Just A Game?
Pairing: Sasuhina
Gendre: Romance but not romantic
Rated: T
Warning: segala macam jenis warning berkumpul deh.
Disclaimner: Masashi Kishimoto of course
Selamat menikmati ...
Gui gui M.I.T
Hari ini Hinata benar-benar dibuat pusing dengan tingkah laku Sasuke yang menurutnya sangat berbeda dari biasanya. Seharian ini sang pria emo yang biasanya menjahilinya mendadak menjadi anak aneh yang seperti tidak mengenalinya sama sekali. Entah kenapa Hinata merasa kosong, Sasuke yang seperti itu benar-benar tidak disukai oleh Hinata.
Sepulang sekolah gadis cantik yang pendiam dan lemah lembut itu tidak langsung pulang kerumahnya, Hinata berhenti sebentar di bangku taman bunga yang ada di dekat rumahnya.
Sroottt!
Hinata membuang lendir yang bersarang di hidungnya dengan tisu kemudian membuangnya ke tong sampah yang ada di samping kiri bangku taman.
"Apa mungkin Sasuke-kun menjauhiku karena aku terserang flu ya?" gumam Hinata pelan sambil sesekali memijit-mijit pelan hidung mancungnya. Jika memang itu yang menjadi alasannya, Hinata menyesal menangis semalamab tadi malam sehinggal menyebabkan dirinya harus terserang flu seperti sekarang ini.
"Kalau memang itu alasannya, em ... Sepertinya di rumah nanti aku harus banyak-banyak makan ice-cream."
Sroootttt!
Hinata kembali membuang lendir yang hampir keluar itu dan kembali membuangnya ke tong sampah.
"Sifatmu dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah ya, Hinata?" Hinata yang tadinya menunduk langsung mendongak untuk melihat siapa gadis yang barusan berbicara padanya.
"Eemm ... S-Sakura-san? Ano ..." Hinata yang kaget melihat Sakura ada di depannya langsung menunduk sambil memainkan kedua jari tengahnya.
Glek ...
Gadis pemalu tersebut menelan ludah, dia tidak tahu harus berbicara apa pada Sahabat sejak Sd-nya itu. Hinata dan Sakura memang selalu menjadi teman sekelas dari SD tapi meskipun begitu mereka tidak terlalu dekat satu sama lain. Sifat pemalu Hinata membuat dirinya minder dan tidak berani untuk menjadi lebih akrab dengan Haruno Sakura yang sedari dulu selalu menjadi primadona di sekolah mereka. gadis itu sadar diri, mencoba untuk berteman dengan Sakura justru hanya akan mencoreng citra baik si gadis yang menjadi salah satu dari tiga gadis paling popular di sekolah. Dia dan Sakura adalah dua gadis yang jauh berbeda, baginya ... Sakura hanya pantas berteman dengan Yamanaka Ino, gadis cantik bak Barbie yang selalu menjadi peringkat pertama siswi paling popular setiap tahunnya, juga dengan gadis-gadis lain yang setingkat dengannya.
"Hm ... Bisa aku duduk disampingmu? Sudah lama sekali kan kita tidak duduk bersama-sama seperti ini." kata Sakura dengan nada ceria.
"Eee? Emm ... S-Silakan!" Hinata menggeser sedikit tubuhnya kesamping kanan untuk memberikan sedikit ruang agar Gadis Cherry tersebut bisa duduk disampingnya. Gadis itu sedikit salah tingkah, gugup dan tidak tahu harus berbuat menghempaskan pantatnya di kursi panjang itu dan langsung menatap Hinata.
"Dari dulu sampai sekarang, kalau sudah jatuh sakit kau pasti suka aneh-aneh ya?" kata Sakura dengan nada lembut yang penuh dengan kehangatan.
"Ee?" Hinata langsung menatap heran gadis disampingnya.
"A-aneh bagaimana?" tanya Hinata pelan, gadis itu menunduk malu saat menyadari tatapan mata Sakura yang terlihat begitu antusias saat berbicara dengannya. Keringat dingin pun berlahan-lahan mulai keluar. Sakura terlihat sedikit kecewa, tapi kemudian ia langsung menengadah menatap langit dan kemudian tersenyum kecil.
"Dari dulu sampai sekarang, jika sudah mulai sakit kau pasti suka makan semua benda yang hanya akan memperparah sakitmu. Seperti tadi, kau sedang flu. Tapi yang ingin kau makan malah Ice crem, hm ... Kau dari dulu memang aneh ya?" kata Sakura sambil mengingat kembali kenangan masa lalu mereka.
Blush ...
Wajah Hinata langsung memerah, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Sakura bisa mengetahui kebiasaan anehnya ini.
"D-dari mana Sakura-san bisa tau?" tanya Hinata, Sakura yang sudah kembali menatap Sahabat berharganya tersebut kembali tersenyum dan mengusap pelan rambut hitam panjang Hinata, membuat gadis pemalu itu kembali menatapnya heran.
"Kau lupa ya? bukankah dulu kau yang mengatakan hal itu saat pertama kali kita mulai berbicara?"
"Eee?"
Ingatan Hinata langsung berputar pada kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat dirinya masih duduk di kelas satu SD. Hinata langsung tersenyum manis, ternyata Sakura tidak lupa dengan kejadian singkat itu.
Flash back ten years ago
Hinata kecil menatap polos anak perempuan seumuran dengannya yang sedang asyik mengambar di bangku taman sekolahnya.
"Ini Ibu, Ayah dan ini aku ... Terus yang ini Ino tetanggaku, Hm ..." Gadis polos itu terlihat asyik mengambar sendiri tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Hinata kecil menatap gadis itu penuh penasaran. Saat ini dia sedang duduk di bangku taman yang ada disebelah kursi dimana gadis berambut merah muda itu duduk.
Sroottt ...
Sesekali terdengar suara Hinata kecil yang membuang cairan lendir di hidungnya. Yah ... Saat ini gadis kecil yang usianya belum genap lima tahun tersebut sedang menderita flu yang lumayan buruk, wajah tembemnya terlihat memerah tapi tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya.
"Sepertinya menyenangkan sekali," gumam Hinata kecil pelan, saking senangnya melihat eksperi Sakura kecil yang sedang mengambar, Gadis kecil yang sedang sakit itu sampai Melupakan Ice cream cokelat yang dipegangnya. Gadis itu terus tersenyum manis dan membiarakan ice cream itu meleleh ke tangan kecilnya.
Srooottt ...
Suara mengganggu itu mulai mengusik gadis kecil yang sedang asyik mengambar.
"Ee?" Sakura menghentikan kegiatannya dan langsung menatap heran Hinata yang masih tidak mengalihkan pandangannya. Sakura menatap Hinata heran, dilihatnya wajah pucat Hinata yang dihiasi dengan rona merah dan kemudian pandangannya dialihkannya pada sebatang Ice cream cokelat yang begitu menggiurkan.
"Hei, kenapa kau melihatku terus?" tanya Sakura kecil polos.
"Ee?"Hinata kecil langsung tersontak kaget dan langung melihat kekiri kanan, depan dan belakangnya.
'Dia berbicara denganku?' Batinnya bertanya dalam hati.
"Hei, aku berbicara denganmu. Gadis kecil yang memegang ice cream cokelat!" kata Sakura sedikit lebih keras. Mengetahui kalau gadis yang diperhatikannya tadi sedang mengajaknya berbicara, Hinata langsung tersenyum lebar;bangkit dari tempat duduknya dan langsung mendekati Sakura.
"Ano ... Kau sedang mengambar? Hm ..." tanya Hinata langsung. Sakura hanya bisa mengedipkan kedua mata emerladnya.
"Ee, Iya ..." kata Sakura agak ragu.
"Hm ... Pegang ini, aku mau lihat lukisanmu!" Hinata langsung menyerahkan ice cream yang dipegangnya kepada Sakura dan langsung mengambil buku gambar milik Sakura dan melihat-lihat isinya.
"Wah! Gambarnya bagus sekali!"
Sakura hanya bisa terpegun dan sesekali mengendipkan kedua matanya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya saat ini. Hinata begitu terlihat gembira dan bahagia saat melihat gambar yang dibuatnya, Sakura benar-benar senang. Ternyata selain Ino, masih ada anak lain yang mau mengajaknya berbicara duluan.
"Sakura-chan, kau benar-bena berbakat ya? aku suka dengan gambar yang kau buat!" kata Hinata sambil menatap Sakura.
"Kau mengenalku?" tanya Sakura heran. Jujur saja, Sakura tidak pernah merasa pernah mengenal gadis yang ada didepannya sekarang.
"Hm ... Tentu saja, kau kan teman sekelasku!"
Srooottt ...
Setelah mengatakan kalimat itu,Hinata langsung membuang kembali lendir yang masih bersarang di hidung mancungnya.
"Tapi kenapa aku tidak mengenalmu?" tanya Sakura penasaran sambil terus mengingat semua teman sekelas yang dikenalnya.
"Hm ... Aku bukanlah anak yang terlalu mencolok dikelas, makanya Sakura-chan tidak mengenalku!"
Sroottt ...
"Dari dulu aku selalu mengagumi Sakura-chan. Sakura-chan berbeda dari yang lainnya." Sambung Hinata sambil tersenyum lebar.
Sakura senang, dia benar-benar tidak menyangka akan ada orang yang mengkagumi dirinya.
Sroottt ...
"Em ... Sepertinya fluku makin parah," Kata Hinata padanya dirinya sendiri. Hinata terus menggosok-gosok hidungnya yang memerah tatapannya sudah terlihat sangat sayu.
"Kau sakit?" tanya Sakura khawatir, gadis itu langsung memegang dahi Hinata untuk mengecek suhu penggemarnya itu.
"Hm ... Aku hanya flu biasa saja kok, hehehehehhehehe."
"Udah tau flu kenapa masih makan ice cream?"
"Hm ... Aku sudah terbiasa, kalau tidak makan ice cream nanti sakitku bakal tambah parah," jawab Hinata polos.
"Eeh? Kau aneh sekali, siapa namamu?"
"Hinata, Hyuuga Hinata desu. Hm ..."
"Hinata Hyuuga, Hm ..."
Flash back off
"Bagaimana, sudah ingat sekarang? Hm ..." Sakura tersenyum manis melihat wajah memerah Hinata yang menurutnya sangat lucu.
"Hm ... A-aku tidak pernah l-lupa d-dengan hari itu S-Sakura-san, " kata Hinata sambil tersenyum lembut.
"Em ... Sejak hari itu kita menjadi sedikit lebih akrab, tapi kemudian Kau selalu saja menolak untuk bersamaku dan lebih suka menyendiri." Sakura berkata sambil menatap burung-burung yang tidak berhenti berkicau diatas pohon besar disamping mereka.
"G-gomen ... A-aku tidak t-terbiasa, ano ..."
"Padahal dari dulu aku selalu memperhatikanmu lo ... Aku selalu berusaha untuk dekat denganmu, aku bahkan me-mencari tau semua tentang dirimu. Semuanya, hm ..." Sakura berkata dengan penuh semangat.
Blush ...
"S-Semuanya?" ulang Hinata.
"Iya ... Kau adalah orang pertama yang mengagumiku, makanya aku sangat menyukaimu Hinata! Dari dulu aku selalu berharap kita bisa menjadi teman yang akrab," Sakura berkata dengan penuh semangat, jarang sekali dia mendapatkan kesempatan untuk berbicara seperti ini dengan Hinata.
"Semuanya?" tanya Hinata lagi.
"Iya, kenapa?" tanya Sakura heran, Hinata terlihat pucat dan menatapnya dengan penuh ketakutan.
'apa aku mengatakan hal yang tidak-tidak?' Gadis merah muda itu membatin.
Hinata langsung bergetar ketakutan. Gadis itu paling tidak suka kalau ada orang lain yang mengetahui semua hal tentangnya, dia benci menjadi perhatian. Tanpa sadar Hinata sudah berdiri dari tempat duduknya dan berlahan-lahan mundur menjauhi Sakura yang sepertinya semakin bertambah heran.
"Hinata kau kenapa?" tanya Sakura khawatir dan sedikit ketakutan melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Hinata padanya.
'Apa itu berarti dia mengetahui tentang siapa pria yang kusukai dulu? Dia tahu kalau aku jatuh cinta pada Naruto?' Berbagai macam pertanyaan terus bermain di pikiran Hinata yang wajahnya langsung memucat,kenangan pahit setahun yang lalu pun muncul lagi dalam pikirannya.
"T-Tidak ..." Hinata mengeleng-gelengkan kepalanya dan semakin berjalan mundur.
"Hinata kenapa ..."
"Gomen Sakura-san, aku harus pergi ja ne!" Tanpa menunggu reaksi dari Sakura, Hinata langsung berlari,pergi dari taman sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan mungilnya.
"Padahal dari dulu aku selalu memperhatikanmu lo ... Aku selalu berusaha untuk dekat denganmu, aku bahkan me-mencari tau semua tentang dirimu. Semuanya, hm ..." Kata-kata Sakura terus terngiang di benaknya, membuat kepalanya terasa begitu menyakitkan.
'Dia tahu kalau aku dikecewakan? Dia tahu kalau Naruto-senpai tidak menerima cintaku? Dia tau ... Dia tau kalau Naruto-senpai lebih memilih gadis lain? Tidak ... Aku tidak mau ada yang tahu tentang aku ... Ini memalukan!'
Haruno Sakura, gadis dengan iris mata emerlad itu berdiri terpaku dengan wajah sedih. Reaksi yang ditunjukkan Hinata tadi benar-benar membuatnya terkejut, padahal dia hanya ingin Hinata mengetahui bahwa sejak dulu dia ingin Hinata menjadi teman akrabnya sama seperti Ino. Tapi ... Kenapa dia merasa sepertinya Hinata menolak untuk menjadi sahabatnya.
Butir-butir cairan bening itu langsung menganak sungai, keluar dari mata indahnya.
"Kenapa Hinata tidak mau berteman lebih akrab denganku? Aku salah apa?" tanya Sakura entah pada siapa, gadis itu langsung menggosok kedua matanya berharap tangisnya akan berhenti.
"Sakura!" Suara teriakan seseorang membuat Sakura langsung berpaling kebelakang.
"Hm ..." Sakura tersenyum saat melihat Ino yang berlali menuju ke arahnya.
"Forehead ... Kenapa kau tiba-tiba pergi, padahal Sasuke-kun sudah memesan makanan kan?" Sesaat setelah Ino berdiri di depan Sakura, gadis itu langsung mengomel;memarahi tingkah seenaknya Sakura yang telah meninggalkan dirinya dan Sasuke tanpa ijin.
"Gomen ..." Tidak seperti biasanya, Sakura tidak membantah dan hanya menunduk meminta maaf sehingga membuat dahi Ino langung berkerut heran.
"Kau kenapa?" tanya Ino
"Hm ... Tidak, gomen ne ... Tadi aku pergi meninggalkan kalian karena melihat Hinata duduk sendirian. Gomen Ino!" Ino hanya diam memandang wajah sedih Sakura. Gadis itu tahu ... Pasti Sakura ada masalah, kalau sifatnya berubah setelah bertemu dengan Hinata berarti pasti gadis itu penyebabnya.
'Lagi-lagi Sakura bersedih gara-gara Hinata.'
"Seharusnya kalau sudah bertemu Hinata, kau akan senang. Tapi kenapa sekarang wajahmu kusut seperti itu?" tanya Ino menyelidiki. Sakura menggelengkan kepalanya pelan.
"Sepertinya Hinata tidak mau akrab denganku, padahal aku begitu ingin berteman akrab dengannya. Ino ..."
"Eee ... Iya? Kenapa dia begitu sih?"
"Apa Hinata tahu kalau gadis yang disukai Naruto itu adalah aku? Makanya dia tidak mau berteman denganku, padahal aku sudah menolak perasaan Naruto tapi kengapa, Kena ..."
"Hei adik kecil yang nakal,ceritakan semuanya padaku, DARI AWAL!"
Glek ...
Sakura hanya bisa menelan ludah saat mendengar perintah dari si ratu gosip licik dan nakal yang berdiri di depannya.
"Sebenarnya ..."
.
.
.
Dua hari berlalu dan Hinata menjadi lebih pendiam dari biasanya, tidak ada lagi senyum hangat dengan rona merah yang selalu menghiasi wajahnya. Beberapa hari ini Hinata selalu terlihat serius dan sangat menjaga jarak, dia akan langsung menolak saat Ino mengajaknya makan siang bersama. Hinata hanya akan menunduk tidak mau lagi memperhatikan semua tingkah laku teman sekelasnya. Hinata tidak mau ada lagi orang yang mengetahui rahasianya. Haruno Sakura ... Hinata akan menjauhinya, dia tidak mau ada hubungan dengan orang yang mengetahui rahasia yang ingin dikuburnya dalam-dalam, Benar-benar tidak mau. Seorang lady Hyuuga ditolak oleh seorang pria biasa dan itu adalah cinta pertamanya? Bukankah itu tersangat amat memalukan untuk gadis super pemalu seperti dirinya.
"Kau kenapa ha?" Suara yang terdengar kasar langsung menyadarkan Hinata dari lamunannya, gadis cantik itu langsung menoleh ke samping; melihat pria tampan yang menatap datar padanya. Saat bertatapan dengan pria stoic tersebut Hinata langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam dan sedikit menjauhkan tubuhnya.
"A-ada apa, Sasuke-kun?" tanya Hinata takut-takut.
"Hn ... Punya masalah?" Hinata mengintip, melihat raut wajah Sasuke yang entah kenapa terlihat berbeda. Gadis itu tidak bisa mengerti dengan mudah raut wajah yang ditunjukkan Sasuke padanya, sekilas pria terlihat seperti marah Hinata.
Glek ...
Hinata menelan ludah saat membayangkan Sasuke benci padanya.
'Kenapa wajah Sasuke seperti itu?'
"Kau diam heh, kau pikir sikap anehmu itu baik? kau seperti alien saja, jangan egois Hyuuga!"
Deg ...
Hinata tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja kata-kata Sasuke berubah jadi dingin dan kasar seperti ini. Hinata tidak pernah di ajarkan untuk berbicara kasar, meskipun orang tuanya dan tetua di klannya tegas tapi mereka tidak pernah berbicara kasar padanya. Hinata semakin menunduk dalam.
"A-apa maksudmu, S-Sasuke-kun?" tanya Hinata hati-hati, tetap berusaha untuk menjaga nada bicaranya agar Sasuke tidak mengetahui kalau sekarang dia sedang berusaha untuk menahan tangisnya.
"Pura-pura tidak mengerti heh, sok lugu?" Nada bicara Sasuke terlihat seolah-olah menyindir sehingga membuat Hinata kembali merasakan rasa sakit. gadis itu tidak berpura-pura, dia memang tidak mengerti dengan apa yang Sasuke katakan. Sasuke tetap memandang Hinata dengan tatapan sinisnya, saat ini ... Pria itu juga tidak tahu kenapa, tapi yang jelas ... Dia benci pada gadis disampingnya ini. Sasuke kesal, marah karena Hinata secara tidak langsung sudah membuat hubungannya dengan si anak nakal kesayangannya mulai merenggang. Sasuke kesal melihat Anak nakal-nya yang begitu ingin melihat Hinata keluar dari bayang-bayang masa lalu sehingga tega mengorbankan dirinya yang tidak akan mungkin membiarkan kekasihnya it bersedih dan terluka meskipun hanya sedikit.
"S-Sasuke-kun, apa aku a-ada salah p-padamu? K-kenapa tiba-tiba ..."
Brak ...
Sasuke mengebrak meja dan langsung membuat Hinata terdiam. Pria itu menundukkan wajahnya sementara Hinata lansung mendongak menatap Sasuke dengan mulut terbuka dan air mata yang lansung mengalir deras tanpa bisa ditahan lagi, matanya melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sasuke memang dingin dan cuek, tapi Hinata tidak pernah melihat sifat Sasuke yang seperti ini. Tidak pernah sekalipun.
"S-Sasuke-kun ..." Dalam tangis tanpa suaranya, Hinata masih saja sempat untuk memanggil nama pria itu. Sasuke masih saja menunduk dan tidak menyadari tatapan heran dari sebagian teman-teman sekelasnya yang berada di kelas, sayang sekali Ino, Sakura, karin, Shion dan beberapa teman 'akrab' mereka tidak ada dikelas saat ini. Kau beruntung karena sekarang adalah jam kosong Sasuke. Mendengar suara Hinata, Sasuke langung melirik gadis itu tajam.
"Kau tau, kadang aku berfikir kenapa kau tidak enyah saja dari muka bumi ini? Kau itu hanya bisa membuat orang repot!" kata Sasuke pelan sekaligus menusuk, pria itu sama sekali tidak peduli dan tidak tersentuh melihat air mata Hinata yang semakin mengalir dengan deras.
"S-Sas ..."
"Pantas saja Naruto tidak mau menerima cintamu!"
Deg ...
Rasa sakit dan bayangan itu kembali, Hinata tidak kuat melihat Sasuke yang berbeda seperti ini, dadanya sesak ... Kenangan menakutkan itu kembali menghantuinya, sekali lagi.
'Sasuke-kun juga tau hal itu?'
Kepalanya pusing ... Berat dan terasa berputar-putar,tubuhnya bergetar dan pandangannya kabur karena air mata yang tidak pernah berhenti mengalir.
'Aku harus bagaimana? Aku takut ... Ayah, Hanabi ... Kak Neji...'
Deg ...
Jantungnya kembali menggila saat Sasuke menyentuh pundaknya dan memberinya tatapan meremehkan. Lavender sayu dan onix kejam itu bertemu bertatapan dan saling memancarkan sinar yang jauh berbeda.
"Jika sifatmu seperti ini, tidak mengherankan kalau dia langsung menolakmu mentah-mentah. Gadis sepertimu hanya pantas untuk ..."
Plak ...
Hinata tidak sadar saat melakukannya, tiba-tiba saja tamparan keras itu mendarat dengan mulus di wajah tampan Sasuke hingga membuat darah keluar dari celah-celah bibir tipisnya.
"Kuso!"
"KAU KENAPA UCHIHA? "
Deg ...
Tatapan mata Sasuke langsung berubah saat melihat iris mata lavender itu menatapnya kecewa, tatapan yang seolah-olah berarti kalau harapan gadis polos itu baru saja hancur, musnah dalam sekejab.
"Kau aneh, menjauh dariku!" Hinata lansung berlari keluar kelas, tidak peduli kalau dia sudah menjadi bahan tontonan gratis bagi teman sekelasnya. Yang sekarang ingin dilakukannya hanyalah menghilang dan bersembunyi, dia tidak mau bertemu Sasuke. Tidak mau!
'Apa yang telah aku lakukan?' Pria Uchiha tersebut baru menyadari kesalahan yang dilakukannya. Dia telah melampiaskan semua kemarahannya pada gadis tidak berdosa. Tatapan kecewa yang diberikan Hinata padanya langsung merobohkan tatapan kebencian yang baru sebentar tadi diperliatkannya. Sasuke menyesal ... Mungkin, dia sadar ... Apa yang dilakukannya adalah tindakan yang bodoh. Hinata tidak tahu apa-apa kan? Tapi tetap saja, rasanya sakit saat dirinya melihat wajah Hinata yang selalu menjadi perhatian kekasihnya.
Tanpa mereka sadari, seseorang baru saja masuk ke kelas menatap tidak percaya kejadian yang barusan dilihatnya. Gadis itu ... Si anak nakal, menangis melihat apa yang baru terjadi di depan matanya, Sasuke-nya berubah menakutkan.
"Kuso ..."
"Sasuke-kun?"
"Ee?"
Pria itu hanya bisa membulatkan kedua mata onixnya, saat ini ... Di depannya berdiri gadis cantik yang terlihat juga memandangnya kecewa, tidak percaya dengan perubahan sifat Sasuke yang benar-benar berubah menakutkan.
.
.
.
Flashback
"Hei, kau kenapa anak nakal? Tidak biasanya kau diam seperti ini." Sasuke yang baru saja selesai mandi langsung duduk di samping kekasihnya. Pria itu memandang gadis imut yang sekarang hanya duduk diam, menyangga kepalanya;menunduk dan membiarkan sebagian rambut menutup wajah cantiknya. Sasuke bingung ... Tidak biasanya gadis nakal dan hiperaktive itu menjadi anak pemurung seperti sekarang.
"Ada masalah?" Sasuke membelai lembut helaian rambut indah yang dimiliki oleh gadisnya.
"Sasuke-kun, cepatlah buat Hinata jatuh cinta padamu dan jadilah kekasihnya setelah itu."
Deg ...
Tangan Sasuke langsung berhenti bergerak, mata onixnya langsung berkilat tajam mendengar kata-kata yang barusan dikeluarkan oleh kekasih hatinya. Membuat Hinata jatuh cinta padanya dan kemudian menjadi kekasihnya? Hei ... Bukan ini yang mereka sepakati. Sejak awal Sasuke hanya menyetujui soal membuat Hinata melupakan Naruto dan berpaling mencintainya hanya itu saja, dan menjadi kekasih Hinata ... Itu sama sekali tidak pernah termasuk dalam kamus kesepakatan mereka. Tidak akan pernah kan? Gadis nakal masih tetap menunduk tidak berani menatap wajah sang kekasih yang sudah bisa ditebak bagaimana ekspresinya saat ini.
"Aku tidak mau melihat teman-temanku bersedih, aku ingin mereka bahagia ... Aku ingin melihat senyum mereka,"
"Aku tahu itu."
"Jika Hinata sudah punya pacar, dia pasti tidak akan seperti sekarang, dia mungkin akan berubah. Hiks ... Naruto juga pasti akan ..."
"STOP!"
Bentakan keras dari Sasuke membuat gadis nakal tersebut semakin membuatnya menunduk ketakutan,kaget sekaligus takut.
"Ada apa denganmu, Mau jadi peri ha?" kata Sasuke sinis.
"A-Aku ..."
"Atau kau sengaja menyuruhku mendekati gadis itu agar aku jatuh cinta padanya, agar dia bisa melupakan Naruto dan agar ... Cih! Kau menyukai Naru..."
"Sasuke-kun!"
"Lakukan sesukamu anak nakal! Aku bosan menuruti semua kemauanmu. Kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku, yang kau pikirkan hanya orang lain. Kau menginginkan semua orang bahagia dan mengorbankan perasaanku. Kau ..."
"Maaf, aku memang egois! Gomen ... Hiks ... Hiks..." Sasuke diam, dia lemah pada tangisan gadisnya. Dia tidak mau ada air mata yang jatuh dari mata indah sang anak nakal pengisi hatinya. Jari-jari tangan itu mengepal dengan erat, Sasuke menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri dan langsung memeluk kekasihnya.
"Jangan menangis."
flash back off
Sekarang disinilah kedua anak adam itu berdiri dan saling berhadapan. Sang pria terlihat menunduk sedangkan sang gadis terlihat menatap tajam padanya.
"Kau kejam Sasuke!"
"Gomen, aku salah!"
"Jangan pernah meluahkan kemarahanmu padanya. Disini aku yang salah! Kalau kamu ingin marah, marah saja padaku. Hinata ... Dan teman-teman yang lainnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan kita. Dari awal ini ADALAH PERMAINANKU SASUKE!" Gadis nakal itu jatuh terduduk, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu tidak bisa berfikir lagi ... Melihat air mata keluar dari salah seseorang yang dianggapnya sahabat terasa begitu menyakitkan.
"Maaf ... Jangan seperti ini anak nakal!" Sasuke ikut duduk di depan gadis itu sambil menundukkan wajahnya.
"Aku hanya ingin semuanya tersenyum ... Aku ingin mereka bahagia dan membuat impian mereka terkabul. Aku salah ... Aku tidak bisa!" Gadis itu terus menangis tanpa henti, mengabaikan Sasuke dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf ... Jangan bersedih, Aku akan membuat Hinata tersenyum kembali. Lihat saja nanti ya?"
"Eee?" Gadis itu langsung menengadah, melihat wajah tampan calon tunangannya yang terlihat begitu serius.
"Benarkah?"
"Iya, jadi jangan menangis ... Tersenyumlah, ceria dan tetaplah melakukan aksi nakalmu seperti biasa, ya?"
"Eemmm ..." Gadis itu mengangguk dan langung memeluk erat Sasuke.
"Buat Hinata jatuh cinta padamu, buat dia bahagia ..." gumam gadis itu pelan.
"Iya ..." Walaupun rasanya sakit tapi Sasuke hanya bisa mengiyakan semua keinginan kekasih hatinya itu.
'Kau juga Jatuh cintalah padanya Sasuke, aku rela kalau harus membagi cinta. Asal kau bisa terus mencintaiku sampai akhir hayatku, aku hanya ingin semuanya bahagia. Permainan ini pasti berakhir bahagia.'
.
.
.
Atap sekolah adalah tempat yang sangat pas bagi Hinata untuk bersembunyi, gadis itu sudah tidak peduli lagi dengan pelajarannya. Yang di inginkannya saat ini hanya kabur dan bersembunyi sampai rasa malunya itu sedikit berkurang. Tubuhnya bergetar dan bayangan-bayangan lebay yang kemungkinan terjadi mulai bermain di kepalanya.
"Bagaimana ini? Sasuke-kun pasti akan marah padaku. Apa dia akan membongkar hal itu di depan umum? Semua orang akan tahu bahwa aku ditolak mentah-mentah ... Semua orang akan mentertawakanku, mereka akan menghinaku, mereka akan ..."
"Hiks ..." Hinata menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut dan mulai menangis lagi dalam diam.
"Aku ingin mati saja kalau begini ... Hiks ... Hiks ..."
"Kalau kau mati, aku harus bagaimana?"
"Ee?"
Suara familiar itu, Hinata mengenalnya ... Sangat mengenalnya. Gadis itu langsung mendongak dan mendapati sang pria yang ada dipikirannya berdiri di depannya, membelakangi cahaya matahari.
"S-Sasuke ... Kun?"
"Ups ..." Hinata langsung menyembunyikan kembali wajahnya. Takut menatap wajah Sasuke.
Pria itu tersenyum sedih dan langsung berjongkok di depan Hinata.
"Apa kau benar-benar marah padaku dan benar-benar ingin aku menjauhimu?" tanya Sasuke lembut. Hinata tetap diam ... Mendadak sifat Sasuke kembali berubah.
"Hei ... Gadis aneh, apa aku benar-benar telah membuatmu marah?"
Hinata hanya menggeleng pelan, pikiran gadis itu buntu ... Dia sama sekali tidak bisa berfikir dengan baik. entah kenapa saat mendengar suara lembut Sasuke, saat melihat wajah tampannya dan saat merasakan aura hangatnya. Kemarahan Hinata lansung lenyap tanpa bekas, segala pikiran lebaynya mendadak hilang. Anggap saja gadis bodoh dan tidak pernah konsisten, karena nyatanya ... Jauh di dalam lubuk hati gadis itu, Hinata tidak mau sedikitpun berjauhan dengan Sasuke.
"Hei ... Bisa aku memelukmu?"
"Ee?"
Hinata langsung mendongak menatap Sasuke dan tanpa sadar mengedipkan kedua matanya yang masih basah oleh air mata.
"Tubuhmu bergetar dan aku hanya ingin menenangkanmu!" kata Sasuke sambil membuang muka.
Hinata tersenyum, entah kenapa ingatannya tentang Sasuke yang tahu akan rahasia yang paling tidak ingin di ungkitnya itu mendadak hilang. Ya Tuhan ... Sepertinya Hinata benar-benar sudah terjerat akan pesona seorang Uchiha Sasuke yang terkenal dengan sang pria penggoda tersebut.
"M-memeluk ku?"
"Iya ..."
Deg ...
Jantung itu pun mulai menggila saat Sasuke memeluk Hinata dengan sangat erat, menenggelamkan tubuh mungil Hinata di dalam pelukan hangatnya. Hinata tidak bisa berfikir dengan jelas, itu adalah pertama kalinya dia dipeluk oleh seorang laki-laki yang merupakan orang asing. Wajah Hinata seluruhnya memerah dan rasa pusing di kepalanya pun mendadak menyerang.
"Kau akan melupakan semua yang terjadi kan? Aku akan sedih kalau kau membenciku!"
"Eem ... Aku sudah lupa kok!" kata Hinata polos. Sungguh besar pengaruhmu terhadap Hinata wahai Sasuke.
"Bagus ... Jadi sekarang kau boleh kembali jatuh cinta padaku kan?" kata Sasuke sambil tersenyum kecil. Rasanya ada keasyikan sendiri yang muncul saat dia melakukan hal itu pada Hinata. Ternyata menggoda gadis itu lebih baik rasanya dibandingkan bersikap cuek dan kasar padanya kan, Sasuke .
Blush ...
Mendengar kata-kata itu Hinata langsung pinsan karena tidak tahan dengan rasa berdebar dan rasa pusing yang menghampirinya.
"Eee? Hinata kau tidur?"
"Dasar gadis aneh ... Maaf Hinata!"
Sayang sekali kau tidak bisa mendengar kata maaf dari seorang Uchiha. Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau keluarga Uchiha adalah keluarga yang paling jarang mengucapkan kata maaf. Dan kau beruntung meski kau tidak mendengarnya Hinata.
Sasuke mengangkat tubuh mungil Hinata, berniat untuk membawanya pulang.
"Masalah beres ... Dan sekarang tinggal meminta ijin ayahmu agar kau bisa dibiarkan pergi minggu depan,Lady."
Tanpa disadari oleh Sasuke, gadis nakalnya tersenyum saat melihat dia menggendong Hinata. Gadis itu tersenyum dalam tangisnya. Si anak nakal sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa walau dalam kondisi paling menyakitkan sekalipun dia akan tetap tersenyum dan terlihat ceria. Gadis itu memegang dadanya mencoba untuk menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
'Aku tidak akan cemburu ... Aku akan membunuh rasa itu demi kalian semua!'
.
.
.
Hal pertama yang dilihat Hinata saat dirinya pertama kali membuka kedua matanya adalah wajah cemas ayah dan adik perempuannya Hanabi.
"Tousan ..." gumam Hinata pelan.
"Hinata," Panggilan ayahnya terdengar dingin tapi juga sedikit terdengar lega.
"Neechan ... Kenapa kau bisa pinsan sih?" tanya Hanabi sambil membantu Hinata yang berniat untuk bangkit. Hinata mengabaikan pertanyaan adiknya dan langsung mengedarkan pandangannya kesuluruh penjuru ruangan untuk mencari sosok tinggi Sasuke.
"Jika kau mencari bocah hingusan yang membawamu kesini, dia sudah pergi." Ayah Hinata yang seakan-akan mengerti isi pikiran Hinata langsung berkata dengan nada dinginnya. Hinata menunduk dengan wajah cemberut dan mengabaikan ayahnya.
"Dia sudah empat jam menunggumu sadar. Hah ... Bagaimana kau bisa pergi Study tour kalau tubuhmu lemah seperti ini?" Perkataan Hanabi langsung membuat Hinata membulatkan kedua mata emerladnya.
"H-Hanabi, bagaimana kau bisa tau kalau ..."
"Hinata istirahatlah, jangan pikirkan apa-apa dulu. Sasuke yang memberitahu ayah semuanya dan meminta agar mengijinkanmu untuk ikut." Hinata menatap tidak percaya pada ayahnya, apakah semua itu hanya mimpi?
.
.
.
Malam itu Hinata tidak berhenti tersenyum, Hanabi sudah bercerita padanya tentang bagaimana Sasuke membawanya ke rumahnya dan menungguinya selama empat jam. Ternyata Sasuke begitu perhatian padanya, itulah yang selalu dipikirkan oleh Hinata. Dan senyuman Hinata pun semakin mengembang saat beberapa waktu lalu Hanabi memberitahunya semua yang telah dilakukan oleh Sasuke agar sang ayah mengijinkannya untuk ikut study tour sekolahnya. Sasuke menjadikan dirinya sendiri atas keselamatannya selama berada di Suna, bukankah itu terdengar sangat romantis?
"Study tour pertamaku nanti, hm ... Aku tidak sabar untuk menunggu minggu depan."
Tbc ...
Minna ... Maafin gui gui yang membuat chapter kali ini menjadi tidak sesuai dengan pikiran teman-teman semuanya. Acara study tournya dilanjutkan minggu depan aja ya? tolong jangan salahkan gui gui ... Salahin aja penyakit gui gui yang seenak jidatnya melahirkan chapter tiga yang sepertinya akan mengecewakan banyak pihak ini, dan sepertinya pembaca fic ini pasti akan berkurang, Gomen ... gui gui gak bisa nepatin janji ...
Pyuh ... chapter ini merupakan chapter terpanjang yang pernah gui gui buat lo ... *bangga* :D oh ya ... gui gui gak pernah bilang fic ini akan berakhir sad ending kan? Gui gui cuman bilang bisakah fic ini berakhir sad ending, gitu kan? Kalo misalkan gui gui udah bilang fic ini berakhir sad ending berarti gui gui harus megang kata-kata gui gui. Tapi kalau belum ... mungkin bisa diubah. :D
Teman-teman ... Sudikah kalian membiarkan gui gui tahu dengan pendapat kalian tentang chapter kali ini? Gui gui mengharapkan yang terbaik dari teman-teman semuanya *?* abaikan. ... hehehehehhehehe maaf kalo disini banyak kesalahan, ada beberapa alasan yang membuat gui gui gak bisa mengeditnya dengan benar.
Yosh! Waktunya balas review:
Rara-uchihahyuga: kalo Rara jadi kekasihnya Sasuke mah, fic ini bakal jadi fic tragedy donk buat Hina. *maksudnya?*
EvilLysa: makasih! :D soal Sasuke yang bakal jatuh cinta ama Hinata kita liat aja ntar ya? XD alhamdulillah masih bete, gak sampai benci. :D
Lily Purple Lily: iya tuh, sama kayak authornya. XD Hinata udah dijadiin 'percobaan' *dalam arti kata yang berbeda* :D . maaf ya chapter ini gak bisa jadi bagian yang study tour. Gomen ne putri ...
Mine: sebenarnya seingat gui gui sih, gui gui gak ada ngomong mau sad ending, XD tapi sepertinya banyak pembaca yang mikir bakal jadi sad ending. Kalo udah gitu ya ... gui gui kabulin aja deh pemikiran pembaca semuanya. XD wah ... kalo keinginan udah berkurang sulit tuh buat diobati. Ya udah ... Gui gui cuman bisa ngasih semangat aja untuk mine ya? semoga fic lain yang Mine baca gak mengecewakan seperti fic gui gui ini. :D gui gui bakal selalu semangat! :D
Kertas biru: Aaaa ... Yoru-chan, gui gui benar-benar ada bilang sad ending gak sih? *males mau ngecek ulang chapter lalu* gak ... Hinata gak akan gui gui buat menderita-menderita amat kok. Paling-paling sampai stres aja. *dibunuh yoru-chan* kayaknya 5 sampai 6 chapter aja deh kali ya, kalo banyak-banyak nanti reader bosan. :D
Indigo Mitha-chan : gui gui usahain untuk buat Hinata gak menderita kok. Gui gui cuman buat dia tersiksa doank ya... *dibantai Mitha-chan* :D ok ... yang penting gui gui udah update kan? XD
Gece: ini udah dibanyakin, gimana? Udah cukup banyak gak? Wah ... makasih udah udah penasaran. *peyuk-peyuk Gece*
Yanagi Xenophellish Hinagiku: setelah baca chapter ini gimana? Gak penasaran lagi kan? :D
Anne Garbo: makasih udah dibilang bagus... :D sekarang gimana spekulasinya? Udah gak ragu lagi? :D
jenaMaru-chan: makasih udah setia ... :D *terharu banget baca reviewnya* maaf gak bisa update kilat.
IndigOnyx: gui gui juga kagak rela kok, tapi mau gimana lagi donk? Soal itu gui gui usahain donk, tapi gui gui gak tau gimana caranya Sasu biar bisa bertekuk lutut. *orang ini selalu membayangkan Sasu yang selalu mendominasi disetiap hubungan Sasuhina* ajarin caranya donk ... *kedip-kedip manja*
Sugar Princess71: chapter ini pertanyaannya udah kejawab belum? Ok ... deh, guigui panggil su-chan aja. :D tentang mereka yang sekelas atau tidak? Seingat gui gui, guigui gak ada bilang tentang siswa yang gak satu kelas ama mereka deh? *ingatan guigui parah* :D anggap aja kesalahan dimasa lalu aja deh ya? *plak*
Zena Scarlet: Zena anak nakal! *dibantai zena* zena, semuanya pada sedih kenapa dirimu senyum-senyum gaje? *nyodorin obat anti gaje, langsung dibantai* Sakura? Mungkin juga sih. :p iya-iyakan aja deh yang penting dirimu senang. *dijitak* yo wes... silakan kembali ke rumah, nanti maen lagi ya? *?*
Minami Eika: semoga harapan Minami dikabulinnn! Amin ... *?*
Minna ... tentang anak nakal itu gui gui belum berani berkomentar banyak, hehehehehehe tapi bentar lagi gui gui bakal nyebutin nama sebenar anak itu kok. Mungkin habis study tour, jadi tunggu aja ya ... Sekali lagi maaf kalo chapter ini mengecewakan, karena waktu menulisnya gui gui juga lagi kecewa. X( errr ... Gui gui bisa minta ijin buat gak update dua minggu gak? :D
RnR please!
