Just A Game?
Pairing: Sasuhina
Gendre: Romance but not romantic
Rated: T
Warning: segala macam jenis warning berkumpul deh.
Disclaimner: Masashi Kishimoto of course
Karena sekarang ada event SHDL, khusus chapter ini gui gui masukin tema yang udah dipilih untuk event SHDL. :D emank gak bisa disebut fic SHL sih, tapi yah ... gui gui harap gak masalah kalau gui gui masukin tema: Sleep khusus di chapter ini ya? karena gui gui mungkin gak bisa bikin fic untuk meramaikan event ini. Gomen ...
Happy SHDL minna! :D
Selamat menikmati ... XD
Gui gui M.I.T
"Hinata!" Pria itu berlari, berusaha untuk mengejar gadis berambut indigo yang terus berjalan menjauh membelakanginya. Keringat terlihat bercucuran deras membasahi tubuh kekarnya, tapi Sasuke tidak peduli dia ingin mengerjar Hinata.
"Hinata berhenti!" Pria itu berteriak, berharap si gadis mungil itu langsung menghentikan langkahnya. Sepertinya usaha Sasuke berhasil, Hinata langsung berhenti dan berlahan-lahan menoleh pelan menatap wajah lelah Sasuke yang dibanjiri oleh keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Hinata, jangan pergi." Sasuke tidak peduli kalau sekarang dia bisa dikatakan sedang memohon pada seseorang, yang pria itu pedulikan hanya gadis yang sekarang sedang memandangnya datar tanpa memperlihatkan sedikitpun ekspresi yang berarti.
Sasuke berdiri di depan Hinata sambil memegang tangan lembut gadis cantik itu, meremas pelan jari-jari mungil yang terasa begitu rapuh. Sasuke menatap Hinata, memohon agar gadis itu menunjukkan sedikit saja ekpresi padanya.
"Hinata, hei kenapa tiba-tiba sikapmu berubah seperti ini?" kata Sasuke sambil tersenyum miris, pria itu mempertemukan dahi mereka sehingga jarak wajah keduanya semakin menyempit. Hinata menatap mata Sasuke kosong sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Sasuke semakin merasakan rasa sakit yang terus menyiksanya dari tadi, pria itu benar-benar benci sikap Hinata yang mengacuhkannya seperti ini.
"Hinata bicaralah padaku, jangan mendiamkanku seperti ini!" rayu Sasuke sungguh-sungguh.
"Kau ingin aku berbicara?" tanya Hinata lembut tetap dengan wajah datar dan tatapan kosongnya. Sasuke tersenyum lebar, bahagia karena mendengar suara lembut Hinata yang terdengar begitu lembut.
"Iya, aku ingin mendengar kembali suara lembutmu Hinata."
"Baiklah, Uchiha-san ..."
Deg ...
Rasa aneh muncul saat Sasuke mendengar bagaimana cara Hinata memanggil namanya Uchiha-san?
"Hinata, kenapa kau ..."
"Menjauhlah dariku, pergi dari hidupku dan jangan sesekali mencoba untuk mendekatiku. Aku membencimu! Aku bukan mainanmu tuan, pergilah dan berhenti mempermainkan perasaanku. Sedetikpun tidak pernah terlintas dipikiranku kalau aku akan jatuh cinta padamu!"
Deg ...
Rasa aneh itu semakin menjadi-jadi. Sasuke hanya bisa terpaku saat Hinata menjauhkan wajahnya dan melepas paksa genggamannya. Sakit, Sasuke merasakan dadanya berdetak cepat. hatinya terasa tergores oleh benda tajam, begitu menyakitkan dan begitu menakutkan. Hinata yang selama ini selalu tunduk padanya, selalu bersikap lembut padanya dan selalu tersenyum padanya mendadak menyuruhnya untuk pergi menjauh? Bersikap begitu kasar padanya?
"Hinata!" Pria itu berteriak keras saat menyadari tubuh Hinata semakin berjalan menjauhinya. Sasuke panik tidak tau harus berbuat apa.
"HINATA!"
"Sasuke-kun ... Sasuke-kun ... hei, bangunlah kau kenapa?" Suara lembut itu terdengar begitu khawatir. Tangan halus itu terus menggoncang pelan bahu pria yang sedang tidur di kasur ruang tamu, mencoba untuk menyadarkan sang pria yang sepertinya sedang bermimpi buruk.
"HINATA!" Pria itu masih saja terus memanggil nama Hinata, meski suara sang kekasih sudah berhasil membuatnya terjaga dari tidur dan bebas dari mimpi buruk yang dialaminya.
.
.
.
Wajah tampan Sasuke masih terlihat begitu pucat, sejak dibangunkan paksa oleh sang kekasih Sasuke hanya diam tanpa mau berbicara satu patah katapun pada sang kekasih yang terus berusaha untuk menghiburnya.
"Hei, pangeran playboy. Kau jelek tau! Ayolah, jangan dipikirkan mimpi aneh itu. Kita harus siap-siap kan?"
Sasuke menoleh ke samping kiri, menatap heran gadis cantik yang terlihat begitu khawatir padanya.
"Besok kita akan pergi study tour, kau lupa?"
Sasuke memijat dahinya dan kembali menatap wajah sang kekasih.
"Tolong siapkan barang-barangku!"
Kata-kata Sasuke terdengar begitu dingin dan tanpa ekspersi. Si gadis yang tadinya khawatir langsung merubah raut wajahnya menjadi cemberut saat menatap kepergian Sasuke. Dia tahu, mencoba mengajak bicara pria itu hanya akan menciptakan suatu masalah yang baru makanya dia hanya diam dan menuruti semua yang diinginkan oleh pria tampan itu.
"Dia tadi mimpi tentang Hinata? Sasuke, kenapa ekspresimu bisa terlihat sangat sedih seperti itu hanya karena memimpikan dia?" gumam gadis itu pelan.
Pria tampan itu memijat keningnya berlahan, memejamkan kedua matanya agar pikiran yang terus-terusanmengganggunya itu menghilang dari pikirannya. Entah kenapa pria itu merasa ketakutan, saat membayangkan bagaimana reaksi yang ditunjukkan Hinata, membayangkan kalau sikap gadis itu berubah terhadapnya dan membayangkan kalau Hinata membencinya sungguh memberikan tamparan tersendiri bagi pria yang sudah memutuskan untuk membuat Hinata mencintainya tersebut. Rasa bersalah hadir dibenaknya dan menciptakan sebuah penyesalan.
Bagaimana kalau gadis cantik itu tahu apa yang sedang direncanakannya?
Gui gui M.I.T
Pria itu berdiri di tengah-tengah para gadis yang sedang berdesak-desakan mengantri untuk masuk kedalam bis. Matanya terus menerus menatap horor para gadis yang kelihatan sengaja mendekat padanya dan menghimpit tubuhnya.
"Sasuke-kun, wajahmu lucu!" kata gadis mungil yang berdiri di depan pria itu sambil menengadah memandang wajah cemberut yang sedari tadi diperlihatkan oleh pria bermarga Uchiha tersebut. Sasuke menunduk, menatap Hinata yang memang jauh lebih rendah darinya. Sasuke mendengus kesal dan langsung menutup seluruh wajah Hinata dengan tangannya dan memalingkan wajah gadis tersebut agar kembali melihat ke depan. Hinata tidak memberontak malah tersenyum lebar sambil mengeratkan pegangan tangannya pada tas warna pink tuanya itu. Sasuke memutar wajah bosan sambil melihat bis yang ada di belakang bis yang akan dinaikinya nanti.
"Gara-gara ayahmu aku harus naik satu bis yang sama denganmu Nona!" kata Sasuke datar.
Mendengar kata-kata Sasuke, Hinata langsung menutup mulutnya mencoba untuk menahan tawa yang hampir meledak. Kelas mereka memang dibagi menjadi dua, siswa putri akan menaiki bis berwarna pink muda yang berada di depan sementara siswa laki-lakinya menaiki bis warna hitam yang terparkir manis dibelakang bis putri. Dan karena alasan tertentu yang mungkin sudah bisa ditebak, sang pria Uchiha tersebut harus menaiki bis berwarna Pink dengan alasan harus menjaga sang lady Hyuuga. Hiashi Hyuuga meminta langsung pada kepala sekolah agar Sasuke diijinkan untuk naik bis yang sama dengan putrinya, sungguh ayah yang sangat penyayang sekali kan.
"Hm ... aku tidak sabar ingin cepat-cepat sampai ke Suna," kata Hinata setelah dirinya duduk di kursi kedua paling depan dengan Sasuke yang duduk disampingnya. Hinata melihat sebentar kebelakang sebelum memutuskan untuk membuka jendela bis, gadis itu ingin melihat pemandangan yang akan tersaji dengan lebih jelas lagi.
"Seperti orang yang tidak pernah jalan-jalan saja," kata Sasuke datar sambil mengeluarkan buku komik dari dalam tasnya. Hinata menoleh ke sampingnya dengan wajah cemberut, mencubit kecil lengan Sasuke dan langsung menjelirkan lidahnya.
"Ittai ... hei, apa-apaan sih?" kata Sasuke yang langsung melepaskan paksa tangan Hinata yang masih mencubit lengannya kemudian mengelus bekas cubitannya itu dengan dengan pelan.
"Anak nakal!" kata Sasuke sedikit terdengar kesal. Hinata lagi-lagi hanya menjelirkan lidahnya dan langsung membuang muka . Sasuke benar-benar geram melihat tingkah menggemaskan yang sangat jarang Hinata perlihatkan pada orang-orang. Sambil menyeringai jahil si bungsu Uchiha tersebut langsung mencubit keras hidung mancung Hinata membuat gadis mungil itu langsung menggeleng-gelengkan wajahnya dan memukul-mukul tangan Sasuke meminta untuk dilepaskan.
"Sasuke-kun!" teriak Hinata kesal. Sasuke hanya tersenyum geli, melepaskan cubitannya di hidung Hinata dan langsung menggambil topi yang dipakai gadis itu kemudian memakainya.
"Hei ... itu topiku!" kata Hinata sambil berusaha untuk mengambil kembali topinya, tapi tentu saja tangan kekar Sasuke menghalangi niatnya tersebut.
"Pinjam, dasar pelit. Pinjam topinya saja tidak mau!" kata Sasuke. Pria itu memasang wajah cemberut sehingga membuat Hinata langsung menghentikan gerakannya. Gadis itu mendengus kesal, kembali memperbaiki duduknya membuang muka keluar jendela. Sasuke tersenyum dan langsung menggunakan topi Hinata untuk menutupi wajahnya, sepertinya pria itu memilih untuk tidur dari pada tetap terjaga dan mendengar semua celotehan teman-teman sekolahnya yang sedang membicarakan berbagai macam hal tentang persiapan yang telah mereka lakukan.
"Sasuke-kun," Suara centil seorang gadis menggangguku dan memaksaku untuk membuka mata yang sudah terpejam dan menoleh kebelakang, melihat si gadis cantik berambut merah yang tadi menarik bajuku.
"Hn?" tanyaku datar.
"Hm ..." Si gadis berambut merah darah itu tersenyum genit dan mulai bergaya, memasang pose menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya. Sasuke mengernyitkan dahinya dan sedikit bergidik , dialihkan pandangannya untuk melihat gadis yang duduk disamping gadis merah itu. Shion, si gadis centil sok imut yang sedang tersenyum simpul padanya sambil memasang ekspersi wajah andalannya. Puppye eyes no jutsu mungkin.
"Kalian kenapa?" tanya Sasuke tidak peduli.
"Sasuke-kun, bagaimana penampilan kami hari ini cantik kan?" tanya Karin si gadis merah tadi dengan nada centilnya.
"Ha? Cih ... jangan bercanda!" Sasuke langsung kembali ke posisinya semula tidak mempedulikan Karin dan Shion yang mengeluh kecewa diikuti oleh tawaan gadis lain yang sedari tadi memasang telinga mereka untuk mendengar jawaban dari pangeran pujaan hati seluruh gadis yang ada disekolah mereka itu.
"Mengganggu!" gumam Sasuke pelan sambil mengorek telinganya yang terasa gatal, tidak suka dengan suara mengganggu yang didengarnya.
"Hahahahahaha, kasihan sekali kau Karin! Menangis saja kalau kau malu," kata-kata dari seorang murid perempuan yang tidak jelas siapa itu membuat Karin berang.
"Aku tidak akan menangis bego!" teriak Karin kesal.
"Iya, Sasuke-kun hanya malu saja mengakui kecantikan kami, kan Karin-chan?" Kali ini sepertinya Karin dan Shion berbaikan.
"Kau benar, Sasuke-kun hanya malu mengakui kecantikan kami!" kata Karin sambil merangkul bahu Shion yang sedang menjelirkan lidahnya pada semua teman-teman mereka.
"Yei! Kepedean!" kata semua murid yang ada di bis itu serentak.
"Hah ... mengganggu saja!" keluh Sasuke. Hinata sepertinya tidak peduli dengan keributan kecil yang terjadi. Gadis itu tetap menoleh keluar jendela, melihat pemandangan indah yang tersaji dihadapan matanya. Sudah sepuluh menit bis berjalan dan Hinata terlihat masih sehat dan tetap bersemangat. Semoga saja dia tidak terserang penyakit wajibnya jika sudah berpergian dengan menaiki kendaraan umum seperti ini.
Sasuke menoleh kesampingnya, menatap wajah tenang Hinata yang begitu mempersona. Tanpa sadar wajah pria tampan itu memerah, terpikat melihat kecantikan yang terpampang dihadapannya. Ternyata hari ini Hinata menjadi lebih cantik dari biasanya, yah ... gadis itu memang tidak seperti murid lain di kelasnya yang memakai pakaian bebas, Hinata masih tetap memakai seragam sekolahnya. Sasuke tidak mengerti apakah gadis itu sengaja atau justru tidak tahu kalau mereka memang diijinkan untuk memakai pakaian bebas saat Study tour ini.
Mata pria tampan itu tidak bisa berkedip, Hinata begitu mempersona. Saat gadis itu tersenyum kecil, saat dia menggosok matanya yang dimasuki debu jalanan, dan saat gadis itu merapikan rambutnya yang berantakan akibat tertiup angin, secara tidak sadar Uchiha Sasuke sudah menunjukkan ketertarikannya pada gadis mungil yang akan menjadi tanggungannya selama perjalanan mereka ini. Selama tiga hari dua malam nanti seorang Uchiha Sasuke, pewaris perusahaan terkenal di negeri Jerman dan Belanda itu akan menjadi Bodyguard khusus untuk seorang lady Hyuuga. Anak sulung dari pemilik perusahaan teh terkenal di negara mereka.
"Sssttt ..." Cubitan pelan dari gadis yang duduk diseberang tempat duduknya meyadarkan lamunan Sasuke dan membuatnya harus mengalihkan perhatiannya dari si gadis cantik yang begitu mempersona.
Sasuke mendecih pelan dan langsung menoleh menatap Sakura yang terlihat tersenyum lebar.
"Cie ... jangan dipandangi lama-lama kalau kalau kau tidak mau jatuh cinta padanya!" kata Sakura sambil menjelirkan lidahnya pada si bungsu Uchiha tersebut.
Blush ...
Demi apa, Wajah Sasuke langsung memerah saat mendengar kata-kata yang diucapkan Sakura padanya.
"Kheh, jangan bercanda permen karet!" kata Sasuke pelan sambil melemparkan deathglare handalannya yang sepertinya sama sekali tidak membuat seorang Haruno Sakura takut padanya.
"Siapa juga yang bercanda, kata-kataku biasanya selalu menjadi kenyataan lo!" kata Sakura sambil menjelirkan lidahnya, mencoba untuk menggoda Sasuke.
"Kheh, didalam mimpi saja!" kata Sasuke kesal.
"Hei Ino, menurutmu bagaimana kalau Si Uchiha es ini pacaran sama Hinata, kau setuju?" kata Sakura sambil menggoyangkan tubuh sahabatnya yang sedari tadi hanya melihat pemandangan di luar kaca tanpa menoleh sedikitpun pada mereka.
"Jangan bercanda Sakura!"
Mendengar bentakan yang diperdendangkan Sasuke, seluruh murid yang tadinya ribut di dalam bis langsung terdiam dan mengalihkan pandangan pada sang pangeran yang terlihat kesal. Hinata yang duduk disamping Sasuke langsung menoleh, menatap heran pria yang membelakanginya itu.
Ino mengangkat alisnya, membuka tasnya dan mengambil sebuh headset.
"Pakai ini dan tidur saja Sasuke-kun!" kata Ino datar, gadis itu melemparkan headset yang dipegangnya pada Sasuke kemudian kembali melihat pemandangan yang tersaji dari balik kaca bis. Dahi Sasuke mengernyit bingung, tidak biasa dengan sikap Ino yang terlihat berbeda dari biasanya. Tapi tetap saja pria itu langsung mengikuti perintah Ino dengan wajahnya yang lumayan masam.
"Cih!" Pria itu mendecih pelan.
Hinata hanya diam terpaku, tidak berani menegur atau bertanya pada Sasuke. Gadis itu mulai merasakan ada hal aneh yang terjadi disini.
"Hei Ino, kenapa kau kelihatan tidak bersemangat sekali sih?" tanya Sakura yang heran melihat sikap si ratu gosip mereka yang mendadak menjadi gadis pendiam. Ino melihat wajah Sakura sebentar sebelum kembali membelakangi gadis itu.
"Tidak apa-apa, kau juga sebaiknya tidur Sakura, perjalanan kita masih lima jam lagi!" kata gadis itu pelan. Mendengar jawaban Ino, Sakura hanya bisa mengangkat bahu dan mengikuti saran gadis itu. Saat akan memperbetulkan posisi duduknya, mata jambrudnya secara tidak sengaja bertatapan dengan iris mata lavender sayu itu.
"Hm ..." Hinata tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya sebentar.
"Hm ..." Sakura balas tersenyum. Sakura bersyukur sifat Hinata padanya kembali menghangat meski mereka memang tidak pernah bisa lebih akrab.
.
.
.
Tiga jam sudah perjalanan mereka, dan sepertinya penyakit merepotkan Hinata sudah mulai muncul untuk menyiksa gadis mungil itu. Berkali-kali Hinata terpaksa harus pergi ke Toilet hanya untuk memuntahkan semua isi perutnya. Mabuk ... gadis itu memang akan mabuk jika berlama-lama duduk di dalam bis, lady hyuuga itu sama sekali tidak terbiasa. Hinata beruntung bisa yang mereka naiki memiliki fasilitas seperti Ac dan Toilet yang sangat membantu penumpang seperti dirinya.
Bruk ...
Hinata menghempaskan tubuh mungilnya, gadis itu memeluk dirinya sendiri mencoba untuk mencari sedikit kehangatan. Matanya terpejam erat tanpa bisa dibuka sedikitpun, tiap kali matanya dibuka maka rasa mual akan lebih cepat kembali menghampirinya. Keringat dingin merembes keluar, wajah cantik nan mulus itu mendadak berubah warna menjadi pucat kemerah-merahan. Kepala Hinata pusing, terasa diputar-putar membuatnya ingin segera sampai ke tempat tujuan.
"S-sakit sekali!" keluh Hinata susah payah. Yah ... untuk berbicara saja rasanya sangat sulit bagi Hinata. Gadis itu memegang perutnya yang terasa sakit akibat masuk angin, gadis itu duduk tidak tenang. Tidur dengan menyandar pada sandaran kursi sangat tidak membantu dirinya yang sedang mabuk berat itu.
"Engh!" Hinata mengeliat tidak nyaman, dalam keadaan terpejam air matanya keluar. Dia tidak terbiasa menahan sakit sendirian, biasanya saat dia mabuk kendaraan seperti ini akan ada pelayannya yang akan membantunya melegakan sedikit rasa sakit yang di deritanya.
Mendengar suara Hinata yang terdengar sedikit tidak beres itu, Sasuke melepaskan headset di telinganya dan langsung melihat keadaan nona dadakannya.
"Hinata?" kata Sasuke sedikit kaget.
"Eem?" Susah payah Hinata membuka matanya sebentar dan kembali menutupnya. Dahinya berkerut dan wajahnya semakin bertambah pucat memerah.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke, pria itu langsung menyentuh bahu mungil Hinata dan meraba keningnya. Menghapus keringat dingin yang keluar , Sasuke memperhatikan keaadan Hinata.
"T-Tidak apa ... hmph!" Belum sempat gadis itu menjawab pertanyaan Sasuke, rasa mual itu kembali menyerangnya.
"Permisi!"
Hinata lansung berlari ke dalam Toilet dan memuntahkan kembali seluruh isi dari perutnya.
"Hinata!" Rasa khawatir terlihat begitu jelas, secepat kilat pria dongker tersebut langsung berlari menuju Toilet untuk melihat bagamana keaadaan gadis yang sering disebutnya merepotkan itu.
Huek ...
Huek ...
Hinata menghapus air mata yang mengalir dari mata indahnya, gadis itu benci menjadi gadis lemah seperti ini. Dengan langkah gontai kakinya melangkah keluar untuk kembali ketempat duduknya.
"Kau mabuk kendaraan?"
"Ee?" Hinata kaget saat menyadari kalau Sasuke menunggunya di depan pintu Toilet.
...
"Bodoh, kalau mabuk kenapa tidak membangunkanku?"
"Kau benar-benar bodoh ya? sudah tau masuk angin kenapa tidak pakai sweater?"
Pria itu terus mengomel, memarahi Nona mudanya yang sekarang duduk sambil menyandarkan kepalanya dibahu Sasuke. Pria itu melingkarkan tangannya di lengan Hinata dan menarik Hinata lebih mendekat agar gadis cantik itu menjadi sedikit lebih nyaman. Tangan kiri pria itu terus menerus mengusap keringat dingin yang masih keluar di sekitar dahi Hinata.
"Aku tidak k-kuat untuk mengambil sweater-ku," kata Hinata lemah, gadis itu masih memejamkan kedua matanya. Sejak bersandar pada bahu pria disampingnya itu rasa mabuk yang menderanya sedikit berkurang, Hinata lega dan tersenyum bahagia.
"kalau begitu kenapa tidak membangunkanku anak ayam!" kata Sasuke sedikit kesal.
"Kenapa malah menyebutku anak ayam?" tanya Hinata tidak terima. Wajahnya langsung cemberut dan Sasuke hanya tersenyum kecil saat melihat raut wajah Hinata yang seperti itu.
"Terserah aku, memangnya kau mau aku memanggilmu sayang? Mimpi saja seribu tahun!" kata Sasuke sambil mengacak pelan rambut Hinata yang masih dengan posisi romantisnya itu. Hinata tersenyum geli dan semakin mendekatkan dirinya pada Sasuke, mengenggam kemeja sang pria lebih erat.
"Sekarang tidak terasa dingin lagi kan?" tanya Sasuke sambil memperbetulkan letak jaket miliknya yang sekarang dipakai Hinata.
"Tidak."
Sasuke melihat keluar, memandang awan yang berkumpul dilangit.
"Shit ... sepertinya hujan deras akan segera turun!" kata pria itu pelan.
"Sasuke ..."
"Tidurlah anak ayam, aku akan melakban mulutmu jika kau berbicara lagi!" kata Sasuke kesal.
"Tapi ..."
"Tidurlah, jangan sampai muntah lagi."
"Arigatoo ..."
Blush ...
Wajah Sasuke memerah.
Benih-benih cinta itu berlahan mulai tumbuh dan berkembang. Sekarang segala akan terlambat jika permainan ini dibatalkan, hati sang pangeran berlahan-lahan beralih pada gadis lain yang lebih biasa. Tidak setia? Plinplan? Playboy? Hei ... perasaan itu tidak bisa dikendalikan, rasa suka itu bisa saja muncul dan hilang begitu saja tanpa kita duga kan?.
Air mata bening itu mengalir berlahan, gadis itu memandang sedih pasangan yang duduk diseberangnya yang terlihat saling berpelukan. Benar-benar pasangan yang serasi sekali, dulu dia yang berada di posisi gadis itu. Hatinya sakit, rasanya dia ingin berteriak dan segera menjauhkan kekasihnya dari gadis cantik yang tidak tau apa-apa itu. Tapi dirinya sadar, bukankah ini yang diharapkannya? Bukankah cara ini bisa mempercepat gadis itu untuk segera jatuh cinta pada kekasihnya?
'Sasuke tidak akan berubah, hatinya pasti akan tetap selalu menjadi milikku. Pasti! Kau harus tetap mencintaiku Sasuke-kun, setidaknya sampai aku siap untuk melepasmu pergi!'
Gadis itu memandang wajah polos sahabatnya yang sedang tertidur kemudian tersenyum manis.
"Hei gadis jelek, sampai di Suna nanti kau akan bertemu dengannya. Jangan merasa bersalah lagi ya? kau harus bahagia, kau harus meraih cintamu yang dulu sempat kau lepaskan!" bisik gadis cantik itu pelan.
'Aku harap semuanya akan bahagia.'
Gadis itu tersenyum sedih dan kembali menyambung tidurnya yang sempat terganggu gara-gara mendengar obrolan menarik dari pasangan yang sekarang sedang tidur tenang.
Gui gui M.I.T
Suna Internasional High School, saat ini di sekolah bertaraf internasional yang sangat terkenal di jepang itu sedang disibukkan dengan persiapan festival sekolah mereka yang akan resmi dibuka malam nanti. Festival yang akan berlangsung tiga hari dua malam itu akan menghadirkan berbagai macam acara menarik seperti pentas drama, segala macam pameran, pertunjukan, pertandingan olah raga, stan-stan unik dan berbagai macam hal-hal lain yang sangat sayang untuk dilewatkan.
Semua siswa berpartisipasi dengan baik untuk menunjukkan hasil karya sekolah mereka yang akan dipertunjukkan pada banyak orang. Mereka berusaha keras agar tidak mempermalukan sekolah mereka termasuk penghuni kelas 2-a yang sekarang sibuk mengurus kafe mereka.
Snow White's Wedding Party.
Begitulah papan nama yang ditempel di pintu masuk kafe mereka. Kafe cosplay unik yang didalamnya dihias seperti suasana pest pernikahan ala putri raja. Ide mereka sangat menarik, membuat kafe yang bertemakan suasana bahagia pernikahan .
"Temari-nee gelas-gelasnya dimana?"
"Kankuro-nii ordennya kurang rapi!"
"Hei, kau gadis cilik bawa kursi mengganggu ini pergi!"
"Anak manja, rapikan karpetnya dengan benar!"
"Aaahh, kalian benar-benar merepotkan!"
Pria tampan itu menepuk pelan dahinya, pusing mengurus teman-teman sekelasnya yang tidak becus menjalankan tugas mereka.
"Gaara, bersikaplah lebih sopan sedikit pada teman sekelasmu!"
Pria tampan berambut merah itu menoleh pelan ke sampingnya dan langsung menunjukkan senyum mautnya. Bagaikan melihat gerakan slow motion, si gadis yang tadi ingin mengomel langsung terpaku, terpesona dengan semua ketampanan yang dimiliki oleh adik angkatnya itu.
"Temari-neesan, kau ingin kafe kita selesai tepat waktu kan?" kata pria itu dengan nada yang menggoda.
"I-iya," kata Temari sembari mengangguk.
"Kalau begitu, berhentilah mengomel!"
"B-Baik,"
Perkenalkan, Sabaku no Gaara. Pangeran penggoda yang sebentar lagi akan dipertemukan dengan pujaan dengan ketampanan luar biasa dan kekayaan luar biasa itu pula selalu bisa memikat hati semua gadis yang melihatnya. Selalu bisa mendapatkan gadis manapun yang diinginkannya, tidak akan ada gadis yang bisa lepas dari jerat ketampannya. Apapun yang diinginkannya pasti akan tercapai dengan baik.
'Hm ... Aku tidak sabar menunggu kedatangan gadis-gadis Konoha itu. Kau akan datang kan, Hinata? Aku sudah menyiapkan peran yang bagus untukmu disini!'
Seorang gadis pemalu berjalan sambil menunduk mendekati pemuda tampan yang berdiri di depannya itu. Gaara menunduk, heran dengan sikap teman sekelasnya yang begitu pemalu itu.
"Gaara-san, ano ... kami kesulitan untuk mencari ukuran gaun yang pas untuk Snow white, ano ... " kata Matsuri takut-takut.
Gaara hanya tersenyum misterius dan langsung mengacak pelan rambut indah gadis manis itu, membuat sang gadis cantik lansung blushing seketika.
"Tenang saja, kau urus soal yang lain saja. Soal itu, serahkan saja padaku!"
"Ee? Ano ... kalau begitu siapa yang akan jadi pasangan Gaara-san?"
"Hm ... Itu rahasia, Matsuri-san!"
Gadis cantik itu lansung meleleh saat melihat senyum manis Gaara yang ditujukan padanya. Sabaku no Gaara, the perfect prince. Kira-kira siapa yang akan menjadi pasangan sang pangeran ya?
Tbc ...
Ok, gui gui tahu ceritanya bakal aneh menurut teman-teman, tapi mau gimana lagi? Beginilah plot yang udah gui gui susun di otak gui gui. :D sedikit berubah sih, hehehehehhehe
Sudah gui gui kasih warning ya kalo fic ini romance but not romantic, jadi jangan mengeluh soal romancenya yang kurang kerasa. Karena sungguh, gui gui tidak ada bakat dalam soal cinta-cintaan seperti ini. Chapter depan, akan gui gui update jika gui gui ada waktusenggang dan semangat yang membara. *?* review dari teman-teman semua sungguh sangat berpengaruh pada tulisan gui gui, jadi jangan sungkan-sungkan untuk meninggalkan kritikan, pujian, hinaan, cercaan, flame atau sebagainya. Gui gui akan berusaha untuk menerima semua kemungkinan soal tanggapan teman-teman terhadap fic hancur gui gui ini. Tapi, meskipun hancur gui gui tetap suka fic gui gui sendiri. :D
Ok ... balesan review :
Cheeky n' Hyuu-su: makasih udah jadi review yang pertama. :D hm ... gui gui juga gak suka konsep gitu sih, tapi kepengen buat. Hehehe gui gui gak tau nih harus balas apa, tapi yah ... gui gui akan lakukan yang terbaik untuk Hinata. :D chapter ini Gaara udah muncul tuh, hehehehehe. Btw ... gui gui juga ikut penasaran ama endingnya. Hm ...
Demikooo: Arghhh! *nutup kuping pake kain pel* Demi-chan *plak* jangan teriak-teriak donk. :D hohohoho, gui gui juga benci tuh ama chapter yang lalu. Hancur banget kan? gui gui sengaja kok bikin anak nakal kayak gitu, biar dapet feelnya. Dan gui gui juga udah nebak bakal banyak yang gak suka ama anak nakal. :D ... soal tanggapan fic gui gui yang demi-chan bilang seru gak seru itu gui gui benar-benar suka lo, karena berarti fic gui gui masih ada sedikit aja bagian yang seru. Hehehehehehe makasih!
Lily Purple Lily: eh, beneran nih putri berani ngajar tu Sasuke? Gak takut di chidori? Ayo ... masih berani gak? Tentang Anak nakal neechan gak berani komen. :D, asyik ... ada yang senang pas Hina nampar Sasu. :D
Kertas Biru: owh yang itu ya? hehehehehehe baru mungkin kok. Em ... iya donk bakal happy end, tapi happy end nya bukan berarti Sasu ama Hina kan? :p tapi terserah yoru-chan sih mau yang mana. :D, Sakura sayang banget ama Hina itu karena Hinata orang pertama yang begitu menyukai lukisannya. :D *alasan aneh* cie ... kayaknya yakin benar nih kalo tuh anak nakal beneran Saku. :D
jenaMaru-chan: kakak juga senang dapat review darimu maru-chan. :D *?* yah kasian sih tapi mau gimana lagi? Judulnya aja 'just a game'*apa hubungannya?*. maru-chan yakin banget ya tuh anak nakal emank benar Sakura. :D
EvilLysa: hm ... pertama-tama sih Sasu gak suka lo, tapi kayaknya mulai berubah deh. :D disini gui gui ngambil Gaara aja deh ya untuk jadi orang ketiga, kalo Sasori gak rela! *ni anak cinta mati ama Sasori dan Shino* wah ... apa tuh kekurangannya? Kasih tau donk, gak usah sungkan-sungkan lagi. :D
Anne Garbo: asyik, anne udah gak bingung lagi. :D *peluk-peluk Anne* iya tuh, kayaknya Sasu emank harus memilih deh. Sama kayak kisah Inuyasha. *lo apa hubungannya?* eh? Rumit... hehehehehehe mungkin sih.
Guest: hehehehhehehehe pertama-tama agak sakit hati pas dibilang gak berprikemanusiaan, tapi sepertinya guest benar deh. Hohohohoho *ketawa setan*. Emm ... Sakura plagiat sifat Hinata? Gak kok, sifat Sakura asli kok. :D
Kau-Tahu-Siapa: udah di update.
Imouto: yo imouto jelek. :p eh, usah nak ngomong gitu lah dex, hhahahahahhaha dak rela ye anggah buat Hime adex jelek menderita. Nanti kte smsan jak ye? Wkwkwkwkwkwkwk
Rara-uchihah: hm ... Rara maunya Sasu ama Hina gak? Gui gui sih terserah yang review. *review bisa mengubah segalanya* :D diusahakan happy end tapi lagi berusaha biar happy end nya Sasuhina nih. Atau mungkin Gaahina? *plak* yes! Fighting! *bawa senjata* :D
Aoiyuuko: eh? Perasaan disini gui gui gak bikin Hinata terlalu gagap deh. *perasaan lo aja tuh gui* em .. mungkin karena watak Hinata itu di animenya pas ketemu Naru itu dia gui gui, jadinya banyak yang suka buat Hinata kayak gitu, kan jarang tuh di fic karakter utamanya di buat suka gugup dan em ... ya gitu deh, bagi gui gui rasanya cuman Hinata aja yang pas untuk karakter utama yang seperti itu. *difandom Naruto* :D kalo soal yang Sasuke itu gary su, soalnya di anime nya juga kayak gitu, gadis-gadis di desa banyak banget kan yang suka ama dia, emank dia gary sue dari sononya. Jadi rasanya gak masalah deh, maaf kalo yuuko gak suka. :D Sakura jadi orang ketiga? Hehehehehehehe kalo untuk fic gui gui rasanya Sakura itu gui gui buat hanya untuk Naruto,dan gak pernah jadi orang ketiga. Ehh? Gaya tulisan gui gui dulu rapi? *ngelirik fic dulu-dulu yang selalu dikomen tentang kerapiannya* :D nanti gui gui usahain deh biar dikit rapi. Soal typo itu udah jadi teman gui gui banget. Susah mau ngilanginnya. .
Yosh minna, akhirnya selesai juga ni chapter, gomen telat, gui gui lagi nyiapin fic lain juga soalnya. Minna makasih banget udah mau ngeluangin waktu untuk membaca fic hancur gui gui ini. Makasih! Maukah teman-teman tetap mampir dan meninggalkan jejak disini lagi? Untuk silent reader kalo ada makasih udah baca fic gui gui. Untuk white-chan yang udah review lewat pm dan sms. Makasih! Kok jarang sms lagi? *plak*
Yosh, sampai ketemu chapter depan! *jika bisa berlanjut*
Fighting! :D
