"Kalian dalam bahaya.." gumam Kyuubi melirik Sasuke yang masih terpaku pada layar TV. Sesaat, pemuda bermata onyx itu tidak bereaksi apapun. Pikirannya menerawang jauh ke depan. Berita ini beredar dengan bukti yang sebenarnya tidak begitu mendukung, namum media tentu akan menghubung-hubungkan semuanya menjadi berita yang terlalu panas untuk didengar. Dapat dipastikan bahwa ayahnya akan semakin gencar mencarinya dan semakin ingin mencetak dirinya seperti apa yang dia inginkan. Kesimpulannya, Sasuke dan Naruto akan dipisahkan secara paksa.
"Kyuu. Kau berjanji akan membantu kami kan..? Kami akan baik-baik saja kan..? Katakan bahwa Naruto akan tetap bersamaku..!" rengek Sasuke tiba-tiba. Entah apa yang terjadi padanya. Ia terlihat begitu ketakutan.
"Kau.." ruby Kyuu bergetar tak percaya melihat onyx Sasuke yang seolah tak lagi memiliki sorot keangkuhan yang slalu dibanggakan itu.
"Berjanjilah padaku…."
.
.
There's No Regret in My LIfe –
Sequel of "There's No Next Time"
Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story: KyuuRiu
Pair: SasuNaru (main)
ItaKyuu
ItaDei (Dei disini cewek)
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort - Romance
Part 4: I Want Him to be Happy
Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget
.
.
"Dobe.. Sudah kau beli semua yang Kyuubi minta?"" seorang pemuda berambut dongker menyambut seorang gadis berambut coklat panjang dengan mata keemasan yang masih terlihat bingung. Tadi saat dia baru bangun, Sasuke langsung memintanya bertransformasi menjadi seorang gadis dan memebeli beberapa barang yang telah ditulis Kyuubi pada secarik kertas.
"Sudah semua.. Berbagai macam cat air, cat minyak, tinta parker, kuas dan kanvas., juga cat rambut hitam.. Untuk apa semua ini Teme?" pertanyaan si gadis mendapat hadiah anggukan singkat dari sang kekasih. Sungguh! Apa yang diminta Sasuke dan Kyuubi membuat Naruto yang nyawanya belum genap 100% itu bingung. Bahkan saking paniknya pagi ini, Sasuke lupa bahwa ia dan Naruto sudah memiliki beberapa peralatan melukis.
"Aku sudah menghubungi Sakura. Dia mau bekerja sama dengan kita." Gumam Kyuu yang sedari tadi duduk di sofa dan asik dengan beberapa gadget di hadapannya. Android, i-phone, tab, laptop, semuanya dalam keadaan on line. Sasuke bahkan tidak menyangka tas slempang yang dibawa Kyuu sewaktu datang kemarin ternyata berisi gadget sebanyak itu. entah kenapa Kyuubi membawa banyak barang yang memiliki fungus hampir sama. Yang jelas, bagi Kyuu, masing-masing gadget itu memiliki tugasnya masing-masing.
"Sakura? Sakura calon tunanganmu itu? Ada apa dengannya Teme?" Naruto yang masih sibuk dengan kebingungannya hanya dapat bertanya-tanya pada Sasuke yang kini mulai sibuk membuang-buang isi cat air dan mengotori kuas, kadang ia menggoreskan entah-apa di kanvas yang dibelinya.
Tidak ada satupun dari kedua pemuda dihadapan Naruto yang mau menjawab pertanyaannya. Kyuubi sibuk dengan gadget-gadget-nya sementara Sasuke sibuk dengan kegiatan membuang-buang tinta dan cat air-nya.
Naruto diam mematung di depan sofa. Ia larut dalam pikirannya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kakak dan kekasihnya bertingkah seperti ini? Apakah hal itu sangat penting sehingga membuatnya diacuhkan? Lalu, kenapa ia tidak diberitahu?
"Apa ya –"
"Dobe, please… Lepas semua atributmu, lalu akan kujelaskan semuanya. Ok?" potong satu-satunya Uchiha di ruangan itu sebelum Naruto sempat bertanya lagi. Melihat ekspresi kekasihnya yang begitu tak biasa, Uzumaki bungsu mengangguk dan melakukan apa yang kekasihnya inginkan.
Sosok gadis itu pun melepas semua yang melekat pada tubuhnya, kecuali kalung berbandul Kristal biru pemberian Sasuke. Saat memakai pakaian normalnya, Naru samar-samar bisa mendengar pembicaraan Kyuubi dan kekasihnya.. Walaupun Naruto tidak sepenuhnya paham, sedikit-banyak pemuda bernama samaran Senju Haruhi ini mulai mengetahui situasi yang sedang dihadapinya sekarang.
"Kurasa cukup." Gumam Sasuke menghentikan aksi melukis asal yang sedari tadi dilakukannya. Matanya mulai melirik kardus berisi cat rambut yang dibelikan Dobe tercintanya. Baru saja ia ingin meraih cat rambut itu, tapi Naruto malah mendahuluinya.
"Biar aku saja. Kau bisa membantu Kyuu-nii." gumam si rambut pirang sambil tersenyum. Ia mencoba sebisa mungkin menjadi orang yang berguna bagi kedua pemuda yang sangat disayanginya itu.
"Terima kasih.." gumam Sasuke singkat. Ia pun duduk di samping Kyuubi dan mengambil tab. I-phone Kyuu berdering saat jemari sasuke mulai meggeser pelan touch screen tab.
"Moshi-moshi." Sasuke mengangkat panggilan itu. Kyuubi yang masih asik dengan email dan chat membiarkan calon adik iparnya menghandle i-phone.
"Ano.. Kyuubi-san. Mungkin aku punya sesuatu yang bisa membantu."
"Benarkah? Katakan padaku, Sakura.." pekik Sasuke mendengar suara yang tak asing baginya itu. Suara Sakura..
"Sasuke-kun? Kau kah itu?"
"Ya.. Aku." Gumam Sasuke. Naruto yang baru tiba di sofa dengan mangkuk plastic kecil berisi cat rambut yang sudah dicampur merasa cemburu. Bagaimanapun juga, Sakura adalah mantan calon tunangan Sasuke.
"Begini.. Sebenarnya saat ini aku sudah jadian dengan Sai. Mungkin itu bisa membantu.." mata Naruto berbinar mendengar percakapan yang di-loud speaker ini. Berarti Sasuke tidak ada main dengan Sakura. Thanks to Jashin-sama.
"Sai? Senpai-ku di universitas?" Sasuke memberi isyarat kepada kekasihnya untuk segera mengecat rambut dongkernya. Merasa tidak punya kegiatan lain, pemuda berambut blonde pun menurut.
"Ya. Kau bisa katakan apapun yang kau mau. Selama itu tidak merugikanku, aku akan meng-iya-kan pernyataanmu. Sai juga mau membantu." ucap Suara di seberang sana. Dari nada bicaranya, Sakura terdengar benar-benar tulus. Tanpa disadari oleh siapapun, Sasuke tersenyum simpul.
"Terima kasih, Sakura. Maaf merepotkanmu." Gumam Sang Uchiha. Dia merasa beruntung, gadis yang ditolaknya untuk bertunangan dengannya adalah Sakura, bukan gadis lain.
"Tidak.. Harusnya aku yang berterima kasih. Kalau kau tidak membuat keributan saat itu, mungkin Sai tidak akan pernah menyatakan perasaannya padaku.. dan aku akan selalu berpikir bahwa ia tidak menyukaiku.. Anggap ini sebagai ungkapan rasa terima kasihku." gumam Sakura sambil terkikik geli. Sungguh. Banyak sekali yang telah ia alami setelah malam pertunangan yang gagal itu, dan semuanya berakhir bahagia untuknya.
"Hn.."
"Baiklah.. Semoga berhasil, Sasuke-kun. Sampaikan salamku untuk kekasihmu ya.. Bye.." Sasuke merasa tidak perlu menanggapi permintaan Sakura. Toh Naruto mendengar semua percakapan mereka.
'cklek'
Tangan alabaster bungsu Uchiha menaruh i-phone itu di meja, helaan nafas lega terdengar, baik dari mulut Kyuubi maupun Sasuke.
"Nah.. Sekarang bisakah kalian menjelaskan padaku apa yang sedang terjadi?" gumam si pemuda blonde. Tangannya masih sibuk mengecat rambut Sasuke, berusaha mengubah warnanya menjadi warna yang seperti semula.
"Salah seorang wartawan merekam percakapan kedua Uchiha bodoh di warung ramen." gerutu Kyuu tanpa mengalihkan ruby-nya dari layar gadget. Perkataan ini sukses membuat sapphire Naruto melirik wajah kekasihnya.
"Bukan aku.." dengus Sasuke. Matanya membalas lirikan Naruto dengan tatapan super sebal. Heaven Yeahh! Uchiha Sasuke adalah Uchiha ter-jenius abad ini.
"Hei! Mereka akan mengadakan klarifikasi besok malam. Saat ini mereka –" Seru sulung Uzumaki. Wajahnya terlihat ditekuk-tekuk begitu ruby-nya merangkai huruf-huruf di baris terakhir chat di layar Android-nya., "Tch!"
Sapphire Naruto melirik layar Android yang memunculkan tampilan w*atsapp itu, 'Hari ini semua orang datang untuk melihat keadaan Dei di rumah. Datanglah untuk menjenguk. Jangan biarkan ketidak-beradaanmu menjadi sebuah berita baru..'
Awalnya Naruto ingin bertanya mengenai keadaan Deidara. Ada apa dengannya? Kenapa semua orang datang untuk menjenguknya? Apakah dia sakit? Kenapa Pein mengirim chat seperti itu? Apa isi percakapan yang terekam oleh media? Tapi saat matanya menangkap ekspresi lain dari wajah kakaknya, saat itu juga ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Naruto. Sasuke.. dengarkan baik-baik. Pastikan tidak ada yang terlewat. Aku akan selalu bertukar informasi dengan Pein dan seorang lagi, untuk memastikan kondisi disana cukup aman. OK?" melihat anggukan dari kedua pemuda disampingnya, Kyuubi menghela nafas panjang dan mulai memberitahukan rencananya. Sasuke yang biasanya berperan dominan dengan otak jeniusnya pun larut mendengarkan dengan seksama. Toh.. untuk hal macam ini, Kyuubi lebih berpengalaman darinya.
"Begini rencananya…"
.
.
"Tch! Aku tidak menyangka kalian sebodoh itu." suara pria paruh baya berpakaian kemeja warna salem terdengar meninggi. Kedua pria Uchiha dihadapannya masih terlihat angkuh. Lupakan soal Itachi yang sesekali mengalihkan pandangannya ke arah samping dengan sorot melas dan penuh rasa bersalah.
"Sekarang. Katakan padaku apa yang akan kalian lakukan…" pria yang sedari tadi mondar-mandir itu pun memutuskan untuk duduk di sofa, menghadap kedua Uchiha super bodoh dihadapannya.
"Bukankah kau sudah diberi tahu kalau besok malam akan ada ko –"
"Kau pikir media akan percaya begitu saja, hahh? Apapun yang kau katakan besok, tidak akan banyak mengubah berita yang sudah keluar hari ini. Apalagi lawanmu adalah Orochimaru. Dia tidak akan segan untuk mendorongmu ke jurang." Potong pria Namikaze cepat. Ia tidak suka dengan sikap rivalnya yang sok tenang itu. Munafik!
"P –paman.. Bisakah kita bicarakan ini baik-baik..?" usulan Itachi mendapat death glare dari ayah kandung Naruto. Azure-nya seakan menajam dan menghancurkan onyx Itachi.
"Tch.. Kalian para Uchiha memang sama saja. Terlalu egois dan mau menang se –"
"Dengar Minato. Kau pikir kau saja yang panik? Kau pikir aku tidak sedang memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini? Diamlah dan biarkan otakku berpikir!" suara Fugaku naik 2 oktaf. Situasi ini benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Tch!" decih pria Namikaze di hadapannya. Ini bukan kali pertama berita bahwa Sasuke dan Naruto adalah pasangan sesame jenis yang kabur mencuat di media. Tapi tragedi warung ramen semalam membuat bertitanya semakin kuat, apalagi Orochimaru yang memunculkan bukti ambigu untuk berita kali ini. Sudah pasti.. pemilik majalah Sneaky Boy itu dapat dengan lihai mengolah kalimat ambigu Itachi dan menjadikannya sesuatu yang dapat menghasilkan uang.
'drrrttt..'
I-phone Itachi bergetar. Ia segera membuka pesan dari seseorang yang sudah pasti akan memarahinya habis-habisan.
.
From: Setan kecil
Keriput brengsek! Lakukan jumpa pers di rumahku. Ajak semua orang.
Katakan apa saja yang bisa membuat acara sialan itu berlangsung lama.
.
Itachi mengeryitkan dahi. Bukankah Kyuu tahu bahwa keadaan Deidara sedang tidak baik? Kenapa malah meminta semua orang pergi ke rumahnya?
"Ada apa?" Tanya Fugaku. Onyx-nya masih memancarkan sorot sebal.
"Pesan dari Kyuu. Tapi aku tidak mengerti apa maksudnya." Tangan pucat Itachi menyodorkan i-phone miliknya, menarik perhatian Minato untuk segera duduk di samping Fugaku dan ikut membaca isinya. Membuat pemilik resmi perusahaan Uchiha itu berdebar sebal.
"Hu –"
"Telfon dia." Gumam pria bermata azure memotong perkataan Fugaku. Aksi ini sukses menambah besar kobaran api diantara kedua pemilik perusahaan besar itu.
Itachi menghela nafas. Ia melepas ikatan longgar di rambutnya, kemudian segera mengadakan panggilan ke si pengirim pesan.
"Apa? Aku sedang sibuk." lagi-lagi suara sebal Kyuu yang menyambutnya.
"Paman Minato ingin bicara padamu." Telunjuk alabaster itu meneken icon loudspeaker. Memungkinkan kedua pria paruh baya dihadapannya mendengar percakapan mereka.
"Kyuu. Kau dimana?" suara Minato terdengar panic. Mimic wajahnya menunjukkan ekspresi yang sama. Bagaimanapun juga, Itachi belum memberitahukan kepada siapapun –kecuali istrinya- bahwa mereka sudah bertemu dengan SasuNaru.
"Duduk di sofa, mencari informasi dan menyusun rencana." Gumam suara di seberang sana datar.
"Hei, Bocah. Apa maksudmu meminta kami mengadakan jumpa pers di rumahmu? Kau tidak tahu Deidara sedang tidak sehat?" kali ini Fugaku yang bertanya.
"Tuan Besar Uchiha. Aku hanya memikirkan keadaan menantumu itu. Mungkin Anda bisa menggunakan otak jenius anda untuk berpikir. Bukankah terlalu banyak orang akan membuatnya merasa tidak nyaman? Dei yang punya keinginan untuk ikut dalam acara itu pasti akan berusaha melihat keadaan kalian. Yahh.. Walaupun rumahmu sangat besar, selama itu ada dalam satu rumah.. Kurasa dia akan tetap bersi keras. Dan Anda pasti tahu apa yang akan dilakukannya kan?" seseorang yang duduk disamping Kyuu mengeryitkan dahi. Kelihatannya bukan itu alasan Kyuu meminta jumpa pers diadakan di kediaman Uzumaki, dan lagi.. Kalimat-kalimat yang diucapkan Kyuu terdengar tidak sinkron di telinga. Ahh masa bodoh.
'Kyuu.. Kau…' Onyx Itachi berbinar. Benarkah apa yang diucapkan Kyuu tadi?
"Akan kuminta Pein memberi tahukannya kepada me –"
"Tidak perlu repot-repot. Aku sudah memberitahunya." Lagi-lagi ucapan Fugaku dipotong begitu saja. Kali ini oleh seorang pemuda jenius yang kelihatannya sangat membenci dirinya. Ahh.. Andai saja mereka tahu, Kyuu membenci segala sesuatu yang berbau Uchiha.
"Ck. Hati-hati Dobe.. Kau bisa mengotori bajuku. Lakukan dengan benar!"
"Ghh.. Aku berusaha melakukan sebaik yang kubisa Teme. Tanganku hanya dua. Aku tidak bisa menyentuh semuanya sekaligus.."
Ketiga pasang mata di ruang kerja Fugaku saling bertukar pandang mendengar percakapan samar dari i-phone Itachi. Baru saja mereka ingin bertanya, tapi..
"Jangan banyak bergerak Teme.. Kau mengenai hidungku.. Uhh.. ini baunya aneh!" Itachi mengeryitkan dahi. Sasuke bergerak-gerak? Sesuatu mengenai hidung Naruto? Naruto bilang baunya aneh? Dan lagi, Naruto menyentuh apa? Otaknya memikirkan sesuatu, hampir sama seperti kedua pria paruh baya dihadapannya.
"Jangan berada diatasku Teme.. Aku tidak bisa melihat dengan benar."
"Aku lelah duduk. Kita sambil berdiri saja."
"Huuh.. Kau ini lebih tinggi dariku. Aku tidak mau menakiti leherku. Dan lagi, tanganku pasti akan sangat lelah."
".."
"…"
"…"
"Da –"
"Kalian berdua! Diam dan lakukan itu dikamar!" suara Kyuubi ditanggapi decakan sebal dua buah suara yang terdengar samar tadi. Tapi kedengarannya, mereka berdua menuruti nasihat Kyuu.
"Jangan berpikir macam-macam. Naruto hanya sedang mengecat rambut Sasuke." Gumam sulung Uzumaki sebelum ada yang bertanya. Helaan nafas lega terdengar Dari perangkat Bluetooth di telinganya.
"Syukurlah.. Kupikir kau membiarkan mereka Make a Lo –"
"Kau sudah bertemu dengan Naruto? bagaimana keadaannya Kyuu? Sasuke tidak melakukan hal yang aneh-aneh padanya kan?" pertanyaan beruntun Minato memotong ucapan nista sulung Uchiha.
"Apa maksudmu, huhh? Harusnya aku yang bertanya seperti itu!" kali ini suara Fugaku terdengar kembali meninggi.
"Diam dan dengarkan aku baik-baik!"
Setelah tidak ada lagi suara rebut yang terdengar, akhirnya pemuda berambut orange itu menghela nafas dan mulai bicara..
"Naruto dan Sasuke baik-baik saja.. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami akan segera pulang dan semua akan baik-baik saja. Lakukan saja semua yang kukatakan dan yang paling penting…"
Semua terdiam menunggu penyelesaian kalimat sang detektif. Mau bagaimana lagi? Untuk saat ini, percaya pada semua rencana Kyuu adalah tindakan yang paling aman.
" –percayalah padaku."
Hening.. Kyuubi tidak lagi berbicara. Ketiga pendengarnya pun belum berniat membuka suara. Nada bicara Kyuu yang terakhir itu terdengar begitu penuh harap. Hanya seseorang yang menyadari ketakutan yang tersirat didalamnya.
'Kyuu.. Tidak seharusnya kau memaksakan diri. Harusnya kau meminta bantuanku. Kenapa kau menanggung ini semua sendirian, Setan Kecil?'
"Tou-san. Sampaikan pada Kaa-san, Naruto merindukannya." Gumam Kyuubi memecah keheningan. Walau tahu kalau putranya tidak akan melihat, Minato mengangguk.
"Apa yang akan kau lakukan setelah jumpa pers di kediaman Uzumaki?" kali ini pria tegas pendiri perusahaan Uchiha tidak ammpu menyembunyikan rasa penasarannya. Walau begitu, ia masih mencoba berbicara setenang yang ia bisa.
"Maaf Tuan Besar Uchiha.." sahut Kyuu menekankan kata 'Tuan Besar'.
" –aku tidak bisa menceritakan rencanaku secara detail, kecuali pada Sasuke dan Naruto. aku tidak ingin ada orang yang mengacaukan ini semua."
"Tch.. Kau meragukanku?"
"T –tou-san.. Tenanglah." Itachi mencoba menenangkan. Bagaimanapun juga, sikap tidak hormat yang sedari tadi ditunjukkan Kyuu membuat Fugaku geram. Andai Fugaku tahu, dirinyalah yang membuat Kyuubi menderita…
"Ya. Aku tidak percaya. Aku tidak mau kecerobohan Uchiha menghancurkan semuanya."
"K –Kau.."
"Tenang saja. Kita akan berhasil…"
"Tch.."
"Hanya itu yang perlu kalian ketahui. Sisanya aku yang urus. Sudah ya, aku sibuk.."
Minato menghela nafas. Entah kenapa, putra sulungnya begitu terdengar kurang ajar hari ini. Tapi toh, semua yang dikatakannya benar. Jadi Minato memutuskan untuk tidak berkomentar.
"Satu lagi. Keriput, beri tahu aku nomor telepon Deidara. Aku akan segera menelponnya nanti. Dan jangan lupa untuk membaca e-mail yang tadi kukirimkan padamu. Pelajari baik-baik dan jangan sampai ada yang terlewat. Jelaskan secara singkat pada kedua orang tua didepanmu itu, sesaat sebelum jumpa pers dimulai. Aku tidak ingin ada orang bodoh yang membocorkannya."
'cklekkk'
Kyuubi memutuskan sambungan tanpa menunggu respon dari seseorang yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu. ia merasa tidak perlu tahu tanggapan yang akan diberikan Itachi.
"Haahhhh~ Aku akan menengok Deidara dan memberi tahu bahwa Kyuu akan menghubunginya." Itachi berdiri, mengantongi i-phone miliknya, kemudian beranjak meninggalkan ruangan. Kelihatannya ia akan membiarkan dua pria dewasa di dalamnya menyelesaikan masalah mereka.
"Hei, Minato.. Apa kau pikir ini adalah sebuah kutukan?" Fugaku menyandarkan tubuhnya. Matanya menerawang jauh langit-langit ruangan. Apapun yang berada di langit-langit berwarna abu-abu itu, kelihatannya benda itu jauh lebih menarik daripada lawan bicaranya.
"Kurasa.. Haruskah kita mengambil tindakan yang sama?" sahut Minato santai. Untung saja Itachi sudah pergi. Kalau belum, dia pasti akan mendengar hal yang sangat mengejutkan.
"Aku hampir berhasil melakukannya."
"Yaa.. Sayangnya Sasuke berbeda dengan Itachi. Dia memiliki keinginan dan keyakinan yang jauh lebih kuat. Ditambah lagi.. kelihatannya Kyuu mendukung mereka. Apa kita akan kalah kali ini?"
"Tidak."
' –kurasa…'
.
.
Seorang wanita berambut pirang terlihat berbaring di sebuah ranjang king size. Ocean blue miliknya berkali-kali melirik i-phone yang tergeletak di sampingnya. I-phone kembar seperti milik suaminya itu akan segera menghubungkannya dengan mantan sahabat suaminya.
"Dei-san.. Sebaiknya kau beristirahat.." Konan yang sedang berada di kamar itu mencoba mengingatkan Dei tentang keadaannya saat ini.
Deidara menggeleng singkat. Suaminya baru saja memberi tahu bahwa Kyuubi akan segera menghubunginya. Setelah sekitar 20 menit ngobrol dengannya, Itachi pergi mengajak Pein dan menyuruh Konan menemaninya.
"Konan, kau mengenal Kyuubi?" Konan mengangguk. Dulu, ia bahkan sering bertemu dengan pemuda itu.
"Kudengar dulu ia adalah sahabat Itachi." sekali lagi Konan mengangguk. Setahunya, Kyuubi memang sahabat sekaligus rival teman sekelas yang kini menjadi atasannya itu.
"Lalu.. Mereka tidak pernah betemu lagi, dan hubungan mereka memburuk.. Kau tahu kenapa?" kali ini wanita berjepit rambut mawar itu menggeleng, tidak yakin dengan apa yang akan diucapkannya.
"Sepertinya mereka memperebutkan sesuatu, dan tidak ada yang mau mengalah.. Sepertinya begitu yang diucapkan Itachi saat aku dan Pein menanyainya. Setelahnya, dia memang sedikit berubah, sih."
Deidara mengangguk. Walaupun penjelasan Konan sulit dimengerti, setidaknya ia tahu sedikit tentang pemuda yang kabarnya bermata tajam itu.
Terdengar alunan music bergenre blues dari i-phone Deidara, menunjukkan ada panggilan yang masuk. Tertera sebuah nomor asing disana. 'Kyuubi kah..?'
"Moshi-moshi." Suara Deidara terdengar grogi saat mengangkat panggilan itu.
"Moshi-moshi. Deidara?"
"Ya, aku. Kyuubi-kun?" Konan mengeryit mendengar kalimat Deidara. Wanita berambut biru itu membayangkan wajah sebal sulung Uzumaki. Setahunya, Kyuubi paling tidak suka dipanggil dengan embel-embel '-kun', apalagi –'chan'.
"Tch. Pastikan kau sedang tidak bersama siapapun." Benar saja. Suara Kyuu yang tadinya terdengar merdu, kini terdengar sangat sebal.
Deidara kemudian memberikan isyarat kepada Konan untuk meninggalkannya. Tidak mungkin dong, Dei yang masih belum sehat benar itu yang menjauh.
"Sudah.. Ada apa, Kyuu-kun?"
'Brengsek! Wanita ini benar-benar sok kenal.' Batin Kyuu di seberang sana.
"Besok malam akan diadakan jumpa pers di kediaman Uzumaki. Kau sudah tahu?" Deidara mengangguk, Kyuubi mendengus sebal.
"Aku tidak akan bisa melihatmu kalau kau hanya mengangguk. Jangan Tanya dari mana aku tahu, karena aku adalah seorang Dtetektif, Ok?" Gumam Kyuu selanjutnya.
"OK."
"Besok, selama semua orang pergi ke rumahku, aku dan kedua bocah sialan ini akan datang berkunjung."
"Benarkah?" pekik Deidara senang. Entah ngidam atau apa, dia merasa sangat merindukan adik iparnya akhir-akhir ini.. Dan besok, Sasuke akan datang. Yaayyyy!
"Sasuke dan Naruto akan mengambil sesuatu di kamar Sasuke. Tugasmu adalah memastikan pintu jendela kamar Sasuke dan kamarmu tidak terkunci. Mengerti?"
Lagi-lagi deidara mengangguk, kali ini sambil mengeryitkan dahi, "Kenapa kamarku juga?"
"Selagi mereka berdua melakukan tugasnya.. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Kuharap kau menyiapkan dirimu baik-baik."
"B –baiklah.." gagap Dei menanggapi nada bicara Kyuu yang berbeda.
"Jangan lupa untuk mengunci pintu kamar Sasuke dari luar, pastikan tidak akan ada yang bisa masuk. Dan jangan biarkan ada yang tahu rencana ini, termasuk Itachi."
"Siapp."
"Kalau begitu. Sampai jumpa besok."
'cklekkk'
.
.
Sore Berikutnya -
Tiga orang pemuda terlihat berdiri santai menunggu bus di sebuah halte di dekat tempat pembuangan mobil bekas Konoha. Ketiganya terlihat bagai coplayer professional yang sedang iseng-iseng bercosplay di tempat umum.
Pemuda berambut raven yang biasanya berbentuk pantat ayam hari ini terlihat rapi. Ia memakai kacamata ber-frame tipis. Si rambut pirang juga sedikit merapikan rambut. Mereka mengenakan pakaian seragam rapi dan jas berwarna soft blue. (Uchiha Sasuke/Otori Kyouya; Uzumaki Naruto/Suo Tamaki – Ouran High School Host Club)
Satu lagi pemuda yang ada disana adalah sosok pemuda berambut orange. Ia menaikkan rambut bagian depannya, mengenakan gakuran hitam sedikit berantakan. (Uzumaki Kyuubi, trying to be Tojo Hidetora – Beelzebub)
"Hei Kyuu-nii."
"Hmm?"
"Kenapa pakaianmu 'gak nyambung' dengan kami?" bisik Naruto. ia tidak mau ada orang yang menyadari bahwa ia adalah The Most Wanted Guy in Konoha.
"Mau bagaimana lagi? Hanya ada dua pakaian itu yang simple. Kostum yang lain sangat ribet dan aneh. Setidaknya kita tidak perlu mengenakan wig dan soft lens, atau membawa atribut lainnya." Ruby Kyuu melirik kostum yang dipakai Naruto, juga Sasuke.
"Sudahlah Dobe. Setidaknya dia sudah terlihat seperti cosplayer." Gumam Kyouya wanna be. Tangannya sibuk membalik halaman Sneaky Boy yang baru dibelinya tadi. Well.. Membaca berita tentang dirimu sendiri ternyata asik juga.
Naruto menghela nafas. Dini hari tadi, Kyuu memang diam-diam menyusup ke dalam rumahnya sendiri dan mengambil kostum di kamar adiknya. Sayang sekali, dari sekian banyak kostum yang ada, tidak ada satupun kostum tokoh yang cocok dengan warna rambutnya. Poor Kyuu.. Alhasil, dia memutuskan untuk mengobrak-abrik lemarinya sendiri dan menemukan gakuran miliknya dulu.
"Ngomong-ngomong.. Dari mana kau dapat kostum anime sebanyak itu?" Tanya Kyuu iseng saat mereka memasuki bus.
"Tentu saja karena aku dan Teme adalah cosplayer." Mata Kyuu membulat. Kalau adiknya sih masih bisa diidentifikasi sebagai seorang cosplayer. Kalau Sasuke? Pemuda pembenci kebahagiaan itu..? Benarkah dia seorang cosplayer?
"Hn. Kostum yang ada di tempat Dobe, separuhnya adalah milikku." Jawab bungsu Uchiha tanpa ditanya. Selama ini dia memang menyembunyikan hobinya dari semua orang, kecuali Naruto yang menjadi partnernya bercosplay.
Kyuu terkikik geli. Dia tidak bisa membayangkan reaksi seluruh Uchiha jika mereka tahu Sasuke The Gloomy Boy ternyata memiliki hobi yang tidak terduga.
Well.. Bercosplay di dalam bus Trans-Konoha sepertinya bukan ide yang baik. Banyak penggila anime yang mengajak Sasuke dan Naruto untuk berfoto. Kyuubi yang melihatnya hanya terkikik geli. Alasan utamanya bercosplay sebagai Tojo Hidetora yang memakai gakuran, sebenarnya karena ia sudah mengetahui aka nada kejadian seperti ini.
"Ahh.. Tojo Hidetora dari anime Beelzebub!" seru seorang anak SMP berambut coklat. Teman-teman dari si bocah sialan yang ternyata bernama Konohamaru itu langsung menyerbu Kyuubi begitu identitas Tojo terkuak. Poor Kyuu..
Pukul setengah tujuh malam, mereka bertiga turun di halte yang berjarak satu blok dari kediaman Uchiha. Ketiganya terengah dan merasa sangat lelah. Yahh.. Setidaknya tidak ada yang mengenali identitas asli mereka bertiga.
"Sial! Tahu begini, aku cosplay jadi Spongebob saja." Gerutu Sasuke sambil berjalan mengikuti calon kakak iparnya.
"Jangan munafik! Kau bahagia ka nada yang meminta Yaoi Pose kalian berdua." Gumam Kyuu. Ia juga merasa sangat lelah. Susah-susah ia mencari tokoh yang susah dikenali dengan menggenakan pakaian yang umum digunakan pelajar Konoha. Ehh, pada akhirnya, ada yang kenal juga.
"Nii-chan.. A –aku.."
"Damn!" seru Sasuke dan Kyuubi barengan. Naruto yang berjalan disamping Sasuke terlihat agak kepayahan. Berdesak-desakan (baca: dipaksa berfoto) di dalam bus, kemudian langsung menghirup udara malam seperti ini…
"Naruto.. Bertahanlah. Sebentar lagi kita sampai.." Kyuubi membujuk adiknya. Percuma! Bukan kemauan Naruto untuk sakit seperti ini.
"Sasuke apa yang biasanya kau lakukan setelah dia diserbu seperti tadi?" Tanya Kyuubi panic. Naruto juga pasti sering diserbu pemburu gambar kan saat dia dan Sasuke datang ke acara-acara festifal cosplay?
"Biasanya tidak sampai seperti ini. Aku selalu menyeretnya pulang sebelum malam tiba." Gumam Sasuke tenang. Tangannya mencoba mencari sesuatu di tas punggung yang berukuran lumayan besar yang sedari tadi dipakainya.
"Ahh.. Ketemu." Sasuke mengambil botol seukuran botol air mineral kecil dengan corong di atasnya. Kyuu mengeryitkan dahi.
"Aku sudah menyiapkan oksigen. Tenanglah.." Sasuke tersenyum, membuat Kyuu menghela nafas lega. Calon adik iparnya ternyata cukup mahir mengurus hal yang terlupakan olehnya.
Tangan Sasuke lalu memasangkan tabung oksigen mini itu. Setidaknya Naruto tidak akan menghirup udara malam yang dingin. Pemuda Uchiha itu lalu melepas jas-nya dan memakaikannya ke tubuh sang kekasih.
"Lepas gakuranmu." Mengerti, Kyuu lalu melepas gakurannya dan memberikannya kepada Sasuke. Gakuran ini langsung dipakaikan ke tubuh Naruto.
"Sekarang kau akan merasa hangat.. Naiklah." Tubuh alabaster berbalut kemeja putih itu berjongkok membelakangi Naruto, memberikan isyarat kepadanya untuk segera naik ke punggung sang Uchiha.
Menuruti permintaan kekasihnya, Naruto pun naik dan segera menlingkarkan tangannya ke leher Sasuke, sementara itu, tangan kirinya memegangi tabung oksigen yang menempel di mulut dan hidungnya.
"Kita masuk lewat pintu belakang. Aku sudah meminta kakak iparmu mematikan semua kamera CCTV dan system keamanan." Sasuke mengangguk, begitu juga dengan Naruto.
Mereka berjalan perlahan memasuki pintu yang tidak terkunci itu. Pelan-pelan mereka mengendap menuju sisi barat rumah.
"Ini kamarku, kamar Aniki disana.." Sasuke menunjuk jendela diatasnya dengan dagu, kemudian menunjuk jendela yang sedikit terbuka di sebelah kanan dengan cara yang sama.
"Baiklah.. Aku langsung menemui Deidara. Kalian berhati-hatilah. Jangan sampai jatuh." Kyuu berjalan kea rah jendela yang ditunjukkan Sasuke. Jendela itu berada di lantai tiga, sementara jendela kamar Sasuke berada di lantai dua. Untung saja bagian barat kediaman Uchiha banyak ditanami pohon besar. Ini memudahkan mereka untuk masuk melalui jendela.
'Kau yakin akan melakukannya?' batin Kyuu membaca gerakan bibir Sasuke. Ia mengangguk pelan dan menatap kedua pemuda yang berjarak 10 meter dihadapannya dengan sorot mata penuh keyakinan.
"Harus! Kita tidak boleh gagal. Rencana ini harus berhasil. Dan kalian.. Tidak boleh menyia-nyiakan 'aku' dan pengorbananku." Gumam Kyuu. Ia yakin, kedua pemuda dihadapannya mampu membaca gerak bibirnya.
.
.
Kediaman Uzumaki – 06.36 pm
"Semua sudah siap?" Tanya seorang wanita berambut merah panjang. Mata green sea-nya tidak mampu menyembunyikan kekhawatirannya.
"Begitulah. Acara akan baru akan dimulai 1 jam lagi, tapi para wartawan sudah banyak yang datang. Kurasa Bonchama sangat populer.." sahut kepala pelayan Uzumaki mencoba mencairkan suasana.
"Kau bisa saja.." Kushina terkikik. Kepala pelayannya memang selalu bisa melakukan hal-hal yang membuatnya tersenyum.
"Ohh, ya. Apa Fugaku sudah sampai?" kali ini Minato yang bertanya. Ia terlihat gelisah dan tegang.
"Kakashi akan segera member tahu, kalau mereka sudah tiba. Ahh.. Mereka baru saja tiba." Pekik Iruka setelah membaca pesan dari partnernya itu.
Mereka semua terlihat menunggu dengan tidak sabar, terutama Minato yang sedari tadi mondar-mandir seperti seorang suami yang menunggu kelahiran anaknya. Bagaimanapun juga, acara kali ini tidak dihadiri Deidara. Sebagai gantinya, Itachi yang akan menjadi juru bicara. Hell! Namikaze Minato sangat-sangat meragukan pria Uchiha yang satu itu.
Selain itu, e-mail yang dibicarakan Kyuu membuatnya merasa penasaran. Pokoknya dia harus segera bertemu dengan Itachi dan mendengar penjelasannya.
Beberapa saat menunggu, Minato mendengar suara pintu terbuka, disusul Fugaku dan Mikoto masuk ke dalam ruangan. Terakhir.. Ada Itachi dengan muka bingung.
'Sepertinya, aku memang tidak bisa mengandalkan bocah itu..' batin Minato.
.
.
'tepp'
Suara tepakan sepatu mencuri perhatian Deidara, membuat ocean blue-nya menangkap sosok pemuda yang baru saja masuk ke kamarnya melalui jendela.
"Hai." Sapa pemuda berambut berantakan itu. Sinar rembulan yang menyinari wajah sang pemuda sempat membuat wanita berambut pirang yang masih setengah duduk di ranjang terpesona.
"K –Kyuubi-kun?" Dei memastikan penglihatannya. Sungguh dia belum pernah bertemu pemuda bernama Kyuubi yang berkata akan menemuinya mala mini. Dan pemuda yang dilihatnya kini..., sungguh sangat tampan.
"Kau disana saja. Tidak apa-apa." bass Kyuu mengalun lembut saat ruby-nya menangkap gerakan Deidara yang mencoba bangun.
"Bagaimana kabarmu? Kudengar kau tidak sehat.." Kyuu berdiri di samping ranjang Deidara. Bibirnya terlihat tersenyum kecut.
"Aku sudah baikan kok.. Terima kasih sudah mengkhawa –"
"Dei. Aku bukan tipe orang yang bisa berbasa-basi. Jadi.. Bagaimana kalau aku langsung saja?" Kyuu tersenyum, kali ini terlihat sangat mengerikan di mata Deidara.
"Ya. Terserah kau saja.." istri Uchiha Itachi itu tersenyum tulus. Mungkin Kyuubi adalah orang yang kaku, dan Deidara harus memberikan kesan ramah untuk mencairkan suasana.
"Kau tahu, dulu aku sangat dekat dengan si Keriput?" Deidara mengangguk, kali ini Kyuu dapat melihat anggukan itu.
"Tapi hubungan kalian sepertinya memburuk, bahkan kau tidak datang di acara pernikahan Itachi dan aku.." Suara Deidara melemah. Ia mengambil kesimpulan bahwa Itachi mengacuhkannya selama seminggu setelah mereka menikah, gara-gara permasalahannya dengan Kyuubi belum selesai. Ahh.. Bahkan permasalahan itu tidak akan pernah selesai.
"Kau pandai sekali.. Pantas saja Itachi menyukaimu." Pipi langsat Deidara merona mendengar pujian Kyuu.
"Aku tidak datang ke pernikahanmu karena.. Sebelum menikah denganmu, Itachi adalah…" Kyuu membungkukkan tubuhnya, membuat wajahnya dan Deidara hanya berjarak beberapa senti. Wajah Deidara pun bertambah merona.
" –Dia adalah Mi –Lik –Ku."
'deghh'
Senyuman di wajah sulung Uzumaki terlihat begitu menyakitkan di mata Deidara. Reflek, wanita yang sedang mengandung itu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kyuubi pasti sedang berbohong padanya kan?
'Dia.. Dia bohong kan? Tidak.. Ini tidak mungkin…'
Jari Kyuubi menyentuh pipi Deidara, mengusapnya pelan. Menghilangkan setetes Kristal yang entah sejak kapan berada disana.
"Maaf. Aku mengejutkanmu." Duduk di samping Deidara, Kyuu menundukkan kepala dan sedikit mengacak rambutnya.
'Bodoh! Kendalikan emosimu baik-baik. Kau bisa menyakitinya..' batin Kyuu menenangkan dirinya sendiri. Barusan, caranya berbicara memang terlalu berlebihan. Bahkan Deidara menangis karenanya..
"Maaf. Aku terlalu berlebihan." Kyuu membalik tubuhnya sekitar 60 derajad, membuat ruby-nya dapat melihat isri mantan kekasihnya duduk sempurna.
"Kau masih mau mendengarkanku kan..?" pemuda berambut orange itu merasa tidak perlu menunggu jawaban dari si wanita pirang. Toh walau Deidara tidak mau mendengarkan, dia akan tetap berbicara.
"Kau pernah memiliki kekasih sebelum bersama Itachi?" Tanya Kyuu dengan nada santai. Deidara yang masih syok pun mulai berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Ya.." gumamnya lirih. Tangannya sesekali mengusap air mata yang belum amu berhenti mengalir. Walau begitu, ia tetap mencoba berpikiran positif. Kyuubi datang kesini pasti bukan untuk 'menghancurkan' hubungannya dengan Itachi.
"Saat kau putus dengannya.. Apa yang kau rasakan?" lagi, bibir Kyuu tersenyum. Kali ini senyum miris yang terukir. Kelihatannya Deidara mulai mengerti arah pembicaraan ini.
"Begitu juga denganku.. Rasanya memang menyakitkan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Si Keriput memiliki pemikiran yang lebih dewasa dariku, sementara aku masih berpikiran seperti anak kecil.." Kyuu menghentikan ceritanya beberapa detik. Mengambil nafas dan memersiapkan dirinya untuk melanjutkan.
"Aku marah. Aku membencinya.. Satu hal yang terpikir olehku saat itu adalah, Itachi membohongiku selama ini. Tapi.."
Deidara memegang bahu Kyuu lembut. Wanita itu tahu, walau begitu besar bahagia yang kau rasakan sekarang, membuka luka lama tetap akan terasa menyakitkan.
"Saat aku memikirkan alasan yang diberikannya padaku, mencoba memahaminya baik-baik.. Aku sadar semua yang dikatakannya benar. Dia memang selalu benar." Sulung Uzumaki terkikik.
"Dan yang membuatku bisa melepaskan diri darinya adalah..," lagi, Kyuu mendekatkan wajahnya, kali ini dia berbisik di telinga Deidara.
"Aku tahu kalau adikku menyukai Sasuke, begitu juga dengan Sasuke yang menyukai adikku."
Deidara membelalakkan matanya. "K –kau.."
"Ya.. Aku memutuskan untuk lepas dari Itachi, dan memulai kehidupan baruku di Prancis dengan sebuah harapan besar." Kyuu menjauhkan wajahnya dari Deidara.
"Kau berharap Sasuke dan Naruto akan mendapatkan kesempatan yang lebih besar untuk hidup bersama?"
"Kau memang wanita cerdas." Kyuu mengacak pelan rambut Deidara, membuatnya berdecak sebal. Ahh, wajah sebal wanita pirang ini mengingatkannya pada seseorang di Prancis sana.
"Kalau Itachi melihat ini, dia akan membunuhmu." Gerutu Deidara. Entah kenapa perlakuan Kyuubi membuatnya merasa rileks.
"Sayangnya.. Itachi tidak tahu perasaan Otouto-nya. Yahh.. setidaknya sampai kejadian di acara pertunangan itu. Padahal Sasuke mengetahui hubunganku dengan Ita-Put loh…" kali ini Deidara tersedak ludahnya sendiri. Situasi seperti ini. Berarti…
"Sasuke memang lebih pandai dari kakaknya." Gumam Kyuu seakan membaca pikiran DeiDei.
Mereka beruda terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Kyuubi ingin menyampaikan sesuatu kepada Deidara. Menyampaikan hal yang bisa membesarkan hati wanita pirang itu.
"Nee, Kyuu-kun.. Kau memintaku untuk mendukung hubungan mereka?" Kali ini hanya senyum Kyuu yang menjadi jawaban dari pertanyaan Sang Pengacara. Mata biru Dei dapat melihat kilatan luka dalam senyum Detektif pro itu. Deidara balas tersenyum..
"Berikan aku satu alasan untuk mendukung mereka." Gumam Deidara lembut. Ia benar-benar ingin tahu yang ada dalam pikiran Kyuu saat ini. Mendukung hubungan Sasuke dan Naruto, memberikan harapan yang begitu besar kepada mereka berdua… Apa Kyuubi tidak takut membuat adiknya dan juga Sasuke semakin terluka saat semua orang tidak mendukung mereka, kelak?
Kyuubi tampak berpikir. Matanya menerawang jauh langit malam di luar sana. Sepertinya memandangi bintang lebih menyenangkan ketimbang menjawab pertanyaan Deidara.
"Aku hanya ingin… Membiarkan mereka hidup tenang dalam kebahagiaannya..." Ruby sulung Uzumaki menyiratkan sebuah keyakinan yang mendalam, Deidara bisa melihatnya. Mata itu.. Penuh dengan sebuah harapan tulus yang penuh dengan keyakinan.
Kyuubi merogoh sakunya, mengeluarkan dompet berwarna coklat tua, kemudian membukanya, menunjukkan sebuah foto kecil. Tiga orang terlihat bahagia disana. Seorang pria berambut orange tertawa lepas karena seorang anak kecil yang juga berambut orange mengacak-acak rambutnya. Disampingnya terlihat seorang wanita berambut soft-blond yang memegangi si anak kecil dengan panic, dia takut si anak jatuh.
"Seperti mereka…" Kyuu menunjukkan foto itu kepada Deidara. Membuat mata birunya berbinar. Sesekali nola matanya melirik wajah Kyuubi dan memastikan bahwa foto pria yang berada di dalam foto adalah pria yang sama dengan pria di hadapannya.
Kyuubi menunjukkan cengiran rubahnya, kemudian memasukkan kembali dompet yang barusan diperlihatkan kepada DeiDei.
"Baiklah.. Aku akan bantu." Dei tersenyum manis. Membuat Kyuubi meghela nafas lega.
'Aku sudah mendapatkan tiga orang disisiku.' Batin Sang Detektif. Bibirnya tersenyum seakan mengucapkan terima kasih kepada istri mantan kekasihnya.
"Lalu, apa yang harus kulakukan?"
"Untuk saat ini belum ada." Kyuu bangkit dari duduknya, meregangkan otot-ototnya, kemudian berjalan menuju jendela.
"Aku akan menemuimu untuk mengatakan rencananya beberapa hari lagi. Bersiaplah.." Tangan lengsat Kyuu mulai memegang pinggiran jendela. Kaki kanannya naik, siap untuk melompat turun.
"Satu lagi Dei.. Jangan sampai Itachi tahu soal kerja sama ini ya. Nanti aku yang akan memberi tahu saat semua sudah berhasil." Kyuubi menatap wanita berambut pirang itu untuk terakhir kali. Dei mengangguk menyanggupi permintaan orang yang baru ditemuinya malam ini.
"Terima kasih.." ucap Kyuubi sebelum akhirnya dia melompat turun. Berlari menuju dua orang yang sudah menunggunya di dekat pintu belakang sambil membawa dua buah benda mencurigakan berbentuk segi empat tiga dimensi berukuran cukup besar.
"Kyuu-nii lama sekali!" Gerutu seorang pemuda blonde. Ia segera memasukkan barang bawaannya ke mobil sedan yang sudah parkir di depan pintu belakang.
"Ayolah bocah.. Aku hanya pergi beberapa saat saja." Kyuu masuk ke kursi penumpang depan, sementara Sasuke dan Naruto duduk di belakang. Mereka kini menggunakan 'pakaian normal'.
"Terima kasih Hyuuga. Maaf merepotkanmu." Gumam Kyuu memberikan isyarat agar mobil segera berjalan.
"Sama-sama. Aku hanya ingin kedua manusia nekat ini senang…" balas pemuda yang duduk di kursi sopir. Mereka pun berangkat ke kediaman Uzumaki untuk memberikan kejutan kepada semua orang.
.
"Hyuuga? Kyuu-kun mendapatkan Hyuuga? Hebat.." gumam seorang wanita berkuncir dari lantai dua yang diam-diam mengamati gerak-gerik Kyuu pasca pria itu meninggalkan kamarnya.
"Kira-kira, apa yang akan dilakukan Kyuu-kun ya." gumam si wanita mengelus perutnya. Ocean blue-nya menerawang jauh menembus langit cerah berbintang yang menghiasi kota Konoha malam ini.
"Kita akan membantu pamanmu.. Kau setuju kan?"
.
.
Tbc
.
.
Hahahahah XD
Akhirnya selesai juga..
Kemarin sempet emosi tingkat internasional gara-gara kartu modem rusak T_T
Akhirnya hari ini terpaksa ke warnet deh : (
Yoshh! Gimanapun, akhirnya chap 4 udah jadi diaplot :D
semoga sukaaaaaaaaa
Jangan lupa baca Nakuna, Sasuke ya :DDDD
.
Saatnya bales review nih :3
.
La Nina Que ' Aru-chan: terima kasih uda mau nge-fav fic abal saya *bungkuk2 sambil nangis
Ahh semoga chap ini bikin tambah penasaran ya XDDD
Arigato :3
.
Rosanaru: yapp :D
Semoga rosa-san tambah penasaran dengan chap ini :3
Arigatooooo
.
ChaaChulie247: iya itu oropret kurang asem -_-
Ahh tenang aja.. Sasu bakal ngasih ciuman maut buat Itaput XDDD
Terima kasih banyaaaaak
.
ttixz bebe: Be-san uda mau baca aja Kyuu seneng banget :')
Kyuu akan berusaha membuat ending yang ga kelah geje dengan fict kyuu yang lain (?)
*plakkkk
Semoga suka dengan chap ini ya :D
Domo arigatoooo
.
BarbeKyu: Iya barbe-san :D
Kyuubi dah nyiapin strategi oye :D
Tinggal nunggu Naruto mau apa enggak (upsss keceplosan)
Pokoknya, tunggu chap selanjutnya ya :D
Terima kasihhhh
.
Imperiale Nazwa-chan: semoga ini ga terlalu lama -_-
Semua itu tergantung keberhasilan rencana Kyuubi :D
Persetujuan Naruto juga penting nih :3
Upsss !
Btw, terima kasih :D
.
Rose: ituuu Kyuubi bawa foto dari prancis XDDDD
Ehehehehhh...
Domooooo~~
.
Yashina Uzumaki: ini update mendung :D
Soalnya sekarang mendung :p
Itu Kyuu bawa-bawa foto geje
Kira2 itu fotonya siapa yaaaaaaaa :3
Hahahaahhhh arigatoo :D
.
Naru Freak: untuk itachi..kita biarkan Kyuubi yang jawab ya :D
Hahahah XDDD
Kyuu juga ngefans sama Kyuubi. Apalagi nama panggilan kita sama (dies)
Btw, terima kasih banyaaaak :D
.
.
Ahhh selesai juga XDDDD
Semoga readers suka ya :3
Jangan lupa buat baca "Nakuna, Sasuke" ya :p
Itu fict ga kalah gejenya sama fict Kyuu lainnya -_-
.
Yosh !
Akhir Kata...
Review please :3
