Disclaimer: Harry Potter © J.K. Rowling. I gain no financial advantages by writing this.
Characters: Draco Malfoy/Hermione Granger, Theodore Nott/Daphne Greengrass.
Warning: Typo(s). Multichapter. AU-Highschool. OOC. Many Pairing. Tidak bermaksud untuk bashing chara, semua karakter yang ada di sini adalah karakter-karakter yang terpilih karena semuanya saya suka :p. Bab ini panjang dan merupakan bab terakhir. Jangan bosan, ya =))

Enjoy!


.:. Love, Friendship, Hate? .:.
© qunnyv19

.

Chapter 17: Jujur atau Berani


"… ya?" katanya ragu-ragu dan menggigit bibir, lalu menggelengkan kepala ketika mendengar suara yang ada di seberang telepon. Hatinya tergerak untuk berkata ya, tapi otaknya bersikeras kalau jawaban yang benar adalah tidak.

Tapi dia sudah terlalu sering menggunakan hati ketika berada di dekat Theo. Dia sudah terlalu sering bertindak impulsif ketika hatinya berkata demikian. Kali ini dia harus berkata tidak, bagaimana pun juga caranya. Apa pun resikonya ….

Bibirnya bergetar dan dia menggigit bibirnya nyaris berdarah.

"Aku tidak bisa," ujarnya setengah hati, menarik selimut sampai ke atas lututnya. Dalam hati dia menyesal karena tidak bisa memaafkan dirinya sendiri; terlalu tertutup jika bersama orang lain.

Apalagi jika acara menginap yang diadakan gengnya Theo dan kawan-kawan. Demi apa, dia diajak! Tentu saja dia senang, tapi tidak mungkin dia bisa menerimanya. Pansy dan Astoria akan mendelik kecewa padanya, berkata dia pengkhianat, lalu akan memasukkan bangkai tikus seperti yang mereka lakukan kepada si Kecil Weasley di lokernya.

Daphne menghela napas dalam-dalam. Di seberang, terdengar nada Theo yang datar.

"Ya sudah. Kalau kau tidak bisa datang, tidak apa-apa. Aku tidak memaksa."

Theo, yang sudah siap-siap menekan tombol merah di ponselnya, tertahan karena suara Daphne yang terdengar nyaring di sana. Mengatakan seperti 'maaf' dan 'mungkin kapan-kapan kau bisa undang aku lagi, aku akan datang' atau 'selamat tinggal'. Oh, sudahlah. Perkataan itu tidak akan bisa mengubah keputusan Daphne dari tidak ikut menjadi ikut, bukan?

Pemuda tersebut menutup sambungan telepon dengan hati yang tidak bisa dikatakan tidak kecewa. Kontan saja dia membanting ponselnya di atas kasur dengan bantingan yang membuat ponsel itu sedikit melompat. Bayangkan saja, rekan-rekannya sudah mengajak pasangannya (walaupun dia tidak bisa menyebut Daphne pasangannya) masing-masing—Draco sudah pasti mengajak Hermione, Blaise mengajak Fleur (walaupun mereka juga belum bisa dikatakan pasangan), Harry mengajak Luna (dan rencananya dia akan menembak Luna setelah acara menginap selesai), dan Ron mengajak Parvati, yang sudah berpacaran sejak hari Valentine empat bulan yang lalu.

Yep, sekarang adalah bulan Juni. Liburan musim panas telah datang, dan mereka akan menginap di Malfoy Manor tanggal empat Juni nanti, sekaligus untuk merayakan ulang tahun Draco yang bertanggal lima Juni. Padahal yang berulang tahun tidak punya niat untuk merayakan ulang tahun sama sekali ….

Dan tentu saja, para gadis itu sudah setuju untuk menginap di kediaman Draco yang super mewah itu. Fleur berkata, "bukannya aku mau bersamamu, Zabini, hanya saja Draco itu sepupuku, jadi aku setuju," sementara Luna, dengan kata-katanya yang aneh dan sulit diartikan, mengangguk setuju dengan senyum manis. Theo tahu detilnya dari Hermione, omong-omong, saat mereka bertemu tadi sore.

Theo memukul dinding dengan tangan kanan yang terkepal. Dia tidak peduli lagi karena itu membuat tangannya menjadi berdarah. Apa lagi sih yang Daphne rencanakan? Memangnya Theo tidak cukup untuknya? Memangnya apa salahnya sih menerima tawaran Theo untuk berkumpul bersama teman-temannya? Memangnya tidak bisa, ya, dia mengalah dan bersama Theo untuk hari itu saja?

Dia mengumpat untuk kesekian kalinya sebelum membanting tubuhnya ke atas tempat tidur.

.


.

"Blaise?"

"Check."

"Fleur?"

"Check."

"Ron?"

"Check."

"Parva—"

Hermione mengerutkan hidung ketika Draco menanyai hal yang tidak perlu ditanyakan. Pertanyaan retorik. Dengan kesal dan jengkel, dia menjawab seperlunya. "Sudah pasti, Draco Lucius Malfoy, karena Parvati itu kekasihnya Ron dan dia sudah setuju jauh-jauh hari, lagipula kalau tidak salah—oh, yeah, tidak salah berarti benar—kita berdua menguping ketika Ron mengajak Parvati!"

Itukah yang dinamakan menjawab seperlunya?

Draco nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya. "Kukira dia batal atau apa, gitu. Oke, lanjut ya … Harry?"

Hermione mendengus. "Check."

"Luna?"

"Check."

"Theo?"

Hermione terdiam sebentar, tidak berani menjawab langsung. Masih teringat kata-kata Theo kemarin malam kalau dia kesal sekali sehingga tidak tahu akan ikut rencana mereka atau tidak. Sayangnya, Hermione tidak akan membiarkan Theo meninggalkan acara ini. Draco pasti kecewa jika Theo tidak bisa mengikuti acara menginap ini untuk ulang tahunnya, tapi Draco tidak akan mengungkapkannya secara langsung. Ah, laki-laki.

Gadis berambut cokelat itu tidak mau membuat Draconya kecewa dan membuat sahabat baiknya sendirian dan kesepian ketika teman-temannya sedang berkumpul bersama. Jadi, dengan lantang Hermione menjawab, "Check."

Kemudian Draco menyebutkan satu nama lagi. "Daphne Greengrass …?"

"No," gumam Hermione, nyaris tak terdengar. Namun karena jaraknya dengan Draco hanya berjarak beberapa senti, Draco bisa mendengar lirihan Hermione.

"Kenapa?" tanya Draco. "Bukannya Theo ikut? Sebentar, Hermione, Theo ikut, 'kan? 'Kan? Kenapa Theo ikut dan Greengrass tidak mau ikut—"

Hermione menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Draco … semalam Theo bilang padaku, kalau Daphne tidak bisa ikut. Theo, didengar dari suaranya dan kata-katanya sendiri bahwa dia sangat kesal, dan dia tidak tahu apakah dia akan ikut atau tidak. Tapi aku tidak mungkin membiarkannya sendirian, 'kan? Aku tidak akan membuatmu kecewa karena Theo tidak hadir, bukan?"

Draco bergeming di tempatnya, memutuskan untuk tidak terlalu banyak bicara. Hari ini sudah tanggal tiga. Seharusnya Theo bicara tentang ini semua. Sekarang malah jadi pusing, bukan?

"Jadi, dia ikut atau tidak?"

Mereka berdua sedang berada di sofa rumah Hermione. Ayahnya sedang pergi keluar bersama rekan kerjanya, sedangkan Maurice sudah tidak lagi menginap di kediaman Granger yang satu itu. Entah kenapa Draco lega karena Hermione tidak sedikit pun membahas tentang Maurice dan mengajaknya ke Malfoy Manor.

Amit-amit.

"Aku tidak tahu, coba kau tanya dia," tukas Hermione, menyerahkan kertas dan pulpen bertinta ke pangkuan Draco, pertanda dia sudah selesai dengan tugasnya. Ia menguap, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan menyandarkan kepalanya di bahu Draco.

Tadi malam dia memang tidak tidur. Pukul sebelas sampai pukul satu dia teleponan dengan Theo. Sebagai sahabat yang baik, Hermione tentu saja mendengar keluh kesah Theo dengan nada kesalnya, padahal Theo sudah bersusah payah supaya nada datar yang terdengar, nyatanya tidak. Setelah mendengar pengakuan Theo bahwa Daphne tidak ikut dan Theo menjadi bimbang, Hermione memikirkan cara supaya Draco tidak mengetahui hal ini, setidaknya untuk sementara.

Selama setengah jam setelah teleponnya dan Theo selesai, dia memikirkan apa pun kata-kata yang bisa dia lontarkan ketika Draco mendengar hal ini. Dia tidak mau melihat Draco kecewa, demi Tuhan! Theo merupakan salah satu sahabat baik Draco. Walaupun mereka berdua tidak pernah mengungkapkannya, Hermione tahu dari cara mereka berbicara.

Nyatanya usaha selama setengah jam itu gagal. Pada jam-jam tersebut yang ia lakukan hanyalah merenung dan menanyai teman-teman mereka melalui via pesan, apakah mereka sudah diterima ajakannya atau belum. Sisanya dia memikirkan acara-acara menarik apa yang akan mereka lakukan di Malfoy Manor.

"… ne?"

Hermione mengerjap. Draco membuyarkan lamunannya dengan sisa-sisa panggilan namanya. Draco mengernyitkan dahinya. "Ada yang kau pikirkan?"

"Sejujurnya, ya," ungkap Hermione dan menarik lagi kepalanya dari bahu Draco. Draco menatapnya cemas dan memegang dahinya.

"Kau tidak apa-apa?"

"Bagaimana dengan Theo?" Hermione mulai panik. "Bagaimana kalau Theo sendirian di rumahnya sementara kita bersenang-senang bersama di tempatmu? Bagaimana kalau kau jadi tidak menikmati acaramu sendiri karena harus melaksanakan acara tanpa Theo? Bagaimana kalau acara ini tidak berjalan dengan lancar? Bagaimana?"

Draco terkekeh. "Terlalu banyak hal yang kau khawatirkan, darling. Ada banyak cara yang bisa kubuat supaya Theo mau ikut. Dia pasti ikut, tenang saja. Aku Malfoy, kalau kau lupa."

Hermione menjitak kepala Draco dengan sepenuh hati. Yang kepalanya dijitak meringis kesakitan, dan mengacak-acak rambut Hermione. "Kau nggak perlu khawatir, oke? Khawatirkan dirimu sendiri."

"Tapi tetap saja, kan …"

Draco menatap Hermione gemas. "Jangan pikirkan yang lain lagi. Masih banyak yang perlu kita pikirkan hari ini. Kau sudah membereskan barang-barangmu, belum? Kita menginap tiga hari dua malam, aku tidak mau menanggung kalau misalnya kau tidak membawa buku-buku kesayanganmu itu."

Kali ini Hermione nyengir. "Kau tahu kalau aku tidak bisa tinggal di suatu tempat tanpa buku."

Draco memutar bola matanya. "Tentu saja tahu. Sangat tahu. Aku tahu segalanya tentang dirimu, Hermione."

Mau tak mau Hermione tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di bahu Draco. Draco cengengesan.

Dan kemudian mereka tertawa bersama.

.


.

Anginnya lebih dingin daripada yang sebelumnya. Jujur saja, Theo heran kenapa ada frasa angin dingin di tengah musim panas seperti ini. Dia memaksakan diri supaya tidak terlihat konyol dengan jaket kulit yang dia kenakan.

Dia sedang berjalan-jalan dengan hati yang gundah, di mana hatinya bimbang untuk memilih berdiam saja di rumah daripada harus iri ketika di Malfoy Manor, hanya dia yang tidak punya pasangan—atau teman, entahlah, coba sebutkan apa bedanya—dan hanya bisa duduk-duduk di pojok ruangan?

Terlintas di benaknya Draco dan Hermione yang bercanda di balkon lantai dua, Harry yang menyatakan cintanya pada Luna di teras belakang, Ron dan Parvati yang bermesraan di ruang tengah, serta Blaise dan Fleur yang bertengkar dengan konyol di dekat tangga. Sementara dirinya? Bengong di ruang makan, tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tidak tidak tidak. Dia masih punya gengsi, tahu.

Setidaknya kalau ada Daphne kan dia masih bisa—

BRUK!

Kejadiannya begitu cepat. Theo segera menghajar orang di belakangnya menggunakan siku tangan ketika orang di belakangnya mencengkeram bahunya. Orang tersebut kini terpelanting ke tanah, dan Theo yakin jika setidaknya dia berdarah di bagian hidung.

Theo mengernyit. Draco mendengus.

Demi apa, bagaimana bisa dia bertemu Draco di jalanan ini? Memang cukup sepi, dan dia tidak yakin akan bertemu dengan siapapun yang dia kenal di sini. And yet, dia bertemu dengan Draco, satu-satunya orang yang akan dia hindari setidaknya sampai lima Juni nanti.

"Itu sakit, bro." Draco kini bangkit dan dibantu oleh Theo dengan mengulurkan tangannya. Theo menggedikkan bahunya dan menyalahkan Draco lewat tatapan matanya.

By the way, hidung Draco benar-benar berdarah.

"Bagaimana bisa kita bertemu di sini?" tanya Theo datar, melihat malas pada Draco yang sedang memberikan tatapan intens padanya.

"Kita kan memang punya koneksi tersendiri." Draco mengangkat kedua bahunya dan mengusap hidungnya. Untung saja belum patah. "Pertahanan diri yang bagus," sambungnya.

"Terima kasih."

"Sebenarnya kita tidak punya koneksi," kata Draco, membuang muka. "Aku membuntutimu sampai sini. Aku perlu bicara padamu."

Theo sudah punya firasat kalau Hermione Granger memberitahukan semua percakapan mereka kepada Draco. Well, mungkin tidak semua, tapi Hermione pasti memberitahu Draco soal absennya Daphne nanti dan kebimbangannya sampai saat ini.

"Mungkin akan kupikirkan lagi," tukas Theo, bahkan sebelum Draco sempat untuk mengutarakan kata-katanya yang masih ada di pangkal lidah. "Serius, kurasa kalian bisa bersenang-senang berdelapan dengan pasangan kalian masing-masing. Selamat tinggal," lanjutnya.

Draco terbatuk. Jadi Theo tidak mau hadir karena gengsi? Dia memang sudah tahu gengsi Theo yang kelewat tinggi, tapi kan … dia tega sekali tidak mau hadir acara teman baiknya sendiri.

Tapi … jangan katakan Draco adalah Malfoy kalau dia tidak bisa menyelesaikan masalah ini.

"Aku sudah tahu," ujarnya congkak, sedikit membetulkan posisi kerah bajunya yang dikoyak sekali karena pukulan Theo. "Makanya aku membawa pengganti Greengr—"

"Untuk menemaniku? Tidak. Tidak," sela Theo penuh aksentuasi, terutama pada kata tidak. Yang pantas menjadi pasanganku hanya Greengrass saja.

"Bukan," kekeh Draco, seringaiannya lebar sekali. "Supaya kau bukan satu-satunya orang yang tidak punya pasangan, Theodore Nott. Santai dulu. Jadi jika kalian sama-sama tidak punya pasangan, siapa tahu ini bisa mengobati kesepianmu."

"Tidak," Theo bersikeras. "Sudah kubilang, aku tidak butuh ditemani."

Akhirnya Draco mencapai batasnya dan mengangkat soal ini. "Sebenarnya Hermione khawatir," katanya memulai, kali ini melihat langsung pada Theo yang matanya melebar sedikit. "Pada kau. Dan aku. Dia tidak mau kau sendirian di rumah sementara teman-temannya bersenang-senang, dan dia khawatir padaku karena dia takut aku ke—lupakanlah. Bagaimana? Kau mau membuat Hermione gelisah selama menginap di rumahku?"

Theo bergeming. Jadi itu yang dipikirkan Hermione? Dia tidak menyangka kalau hati perempuan sebegitu sensitifnya. Dia memang akan sendirian selama tiga hari dua malam nanti, mungkin dia bisa mengikuti acara apa, gitu, yang tidak mengharuskan adanya pasangan ….

"Dan jangan lupa, Theo," ucapan Draco masih terus berlanjut, "Ini bukan acara dating. Bukan acara bersama pasangan. Ini acara kita bersama. Kita tidak menekankan acara ini untuk pasangan, tapi supaya ramai saja. Lagipula, apa artinya acara menginap kalau kalian semua sibuk dengan acara masing-masing? Lebih baik tidak usah. Paham? Oi?"

Draco menatap heran pada Theo yang kini menatap ke langit dengan tatapan tak terdefinisikan. Theo itu sensitif, bisa dibilang. Sayangnya Theo lebih sensitif kepada hal-hal yang pesimistik.

Pemuda berambut pirang itu harus menahan ngilu yang menyebar di sekitar hidungnya. Dia hanya bermaksud untuk memanggil Theo, tapi malah kena hajar. Sial.

"Oke." Draco nyaris melompat dari tempatnya ketika mendengar jawaban Theo yang terdengar diseret-seret dan berat. Theo melanjutkan, "Aku akan ikut. Beritahu Hermione. Acaranya besok, 'kan?"

Draco mengangguk, berusaha untuk tidak menampilkan sisi senangnya. Gagal karena seringaiannya bertambah lebar sementara Theo hanya mendengus pelan melihatnya. Ia terkekeh.

"Besok pukul empat sore kau sudah harus ada di Malfoy Manor. Bawa pakaian secukupnya."

Theo mengangguk paham. Toh akhirnya dia tidak tega juga pada Hermione. Dan tidak enak juga harus meninggalkan acara teman baiknya ….

"Omong-omong, siapa yang akan menghadiri acara itu selain kita-kita?"

Draco memberikan seulas senyum.

"Si bungsu Weasley."

.


.

Tanggal empat Juni telah tiba.

Draco yang menjadi Tuan Rumah dibantu oleh Hermione untuk menata rumahnya yang super besar. Kedua orangtuanya sudah meninggalkan tempat ini pada Draco, dan berkata mereka akan pulang sekitar satu minggu lagi.

Rencananya mereka akan tidur di tenda atau tidur di ruang tengah dengan karpet yang digelar. Kalau di tenda, resiko: panas. Tidur bersama di karpet: perempuan dan laki-laki digabung. Hermione tidak yakin gadis perfeksionis nan angkuh macam Fleur mau tidur di tenda dan tidur bersama di karpet. Hermione hanya berharap supaya acara ini lancar.

Draco tidak mau membagi kamar, walaupun kamarnya cukup untuk masing-masing mereka bersepuluh. Suasana ramai dan semaraknya akan berkurang. Draco berharap rumahnya yang besar dan sepi kali ini bisa diisi dengan keramaian yang sebesar rumahnya

Yah, semoga saja.

Draco menggeser-geser sofa dan meja-meja lainnya ke pojok ruangan. Hermione memberi komando supaya letaknya terlihat lebih rapi dan beraturan, lalu setelah itu Hermione akan membersihkan semua debu-debunya dan Draco menggelar karpet. Sekitar pukul tiga, Harry dan Luna sudah datang. Harry membantu Draco untuk menjadi kuli (sementara), Luna membantu Hermione untuk membersihkan tempat tersebut.

Pukul setengah empat, Theo datang dan takjub dengan hasil kerja mereka berempat, walaupun dia tidak secara gamblang mengungkapkannya. Dia berinisiatif membantu Harry dan Draco yang saat itu sedang menggotong televisi ke tempat yang lebih nyaman untuk ditonton ketika ada karpet digelar. Dua puluh menit kemudian, Blaise dan Fleur datang. Fleur memandang ogah pada karpet warna hitam yang tergelar di ruang tengah.

"Karpet … untuk apa? Sofa mana?" tanyanya dan matanya nyalang mencari-cari sofa.

Draco menjawab. "Karpet untuk tempat kita berkumpul. Sofa digeser selama tiga hari dua malam ini."

Fleur meyakinkan dirinya supaya dia tidak salah dengar. Akhirnya setelah menenangkan shock yang sempat melandanya, dia berkata, "Kamarku di mana?"

"Nanti akan diadakan forum diskusi."

"Forum diskusi?" Fleur terbatuk dan menaikkan alisnya, namun Draco tidak berminat untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Mereka bekerja lagi dan kali ini ditambah satu tenaga, Blaise. Fleur berdiri di dekat pintu, tidak tahu harus berbuat apa.

Tepat pukul empat, rombongan terakhir datang. Ron Weasley diapit oleh kedua gadis cantik, Parvati Patil dan Ginny Weasley. Ron dan Ginny sangat antusias dengan karpet yang digelar itu, sementara Parvati hanya tersenyum tipis.

"Bau kalian semua," komentar Blaise ketika mereka semua sudah kumpul di atas karpet dan semuanya sudah beres. Draco dan Harry cengengesan. Theo tidak berkomentar, dan para gadis juga sedang menunggu apa yang akan dibahas hari ini.

"Habis ini kita semua mandi. Cerewet kau Zabini," oceh Draco. Mereka berdua siap berperang kata lagi, namun segera dicegah oleh Hermione.

Fleur yang tadinya bersikeras untuk terus berdiri dan bersandar di tembok akhirnya mau duduk di antara Hermione dan Blaise Zabini. Ada rasa aneh yang menyusup ke hatinya ketika Blaise menyelipkan jemari-jemarinya ke tangan milik gadis tersebut.

"Oke, jadi begini," Draco berdeham. "Hari ini kita menginap sampai tiga hari dua malam. Ada yang mau memberikan usul kita akan tidur di mana? Tenda atau karpet ini?"

Fleur menjawab paling cepat, "Kamar."

Draco menggeleng. Dia sendiri memberi vote untuk karpet. Para gadis kebanyakan memilih tenda, minus Fleur yang tidak memberikan suaranya untuk apa pun. Ginny mengangkat tangannya dan bertanya, "Kalau di karpet cewek cowok digabung, dong?"

"Diberi 'sekat'," ujar Draco, memberikan tanda kutip menggunakan tangannya pada kata sekat. "Guling, bantal, atau apa pun. Tapi intinya memang masih pada karpet yang sama."

"Karpet," jawab Ginny puas. "Aku tidak tahan panas."

"Aku mau tenda," kata Parvati. "Sepertinya lebih seru."

"Karpet," Harry memberikan suaranya.

"Tenda," Hermione menyahut.

"Tenda," ujar Blaise.

"Karpet," Luna berkata.

"Tenda," Ron ikut-ikutan. "Asal kalian tahu kalau aku tidurnya berantakan."

Delapan suara sudah diambil jika tadi dihitung Draco memberi suara untuk karpet. Tinggal dua orang yang paling pendiam yang belum memberikan suaranya. Karpet dan tenda kini sama-sama mempunyai empat suara.

Dengan segala pertimbangan yang ada, panas atau tidur ramai-ramai di karpet, Fleur menjawab dengan seperempat hati karena tiga perempatnya lagi berteriak 'kamar kamar kamar'. Ugh.

"Karpet."

Semua kepala diarahkan kepada Theo. Laki-laki itu adalah penentu di mana mereka akan tidur malam ini. Merasa risih dengan tatapan seperti itu, Theo segera menjawab apa saja yang ada di benaknya.

"Tenda."

"Woah, seri," komentar Ron dan merebahkan tubuhnya ke atas karpet. Seperti yang diekspektasikan karpet keluarga Malfoy, rasanya lembut dan tak kalah nyaman di atas kasur, hanya saja ini diletakkan di bawah.

"Bagaimana, dong?" Blaise ikut-ikutan bingung sekarang.

Hermione, dengan apa pun yang bisa membuatnya mengorek otak jeniusnya untuk memberikan solusi, segera berpikir keras dengan dahi berkerut-kerut. Dia sendiri menginginkan tenda, tapi yang berulang tahun besok menginginkan karpet. Semuanya di sini tidak boleh egois, 'kan? Hermione harus menandai poin tersebut berulang-ulang.

"Begini saja," akhirnya ia berkata setelah menemukan solusi. Pembicaraan yang sedang heboh mengurusi tenda atau karpet segera berakhir ketika Hermione angkat bicara. "Aku punya pendapat. Ada yang mau mendengarkan?"

Semuanya langsung mengangguk. Draco tersenyum melihat tingkah Hermione.

"Karena kita menginap tiga hari dua malam … kita bisa mengatur waktunya. Satu malam untuk karpet, satu malam untuk tenda, setuju? Win-win solution, 'kan?"

Mereka semua tampak berpikir. Fleur merasa kepalanya tambah panas memikirkan dia harus tidur di tenda dan berpanas-panasan di luar. Musim panas dan tidur di tenda, kombinasi yang pas sekali, hahaha … Fleur tertawa sinis di dalam hatinya. Selamat datang di dunia nyata.

Draco hanya bisa tersenyum puas karena saran Hermione yang tidak bisa dibilang tidak memuaskan.

"Baik," Draco membuka suara. "Solusi yang bagus. Aku tidak bisa memikirkan cara lain. Bagaimana dengan kalian?"

Yang lain mengangguk dan beberapa ada yang bergumam seperti, 'aku juga sama' sehingga telah diputuskan bahwa malam ini mereka semua tidur di karpet, dan malam berikutnya mereka akan tidur di tenda. Keputusan yang bagus dan tepat yang bisa diambil Draco selaku Tuan Rumah saat itu.

.


.

Sementara yang laki-laki berebutan ke kamar mandi (kecuali Ron yang tadi tidak bekerja apa-apa) para perempuan sibuk berdiskusi di dapur tentang makanan apa yang akan dimasak untuk malam ini.

Diskusi tadi memakan waktu sekitar dua puluh menit. Mereka akan menyiapkan makanan dengan waktu sekitar dua setengah jam lagi sebelum makan malam dimulai.

"Sejujurnya …" Hermione memulai, dengan canggung menatap rekannya satu-satu; ada Parvati, Ginny, Luna, dan Fleur yang memikirkan entah apa di pojok ruangan. "… masakanku tidak bisa dibilang masakan. Waktu itu aku mencoba membuat cokelat dan hasilnya parah sekali … mungkin aku hanya bisa bantu mempersiapkan bahan-bahannya …."

"You got the point!" Parvati bersorak gembira, kini ikut bergabung di sisi kanan Hermione. "Aku juga tidak bisa memasak, gadis-gadis … jadi jangan andalkan aku untuk ikut berkecimpung dalam dunia kalian … seperti Hermione, mungkin aku hanya bisa bantu sedikit-sedikit daripada mengacaukan makanan untuk sepuluh orang ini. Ada yang punya ide untuk memasak?"

Hermione harap-harap cemas. Orang yang bisa diandalkannya hanya Luna dan Ginny. Fleur pasti tidak mau membantu mereka memasak. Fleur kan gadis elit yang tidak pernah menyentuh dap—

"Aku suka memasak," kata Fleur dengan suara rendah, kali ini berdiri tegak dan mendekati mereka berempat. Lamunan Hermione langsung buyar begitu saja. Seriously, dia tidak salah dengar, 'kan?

Begitu juga dengan ketiga orang lainnya yang menatap kakak kelas mereka itu dengan kagum. Cantik, cerdas, pintar memasak, astaga, benar-benar idaman para pria!

"Aku juga suka memasak," imbuh Luna dengan nadanya yang mendayu-dayu, kini berdiri mendekat pada Fleur. "Semoga aku bisa membantu banyak bersama para Nargles dan Wrackspurts."

Hermione baru saja ingin mengoceh tapi Ginny sudah menyambung, "Sebagai satu-satunya anak perempuan di rumah, Mum mengajarkanku banyak hal tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh wanita, terutama memasak … jadi, walaupun tidak terlalu sering memasak, aku mengerti bagaimana caranya memasak."

Baik Parvati maupun Hermione tersenyum lega.

"Thanks a lot!"

Luna dan Ginny memberikan jempol, sementara Fleur mengangguk dan berbicara lagi, kali ini agak panjang lebar. "Ada yang punya ide untuk masakan malam ini? Aku sebenarnya punya banyak, tapi rasanya sulit karena waktu kita tinggal sedikit. Tapi karena kita punya banyak orang, kurasa tidak masalah. Aku mengusulkan Bourbon Chicken, Macaroni and Cheese, dan Crusty French Bread untuk hidangan utama. Ada yang lain?"

Baru pertama kali mereka melihat Fleur berbicara panjang lebar tanpa nada angkuh. Baru kali itu.

Demi apa pun Hermione tidak tahu satu pun makanan yang disebutkan Fleur, kecuali Macaroni and Cheese. Parvati mendengar nama-nama makanan tersebut dan hampir mengeluarkan air liurnya, tapi dia harus menjaga etikanya, demi Tuhan! Dia menelan ludahnya dengan cepat.

Luna tersenyum lebar. "Aku setuju," katanya lembut. "Bagaimana kalau hidangan utamanya ditambah Clam Chowder? Karena kita belum punya sup untuk hidangan kita."

Ginny menyela, "Tunggu, tunggu, aku belum tahu resep makanan-makanan itu …."

Fleur segera menoleh kepada Hermione dan Parvati. "Granger, Patil, bisa bantu kami? Catat resep makanan yang akan kita buat nanti, supaya yang tidak tahu resepnya bisa membuat makanan itu dengan cepat—" Hermione dan Parvati menatap satu sama lain sebelum mengangguk setuju.

"—dan profesional," tambah Fleur ketika Hermione dan Parvati sudah melesat ke luar dapur.

Mereka bertiga kembali berdiskusi lagi.

"Aku setuju dengan Clam Chowdermu," tukas Fleur sembari menggedikkan dagunya kepada Luna. "Dan kau, Weasley, ada usul?" tanyanya kepada Ginny yang sedang mengarahkan pandangannya ke lantai.

Ginny melihat pada Fleur malu-malu. Sebenarnya dia sering membuat kue-kue … jadi dia mengusulkan untuk makanan penutupnya saja. "Menurutku Fresh Apple Cake enak …."

Luna memberikan senyumnya kepada Ginny dan Fleur, menatap Ginny dengan intens sebelum akhirnya mengangguk pada pilihan makanan penutup Ginny.

"Bagaimana kalau makanan pembukanya …" Fleur menggantungkan kalimatnya dan menatap kepada kedua adik kelasnya tersebut. Luna dan Ginny saling berpandangan.

"Lasagna—"

"—cupcake!"

Mereka berujar bersamaan dan tertawa karenanya. Fleur memberikan senyum—tipis, tipis sekali hampir tak kentara sebelum akhirnya mengangguk setuju lagi.

Hermione dan Parvati kembali dengan satu lusin kertas dan dua pulpen. Mereka sepertinya terburu-buru karena ketika sampai di dapur, napas mereka tersengal-sengal. Ginny menatap mereka bergantian.

"Kenapa?"

"Rumah ini terlalu besar," omel Hermione. "Harus bolak-balik untuk menemukan kamar Draco hanya untuk sekadar mencuri kertas dan pulpen."

Parvati dan Ginny tertawa.

"Yah, setidaknya suatu saat kau akan tinggal di rumah ini, Hermione."

Semburat merah langsung timbul di pipi putih Hermione. Dia memalingkan wajahnya, malu. Sejak kapan obrolan tentang masakan berganti menjadi Malfoy Manor dan isinya di masa depan?

"Kalian membawa banyak kertas, bagus. Sekarang kita tulis resepnya dulu dan segera lakukan hal-hal yang ada di resep itu setelah pembagian tugas," perintah Fleur tanpa ba-bi-bu.

Mereka bertiga mulai memberitahukan resep-resep yang mereka ketahui pada Hermione dan Parvati, lalu setelah itu mereka melakukan pembagian tugas. Fleur meletakkan keenam kertas berisi resep itu di meja yang ada di dapur luas tersebut, membaca dengan keras-keras waktu total yang diperlukan untuk memasak makanan-makanan itu.

"Lasagna Cupcake butuh satu jam tiga puluh menit dengan dua belas buah kue … Bourbon Chicken tiga puluh menit, Clam Chowder empat puluh menit, Macaroni and Cheese tiga puluh menit, Crusty French Bread lima puluh menit, dan itu semua hanya untuk satu porsi … Fresh Apple Cake kurang lebih empat puluh lima menit dengan dua belas sampai lima belas kue. Kita harus bergerak cepat."

Fleur menatap mereka berempat dan mereka mulai membagi-bagi tugas. Para gadis bekerja dengan keras untuk makanan-makanan itu.

.


.

Berbeda dengan para perempuan yang sibuk menggelar forum diskusi di dapur, para laki-laki sedang berebut kamar mandi dengan konyolnya sambil melempar-lempar banyolan di depan kamar mandi.

"Asal kalian semua tahu," kata Draco setelah keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit bagian pinggang ke bawah, dan dibiarkannya saja rambutnya yang basah itu mengakibatkan tetesan air membasahi dadanya sampai menetes ke lantai, "Kamar mandi di rumah ini ada lima."

Semuanya mengumpat dan mengutuk Draco. "Kenapa tidak bilang daritadi, Malfoy sialan?!"

Draco terkekeh. Dia memang dapat giliran mandi pertama dengan alasan dia Tuan Rumahnya. Dia sengaja membiarkan mereka menunggu dan dia dengan seenak jidat menyabotase kamar mandi utama, padahal masih ada kamar mandi lainnya di ruangan lain dan di lantai atas.

"Lho?" Blaise mencari-cari seseorang yang tiba-tiba menghilang dari tempatnya. "Mana Theo?"

"Kalian saja yang tidak berpikir," ujar Draco, kini mulai melangkah menjauh dari kamar mandi utama dan hendak menaiki tangga untuk mencapai kamarnya, "Kalau kamar mandi di sini lebih dari satu. Pasti Theo sudah menyangka hal itu dan sekarang sedang mencari kamar mandi lainnya."

"Aaaaah!"

Blaise dan Harry segera menyerobot tempat masing-masing, menyebabkan mereka bertubrukan dan jatuh dengan konyolnya di depan pintu. Draco menoleh dan terbahak melihat tabrakan tersebut, lalu melenggang pergi ke tangga. Sementara Ron yang melihat hal itu tertawa terkikik-kikik sampai harus memegangi perutnya yang sakit luar biasa.

"Oh, yeah, kalian konyol sekali. Daripada ikut-ikutan kalian, lebih baik aku yang mengambil kamar mandi utama, ya? Habisnya walaupun aku tidak bekerja, rasanya janggal kalau melihat kalian semua mandi dan aku tidak, jadi selamat tinggal, kawan~"

Ron segera berjalan dengan cepat—nyaris berlari—menuju kamar mandi utama. Tak sampai dua langkah lagi masuk ke kamar mandi yang mewah tersebut, kakinya tergelincir tetesan-tetesan air di depan kamar mandi.

Giliran Blaise dan Harry yang tertawa.

Ron mengumpat. Sekarang dia mengutuk Draco atas rambut pirang dan airnya yang belum kering dan dibiarkan menetes begitu saja di depan kamar mandi.

.


.

Setelah insiden memalukan di kamar mandi, pukul enam lewat lima puluh lima para laki-laki sudah bersiap di ruang makan. Ron memegangi perutnya yang sudah bersuara dan minta untuk makan, Blaise bersiul dan membayangkan masakan apa yang akan dihidangkan hari ini, ketiga lainnya kalem.

Pukul tujuh tepat, para gadis-gadis cantik sudah keluar dari tempat mereka dan membawakan porsi demi porsi makanan yang lezat. Mereka semua harus menahan air liurnya supaya tidak keluar menetes ke sudut bibir. Dari wanginya, visualisasinya … semuanya tampak lezat dan mereka ingin memakan itu secepat mungkin.

"Berterima kasihlah kepada Malfoy," kata Fleur setelah dia selesai mengeluarkan Clam Chowder yang terakhir, "Karena bahan-bahan masakan semuanya untuk ini lengkap di kulkas, dan masih ada sisanya."

Draco menyeringai untuk itu. Melihat para laki-laki yang menyisakan satu tempat duduk di sebelah mereka—untuk para gadis, tentu saja—Fleur tak berpikir panjang dan segera mengambil satu tempat duduk di sebelah Blaise. Blaise cengar-cengir.

Rombongan yang lain keluar. Ginny dengan kikuk duduk di sebelah kanan Theo, Parvati di sisi kanan Ron, dan Luna duduk dengan anggun di sebelah Harry. Hermione keluar terakhir dan Draco langsung menyeret gadis itu ke sebelahnya, tidak mau kalah dengan yang lain.

Setelah mengucapkan doa bersama, mereka makan dengan … tidak bisa dibilang tenang. Ron sibuk mengoceh betapa enaknya masakan-masakan ini, terutama Bourbon Chickennya. Fleur tersenyum angkuh mendengar hal tersebut karena semua porsi Bourbon Chicken dia yang memasaknya. Draco dan Blaise tak jarang saling berkomentar dan mencaci maki satu sama lain, sementara Luna memakan makanannya dengan tenang, Hermione terkadang mengobrol bersama Parvati, dan Theo makan dan kadang-kadang Harry menyenggolnya untuk mengajaknya bicara.

Cukup ramai. Draco puas karenanya. Dia tidak perlu lagi menghabiskan waktu makan hanya dengan mendengar detik jarum jam yang terus bergerak, atau suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring. Kini yang bisa dia dengar adalah suara dan ocehan teman-temannya.

Theo mengaku kalau apa yang diucapkan Draco benar, ini bukan acara dengan pasangan masing-masing, tapi acara bersama. Ributnya meja makan ini mengindikasikan kalau mereka berceloteh dengan berisik, bukan berbisik dengan pasangan masing-masing. Dia memang jarang bicara dan jarang berekspresi, namun tidak ada satu pun orang yang tahu mengenai isi hatinya.

Setelah acara makan selesai, dan para laki-laki mencuci piring serta perempuan membereskan meja makan, mereka semua berkumpul di atas karpet, membicarakan hal-hal yang akan mereka lakukan sehabis ini. Mereka semua punya surprise untuk Draco di balkon dan mereka sepakat untuk mencegah Draco pergi ke balkon.

"Aku punya permainan yang seru." Blaise tersenyum licik dan menggenggam sebuah botol minum di tangan kanannya. Diputar-putarnya botol tersebut dan membuat semua mata tertuju padanya.

"Jangan yang aneh-aneh, Zabini," Draco mendengus. Blaise terkekeh dan meletakkan botol tersebut di tengah-tengah mereka. Ya, mereka semua duduk dengan pola lingkaran sekarang.

"Ada yang pernah mendengar Truth or Dare?"

"Oooooh man!" sorak Ron yang hampir melompat karenanya, lalu segera ditarik oleh Parvati dan Ron kembali duduk. Ternyata mereka semua tahu permainan Jujur atau Berani ini. Blaise rasa mukanya hampir terbelah dua karena tersenyum terlalu lebar.

"Bagaimana kalau kita main ini—"

"Tidak," potong Fleur. "Kalau kita main ini, I'm out."

"Tidak seru," cibir Blaise. "Ayolah, YOLO! You only live once. Kapan lagi kau menghadiri acara-acara gila seperti ini, Bidadari?" bujuk Blaise seraya menahan Fleur supaya tidak bangkit berdiri.

Parvati juga sebenarnya kurang setuju, namun melihat mata Ron yang membesar dan menggenggam tangannya terus menerus, apa boleh buat. Dia jadi tertarik bermain ini. Yeah, siapa yang tidak tertarik untuk mengetahui rahasia macam apa yang kakak kelas perfeksionisnya itu simpan, atau rahasia macam apa yang berada di tangan Ketua dan Wakil Ketua OSIS?

Semuanya fix ikut dengan botol yang berada di tengah sebagai acuan. Mereka juga sepakat akan memutar botol itu sesuai dengan urutan duduk mengikuti arah jarum jam. Blaise pertama. Dengan antusias dia memutar botol tersebut.

Ujungnya tepat menunjuk lutut Harry Potter. Harry otomatis menekuk lututnya menjauh, tapi tidak bisa karena takdir sudah berkata demikian.

Blaise tersenyum lebar, lebar sekali. "Jujur atau berani, Harry Potter?"

"U-ugh," Harry menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Berani."

"Ah, pilihan yang bagus." Blaise melebarkan senyumannya. Tidak tahu sampai batas mana senyumnya bisa melebar. "Cium dahi Luna Lovegood."

Tubuh Harry menegang. Dia meneguk ludahnya yang tercekat di kerongkongan, menatap Blaise dengan tatapan are you serious?

"Daripada kusuruh kau mencium bibirnya," ujar Blaise blak-blakkan dan membuat Harry tambah malu karenanya. "Cepat! Kalian semua jadi saksi, ya~ oke, sekarang."

Dengan cepat Harry meraih kepala Luna dan mencium dahinya yang sedikit tertutup oleh anak rambut pirangnya. Blaise tersenyum puas dan menepuk tangannya sekali, sementara Harry mengirim tatapan mematikan kepada Blaise.

Luna? Tersenyum seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Entah Harry harus senang atau cemas karena hal itu.

Fleur sudah memegang botolnya. Dia adalah giliran kedua. Bergegas dia memutar botol tersebut dan moncong botol itu menunjuk kaki Draco Malfoy.

Gadis perfeksionis itu tersenyum. Tersenyum! Dia menatap Draco beberapa saat sebelum melontarkan pertanyaan mematikan itu kepada sepupunya. "Jujur atau berani?"

Draco memutar bola matanya. "Jujur."

"Oh man," komentar Blaise dan terkekeh melihat ekspresi Draco yang seperti kejatuhan buah-buah berduri tajam. Draco memberikan tatapan mematikan kepada Blaise, dan menjadikannya itu tatapan mematikan kedua yang diterima Blaise pada hari itu.

"Baik," kata Fleur. "Sebutkan nama lengkap cinta pertamamu."

Detik itu bukan tubuh Draco yang menegang, tapi Hermione. Cinta pertama Draco? Siapa cinta pertama seorang Malfoy yang tampan dan cerdas ini? Pastilah dia wanita yang sangat beruntung, ya ampun, Hermione harus berjuang selama satu tahun lebih untuk mendapatkan cinta Draco … cinta pertama Draco pastilah gadis yang cantik, bisa memasak, cerdas, ramah ….

Draco menjawabnya dengan lantang, "Hermione Jean Granger."

"Tidak mungkin," ucap Hermione spontan dan menutup mulutnya yang menganga lebar. "Tidak mungkin, Draco. Tidak mungkin. Masa waktu di Junior High School kau tidak pernah mencintai seseorang yang cantik baik hati ramah bisa memasak dan anggun—" cerocos Hermione tanpa koma. Draco menghentikan ocehan Hermione dengan satu gerakan tangan.

"Dengar," katanya, memegang bahu Hermione dan melihatnya tepat di mata. "Seandainya aku pernah seperti yang kau katakan itu, itu namanya suka, bukan cinta. Aku tidak pernah mencintai mereka-mereka seperti yang kau katakan tadi. Tidak, Hermione Granger. Cinta pertamaku adalah kau seorang."

Blaise pura-pura batuk dan yang lainnya menatap mereka berdua kagum.

Hermione menyebut dirinya sendiri sebagai gadis yang beruntung karena menjadi cinta pertama Draco. Well, okay then.

Dengan semangat Ron mengambil botol dari genggaman Fleur dan meletakkannya di atas karpet, lalu memutarnya kelewat bergairah. Dan percaya tidak percaya, botol itu kembali tertarik pada Draco.

Draco mengumpat. "Ini pasti konspirasi."

"Sayangnya tidak," ujar Ron dan Blaise bersamaan, lalu melakukan tos virtual di udara. "Jadi, Draco Malfoy …" Ron menggosok-gosokkan kedua tangannya dan berpikir betapa sakit bokongnya karena jatuh di kamar mandi tadi, membuatnya tambah berniat untuk mengerjai Malfoy, "… jujur atau berani?"

Draco menghela napas dalam-dalam. "Berani."

Ron tersenyum lebih lebar dari yang seharusnya, mengalahkan senyuman Blaise yang kelewat lebar. "Tahu lagu Harlem Shake?"

Yang tahu langsung senyum dan meledak dalam tawa sementara Draco mengerutkan dahinya tidak senang. "Jangan bilang …"

"Aku akan bilang, Draco. Ambil helm, gayung, dan piring, lalu Harlem Shake di tengah lingkaran ini dengan durasi dua menit."

Draco tidak percaya dia akan melakukan ini. Dengan setengah hati dia bangkit dan mengambil semua perlengkapan yang dikatakan Ron, dan Hermione tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya, padahal pertunjukan belum dimulai.

Satu menit kemudian Draco sudah membawa helm, gayung, dan piring. Ron mencari-cari ponselnya dan dia punya rekaman video Harlem Shake di sana. Cukup untuk menjadi musik Draco dalam menari nanti.

"Serius nih?" Draco merasa harga dirinya di ambang batas. Ini benar-benar keterlaluan … seorang Malfoy diturunkan derajatnya seperti ini ….

"I'm deadly serious, Malfoy … cepat lakukan …."

Dan musiknya pun disetel. Dengan canggung Draco memakai helm dan gayung di tangan kanan serta piring di tangan kiri, mulai melakukan gerakan-gerakan aneh yang dia ingat dalam video Harlem Shake yang pernah dia tonton.

Para penonton tertawa dan bergetar hebat karena kelakuan Draco di tengah-tengah 'panggung'. Ron dengan liciknya menambah durasi dua menit itu menjadi empat menit tanpa disadari Draco. Akhirnya, setelah perjuangan yang lama, Draco usai dengan semua itu dan melempar barang-barang tersebut ke pojok karpet.

"I'm done, Weasley. Puas kau?"

Bahkan Hermionenya tertawa kencang. Hari ini dia benar-benar dipermainkan … seharusnya dia tidak setuju dengan acara Truth or Dare ini. Benar-benar sesat.

Ron menyerahkan botol kepada Parvati yang kini sudah siap di tempatnya untuk memutar botol tersebut. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, dia memutar botol dengan kecepatan sedang dan jatuh ke arah Fleur. O-oh.

"Jujur atau ber—"

"Jujur."

Parvati meneguk ludahnya. Harusnya Fleur yang takut, tapi kenapa dia sebagai penanya yang takut? Setelah melakukan diskusi singkat bersama Ron, mereka memutuskan untuk menanyai pertanyaan ini.

"Apakah Blaise Zabini sudah berhasil menaklukkan hatimu?"

Pertanyaan sensitif, kawan. Fleur hanya bisa menahan keangkuhannya dalam hati dan menatap Parvati sebal. Parvati mengigit bibirnya, berharap supaya dia tidak salah berkata-kata.

"Aku tidak akan menjawabnya," putus Fleur. Blaise menatapnya pura-pura terkejut.

"Kau harus menjawabnya. Kau sudah menanyai Draco, tadi, dan dia jujur. Ayo dong, sportif," bujuk Blaise. Dia tidak mempermasalahkan masalah sportif, sebenarnya. Yang dia benar-benar penasaran adalah jawaban apa yang diberikan Fleur tentang pertanyaan ini.

"Hhh. Seperempatnya, ya."

Ow. Seperempat saja? Entah Blaise harus senang atau kecewa karena fakta ini. Tiga perempat lagi harus dia gali ke mana?! Begitu hatinya berteriak, tapi dia tidak akan memaksa Fleur untuk mengatakan kalau dia sudah menaklukan hati Fleur sepenuhnya, 'kan?

Ron memberi tanda peace untuk Blaise dan diterima oleh pemuda itu dengan hati lapang dada. Ya, ya, terima saja, daripada tidak sama sekali.

Parvati menyerahkan botol tersebut kepada Draco. Draco mengusap-usap tangannya dan menatap penuh dendam kepada Ron. Ron berkomat-kamit supaya ujung botol tersebut ke mana saja asalkan bukan dia.

Draco memutar botol tersebut dan terkutuklah impian Ron karena botol itu mengarah pada Hermione. Hermione memelototi botol tersebut. Kenapa dia harus kena?!

Ron mengembuskan napas lega.

Karena dia tidak tahu apa yang harus dia tanyakan, dia harus mengakui kalau dia akan mengopi pertanyaan Fleur kepada Hermione, karena dia yakin kalau Hermione akan mengambil jujur.

"Jujur atau berani?"

"Berani."

Crap! Siapa yang sangka Hermione akan mengambil berani? Kini Draco harus memutar otak untuk memberikan tantangan pada Hermione. Hermione menatap Draco dengan bibir yang membentuk garis datar.

"Oke … aku tantang kau untuk … uh …." Draco menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia memang tidak kreatif. Dia akan mengopi tantangan Blaise kali ini. "Cium pipiku."

Blaise tergelak. Yang benar saja! Semburat merah kembali hadir di pipi Hermione. Yang benar saja? Bermesraan dengan Draco di depan publik seperti ini? Walaupun mereka semua teman-temannya, tapi kan ….

Hermione ingin sekali berkata tidak untuk kali ini, tapi perkataan Blaise terngiang di kepalanya. Bermain sportif, sportif, sportif … apa daya akhirnya dia menguatkan dirinya sendiri dan mencium pipi Draco di depan mereka semua.

"Puas kau, Draco Licik Malfoy?"

Draco tertawa pelan. "Aku lebih suka bibir, sih."

Hermione menjitak kepala Draco dan kembali ke tempatnya dengan kepala tertunduk malu. Melihat mereka semua menontonnya seperti itu … ah, memangnya tidak ada tantangan lain, apa?

Tak seperti ekspektasi Blaise yang menyangka kebanyakan orang akan memilih jujur, ternyata lebih banyak yang memilih berani. Misalnya seperti Luna yang berpura-pura menjadi gelandangan dan berteriak-teriak di luar Malfoy Manor, atau Ron yang berguling-guling di karpet sebanyak dua puluh kali bolak balik sampai punggungnya terasa nyeri.

Theo mendapatkan giliran jujur atau berani dan dia memilih jujur. Luna yang menjadi pemutar botolnya. Dengan polos dia tersenyum dan menanyakan hal sensitif kepada Theo. "Apa kau punya rasa yang spesial terhadap Daphne Greengrass, Theodore Nott?"

Yang ditanya tetap memasang wajah datar dan memberikan jawaban sesingkat yang dia bisa, "Ya."

Setelah jawaban yang tidak terlalu mengejutkan tersebut, Harry mengambil bagiannya sebagai orang yang terakhir memutar dan lagi-lagi botol itu mengarah pada Draco Lucius Malfoy.

Ini benar-benar konspirasi! Draco meringis ketika melihat cengiran Harry yang lebar, walaupun masih kalah lebar dari Ron dan Blaise.

"Jujur atau berani?"

"Jujur."

"Hal-hal apa saja yang kau inginkan dan kau harapkan untuk ulang tahunmu nanti? Maksudku, wish apa saja yang akan kau sebutkan?"

Pertanyaan yang bagus, Harry. Draco langsung bungkam. Ini pribadi! Tapi yang namanya Truth or Dare tidak ada toleransi. Draco harus mencari akal supaya privasinya tetap terjaga.

Tetap saja tidak bisa. Namanya juga jujur ….

"Oke … aku akan meminta supaya aku bisa mengalahkan Hermione saat peringkat kelas diumumkan nanti," kata Draco hati-hati. Soalnya dia tahu bahwa Hermione Granger, sampai kapanpun, terobsesi dengan yang namanya peringkat satu. Anehnya Hermione hanya tersenyum mendengar kalimat tersebut. "Aku akan meminta supaya keluargaku suatu saat bisa berkumpul bersama di rumah ini. Aku berharap supaya teman-temanku bisa bahagia dengan jalan mereka masing-masing, ehm," Draco terlihat agak malu mengungkapkannya, tapi tidak ada yang berkedip dan meminta lanjutan keinginan-keinginan Draco lewat tatapan mata mereka, "Dan aku ingin aku bisa bersama Hermione … sampai akhir nanti …."

Blaise dan Ron langsung pura-pura batuk dengan heboh. Hermione menutup wajahnya dengan rambutnya yang lebat dan bergelombang, supaya tidak ada yang melihat ekspresi dan rona merahnya. Sudah berapa kali dia merona hari ini? Tidak terhitung.

Acara Truth or Dare malam itu ditutup dengan mereka yang pura-pura tidur. Hermione melirik jam dinding dan jarum jam pendek mengarah pada angka sepuluh dan jarum jam panjang menunjuk angka empat. Mereka masih punya banyak waktu.

Untuk kejutan Draco di balkon, nantinya.

Maka setelah memastikan Draco tidur dengan aksi mereka yang pura-pura tidur, dua puluh menit kemudian, mereka sadar kalau mereka sudah melewatkan waktu yang banyak dan mereka harus mengatur strategi sekarang juga.

.


.

"Draco, Draco … ssst, Draco."

Hermione mengguncang-guncang tubuh Draco yang tertidur pulas di atas karpet. Mendengar bisikan lembut Hermione, Draco terbangun dengan mata yang masih setengah terpejam. Dia merasa hanya tidur selama satu jam lebih … memangnya sekarang sudah pagi, ya?

"Mmm … ya?" sahut Draco ogah-ogahan untuk bangun dari tidur nyamannya. Serius, tidur di karpet tidak mengubah kenyamanannya dalam tidur. Karpetnya sendiri sudah menyamakan kelembutan yang ada di kasurnya sendiri. Dia bisa tidur beberapa jam lagi.

"Mati lampu," ujar Hermione, mendekat kepada Draco. "Aku takut … yang lain pada menghilang."

Draco langsung bangun dan melihat Hermione yang membawa senter, mengarahkan ke tempat di atas karpet lain yang kosong, tidak ada siapa-siapa. Malfoy Manor tiba-tiba menjadi gelap dan Draco mengernyitkan dahinya.

"Aku punya pengganti listrik ini, sebentar—" kata Draco seraya menarik Hermione untuk ikut bersamanya untuk mengambil generator set. Hermione menjerit panik. Jangan jangan jangan rencana mereka akan hancur seketika jika Draco mengambil genset.

"Jangan, Draco," tukas Hermione sembari mengarahkan senternya ke arah lain. "Bagaimana kalau kita mencari yang lain dulu? Aku takut mereka kenapa-kenapa, serius …."

Draco sudah hapal sikap cemas Hermione yang berlebihan ketika mereka berada di situasi yang tidak menguntungkan. Untuk menenangkan Hermione hanya ada satu cara. Draco setuju untuk mencari teman-temannya dahulu.

Dia sendiri heran kenapa teman-temannya tiba-tiba menghilang dan lebih aneh lagi Malfoy Manor tiba-tiba mati lampu. Dia sudah bayar listrik. Paling hanya ada yang aneh pada sekeringnya atau apa. Dia mengikut saja arah Hermione membawanya ke mana. Insting wanita selalu dia percayai, apalagi di saat-saat genting.

Tepat ketika mereka ingin ke lantai atas, Draco merasa Hermione mencengkeram tangannya lebih erat. Gadis ini benar-benar ketakutan, batinnya. Mereka berjalan terus sampai akhirnya mereka sampai di pintu yang menghubungkan antara lorong di dalam rumah dan balkon yang ada di bilik sebelah.

Hermione menggenggam kenop pintu dan membuka jalan agar mereka berdua bisa menuju balkon. Mereka dihadapkan oleh hamparan langit luas yang bertabur bintang-bintang. Dalam hati, Hermione terkikik geli. Mungkin terlihat basi, namun apa salahnya mengerjai Malfoy sekali-sekali?

Senter dimatikan, dan tiba-tiba saja ada suara yang berisik dari bawah, kemudian di atas langit tertembaklah kembang api dengan tulisan HAPPY BIRTHDAY DRACO LUCIUS MALFOY beserta harapan-harapan lain dari semua teman-temannya yang dirangkum menjadi satu di kembang api tersebut. Dari belakang Draco, ada Ginny dan Fleur yang sudah memegang kue dan Hermione butuh tepukan ekstra untuk pundak sang Malfoy agar dia mau berbalik dan meniup lilin yang ada di atas kue.

Tujuh belas tahun.

Draco terkekeh. Harusnya kan dia merayakannya saat umur dua puluh satu tahun, ya … merayakan ulang tahun saat umur tujuh belas tahun seperti anak gadis saja. Namun rencana yang sebenarnya bukanlah acara ulang tahun, melainkan mengundang teman-temannya ke rumah yang selalu sepi ini menjadi semarak dan ramai, tidak sepi seperti yang dulu-dulu.

Diucapkannya semua harapannya satu demi satu. Anggaplah dia pria melankolis, dia senang teman-temannya hadir dengan lengkap di sini, hari ini, saat dia berulang tahun yang ketujuh belas. Dia senang mereka semua peduli padanya, bukan hanya mendekatinya jika ada yang diperlukan atau apa.

Jadi hari ini Hermione berkonspirasi bersama teman-temannya yang lain untuk mengerjainya, huh? Jujur saja, tadi dia sempat lupa dengan ulang tahunnya sendiri karena dia lelah hari ini. Kejutan ini lebih dari sekadar kejutan. Ini menyenangkan.

Draco selesai dengan lilinnya dan mendekap Hermione erat-erat. Masih terdengar letupan-letupan kembang api di atas sana. Masih terdengar celotehan teman-temannya di bawah, teriak 'cium cium cium' atau apalah itu. Masih juga terdengar suara bisikan Fleur dan Ginny yang ada di dekatnya. Haruskah Draco mencium Hermione sekarang?

Oh, tentu saja … tidak ada yang tidak mau melewatkan kesempatan ini, bukan?

Draco menunduk dan Hermione berjinjit, lalu mereka berpagutan di bawah kembang api yang meriah. Fleur membuang muka dan Ginny berbunga-bunga melihatnya. Di bawah sana, para laki-laki meneriaki Draco.

"MODUSSSSSS!"

"KESEMPATAN DALAM KESEMPITAAAAN!"

Draco tidak peduli lagi. Dia terlalu senang hari ini. Dia bisa merasakan bibir Hermione yang bergetar bersamanya, mengucapkan kata-kata sederhana yang membuat detik ini bertambah lengkap.

"Selamat ulang tahun, Draco … aku menyayangimu."

Hari ulang tahun yang sempurna.

.


.

Kebahagiaan Draco belum sampai situ. Esok paginya dia sudah disambut dengan ucapan selamat ulang tahun via telepon oleh ibunya. Ibunya sayang sekali padanya, Draco tahu itu. Ayahnya yang berwajah angkuh pun demikian, hanya dia mempunyai gengsi yang tinggi—ini mengingatkan Draco akan Theo—sehingga mengucapkan selamat ulang tahun seadanya saja.

Pagi itu mereka memutuskan untuk memulai acara membangun tenda dan mencari alat-alat untuk acara BBQ nanti. Karena daerah mereka bukanlah daerah hutan yang mudah mencari kayu bakar dan membuat api unggun, penggantinya hanyalah lilin-lilin besar yang berada di tengah-tengah lingkaran yang akan buat mereka nanti.

Draco sendiri sudah cukup puas dengan kembang api hasil kreasi dan inovasi kembar Weasley. Lebih puas lagi karena ciuman selamat ulang tahun yang didaratkan Hermione kepadanya. Lebih lebih lagi kedua orangtuanya ingat ulang tahunnya.

Namun Draco tidak tahu apa saja yang teman-temannya persiapkan untuk malam kemarin ….

Mari direkapitulasi dari awal.

Ron sudah menyiapkan kembang api berisi tulisan-tulisan itu tepat sebulan sebelum Draco ulang tahun, agar saat selesai bisa diuji coba dan hasil yang memuaskan bisa didapatkan sebelum tanggal lima Juni. Fleur, Luna, dan Parvati mencari kue. Ginny tidak ikut karena sebelumnya tidak ada rencana untuk mengajak Ginny.

Para laki-laki menyusun rencana supaya Draco tidak mengetahui acara mereka. Hermione selalu mengalihkan perhatian Draco.

Saat malam tanggal empat Juni, mereka sepakat membuat Draco tidur sehingga mereka bisa mematikan seluruh lampu di Malfoy Manor. Butuh perjuangan panjang karena Malfoy Manor luas, luas sekali sesuai namanya, 'Manor'.

Dan … begitu saja. Setelah itu semua mengalir tanpa rencana, mereka berbagi tugas tanpa diskusi dan mereka puas dengan hasil kerja mereka.

Kini kembali pada kamping.

Dua tenda didirikan di halaman belakang Draco dengan perlengkapan seadanya, karena daerah ini bukan hutan. Mereka harus berpura-pura ini kamping di hutan, setidaknya.

Malam ini mereka memakai pakaian yang santai. Beberapa ada yang memakai kardigan (Fleur, contohnya) karena dia takut nyamuk yang menggigiti kulit cantiknya, atau angin malam yang tak baik untuk tubuh.

Dengan lilin-lilin yang tertata rapi, mereka semua mulai menikmati malam itu dengan cerita-cerita horor. Parvati menutup wajahnya ketika mendengar siapapun yang menceritakan sesuatu bernuansa horor—yang dianggap aneh oleh Draco, bukankah harusnya menutup telinga? —dan yang paling antusias dalam menceritakan kisah horor adalah Ron.

"Gadis ini cemburu karena laki-laki yang dia cintai malah bersama orang lain. Keesokan harinya, perempuan yang dicintai laki-laki itu terbunuh …" ucap Ron dengan nada seram. "… tubuhnya dikuliti, dipotong-potong, kepalanya dipenggal dan diperlihatkan kepada laki-laki itu …."

Parvati Patil masih menutup mukanya. Yang lain terlihat penasran.

"Dan pada akhirnya …"

Angin berembus kencang sehingga lilin mereka semua mati dan menyisakan satu lilin. Hermione langsung berpegangan pada Draco kencang sekali, Draco merasa tangannya nyaris patah.

"… laki-laki itu ikut terbunuh karena membela wanita itu …."

"Tunggu," sela Ginny, "Bukannya dia mencintai laki-laki itu? Lalu kenapa laki-laki itu juga dibunuh?" tanya Ginny dan menatap Ron dengan heran.

"Cinta itu terkadang buta, Ginny," kata Ron, entah sejak kapan dia menjadi filosofis. Marshmallow yang daritadi dikunyahnya sudah tertelan dengan nikmat di kerongkongan. "Jadi kalau jatuh cinta, harus hati-hati … kepada siapa yang sedang kau perjuangkan."

"O-oh. Strike for Ron Weasley today!" Blaise terkekeh. Hari itu sudah larut. Mereka memutuskan untuk mengakhiri malam mereka dengan membereskan semua perlengkapan yang mereka pakai untuk acara kali itu dan masuk ke tenda masing-masing. Mereka hanya mendirikan dua tenda besar, tentu saja. Satu untuk perempuan dan satu lagi untuk laki-laki.

"Selamat malam semuanya, see ya guys!"

Yang lain sudah beranjak dari tempatnya masing-masing setelah semua perlengkapan beres. Draco melihat Theo yang masih duduk di tempatnya, memegang sesuatu—oh, ponsel—dan memutar-mutar benda tersebut di tangan kanannya.

Draco tersenyum tipis.

Dia tahu apa yang akan Theo lakukan.

.


.

Theo sudah tahu ini akan terjadi sejak awal, kalau dia tidak akan bisa melewati malam-malam panjang bersama temannya tanpa suara Daphne.

Sungguh. Dia tidak mau mengakuinya, tapi hatinya tidak bisa berbohong lagi. Ponsel itu terus digenggamnya selama beberapa menit dan diputar-putarnya, dan dia tahu Draco Malfoy meliriknya dari belakang ketika yang lain sudah masuk ke dalam tenda. Ah, sial.

Seandainya saja Daphne di sini, mungkin mereka akan berbicara hal-hal absurd di bawah langit malam, ditemani lilin-lilin yang sudah mati dan marshmallow yang sudah habis. Bisa saja mereka telentang di atas rerumputan dan jatuh tertidur di atasnya, dan Daphne yang angkuh akan berkata bahwa dia tidak mau tidur di sini jika tidak ada Theo.

Impian yang indah.

Theo membulatkan tekad dan menekan nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala, hanya untuk menghubungi Daphne Greengrass.

Telepon itu tidak tersambung. Theo sudah menunggu selama beberapa detik dan tidak ada yang menjawab panggilan tersebut. Theo merasa pikirannya menjadi kacau. Apa Daphne sudah tidur? Rasanya tidak mungkin, biasanya dia tidur pukul satu malam atau lebih, dan sekarang hanya pukul sebelas malam. Apa Daphne menghubungi orang lain sebelum ini? Bisa saja, dia menghubungi temannya … si Parkinson itu … atau dia menghubungi laki-laki lain juga bisa ….

Siapa juga yang mau mengharapkan laki-laki pendiam dan menyebalkan macam Theo dalam kehidupannya? Theo berpikir demikian. Daphne cantik dan menarik, tidak mungkin tidak ada yang menyukainya selain dia sendiri. Pastilah Daphne sedang melakukan 'pendekatan' terhadap laki-laki lain, mungkin sudah terlalu lelah untuk mengharapkan Theo ….

Tepat ketika Theo memutuskan untuk mematikan ponselnya, seseorang menelepon masuk. Theo tidak tahu apa yang dia rasakan dan apa yang harus dia lakukan ketika melihat nama Daphne G. tertera di layar ponsel. Setelah menimang-nimang ponsel itu, akhirnya dia mengangkat juga panggilan tersebut.

"Theo?" terdengar suara Daphne yang bergetar di ujung sana. "Kau meneleponku? Kau tidak salah sambung atau salah menekan nomor? Atau kau salah lihat nama?"

Theo sebenarnya ingin berkata 'kau bodoh dan konyol, Daphne, dari kemarin aku ingin sekali meneleponmu' tapi yang terucap hanya satu kata, "Tidak."

"Oh, begitu … maaf tadi aku tidak mengangkat teleponnya karena aku habis makan …."

Theo mengernyitkan dahinya. "Memang kau belum makan?"

"Tadi belum … aku menemani Pansy dan Astoria shopping dan mereka langsung pulang sehabis belanja. Kita berada di mall tersebut lebih dari lima jam … aku sih tidak ikut berbelanja, tapi mereka maniak sekali. Aku hanya membeli barang-barang yang kuperlukan saja. Pulang pulang aku langsung makan."

Theo mendengus mendengarnya. Parkinson lagi? Dan adiknya yang sama menyebalkannya itu? Untuk apa sih Daphne masih berteman dengan mereka … oh, sudahlah. Itu haknya.

"Theo?"

"Hm, makan yang banyak," sahut Theo datar sambil menatap langit yang kelam malam itu. "Makan lagi, sana. Aku juga harus tidur sekarang."

Di belakangnya, Draco terkekeh pelan. Theo? Tidur jam segini? Mimpi! Dasar pria dengan gengsi terlalu tinggi, untuk mengungkapkan kangen saja susah. Blaise membuka tenda dan baru saja ingin berteriak pada Draco dan Theo apa yang mereka lakukan di luar sana ketika Draco meletakkan satu telunjuk di depan bibirnya, lalu menunjuk Theo yang sedang menelepon.

Blaise mengacungkan jempol dan mengajak Ron serta Harry untuk turut mendengarkan.

Teman-teman bejat.

"Tidak, tidak. Aku sudah kenyang. Rasanya juga tidak etis kalau makan terlalu banyak. Mmm, acaranya menyenangkan, Theo?"

Tidak tanpa kau, ingin Theo menjawab demikian, tapi lagi-lagi gengsi menahannya. "Ya … lumayan. Ramai sih, jadi seru."

"Maaf aku tidak bisa ikut …."

"Tidak apa-apa," jawab Theo berusaha terdengar acuh tak acuh. Maaf saja tidak cukup untuk membuat Theo tenang di sini, sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi?

"Oh iya, kenapa kau tiba-tiba meneleponku?"

Kali ini Theo tidak bisa menjawab langsung. Apa alasannya menelepon langsung? Memangnya ada alasan kalau dia ingin menelepon Daphne? Memangnya harus ada alasan ketika hatinya berkata demikian?

"Memangnya aku tidak boleh meneleponmu?"

"Bukannya begitu …." dan kemudian yang terdengar adalah suara kuapan yang segera ditutupi mulut. Daphne mengantuk. Atau dia kelelahan karena menemani dua ekor makhluk yang memaksanya untuk menemani mereka belanja tanpa mengajaknya makan.

Theo menghela napasnya. Ini belum cukup untuk mengobati rasa rindunya, tahu.

"Tidur sana."

"Tidak … aku masih mau berbicara denganmu."

Tidak mau. Theo tidak akan membiarkan Daphne terus berbicara dengannya di tengah kantuk menyerang. Dengan cepat dia mengatakan sesuatu yang sangat tidak dia harapkan saat ini.

"Aku akan tidur sekarang. Jadi akan kumatikan teleponnya. Kau juga harus tidur. See ya." Lalu telepon dimatikan. Daphne tertunduk kecewa di seberang sana, berpikir bahwa dia terlalu membosankan untuk teman bicara Theo sampai-sampai dia mematikan telepon.

"Dan kalian yang di belakang, aku tahu kalian menguping," tukas Theo segera sambil menoleh ke belakang, melihat keempat temannya yang asyik menguping sambil cengar-cengir.

"Seandainya Daphne bisa datang," cerocos Harry, "Mungkin kita bisa memfoto kalian berdua dan memasukkan foto kalian ke majalah dinding, dengan judul bahwa akhirnya kalian bisa bersatu—"

Theo menatap Harry datar. Harry langsung diam, tapi ketiga teman yang lain setuju dengan ide Harry, sayangnya tak bisa direalisasikan.

"Kalau begitu, tunggu apalagi?" tanya Draco dan Ron bersamaan ketika melihat Theo yang tidak mau beranjak dari tempatnya, "Cepat masuk ke tenda."

Dengan setengah hati Theo bangkit dan masuk ke dalam tenda, menyusupkan ponselnya ke dalam saku celana, berpikir bahwa libur musim panas sehabis ini dihabiskan bersama Daphne berdua merupakan ide yang bagus juga.

.


.

Pukul dua belas malam para laki-laki sudah berada di dalam tenda. Kali ini Harry yang akan melakukan tindakan spesial kepada Luna setelah sekian lama memendam perasaan. Blaise mengusulkan memakai gitar, Draco mengusulkan memberikan hadiah spesial, Ron mengusulkan memberikan kata-kata puitis. Theo mengusulkan untuk melakukan apa yang ingin dilakukan olehmu sendiri.

Harry keluar dari tenda setelah mendapatkan tepukan selamat dari teman-temannya, lalu dengan grogi mengusap-usap kedua tangannya sembari 'mengetuk' tenda perempuan. Yang menyambutnya adalah tatapan marah Fleur Delacour.

"Potter. Ada apa kau ke sini? Aku tambah susah tidur karena kehadiranmu—"

"Maaf, bisa panggilkan Luna Lovegood?" tanyanya canggung. Fleur menatapnya kesal lalu mengguncang-guncang orang di sebelahnya yang diketahui bernama Luna Lovegood. Tak lama kemudian, Luna Lovegood keluar dan menatap Harry dengan senyum menawan. Dia berkata sesuatu kepada orang-orang di dalam tenda sebelum akhirnya melangkah keluar dan menyambut tangan Harry yang terulur.

"Ada apa, Harry?"

Harry menunjuk tempat duduk mereka bersepuluh tadi dan mengajak Luna duduk di sana. Sial sial sial, tadi apa saja yang harus kukatakan? Setelah mereka berdua duduk, rambut pirang panjang Luna terbang terkena angin malam yang panas. Wajahnya tertutup rambut-rambutnya, membuat Harry tergerak untuk menyingkirkan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya.

"Luna."

Wajah Luna memanas. Dia tidak pernah sedekat dengan Harry seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba saja dia ingin bersembunyi di manapun asal tidak dekat dengan Harry, karena kulit putih pucatnya kali ini pasti sudah menjadi merah merona.

Tapi dia berhasil untuk tetap kalem. "Ya?"

"Apa yang kau pikirkan tentang aku?"

Oh, banyak, tentu saja. Kakak kelas berkacamata dan salah satu pengurus OSIS, yang tiba-tiba mencarinya di hari entah apa, Luna lupa. Kakak kelas yang ramah senyum dan lumayan banyak disukai oleh gadis-gadis, terutama Ginny Weasley. Luna lupa. Luna juga lupa bagaimana mereka bisa sedekat ini sampai sekarang. Luna tidak tahu lagi.

"Banyak, Harry," ujarnya sambil tersenyum manis. "Banyak sampai aku tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Ada apa dengan itu?"

Harry mundur sedikit. "Tidak apa-apa …" dan dia menggaruk kepalanya dengan canggung. "… bagaimana kalau perasaanmu terhadapku?" Harry menunjuk dirinya sendiri, merasa dua kali lipat lebih canggung.

Luna terdiam, senyumnya lenyap. Kenapa tiba-tiba Harry menanyai sesuatu tentang perasaan? Selama berbulan-bulan mereka tidak pernah menyinggung soal perasaan, kedekatan mereka disesuaikan dengan intuisi Luna sendiri, dan kalau misalnya Harry menanyakan soal perasaan berarti ….

Bukan, Luna bukan orang yang tidak peka. Hanya saja dia ingin kepastian. Bukankah begitu?

"Bagaimana menurutmu, Harry?" tanyanya, sudah tidak peduli lagi dengan rona yang terus menjalar pipinya, "Bagaimana menurutmu tentang perasaanku? Bukankah itu sudah terjawab?"

Harry membeku di sampingnya. Dia tidak yakin ….

"Kalau aku berkata aku mencintaimu, Luna, apa kau punya perasaan yang sama?" tanya Harry, sebenarnya tidak siap dengan jawaban yang akan dilontarkan Luna.

Luna tersenyum tipis.

"Kita punya perasaan yang sama."

.


.

Pagi itu dihabiskan dengan acara merapikan tenda dan pengumuman pasangan baru, walaupun tidak terlalu mengejutkan lagi. Beberapa kali Harry harus menahan diri supaya tidak memutar bola mata karena teman-temannya, walaupun laki-laki, bisa menjadi sangat bawel untuk urusan perasaan.

Mereka sarapan di meja makan Malfoy Manor, karena Draco tak tega melihat Fleur yang mempunyai kantung mata menghitam di bawah matanya. Dia mengaku tidak tidur sama sekali. Panas. Sehingga mereka kembali ke tempat yang lebih nyaman dan menyejukkan.

Setelah ini akan mereka habiskan acara untuk berbincang di karpet sampai pukul tujuh malam dan mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Ada satu orang yang mengusulkan, Draco tak yakin siapa, untuk bermain Truth or Dare lagi. Semua orang langsung berteriak spontan, "Tidak!"

Ada banyak hal-hal konyol yang mereka petik pada tiga hari dua malam ini. Draco yang bisa goyang Harlem Shake pakai helm, gayung, dan piring, misalnya. Atau Parvati yang menutup muka ketika mendengar cerita horor. Theo yang gengsinya luar biasa tinggi.

Pukul enam lewat lima puluh mereka semua sudah bubar dari Malfoy Manor dengan kendaraan mereka masing-masing. Draco mengantar Hermione pulang dan banyak yang bisa mereka ceritakan hari itu.

"Kemarin aku melihat Theo," kata Draco memulai percakapan ketika mereka naik sepeda motor Draco. Draco tadinya menawarkan untuk memakai mobil, tapi Hermione menolak karena ini hanyalah perjalanan singkat.

Hermione tertawa kecil. "Astaga, Draco, kemarin kita semua melihat Theo."

"Dengar dulu," katanya sambil melihat lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah dan berhenti di tempatnya. "Aku melihat dia menelepon Daphne Greengrass dengan ekspresi aneh. Tidak bisa diartikan. Tapi aku yakin satu hal kalau dia merindukan gadis itu."

Hermione terdengar senang. "Dia menelepon Daphne? Serius?"

"Betul. Aku melihatnya kemarin. Tanya Ron, Blaise, dan Harry kalau tidak percaya. Dia berkata bahwa dia akan tidur, padahal … dia pasti ingin menelepon Daphne lebih lama."

Kendaraan lain mulai bergerak. Draco buru-buru menggerakkan motornya lagi sehingga mereka bisa meneruskan perjalanan. Hermione, di belakangnya, terkikik geli membayangkan Theodore Nott dengan wajah malu tapi mau menelepon Daphne dengan nada datar.

"Aku juga punya cerita," kata Hermione ketika mereka sampai di perempatan. "Kemarin malam Fleur … mengoceh terus. Nyamuk lah, panas lah, sempit lah, aah banyak sekali yang dia ocehkan. Sekitar pukul dua belas malam Harry memanggil Luna, ya? Habis Luna keluar, Fleur langsung mengomel lagi."

Draco hanya bisa memberikan decakan pelan. Sepupunya itu harus diberikan pelajaran lagi supaya tidak terlalu manja, walaupun dia sendiri juga manja … hanya saja melakukan kegiatan bersama-sama di rumahnya itu seru, tahu.

Mereka terus bercerita sampai Draco mengantar Hermione ke rumahnya dengan selamat. Hermione turun dan menatap Draco yang tidak turun dari tempatnya.

"Tidak mau turun dulu? Berkunjung, menemui ayahku?"

Menemui ayah Hermione … tantangan yang menarik, tapi mungkin akan dia lakukan lain kali. Dia tidak punya persiapan apa-apa untuk hari ini. Dia menggeleng dan tersenyum jahil, "Kapan-kapan saja, kalau aku sudah bersiap untuk melamarmu, darling."

Demi Tuhan, mereka baru berumur tujuh belas tahun!

.


.

Setelah mengantar Parvati pulang dengan mobil milik ayahnya, Ginny berteriak jahil dari dalam mobil.

"Hati-hati, Parvati! Kakakku bisa bermimpi yang tidak-tidak kalau kau belum pulang dengan selamat. Dia selalu mengoceh tentang keselamatanmu sebelum kamping ini dimulai—"

"Oh, diamlah, Ginny!" bentak Ron kesal ketika melihat Ginny tertawa bahagia di jok belakang. Tapi melihat Parvati yang tersenyum lebar di depan pintu rumahnya, Ron ikut-ikutan memunculkan senyum dan melambaikan tangannya.

"Selamat tinggal!" teriak Parvati. Tepat saat itu seseorang keluar dari rumahnya, jiplakan persis dirinya, Padma Patil. Padma Patil katanya punya acara tersendiri bersama Dean Thomas. Entahlah, Ron tidak mengurusinya lebih lanjut.

Ron dan Ginny ikut melambaikan tangannya. Kini Ginny melompat dan pindah ke jok depan di mana Parvati duduk tadi, dan mulai mengoceh riang bersama kakaknya.

"Aku tidak tahu kalau kau punya banyak koleksi cerita horor, Ron," gumamnya. "Ada lagi? Siapa tahu bisa kuceritakan pada teman-temanku."

Ron tersenyum senang dan mulai bercerita. "Jadi begini …"

.


.

Si pasangan baru tersenyum malu-malu ketika Harry sudah mengantarkan Luna dengan selamat sampai ke depan rumahnya. Luna menawarkan Harry masuk, namun Harry menolak.

"Sudah malam, dikira tidak sopan."

"Ini masih pukul tujuh lewat—oh, baiklah. Aku masuk dulu, Harry. Sampai jumpa."

Tapi Harry tidak melepaskan Luna begitu saja. Dia mencengkeram pundak Luna sebelum Luna berbalik dan sukses melangkah ke dalam kediaman Lovegood.

Harry menahannya sebentar di sana.

Mereka berdua terdiam dan saling bertatap-tatapan sebelum akhirnya Harry mengecup dahi Luna lama. Luna tersenyum. Luna tersenyum, kali ini bukan senyum yang mengkhayal atau senyum yang dreamy dan semacamnya, tapi dia tersenyum untuk realita.

Kenyataan menyambutnya kali ini sampai esok dan hingga akhir datang menjelang.

Setelah akhirnya Harry tersadar kalau mereka sudah terdiam seperti itu hingga cukup lama, ia melepaskan Luna dan melambaikan tangannya. Rok panjang Luna ikut melambai mengikuti gerakan melompat pemiliknya.

Ah, Luna yang eksentrik.

Luna masuk. Harry baru sadar kalau daritadi ada seorang pria berambut putih panjang yang mengintip mereka berdua lewat jendela lantai dua.

.


.

"Jadi kau harus bilang apa, Nona Fleur Delacour?" Blaise terkekeh melihat ekspresi Fleur yang diam saja daritadi ketika Blaise mengantarkannya menggunakan mobil miliknya. Ketika melihat rumah Fleur yang super itu, hampir menyamai Malfoy Manor, rasanya Blaise terpelanting begitu saja di tanah. Eh, tapi Fleur tidak melihatnya karena harta, 'kan?

Fleur mendengus. "Terima kasih."

"Kau berterima kasih pada siapa?" Blaise bersiul. Dia hanya bisa cengengesan melihat Fleur yang ingin sekali melemparinya dengan sepatu hak tinggi miliknya. Blaise sudah bersiap siaga dengan tangan sebagai tameng.

"Terima kasih, Blaise."

Blaise tidak menyangka Fleur akan menyebut nama kecilnya. Dia kira Fleur akan menyebut Zabini atau Tuan Zabini atau Tuan Zabini yang menyebalkan atau apa. Ternyata tidak.

Tangan yang tadinya dijadikan untuk perlindungan, sebagai jaga-jaga kalau Fleur akan melemparinya dengan sepatu hak tinggi, kini digeser untuk melihat lebih jelas sosok Fleur yang sudah melangkah pergi.

Yah, setidaknya dia tinggal menggali tiga perempat hati Fleur, 'kan?

Sebelum Fleur sempat membuka pintu rumahnya, Blaise berteriak. Tidak terlalu kencang, tapi cukup untuk didengar Fleur.

"Besok pagi kutunggu di sini. Kita akan pergi ke manapun yang kaumau, Bidadari."

Dengan itu Blaise masuk ke dalam mobilnya dan Fleur, dengan wajah yang tertutupi rona apa, dia tidak mau mengakuinya—tersenyum tipis.

Tipis sekali.

.


.

Butuh enam detik sampai akhirnya telepon tersebut diangkat. Theo tiba-tiba saja menarik napas lega, lega karena Daphne masih mau mengangkat teleponnya, lega karena Daphne ternyata bukan melakukan pendekatan terhadap laki-laki lakin, lega karena Daphne masih mau menunggunya hingga saat ini ….

"Halo. Theo?"

"Daphne," panggil Theo ketika dia sudah sampai di kamarnya. Kedua orangtuanya berisik sekali tadi, menanyai apakah Daphne ikut acara mereka atau tidak. Theo segera pergi begitu saja ke kamarnya, tidak menghiraukan mereka sama sekali. "Besok kau sibuk, tidak?"

Daphne bergumam tidak jelas sebelum akhirnya menggeleng di seberang telepon. Tahu Theo tidak bisa melihat gelengannya, Daphne menjawab, "Tidak. Aku tidak sibuk besok. Lagipula ini kan liburan musim panas, Theo … memangnya kenapa?"

Hal ini sudah direncanakan Theo sejak kamping tadi malam. "Mau pergi denganku besok? Terserah kau saja mau ke mana."

Daphne yakin kalau hatinya bisa meledak, maka hati itu akan meledak sekarang juga, mengekspresikan kesenangannya yang tiada tara.

"Kau serius, 'kan?"

Theo mengangguk dan mengucapkan dengan nada datar, "Ya. Aku serius. Kalau bisa, pakai kalung yang waktu itu kuberikan padamu."

Daphne berucap malu. "Sebenarnya kalung itu kupakai tiap hari."

Benar juga. Theo sering memperhatikan Daphne dan kalung berbandul emerald yang dia beri waktu Valentine selalu tergantung di leher Daphne. Entah kenapa hal sederhana itu membuat Theo senang.

"Oke. Jadi besok. Pukul delapan?"

"Mmm hmm, kabari aku kalau sudah sampai sini."

Setelahnya, sambungan telepon ditutup. Theo tahu bahwa hal ini adalah awal dari suatu jalan yang lebih besar untuk mereka. Dirinya dan Daphne.

.


.

Malamnya, Hermione tidak bisa tidur karena perkataan teman-temannya di Malfoy Manor kalau suatu saat dia akan tinggal di sana. Tidak bisa tidur juga karena perkataan Draco yang mengatakan dia akan menemui ayahnya kalau dia sudah siap untuk melamar Hermione ….

Hermione memosisikan dirinya dengan nyaman di tempat tidur sambil mengusap cincin berinisialkan DH di jari manisnya.

Begini sudah cukup. Tapi kalau diberi lebih, aku tak menolak. []

.xOx.

A/N: Awww, man! Selamat datang di bab paling panjang dalam sejarah yang pernah saya tulis untuk satu bab. Apakah hasilnya memuaskan?

Rencananya bab-bab di 'Love, Friendship, Hate?' ini akan saya reduksi menjadi maksimal 18 bab. Ada beberapa hal yang perlu dicatat bahwa saya tidak akan mengubah alur ceritanya, juga tidak akan menghapus bab-bab Bonus yang sudah diupdate untuk menyegarkan pikiran kita semua. Jadi, jangan heran kalau suatu saat (jika) kalian melihat LFH dengan 18 bab atau kurang, karena saya yang menyuntingnya hingga sedemikian rupa.

So …. beginilah hasilnya. Tiga pasangan sudah jadi. Dua pasangan masih menggantung karena demikian; Blaise/Fleur karena Fleur masih dengan 'hanya seperempat yang tercuri oleh Blaise' dan Theo/Daphne karena Theo menginginkannya demikian. Such a selfish boy, huh?

Oh iya, mau nanya dong semuanyaa kalian suka persahabatan siapa sih di fanfik ini? Apa Theo-Hermione? Blaise-Draco? Blaise-Ron? Ron-Harry? Atau siapapun lah yang menurut kalian persahabatannya paling erat di keenam orang ini …. Menurut kalian, siapa sih yang paling 'kental' friendshipnya? Terus terus, selain Dramione, pair apa sih yang menarik perhatian kalian di fanfiksi ini?

Sampai jumpa di fanfiksi saya yang lainnya. Fanfiksi ini spesial karena merupakan fanfiksi multichapter pertama saya dan akhirnya berhasil ditamatkan pada bab ini

Terakhir, terima kasih kepada pembaca yang sampai saat ini terus mendukung jalannya cerita ini. Dua tahun sepuluh bulan bukan waktu yang singkat untuk menamatkan sebuah fanfiksi.

.:. balasan review .:.

[NOTE: Semua review akan saya balas di sini, baik yang mempunyai akun atau tidak.]

CallistaLia: Halo, CallistaLia. Terima kasih sudah mau review yang pertama kalinya di fik ini;) waah review apa aja nggak apa-apa kok, ungkapkan aja apa yang kamu rasakan pas baca fanfiksi ini ^^ ini sudah tamat, hehe. Sekarang sih kelihatannya tamat sampai bab dua puluh satu, sayangnya akan saya kurangi sampai bab delapan belas atau kurang

senjadistria: Tengss sudah dibilang menghibur! / di sini friendship mereka saya usahakan untuk lebih kental lho ^^ yup, saya juga ngerasain kalau temenan sama cowok itu lebih asyik ._. Aaah seriously ini ada humornya? Soalnya saya nggak bakat di humor. Ini sudah tamat, terima kasih yaa! ^^

clato-chan: Yup, Draco emang ganteng, apalagi Tom Feltonnya …:D /lho

Seanjuseyo: Yep, ini juga udah diupdate dan sudah tamat. Apakah di sini DraMionenya udah banyak? :")

riyah septia: Owww beneran? Saya tersanjung nih /.\ kalau boleh tau nama twittermu apa? Hahahah

callagloxinia: Maaf udah nunggu lama, ini udah tamat!

roinette m: Oooi hahaha :") ih apal aja. Heemm sebenernya sih supaya kelihatan lebih rapi aja dengan titik dan garis dibanding .xOx. :") lagu yang mereka nyanyiin itu judul aslinya The Last Time, dinyanyikan Taylor Swift dan Gary Lightbody :D

selamet. b. raharjo. 9: Maaf-maaf, saya nggak melupakan mereka kokks :") momen mereka sudah saya bikin spesial di bab ini. Bagaimana?

Bella Elizabeth: Halo, Bella! Makasih udah dikasih dua jempolll :D makasih juga semangatnya, jadi terharu haha, salam semangat juga!

jniteshade: Ini sudah tamat ^^

aprilia. d. pratiwi: Maaf kalau sebelumnya scene Dramionenya kurang … apakah sekarang sudah cukup? ._. ehehehe

Nisa Malfoy: Bagaimana menurutmu? Udah happy ending, belum? XD

KANAS: Ini sudah dilanjut, ya. Tamat lagi^^

Nyoman M: Terima kasih sudah mau review per chapter. Walaupun semuanya singkat-singkat, saya tahu makna yang mau kamu sampaikan :D udah tamat lho ^^

nvds: Terima kasih atas konkrit yang sudah kamu berikan. Semoga bab ini memuaskan dan tidak berbelit-belit. Ternyata tidak sampai dua tiga bab lagi, tapi sudah tamat sampai di sini. Ini sudah diupdate, ya:D

Aileen Rose Malfoy: Ini sudah ending, semoga memuaskan terima kasih semangatnya, Aileen! :D

Silent reader: Ini sudah dilanjut hehehe, tengsss!

fifi malik: Yup, kadang saya iri juga sama persahabatan yang kayak gini, semoga di dunia nyata juga ada yang kayak gini yaa :"D trims lhoo. Ini sudah diupdate sama-sama :D

hashi99: Tengss udah mau setia sampai sekarang, hahaha XDD ini udah bab terakhir, lho

lalana: Ini sudah dilanjut. Tamat, malahan

Maaf kalau ada review yang kelewat, tapi sudah saya usahakan supaya nggak ada yang kelewat. Hmm, jadi, ada yang mau memberikan pendapat di bab terakhir ini?

By the way, ada yang setuju kalau saya bikin edisi khusus tentang mereka lagi?

love,
qunnyv19