Ha-halo? Ada yang masih ingat sama saya? Masih dong. Masih pokoknya /heh/. Untuk chapter 18 yang lalu, sepertinya lumayan (banyak) mengandung kesalahpahaman, ya. Setting untuk chapter 18 dan chapter-chapter sebelumnya berbeda. Jadi, di chapter 18, settingnya mengambil di mana mereka semua sedang liburan musim panas sebelum tahun ajaran baru dimulai, sebelum Hermione dkk naik kelas dua.
Jadi, untuk chapter lalu, Draco sama Hermione belum jadian. Harry baru saja putus dari Cho Chang dan belum mengenal Luna (karena Luna baru mau naik kelas satu). Theo masih pacaran sama Padma Patil. Dan Ginny baru saja mau gabung ke Pansy and The Gang. Hal yang sama berlaku untuk chapter 13 (lihat warning yang saya tulis di chapter lalu). Maaf kalau masih ada yang tidak dimengerti dan bahasanya berbelit-belit, maaf juga kalau ada yang nggak suka sama kedua chapter bonus (13 & 18) yang sudah saya update. Saya hanya ingin menyegarkan pikiran kita semua kok, hehe.
Kalau ada yang masih kurang dimengerti bisa bertanya, lewat review/PM. Terima kasih ya sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic ini. Untuk setting chapter ini kembali seperti biasa, kembali saat Hermione dkk sudah kelas dua, sudah hari Valentine! :D
Disclaimer: Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapters. AU-HighSchool. OOC. Many Pairing.
Enjoy!
.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19
.
Chapter 16: Hari Valentine
Terdapat sedikit percekcokan di antara mereka yang sedang dihubungkan dengan sambungan telepon. Hermione mengapit telepon dengan telinga kiri dan pundak kiri, tangan kanan berusaha untuk menyeimbangkan diri dengan cokelat-cokelat yang sedang dia buat. Sayangnya, orang di seberang telepon sedang tidak tahu apa yang dilakukan Hermione (dan sesungguhnya Hermione juga tidak mau kalau dia tahu).
"Tidak bisa masuk, Hermione?" tanya Draco Malfoy, sarat keputusasaan dan kepasrahan di sana. "Kenapa sih? Hari ini kan hari Valentine."
"Iya iya," sahut Hermione asal. "Maaf. Pokoknya aku tidak bisa masuk, Draco. Ada kepentingan yang harus diurus."
"Ada kepentingan yang harus diurus dan lebih penting dari sekolah?" Draco hampir berteriak di seberang sana. Hermione mendesah malas. Benar, seharusnya dia tidak bolos sekolah hanya karena ingin membuat cokelat untuk Draco Malfoy. Tapi ini hari Valentine. Satu tahun sekali. Dia tidak akan melewatkan kesempatan ini begitu saja. "Hermione, hari ini hari Valentine…"
"Aku tahu." Hermione sangat tahu makanya dia memutuskan untuk membuat cokelat walaupun cokelat tersebut gagal berkali-kali. Targetnya adalah dia sudah bisa membuat cokelat dan pagi ini dia langsung memberikannya kepada Draco, dan seminggu ini hasil cokelat buatannya selalu berakhir mengenaskan di tempat sampah.
"Hermione," bisik Maurice di sebelah gadis berambut cokelat gelombang itu. Dia sedang menjadi tutor Hermione untuk membuat cokelat. "Mau kubantu supaya dia tidak mengganggumu terus?"
"Tolong ya," pinta Hermione. Dia membebaskan tangan kanannya sebentar dan memberikan ponselnya kepada Maurice. Kemudian dia sibuk lagi dengan lelehan cokelat tersebut.
"Hoi, Malfoy," sapa Maurice ketus. Draco kaget karena tiba-tiba ada makhluk antah berantah—tidak, maksudnya Maurice Granger—yang memegang ponsel Hermione. Kontan, Draco mengumpat di kantin sekolah.
"Kenapa ponsel Hermione ada di tempatmu, Iblis?"
"Kau panggil aku apa?!" Maurice menghela napas panjang. "Dengar, Hermione sedang tidak mau diganggu siapapun saat ini. Termasuk kau, Draco Malfoy."
"Aku tidak percaya. Aku juga tidak percaya saat Hermione bilang kalau dia sudah berbaikan denganmu. Pasti kau mengutuknya, 'kan? Hermione pagi ini sangat berubah dan cuek kepadaku, Demi Merlin!"
"Ck, siapa pula Merlin." Maurice membelakangi counter dan melanjutkan obrolan tidak pentingnya dengan Malfoy. "Sudahlah, Hermione berpesan padaku kalau kalian berlima, maksudnya kau dan teman-teman yang lain, menjalani Valentine dengan bahagia tanpa dia. Dia sedang sibuk. Oke?"
"Apanya yang oke?! Aku akan ke rumah Hermione sekarang!"
"JANGANNN!" jerit Maurice dramatis. Hermione menoleh, berusaha menahan diri untuk tidak membentak Maurice yang membuat telinga kanannya berdengung. Maurice menjauh dari Hermione sedikit, cengar-cengir minta maaf. Hermione melotot. Dia penasaran kenapa Maurice berteriak seperti itu.
"JANGAN KE RUMAH HERMIONE!" lanjut Maurice, dengan nada suara yang lebih tinggi dan melengking dari sebelumnya. Hermione mangap. Sialan, menghindar dari Malfoy memang susah. Jangan sampai dia kepergok membuat cokelat untuk pemuda itu. Ehm, jujur saja, Hermione yakin Draco akan kegeeran ketika dia tahu Hermione susah payah memelajari cara membuat cokelat hanya untuknya.
"Apa-apaan larangan itu? Pasti ada yang disembunyikan dariku, ya?" Terdengar suara grasak-grusuk di seberang sana. Maurice khawatir. Dia meloudspeaker panggilan tersebut. Kini mereka berdua bisa mendengarkan suara Draco. "Maurice, pasti kau apa-apakan Hermioneku."
"Hermionemu? Jangan sok posesif gitu lah, Malfoy. Kaukira Hermione senang kau kekang terus begitu?"
"Eeeh Maurice," sela Hermione panik. Jangan sampai pembicaraan Maurice dan Draco menimbulkan perang dingin lagi di antara mereka bertiga.
"Kau yang jangan ikut campur, Iblis."
"Brengsek." Sebenarnya Maurice sudah ingin mematikan sambungan telepon tersebut, tapi Hermione buru-buru mengambil ponsel tersebut.
"Ada keluarga orangtuaku, ya …" Hermione membeberkan kebohongan kepada Draco. "… jangan ke sini, ya? Keluarga besar soalnya. Tidak enak kalau ada tamu lain untuk sementara."
"Pagi-pagi begini?" Suara kursi digeser. Langkah kaki. Hermione semakin panik. "Pukul tujuh pagi mereka mengadakan acara keluarga di rumahmu?"
"Y—ya, jadi jangan datang dulu, ya?"
Entah siapa yang lebih cepat sekarang: Hermione dengan cokelat-cokelatnya atau Draco yang menuju rumah Hermione.
.
.
"Hei, Draco." Blaise Zabini menyenggol lengan Draco sebelum pemuda itu benar-benar bersiap untuk pergi. Draco menggaruk kepalanya terlihat kebingungan.
"Apa?"
"Hanya mau memberi sedikit saran," ujar Blaise dengan nada jahil. Dia bersiul untuk beberapa detik dan membuat Draco jengkel. Berbicara dengan Zabini tidak jauh-jauh dari bercandaan.
"Apa sih? Kalau tidak penting aku mau pergi sekarang."
"Kalau Hermione marah, cium saja dia."
Draco tersedak ludahnya sendiri. Harry dan Ron tergelak bersama mendengar perkataan Blaise Zabini, sementara Theo memandang mereka semua kalem. Ada sesuatu untuk Daphne Greengrass yang sudah siapkan jauh-jauh hari.
"Saran yang bagus," respon Draco sarkas. Kali ini dia benar-benar serius untuk pergi dari lingkungan sekolah dan segera cabut ke rumah Hermione.
Ketika Draco pergi, kini meja di kantin tersebut berkurang penghuni sehingga menjadi empat orang. Ron mengaduk-aduk jus di gelas dengan gelisah. Theo penasaran, hal seperti apa yang bisa membuat seorang Ron Weasley tidak mau memakan sandwich di hadapannya.
"Ada apa, Ron?" tanya Theo sambil memandang ke arah pemuda berambut merah itu. Ron menggedikkan bahu, tampangnya lebih galau daripada siapapun di hari Valentine ini.
"Sebenarnya …" ujar Ron memulai, masih memainkan jus yang ada di gelas bening di hadapannya, "… aku sedang dekat dengan Parvati Patil."
Hening.
.
.
.
"Patil? Lagi?" Blaise menepuk tangan kanan ke dahi. 'Lagi' yang dia maksud ada hubungannya dengan Padma Patil dan Theodore Nott, jadi Theo yang bersangkutan langsung mendelik ke arahnya.
"Yah … aku … sebenarnya—" Ron gelagapan. Dia bingung bagaimana harus menceritakan semuanya kepada teman-teman. Awalnya juga ini tidak disengaja. Mereka baru dekat selama tiga hari.
"Hmm … kapan kau dekat dengannya?" tanya Harry.
"Err—sekitar tiga hari yang lalu, saat Draco dan Hermione menjenguk Cedric Diggory," jawab Ron Weasley sambil sedikit meneguk jusnya.
"Tunggu tunggu," sela Theo. "Tiga hari yang lalu? Saat Draco dan Hermione menjenguk Diggory?" Theo ingat sekali kalau Padma bilang, dia sedang menunggu Parvati yang dipanggil oleh Professor Snape. "Kau bertemu Parvati saat dipanggil Professor Snape atau gimana?"
"Hah? Professor Snape?" Kini malah Ron yang kebingungan, mengernyitkan dahi seraya menatap Theo dengan pandangan aneh. "Aku berpapasan dengan dia di koridor. Dia memang sedang menunggu seseorang … kelihatannya sih gitu. Jadi aku sapa saja dia. Terus kita ngobrol lumayan lama sampai akhirnya dia bilang kalau dia mau pulang."
Theo senyum-senyum. Tiga pemuda lain menatapnya penasaran. "Ada apa?"
"Parvati memang naksir sama kau, Ron. " Theo mengulas senyum tipis. "Dia berbohong pada Padma supaya bisa mencegatmu di koridor."
Harry dan Blaise mangap. Ron mengorek kupingnya.
"Hah?"
Sekarang Theo memasang senyum misterius.
.
.
Draco berjalan perlahan-lahan ke dalam halaman depan rumah Hermione. Dan tidak ada tanda-tanda keramaian seperti 'keluarga besar' dan 'acara keluarga' yang Hermione katakan padanya beberapa menit yang lalu. Dia berbohong, 'kan?
"Tch. Maurice sialan." Dia menyumpahi Maurice karena tidak tega untuk mengatai pacarnya sendiri. Setelah itu dia membuka pagar yang tidak digembok, kemudian membunyikan bel di depan rumah bercatkan warna pastel tersebut.
Adalah seorang gadis jutek bernama Maurice Granger yang pertama kali membuka pintu. Dilihat dari penampilannya, dia juga mau pergi ke sekolah. Sebab gadis itu memakai tas ransel, sepatu, dan seragam sekolah. Dia melotot. Draco mendelik.
"Ngapain kau di sini?" ucap keduanya bersamaan. Gigi Maurice bergemeretuk.
"Malfoy, kan sudah dibilang oleh Hermione kalau sedang diadakan acara keluarga di rumah ini. Kenapa kau ke sini dan mengganggu acaranya, ha?"
"Maurice-Iblis-Granger," tutur Draco dengan keramahan yang dibuat-buat. "Kenapa kau masih bersikeras berbohong sementara aku sudah di sini dan melihat kalau kediaman ini sepi sekali? Apa sih yang kalian sembunyikan? Kau mau ke sekolah, 'kan? Sana pergi. Aku mau mengunjungi Hermione, bukan kau."
"Berisik," desis Maurice. "Aku tidak akan pergi sebelum kau pergi."
"Kau menyebalkan."
"Terima kasih. Kau juga, Tuan Menyebalkan Malfoy."
Maurice memerhatikan arloji ketika mereka berdua tetap di depan pintu rumah kediaman Granger selama lima belas menit. Karena takut telat, terpaksa Maurice meninggalkan Hermione dan Draco yang sebentar lagi akan masuk.
"Aku pergi," kata Maurice, tidak jelas berbicara kepada siapa. Draco mengangkat bahu dan menyeringai ketika melihat Maurice sudah jauh dari jangkauan pandangannya. Sekarang dia bisa masuk dengan tenang tanpa kehadiran Granger busuk bernama Maurice.
.
.
Acara di sekolah hari ini adalah pesta untuk Hari Valentine. Aula sekolah penuh, terdapat panitia dan petugas lain yang mendekorasi ruangan. Acara dimulai pada pukul delapan pagi, dilanjutkan menukar cokelat, menukar hadiah, dan sesi hiburan. Sesi terakhir adalah 'menyatakan perasaan' bagi siapapun yang berani menyatakan cinta di atas panggung, di hadapan semua orang. Siapa yang mengusulkan semua ini? Ketua OSIS. Draco Malfoy.
Entah ada berapa orang yang punya nyali untuk melakukan hal demikian.
Yang pertama kali menuju pujaan hati saat bel berbunyi adalah Harry Potter. Dia berjalan menuju Luna Lovegood. Rambut pirangnya terlihat jelas melalui pantulan kacamata bulat milik Harry. Dia menepuk pundak Luna dari belakang, senyum-senyum seperti orang gila.
"Hai."
"Hai, Harry," sapa Luna dengan suara lembutnya yang mendayu-dayu. Harry mengerjap dibuatnya. Dia cengengesan.
"Sudah menyiapkan cokelat?"
"Sudah." Luna mengangguk, jari telunjuk kanannya menunjukkan tas berwarna oranye kulit wortel—atau kulit wortel sungguhan, entahlah—yang nyentrik dan dipenuhi hiasan entah apa. Luna tersenyum manis. "Untuk orang spesial."
Jantung Harry berdegup kencang.
"Orang spesial?"
"Orang spesial," ulang Luna. Masih tersenyum. "Kau sendiri, Harry?"
"Sudah!" jawab Harry semangat. Kelewat semangat, malah. Dia membetulkan letak kacamata yang sedikit melorot, lalu kembali menatap Luna dengan malu-malu. "Sebenarnya aku ingin memberikan cokelat ini—"
Ada pengumuman dari pembawa acara. Harry berjengit kesal, menatap ke arah panggung dan seketika dia baru menyadari kalau aula tersebut semakin sesak karena manusia yang memenuhi ruangan. Terpaksa, atau mau, dia bergeser lebih dekat ke tempat Luna supaya tidak ada yang berdesak-desakan.
"Tes. PERHATIAN." Fred dan George Weasley adalah pembawa acaranya. Mereka melakukan high-five di atas panggung sebelum akhirnya melanjutkan tugas mereka. "Pertama-tama, terima kasih yang sudah mau hadir! Kalian semua luar biasa! Kami berdua, Forge," ujar Fred, "dan Gred," sambung George. "Akan menghibur kalian semua di hari Valentine yang penuh dengan merah muda ini!" teriak mereka berdua bersamaan. Aula menjadi tambah meriah karena adanya tepuk tangan.
Mereka berdua mulai menjelaskan soal schedule hari ini. Yang jelas, tidak ada pelajaran pada hari ini yang membuat murid-murid bersorak gembira. Kebanyakan acara ini akan dilakukan secara bebas, dalam arti kata bahwa mereka benar-benar terserah ingin melakukan apa saja. Ada tiga hal yang benar-benar harus diikuti dalam schedule, yaitu menukar cokelat, menukar hadiah, dan sesi hiburan dengan beberapa orang yang tampil di atas panggung. Untuk soal menyatakan cinta yah ….
"Sebenarnya yang mengusulkan soal menyatakan perasaan di atas panggung itu tidak hadir," cerocos George. Terdengar sorakan 'booooo' di seluruh aula. Agak pengang, kembar Weasley itu mundur ke belakang. Setelah tenang sedikit, dia melanjutkan berbicara. "Tapi akan tetap dilaksanakan! Siapapun yang punya nyali, di akhir acara nanti harus mengungkapkan perasaan di atas panggung! Gratis satu set peralatan Weasley Wizard Wheezes untuk pemuda gentleman yang paling romantis!"
Terdengar bisikan sana-sini. Sedikit riuh, namun bisa tenang lagi dengan pelototan dari Professor Snape dan Professor McGonagall. Dumbledore mengelus jenggotnya, menggeleng sedikit seraya berbisik, "anak muda…" entah pada siapa.
"Yoooosh! Acara dimulai!"
.
.
Draco mengendap-endap masuk di kediaman Granger tersebut. Setelah menutup pintu depan dengan pelan, dia segera menuju ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Bisa dibilang dia tidak pernah ke rumah Hermione. Dia tidak tahu denah dan struktur wilayah ini.
Mengikuti insting, Draco berbelok ke kiri dan menemukan pintu toilet. Dia menggelengkan kepala, menjitak dahi karena kebodohannya, lalu lurus dan belok ke kanan ketika dia menemukan sesosok perempuan, tubuhnya berantakan karena lelehan cokelat, dan helaian rambut bergelombang cokelat … Draco langsung menyeringai lebar.
Masih dengan kemampuan mengendap-endap, dia menyelinap masuk dapur. Hermione bersenandung sambil mencoba untuk membuat satu kotak cokelat lagi. Draco senyam-senyum sendiri. Sekarang dia tahu apa yang membuat Hermione untuk bolos sekolah, huh?
Hermione menoleh ke belakang karena ada keperluan untuk mengambil sesuatu. Otomatis dia menjerit ketika mendapati sesosok pemuda putih-pucat dengan pirang-platina yang dagunya runcing dan sepasang matanya yang kebiruan seperti es—
"DRACO!" seru Hermione tidak percaya. "Kapan kau ke sini? Kenapa kau ke sini?"
Draco masih tidak mau menghentikan seringaian lebarnya yang sudah mencapai telinga. "Cokelat untukku ya, Hermy?"
Wajah Hermione memerah sampai telinga. Dia memalingkan muka sehingga tidak perlu berhadapan dengan Draco Malfoy. Namun Draco memegang pundaknya. "Tidak usah berbohong juga 'kan kalau mau bikin cokelat," kata Draco. Logis sih.
Hermione berbalik badan sepenuhnya. Dia lagi malas berhadapan muka dengan Draco. Kata lain: sedang ngambek. Hermione Granger sedang ngambek kepada kekasihnya.
Draco bersandar di tembok, seragam sekolahnya acak-acakan karena terkena angin kencang tadi. Tas selempangnya disampirkan di pundak secara asal. Tapi dia masih senyum-senyum karena kelakuan Hermione.
"Jangan marah, dong."
Hermione mendiamkannya dan berusaha untuk fokus pada cokelatnya. Dia harus bisa. Draco terlanjur datang ke sini dan menggagalkan rencananya, tapi sebaiknya Hermione bisa menyelesaikan cokelat-cokelat itu dengan baik dan benar.
"Hermione~"
Hermione menoleh judes. "Apa?"
"Masa marah?"
"Nggak."
"Bohong."
Hermione mendiamkannya lagi. Draco beranjak dari posisinya semula, mendekati mangkuk penuh lelehan cokelat yang menggumpal di mana-mana. Hasil yang gagal. Dia menggunakan telunjuk untuk mencongkel sedikit gumpalan tersebut dan ditempelkan ke bibir.
Ew. Rasanya menjijikkan.
Draco menampilkan ekspresi aneh dan Hermione menatapnya khawatir. Segagal itukah percobaan-percobaannya?
"Gimana?" tanya Hermione. Luluh juga dengan perlakuan Draco yang mau mencoba cokelat yang gagal tersebut.
"Yaaaaah, harus belajar lagi," komentar Draco singkat. Dia tidak akan mencaci maki Hermione karena cokelatnya, 'kan? Hermione tersenyum senang dan mengangguk.
"Udah nggak marah lagi nih?" goda Draco. Hermione membuang muka. Hidungnya kembang-kempis dan Hermione memilih untuk mengangkat bahu. Draco menatapnya heran. Bukannya tadi udah nggak marah ya? batinnya berkata demikian.
Tiba-tiba saran Blaise Playboy Zabini terngiang di kepalanya.
"Kalau Hermione marah, cium saja dia."
Apa Draco harus mencobanya? Atau menunggu kemarahan Hermione yang biasanya bisa berangsur-angsur reda seiring waktu?
Kemudian dia menyeringai lagi.
Tidak ada salahnya untuk mencoba, 'kan?
.
.
Mata Blaise Zabini, seperti biasa, jelalatan ke sana kemari untuk mencari perempuan yang bisa digandeng dan diberi cokelat. Harry dan Luna sedang berbicara santai di pojok ruangan, dengan senyum Harry yang lebar karena cokelat yang disediakan Luna ternyata untuknya. Ron dan Parvati malu-malu mau bertukar cokelat dan kado di dekat panggung, dan sepasang mata Lavender Brown yang tajam mengawasi mereka berdua dan cemberut setiap saat.
Yang mengejutkan adalah Ginny Weasley, berjalan menjauh dari Harry dan Luna. Dia tidak mau mengganggu hubungan mereka walaupun terdapat kesedihan yang terpancar di wajahnya. Si Rambut Merah itu mencari Roger Davies, seniornya. Roger Davies berdiri memandang keluar jendela, sekotak cokelat yang ada di tangan di abaikannya begitu saja. Ada satu orang yang dia incar untuk diberinya cokelat tersebut, tapi masih ada keraguan di hatinya.
Sampai Ginny menghampiri dia, mereka berdua mengobrol dengan canggung dan bertukar kotak cokelat.
Mari telusuri Fleur Delacour yang sedang dibuntuti oleh para cowok-cowok pantang menyerah di Hogwarts Senior High School. Mereka berusaha untuk memberi cokelat kepada gadis pirang cantik itu, tetapi diabaikan dengan angkuh. Di saat-saat ada seorang cowok yang berhasil menarik seragam sekolah Fleur, seorang pemuda segera menarik Fleur ke belakangnya, melindunginya.
"Tunggu, kau—!" Teriakan Fleur tertahan karena lengannya ditarik pemuda tersebut. Fleur tahu namanya. Dia sering berkumpul dengan Malfoy—sepupunya—Granger, Potter, Weasley, dan Nott. "—Zabini! Untuk apa kau menarik-narik aku seperti ini?"
Mereka sampai di koridor yang bisa dibilang 'aman' dari cowok-cowok pengincar Fleur. Blaise nyengir. "Kau sedang dikejar-kejar, Bidadari. Mana mungkin aku membiarkanmu terus-terusan berlari seperti itu."
Fleur Delacour hampir muntah ketika mendengar kata 'Bidadari' yang tersemat untuknya. Dia menarik lengannya keras supaya bisa lepas dari genggaman Zabini. "Aku tidak butuh bantuanmu."
"Seorang Putri harus punya Ksatria di sampingnya."
Fleur mual.
Di sisi lain, Cho Chang merenung di sisi luar aula Hogwarts. Tas selempang berwarna biru tua dengan logo burung elang tersampir lesu di pundak. Cedric Diggory tidak bisa masuk, karena kondisinya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Kakinya patah. Menurut Cho, itu mengerikan. Sempat terpikir kalau dia ingin mengunjungi Cedric di Rumah Sakit, tapi gengsi menahannya. Hubungan mereka berdua tidak begitu baik—ralat, lebih tepatnya, tidak baik—semenjak kejadian di Pesta Natal waktu itu.
.
.
Ini adalah sisi teramai. Di tengah-tengah aula, pengap, sesak, tetapi Theodore Nott seorang yang aneh, dia memilih tempat ini untuk menyerahkan sebatang cokelat untuk Daphne.
Daphne, yang tidak menyangka Theo akan memberinya sebutir cokelat sekali pun, menerimanya dengan senang dan wajahnya tersipu malu.
"Untukku?" tanyanya, padahal sudah jelas sebatang cokelat untuk diulurkan kepadanya. Jadi Theo mengangguk malas sambil berharap-harap cemas (ya, jangan salah, cowok juga merasa demikian) apakah Daphne juga memberinya cokelat atau tidak.
Daphne, dengan terburu-buru—karena tidak menyangka Theo memberinya secepat ini—mengeluarkan cokelat yang ketara sekali kalau harganya bisa disamakan dengan cokelat terbaik di dunia. Daphne mengulurkannya pada Theo.
"Hm?" Theo menautkan kedua alis, kedua tangan di saku celana, sok cool padahal jelas-jelas Daphne memberikan itu padanya.
"Buatmu."
"Oh." Theo menerimanya dan langsung membuka kotak tersebut, memakan cokelat dengan hati bertalu-talu. Daphne senang sekali ternyata Theo tidak membuang cokelat itu, malah langsung memakannya. Kemudian Theo melakukan hal aneh lagi, dia membuka tasnya, masih ada sesuatu yang harus diberikan kepada Daphne.
Daphne melihat sekeliling dan sekarang area di tengah aula malah semakin sepi. Kebanyakan sudah pergi ke pojokan untuk melakukan you-know-what.
Dua menit kemudian Theo mengulurkan entah-apa yang dibungkus kertas berwarna hijau zamrud. Oh, crap. Daphne tidak membelikan hadiah apa-apa untuk Theo, tapi pemuda ini malah memberikannya sesuatu, dengan bungkus kado yang dia sukai, pula.
"Err—apa ini?" tanya Daphne sambil menerima hadiah tersebut.
Theo menggedikkan bahu. "Buka saja."
Dengan gayanya yang anggun, Daphne berhasil membuka bungkusnya dalam hitungan detik. Ada album foto, lagi-lagi dengan hijau zamrud, dengan tulisan yang dibubuhkan dengan elok (tulisannya bersambung seperti orang zaman dulu, dan Daphne sangat suka) Daphne Greengrass. Daphne membuka album foto tersebut.
Itu semua, isinya hanya dia seorang. Dia sedang berjalan di koridor, dia sedang melamun di kelas saat istirahat, dia memesan sesuatu di kantin, dia berjalan keluar dari gedung sekolah, dia berjalan menuju ke rumahnya—what? Theo mengikuti dia?
Sampai halaman terakhir pun masih foto dia dengan berbagai macam ekspresi. Dia jadi teringat kata Mr. Nott padanya, kalau Theo menyimpan foto-foto tentang Daphne … jadi ini?
Daphne tidak tahu kalau ekspresinya sekarang menjadi salah tingkah.
"Thanks…"
Saat Daphne menutup album tersebut, ada sesuatu yang mencuat keluar. Buru-buru dia menangkapnya sebelum jatuh ke lantai, dan saat dia lihat adalah kalung berbandul batu emerald.
"Theo?"
"Hn?"
"Kalung siapa ini?"
"Untukmu, bodoh."
"Aku?" Daphne menunjuk dirinya sendiri. Theo sedang gila, ya? Kenapa memberikan semua ini untuk Daphne? Apa Theo … apa Theo memaafkannya? Apa Theo mau menjalani hubungan dengannya? Apa apa apa apa…
Theo mengunyah cokelatnya dengan santai saat Daphne sedang bingung dengan pikirannya.
Daphne tersenyum terlalu lebar, dan dia sangat senang sampai rasanya dia ingin menangis. Dia menatap Theo dengan tatapan memuja, di saat yang sama mencintai dan menyayangi yang sudah tersimpan sejak lama. Dia bertanya lagi, tidak percaya dengan pendengarannya tadi, takut-takut dia diberi harapan palsu untuk dirinya sendiri. "Beneran untukku?"
"Siapa lagi." Theo mencomot satu cokelat lagi. Dengan mata berbinar-binar, Daphne berusaha untuk memakai kalung tersebut—
"Sini," panggil Theo memanggil Daphne. "Biar kupakaikan."
Daphne mengerling ke arah Theo dengan tatapan tidak percaya, serius nih? Theo ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba jadi baik dengan Daphne seperti tidak pernah terjadi apa-apa?
Daphne menelan ludahnya dengan susah payah. Kenapa Theo jadi romantis begini ….
.
.
Ciuman yang diberikan oleh Draco adalah ciuman terlembut yang pernah Hermione rasakan. Wajah Hermione memerah ketika menyadari kalau Draco menciumnya. Di dapur. Kondisinya berantakan. Spontan.
"Draco?"
"Ciuman hari Valentine, Sayang."
Draco menyeringai lebar. Hermione memanggilnya dengan lembut tanpa adanya tanda-tanda kalau dia marah. Sepertinya dia akan menraktir Blaise Zabini besok.
Beberapa menit kemudian, cokelat Hermione benar-benar jadi, utuh dan tidak menggumpal menjijikkan seperti yang tadi. Dengan cekatan, Hermione membereskan kekacauan yang ada di dapur, mengganti pakaian, lalu mengajak Draco ke ruang tamu dan mencicipi cokelat 'utuh' buatannya.
Draco mengangkat kaki kanan ke atas kaki kiri, kedua tangan dilebarkan di atas sofa dan merangkul Hermione dengan sayang, berasa rumah sendiri. Dia membuka mulutnya, meminta Hermione yang menyuapkan cokelat tersebut untuknya.
"Manja," celetuk Hermione. Draco hanya nyengir.
"Sekali-sekali kan tidak apa-apa."
Hermione menyuapkan cokelat tersebut kepada Draco. Hermione takut kalau rasa cokelat tersebut tidak sesuai dengan harapan Draco. Kemudian dia mencicipi cokelat buatannya dalam diam.
.
.
.
Draco ingin muntah. Serius.
Mungkin Hermione tidak berbakat dalam memasak ….
Draco berusaha menelan cokelat tersebut di kerongkongan supaya bisa lancar sampai ke saluran pencernaan. Tidak mungkin dia mengatakan kepada Hermione kalau cokelat itu manis luar biasa sampai-sampai dia tidak kuat untuk memakannya. Draco bukan pecinta makanan manis, ingat?
"Err, gimana rasanya? Draco?"
Draco mengacungkan jempolnya. "Enak."
"Serius? Kupikir ini terlalu manis."
Memang, Draco berujar dalam hatinya. Apa dia jahat sekali ya membohongi Hermione seperti itu? Apa dia jujur saja? Tapi bagaimana kalau Hermione sakit hati, padahal gadis itu sudah rela membolos dari sekolah hanya untuk membuat cokelat ini untuknya…
"Yah, kupikir juga begitu," sahut Draco. Dia menggapai-gapai segelas air putih yang berada di meja ruang tamu. "Kemanisan. Well, tapi enak kok."
Dia meneguk minuman tersebut sampai habis tak bersisa setetes pun.
"Kau bisa memakannya, 'kan?" tanya Hermione khawatir.
"Yah, aku bisa." Draco membayangkan untuk memakan semua cokelat manis tersebut dalam dua puluh menit. Dia benar-benar mual. Tapi demi Hermione, dia harus bisa. Resiko? Bisa muntah, bisa diabetes, bisa sakit gigi…
"Kalau tidak bisa tidak usah dipaksa, cokelat yang lain juga berakhir di tempat sampah, kok," ucap Hermione riang, tapi dia dongkol setengah mati. Sudah seminggu latihan hasilnya tetap tidak memuaskan. Ada sedihnya juga. Tampak jelas kalau Draco tidak terlalu suka cokelat manis hasil buatannya.
"Tidak! Aku tidak akan membuangnya!" Draco mencomot cokelat tersebut. Dia harus menahan mati-matian rasa manis itu sampai tertelan dan mengulangi tahap tersebut sampai cokelatnya habis. Demi Hermione demi Hermione demi Hermione ….
.
.
Pansy Parkinson sedang ditertawakan oleh dunia. Dimulai dari Ginny Weasley yang berkhianat dan menusuknya dari belakang. Daphne yang senyam-senyum bersama Theodore Nott, dipasangi kalung entah apa yang membuat Pansy sirik setengah mati, sementara Astoria Greengrass, harapan satu-satunya, malah tidak masuk sekolah hari ini.
Apa salahnya?
Oh, banyak sekali, Parkinson.
Drakienya juga tidak masuk, bersamaan dengan si Granger-sialan. Kemungkinan besar mereka sedang berduaan entah di mana. Memikirkan kemungkinan tersebut membuat Pansy muak.
Semuanya sedang mendapat kebahagiaan, kenapa dia tidak? Kenapa cokelat mahal yang ada di tasnya, yang dia sediakan untuk Draco Malfoy, kini terabaikan? Ke mana pemilik yang seharusnya? Apa yang Draco lakukan bersama Granger, hah?
Pansy naik pitam. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia bosan. Dia ingin diperhatikan. Dia tidak mau diabaikan seperti ini, oleh teman-temannya yang sedang asyik sendiri. Dia … dia ingin cari sensasi, mungkin? Cari perhatian? Cari muka?
Pansy mondar-mandir di sekitar panggung. Mungkin akan menyenangkan kalau acara Valentine sialan di sekolahnya ini jadi kacau dan pasangan-pasangan yang sedang berbahagia akan tertimpa kesialan yang sama dengannya hari ini. Pansy menyeringai picik. Ide yang bagus, Parkinson. Kebahagiaan hanya boleh diberikan olehnya.
Ketika Pansy ingin mengacau di panggung dan membuat masalah dengan speaker-speaker yang ada di sana, seseorang mencegatnya. Pansy mengernyitkan dahi tidak senang karena ada yang mencegah jalannya. "Apa?" tanyanya ngotot.
Yang ada di hadapannya adalah George Weasley.
"Parkinson yang terhormat, yang boleh berada di sini hanyalah panitia dan pengurus acara. Silakan pergi kalau tidak berkepentingan."
"Tch. Kau juga bukan panitia dan pengurus acara," ejek Pansy. "Weasley."
"Tapi kami adalah pembawa acara." Kini Fred bergabung dengannya. Mereka berdua cengengesan sampai akhirnya Pansy kalah jumlah dan kalah bicara, jadi dia pergi dari sana.
Rencananya gagal. Berterima kasihlah kepada si kembar Weasley yang tidak mau ada seorang pun yang mengacau di acara berbahagia ini.
Dari pandangannya, Roger Davies kini bersenang-senang dengan Si Bungsu Weasley. Ada Daphne dan Theo di tengah-tengah aula, sedang membicarakan entah apa. Harry Potter dan Loony Lovegood yang menjijikkan di matanya. Ada lagi. Ron Weasley dan Parvati Patil.
Tch. Mereka semua adalah pengganggu penglihatan matanya. Baru disadari olehnya kalau tidak ada Fleur Delacour, gadis sok sempurna itu, ada di aula. Juga tidak ada sahabat mantan Potter itu, Cho Chang. Heeeh. Pansy benar-benar bosan. Tidak ada yang bisa dilakukannya. Ini menyebalkan. Dia tidak senang. Dia tidak suka ini. Dia—
"Parkinson?"
Seseorang menepuk pundaknya. Rambut pendeknya terkibas ke belakang saat dia menoleh. "Heh? Apa? Siapa kau?"
Sepertinya adik kelas yang canggung dan malu-malu. "Kau dipanggil oleh Professor Flitwick."
"Hah? Apa? Kenapa?"
"Aku tidak tahu…" katanya sambil mengangkat bahu. Dia menunjuk ke lantai atas, ruangan Professor Flitwick, lalu pergi meninggalkan Pansy yang sedang bosan begitu saja.
Apa pula ini.
.
.
"Mau ke sekolah, nggak?" tanya Draco setelah dia berhasil menghabiskan seloyang cokelat kemanisan. Hermione berpikir sebentar.
"Sekolah mengadakan acara untuk Valentine, 'kan?"
"Ada acara spesial di akhirnya." Draco menyeringai. Dia tidak mendiskusikan soal acara menyatakan perasaan di panggung tersebut kepada Hermione. Itu ide yang dadakan yang dia pikirkan sehari sebelum hari H.
"Acara spesial? Apa itu?"
"Haha. Pokoknya ada." Dia menepuk kepala Hermione pelan. "Mau ke sekolah nggak nih? Kalau nggak mau ya nggak apa-apa. Kita bisa menghabiskan waktu berduaan kita di sini—"
"Iya iya ke sekolah!" seru Hermione cepat. Draco memang pikirannya suka aneh-aneh. Benar, 'kan, batin Hermione. Draco kegeeran karena dia sudah membuatkan cokelat untuknya.
Draco senyum penuh kemenangan. Dia ingin melihat siapa saja yang punya nyali untuk mengungkapkan perasaan di panggung. Ah, dia juga punya hutang pada si Zabini. Sarannya ampuh. Dasar playboy, dia menggelengkan kepalanya.
Setelah menunggu Hermione bersiap-siap menggunakan seragam, Draco pun bangkit dan bersiap-siap untuk pergi. Tapi Hermione bertanya. "Yakin kita bisa masuk sekolah? Sudah telat beberapa jam, Draco …"
"Aku tahu jalan yang tepat untuk menyelinap ke gedung sekolah." Hermione membelalakkan matanya. Draco memang susah ditebak jalan pikirannya. Ck.
.
.
Pansy jadi panitia untuk acara yang terakhir.
Mereka kekurangan orang untuk menjadi panitia (salahkan Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS yang meninggalkan tanggung jawab mereka begitu saja karena tidak hadir) sehingga, Pansy Parkinson yang memiliki catatan sosial lumayan bagus di sekolah—lebih tepatnya catatan sosial dengan para guru karena Pansy hobi cari muka—sehingga Pansy Parkinson yang terhormat dipilih menjadi panitia.
Pansy tidak tahu harus senang atau gembira. Eh, dua-duanya sama, ya?
Dia dipilih jadi panitia. Seumur-umur dia tidak pernah jadi panitia sekolah—karena banyak anak-anak yang membencinya, tidak ada yang mau bekerja sama dengannya. Suatu kehormatan tersendiri baginya, apalagi seorang guru yang menunjuknya.
Dia harus menunjukkan yang terbaik. Lihat saja, wahai para haters, Pansy mengumandangkan dalam hati, aku bisa lebih baik dari kalian!
Ketika dia sudah bersiap-siap di belakang panggung sebagai panitia, mencatat nama para pemuda yang akan maju ke panggung nanti, entah kenapa dia jadi senang. Dia punya kegiatan. Dia punya sesuatu yang harus dia urus. Dia diandalkan. Dia dipercaya. Dan dari semua fakta-fakta tersebut, dia amat senang. Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang seperti ini.
Lambang panitia berada di saku kemeja seragamnya kini, membuat dia tambah bangga.
Daphne adalah orang yang sudah menyadari kelakuan Pansy dan badge 'panitia' di sakunya, dan dia tersenyum senang. Pansy berubah, walaupun untuk hari ini dan beberapa menit saja. Daphne tetap senang.
Theo memeluk Daphne dari belakang, posisi mereka masih di tengah aula, bedanya agak ke kiri sedikit. Daphne kaget, menoleh ke belakang dan mendapati Theo sedang menatap matanya lurus-lurus.
"A—apa?"
"Kau senang 'kan?"
"Y—ya, tentu saja…" Memang Theo tidak mengatakan 'aku cinta kamu' atau 'maukah kau jadi pacarku'—karena Daphne yakin kalau Theo mengatakan hal-hal tersebut padanya, dunia akan kiamat—tetapi perhatian dari Theo sudah lebih dari cukup untuknya, terasa seperti mimpi dan dia tidak mau bangun selamanya.
Theo menatap sekeliling. Banyak orang yang curi-curi pandang ke arah mereka, dan langsung Theo memberikan tatapan mautnya sehingga tatapan menyebalkan itu berhenti. Kemudian ada sesuatu yang menarik perhatiannya, Ron Weasley sedang berjalan ke dekat panggung, berbicara kepada Parkinson selaku panitia untuk acara terakhir. Parkinson jadi panitia? Bukan hal yang mengherankan. Theo tahu kalau sebenarnya gadis itu bisa berubah, hanya saja dia terlalu angkuh untuk mengakuinya.
Tunggu tunggu. Kenapa Ron menghampiri Parkinson dan Parkinson mencatat sesuatu di kertasnya?
Jangan bilang Ron mau mendaftarkan diri?!
Iya, Ron memang sudah menceritakan kedekatannya dengan salah satu kembar Patil tadi pagi, tapi secepat inikah? Di atas panggung, pula? Di hari Valentine?
Theo menepuk dahinya lebih kencang dari yang dia kira.
.
.
Ron misuh-misuh.
Kedua kakak kembarnya lebih menyebalkan dari biasanya. Mereka memaksa Ron untuk naik ke atas panggung dan mengikuti acara terakhir nanti.
"Masa kau tidak bisa, Ronnie?"
"Hanya untuk menyatakan cinta saja tidak berani?"
"Kau lagi dekat dengan si Patil itu, 'kan?"
"Come on, adik kecilku yang manis, Weasley tidak ada yang sepayah kau."
Telinga Ron panas. Karena temperamennya memang sebesar satu sendok teh, jadi tanpa pikir panjang lagi dia langsung mendaftarkan diri kepada Parkinson—dan Ron sendiri kaget karena Parkinson jadi panitia. Dia berdebat dengan Parkinson untuk hal-hal yang tidak penting seperti, "kenapa kau jadi panitia? Kau ingin menyabotase acara, ya?!" dan dijawab Parkinson dengan tak kalah ngotot pula, "memangnya kenapa kalau aku jadi panitia, kau sirik, hah?!" kemudian anak-anak di belakang yang mengantri mencibir karena debat tidak penting mereka berdua, dan akhirnya debat berhenti dengan hasil seri—jadi beginilah keadaan Ron sekarang. Berjalan tak tentu arah karena Patil sedang bersama kembarannya dan pergi entah ke mana.
Ron menabrak seseorang. Atau sepasang. Laki-laki dan perempuan.
"Ron? Kau kenapa?"
ITU SUARA HERMIONE.
Ron langsung mengangkat kepalanya. "Kenapa kalian di sini? Bukannya kalian sedang berduaan di kediaman Granger?" cerocos Ron tanpa dosa. Hermione melotot.
"Kami tidak berduaan!" elaknya. Bohong, jelas-jelas mereka berduaan tadi.
"Haaah sudahlah. Draco Malfoy, kau sialan. Kau Ketua OSIS, 'kan? Pasti kau yang mempunyai ide untuk acara terakhir nanti, 'kan?" Ron mendengus kencang-kencang tatkala tangan Draco dan Hermione bertautan erat.
Draco tertawa ngakak. Ron mendelik.
"Kau ikut?" Draco tertawa lagi. "Bagus, aku akan melihat penampilanmu. Pasti buat Parvati Patil, ya?"
"Eeeh?" Hermione yang tidak tahu apa-apa segera menatap Draco dan Ron bergantian dengan bingung. "Acara apaan sih? Parvati Patil? Sejak kapan? Kenapa? Aduh kok aku ketinggalan banyak?"
"Malfoy…"
"Ya, Weasley?"
Ron hanya bisa melewati mereka berdua dengan hati pasrah. Kedua kakak kembarnya itu pasti puas karena Ron sudah mendaftarkan nama kepada panitia. Si Rambut Merah itu tidak bisa berhenti mengumpat dalam hati.
Kalau sudah begini jadi kacau, 'kan?
.
.
.
"Halo." Senggal-senggol. Harry langsung menoleh dan pandangannya terpaku pada Ron Weasley yang menggaruk-garuk kepala.
"Apa?" tanya Harry sembari mencari Luna yang langsung pergi ketika frasa 'halo' disebutkan. Agak kesal pada Weasley yang satu ini, tapi … ya sudahlah. Luna bisa dia cari lagi nanti.
"Bantu aku." Ron grogi, dia mengguncang-guncang pundak Harry dan Harry bisa melihat keringat dingin yang ada di dahi dan tangan Ron Weasley. "Kau tahu 'kan, si kembar itu, dia menyuruhku nanti di atas panggung dan nanti aku akan menyatakan perasaan lalu aku akan dipermalukan dan aku dan aku dan aku—" Ron berbicara tidak beraturan tanpa bernapas. Harry melongo.
"Sebentar. Aku tidak mengerti."
"Aaaaah!" Ron berteriak frustrasi. Untung saja semua orang-orang di sana lagi sibuk dengan urusan masing-masing, jadi tidak ada yang memerhatikan keadaan pemuda berambut merah itu.
Harry mengerjap. Sekali. Dua kali. Sampai dia sadar kalau Ron benar-benar depresi.
"Mari kita pikirkan strategi," ujar Harry seenaknya dan langsung menarik tangan Ron bebas dari kerumunan. Mata biru Ron nyalang melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Parvati Patil, dan tanpa sadar, tatapannya malah bertemu dengan tatapan marah Lavender.
.
.
"Mister Malfoy. Miss Granger."
Baik Draco Malfoy dan Hermione Granger—otomatis—langsung melepaskan pegangan mereka di tengah-tengah aula dan menoleh ke belakang dengan gerak lambat.
Severus Snape sedang memelototi mereka berdua dengan tatapan setajam elangnya lewat mata sehitam arang. Hermione bergidik dan mundur satu langkah. Pasti guru dengan rambut berminyak ini sudah tahu apa yang terjadi sehingga Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS datang terlambat.
"Ya, Professor Snape?" sahut Draco kalem, karena dia yakin Severus Snape tidak bisa marah pada dia, murid kesayangan guru kimia tersebut.
Mata Snape seperti menusuk sampai ke ulu hati. Hermione mundur satu langkah lagi. Bukannya dia takut tapi dia memang merasa seperti melarikan diri dari tanggung jawab, berasa seperti pengecut yang, yang, yang—
"Ikut aku," suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan di tengah jalan raya, "sekarang." Ditambah aksentuasi di kata yang terakhir. Hermione menelan ludah dengan susah payah.
"Baik," jawab Draco dan langsung menarik Hermione untuk membuntuti Snape.
Sepanjang perjalanan, yang bisa Hermione lakukan dengan sepenuh hati adalah memandangi punggung Snape dengan tatapan kelewat takut. Berkali-kali juga dia merasa sepatunya lebih menarik untuk dipandangi daripada keadaan di sekitarnya. Draco harus menahan tawa demi menjaga gengsi dan martabatnya sebagai seorang Malfoy.
"H—hei, Draco, menurutmu apa yang akan—" Hermione sedikit memelankan suaranya ketika mendapati Snape berjalan lebih lambat. Hermione menahan tangan Draco untuk menjaga jarak. Ketika Snape berjalan kembali dengan jalan cepatnya, Hermione melanjutkan perkataan yang terputus, "—dilakukan Snape?"
"Professor Snape, Hermione," tukas Draco.
"Come on, Draco!"
"Mungkin kita akan dihukum. Atau lepas jabatan. Atau nilai kimia akan dikurangi dan aku tahu itu tidak ada hubungannya dengan keterlambatan kita di acara Valentine. Atau—"
Hermione memutar bola mata. Draco menyeringai.
"T—tapi mungkin aku akan memberikan alasan supaya kita bebas hukuman," ucap Hermione dengan kekeraskepalaan. Biasalah, sifatnya yang ini muncul lagi. Draco hanya bisa menatapnya datar sementara sepasang mata hazel milik Hermione berapi-api.
Mereka tidak sadar kalau mereka sudah berada di hadapan ruangan Professor Snape.
Snape membukanya pelan, hampir tak terdengar, dan memberikan isyarat kepada mereka untuk masuk. Draco mengangguk patuh dan menyeret Hermione lagi untuk masuk ke dalamnya.
"Aku hanya memberikan detilnya secara singkat," kata Severus Snape to the point, bahkan pasangan belia ini tidak dipersilakan duduk. "Ada satu atau beberapa perubahan yang terjadi karena ketidakhadiran kalian dalam acara Valentine ini."
Ketidakhadiran. Mereka dihitung alpa. Draco masih memasang wajah datar dan Hermione memberanikan diri untuk mengangkat tangan, ingin memberikan 'alasan' supaya Snape tidak salah paham.
"Jangan mencoba menginterupsi perkataanku, Miss Granger. Aku tidak butuh alasan-alasan busukmu. Baik, yang pertama adalah Miss Parkinson sudah didaftarkan menjadi panitia dan mendapatkan badge sebagai tanda menjadi panitia. Yang kedua—"
"PANSY PARKINSON JADI PANITIA?"
Hermione membekap mulut Draco menggunakan tangan kanan dan Snape mendelik. Kemudian Draco cengengesan.
"—Mister Malfoy, aku juga tidak meminta pendapat atau protesmu. Aku di sini hanya untuk menjelaskan. Baik, tidak ada waktu untuk berdiskusi bagi kalian berdua. Yang kedua, hadiah untuk acara yang kau usulkan, Malfoy. Kembar Weasley sudah menjanjikan sepaket Weasley Wizard Wheezes untuk pemuda gentleman yang paling romantis, katanya," lanjut Snape dan memasang ekspresi aku-ingin-muntah karena kalimat yang terakhir.
"Lalu?"
"Kau yang memilih hadiahnya. Oh, bukan kau, tapi kau dan Miss Granger. Yang ketiga, kalian sudah melewatkan acara pembukaan dan penukaran cokelat serta meninggalkan tanggung jawab sebagai ketua acara." Terlalu kejam kata-kata Snape, dan agak susah untuk ditolerir oleh gadis yang keras kepala seperti Hermione Granger. Dia ingin mengeluarkan intervensi lagi, tapi tatapan tajam Snape membuatnya untuk mengurungkan niat.
"Konsekuensinya…?" tanya Draco kelewat pelan. Snape memberikan hening-hening yang mencekam untuk Malfoy dan Granger.
"Konsekuensinya adalah…"
Snape terlihat enggan untuk menyebutkannya karena dia tidak terbiasa untuk melihat sejoli untuk bertatap mata dengan mesra di hadapannya. (Kalau perlu tahu, sebenarnya dari tadi Snape mengurung diri di ruangan ketika acara pembukaan selesai.)
.
.
"Kau mau bawa aku ke mana, Zabini?" Fleur hanya bisa membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh pemuda bermarga Zabini. Pertama, dia memang tidak punya kemampuan untuk menghindari serangan-serangan buas dari para pemuda. Kedua, dia memang … tidak punya tujuan untuk ke mana.
"Ke mana saja asal kau terhindar dari pemuda-pemuda keras kepala seperti mereka."
Si cantik berambut pirang mendengus. "Lalu apa yang harus kusebutkan dengan kondisi ini, Tuan? Aku juga tengah melarikan diri dengan seorang pemuda keras kepala bernama Blaise Zabini."
"Wah, kau menyebutkan nama kecilku."
"Itu bukan persoalannya!"
Blaise terkekeh dan mereka sampai di sisi luar aula Hogwarts. Menghela napas lega karena pemuda-pemuda itu kehilangan arah, Fleur menyandarkan punggung pada dinding terdekat. Blaise tersenyum kecil melihatnya.
"Lelah, Nona?"
"Bukan urusanmu. Kalau bisa dibilang, sebenarnya ini urusanmu karena kau yang telah membuatku kabur seperti ini."
"Aku kan membantumu."
Ada rasa tak percaya yang menyelinap di hati Fleur ketika dia mendapati kalau dirinya mau saja dibawa oleh pemuda berkulit gelap ini. Harusnya dia bisa mengelak, tapi dia malah mengikuti perkataannya. Jadi Fleur hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
Kemudian Fleur menangkap sosok berambut hitam dengan tas selempang berwarna biru menatap sendu ke luar. Fleur tersadar. Itu Cho Chang!
"Ch—"
Blaise membekap mulutnya dan mereka mengendap-endap untuk mencari jalur lain. Fleur protes lagi. "Dia itu temanku dan aku ingin memanggilnya tapi kenapa tidak boleh?"
"Kau ingin mengganggu momen-momen di saat dia ingin sendiri?"
"Eh … tapi kan…"
"Dia itu sedang ingin sendiri, Bidadari," ucap Blaise tenang dan Fleur merasa dia mual lagi, "jadi jangan ganggu dia. Dia menikmati momen seperti itu."
"Sok tahu."
"Ya ampun, kaukira aku tidak berpengalaman bersama perempuan? Aku tahu kapan mereka mau sendiri dan kapan mereka mau bersama dengan pemuda tampan sepertiku."
"Kalau begitu tinggalkan aku sendiri karena sekarang aku ingin sendiri!"
"Anda berbohong, Nona. Sudah jelas-jelas kau sedang kesepian dan membutuhkan seseorang untuk menyembuhkan luka di hatimu karena masa lalu."
"Masa lalu?"
"Masa lalu." Blaise mengangguk puas karena melihat raut wajah Fleur yang tercengang dan shock. Well, jarang-jarang kan bisa melihat ekspresi anggun nan angkuh milik Fleur kini dihiasi ekspresi yang lain?
"Aku bisa melihat kau bisa menolak banyak pemuda karena kau punya trauma di masa lalu. Atau memang mempunyai prinsip tidak ingin berhubungan dengan siapapun untuk saat ini. Tapi ternyata kemungkinan pertamalah yang paling banyak mempunyai probabilitas."
Fleur memilih untuk membuang muka.
Kali ini Blaise berbicara dengan nada yang serius.
"Koreksi aku kalau salah, tapi kau pernah mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan, 'kan?"
Fleur bergeming.
"Dan … karena cinta yang bertepuk sebelah tangan itu, kau menjadikan orang lain sebagai pelarian, dan kau tidak tahu kalau orang lain itu menganggapmu sangat mencintainya sehingga kau merasa bersalah, sangat sangat sangat merasa bersalah, sehingga kau memutuskan untuk tidak mau menerima orang lain dalam kehidupanmu. Kau merasa kalau kau akan mempermainkan mereka lagi. Dalam hati, kau menutup diri. Dalam dirimu, kau merasa kesepian. Dan sebenarnya dalam kesendirianmu itu, kau membutuhkan seseorang."
"Cukup, Zabini."
"Lalu sekarang kau melarikan diri dari kenyataan. Kau takut untuk jatuh cinta, Nona Delacour."
"Cukup."
Blaise tidak peduli lagi dan melanjutkan ocehannya.
"Kau berusaha untuk menghindar, berusaha untuk lari, padahal kau tahu kalau kau adalah seorang yang penakut dalam urusan hati. Kau juga tidak mau orang lain melihat kekuranganmu, karena kau adalah seorang yang perfeksionis. Dalam hal tertentu seperti—"
PLAK!
Adalah tamparan yang menggema di sisi luar Hogwarts, dengan seorang perempuan Asia sebagai saksi. Dia terkejut karena Fleur adalah bintang utamanya.
"Fleur…?"
.
.
"Dua puluh menit lagi menuju acara puncak! Masih tersisa waktu bagi yang mau mendaftar!" teriak George keras-keras lewat pengeras suara. Sementara Fred, di sisi lain, mempromosikan hadiah luar biasa yang akan diterima bagi pemuda-gentleman-yang-paling romantis.
Aula makin ramai. Di pojokan terdapat Roger Davies dan Ginny Weasley berbincang ringan dan hangat, rasanya mereka sangat menikmati perbincangan, layaknya sore hari dengan teh dan angin yang berembus pelan. Itu sangat nyaman.
Ada juga Dean Thomas dan Padma Patil yang bercumbu seraya memakan cokelat dari pasangan dan disuapkan ke mulut yang lain. Seamus Finnigan dan Neville Longbottom, salah dua dari panitia tambahan mencari-cari siapa tahu ada yang mau mendaftar untuk acara puncak dan dipersilakan untuk datang ke Pansy Parkinson.
Lavender Brown merengut dan berjalan tanpa tentu arah. Tidak ada yang bisa dia lakukan dalam keramaian menyebalkan apalagi Ron tersayangnya sedang bersama Harry untuk mendiskusikan acara penembakannya kepada Parvati Patil. Jengkel dan dongkol adalah dua kata yang tepat menggambarkan dia saat ini.
Draco dan Hermione juga sudah keluar dari Neraka sekitar lima menit yang lalu. Kini mereka duduk dengan santai di salah satu bangku yang sedang tak terpakai.
"Baik. Siapkan mentalmu, Hermione Granger," seloroh Draco membuka percakapan.
"Tidak," gumam Hermione kelewat kencang sehingga Draco bisa mendengarnya. "Tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Ini sangat memalukan. Aku tidak mau melakukan konsekuensinya. Tapi ini memang salah kita. Tapi aku malu. Ini benar-benar mempermalukanku!"
Hermione tengah bertarung dengan rasa gengsi dan rasa tanggung jawabnya. Draco hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus cincin berinisial DH di jari manis Hermione. Lebih tepatnya, cincin yang ia berikan saat Pesta Dansa Natal dua bulan yang lalu.
Dua bulan ya … hubungan mereka baru dua bulan. Rasanya lama, lama sekali. Atau itu karena mereka sudah mengenal satu sama lain terlampau intim?
Draco dan Hermione menghela napas bersamaan.
"Aku—"
"Aku—"
Mereka juga berbicara bersamaan. Draco menggedikkan bahu. "Ladies first."
Hermione menghela napas lagi. Berat, kelihatannya.
"Professor Snape tega."
"Err. Maaf karena sudah menyeretmu ke permasalahan seperti ini. Harusnya aku menurutimu dan tidak ke rumahmu, setidaknya kalau aku datang kau tidak akan tertekan seperti ini."
"Tidak, tentu saja ini salahku, Draco. Harusnya aku tetap masuk ke sekolah. Atau membeli cokelat lain yang sesuai seleramu daripada memakan cokelat-cokelat tak berguna buatanku. Malah sekarang aku merepotkanmu, 'kan?"
Draco menatap Hermione dengan pandangan tak setuju.
Lalu Hermione menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Oke. Sekarang beritahu aku apa yang ingin kaubicarakan."
Seringai seorang Malfoy muncul lagi. Hermione agak … agak lho ya agak, bergidik.
"Aku belum memberikanmu cokelat dan hadiah, 'kan…" Samar-samar Hermione bisa mendengar nada kemenangan dalam kalimat tersebut. Nada kemenangan? Mungkin otaknya telah rusak.
"Y—ya…"
"Jadi aku akan memberikan ini untukmu." Draco mengeluarkan sekotak penuh berbagai cokelat, tak kalah mahal dari yang Daphne berikan untuk Theo, dan oh, tidak perlu mengucapkan merek. Hermione membulatkan matanya.
"Draco, aku … maksudnya, kau tidak usah memberikan cokelat juga kepadaku. Cukup aku yang memberikannya."
"Memangnya kenapa? Itu 'kan hakku sebagai kekasihmu, Hermione Jean Granger."
"Well…"
Wajah Hermione bersemu merah. Dia tersenyum cerah dan melupakan masalah konsekuensi lalu segera membuka kotak cokelat tersebut dan mencomotnya satu.
"Dark chocolate."
Hermione mengangguk-angguk antusias dan mencomot lagi. Draco terkekeh lalu mengeluarkan sebuah benda lagi dari tasnya.
Yang berambut cokelat senada dengan sepasang mata menoleh dengan penasaran. "Apa yang akan kaulakukan, Draco?" tanyanya setelah menelan sebutir cokelat.
Draco mengeluarkan gelang perak dengan motif berang-berang dan musang yang berdekatan. Melotot adalah reaksi pertama Hermione melihat berang-berang dan musang tersebut yang dia tahu itu menggambarkan mereka berdua … sudahlah. Tapi dia terkikik geli.
"Kau ingin memberikan benda itu kepada siapa? Ya ampun, Draco, kau memang kekanak-kanakan."
"Tentu saja untukmu."
"Hah?"
Draco, tanpa tedeng aling-aling, memasangkan gelang tersebut di tangan kiri Hermione, mempermanis kulit seputih susu itu. Hermione merona lagi dibuatnya, kemudian digeleng-gelengkan kepala supaya yang bersangkutan tidak melihat ekspresi salah tingkahnya.
"Kau suka 'kan?" tanya Draco dan mengambil satu cokelat dari kotak yang dia berikan kepada Hermione.
Hermione mengangguk pelan dan berbisik, "terima kasih."
Draco tersenyum mengejek. "Sama-sama, Nona Keras Kepala."
Kepala Hermione rasanya mau meledak karena mendengar julukan tersebut. Diangkat kepalanya dengan cepat dan langsung memelototi si pemuda berambut pirang-platina. "Kau juga keras kepala, Tuan!"
"Dari skala satu sampai sepuluh, tingkat kekeraskepalaanmu adalah sembilan tiga per empat," ujar Draco dengan cueknya sambil mengunyah cokelat. Hermione mendelik.
"Kuberikan sepuluh untukmu."
"Wow, terima kasih."
Mereka berbincang lagi, kali ini tak menentu dengan topik random yang ada di kepala. Dari acara Valentine sekolah mereka yang berjalan dengan lancar sampai sekarang, bagaimana hubungan Theo dengan Daphne atau Harry dengan Luna, sampai topik tidak jelas seperti apakah semut bisa menangis.
Kemudian Hermione teringat dengan konsekuensi yang akan dijalankannya dengan Draco nanti. Tapi Draco malah senyam-senyum.
"Kuberitahu, dear Hermione … bahkan aku tidak memasukan hal itu sebagai kosakata konsekuensi dalam hidupku. Kupikir itu malah hiburan."
"Tapi aku akan merasa malu, demi Tuhan!"
"Tapi aku tidak."
"Kau benar-benar keras kepala," keluh Hermione.
"Kita adalah pasangan keras kepala yang serasi, Sayang."
Getokan di kepala sebagai hadiah atas perkataan Malfoy yang semena-mena. Draco sempat mengaduh tapi dia nyengir lagi. Mungkin disiksa Hermione adalah tanda kasih sayang kepadanya, iya 'kan?
Pastinya.
.
.
"Biar kuulangi sekali lagi," kata Harry, sengaja kali ini agak keras-keras. Dia sudah berpisah jalan dengan Ronald Weasley setelah memberikan dia saran ini itu dan motivasi. Sekarang dia sedang berusaha membujuk Luna Lovegood supaya gadis itu mengerti 'penembakan'nya. "Aku … aku …" pada bagian inti, Harry langsung kicep.
Luna kebingungan.
"Ya?"
"Tidak. Lupakan saja." Harry menggaet lengan gadis itu dan langsung pergi meninggalkan aula ketika mendapati aura menyeramkan seorang Delacour menyebar di seluruh ruangan. Di belakangnya ada pemuda yang ia sangat kenal, Blaise Zabini, menggaruk kepala sambil cengar-cengir.
Cowok-cowok yang tadinya masih gigih mengejar Fleur sudah menyerah sebelum mencapai jarak lebih dekat. Blaise nyengir makin lebar.
"Auramu menyeramkan sekali, Nona."
"Diam."
"Jadi kau sudah memutuskan untuk mengusir Cho Chang untuk ke Rumah Sakit bersama Diggory supaya bisa berduaan denganku, ya?"
Fleur mendelik. "Aku tidak mengusirnya, bodoh. Aku memberinya saran dan dia mau mengikutinya. Jelas saja itu bukan salahku."
"Kalem, kalem."
Entah bagaimana caranya Blaise bisa membujuk Fleur supaya gadis cantik itu tidak marah lagi dengannya. Tahu-tahu mereka sudah bergandengan tangan menuju aula dengan aura super menyeramkan dari Fleur.
Beralih dari scene tersebut ke Theodore Nott dan Daphne Greengrass yang sedang 'bermesraan' di tengah-tengah aula. Lalu … siapa lagi? Pansy sudah selesai dengan tugasnya sebagai orang yang mencatat para peserta untuk acara terakhir, dan dia pergi ke belakang panggung untuk menyetorkan tugasnya. Well … siapkan mentalmu.
.
.
"Tes. Tes. TES. TES!"
Aula yang tadinya berisik langsung sunyi senyap karena suara George Weasley yang lebih keras dari biasanya. Ia menepuk mikrofon berkali-kali, lalu menatap sekeliling aula dengan ceria. Fred merebut mik tanpa peduli kebahagiaan George.
"Yoo! Sesuai janji, ini sudah memasuki tahap terakhir."
"Jadi yang merasa sudah mendaftarkan diri sebagai peserta, diharapkan untuk bersiap-siap di belakang panggung."
"Jangan setengah-setengah! Kalau memang mau maju, silakan maju!"
"Jangan lupa juga hadiahnya adalah Weasley Wizard Wheezes yang memukau!"
Mereka semua bertepuk tangan dan langsung menyeret kaki mereka ke tengah aula. Ronald Weasley, salah satu korban kakak-kakaknya, meminta doa yang tulus dari teman-teman yang baik hati dan tidak sombong. Blaise tertawa geli melihatnya. Draco dan Theo memberikan jempol sementara Harry memberi tepukan semangat di pundak.
Mulai dari peserta pertama…
"Umm … umm … itu … selamat pagi—"
"PAGIIII!"
"Jadi … hari ini…" jreeeeng! Petikan gitar terdengar, lalu lagu romantis bergema di sepanjang dinding aula. Gadis yang mendapatkan 'tembakan' beruntung itu langsung menganggukkan kepala dengan malu-malu dan resmilah satu pasangan karena acara yang direkomendasikan (atau diminta) oleh Draco.
Satu pasangan. Dua pasangan bertambah. Lalu tiga pasangan.
Acara semakin meriah walaupun ada dua laki-laki yang ditolak, tidak apa-apa. Itu memang menyedihkan tapi bukan itu yang dinilai, kawan. Yang penting punya keberanian dan kepercayaan diri di atas panggung.
(Walaupun itu memalukan.)
"Selanjutnya," Fred Weasley berdeham di tengah tawa riang yang ia lontarkan bersama dengan kembarannya, George, "dari adik kami yang paling keren dan pemberani …"
Dan mereka menyebutkannya bersama-sama.
"RONALD WEASLEY!"
"WOHOOOOOOO!"
"Sial sial sial sial sial sial." Ronald Weasley yang sudah dipanggil namanya lewat mikrofon bolak-balik di belakang panggung sambil komat-kamit di dalam hati, sementara mulutnya menyumpahi apa pun yang bisa ia kutuk. Pansy Parkinson menatapnya kelewat jutek.
"Lebay, Weasley. Kau sendiri yang mau mendaftar."
"Bukan aku yang mau mendaftarnya, bloody hell…" Ron mengutuk apa pun lagi sebelum dia muncul di panggung dengan muka kelewat merah. Hampir sama dengan warna rambutnya.
Parvati Patil yakin lebih dari delapan puluh persen kalau ia adalah sasarannya, sementara Lavender Brown hanya bisa bersembunyi untuk menahan malu yang kelewat sangat karena mengincar Ron, yang notabene naksir sahabat baiknya. Lalu Padma Patil memberikan senyuman untuk menyemangati sang kembaran. "Semangat, Parvati."
"Huuuum."
"Selamat siang …" Ron menghirup napas dalam-dalam dan memberikan senyum lima jari. Walau ia giliran terakhir, tetap ada rasa takut yang menggerogoti. Penonton tertawa dibuatnya karena ekspresi itu lucu sekali. "… aku Ronald Weasley. Jadi hari ini aku akan…"
Ron berdiri dengan gagah di atas panggung. Ia menatap aula dengan keyakinan yang terpancar begitu dalam lewat sepasang mata birunya.
"Kamu, iya kamu yang keturunan India, yang cantiknya menawan sampai bisa membuatku lupa tidur dan selalu senyum-senyum seperti orang gila,
kamu, iya kamu yang cantik jelita dengan kulit menawan, senyummu indah layaknya langit malam yang dihiasi rembulan,
kamu, iya kamu yang selalu membuatku cengengesan walaupun kita baru dekat selama tiga hari, kamu yang membuatku pusing mencari pencerahan kenapa aku bisa begini,
kamu, iya kamu yang sedang ada di sana, berdiri dengan anggun dan sangat atraktif di depan mata…"
.
Ron menarik napas dalam-dalam.
.
"CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE..."
"UHUUUUUK!"
"EAAAAAAAAAAAA."
"SIAPA ITU SIAPA."
"KETURUNAN INDIA KATANYA."
"KEMBAR PATIL YA."
"PADMA PATIL KAN UDAH PUNYA SI DEAN."
"BERARTI PARVATI PATIL."
Seketika keributan di aula meningkat empat puluh persen. Ron meringis dan Harry mengacungkan jempol dengan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
Parvati menunduk malu.
"Kamu …"
DORRR!
Beberapa butiran coklat tertembak di sekitar Parvati Patil. Tembakan Butiran Cokelat 98-WWW yang dipakai Ronald Weasley terdeteksi oleh banyak orang: salah satu jenis barang yang ada di toko Weasley Wizard Wheezes.
"KONSPIRASI WOOOOOOOO."
"MASA UDAH DIBANTUIIIIN."
Ron mundur perlahan-lahan, merasa dirinya dipojokkan dan hanya bisa memberi cengiran terbaik. Dia melanjutkan ungkapan yang belum selesai tadi, "… mau nggak jadi pacarku?"
"TERIMA! TERIMA! TERIMA!"
Parvati memungut butiran-butiran cokelat itu dan mengumpulkannya hingga kedua tangannya penuh oleh cokelat-cokelat. Dia menyiapkan tenaganya dan berteriak dengan kencang. "IYAAA!"
Siulan terdengar.
Blaise Zabini menyenggol Harry yang sedang tersenyum puas. "Kau yang membantu dia, ya? Mana mungkin dia bisa seromantis itu, kan dia nggak peka."
"It's true. Aku membantunya supaya dia dan Parvati bisa mendapatkan yang terbaik."
Ron berlari ke belakang panggung tanpa melakukan penutupan. Fred dan George Weasley langsung menggantikan keriuhan tersebut dengan suara-suara mereka.
"Gini, guys. Ronald Weasley emang sengaja kita berikan alat itu, jadi dia nggak akan menang."
Dehaman.
"Karena kita hanya ingin lihat sampai di mana batas keberanian dan kepercayaan dirinya! Benar 'kan, George?"
"Yep! Jadi jangan protes dulu … dia nggak bakal menang. Tapi hadiahnya dia yang terima 'kan? Dapat pacar baru … huahahahaha."
Yang lain langsung mengangguk-angguk mengerti dan memberikan tepukan meriah untuk para panitia yang sudah menyelenggarakan acara ini dengan sukses dan tanpa hambatan. Parkinson, di dalam sana, entah terharu atau sedih tapi ada setetes air mata yang keluar dari matanya.
Fred dan George Weasley sudah akan melakukan penutupan acara karena Ron tadi adalah peserta yang terakhir sebelum Severus Snape menyela mereka dengan melangkah seenaknya ke atas panggung.
"Acara belum selesai," katanya singkat, jelas, padat, dan tajam. Para siswa langsung menatap dia dengan tatapan segan dan takut. Dia melanjutkan, "ada satu acara spesial untuk hiburan kita semua karena ketidakhadiran ketua panitia pada acara hari ini."
"Huh?"
Si Kembar Weasley bersamaan mengangkat kedua tangan.
"Tidak ada yang menginterupsi kata-kataku. Baik. Silakan maju, Mr. Malfoy dan Ms. Granger."
.
"Serius kau tidak malu kita harus…" Hermione menunduk, menatap gaun yang ia kenakan. Warna pink bercorak mawar dan sedikit menggembung di bagian bawahnya, seperti ala gaun zaman Victoria. Oh iya, rambut Hermione diurai dan membuatnya tampak memukau. Draco Malfoy, dengan tuksedo berwarna hitam dan dasi hitam rambut pirang-platinanya dibuat mengilap, menggandeng tangan Hermione dengan mesra. Pansy berusaha untuk tidak cemburu dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Siap-siap," katanya ringkas. Draco dan Hermione mengangguk bersamaan.
Mereka maju di panggung seperti penyanyi yang ingin berduet karena mereka memegang mikrofon yang sudah diserahkan oleh panitia. Suasana langsung hening, semua lampu dan sumber cahaya ditutupi, kini yang ada hanyalah cahaya yang menyorot panggung; menyoroti mereka berdua.
"Selamat siang semuanya. Kami ingin minta maaf karena keterlambatan kami untuk hadir di acara ini. Sebagai gantinya, kami akan bernyanyi … berduet untuk menghibur kita semua."
Suasana masih hening, terlalu diam dan membuat Hermione tambah grogi. Tangan kirinya yang kosong menggenggam Draco supaya tak lagi bertemu dengan udara yang mencekam. Hermione memejamkan mata, terlihat memalukan karena yang disorot hanyalah dia dan Draco.
—kemudian, musik diperdengarkan…
"Aku menemukan diriku di depan pintumu,
seperti waktu yang sebelumnya,
aku tidak tahu bagaimana aku sampai di sana,
semua jalan menuntunku sampai di situ."
Draco menyanyikan lirik yang sudah ia hapalkan secara kepepet setengah jam yang lalu karena perintah Severus Snape yang baik hati ramah tidak sombong dan guru terkeren sepanjang masa memaksanya untuk bisa menyanyikan lagu ini bersama Hermione.
[… beberapa menit yang lalu …]
"Konsekuensinya apa, Professor Snape?" tanya Hermione tidak sabaran. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghentak-hentakkan kaki dengan berisik sehingga Snape harus memelototi sepatu Hermione.
"Maaf," bisik gadis berambut gelombang cokelat itu. Draco tersenyum melihatnya dan Snape memberikan tatapan tajam. "Jadi, Professor Snape … kalau boleh kutahu apa konse—"
Draco dan Hermione menelan ludah dengan susah payah ketika Severus, guru Kimia terkiller yang pernah ada, memberi seringaian sinis.
"Mudah. Bernyanyi. Lebih tepatnya kalian berdua bernyanyi di atas panggung, berduet, menyanyikan lagu ini." Snape membanting secarik kertas berisi lirik lagu di dekat meja kerjanya. "Hapal itu. Sekarang juga. Kalau kalian mau berduaan, silakan. Tapi harus hapal lirik lagu ini. Tidak ada yang gagap di atas panggung. Tidak ada yang membuat para panitia malu karena kelakuan kalian yang tidak disiplin. Sudah bagus Professor Dumbledore memaafkan kalian dan tidak menurunkan jabatan. Kalau aku jadi dia, sudah kuturunkan jabatan kalian berdua."
[… sekarang …]
Mereka sudah mencapai refrain;
"Dan tepat di matamu,
aku hancur,
tidak ada masa lalu, tidak ada alasan mengapa,
hanya kau dan aku."
Mereka tersenyum dan menatap satu sama lain. Menyanyikannya bersama. Berdua.
"Ini adalah terakhir kali aku menanyakanmu hal ini,
taruh namaku di puncak daftarmu,
ini adalah terakhir kali aku menanyakanmu hal ini,
kamu hancurkan hatiku dalam sekejap mata…"
Lagunya memang galau tapi dinyanyikan dengan hati yang tenang. Siswa-siswi menjadi melting dibuatnya dan mereka melanjutkan nyanyian mereka sampai selesai.
Tepuk tangan menjadi dekorasi terakhir atas nyanyian mereka yang indah. Tidak mereka sangka kalau suara Draco dan Hermione sama bagusnya dan sangat sesuai, maksudnya, sangat pas, entahlah bagaimana harus menjelaskannya tapi mereka berdua sangat serasi.
Snape memberikan tepuk tangan (terpaksa).
Sorot lampu dimatikan dan aula menjadi terang kembali. Fred dan George Weasley tersenyum cerah.
"Dengan ini … acara Valentine Hogwarts Senior High School tahun ini telah berakhir. Terima kasih atas partisipasinya!"
.
.
"Katanya setengah jam lagi akan diumumkan siapa pemenangnya." Blaise Zabini, lima detik sekali, selalu melihat ke arloji untuk melihat bahwa jarum panjangnya belum bergerak. "Lama sekali."
"Draco Malfoy dan Hermione Granger yang memilih hadiahnya." Ron Weasley mengangkat bahu. "Aku rasa mereka bingung. Barang-barang aneh di toko kakak kembarku kelewat banyak."
"Aneh ya," komentar Harry.
"Dan ada di mana si Nott itu?"
"Berduaan dengan Daphne Greengrass, mungkin…"
Mereka bertiga menghirup napas bersamaan.
"By the way, Zabini, aku heran kau tidak ikut serta dalam acara terakhir itu."
Blaise tersenyum hambar.
"Untuk apa aku ikut," ia berkata, "kalau aku tidak tahu siapa targetku."
.
.
"PERHATIAN!"
Yang bersiap-siap untuk pulang kini memakukan atensi ke panggung lagi. Beberapa menggerutu, karena sudah berjalan menuju gerbang tetapi harus kembali ke sana.
"Maaf, teman-teman. Kami kan belum mengumumkan pemenangnya. Baiklah … pemenangnya adalah…"
Sebuah nama disebut, anak kelas dua belas yang memenangkan pertandingan antar lelaki-yang-paling-gentleman-ini diberi sambutan meriah (lagi). Hermione menyalami tangannya dan memberikan ucapan selamat sementara Draco memberikan sebuah katalog kepada si Pemenang.
"Ini adalah daftar barang-barang yang ada di Weasley Wizard Wheezes. Kau dibebaskan untuk memilih satu barang apapun yang kaumau!"
"Wohoo!"
"Tentu saja ini sudah mendapat persetujuannya dari si pemilik." Pemuda jangkung berkulit pucat itu menyeringai. "Silakan dipilih."
Setelah tujuh menit ia membolak-balik katalog itu, ia setuju untuk mengambil Parfum Penuh Pesona 39-WWW yang ada di halaman sembilan belas. Kembar Weasley mengangguk dan mengambil barangnya, menyerahkan itu kepada pemilik barunya dan diangkat tinggi-tinggi seperti piala. Tepuk tangan lagi, keriuhan yang sama, dan keramaian yang menyenangkan.
"Dengan ini, acara Valentine Hogwarts Senior High School telah resmi berakhir!"
.
.
Mereka berenam, setelah acara melelahkan yang dari pagi mereka jalani hingga jam dua sore seperti sekarang, berkumpul di kantin sekolah yang masih dibuka untuk anak-anak yang masih nongkrong di sana.
"Jadi … habis ini kita akan Ulangan Tengah Semester."
"Hoooooo." Ron menguap malas, menutup mulutnya yang lebar dengan kedua tangan besarnya. "Setelah itu kita harus melakukan ulangan ini itu dan memasuki Ulangan Akhir Semester."
"Sangat melelahkan, bro."
"Kurasa tidak." Harry cengar-cengir. "Kita harus kerja sama. Bukan, bukan kerja sama dalam artian menyontek. Tapi kita harus mendukung satu sama lain. Misalnya…"
"Misalnya, Draco yang ahli dalam Kimia."
Draco nyengir karena Hermione yang memujinya begitu. Hermione mendengus tapi tersenyum di balik dengusannya.
"Atau Harry yang sangat sangat sangat menyukai Fisika," Blaise menyambung. Yang lain mengangguk menyetujui, Harry menggaruk dahinya yang tidak gatal.
"Theodore Nott, ahlinya dalam Matematika!"
"Jangan lupakan Ron yang bisa menjawab semua pertanyaan dari Professor Flitwick tentang apa pun yang bersangkutan dengan Seni…"
"Blaise paling jago dalam urusan Sejarah dan Sosialnya Professor Binns."
"Kita punya Hermione Granger yang bisa segalanya!"
Mereka mengangkat gelas jus jeruk bersamaan dan mempertemukannya di udara. Ya ampun, persahabatan mereka lebih indah dari yang bisa dibayangkan.
.
.
"Jadi, kau mau ke mana, Luna?" tanya Harry canggung, menggenggam tangan gadisnya yang putih dan halus setelah acara Valentine yang melelahkan.
Luna menarik napas sebentar.
"Aku … mungkin aku pulang ke rumah, Harry. Membuat cokelat."
"Hah?" Harry terkejut, agak melompat ke belakang karena jawaban Luna yang tidak terprediksi. "Membuat cokelat? Siapa? Bukannya kau sudah membuatkan itu untukku? Atau kau ingin memberikannya ke cowok lain?" ia bertanya dengan menggebu-gebu.
"Oh, bukan," jawab Luna halus. "Aku ingin memberinya kepada Nargles."
Harry tersenyum lega.
Nargles, rupanya.
"Oh iya, Harry."
Langkah Harry terhenti, dia menunggu kalimat Luna yang menggantung di udara dan rasa penasaran mulai mencakar-cakar otaknya.
"Itu, tadi sebelum acara terakhir dimulai, kau ingin mengatakan sesuatu, 'kan?"
"Aaah, itu, lupakan saja!" Harry tersenyum grogi. "Sampai jumpa."
Luna mengangguk. "Sampai jumpa."
.
"Zabini. Oke. Perjumpaan kita berakhir sampai di sini," Fleur berucap seketus mungkin dan meraih tasnya supaya bisa pergi jauh-jauh dari makhluk hidup berjenis kelamin laki-laki bernama lengkap Blaise Zabini.
"Yah. Kalau begitu, sampai jumpa."
"Hm." Fleur berniat untuk melangkah pergi, tapi ada sesuatu yang menahannya di dalam hati. Dia menoleh, melihat Blaise yang tersenyum tulus. "Apa?" tanya Fleur, terlampau jutek.
"Tidak, tidak apa-apa. Hati-hati." Blaise melambaikan tangannya, namun tak ada yang membalas. Sayang sekali Fleur bahkan menolak untuk melihat lambaian tangan yang tulus itu.
Dengan itu, Fleur melangkah pergi. Gadis cantik itu tidak tahu kalau Blaise menyelipkan sebatang cokelat ke dalam ransel baby blue miliknya.
Walaupun dia berkata kepada teman-temannya dia tidak mempunyai target, dia punya satu.
Hanya satu.
.
"Sejujurnya aku tadi malu sekali … malu banget, demi Tuhan. Ron, kenapa kau menuruti rencana kakak-kakakmu itu?"
Parvati dan Ronald sedang berbicara di lorong sekolah yang sepi, di mana hanya dinding-dinding yang menemani dan Lavender menguping sembunyi-sembunyi.
"Yeah, tapi kau menyukainya 'kan?"
Parvati mengangguk.
"Thanks a lot." Dan dia mengambil sebutir cokelat dari tasnya; itu yang ditembakkan Ron tadi siang, dan mengunyahnya dengan perlahan-lahan dan penuh rasa sayang.
"Enak."
"Oh, enak ya?" Ron tersipu.
Parvati mengangguk semangat. Ron menoleh ke sana kemari, memastikan tidak ada yang mengintip (Lavender ahli dalam mengintip dan menguping, kautahu) dan akhirnya dia mengecup kening Parvati pelan.
"See ya later."
.
Lambaian tangan mereka lamat-lamat berada di udara, menolak untuk dilepaskan, menolak untuk dipisahkan. Akhirnya setelah keputusan yang berat dan masih skeptis, dan kini telah dia putuskan apa langkah selanjutnya yang akan ia ambil, Daphne memeluk tubuh kurus Theo erat-erat, benar-benar tidak mau dia pergi.
"Tolong jangan pergi," gumam Daphne lirih. "Jangan pergi dulu, sebentar saja … yakinkan aku kalau ini bukan mimpi, Theo…" Daphne kembali berbisik.
"Ini bukan mimpi," Theo menelan ludahnya, "Daphne bodoh."
"Baguslah. Sangat menyakitkan kalau kau yang bisa memberikan aku cokelat dan kalung dan album dan dan dan dan dan ini hanya mimpi itu sangat perih, Theo. Kau tahu kan kalau aku mencintaimu lebih dari apa pun." Daphne tak memerlukan tanda tanya dalam kalimatnya karena ia sudah memberi ketegasan dan kepastian kalau ia benar-benar mencintai Theo dari lubuk hati.
"Yeah, aku sangat tahu soal hal itu."
Daphne benar-benar ingin tahu apa perasaan Theo terhadapnya, tapi Theo tak mau mengungkapkan.
Mungkin ini benar-benar mimpi.
Mimpi yang setengah-setengah. Padahal Daphne berharap sekali. Terlalu berharap dan rasanya jatuh itu sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari pecahan gelas yang ia tusukkan ke dalam pergelangan tangan atau tamparan Theo karena membela Padma Patil atau ciuman ganas Theo di depan Blaise Zabini. Tubuhnya bergetar, tidak mampu menahan sakit lebih lama.
Theo melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Daphne tinggi-tinggi, menciumnya lembut, lembut sekali dan Daphne benar-benar ingin menangis.
"Ini bukan mimpi. Serius. Percayalah padaku."
.
"Habis ini aku akan mengantarmu ke rumahmu."
Hermione mengangguk, mengikat rambutnya yang tadi diurai karena konser dadakan dengan lagu duet yang ia tidak tahu apakah suaranya enak didengar atau tidak.
"Kau yakin mau menatap muka dengan Maurice Granger?" Hermione terkikik melihat ekspresi Draco yang langsung berubah ketika nama Maurice Granger disebut. Ia menggerutu tak jelas dan menggenggam tangan Hermione lebih erat.
"Tidak usah bahas dia di kehidupanku, demi apa pun, dia sangat menyebalkan."
"Dan keras kepala."
"Betul sekali, sangat keras kepala." Draco mengangguk menyetujui.
"Seperti kau, Tuan Menyebalkan Malfoy."
Draco menggerutu lagi dan Hermione tertawa dibuatnya. Ia, gadis yang memakai gaun ala Victoria, tersenyum riang sembari mengelus gelang bermotif berang-berang dan musang itu dengan halus dan sayang. Draco meliriknya.
"Hermione, jangan buat aku cemburu."
Hermione mengernyitkan dahi, bingung maksimal karena pernyataan Draco yang tidak ada asal usulnya sama sekali. "Hah?"
"Kau mengelus gelang itu dan bahkan kau tidak mengelus rambutku sama sekali—"
"Ya ampun. Manja."
"Sekali-sekali kan tidak apa-apa—"
"Ini bukan sekali-sekali lagi!"
Mereka tertawa bersama.
Habis ini, ada ujian yang harus mereka hadapi.
Oh, dan empat bulan lagi—walaupun masih lama—Hermione teringat sesuatu dan membuatnya tersenyum (dalam hati). Ulang tahun Draco. Lima Juni.
.xOx.
TO BE CONTINUE
A/N: Ya. Hari Valentine ini sengaja saya bagi menjadi dua bagian, yaitu Part I (untuk chapter 19) dan Part II (untuk chapter 20) kalau semuanya di sini jadi kepanjangan dan menurut saya jadi kurang greget /apaan/ yang ada pembaca malah bosan nanti, hehe.
[Edited: 12.10.2014: Bagian I dan Bagian II sudah saya gabung menjadi satu, sesuai dengan rencana saya untuk mereduksi bab di fanfiksi ini sehingga menjadi delapan belas bab atau kurang]
Itu no offense, ya. Di sini Hermione saya bikin gak bisa masak. Nggak apa-apa, Draco tetap cinta, 'kan? /ngeq
Ada yang bertanya kapan LFH update atau Obs update. Jawaban saya, mereka diupdate secara bergantian. Kalau LFH update bulan ini, Obs update bulan depan, begitu pula sebaliknya.
… but it depends on my schedule, guys. Kehidupan saya lagi sibuk-sibuknya, di mana presentasi menghiasi sana-sini dan kerja serta tugas kelompok menjadi sesuatu yang … merepotkan.
Oh iya, yang ngeship Theodore Nott/Daphne Greengrass (selain saya dan selain yang ada di fanfiksi ini) boleh coba kunjungi fanfiksi saya yang berjudul 'We Belong Together', yang temanya agak dark tapi … Theo/Daph juga. Cuma genrenya memang berbanding terbalik sih dibanding ini hahaha.
By the way, ada yang sudah tahu IFA? IFA merupakan ajang tahunan penghargaan fanfiksi di Indonesia yang sudah diselenggarakan semenjak tahun 2008 hingga saat ini. Untuk lebih detilnya bisa lihat qunnyvictoria dot wordpress dot com atau kunjungi profile page saya XD
… maaf buat update yang kelewat lama dan bahkan sampai lupa ceritanya udah sampai mana. Deeply sorry from my heart.
Terima kasih buat yang mau mereview/fav/follow hingga saat ini. Tidak ada penulis tanpa pembacanya, betul? Saya berharap semoga kalian (masih) mau membaca fanfiksi yang sekitar dua atau tiga chapter ini bakal 'kelar' :p
I love you, guys!
.:. balasan review.:.
[NOTE: Kali ini semua review saya balas di sini. Balasan review yang ada di sini adalah review dari Bab 19 dan Bab 20 tentang Valentine Day yang tadinya dibagi menjadi dua, kini sudah digabung menjadi satu.]
Rove Malfoy: Wkwk, iya. Supaya lebih nyantai aja ada kata-kata kayak gitu walaupun kasar, eheheh. Blaise emang iseng, sih x'D engg bonus ini khusus buat terpisah aja, sih. Lanjutan bonus? Entar deh dipikir-pikir lagi :3 iya, ini nggak nyampe dua bulan, kan? :p ini sudah update! :3
putims: Hehehe, waktu itu settingnya mereka belum pacaran, soalnya itu saat liburan musim panas tahun lalu ^^ ini udah update! :3
aira kelpion: Halo juga, Aira! :D waaah iyakah? Maafkan saya juga karena sudah kelamaan updatenya, eheheh. Serius? Makasih banyak, ya :3 Tebakanmu hampir bener tuh yang Ginny :3 Harry sama Astoria? Lunanya dikemanain dong, hihi. Harry galau sama Cho di chapter ini karena settingnya liburan musim panas tahun lalu, jadi dia belum kenal Luna, hehe. Ini sudah update! :3
nadsfr. ri: Iyaaa ehehe, maaf lama (._. ) yep. Draco ditipu gara-gara kelembutan suara Hermione waktu itu XD ini sudah update! :3
Adellia Malfoy: Ahaha makasih yaa X'D Pansy and The Gang bentar lagi bakal hancur. Satu langkah lagi!
Lyra Jane Malfoy: Halo juga, Lyra! :D aduuuh makasih yaa. Senengnya~ hehe x'D iya nggaapaapa kok ^^
aulia. ummuaachzt: Iyaa! Saya juga suka bagian itu, rasanya enak ngerjain orang wihihihihi :3 /qun. Hehehe, chapter bonus lagi, ya? Nanti deh ^^ ini udah update! :3
Nisa Malfoy: Ini udah update, Nisa! :3
hashi99: Mereka sering berantem dan di saat yang sama mereka adalah sahabat tak terpisahkan~ ~XD makasih, ya! Haha, amin … aku udah diumumin kok, kalau kamu? Ini sudah update! :3
Reese Hiddleston: Halo juga, Reese! :D Makasih :3 Draco genitnya sama Hermione doang, kok~ /ngeh. Iya nggak apa-apa. Draco jangan tolol-tolol banget entar fansnya hilang /heh. Weasley kali ini berperan penting kuks~
fprisil: Ini udah update! :3
faaanytama: Ini udah update! :3 hheheh
NS Yoonji: Begitulah, fufu. Mereka nggak peka semua.
Kuro Ao: Aw! Thanks untuk semua review-reviewmu, itu berharga sekali untuk saya. Sekali lagi terima kasih udah mau nyempetin review untuk beberapa chapter sekaligus, I love it! Itu maksudmu yang di chapter 11 itu, AstoriaxTheo atau DaphnexTheo? Hehe, cause I don't feel like I wrote something about AstoriaxTheo :3 Maurice Granger memang sialan, tapi kali ini dia ngebantu Hermione coughwalaupunngeselincough XD ini udah update!:3 sekali lagi, terima kasih banyak x'3
callagloxinia: Hehe, ini Theo pacaran sama Padma soalnya setting chapter sebelumnya adalah liburan musim panas tahun lalu, jadi mereka baru saja mau naik ke kelas dua ^^
giovanni: Chapter-chapter sebelumnya memang ngebosenin, maybe? ini udah update! :3
aprilia. d. pratiwi. 5: Halo! Ini udah update! :3
ulfah. cllalluww: Halo, Ulfah! Salam kenal juga, Qunny di sini. Makasih :D Iya, di chapter sebelumnya Draco dan Hermione baru kenal selama satu tahun soalnya settingnya liburan musim panas tahun lalu, hehe. Daphne dan Theo udah berkembang hubungan mereka di sini XD ini udah update! :3
callagloxinia: Halloo hehe. Ini sudah update yaaaw :D
rina. kartika. 980: Haloo. Ini sudah diupdate ya
Aquila Capella Malfoy: Haloo jugaa. Ini sudah diupdate yaaa :D
Mata48: Eeeeh masa sih? / hehe. Makasih yaa. Ini sudah update
reviewernew: Sayang kamu nggak login atau nggak punya akun. Kalau ada, mungkin saya udah teriak-teriak (pakai capslock, maksudnya) dan ngetik nggak jelas huahahaha abis saya seneng banget ada yang bilang LFH ada humornya x'D. Seandainya ada, saya akan nambahin jadi Romance/Friendship/Humor. But seriously ini ada lawaknya? Saya nggak berbakat ngelawak, soalnya ;')) dan don't worry! Saya suka review yang panjang-panjang :')) terima kasih, Sayang. Ini sudah diupdate yaaa
chika nate granger: Ini sudah update
Guest: Maaf, maaf. Seingat saya, sudah saya tulis di chapter yang bersangkutan kalau tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan suatu karakter, tapi karena peran yang dia dapat untuk mendukung dan atau menyokong cerita. Semua itu demi character development yang sudah saya pikirkan matang-matang setiap saya menulis satu chapter. Jadi, maaf kalau kamu tersinggung atau tidak suka
AdrianaaAdalson: Wahaha, jangan takut ngereview, saya nggak ngegigit xD makasih ya udah dibilang keren :D ini sudah update!
Kalaibrahim: Ini sudah update! Terima kasih sudah mau menunggu yaaa, ehehehe.
Farah Zhafirah: Halo, Farah! Wah, selamat datang di fanfik ini, kalau begitu :3 aaah makasih sudah dibilang keren hehe. Selipan bonus menghibur? Well, mungkin akan jadi pertimbangan untuk di chapter-chapter berikutnya :') gaya penulisan yang enak dibaca, ya … terima kasih banyak :'3 kalau Fleur masuk enam sahabat, yang ada Fleur sama Hermione tatap-mata-pengen-bunuh-terus. Wakkaak, saya juga ngefans sama Fleur, eh di sini malah dibikin nyebelin x'DDD ini sudah update, terima kasih yaaa!
gothicamylee: Draco Malfoy gitu … Mana bisa kalau dia nggak licik hihihi. Ahh makasih kak, aku juga suka sama gaya penuulisan kakak yup, Theo, talk less do more, tipe cowok cool yang aku banget xD /kokmalahcurhat/. Pairnya cocok? Ehehehe XD ini udah update!
aulia. ummuaachzt: Kalau di chapter ini, Theo makin romantis, gak :p? Ron emang nih, pelawak alami hehe. Fleur jatuh cinta sama Blaise? Hmmm xD haha iya maaf, lagi pengen bikin adegan 'natural' yang gak terkesan maksa. Harry-Luna pasti ada kok, tenang aja. Dramione, yep. Soalnya itu adalah pair utama di fik ini. Ini sudah update, makasih yaa! :D
Nisa Malfoy: Ini udah update, hehehe :D
Roinette M: Bikin ngakak, ciyus? :p sipsip deh, lainkali kalau sebelum update bakal cek lagi supaya typonya gak banyak-banyak. Trademark? Glad to hear that! Paling suka kalau udah ada yang ngomentari gaya penulisan, hehe. Ini udah update yaaak. Makasihhh :D
Agnes: Waah makasih hehe, ini sudah update ;)
hashi99: Thanks a lot, hashi! iyaa semoga nggak bosan ya baca fanfiksi ni hehe. Astaga makasih banyak udah didoain begitu … aminaminamin! :D hehe aku juga ;) semoga sukses ya di sana. Makasih banyak yaaa. Ini sudah update! :D
ynishimuraya: Wahh belum kok … masih ada beberapa chapter lagi sebelum benar-benar tamat. Kalau Silent Reader, saya jadi nggak tahu apa yang kamu pikirkan soal fanfik ini, hehe. Tapi terima kasih ya sudah mau mereview di chapter ini
ulfah. cllalluww: Hehe, iyaa … semoga aja dia tobat duh, capek ngendaliin dia/? Wkwkwk. Pansy sama Astor pasangannya … umm, lihat aja nanti ;) Blaise sama Fleur? Ehehe … XD
clato-chan: Mau cepet2 apa hayoo. Karakter siapa yang kamu gilai di sini? X'D
draconis: Itu dia, saya punya masalah di karakterisasi. Makanya di warning sudah saya cantumkan ada OOCnya. Tapi akan saya berusaha perbaiki supaya karakter Hermione tidak seperti itu lagi. Terima kasih komentarnya
BlueDiamond13: Iya wahaha, Hermionenya terkesan bukan Hermione banget, ya? Mau bolos demi Draco seorang x'D. Hehe iya, seingatku sih belum. But it's okay. Terima kasih sudah mau review di chapter ini ^^
Bella Elizabeth: Hehe nggak apa-apa, yang penting sekarang kamu mau review, kan? :D aaah, terima kasih banyak pujianmu. Hati-hati saya terbang awwahahaha. Maaf kalau updatenya lama, ya … saya usahain supaya bisa update cepat. Ini sudah diupdate, ya. Terima kasih!
Ms. Malfoy: Terima kasih yaa udah dibilang bagus hehe. Ini sudah diupdate!:D
Arjuna: Yep, saya juga suka sama karakternya Theo (dan Daphne serta Fleur, di sini). Theo di sini udah greget belum? Wahahhahaa.
Stephanie Malfoy: Ini udah lanjut, hehe. Terima kasih yaa
bubbleshen: Halo, bubbleshen! Berusaha membuat karakter Draco untuk tetap IC tapi nggak tahu udah kena atau nggak ICnya, makanya saya bikin begitu, ehehhee. Neville? Biarkan dia jomblo dulu untuk sementara. Yep, seperti saya. Jadi maaf kalau TheoDaph di sini lebih kental dibandingkan DraMione, padahal pair utamanya itu Dramione. Ayo kita sama-sama Theo-Lovers mendukung hubungan dia dengan si Sulung Greengrass … xD Maurice, biarlah dia sendiri dan rasain karma dengan apa yang dia lakukan kepada Hermione. Hehe, kalau dia suka sama Draco gawat, jadinya ala sinetron rebutan cowok ... nggak mau bikin yang lain suka sama Draco lagi … XD. Wah, ini udah panjang, lho. Saya suka sama pendapat-pendapatmu, dan ditunggu pemikiranmu selanjutnya di chapter ini. Ini sudah update, terima kasih, ya! :D
Oh iya, mau ngasihtau bentar (nggak gitu penting sih).
Setiap mau update fanfik, pasti saya baca reviewnya berulang-ulang. Kenapa? Ya … karena semua pendapat kalian, pemikiran kalian tentang fanfiksi ini, telah menjadi sumber 'nutrisi' untuk saya dan saya tidak hilang semangat untuk melanjutkan fanfiksi yang (hampir) terbengkalai ini.
Sekali lagi, terima kasih dan sampai jumpa di chapter selanjutnya! :D
