"Terima kasih Hyuuga. Maaf merepotkanmu." Gumam Kyuu memberikan isyarat agar mobil segera berjalan.

"Sama-sama. Aku hanya ingin kedua manusia nekat ini senang…" balas pemuda yang duduk di kursi sopir. Mereka pun berangkat ke kediaman Uzumaki untuk memberikan kejutan kepada semua orang.

.

"Hyuuga? Kyuu-kun mendapatkan Hyuuga? Hebat.." gumam seorang wanita berkuncir dari lantai dua yang diam-diam mengamati gerak-gerik Kyuu pasca pria itu meninggalkan kamarnya.

"Kira-kira, apa yang akan dilakukan Kyuu-kun ya." gumam si wanita mengelus perutnya. Ocean blue-nya menerawang jauh menembus langit cerah berbintang yang menghiasi kota Konoha malam ini.

"Kita akan membantu pamanmu.. Kau setuju kan?"

.

.

There's No Regret in My LIfe –

Sequel of "There's No Next Time"

Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story: KyuuRiu

Pair: SasuNaru (main)

ItaKyuu

ItaDei (Dei disini cewek)

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort - Romance

Part 5: Am I Wrong, Dad?

Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget

.

.

"Jadi, mereka itu sedang pergi ke suatu tempat. Sayangnya, aku tidak tahu kemana mereka pergi.." gumam Itachi menjawab pertanyaan salah seorang wartawan.

'Tch. Rencana macam apa ini? Membuat jawaban berputar-putar. Apa sulungnya benar-benar seorang detektif?' gerutu pria yang duduk di sebelah kanan Itachi. tangannya bersedekap, wajah tegasnya terlihat begitu sebal. Onyx-nya melirik tajam seorang pria bermata azure yang terlihat duduk tenang di kiri sulungnya.

Mengulur waktu selama mungkin dengan memberikan jawaban berputar-putar bukanlah sebuah rencana besar. Dan yang paling membuatnya emosi adalah, rencana 'remeh' seperti itu harus dirahasiakan darinya dengan alasan, supaya tidak bocor. Hell Yeah! Bayi dalam kandungan saja bisa membuat rencana seperti itu. Yahh.. Walau bayi dalam kandungan DeiDei belum bisa melakukannya, sih..

"Lalu, apakah mereka pergi bulan madu atau apa?" Tanya pria berkacamata bulat, Kabuto, bawahan Orochimaru, pemilik majalah Sneaky Boy.

Itachi baru saja ingin menjawab, tapi Minato mendahuluinya, "Kurasa tidak. Putraku sepertinya ingin membuat kejutan untuk seseorang."

Minato terlihat begitu tenang menjawab pertanyaan ini. Semalam, Kyuubi menghubunginya, memberikan beberapa 'clues' untuk diucapkannya pada acara memuakkan kali ini.

"Bagaimana kalau kita tunggu saja? Mungkin mereka akan kembali dengan seorang bayi dalam kandungan Sasuke? Yahh.. Siapa tahu." Gurau Minato membuat para pencari berita terkikik. Pemimpin perusahaan Uzumaki ini terlihat tersenyum, senyum mengerikan yang tertuju lurus ke arah Orochimaru.

'Sial! Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?' mata kuning tajam Orochi seakan membalas 'tantangan' yang dilayangkan Minato. Kedua pria ini seolah sedang bertarung, saling menyerang dengan tatapan mereka. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang ingin bergabung dalam pertarungan ini. Uchiha Fugaku. Sungguh ia tidak terima dengan ucapan rivalnya.

'Kalimat itu.. Bukankah secara tidak langsung, kalimat itu mengatakan bahwa Sasuke adalah seorang Uke? Mungkin itu memang sesuai dengan nama putraku, Sas-UKE. Tapi.. Seorang Uchiha tidak boleh menjadi yang dibawah! Tunggu! Bukannya aku menentang hubungan mereka berdua? Kenapa aku malah mempermasalahkan posisi Sasuke? Sial kau Minato!'

"Apakah Anda masih mencoba menyangkal hubungan terlarang mereka? Mengingat perkataan Sasuke saat malam pertunangannya itu, kalimat yang dia ucapkan jelas-jelas mengutarakan bahwa ia menyukai Naruto." pernyataan sekaligus pertanyaan tajam terlontar dari mulur Orochimaru. Bibirnya menyeringai, seolah merayakan kemenangan semu yang kemarin didapatkannya.

"Tentu saja Sasuke menyukai putraku…" kalimat yang masih menggantung ini jelas mengundang kontroversi.

" –mereka berdua sudah menjadi sahabat sejak lama. Bagaimana mungkin kau tidak menyukai sahabatmu sendiri? Benar begitu kan, Fugaku?" pertanyaan Minato menghancurkan lamunan Fugaku yang penuh dengan gerutuan tidak jelas. Pria berwajah tegas itu berdehem sekali, kemudian mulai berbicara.

"Putraku bukan tipe orang yang mau berbasa-basi atau berpura-pura menyukai sesuatu. Lihat saja, dia keluar dari kuliah bisnisnya dan lebih memilih jurusan seni yang dia sukai. Untuk masalah masa depan saja dia tidak mau berpura-pura suka, apalagi hanya seorang Naruto, Sasuke tidak akan mau repot-repot berpura-pura menyukainya dan bertahan menjadi temannya."

Kali ini pria berambut blond dengan mata azure yang menggerutu dalam hati, 'Hanya seorang Naruto, katanya? Apanya yang h –a –n –y –a?'

Sementara itu, Itachi tampak menghela nafas beberapa kali. Ia mulai merasakan aura tidak enak yang berasal dari sebelah kanan dan kirinya. Ia hampir saja berdiri dan meminta ijin ke kamar mandi sebelum akhirnya i-phone miliknya bergetar, menampilkan sebuah gambar amplop kecil yang melompat-lompat.

Jari tengah sulung Uchiha menyentuh icon lompat itu, muncullah sebuah tulisan yang membuatnya menghela nafas lega.

.

From: Setan Kecil

Hitung sampai lima belas!

Aku datang.

.

Itachi pun menghitung dalam hatinya, membiarkan kedua pria paruh baya yang mengapitnya menjawab pertanyaan apalah-itu-namanya.

"Apakah sudah diketahui kabar mereka berdua, atau malah mereka menjadi korban dalam kecelakaan, atau semacamnya?" kali ini pertanyaan super ngawur dari Orochimaru mendapat teguran dari sesama pencari berita. Bagaimanapun juga, pertanyaan seperti ini tidak pantas terlontar dari bibir seorang wartawan.

Itachi tersenyum mendengarnya. Hitungannya sudah hampir selesai. Berarti sesaat lagi…

"Sebaiknya anda belajar tata karma terlebih dahu –"

"Tadaimaaaaaa! Tou-san ada tamu ya? Kenapa ramai seka…" muncul sosok makhluk mencurigakan dari pintu samping. Ia memakai jaket tebal dan celana panjang abu-abu. Tangan kanannya membawa sebuah kayu besar berbentuk –persegi panjang- balok yang bertumpuk rapi.

Wajah pemuda berambut kuning jabrik itu terlihat syok menyadari ada begitu banyak kamera, lengkap dengan para manusia yang berada di dalam ruangan. Tentu saja, sebagian kamera itu langsung tertuju ke arahnya.

"Ahh.. Uzumaki-kun!"

"Lihat! Uzumaki Naruto kembali!"

"Dia pulang!"

Kilatan-kilatan flash semakin berhamburan saat sosok berkulit alabaster menepuk pundak si pirang dengan wajah khawatir yang tidak bisa disembunyikan. Bagaimanapun, tidak biasanya Naruto terbengong-bengong begitu.

"Ada Uchiha Sasuke juga!"

"Uchiha-kun bersamanya!"

"Ini berita besar!"

Sasuke menolehkan kepalanya. Ia langsung berdecak sebal begitu mengetahui bahwa yang menyebabkan sahabatnya terbengong-bengong adalah para pencari berita dan segala aksesorisnya.

"Minggir! Kami mau istirahat." Kali ini sosok Kyuubi dengan lantang berjalan mendahului Sasuke dan Naruto, kemudian langsung masuk begitu saja. Kelihatannya ia sudah lelah menjinjing dua benda lebar berbingkai kayu mahoni tipis yang terbungkus kain abu-abu di tangan kirinya.

Bungsu Uchiha mengikutinya dari belakang. Ia membawa barang yang sama dengan Naruto. Bedanya, pemuda berambut pantat ayam raven-hitam ini menggendong tas punggung yang cukup besar.

"Cepatlah, Dobe. kau tidak lelah membawa benda itu?"

"Ha'i!" pekik Naruto. Tanpa diminta dua kali, tubuh tan itu mengikuti langkah-langkah rival abadinya.

Sementara itu, ketiga pria yang duduk manis di sisi lainnya terlihat bengong. Sasuke dan Naruto pulang.. Ini benar-benar sebuah kejutan! Hal yang sama juga dirasakan Mikoto dan Kushina yang melihat semuanya dari dalam. Ingin rasanya mereka berlari keluar dan memeluk putra kesayangan mereka.. Sayangnya, Kyuubi memberikan tanda agar mereka tetap diam dan duduk manis menonton dari dalam. Apa boleh buat?

"Bukankah ini sangat tidak sopan? Mengacuhkan begitu banyak tamu yang datang untung berkunjung." Sebuah suara yang sudah familiar di telinga menghentikan langkah Sasuke. Membuat Naruto yang berjalan tepat di belakangnya hampir jatuh karena menabrak Sang Uchiha.

"Atau mungkin.. Kalian anak muda memang tidak memiliki sopan sa –"

'braaakkk!'

"Tutup mulutmu." Gumam Sasuke dengan suara bernada rendah. Ia baru saja menjatuhkan balok bersusun rapi yang ternyata adalah penyangga frame untuk melukis yang masih terlipat.

"Te -Sasuke.." sulung Uzumaki menepuk pundak kekasih-gelap-nya. Ini bukan bagian dari rencana.

"Setidaknya, biarkan Naruto beristirahat." Sebuah kalimat yang langsung menyita perhatian seluruh wartawan yang datang. Isu bahwa mereka berdua menjalin hubungan terlarang.. Ditambah reaksi Sasuke menanggapi omongan kurang ajar Orochimaru…

'Menarik…' batin Kabuto.

"Kau.." jari telunjuk kiri bungsu Uchiha menunjuk wajah Orochimaru dengan tidak sopan.

"Sepuluh tahun yang lalu, Saat Naruto hampir tenggelam… Bukannya kau sendiri yang menulis bahwa dokter memvonis Naruto mengalami kerusakan permanen pada saluran pernafasannya? Bukankah kau juga membeberkan dengan jelas bahwa Naruto akan selalu mengalami gangguan pernafasan selama hidupnya? Bagaimana bisa kau melupakan itu?"

Sasuke terlihat menghela nafas menanggapi suara 'gregg' pelan di belakangnya. Ia tahu pasti, Naruto menurunkan penyangga lukisannya. Dengan sangat terpaksa, pemuda yang biasanya tenang itu menurunkan telunjuknya. 'Sial! Aku melenceng jauh.'

"Sasuke.. Kau melupakan bagian yang paling penting. Pria itu mencuri data dari rumah sakit.. Wajar saja kalau dia lupa. Well... Sesuatu yang di-'copy-paste' biasanya tidak akan bertahan lama di otak." Minato menambahkan. Sasuke memang selalu ahli membuat situasi biasa menjadi tidak biasa. Yahh.. Setidaknya pemimpin Perusahaan Uzumaki ini bisa membakar Orochimaru dengan api yang dibawanya sendiri.

"Kalau kalian, terutama kau, Tuan Orochimaru yang Agung, tidak membiarkannya beristirahat.. Akan kutuntut, jika terjadi sesuatu pada Naruto." lanjut Sasuke tenang.

Semua terdiam, tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Orochi dan Kabuto pun mengunci rapat mulutnya. Yang diucapkan bungsu Uchiha dan Minato memang benar. Orochi mencuri data dari rumah sakit demi membuat sebuah berita besar yang menghasilkan banyak uang. Dan karena kelancangannya itu, dia dituntut. Pada akhirnya, Orochimaru divonis bersalah, majalahnya yang saat itu bernama 'Jumping Snake' tidak boleh terbit.

"Sudahlah Sasuke.. Kurasa kita memang harus menyambut kedatangan para tamu ini." Gumam Uzumaki muda. Ia berjalan dengan santai, kemudian duduk di kursi kosong di sebelah kiri ayahnya.

"Tch! Mendokusai.." walaupun mengeluh, akhirnya pemuda yang tadi siang ber-cosplay menjadi Otori Kyouya mengikuti jejak kekasihnya. Tomato lover ini berdecak sebal sesampainya di 'singgasana', tidak ada kursi yang tersisa disana. Ia pun melirik Pein yang berdiri tidak jauh dari mereka dan memberi isyarat agar maniak perching itu mencarikan kursi untuknya. Mengerti, Pein segera membawakan kursi lipat yang berada di sampingnya.

"Simpan ini, juga kedua benda itu.." Sasuke memberikan tas punggungnya kepada Pein, onyx-nya melirik dua penyangga lukisan yang ditinggalkannya di sisi lain ruangan, "Sebelumnya, carikan kursi untuk Kyuubi juga. Kurasa dia akan membutuhkannya."

Pein mengangguk dan segera melaksanakan permintaan Sasuke. Semua wartawan masih terlihat diam, memberi kesempatan Sasuke dan Naruto untuk menemukan posisi yang tepat dan nyaman untuk melakukan ehemm.. Tentu saja wawancara.

Tak lama kemudian, Kyuubi pun sudah duduk di samping Sasuke. Posisi dari kanan ke kiri: Fugaku, Itachi, Minato, Naruto, Sasuke, Kyuubi. Hal ini membuat batin Fugaku mengamuk. Bintang utama acara kali ini duduk di dekat Minato, cukup jauh darinya. Itu berarti, dia akan sangat jarang dihampiri jepretan kamera. Sungguh, ia merasa seperti obat nyamuk disini.

"Jadi... Ada pesta di rumahku ya?" Naruto memecah kesunyain ruang depan kediaman Uzumaki dengan suara melengking dan cengiran rubahnya. Sementara itu, Kyuu terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Pein.

"A –Ano.. Setelah sekian lama pe –pergi, apa keadaan kalian baik-baik saja?" seorang gadis manis berambut panjang terlihat malu-malu bertanya. Mata lavendernya nampak sayu. Entah sejak kapan, pemuda yang tadi menjemput Kyuu cs sudah berdiri di sampingnya.

"Ahh.. Tentu saja baik! Sasuke menjagaku agar aku tidak terluka.." wajah tan itu terlihat begitu ceria. Ia mencondongkan wajahnya ke depan, seolah ingin berbisik kepada seseorang, "Jangan bilang siapa-siapa ya.. Tapi, walaupun kelihatannya dingin dan menyebalkan, Tem –Sasuke adalah orang yang baik.. Hahahahahhaaa.."

Bisikan bungsu Uzumaki yang diakhiri dengan gelak tawanya sendiri membuat bungsu Uchiha berdecak sebal, 'Kebaikan hatiku hanya untukmu, Dobe.'

"Jadi, darimana saja kalian selama ini?" direct attack dari Orochimaru.

"Kurasa aku tidak bisa memberitahukan itu." Sasuke bersedekap. Mata si bungsu Uchiha yang terpejam membuat Orochimaru merasa diremehkan.

"Sumimasen.. Apakah gossip yang beredar sekarang ini adalah sebuah kenyataan?" lagi-lagi Hinata bertanya. Mata Kyuubi menangkap gerakan Neji yang sedang membisiki sepupunya itu. Well.. Pertanyaan yang tidak buruk.

"Kyuubi memberitahuku bahwa kalian menuliskan berita yang menurutku aneh. Aku seorang pelaku yaoi? Pastikan bahwa kalian mencantumkan namaku, Uchiha Sasuke, sebagai Sang Seme."

"Ap –apa katamu? Kau ini Teme! Bukan Seme! Seandainya kita benar-benar memiliki hubungan 'asdfghjkl', pastinya aku yang akan menjadi seme! Bukan kau! Sas-UKE!" bungsu Uzumaki bersungut sambil menggebrak meja didepannya, sapphire-nya seolah mengeluarkan kilatan-kilatan aneh yang siap menghujam mata Sasuke.

"Tch. Apa yang kau katakan, Dobe.." pemuda berambut solid pantat ayam ikut berdiri, kemudian merapatkan dirinya kepada pemuda berkulit tan. Kalau saja orang-orang tahu, Naruto merasa sangat grog –

"Lihat? Mana ada seme yang lebih pendek dari uke-nya?"

'twich'

Pernyataan Sasuke, ditambah bukti nyata bahwa dirinya memang lebih pendek beberapa senti dari sang Uchiha membuat Naruto ingin mengamuk.

"Pokoknya, kau jadi uke!"

"Dalam mimpimu. Usuratonkachi."

"Sasuke pantat ayam sialan!"

"Duren katrok."

"Muka rata!"

"Pendek."

"Aaaghh! Pokoknya, kalau kita jadi pasangan yaoi, aku seme!"

"Bodoh! Aku bukan homo. Sejak kapan kau jadi maho? Kau bilang, sedang mengincar gadis bernama Ish – emmphh!"

"Sasukecap.. Kau mau bilang apa?" tangan tan si duren pirang membekap mulut si Uchiha yang hampir saja menyebut nama seseorang. Nada bicara Naruto yang super rendah itu terdengar begitu mengerikan. Hiiii….

'Apa-apaan ini? Memerebutkan posisi seme? Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?' Tanya Kabuto kepada dirinya sendiri. Orochi yang duduk disebelahnya sepertinya juga memikirkan hal yang sama.

"Permisi.. Silakan obatnya diminum dulu, Naruto-kun." Naruto mengeryitkan dahi melihat dua butir benda mencurigakan berwarna hijau yang diletakkan Pein didepannya. Seingatnya, dia tidak pernah minum obat, tuh.. Kenapa Pein memberi obat?

Mata Naruto diam-diam mencuri pandang sang kakak yang duduk di belakang lawan bicaranya. Dia adalah dalang dari semua rencana ini. Dia pasti tahu sesuatu, dong… Naruto langsung mengambil dua butir obat hijau mencurigakan itu, lalu meminumnya dengan air yang juga sudah disediakan Pein begitu sapphire-nya menangkap anggukan dari Kyuubi.

"Maaf.. Bisakah Anda menjelaskan kenapa Anda emm.. mengacaukan pesta pertunangan Anda sendiri?" seorang wartawan yang duduk di barisan paling belakang terlihat mengacungkan tangan. Jelas pertanyaan ini ditujukan untuk Sasuke.

"Pertama, aku tidak begitu mengenal Haruno Sakura. Kedua, namanya mirip seperti nama gadis yang disukai senpai-ku di Universitas, dan kurasa Sakura yang disukai senpaiku adalah Sakura calon tunanganku itu. Alasan yang paling penting adalah, aku tidak menyukainya." Papar si bungsu panjang lebar. Alasan itu.. Apa cukup masuk akal untuk diterima?

"Sasuke.. Kelihatannya kau harus meralat kalimat terakhirmu. Bagaimanapun juga, dia menitipkan ucapan terima kasih melalui aku." Gumam Kyuubi. Kalimat ini tentu menimbulkan pertanyaan baru di benak para pemburu berita. Terima kasih.. Terima kasih untuk apa?

"Kyuubi-san. Bisakah Anda menjelaskan ucapan terima kasih seperti apa itu?"

"Well.. Semacam terima kasih karena Haruno mendapatkan seseorang yang sejak dulu disukainya, mungkin? Gadis itu bilang, dia sudah putus asa dan menyerah untuk mendapatkan pangeran impiannya, tapi saat Sasuke mengacaukan pertunangannya, pemuda itu tiba-tiba datang menemuinya dan mengutarakan pera –tunggu! Kenapa kita membahas masalah ini? Tanyakan pada Nona Haruno saja!" Kyuubi yang tadi terlihat asyik memaparkan tiba-tiba saja memasang muka sebal. Sial! Mereka membuat Detektif favorit kita menajadi seorang penggosip.

Para wartawan tentu saja kecewa pendapati pejelasan ini terpotong begitu saja. Mereka harus segera mendapatkan konfirmasi dari Haruno Sakura untuk dapat menuliskan berita baru dengan topic yang sangat menarik ini.

"Jadi, Uchiha Sasuke. Apa kalian berdua menjalin hubungan khusus?"

'Tch.. Lagi-lagi Orochimaru.' Batin Fugaku, pria paruh baya yang sedari tadi menjadi obat nyamuk di paling ujung. Sementara Itachi dan Minato terlihat sibuk dengan gadget yang mereka pegang masing-masing. Itachi bertukar kabar dengan DeiDei, sementara Minato mengirim pesan untuk istri tercintanya, memintanya untuk masuk ke ruang tempat wawancara sialan ini berlangsung.

"Kami saling kenal sejak kecil. Kurasa tidak ada yang special dengan hubungan kami. Yahh.. Kalau kalian menganggap hubungan kami special, terserah kalian saja."

"Untuk gossip yang selama ini beredar.. Kurasa kalian bisa memutuskan sendiri, apakah semua itu benar, atau salah. Aku dan Sasuke, berpacaran?" sahut Naruto tenang. Bungsu Uzumaki menghena nafas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan.

"Mana ada seorang laki-laki yang tidak ingin memiliki keturunan? Mana ada seorang laki-laki yang tidak memikirkan masa depan keluarganya? Kurasa, tidak ada alasan bagiku, dan juga Sasuke untuk menjalin hubungan seperti yang kalian katakan selama ini. Bagiku, Sasuke adalah Sahabat sekaligus rival pada saat yang bersamaan." Bibir Naruto tersenyum, menunjukkan betapa tulusnya ia mengucapkan kalimat ini.

"Tenangkan dirimu.." bisik Kyuubi pada pemuda di sebelahnya. Tangan kiri alabaster sang pemuda yang berada di bawah menja terlihat mengepal erat, menahan gejolak dalam hatinya. Somehow, kalimat Naruto membuat hati Sasuke benar-benar sakit. Apakah ucapan Naruto benar-benar tulus? Apakah pemuda bersurai keemasan itu ingin mengucapkan hal yang sama kepada dirinya?

"Lalu, kenapa Uchiha-san mengucapkan hal yang aneh saat pesta pertunangannya waktu itu?"

Kali ini Naruto hanya bisa nyengir. Sudah pasti jawabannya adalah karena si jenius Sasuke menyukai si cerewet Naruto. Tapi.. Mana mungkin Naruto mengatakan hal ini? Itu namanya bunuh diri.

Uchiha-san yang dimaksud terlihat menghela nafas, "Tadinya aku ingin membuat para fangirls histeris. Tapi ternyata.. Malah berubah menjadi berita seperti ini. Untuk itu, aku minta maaf atas semua keributan yang terjadi. Bagi para fujoshi yang sudah mendukung 'kisah cinta' SasuNaru, terima kasih. Maaf sudah mengecewakan."

Kalimat Sasuke begitu terdengar biasa. Hanya saja, bungsu Uchiha menekankan kata 'kisah cinta' dan 'maaf'. Bagaimanapun juga, dia sangat tidak terbiasa untuk minta maaf.

'Ghh!'

Naruto memegang dadanya sendiri. Sesuatu yang salah terjadi padanya. Tentu saja, Sasuke dan yang lainnya mengetahui hal ini.

"A –no Uchiha-san. Sebenarnya kemana kalian pergi selama ini? Para gadis di Konoha tentu sangat khawatir karena kedua pangeran impian mereka tiba-tiba menghilang."

Pertanyaan seorang wartawan membuat pemuda berkulit alabaster tanpa keriput bingung. Haruskah dia mengatakan kemana mereka pergi selama ini? Haruskah semua orang tahu? Onyx-nya melirik pemuda pirang di sampingnya, memastikan si cerewet satu itu baik-baik saja.

"Aku yang akan menjelaskan. Naruto akan mengamuk kalau ayam kampoeng ini membocorkan rencananya." Gumam Kyuu santai.

"Kyuu-nii! Apa yang akan kau lakukan? Aku tidak bilang kau boleh mengatakannya." Amuk Uzumaki paling muda disini.

"Aku tidak pernah setuju untuk diam, tuh.."

"Kyuu-nii…" rengek Naruto membujuk kakaknya untuk tidak mengatakan yang aneh-aneh.

'Apa yang sebenarnya kalian rencanakan..? Berdebat.. Berdebat dan berdebat..' batin Minato. Kedua putranya memang jarang sekali akur, apalagi kalau menyangkut soal makanan. Tidak ada yang mau mengalah.

"Ck. Sudahlah, Dobe.. Katakan saja pada mereka."

"Tidak akan pernah!" kali ini Sasuke yang mendapat pelototan gratis dari sapphire kekasih-gelapnya.

"Ayolah Naru-kun.. Aku juga penasaran, nih.."

"Itachi-nii jangan ikut-ikutan!"

"Tch, Dobe."

"Diam kau, Teme!"

"Katakan!"

"Tidak!" si pirang berkulit tan kembali berdiri dengan emosi menyelimuti sekujur tubuhnya. Semua orang tampaknya ingin membongkar rahasianya.

"Katakan semuanya!"

"Tch! Teme sialan! Sampai kapan kau mau membujukku agar mau mengatakan bahwa kita pergi berkemah untuk melukis di Gunung Hoka –" Kyuubi terkikik meremehkan, sementara Sasuke bergumam melecehkan.

"Huaaaaaa! Aku mengatakannya!" teriak bungsu Uzumaki dramatis, sukses membuat beberapa wartawan sweatdrops, sementara Fugaku masih menggerutu atas perannya sebagai obat nyamuk bakar.

"Usuratonkachi." Gumam Sasuke mengiringi tubuh berbalut jaket tebal sang rival yang terduduk lemas. Dia baru saja mengatakannya.. Mengatakan 'kegiatan rahasia' coretbohongancoret mereka berdua.

"Jadi.. Adikku yang super jenius ini pergi bersama temannya untuk melukis matahari terbenam di Gunung Hokage. Naruto bilang, dia akan memberikannya untuk Kaa-san sebagai hadiah ulang tahun kejutan. Well.., walau sudah bukan kejutan lagi sih sekarang. Mau bagaimana lagi..? Daripada media menggosipkan yang tidak-tidak tentang SasuNaru?" wajah Naruto terlihat kecewa mendengar penjelasan kakaknya. Kepala kuning itu masih saja menunduk.

"Sayang sekali, kami harus pulang sebelum lukisan Dobe selesai." Tambah Sasuke.

'Sial! Kenapa lama sekali bekerja..?' batin seseorang berambut orange yang berinisiatif memberi Naruto dua butir obat mencurigakan.

"Nghhh.. Sial!" gumam Naruto cukup keras tertangkap pengeras suara. Tangan kanannya terlihat memegang erat dada.

"Dobe, kau baik-baik saja?" langan alabaster Sasuke terlihat ingin menggrepe dada sang kekasih, sayang sekali Naruto menepisnya.

'Gotcha!' ruby si orange berbinar.

"Aku baik-baik saja."

"Bisakah kita akhiri acara ini? Sepertinya Naruto-kun tidak se –"

"Naruto!" teriak Sasuke panic. Teman sepermainannya tiba-tiba saja mulai kesulitan bernafas, sapphire-nya tidak lagi fokus melihat. Naruto harus segera ditolong, atau mereka akan mendapat masalah.

"Pein! Ambilkan tasku tadi." Perintah bungsu Uchiha seenak pantat ayam. Semua orang mulai terlihat panic, termasuk Fugaku yang sejak tadi tenang (baca: ngomel dalam hati).

"I –taii.. Khh!" nafas Naruto tersengal, dia benar-benar mulai kehabisan udara. Tubuh berkulit caramel itu mengeluarkan keringat dingin. Kyuubi mengangkat tubuh adiknya dengan paksa, kemudian membaringkan tubuh tan itu di atas meja. Tangan kiri Kyuu menyangga kepala Naruto yang tidak beralaskan meja, sementara tangan kanannya meng-cover tengkuk si mata sapphire agak tidak sakit terkena pinggiran meja. Pertolongan pertama untuk gangguan pernafasan: memosisikan seluruh saluran pernafasan pada posisi sejajar 180 derajad.

Lengan kanan alabaster langsung menyambar tas punggung besar yang dibawa Pein. Dengan panic, Sasuke mengeluarkan semua isinya, mencari sebuah tabung kecil dengan corong di atasnya. Tabung oksigen milik kekasihnya.

"Brengsek!" maki Sasuke entah kepada siapa. Dimana tabung oksigennya? Apakah tertinggal? Seingatnya, botol itu sudah kembali masuk ke tasnya.

Setelah mengeluarkan hampir semua isi tasnya, akhirnya botol berwarna gading itu ketemu juga. Pemuda berambut pantat ayam langsung memasangnya ke hidung dan mulut Naruto, menekan sesuatu di samping botolnya, membuat Naruto menghirup udara segar yang mengembalikan kinerja system pernafasannya perlahan. Setidaknya dia baik-baik saja untuk saat ini.

Sasuke menghela nafas lega saat nafas rivalnya mulai teratur. Onyx-nya menatap tajam ruby calon ipar, berusaha membunuh Kyuu dengan death glare andalannya. Sungguh ia ingin memakan rubah sialan itu sekarang juga.

"Mungkin, acara ini bisa kita akhiri sekarang? Putraku dalam keadaan kurang baik.." pinta Kushina yang entah sejak kapan berada di samping Sasuke. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Kurasa dia benar. Sebaiknya kita biarkan Naruto dan Sasuke beristirahat. Mereka membutuhkan itu." Fugaku angkat bicara. Ia merasa sedikit risih dengan tingkah Sasuke barusan. Mengobrak-abrik tas hanya demi sebuah botol kecil? Sungguh bukan tingkah seorang Uchiha.

"Iruka-san, tolong bereskan semua kekacauan yang dibuat Otouto-ku.."

"Ha'i, Uchiha-san."

Kyuubi terlihat membisikkan sesuatu ke telinga adiknya yang mulai tenang. Kepala pirang Naruto mengangguk pelan, kemudian Sasuke mulai membantu si pirang untuk duduk.

"Biar aku saja." Sela Kyuu saat Sasuke akan menggendong adiknya. Akan 'berbahaya' jika para wartawan mengabadikan salah satu momen paling romantis mereka (?)

"Tch." Dengan berat hati, Sasu pantat ayam membiarkan tubuh eksotos kekasihnya menempel mesra di punggung sang detektif. Tanpa menoleh ke arah para pemburu berita, bungsu Uchiha mengikuti duo Uzumaki meninggalkan acara brengsek yang masih berlangsung

"Kurasa tempat ini sudah terlalu berantakan, mungkin kita bisa lanjutkan acara ini lain kali." Gumam Minato yang sedari tadi tampak tenang. Kalau boleh jujur, Kyuubi dan Minato adalah manusia tertenang dalam insiden Naruto-kehabisan-nafas tadi.

Melihat botol-botol cat air, tube-tube cat minyak, kuas, dan banyak macam tinta, cat, juga pensil dan kawan-kawan di sekitar meja TKP sepertinya menggugah minat para pencari berita untuk menyetujui usulan ini. Tohh keterangan yang mereka dapat malam ini sudah lebih dari cukup.

.

.

"Beristirahatlah.. Aku akan segera kembali." Gumam Kyuubi menurunkan sang adik di kasur kesayangan penggemar ramen itu. Naruto mengangguk pelan, kepalanya masih pusing, dadanya juga masih terasa sedikit nyeri.

Kyuubi tersenyum sekilas, baru saja ia akan menjauhi ranjang berukuran king size itu, seseorang menarik bahunya dari belakang, membuat si empunya ruby terpaksa membalikkan tubuhnya 100 derajad, "Apa yang kau ing –"

'buaghh!'

"Apa yang kau inginkan, katamu? Apa yang kau lakukan pada kekasihku!" teriak bungsu Uchiha tidak dapat menahan emosinya. Kalau saja bisa, mungkin mata Sasuke saat ini akan berwarna merah, menggambarkan amarah yang meluap dalam dadanya.

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau berikan padanya tadi, hahh? Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya? Bagaimana kalau aku tidak menemukan tabung oksigen itu? Bagaimana kalau Dobeku tidak se –"

"Aku melakukannya karena aku percaya padamu!" teriak Kyuu tak kalah keras. Membuat Sasuke berdecak kesal. Kyuubi benar-benar sukses membuatnya kehilangan jiwa 'Uchiha'.

"Aku tahu, kau tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada adikku. Makanya, aku berani mengambil resiko, dan memberikan obat sialan itu padanya." Ucap Kyuu dengan nada yang lebih tenang. Ruby-nya melirik wajah sang adik yang terlihat syok dengan pertengkaran yang tiba-tiba terjadi tanpa sebab yang jelas. Ahh, andai saja maniak ramen ini tahu, alasan mereka bertengkar sangatlah jelas.

"Maaf ya adikku sayang.. Obat itu membuatmu merasa sedikit sesak. Yahh, mau bagaimana lagi? Aku tahu kau tidak pandai berpura-pura sakit. Makanya aku memilih cara ini untuk menghentikan konferensi pers bodoh tadi." Kyuu tersenyum, tangannya mengacak pelan rambut sang adik. Membuat Naruto berdecak sebal, sementara Sasuke berdecih cukup keras.

"Lihat hasilnya Sasu-chan.. Kau menunjukkan bukti nyata kepada mereka bahwa kalian benar-benar melukis di gunung." Kyuu menunjukkan cengiran rubahnya, membuat Sasuke mengingat semua barang yang diobrak-abriknya tadi.

"Dan mereka akan menggunakan kemampuan analisisnya untuk menebak barang-barang yang kalian bawa tadi. Kurasa scene 'melukis di gunung' sudah dapat diterima dengan baik." Jelas Kyuu bangga.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk scene itu, nak. Mereka melihat barang-barang yang kalian bawa. Termasuk kedua lukisan setengah jadi itu. Aku heran, dimana kalian mendapatkannya." gumam seorang pria yang sejak tadi berdiri di balik pintu kamar bungsunya yang terbuka. Dibelakangnya terlihat dua wanita paruh baya yang taerlihat syok. Kelihatannya mereka mendengar percakapan kedua jenius di dalam.

'Kaa-san? Kenapa ekspresinya seperti itu? Apa aku mengatakan sesuatu yang sa –'

'deghh – Apa yang kau lakukan pada kekasihku!'

"Sial!" kedua tangan Sasuke mengepal erat. Kepalanya menunduk dalam. Onyx-nya menghindari tatapan intens sang Kaa-san yang tertuju padanya. Hal yang sama dilakukan bungsu Uzumaki yang tengah berbaring di ranjang.

Suasana berubah hening. Tidak ada yang berniat untuk berganti posisi, atau sekedar bebicara. Mereka semua tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mikoto dan Kushina dengan keterkejutannya, Kyuubi dengan susunan rencananya, Sasuke dan Naruto dengan rasa nyeri di dadanya saat melihat reaksi terkejut kedua wanita dewasa itu, serta Minato dengan keinginannya memisahkan bungsunya dan bungsu Uchiha.

Entah berapa lama mereka dalam posisi seperti itu, yang jelas saat ini Itachi dan Fugaku yang baru saja selesai meng-handle para wartawan sudah berada di depan pintu.

Minato menghela nafas panjang. Sepertinya semua ini harus dibicarakan bersama-sama, "Masuklah.. Kita bicara."

Azure pria yang pakaiannya sedikit berantakan itu memberi isyarat untuk masuk ke kamar putranya. Ia langsung mengunci pintu oak coklat tua itu begitu semua orang masuk.

"Jadi.. Apa logis jika kalian melukis di gunung tanpa pulang selama beberapa minggu sedangkan Naruto memiliki masalah dengan pernafasannya?" Tanya Fugaku berusaha memecah keheningan yang sempat terjadi.

"Kami sudah membangun sebuah rumah kecil dari kayu. Di dalamnya sudah ada beberapa pakaian, kotor dan bersih, beberapa tabung oksigen, ramen instant utuh dan kosong, dan lain-lain. Walaupun dari kayu, rumah itu cukup hangat, apa lagi ini adalah musim panas." Gumam Sasuke menjelaskan. Penjelasan ini sukses membuat mata para pendengarnya membulat, termasuk si penanya, Uchiha Fugaku.

'Terima kasih untuk Neji..' lanjut Sasuke dalam hati.

"Jangan lupakan penghangat ruangan yang tadi kutaruh disana, lengkap dengan banyak batrai cadangan. Seandainya mereka melakukan investigasi di TKP, rumah itu akan menjadi bukti yang cukup kuat.. Bagaimana?" tambah Kyuu riang. Bagaimanapun juga, semua ini adalah rencananya.

"O –otouto! Benarkah kalian berpikir sampai sejauh itu? Bagaimana mungkin semua itu selesai dalam waktu –"

"Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Uchiha. Benar kan, Tou-san?" onyx Sasuke menatap lekat ayahnya. Tidak ada sama sekali rasa takut disana. Hal ini tentu saja akan berbeda jika yang ditatap si bungsu adalah mata ibunya.

" –apalagi kalau seorang Uzumaki bersamanya. Semuanya akan berjalan sempurna." Gumam Naruto menarik perhatian semua orang, termasuk Sasuke. Sapphire pemuda pirang itu terlihat menatap kosong tabung oksigen mini di tangannya. Alam bawah sadar Naruto baru saja berbicara jujur.

Sadar tengah diperhatikan, Naruto jadi salah tingkah. Apa yang harus ia jelaskan atas ucapan 'ngawur'nya tadi? "A –ano.. Maksudku.. Maksudku.. Aku.. "

"Naruto benar, Tou-san. Tidak ada yang tidak mungkin dilakukan jika kami bersama." Nada bicara Sasuke berubah tegas. Rasanya tidak perlu lagi mengontrol kalimat yang akan dia ucapkan. Toh semua orang di ruangan ini sudah tahu bahwa Naruto adalah Kekasihnya, orang yang disayanginya, selamanya..

'Wow.. Ini diluar scenario.' Batin Kyuu. Jujur, dia memang belum menyiapkan rencana untuk situasi seperti ini. Si pantat ayam dan si duren pirang bisa bertindak tanpa scenario rupanya. Menarik..

"Na –Naruto.. Apa benar yang Kaa-san dengar tadi? Kau dan Sasuke?" Kushina duduk di samping putranya. Tangannya mengusap lembut kepala putra kesayangannya yang masih menunduk. Sepertinya Naruto tidak berani menatap mata Kaa-san.

"Sasuke..?" kini Mikoto yang minta penjelasan dari putranya. Sasuke.. Apa yang terjadi padanya sehingga ia memiliki perilaku 'menyimpang' ini?

"Aku menyukai Naruto –Tidak! Aku mencintainya." Ucap bungsu Uchiha tegas. Ia mengumpulkan keberanian untuk menatap onyx bundanya.

"Kaa-san.. Aku juga memiliki rasa yang sama dengan Sasuke. Apa itu salah?" masih menunduk, Naruto mencoba mengungkapkan perasaannya. Kushina terdiam. Mencintai seseorang bukan sebuah kesalahan, kan?

"Apa kalian sadar dengan apa yang kalian lakukan?"

"Tou-san! Kami sangat sadar. Kenapa semua orang memandang aneh padaku, pada Naruto.. Kenapa kalian tidak mengerti.." nada bicara bungsu Uchiha naik-turun. Kalau saja ia tidak memiliki pengendalian emosi yang bagus, sekarang pasti matanya sudah basah.

"Sasuke.. Kau adalah penerus keluarga Uchiha. Kau harus mengerti posisimu." Mikoto mencoba membujuk putranya. Ia masih belum percaya jika putranya menyukai sesama jenis.

"Kaa-san! Kalian yang harus mengerti! Apa yang salah jika aku menjalin hubungan dengan Naruto –"

'plaakk!'

"Otouto! Lihat dengan siapa kau bicara! Kami melakukan semua ini demi kebaikan kalian." Itachi tidak bisa menyembunyikan emosinya. Sasuke yang biasanya sangat menghormati Kaa-san, bahkan sampai berani berteriak seperti itu.

"Tch! Demi kebaikan apa? Bisa-bisanya kau bicara begitu. Apa kau tidak ingat, dulu kau meny –"

"Cukup, Sasuke." Semua terdiam. Kyuu, Itachi dan Naruto tentu tahu kelanjutan kalimat Sasuke.

'Tou-san sial! Aku belum selesai bicara..' Sasuke mulai menyadari sesuatu. Matanya menyusur ruangan. Kaa-san dan Bibi Kushina ada disini. Mereka sama sekali tidak tahu hubungan Kyuubi dan Aniki-nya. Kalau sampai ia keceplosan, Maka…

'Tunggu! Tou-san tahu apa yang akan kukatakan? Berarti..' Onyx Sasuke mencuri pandang ke arah aniki-nya, lalu ke arah Kyuubi, 'Tou-san tahu hubungan mereka berdua?'

"Sudah baikan?" kali ini Minato yang duduk di sisi bungsunya. Pemuda berambut asli blond ini pasti merasa tertekan dengan 'percakapan' ini.

"Tidak apa-apa.. Kita bicarakan ini besok." Bisik pria bermata azure itu penuh kasih sayang. Sebagai orang tua, tentu dia sangat khawatir dengan keadaan putranya. Ia juga memberikan isyarat kepada istrinya, seolah berkata 'kita bahas nanti'.

Naruto mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan air matanya yang mulai mengalir. Perlahan, tangan tan-nya menarik selimut, menutup tubuhnya sebatas leher, memosisikan dirinya membelakangi semua orang di kamarnya, kecuali sang kakak.

Kyuubi mendekati Kushina. Ia mencoba menenangkan ibunya dengan cara menepuk bahunya pelan. Walaupun media sudah sering memberitakan hubungan tidak wajar antara putranya dan Sasuke, mendengar secara langsung bahwa berita itu benar tetap saja membuatnya kaget.

"Kyuu.. Apa yang harus Kaa-san lakukan? Apakah Kaa-san harus marah, atau sedih, atau .. atau bagaimana?" bisik Kushina kepada sulungnya, matanya mulai berkaca-kaca.

"Apa Kaa-san menyalahkan Naruto?" wanita bersurai merah itu terdiam sebentar. Dengan tatapan agak ragu, ia menggeleng.

"Apa Kaa-san menyalahkan Sasuke?" lagi, istri Minato menggeleng menanggapi bisikan putranya. Ia memang tidak bisa menyalahkan siapapun atas semua yang sudah terjadi.

"Kurasa kita harus pulang sekarang.. Kita biarkan Naruto beristirahat." Ucap Fugaku dengan nada tegas. Sepertinya ia ingin segera mendapatkan privasi untuk berbicara berdua saja dengan putra bungsu yang selama ini menjadi kebanggaannya.

"Dei juga pasti sudah menunggu kita. Ayo Kaa-san, kita pulang." Itachi menarik pelan lengan Mikoto, memberi isyarat bahwa mereka harus segera pulang. Mikoto yang masih terjebak dalam keterkejutannya hanya mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu.. Kami pulang dulu, Paman. Maaf sudah merepotkan." Pamit sulung Uchiha dengan nada ceria. Ia membungkukkan badan. Sementara itu, Sasuke berjalan mendekati ranjang. Tangannya terulur ingin menggapai sosok kekasihnya.

"Na –"

'patss'

"Kurasa dia sudah tidur, Sasuke-kun." Bibir Minato tersenyum, mengerikan. Tangannya mencegah lengan Sasuke meraih tubuh putranya. Dia seolah tidak rela, tidak ingin putranya digrepe si ayam Uchiha.

"Ma –maaf." Gumam 'Suke tanpa sadar. Ia menunduk dan langsung mohon diri.

Para Uchiha pun segera meninggalkan kamar Naruto (kemudan langsung pulang ke kediaman Uchiha) setelah mengucapkan beberapa kalimat basa-basi. Bungsu Uzumaki langsung membuka selimutnya, kemudian duduk setelah keluarga seme-nya pergi.

"Nah, sekarang.. Apa ada yang ingin kau katakan kepada Kaa-san dan Tou-san?" Tanya Minato to the point sambil mengacak pelan rambut putranya. Ia sadar betul, marah tidak akan menyelesaikan semuanya.

"Maaf, Kaa-san, Tou-san…" bisikan lirih itu mampu didengar oleh ketiga penghuni kamar lainnya. Kushina duduk di samping putranya, mengusap kepala Naruto lembut.

"Bisa kau ceritakan kepada Kaa-san, apa yang terjadi?" pemuda bermata sapphire mengangguk pelan.

"Aku.. Aku menyukai Sasuke, Kaa-san. Bukan sebagai sahabat atau rival. Bukan sebagai teman masa kecil. Aku menyukainya –bukan! Aku mencintainya seperti Kaa-san mencintai Tou-san." Sapphire itu berbinar memancarkan keyakinan menatap emerald wanita yang telah melahirkannya. Nada bicara tegas itu.. Naruto benar-benar serius.

"Apa kau yakin dengan ucapanmu, nak? Bukannya tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada laki-laki yang tidak menginginkan ketu –"

"Aku tahu, Tou-san! Aku tahu… Tapi.." Sapphire itu beralih menatap azure Minato. Mencoba memertahankan argument dan keyakinan yang dimilikinya.

"Tou-san.. Aku menyukainya. Apa itu salah? Apa aku harus menyalahkan perasaan ini? Atau menyalahkan Sasuke yang entah bagaimana membuatku menyukainya?" sapphire itu meredup. Naruto mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

" –Aku.. Tidak meminta perasaan ini, Tou-san. Aku tidak tahu dari mana perasaan ini muncul. Bahkan aku tidak tahu siapa yang memberiku perasaan seperti ini. Apa aku salah, Tou-san?" bibir bungsu Uzumaki tersenyum miris. Di pipinya mengalir Kristal-kristal bening.

"Kaa-san.. Tou-san.. Maafkan aku." Kali ini Naruto menunjukkan cengiran khas-nya, menghadap kedua orangtua-nya yang bingung harus menjawab apa.

"Kyuu-nii, terima kasih." Dengusan pelan diberikan sang kakak sebagai balasan dari ucapan tulus adiknya.

"Bolehkah aku… tetap bersama Sasuke?"

.

.

'plakkk!'

"Kau pikir, apa yang sedang kau lakukan, hahh? Memalukan! Inikah yang kau sebut sebagai seorang Uchiha?" mata Fugaku berkilat tajam. Di hadapannya berdiri pemuda berambut pantat ayam dengan wajah tertunduk. Pipi kirinya terasa panas. Tidak! Ini tidak sakit, hatinya lah yang sakit.

"Tenanglah.. Kita bicarakan ini baik-baik." Mikoto mencoba menenangkan suaminya. Ruang kerja yang biasanya hening mendadak ribut. Bahkan Deidara yang harusnya beristirahat juga berada disana. Ia memaksa untuk ikut dalam rapat keluarga. Bagaimanapun ia sudah berjanji kepada Kyuu-kun untuk membantu adik ipar yang lebih ganteng dari suaminya.

"Bagaimana bisa tenang? Bocah ini sudah membuat kekacauan besar. Menjatuhkan nama Uchiha!" teriak pria yang tadinya ingin bicara berdua saja dengan putra bungsunya. Pada akhirnya, ia membicarakan masalah ini dengan seluruh keluarganya. Well.. mereka memaksa, sihh..

"Tou-san. Beri kesempatan Sasuke untuk menjelaskan.." pinta Deidara. Tangan kanannya menggenggam erat lengan Itachi yang sejak tadi diam.

"Dei.. Kau lihat adikmu? Apa yang bisa kita harapkan dari orang sepertinya?" nada bicara Fugaku berubah lembut. Ia tidak mau menyinggung hati menantunya yang sedang hamil muda.

"Apa aku salah, Tou-san?" pemuda minim ekspresi menegakkan kembali kepalanya. Sudah diputuskan bahwa ia akan menghadapi ayahnya dengan 'Harga Diri Seorang Uchiha' yang selama ini ia pelajari.

"Aku tidak memilih untuk mencintai Naruto, atau siapapun. Aku tidak memilih untuk lahir dalam keluarga Uchiha, atau keluarga Uzumaki, atau keluarga lainnya. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk memilih, apakah aku ingin lahir ke dunia ini atau tidak."

"Sasuke.." gumam Mikoto. Ia sudah berdiri di samping bungsunya. Tangan kanannya mengelus punggung Sasuke, mencoba memberi isyarat agar Sasuke berhenti melawan ayahnya sendiri.

"Aku mencintainya Tou-san. Mungkin aku bisa menikah dengan seorang wanita –" Sasuke memotong kalimatnya sendiri. Sial! Ada Deidara disini. Ia tidak boleh mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti salah satu supporter-nya itu.

"Mungkin Sasuke bisa menikah dengan seorang wanita seperti yang Tou-san harapkan. Tapi.. Apakah Sasuke akan bahagia? Apakah wanita yang dinikahinya juga akan bahagia? Lalu.. Apakah Naruto akan baik-baik saja? Tou-san.. Bisakah kita beri Sasuke kesempatan untuk bersama dengan Naruto? Mungkin kita bisa memikirkan cara untuk menyembunyikan semuanya.." sahut satu-satunya wanita berambut pirang di ruangan itu. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

Semua diam. Fugaku mulai curiga dengan reaksi Deidara, sementara Mikoto yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu sulung Uchiha dan sulung Uzumaki larut dalam aksinya membujuk si bungsu untuk berhenti melawan.

"Dei.. Kau ini bicara apa sih?" bisik Itachi. jemarinya menelusur pipi sang istri yang mulai basah, "Kuantarkan kau ke kamar ya.."

Anggukan pelan didapatkan Baka Aniki sebagai jawaban atas tawarannya. Ia pun segera menggandeng istri tercintanya meninggalkan ruang kerja Fugaku.

"Apa Tou-san pernah berpikir sampai sejauh itu?" Onyx Sasuke masih menatap tajam ayahnya. Walaupun belum ada seorangpun yang mengatakan padanya, ia yakin 100% bahwa ayahnya tahu sesuatu tentang masa lalu ItaKyuu. Reaksi-reksi yang diberikan Uchiha Fugaku.. Tidak salah lagi. Pria paruh baya berwajah tegas itu pasti tahu sesuatu.

"Ada banyak sekali yang akan tersakiti.. Mungkin beberapa tahun –tidak! Beberapa puluh tahun kemudian, aku dan Naruto akan bisa hidup normal dengan istri kami masing-masing. Tapi.. Apa Tou-san yakin, rasa cintaku kepada Naruto akan benar-benar hilang? Apa Tou-san yakin, jika aku bertemu dengannya, luka di hatiku tidak akan terbuka lagi?"

Fugaku diam. Apa yang harus dia katakan? Apakah sulungnya merasakan semua yang diucapkan Sasuke? Apakah Kyuubi juga merassa seperti itu? Lalu Deidara… ia tidak bisa membayangkan reaksi menantunya jika suatu hari nanti wanita bermata ocean blue itu mengetahui semuanya. Ahh.. sepertinya Deidara sudah tahu. Apa yang akan dikatakannya pada DeiDei? Apa yang akan DeiDei lakukan?

"Kaa-san.. Aku ingin tidur dulu." Pemuda berambut solid pantat ayam itu menggenggam tangan ibunya. Bibirnya tersenyum, mencoba mengatakan kepada wanita yang telah mengandungnya selama Sembilan bulan, bahwa semua akan baik-baik saja.

Mikoto balas tersenyum tulus, tangan kirinya mengusap pelan pipi bungsunya, lalu mengangguk, "Tidurlah, Nak… Besok akan Kaa-san masakkan sup tomat kesukaanmu."

"Tou-san.. Aku tidak ingin ada yang terluka." Bisik si bungsu saat ia berjalan melewati ayahnya.

.

.

Hahahahah :DDD
akhirnya selese juga chap ini :3

Semoga sukaa yaaaa (-/|\-)

Ahh adekku yang manis, yang hobi cosu jadi Ciel mau ujian …

Doain ya mina..

Semoga yang pada mau ujian juga sukses :3

Aamiin (-/|\-)

.

Yasud.. Mari baes review saja :D

.

Imperiale Nazwa-chan:Hahahahaah :D

Makasih Impe-san (nyebut nama seenak jidat)

Kaya'e ga ada dehh.. Buat SasuNaru, Kyuubi pengen mereka melakukan sesuatu yang sedikit mustahil

Kita liat nanti saja ya :3

.

Yashina Uzumaki: Tadinya salahhh.. tapi jadi bener :p

Tadinya mau jinchuriki nii-bi (kalo ga salah)

Tapi Kyuu ragu itu rambutnya warna apaan :p

Yaudah.. Kita ganti Shion aja XDDD

*pengetik jenius, ngebocorin cerita…

Btw, trims Yash-san

.

ChaaChulie247: Terima kasih koreksinya *bungkuk2

Saya emang pengetik abal…

Hahahahah XDDDD

Jujur waktu itu setengah tidur (dies)

Btw makasih yaaaa

.

La Nina Que ' Aru-chan: iyaaaah XDDDDD

Saya akan coba teliti lagi..

Banyak banget ternyata typo-nya (dies)

Makasih be'udhhhh (alay mode: detected)

.

Kaito Mine: Terima kasihhhh (-/|\-)

Saya akan coba biar lebih Oke lagi :D

Tebakan anda tepat :3

.

Rosanaru: tuhhh rencana udah keluar semua :D

Upsss… Jurus pamungkasnya belum ding :D

Hahahhhhh.. Kita lihat nanti ya.. semnoga Itachi gak melakukan suicide

Arigatoo

.

Uchiha no Luti: terima kasih banyaaaaakkk :D

Ini udah Kyuu apdet

.

Ahhh selesai juga…

Semoga kalian suka :3

Maaf lama yaaaaaaaa XDDDD

Akhir kata,

REVIEW please :3