"Ada banyak sekali yang akan tersakiti.. Mungkin beberapa tahun –tidak! Beberapa puluh tahun kemudian, aku dan Naruto akan bisa hidup normal dengan istri kami masing-masing. Tapi.. Apa Tou-san yakin, rasa cintaku kepada Naruto akan benar-benar hilang? Apa Tou-san yakin, jika aku bertemu dengannya, luka di hatiku tidak akan terbuka lagi?"
Fugaku diam. Apa yang harus dia katakan? Apakah sulungnya merasakan semua yang diucapkan Sasuke? Apakah Kyuubi juga merassa seperti itu? Lalu Deidara… ia tidak bisa membayangkan reaksi menantunya jika suatu hari nanti wanita bermata ocean blue itu mengetahui semuanya. Ahh.. sepertinya Deidara sudah tahu. Apa yang akan dikatakannya pada DeiDei? Apa yang akan DeiDei lakukan?
"Kaa-san.. Aku ingin tidur dulu." Pemuda berambut solid pantat ayam itu menggenggam tangan ibunya. Bibirnya tersenyum, mencoba mengatakan kepada wanita yang telah mengandungnya selama Sembilan bulan, bahwa semua akan baik-baik saja.
Mikoto balas tersenyum tulus, tangan kirinya mengusap pelan pipi bungsunya, lalu mengangguk, "Tidurlah, Nak… Besok akan Kaa-san masakkan sup tomat kesukaanmu."
"Tou-san.. Aku tidak ingin ada yang terluka." Bisik si bungsu saat ia berjalan melewati ayahnya.
,
,
There's No Regret in My LIfe –
Sequel of "There's No Next Time"
Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto
This story: KyuuRiu
Pair: SasuNaru (main)
ItaKyuu
ItaDei (Dei disini cewek)
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort - Romance
Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget
.
.
Part 6: One Day …
"Dei.. Kau tadi bicara apa sih..?" Tanya seorang pria berambut raven dikuncir pasca membaringkan tubuh istrinya. Onyx-nya tak henti-hentinya meminta penjelasan dari ocean blue di hadapannya.
"Janji kau tidak akan marah padaku?" anggukan mantab didapat Deidara sebagai jawaban.
"Janji kau tidak akan marah pada siapapun?" kali ini Itachi mengeryitkan dahi. Memangnya sulung Uchiha ini harus marah kepada siapa?
"Tadi K –"
.
"…Jangan sampai Itachi tahu soal kerja sama ini ya. Nanti aku yang akan memberi tahu saat semua sudah berhasil."
.
"Dei…?" sentuhan lembut dipipinya mengembalikan kesadaran wanita berambut blond panjang. Hampir saja ia membocorkan kerja samanya dengan Kyuubi.
"Aku.. Aku hanya berpikir untuk mendukung Sasuke. Bagaimana menurutmu?"
Itachi menaikkan kedua bahunya. Pria berkeriput halus itu memberi isyarat kepada istrinya supaya menunggu sebentar. Tubuh berbalut kemeja rapi itu terlihat membuka lemari pakaian dan mengambil yukata tipis berwarna dongker.
"Jangan mengacuhkanku…." Gerutu Dei manja. Matanya berkilat sebal melihat aksi sang suami yang malah masuk ke kamar mandi. Kelihatannya pria yang sudah mencuri hatinya itu akan mengganti pakaian.
'Apa Kyuu-kun menceritakan semua yang terjadi kepada istrinya, ya? Lalu, bagaimana reaksinya…? Apakah sama sepertiku? Bagaimana menurutmu?' tangan langsat Dei membelai lembut perutnya. Setidaknya, berbicara dengan bayi yang dikandungnya membuat hati Deidara lebih tenang.
'Aku percaya pada, Tou-sanmu… Kau juga percaya padanya kan?'
"Memikirkan sesuatu..?" kecupan hangat di puncak kepala membuat menantu keluarga Uchiha tersadar dari lamunannya. Entah sejak kapan Itachi keluar dari kamar mandi, yang jelas, tubuh berbalut yukata tipis itu kini berbaring bersama Dei, memeluknya dari samping.
"Sasu emmhhh.. It –ngghhh.." Itachi membungkam bibir istrinya dengan sebuah ciuman.
"Sasuke.. Sasuke.. Sasuke… Dari tadi Sasuke. Suamimu itu, Aku atau Sasuke?" gerutuan sebal Itachi sukses membuat Deidara terkikik geli. Itachi cemburu sama Otouto-nya sendiri. Dan Itachi mendapat cubitan mesra sebagai jawabannya.
"Nee.. Itachi."
"Hn?"
"Kenapa dulu kau mau menikah denganku?" kepala bersurai pirang itu memilih lengan alabaster suaminya sebagai bantal. Telunjuknya menelusur tulang pipi Itachi. Deidara benar-benar mencintai Itachi. Sudah diputuskan, walaupun Itachi masih ada rasa dengan Kyuubi, Dei tetap akan berada di sampingnya.
"Mau jawaban jujur, atau bohong?"
"Jujur!" pekik Dei. Ia siap mendengar apapun yang akan terucap dari bibir suaminya.
"Awalnya aku terpaksa memenuhi permintaan Tou-san. Well, karena suatu hal, aku memang harus memenuhinya.. Karena memaksakan diri, aku malah jadi mengacuhkanmu, kau ingat?" onyx itu menerawang jauh langit-langit kamarnya.
"Dan saat aku mulai melihatmu.. Aku merasakan sesuatu yang aneh disini…" tangan Itachi menggenggam jemari Dei yang tengah bermain dengan tulang pipinya. Perlahan, ia menarik dan memindahkannya ke dada.
"Aku jatuh cinta padamu… Aku mulai meratapi perbuatan bodohku yang mengacuhkanmu." Sulung Uchiha menarik nafas dalam, kemudian mengecup punggung tangan istri tercintanya.
"Kau memaafkanku kan, Dei?"
"Hks… B –baka.."
"D –Dei.. Kau baik-baik saja? Katakan, apa aku menyinggung perasaanmu?" Tanya Itachi panic. Istrinya tiba-tiba saja terisak. Apa dia melakukan sesuatu yang salah?
"Sepertinya panggilan Sasuke untukmu sangat tepat, Baka Aniki… Hiks.."
"Ck. Sudah kubilang.. Jangan bawa-bawa Sasuke lagi. Kau ini istriku atau istrinya sih?" lagi-lagi Itachi ngamuk ga jelas gara-gara Dei menyebut nama Otouto kesayangannya lagi, lagi dan lagi.
-chuu-
"Arigato.. Ita-kun"
'Aku yakin, Itachi sekarang benar-benar mencintaiku. Walau begitu, aku tidak mau jika Sasuke harus mengalami rasa sakit yang sama seperti Itachi saat ia baru berpisah dengan Kyuu-kun. Pokoknya, tidak boleh ada yang terluka lagi. Cukup aku, Itachi, Kyuu-kun dan… istrinya.'.
.
.
"Tumben kau mau ikut ke kantor." Gumam pria berambut keemasan yang sedang menyetir mobil. Di sampingnya duduk Kyuubi yang sedang asik dengan android kesayangannya. Minato memilih untuk menyetir sendiri hari ini. Ia meminta Kakashi berjaga di rumah kalau-kalau obat sialan Kyuu masih menimbulkan efek di tubuh bungsunya.
"Kau mendengarkan Tou-san?"
"Yaa. Itachi bilang ingin bertemu denganku. Karena hari ini dia ada urusan dengan Tou-san, kupikir sekalian saja bertemu di kantor." Gumam Kyuu mengantisipasi kemarahan sang ayah yang diacuhkannya sejak tadi. Mau bagaimana lagi? Dia sedang tukar kangen dengan seseorang di Perancis sana, sih.
"Sejak kapan hubunganmu dengannya membaik?"
"Hmm.. Siapa tahu Itachi mengubah pikirannya dan mau mendukung hubungan Sasuke dan Naruto.. Hahahahahaaaaa.. Aku tidak sabar menunggu saat itu terjadi, Tou-san." Kyuubi tertawa canggung, membuat sang ayah yang tidak menyetujui hubungan bungsunya dengan si bungsu Uchiha kehilangan mood.
Saat ini ayah-anak ini memang sedang dalam perjalanan ke kantor pusat perusahaan Uzumaki. Minato bersiap menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, sedang Kyuubi akan bertemu dengan Itachi disana.
'Semoga apa yang ingin dia katakan adalah sesuatu yang kuharapkan…'
.
.
"Sasuke. Mau kenana?" Tanya Mikoto saat melihat putranya berjalan menuju garasi. Pemuda beriris obsidian itu hanya ber-'hn' ria dan melanjutkan aktivitasnya berjalan menuju Volvo-nya yang terparkir manis. Kelihatannya Itachi tidak mau membiarkan Volvo Otouto-nya nganggur di tempat mobil bekas, makanya ia membawa mobil itu pulang.
"Mobilmu rusak, belum sempat diperbaiki. Pakai milik Dei saja. Kuncinya ada di dalam." Sasuke mengangguk sekali, lalu langsung masuk ke mobil iparnya dan memanasi mobil berwarna coklat tua itu.
"Sasuke.. Kau mendengar Kaa-san?" Mikoto mencondongkan tubuhnya ke kaca mobil. Ia tahu putranya sedang banyak pikiran, tapi tidak seharusnya ia mengacuhklan orang yang telah melahirkannya kan?
Sasuke menghela nafas panjang, lalu membuka kaca mobilnya, "Ke tempat Naruto."
Gumaman singkat itu membuat Mikoto ingin menangis. Apakah putranya masih bersikeras bertahan dengan pendiriannya? Apakah ia ingin melawan ayahnya sendiri, Fugaku?
"Sasuke…"
"Aku tahu Kaa-san. Tapi aku menyayanginya, lebih dari apapun di dunia ini. Aku hanya ingin mendengar hati kecilku, itu saja. Bisakah Kaa-san, kali ini saja... Membiarkan aku memilih jalanku sendiri?" Sasuke menatap onyx bundanya lekat, suaranya lembut, namun tegas, membuat Mikoto merinding dibuatnya.
"Aku tahu, selama ini Kaa-san dan Tou-san telah menunjukkanku jalan yang terang dan nyaman untuk dilewati. Tapi kali ini, aku telah memilih jalanan terjal yang penuh lubang. Mungkin suatu saat aku akan terjatuh ke dalam jurang di sampingnya. Walau begitu.. Aku akan tetap bertahan." Mikoto mulai berkaca-kaca. Jarang sekali bungsunya mau berbicara sepanjang ini. Apakah bungsunya sudah benar-benar yakin dengan pilihannya? Tapi itu salah… Apa yang harus Mikoto lakukan?
"Kaa-san, terima kasih. Tapi aku telah memilih jalan bersama Naruto. Tolong.. Jangan halangi kami." Bibir pucat itu tersenyum tulus sebelum akhirnya empat roda tunggangannya bergulir keluar dari garasi yang pintunya memang terbuka. Sasuke tahu, Kaa-san menangis saat ini, dan Sasuke meninggalkannya agar Kaa-san mau memikirkan kembali ucapannya.
"Sasuke… Maafkan Kaa-san."
.
.
"Tuan Muda, ayo dimakan buburnya." Pinta Iruka sambil menyodorkan sesendok bubur hangat kepada Naruto. Sayang sekali, pemuda bermata sapphire itu membuang muka mengacuhkan bubur lezat buatan Iruka.
"Naruto… Kalau kau tidak makan, kau bisa benar-benar sakit." kali ini wanita berambut merah panjang yang berdiri di samping Iruka yang bersuara. Dulu waktu Naruto masih kecil, Iruka yang selalu menyuapi bungsunya. Tapi sekarang, kelihatannya sudah tidak berlaku lagi.
"Bagaimana kalau Kaa-san yang menyuapi?"
"Tidak." Gumam pemuda berambut keemasan menjawab tawaran Kushina. Sedari tadi Naruto tidak mau melakukan apapun. Mandi pun tidak. Kushina sampai pusing memikirkan bungsunya ini.
"Ahh.. Bagaimana kalau kuantar ke warung ramen Ichiraku?" kali ini si pemuda berambut pirang malah menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Kakashi menghela nafas mengetahui tawarannya ditolak mentah-mentah. Padahal Minato menyuruhnya stay di rumah agar bisa mengantar pergi jika putranya ingin. Tapi ternyata, Naruto tidak ingin melakukan apa-apa.
Tidak mau memaksa putranya, Kushina mengajak Kakashi dan Iruka untuk keluar dari kamar. Ia menutup pintu perlahan, kemudian langsung turun untuk menelfon suaminya.
'Mungkin Naruto memang harus merenungkan perbuatannya. Semoga dia berubah pikiran…' bisik hati kecil wanita berambut merah itu. Sungguh dia ingin Putranya kembali menjadi Naruto yang dulu, Naruto yang menjadi teman Sasuke. Tidak lebih dan tidak kurang. Hanya teman…
"Teme…" bisik Naruto kepada dirinya sendiri. Sejak semalam, dia selalu memikirkan kekasihnya. Bungsu Uzumaki ini bisa membayangkan apa yang terjadi kepada Sasuke setelah ia sampai di rumah.
Naruto menurunkan selimut hingga hidungnya dapat menghirup udara tanpa perlu susah-susah menembus kain tebal. Memikirkan apa yang terjadi pada Sasuke membuat hatinya terasa makin sakit. Pemuda yang lahir tanggal 10 Oktober ini meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri. Naruto mulai lelah dengan semua ini.
'Andai aku seorang gadis, pasti semua sudah berakhir bahagia sekarang.'
Tangan tan itu mengusap setetes air mata di pipinya. Dia tidak boleh menangis. Seorang Uzumaki Naruto harus kuat. 'Asalkan aku tetap percaya dan terus berjuang bersama Sasuke, semua akan baik-baik saja.'
Pemuda bersurai keemasan ini terkejut ketika ia mendengar pintu kamarnya dibuka. Samar-samar, telinganya menangkap suara Kaa-san sedang berbicara. Kelihatannya dia sempat tertidur.
"Tolong ya.. Dari tadi Naruto tidak mau makan. Bibi takut dia benar-benar sakit…"
Setelahnya, langkah kaki terdengar menjauhi, sekaligus mendekati Naruto. Walau sangat penasaran, Naruto mengurungkan niatnya untuk menengok, dia terlalu malas.
"Sampai kapan kau mau tidur." Gumam sebuah suara berat mengiringi tersibaknya selimut orange bungsu Uzumaki.
Reflek, Naruto membalik badannya. Tangannya langsung memeluk sosok berkulit alabaster yang kini duduk di kasurnya, erat… Sangat erat. Seolah memastikan bahwa yang dipeluknya saat ini benar-benar kekasihnya.
"Sasuke.. Sasuke.. Sasuke… Hiks…" Naruto merengek, memaksa Sasuke untuk tersenyum tipis. Tangan alabaster itu membelai lembut rambut kekasih yang kini bersandar di dada.
Beberapa saat kemudian, tidak ada suara yang terdengar, kecuali detak jantung Sasuke yang dapat terdengar oleh Naruto dan detak jaunting Naruto yang dapat terdengar oleh Sasuke.
'tap.. tap… tap…'
Suara langkah yang mendekat menarik perhatian Naruto. Pemuda itu langsung melirik wajah datar kekasihnya begitu sapphire-nya menangkap bayangan Kushina yang sedang membawa nampan.
"Naru, makan dulu ya…" lagi, Kushina membujuk putranya. Kali ini sup jagung manis yang menjadi senjata wanita berambut merah panjang itu.
Dengan mantab, Naruto menggelengkan kepala seperti anak kecil. Pokoknya sekarang ini dia hanya ingin bersama Sasuke. Berpelukan seperti ini, tidak ingin yang lain!
"Kalau aku yang menyuapi?"
Anggukan cepat didapat Sasuke sebagai jawaban atas tawarannya. Pemuda berambut pantat ayam itu pun langsung mengambil semangkuk sup dari Kushina, lalu mulai menyendoknya.
Kushina menatap Sasuke dengan sorot sedih, sekaligus penuh harap. Sasuke memang tampan, tapi kenapa harus Naruto yang jatuh? Bukannya para gadis saja? Ahh.. Para gadis memang selalu menyukai Sasuke. Lalu, kenapa Sasuke harus menyukai Naruto juga? Andai saja Sasuke tidak balas menyukai Naruto, pasti…
"Ahh, kalau begitu Kaa-san keluar dulu." Ucap Kushina sebelum ia tak mampu lagi menahan panas di matanya. Wanita paruh baya itu berjalan tergesa, ingin cepat-cepat keluar dari kamar putranya.
"Kaa-san!" suara tinggi Naruto sukses menghentikan langkah Kushina tepat di depan pintu kamarnya. Sayangnya, wanita itu tidak berani menoleh, air mata sudah terlanjut menetes dan Naruto tidak boleh melihat ini.
"Terima kasih banyak…" ungkapan tulus Naruto sukses membuat air matanya makin deras mengalir. Tanpa memberikan respon, wanita bermata emerald itu kembali berjalan, melewati pintu yang sengaja dibiarkannya terbuka hingga Sasuke pulang nanti.
"Kau membuatnya menangis.." Sasuke menyuapkan sesendok sup ke mulut kekasihnya. Walaupun ia tidak melihat secara langsung, bungsu Uchiha ini tahu betul kalau mertua impiannya itu menangis.
Naruto mengalihkan pandangannya. Bagaimanapun, ia tidak bermaksud membuat Kaa-san kesayangannya menangis. Dan sekarang, sapphire-nya juga mulai terasa panas.
"Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja.." Sasuke menaruh mangkuknya, lalu membelai pelan pipi sang kekasih.
"Untuk kali ini, kuijinkan kau meminjam dadaku." Bisik bass merdu di telinga Naruto, membuat pemuda manis yang lahir 3 bulan 3 hari setelah Sasuke itu langsung menumpahkan rasa bersalahnya.
Naruto tidak lagi menahan Kristal yang mencoba keluar dari matanya. ia memerlihatkan sisi lemahnya kepada Sasuke. Tanpa Naruto sadari, Sasuke juga sedang menunjukkan sisi lemahnya.
,
,
'Perasaanku tidak enak.' Batin sosok berambut orange yang sedang tiduran di sofa yang berada di sudut ruangan ayahnya. Pemuda yang sedari tadi tidak sabar untuk bertemu dengan Itachi ini mendadak tidak ingin bertemu dengannya. Walau begitu, Kyuu tidak dapat mengabaikan rasa penasarannya atas hal yang ingin dibicarakan mantan 'teman dekatnya' itu.
Bola mata ruby Kyuu berkali-kali melirik angka digital di pergelangan tangannya. Kelihatannya jam mahal pemberian seseorang di Perancis sana sudah rusak. Bagaimana bisa waktu yang rasanya berjam-jam itu ternyata hanya berjalan sepuluh menit?
"Aaaghh! Apa sih yang mereka lakukan di ruang rapat? Lama sekali…" Kyuubi yang pada dasarnya tidak suka menunggu semakin sebal karena rasa deg-degan yang muncul begitu ia turun dari mobil tidak juga hilang.
Pemuda penggemar daging ini merasa khawatir, sangat. Pasalnya, terakhir kali dia merasakan deg-degan berkepanjangan, hal yang baginya sangat mengerikan terjadi. Kali ini, apa yang akan menimpa dirinya?
Kyuu terus berkutat dengan pikirannya sampai seseorang membuka pintu perlahan.
"Keriput sialan! Kenapa kau lama sekali?" semprot Kyuu saat Itachi masuk ke ruangan ayahnya. Kyuu sempat melihat Itachi mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hei! Kau tuli ya?"
Itachi masih diam. Bibirnya terkunci rapat, namum kakinya berjalan cepat mendekati seseorang yang dulu sangat dicintainya itu. Mata Kyuu membulat sempurna saat ia menyadari apa yang akan dilakukan sulung Uchiha kepadanya.
"Hei, apa yang –"
'buaaghh!'
"Gghh.."
Itachi menghantam perut Kyuu keras dan langsung membantingnya ke lantai. Matanya berkilat tajam menahan amarah. Tangan kanannya masih mengepal kuat.
"Ita – Ukhh."
Keluh Kyuubi saat pukulan kedua Itachi mendarat di rahangnya. Somehow, tingkah Itachi membuat Kyuu ingin menangis dan tertawa bahagia sekaligus.
"Brengsek! Apa yang kau katakan padanya!"
Walau power yang digunakan tidak sekuat tadi, Itachi masih belum mau berhenti memukul. Matanya tidak dapat menyembunyikan amarah dan rasa kecewa yang dirasakannya kini. Itachi semakin brutal, seolah tidak pernah diajari tata krama.
"Tch!"
"Ha… Hahahahah!" suara tawa Kyuu menggema di ruangan kedap suara itu, membuat Itachi sontak menghentikan pukulannya.
"Kyuu.."
"Hahahaha… Dasar Keriput. Huahahahaaa!" tawa Kyuubi terdengar seperti seorang psyco. Tawa keras itu terdengar begitu dingin. Ruby sulung Uzumaki tertuju ke Itachi, terlihat kosong namun menusuk.
Itachi diam. Onyx-nya mengamati mimic Kyuu yang terlihat tidak biasa. Apa yang terjadi padanya? Seingat Itachi, tempat ini bukan sebuah haunted room atau semacamnya.
"Kyuu! Apa yang terjadi padamu? Katakan sesuatu!" raut marah di wajah sulung Uchiha berubah menjadi raut panic. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jadi begini? Sungguh, dia belum pernah melihat Kyuubi yang seperti ini. Apa Itachi memukulnya terlalu keras?
Itachi mendudukkan tubuh Kyuubi, mencoba menenangkan mantan kekasihnya itu. "Kyuu. Apa yang terjadi padamu.."
Pemuda bermata ruby di hadapan Itachi berhenti tertawa. Dia menundukkan kepalanya, seolah yang barusan itu bukan dirinya. Tangan langsatnya mencengkeram kuat lengan alabaster Itachi.
Mata Itachi membulat. Dulu, Kyuu selalu menundukkan kepalanya sambil mencengkram kuat apa saja yang bisa diraih saat dia punya masalah. Kali ini, apa yang sedang mengganggunya?
"Kyuu..." bisik Itachi. Entah setan apa yang merasukinya, Itachi menarik tubuh Kyuubi, lalu memeluknya erat. "Katakan padaku apa yang mengganggumu…"
Kepala bersurai orange itu menggeleng pelan. Jujur, Kyuu memang tidak mengerti dengan hal yang terjadi padanya. Hanya saja… Hanya saja… Semua ini mulai membuatnya gila. Obsesi membahagiakan adik kesayangannya membuatnya terlalu memaksakan diri.
"Aku ingin Naruto bahagia." Sebuah kalimat simple yang dimaknai rumit oleh Itachi. Pria berkuncir longer itu menghela nafas panjang.
Kedua sosok yang dulu pernah menjalin hubungan serius ini sama-sama terdiam. Kyuubi sibuk dengan pikirannya yang entah terfokus pada apa, serta Itachi yang mencoba menahan dirinya agar tidak berbuat yang aneh-aneh kepada Kyuubi yang sedang lengah.
"Ini mulai membuatku gila. Kenapa Sasuke tidak melakukan hal yang sama sepertimu? Kenapa Naruto sangat percaya pada ayam sialan itu?" Kyuu menggela nafas panjang sebelum melanjutkan, "Mereka saling percaya. Mereka yakin atas masa depan hubungannya."
"Kyuu…"
"Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku harus membantu mereka. Lagi pula, aku ingin Naruto bahagia. Aku tidak akan membiarkan pengorbananku dulu sia-sia."
Itachi memutuskan untuk mendengarkan ocehan Kyuu. Kalau dipikir-pikir, omongan pemuda berambut orange itu sangat tepat. Dulu… dia tidak memiliki kepercayaan atas hubungannya dengan Kyuu. Itachi tidak yakin bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Kalau saja dulu dia bersikeras seperti Sasuke sekarang…
"Itachi, kau tahu 'suatu saat' itu kapan?" bisik Kyuu. Satu tangannya yang bebas memainkan ujung rambutnya sendiri. Kepalanya masih bersandar di dada Itachi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Suatu saat nanti, kita pasti akan hidup bahagia…" Mata sulung Uchiha bergetar mendengar ucapan Kyuubi. Kenapa dia mengatakannya? Apa amaksud ucapan barusan?
"Kita sering mendengarnya di serial drama. Orang-orang juga sering mengatakannya. Tapi… tidak ada yang tahu pasti kapan 'suatu saat' itu datang. Kau pernah mangatakannya padaku juga." Jantung pemuda berkeriput halus itu seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Kelihatannya Kyuu sudah terlalu lelah meng-handle urusan Otouto tercintanya, juga Naruto. Semua kejadian ini seolah membawa kenangan pahit Kyuubi saat bersamanya dulu.
Itachi mengeratkan pelukannya, mencoba mengurangi rasa bersalah yang ada dalam hatinya sendiri. Apakah Kyuu benar-benar belum bisa memaafkannya? Atau malah tidak akan pernah memaafkannya? Bagaimana bisa ia hidup bahagia kalau sahabatnya tidak mau memaafkannya?
"Saat aku pergi ke Perancis, aku sudah tidak memercayai 'suatu saat' yang kau katakan. Walau kenyataannya sekarang aku sudah menemukan kebahagiaanku, aku masih sering bertanya, suatu saat itu tepatnya berapa lama…"
"Kyuu. Maafkan aku.."
"Kubilang aku menemukan kebahagiaanku." Kyuu menarik nafas dalam sebelum melanjutkan, "Yang harus kau pikirkan adalah 'suatu saat' milik Sasuke dan Naruto."
Lagi, mereka berdua larut dalam imajinasinya masing-masing. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka begini. Kyuubi memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat rasa yang dulu selalu muncul saat Itachi memeluknya.
"Kyuu.."
"Hmm."
"Kau mengatakan sesuatu kepada Dei?" Tanya Itachi to the point dengan nada datar. Sulung Uchiha bukannya ingin mengalihkan pembicaraan, dia hanya mencoba menanyakan hal yang sejak semalam mengganggunya.
"Begitulah.." Lengan langsat Kyuubi mendorong pelan tubuh Itachi, membuat pelukan longgar si mata onyx lepas begitu saja.
"Kau ingin membunuhnya, atau membunuhku?" Kyuu dapat dengan jelas mendengar amarah yang terselip dari nada bicara Itachi.
"Tch. Sudah kukatakan padamu. Aku hanya ingin Naruto bahagia." Kyuu duduk bersila. Matanya melirik sebal Itachi.
"Tapi bukan berarti kau bisa melakukan semua sesukamu. Kau memberi tahu Dei tanpa meminta ijin dariku. Dan yang paling parah.. Dia sedang mengandung, Kyuu. Kau pikir apa yang akan terjadi kalau dia terlalu syok?"
"Dia wanita yang kuat." Gumam Kyuu memotong ucapan bernada tinggi pemuda pucat dihadapannya.
"Aku saja percaya padanya, bagaimana bisa kau tidak memercayainya?"
Itachi diam. Sulung Uchiha ini menyadari sesuatu, percuma berdebat dengan Kyuu. Toh semua sudah terlanjur terjadi. Apapun yang Itachi lakukan, itu tidak akan membuat istrinya amnesia dan melupakan omongan Kyuu. Sebenarnya, cepat atau lambat, Deidara pasti akan tahu juga.
"Dia memberi tahumu tentang apa yang kukatakan?"
Itachi menggeleng, membuat Kyuu menghela nafas berat, "Pasti semalam reaksi Deidara sangat berlebihan."
"Hn?"
"Aku bisa membayangkan apa yang terjadi pada Sasuke. Aku berani pertaruh Deidara ada disana. Dia keceplosan kan?"
"Hampir. Dia menahan dirinya. Tapi semua itu sudah cukup untuk membuatku menyadari apa yang terjadi." Itachi melirik mimic wajah Kyuubi yang sudah kembali seperti biasanya. Dalam hati, Itachi bersyukur mantan sahabatnya baik-baik saja.
"Hei Keriput. Ikut aku ke bandara besok."
"Hmm?" alis sulung Uchiha berkerut. Kenapa tiba-tiba Kyuu mengalihkan pembicaraan setelah melihat gadget-nya? Apa dia meminta Itachi untuk mengantarnya? Apa dia akan kembali ke Perancis? Meninggalkan keadaan yang masih belum stabil begini?
"Ajak Dei juga. Aku tidak bisa menerima jawaban tidak." Gumam Kyuu seenaknya, membuat Itachi bertambah bingung.
"Tunggu sebentar! Kenapa kau memutuskan seenaknya? Memangnya apa yang akan kita lakukan di Ban –"
"Akan kuperkenalkan kepada seseorang."
,
,
"Ahhh.. Teme.. Aghh.."
"Naru.. Sebentar la –gihh.."
"Mmhh.."
"Iruka… Katakan kalau telingaku bermasalah." Seorang wanita berambut merah panjang tak bisa menahan air yang mengalir dari mata emerald-nya. Suara-suara yang berasal dari kamar mandi dalam di kamar putranya benar-benar membuat hatinya terluka.
"Kushina-san.. Sebaiknya anda beristirahat di kamar anda." Kakashi mencoba menenangkan. Dipegangnya bahu nyonya Uzumaki itu, lalu mencoba menuntunnya menjauh dari kamar tuan muda.
Sementara itu Iruka langsung keluar dan mengambil ponsel untuk menelfon seseorang. Wajahnya terlihat begitu panic dan sedih, tak kalah dari raut muka Kushina.
Lima menit yang lalu, mereka bertiga memutuskan untuk sekedar melihat seberapa banyak Naruto mau makan. Sayangnya, Sasuke dan Naruto tidak berada di sana. Yang ada hanyalah suara air shower yang terus mengalir, dilanjutkan dengan suara-suara desahan.
"Kakashi. Apa yang harus kulakukan?" Kakashi diam. Bukannya tidak mau menjawab, pria bermasker itu tidak bisa menjawab. Mustahil baginya mengatakan 'dukung saja mereka' atau 'mereka harus segera dipisahkan'. Keduanya merupakan pilihan yang sama-sama tidak baik.
"Naruto.. Apa dia benar-benar bahagia bersama Sasuke?" Kakashi mendudukkan nyonya di kasurnya.
"Kushina-san. Sebaiknya anda tidur sekarang…" Kushina tidak menanggapi permintaan sopirnya itu. Dia hanya diam dan membiarkan Kakashi pergi tanpa menjawab satupun pertanyaannya.
"Sasuke benar-benar keterlaluan! Melakukan hal seperti itu di rumah ini." Gerutu Kakashi saat ia berjalan menuruni tangga. Matanya sibuk mencari sosok Iruka. Kemungkinan besar pria berkuncir tinggi itu sedang menelfon Minato.
.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Maaf Tuan. Tadi Sasu –"
"Brengsek bocah itu!"
"Kushina-san, dia.."
"Kau membiarkannya masuk ke rumahku? Menemui Naruto? Dan kau bilang, sekarang mereka sedang melakukan sesuatu? Kenapa kau tidak menghentikannya? Kenapa kau malah menelf –"
"Minato-san! Dengarkan aku sebentar."
Suara di seberang sana tidak lagi terdengar. Kelihatannya dia syok karena Iruka baru saja membentaknya. Kepala pelayannya baru saja berteriak dan memotong ucapannya. Baiklah.. Minato memang harus mendengarkan penjelasan Iruka terlebih dahulu.
Helaan panjang terdengar sebelum akhirnya Minato mulai bicara, "Aku mendengarkanmu."
"Tadi Kushina-san yang mengizinkan Sasuke-kun masuk. Dia melakukannya demi Tuan Muda. Tuan Muda tidak mau makan, jadi Kushina san pikir…"
Lagi-lagi Minato menghela. Istrinya memang terlalu lemah jika harus berhadapan dengan kedua putranya. Bagi Kushina, kebahagiaan Naruto dan Kyuubi adalah yang paling utama.
"Dan barusan, saat kami akan mengecek keadaan Tuan Muda, Kushina-san terlihat syok setelah mendengar suara mereka berdua dari dalam kamar mandi."
"Yaa.. Dia pasti sangat terkejut." Bisik Minato lemah. Dia tahu bagaimana rasanya 'terkejut' seperti Kushina karena dulu dia juga pernah mengalaminya. Dulu, saat dia tidak sengaja bangun tengah malam dan melewati kamar Kyuu. Saat itu Itachi menginap di rumahnya. Dia tidak menyangka, sulungnya memiliki hubungan seperti itu dengan putra sulung keluarga Uchiha.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang." Sambungan pun terputus. Kali ini Iruka yang menghela nafas berat. Dalam keadaan biasa, dia pasti tidak akan berani berteriak kepada Minato.
"Kurasa kita tidak bisa berbuat banyak." Iruka berbalik saat mendengar suara Kakashi. Entah sejak kapan pria itu berdiri di sana, yang jelas saat ini Kakashi sedang mengacak rambutnya frustasi. Masalah ini membuatnya ikut berpikir terlalu keras.
.
"Nee Teme."
"Hn.." gumam Sasuke saat mendudukkan Naruto di kasurnya. Kedua pemuda itu sudah memakai pakaian lengkap, rambutnya setengah kering. Kelihatannya mereka berdua mandi setelah melakukan sesuatu.
"Apa yang bisa kita lakukan selanjutnya? Aku tidak mau jika hubungan kita terus seperti ini. Aku ingin hidup bahagia bersamamu. Aku ingin tidak ada yang memermasalahkan hubungan kita. Aku ingin k –"
-chuu-
Kecupan lembut di bibir memotong ocehan Naruto. Tidak perlu mendengarkan semuanya, Sasuke tahu keinginan kekasihnya. Andai saja dia tahu rencana Kyuu, pasti sekarang Sasuke bisa membuat perasaan Dobe kesayangannya lebih tenang. Sayangnya, Kyuu menolak untuk memberitahunya.
"Aku juga tidak tahu. Kyuu bilang, kita harus menunggu sebentar lagi." Bisik Sasuke membaringkan tubuh tan berbalut kaos salem itu. tangan alabaster-nya kemudian menarik selimut menutupi tubuh Naruto hinga sebatas dada.
"Tapi dulu Kyuu-nii sering bohong padaku."
"Hn?" Sasuke membelai lembut puncak kepala kekasihnya. Jujur dia ingin segera melakukan 'rencana terakhir' yang pernah dikatakan Kyuu padanya. Kalau rencana itu berhasil, semua akan berakhir bahagia. Tapi, bagaimana dia bisa melakukannya kalau Kyubi belum mau memberi tahu?
Onyx Sasuke tak lepas dari wajah sebal kekasihnya. Rasanya ingin terus melihat Naruto yang seperti ini. Menggerutu sebal, menggembungkan pipinya, bercerita tentang masa kecilnya. Saat Kyuu berbohong padanya dan mengatakan bahwa putri duyung dan peri benar-benar nyata. Ahh… Andai saja mereka tidak harus tumbuh dewasa, mereka tidak perlu merasakan semua sakit ini.
" –Kyuu-nii benar-benar menyebalkan!" bibir pemuda berkulit tan itu manyun saat mengakhiri cerita masa lalunya. Naruto mendongakkan kepalanya, melirik apakah Sasuke mendengarkan ceritanya.
"Kau juga menyebalkan!" cubitan ringan mendarat di perut bungsu Uchiha. Naruto sebal karena kekasihnya malah tersenyum bahagia, sementara ia sedang mengingat kepolosannya di masa lalu.
"Untuk kali ini. Kau harus percaya pada Kyuubi."
Naruto menenggelamkan kepalanya di dada Sasuke yang kini berbaring di sampingnya, "Aku percaya padamu, aku percaya pada Kyuu-nii…"
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Naruto mencoba tidur setelah lelah melakukan sesuatu dengan Sasuke, sementara Sasuke asyik membelai kepala kekasihnya, mencoba membuatnya merasa nyaman.
"Dobe…"
"Hmmm?"
"Bagaimana jika kau tidak bertemu dengan Bibi Kushina dan paman Minato?"
Putra kedua Uzumaki mendongakkan kepala, alisnya berkerut mencoba mencari penjelasan atas pertanyaan complicating Sasuke. Tidak biasanya Sasuke tidak pandai merangkai kalimat.
"Maksudku, bagaimana jika kita harus pergi jauh.. Sangat jauh… Agar kita dapat hidup bahagia?"
"Asalkan aku bersama Sasuke. Kurasa tidak apa-apa."
"Hn." Onyx Sasuke menerawang jauh, yang ia tahu dari Kyuu adalah bahwa kemungkinan besar dia akan sulit bertemu orang tuanya. Itu masih kemungkinan, masih bisa berubah. Bagaimana caranya, itu yang sedang Sasuke pikirkan saat ini. Kenapa Kyuubi pelit sekali? Memangnya Sasuke akan membocorkan kepada siapa? Bukankah ia dan Naruto adalah pusat dari segala rencana Kyuu? Kyuubi memang selalu begitu. Sok misterius…
"Bukankah tidak ada yang mustahil jika kita bersama-sama…"
Jantung Sasuke seolah berhenti berdetak mendengar ucapan setengah sadar kekasihnya. Bagaimana dia bisa melupakan kalimat itu? Semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Uchiha, apalagi jika dia didampingi oleh seorang Uzumaki. Semua…
"Ya. Semua akan baik-baik saja…" bisik pemuda berambut raven sebelum akhirnya mengecup puncak kepala blonde pemuda tan kesayangannya.
"Aku senang bisa tumbuh dewasa dan menyukaimu…"
.
.
"Jadi, apa yang baru saja kau lakukan?" tanya sosok berambut pirang yang masih memakai pakaian kantor lengkap. Bahkan ia belum sempat menaruh tas jinjingnya. Dia mencegat Sasuke di anak tangga paling bawah, seolah tidak ingin membiarkan pemuda alabaster itu pulang dalam keadaan selamat.
"Menidurkan Naruto." jawab Sasuke asal. Ia merasa percuma bersikap manis di depan Minato. Toh pria paruh baya itu membencinya. Jadi, apapun yang dilakukan si bungsu Uchiha adalah sesuatu yang salah di mata kepala keluarga Uzumaki ini.
"Menidurkan? Kurasa kalimatmu kurang tepat." Sindir Minato. Matanya berkilat tajam saat onyx Sasuke menatapnya lantang, seolah melancarkan tantangan.
"Terima kasih koreksinya, Paman." Sasuke menarik nafas dalam sebelum membetulkan kalimat yang sebenarnya tidak salah itu, "Aku baru saja meniduri Naruto."
Pria bermata azure di hadapannya langsung menghela nafas. Percuma mengajak Sasuke berperang dengan cara seperti ini. Minato pun member isyarat kepada Sasuke untuk mengikutinya.
"Duduk."
Tanpa diminta dua kali, Sasuke langsung duduk di sofa kecoklatan di perpustakaan mini milik paman Minato. Dulu, dia sering membaca buku disini bersama Kyuu, Itachi dan tentunya, Naruto.
"Sasuke. Bisakah kau meninggalkan Naruto?"
"Tidak."
Lagi, Minato menghela nafas. "Kalau Naruto yang meninggalkanmu…"
"Dia tidak akan meninggalkanku, Paman. Dan paman juga tidak akan bisa memaksanya. Paman tidak akan sanggup."
Sasuke menjawab dengan nada penuh keyakinan. Matanya tak lepas dari azure Minato. Dia tidak mau terlihat lemah di depan ayah dari orang yang sangat dicintainya.
"Katakan kepada paman, kenapa kau begitu menginginkan Naruto?" kali ini Minato dapat melihat senyum tipis di bibir bungsu Uchiha.
"Karena aku mencintainya paman. Aku ingin dia bahagia. Satu hal yang aku tahu, Naruto bahagia jika bersamaku."
"Berhenti bergurau dan lepaskan Naruto!" nada bicara Minato mulai naik.
"Tidak."
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika terus bersamanya!"
"Ya. Seperti yang terjadi pada Aniki dan Kyuubi?" bola mata Minato bergetar seolah tak percaya saat Sasuke mengucapkannya.
'Bocah ini, dia tahu semuanya…'
"Tapi aku dan Naruto tidak selemah itu, Paman. Kami akan mengalahkan Paman dan Tou-san. Apalagi Kyuubi bersama kami. Ahh, Paman tidak akan menyangka berapa banyak yang berada di belakangku dan Naruto. Mereka mendukung kami."
"Hentikan semanya! Kau akan menyakiti Naruto. Kau akan membuatnya menderi –"
"Satu-satunya yang membuatnya menderita adalah Paman dan Tou-san! Kenapa kalian semua tidak mau mengerti?"
Sasuke setengah berteriak. Ucapannya memotong kalimat Minato dengan lancang. Bungsu Uchiha itu tidak peduli jika Minato marah atau apa. Tohh, Minato sudah terlanjur membencinya. Sasuke sudah sampai sejauh ini, dia tidak akan mundur. Tidak akan pernah…
Uchiha Sasuke harus membuat Paman Minato menyetujui hubungannya dengan Naruto. Sasuke akan melakukan apapun demi aitu. Apapun… Meski ia harus –
"Kumohon Paman. Biarkan Naruto bersamaku. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya. Aku berjanji. Demi semua yang kumiliki, aku berjanji, akan membuat Naruto bahagia…"
Nafas Minato tercekat ketika manic birunya menangkap bayangan pemuda berkulit pucat yang sangat dicintai putranya berlutut dihadapannya. Sasuke kemudian bersujud, memohon… Membuang harga diri seorang Uchiha yang selalu dijunjungnya. Menanggalkan sikap angkuh yang selalu ia punya.
"Pulanglah. Tidak ada gunanya kau berada disini." Gumam Minato sembari beranjak dari kursinya. Ia lalu berjalan melewati Sasuke yang masih bersujud, kemudian keluar dari perpustakaan. Pria berambut keemasan itu seolah tidak peduli dengan sakit yang dirasakan Uchiha bungsu.
.
.
Hari berikutnya. Bandara Internasional Konoha, 09.10
"Kyuu-kun, kita sedang menunggu siapa?" tanya Deidara kepada sosok berkaos marun disampingnya. Sudah setengah jam mereka berada di ruang tunggu bandara.
"Tenanglah Dei. Pesawatnya akan tiba sepuluh menit lagi." Gumam Kyuubi. Pria yang memakai kaos marun polos ketat dan celana jeans ketat itu terlihat sangat bahagia.
"Kenapa kau menyeret kami dengan tujuan tidak jelas begini? Bagaimana kalau ada wartawan majalah bisnis nyasar disini? Bisa-bisa berita yang beredar berubah menjadi yang lebih aneh." Gerutu Itachi yang duduk di sebelah kanan Dei. Dia kelihatan sebal. Sangat sebal. Bukan karena terlalu lama menunggu, namun karena Deidara, istrinya, terlihat akrab dengan Kyuubi, coret-mantan pacarnya-coret.
"Diamlah keriput. Kalau kau mau, pulang saja duluan. Aku bisa menunggu bersama Deidara." Kyuu menghentakkan kaki berbalut boots coklat bata ke lantai. Matanya berkilat sebal mendengar komentar rivalnya.
"Kau mau menemaniku menunggu kan, Dei-chan…?" Kyuu tersenyum –sok- manis ke arah Dei. Membuat wanita yang perutnya sudah terlihat membesar itu bersemu, sementara Itachi makin menggerutu.
"Tch." Decih sulung Uchiha membuat dua orang disebelah kirinya terkikik geli.
Kalau boleh jujur, Itachi ingin bertanya kenapa Kyuu berpakaian seperti itu. tidak biasanya dia memakai kaos ketat sambil membawa-bawa jaket segala. Ahh, jangan lupakan boots coklat itu! Setahu Itachi, Kyuubi adalah makhluk ter-simple di dunia. Dia hanya akan memakai kaos atau kemeja, celana panjang plus sepatu kets.
"Ahh itu dia." Pekik Kyuu riang saat melihat papan daftar penerbangan yang tiba hari ini. Pesawat yang ditunggu-tunggu saat ini sedang melakukan pendaratan. Kyuu pun langsung berdiri, merapikan penampilannya, lalu berlari kecil menuju pintu tempat seseorang yang dinantinya akan keluar.
"Ahh. Dia sangat menyebalkan!" Itachi berdiri, kemudian menggandenga lengan istrinya untuk menyusul Kyuu. Mau tidak mau, dia memang harus menyusul orang itu.
"Mungkin orang yang ditunggunya adalah orang yang sangat special." Dei memeluk erat lengan Itachi. Mereka berdua terlihat sangat mesra. Kalau saja Kyuu melihat ini empat tahun yang lalu, dia pasti akan mengamuk. Tapi sekarang…
"Aaghh! Lama!"
"Kyuu-kun, temanmu harus berjalan dari pesawat, lalu mengambil tasnya, lalu berjalan kesini." Ucap wanita berambut pirang panjang setibanya ia di samping pria yang sekarang kelihatan salting itu. Memangnya siapa sih yang sedang ditunggu Kyuu?
"Aku tahu Dei. Aku tahu…"
"Mungkin dia nyasar."
"Itachi…"
"Diam kau keriput jelek!" Kyuu berbalik, menatap manic Itachi dengan ruby yang berkilat sebal. Pada saat-saat seperti ini, bisa-bisanya Itachi malah bercanda.
"Apa? Harusnya kau bisa bersikap lebih dewasa. Diam dan tungggulah dengan tenang!"
"Aku tidak bisa tenang."
"Ohh, kalau begitu, perlu kuberi obat tidur? Atau alcohol 75%?"
"Keriput gila! Kau mau membunuhku?"
Dan pertengkaran ala anak-anak TK itu pun dimulai.
Itachi merasa sedikit lega karena bisa melampiaskan kekesalannya dengan cara seperti ini. Suami mana yang tidak kesal saat istrinya lebih memilih mengacuhkannya dan ngobrol dengan pria lain yang jelas-jelas lebih ganteng darinya? Itulah yang sedang dirasakan sulung Uchiha yang malang ini.
Kyuubi merasa sangat geram karena rival sialan ini malah membuatnya kesal saat ia sedang panic dan deg-degan karena alasan yang sangat pribadi. Memangnya Itachi tidak bisa menunggu dengan sabar apa?
Sementara itu, Deidara mulai terlihat bingung. Orang-orang mulai memerhatikan kegiatan mereka yang sangat tidak jelas ini. Bagaimana Dei harus menghentikannya? Harus dengan cara apa?
"Papaa~"
Terdengar suara cempreng dari arah belakang Kyuu. Saat pria itu berbalik, seorang anak kecil langsung menubruknya dan memeluk erat.
"Papa. Miss you…" Bocah berambut orange dengan mata biru mendongakkan kepalanya, menatap wajah Kyuubi yang terlihat makin bahagia.
"Me too." Kyuu membungkukkan badannya, membalas pelukan bocah berkulit langsat itu. Kyuubi lalu berjongkok dan mengacak rambut si bocah gemas.
"Où est ta mère ? (where is your mom?) "
"Ketinggalan…" gumam si bocah dengan wajah innocent. Sepertinya ia sedang mencoba berbicara menggunakan bahasa yang dipakai di Konoha. Ahh, lucu sekali dia.
"Ketinggalan? Tu as quitté tamère?Où? (you left your mom ? where ?) "
Bocah di hadapan Kyuu malah tersenyum lebar sambil menggeleng cepat. Ya ampun… Kyuubi harus bagaimana?
Kyuubi mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita yang seharusnya datang bersama bocah manis ini. Ruby-nya menatap nyalang setiap orang yang keluar dari pintu kedatangan.
"Kurama! Kurama…" seorang wanita menyeret sebuah koper besar sambil berlari. Wajahnya terlihat panic, sesekali ia menoleh untuk menlihat apakah 'Kurama'nya ada.
"Shion!" panggil Kyuu. Pria berkaos ketat melambaikan tangan, membuat wanita yang memakai dress dan hi-hills yang tadi berteriak panic menoleh. Wanita berambut pirang gantung itu menghela nafas lega, lalu berjalan santai kea rah Kyuu dan si bocah.
"Kurama, Ne me faites pasvous inquiétez pas. Ne pas courir etme laisseencore une fois,OK? (don't make me worry. Don't run and leave me again, OK ?) " omel wanita itu setibanya di hadapan Kyuu. Tangan lembutnya mencubit pelan pipi bocah yang ternyata bernama Kurama.
"Hai, Mama." Kurama lagi-lagi memberikan senyum lima jarinya. Bocah ini sangat mirip Kyuubi saat ia masih kecil dulu.
"Shion.." bisik Kyuu. Pria itu menarik dagu wanita bernama Shion dan menciumnya singkat.
Mereka bertiga lalu berbincang, melupakan dua sosok manusia yang sejak tadi menonton adegan temu kangen ini tanpa melakukan apapun.
"Ehem, Kyuu. Kau melupakan kami."
"Ahh. Maafkan aku." Walaupun minta maaf, wajah Kyuu sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. Ia kemudian berdiri menghadap Itachi yang menggerutu dan Deidara yang tersenyum manis.
"Nah, Ini Itachi dan Deidara." Itachi dan Dei membungkukkan badannya sekilas.
"Keriput, Dei.. Mereka keluargaku."
'degh' jantung Itachi seolah berhenti berdetak saat Kyuu mengatakannya. Pria ini berharap, Kyuubi tidak akan pernah menyelesaikan kalimatnya.
"Ini Shion, Istriku." Shion membungkukkan badannya, kemudian tersenyum dan memberi salam.
"Yang ini Kurama, putraku. Dia tampan sepertiku kan?"
"Yoroshimu…" ucap Kurama riang.
"Bukan yoroshimu, tapi yoroshiku." Shion membetulkan ucapan putranya. Wanita berpenampilan feminim ini terlihat sangat sabar mendidik putra semata wayangnya.
"Dia manis sekali, berapa tahun usianya?"
"…"
"…"
Deidara nampaknya langsung akrab dengan Shion dan putranya. Mereka berbincang tentang banyak hal. Sementara itu, Onyx Itachi tak lepas dari ruby Kyuu yang seolah tersenyum menang. Itachi seolah menuntut penjelasan atas kejadian hari ini. Sementara Kyuubi seolah sedang menunjukkan 'kebahagiaan' miliknya sendiri.
"When you ride your bike and start to leave me again, I have flown away and reached my own destination"
.
.
Tbc
.
.
Hahahaahhhh…
Akhirnya setelah sekian lama mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan alur cerita, Kyuu nemuin juga
Semoga readers suka yahhh :3
Sorry buat bahasa Perancis yang amburadul *bvungkuk2
saya paling ga bisa mata kuliah ini diantara bahasa inggris, bahasa jepang dan bahasa perancis
OK. Saatnya bales review nih XDDD
.
Ukkychan: iya dong berenti :D
Biar ga kepanjangan XDDD
Yuppie ini dah lanjut :D
Thanks 4 review ya :*
.
Uwichan: itu, soalnya Kyuu mau Itachi sama Deidara XDDD
Iyap ini dah lanjut, makasih yaaa XDD
.
La Nina Que ' Aru-chan: terima kasih… terima kasih … saya akan terus berusaha *bungkuk-bungkuk
Di cerita "Sorry, I'm GAY" malah alay semua. Hahahah.. itu sisi alay Kyuu keluar semua :p
Semoga suka chap ini ya :3
.
Yashina Uzumaki: ohh itu. tenang saja :3
Chap depan SasuNaru akan banyak scene. Sakitnya bakal kambuh lagi kok.. tenang, tenang….
Terima kasih, smeoga suka chao ini :*
.
Rosanaru: Kyuu juga deg-degan pas bikinnya :3
Ini udah muncul. Sebentar lagi kenalan kok :D
Semoga suka, terima kasih :*
.
ChaaChulie247: kalo Sasuke mengijinkan, dua chap lagi tamat XDD
Yah, kita liat sajalah nanti ya :*
Btw, terima kasih atas dukungannya :D
.
Kaito Mine: tuh istrinya dating XDDD
Iya, Kyuu (pengetik) juga penasaran sama Kyuu (kakaknya naru)
Plaakk~~ *digeplak sandal
Bentar lagi Kyuu dan Sasuke dan Naruto dan kawan kawan akan beraksi lohhh :*
Terus dukung mereka yahhh…
Terima kasih :*
.
.
Yoshh… selsesai juga :D
Akhir kata,
Review please :*
