'ding dong…'

"Cih. Pengganggu." Gumam Sasuke sambil melepaskan Naruto.

"Haaahhh.. Aku harus berterima kasih pada tamu itu. Wleee." Naruto menjulurkan lidahnya. Membuat sang kekasih semakin gemas.

"Huhh. Lihat saja apa yang akan kau terima nanti malam." Ucap Teme nista. Ia bersiap memakai soft-lens abu-abu dan kacamatanya, "Masuklah ke kamar Dobe. pakai wig dan rokmu."

"Huuhhh… Baiklah." Walau malas, Naruto tetap menuruti keinginan Sasuke. Mau bagaimana lagi? Hanya dengan cara inilah mereka dapat tinggal di sini dengan aman.

'ding dong'

"Hn. Sebentar." Gumam Sasuke di depan pintu.

'cklekk…'

"Selamat pagi menjelang sing Tuan Senju Takagi. Atau harus ku panggil…"

Sasuke melihat tamu yang datang sedetik setelah pintu terbuka sempurna. 'degghh'

" – Otouto?"

.

.

There's No Regret in My LIfe –

Sequel of "There's No Next Time"

Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story: KyuuRiu

Pair: SasuNaru (main)

ItaKyuu (like an usual enemy with their 'own secret')

ItaDei (Dei disini cewek)

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort - Romance

Part 2: The Reason

Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget

.

.

"Bagaimana Dei?" Tanya Fugaku singkat. Matanya menatap tajam gadis pirang yang tengah membolak-balikkan lembaran-lembaran kertas berukuran kuarto ditangan kirinya.

"Semua sudah siap. Asalkan hal yang dibicarakan tidak melenceng dari perkiraan, kita akan berada dalam posisi sangat aman." Jawab Deidara sambil membetulkan kacamata ber-frame merah yang ia kenakan.

"Bagus."

"Kita keluar sekarang?" Tanya Kushina lirih. Hari ini mereka akan mengadakan jumpa pers dan mengklarifikasi berita tentang Naruto dan Sasuke.

Deidara mengangguk mantab dan memberi isyarat kepada Kakashi untuk membuka pintu menuju lobi. Deidara berjalan paling depan, diikuti Fugaku dan Minato, kemudian Mikoto dan Kushina. Kalau boleh jujur, Deidara sangat gugup dengan 'kasus' yang ia tangani saat ini. Selain karena menyangkut keluarganya sendiri, jumpa pers yang dilakukan sekarang juga disiarkan secara langsung oleh salah satu stasuin TV swasta yang tayangannya selalu terfokus pada dunia bisnis.

'jprett'

'jjepret'

"Mereka datang."

"Ahh itu mereka!"

"Semuanya. Harap tenang, atau acara ini tidak akan dimulai." Pein yang saat itu berperan sebagai penjaga ketertiban (?) terpaksa berteriak kepada para wartawan yang berusaha menodong para pemilik dua perusahaan terbesar di Konoha itu dengan kamera SLR, kamera digital atau berbagai macam alat recorder lain.

Mikoto menghela nafas panjang. Saat ini ia sudah duduk di kursi 'panas' yang telah disediakan. Di samping kirinya, duduk Fugaku, dilanjutkan dengan Deidara di tengah, Minato, lalu Kushina di paling ujung.

"Baiklah…" Deidara membuka acara.

"Selamat pagi teman-teman pers. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan …" pidato yang sebenarnya tidak penting itu tetap dilakukan Deidara. Bagaimanapun juga, mereka tetap harus menjaga etika dan tata krama.

" – menurut saya, tidak ada yang perlu dijelaskan. Jadi langsung saja saya buka sesi Tanya-jawab. Jika ada yang ingin bertanya, saya persilakan." Perkataan Deidara ini sontak membuat beberapa wartawan tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Penjelasan hanya akan memunculkan pertanyaan baru yang lebih sulit untuk dijawab." Ucap Deidara tempo hari.

Benar saja. Beberapa wartawan terlihat kecewa karena tidak mendapatkan referensi untuk pertanyaan yang akan diajukan.

Seorang pemuda berambut silver emo tampak mengacungkan tangan kanannya, disampingnya berdiri seorang pemuda kekar berambut orange jabrik sedang menangani kamera bersangga tripod besar yang menyiarkan langsung acara itu.

"Mas yang berambut silver."

"Maaf sebelumnya. Tapi kenapa Anda tidak memberikan pembenaran, atau sanggahan atas berita yang beredar saat ini? Bukankah itu merupakan tujuan dari acara ini?" pemuda yang tampak sangar itu ternyata cukup sopan. Mikoto dan Kushina langsung mencatat pertanyaan itu. Mereka juga bersiap mencatat jawaban yang akan diberikan.

Deidara tersenyum senang. "Tou-san?" gumam Deidara pelan. Tujuh buah microphone yang berada di meja depannya tidak mampu menangkap gumaman itu.

"Yang sebenarnya terjadi adalah Sasuke pergi dengan Naruto. Itu saja." Gumam Fugaku tenang.

"Bukannya putra Anda 'pergi' bersama Uzumaki Naruto saat acara pertunangannya beberapa minggu yang lalu dan membuat acara itu batal diadakan?" Tanya seorang pemuda bermata lavender. Disebelahnya duduk seorang gadis berambut panjang yang sibuk mencatat perkataan sepupunya.

"Tepat sekali." jawab Fugaku mantab. Yang para wartawan harapkan adalah penyangkalan dari berita itu, namun yang mereka dapatkan adalah pembenaran yang dideklarasikan sendiri oleh sang pemilik perusahaan Uchiha.

"Bukannya Naruto adalah seorang pria, sama seperti Sasuke? Apakah Uchiha Sasuke yang sangat populer di kalangan gadis-gadis itu ternyata adalah seorang gay?" pertanyaan to the point yang sebenarnya 'gak nyambung' dengan topic sebelumnya, diajukan seorang pencari berita ber-eyeshadow ungu tua itu membuat Deidara sedikit tersentak.

'Sial. Pemilik majalah Snake Boy.' Batin Deidara. Pria paruh baya yang baru saja bertanya itu adalah Orochimaru, pemilik majalah yang terkenal dengan berita-berita negative seputar artis atau pengusaha di Jepang. Sungguh majalah yang sangat nista.

"Hahhh.." Minato menghela nafas, "Sejak lahir sampai sekarang. Putraku, Uzumaki Naruto, adalah seorang pemuda tulen."

"Dan untuk masalah gay atau bukan, kurasa hanya Sasuke yang tahu." Lanjut Fugaku mencoba memertahankan wajah stoic-nya. Lagi-lagi jawaban menggantung yang diberikan. Lebih baik memberikan jawaban seperti ini daripada mengkritik pertanyaan yang tidak bermutu tadi. Melihat ekspresi para pemburu berita yang sedikit bingung, Deidara tersenyum senang.

"Ingat. Kita tidak akan memberikan penyangkalan apapun. Separah apapun pertanyaannya, jangan berikan sanggahan. Itu hanya akan membuat berita semakin panas karena bukti yang ada tidak sesuai dengan sanggahan." Wanti Deidara sesaat sebelum mereka membuka acara ini.

"Lalu, bagaimana dengan keluarga Haruno? Kabarnya mereka menarik investasi dari perusahaan Uchiha."

"Mereka baik-baik saja. Tidak ada masalah tentang investasi atau apapun karena sejak awal pertunangan Sasuke bukan berdasarkan urusan bisnis." Jawab Deidara. Pertanyaan ini mulai menjurus ke hal-hal yang sulit dijawab.

"Kabarnya Nona Haruno Sakura mencoba bunuh diri karena tidak jadi bertunangan dengan Uchiha Sasuke. Apa kabar itu benar?" seorang pria berkacamata bulat 360 derajad bertanya dengan suara lantang.

'Sial. Orochimaru tidak sendirian.' Gumam Deidara dalam hati. Pencari berita berambut keperakan ini bernama Kabuto, ia merupakan bawahan Orochimaru.

"Sepertinya Kau membuat berita yang tidak bermutu." Gumam Fugaku. Pertanyaan Kabuto mulai melenceng dari pembicaraan awal.

" – bagaimana bisa Nona Haruno Sakura dikabarkan bunuh diri sementara saat ini dia sedang berada di Kota Suna untuk menghadiri acara peragaan busana yang dirancang oleh sahabatnya, Yamanaka Ino?" lanjut Fugaku. Faktanya, saat ini Sakura memang sedang berada di Suna. Walau masalah dengan keluarga Haruno memang belum tuntas, setidaknya mereka mau bekerja sama untuk meredam gejolak berita ini.

Beberapa wartawan tampak mencatat sekaligus merekam ucapan Fugaku barusan. Sementara itu, gadis bermata lavender yang datang dengan sepupunya dari majalah Byakugan Shoot terlihat sibuk mengotak-atik i-pad kesayangannya.

"Neji-nii.." panggilnya lirih. Pemuda berambut coklat disampingnya pun menoleh.

"Ada apa Hinata?"

Si gadis menyodorkan i-pad di tangan kanannya, membuat mata lavender Neji menangkap sebuah artikel yang baru diunggah pagi tadi.

"Benarkah begitu? Sepertinya tidak ada berita mengenai adanya peragaan busana di Suna." sanggah Orochimaru. Dia benar-benar ingin menjatuhkan Fugaku dan Minato..

Bibir Deidara menyunggingkan seringaian tipis. Inilah pertanyaan yang ia tunggu.

"Bagaimana aku harus menjelaskannya ya…" istri Uchiha Itachi terlihat berpura-pura bingung.

"Peragaan busana itu memang berlangsung tertutup. Hanya tamu undangan dan beberapa wartawan dari majalah tertentu saja yang diberi tahu. Lagi pula, Nona Yamanaka memang terkenal dengan hobi mengadakan peragaan busana secara sembunyi-sembunyi kan?" tutur Kushina santai. Sebenarnya, ia dan Mikoto juga diundang dalam peragaan busana itu.

'Sial!' batin Orochimaru.

"Hinata."

"Ano..," gadis Hyuuga itu mengangkat tangan kanannya, "Sebenarnya dua wartawan dari Majalah kami, Byakugan Shoot, sedang meliput di Suna. Dan saat ini, informasi tentang acara itu sudah mulai diunggah di situs resmi majalah kami. Terima kasih."

'Dasar Hyuuga. Selalu saja promosi di manapun mereka berada. Tapi, terima kasih untuk dukungannya.' Gumam Minato dalam hati. Azure-nya menatap Neji, seolah menyampaikan rasa terima kasihnya.

Calon penerus majalah BS itu pun mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Teman kami juga sedang meliput acara itu."

"Dari majalah kami juga."

Beberapa wartawan dari majalah dan stasiun TV mengutarakan kebenaran adanya peragaan busana di Suna.

Fugaku menyeringai. Si pemilik Snake Boy baru saja terpeleset kulit pisang yang dibuangnya sendiri.

"Baiklah.. Baiklah.. Kita kembali ke topic awal. Masih adakah yang ingin bertanya?" Dei mencoba mempercepat acara ini. Entah mengapa, perutnya terasa sedikit mual.

.

"Dei!" teriak Mikoto. Menantunya terlihat berlari keluar dari ruang kerja Fugaku.

"Sudahlah.. Mungkin dia kebelet." Ucap Fugaku datar. Jumpa pers yang begitu melelahkan baru saja selesai lima menit yang lalu. Saat ini mereka sedang berada di ruang kerja Fugaku.

'tok tok tok..'

"Masuk."

"Fugaku-sama."

"Yo-i Pein. Ada apa?" sahut Minato lancang. Ia merasa bosan merada di ruang kerja rekannya yang terlihat sangat suram ini.

"Hyuuga-san dari Majalah Byakugan Shoot ingin bertemu." Ucap Pein sambil ber-sweatdrop ria.

"Suruh dia masuk." Minato berseru riang, membuat Fugaku mengerutu kesal.

"Permisi.." terlihat dua orang bermata lavender memasuki ruang kerja yang sangat rapi itu. Satu pemuda beraura dingin, satunya lagi seorang gadis yang nampak malu-malu.

"Duduklah Hyuuga Muda. Kau ingin minum apa?" ayah kandung dari Uzumaki Kyuubi dan Uzumaki Naruto terlihat berdiri dan mempersilakan kedua wartawan sekaligus teman dari putranya itu duduk. Sementara Kushina dan Mikoto terlihat tersenyum ramah.

"Terima kasih. Ji-san tidak perlu repot-repot." Jawab si gadis Hyuuga sopan sesaat setelah ia dan sepupunya duduk di sofa tempat MinaKushi dan FugaMiko 'bersantai'.

Hening nampak menyelimuti mereka berenam. Mereka sama-sama tahu apa yang ada di pikiran masing-masing. Neji dan Hinata yang notabene adalah sahabat Sasuke dan Naruto sejak kecil tentu sangat mengkhawatirkan keadaan kedua pemuda nekat itu.

"Ano.. Kami bertemu Deidara-san saat berjalan kemari. Kelihatannya dia sedikit pucat." Walau merasa agak canggung, Hinata memaksakan dirinya untuk memecah keheningan ini. Bagaimanapun juga, wajah pucat Deidara yang berpapasan dengannya tadi membuat gadis Hyuuga ini khawatir.

"Benarkah? Tadi dia memang terlihat sedikit panik." Gumam Mikoto sambil mencoba mengingat wajah menantunya saat berlari tadi.

"Mungkin kita harus melihat keadaannya." Kushina berdiri, memberi isyarat kepada Nyonya Uchiha untuk berdiri dan melihat keadaan sang pengacara. Ia tidak mau menambah panjang daftar masalah yang sedang mereka alami.

"Hinata." Bisik Neji hampir tak terdengar kecuali oleh sepupu di sebelahnya. Matanya memberikan isyarat kepada gadis itu untuk ikut meninggalkan ruangan ini. Dia ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan kedua pemimpin perusahaan ternama di Konoha.

"Ano.. Mungkin aku juga harus ikut." Ucap Hinata menuruti keinginan sepupunya.

"Baiklah." Mikoto tersenyum tulus. Ia merasa senang ada yang benar-benar peduli pada keluarganya disaat seperti ini.

Suasana kembali hening sepeninggal ketiga wanita itu. mereka bertiga sama-sama tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

"Jadi.. terima kasih untuk kedatanganmu hari ini. Kurasa Orochimaru sedikit malu dengan insiden tadi." Gumam Minato sambil menyeruput kopi luwak asli Indonesia.

"Hn. Sejujurnya aku terpaksa datang." Pemuda yang juga membintangi iklan shampoo merk internasional itu menghela nafas. Jujur, dia merasa sangat haus. Tega nian kedua om-om dihadapannya ini menyeruput kopi tanpa menawarinya. Dalam hati dia mengutuk sepupunya yang menolak tawaran minum yang diberikan om Minato.

"Terpaksa?" Minato membeo. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kulkas mini di ruangan itu.

"Ya.. Wartawan dari majalah kami sedang meliput acara peresmian Gedung Teater Konoha, ulang tahun pernikahan ke 31 nona Tsunade dan Tuan Jiraya, dan peragaan busana di Suna. Tidak ada wartawan yang tersisa di 'markas' kami." Jawab Neji panjang lebar penuh semangat saat matanya menangkap bayangan Minato yang sedang mengambil dua minuman kaleng.

"Hn. Kurasa Deidara memang memilih hari yang tepat." Gumam satu-satunya orang yang sejak tadi menutup mulutnya, Fugaku.

"Sudah kuduga. Ini pasti bagian dari rencana." Neji menyibakkan rambut coklat panjangnya.

"Terima kasih." Sambungnya menerima sekaleng jus apel dari Minato.

"Jadi..," pemilik perusahaan Uzumaki itu duduk di sebelah sang pemilik perusahaan Uchiha –membuat pria paruh baya berambut raven itu sedikit kaget dan grogi (?). Mereka berdua duduk berhadapan dengan sang pewaris Byakugan Shoot.

" – apa yang ingin kau ketahui, Nak?" lanjut Minato santai. Hyuuga Neji memang sudah seperti keponakannya sendiri. (dulu pas SMA, dia sering main ke rumah sih.. =,=b)

"Bagaimana keadaan mereka, Paman?" Tanya Neji dengan nada berbeda. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

"Entahlah.. Kuharap mereka baik-baik saja." Gumam Minato. Ia membuka jus jeruk kesukaan putranya, kemudian meminumnya. Membuat hatinya bertambah galau.

"Kudengar Kyuubi-nii pulang ke Konoha."

"Begitulah.. Dia terdengar sangat marah saat kami memberitahukan masalah ini." Raut lelah di wajah pria berambut blonde terang ini terlihat jelas.

"Mungkin dia pikir, putraku telah membunuh si kuning itu. Sungguh bodoh." Ucap Fugaku sinis.

"Diamlah gelambir tua! Kau tidak melihat Kyuubi telah berhasil menemukan tempat persembunyian mereka, hahh?" teriak Minato. Jari manisnya menunjuk-nunjuk keriput (yang dianggap Minato sebagai 'gelambir') di pipi Fugaku.

"Hn. Kuning!"

"Gelambir!"

"Silau!"

"Suram!"

"Cerewet!"

"Huh! Daripada kau, mendapat nilai 5 dalam pelajaran bahasa!"

"Dasar NDESO!"

"Apa kau -?"

" – "

Neji pun ber-jaws drop mendengar duet dihadapannya. Benar kata Itachi, "kau harus membawa dua balon saat bertemu dengan mereka".

'Tunggu! Paman Min bilang, mereka sudah menemukan tempat tinggal pasangan yaoi paling fenomenal itu.'

"Paman!" panggil Neji dengan nada naik 3 oktaf. Hal ini sukses membuat kedua pria paruh baya dihadapannya bungkam dan langsung mengalihkan pandangannya kepada sang Hyuuga muda.

"Paman Minato bilang, kalian telah menemukan tempat mereka. Dimana mereka?" Tanya Neji antusias.

"Kau tidak akan menuliskan ini dalam majalahmu kan?" Fugaku mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu ini adalah pertanyaan yang sia-sia. Tapi untuk jaga-jaga.. Tidak apa-apa kan?

"Tentu saja tidak. Aku hanya menulis apa yang kalian ucapkan saat jumpa pers tadi." Neji menghela nafas. Paman Fugaku memang selalu menyimpan kecurigaan.

"Kami juga belum tahu. Tapi, Kyuubi menghubungiku dan memberitahukan bahwa Sasuke dan Naruto berhasil ditemukan." Lagi-lagi Minato yang berbicara.

"Kuharap Itachi bisa membawa Sasuke pulang." Ucap Fugaku tegas. Sudut matanya melirik Minato yang terlihat sinis. Ia benar-benar tidak suka kalau putra bungsunya memiliki hubungan special dengan Naruto.

"Kuharap mereka berdua mau pulang ke rumah.." kali ini Neji yang berbicara.

"Haahhh…." Helaan panjang terdengar dari bibir si pria blonde.

"Harusnya kalian berdoa agar Kyuubi dan Itachi tidak menghajar mereka berdua…" lanjut Minato. Mereka bertiga sama-sama tahu, Kyuubi dan Itachi memiliki kemampuan kontrol emosi yang sangat buruk.

.

.

"Selamat pagi menjelang sing Tuan Senju Takagi. Atau harus ku panggil…"

Sasuke melihat tamu yang datang sedetik setelah pintu terbuka sempurna. 'degghh'

" – Otouto?"

"A – aniki." Sekali ini, pemuda yang terkenal stoic itu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

"Bagaimana bi –"

"Hai. Mencariku?" sapa Kyuubi yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh Itachi.

Sasuke terdiam. Ia menemukan jawaban atas pertanyaan yang belum selesai diucapkannya. Ingin rasanya ia menjambak rambut pantat ayam yang kini berwarna dongker itu. 'Bisa-bisanya aku melupakan keberadaan si setan orange yang sudah menjadi seorang detektif itu. Sial!'

"Kau tidak mempersilakan kami masuk, Otouto?" Itachi melepas coat hitam beraksen awan merah-nya. Coat yang menurut Kyuubi sangat norak dan katrok. (Kyuu geblek! Coat-nya keren tau ^0^)

"Hn." Gumam Uchiha bungsu tanpa makna. Ia menggeser tubuhnya. Memberi isyarat kepada duo perusak kebahagiaan itu untuk memasuki sarang cintanya.

Sasuke menutup pintu dan menggiring mereka berdua ke tempat ia biasa bersantai sambil menemani Naruto nonton TV. Ia menghela nafas beberapa kali, mencoba berfikir jernih.

"Duduk." Singkat, padat dan sangat jelas.

"Bersih dan cukup rapi. Siapa yang melakukannya? Naruto?" ruby sang Uzumaki menjelajah setiap sudut ruangan itu.

"Hn." Sasuke mendudukkan dirinya di hadapan mereka berdua.

'cklekk..'

"Siapa yang dat –" mata keemasan itu membulat, jemari tan-nya mencengkeram erat pegangan pintu yang belum sempat ia lepaskan.

"Teme.." mata Naruto mendapati sesosok pantat ayam yang membelakanginya. Dua pasang mata berbeda warna milik Kyuu dan Itachi terlihat ingin membunuhnya hidup-hidup (?)

'BLAAMMM!'

Setelah membeku sekitar 2 detik, gadis berambut coklat itu akhirnya berhasil menggerakkan tubuhnya. Ia segera kembali ke kamar dan membanting pintu keras-keras, seakan tidak peduli dengan roknya yang tersangkut di pintu.

Kyuubi menghela nafas. Adiknya memang benar-benar cantik dan enerjik.

"Ada apa dengan kekasihmu? Seperti habis melihat hantu saja." Komentar Itachi sinis. Kaki jenjangnya disilangkan, begitu juga dengan kedua berusaha meredam emosinya. Di perjalanan tadi, Kyuu sudah member mandate agar si keriput ini tidak menggunakan emosinya saat bicara dengan SasuNaru. Entah mengapa Kyuu meminta hal seperti itu.

"Lebih dari itu. Dia baru saja melihat seekor rubah kanibal dan seekor gagak pembawa pesan kematian." Sasuke beranjak dari sofa kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan favoritnya.

"Hei. Keluarlah." Bisik sang seme idaman di depan pintu kamarnya, kepada kekasihnya. Ia sama sekali tidak mengetuk pintu. Hatinya tahu, sang kekasih masih bersandar di balik pintu itu.

"Ta – tapi aku …"

"Kita akan menghadapinya bersama-sama." Bass merdu itu memotong suara gemetar yang mengalun lirih dari dalam kamar.

'cklekk'

Tubuh mungil itu perlahan menampakkan dirinya dari balik pintu. Jemari tan-nya menyambut tangan pucat kekasihnya. Kepala berambut coklat itu menunduk, bahunya bergetar halus.

"Percaya padaku." Bisik Sasuke di telinga Naruto yang langsung memeluknya erat begitu ia keluar dari kamar.

"Kau percaya padaku kan?" ulang Sasuke. Naruto mendongakkan kepalanya, menatap onyx tertutup abu dengan sapphire berbalut emasnya.

"Kita akan menghadapinya bersama-sama." Senyum tulus terukir di bibir si bungsu Uchiha.

-chuu-

Sasuke mengecup puncak kepala Naruto yang tertutup wig coklat panjang.

Mereka berdua tidak memedulikan dua pasang mata yang menatap mereka dengan aura yang sangat berbeda.

"Jadi.. Tuan Senju Takagi dan Nona Senju Haruhi. Sepasang suami istri yang baru saja menikah tanggal 10 Juli lalu." Suara Itachi menginterupsi drama yang sedang berlangsung di depannya.

"Hn." Sasuke menarik lembut tubuh Naruto, mengajaknya duduk di sofa, berhadapan dengan kedua pria naïf yang sangat menyebalkan.

"Apa mau kalian?" pertanyaan sinis Sasuke mengalun datar.

"Kembalikan. Adikku. Sekarang. Juga." Jawab Kyuubi dengan penekanan di setiap kata. Matanya menatap lurus, bukan kepada Sasuke, melainkan kepada adiknya yang terlihat sangat ketakutan.

Sasuke yang mengetahui hal itu langsung melirik kekasihnya. Ia mendapati sosok Naruto sedang menunduk dan mulai terisak. 'Dobe…'

"Kau dengar? Aku tidak ingin adikku dituduh menculik temannya." Tambah Itachi.

"Aku tidak akan mengembalikannya. Dia milikku." Balas pemuda berambut dongker itu tegas.

"Teme.." Sasuke tersenyum merespon panggilan kekasihnya.

"Huh.. Kau tahu? Kau bisa dituntut dengan pasal berlapis." Gumam Kyuu kesal.

"Hn."

"Penculikan. Pemaksaan kehendak. Hmm.. mungkin juga perbudakan." Papar Kyuubi. Faktanya, Sasuke memang bisa dibilang 'menculik' Naruto. Untuk masalah pemaksaan kehendak dan perbudakan, Kyuu hanya mengarang. Yahh.. Bagaimanapun juga, ia yakin 100% bahwa pada awalnya, Sasuke memaksa Naruto memakai baju seperti itu.

"Dan Jangan harap Deidara mau membantumu dalam kasus ini." Lagi-lagi Itachi menambahkan.

'degg'

Mendengar nama pengacara yang juga istri dari Itachi itu sukses membuat mood Kyuu yang tadinya cukup tenang menjadi tidak karuan.

"Jika itu bisa membuatku tetap bersama Naruto, akan kujalani." Gumam Uchiha bungsu tenang.

"Kau .. Akan kubu –"

"Hentikan!" teriak Naruto lantang. Lengan yang sedari tadi memeluk Sasuke dari samping terlihat semakin erat memeluk.

"Aku.. Aku tidak ingin Kyuu-nii menghajar Teme seperti dulu. Aku tidak mau.. hiks.." Naruto benar-benar menangis sekarang. Ia mengingat kejadian 10 tahun lalu, saat kakak kesayangannya menghajar Sasuke 'hanya' karena bocah pantat ayam itu membuat Naruto –hampir- tenggelam di laut.

"Dobe.." tangan pucat Sasuke mengelus rambut yang masih berwarna coklat panjang itu. " – aku tidak akan mati hanya karena dipukul kakakmu." Bisik sang teme.

Naruto terlihat menggeleng beberapa kali. Ia masih terisak dan menyembunyikan kepalanya di dada kekasihnya. Pemuda berambut duren itu benar-benar trauma melihat si raven dipukuli kakaknya. Ia tidak mau hal itu terulang lagi.

Kyuubi menghela nafas panjang. Sekejam-kejamnya dia, hatinya tetap tidak mampu berkutik kalau adiknya sudah menangis seperti ini.

Sementara itu, Itachi mengamati tingkah si gadis berambut coklat panjang yang memakai blouse putih dan rok pendek coklat di hadapannya. Tingkah sang gadis mengingatkannya kepada seseorang.

"Kyuu-nii. aku baik-baik saja berada disini. Sungguh…" sepasang sapphire itu mulai menunjukkan sinarnya yang agak redup. Sang detektif yang melihat kesungguhan di dalamnya hanya mampu menghela nafas sekali lagi. Ia tahu –sangat paham- dengan apa yang dirasakan adiknya.

Itachi yang sedang menulikan pendengarannya diam-diam melirik pemuda orange disampingnya. Otak jeniusnya mengingat sesuatu di masa lalu, membuat hatinya sedikit sesak. 'Setan Kecil ya..'

Sasuke menangkap gelagat aneh aniki-nya mendengus sinis. "Hei Aniki." Suara yang lebih tinggi lima nada dari biasanya ini sukses mengalihkan perhatian si sulung Uchiha.

"Hn. Pulanglah! Kaa-san mengkhawatirkanmu." Ucap Itachi seolah barusan ia tidak melakukan apapun.

"Tidak tanpa Uzumaki Naruto disampingku." Sasuke menyamankan posisi duduknya.

" – dan aku Tidak. Akan. Pernah. Meninggalkannya." Lanjut sang Otouto penuh penekanan. Kyuubi yang mendengar nada ini langsung menatap tajam si bungsu Uchiha. Hal yang sama dilakukan Itachi terhadap otouto-nya.

'Apa dia tahu sesuatu?' gumam Kyuu dalam hati.

"Haahhh~"

"Kau terlalu banyak menghela nafas. Pantas saja kebahagiaanmu hilang." Gumam Sasuke entah kepada siapa, yang jelas sapphire Naruto menatapnya heran, sementara onyx Itachi memilih mengalihkan pandangannya. Kyuubi yang baru saja menghela nafas langsung menatap tajam si ayam raven.

'trrttttt… trrttttt…'

"Moshi-moshi."

"Itachi! Dei tiba-tiba saja pingsan! Bisakah kau menunda pencarian dan datang kesini sekarang?" suara Mikoto yang cukup keras dari seberang memekakkan telinga pria berambut raven panjang itu.

"Ha'i! Dimana kalian sekarang?" raut panic menjalar di wajah pucat Itachi. Keriput kebanggaannya terlihat makin jelas.

"Konoha Medical Centre."

"Aku segera kesana!"

'cklekkk'

Sambungan singkat itu terputus. Suara Mikoto yang cukup lantang mampu didengar oleh ketiga manusia lainnya.

"Kita selesaikan ini nanti. Ingat! Saat aku kembali dan kau belum mengambil keputusan, jangan harap aku akan berbaik hati seperti sekarang!" onyx Itachi menatap lurus Otouto-nya. Dia benar-benar mengkhawatirkan sang istri. Setahunya, Deidara tidak memiliki riwayat penyakit yang aneh-aneh.

"Kyuu. Kau mau ik –"

"Pergilah! Aku masih ingin berada disini." Potong Kyuu cepat. Itachi yang mendengar nada bicara Kyuu langsung terdiam. Aksi ini sukses mengundang keheningan diantara mereka berempat.

"Hn." Dua huruf tidak jelas yang terlontar cukup keras dari bibir Sasuke menyadarkan lamunan anikinya.

"Baiklah. Aku pergi." Gumam Itachi yang langsung meninggalkan apartemen kecil itu. Ekspresi aneh di wajahnya belum berubah.

"Teme.." jemari tan Naruto menarik pelan kaos kekasihnya. Matanya mengisyaratkan sebuah pertanyaan 'ada apa' kepada si jenius di sampingnya.

"Hn." Sahut Sasuke. Naruto tahu betul, dua huruf aneh itu kini bermakna 'entahlah'.

"Jadi.. Kapan kalian akan berhenti bermesraan di depanku?" suara berat Kyuu mengagetkan mereka berdua. Hampir saja Sasuke berniat mencium si dobe manis.

"Berhentilah bermanja-manja pada si ayam kampus itu!" seru Kyuubi kepada adiknya. Ia merasa sedikit er… cemburu (?)

"Diamlah kau rubah brother-complex sialan!"

"Huh.. Aku akan memakanmu nanti. Dasar ayam." Gumam detektif Prancis itu.

"Hei bocah! Kau tidak membuatkan minum untuk kakakmu yang tampan ini?" ucap Kyuu santai. Ia seolah sedang berada di rumah. 'Masalah' yang saat ini terjadi pun seolah tak pernah ada. Sasuke yang melihat tingkah pria yang ia yakini sebagai calon kakak iparnya ini hanya bisa menghela nafas.

"Teme.." sapphire Naruto menuntut penjelasan atas tingkah kakaknya itu.

"Berikan saja air bekas cuci piring." Sasuke memberikan isyarat pada kekasihnya untuk mengambilkan minum. Naruto mengangguk ragu. Raut wajahnya masih menampakkan kecurigaan terhadap dua orang yang disayanginya itu.

Hening menyelimuti mereka berdua sepeninggal Naruto ke dapur. Kedua pasang mata berbeda warna itu saling menatap tajam, mereka berdua sama-sama tahu apa yang akan dibicarakan. Tidak! Mereka tidak akan mulai bicara kalau Naruto masih ada disini.

"Dozo~" ucapan Naruto sukses menghentikan aksi saling tatap kedua manusia ini. Tangan tan itu menaruh dua kaleng jus tomat di depan Sasuke dan sekaleng jus jeruk di depan Kyuubi.

"Hn..?" Pemuda berambut raven mengeritkan dahi. Kenapa kekasihnya memberikan minuman kesukaannya kepada sang kakak?

"Jus jerukku habis…" rengek Naruto, " – dan Kyuu-nii sangat membenci benda bulat berwarna merah itu." sapphire Naruto melirik jus tomat di hadapan Sasuke.

"Kau ini. Beli jus jeruk sana!" perintah Kyuu. Dia menaruh beberapa lembar uang di atas kaleng jus tomat milik adiknya.

"Pakai uangku saja." Sasuke menggeser uang Kyuubi. Menggantikannya dengan uang yang lebih banyak.

"Ayam kampus sialan."

"Setan rubah kanibal."

"Naruto. pakai uangku!"

"Pakai punyaku Dobe."

"Punyaku!"

"Uangku saja."

Naruto heran, dua orang yang dikiranya akan berkelahi itu malah bertengkar dengan alasan yang tidak jelas. "Haaahhh~~ baiklah."

"Akan kugunakan uang kalian berdua. Puas?" tangan caramel itu mengambil semua uang di meja. Ia segera berjalan meninggalkan mereka berdua.

"Jangan bertengkar!" tambah Naruto sebelum menutup pintu apartemen itu.

'Maaf saja ya. Aku tidak akan terpancing.' Gumamnya pelan.

Hening menyelimuti Sasuke dan Kyuubi. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

"Apa kau membiarkannya menghirup udara malam terlalu lama?" suara pemuda berambut orange mulai terdengar. Pertanyaan yang kurang jelas ini dapat dimaknai dengan baik oleh Sasuke.

"Tidak. Aku sudah berjanji untuk tidak pernah melukainya lagi kan?" tangan pucat Sasuke meraih jus tomat kalengan di hadapannya, kemudian membukanya.

"Kau tahu sesuatu?" Kyuubi mengikuti jejak si pantat ayam meminum jus-nya.

"Tentang?"

"Aku dan kakakmu."

"Hn. Begitulah.." gumam Uchiha bungsu lagi. Kyuubi terdiam. Masa lalunya bukanlah masa lalu yang cukup menyenangkan untuk diceritakan.

Kyuubi tidak perlu bertanya dari mana Sasuke tahu tentang status hubungannya dengan si sulung Uchiha. Itachi tidak mungkin memberitahukan 'rahasia' kecil mereka kepada siapapun. Yang ia yakini saat ini adalah bahwa Sasuke mendapatkan kesimpulannya sendiri. Dengan IQ yang bisa dibilang jenius, Sasuke akan langsung bisa menebak apa yang terjadi diantara Kyuubi dan aniki-nya. Kyuu sering ngajakin Naruto dan Itachi sering ngajakin Sasuke sih kalau lagi jalan… Niatnya sih biar engga mencurigakan.

"Kau hanya ingin agar aku tidak meninggalkan Naruto kan? Agar dia bahagia.." onyx abu-abu Sasuke menatap calon kakak iparnya. Kali ini bukan dengan sorot mata mengancam.

"Aku tidak akan meninggalkan Naruto seperti Baka Aniki yang meninggalkanmu."

'deghhh!'

Bibir pemuda berambut orange itu tersenyum miris. Kaleng jus jeruk di tangannya sedikit rengsek.

"Apa kau bisa melakukannya?" ruby itu menatap tajam mata Sasuke. Menyiratkan sebuah tantangan yang sangat sulit.

"Hn."

"Apa kau bisa melakukannya walau keluargamu menjadi taruhannya?" nada bicara sang detektif terdengar sinis.

"Tentu."

"Apa kau bisa melakukannya walau harus mendapat cacian dan hinaan dari orang-orang di sekitarmu?"

"Hn."

"Tch.. Dulu si keriput juga bilang begitu. Tapi pada akhirnya …"

.

.

Flashback – Kyuubi's PoV

"Kyuu. Sudah lama?" seseorang menepuk pundakku dari belakang. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa yang mengganggu tidur siangku. Bukan mengganggu sih.. Aku memang menunggu kedatangannya. Kami berjanji untuk bertemu di tempat rahasia ini – di atas bukit kecil di belakang gedung kuliah lima.

"Harusnya kau datang setengah jam yang lalu. Keriput!" Sahutku dengan nada jengkel. Aku tahu dia sangat sibuk hari ini, ditambah lagi dia harus membantu sang ayah mengurus sebuah anak perusahaan Uchiha – Akatsuki.

"Hn. Ayolaaahh~~ aku membelikan tadi aku membelikan ini untukmu." Lengan pucat itu memelukku manja. Tangan kanannya menaruh sebungkus keripik super pedas di atas perutku. "Kubelikan khusus untuk Setan Kecil kesayanganku." Lanjutnya sambil terkikik.

Aku tidak merasa risih sedikitpun dengan perlakuannya karena aku dan Itachi memang berpacaran. Aneh memang kedengarannya. Yahh. Mungkin karena kami sesama laki-laki? Entahlah..

Yang jelas aku menyukainya. Dia menyukaiku. Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya dan berjanji untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi. Aku percaya padanya. Hanya itu yang bisa kulakukan.

"Memikirkan sesuatu?" bisiknya di telinga kiriku. Bibir tipisnya mengecup pelan leherku. Ahh.. kadang aku ingin bertanya kenapa ia selalu bisa mengetahui apa yang terjadi padaku.

"Tidak. Hanya saja..." kugantung kalimat sederhanaku. Serius! Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang kupikirkan.

"Hanya saja?" sulung Uchiha itu membeo. Ia menyandarkan tubuhnya di sebelahku. Pohon oak tua yang cukup ndut ini memang menjadi saksi perjalanan kami, mulai saat Itachi memintaku menjadi kekasihnya, sampai sekarang.

"Haaahhh~" aku menghela nafas panjang. Lagi-lagi kulakukan kegiatan ini. Banyak yang bilang kalau menghela nafas akan membuat kebahagiaanmu pergi, tapi entah mengapa, sejak tadi aku tidak bisa berhenti menghela.

Itachi tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia menarik tubuhku dan menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya. Dapat kudengar detak jantung tak beraturan di dalam dadanya. Ini aneh…

"Hei Keriput!"

"Hn?"

"Sebenarnya sejak tadi aku deg-degan. Tidak tau kenapa, jantungku rasanya berdetak random dan membuatku merasa tidak nyaman." Aku mendongakkan sedikit kepalaku, mata rubyku melirik ekspresi wajahnya dari sela helaian orange kebanggaanku.

"Hmm.. Hn hn." Gumamnya dengan nada yang aneh. Entah apa yang dia ingin ucapkan, yang aku tahu adalah bahwa wajah tampan berkeriput halus itu terlihat sedikit – murung?

"Kau.. Juga sedang deg-degan ya?" gumamku lirih. Aku menyamankan posisiku. Kupeluk tubuh hangat itu dari samping. Entah mengapa, aku ingin sekali memeluknya erat saat ini.

Itachi tidak memberikan reaksi yang berarti. Tapi aku bisa merasakan jemari pucatnya memainkan helaian orange-ku berkali-kali. Bibirnya menyenandungkan sebuah irama tanpa lirik yang cukup familiar bagiku.

"Hmm.. Lagi itu judulnya apa ya? Aku lupa.." gumamku lebih kepada diriku sendiri. "- lagu dari Halcali ya?" lanjutku.

Itachi terkikik kaku. Aku heran, ia bertingkah sedikit errr – aneh?

Dia lalu menarik tubuhku sedikit ke atas, ia menarik daguku dan memungut bibirku. "Mwhhh.."

Matanya terpejam, lengannya memelukku erat. Aku pun ikut memejamkan mataku, membalas dan menikmati tiap detik ciuman yang sangat lama itu. Bibir itachi melumat bibir tipisku. Lembut.. perlahan.. penuh perasaan. Sama sekali tidak terasa adanya nafsu untuk 'ehemmm' dari ciumannya. Sungguh tidak seperti biasanya.

"Mmhhh.. Kh.." perlahan, ia melepas ciuman memosisikanku pada posisi semula – berbaring dan menyandarkan kepalaku di dada bidangnya.

"Tidurlah Setan Kecil." Aku tahu dia tersenyum saat mengucapkan ini. Aku memeluknya makin erat." – akan kubangunkan saat matahari mulai terbenam nanti." Bisiknya sebelum mengecup puncak kepalaku.

Kami memang berjanji untuk melihat matahari terbenam disini. Yah.. Walau sekarang masih pukul 4 sore sih…
Rencananya kami –lebih tepatnya, aku- akan banyak bercerita tentang apa saja yang asyik dibicarakan. Tapi karena dia tahu bahwa aku –sangat- lelah setelah mengerjakan ujian analisis kasus tadi pagi, dia malah memintaku untuk beristirahat.
Selama si Keriput masih menemaniku, tidak apa-apa lah aku tidur sebentar…

(skip time) -

" – gureni … mita.. eien no sayonara~" rasanya baru sebentar aku tertidur, tapi entah bagaimana caranya, senandung merdu yang dari suara yang sangat familiar itu mengusik tidurku. Aku merasakan ia membelai rambutku berulang kali, sesekali jemarinya menyusur tulang pipiku. Rasanya sedikit geli. Masih terpejam, aku mengeratkan pelukanku pada tubuh si Keriput.

"Hisshh.. Sial! Kau ingin membunuhku ya, Setan Kecil." Tangan yang tadinya membelai rambutku beralih mengusap pipiku, kemudian menyolek pelan hidungku. Sial! Memangnya aku ini sabun apa?

Aku masih memejamkan mataku, padahal aku sudah bangun. Yahh.. mau bagaimana lagi? Gengsi seorang Uchiha sangat tinggi dan ia tidak akan memerlakukanku semanja ini bila aku membuka mataku.

"Hiks…" tunggu! Siapa yang terisak? Bukan aku kan?

"Yuugure ni kimi to mita

Orenji no Taiyou

Nakisou na kao o shite

Eien no sayonara …" akhirnya kudengar secara utuh senandung yang tadi sempat terbisik di telingaku. Itachi sedang bernyanyi rupanya. Tapi.., kenapa lagu ini sih?

"Setan Kecil.. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Tapi aku tidak mau membangunkanmu." Kudengar ada yang berbeda dari nada bicaranya. Ada apa ini?

"Karena saat kau terbangun nanti, aku akan.." si Keriput tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia lebih memilih untuk menghela nafas.

"Karena saat aku terbangun, kau akan apa?" tanpa mengubah posisiku, aku bergumam pelan. Aku yakin 100% bahwa ia bisa mendengarku.

Aku bisa merasakan getaran di tubuhnya. Dia sedikit terlonjak, sangat sedikit. Aku pura-pura tidak mengetahuinya.

"Kyuu. Aku ingin mengatakan sesuatu." Kata-kata itu seolah membawaku ke tempat ini, dua tahun yang lalu. Saat ia akan mengutarakan perasaannya padaku.

"Hmm?" aku mulai bangun dan memosisikan diriku bersandar di sampingnya.

"Janji kau tidak akan marah?" Lagi, kata-kata childish yang sama persis seperti waktu itu. Apa sih yang ingin dia katakan?

"Jika kau menjelaskan arti semua ini." Kuusap sudut matanya yang sedikit basah. Sekarang aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.

Sejak semalam aku memang tidak bisa tidur nyenyak. Seperti yang kukatakan pada Keriput tadi, jantungku berdetak random dan itu berlangsung sejak tadi malam. Kupikir ini terjadi karena aku akan menjalani ujian analisis kasus keesokan paginya. Tapi.., sampai sekarang nyatanya njantungku belum kembali normal. Ditambah ekspresi Uchiha sulung di hadapanku ini. Perasaanku makin tidak enak.

"Maaf." Lengan pucat itu memelukku erat. Ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher dan bahu kananku.

"Tidak sebelum kau menjelaskan padaku apa yang terjadi." Gumamku lirih. Rasanya percuma berteriak pada Itachi saat ia sedang begini.

"Kita.." kurasakan Itachi menarik nafas dalam-dalam. Kucoba mengelus punggungnya untuk sedikit menenangkannya. Kelihatannya sia-sia.

Ia terdiam lama. Aku tidak ingin memaksanya untuk menyelesaikan kalimatnya. Mungkin ia butuh waktu untuk mengumpulkan kalimat dan menyampaikan permasalahannya padaku. Yahh.. semoga saja aku bisa membantu.

Aku hampir bertanya pada kekasihku sebelum akhirnya aku mendengar ..

" – harus berpisah."

'dehgg!'

Jantungku yang tadinya berdetak random seperti tertusuk panah beracun yang sangat tajam.

Tidak!

Ini tidak mungkin! Kalau aku tidak salah ingat, kalimat untuh Itachi berbunyi 'Kita Harus Berpisah'.

Aku mematung dalam dekapannya. Tubuhku tidak bisa bergerak. Entah sejak kapan, cairan hangat itu mengalir di pipiku. Entah kenapa, semuanya jadi begini …

"Maaf Kyuu. Kita benar-benar harus berpisah."

End of FlashBack

.

.

Normal PoV

"Aku tidak menyangka." Sasuke menyesap jus tomat yang tinggal seperempat kaleng itu. Helaan nafas yang terdengar cukup keras mengalun begitu saja darinya.

"Dia mengatakan padaku tentang masa depan perusahaan keluargamu, juga perusahaan keluargaku. Dia harus memiliki keturunan agar perusahaan Uchiha tetap emm…. Eksis ?." ucap Kyuubi tanpa ditanya. Matanya terlihat sedikit teduh. Bukan! Dia bukan ingin menangis. Dia terlihat seperti ingin membunuh sesorang.

"Semudah itu kau melepaskan Baka Aniki?"

"Tidak. Aku hanya membenarkan perkataannya." Kyuubi mulai beranjak. Kelihatannya dia akan segera pergi.

"Tentang?" gumam Sasuke penasaran. Bagaimanapun juga, ia masih ingin tahu tentang ending kisah cinta ItaKyuu yang sangat tidak jelas itu.

"Perusahaan keluarga yang harus memiliki penerus." Kyuu merenggangkan tubuhnya yang cukup lama terdiam dalam satu posisi. Ia akan segera pulang setelah pembicaraan ini selesai.

"Satu hal yang aku tahu saat itu adalah.." mata ruby-nya melirik Sasuke. Onyx dan ruby bertemu. " – bahwa kau menyukai adikku. Begitu juga dengan adikku yang menyukaimu."

Uchiha bungsu seakan tersedak ludahnya sendiri saat Kyuu mengucapkan ini. Otak jeniusnya menangkap banyak hal dari apa yang dikatakan Uzumaki sulung.

"Aku hanya tidak ingin kalian menanggung beban berat. Biar aku saja yang tanggung." Ujar Kyuu santai.

Pemuda berambut orange itu mulai berjalan meninggalkan Sasuke yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aku akan pulang."

'Kyuubi berpisah dengan aniki demi aku dan Naruto. Dia tahu betul posisinya pada saat itu. Sedangkan aniki… Apa dia mengerti?'

Saat akan keluar dari ruang tengah, Kyuu berhenti tepat di tengah-tengah pintu tak berdaun itu. "Sudah selesai mengupingnya?"

Perkataan ini sukses membuat Sasuke terbangun dari pikirannya. Lagi-lagi otak jeniusnya bekerja cepat. 'Jangan-jangan …'

Tubuh alabaster itu segera beranjak dari sofa dan menghampiri pemuda yang berusia 4 tahun lebih tua darinya. Onyz-nya mengikuti arah mata Kyuubi.

Didapatinya sosok berambut coklat panjang sedang terduduk di lantai sambil terisak beberapa kali. Mata keemasannya menatap tajam Sasuke.

"Apa yang kau lakukan disini.." lengan Sasuke mencoba membantu sosok gadis itu berdiri.

"- Dobe?"

.

.

Tbc

,

,

Gomennasai minna (-/|\-)

Baru bisa apdet sekarang : (

Kemaren jari Kyuu yang kena masalah, pas uda mendingan..

Kyuu malah ciuman sama mobil

Akhir tahun ga berpihak sama Kyuu *nangis gulung2

Dan Night Kingdom juga baru bisa apdet besok…

Soalnya Kyuu belum nulis balesan review dan Kyuu uda ngantuk banget.

Maaf banget *bungkuk2

Hayo siapa tau 2 lagu yang dinyanyiin Itachi tadi XDDD

.

Bales review aja ya… :D

Yashina Uzumaki : terima kasih :3

Maaf untuk keterlambatannya ya..

Harap maklum dan semoga ga bosan :D

.

Shie Elfishy Chibi: hahahah… Kyuu telat datang lagi :9

Maaf ya

Harap maklum (-/|\-)

Iya tuh.. Itachi kaya jelangkung aja -,- datang ga dijemput

Pulang ga dianter (dies)

Terima kasi reviewnya : )

Chap berikutnya ga akan selama yang ini kok :D

.

ttixz bebe: maaf atas keterlambatannya *bungkuk2

be-san selalu minta naru hamil ya :o

besok deh dihamilin (lohh?)

terima kasih review-nya be-san :3

.

RaFa LLight S.N: terima kasih doanya dan maaf atas keterlambatannya *bungkuk lagi

Iya nih.. Kyuu lagi eror (?)

Di chap ini ada kilasan ga jelas dari Kyuubi tentang kandasnya hubungan mereka :D

Hahahahhhh… sumpah ga jelas banget :o

Terima kasih sudah mau baca fict saya :3

.

dobe si fujo: maaf atas keterlambatannya :3

Kyuu harap fujo-san ngerti kondisi Kyuu

Arigato : )

.

Rosanaru: maaf untuk keterlambatannya :D

Jangan panggil senpai, saya hanya pengetik abal (dies)

Itu ada kilasan geje dari Kyuubi (dies)

Chap dekan bakal sedikit clear kok masalah itu (.kit)

Arigato :D

.

Ashahi Kagari-kun: ga hiatus tapi ga apdet lama banget DX

Mohon dipermaklum yah kagari-san (ampe lupa dulu manggilnya apa)

Parah banget deh Kyuu ==,,==

Efek ciuman sama mobil kemarin -,-

Arigato ya kagari-san :D

.

ChaaChulie247: saya juga suka :o

Dan saya juga ga tau napa ga dijadiin per chapter 0,0 (?)

Maaf untuk keterlambatannya -,-

Arigato :3

/

Ai HinataLawliet: Kyuu juga suka sasu yang mesum

Itu bakal dijawab sambil jalan :3

Arigato dan maaf untuk keterlambatannya (-/|\-)

.

.

Yoshhh akhirnya selesai :3

Kyuu bahagia setelah tahu bahwa Kyuubi bernama KURAMA (ga nyambung)

REVIEW PLEASE :3