurice untuk kencan sekali saja? Mungkin itu akan membuat dia bahagia."

Viktor mengernyitkan dahinya.

"Maaf, Hermione…"

Mereka bertiga berdiam diri untuk beberapa saat. Draco sibuk memerhatikan semut yang berjalan di lantai kamar Viktor, padahal sungguh, itu super gak penting—Hermione sibuk memikirkan cara untuk membujuk Viktor, sementara Viktor sendiri sedang mengerutkan dahinya sedalam mungkin, dan sepertinya dia juga sedang berpikir.

"Kenapa?" tanya Hermione akhirnya. "Kenapa kau tidak mau … mengencani Maurice?"

Viktor menjawabnya dengan pelan.

"Karena aku sudah—"

Viktor tidak tahu harus bagaimana melanjutkan kalimatnya yang terputus. Draco masih memerhatikan semut yang berjalan untuk mencapai tempat tujuannya, dan sekali lagi, itu super gak penting. Draco ingin mengalihkan perhatiannya dari Viktor dan Hermione yang membuatnya gerah.

"Sudah…?"

"Pokoknya aku tidak bisa," kata Viktor dengan nada yang yakin.

Draco sudah mengabaikan semutnya dan kembali memerhatikan mereka berdua. Mendengar jawaban dari Viktor, dia semakin ingin menarik Hermione dari sana dan pulang dengan tentram.

"Kau sudah apa, Viktor?"

Perlahan, Viktor menaikkan tangannya dan menunjukkan jari-jarinya kepada Hermione. Terdapat cincin yang tersematkan di sana, membuat mulut Hermione menganga lebar.

"Orangtuaku yang memaksa aku untuk cepat-cepat mencari jodoh. Sekarang, aku sudah mempunyai tunangan. Hermione, aku tidak bisa melakukan apa yang kau minta."

"Viktor, maaf, aku tidak tahu—"

"Bukan salahmu." Viktor memberikan senyumnya lagi. Cinta itu hanya pudar, tetapi tidak hilang. "Aku tahu, itu sangat menyiksa bagimu, Hermione. Aku akan menegur Maurice supaya tidak mengganggumu lagi."

"Seharusnya itu pekerjaanku," desis Draco tak senang. Hermione mendengarnya dan diam saja.

"Tidak perlu. Baiklah … terima kasih banyak, Viktor. Maaf mengganggu istirahatmu. Semoga lekas sembuh! Lain kali kau perlu hati-hati."

"Hermione, aku belum selesai bicara."

"Eh?"

"Titipkan salamku pada Maurice. Oh iya, boleh aku minta nomor teleponnya?"

.


.

"Draco?"

"Ya?"

"Harus kuakui, kau itu sangat bawel."

Draco cengengesan. Dia menggenggam tangan Hermione erat-erat setelah mereka berdua keluar dari kamar Rumah Sakit Viktor.

"Dia tidak berniat menyelingkuhi tunangannya, 'kan?"

Hermione menginjak sepatu Draco dan Draco langsung menatap Hermione dengan tatapan apa-apaan-yang-kau-lakukan-barusan?

"Tentu saja tidak! Dia hanya ingin mengajak Maurice untuk berbicara, mungkin?"

"Kan siapa tahu—"

"Kau itu cemburuan ya, Draco." Kemudian Hermione teringat kelakuan-kelakuan iseng Draco yang tadi dia lakukan untuk tidak berbicara terlalu banyak dengan Viktor.

"Yah, itu—" Draco berpikir sebentar. "Demi kelangsungan hidupku," sahut Draco sekenanya. Mereka berdua berjalan terus dan akhirnya menemukan Mr. Lupin, Fleur, dan Oliver.

"Apa yang kalian bicarakan sampai selama ini?" Fleur mengetuk-ngetuk lantai dengan kakinya. "Di sini panas. Aku mau cepat-cepat pulang."

"Semua sudah lengkap? Oke." Mr. Lupin memimpin jalan. Mereka berlima pulang setelah menjenguk kedua korban kecelakaan; Cedric Diggory dan Viktor Krum.

.


.

"Hei, Hermione." Hermione sempat mendengar panggilan dari Draco, tetapi dia diam saja. Menatap salju-salju yang terus berjatuhan dari langit. Hari ini Draco memutuskan untuk mengantar Hermione pulang. Dengan jalan kaki.

Mungkin terdengar tidak elit, tapi menurut mereka berdua itu romantis. Lagipula, musim dingin tidak memberikan efek yang besar untuk mereka. Dingin bukan masalah.

"Hermione," panggil Draco yang kedua kalinya.

"Hmm?"

"Aku belum pernah mendengarnya dari mulutmu … jadi aku ingin tahu. Menurutmu, apakah cinta bisa hilang? Atau cinta itu hanya pudar sesaat?"

Hermione berpikir. Kalau dia disuruh menjabarkan rumus matematika atau memecahkan soal fisika dalam waktu kurang dari sepuluh detik, mungkin dia bisa. Tapi kalau urusan cinta … dia harus berpikir lebih dari sepuluh detik.

Atau lebih dari dua menit.

"Hermione?"

"Tunggu … aku sedang berpikir."

"Lama sekali," keluh Draco. Dia melirik Hermione yang berada di sampingnya. Benar, gadis itu sedang berpikir keras.

Lima menit kemudian, Hermione masih belum menemukan jawabannya. Draco tertawa terbahak-bahak dan Hermione menatap Draco dengan kesal.

"Apaan, sih." Hermione mengerucutkan bibirnya dengan sebal. "Tidak usah mengerjaiku dengan seperti itu!"

"Tidak usah dipikirkan dengan keras begitu, Hermione. Aku tidak akan memberikan nilai A+ pada rapormu, kok."

"Terus untuk apa kau menanyaiku seperti itu, Malfoy Pirang?!"

"Oh, jadi sekarang kau memanggilku dengan 'Malfoy Pirang'?"

"Tidak!"

"Jadi kau marah?"

"Tidak…"

"Katakan apa yang harus aku lakukan supaya kau tidak marah lagi, Hermione."

"Tidak usah melakukan apa-apa. Antar aku sampai ke rumah dengan selamat, itu sudah lebih dari cukup." Hermione menatap Draco yang sedang melirik ke arahnya. "Apa?"

"Galak sekali."

"Aku memang galak, 'kan?"

"Biasanya kepadaku tidak—"

"Harusnya setiap hari aku memerlakukan peraturan khusus untukmu: menjadi gadis yang galak dan menyeramkan, agar seorang Malfoy tidak akan mengerjai Hermione Granger lagi."

"Jadi kau masih marah?"

"Aku tidak marah."

"Baik, kalau begitu cium aku sebagai pertanda kalau kau tidak marah." Draco menyeringai. Iya, seringainya yang menurut Hermione cukup—oke, sangat—menyebalkan.

"Tidak."

"Berarti kau sedang marah."

"Aku tidak marah."

"Berarti kau harus cium aku," kata Draco sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri. Hermione masih keras kepala dan menolaknya.

"Tidak harus, 'kan?"

"Harus."

"Tidak, Draco."

"Harus. Atau aku saja yang mencium?"

Hermione menatap rumahnya yang sudah ada di depan mata. Sekarang, Hermione yang menyeringai dan menatap Draco dengan tatapan iseng.

"Aku sudah sampai di rumahku dengan selamat. Terima kasih, Draco~~"

"He—hei!"

Hermione akhirnya menyerah. Dia mengecup Draco dengan pelan, di pipi, membuat Draco bersemu merah—mungkin sangat merah. Setelah itu, Hermione melambaikan tangannya.

"Hati-hati, Draco!"

Draco tersenyum simpul.

.


.

Saat melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu, Hermione menatap Maurice yang sedang menatapnya balik dengan … well, bahkan Hermione tidak bisa mendeskripsikan tatapan yang Maurice berikan kepadanya. Hermione mengerjap-ngerjapkan matanya, dan akhirnya memutuskan untuk menyapa Maurice.

"Hai, Maurice."

Maurice masih menatap Hermione dengan bingung.

"Err—Maurice?"

"Hermione…"

"Hmm?"

"Terima kasih."

"Apa?"

"Aku menyayangimu."

"Hah?"

"Maaf."

"Maurice, aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan…"

"Maafkan aku…"

"Sepertinya aku sudah memaafkanmu dari dulu."

"Maaf … dan terima kasih."

"Apa?"

Maurice menatap Hermione di mata—lekat, tidak mau lepas, seperti ingin mengatakan banyak hal yang tidak dapat tersampaikan. Seperti terkekang, namun ingin dikeluarkan sekarang juga—

"Viktor menghubungiku … aku senang sekali … katanya kau mengunjunginya di Rumah Sakit. Dia juga bilang kalau kau membujuk Viktor untuk menghubungiku … Viktor bilang, kau sangat bersikeras, Viktor bilang, bukan kesalahanmu karena tanganmu terluka, Viktor bilang, kau ingin melihatku bahagia, Viktor bilang—"

Terlalu banyak 'Viktor bilang'. Hermione tidak percaya semua ini. Viktor memberitahukan semua percakapan mereka di Rumah Sakit kepada Maurice.

"Maurice, tidak usah diperpanjang lagi…"

"Sekarang aku tahu dia sudah memiliki tunangan, jadi aku tahu percuma untuk mengejar dia—" ada setetes air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Maurice terseyum. "—terima kasih banyak, Hermione…"

"Maurice, aku tidak melakukan apa-apa."

"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghubunginya. Tapi kau membantuku hanya dengan beberapa menit percakapan di Rumah Sakit, sementara aku terus melakukan hal yang sia-sia, menghubungi nomornya yang sudah tidak aktif selama tiga bulan."

"Maurice … kau patah hati?"

Pertanyaan yang retoris. Ada kilat yang terpancar, ada senyum yang sirna, ada sakit yang tampak, ada luka yang terpahat, tapi Maurice memilih untuk menjawab.

"Aku tidak patah hati … cinta itu bukan tentang memiliki, tapi bagaimana aku bisa menghargai perasaan itu sendiri. Tapi tenang saja, cinta itu tidak pernah hilang."

"Eh?"

"Seandainya kau sudah menemukan jodohmu yang lain dan mencintai dia dibandingkan cintamu yang dulu, mungkin cintamu hanya terkikis … sedikit."

… sepertinya Hermione sudah menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Draco Malfoy.

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Halo, semuanya!

KONFLIK MAURICE SELESAI HAHAHA. Maaf kalau kelihatan terlalu maksa, well, yang namanya fic apa aja bisa dong. /ditendang sampai ujung dunia =_=

Yak … ada yang masih inget pertandingan futsal yang sering dibahas di setiap chapter? Berakhir sampai di sini, karena nasib malang Cedric Diggory yang harus … AH, maaf sekali untuk para penggemar Ced. Tidak bermaksud untuk bashing chara, ya. Di sini saya hanya memaksimalkan fic (walaupun belum maksimal, saya tahu) tapi sekali lagi, saya benar-benar minta maaf kepada siapapun yang merasa tersinggung dengan Ced/Viktor yang dibuat kecelakaan di sini.

Oh iya, chapter 17 adalah di mana konfliknya sudah mau selesai, alias anti-klimaks, alias sudah mau tamat, hehehe. Kalau chapter depan sudah masuk Valentine kayaknya kecepetan, tapi kalau misalnya belum Valentine, saya tidak tahu lagi apa yang mau diselipkan … jadi saya memutuskan untuk menyisipkan sesuatu di chapter 18 nanti.

Teori soal cinta-cinta itu … saya pernah menemukannya di Twitter. Tapi entah di mana, saya lupa. Intinya pernah bilang kalau kita tidak pernah berhenti mencintai seseorang. Jadi, seseorang itu selalu kita cintai, walaupun sudah berkurang kadarnya, digantikan oleh orang lain…

Scene Dramione di sini saya perbanyak, tentu saja. Maafkan saya, para Dramione shipper. Akhir-akhir ini kebanyakan konflik sehingga scene fluffy Dramionenya kurang, hihi. Oh iya, scene Theo-Padma itu bukan maksud apa-apa kok, bukan maksud adanya konflik baru, tapi maksudnya … itulah kenapa Theo menyukai Padma. Karena Padma begitu, pendengar yang baik dan bisa menyesuaikan diri dengan Theo yang 'ganas'. Dan itu juga murni curhatannya Theo, wahaha.

Apalagi? Hmm … mau ngasihtau sedikit (atau banyak) konflik yang belum selesai adalah Pansy and The Gang, Theo-Daphne, Harry-Luna (mereka udah jarang muncul akhir-akhir ini. Malah di chapter ini hintsnya nggak ada sama sekali), serta beberapa konflik minor lainnya (seperti Harry-Ginny, Ron-Lavender, Cho-Cedric-Ginny-Roger, dsb.)

BEWARE, LONG NOTES BELOW.

Sepertinya saya akan hiatus selama beberapa bulan ke depan. Saya akan menghadapi Ujian Nasional dan segala tetek-bengeknya.

Chapter 17 ini akan menjadi chapter terakhir yang akan saya update (sepertinya. Tidak tahu juga apakah saya akan mengubah pikiran atau tidak) sampai bulan Mei 2014 nanti.

Love, Friendship, Hate? akan tamat sebentar lagi. Mungkin melebihi dua puluh chapter, mungkin tidak. Dan kalau kalian perhatikan … saya mengupdate fic ini tepat selama satu tahun fic ini berjalan. Terima kasih banyak, terima kasih banyak, TERIMA KASIH BANYAK bagi semua reviews, favorites, dan follows yang sudah saya terima selama tujuh belas chapter atau selama satu tahun ini.

Maaf kalau selama ini fic ini tidak berjalan lancar, atau berbelit-belit dan semacamnya. Terima kasih atas kesabaran kalian karena update fic ini yang berjalan lambat. Semuanya, terima kasih banyak.

.:. balasan review .:.

[NOTE: Yang punya akun dan mereview pakai akun, sudah dibalas lewat PM. Yang di sini, balasan khusus untuk yang tidak mempunyai akun atau anon.]

Adis: Wkwk, trademark pake italic? Emang bagian mana yang pake italic? Haha, emang suka menekankan kata-kata pake italic, sih:3 Boleh ngakak nggak sih sama tulisan alaynya :'3 Yah, pokoknya makasih masih suka sama fic ini, sayang! Nebak Blaise yang nyium Daphne, ya. Semuanya sudah terungkap di sini:D Ini sudah update, mau review lagi? ^^ PS: terhibur kok sama review Adis yang alay:"D

Guest (1): Ini sudah update, mau review lagi? ^^

Adellia Malfoy: Nebak Theo yang nyium Daphne, ya. Semuanya sudah terungkap di sini:D Ini sudah update, mau review lagi? ^^

Putims: Haha, ngelawak deh kamu:p sayangnya Snape lebih mencintai rambutnya, hahaha XD

Guest (2): Pasti happy ending, nggak tega ngeliat tokoh-tokoh di sini kesiksa terus:'3

reesehiddleston: Ini sudah update, mau review lagi? ^^ PS: Terus enaknya manggil apa? :3

jeanie lucia: Yup, saya juga merasa sama. Saya merasa cerita ini juga berbelit-belit, kayak sinetron, hihi. Tapi saya senang kamu mengatakan itu, soalnya saya merasakan hal yang sama. Ah, really? Thank you so much! Nggak, mereka belum tunangan, kok. Mereka masih pacaran. Haha, tau lah ya seorang Malfoy kayak gimana. Dia hanya menandai Hermione sebagai miliknya dengan cara memberikan cincin. Gapapa, yang penting ada niat untuk review, 'kan? Wah, terima kasih lagi :D

tuney: Saya juga suka bagian itu:"D agak konyol memang, XD

Terima kasih yang bersedia meluangkan waktunya untuk mereview. Saya senang sekali jika mendapatkan tanggapan dari kalian. Jangan bosan-bosan untuk review fic-fic qunny, ya?

Review? :D