"Ini Shion, Istriku." Shion membungkukkan badannya, kemudian tersenyum dan memberi salam.

"Yang ini Kurama, putraku. Dia tampan sepertiku kan?"

"Yoroshimu…" ucap Kurama riang.

"Bukan yoroshimu, tapi yoroshiku." Shion membetulkan ucapan putranya. Wanita berpenampilan feminim ini terlihat sangat sabar mendidik putra semata wayangnya.

"Dia manis sekali, berapa tahun usianya?"

"…"

"…"

Deidara nampaknya langsung akrab dengan Shion dan putranya. Mereka berbincang tentang banyak hal. Sementara itu, Onyx Itachi tak lepas dari ruby Kyuu yang seolah tersenyum menang. Itachi seolah menuntut penjelasan atas kejadian hari ini. Sementara Kyuubi seolah sedang menunjukkan 'kebahagiaan' miliknya sendiri.

"When you ride your bike and start to leave me again, I have flown away and reached my own destination"

,

,

There's No Regret in My LIfe –

Sequel of "There's No Next Time"

Disclaimer "Naruto": Masashi Kishimoto

This story: KyuuRiu

Pair: SasuNaru (main)

And many more

Rated: T

Genre: Hurt/Comfort - Romance

Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget

.

.

Part 7: You are (Not) Alone

Seorang pria berwajah tegas yang duduk di ujung meja makan keluarga Uzumaki terlihat menghela nafas. Ia sesekali menyibakkan rambut blond kebanggaannya. Azure-nya menatap sulungnya lekat, kemudian berpindah menengok wanita yang memakai mini blouse putih bercorak bunga-bunga kecil berwarna biru, dipadukan dengan rok ruffle biru tua. Rambut kriting gantungnya diikat tinggi ke atas. Walaupun bibirnya tidak bergerak, tatapan sang kepala keluarga Uzumaki seolah menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum.

Sementara itu di sisi lain meja, Naruto terlihat diam. Matanya menatap malas sang kakak, juga Tou-san yang kelihatan senang. Sapphire-nya berpindah melirik Shion. Wanita berwajah manis itu membuatnya cemburu. Sangat cemburu…

Sasuke. Kenapa Sasuke tidak bisa mendapat tatapan seperti itu dari Tou-san? Kenapa hanya Shion yang bisa mendapatkannya? Tatapan penuh kasih yang mengisyaratkan bahwa Minato menerima kehadiran wanita itu di keluarganya.

Kyuubi. Kenapa Kyuu melah membawa pulang wanita asing ini? Apa maksudnya? Naruto benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran kakaknya. Apa Kyuu ingin menunjukkan betapa bahagianya ia setelah menemukan seorang wanita dan memiliki seorang anak? Apakah Kyuubi berbalik mendukung ayahnya?

'Brengsek!'

"Baiklah. Sepertinya semua sudah berkumpul." Ucap Kyuu setelah ia merasa seluruh penghuni rumah –termasuk Iruka, Kakashi dan para pembantu lainnya- berkumpul.

"Tou-san, Kaa-san, ini Shion, istriku."

Shion berdiri kemudian membungkuk dan memberi salam. Tidak hanya kepada keluarga yang duduk di meja makan, Shion juga memberi salam kepada para pembantu yang berdiri di samping meja. Wanita ini sungguh sangat sopan.

"Yang ini putraku, Kurama. Usianya baru dua setengah tahun, tapi dia sudah sangat tampan. Sama sepertiku. Hahahaha.." Kyuu mengangkat putranya, menggendongnya di depan dada. Sepertinya Kyuubi sangat bangga dengan putranya.

"Yoroshi…" bocah berusia dua setengah tahun itu tampak ragu, mata birunya menatap pria berkaos coklat yang menggendongnya, meminta bantuan.

" –ku." Bisik Kyuu sambil tersenyum.

"Yoroshiku semuanya…." Kurama menunjukkan sebuah senyum lebar. Membuat semua orang di ruangan ini ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakannya.

"Nah, Kurama. Yang diujung sana adalah Ji-san."

"Ji-san…" wajah polos Kurama terlihat sangat manis ketika ia mencoba menirukan ucapan Papa-nya.

"Di sampingnya, Baa-san."

"Baa-san.."

"Yang disana, Na –"

"Naruto!" pekik bocah berambut orange itu riang. Matanya berbinar ketika menatap wajah malas pamannya. Semua yang ada di ruangan ini terlihat terkejut ketika Kurama meneriakkan nama itu. Kyuu belum selesai bicara kan?

"Papa. Nanti main sama Naruto, boleh?" Kyuu mengacak rambut putranya saat melihat ekspresi memohon yang ia berikan. Ayah satu anak itu kemudian mengangguk, memberi persetujuan.

"Merci (thanks)"

Kyuubi lalu memerkenalkan para pembantunya satu per satu. Bagaimanapun, Shion dan Kurama harus mengenal mereka. Kyuu selalu mengajarkan putranya untuk bersikap sopan kepada siapa saja. Yahh, walau pada kenyataannya Kyuubi adalah brandal yang suka membangkang.

Makan malam keluarga ini pun dimulai setelah Kushina meminta Iruka dan yang lainnya kembali masuk. Kushina dan Minato kelihatannya sangat menerima kehadiran Shion. Mereka langsung akrab dan membicarakan banyak hal.

"Aku kenyang." Ucap Narito tiba-tiba. Pemuda berkulit karemel itu langsung beranjak dari kursinya, ia berjalan menaiki tangga tanpa perlu repot-repot melihat ekspresi kedua orang tuanya.

"Lagi-lagi dia tidak mau makan.." gumam Kushina. Emerald-nya terlihat sayu, namun kehadiran Shion dan cucunya sedikit banyak bisa menghibur.

Andai saja mereka tahu apa yang Naruto rasakan…

"Brengsek! Kyuu-nii brengsek!" Omel Naruto setibanya di kamar. Pemuda itu langsung membanting pintu dan berjalan menuju kasurnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

Naruto menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tangan tan-nya lalu mengacak surai keemasannya frustasi, sesekali menjambaknya. Naruto terisak. Pemuda ini benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

"Kenapa, Kyuu-nii… Aaaaggghhhh!"

'Sial! Sial! Sial!'

Naruto memukul dadanya berkali-kali. Mencoba menghilangkan rasa nyeri di dalamnya. Ini benar-benar sakit. Satu-satunya pemegang kunci semua rencana yang belum dia ketahui malah berkhianat. Orang yang sangat dipercayai meninggalkan Naruto begitu saja.

Ya. Tanpa mengatakan apapun, Kyuubi tiba-tiba melakukan ini. Membawa Shion pulang… Kenapa dia bisa melakukan itu? bahkan Kyuu tidak pernah memberi tahu Naruto kalau dia sudah menikah. Apa-apaan semua ini?

"Sakit…"

Rasanya memang begitu sakit saat harapan besar yang kau miliki tiba-tiba menghilang tanpa mengatakan apapun.

Rasanaya memang sakit ketika seseorang yang sangat kau percaya mengkhianatimu.

Rasanya memang menyakitkan. Sangat…

Saat kau tidak bisa bersatu dengan seseorang yang kau cintai.

Kyuubi 'meninggalkannya'… Naruto hampir menyerah.

"Bohong… Aku tidak bisa jika tidak memiliki Sasuke~~ Hks… Kyuu-nii pembohong!" Bantal Naruto semakin basah, air matanya tak mau berhenti mengalir. Hatinya benar-benar terluka.

"Sasuke… Aku harus bertemu Sasuke!" beranjak dari tempat tidur, Naruto lalu membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Lantai dua dengan kolam renang tepat di bawahnya.

Naruto tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil keputusan. Ia langsung melompat, menyeburkan diri ke kolam berisi air yang sangat dingin.

Bahkan Naruto lupa bahwa ia tidak pandai berenang. Bungsu Uzumaki lupa akan traumanya dengan air. Lupa bahwa ia pernah hampir tenggelam saat menyelamatkan Sasuke. Naruto tidak lagi ingat bahwa kejadian di laut saat itu membuatnya benar-benar takut dengan air banyak hingga sekarang.

"Sasuke… Sasuke…" bibir tipis itu bergumam seolah merapalkan mantra.

Naruto berjalan hingga ke tepian, kemudian naik dan langsung menapakkan kakinya cepat. Tatapannya begitu kosong. Hanya satu yang ada di pikirannya sekarang. Sasuke… Naruto harus bertemu dengan Sasuke. Kyuubi tidak akan membantu mereka lagi. Hanya Sasuke yang dapat berjuang bersama dirinya.

"Sasuke… Hkss… 'Suke."

Tubuh yang seolah tak bernyawa itu berjalan melewati rute yang seingatnya menuju rumah keluarga Uchiha. Sapphire yang menatap kosong itu terus saja mengeluarkan air mata.

.

,

"Papa… Naruto mana?" Kurama menarik-narik pakaian Kyuu. Bocah bermata biru itu kelihatannya sangat ingin bermain dengan sang paman.

"Naruto sedang tidur. Besok pagi saja ya mainnya…" Kyuu tersenyum, lalu menggendong putranya. Ia berjalan menaiki tangga, diikuti Shion di belakang.

"Kau terlalu banyak bercerita tentang Naruto lewat telfon. Dia jadi penasaran begitu…" gumam Shion dibalas cengiran khas milik Kyuu.

Mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Minato dan Kushina meminta mereka untuk langsung beristirahat. Naik pesawat dari Perancis ke Konoha tentunya sangat melelahkan. Apalagi untuk Kurama yang masih berusia dua setengah tahun.

Kyuu mengantar mereka berdua masuk ke kamarnya, Setelah mengganti pakaian Kurama dengan piyama bermotif lebah, ia membaringkan bocah penyuka apel itu, lalu mengecup puncak kepalanya lembut.

Kecupan lembut juga didapat Shion setelah wanita anggun itu mengganti pakaiannya. Dengan isyarat mata, Kyuu meminta istrinya untuk tidur terlebih dahulu.

"Oyasumi Papa…" ucap Kurama sambil menguap. Tangan kecilnya mengucek mata berkali-kali.

"Oyasumi… Tidur sama Mama dulu ya. Papa mau lihat Naruto."

Kurama mengangguk sesaat, ia lalu memeluk Shion. Tangan langsat Shion membelai lembut kepala putranya. Bibir merah jambunya bersenandung merdu, menyanyikan sebuah lagu bernada lembut yang sangat disukai putranya.

"Belle-Ile-en-Mer
Marie-Galante
Saint-Vincent
Loin Singapour
Seymour Ceylan
Vous c'est l'eau c'est
" (*)

"Mama…" bisik Kurama memotong senandung wanita bertubuh langsing yang sedang membelai lembut rambutnya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap iris yang berwarna senada dengan miliknya.

"Est-ce Naruto me déteste? (Does Naruto hates me ?)"

Shion mengeryitkan dahi. Ia memang sering mendengar mitos yang mengatakan bahwa anak kecil memiliki perasaan yang sangat peka, tapi dia tidak menyangka bahwa putranya akan sepeka ini.

"Non, Naruto t'aime. ( No. Naruto loves you)" bibir Shion mengecup pipi Kurama lembut, seolah meyakinkan bahwa ucapannya memang benar.

"Vraiment? (Really ?) "

"Oui. Il m'a dit. (Yes. He told me.)"

Mata Kurama berbinar saat mendengar ucapan lembut Mama-nya. Shion memang selalu bisa menenangkannya. Shion adalah Mama terbaik di dunia.

"Umm.. Boleh bertemu Naruto?"

Kali ini Shion menggeleng pelan. Sikap putra semata wayangnya membuat Shion yakin bahwa ia harus segera membicarakan sesuatu dengan suaminya. Sesuatu yang menurutnya sangat penting.

"Sekarang tidur. S'il vous plaît… (please – formal banget)" ucap Shion diiringi senyum di bibir.

Kurama pun mengangguk dan segera memejamkan mata, sementara Shion melanjutkan nyanyian laut-nya.

.

Kyuubi menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar adiknya tanpa mengetuk pintu. Ia merasa harus menjelaskan maksudnya membawa Shion ke rumah. Dari raut wajah dan gerak-gerik si bungsu, dapat dipastikan kalau pemuda bermata sapphire itu marah padanya.

"Naruto." tangan Kyuu membuka pintu kamar adiknya, kepalanya lalu melongok ke dalam, mengedarkan pandangan mencari sosok berambut pirang keemasan itu.

Kalau saja Kushina yang masuk ke kamar ini sekarang, dia pasti sudah berteriak saat matanya tidak bisa menemukan sosok Naruto di dalam.

Dengan cekatan, Kyuu menengok ke kamar mandi. Tidak ada…

Matanya kembali menelanjangi kamar yang lampunya masih menyala itu. Tubuhnya langsung bergerak cepat menuju sisi lain kamar saat ruby-nya melihat pintu jendela yang terbuka.

Kali ini Kyuu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya saat mendapati cipratan air di sisi kolam. Air itu seolah menjadi jejak yang menunjukkan arah perginya seseorang yang baru saja menceburkan diri ke kolam.

"Bodoh! Aku tidak menyangka dia bertindak sejauh ini!" Gerutu Kyuu. Ia langsung berbalik dan mengobrak-abrik lemari kecil di samping tempat tidur adiknya. Kyuu mengambil tabung oksigen kecil yang masih penuh.

Kyuu langsung berlari meninggalkan kamar Naruto. Tangannya sempat menyambar coat coklat milik Minato saat ia berpapasan dengan Iruka.

"Tuan Muda. Itu mau dicu –"

"Buka pintu garasi! Kujelaskan saat aku pulang nanti!"

Melihat ekpresi serius Kyuu, Iruka mengangguk dan langsung menuruti perintah putra pertama Uzumaki. Walau sangat penasaran, Iruka mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Situasi ini pasti sangat genting, sampai-sampai Kyuu membawa coat yang akan dicucinya besok pagi. Situasi yang begitu mendesak sampai-sampai Kyuu tidak sempat mengambil jaket bersih di kamarnya.

"Jangan beri tahu siapapun atas kepergianku. Jangan tutup pintunya." Lagi, Iruka mengangguk. Kyuubi langsung tancap gas, tidak memedulikan ekspresi kepala pembantunya.

Mata hitam Iruka memancarkan kekhawatiran saat menangkap bayangan mobil tuan muda-nya yang melaju sangat cepat. Memangnya Kyuu ingin melakukan apa? Kenapa ia begitu tergesa?

"Naruto.." Kyuu bergumam pelan. Adiknya memang sedang dalam kondisi sangat labil, tapi detektif muda ini tidak menyangka bahwa Naruto akan bertindak sampai sejauh ini.

Otak detektifnya bekerja cepat. Dari semua kejadian yang dialami bungsu Uzumaki hari ini, dapat dipastikan bahwa pemuda berkulit tan itu pergi ke tempat kekasihnya.

"Brengsek!" Kyuu berteriak. Ini sudah cukup jauh dari rumahnya, tapi Naruto belum ketemu juga. Apakah Kyuubi salah rute? Sepertinya tidak. Naruo selalu melewati jalan ini saat dia pergi ke rumah Sasuke.

Ayah satu anak ini menambah kecepatannya. Ini sudah terlalu larut, Naruto tidak boleh menghirup udara malam terlalu lama. Ditambah lagi, pemuda berambut pirang jabrik itu sepertinya baru saja menceburkan diri ke kolam. Dengan badan yang basah kuyub, udara malam yang dingin…

"Naruto!" pekik Kyuu saat ruby kembar-nya menangkap sosok yang berjalan terhuyung.

Kaki kiri sang detektif segera menginjak rem, membuat mobilnya berhenti tepat di belakang pemuda yang seolah tak bernyawa itu. Tubuh langsatnya bergerak cepat keluar dari mobil. Kyuu lalu berjalan cepat mendekati sosok dengan rambut pirang itu.

"Naru!" tangan Kyuu menggenggam erat pergelangan Naruto, membuat pemuda itu membalikkan badan, menatap kosong wajah panic kakaknya.

"Sa –su –ke." Bibir pucat bungsu Uzumaki bergerak pelan. Suaranya terdengar parau. Badan Naruto terasa sangat dingin. Jejak-jejak air mata yang mengering terlihat jelas di pipinya.

"Naruto. Kita pulang."

"Sasuke… Sasuke…" tubuh rapuh Naruto mencoba melepaskan diri dari kakaknya. Sapphire indahnya masih menatap kosong.

"Naru –"

"Lepaskan! Kyuu-nii pembohong! Kyuu-nii brengsek!"

Kyuu membelalakkan matanya melihat Naruto yang tiba-tiba berubah histeris. Tubuh pucat itu meronta begitu kuat, teriakan parau Naruto seolah menusuk jiwanya. Nurani Kyuubi terasa nyeri. Sangat nyeri…

"Aku harus bertemu Sasuke. Kyuu-nii tidak mau membantuku." Gumam Naruto seraya membalikkan badannya. Pemuda berwajah manis itu seolah tidak peduli dengan tangan Kyuu yang masih memeganginya.

Naruto melangkah dan terus melangkah. Namun tangan Kyuu membuat tubuh tan itu tetap berada di tempat. Walau begitu, Naruto tidak menyerah. Ia terus melangkah dengan harapan bahwa ia akan segera bertemu dengan kekasihnya.

"Sasuke…"

Kyuubi memutuskan untuk mengangkat tubuh lemah itu, mendudukkannya di kursi penumpang, lalu langsung mengunci pintunya. Kyuubi lalu berlari dan segera duduk di kursi kemudi.

"Sasuke! Sasuke!" teriak Naruto frustasi. Tubuhnya terlalu lemah untuk memberontak. Tenaganya lenyap entah kemana.

"Sasu –ghh!"

Naruto meremas dadanya. Udara di sekitarnya seolah pergi menjauh. Seolah tidak ingin pemuda berkulit tan itu hidup dan bernafas dengan tenang.

Tidak!

Naruto tidak akan menyerah hanya karena udara tidak mau lagi bersahabat dengannya. Naruto tidak akan mati tanpa udara.

Pemuda bermarga Uzumaki yang sangat ceria ini hanya akan mati kalau… Tidak ada Sasuke…

Kyuu mengambil botol oksigen Naruto, lalu membukanya dengan sangat tergesa. Tangannya memasang corong itu dan mengikatnya dengan karet hitam tebal yang memang dikhususkan untuk memasang alat ini. Sekarang tabung bercorong itu menempel sempurna di hidung dan mulut Naruto.

"Bertahanlah!"

Kyuu lalu membuka seluruh pakaian basah adiknya. Yang ada di benak Kyuu hanyalah membuat adiknya merasa hangat. Dilemparnya sembarang semua pakaian Naruto hingga pemuda bermata sapphire yang mulai tersengal itu telanjang bulat.

"Kumohon, Naruto. Jangan tinggalkan aku!" tanpa disadari, sesuatu yang hangat mengalir dari sudut mata Kyuu. Bagaimanapun, Naruto menjadi seperti ini karena kesalahannya.

Kyuubi melepas kaosnya, lalu mencoba mengeringkan tubuh sang adik yang masih sedikit basah. Setelah dirasanya cukup kering, pria berambut orange itu langsung memakaikan coat Minato ke tubuh Naruto.

Begitu selesai memakaikan coat ke tubuh adiknya, Kyuu langsung memacu mobilnya kencang agar cepat sampai rumah. Naruto masih terlihat kesulitan bernafas meski Kyuu sudah memakaikannya tabung oksigen.

"Sasu.. Uhkk." Kyuu menambah kecepatannya saat ia menangkap beberapa titik berwarna merah di corong oksigen yang dipakai Naruto. Kondisi pemuda yang biasanya ceria itu semakin parah.

"Kumohon…"

Naruto memegang erat dadanya, sesekali dipukulkannya kepalan erat tangan kirinya dengan sangat lemah, seolah ingin menghentikan rasa sakit yang ada. Naruto harus segera bertemu dengan Sasuke. Dia harus menceritakan semua yang terjadi padanya. Kyuubi… Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari pemuda bermata ruby itu. Uzumaki Kyuubi hanya membuat keadaan bertambah sulit.

Sebelah tangan Kyuu mencengkram lembut tangan adiknya, membuat pemuda itu berhenti menyakiti dirinya sendiri. Kyuubi mulai panic. Apa yang harus dilakukannya?

Menelfon dokter? Tidak! Itu akan membuat keadaan bertambah parah. Media yang mulai tenang akan kembali membicarakan tentang adiknya. Kyuu tidak suka itu.

Memberi tahu Sasuke? Ya.. Kyuu harus melakukannya.

'brakk!'

"Tuan Muda!" pekik Iruka saat bemper depan mobil yang dikendarai Kyuubi menabrak tembok garasi. Wajah Iruka bertambah panic saat melihat tuan muda-nya keluar dengan bertelanjang dada. Raut muka Kyuu seolah mengatakan kepada Iruka apa yang sedang terjadi saat ini.

Tanpa memedulikan kepala pelayannya yang sibuk bertanya, Kyuu berjalan cepat, kemudian membuka kasar pintu penumpang, membuat pria bermarga Umino di dekatnya membungkam mulut saat mendapati tubuh tuan muda kesayangannya menggigil.

Kyuu mengangkat tubuh menggigil berbalut coat itu dengan sangat hati-hati, seolah Naruto adalah ukiran Kristal yang mudah pecah. Tubuh topless itu berjalan perlahan, namun Iruka dapat melihat keinginan di wajah Kyuu untuk segera sampai di kamar adiknya.

"Iruka, cari Nebulizer (**) di kamar Naruto!" Iruka mengangguk dan langsung berlari naik.

"Kakashi! Belikan normal saline (***) yang sering dipakai Naruto!"

Walau masih bingung dengan apa yang terjadi, Kakashi langsung berlari untuk segera mendapatkan obat itu di apotek yang ada di ujung kompleks. Seingatnya, dia pernah membeli obat itu disana.

"Kyuu, apa yang –"

Kushina memotong kalimatnya sendiri. Wanita yang turun karena suara ribut itu melemas, membuat Minato yang berdiri di belakangnya harus memegangi sang istri agar tidak terjatuh.

"Kyuu. Apa yang terjadi dengan adikmu?" walaupun ekspresinya sangat terkejut, Minato masih bisa mengendalikan dirinya. Azure-nya tak lepas dari tubuh bungsunya yang lemah. Raut terkejut bertambah ketika maniknya menangkap embun nafas berwarna kemerahan yang menempel di corong oksigen bungsunya.

"Kumohon, Tou-san. Telfon Sasuke dan minta dia datang." Gumam Kyuu mencoba tenang seraya berjalan menaiki tangga. Kedua tangan Kyuu bergetar hebat. Bukan karena berat badan adiknya, namun karena rasa takut dan sakit yang dirasakannya.

"Sasuke? Kenapa –"

"Diam dan lakukan apa yang kukatakan!" teriak Kyuu mengagetkan Minato dan Kushina, bahkan beberapa pelayan yang ikut panic juga ikut membelakakkan mata melihat ekspresi Kyuu yang seperti itu. Kyuubi terlihat sangat mengerikan.

Tanpa memedulikan respon ayahnya, Kyuu segera masuk ke kamar Naruto dan membaringkan tubuh adinya disana. bibir pucat Naruto belum mau berhenti bergumam. Tangan lemahnya mencengkram dada sekuat yang ia bisa.

"Ghh.. 'Su –kkhh."

"Tenanglah. Sebentar lagi Sasuke datang. Kau akan baik-baik saja." Kyuu mengecup puncak kepala Naruto pelan. Tangan langsatnya kemudian membelai lembut surai berwarna keemasan yang kini terlihat sangat pucat itu.

Perlahan, Kyuubi menumpuk bantal dan guling lalu menaikkan kaki Naruto di atasnya, kemudian ia memosisikan tubuh bagian atas adiknya dalam posisi lurus 180 derajad.

"Tuan Muda. Obatnya tidak ada." Ucap Iruka pelan sambil meletakkan nebulizer di meja samping tempat tidur Naruto. ia lalu menyambungkan alat itu dengan sumber listrik.

"Aku sudah menyuruh Kakashi membelinya." Gumam Kyuu tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari tubuh sang adik.

Mereka berdua terdiam. Sama-sama tidak sabar menunggu Kakashi kembali. Kyuubi tidak menyangka adiknya akan bertindak sampai sejauh ini. Apakah Naruto memang 'dobe', seperti yang dikatakan Sasuke? Atau tindakan Kyuu-lah yang keterlaluan? Atau memang mereka memiliki jalan pikiran yang terlalu berbeda untuk dapat saling memahami?

'Seharusnya aku memberitahunya terlebih dahulu.'

'Seharusnya aku mengatakan rencanaku kepadanya.'

'Aku…'

"Aku sudah menelfonnya. Dia akan segera datang." Gumam Minato yang berjalan masuk ke kamar, diikuti Kushina di belakangnya. Kyuubi mengangguk pelan. Dalam keadaan seperti ini, dia tidak bisa berbuat banyak.

Dulu, Kyuu selalu pergi saat Naruto kambuh. Kyuubi takut, sangat takut kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya. Ia tidak tega jika harus melihat adik kesayangannya menahan sakit sekaligus berusaha agar ia dapat segera menghilangkan sakit itu.

Minato dan Kushina juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka sadar, terlalu dekat dengan Naruto hanya akan membuat udara di sekitarnya menjadi lebih panas dan penuh dengan karbon dioksida.

"Sas –su…"

"Dia akan segera datang. Bersabarlah." Bisik Kyuu lembut. Ia berusaha keras agar air mata tidak mengalir. Terlihat lemah di depan Tou-san adalah hal yang sejak dulu sangat dibencinya.

Kushina memeluk tubuh suaminya dari samping. Air matanya mulai mengalir, tidak tega melihat putranya seperti itu, "Aku… Jika ini bisa membuat keadaan Naruto lebih baik. Aku akan membiarkannya bersama Sasuke."

Minato menggenggam erat tangan istrinya. Tidak memberi penolakan ataupun persetujuan atas keputusan yang diambil wanita berambut merah panjang itu. Jujur, hatinya kini juga merasa bimbang…

"Tuan Muda. Ini obatnya." Kakashi terlihat terengah saat memasuki kamar Naruto. Shion berjalan cukup tenang di belakang Kakashi. Kelihatannya wanita ini juga terganggu dengan suara keras yang tadi dilontarkan suaminya.

"Berikan padaku, cepat!" tangan Kyuu menyambar obat yang dibawa Kakashi. Ia pasti sudah membuka segel normal saline itu dan meneteskannya ke nebulizer kalau saja istrinya tidak mencegah.

"Kyuu, biar kulihat keadaannya dulu." Ucap Shion lembut. Tangannya perlahan mengambil normal saline dari suaminya. Ia lalu melepas tabung oksigen yang dipakai adik iparnya.

"Shion. Apa yang kau lakukan? Biarkan aku memberikannya kepada Naruto!"

Shion menghela nafas panjang. Suaminya benar-benar sedang panic sampai-sampai pria bermata ruby itu melupakan sesuatu.

"Kakashi-san. Tolong ambilkan tas putih berbentuk kotak di kamarku." Kakashi mengangguk dan segera beranjak setelah mendengar permintaan lembut itu.

"Shion, apa yang –"

"Kyuu, kau melupakanku." Gumam Shion terdengar manja di telinga Kyuubi.

"Apa-apaan ini? Jangan bercanda di saat seperti ini!"

Wanita berkulit langsat itu menyentuh bibir suaminya dengan jari telunjuk. Perlahan dan penuh perasaan. Bibirnya tersenyum manis. Bibir merah jambu itu kemudian bergerak, merangkai sebuah kalimat yang menyadarkan Kyuu dari kepanikan absurd-nya.

"Je suis une infirmière (I'm a nurse)"

"Percaya padaku, dia akan baik-baik saja." Kyuu mengangguk pelan mendengarnya. Shion seolah seperti wanita anggun yang berhasil menjinakkan rubah liar yang hampir mengamuk.

"Iruka-san. Apa kalian memiliki endotracheal tube (****) ?" Iruka mengeryitkan dahi. Jujur, dia belum pernah mendengar nama alat yang seperti itu.

"Kaa-san, apa dokter tidak menyarankan alat itu untuk Naruto-kun?" tanya Shion tanpa mengalihkan pandangannya dari sang adik ipar. Tangannya sibuk mengelap hidung dan mulut Naruto dengan tissue. Benar saja, tissue yang tadi berwarna putih bersih itu mulai ternoda dengan semburat kemerahan.

"Endrotra… Maksudmu pipa kecil transparan untuk memasukkan obat?"

Kushina segera membuka laci di meja Naruto begitu ia mendapatkan anggukan mantab dari menantu yang baru dikenalnya tadi siang. Setelah beberapa saat, Kushina akhirnya menemukan alat yang dimaksud wanita bermata biru itu.

Diberikannya endrotracheal tube yang belum pernah dipakai itu. Bahkan alat berukuran kecil itu masih tersimpan rapi di dalam wadahnya.

Pada saat yang bersamaan, Kakashi kembali dengan tas berbentuk kaku berwarna putih. Shion langsung membuka tasnya, mengambil stetoskop dan segera memeriksa detak jantung Naruto.

"Kaa-san, tolong bantu aku. Yang lainnya tolong keluar…" Shion menatap semua penghuni kamar secara bergantian, Minato, Iruka dan Kakashi langsung mengangguk dan meninggalkan ruangan bernuansa cerah itu.

Sementara itu Kyuu masih mematung, "Jangan katakan padaku kau akan memasukkan benda itu ke tubuhnya."

"Kyuu…"

"Kaa-san. Selang itu bisa melukai Naruto dari dalam. Dia akan mengeluarkan lebih banyak darah!"

Shion memberikan isyarat mata kepada ibu mertuanya untuk menyterilkan tangannya dengan disinfektan yang ada di dalam tas. Wanita anggun itu lalu berdiri, ia menarik suaminya menjauh dari Naruto dan Kushina.

"Ada saat dimana kau tidak bisa menghadapi semuanya sendirian. Kyuu, berhenti mengurus semuanya sendiri. Kauyang bilang padaku, ada Deidara, seorang wartawan bernama Hyuuga, dan tentunya Sasuke, juga Naruto."

Tangan langsat Shion membelai lembut pipi suaminya. Perlahan, nyonya Uzumaki muda itu mengecup bibir Kyuu singkat, "Jangan lupakan Naruto dan Sasuke. Rencanamu tidak akan pernah berjalan tanpa mereka."

Shion lalu membukakan pintu kamar Naruto dengan hati-hati, mendorong pria yang belum bisa mengedipkan matanya itu keluar dengan sangat perlahan. Shion sempat mendapati sosok berambut hitam mencuat yang terlihat sangat panic. Wajah stoic-nya seolah tak mampu menyembunyikan perasaannya kini.

"Naruto akan baik-baik saja…" ucap Shion sebelum menutup kembali pintu kamar bungsu Uzumaki.

"Kyuu. Apa yang terjadi pada Naruto-ku? Kenapa bisa sampai begini? Kenapa tidak ada yang mengantarnya pergi? A –"

"Maafkan aku.." bisik ayah satu anak itu terlampau lirih, tapi suara itu cukup keras terdengar oleh Sasuke, sampai-sampai mampu memotong hujaman tanya dari si bungsu Uchiha.

"Andai saja…"

"Papa."

Suara khas anak-anak itu mengagetkan semua orang. Mata mereka tertuju ke arah pintu tak jauh dari pintu kamar Naruto. Perlahan, muncul sosok Kurama mengucek matanya. Sepertinya bocah ini juga ikut terbangun gara-gara kejadian sekarang.

Kyuubi berjalan cepat dan langsung menggendong putra semata wayangnya. "Je t'ai réveillé? (I woke you up ?) "

Kurama menggeleng pelan. "J'ai soif. (I'm thirsty)"

"Baiklah.. Akan kubuatkan susu." Kurama mengangguk mendengar ucapan Papa-nya. Kyuu lalu berjalan memasuki kamarnya. Shion memang sudah menyiapkan termos berisi air panas kalau-kalau putranya terbangun tengah malam dan meminta susu. Dia memang ibu yang peka dan bertanggung jawab.

"Aku tidak salah dengar kan? Bocah itu memanggil Kyuu 'Papa'?" Bisik Sasuke kepada dirinya sendiri.

'Kenapa Kyuubi tidak memberi tahuku sebelumnya? Ada apa ini sebenarnya?'

.

.

Perlahan, pintu kamar Naruto mulai terbuka. Dari dalam keluar seorang wanita berambut pirang model kriting gantung yang terlihat sangat lelah. Tangan kanannya menjinjing tas berwarna putih yang belum sempat ditutup.

"Kau Sasuke kan?" tanya Shion saat mendapati pemuda bermata onyx menatapnya lekat. Sasuke mengangguk mantab. Dari analisisnya, wanita ini adalah seorang dokter atau semacamnya.

"Tenang saja, keadaan Naruto sudah membaik. Dia hanya butuh istirahat sebentar."

Sekali lagi Sasuke mengangguk. Walau tidak mengenal si wanita bermata biru, Sasuke cukup berterima kasih karena dia sudah mau merawat kekasihnya.

"Shion. Dia belum mau tidur. Apa kita harus memberinya obat tidur?" Shion berbalik saat mendengar suara Kushina. Wanita paruh baya itu masih menunjukkan sedikit raut panic di wajahnya.

"Tidak, Kaa-san. Obat tidur tidak akan membantunya." Shion tersenyum ramah, membuat mertuanya ikut tersenyum.

Sementara itu, Sasuke masih sibuk dengan pertanyaan di dalam kepalanya, ' Kaa-san ? Sejak kapan Naruto punya saudara perempuan?'

"Sasuke-kun. Bisa kau menemani Naruto-kun? Mungkin dia mau tidur kalau kau yang menemani…"

Sasuke ber-hn ria sebelum akhirnya memutuskan untuk melupakan pertanyaan bodoh yang sempat dipikirkannya. Toh itu tidak penting. Saat ini yang terpenting adalah kekasihnya, Naruto.

Jujur, Sasuke merasa sangat terkejut saat ia mendengar ucapan Minato, sesaat sebelum ia menutup pintu, "Shion, tadi putramu terbangun. Sebaiknya kau menemaninya. Aku tidak yakin Kyuu bisa menjadi ayah yang baik di saat-saat seperti ini."

.

"Ghh.. 'Suke.. Sasu –"

Pemuda bermarga Uchiha yang baru saja memasuki kamar kekasihnya dapat mendengar gumaman lemah dari suara yang sangat familiar. Perlahan, didekatinya sosok yang kini memakai piyama bergaris orange dengan mata setengah terpejam yang menatap kosong langit-langit kamar.

'Bagaimana bisa wanita itu mengatakan Naruto baik-baik saja?'

Ahh, andai saja Sasuke melihat keadaan kekasihnya satu jam yang lalu…

"Hks.. Teme…"

Sasuke mendudukkan dirinya di samping Naruto. Bahkan si bungsu Uzumaki belum menyadari kehadiran kekasihnya disini.

Sasuke mengusap lembut kening Naruto, merasakan suhu tubuh kekasihnya yang lebih tinggi dari biasanya, "Aku disini."

Bisikan Sasuke mampu menyedot seluruh perhatian Naruto. Pemuda yang sejak tadi memiliki pandangan kosong itu langsung memfokuskan pandangannya ke sosok berkulit alabaster yang sedang tersenyum simpul.

Tubuh tan itu langsung memeluk erat kekasihnya, menyebutkan nama yang sedari tadi digumamkannya dengan lebih jelas. Sapphire yang tadi sempat kehilangan pesonanya kembali memancarkan cahaya kehidupan yang begitu menawan.

Tubuh yang tadinya menggigil dan sama sekali tidak bisa merasakan apapun kembali merasakan hangat tubuh pemuda yang sangat dicintainya, pemuda yang membalas pelukannya, pemuda yang balas menyebut namanya. Pemuda yang menjadi rival abadi sekaligus kekasihnya, Uchiha Sasuke.

"Teme…"

"Hn?" Sasuke membelai lembut pipi Naruto yang mulai tenang. Pemuda berambut pirang jabrik itu kini bersandar di dadanya, menggenggam erat tangannya.

"Kyuu-nii… Dia tidak akan membantu kita." Bisik Naruto lemah, membuat Sasuke memaksakan diri untuk menyembunyikan keterkejutannya.

Apa Kyuubi mengatakan ini kepada adiknya? Mengatakan bahwa dia tidak mau membantu Naruto dan Sasuke lagi? Ia malah lebih memilih mengurus anak dan istrinya? Bagaimana mungkin Kyuu bisa melakukannya?

Ok. anak dan istri Kyuubi memang yang terpenting baginya. Tapi, bagaimana bisa dia mengkhianati Sasuke dan Naruto? Bagaimana mungkin dia meninggalkan mereka tanpa mengatakan rencana terakhir yang harus Sasuke lakukan?

Naruto lalu menceritakan bagaimana Minato menerima Shion dan Kurama dengan sangat terbuka, bahkan mereka langusng akrab. Tou-san Naruto seolah tidak memermasalahkan Kyuu yang tiba-tiba membawa pulang anak dan istrinya. Kushina juga kelihatannya langsung menyayangi Kurama. Mereka seolah melupakan Naruto yang ada disana.

"Mereka bisa menerima Shion dan Kurama begitu saja. Kenapa mereka tidak bisa menerimamu…"

Sasuke bisa merasakah getaran halus dari tubuh Naruto. Dapat dipastikan kalau pemuda ini sedang berusaha keras untuk menahan air matanya.

"Kyuu-nii brengsek! Dia mengambil semuanya dariku!" gumam pemuda bermata sapphire dengan nada yang lebih tinggi, membuat Sasuke mengeratkan pelukannya.

"Dobe."

"Hmmm…"

"Mungkin Kyuubi sedang merencanakan sesuatu. Jangan buru-buru menilainya. Lagipula…" Naruto mendongakkan kepalanya, menatap onyx dalam kekasihnya dnegan sapphire indahnya, menuntut kelanjutan dari kalimat yang belum selesai itu.

" –walaupun tidak ada Kyuu. Kau masih punya aku kan?"

Naruto mengangguk mantab.

"Kita akan tunjukkan padanya, kita bisa berhasil walau tanpa bantuannya."

Kepala Naruto kembali ke posisi semula setelah ia mengangguk beberapa kali. Sepertinya kalimat Sasuke berhasil membuatnya lebih tenang. Walau jujur, pemuda yang lahir tanggal 23 Juli ini merasa tidak yakin dengan ucapannya sendiri.

Sasuke menyenandungkan sebuah lagu tentang masa lalu. Sebuah lagu indah yang jujur, ingin membuatnya tersenyum sekaligus menangis saat mengingat semua di masa lalu. Walau begitu, Sasuke sama sekali tidak menyesal dengan apa yang dilakukannya kini.

"Nanpeeji mo tsuiyashite tsudzurareta bokura no kibun
Doushite ka ichigyou no kuuhaku wo umerarenaiOshibana no shiori hasande kimi to korogasu tsukaisute no jitensha
Wasurekake no renga wo tsumiagete wa kuzushitaIkooru e to hikizurarete iku kowai kurai ni aoi sora wo
Asobitsukareta bokura wa kitto omoidasu koto mo nai…" (*****)

Bibir tipis Sasuke terus menyenandungkan lagu itu. yang ia lakukan adalah menghilangkan beberapa bagian yang dia benci. Termasuk bagian reff pertama yang mengatakan 'I find myself praying that we can meet again.'

.

.

"Lakukan sekarang… Menunda waktu tidak akan menyelesaikan masalah." Lengan langsat Shion memeluk tubuh Kyuu yang masih saja mematung di depan pintu kamar adiknya.

Semua penghuni rumah ini memang sudah tidur. Tinggal Kyuu yang ingin segera membicarakan 'rencana' dengan Sasuke untuk menghindari kesalah pahaman. Shion juga memutuskan untuk tetap bangun. Ia ingin segera bertindak kalau-kalau keadaan Naruto memburuk

Mau bagaimana lagi? Kyuu bersikeras menolak membawa Naruto ke rumah sakit. Shion sangat hafal dengan sifat suaminya. Ia tidak akan memaksa Kyuu untuk melakukan hal yang tidak disukainya. Toh keadaan Naruto masih bisa ditanganinya.

"Harusnya aku tahu kalau dia sedang sangat labil." Tangak Kyuu menggenggam jemari istrinya. Seolah meminta kesabaran yang dimiliki Shion. Membuat wanita yang memeluknya dari belakang itu lebih merapatkan tubuh langsingnya ke punggung Kyuu.

"Baiklah, kita masuk sekarang…" Kyuu melepas pelukan Shion. Membuat wanita berwajah manis itu tersenyum. Kyuu lalu membuka pintu kamar adiknya perlahan, kemudian mulai masuk diikuti Shion di belakangnya.

Ia langsung disambut dengan sorot tajam onyx milik Sasuke yang meminta pertanggungjawaban atas apa yang terjadi pada Naruto. Kyuu sadar akan hal itu.

Pasanagan suami-istri itu berjalan mendekati ranjang yang berisi dua orang pemuda. Sasuke yang masih bangun, membelai kepala kekasih yang bersandar di dadanya. Sementara Naruto sudah terlelap, memeluk tubuh kekasihnya.

"Sepertinya kau mulai lelah dengan semua ini, Kyuu. Bahkan kau membawa istrimu sebagai alibi untuk berhenti membantu kami."

Kyuu menghela nafas panjang mendengar ucapan sinis Sasuke, sementara Shion menggenggam kuat lengan suaminya saat onyx bungsu Uchiha menghujamnya dengan sorot mata ingin membunuh.

"Tidak masalah bagiku jika kau tidak ada. Hanya saja, kau harus membicarakannya dengan Dobe."

"Dia salah paham…" Kyuu memutuskan untuk duduk di sisi lain ranjang, bersebrangan dengan Sasuke. Tangannya ikut membelai surai keemasan Naruto. Shion masih setia di belakang Kyuu.

"Perkenalkan, dia Shion, istriku."

Sasuke berdecih saat Shion membungkuk dan memerkenalkan dirinya. Sedikit banyak, wanita yang besar di Perancis itu paham dengan apa yang dirasakan Sasuke, jadi ia tidak terlalu memermasalahkan sikap Sasuke kepadanya.

"Sasuke. Dengarkan aku baik-baik. Ini tentang rancana terakhir kita. Tentang alasanku membawa pulang Shion dan Kurama ke Konoha."

Satu-satunya pemuda berambut hitam di ruangan ini diam dan menatap Kyuubi lekat. Kelihatannya ini sangat serius. Mungkin benar, Naruto dan dirinya telah salah paham.

"Alasanku membawa mereka… Agar mereka bisa 'menggantikan' keberadaan Naruto. Sementara kau, bayi dalam kandungan Dei yang akan menggantikanmu." Sasuke mengeryikan dahi mendengar ucapan Kyuu.

'Menggantikan? Kenapa kami harus digantikan? Ada apa ini?'

"Kuharap, mereka dapat membantu melupakan kalian berdua. Tidak! Tidak akan ada yang bisa melupakan kalian. Kuharap mereka bisa 'menghibur' mereka yang merasa kehilangan."

Sasuke masih diam, membiarkan Kyuu melanjutkan ocehannya. Sementara Shion menggenggam tangan Kyuu, seolah member keyakinan bahwa Sasuke akan dapat menerima rencana ini. Semoga…

"Sebenarnya, rencanaku adalah…"

Kalimat selanjutnya membuat mata obsidian Sasuke membulat, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dalam pikiran Kyuubi. Sasuke yang pernah belajar bahasa Perancis tentu paham dengan apa yang diucapkan Kyuu.

"–Je veux que tu meures…"

.

.

Tbc

.

.

(*) lagu ini judulnya Belle-Ile-en-Mer Marie-Galante menurut Kyuu sih lagunya bagus :3 Yang nyanyi sapa, Kyuu lupa XD ini lagu dapet pas pelajaran bahasa Perancis.

(**) Nebulizer tuh alat yang sering dipake buat ngasih obat nafas. Cara makenya kaya kalo makein oksigen set di rumah sakit. Obat yang sering dipake biasanya dalam bentuk normal saline (***) tapi Kyuu ga berani ngasih spesifikasi nama obatnya. Takut salah :p

Kalau pasiennya dalam keadaan ga sadar atau kaya Naruto itu, biasanya medikasi nebulizer harus dikasih pake endotracheal tube (****). Tapi alat ini makenya harus dimasukin ke tenggorokan langsung. Makanya Kyuubi ga setuju. Takut Naruto tambah banyak keluarin darahnya.

(*****) Aoi Shiori – Galileo Galilei. Ini Ost (apening) Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai –AnoHana-

Kyuu apal loh judul sepanjang itu :p. soalnya Kyuu suka sih XDDD Ahh, andai Yukiatsu yaoi-an sama Jintan *otak yaoi kumat

Sekali lagi… Sorry for my bad Français

.

Mari kita bales review :3

.

widi orihara: terima kasih… terima kasih *bungkuk-bungkuk

Iya lah, namanya juga Uchiha, maunya semua diembat (dies) plakkk bughh duaghhh *dihajar Ita n Sasu

ini udah di apdet :D

semoga suka yaaa.

.

La Nina Que ' Aru-chan: Yosh! Ini udah update :D

Sayang banget di chap ini Itachi sama Kyuubi ga ketemu :3

Terima kasih dukungannya. Mari kita tunggu saat mereka bertemu di chap depan :3

.

ena'wonkyu: Yappp

Eto… Naru hamil ya? Eheheh… *cengar-cengir

Terima kasih dukungannya yahhh

.

Kyumimi: Yapp.. terima kasih dukungannya

Terima kasih pujiannya

Semoga suka dengan chap ini (-/|\-)

.

Yashina Uzumaki: Ohh.. Kurama ya. Tentu saja karena Kyuu (pengetik+kakaknya Naru) udah mentok, alhasil pakai nama Kyuubi di anime Naruto saja XDDD

*plakkk~~ (lagi-lagi menunjukkan bahwa saya adalah pengetik abal ababil katrok -_- )

Ini udah kambuh.. Kyuu ga tega sama Naru.. Maaf ya kalau kurang parah *bungkuk2 :' (

Btw, arigatooo

.

Rosanaru: Kyuu juga seneng Itachi kalah telak :3

Kyuu senyum-senyum sendiri pas bayangin muka begonia Itachi :p

Terima kasih, semoga suka yahhh XD

.

Queen The Reaper: Yes ada lagi yang suka Itachi kalah :p

Berhubung suasana hati Kyuu abis galau, jadi lumayan cepet nulisnya (dies)

Jadi fic humor satunya yang baru dapat separo -_- semoga cepet dapet feel ceria lagi :3

Yoshh! Domo arigato

.

ChaaChulie247: Untuk KyuuShion, besok Kyuubi bakal bicara empat mata sama Itachi *upsss… keceplosan o_O

Hahahah… Kita tunggu saja, terima kasih ya :3

.

Kitsune no Sasunaru: Yosh! Terima kasih XDD

.

Ukkychan: Itu… Kita saksikan percakapan mereka di chap depan yah :3

Sorry, I'm Gay Kyuu dah dapet separo ngetiknya, tapi feel humor Kyuu ngilang -_-

Jadinya lanjut yang galau-galau dulu (cerita ini)

Takutnya kalau Kyuu paksain, humornya jadi krik-krik DDDDX

Doakan semoga kekonyolan Kyuu segera balik yahhhh :3

Terima kasih banyak XD

.

Kaito Mine: Menurut Mine-san, apa mereka bakal berhasil?

Reaksinya Naruto beda banget sama yang kita harapkan : (

Gimana dong~~~

Terima kasih dukungannya yah :3

.

Vii no Kitsune: Untuk happy ending atau bukan, hanya pengetik yang tau XDDDD

Kita lihat saja nanti :3

Yosh! Terima kasih yahh :3

.

.

Ahhh selesai :3

.

Kyuu minta maaf buat yang nungguin Sorry, I'm Gay

Kyuu lagi galau akhir-akhir ini. Makanya belum bisa lanjut

Kyuu ga mau maksain, takutnya malah jadi failed ceritanya, kan genre humor…

.

.

Yosh!

Akhir kata, Review pleaseee :*