"Aku hanya tidak ingin kalian menanggung beban berat. Biar aku saja yang tanggung." Ujar Kyuu santai.

Pemuda berambut orange itu mulai berjalan meninggalkan Sasuke yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Aku akan pulang."

'Kyuubi berpisah dengan aniki demi aku dan Naruto. Dia tahu betul posisinya pada saat itu. Sedangkan aniki… Apa dia mengerti?'

Saat akan keluar dari ruang tengah, Kyuu berhenti tepat di tengah-tengah pintu tak berdaun itu. "Sudah selesai mengupingnya?"

Perkataan ini sukses membuat Sasuke terbangun dari pikirannya. Lagi-lagi otak jeniusnya bekerja cepat. 'Jangan-jangan …'

Tubuh alabaster itu segera beranjak dari sofa dan menghampiri pemuda yang berusia 4 tahun lebih tua darinya. Onyx-nya mengikuti arah mata Kyuubi.

Didapatinya sosok berambut coklat panjang sedang terduduk di lantai sambil terisak beberapa kali. Mata keemasannya menatap tajam Sasuke.

"Apa yang kau lakukan disini.." lengan Sasuke mencoba membantu sosok gadis itu berdiri.

"- Dobe?"

There's No Regret in My LIfe –

Sequel of "There's No Next Time"

Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story: KyuuRiu

Pair: SasuNaru (main)

ItaKyuu

ItaDei (Dei disini cewek)

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort - Romance

Part 3: I'm scared.. I'm scared

Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget

.

.

"Permisi. Himawari 1 di sebelah mana?" Tanya seorang peria raven berkuncir kepada staff penjaga bagian informasi Konoha Madical Centre. Pria bernama Itachi itu masih terengah karena baru saja berlari dari tempat parkir.

"Lurus saja, lalu belok ke kanan. Ruangan pertama adalah Himawa –"

"Terima kasih." Itachi memotong ucapan petugas bagian informasi. Ia kini berjalan cepat-cepat, sulung Uchiha itu tidak mau mengganggu kenyamanan penghuni KMC lainnya. Jujur, pewaris pertama keluarga Uchiha ini ingin segera melihat keadaan istri tercintanya. Menurut Kaa-san sih, keadaan Dei sudah membaik setelah mendapat penanganan dari dokter.

'cklekk'

Itachi membuka pintu bertuliskan 'Himawari 1' perlahan. Onyxnya mencoba mengintip keadaan di dalam.

"Itachi.. Masuklah." Ucap Mikoto lembut. Ia menyambut kedatangan bungsunya dengan senyum lebar yang terukir manis di bibirnya.

"Kaa-san. Bagaimana keadaan Dei?" perlahan, lengan pucat Itachi menutup pintu ruang ber-AC dengan suhu 19 derajad itu. Kakinya melangkah mendekati ranjang berisikan seorang wanita manis yang tengah terlelap, jarum infuse tertancap di pergelangan kirinya. Di sebelah kanan ranjang Dei terdapat tabung oksigen berukuran besar dengan selang yang tergantung manis di atas kepala wanita berambut pirang itu. Sepertinya benda itu sempat digunakan untuk memberikan penanganan pertama tadi..

"Dia baik.." gumam Mikoto. Ia memerhatikan putranya yang tengah mengusap kepala istrinya penuh kasih.

"Kaa-san. Sebenarnya apa yang te –"

Itachi memotong kalimatnya sendiri saat melihat sebuah kertas putih yang cukup tebal disodorkan padanya. Diatasnya terketik rapi beberapa baris tulisan. Mikoto kembali menyodorkan sesuatu kepada bungsunya setelah jemari alabaster Itachi mengambil kertas putih dari sang Kaa-san. Kali ini sebuah benda kecil mencurigakan berwarna putih dengan beberapa garis hitam aneh-entah-apa. Di bagian bawahnya terdapat dua garis merah melintang.

"Hn?" Itachi mengeryitkan dahi. Sejujurnya, Itachi tidak tahu apakah benda itu sebuah kertas taguhan hutang atau apa.

"Bacalah.." pinta wanita paruh baya berambut hitam itu. Bibirnya masih menyunggingkan senyum tulus.

Pria berkeriput halus itu duduk di pinggiran ranjang istrinya. Diamatinya betul-betul kedua benda yang diberikan sang Kaa-san padanya. Beberapa saat kemudian, onyx Itachi berkaca-kaca, bibirnya menyunggingkan senyum lebar yang sangat jarang ditunjukkannya.

"Kaa-san!" pekik Itachi girang. Ia berdiri dan memeluk Kaa-san kesayangannya erat. Rasanya Itachi ingin sekali meneriakkan kepada semua orang betapa bahagianya dia sekarang.

"Selamat ya, Nak.. Kau akan jadi ayah." Mikoto membelai punggung putra sulungnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendapatkan pelukan dari si sulung.

Perlahan, Mikoto melepaskan pelukan sulungnya. Diacaknya pelan rambut Itachi, kemudian kedua lengannya menepuk-nepuk bahu si calon ayah, "Usia kandungannya 9 minggu. Kau harus menjaga istrimu baik-baik."

"Serahkan padaku Kaa-san." Itachi mengangguk. Diliriknya wajah sang istri yang terlihat tenang.

"Dokter bilang dia terlalu lelah. Jangan biarkan dia memikirkan hal yang aneh-aneh." Sorot bahagia di mata Mikoto sedikit meredup saat ia mengatakan hal ini. Pikirannya melayang ke wajah bungsunya.

"Tenang saja. Semua akan segera berakhir.." Itachi mengecup singkat puncak kepala wanita yang telah melahirkannya itu. ia yakin –sangat yakin! Sasuke akan segera pulang dan semuanya akan langsung kembali seperti semula.

Mikoto menghela nafas, lalu mengangguk pelan. Bagaimanapun juga, ia percaya pada sulungnya ini. Wanita paruh baya ini kemudian memutuskan untuk duduk di sofa sudut ruang perawatan VVIP di KMC ini. Ia merasa sedikit lelah dan mengantuk.

"Permisi.." terdengar suara pintu ruangan terbuka, diikuti dengan kemunculan dokter senior yang sudah sangat terkenal di Konoha, Dokter Tsunade, dan asistennya Shizune.

"Ahh Dokter. Silakan.." Mikoto yang tadinya akan tidur jadi mengurungkan niatnya karena kedatangan sang dokter ahli kandunga.

"Wah.. Tuan Uchiha disini juga rupanya.." ucap Tsunade basa-basi. Itachi membalasnya dengan sebuah senyum tulus. Tohh ia sedang bahagia hari ini, jadi tidak ada salahnya jika ia tersenyum kan?

Tsunade lalu memeriksa detak jantung Deidara, suhu tubuh, juga kecepatan cairan infuse yang dimasukkan ke dalam tubuh wanita berambut pirang itu, sementara Sizhune mencatat hasil pemeriksaan. Semua itu dilakukan tanpa membangunkan Deidara.

"Haahh.. Tuan Uchiha."

"Ya?" sahut Itachi. Onyx-nya tak lepas dari sang dokter yang sudah selesai melakukan pemeriksaan.

"Aku tahu sedang ada sedikit emm.. masalah yang terjadi di keluarga Uchiha, tapi.. Kau harus tetap menjaga kondisi istrimu baik-baik." Itachi mengangguk menanggapi ucapan Dokter Tsunade.

"Dia hanya butuh istirahat. Jika kondisinya sudah stabil, besok pagi dia sudah boleh pulang."

"Terima kasih .." Ucap Itachi tulus. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, mengikuti si Dokter Pirang yang mulai beranjak dari sisi istrinya.

"Jangan lupa vitamin dan obatnya. Ini akan menjaga kondisinya, juga kondisi janin yang sedang dikandungnya."

"Ha'i!" kali ini Mikoto yang menyahut.

"Jaga pola makan dan asupan gizinya juga.." gumam Tsunade sebelum membuka handle pintu. Ucapan ini di-iya-kan oleh kedua Uchiha.

"Dan kau Nyonya Uchiha.. Kurasa sebaiknya kau beristirahat. Jangan sampai kau jatuh sakit." Tsunade berkata sambil tersenyum tulus sebelum akhirnya ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.

"Haahh.. Kurasa aku harus mengikuti sarannya." Mikoto kembali merebahkan diri di sofa, "Beristirahatlah jika kau lelah, Nak."

"Hn.." balas Itachi singkat. Ia memilih duduk di kursi sebelah ranjang istrinya. Onyx-nya tak henti-hentinya menatap wajah manis sang istri yang dulu sempat diacuhkannya selama beberapa hari pasca upacara pernikahan.

Sekitar 20 menit kemudian, ruang Himawari 1 menjadi benar-benar hening. Hanya seara jarum jam yang terdengar. Itachi yang merasa bosan pun menengok jam tangan berwarna onyx dengan jarum di tengah berwarna ruby di tangan kirinya.

'Kyuu.. Setan Kecil..' Itachi tersenyum miris. Sebenarnya jam ini sudah tidak pernah dipakai sejak empat tahun yang lalu. Tapi entah kenapa, saat tahu hari ini akan pergi dengan si pemberi jam, Itachi memutuskan untuk memakai jam yang sebenarnya sudah mati itu.

"Ahh sudah jam segini! Apa dia sudah pulang ya.." pekik sulung Uchiha saat onyx-nya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Lengan pucatnya segera mengambil i-phone di saku coat-nya. Diketiknya nomer telepon yang sudah dihapalnya diluar kepala.

Untuk beberapa saat. Itachi hanya mendengar nada sambung yang menge-tuuttt perlahan. Sampai akhirnya..

"Apa?" Tanya suara di seberang sana ketus, membuat telinga Itachi hampir tuli.

"Haahh~" Itachi menghela nafas. Sifat Kyuu memang tidak pernah berubah sejak ia pertama mengenal sulung Uzumaki sewaktu masih SD dulu.

"Kau sudah pulang?" Tanya Itachi to the point.

"Aku akan menginap."

"Hahh? Yakin kau tidak akan mendapat amukan dari Otouto?" pekik pimpinan anak perusahaan Uchiha itu. Ia langsung menutup mulitnya dengan tangan kanan begitu onyx-nya menangkap kerutan di mata istrinya yang terpejam.

"Kyuu?"

"Hmm?"

"Yakin kau akan me –"

"Sangat yakin." Potong Kyuu cepat.

Suasana menjadi hening. Itachi tidak tahu harus bicara apa. Tadinya ia ingin basa-basi menawari untuk menjemput Kyuubi, tapi ternyata sulung Uzumaki malah memilih menginap di apartment Otouto-nya.

"Hei Kyuu, apa yang sebenarnya terj –"

"Tidak ada." Lagi. Pemuda berambut orange di seberang memotong ucapan sang Uchiha. Membuat helaan nafas mengalun berat dari bibir Itachi.

"Eh Kyuu. Kau tahu Deidara ternyata mengan –"

"Aku tahu. Deidara hamil. Dia pingsan karena terlalu lelah.. Dan jangan tanyakan padaku kenapa aku bisa tahu." Itachi menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Kemampuan analisis Kyuubi memang benar-benar mengagumkan.

"Sudah?"

"Hn?" respon Itachi menanggapi pertanyaan ambigu dari Setan Kecil di seberang sana. Dahinya berkerut, tangan kanannya memijit pelipisnya sendiri.

"Tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan?" tegas Kyuubi ketus. Entah mengapa, moodnya benar-benar jelek saat ini.

"Kurasa ti –"

'cklekk;

" –dak." Pria yang masih memakai coat hitam bercorak awan merah itu memasukkan i-phone miliknya ke dalam saku. Ia baru saja mendapat perlakuan tidak sopan dari seseorang yang dulu pernah sangan menyayanginya.

"Itachi.." pria berambut raven menolehkan kepalanya, mendapati ocean blue milik istrinya tengah menatapnya, menyiratkan sejuta pertanyaan yang belum mampu ia icapkan, " –siapa?" lanjutnya.

"Ahh Dei.. Kau sudah bangun?" bibir Itachi tersenyum. Tangan alabaster-nya mengusap pelan pipi merona DeiDei. Deidara tersenyum, jemari langsatnya memegang tangan sang suami.

"Itu tadi siapa..?" ulang Deidara lembut. Ia yang sudah bangun sejak Itachi terpekik tadi sangat penasaran dengan ekspresi suaminya yang tidak biasa.

-chu-

"Hn. Kyuubi. Kakaknya Naruto." jawab sulung Uchiha setelah mengecup sudut bibir istrinya.

"Dia kenapa? Kelihatannya kau panik sekali.."

"Ehehe.. Sebenarnya aku meninggalkannya di tempat Otouto saat aku kesini tadi. Jangan bilang-bilang ya kalau aku sudah bertemu Otouto.. Bocah itu memiliki sedikit emm.. masalah yang tidak akan bisa 'diampuni' Tou-san." Bisik Itachi hati-hati. Deidara yang mengerti dengan maksud Itachi mengangguk mantab.

Setelah Dei menyetujui untuk tidak memberitahukan 'rahasia kecil' ini kepada yang lainnya, Itachi pun menceritakan keadaan yang didapatinya di apartemen Otouto-nya tadi pagi. Yahh.. kalau Itachi tidak menceritakan ini, Dei akan terus menanyakan alasannya berpanik-panik ria. Tentu saja, Itachi hanya menceritakan secara singkat dengan menghilangkan banyak –sekali- bagian.

'Maaf Dei.. Sebenarnya aku mengkhawatirkan keselamatan Otouto dan juga… –Setan Kecil-ku. Aku takut kedua setan itu mengadu kekuatannya…'

.

.

"Baka Aniki?" Tanya Sasuke yang baru saja keluar dari kamarnya. Di tanganya terlipat acak sebuah blouse putih dan rok pendek coklat.

"Begitulah.." gumam Kyuu cuek. Ia menyalakan TV, sementara Sasuke memasukkan pakaian Naruto ke dalam tempat pakaian kotor. Beberapa saat kemudian, dia duduk di samping calon iparnya dengan dua gelas air putih di tangan.

"Bagaimana keadaan Naruto?" gumam Kyuu tanpa mengalihkan pandangannya dari acara gossip yang menayangkan jumpa pers di kantor Uchiha tadi pagi.

"Dia sedang tidur. Jangan khawatir, aku sudah melepas soft lens dan juga wig-nya." Papar bungsu Uchiha panjang lebar. Bagaimanapun juga, Kyuu pasti mengkhawatirkan adik kesayangannya yang menangis dengan mata ber-soft lens.

"Bukan itu maksudku.." Kyuu menghela nafas berat. Tidak biasanya jenius yang duduk di sampingnya lemot.

"Hn. Dia baik."

"Kau berbohong padanya kan?" tebak Kyuubi tiga per empat meleset. Membuat Sasuke nyengir dengan ekspresi yang sangat dipaksakan.

"Kurasa tidak ada yang bohong, tuh.." gumam Sasuke sedikit ragu, "Hanya saja.."

"Hanya saja?" pemuda beriris ruby yang sedang memakan kripik rumput laut itu membeo. Diam-diam ia menangkap ekspresi ragu di wajah si pantat ayam.

.

.

Flash Back – Sasuke's PoV

"Apa yang kau lakukan disini.. –Dobe?" lenganku mencoba membantu gadisku berdiri. Ia terlihat begitu syok dengan apa yang baru saja didengarnya. Ya. Aku yakin dia mendengar semua yang aku dan Kyuubi bicarakan.

"Baiklah.. Aku yang beli jusnya." Ucap Kyuu tiba-tiba. Tangannya segera menyambar uang yang sudah lecek di genggaman Naruto. Seenak jidat, rubah sialan itu melenggang pergi meninggalkanku dan uke manisku.

Kyuubi kampr*t! Bisa-bisanya dia menumpahkan tanggung jawab menenangkan Dobe padaku seorang. Dasar kakak tidak berperi ke-adik-an!

"Katakan.." tubuh dalam dekapanku kembali bergetar, "Katakan semua yang kudengar tadi bohong!"

"Tidak ada yang sedang berbohong Dobe.." gumamku. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku tidak boleh panik, atau semuanya akan kacau.

Naruto-ku menyandarkan tubuhnya padaku, aku dapat mendengar isakan-isakan berat disana. Aku tahu, Dobe menyalahkan dirinya atas ke-tidak bahagia-an Kyuubi. Mungkin juga, dia mulai ragu dengan keputusannya kabur bersamaku. Haahhh.. Dobe memang tidak akan pernah bisa bersikap egois.

Perlahan, kugendong tubuhnya ala bridal. Kubopong sambil kucium lembut pipinya. Aku bisa melihat mata emasnya memerah, membuatku ingin sesegera mungkin melepas benda lunak keemasan itu dari sapphire kekasihku.

"Diamlah sebentar." Kuturunkan tubuh tan kesayanganku di kasur kami. Dia mengangguk pelan menanggapi permintaanku.

Aku mengambilkan tempat soft lens, obat tetes mata dan juga make-up remover milik Dobe-ku. Kusodorkan padanya, lalu memberi isyarat agar dia melepas soft lens-nya. Dia melakukan apa yang kumau dan aku menungguinya dengan hati yang berdebar. Aku yakin, sebentar lagi pemuda yang dulu sering kupanggil 'Usuratonkachi' ini akan segera menghujamku dengan berbagai pertanyaan 'kenapa'.

"Teme.." Panggilnya saat aku menuangkan make-up remover ke sepotong kapas. Kujawab panggilannya dengan 'hn' singkatku.

"H –jelaskan padaku.." pintanya sambil menahan isakan. Kuletakkan kapasku di pahanya, kemudian membuka tutup obat tetes mata berwarna bening keemasan.

"Buka matamu lebar-lebar." Bibirnya berdecak sebal, namun tubuhnya menruti permintaanku. Kuberikan dua tetes obat di masing-masing mata indah kekasihku.

"Sasuke.." rengeknya lagi. Kuberikan isyarat 'sebentar' sembari menutup obat tetes matanya. Kuambil kembali kapas di paha Naruto, kemudian mulai menyibakkan poni coklatnya.

"Dengar," tanganku mulai membersihkan wajah manis kekasihku dari make-up yang menutupi tiga garis halus di masing-masing pipinya, " –aku tahu apa yang kau pikirkan."

"Benarkah.." sapphire-nya menatap lekat onyx-ku. Aku harus meluruskan pemahamannya. Harus! Apapun yang terjadi, aku tidak mau Uke manisku mengurungkan niatnya kabur bersamaku. Pokoknya aku tidak mau dia mengubah pikirannya. Aku dan dia dicipakan HARUS untuk selalu bersama.

"Kenapa kau tidak memberi tahuku tentang hubungan Kyuu-nii dan aniki-mu? Kenapa kau membiarkan aku tidak tahu apa-apa sampai sekarang? Kenapa k-"

"Ssstt.." kupotong kalimatnya dengan telunjuk kiriku. Kutatap lekat sapphire yang telah memikatku itu. Haahhh… Dobe.. Apa kau tidak tahu? Aku takut kau menjauhiku jika kau mengetahui apa yang terjadi antara aniki dan Kyuubi..

Aku menghela nafas berat. Satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini adalah berkata jujur padanya, menunjukkan sisi lemahku, menunjukkan betapa pengecutnya aku.

"Dobe.. Kau menyukaiku sejak lama kan?" kulihat ia mengangguk mantab. Kulempar asal kapas kotor bekas pembersih make-upnya tadi.

"Jika saja saat itu kau tahu hubungan Kyuubi dan aniki-ku, kira-kira kau akan melakukan apa?" dia menunduk diam. Untuk pertanyaan yang ini, aku memang tidak menginginkan jawaban apapun.

"Jika kau tahu baka aniki dan Kyuu putus karena alasan 'seperti itu', apa yang kau lakukan?" jelasku menekankan kata 'seperti itu'. Aku yakin, dia tahu betul apa maksudku.

"Aku.. Aku mungkin akan.."

"Ya. Aku tahu. Bukan 'mungkin' lagi Dobe.. kau pasti akan mencoba sebisa mungkin menjauhiku .. Menanamkan alasan bodoh baka aniki keriput dan Kyuu berpisah ke dalam otak dobe-mu."

"Ck. Otakku tidak dobe! Dasar Teme mesum sialan." Gerutunya dengan muka memerah. Aku yakin analisisku tepat sasaran. Ya.. yaa.. ya.. Kuacuhkan ekspresi ngambeknya itu.

"Kau boleh bilang aku egois atau semacamnya. Yang jelas, aku tidak mau pikiran bodoh seperti itu membuatmu menjauhiku seperti si keriput yang meninggalkan Kyuub –" kupotong kalimatku sendiri saat aku menyadari tatapan dan ekspresi aneh di wajah kekasihku. Damn! Adakah sesuatu dari kalimatku yang salah?

"Jadi.. Kau merahasiakannya dariku hanya untuk alasan seperti itu?" selidiknya menuntut jawaban yang jelas. Aku terdiam memikirkan dengan hati-hati jawaban yang akan kuberikan. Jangan sampai dia salah tangkap.

"Mungkin.." ucapku ragu. Sial! Kenapa aku harus mengucapkan kata 'mungkin' sih? Kata itu akan menjatuhkan kalimatku selanjutnya. Berpikir.. Berpikir Sasuke! Kau tidak boleh terlihat ragu sedikitpun, atau pendirian Naruto akan semakin goyah!

"Mungkin bagimu, itu sebuah 'hanya'. Tapi bagiku.., berada dekat denganmu.. bersamamu.. adalah segalanya."

'deghh'

Jujur, aku terkejut dengan kalimatku sendiri. Begitu juga dengan Naruto. Kulihat sapphire-nya membulat seakan tak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.

"Sa –Sasuke.." bibirnya bergumam lirih. Entah apa maksudnya.. Yang jelas jemarinya kini menggengam tanganku erat.

"OK. Aku egois.. Lalu kenapa? Hanya itu yang bisa kulakukan.." Ucapku dengan nada naik-turun. Aku bisa merasakan emosiku sendiri di setiap kalimat yang terlontar begitu saja dari mulutku. Entah sejak kapan aku jadi emosional begini.

"Aku.. Aku memang hanya bisa mementingkan diriku sendiri." Lanjutku. Damn Sasuke! Apa yang kau lakukan dengan mengucapkan kalimat melas seperti itu! Aaaghhh!

"Maaf.." aku memegang bibirku sendiri. Apa yang baru saja kulakukan? Meminta maaf? Hei! Aku kan tidak berbuat salah.

Kami berdua diam. Aku tidak tahu apa yang Dobe pikirkan saat ini. Aku bahkan tidak tahu apa yang ada dalam pikiranku sendiri. Jemarinya masih saja menggenggamku walaupun kini genggamannya sudah tidak sekuat yang tadi.

"Kau menyebalkan.." gumamnya mengagetkanku. Kutatap lekat sapphire-nya yang berkaca-kaca. Apa aku mengucapkan sesuatu yang menyakiti hatinya? Apa aku terlalu keras melakukan 'itu'? Wait a sec ! Kami tidak sedang melakukan 'itu'…

"Bersamamu.." ia memotong kalimatnya, kemudian menecup keningku singkat, " –juga adalah segalanya bagiku."

Senyum tulus terukir manis di bibirnya. Lain kali, ingatkan aku untuk selalu membawa kamera kemanapun aku berada, karena disanalah akan kulihat ekspresi-ekspresi tak terduga milik Dobe-ku.

"Usuratonkachi." Umpatku sambil tersenyum. Baru saja dia melakukan hal manis yang biasanya kulakukan padanya. Yahh.. Untuk kali ini kubiarkan dia memerlakukanku seperti 'uke'. Menenagkanku .. Membuatku merasa nyaman dengan senyum tulus dan ungkapan-ungkapan manis..

Onyx-ku menangkap wajahnya yang tertawa. Kelihatannya dia tahu apa yang kupikirkan. Aku membalasnya dengan sebuah kecupan di pipinya, membuatnya berhenti terbahak dan menggantikan tawanya dengan wajah blushing yang sangat aku sukai.

"Lepas wig-mu.. Aku tidak suka kau memakai benda aneh itu." perintahku singkat. Aku beranjak dari tempat tidur, membuka lemari pakaian dan mengambil kaos turtle-neck hijau tosca tanpa lengan dan sebuah celana pendek selutut warna coklat tua.

"Aye sir!" serunya menirukan seorang –atau seekor- tokoh berwarna biru dalam anime yang menceritakan tentang kehidupan para penyihir.

"Nee Teme.."

"Hn?" jawabku sambil menutup pintu lemari. Aku melihatnya menaruh wig coklat panjang itu di meja kecil saat aku kembali duduk di kasur.

"Kenapa Kyuu-nii melakukan itu ya.." Tanya Naruto dengan nada yang kembali merendah. Kalau boleh aku menilai, pertanyaannya sama sekali tidak menuntut jawaban.

"Kenapa kau tadi menangis?" aku balik bertanya. Mungkin jawaban yang akan Naru berikan nanti sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan yang tadi ia berikan padaku. Tapi setidaknya, dia akan memahami keadaan Kyuu saat ini.

"Aku.. Seperti merasakan apa yang Kyuu-nii rasakan. Walaupun dia selalu bertingkah cool dan sangar, aku yakin, dia pasti merasakan sakit yang teramat sangat." Jemari tan Naruto mulai melepas kancing blouse-nya satu per satu, kemudian melepas blouse itu dan menaruhnya di kasur. Disusul oleh dalaman 'spesial' yang juga dilepasnya.

Tubuh tan itu lalu berbalik membelakangiku, memberi isyarat padaku untuk membantunya melepas kaitan rok coklatnya.

"Bagaimanapun, Kyuu-nii tidak pernah main-main dengan apa yang dia lakukan." Rok coklat itu merosot dengan sendirinya setelah ia menurunkan resleting yang cukup panjang. Naruto-pun menmbungkuk membelakangiku untuk mengambil rok-nya.

Sial! Posisimu itu Dobe.. Membuatku memikirkan hal-hal yang iya-iya. Aaarggghh!

"Teme kau kenapa?" kurasakan sesuatu mengambil pakaian di tanganku. Matanya melirikku selama dua detik, namun kelihatannya ia tidak ambil pusing dengan ekspresiku. Untung saja…

"Hn. Kupikir, Kyuu juga akan merasakan hal yang sama jika kau 'terluka'. Benar kan?" gumamku mengalihkan pembicaraan. Sepertinya Dobe setuju dengan ucapanku. Terbukti dengan tangannya yang sempat berhenti mengancingkan kancing celananya.

"Tapi.. Aku tetap tidak ingin dia menderita begitu karena aku.." gumamnya kembali duduk di kasur. Neck-turtle tosca yang tadi kuambilkan belum dipakainya. Ya, dia masih ber-topless ria.

"Hn."

"Apa kau bisa hidup bahagia di atas penderitaan orang lain, Teme?" sapphire yang belum kering benar itu kembali berembun. Sungguh. Aku bisa merasakan apa yang kekasihku rasakan saat ini. Tapi aku juga tidak ingin dia menjauh dariku. Kalau bersikap egois bisa membuat Naruto tetap berada disisiku, akan aku lakukan!

"Tidak." Jawabku singkat. Aku masih ingin mendengar pertanyaan yang akan dia lontarkan.

"Apa kau tega, jika orang yang kau sayangi menderita dan menahan sakit yang berkepanjangan?" aku menghela nafas menjawab pertanyaan yang hampir sama ini.

"Aku juga tidak bisa, Teme.. Aku.." ia menunduk. Aku tahu ia mulai menangis.

"Lalu.. Apa yang akan kau lakukan Dobe?" ia mendongakkan sedikit kepalanya, membuat kedua bola mata kami bertemu. Aku menghela nafas sejenak, aku akan mengeluarkan senjata terakhirku untuk menghapuskan keraguan di hatinya. Aku harus melakukannya!

"Apa kau akan meninggalkanku? Memilih untuk berpisah denganku? Membuat aku menderita? Apa itu yang kau mau?" Lagi, aku terkejut. Bukan karena kalimat yang sudah kurencanakan akan terucap, tapi karena nada bicaraku yang kian meninggi di setiap katanya. Jantungku berdetak kencang, emosiku seakan meluap.

Tch. Aku membuang mukaku menghindari tatapannya. Walau begitu, aku masih sempat melihat sapphire-nya yang meneteskan Kristal-kristal bening.

"Teme.." tangan kanannya mencoba meraih wajahku.

"Apa kau.." aku menolehkan wajahku, kembali menghadapi kekasihku yang menatapku dengan wajah basah dan mata berkaca yang tak henti-hentinya mengeluarkan Kristal satu per satu.

" –akan menyianyiakan apa yang telah Kyuubi lakukan?" lanjutku dengan jeda beberapa detik. Kuputuskan untuk diam setelahnya. Yang kulakukan kini adalah merebut neck-turtle tosca dari tangan Dobe dan mulai memakaikan pada tubuh Dobe-chan.

"Hikss… A –aku.."

"Sudahlah.. Lupakan saja yang kukatakan."

-chuu-

Kukecup pelan sudut mata kanannya. Kulakuka hal yang sama pada mata kirinya. Aku tidak ingin dia banyak pikiran.

"Sekarang, tidurlah dulu.. Nanti kubangunkan saat makan malam. Ok?" Gumamku tersenyum. Kubaringkan tubuhnya di kasur, menyisipkan bantal bulu di belakang kepalanya.

-chuu-

Kulakukan rutinitasku sebelum orang yang paling kusayangi ini tidur. Kucium keningnya lembut, memberikan kenyamanan dan rasa aman padanya.

"Temani aku.." rengeknya memeluk lenganku. Ia memaksaku berbaring disampingnya, lalu memelukku erat. Membuatku sulit bernafas dan merasakan kebahagiaan yang teramat sangat pada waktu yang bersamaan.

Apapun yang kau minta, Dobe.. Akan kulakukan.

End of Flash Back – End of Sasuke's PoV

.

.

"Kau bisa juga bersikap emosional?" Tanya Kyuu menahan tawa. Dia tidak menyangka kalau si ayam satu ini bisa sampai terbawa emosi, yang paling tak terduga adalah… Sasuke menceritakan semua itu kepadanya!

"Diam kau." Balas Sasuke singkat.

"Terserah aku dong.."

"Dasar rubah sialan!"

"Ayam."

"Detektif bajakan!"

"Hei.. Hei.. Siapa bilang kau boleh membawa-bawa pekerjaanku, hahh?" Kyuu menatap tajam onyx Sasuke dengan tatapan sebal. Pemuda bermata ruby ini memang tidak suka membicarakan pekerjaan di luar 'jam tugas'.

"Hn."

"Haahh~~ Apa-apaan 'hn'-mu itu.." kali ini tatapan sebal Kyuu berubah menjadi tatapan malas. 'Hn' emuda dongker disampingnya mengingatkannya kepada seseorang. Tangannya melipat asal bungkus kripik rumput laut yang ada di tangannya.

"Hn." Sulung Uzumaki tidak lagi menanggapi gumaman 'gak jelas' pemuda berkulit pucat yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa. Mereka sama-sama tidak tahu akan membicarakan apa.

"Hampir saja aku lupa.." Kyuu ikut menyandarkan tubuhnya di sofa. Jujur, ia merasa mengantuk dan sangat lelah. Bisa dibilang batinnya lebih lelah daripada fisiknya.

"Kakak iparmu hamil tuh.. Datanglah untuk menjenguknya." Sasuke mendengus sebal. Pertama, datang menjenguk Deidara sama dengan pulang ke rumah. Orang bodoh mana yang akan melakukan itu saat sedang 'kabur'? Kedua, bisa-bisanya Kyuubi mengatakan hal se –umm.. menyakitkan (?) itu dengan wajah biasa-biasa saja.

"Kurasa otakmu sudah eror, tidur di kamar sana!" pemuda yang memilih Senju Takagi sebagai nama samarannya ini menunjuk pintu di sebelah pintu kamarnya dengan dagu.

"Tch. Aku akan tidur setelah makan malam. Lagi pula aku tidak akan menyia-nyiakan daging yang sudah kubeli tadi. Takkan kubiarkan ayam sepertimu memakannya."

Pemuda berambut asli hitam itu berdecak sebal. Ingin rasanya ia memukulkan sesuatu ke kepala calon iparnya ini. Kalau saja pemuda satu ini bukanlah sosok yang mendukung hubungannya dengan sang uke, aksi penimpukan pasti sudah terjadi sejak tadi.

"Carikan aku baju sana! Aku ingin mandi."

'twich'

Perempatan merah muncul di jidat Sasuke. Seenaknya saja Kyuubi memerintahnya seperti itu. Memangnya dia siapa? Calon ipar? Ehh.. dia memang caon ipar sih..

"Pilih yang kau suka di meja samping mesin cuci. Ada baju bersih yang belum kupindahkan ke kamar." Gumam pemilik onyx pada akhirnya. Dia tidak mau kalau sampai kakak ehem-ipar-ehem satu ini menyebarkan bau tak sedap di apartment-nya. Bisa marah-marah nanti si Dobe..

"Ok lah..:" jawab Kyuu tak segera beranjak dari tempat duduknya. Hal ini sukses membuat Sasuke bertanya-tanya.

"Apa la –"

"Ngomong-ngomong.." potong si detektif dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ruby-nya menatap Sasuke dengan tatapan menusuk dan memelas pada saat yang bersamaan.

"Kau pernah melakukan 'itu' dengan adikku kan?" bungsu Uchiha tidak menjawab. Kalau boleh jujur, dia sangat syok dengan pertanyaan tak terduga yang ditembakkan langsung kepadanya.

"Sudah kuduga.." komentar Kyuu tanpa menunggu jawaban dari Sasuke. Ia pun mulai beranjak dari tempatnya duduk, meregangkan otot-ototnya, kemudian menatap lagi onyx-sasuke yang belum berkedip sejak tadi.

"Jangan pernah meninggalkannya. Karena itu akan sangat melukai perasaan dan juga…" Kyuu tersenyum miris. Ruby-nya tak lagi menatap onyx Sasuke. Ruby itu melirik entah-apa yang ada di sudut kiri bawah matanya.

" –harga dirinya sebagai seorang laki-laki." Gumam Kyuu sebelum akhirnya meninggalkan pemuda yang sangat mencintai adiknya.

Butuh beberapa detik bagi jenius seperti Sasuke untuk menangkap makna tersirat dari tindakan Kyuubi barusan. Serius! Sasuke tidak menyangka pemuda gahar satu itu akan menanyakan hal intim seperti tadi.

"Dasar rubah. Suka ikut campur urusan orang saja.." gumam Sasuke. Awalnya ia memang tidak menyadari apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Kyuubi. Tapi saat otak jeniusnya ,mengingat senuatu…

'Tunggu! Ekspresi apa itu tadi? Senyum aneh, mata yang melirik arah sudut kiri baw –' Sasuke memotong sendiri ucapan dalam hatinya. Ia mengingat sesuatu yang pernah dibacanya di buku psikologi sewaktu ia iseng-iseng mengisi waktu luang di kampus.

'Tatapan ke arah sudut kiri bawah mata biasanya menunjukkan seseorang sedang mengingat masa lalu yang baginya sangat menyakitkan, atau kenangan-kenangan buruk yang ingin dilupakannya.'

"Kyuubi.. Dia.. Apa aniki pernah –Tidak mungkin!" pekiknya setelah menyadari apa yang terjadi. Tangannya mengepal erat, gigi-giginya berderat seakan ingin memecah kepala anikinya dengan gigitan yang sangat kuat. Kesimpulan yang diambil otak jeniusnya sungguh membuatnya terkejut.

'Baka aniki.. Apa saja yang sebenarnya sudah kau lakukan pada Kyuubi? Jangan katakan padaku kalau..' Sasuke benar-benar marah. Bisa-bisanya baka aniki-nya meninggalkan Kyuu setelah ie melakukan 'itu' padanya. Ingatkan padanya untuk menghajar aniki-nya saat mereka bertemu nanti.

"Brengsek!"

.

'Bodoh! Bagaimana bisa kau beritahukan hal memalukan seperti itu kepada si ayam ingusan!'

'Kyuu bodoh! Sial!' gerutu seseorang di dalam kamar mandi. Ia mendinginkan kepalanya di bawah guyuran shower yang cukup deras dengan temperature air terdingin yang bisa di-set olehnya.

.

.

"Apa kau sudah bertemu Sasuke?" Tanya seseorang berwajah tegas dengan rambut raven kepada putranya yang sedang menyantap ramen daging di depannya. Saat ini mereka sedang berada di salah satu cabang Kedai Ichiraku yang buka di depan KMC.

"Kaa-san menelfonku sebelum aku sempat melakukan itu." gumam Itachi asal. Hanya ia dan hantinya yang tahu maksud dari 'semua itu' yang terlontar dari bibirnya.

"Haahhh~ Aku akan menghukum Otouto-mu saat ia pulang nanti." Gumam Fugaku sebelum akhirnya melanjutkan makan yang sempat tertunda tadi.

"Lalu.. Dimana Kyuubi? Kau tidak bersamanya saat kesini?"

Itachi menggeleng, ia mencoba mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan keberadaan Kyuu saat ini.

"Dia melanjutkan mencari Otouto tanpa aku. Dia bilang dia harus segera menemukan Otouto dan juga Naruto, lalu membawa mereka pulang.." gumam Itachi sedikit membelokkan fakta.

"Baguslah.. Lanjutkan makanmu, lalu kita akan segera kembali. Jangan sampai Dei menunggumu terlalu lama.

"Ha'i, Tou-san.."

Mereka melanjutkan kegiatan makan malam itu dengan tenang. Kedua Uchiha itu sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang sedari tadi menguping dan merekam pembicaraan mereka.

'Aku mendapatkan berita bagus, Tuan Orochimaru.' Batinnya mengeja email yang akan dikirimnya pada seseorang yang sangat dikaguminya.

.

.

"Kalian ini kenapa sih?" gerutu pemuda berambut pirang jabrik yang kini memakai kaos oblong abu-abu dan celana pendek dengan warna senada. Sapphire-nya mengamati sang kekasih yang sedari tadi terlihat sebal, dan juga kakaknya yang terlihat santai menyantap sup daging.

Sungguh suasana ini membuatnya canggung. Sasuke yang biasanya –sok- cool malah menggerutu dan tak henti-hentinya menghujam Kyuubi dengan onyx tajamnya. Sedangkan Kyuu? Tentu saja ia cuek…

"Uchiha Sasuke! Uzumaki Kyuubi! Katakan apa yang terjadi disini!" teriak cowok termuda di meja makan itu. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan perang dingin yang terjadi antara kakak dan juga kekasihnya.

"Tanyakan pada kakakmu." Gumam Sasuke sambil menyantap sup tomatnya rakus. Onyx-nya terus saja melirik sebal ke arah pria sok innocent yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kyuu-nii…?" yang ditanya hanya mengangkat kedua bahunya. Toh Kyuu benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi pada ayam milik adiknya itu. Tadi saat dia selesai mandi, ayam itu tiba-tiba saja berubah galak dan memintanya untuk telanjang saat itu juga. Hell Yeahh! Tentu saja Kyuubi tidak mau melakukannya.

"Jangan berpura-pura innocrnt! Kau memakai baju kesukaanku! Dasar sial! Lepas bajumu sekarang juga!" Sasuke mengacungkan sendok di tangan kanannya. Wajahnya terlihat tak mampu lagi menahan amarah.

Perkataan jujur Sasuke tentu saja membuat Kyuubi ber-sweat drop ria. Bisa-bisanya jenius seperti Sasuke ngambek hanya karena baju kesangannya dipakai orang lain. Sungguh! Bahkan kemampuan menganalisis kasus yang dimiliki Sang Detektif tidak memasukkan fakta aneh penyebab Uchiha bungsu marah-marah ke dalam daftar kemungkinan miliknya.

"Kyuu-nii.. Kenapa kau memakai baju kesukaan Teme?" Tanya Naruto sok bijak, mencoba menengahi permasalahan ini.

Kyuubi mengangkat sebelah alisnya. Ia mengamati pakaian yang dipakainya sendiri. Sebuah kaos turtle-neck dongker lengan pendek dan celana pendek putih. 'Baju ini favorit si ayam?'

"Ayam itu sendiri yang bilang aku boleh memilih baju yang kusuka. Well, walau sejujurnya aku tidak menyukai baju ini sih.. Tapi mau bagaimana lagi? Hanya baju ini yang layak untuk kupakai. Baju yang satunya akan mengekspose dada jika dipakai. Aku tidak sudi mengenakannya.." tutur sulung Uzumaki kelewat santai. Ruby-nya sama sekali tidak lepas dari sup daging yang disantapnya.

"Harusnya kau tetap bertanya dulu padaku! Itu kan pemberian Dobe yang paling kusu –" Sasuke memotong kalimatnya sendiri. Ia membuang mukanya ke arah kanan, menembunyikan semburat merah di pipi alabaster-nya.

Kyuubi membuang nafas berat. 'Jadi ini alasan si ayam sampai ngambek. Baju ini pemberian Naruto..'

"Baiklah.. Naruto. Pinjami aku bajumu. Pastikan itu bukan baju wanita, dan harus muat kupakai." Kyuubi beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kamar mandi, lalu masuk ke dalamnya. Naruto yang masih loading dengan apa yang terjadi hanya menatap punggung kakaknya tanpa melakukan apapun.

"Hei Bocah! Kau ingin aku keluar dengan keadaan telanjang atau apa?" teriak sebuah seuara dari kamar mandi. Suara itu terdengar begitu kesal dan tidak sabar.

"Tch.. Dasar Kyuu-nii menyebalkan!"

"Biar aku saja.." Sasuke mencegah kekasihnya yang akan beranjak. Ia langsung berdiri dan masuk ke kamarnya untuk mencari pakaian yang akan dipinjamkannya kepada Kyuubi.

"Apa sih yang sebenarnya terjadi pada mereka? Aneh.." gumam satu-satunya pemuda yang masih berada di meja makan itu. Merasa tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi, Naruto pun memilih untuk diam dan melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.

"Kau beruntung.. Karena ada kakakmu, malam ini aku tidak akan 'menghukummu'.." bisik suara angin di telinga kiri Naruto tiba-tiba, membuat kulit tan pemuda bermata sapphire itu merinding disco. Dengan gerakan patah-patah ia pun menoleh..

'dehgg'

Tidak ada sosok Teme disana. Yang ia lihat hanyalah tembok bersih tanpa sedikitpun noda terlihat. 'Barusan itu apa..? Mana Teme? Itu tadi Sasuke kan…?'

Naruto terdiam beberapa saat sebelum akhirnya,

"Huweee… A –ada hantuuu!" teriak Naruto keras-keras. Ia memang paling takut dengan sesuatu yang berbau mistis. Apalagi, pengalaman mistis barusan ia alami sendiri.

'braakkk!'

"Apa? Kau kenapa?"

Terdengar suara pintu dibuka paksa, disusul dengan sebuah teriakan panik dari sang pelaku pembuka paksa.

"Naruto.. Kau tidak apa apa kan? Kau melihat apa? Katakan padaku!" sosok berambut orange yang hanya memakai boxer terlihat mengguncang-guncangkan tubuh tan pemuda berbalut kaos abu-abu.

"A –aku.. Mendengar itu.. Itu.. Huweeee…"

"Tenanglah.. ada aku disini.." Kyuu memeluk adiknya yang terlihat begitu syok. Sapphire yang membulat penuh, wajah pucat, tubuh yang hampir kaku membeku.. Naruto pasti benar-benar ketakutan.

"Rubah brengsek.. Hati-hati kalau lari." Gumam Sasuke yang tiba-tiba muncul dari arah Kyuu datang tadi. Bajunya terlihat berantakan, tangan kanannya meremas sebal pakaian yang akan dipinjamkan kepada Kyuu, sementara tangan kirinya mengusap kasar jidatnya sendiri.

"Diam kau! Naruto sedang ketaku –"

"Itu tadi aku.. Salah sendiri reaksinya lambat. Jadinya aku memutuskan untuk per .." Sasuke membatin lanjutan kalimatnya. Sepertinya keputusan untuk mengakui kegiatan iseng-isengnya itu kini berhadiah pelototan tajam dari sang calon ipar. Poor Sasu..

"Ok.. Ok.. Aku salah." Tubuh alabaster itu berjalan mendekati tubuh Naruto yang masih terduduk dan berada dalam dekapan kakaknya.

"Maaf ya Dobe sayang…" bisik Sasuke lembut. Lengannya mencoba merengkuh tubuh tan sang kekasih. Sayang sekali Dewa Jashin sedang tidak berpihak padanya. Kyuubi yang merasa kesal dengan calon adik iparnya yang kurang ajar itu memilih untuk menyingkirkan tangan Sasuke.

"Bereskan meja makan sana! Aku yang akan menemani adikku. Takkan kubiarkan manusia nista sepertimu memanfaatkan keadaan ini." Kyuubi merebut pakaian di tangan kanan si bungsu Uchiha. Dengan gaya cool dan gagah. Tubuh topless proporsoinal itu membopong tubuh adiknya, lalu membawanya masuk ke kamar Sasuke.

"Kyuu! Kembalikan kekasihku! Hei!" teriak satu-satunya seme di apartment itu. Baru saja ia ingin menerobos masuk ke kamarnya sendiri sebelum akhirnya ia mendengar teriakan mengancam dari dalam sana.

"Sekali kau langkahkan kakimu masuk kesini, aku tidak akan membantumu menyelesaikan masalah ini."

Skak Matt. Sasuke tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti perintah Kyuubi sialan. Yahh mau bagaimana lagi? Memang dirinya yang telah memulai insiden kecil gak jelas ini. Poor Sasu..

'Damn! Aku harus tidur sendirian sementara Kyuu sialan itu tidur bersama Dobe-ku!' gerutu pemuda berwajah OK itu dalam hati. Ia mengerjakan tugas beres-beres pasca makan malam dengan wajah ditekuk-tekuk.

Bisa-bisanya calon kakak iparnya melakukan hal kejam seperti ini padanya. Apa-apaan ini? Diperbudak oleh tamu yang datang kerumahmu bukanlah hal yang menyenangkan. Dan itulah yang sedang dirasakan Sasuke saat ini.

Ratapan Anak Ayam…

Selesai mengerjakan tugas rumah yang biasanya dikerjakan kekasihnya, atau kadang dikerjakannya berdua dengan kekasihnya, Sasuke memutuskan untuk nonton TV sebentar. Yahh.. Siapa tahu ada film bagus malam ini.

'cklekk'

Tanpa menoleh pun Sang Uchiha sudah tahu siapa yang keluar dari kamarnya. Pria menyebalkan berambut orange katrok!

"Sudah pernah kubilang kan.. Jangan menyakitinya." Gumam sebuah suara dibarengi dengan seekor makhluk mencurigakan yang duduk di samping si empunya apartment. Ruby makhluk mencurigakan itu menatap tajam layar gadget di tangannya. Jemarinya sesekali menyentuh touch screen dan memilih 'berita' yang ingin dibacanya.

Sasuke terdiam. Walau iseng-iseng tadi bukan termasuk dalam kegiatan 'menyakiti', tetap saja Naruto hampir menangis gara-gara hal itu.

"A –"

"Minta maaf padanya besok pagi." Potong pemuda yang sudah memakai polo marun dan celana hitam sebelum pemuda berambut dongker disampingnya sempat mengucapkan kata-kata.

"Hn." Gumam Sasuke mengerti. Ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sofa. Sepertinya malam ini pemuda yang terkenal stoic itu akan tidur di sofa saja. Ia sedang menghindari sesuatu.

Kyuubi menghela nafas menyadari alasan terbesar Sasuke tidur terpisah dengan Naruto. Seme itu pasti tidak ingin terbawa naf – maksudku, 'keinginan' dan melakukan hal yang iya-iya dan membuat Kyuubi mendengar suara-suara aneh dan mendapat amukan dari si rambut orange gara-gara itu. Sasuke tidak mau mengambil resiko mengerikan macam itu.

Kyuu masuk ke kamar nganggur yang Sasuke sediakan untuknya. Beberapa saat kemudian, ia berdiri di ambang pintu kamar dan melemparkan sesuatu tepat ke wajah si mata onyx.

"Setidaknya pakailah selimut.. Jangan sampai kau sakit." ucap Kyuu sebelum kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

'Terima kasih..' Sasuke tersenyum. Calon kakak iparnya memang iblis berhati malaikat. Ia pun memakai selimut itu dan mulai memejamkan matanya.

.

.

"Brengsek! Bakoro sialan!"

"Bangun Ayam! Lihat ini! Kau dalam bahaya!"

"Ghh…" gumam pemuda berkulit putih setengah tertidur. Ia merasa sangat terganggu dengan teriakan-teriakan heboh yang berasal dari satu orang.

"Mana? Diamana?" Sasuke merasa semakin tidak nyaman manakala tangan Kyuubi menggrepe-grepe tubuhnya mencari sesuatu.

"Gaahhh! Apa yang kau lakukan?" teriak bungsu Uchiha frustasi. Tubuhnya langsung terduduk, tangannya mengacak rambut asal.

"Ketemu." Gumam Kyuu mengabaikan pemuda yang lebih muda darinya itu. Yang penting saat ini adalah dia sudah menemukan remote TV yang ternyata berada di bawah punggung Sasuke saat ia tidur tadi.

"Baca!" Kyuu melempar android-nya ke tangan Sasuke, memaksa onyx yang belum terbuka penuh itu untuk membaca sebuah pesan singkat dari seseorang ber'nama' Keriput.

Sementara itu, jari-jari Kyuu menncoba menyalakan TV.

"Bungsu dari pemilik perusahaan Uchiha melarikan diri dengan membawa Uzumaki Naruto, putra pemilik perusahaan Uzumaki, bersamanya. Berita yang selama ini beredar sepertinya adalah sebuah fakta yang berusaha ditutup-tutupi oleh keluarga dari kedua pemuda paling didambakan di Konoha ini. Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto ternyata adalam pasangan sesame jenis yang …"

'deghh'

Berita yang baru saja didengar bukan hanya membangunkan Sasuke secara penuh, tapi juga membuat kedua onyx pemuda itu hampir lepas dari tempatnya. Bagaimana bisa berita seperti itu beredar kembali?

" –Pemilik majalah Sneaky Boy mengaku bahwa dirinya memiliki bukti otentik tentang berita tersebut. Dan Majalah Sneaky Boy hari ini membahas khusus tentang kedua pemuda populer tersebut, dan juga fakta hubungan terlarang mereka. Mari kita tanyakan bersama-sama mengenai kebenaran berita ini kepada yang bersangkutan.."

Di layar televise, terlihat seorang wanita berambut hitam ber-soft lens merah mewawancarai pria berambut hitam bermata kuning tajam. Kesamaan dari kedua orang yang ada di layar TV itu adalah, mereka berdua sama-sama memakai eye shadow ungu.

"Aku mendengar sendiri dari Uchiha Itachi dan Uchiha Fugaku. Walaupun percakapan mereka terdengar biasa saja.. Namun bila dikaitkan dengan sikon sekarang ini. Kita pasti akan mengambil kesimpulan yang sama… Ahh ini dia rekamannya."

Pria paruh baya berkulit terlampau pucat itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil, kemudian memencet sebuat tombol.

'Apa kau sudah bertemu Sasuke?'

'Kaa-san menelfonku sebelum aku sempat melakukan itu.'

'Haahhh~ Aku akan menghukum Otouto-mu saat ia pulang nanti. Lalu.. Dimana Kyuubi? Kau tidak bersamanya saat kesini?'

'Dia melanjutkan mencari Otouto tanpa aku. Dia bilang dia harus segera menemukan Otouto dan juga Naruto, lalu membawa mereka pulang..'

'Baguslah.. Lanjutkan makanmu –'

"Brengsek! Itachi bodoh! Fugaku bodoh!" Kyuu membanting remote TV ditangannya. Bagaimana bisa Uchiha yang terkenal jenius itu membicarakan hal se-rahasia ini di tempat umum?

"Kalian dalam bahaya.." gumamnya melirik Sasuke yang masih terpaku pada layar TV. Sesaat, pemuda bermata onyx itu tidak bereaksi apapun. Pikirannya menerawang jauh ke depan. Berita ini beredar dengan bukti yang sebenarnya tidak begitu mendukung, namum media tentu akan menghubung-hubungkan semuanya menjadi berita yang terlalu panas untuk didengar. Dapat dipastikan bahwa ayahnya akan semakin gencar mencarinya dan semakin ingin mencetak dirinya seperti apa yang dia inginkan. Kesimpulannya, Sasuke dan Naruto akan dipisahkan secara paksa.

"Kyuu. Kau berjanji akan membantu kami kan..? Kami akan baik-baik saja kan..? Katakan bahwa Naruto akan tetap bersamaku..!" rengek Sasuke tiba-tiba. Entah apa yang terjadi padanya. Ia terlihat begitu ketakutan.

"Kau.." ruby Kyuu bergetar tak percaya melihat onyx Sasuke yang seolah tak lagi memiliki sorot keangkuhan yang slalu dibanggakan itu.

"Berjanjilah padaku…."

.

.

TBC

.

.

Ahahahah XDDD

Akhirnya setelah sekian lama ngaret.. Fic ini bisa lanjut juga #digaplok readers.

Untuk tatapan mata Kyuubi, Kyuu (pengetik) dapet fakta itu dari guru biologi Kyuu waktu SMA. Beliau bilang tatapan mata ke sudut kiri bawah = mengingat masa lalu yg buruk/ ingin dilupakan. Tatapan mata ke sudut kanan atas = membayangkan masa depan / sesuatu yang indah.

Moga chap ini lebih OK. Kyuu rencanain sebuah adegan menyakitkan di chap depan :D

Siapakah yang akan tersakiti? Siapa yang menyakiti? Apakah SasuNaru akan tetap bersama sampai maut memisahkan mereka?
Mari kita bales review saja XDDD

.

Yashina Uzumaki: Hahahahah :D

Maaf yah ngaret lama :3
Kyuu ujian sih kemaren..

Moga chap ini menghibur ya :3

Iya tuh Dei hamil.. Moga aja yang lahir besok bukan bundelan tanah liat *plaakk~~

Btw, thanks 4 rev ya :3

.

Uchizuki Renmay: SasuNaru..
Nasipnya gimana yaaaa ^^

Hahahahhhhh XDDD

Liat aja chapter2 berikutnya :3

Terima kasih….

.

Nasumi-chan Uharu: Yupp ini lanjut :D

Tapi maaf ya lama banget : (

Semoga chap ini menghibur…

Terima kasih banget : )

.

Rosanaru: Soal Miracle..

Sasuke yang akan mencoba menciptakan miracle..

Upss.. keceplosan 0,0

Hahahahh XDDD

Arigato buat review ya :D

.

Imperiale Nazwa-chan: Sebenernya yang mutusin buat berkorban sih Cuma Kyuubi aja … Itachi sih taunya nurut sama Fugaku buat nikahin Dei :3

Waktu diputusin tuh Kyuu mikir, ketimbang dia struggle n' ga dapet apa2.., mending dia lepas Itachi dengan harapan beban Sasuke nantinya ga akan seberat dirinya dan Itachi. jadi Sasuke bisa tetep ber-egois ria buat tetep sama-sama Naru deh XDDD

Btw, Arigatoooooo

.

TemeDobe: banyak yang minta Naru hamil ya :D

Gimana yaaa….
besok kita liat yah :3

Btw, terima kasih udah review dan sekarang review lagiii *peluk2 TemeDobe-san

.

namikaze malfoy: Maaf banget untuk keterlambatannya *bungkuk2

iyappp! Itachi kelaut aja :3

Kyuu emang sayang Naru :*

Ahh senengnya jadi Naruto.. Banyak yang sayang

Btw, terima kasih yaaa

.

HaikuReSanovA: Iya lama *bungkuk2

Kyuu ujian soalnya..

Semoga aja SasuNaru ga pisah… Kyuu (pengetik) juga ga mau kalo pengorbanan Kyuu (masnya naru) sia-sia

Mnari berdoa bersama-sama :3

Terima kasih banget yaaa

.

Rose: maaf lama :3

Kyuu kemaren ujian…

Kita lihat nanti saja ya :D

Btw, arigatooo

.

.

Akhirnya selesai bales review :3

Buat chap2 selanjutnya.. Ga akan telat lagi XDDD

Kyuu janji, soalnya banyak jam masuk siang sih semester ini :p

.

Akhir kata..

REVIEW please (-/|\-)