I do not own Naruto
CHAPTER 4
Serbekas cahaya mentari menerobos masuk ke dalam sebuah kamar apartement yang mewah dan megah. Seorang cowok yang lagi asyik tidur dan guling-gulingan di kasur empuk ukuran king size miliknya merasa terganggu dengan sinar itu, dengan sangat amat terpaksa dia membuka matanya dan kemudian melirik jam besar yang ada di dinding kamarnya. Jam menunjukan pukul 09.15, rupanya dia bangun kesiangan.
Cowok itu bangun dari posisi rebahannya menjadi duduk. Penampilannya terlihat kusut, kucel dan kumal, tapi suer kekusutannya itu sama sekali tidak mengurangi kata Awesome dan Handsome pada dirinya – Dia tetap terlihat luar biasa ganteng seperti biasa.
Dengan gerakan pelan dan tidak bersemangat cowok itu turun dari kasur king size miliknya, dia melangkah ke jendela balkon kamarnya dan mengintip kondisi di luar apartemennya, mata merahnya menatap bosan pada pemandangan di luar. Hell yeah! Seperti dugaannya, para wartawan dan paparazzi sudah stanby berkumpul jadi satu kayak nunggu pembagian sembako di depan apartemennya. Begini nih, susahnya jadi artis, selalu diuber-uber sama wartawan yang rese dan cerewetnya minta ampun.
Si cowok, atau mungkin lebih enaknya kita panggil 'Kyuubi'. Dia menghela nafas berat, bisa dibilang : Doi lagi stress berat.
Gimana nggak stress? Pacar atau kekasih yang udah benar-benar dicintainya, sampai-sampai pengen dilamarnya hari itu juga, terang-terangan berselingkuh di depan mata kepalanya sendiri.
Sakit hati? Itu sudah pasti!
Kecewa? Of course!
Cemburu? Banget!
Lalu, apa yang akan dilakukan Kyuubi selanjutnya? Jawabannya gampang, tentu aja dia mau Balas Dendam!
Yeah… Balas dendam memang diperlukan dan WAJIB dikerjakan. Pokoknya Kyuubi harus membalas semuanya! Nggak ada tuh kata 'Damai' dan 'Kalah' di kamus Kyuubi, apalagi 'Mengalah' No way gituloeh!
Mengingat rencana balas dendamnya kemaren, kekesalan Kyuubi naik berkali-kali lipat, dia jadi tambah stress begitu ingat sama cewek jelek, bego, berisik, jorok, dan juga gendut! My God, dia jadi tambah emosi kalau mengingat cewek yang satu itu.
Berkali-kali dia meratapi kesialannya. Sudah dicoretcampakancoret pacarnya, dia malah dapat partner balas dendam cewek gendut nyebelin dan belagu banget lagi.
Ya ampun…
Rasanya Kyuubi mau berteriak sekenceng-kencengnya saking keselnya.
'Drrrrrtt...Drrrrrtt...Drrrrrtt...'
Handpone Kyuubi berdering, dengan langkah malas dan ogah-ogahan Kyuubi menghampiri handpone-nya. Ekspresi Kyuubi terlihat terkejut begitu melihat nama si penelpon. Nggak pernah terbayangkan oleh Kyuubi kalau orang ini akan menelponnya.
Dia… adalah orang yang sangat dibenci oleh Kyuubi. Orang yang sangat WaJar alias WAjib dihaJAR. Dia adalah penyebab kejombloan Kyuubi, penyebab sakit hati Kyuubi. Orang yang telah merebut pacarnya, si cowok berambut dan bermata hitam yang seenaknya dengkulnya mencium bibir kekasihnya.
Terbayang nggak betapa murkanya Kyuubi sama si cowok itu? Dan ngapain juga si cowok itu nelpon Kyuubi? Berani banget dia! Udah merebut pacar orang secara terang-terangan, sekarang nelpon lagi! Dia mau nantangin Kyuubi, eh? Benar-benar minta dihajar rupanya.
Sebenarnya Kyuubi mau langsung menyemprot si cowok dengan sumpah serapah serta caci makian yang kekasaraannya nggak kira-kira begitu mengangkat telponnya. Tapi mengingat hal itu malah akan membuatnya terlihat makin menyedihkan, Kyuubi berusaha mengendalikan emosinya (Bersabar) seolah nggak terjadi apa-apa. "Hn" Jawabnya begitu mengangkat telpon.
"Kyuubi?" Tanya orang dibalik telpon memastikan.
Kyuubi memutar kedua bola matanya mendengar pertanyaan si cowok, dia bener-bener jengkel banget sama cowok yang satu ini, rasanya pengen muntah begitu mendengar suarannya. "Hn." Jawab Kyuubi lagi.
"…."
"…."
"…."
"…."
Mereka berdua terdiam. Kyuubi berusaha mati-matian untuk tidak mendengus dan menggurutu kepada si penelpon. Ngapain juga cowok itu nelpon kalau pada kenyataannya dia nggak ngomong apa-apa.
"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau katakan, lebih baik matikan saja telpon ini, karena aku sangat sibuk sekarang." Kata Kyuubi dengan nada ketus dan nggak minat.
Si penelpon terdengar menghela nafas."Aku ingin berbicara soal Yamanaka Ino." Katanya dengan suara datar, dan terkesan to do point nggak pake basa-basi atau sambal terasi(?)
Kyuubi mendelik tidak suka begitu mendengar nama 'Ino' disebutkan, meskipun pada kenyataannya dia sudah menduga kalau cowok ini akan membahas masalah Ino, tapi tetap saja hati Kyuubi terasa panas mendengarnya. "Aku tidak punya urusan dengan cewek itu." Ucap Kyuubi dengan nada suara yang diusahakan sebiasa mungkin.
"…."
"…."
Lagi-lagi si penelpon dan Kyuubi terdiam, aura telpon-telponannya benar-benar nggak enak.
"Aku tau, kalau kau masih mencintai Nona Yamanaka." Ucap si cowok penelpon sok tahu, dan sukses bikin Kyuubi makin dongkol.
"Aku dan Nona Yamanaka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Hubungan kami sudah berakhir, berkat seseorang." Kata Kyuubi dengan nada tenang, tapi mempunyai makna menyindir.
Si cowok penelpon terdengar tertawa pelan. "Aku merasa tersanjung karena telah menjadi orang yang menghancurkan hubungan itu." Jawab cowok itu benar-benar sarap dan cari mati.
Amarah Kyuubi membuncak mencapai ubun-ubun begitu mendengar perkataan si cowok brengsek penelponnya ini. Rasanya dia ingin membanting apapun benda yang ada di dekatnya, tapi tetap… Kyuubi harus tetap stay cool dia nggak boleh sampai kepancing.
"Aku juga sangat berterimakasih kepada Tuan Uchiha karena telah menyadarkanku, kalau Nona Yamanaka bukanlah gadis yang pantas untukku." Jawab Kyuubi sarkastik.
Mendengar jawaban Kyuubi, si cowok penelpon tertawa."Kau tidak pernah berubah, Kyuu. Tidak pernah mau mengakui kekalahanmu." Katanya.
"Ck! Dasar keriput sialan! Apa maksudmu dengan kalah?" Protes Kyuubi.
"Seperti yang aku bilang di awal : Aku tau, kalau kau masih mencintai Yamanaka."
Kyuubi cuman diam, nggak bermaksud menanggapi perkataan si penelpon a.k.a Uchiha keriput, atau lebih enaknya kita panggil Uchiha Itachi. Kyuubi lebih memilih untuk menetralkan emosinya yang siap meledak-ledak. Lagian… pada kenyataannya tidak bisa dipungkiri kalau Kyuubi emang masih ada rasa sama si Ino (Meskipun sudah berkurang, tapi tetap ada gitu loeh..)
"Aku bisa mengembalikan Ino kepadamu." Ucap Itachi dengan gamplangnya.
Perkataan Itachi tadi sukses bikin Kyuubi naik darah. Dia ngerasa terhina dan diremehkan banget! Apa maksudnya coba? Emang dia pikir Kyuubi nggak bisa merebut Ino dari dia? Plis deh, Kyuubi bukannya nggak bisa merebut Ino dari Uchiha keriput itu, Kyuubi cuman nggak mau berjuang buat cewek yang udah selingkuh di depan mata kepalanya sendiri. Masih banyak cewek lain yang lebih baik dari pada Ino, jadi ngapain dia mempertahankan cewek kayak Ino! Harga diri Kyuubi terlalu tinggi buat balikan sama cewek yang udah nyelingkuhin dia.
"Aku sama sekali tidak peduli sama cewek itu. Terserah.. mau kau apakan dia, aku sama sekali tidak peduli." Kata Kyuubi dengan nada dingin.
"Yamanaka Ino sama sekali tidak berarti bagiku, dia hanyalah gadis murahan."
THE HELL! Kyuubi menggertakan giginya, dia marah! Uchiha Keriput ini benar-benar kurang aja, pokoknya brengsek! Kyuubi tidak terima mantan pacar yang masih disayanginya disebut sebagai cewek murahan. Ingin rasanya Kyuubi membanting Handphone yang ada di tangannya, kemudian langsung melesat pergi menuju ke tempat Itachi berada, dan memukulinya sampai mati.
Sabar…
Sabar…
Kyuubi harus tetap bersabar. Bagaimanapun juga dia tau, kalau Uchiha yang satu ini sedang berusaha memancing emosinya dengan menjelek-jelekan Ino, dan Kyuubi nggak boleh sampai termakan.
"Kau benar, dia emang cewek murahan dan juga sangat bodoh. Terlalu bodoh, hingga dapat dengan mudahnya tertipu oleh cowok brengsek seperti dirimu."
Kyuubi ngerasa nggak enak mengatakan mantan pacarnya sebagai cewek murahan dan bodoh, gimanapun juga dia masih sayang sama Ino, tapi mau bagaimana lagi, dia nggak boleh kalah dari Uchiha yang satu ini.
Si penelpon terkekeh mendengar perkataan Kyuubi. "Apa itu kata-kata yang pantas kau ucapkan, kepada gadis yang masih kau cintai?"
Kyuubi terdiam sebentar. "Kau tau? Perasaan itu bisa berubah dengan cepat, begitu juga dengan cinta."
"Jadi kau mau bilang, kalau kau sudah tidak mencintainya lagi?"
"Yah, karena sejak awal aku memang tidak terlalu berharap padanya." Jawab Kyuubi.
Si cowok penelpon terdiam, dia menghela nafas. "Well, never mind. Cinta atau tidaknya kau pada gadis itu, itu bukanlah urusanku. Lagipula aku menelponmu bukan untuk membahasnya."
Alis Kyuubi terangkat begitu mendengar perkataan Itachi. Apa maksud Itachi kalau dia menelpon bukan untuk membahas Ino? Memang mereka punya masalah apa lagi selain tentang Ino?
"Yang ingin aku katakan adalah… jauhi Naruto."
"Hah?" Kyuubi tidak bisa menyembunyikan kebingungan serta keterkejutannya begitu Itachi mengungkit-ungkit nama Naruto. Apa Naruto yang dimaksud Itachi adalah si cewek gendut dan jelek itu? Emang apa hubungannya Itachi sama Naruto? Apa mereka saling mengenal?
"Aku tidak tau, bagaimana caranya kau bisa mengenal Naruto, hingga sampai tersebar berita kalau kau menjalin hubungan dengannya. Tapi satu hal yang pasti, aku benar-benar tidak suka dengan berita itu." Kata Itachi dengan suara yang terdengar dingin dan penuh ancaman – Dia benar-benar terdengar serius.
Perkataan Itachi tadi tentu menjadi tanda tanya besar di kepala Kyuubi. Dia makin penasaran dengan hubungan Itachi dengan Naruto. Kenapa Itachi jadi terdengar serius dan marah kayak gini?
Tapi…
Kalau Itachi marah, bukankah itu bagus!
Sebuah seringai terukir di bibir Kyuubi, entah kenapa dia ngerasa kalau dewi fortuna telah berpihak padanya. Apapun hubungan Itachi dan Naruto, Kyuubi nggak peduli, selama hal itu bisa membuatnya menang dari seorang Uchiha Itachi.
"Ooh.. apa kau mengenal pacar baruku?" Tanya Kyuubi memancing Itachi.
"Ck! Pacar kau bilang? Dia bukanlah pacarmu, aku tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian."
Mendengar jawaban Itachi, Kyuubi makin penasaran. Emang kenapa Itachi jadi ngotot banget kalau Kyuubi nggak boleh jadian sama Naruto?
"Emang apa hubunganmu dengan Naruto?" Pertanyaan straight dari Kyuubi.
"Kau mencoba mengorek informasi dariku, eh?" Kata Itachi dengan nada meremehkan, Kyuubi cuman berdecak sebal mendengarnya. "Tapi tak apa, cepat atau lambat kau pasti akan segera tau, jadi lebih baik aku katakan sekarang saja. Naruto, adalah calon adik iparku."
WHAT?
Naruto adalah calon adik ipar Itachi?
Pernyataan Itachi tadi jelas mengejutkan Kyuubi, dia nggak nyangka kalau Naruto punya hubungan kayak gitu sama Itachi.
"Jadi kuperingatkan padamu, jauhi Naruto." Ancam Itachi.
Seringai Kyuubi makin lebar begitu mendengar ancaman Itachi, nampaknya dia sayang banget sama calon adik iparnya, tapi.. bukankah itu bagus!
"Maaf saja, tapi sepertinya itu tidak bisa. Karena seperti yang kau tau, aku dan Naruto telah resmi berpacaran." Kata Kyuubi dengan bangganya, untuk pertama kalinya dia ngerasa bangga banget punya pacar gendut kayak Naruto.
Itachi mendecak sebal, seringai Kyuubi makin melebar.
"Liat saja, aku tidak akan tinggal diam."
"Heh, lakukan apapun yang kau mau, Keriput."
Sambungan telponpun terputus.
Kyuubi terdiam sambil memandangi handphone yang ada di genggamannya. Seringai masih terukir dengan jelas di bibirnya. "AHAHAHAHAHAHA." Kyuubi ketawa kesetanan, dia ngerasa kayak ketiban durian runtuh. Ibaratnya Naruto itu adalah durian yang dari luarnya jelek banget : Bulat dan penuh duri yang menyakitkan, tapi kalau sudah dibuka dan dimakan buah di dalamnya, wieeehh.. rasanya MAKNYOS! "HWAHAHAHAHA." Dan Kyuubi pun nggak bisa berhenti ketawa.
.
.
DICARI!
Seorang cewek untuk menjadi kekasih 'Uchiha Sasuke' (Direktur muda Sharingan Corp).
Persyaratan :
Berumur 20-24 tahun, cantik, langsing, sexy, montok, bahenol, virgin, berdedikasi dan berintelejensi tinggi, sabar, cepat tanggap, pandai memasak dan menjahit, serta lihai membereskan rumah.
Kamu akan direkrut untuk menjadi kekasih cowok kaya, paling ganteng dan keren sejagad raya.
Berminat? Hubungi 08XXXXXXXXXXX.
.
"JELASKAN! APA INI, SASUKE!" Bentak seorang pria dewasa berambut dan bermata hitam a.k.a Uchiha Fugaku, dengan ekpresi sangar akibat marah.
Fugaku Uchiha adalah ayah dari Itachi dan Sasuke. Dia merupakan President atau CEO (Chief Executive Officer) Sharingan Corp. Perusahan terbesar di Asia.
Sasuke terlihat tenang, dia tidak gentar sedikitpun. "Itu surat kabar." Jawab Sasuke santai, dengan ekpresi temboknya.
Garis kesal di kepala Fugaku bertambah akibat mendengar jawaban anak bungsunya. "AKU TAU INI SURAT KABAR!" Bentaknya sambil melempar surat kabar itu ke wajah Sasuke, dan tentu saja Sasuke menghindar dari lemparan surat kabar itu. "Yang ingin aku tanyakan adalah isi dari surat kabar itu." Tunjuk Fugaku kepada surat kabar yang tergeletak di lantai.
"Apa maksudnya dengan mencari kekasih? Kau mau mencari pacar baru? Apa kau benar-benar putus dengan Naruto? Dan kenapa ada berita yang mengatakan kalau Naruto berpacaran dengan Kyuubi? Apa semua itu benar?" Tanya Fugaku dengan ekspresi meledak-ledak, dia menghilangkan citra dingin dan cool-nya.
"Hn." Jawab Sasuke, masih dengan tampang stoic-nya.
Wajah Fugaku mengeras mendengar jawaban anaknya, urat-urat kekesalannya terasa mau putus saking kencangnya. "Dasar anak kurang ajar!" Tunjuk Fugaku ke wajah Sasuke. Dia berjalan mendekati Sasuke, dia ingin menghajar anak bungsunya itu. "Kalau bicara dengan orang tua itu yang benar!" Teriaknya bersiap melancarkan tamparan mautnya.
"Pa-Pak Presiden, tenanglah." Ucap seorang pria bermasker dan berambut silver (Kakashi) sambil menghalangi Fugaku untuk memukuli Sasuke.
"Minggir, Kakashi! Aku ingin memberi pelajaran kepada anak durhaka ini!" Bentak Fugaku berusaha memukuli Sasuke, tapi masih tetap dihalangi oleh Kakashi.
Sasuke, sang target, dia tetap tenang dengan ekpresi poker facenya. Melihat kelakuan anaknya itu, Fugaku makin panas. "Kau sudah mencoreng nama Uchiha! Kenapa kau memasang iklan pencarian pacar di Koran? Benar-benar memalukan!"
Sasuke masih tetap cool mendengar ocehan Fugaku.
"Dan kau juga sangat menyedihkan! Kenapa bisa dicampakan oleh Naruto?"
Mendengar kata 'Dicampakan' ke-cool'an Sasuke jadi luntur, dia tidak terima dibilang dicampakan, padahal jelas-jelas dia yang mencapakan Naruto. Dia yang memutusi Naruto. Kenapa semua orang mengira kalau Naruto'lah yang memutusi Sasuke? "Aku sama sekali tidak dicampakan!" Belanya.
"Apanya yang tidak dicampakan! Jelas-jelas Naruto memutusimu karena berpacaran dengan Kyuubi. Karena kau sakit hati, makanya kau mencari pacar dengan cara praktis dengan memasang iklan di Koran!" Tebak Fugaku.
Sasuke makin jengkel mendengarnya.
"Naruto berpacaran dengan Kyuubi setelah aku memutusinya."
"Alasan!" Bantah Fugaku.
Garis siku-siku muncul di kepala Sasuke, emosinya sudah meluap sekarang. Ayahnya ini benar-benar menyebalkan. "Orang tua yang tidak tau apa-apa sepertimu lebih baik diam saja!" Bentaknya.
Fugaku terkejut mendengar bentakan anak bungsunya ini. Berani banget Sasuke membentak ayahnya! Sasuke sudah benar-benar menjadi anak yang durhaka rupanya! "Berani sekali kau berteriak di depanku!" Fugaku bersiap memukuli Sasuke.
"Pa-Pak President, tenanglah, sabar!" Kakashi yang sejak tadi berusaha melindungi Sasuke dari pukulan-pukulan Fugaku, merasa kewalahan. "Sasuke, lebih baik kau segera pergi dari sini." Pintanya.
"Hn." Jawab Sasuke santai, sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu! Mau kemana kau? Aku belum selesai bicara denganmu!" Teriak Fugaku.
Sasuke menghentikan langkahnya, dia berbalik memandang ayahnya. "Ayah tenang saja, aku akan mengurus semuanya. Naruto akan kembali padaku." Kata Sasuke dengan penuh keyakinan, dan kembali melangkah menuju pintu keluar.
Suigetsu yang melihat Sasuke keluar dari ruangan CEO (Ruangan Fugaku) segera menghampiri Sasuke. "Sa-Sasuke, bagaimana? Apa ayahmu memarahimu?" Tanyanya khawatir.
Sasuke memandang Suigetsu dengan tampang bengis. Dia kesel sama si gigi runcing ini.
'BUAGH!' Sasuke memukul kepala Suigetsu dengan keras.
"AUW!" Ringis Suigetsu kesakitan. "Kenapa kau memukulku!" Protesnya.
"Kenapa kau memasang iklan seperti itu di surat kabar?" Tanya Sasuke dengan aura membunuh.
"Ah… itu… bukankah kau memintaku untuk dicarikan pacar? Makanya aku memasang iklan seperti itu." Jawab Suigetsu dengan tampang tak berdosa.
"Bodoh! Aku memintamu untuk mencarikan pacar, bukan menyuruhmu memasang iklan seperit itu. Apa kau tau! Kau sudah mempermalukanku!" Bentak Sasuke kesal. Ampun! Punya teman kayak Suigetsu benar-benar bikin susah, bukannya membantu Sasuke, dia malah menambah masalah. "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau memasang iklan?" Tanyanya.
Suigetsu terdiam, dia menunduk, merasa bersalah. "Maaf…" Ucapnya lirih.
"Maaf? Kau pikir kata maaf cukup?" Desis Sasuke. Dia benar-benar stress sekarang. Sebenarnya apa yang dipikirakna Suigetsu, sih? Kenapa dia memasang iklan memalukan seperti itu di Koran? Semua orang akan menertawakan Sasuke jika membacanya! Kayak Sasuke nggak laku aja! Dan bagaimana reaksi Naruto jika dia membacanya? Dia pasti marah sekali. Oh, God! Kepala Sasuke terasa nyut-nyutan.
"Sasuke, kau mau kemana?" Tanya Suigetsu, begitu melihat Sasuke berjalan ke luar.
"Aku ingin menemui Kyuubi" Jawab Sasuke dengan ekspresi datarnya.
"Eh?" Suigetsu nampak terkejut mendengar perkataan Sasuke. Bertemu dengan Kyuubi? Bukankah itu artinya memulai perang? Oh My… Suigetsu nggak boleh melewatkan pertunjukan unik ini. Kapan lagi dia bisa melihat dua cowok keren yang perfect memperebutkan cewek gendut dan jelek kayak Naruto.
Naruto memang cewek paling beruntung di dunia ini. Suigetsu membatin. "Sasuke, aku ikut!" Teriaknya sambil mengejar Sasuke.
Alunan melodi romantis terdengar menggema di restoran mewah bergaya eropa. Seorang gadis bermata biru dan berambut pirang panjang yang diikat ponytail sedang duduk di dalam restoran itu. Yamanaka Ino, itulah nama gadis itu. Dia sedang menunggu seseorang.
Dia melirik jam yang ada di tangan kirinya. Sudah dua jam lebih dia duduk menunggu orang itu. Bola mata birunya terlihat redup dan menampakan kekecewaan, ada rasa penyesalan di hatinya.
"Maaf, membuatmu menunggu lama."
Seorang cowok tampan, berambut dan bermata hitam tiba-tiba berdiri di depan Ino, dia menarik kursi dan duduk di kursi itu.
"Itachi…" Gumam Ino begitu melihat cowok bermata hitam kelam itu.
Itachi dan Ino saling berpandangan dalam diam.
"Aku hanya punya waktu lima menit untuk bisa bertemu denganmu." Ucap Itachi memecah kesunyian di antara mereka.
Ino tertengun mendengarnya. Dua jam menunggu untuk bisa bertemu selama lima menit. Apa itu setimpal? "Tidak bisakah lebih lama lagi?" Tawar Ino.
"Tidak." Jawab Itachi dingin.
Ino terdiam dan menunduk, dia mencengkram rok berwarna ungu yang dipakainya.
"Apa kau menyesal?" Tanya Itachi tiba-tiba.
Ino mendongak mendengar pertanyaan Itachi. "Apa maksudmu?" Tanyanya.
"Apa kau menyesal… meninggalkan Kyuubi?"
Ino terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa. Apa dia menyesal meninggalkan Kyuubi? Jika ditanya seperti itu, dia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia.
Penyesalan memang selalu datang di akhir
"Menyesal atau tidaknya diriku, itu sudah menjadi keputusanku. Aku harus menerima semua konsekuensinya." Jawab Ino sambil menatap lurus bola mata kelam milik Itachi.
Itachi dan Ino saling bertatapan. Itachi dapat melihat bola mata biru Ino terlihat bergetar menahan tangis. "Kembalilah pada Kyuubi." Katanya.
"Apa?" Ino terkejut mendengar perkataan Itachi, suaranya terdengar serak. "Apa maksudmu dengan kembali pada Kyuubi?" Tanyanya. "Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau mempermainkanku seperti ini? Jika kau tidak serius denganku. Kenapa kau datang dan menciumku di depan Kyuubi?" Air mata jatuh membasahi kedua pipinya.
Itachi hanya diam melihat Ino, dia tidak menjawab pertanyaan Ino.
"Pada akhirnya… kau hanya menjadikanku alat untuk mengalahkan Kyuubi, benarkan?" Tanya Ino lirih.
"Itu benar." Jawab Itachi dingin.
Ino tersenyum getir mendengar jawaban pahit dari Itachi. Air matanya semakin deras keluar, dia merasa menjadi wanita yang benar-benar menyedihkan.
"Kyuubi mencintaimu dengan tulus, dia pasti akan memaafkan dan menerimamu kembali." Kata Itachi.
Ino tersenyum sinis mendengar perkataan Itachi. "Aku mengenal Kyuubi lebih baik dari dirimu. Tiga tahun aku berpacaran dengannya, itu waktu yang cukup untuk mengenal semua sikapnya. Dia… tidak akan pernah mau menerimaku kembali, meskipun dia masih mencintaiku."
Itachi hanya diam, dia melirik jam yang melingkar di tangannya. "Lima menit sudah berlalu, aku harus pergi." Katanya sambil berdiri dari duduknya. "Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita, selamat tinggal." Ucapnya sambil berjalan meninggalkan Ino.
Ino yang ditinggalkan hanya diam mematung. Air matanya jatuh tanpa suara, dia berusaha meredam semua isak tangisnya. Dia tidak boleh menangis di tempat seperti ini. Ino menggigit bibir bawahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar karena tangisannya yang bisu.
Masih ada sambungannya...
