Just A Game?
Pairing: Sasuhina
Gendre: Romance but not romantic
Rated: T
Warning: segala macam jenis warning berkumpul deh.
Disclaimner: Masashi Kishimoto of course
Balesan review:
EvilLysa : gui gui bakal berusaha untuk membuat Gaara-nya gentle dan cool. Tapi gak tau nih berhasil apa kagak. :D tentang Sakura yang plinplan dan Ino, gui gui gak tau harus ngomong apa. Hag hag hag hag ... :D evilsya, maaf gui gui gak bisa update kilat. Hontou ni gomennasai.
Anne Garbo: iya ada gaara nih. :D aduh gui gui seneng deh Anne penasaran. Hehehehehehe, semoga kali ini rasa penasarannya hilang ya?
uchihyuu nagisa: iya Nagisa-chan, yang jadi snow white emank Hinata. Wah ... Nagisa-chan pintar nebak deh ah.
: ikut acungin jempol buat Mrs. Firty! :D
Finestabc: iya donk! Sasuke biarpun dingin tapi romantis minta ampyun! *mendadak alay* senangnya, ada yang penasaran lagi. :D
Demikooo: Demikooo-chan, gui gui suka banget ama kejujuran dirimu! Kita emank harus selalu jujur! *padahal diri sendiri suka boong* kalo gak salah soal ini udah kita bahas lewat pm kan? ;D
Lily Purple Lily: kakak malah ketawa pas baca reviewnya putri lo. :D kakak juga berharap Hina bisa sama gaaa. *dipeluk Sasu* argh ... putri, emank Sakura salah apa? *mendadak lebay* Sakura benar-benar ikhlas kok sahabatan sama Hinata. Soal gaara, aduh! Semoga tuh cowok bisa membawa perubahan aja deh. :D
Nilafishy94: iya, dirimu ketinggalan jauh bangettt lo! *author sarap* mereka emank kasian semuanya deh, benar emank. *ngelus bulu Sasuke* lho? Nila aja bingung apalagi gui gui. hehehehehehe
jenaMaru-chan: Maru-chan kawai! *?* aduh, senangnya ada yang naksir ama fic kakak. Semoga fic kakak juga naksir ama Maru-chan ya... *?* :D
Guest: gomen, gak bisa update cepat guest-san.
Sugar Princess71: su-channnn! Kakak malah senang lo bikin su-chan penasaran. Wkwkwkwkwk ... kita emank sehati deh su-chan, perasaan kakak juga terasa diaduk-aduk pas ngetik fic ini. *peluk su-chan*
lavender chi: gomenne Chi-chan, gak bisa update cepat. gui gui seneng deh bisa bikin chi penasaran.
Imouto: ya ampun dek ! Bise gak sih ngomongnya itu biase jak ye ... ngomong gitu lagi nanti anggah dak mau lagi lo ngedit fic ente. Nih adek satu benar-benar deh ah.
Chapter lima.
Gui gui M.I.T
Kadang gadis itu merasa bahwa semua yang dilakukan dan direncanakannya selama ini adalah sebuah kesalahan, gadis itu sempat berfikir untuk menghentikan semua permainan, berhenti memikirkan orang lain dan hidup egois dengan pria yang dicintainya, tapi ... hatinya terus memberontak. Banyak hal yang terus berputar dalam pikirannya, soal keluarga, soal tunangan, soal pacar, dan soal sahabat-sahabat yang begitu dicintainya.
Selama ini dia terkurung dalam sebuah lingkaran setan yang bisa saja menghancurkan seluruh hidupnya. Gadis itu tidak pernah menyangka kalau diam-diam pertunangannya akan diputuskan dengan sebelah pihak. Tanpa memikirkan bagaimana reaksi dari pihak keluarga Uchiha, ayahnya memutuskan untuk membatalkan pertunangan anak mereka tanpa ada diskusi terlebih dahulu.
Gadis itu benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia bukanlah seorang anak egois yang akan menentang semua kehendak keluarganya hanya karena rasa cintanya pada seorang pemuda. Gadis itu tidak mau menjadi anak durhaka yang hanya bisa mengecewakan orang tuanya. Dia mencintai Sasuke,tapi dia juga tidak bisa membantah perintah ayah dan ibunya, tidak bisa mengecewakan seseorang yang berjanji akan terus menunggunya.
"Kepalaku sakit," gumam gadis itu pelan sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut-denyut.
Setelah acara ini berakhir dia akan segera pindah dari apartment Sasuke, dia akan kembali ke istana megahnya. Pesta pertunangannya dengan pria Uchiha yang rencananya akan diadakan secara besar-besaran tersebut akan dibatalkan, Sasuke akan dikejutkan dengan kabar bahwa gadis yang selama ini dipikirnya akan menjadi istrinya dikemudian hari akan bertunangan dengan orang lain tepat seminggu sebelum pesta pertunangan mereka.
'Aku kejam!'
Gadis itu menatap sedih cincin yang sudah terpasang di jari manisnya, cincin pemberian Sasuke yang sebentar lagi akan dilepas,tergantikan dengan cincin lain pemberian dari pria lain pula.
Drrrtttt ...
Drrrtttt ...
Suara telepon genggam itu menyadarkan sang gadis yang sedari tadi terus memejamkan matanya. Gadis itu menghela nafas pelan dan langsung mengambil telepon gengamnya.
"Moshi-moshi, Touchan?"
"Barang-barangmu sudah Touchan bereskan, setelah acara itu selesai jangan pulang lagi ke rumah itu."
Deg ...
'Waktunya benar-benar telah tiba.'
Gadis itu tersenyum pedih dan langsung mengangguk.
"Baik, aku mengerti Touchan!"
Panggilan terputus dan gadis itu langsung menaruh asal telepon genggamnya kedalam tas. Gadis itu menoleh kesamping menatap nanar satu persatu wajah polos Hinata dan Sasuke yang sudah tertidur nyenyak sedari tadi.
Gadis itu memutuskan untuk mencarikan seorang gadis baik-baik yang lebih pantas untuk menjadi pendamping Sasuke, dan Hinata benar-benar adalah pilihan yang sangat tepat. Dengan alasan Hinata yang trauma untuk jatuh cinta dan dekat lagi dengan seorang pria, gadis itu menyuruh Sasuke mengambil peran dari permainan yang dirancangnya. Menyuruh Sasuke untuk mendekati gadis lemah lembut itu agar Hinata jatuh cinta lagi dan juga ... agar hati Sasuke juga berpaling darinya.
'Sasuke, jangan hanya membuat Hinata yang jatuh cinta padamu. Tapi kau juga harus jatuh cinta padanya, Sasuke!'
Gadis itu kemudian menatap wajah sahabatnya sedari tadi terus mengeliat gelisah, sebuah senyuman sempat terukir saat gadis itu melihat sahabatnya berlahan-lahan membuka mata, memperlihatkan bola mata indah yang dimiliknya.
"Hei, kau tidak tidur?"Sahabatnya itu melirik sebentar padanya, memposisikan tubuhnya ke tempat yang lebih nyaman dan kembali memejamkan matanya.
"Aku tidak mengantuk," jawab gadis itu sambil mengalihkan kembali pandangannya, melihat pemandangan indah yang terjadi di luar bis yang mereka naiki.
.
.
.
"Gaara, sebentar lagi sisiwa-siswa dari Konoha High school akan sampai, kita harus siap-siap!" Suara Temari sedikit meninggi, takut kalau kalau Gaara yang sedang tidur di atas kursi sofa di ujung kelas yang sudah disulap menjadi kafe dengan tema pernikahan ala putri raja itu tidak mendengar suaranya.
"Aku tahu Nee-chan, kau pergi saja dulu dan jangan menggangguku!" jawab Gaara yang langsung dibalas dengan hentakan kasar kaki Temari yang berjalan ke luar kelas.
"Hm ... aku tidak akan ikut menyambutmu Hime . aku akan datang menemuimu dengan cara biasa yang akan membuatmu tidak bisa berkata apa-apa."
.
.
.
"Wah ... sugoi!" Berkali-kali Hinata mengulang kata 'sugoi', memperlihatkan pada semua orang yang melihatnya bahwa dirinya begitu kagum dengan semua yang ada di Suna High School. Gadis itu tidak berhenti berjalan, mengelilingi seluruh penjuru sekolah dan memuji betapa menakjubkannya sekolah bertaraf internasional yang dikunjunginya tersebut.
"Oi ... kau tidak capek?" Pria yang tidak pernah meninggalkannya dan bertugas untuk menjadi bodyguard-nya selama Hinata berada di Suna tersebut berkata dengan malas, melangkahkan kaki panjangnya dengan asal-asalan dan sesekali mengerutu kesal. Bagaimana pria itu tidak kesal? Disaat semua siswa lain sedang istirahat di tempat yang sudah disiapkan untuk mereka, putri sulung Hyuga tersebut malah merengek padanya untuk diijinkan pergi berkeliling.
"S-Sasuke-kun, tempat ini benar-benar indah. L-lihat! Dibawah sana banyak o-orang yang s-sedang bekerja sama menyiapkan stan m-mereka. Sugoi!" Sama sekali tidak memperdulikan perkataan Sasuke, Hinata malah berlari ke tepi koridor dan langsung melirik kebawah. Menyaksikan bagaimana pelajar Suna High School menyiapkan acara yang beberapa jam lagi akan dimulai tersebut.
"Cckkk!" Sasuke hanya memutar wajah bosan dan mendekati Hinata, ikut melihat apa yang sekarang dilihat olah gadis incarannya.
"Benar-benar menarik!" Hinata tersenyum manis, terharu melihat semua usaha keras yang dilakukan oleh para pelajar yang sama sekali tidak dikenalnya tersebut.
"Eee..." Sasuke tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat senyum bahagia seorang Hinata Hyuuga yang begitu memikat. Tanpa sadar pria itu mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat samar, matanya tidak berhenti menatap wajah putih persolen milik gadis yang berdiri disampingnya itu.
'Gadis ini benar-benar begitu memikat!'
"Hei, melihat hal seperti itu saja sudah bahagia. Dasar itik dungu!" Sasuke mengacak pelan rambut Hinata dan memasang wajah kesal.
"Hesh!" Hinata mengeram, wajahnya terlihat bosan dan kemudian menoleh kesamping dan langsung berkacak pinggang.
"Kenapa kau?" tanya Sasuke singkat dan terkesan tidak peduli.
"S-Sasuke-kun, kenapa kau suka sekali m-memanggilku dengan sebutan a-aneh begitu? Anak ayam lah, I-Itik dungu lah ... p-panggilan itu tidak nyambung s-sama sekali lo!" Hinata mengeluh dan Sasuke kembali menyembunyikan senyumnya. Pria itu memutar tubuh tinggi lampainya membelakangi Hinata, agar gadis mungil yang jauh lebih rendah darinya tersebut tidak bisa melihat senyum seorang Uchiha Sasuke yang akhir-akhir ini sering terukir berkat gadis sepertinya.
"Hei, Si pendek pemalu! Tidak bisakah kau menghentikan gagap mu itu?" Bukannya menanggapi keluhan dari Hinata, pria dingin itu malah kembali menjahili Si gadis.
"Hesh! T-tuh kan? S-sekarang malah di-dipanggil Si pendek pemalu!" Hinata kembali mengeluh dengan bibir berkerut dan alit yang saling bertautan.
"Dasar Sasuke-kun no ..."
"Mengeluh sekali lagi maka aku akan merampas ciuman pertamamu!"
Blush ...
Blush ...
Blush ...
Hinata lansung terpaku dengan wajah memerah. Susah payah dirinya mencoba untuk menelan ludah agar bisa sedikit tenang. Sasuke bilang dia akan mencuri ciuman pertamanya?
Glek ...
"C-Ci ..."
"Hmmphhh ..." Sasuke menutup mulutnya, mencoba menahan tawa.
"Jangan berfikir jorok. Dasar Itik dungu!" Tidak mau imej cool-nya hancur, Sasuke langsung mengacak pelan rambut Hinata dan kemudian berjalan meninggalkan gadis tersebut.
1 detik ...
2 detik ...
5 detik ...
1 menit ...
"Jangan berfikir jorok?"
50 detik ...
"S-Sasuke-kun baka!" Hinata berteriak, mengeram kesal dan langsung berlari menyusul langkah Sasuke.
"Dasar lola!" gumam Sasuke pelan.
"Sasuke-kun tunggu!"
Tanpa mereka ketahui, sepasang mata tajam terus menatap mereka. Merekam semua tingkah laku Sasuke dan Hinata sambil mengeram kesal. Cemburu? Ya ... pria berambut merah itu cemburu, tidak rela melihat gadis yang sudah lama dipujanya begitu dekat dengan pria asing. Itu sangat mengganggu matanya.
"Pria itu ... Uciha Sasuke? Heh ... tak kan kuijinkan kau mempermainkan dia. Brengsek!"
Brakk ...
Dinding tidak berdosa itupun menjadi korban kekesalan pria berambut merah.
"Argh! Dinding sialan, tanganku sakit tau!"
Gaara, pria berambut merah yang sejak tadi terus mengikuti kemanapun Hinata dan Sasuke melangkah kini hanya bisa mengelus tangannya yang memerah akibat kebodohannya sendiri. Melampiaskan amarah dengan meninju dinding yang tidak bersalah? Tindakan yang sangat kekanak-kanakan.
Gui gui M.I.T
"S-Sasuke-kun, kita mau kemana?" tanya Hinata yang kini sudah berjalan berdampingan dengan Sasuke.
"Ke tempat peristirahatan. Kau harus istirahat!"
Hinata langsung cemberut, padahal dia masih belum puas berkeliling tapi Sang bodyguard dadakan itu sudah menyuruhnya untuk istirahat.
"Tapi aku tidak c-capek!" kata Hinata.
"Sekarang memang tidak, tapi nanti! Kau tidak mau melewatkan acara pembuka festival ini kan?" kata Sasuke yang entah kenapa sedang tidak irit bicara.
"Tapi ..."
"Acara pembukaan dimulai jam 4 sore, kita masih ada waktu dua jam untuk istirahat."
"Huh ..." Hinata hanya bisa mengeluh, mana mungkin dia bisa membantah perintah seorang pria seperti Uchiha Sasuke.
"B-Baik tuan ..." kata Hinata malas.
"Aku bukan tuanmu!" kata Sasuke dingin.
"Terus? Kalau bukan tuan apa lagi? K-kau seenaknya saja m-memerintah-ku!" guman Hinata pelan.
"Aku kekasihmu!" Sasuke berkata dengan cepat, tanpa menunggu tanggapan yang diberikan oleh Hinata, pria tersebut langsung melangkahkan kakinya lebih cepat lagi.
Blush ...
Blush ...
Blush ...
Hinata kembali memerah,kali ini wajah benar-benar memerah. Senyuman pun tidak bisa disembunyikan lagi, hati gadis itu benar-benar menghangat.
"Apa telingaku tidak salah dengar, Sasuke bilang dia adalah k-kekasihku? A-apa itu artinya ..."
Blush ...
Blush ...
Blush ...
Lebay memang, tapi begitulah reaksi seorang Hinata Hyuuga saat seorang pria tampan yang diam-diam disukainya menembaknya secara tidak langsung.
"Hm ... Sasuke-kun ..." Hinata masih berdiri di tempat terakhir kali kakinya berhenti melangkah. Gadis itu tersenyum sendiri, menghayal bagaimana kalau dia dan Sasuke sudah menjadi pacar sah nantinya.
"Eem ... permisi!" kata-kata Hinata terpotong saat seseorang tiba-tiba muncul dan menyapanya.
"Eee, iya?"
"Ini surat untuk Anda." Orang yang tidak dikenal itu langsung pergi setelah memberikan selembar surat pada Hinata.
"Ha? Hei ... tunggu!" Hinata mencoba untuk memanggil gadis tersebut, tapi sepertinya panggilannya hanya dianggap angin lalu. Gadis tersebut tidak menanggapi panggilannya.
"Hinata ..." Mendengar suara teriakan Hinata, Sasuke langsung menoleh dan melihat apa yang dilakukan gadis tersebut. Kini pemandangan seorang Hinata Hyuga yang sedang membaca selembar surat dengan wajah memerah terpampang dengan jelas dihadapannya.
"Untuk Hinata Hyuga, Hime, aku akan datang menjemputmu . datanglah menemuiku dan aku akan membuat hidupmu bahagia!" Hinata membaca isi dari surat yang diterimanya.
Blush ...
Wajah cantik itu kembali memerah.
"S-Surat ini ..."
Srekkk ...
Belum sempat gadis itu selesai berbicara, lembar surat itu sudah tertarik paksa, terlepas dengan tiba-tiba dari tangannya.
"Eeehhh,S-Sasuke?"
"Surat apa ini?" Pertanyaan itu begitu tajam dan terasa benar-benar dingin menusuk.
Glek ...
Hinata menelan ludah, menyadari aura negatif yang keluar dari tubuh pria di depannya.
"Ano ... aku juga tidak tahu, surat itu ..."
"Cih! Wajahmu memerah hanya karena membaca surat sampah seperti ini? "
"Ano ..."
"Sampah harus dibuang pada tempatnya!" Tanpa menunggu reaksi Hinata, surat itu langsung terlempar ke tong sampah setelah sebelumnya berhasil diroyokkan oleh Sasuke. Seorang Uchiha Sasuke mulai menunjukkan sifat posesif dan egois yang dimilikinya, kena kau Hinata.
"Ayo pergi!" Kali ini Sasuke berjalan sambil menarik tangan Hinata. Mengenggam jari-jari mungil gadis itu dengan erat.
'Sial, baru beberapa jam disini sudah ada yang berani menulis surat cinta padanya. Heh ... benar-benar cari masalah.' Sasuke membatin, kesal dengan sang penulis yang begitu mengganggu. Hinata hanya bisa pasrah, yang bisa dilakukannya hanyalah berjalan dengan wajah memerah sambil berfikir siapakah orang yang sudah berani mengiriminya surat, karena rasanya Hinata benar-benar merasa tidak asing saat membacanya.
'Sasuke mengenggam tanganku, apa dia cemburu? Hm ... entah kenapa aku merasa bahagia.'
"Grrggrr ... sialan!"
Gaara mengeram, kesal karena surat cinta yang ditulisnya dibuang dengan begitu gampang oleh seseorang yang begitu mengganggu.
"Aku tidak akan menyerah."
.
.
.
"Hinata, kau adalah bidadariku."
"Hinata tunggu, aku akan datang menjemputmu."
"Hinata ... ingatlah padaku, jatuh cintalah padakku dan jadilah milikku."
"Hinata ... permaisuriku yang begitu cantik dan menawan. Lupakan semua pria yang sedang berusaha memikatmu. Hancurkan wajahnya dan datanglah padaku."
"Hinata ..."
"Hinata ..."
"Arrrgggghhhh!" Hancur sudah topeng yang selalu dipakai oleh Sasuke. Tidak ada lagi tampang datar yang selalu diperlihatkannya. Surat aneh yang selalu datang menghadang jalannya bersama Hinata tersebut dengan sukses meruntuhkan semua tembok yang selama ini terpasang kukuh. Surat itu begitu mengganggu, begitu menyebalkan dan sukses membuat hatinya panas menahan api cemburu yang tanpa sadar telah membesar.
"Hinata, siapa pengirim surat surat menjijikkan ini!" Sasuke berteriak frustasi, memegang pundak Hinata kasar dengan wajah mengerikan.
"A-aku tidak tau ..." Hinata menunduk, takut melihat wajah Sasuke. Dia senang Sasuke cemburu, tapi kalau berlebihan seperti ini rasanya ...
"Heh, orang itu benar-benar cari masalah."
"Permisi!"
Sasuke langsung melepaskan pegangannya dan kemudian menatap dingin seseorang yang tiba-tiba datang menegur mereka.
"Apa? Surat lagi, heh?" kata Sasuke.
"I-iya ..." Gadis yang membawa surat dari Gaara tersebut langsung menggigil ketakutan. Reaksinya benar-benar mirip dengan reaksi seseorang yang melihat seekor *?* vampire yang sedang menghisap darah manusia.
Srekkk ...
Pria yang sedang marah tersebut merampas kasar surat yang masih berada di tangan sang gadis yang kini sedang berjalan mundur menjauhinya, mungkin takut digigit oleh Sasuke.
"Hinata datanglah ke ruangan yang ada dihujung sekolah bagian barat. Aku akan menunggu kedatanganmu, My Honey." Sasuke mengenggam erat kertas yang tidak bersalah itu dengan wajah menunduk. Bersiap memikirkan cara yang tepat untuk menghajar sang pengirim surat.
"Heh ..."Sasuke menyeringai licik, sepertinya dia sudah memikirkan caranya.
"Bodoh!" gumam pria itu pelan.
"Sasuke ..."
"Kau kembali ke tempat peristirahatan dan jangan keluar dari sana selama aku belum kembali."
"Ee ... t-tapi ..."
"Turuti perintahku, Hime."
"Eee?" Sejak kapan si bungsu Uchiha tersebut memanggil Hinata dengan sebutan Hime?
Cup ...
Sasuke mencium kening Hinata, membuat gadis itu langsung membeku di tempat dan tidak bisa berkata apa-apa. Tindakan Sasuke yang begitu tiba-tiba dan sangat mengejutkan sukses membuat hati Hinata berbunga-bunga.
"Tunggu aku!" Itulah kata-kata terakhir yang di dengar oleh Hinata sebelum Sasuke berlari meninggalkannya.
Blush ...
"Sekarang, bisakah aku mengganggap bahwa Sasuke sudah jatuh cinta padaku? Hm ..."
Pria berambut merah tersenyum licik. Akhirnya rencana dadakan yang dilakukannya berhasil dengan sukses. Kini pria yang tidak disukainya tersebut sudah berada jauh dari Hinata. Sekarang tidak ada yang bisa menghalangi niatnya.
"Aku datang menjemputmu, Hinata!"
.
.
.
Sasuke melangkah lebar, berlari kecil mencari ruangan yang tertulis di surat yang masih dipegangnya. Pria itu tidak tahu kenapa, yang jelas saat ini hatinya benar-benar sakit, amarahnya meningkat dan rasanya dia ingin membunuh dan menguliti siapa saja yang sudah berani mengirim surat pada Hinata. Gadis incarannya, gadis yang dijadikannya bahan permainan.
"Hanya aku yang bisa membuat dia jatuh cinta lagi. Hanya aku!" Pria itu terlihat begitu yakin.
Ruangan yang ditujunya sudah hampir di depan mata. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan pria brengsek yang sudah berani menunjukkan nyalinya.
"Aku akan mengulitimu, cecunguk kurus!" Dasar Sasuke, padahal pria itu belum bertemu dengan orang yang dicarinya, tapi sudah berani memberi nama panggilan untuk orang tersebut. Dasar...
"Sasuke ..." Gadis yang sedari tadi juga terus melihat interaksi Sang tunangan bersama sahabatnya hanya bisa tersenyum pedih. Berlahan dia menyadari, semua permainan berlangsung sesuai rencana. Matanya bisa menangkap dengan jelas, menyadari bahwa Hati Sasuke tidak lagi sepenuhnya menjadi miliknya.
"Hatimu mulai tercuri, Uchiha-san!" gumam gadis itu. Dia menggigit jari, manahan air mata yang terus mendesak untuk keluar. Dia tidak mau teman yang kini ada disampingnya menyadari kesedihan yang dialaminya. Dia gadis yang kuat, kata-kata itulah yang selalu menjadi penyemangat hidupnya selama ini.
"Waw, tidak disangka. Hari ini tanpa sengaja kita mendapat tontonan yang sangat menarik, hm ..." kata sahabat gadis tersebut dengan wajah polos tanpa dosa.
"Hm ... memang menarik."
"Sakura ... Ino!" teriakan Karin yang begitu kencang langsung membuat kedua sahabat akrab yang berdiri di koridor sekolah tersebut menoleh. Karin tersenyum dan langsung melambaikan tangannya pada mereka.
"Sepertinya rencana kita harus ditunda dulu!" kata Ino sambil menepuk pundak kurus sahabatnya. Sakura tersenyum, menghapus air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk matanya.
"Eem ... terima kasih Ino, semoga nanti aku bisa bertemu dengannya." kata Sakura senang.
"Pasti! Hm ..." Kedua gadis dengan sikap yang hampir mirip tersebut terpaksa harus membatalkan rencana mereka untuk mencari seseorang yang mereka kenal di sekolah ini. Sakura tidak akan menyerah, kali ini dia sudah yakin, gadis itu harus mengucapkan terima kasih pada Ino Sahabatnya yang sudah menumbuhkan keyakinannya.
'Aku tau, perasaanmu padaku mungkin sudah berubah. Tapi tetap saja, aku tidak akan menarik kembali kata-kataku. Aku akan mencari dan menemuimu, kemudian aku akan menyatakan perasaanku padamu. Naruto!'
Gui gui M.I.T
Langkah kaki Hinata terhenti saat tiba-tiba sepasang tangan kekar menarik tangan mungilnya dan menyebabkan tubuhnya langsung berputar 180 derajat.
"Lama tidak bertemu, Hinata!"
"Ha?" Raut wajah terkejut tidak bisa di sembunyikan. Entah untuk yang keberapa kalinya gadis tersebut dibuat terpaku oleh dua orang pria yang berbeda.
"Aku datang menjemputmu,"
"Ga-Gaara-kun ..." Hanya sepatah kata yang bisa diucapkan Hinata. Gaara menyeringai, senang karena bisa membuat Hinata benar-benar terkejut.
"Kau membaca semua suratku?"
Blush ...
Dan entah untuk yang keberapa kalinya wajah manis itu dibuat memerah.
"Tidak perlu jawab, sejak tadi aku sudah melihat semuanya."
"Hee? G-Gaara-kun, jadi kau yang mengirim ... jadi surat terakhir itu."
"Sama seperti yang pernah aku lakukan pada Naruto dulu, sekarang aku membuat Sasuke menjauh darimu!"
"Tapi ..."
"Ikut denganku!"
"Kyaaa! G-Gara-k-kun, turunkan aku!"
Hinata hanya bisa berteriak saat pemuda berambut merah itu mengangkat tubuh mungilnya dan membawanya pergi.
"Gaa-ra ... "
"Hei diam lah!"
Hinata langsung terdiam, Gaara bukanlah tipe orang yang ucapannya bisa dibantah. Dia tahu hal itu.
Dan disinilah gadis itu berada sekarang, di kelas 2-b yang sudah selesai dihias. Gadis itu duduk didepan meja hias dengan raut wajah bengong dan canggung, wajahnya pucat dan langsung mengeluarkan keringat dingin.
"G-Gaara-kun ... kenapa kau membawaku kesini dan, apa maksudnya ini?" Hinata melihat baju mewah bak putri raja yang kini sudah terpasang manis di tubuhnya.
Gaara menyeringai dan langsung mengelus pelan pipi chubby Hinata.
"Hei, masih ingat kejadian dulu?" Hinata hanya menggeleng bengong. Gaara tersenyum dan langsung menarik satu kursi agar bisa duduk tepat disamping sang gadis pujaan.
"Dulu saat kita masih Smp, kita pernah berjanji akan tampil sebagai seorang pangeran dan putri raja yang akan menikah, diacara festival musim panas waktu itu kan? tapi karena suatu hal, aku tidak bisa hadir. Aku membuatmu harus tampil dengan pria lain, pria gemuk yang penuh jerawat sebagai pengganti diriku."
"Ee ... kejadian dua tahun yang lalu?" tanya Hinata menyakinkan. Memori otaknya langsung berputar, mengingat kembali saat-saat yang sedang dibicarakan oleh Gaara.
"Yap. Kali ini aku ingin mengabulkan janji itu, Hinata!" Gaara meraih tangan Hinata, mengenggamnya dan kemudian menciumnya dengan pelan.
"Will you marry me, Princess?"
Blush ...
Tidak bisa berkata apa-apa, Hinata hanya bisa menggangguk. Gaara tersenyum dan langsung memberi kode pada teman sekelasnya untuk mulai merias wajah Hinata.
"Kau akan menjadi putri raja paling cantik yang pernah ada. Hime ..." bisik Gaara sebelum pergi menjauh.
Hinata tersenyum malu dan langsung menarik nafas dalam-dalam.
"Sasuke pasti akan marah besar padaku!" gumam gadis itu.
.
.
.
"Arghhh!" Pria dengan rambut khas gaya pantat ayamnya tersebut berlari kencang dan berteriak kesal. Bagaimana tidak? Baru saja dia diperbodohkan oleh sang penulis surat, bukannya bertemu dengan pria yang dianggapnya pengganggu itu, dia malah bertemu dengan segerombolan pria berwajah cantik yang memakai pakaian wanita. Belum sampai disitu kesialannya,Sasuke dengan gratisnya pula langsung dihadiahi ciuman-ciuman yang sukses membuat seluruh tubuh bagian atasnya, leher dan wajahnya dihiasi dengan lipsik merah berbagai merk, rambutnya berantakan dan bajunya benar-benar acak-acakkan.
"Sial!" Sasuke kembali berteriak kesal sambil berusaha untuk menghapus tanda-tanda yang begitu menjijikkan.
"Aku bersumpah akan menghajarmu, pria brengsek! Kau menipuku!"
Sasuke berhenti berlari, mencoba untuk menetralkan nafasnya yang sudah tidak beraturan. Pria itu beruntung koridor sekarang sedang sepi sehingga tidak ada yang bisa melihat wajahnya.
"Cih, menjijikkan!" gumam Pria itu.
"Hm ..." Suara tawa kecil yang didengarnya langsung membuat Sasuke tegang. Matanya menatap lurus wajah seseorang yang kini berdiri dihadapannya. Gadis itu tersenyum, menjelirkan lidahnya dan mengedipkan sebelah matanya.
"Ternyata kau mudah tertipu ya, Sasuke-kun? Pria yang mengirim surat itu benar-benar pintar, aku salut padanya. Hm ..."
"Cih!" Sasuke mendecih dan langsung mendekati gadis tersebut, mengacak pelan rambutnya dan langsung bersandar pada dinding di tepi tempat gadis itu berdiri.
"Jangan memuji pria brengsek itu, Ino! Kau semakin membuatku kesal."
Ya ... Ino, gadis yang sedang tersenyum itu ikut bersandar di samping Sasuke.
"Hei ... ingin tau gosip terbaru?"
Sasuke memutar wajah bosan,disaat seperti ini sang ratu gosip masih sempat saja melakukan hobinya.
"Aku tidak suka gosip, Nona Yamanaka!" kata Sasuke kesal.
"Yah, sayang sekali. Padahal aku tahu gosip tentang Hinata dan pria merah yang jadi pengirim surat itu lo."
Deg ...
Sasuke langsung menatap Ino, memegang pudak gadis berambut pirang itu dengan tatapan tidak biasanya.
"Katakan padaku!"
"Tadi, aku melihat Hinata digendong dengan sangat romantis oleh seorang pria berambut merah, dan dibawa ke ..."
Brakk ...
Sasuke melempar tas yang dibawanya pada Ino dan langsung berlari mengejar Hinata.
"Sial. Kau benar-benar cari mati, Setan merah!" Jika seorang Uchiha sedang marah, maka mulutnya tidak akan bisa diajak berkompromi.
Ino menatap kepergian Sasuke dengan senyuman, menyadari bahwa sekarang pria tersebut benar-benar sudah jatuh hati pada sahabatnya.
Drtt ...
Telepon genggamnya bergetar menandakan ada panggilan yang masuk.
"Hai, moshi-moshi."
"Gomen ne?"
"Hm ... daijoubu!"
Sebelumnya Gaara memang sudah membayangkan bagaimana cantiknya seorang lady Hyuga jika dirias bak puteri raja. Pria itu juga sudah membayangkan bagaimana bahagianya dirinya saat akan bersanding dengan gadis mungil tersebut. Tapi saat dirinya melihat secara langsung bagaimana perubahan yang kini terjadi pada Hinata, bibirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tubuhnya langsung kaku dan mulutnya hanya bisa ternganga. Kini dihadapannya berdiri sang pujaan hati yang sedang menghadapnya dengan memakai pakaian khas snow white, rambut pajangnya disanggul sehingga terlihat lebih pendek, wajah putihnya diberi sedikit bedak dan pemerah pipi, bibir tipisnya semakin menggoda dengan hiasan lipstik yang begitu pas.
"Ano ... apa penampilanku sangat aneh?" tanya Hinata malu.
Melihat tidak ada respon yang diberikan oleh Gaara, Hinata hanya bisa menelan ludah dan menunduk.
"Sepertinya memang ..."
"Kau benar-benar gadis impianku. Kau cantik Hinata!" Pemuda itu memegang pundak Hinata, membisikkan kata-kata yang begitu indah hingga membuat sang gadis langsung mendongak.
"B-Benarkah?"
"Hm ... kau begitu menggoda, kau membuatku jadi ingin ..."
"J-Jadi ingin?" Gaara mendekatkan wajahnya, semakin medekat sehingga hampir tidak ada jarak diantara mereka. Dan Hinata, gadis itu hanya bisa terpaku tanpa menghindar, dirinya benar-benar tidak bisa berfikir dengan jelas.
"Aku ingin ..."
"G-Gaara ..."
"HINATA!"
Tbc ...
Hua! Akhirnya kelar juga, *ngelus dada* teman-teman ... maafin gui gui yang udah menelantarkan fic ini. Maafin gui gui! Akhir –akhir ini gui gui benar-benar terkena serangan WB yang sangat parah.
Makasih gui gui ucapkan pada miyoko kimimori yang udah suskes menyembuhkan WB gui gui lewat fic buatannya, arigatoo miyoko-chan. Padahal niatnya pengen ngelanjutin fic Our Life, tapi karena ngeliat Naru di ficnya Miyoko-chan itu mirip Sasu, yang muncul malah ide untuk fic ini. Hehehehehehe ... *ngomong apa sih*
Yosh! Minna ... gui gui sangat-sangat berterima kasih pada minna yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk mereview fic gui gui dan membacanya. Dua chapter lagi insyallah fic ini akan tamat. Dan untuk akhirnya, ok ... gui gui janji di fic ini akan ada happy endnya. Tapi mungkin gak happy-happy amat sih. :D tapi, gui gui udah bikin yang sad endingnya juga lo! *reader sweatdrop* jadi ending sebenarnya reader yang tentukan dah, hm ... tapi gui gui pengen publish kedua ending tersebut lo. *?*
i love you minna! Mind to review again? Hm ... review dari kalian ada pemicu semangat yang tiada duanya. Makasih!
Cuplikan chapter depan:
"Hinata, dia itu sudah bertunangan!"
"Ee, N-nani?"
"Oi, jaga mulutmu Setan merah!"
"Uchiha Sasuke, beberapa bulan yang lalu. Aku menghadiri pesta pertunanganmu yang di adakan secara kecil-kecilan. Kau hanya mengundang rekan bisnis dekat dan keluarga dekat saja kan?"
"S-Sasuke-kun ..."
"Hinata dengar,"
"Dua minggu lagi pesta pertunangannya akan diadakan secara besar-besaran Hinata, kau belum tahu?"
"B-Besar-besaran? J-Ja ..."
"Hinata ..."
"Diam!"
"Sasuke Uchiha sudah bertunangan dengan Putri tunggal keluarga Yamanaka, dia adalah tunangan Yamanaka Ino!"
Deg ...
Detik itu juga, Hinata merasa hatinya kembali hancur, sakit, bahkan melebihi dengan apa yang sudah dialaminya dulu.
"Hm ... j-jangan bercanda,"
