Hermione Granger terpaku sejenak melihat kelima teman-temannya yang berkumpul di depan rumahnya. Di sana, iya—terdapat Harry Potter yang membetulkan kacamata sambil cengengesan, Ron Weasley mengunyah-ngunyah apa—Hermione tidak tahu—lalu Blaise Zabini nyengir, Theodore Nott menatap Hermione dengan senyum simpul, dan Draco Malfoy yang mengulurkan tangannya kepada Hermione, bak pangeran yang menyambut putri untuk berdansa.

Tunggu, ada yang aneh, tentu saja. Ada acara apa mereka menyambut Hermione pagi-pagi begini?

"Musim panas, Hermione…" tukas Blaise, bahkan sebelum Hermione mengutarakan apa pun. Mungkin dia terlihat bodoh karena megap-megap tak jelas daritadi. "PANTAIII! WOHOOOO!"

Hermione menutup telinganya yang berdengung karena sorakan Ron Weasley.

—Draco Malfoy masih mengulurkan tangannya, menunggu balasan dari Putri Hermione yang masih terbengong-bengong di depan pintu rumahnya sendiri. Bosan menunggu, Draco langsung menarik tangan Hermione. "Sekarang kita bisa berangkat!"


Disclaimer: Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many Pairing. Setting: liburan musim panas tahun lalu. Untuk lebih jelasnya silakan baca Chapter 13: Bonus (1). Tapi masih berhubungan dengan chapter-chapter sebelumnya, hanya saja ini sebagai filler supaya tidak bosan dengan konflik yang tak kunjung selesai dan pre-Valentine's Day conflict. Terdapat banyak kata-kata kasar dan agak menjurus. Mungkin untuk chapter ini, ratenya T+.

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 15: Bonus (2)


"Tunggu!" Hermione memberontak dari genggaman Draco Malfoy. Para cowok sudah bersiap masuk mobil BMW milik Blaise yang terparkir dengan sembarangan di depan halaman rumahnya. "Aku belum bersiap-siap! Aku baru selesai mandi, rambutku masih digulung, guys! Kalian gila! Sejak kapan kalian merencanakan acara ke pantai? Aku tidak tahu apa-apa, demi Tuhan …"

Hermione mengoceh sembari memelototi mereka berlima. Tetapi yang dipelototi merasa sebodo amat dan menahan tawa ketika napas Hermione mulai memburu, capek sendiri setelah mengoceh panjang lebar. "Aku akan bersiap-dulu," tutup Hermione pada pidato dadakannya. Dia bergegas ke dalam rumahnya sendiri dan mengobrak-abrik kamarnya.

"Jadi ini salah siapa?" ujar Blaise sembari mengorek kupingnya. Theo mengernyit jijik dan menatap Blaise seolah dia kotoran dari tong sampah. Blaise nyengir.

"Tentu saja dia." Ron menggedikkan dagunya ke arah pemuda berambut pirang-platina yang senyam-senyum sendiri. "Dia menelepon kita tadi subuh. Gila."

"Hermione mungkin akan menyerahkan kita ke paus yang lewat di laut nanti."

"Tidak lucu, Mr. Potter."

"Aku tertawa, hahaha."

Draco menatap mereka dengan tatapan menyebalkan. "Berhenti bersikap kekanakkan, guys. Kita sedang berada di kediaman orang. Kalian tidak pernah diajari tata krama, ya?"

"Iyaaa, Mr. Malfoy yang terhormat~" kata Blaise dengan nada yang diulur-ulur dan dipanjang-panjangkan. Tak dapat ditutupi ada nada jengkel yang tersirat di setiap kata-katanya.

"Kau menyebalkan, Zabini."

"Siapa yang lebih menyebalkan, heh, Tuan Malfoy yang Agung dan Terhormat?"

"Diam."

"Sudah sudah," lerai Theo. Dia sebal juga melihat tingkah temannya yang benar-benar seperti anak kecil. "Tunggu sampai Hermione selesai dan kita pergi. Apa sih susahnya melakukan hal itu?"

"Panas," keluh Ron. Dia mengelap keringatnya dengan ujung kaos lengan pendeknya.

"Namanya juga musim panas, bodoh."

"Berisik."

"Aduh, apaan ini?"

"Laba-laba."

"LABA-LABA?! Bunuh dia, sialan! Binatang tidak berperikebinatangan! Setan!"

Ron Weasley lari terbirit-birit menyaksikan satu laba-laba kecil yang lewat di dekat kakinya. Blaise, dengan jahil, mengambil laba-laba itu dan mengejar Ron Weasley bersama laba-laba di tangannya.

"Singkirkan binatang menjijikkan itu dari wajahku, Blaise Zabini! Setan! Hooi! Tidak! Tidak mau! Kau keji! Kampret!" umpat Ron tanpa henti. Dia terus menoleh ke belakang, khawatir Blaise akan berlari menyusulnya. Mereka berlari di dekat perumahan Hermione, tidak memedulikan pandangan heran orang-orang yang berkeluaran dan melihat pemandangan aneh itu.

"Blaise!" teriak Theo akhirnya. "Hentikan perbuatanmu itu. Memalukan."

"Biarkan saja," timpal Draco. "Sekali-sekali kita lihat hiburan ini. Kasihan Ron." Dia tertawa ngakak. Theo memandangnya dengan pandangan membunuh, sementara Harry menatap aspal dengan tatapan galau.

Ron Weasley terus berlari sampai akhirnya dia terjengkang batu yang tidak dia lihat, padahal persis di depan mata, karena terus menerus menoleh ke belakang. Blaise tertawa puas dan Draco nyengir jahat, tanpa rasa bersalah. Catatan hari ini: jangan pernah menoleh ke belakang ketika kau dikejar.

Akhirnya Blaise membunuh binatang itu dengan menginjaknya tanpa perasaan dan menghampiri Ron. Dia minta maaf tapi nadanya santai. Ron menatapnya dengan keji. "Awas kau Blaise … nanti sampai di pantai, aku menemukan sesuatu yang bisa menakut-nakutimu…"

"Hahaha, maaf, maaf."

"Itu bukan permintaan maaf!"

Kaki Ron langsung menimbulkan efeknya; darah mengucur dari lututnya, nyeri terasa di sepanjang kedua kakinya, dan Blaise akhirnya membantu Ron Weasley berdiri walaupun pria berambut merah itu masih bersungut-sungut.

Mereka berlima tidak menyadari kalau Hermione sudah ada di depan rumahnya, berdiri berkacak pinggang dengan satu tas yang bertengger di bahunya. "Aku meninggalkan kalian hanya untuk—" dia mengecek arlojinya, "—tujuh menit dan kalian sudah terlibat kekacauan. Bagus."

"Terima kasih."

Hermione menangkap ekspresi Harry yang muram di tengah-tengah keceriaan para sobatnya yang lain. Dia menghampiri Harry, ingin segera bertanya, tapi Draco mencegahnya dan berbisik, "baru putus dari Cho Chang."

Mulut Hermione membentuk O besar.

Hermione mengenakan T-shirt berwarna biru muda polos dengan celana pendek berwarna putih, disertai flat shoes yang bersedia melindungi telapak kakinya sepanjang hari. Rambutnya diikat satu, memberikan kesan keceriaan yang baru kali ini teman-temannya lihat pada sosok Hermione.

"Jadi, kapan kita berangkat?"

"Sekarang," sahut Blaise cepat. Dia segera masuk dan duduk di jok paling depan untuk menyetir mobil. Harry menyusul duduk di sebelah Blaise. Tersisa Ron, Theo, Draco, dan Hermione di luar. Sedetik kemudian Hermione sadar. "Tunggu, kita tidak mungkin berdesak-desakkan di dalam, 'kan?" Kemudian dia melanjutkan, "apa memang begitu?"

"Aku dan Draco membawa motor," ujar Theo. Hermione mengernyit, kemudian dia tersadar ada dua motor Ninja yang berada tak jauh dari mobil BMW Blaise.

"Wow, oke," sahut Hermione. "Berarti aku dan Ron naik. See ya, guys!"

Draco dan Theo mengangguk bersamaan, lalu melakukan tos di udara dan menuju motor masing-masing. Hermione memerhatikan mereka sepersekian detik, kemudian disenggol oleh Ron. "Naik, Hermione!"

"O—oh, oke."

.


.

Perjalanan tak begitu memuaskan dengan macet yang menyesakkan kerumunan jalanan. Tentu saja Hermione tidak terlalu terpengaruh dengan macet, karena dia masih bisa mendengarkan lagu dari ponsel atau membaca buku yang dia bawa untuk menjadi 'bacaan ringan'nya, tetapi mendengar Blaise yang terus-terusan mengoceh membuat dia tidak sabar juga.

Lain dengan Blaise, Theo dan Draco lancar-lancar saja karena mereka bisa nyelip sana sini. Bahkan bisa saja mereka berdua sudah mau sampai. Jarak antara rumah Hermione dan pantai yang mereka tuju tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak bisa dibilang dekat.

Ron Weasley kali ini tidak banyak bicara dan menghindari berkomunikasi dengan Blaise. Entah trauma atau apa, tidak ada yang tahu. Blaise fokus menyetir sembari sesekali mengumpat dan mengacungkan jari tengah pada pengendara tak bertanggung jawab. Harry diam, melamun, dan konsentrasi pada jalanan sementara pikirannya melayang-layang.

Kemudian, tanpa Hermione sendiri sadari, dia melihat mobil Ferrari merah yang melintas begitu saja, melewati BMW Blaise, dan lagi-lagi Blaise yang kesal mengumpat pada mereka. Hermione memicingkan matanya melihat siapa saja yang mengendarai Ferrari merah itu.

Tiga kepala berambut hitam dan satu kepala berambut merah. Rasanya familiar … tidak, Hermione benar-benar mengenal mereka dan menyumpah dalam hati. Untung saja keempat orang itu tidak menyadari keberadaan Hermione, karena kalau tidak, mood Hermione akan menurun drastis karena orang-orang itu.

"Kenapa, Hermione?"

Ron menyadari perubahan raut wajah Hermione. Hermione menggeleng cepat-cepat dan tersenyum memberikan konfirmasi. "Tidak. Tidak ada apa-apa."

Pansy Parkinson. Daphne Greengrass. Astoria Greengrass. Ginny Weasley.

Dua orang yang satu angkatan dengannya, dan dua orang lagi yang akan menjadi adik kelasnya di tahun ajaran baru nanti.

Tanpa sadar, Hermione menghela napas keras-keras.

.


.

Hamparan pasir putih bersih memenuhi indera penglihatan, beserta debur ombak pelan yang menghanyutkan pikiran. Dia menghirup dalam-dalam aroma laut yang berada di hadapannya. Pantai di musim panas memang paling menyenangkan.

Setelah mereka sampai, Hermione langsung keluar dari mobil tanpa memedulikan teman-temannya yang kerepotan memarkir mobil. Dia tidak tahu Theo dan Draco sudah sampai atau belum, yang jelas, dia benar-benar setuju dengan rencana teman-temannya untuk pergi ke pantai—walaupun dia harus diseret seperti tadi.

Oke, sekarang yang Hermione pikirkan adalah … dia tidak tahu harus bagaimana. Bikini di pantai memang wajar, apalagi kalau kau tinggal di Eropa, tentu, itu wajar. Hermione sendiri sekarang menyaksikan beratus-ratus perempuan yang memakai bikini di pantai. Hanya saja Hermione merasa tidak nyaman jika harus memakai bikini, mengekspos sebagian besar tubuhnya di kerumunan orang banyak…

Tapi itu wajar, 'kan?

Hermione melirik T-shirt biru muda dan celana pendek putihnya. Oke, sekarang dia yang tidak wajar.

Tapi dia harus bagaimanaaa?!

Dia panik. Dia pusing. Dia tidak tahu harus ngapain di tengah keramian, memakai baju yang sama sekali bukan baju pantai, walaupun dia juga lihat beberapa orang memakai pakaian yang hampir sama dengannya … uh oh, mereka memakai lengan buntung … Hermione frustrasi.

Dia terakhir kali ke pantai bersama keluarganya, masih bocah, iya, baru berumur sepuluh tahun, jadi dia tidak terlalu peduli dengan pandangan orang karena dia hanya memakai pakaian dalam. Sekarang…?

Seharusnya masalah pakaian ini tidak terlalu menganggu pikirannya jika dia tidak datang bersama para cowok. Benar, bagaimanapun mereka adalah para cowok yang sudah puber dan matanya jelalatan jika memandang cewek hanya memakai bikini—

Hermione mengubek-ubek tasnya, mencari sesuatu di sana. Dia membawa kacamata hitam dan topi bermotif bunga … bagus. Oke. Dia akan menjalankan misinya.

.


.

"Ke mana Hermione?"

Draco mencari Hermione ke mana-mana setelah semua kawan-kawannya berkumpul di bibir pantai. Mereka sekarang bertelanjang dada, bersiap untuk berenang di laut dan tidak memedulikan godaan para cewek di sekitar mereka.

"Tadi dia langsung lari begitu saja, keluar dari mobil," ungkap Blaise. "Tidak tahu dia ngapain."

"Aku cari dia dulu," kata Draco. Theo menahannya.

"Astaga, dia bukan anak kecil, Draco," gerutu Theo. "Lagian dia satu-satunya perempuan di antara kita … kau mengerti maksudku. Dan ini pantai. Mungkin dia ingin bersantai sedikit. Bukan salah dia, 'kan? Aku mengerti kau khawatir padanya."

"Baik, baik, Mommy Theo."

Yang lainnya tergelak. Theo memberikan pandangan membunuh dan lainnya berhenti.

"Apa rencana kita sekarang?" tanya Harry. Mungkin dengan menceburkan diri ke laut membuat kepalanya jernih dari nama Cho Chang yang sekian kali melintas di kepalanya.

Mata Blaise tidak hentinya menatap para perempuan yang lewat dengan hanya memakai bikini. Ron menjitak kepalanya. "Dasar mesum!"

"Aku tidak mesum, Ron … ini hanya naluri pria."

"Naluri pria gundulmu," dengus Ron. Yang paling mesum di antara mereka semua memang Blaise. Jadi, jangan salahkan dia ketika dia mengatai Blaise dengan 'mesum'.

"Rencanaku … mungkin aku akan mengelilingi pantai dulu," jawab Blaise. "Kalian bersenang-senang saja duluan."

Blaise tidak berbakat untuk berbohong. Mengelilingi pantai apanya—orang dari tadi matanya melihat ke perempuan-perempuan berbikini terus. Akhirnya dia menghampiri salah satunya, mungkin mengajak berkenalan atau apa, entahlah. Semuanya menyumpah-nyumpah Blaise.

"Oke, satu sudah keluar. Siapa lagi? Aku sedang tidak punya rencana," tutur Draco. Daritadi kepalanya gelisah ke sana kemari, mencari Hermione Granger, takut gadis itu kenapa-kenapa di pantai yang luas. Digodain om-om, misalnya—

"Mungkin aku akan berenang." Harry sudah bersiap-siap dengan pemanasan. "Atau menyelam," imbuhnya. Dia tidak tahu harus apa, yang penting harus menyelam ke air, titik.

"Ron?"

"Aku sepertinya akan mengelilingi pantai," jawabnya. "Sama kayak Blaise," lanjutnya cepat-cepat, kemudian ngacir entah ke mana. Mengelilingi pantai atau nyari makanan, huh?

"Jadi tinggal kita berdua…"

Theo mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia sedang tidak dalam mood untuk berenang, tapi dia juga bingung mau ngapain. Tidak mungkin 'kan dia menggoda cewek-cewek di pantai? Padma Patil akan membunuhnya di tempat ketika mengetahui ini.

"Draco?"

"Aku akan mencari Hermione."

Ah ya, sudah pasti. Apa lagi? Sedaritadi Draco terus-terusan mengarahkan sepasang matanya ke mana-mana, berusaha menangkap bayangan Hermione jika lewat sebentar saja. Jadi di sinilah Theo, seperti orang cengo, memandangi lautan dan tidak tahu harus berbuat apa.

.


.

"Ginny?!"

Pandangan Ron tertuju pada adiknya yang hanya memakai bikini, rambutnya yang panjang dan merah menyala terurai begitu saja, bintik-bintik di wajahnya makin ketara. Ginny yang sedang berjemur di bawah terik matahari ikut terkejut melihat kakaknya yang berada di sini. "Ron?!"

"Ginny! Astaga!" Ron mencak-mencak. Melihat pemandangan adiknya memakai bikini tambah membuatnya marah. "Kau tahu ini di mana?! Kau memakai—kau hanya memakai pakaian dalam, Ginny Weasley! Demi apa! Kau—ya ampun!"

"Ron!" bentak Ginny. "Ini pantai! Wajar aku memakai bikini!"

"Tapi kau itu perempuan!"

"Tentu saja perempuan yang memakai bikini! Kaukira yang memakai bikini itu laki-laki!?"

"Tapi—!"

Ron kehabisan kata-kata. Dia mengarahkan pandangannya ke manapun asalkan bukan ke arah Ginny Weasley. "Bloody hell … kenapa aku bisa bertemu adik semenyebalkan kau di sini…"

"Harusnya aku yang bilang begitu. Sana pergi," usir Ginny. Sepertinya dia juga tidak suka melihat Ron ada di jangkauan pandangannya.

"Kau mengusirku?!"

"Iya."

"Sialan."

Ron tahu, semenjak Ginny bertemu Pansy and The Gang di sekolah ketika pengambilan rapor kakak-kakaknya, dia sudah menaruh perhatian dengan geng menyebalkan itu. Jangan bilang kalau Ginny datang bersama orang-orang menjengkelkan tersebut.

"Hoi, Ginny Weasley. Kau datang ke sini bersama siapa? Bersama Pansy and The Gang atau bersama kekasihmu?!" semprot Ron.

"Aku tidak punya kekasih!" jawab Ginny, kali ini intonasinya naik. "Lagipula ini bukan urusanmu. Dasar kakak overprotektif," gumam Ginny, tapi Ron, yang memiliki pendengaran lebih tajam dari yang lainnya, mendengar perkataan itu. "Apa kaubilang? Aku tidak overprotektif!"

"Bilang saja kau mengkhawatirkanku!"

"Aku tidak mengkhawatirkanmu sama sekali!"

Ron pergi dari sana, mengabaikan rona merah yang sudah menyebar di wajahnya karena malu sekaligus marah. Ginny menatapnya balik dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Dasar …."

.


.

Blaise melanjutkan petualangannya mencari-cari perempuan yang bisa diajak kenalan—tentu saja, Blaise Zabini Si Pemikat Wanita dengan tuturan kata yang menggoda serta tingkah lakunya yang santun kepada wanita … siapa yang tidak jatuh hati padanya?

Pemuda berkulit gelap tersebut terus berjalan, bersiul-siul, berusaha menarik perhatian segerombol perempuan yang sedang cekikikan di sebelah kanannya, dan kemudian menubruk seseorang berambut pendek di depannya.

BRAK!

"Maaf, nona!" Blaise buru-buru membungkuk, menunjukkan sikap ksatrianya yang sedikit konyol karena dia bertelanjang dada. Gadis yang ditubruk memandang Blaise sebentar, matanya menyipit, ketika dia menyadari kalau dia mengenal pemuda ini … di sekolah…

Oh. My. God.

Yang perempuan berjengit.

"ZABINI!?" jerit gadis berambut pendek hitam itu. Blaise mengenal teriakannya. Dia buru-buru mengangkat kepalanya dan mendengus keras-keras ketika mendapati wajah itu di hadapannya.

"PANSY PARKINSON?!"

.


.

Harry sebenarnya hanya main air di laut. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Cho Chang … hubungannya dengan gadis keturunan Asia itu kandas begitu saja, tadi pagi ….

Itu menyakitkan.

Akhirnya Harry memutuskan untuk berenang, tidak jauh dari pantai, tentu saja, walaupun arusnya terlihat tenang. Dia melihat beberapa pasangan yang tertawa bahagia sambil berenang bersama, melihat anak kecil yang digendong oleh ayahnya, serta seorang ibu yang sedang menyusul anak perempuannya agar tidak berenang terlalu jauh.

Harry sudah meletakkan kacamatanya di tempat yang aman, setidaknya. Tetapi karena meletakkan kacamata itulah, pandangannya menjadi sedikit kabur, buram, dan dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di sekitarnya. Dia hanya bisa menangkap garis besarnya saja.

Tapi dia tidak peduli. Toh, tujuannya ke sini untuk berenam dan menjernihkan isi kepalanya agar tidak terus-terusan memikirkan gadis yang lebih tua itu.

Kemudian Harry melihatnya.

Seorang gadis, berambut hitam dan rambutnya dikucir ponytail dan senyum sendu yang terlihat di wajahnya.

Harry berusaha mengenal wajah itu, karena bagaimanapun juga, wajah itu sudah pernah ada di memori otaknya, walau sekilas.

Semakin lama dia mengobservasi perempuan di hadapannya, otaknya seperti dijatuhi palu dengan berat lima kilogram.

Gadis itu. Gadis saat MOS tempo hari selalu melirik Draco Malfoy di manapun pemuda tersebut berada. Gadis yang berusaha untuk mendapatkan tanda tangan Draco Malfoy.

Ah, ya.

Ya, ya, Harry memutar otak, kemudian mengingat namanya … Astoria Greengrass.

.


.

Draco berusaha untuk mencari Hermione Granger, tapi gadis itu tidak terlihat di manapun. Draco mengorek-ngorek otaknya sedemikiran rupa. Hermione Granger tadi memakai T-shirt biru muda polos dengan celana pendek putih, dan tas berwarna peach yang tersampir di bahunya.

Tapi ini pantai. Ramai sekali, apalagi sekarang musim panas. Dan lagi … Draco berpikir, apa jangan-jangan Hermione sudah berganti pakaian menjadi bikini?

Bayangan Hermione memakai bikini langsung datang begitu saja di otaknya. Dia segera mengenyahkan pikiran itu. Dia bukan Draco-mesum-Malfoy seperti Blaise-yang-sangat-mesum-Zabini. Dia memiliki iktikad yang baik.

Jangan samakan dia dengan Blaise…

Draco masih menembus kerumunan cewek-cewek yang minta kenalan padanya—bodo amat, pikirnya—dan terus-terusan menggaungkan nama Hermione di pikirannya. Gadis itu tidak kenapa-kenapa, 'kan? Bodohnya dia karena meninggalkan ponsel di mobil Blaise tadi. Harusnya dia bisa menghubungi Hermione sekarang.

"Hai."

Draco tersentak. Ada seseorang yang menyentuh bahunya, membuatnya bergidik sebentar. Suaranya lembut sekali. Tapi Draco segera mengabaikannya. Paling juga seperti perempuan yang lain, batinnya.

Tapi gadis itu tidak menyerah.

"Mencari seseorang?"

Akhirnya Draco tunduk. Dia menatap perempuan itu. Memakai topi dengan motif berbunga-bunga, rambutnya digelung dan ditutupi topi lebar tersebut, memakai kacamata hitam, serta bikini berwarna hijau tosca. Draco terpana sedikit, menyadari perempuan di hadapannya, well, cantik, kemudian berhasil mengumpulkan suaranya. "Y—ya," sahut Draco. "Aku sedang mencari seseorang."

Gadis itu tersenyum. "Boleh aku bantu?"

"Emm, tidak usah," tolak Draco halus. Dia orang asing, walaupun dia perempuan dan terlihat tidak mencurigakan, tetapi tetap saja, dia Malfoy dan dia harus menjaga imagenya dengan baik di hadapan siapapun.

"Aku serius mau membantu, lho," perempuan itu berkata. Suaranya masih tenang, lembut, dan tidak terpengaruh penolakkan Draco. "Aku pikir akan sulit mencari orang dengan kerumunan yang banyak seperti ini."

Draco seperti mengenal suaranya, siapa? Dia berusaha berpikir, tetapi tidak ada yang masuk ke dalam otaknya.

"Tidak apa-apa," kata Draco, masih menolak. "Aku bisa mencarinya sendiri. Lagipula aku tidak mau merepotkan orang."

"Aku tidak merasa direpotkan." Sama-sama keras kepala, lupanya. Baiklah. Alhasil, Draco mengangguk.

"Seorang gadis, memakai T-shirt biru muda polos dan celana pendek berwarna putih, serta tas berwarna peach di pundaknya. Rambutnya coklat, agak ikal mengembang, warna matanya hazel. Agak cerewet." Bagian belakang tidak terlalu penting, sebenarnya.

Ah, gadis itu tertawa tanpa beban. "Aku akan bantu," katanya dengan suara yang lembut itu. Draco seperti meleleh.

.


.

Theodore Nott enggan berbicara sepatah kata pun kepada gadis dengan rambut dikepang satu yang baru saja muncul di sampingnya.

Gadis itu, tanpa diduga-duga ada di pantai ini. Theo sendiri heran kenapa takdir mempertemukannya dengan gadis—oh, well, katakanlah brengsek—ini di sini. Orang yang lebih mementingkan persahabatannya dengan Parkinson padahal jelas-jelas jalan yang ditempuh Parkinson adalah jalan yang salah.

Tetapi gadis itu seperti bisa membaca pikiran Theo, dia juga tidak mengatakan apa pun. Hanya berdiri dengan tenang dan anggun, memandangi percikan air asin yang terkadang menghampiri tubuhnya.

Sampai akhirnya Theo membuka suara, walaupun ini sama sekali bukan keinginannya.

"Untuk apa kau ke sini?"

Jelas-jelas Theo kaget dengan suaranya sendiri. Suaranya serak. Padahal dia tidak mengalami penyakit apa-apa dari kemarin. Mungkin dia gugup, mungkin dia kagok, mungkin dia grogi. Entahlah. Dia tidak mau memusingkannya sama sekali.

Daphne mengabaikan perubahan suara Theo yang aneh.

"Pantai ini bukan punyamu 'kan, Theo," sahutnya dengan nada santai, padahal dia tidak bisa memungkiri kalau dia sedikit bergetar karena diajak bicara duluan oleh Theo.

Theo menatapnya dingin, lalu kembali memandang ke depan lurus-lurus.

"Boleh aku tanyakan hal yang sama padamu?"

Theo mengabaikannya.

Daphne mengerti. Kelihatannya Theodore Nott menempatkan Daphne Greengrass sebagai orang nomor satu yang dia benci di dunia.

"Ada hal-hal yang kaumengerti, tetapi lebih banyak hal-hal yang tidak kaumengerti…" kata Theo tiba-tiba. Daphne mendapati dirinya sedikit terguncang. Apa maksud Theo?

"… termasuk diriku."

Dia tidak pergi—tidak, tidak, dia bukan lelaki pengecut, tenang saja—hanya saja, pikirannya menyuruh dengan intens agar dia tidak perlu berkontak lagi dengan gadis bermata sehijau zamrud itu lebih lama. Dia memandang laut.

Tenang. Dan indah.

.


.

Hermione tertawa dengan sangat, sangat, sangat puas dan tidak bisa menahan kikikkan geli ketika berjalan dengan Draco Malfoy di sebelahnya, yang notabene sedang mencari dirinya, padahal jelas-jelas orang yang dicari sedang berada di sebelahnya.

Oh Draco Malfoy, setolol apakah dirimu…

Tentu saja Hermione menahan semuanya dalam hati. Dia terus bersikap lembut, dan suaranya yang sangat dia pelankan sehingga tidak terdengar seperti dirinya yang selalu berbicara panjang lebar. Mimik wajah Draco memang tidak dapat disembunyikan karena dia sangat khawatir, memang. Tapi … Hermione rasanya ingin tertawa puas-puas di kamarnya kalau sudah pulang.

Masa Draco tidak bisa mengenalinya?

Oke, dia memutuskan untuk mengenakan bikini berwarna hijau tosca, dengan kacamata hitam dan topi lebarnya, tetapi—oh, masih banyak tetapi lainnya yang tidak Hermione tahu, apakah ada lagi yang bisa dia lakukan untuk membodohi Draco Malfoy di sebelahnya.

"Jadi, ehem…" Mengejutkan, Draco memutuskan untuk membuka mulut setelah sekian lama berdiri bersisian tanpa berbicara. "Draco Malfoy." Dia menjulurkan tangannya.

Hermione panik.

Dia belum menyiapkan nama samaran karena dia tidak tahu akan bertemu siapa pada awalnya. Dia memang sengaja menutupi jati dirinya, untuk mengerjai semua sahabat-sahabatnya, tapi Draco Malfoy, yang paling cerdas di antara semuanya—

Dia tidak boleh terlihat gugup.

—Draco heran tangannya masih menggantung di udara.

Hermione membalas uluran tangan itu sebelum ditarik kembali. "Lissy."

Mereka mengayunkan tangan itu, serentak, dan buru-buru melepaskannya kembali. Rona kemerahan muncul di raut wajah Hermione—atau Lissy—tetapi dia berpura-pura tidak mengetahui apa-apa tentang rona merah di wajahnya.

"Siapa nama temanmu?" tanya Hermione. Dia berusaha untuk menjaga suaranya agar tetap lembut, tetap pelan, dan tidak terdengar seperti Hermione Granger. Oh, dia sudah melatih beberapa kali sebelum dia bertemu dengan siapapun di sini.

"Hermione Granger."

"Teman baikmu?"

"Hmm … mungkin."

Hermione mengernyit dan matanya memicing di balik kacamata hitamnya. Jadi selama ini dia masih diragukan sebagai teman baik Draco? Memangnya dia siapa untuk Draco, selama ini?

"Bukan teman baik? Lalu siapa?"

"Yah, sahabat, semacam itulah…" Suara Draco terdengar frustrasi, dan Hermione tidak tahu apa yang menyebabkan suara Draco sedepresi itu.

"Begitu…"

"Kalau kau, umm, Lissy? Hanya sendiri di sini?"

"Mm, ya, kebetulan aku sendiri di sini."

"Sendirian di pantai?"

"Umm … ya."

Begitu saja. Hermione terlihat sebagai pembohong yang buruk, sementara Draco mulai menatap Lissy curiga dari atas ke bawah, seakan-akan Hermione adalah salah satu anggota Mafia atau apa—

"Sebenarnya aku bersama temanku," ungkap Hermione sebelum Draco mencurigai sosok barunya lebih jauh lagi. Draco mengembuskan napas lega.

"Kau hanya bersama temanmu itu … Hermione? Tidak bersama yang lain lagi?"

"Sebenarnya ada yang lain lagi, hanya saja mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing."

Hermione mengangguk-angguk dalam diam. Dia memerhatikan Draco lebih jelas. Tampilan fisik Draco jelas menggoda, belum lagi ditambah ketampanan yang sudah lekat di wajahnya dan rambut pirang-platina yang menawan. Dan lagi, tutur katanya yang seperti bangsawan…

Hermione mengutuki dirinya sendiri. Bukan salah dia kan kalau sekarang dia jatuh ke dalam pesona Malfoy?

.


.

Draco masih perlu menyiasati sesuatu untuk membuka kedok gadis di sampingnya.

Dia curiga orang ini adalah orang yang dia kenal, karena suaranya sangat familiar, tapi sampai sekarang dia tidak tahu itu suara siapa. Walaupun terkesan mirip, masih ada aspek yang membuat suara itu berbeda dengan suara yang familiar di kepalanya. Sekali lagi, masalahnya, siapa?

Tentu saja, dia tidak bisa menanyakannya terang-terangan setelah gadis ini mengaku namanya Lissy. Draco tidak pernah mendengar orang yang namanya Lissy di dalam kehidupannya.

Jadi dia mengajak Lissy berputar-putar di pantai itu. Baiklah, untuk sementara dia menomorduakan pencarian Hermione, karena orang di sebelahnya, bagaimanapun, lebih mencurigakan dan perlu diketahui lebih lanjut. Draco ingin membuka kacamata hitam orang ini di saat yang tepat.

"Kau mau makan dulu?" tawar Lissy, lagi-lagi dengan suaranya yang khas, membuat Draco untuk tidak mau berhenti mendengarkan suaranya. Tetapi mendengar tawaran itu, dia terkejut.

"Makan? Tidak, tidak, terima kasih."

"Tidak apa-apa. Aku membawa makan. Hanya sandwich, sih, tapi sepertinya cukup untuk kita berdua—"

"Bagaimana dengan temanmu itu?" potong Draco cepat. "Tadi kaubilang kau membawa teman, di mana dia sekarang? Pasti dia, atau mereka, akan mencarimu jika kau tidak cepat-cepat kembali padanya."

Haaah. Iya. Situasi itu juga tergambar pada Hermione Granger. Ke mana sih gadis itu?

"Mereka juga membawa makanan mereka masing-masing." Herannya, senyum tidak lepas dari Lissy. Draco harus mengakui kalau gadis ini benar-benar baik. Draco balik tersenyum, walaupun senyumannya canggung dan kikuk.

"Tidak usah. Aku bisa makan bersama teman-temanku nanti."

"Lalu Hermione Granger? Kau mau meninggalkan pencarianmu terhadapnya?"

Ah, ya, Hermione. Kalau dia kembali, mungkin Draco akan menjitaknya karena kesal—padahal seumur hidupnya Draco berjanji untuk tidak bertindak kasar pada perempuan. Atau dia yang kelewat khawatir karena tingkah Hermione yang sembrono, menghilang secara tiba-tiba dan tidak memberi kontak apa pun?

"Kau akan lapar," bujuk suara di sebelahnya. Baiklah, baiklah. Dia memang bukan Ron Weasley yang gila makan. Tetapi siang semakin dekat dan matahari yang terik membuat Draco menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dia luluh dengan bujukkan Lissy. Pengaruh apa yang diberikan gadis ini?

Senyum itu. Seulas senyum yang memberikan Draco dorongan untuk tersenyum balik.

Maaf, Hermione. Aku akan mencarimu setelah perutku terisi.

.


.

"Waktunya makan siang!"

Ron Weasley, dengan gaduhnya, menepuk pundak Blaise Zabini yang melamun. Agak mengejutkan jika kau menemui seorang Blaise Zabini yang melamun di tengah perempuan-perempuan berbikini.

"Wow, apa ada hal mengejutkan, Zabini?" tanya Ron. Ketara sekali dia penasaran dengan sifat diamnya Blaise yang tiba-tiba.

"Bukan hal yang mengejutkan, sebenarnya…" sahut Blaise setelah lima detik dihiasi keheningan pantai. Pantai itu tidak hening, sebenarnya. Anggap itu hanyalah perumpamaan. "Aku bertemu Parkinson tadi…"

"HAH! SUDAH KUDUGA!"

Seruan Ron Weasley membuat jengkel pemuda yang berada di sampingnya. Kontan, Blaise langsung menjitak kepala Ron dengan tenaganya. Tidak main-main.

"Bisa tidak kau mengecilkan volume suaramu?!"

"Baiklah!"

Itu tidak terlalu 'mengecilkan volume' seperti yang diharapkan Blaise—ya sudahlah. "Aku tadi bertemu Ginny … bayangkan, dia memakai bikini, Blaise! Adik kecilku yang manis berubah menjadi perempuan yang hobi berbikini!"

Blaise menghela napas. "Ron, berbikini di pantai itu kelewat wajar."

"Dia perempuan!"

"TENTU SAJA DIA PEREMPUAN, BODOH!"

Ron menjitak kepala Blaise sebagai balasan. Kemudian Blaise mengerling jahil.

"Kau khawatir padanya, 'kan?"

"Siapa yang khawatir!" Ron mendecih. "Aku tidak peduli dia mau pakai apa kek. Telanjang saja kalau dia mau."

"Sepertinya itu pemandangan menarik."

"Zabini brengsek!"

"Oh, terima kasih, Weasley bersahaja."

Pertengkaran mereka yang tidak penting segera berhenti ketika melihat Harry datang menghampiri mereka. Dia baru saja habis berenang, sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup.

"Err, halo."

"Hai, Harry. Oh iya, aku harus memberitahumu sesuatu yang penting."

"Apa?"

"Waktunya makan siang!"

Blaise mendengus. Tentu saja untuk Ron-perut-karet-Weasley jam makan siang adalah hal yang penting untuknya.

"Jadi sekarang, kita harus mengumpulkan tiga orang lagi."

Tepat satu detik Harry mengatakan itu, Theo muncul dan Daphne mengekor di belakangnya, seperti kucing manja yang tidak mau jauh-jauh dari majikan.

"Tidak salah lagi!" Ron berteriak, kali ini lebih fantastis dan dramatis. "Pasti Ginny datang bersama Pansy and The Gang!"

"Wow," kata Harry, jelas terkejut karena Theo mau berjarak satu meter dengan Daphne. "Kemajuan, mungkin? Oh iya, Greengrass, tadi aku melihat adikmu."

"Aku tahu," tukas Daphne pendek.

"Harry, kau melihat Greengrass juga?" Blaise bertanya. Kebetulan atau bukan ketika mereka bertemu dengan masing-masing anggota Pansy and The Gang?

Oh lalu, siapa yang ditemui Draco Malfoy dan Hermione Granger? Jangan-jangan mereka malah berduaan sepanjang pantai dan melupakan teman-temannya.

Kemudian, tulang rusuknya terasa sakit karena siku Harry yang terus-terusan menyenggolnya. Blaise mengernyit, ingin protes, ketika dia melihat sesosok pirang Draco Malfoy bersama dengan seorang gadis yang tidak mereka kenal. Berjalan berduaan, begitu saja, hendak menuju ke suatu tempat—

"Katanya dia mau mencari Hermione Granger," ucap Theo, sepertinya dia sedikit kesal. Dia mengabaikan Daphne yang terang-terangan meminta perhatiannya. "Nyatanya malah menggaet seorang perempuan."

.


.

Setelah makan sandwich bersama—lebih banyak diiringi keheningan dibandingkan dengan celotehan-celotehan si gadis—mereka kembali menyusuri pantai untuk mencari Hermione Granger.

Sampai akhirnya Lissy mengatakan sesuatu.

"Maaf, aku tidak bisa membantumu mencari Hermione lagi, Draco," katanya agak gugup. Sepertinya dia takut Draco akan memarahinya, atau apa—

"Kenapa?"

"Aku harus pulang sekarang."

Draco mengangguk maklum. Lagipula, dia menyeret Lissy dalam permasalahannya sendiri. Menyeret gadis asing untuk ikut-ikutan mencari Hermione yang entah ke mana. "Maaf telah banyak merepotkanmu."

Lissy mengangguk. Dia tersenyum, ingin melambai dan mengucapkan kata perpisahan, tapi Draco memotongnya lagi.

"Sampai jumpa."

Sampai jumpa dan bukan selamat tinggal.

Andai saja Draco tahu siapa sosok di balik kacamata hitam itu…

"Draco Malfoy!" desis seseorang tepat di telinganya. Draco bergidik. Di belakangnya terdapat teman-temannya yang memelototinya dengan garang. Tanpa rasa bersalah, Draco menatap mereka balik dengan menantang. "Apa?"

"Kau yang apa!" Blaise memukul pundak Draco. "Kau mengencani gadis cantik dengan alibi mencari Hermione?!"

Tentu saja pertanyaan Blaise melenceng jauh dengan kenyataan seharusnya. Dan pertanyaan yang baik dan benar adalah: "Siapa gadis yang bersamamu?" bukan malah menghakimi Draco karena pemuda itu berduaan dengan gadis lain.

"Sekarang kita benar-benar harus mencari Hermione Granger." Penuh penekanan. Dan semuanya setuju perkataan Theo. Tapi Draco ingin menyangkal.

"Dengar, aku tidak mengencani siapapun. Yang tadi adalah gadis asing yang mau membantuku mencari Hermione."

"Mana ada," cibir Blaise. Terang saja, orang dia cemburu karena tidak bisa menggaet satu perempuan pun. "Mau mencari Hermione atau masih mau berdebat, nih?"

Draco diam. Yang lain mengangguk setuju. Walaupun di luar nampak kesal, tapi Draco menyadari kalau dia memang tidak sungguh-sungguh dalam pencarian Hermione. Oke, dia salah. Kalau dia bertemu Hermione, dia akan minta maaf.

—tapi bukan salah dia sepenuhnya, 'kan?!

Draco menghela napas keras-keras.

"Baik. Kita mencari dia."

.


.

Tidak usah dicari. Hermione datang kepada mereka sebelum mereka akan berpencar. Rambutnya berantakan, pakaiannya acak-acakkan, dan tas yang biasa dia bawa kini entah ke mana.

"Hermione!"

"Hermione?"

"Hermione, ke mana saja kau?!"

"Hermione!"

"Aku kira kau diculik orang."

Hermione mengatur napasnya. "Maaf, aku—" dia kelabakan mencari tasnya. "Tunggu! Jangan ke mana-mana! Tasku ketinggalan—jangan ke mana-mana!"

Hermione lari lagi, entah ke mana. Yang lain menatapnya heran.

Lima menit kemudian, Hermione kembali dengan tampilan yang lebih rapi. Pertanyaan pertama meluncur dari—tentu saja—mulut Draco.

"Kau habis ke mana saja?"

Hermione sudah menyiapkan alasan, tentu saja.

"Aku sedang mengitari pantai," jawabnya cepat. Dia melirik ke teman-temannya yang lain. "Uhm, maaf—kalian sudah makan siang?"

"Sudah."

"Aku—"

"Kenapa tasmu bisa ketinggalan?"

Aku tinggalkan di suatu tempat supaya bisa mengerjai kalian semua. "Tadi kelupaan saat aku melihat-lihat kerang yang ada di pinggir pantai…"

Theo mengernyit.

"Kenapa harus memisahkan diri dari kami?"

Pertanyaan bagus, Theo. Skakmat.

"Maaf, tadi kukira kalian bakal lama, jadi—umm, jadi aku duluan, ternyata malah lupa waktu. Maaf, maaf."

Harry yang sedang terpuruk berusaha untuk mencairkan suasana.

"Ada yang mau bermain di laut?"

.


.

Air yang jernih dengan keceriaan yang terpancar, beserta sinar matahari yang sudah tidak terlalu menyengat walaupun masih panas—tentu saja, ini musim panas—dengan kawan-kawan yang tidak bisa digantikan dengan apapun … ini musim panas terbaik yang pernah mereka semua miliki.

Hermione memutuskan untuk tidak berenang—tidak, dia tidak akan mau memakai bikini dengan identitas 'Hermione'—tetapi bermain air dan mencelupkan kakinya sebatas paha, agar tidak membasahi celana pendeknya. Kali ini, Harry menitipkan kacamatanya di tas Hermione. Ron dan Blaise meributkan entah apa. Theo berenang agak jauh dari mereka. Dan Draco berada di sisinya.

"Hermione."

"Hmm?"

"Kau senang?"

Hermione mengulum senyum. Tentu saja dia senang dengan liburan seperti ini, walaupun harus bolak-balik dan memikirkan alasan selogis mungkin. Tetapi ada alasan lain, yang tidak dapat dia ungkapkan secara gamblang di hadapan Draco.

"Tentu saja," sahut Hermione dengan santai. Dia menatap teman-temannya yang sedang menyipratkan air kepadanya, dan dia membalas balik dengan air yang lebih banyak. "Awas kau, Blaise! Ron, jangan menginjak kakiku di dalam air!"

Draco tersenyum kepada Hermione dan memelototi Blaise yang sedang berusaha memelorotkan celananya dari bawah. "Syukurlah kalau kau—KAMPRET KAU ZABINI! —senang, Hermione."

Hermione tertawa terbahak-bahak. Blaise kabur dan Draco mengejarnya, sementara sasaran kejahilan Ron kini tertuju kepada Harry.

Dari kejauhan—dengan mata yang menyipit—Hermione bisa melihat Theodore Nott dan Daphne Greengrass berinteraksi di sana, di dalam kehangatan sinar mentari yang menerpa dan kesegaran air laut yang mendalam. Akhirnya dia memutuskan untuk diam di tempat, tidak mau ikut campur dengan urusan mereka berdua. Tenang, dia juga tidak berniat untuk melaporkannya kepada Padma Patil, kok.

Kemudian Hermione Granger merasakan kedua tangan yang menutup matanya. Hermione berteriak spontan dan segera melepaskan tangan itu dengan cepat.

"Draco Malfoy!" Dia tertawa. Kemudian dia mengejar Draco yang cepat-cepat kabur darinya. Oh tidak—pakaiannya sudah basah sekarang.

.


.

"Terima kasih."

Air asin membasuh tubuh mereka berdua. Rasanya segar, tak tertandingi di musim panas—apalagi bersama dia—yah, walaupun itu perasaan yang sepihak.

Daphne tersenyum. Manis. Dan Theo terlalu angkuh untuk menyadari senyuman itu hanya untuknya. Theo melengos, mengalihkan pandangan ke yang lain.

"Untuk apa?"

"Kau tidak mengusirku hari ini…"

Ya, siapa yang mau mengusir dia? Yang lain pada asyik sendiri-sendiri, dan Theo terkadang tidak terlalu suka dengan sifat kekanak-kanakkan mereka semua, well, walaupun itu untuk hiburan—tapi—sudahlah. Sifat Theo bukan sifat easy-going kebanyakan teman-temannya. Bersama mereka berlima pun terkadang dia diam, hanya menjadi pengamat dan pendengar yang baik …

… tapi rasanya, bersama Daphne, agak berbeda, dia ingin berbicara, namun tertahan—hatinya memberontak, jiwanya terkekang. Dia tidak bisa mengatakan sesuatu dengan bebas pada Daphne. Perlakuannya terlampau kasar, apalagi caci-makinya.

"Aku memang tidak berniat untuk mencari masalah hari ini," jawab Theo akhirnya. Dia meleburkan diri di sinar matahari musim panas yang perlahan sudah mulai ke barat. "Lebih baik kau ke teman-temanmu, sana." Setengah mengusir, memang. Tetapi dia khawatir kalau Daphne harus pulang sendiri. Khawatir.

Mungkin.

Lagi-lagi Daphne menampilkan senyumnya. Kali ini senyum yang anggun. Daphne yang biasa. Senyum meremehkan, senyum dingin, dan senyum yang menyimpan sesuatu.

"Tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan meninggalkanku." Ya, terus saja lanjutkan persahabatanmu dengan Pansy Parkinson keparat itu."—lagipula, kapan lagi kita bisa berduaan seperti ini?"

Theo menatapnya; dalam, menusuk, tajam. "Aku sudah punya kekasih, Daphne. Namanya Padma Patil. Sepertinya kau tidak lupa."

Daphne terdiam.

.


.

Memutuskan untuk berada di sana sampai matahari terbenam, mereka bermain sepuasnya. Baju Hermione pun sudah kering lagi, padahal tadi basah gara-gara bermain di laut. Tapi hatinya bahagia, pikirannya terasa rileks karena kunjungan ke pantai. Tidak ada lagi yang bisa membuat moodnya anjlok.

Mereka berkumpul di tepi pantai, khusus untuk menyaksikan sunset yang akan mereka lihat beberapa menit lagi. Harry berada di paling kanan, disusul Ron, Blaise, Theo, Draco, dan Hermione di paling kiri. Mereka akan menyaksikan matahari terbenam dengan indahnya dari sudut ini.

Tidak ada yang berbicara ketika surya sudah menapakkan jejaknya ke arah barat. Terlalu indah untuk dilewatkan. Senyum terpasang di wajah masing-masing, sampai akhirnya Blaise menyeletuk.

"Siapa yang mau foto bersama?"

.xOx.

TO BE CONTINUE

A/N: Yup. Selesai bagian Bonus (2). Chapter 19 akan diupdate secepat mungkin. Janji deh nggak bakal nyampe dua bulan saya akan update chapter selanjutnya. Maaf kalau membosankan, tapi saya menikmati sekali ketika mengetik chapter ini.

Terima kasih banyak yang masih meluangkan waktunya untuk mereview fanfiksi ini. Saya menghargainya dan saya selalu mencintai segala bentuk apresiasi kalian semua kepada semua fanfiksi saya. I love you, guys!

Oh iya, teaser buat next chapter: www. facebook photo. php?fbid=393570490786239&set=pb. 100003998758242. -2207520000. 1400305302. &type=3&src=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-b-a. %2Fhphotos-ak-frc1%2Ft1. 0-9%2F10155559_393570490786239_4597017802380456119_n. jpg&size=566%2C619 [hilangkan spasi] /itu mah bukan teaser, qunny :')/

.:. balasan review .:.

[NOTE: Yang punya akun dan mereview pakai akun, sudah dibalas lewat PM. Yang di sini, balasan khusus untuk yang tidak mempunyai akun atau anon.]

Adellia Malfoy: Yup … ini sudah update, hehe. Terima kasih banyak karena sudah mau menunggu, ya :') Luna akan muncul di chapter depan, begitu juga dengan Pansy dan Astoria dan yang laiiin lainnya. Terima kasih sekali lagi udah mau menunggu! Ini sudah update :D

putims: Ini sudah update, XD

beky: Ini sudah update! Makasih ya udah suka sama 'Love, Friendship, Hate?' hehe XD

reese hiddleston: Hoho iya dongs, pasti dikasihtau:p Maaf nggak diperpanjang konfliknya, takutnya malah jadi berbelit-belit aneh dan macam sinetron / Hermione adalah anak yang baik dan punya santun jadi dia tidak mungkin balas dendam kepada Maurice Granger :') Nott sama Greengrass jadian kapan ya … penasaran juga kapan mereka bisa jadian x'D /heh/ chapter depan bakal ada takdir yang menunggu Ronald Weasley, kok x'D jahat … dia bisa nyetir kok … ah Harry-Mionenya sudah jadi nanti tinggal publish!

LUCIYUS M: Sepertinya saya tahu ini siapa… /

Gallatrance Hathaway: Ah lu kurus gue iri nih /3 /loh. Viktor kawin sama lu aja ya? XD karena Draco adalah anak baik jadi dia ngeliatin semut daripada gregetan ngeliat muka Viktor jadinya sebel sendiri u,,,,u chapter depan diusahain mereka bakal melaksanakan 'tugas' merekaaa. Trims yaaa, you too! :*

jessibell malfoy: Hai dear! Qunny di sini :3 next chapter bakal ada Harry Luna lagi kok janji deh X'3 salam kenal juga, ya!

potter15: Haloo … ini sudah update! Makasih yaa /m\

yoyoi: Ini sudah update, maaf yaa lama menunggu.

Umm … ada yang mau review lagi? X'3