"Alasanku membawa mereka… Agar mereka bisa 'menggantikan' keberadaan Naruto. Sementara kau, bayi dalam kandungan Dei yang akan menggantikanmu." Sasuke mengeryikan dahi mendengar ucapan Kyuu.
'Menggantikan? Kenapa kami harus digantikan?'
"Kuharap, mereka dapat membantu melupakan kalian berdua. Tidak! Tidak akan ada yang bisa melupakan kalian. Kuharap mereka bisa 'menghibur' mereka yang merasa kehilangan."
Sasuke masih diam, membiarkan Kyuu melanjutkan ocehannya. Sementara Shion menggenggam tangan Kyuu, seolah member keyakinan bahwa Sasuke akan dapat menerima rencana ini. Semoga…
"Sebenarnya, rencanaku adalah…"
Kalimat selanjutnya membuat mata obsidian Sasuke membulat, seolah tidak percaya dengan apa yang ada dalam pikiran Kyuubi. Sasuke yang pernah belajar bahasa Perancis tentu paham dengan apa yang diucapkan Kyuu.
"–Jeveux que tu meures…"
,
,
There's No Regret in My LIfe –
Sequel of "There's No Next Time"
Disclaimer "Naruto": Kishimoto Masashi
This story: KyuuRiu
Pair: SasuNaru (main)
And many more
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort - Romance
Warning: geje, abal, typo, mis-typo, jelek, bahasa amburadul, pokoknya gak banget
.
.
Part 8: Then I'll Let Him Die before I Die
"Kau serius ingin melakukannya?" tanya seorang pemuda beriris lavender. Wajah yang biasanya tenang itu tidak dapat menyembunyikan raut terkejutnya. Penjelasan Kyuubi barusan membuatnya tidak memercayai pendengarannya sendiri.
"Kyuu-kun… Aku tidak yakin dengan semua ini." Kali ini Deidara yang berbisik. Tubuhnya nampak gemetar. Shion yang duduk di sampingnya mencoba menenangkan wanita yang sedang hamil muda itu.
"Aku sudah membicarakan dengan Sasuke. Dia mau melakukannya. Tidak! Dia memang HARUS melakukannya." Gumam Kyuu cukup keras. Tatapannya terlihat kosong, kedua tangannya mengepal erat, menunjukkan bahwa ia sedang menahan gejolak emosi dalam dirinya sendiri. Somehow, dia terlihat seperti seorang psikopat yang sedang kebingungan.
Mereka semua terdiam.
Hyuuga Neji dan juga Deidara yang sengaja diundang Kyuubi ke kediaman Uzumaki memilih untuk tidak menanyakan apapun lagi. Mereka bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Benarkah yang dipaparkan Kyuu barusan adalah satu-satunya cara untuk membebaskan Sasuke dan Naruto dari tekanan kedua keluarga mereka?
"Apa Naruto sudah tahu?" Dei mencoba memecahkan kesunyian yang menyakitkan ini. Walaupun ia sudah mencoba sangat keras, bibirnya tetap saja terasa sulit untuk digerakkan.
"Untuk yang satu itu, kuserahkan pada Sasuke."
"Apa kau yakin Naruto akan setu –"
"Selama ada Sasuke. Dia kan baik-baik saja. Percaya padaku!" Ucap pria berambut orange jabrik memotong pertanyaan Hyuuga muda yang belum sempat selesai. Kalimat bernada tinggi di bagian akhir itu menegaskan bahwa mereka semua memang harus menjalankan rencana Kyuubi.
"Ini akan terlalu beresiko. Saat Sasuke-kun dan Naruto-kun mengalami hal yang kau katakan tadi, keluarga kita pasti akan langsung menyelidikinya. Mustahil bagi kita untuk menyembunyikan kebenaran. Apalagi kau adalah detektif jenius. Jika kasus ini tidak terkuak, maka media malah akan curiga…"
Ocean blue milik menantu Uchiha itu menatap tajam detektif yang duduk di hadapannya. Jujur, ia memang menginginkan adik iparnya, juga Naruto agar dapat hidup bahagia. Tapi jika begini caranya… Mungkin lebih baik dia mendukung Fugaku untuk memisahkan mereka saja.
"Itu sebabnya aku membutuhkan kau dan juga Neji."
Ucapan tanpa penjelasan Kyuu dapat dimengerti dengan sangat jelas oleh Dei dan si pemuda Hyuuga. Benarkah ini akhir dari semuanya? Apakah harus berakhir seperti ini?
,
,
"Nee Teme. Apa benar kita akan melakukannya?" Sasuke mengangguk singkat mendengar pertanyaan polos kekasihnya. Tangannya sibuk mengeringkan rambut pirang Naruto.
"Apa Kaa-san sudah tahu?"
"Kyuu akan mengurusnya. Kau tenang saja."
Naruto diam.
Memang Sasuke sering sekali mengatainya 'dobe' dan 'usuratonkachi', tapi untuk apa yang barusan kekasihnya katakan, Naruto bisa menangkap maknanya dengan sangat jelas.
"Kalau itu kulakukan bersamamu, kurasa di kehidupan selanjutnya kita akan bahagia bersama. Benar begitu kan?"
Naruto mendongakkan kepalanya, mendapati onyx yang biasanya terlihat tajam. Pemuda berkulit tan itu lalu mendapatkan kecupan singkat di bibirnya sebagai jawaban.
Setelahnya, Sasuke duduk di sebelah Naruto. Diam… Mereka berdua mulai sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Ini benar-benar absurd. Sangat absurd. Tapi bagi Naruto… Ending seperti ini adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan. Ya, hanya ini yang bisa dilakukannya bersama Sasuke untuk mendapatkan 'kebahagiaan' yang sebenarnya masih belum pasti itu.
Bungsu Uzumaki bukannya sudah menyerah. Keinginannya untuk bertarung melawan ayahnya masih sangat kuat. Sayang sekali, tubuhnya seolah menolak untuk mendukung. Dia sadar, memaksakan diri hanya akan menyakiti orang-orang di sekitarnya, terutama Sasuke. Tubuh yang bahkan tidak bisa menerima terpaan angin malam terlalu lama itu…
Yang paling ingin dihindarinya saat ini adalah menyakiti Sasuke. Naruto memang tidak terlalu mengenal Uchiha Fugaku. Satu yang ia tahu adalah pria itu tidak segan-segan untuk melakukan apapun demi mendapatkan keinginannya. Selama itu tidak melanggar hukum, tentunya. Dan menyakiti, bahkan menghancurkan perasaan Sasuke bukanlah sesuatu yang melanggar hukum.
Tidak!
Naruto sudah memutuskan untuk menyetujui rencana kakaknya. Setidaknya dengan begini, Sasuke tidak akan mendapat tamparan dan cacian dari ayahnya sendiri. Tidak akan pernah lagi…
"Dobe…"
Gumaman pemuda berkulit alabaster yang duduk di sebelahnya membuat Naruto menolehkan kepala, kemudian memasang ekspresi bingung. Sapphire Naruto kemudian mengikuti arah yang ditunjuk oleh dagu sang kekasih.
"Dari tadi dia memerhatikanmu."
Mata Naruto menangkap sosok Kurama kecil yang sedang mengintip dari balik pintu. Sorot birunya seolah menyiratkan keinginannya untuk masuk dan menyapa sang paman.
Naruto melirik ke arah Sasuke, kemudian tersenyum singkat setelah mendapat anggukan dari bungsu Uchiha itu. Naruto lalu berjalan menuju pintu, kemudian membukanya lebar-lebar.
"Apa yang kau lakukan disini?" tubuh tan berbalut polo putih dengan lambang yin-yang di dada kiri itu berjongkok, kemudian mengacak rambut bocah berusia dua setengah tahun yang sedari tadi menatapnya.
"Naruto…" gumam Kurama takut-takut. Bagaimanapun, ia masih berpikiran kalau Naruto membencinya. Dia… sangat takut jika ada orang yang tidak bahagia karena dirinya.
Kurama mendapat pelukan singkat sebagai jawabannya. Tubuh mungil itu kemudian terangkat, Naruto membawanya masuk ke dalam. "Uhh.. Kau berat juga ya. Berapa usiamu?"
Kurama menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya, kemudian ia membuka seluruh jarinya. Cengiran manis bertengger di wajah bocah berambut orange kesayangan Kyuu itu. Kelihatannya kekhawatiran kalau-kalau Naruto membencinya perlahan mulai menghilang.
"Naruto.. me haïssez-vous? (do you hate me ?) "
Naruto duduk di kasur, dahinya berkerut hingga tiga tingkat. Sungguh dia tidak tahu dengan apa yang diucapkan keponakan manisnya itu.
"Dia bilang, apa kau membencinya.." gumam Sasuke sambil menusuk-nusuk pelan pipi Kurama.
"Tentu saja tidak. Aku sangat menyukaimu…"
Naruto tersenyum lebar, kemudian mengecup pelan dahi keponakannya, memunculkan rona kemerahan di wajah Kurama.
-chuu-
"Terima kasih…" balas Kurama disertai sebuah ciuman singkat di bibir Naruto. Hal ini sukses memunculkan persilangan jalan di jidat mulus Sasuke. Naruto yang menyadari hal ini hanya bisa terkikik geli.
'Bocah menyebalkan.'
"Nee Naruto. Saat besar nanti, aku akan menjadi suamimu." Ucap Kurama lagi. Matanya berbinar menunjukkan kesungguhannya. Membuat Naruto tersenyum miris menahan nyeri di ulu hatinya.
Sasuke merasakan hal yang sama. Bukan karena cemburu. Tidak! Bungsu Uchiha tahu bahwa dirinya adalah orang nomer satu bagi Uzumaki Naruto. Dia tidak akan cemburu. Hanya saja…
"Kurama.." bisik Sasuke. Telapak kirinya menyentuh kepala orange bocah manis yang baru saja melamar kekasihnya. Onyx Sasuke menatap teduh manic kembar Kurama.
"Kau adalah seorang anak laki-laki… Kau harus menikah dengan anak perempuan. Ok?" Bocah manis dihadapannya mengeryitkan dahi. Tidak mengerti dengan ucapan Bungsu Uchiha.
"Sasuke benar. Anak laki-laki harus menikah dengan anak perempuan. Dengan begitu, kau akan bahagia selamanya." Tambah Naruto. Wajahnya menunjukkan cengiran manis kebanggaannya. Cengiran palsu yang dipaksakan…
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kau pernah dengar cerita Snow White dan Cinderella?"
Kurama mengangguk mantab.
"Mereka hidup bahagia karena mereka adalah putri yang menikah dengan pangeran. Saat besar nanti, kau juga harus menemukan putri yang akan menjadi istrimu. Setelahnya …"
Sasuke terdiam. Onyx-nya tak lepas dari wajah teduh Naruto. Ingin rasanya ia memeluk pemuda yang sedang bercerita panjang lebar dengan suara bergetar dan wajah yang menahan sedih itu, tapi di sini ada Kurama. Bocah itu tidak boleh terjatuh pada lubang yang sama seperti mereka berdua.
" –mengerti?"
"Hai'!" teriak Kurama. Bocah berambut orange itu terlihat bersemangat, ingin segera menemukan putri impiannya.
"Akan kukatakan pada Papa. Aku akan segera menemukan sang putri." Naruto hanya memasang senyum simpul melihat keponakannya melompat turun dan berlari keluar. Tangannya melambai seolah mengatakan 'Tenang Paman, aku tidak akan terjatuh'.
"Kau hebat.." sepasang lengan alabaster memeluk pinggang ramping Naruto, membuat si pemuda pirang terisak.
"Menangislah jika kau merasa sakit... Yang terpenting, kau harus ingat, aku selalu bersamamu." Bisik bungsu Uchiha sebelum memberikan ciuman hangat di bibir kekasihnya.
"Sekarang, nanti… di kehidupan selanjutnya… Berjanjilah kau akan selalu bersamaku. Berjanjilah kau akan –"
"Aku berjanji. Aku akan selalu bersamamu, mencintaimu. Walau Kami-sama tidak menuliskan namaku ke dalam daftar orang-orang yang kau cintai. Akan kutulis takdirku sendiri. Akan kutulis sebuah buku dimana hanya ada namaku dan namamu di dalamnya." Potong Sasuke membuat Naruto berhenti 'menuntut'.
Sasuke akan selalu bersamanya… Sebuah janji yang terucap sepenuh hati. Semoga saja bisa terwujud.
.
.
Langit lembayung menyelimuti kota Konoha, seakan menggambarkan betapa bahagianya manusia yang hidup di bawahnya. Ahh… andai saja sang langit tahu…
Seorang pemuda berambut hitam dikuncir longgar sedang duduk di bawah sebuah pohon besar di bukit belakang universitas ternama di konohja, onyx-nya menatap kosong, entah tertuju pada apa. Pikirannya seolah terpisah dengan raganya.
"Tempat ini…" bisiknya. Itachi menghela nafas berat, mengingat masa lalunya di tempat ini. Masa-masa bahagia.. dan juga masa kehancuran yang disebabkan oleh sifat pengecutnya.
"Tempat yang sangat mengerikan." Sahut sebuah suara yang tiba-tiba datang. Tidak perlu terkejut, Itachi tahu betul siapa pemilik suara itu. Uzumaki Kyuubi.
Mereka berdua memang berjanji untuk bertemu di tempat ini, lebih tepatnya, Kyuubi memaksa Itachi untuk menemuinya. Ia ingin membicarakan sesuatu yang penting. Sangat penting.
"Kau benar. Tempat ini sangat mengerikan…"
Mereka berdua diam. Sulung Uchiha tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada pemuda berambut orange yang kini duduk disampingnya. Tempat ini adalah tempat dimana ia menyatakan perasaannya kepada Kyuu. Tempat mereka saling bertukar rasa, sekaligus tempat dimana Itachi menghancurkan Kyuubi. mencabik hatinya hingga mati rasa.
Sementara Kyuubi bingung harus mulai darimana. Ia akan mengatakan rencana 'gila'nya kepada Itachi. Bagaimanapun juga, Itachi harus tahu bahwa adiknya akan segera 'mati'. Ya.. Kyuu akan membunuhnya.
" –aku akan membunuh Sasuke dan Naruto." gumam Kyuu tiba-tiba. Itachi yang sedari tadi tidak memerhatikan pun langsung menengokkan kepalanya ke samping, memelototi sulung Uzumaki yang memasang wajah datarnya.
"Apa yag baru saja kau –"
"Aku akan membunuh adikmu, juga adikku."
Ruby Kyuubi membalas tatapan sulung Uchiha dengan tatapan tajam yang sulit diartikan. Tersirat sorot penuh ambisi, putus asa, bingung.. semua bercampur menjadi satu.
'Apa aku tidak salah dengar?' saking syoknya, tubuh suami Deidara itu seakan membatu. Ini bukan seperti Kyuubi yang selama ini dia kenal. Kyuubi yang ambisius dan penuh semangat. Kenapa dia ingin melakukan hal yang…
"Apa kau sudah putus asa? Menyerah?" gumam bibir Itachi tanpa disadari oleh pemiliknya.
Entah kenapa, ia hanya bisa bereaksi seperti ini. Harusnya dia memukul Kyuu seperti yang dilakukannya di kantor saat itu. Kenapa… Kenapa tubuhnya tidak mau bergerak? Kenapa hanya bibirnya saja yang bergumam?
'Brengsek! Apa ini sebuah pertanda?'
"Mungkin…" gumam pria berambut orange yang kini memandang langit yang senada dengan warna rambutnya. Ruby-nya menatap entah-apa yang ada di atas sana. Mungkin, Kyuubi sedang mencoba mencari 'masa depan' yang tersembunyi diantara awan-awan.
"Aku tahu kau tidak akan menyetujui hubungan mereka. Tapi bolehkah, untuk kali ini saja… Aku memohon kepadamu untuk mendukung rencanaku?"
Pria berkulit pucat yang memiliki tanda halus di masing-masing pipinya seakan tertohok saat mendengar suara mantan kekasihnya mengalun dengan nada yang bergetar. Menahan air mata…
"Ayahku dan ayahmu sangat keras kepala. Mungkin hati mereka terbuat dari batu atau semacamnya. Aku tidak akan meminta mereka untuk menyetujui hubuhngan Naruto dan Sasuke. Aku tidak akan mau memohon kepada mereka…"
'Kyuu…'
" –Mungkin, sampai aku mati pun, mereka tidak akan mengizinkan adikmu dan adikku hidup bahagia." Kyuu menggeser tubuhnya, menghadap Itachi. Kyuu membungkukkan tubuhnya, menundukkan kepalanya.
"Kumohon… Hanya dengan cara ini mereka bisa hidup bahagia. Jangan biarkan.. hhk.. Jangan biarkan mereka terluka. Jangan sakiti mereka seperti kau menyakiti aku dan dirimu sendiri! Bantu aku, Itachi! Aku berjanji demi apapun yang kumiliki. Dimanapun mereka berada, mereka akan selalu bersama… Hidup bahagia. Ijinkan aku membunuh mereka. Aku akan …"
Itachi membelalakkan matanya. ulu hatinya bergetar seolah tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya kini.
Uzumaki Kyuubi. 'Teman' yang sejak dulu dikenalnya sebagai sosok yang angkuh, arogan dan tidak mau kalah, kini bersimpuh menundukkan kepalanya. Memohon agar Itachi mau membantunya. Menceritakan semua rencana pembunuhan dengan suara dan tubuh yang bergetar. Memermalukan dirinya sendiri, hanya demi sebuah kebahagiaan kecil untuk adiknya. Bahkan Itachi tidak pernah melakukan sampai sejauh ini untuk Otouto kesayangannya.
Mungkin benar, prioritas utama Kyuu adalah Naruto, tapi tetap saja, Sasuke… Sasuke juga akan bahagia jika rencana ini berhasil. Mungkinkah.., rencana ini akan berhasil..?
Tanpa terasa setetes cairan hangat mengalir dari sudut mata kanannya, "Kyuu…"
"Kumohon… Aku mau melakukan apapun asal kau mau membantuku. Jadi budakmu pun aku mau. Kumohon…"
Entah siapa yang meminta, lengan pucat Itachi reflek mencengkeram pundak Kyuubi, kemudian memeluk tubuhnya erat, "Hentikan…"
"Tidak! Aku hanya ingin melihat mereka bahagia. Aku… Aku –"
"Dengar!" sulung Uchiha menarik dagu sulung Uzumaki, memaksa ruby yang kini basah itu menatap onyx yang tak kalah kacaunya.
"Saat kau menangis seperti ini, aku adalah orang pertama yang akan merasakan sakitnya. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan rencana bodohmu itu!" Kyuu terdiam mendengar Itachi berbicara dengan nada setegas itu. lebih dari itu, ucapannya tadi…
"Membayangkannya saja kau sudah merasa sakit. Jika memang menyakitkan, jangan dilakukan… Kau akan menyakiti dirimu sendiri, kau akan menyakiti orang-orang di sekitarmu. Apa kau tidak memikirkan Minato-san dan Kushina-san? Bagaimana perasaan mereka jika tahu putra kebanggaannya yang merupakan seorang detektif ternama melakukan tindakan criminal, membunuh adiknya sendiri?"
Kalimat-kalimat panjang yang meninggi di bagian akhir itu membuat Kyuubi membungkam mulutnya.
"Pikirkan itu baik-baik…" bisik Itachi lembut. Tangannya menepuk bahu Kyuu beberapa kali, kemudian ia kembali duduk di samping Kyuubi.
"Aku ingin mereka mati… Aku ingin mereka bahagia di tengah-tengah kematian." Gumam Kyuu mengawali sebuah penjelasan yang lebih panjang dari sebelumnya.
.
.
Pagi Hari, Kediaman Uchiha
"Itachi…" bisik Deidara lembut. Dielusnya pipi sang suami yang memar. Sepertinya semalam suaminya baru saja berkelahi dengan seseorang.
"Ngghhh…" gumam pria berkulit putih susu yang masih bergelung di dalam selimutnya.
"Bangunlah. Ini sudah siang. Apa kau tidak berangkat ke kantor?"
Yang ditanyai hanya menggelengkan kepalanya, kemudian menarik istrinya ke tempat tidur dan memeluknya lembut.
"Hei hei… Kudengar Kyuubi memberitahumu sesuatu." Tangan langsat itu membelai surai kelam suaminya, menunjukkan betapa ia sangat mencintai sang suami.
Sulung Uchiha mengangguk dengan mata yang terpejam, "Dia benar-benar brengsek. Dia membuatku mendapatkan pukulan gratis dari Tou-san."
"Jadi Tou-san sudah tahu… Kaa-san?" lagi-lagi Itachi mengangguk, namun kali ini dengan mata yang terbuka, menunjukkan tatapan teduh dan .. bingung?
"Tou-san mengamuk, sementara Kaa-san… Bisakah kau membantuku menenangkannya?" bibir pucat Itachi mengecup dagu Deidei berkali-kali.
Jujur, ia benar-benar lelah dengan kejadian semalam. Memang ia belum setuju dengan rencana gila Kyuu, tapi untuk masalah memberi tahu Tou-san dan Kaa-sannya, Itachi menyanggupi.
"Apa kau yakin, Tou-san tidak akan menghancurkan rencana ini?"
"Entahlah... Biar Kyuu yang mengurusnya. Aku lelah, Dei…"
Semalam, setelah pulang dari bukit belakang kampus, ia langsung memberi tahukan rencana Kyuubi kepada kedua orang tuanya. Tentu saja Fugaku menolak mentah-mentah rencana itu, sementara Mikoto tidak bisa memberi keputusan.
Di satu sisi, dia ingin putra bungsunya bahagia. Namun di sisi lain, ia tidak mau menyakiti dirinya sendiri jika harus kehilangan Sasuke.
"Kau menyetujuinya Dei..?" bisik Itachi di sela keheningan sesaat yang tadi sempat tercipta.
"Begitulah.." jawab sang istri dengan nada lembut. Jemari lentik Dei menyisir rambut raven Itachi ynag berantakan, bibirnya menyunggingkan senyum manis yang terlihat sedikit dipaksakan di mata Itachi.
"Dei. Apa Kyuubi mengatakan 'yang aneh-aneh' kepadamu?" kalimat bernada ragu dari sang suami dapat dengan jelas Deidara artikan. Yang aneh-aneh… Itu pasti –
"Kalian dulunya adalah sepasang kekasih."
Jawaban bernada datar ini seolah mencekik leher sulung Uchiha. Jujur, Itachi berharap dugaannya yang mengatakan bahwa Dei sudah mengetahui 'semuanya' adalah hasil dari kebodohannya menganalisis situasi. Sayang sekali, dugaan itu sangat tepat.
"Apa kau membenciku?" lengan putih susu pria berambut raven memeluk pinggang Deidei yang saat ini menyandarkan kepalanya di dada bidang Itachi. membuatnya bisa mendengar detak jantung sang suami yang kini tidak menentu.
"Tidak. Aku hanya sedikit kaget…" gumam Deidara dengan nada datar. Kalau boleh jujur, sebenarnya wanita bersurai pirang itu ingin menanyakan banyak hal kepada suaminya. Sayang sekali, ia takut membuka luka lama Itachi. Ahh… lebih tepatnya Deidara takut kalau-kalau Uchiha Itachi mengingat rasa suka yang dulu pernah ia miliki.
Ya.. Dei takut. Sangat takut.
Bagaimana kalau Itachi mengingat perasaan itu?
Bagaimana kalau Itachi kembali menyukai Kyuubi?
Akankah Itachi melupakannya begitu saja?
Akankah Itachi kembali mengacuhkannya seperti waktu itu, sesaat setelah mereka melangsungkan pernikahan?
Tidak!
Itachi tidak boleh melakukannya! Itachi adalah miliknya!
Tidak ada yang boleh mengambil Itachi darinya. Walaupun itu Kyuubi, atau siapapun. Itachi tidak boleh per –
"Maaf…"
Bisik sang suami tiba-tiba. Dei merasakan jemari Itachi mengusap pipinya, menghapus butiran-butiran hangat yang entah sejak kapan mengalir disana.
Deidara menggeleng pelan, 'Kenapa aku menangis? Bukankah aku percaya pada Itachi? Kenapa… Kenapa…Aku –'
"Maaf karena terlalu banyak menyakitimu…" bisik Itachi sebelum mengecup puncak kepala istrinya. Tangan kanannya, lalu menarik dagu sang istri, membuat ocean blue yang kini terlihat keruh itu menatap onyx-nya yang juga berembun.
"Maaf karena aku tidak mengatakan apapun kepadamu.." bibir pucat yang bergerak ragu itu mengecup sudut mata si wanita yang tubuhnya kini mulai bergetar.
"Maaf, aku memang egois… Awalnya aku ingin mendapatkan semuanya. Kehormatan di depan Tou-san, Kyuu.. dan mungkin juga dirimu." Dei menggeleng pelan saat Itachi mendekap tubuhnya erat. Ia benci melihat Itachi yang seperti ini.
"Aku mendengarnya… Saat Tou-san dan Paman Minato berbicara. Mereka tahu hubungan kami…" mata Deidara bergetar seolah tak percasya mendengar suaminya berkata begitu dengan bibir yang tersenyum miris.
"Aku tidak ingin kami mendapat masalah. Lebih tepatnya, aku tidak ingin diriku mendapat masalah. Aku benar-benar egois… Aku tidak ingin citraku rusak di depan Tou-san."
"Itachi… Kau…"
"Kyuubi tidak tahu hal ini. Aku tidak memberi tahunya. Kubiarkan dia membenciku. Aku memang pantas mendapatkan itu…"
Kali ini Deidara membalas pelukan suaminya, tak kalah erat. Ia tahu, ini sangat menyakitkan untuk Itachi, dan jugu Kyuubi… Juga dirinya sendiri.
Kamar berukuran besar itu pun kembali hening, hanya terdengar suara jam kayu besar berukirkan tanggal pernikahan mereka berdua yang berdiri kokoh di sudut ruangan.
"Apa… Apa aku ada di sini." Gumam Deidara tanpa sedikitpun menatap mata suaminya. Telunjuk kirinya menyentuh dada sang suami.
Itachi menggenggam erat tangan istrinya, kemudian menciumnya berkali-kali.
"Tidak!"
Jantung Dei seolah tertohok mendengar jawaban ini. Mungkinkah benar, sekarang ini Itachi kembali menyukai pria berambut orange arogan yang suka bicara seenaknya itu?
'Tidak! Ini tidak mungkin…'
"Tidak hanya kau yang ada. Saat ini, Otouto dan Naruto memakan terlalu banyak tempat disana."
Dei mengeryitkan dahinya. 'Sasuke? Naruto?'
" –memikirkan masalah mereka benar-benar menguras hati. Ahh… andai saja masalah ini bisa selesai dengan satu pukulan dariku untuk Otouto, pasti akan … "
Deidara tersenyum tipis. Pada saat-saat seperti ini, Itachi malah menjawab pertanyaan seriusnya dengan 'gurauan' yang sama sekali tidak lucu. Well, begitulah Itachi. Suaminya… Seseorang yang sangat sangat sangat dicintainya…
'Baka… Bagaimana bisa aku melupakan janji yang kubuat sendiri? Aku akan selalu mencintainya, apapun yang terjadi. Benar kan?' tangan kanan Dei membelai lembut perutnya sendiri sebelum berpindah mencubit pinggang sulung Uchiha.
"Itaii… Apa yang kau lakukan –hei!?" pekik Itachi.
"Terima kasih…" bisik Deidara, bibir manisnya kemudian mengecup sudut bibir sang pria pujaan hatinya. Ia lalu mendapat senyum tulus yang diiringi kalimat-kalimat yang membuat hatinya berdebar.
"Aku mencintaimu, lebih dari apapun di dunia ini. Jika nyawaku bisa menebus semua dosa dan kesalahan yang telah kulakukan padamu, aku rela jika harus mati sekarang…"
.
.
"Kenapa kau membawanya ke kantor?" tanya seorang pria berpakaian rapi yang baru saja selesai merapikan dokumen-dokumennya. Dilihatnya dua orang pemuda yang kini duduk di sofa, menunggu dirinya untuk menemui mereka.
Minato menghela nafas berat. Ia merasakan firasat buruk. Sesuatu yang serius kah?
"Baiklah… Katakan apa yang kalian inginkan." Ucap kepala keluarga Uzumaki seraya mendudukkan dirinya di sofa, menghadap putra sulungnya dan juga –Sasuke.
"Tou-san… Apa yang akan kau lakukan jika kau tidak bisa bertemu Naruto?"
Minato mengeryitkan dahi. Apa maksud dari pertanyaan to the point putranya itu? Bagaimana dia bisa menjawab kalau kalimatnya saja rancu begitu?
"Kyuu, aku tidak mengerti maksud u –"
"Paman, aku akan membawa Naruto mati bersamaku."
'deghh'
Ucapan bungsun Uchiha mengejutkan Minato. 'Apa yang baru saja dia katakan?'
Helaan nafas Kyuubi seolah mempertegas bahwa Sasuke bersungguh-sungguh saat mengucapkan kalimat mengerikan tadi. Onyx yang menatapnya tajam tanpa sedikit keraguan itu membuat hati Minato sesak.
"Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!" bentak pria berambut pirang cukup keras. Bagaimanapun, Kyuu dan juga Sasuke bisa merasakan kekosongan dalam kalimat bernada meninggi itu.
"Seperti yang kau dengar, Tou-san. Aku akan membuat mereka berdua mati. Aku hanya tidak ingin Tou-san melakukan yang aneh-aneh atau semua akan tahu kalau ini semua hanya rencanaku. Kalau sampai media tahu, nama baik perusahaan yang jadi taruhannya."
Tutur Kyuubi memberi penjelasan ambigu. Yaa.. Hanya inilah yang perlu orangtuanya ketahui. Begitu juga dengan Fugaku dan Mikoto, mereka hanya perlu tahu sampai sebatas ini. Tidak boleh lebih…
"Paman tenang saja, aku akan selalu bersamanya walaupun kami berdua harus masuk ke neraka."gumam Sasuke dengan nada datar.
Minato diam. Tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia marah kepada Kyuubi, otak dari semua rencana gila ini?
Akankah ia menggagalkan rencana aneh ini? Bagaiamana dia bisa melakukannya?
Ataukah… dia harus mengaku kalah?
Tidak! Pria bermata azure ini tidak bisa memilih. Pilihan manapun yang akan dia ambil membawa dampak negative.
Tangannya mengepal erat, seolah marah kepada dirinya sendiri. Apa dia salah mendidik kedua putranya? Kenapa mereka berdua bisa terjatuh kedalam lubang yang sama?
Apa ini sebuah kutukan? Tidak mungkin…
Apakah ini takdir? Lalu kepada siapa harus mengeluh atas takdir gila ini? Haruskah ia protes? Ahh.. tidak ada yang menyangka semua ini akan terjadi.
Sasuke… juga Naruto… tidak ada satupun dari mereka yang meminta perasaan suka itu. Mungkin…
"Kurasa ini sudah cukup. Aku dan Sasuke akan menemui Kaa-san." Kyuubi memberi isyarat mata kepada bungsu Uchiha, memintanya mengikuti sang detektif keluar dari ruangan Minato tanpa meminta persetujuan dari si empunya ruangan.
Sasuke hampir melewati pintu yang mungkin tidak akan pernah dilihatnya lagi saat sebuah suara yang terdengar berat memanggilnya, menanyakan sebuah pertanyaan yang ia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Jika salah satu dari kalian harus mati, kau ingin siapa yang mati?"
Sasuke terdiam. Tangannya memegang erat gagang pintu seolah ingin menghancurkannya. Ia membiarkan calon kakak ipar impiannya berjalan terlebih dahulu.
Minato menunggu… sementara bungsu Uchiha memejamkan matanya, merapalkan pertanyaan pemimpin perusahaan Uzumaki berkali-kali dalam hati. Terbayang senyum manis dan mata sembab yang menahan tangis saat pertanyaan yang sama terus berputar dalam kepalanya.
"Naruto…" bisiknya tiba-tiba. Kata yang terlampau lirih ini terdengar jelas di telinga Minato, menusuk jantungnya. Membuat matanya terbelalak, bergetar seolah tak percaya dengan bungsu Uchiha.
Ayah dua anak ini merasa dikhianati. Sasuke bilang dia menyukai –tidak! Dia mencintai putranya. Bagaimana bisa brengsek satu ini membiarkan putranya mati? Minato pasti sudah memukul putra kesayangan Mikoto kalau saja Sasuke tidak mengatakan apapun.
"Aku tidak ingin melihatnya menangis. Dia pasti akan sangat sedih melihatku mati. Bisa jadi, dia akan menyalahkan dirinya sendiri atas kematianku…" Sasuke mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
" –apa paman tega melihat Naruto menderita dalam rasa bersalah seumur hidupnya? Paman.. putramu bukan tipe orang yang mengingkari ucapannya sendiri, begitu juga denganku. Kami berjanji untuk saling menjaga satu sama lain… Saling mencintai selamanya. Aku tidak bisa membiarkan Naruto merasakan sakit atas kepergianku. Lebih baik aku saja yang menderita seumur hidup karena kepergiannya."
Seolah kilatan petir menggetarkan hatinya saat Minato mendengar kalimat panjang Uchiha Sasuke. Sebuah alasan yang bahkan tidak pernah terpikir olehnya…"
Tidak ada yang berpikir sampai sejauh itu. Setelah kematian, orang –orang yang ditinggalkan pasti akan merasa… Itukah yang menjadi alasan Kyuubi memberitahunya tentang rencana ini?
Minato masih terdiam duduk di sofa dengan mata yang memandang kosong lantai kantornya saat sebuah nada panggilan masuk berbunyi di telfon genggamnya.
"Ya.."
"Apa kau sudah dengar?"
"Begitulah. Barusan Kyuubi dan bungsumu memberitahuku." Gumam Minato. Ia membaringkan dirinya di sofa, sepertinya merasa sangat lelah.
"Apa-apaan ini? Bahkan Sasuke tidak menemuiku, tapi dia malah menemuimu? Sepertinya dia harus mendapatkan pela –"
"Fugaku!" bentak Minato memotong keluhan rancu rekan bisnisnya. Mendapat sebuah helaan nafas panjang sebagai balasannya. Fugaku sadar, dia mengucapkan itu hanya untuk membuang waktu.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya pria bermata azure dengan nada yang lebih tenang. Kalau saja ia bisa, ingin rasanya ia berteriak untuk melepas beban pikirannya saat ini.
"Mereka mendapatkan Pein dan Konan. Aku tidak punya orang kepercayaan lagi. Meminta bantuan kepada selain mereka sama saja dengan mengambil sebuah jarum di dalam larutan Asam Sulfat. Bagaimana denganmu?" helaan nafas panjang terdengar dari kepala keluarga Uchiha. Sepertinya ia juga mulai lelah.
"Aku tidak tahu. Putramu… dia baru saja mencekikku dengan ucapannya."
Mereka berdua sama-sama diam. Sama-sama menyadari bahwa tindakan apapun yang mereka ambil memiliki resiko yang besar.
"Fugaku.. Mungkin sesekali kau harus mendengarkan putramu. Sebagai seorang ayah, bukan sebagai seorang pemimpin perusahaan…"
Minato memukul keras pinggiran sofa sebelum mengakhiri percakapannya yang sia-sia.
'cklekk'
"Brengsek!" umpat Minato entah tertuju kepada siapa.
.
.
Malam Hari, Kediaman Uzumaki
Seorang wanita berambut merah panjang tengah membelai kepala bersurai pirang putra kesayangan yang kini memejamkan mata di pahanya. Bibir si wanita bergumam, mengucapkan begitu banyak kalimat untuk putranya.
"Kaa-san.."
" –berjanjilah kepada Kaa-san. Kau akan bahagia."
"Aku berjanji. Tenang saja, Sasuke bersamaku." Naruto membuka matanya, lalu tangan tan-nya terangkat, jemarinya membelai pipi wanita yang telah mengandungnya selama Sembilan bulan.
Naruto menunjukkan cengiran khasnya, mencoba meyakinkan bahwa semua akan berjalan sesuai rencana –tidak! Semua HARUS berjalan sesuai rencana.
"Nee Kaa-san. Aku mau tidur dulu…" Naruto lalu bangun. Sebuah lengan menghentikan gerakannya, lengan itu memeluknya ke dalam sebuah pelukan hangat.
Sebuah kecupan lembut dan ucapan yang menunjukkan betapa Kushina menyayangi putranya, dan ingin putranya bahagia, Membuat Naruto tak mampu lagi membendung air matanya.
.
.
Kediaman Uchiha
"Apa yang Tou-san ingin bicarakan?" tanya seorang pemuda dengan nada datar. Ia duduk di kasurnya. Di depannya, seorang pria pruh baya yang terlihat tegas duduk di kursi belajar si bungsu. Ahh.. kata 'angkuh' kelihatannya lebih cocok digunakan.
"Bisakah kau menjaga cara bicaramu? Apa kau tidak ingat kalau aku ini ayahmu?"
"Apa kau ingat bahwa aku ini putramu?"
Sebuah respon cepat dari putra bungsunya seolah menusuk jantung Fugaku. Apa maksud dari ucapan Sasuke barusan? Siapa yang mengajarinya untuk bersikap kurang ajar begitu?
"Tou-san. Aku tidak pernah menuntut apapun kepadamu. Tapi untuk kali ini saja, aku ingin kau membiarkan aku bersama Naruto."
Fugaku menghela nafas panjang. Pikiran putranya sudah benar-benar dipenuhi oleh pemuda berkuit tan itu. Apa yang membuatnya seperti itu7 Mungkinkah… Mungkinkah rencana yang dikatakan Itachi masih bisa dibatalkan?
Ahh… Mungkin ia harus mencoba saran Minato. Berbicara dengan bungsunya sebagai Ayah dan Anak. Mungkin juga, Uchiha Fugaku harus menanggalkjan sebentar harga dirinya sebagai seorang pemimpin perusahaan ternama.
"Sasuke. Aku sudah dengar rencana kalian dari Itachi. Bisakah kalian pertimbangkan lagi rencana ini?"
"Tidak." Jawab Sasuke singkat dengan nada yang mantab.
"Apa kau tidak memikirkan orang-orang yang akan kau tinggalkan? Kaa-sanmu misalnya…"
"Apa benar yang Tou-san pikirkan adalah perasaan Kaa-san? Bukan masa depan perusahaan?"
Entah kenapa Sasuke terkesan begitu kurang ajar kepada ayahnya sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Apa yang harus Fugaku katakan?
"Tou-san…"
Fugaku seolah melihat onyx yang belum pernah ia lihat sebelumnya. benarkah… Mata itu milik bungsunya, Uchiha Sasuke?
"Apa kau ingat, dulu kau menjanjikan sebuah hadiah untukku?" Sasuke tersenyum miris saat ia tidak mendapatkan respon apapun dari Tou-sannya.
"Kau bilang kita akan pergi berkemah kalau aku meraih peringkat pertama. Tou-san, aku selalu mendapat juara satu di kelas. Tapi sampai sekarang pun, kau tidak menepati janjimu."
"Tou-san, aku senang kau membelikanku bnayak mainan. Banyak sekali… Tapi, apa kau pernah memberikan barang-banrang itu kepadaku secara langsung?"
"Apa ayah pernah menanyakan padaku, bagaimana hariku, apa aku memiliki teman, apa saja yang kulakukan hari ini?"
Fugaku masih diam.. Dia tidak bisa menebak arah pembicaraan ini. Apa yang coba Sasuke sampaikan? Kenapa kalimatnya rancu begini?
"Tou-san… Apa aku harus mendengarkan permintaan seseorang yang bahkan tidak pernah mengajakku berbicara?"
Lagi… Kalimat Sasuke membuat jantung Fugaku seolah berhenti berdetak. Tidak pernah mengajaknya bicara…? Kalau dipikir-pikir semua percakapannya dengan Sasuke adalah….
Apa yang selama ini dia bicarakan saat bersama Sasuke?
Sekolah? Tidak… Fugaku dan Mikoto memilihkan sekolah untuk Sasuke.
Nilai? Ahh… Sasuke selalu mendapat nilai sempurna.
Universitas? Sasuke keluar dari Jurusan Bisnis dan malah memilih Jurusan Seni? Mikoto yang mengurusnya. Kalau tidak salah, ia membayar seorang ahli bisnis untuk menjadi guru privat Sasuke di rumah.
Saat makan malam? Kapan terakhir kali mereka makan malam bersama-sama…
Apa selama ini Fugaku pernah 'benar-benar mengajak Sasuke bicara'? kelihatannya kata 'memerintah' lebih tepat.
"Aku tidak akan menguah pikiranku. Kaa-san… Aku sudah bicara padanya. Kuharap Tou-san tidak membuatnya bertambah bingung dengan mengatakan hal-hal aneh."
Onyx redup tu belum menghilang dari mata putranya. Setahunya, Uchiha Sasuke tidak akan pernah berekspresi seperti itu. Atau jangan-jangan…
'Aku yang tidak tahu kalau putraku memiliki ekspresi seperti itu?'
"Tou-san… Aku tidak akan mengubah pikiranku." Ucap Uchiha bungsu. Kali ini dengan kalimat tegas dan sorot mata yang penuh keyakinan.
'Fugaku… Apa yang akan kau lakukan? Apakah masih ada kesempatan bagimu untuk memainkan peran sebagai seorang ayah? Apa saja yang kau lakukan selama ini? Itachi… Sasuke… Apa kau menganggap mereka sebagai putramu?'
Fugaku berbicara kepada dirinya sendiri. Apakah putranya memilih pilihan yuang benar?
Ayah dua anak itu memutuskan untuk beranjak meninggalkan kamar puranya. Entah setan apa yang merasukinya, dia berjalan mendekati Sasuke, kemudian mengacak pelan rambut bungsunya.
"Kau adalah putraku." Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan kamar berukuran besar itu.
.
.
Tbc.
.
.
Oaaaaa…. Setelah vakum cukup lama DX
I'd like to apologize to minna-sama. I promised to come back when August ends.
Tapi kenyataannya Kyuu baru balik sekarang. Jujur ada banyak banget tekanan batin. Selain Kyuu mulai disibukkan sama kegiatan kampus yang bejibun berurutan dan meminta jasa Kyuu buat ngebantuin, tekanan batin yang bikin Kyuu gak bisa nulis sama sekali.
Kemarin sempat pengen berhenti jadi fujo. Serius! Ini menyakitkan banget. Alasannya sangat sangat menyakitkan. Gak yangka ada pelaku yaoi yang nasibnya kaya gitu : '(
.
Well… Saatnya bales review aja :3
.
KiraHotaru: Arigato nee :3
.
Kitsune no Sasunaru: Gomen nee.. telat lama banget : (
.
Kaito Mine: Gomen for making Naruto sick :p
dan pastinya minta maaf karena telat banget : (
Pengetik maunya juga mereka berhasil…
Ini semua udah siap tinggal eksekusiny aja… mari kita berdoa (-/|\-)
btw, arigatooo
.
Misyel: makasih banget misyel-san
maaf telat banget yahh… Kyuu ada maslaah pribadi soalnya
semoga chap ini nambah bingung *ehh
soshite, terima kasih banyak
.
Namikaze Naru-chan: iya bener banget itu artinya
trims for review.. maaf banget ini ngaretnya kebangetan :3
.
Yashina Uzumaki: "Aku ingin kau mati"
ahh tenang aja. Chapter depan Sasuke bakal berpanik-panik ria kok :3
maaf karena telat ngaret kebangetan dan terima kasih :*
.
Queen The Reaper: "Aku ingin kau mati"
maaf karena telat :"3
ini lagi dalam proses pengumpulan nyawa setelah patah hati :3
terima kasih dukungannya
.
netter-in gabisa log-in: chapter depan Naru bakal bikin sasuke panic :*
terima kasih banyak dan maaf karena telat gilak :D
.
Vii no Kitsune: itu bahasa prancis :3
eksekusinya chap depan.. ditunggu ya :D
maaf udah telat banget and arigatoo
.
Rosanaru: udah kebaca dong yaa rencananya
tinggal kita eksekusi aja chap depan
semoga tar suka sama endingnya :D
arigato and sumimasen karena telat banget
.
Kyumimi: kita lihat eksekusinya chapter depan yaaa :D
terima kasih dan maaf karena telat gilak
.
nanao yumi: makasih yumi-san : )
maaf banget ini telat..
semoga chap ini member sedikit penceraha,,, atau malah keburaman :o
btw terima kasih bnyak :D
.
Naru Freak: Yupp :3
iya.. disini naru emang dibikin ooc :D gatau kesambet setan apa, pengetik pengen liat naru ngenes :D
maaf buat keterlambatan
and arigatoo (-/|\-)
.
Ciel-Kky30: salam kenal :3
semoga dapet pencerahan dari chap ini ya :D
maaf karena telat banget
.
BlackMagician12: makasih :*
kita liat aja eksekusinya chap depan yaaaa
maaf banget karena telat apdet
.
ChaaChulie247: terima kasih :3
semoga chap ini ngasih pencerahan yaaa :D
maaf banget karena telat apdet : (
.
widi orihara: Tuhh kurama meminang Naru :D
tar kita liat lanjutannya aja ya :3
maaf banget karena telat apdet
/
HaikuReSanovA: kita liat di chap depanb ya :3
maaf banget telat (-/|\-)
terima kasihh
.
mayyurie zala: mis-typo : (
terima kasih banyak untuk koreksinya :*
btw, maaf banget telat… arigatoo
.
Miharu Aina: Yoroshiku : )
sorry for being too late
hope you like this chap :*
once more time.. arigatoo
.
Satsuki Naruhi: maaf banget telat : (
semoga gak mengecewakan yaaaa
terima kasih : )
.
.
Finally it's done : )
Sebenarnya alasan Kyuu stress ampe tekanan batin gak jelas gini adalah
The guy that I like was a ***
Well, that's really hurt but I do not want to forget the pain. 'Cause it makes me stronger :D
anyway… Kyuu seneng banget bisa balik ke sini :*
Hope I'll get some new energy
.
.
Akhir kata
review please :3
