Chapter 2

Huwaa, wolfy seneng deh kalo review nya pada bagus gitu hihi, jadi malooo /digampar readers/

Entah kenapa berhasrat buat lanjutin FF ini padahal lagi UAS wkwk, doakan wolfy ya. Kalian juga pada sukses yahh UAS nya:3

Sehun POV

"Sehun? Bisa kita bicara sebentar?" aku baru saja menutup pintu kamar Taeoh ketika Krystal memanggil ku. Tumben sekali.

"Tentu saja. Lebih baik jangan disini, aku tak mau Taeoh terbangun ketika kau mulai berteriak."

Aku pun melangkah menuju kamar, yang dulunya milik kami. Dulu. Mengingat Krystal yang jarang pulang dan lebih memilih tidur di hotel dengan simpanan nya. Aku memasuki kamar ku dan melepas kemeja ku. Sementara Krystal hanya berdiri terdiam di dekat pintu kamar kami setelah ia mengunci nya.

"Sehun, aku ingin menikah dengan Kris." aku hanya diam.

"Kris? Bukankah yang dulu itu namanya Minho?" aku hanya menjawab seadanya. Yah, sebenarnya aku sendiri agak kaget mendengar Krystal ingin menikah lagi. Biasanya, ia hanya bermain-main dengan namja genit di luar sana tanpa ada niatan untuk serius.

Krystal berjalan mendekati ku. Wajahnya agak sedikit gugup dan tidak berani menatapku. Entahlah, tidak biasanya. Apa dia benar-benar serius? "Sehun, ceraikan aku. Kau tau kan, kita sudah tidak punya alasan lagi untuk bersama."

"Ada, Taeoh masih membutuhkan mu."

"Kau tampan dan terlampau mapan Sehun, masih banyak yeoja yang bisa menggantikan aku sebagai ibu Taeoh. Toh, aku tidak ingin menuntut hak asuh Taeoh jika kita bercerai nanti." Krystal memainkan ujung jarinya. Aku meliriknya sebentar, rupanya ia benar-benar serius. Bahkan cincin pernikahan kami yang biasanya masih ia pakai sudah tidak melingkar lagi di jari manis nya.

"Ibu? Jadi, begitu kau menyebut dirimu seorang ibu?" aku menatapnya datar. Krystal mengangkat wajahnya dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"I really don't care about our fucking relationship. I just care about my son. However, you still his mother and no one can replace your position in his mind."

Krystal mulai tampak frustasi. Aku meninggalkan nya menuju kamar mandi, aku sedang lelah dan agak malas bertengkar dengan nya. Tapi Krystal menarik tangan ku. "Bisakah kau tidak egois? Kita sama-sama tersiksa Sehun. Kau tidak lagi mencintai ku dan aku mencintai Kris!" Krystal berteriak.

Aku, lagi-lagi hanya menatapnya datar. "If you want to marry him, then just married. But don't ever think we'll divorce."

Setelahnya Krystal hanya menatapku geram yang berjalan menuju ke kamar mandi. Mungkin setelah ini ia akan pergi lagi, entah kemana. Hal yang biasa ia lakukan ketika kami habis bertengkar. Aku memasuki kamar mandi dan mengisi bathub ku dengan air hangat. Sepertinya, mandi dengan air hangat dan aroma therapy bisa sedikit mengurangi beban ku.

Aku memasuki bathub ketika airnya sudah terisi penuh. Menenggelamkan kepala ku untuk merasakan hangat nya air mencapai ubun-ubun ku. Rasanya tidak terlalu buruk. Well, kalau aku pikir-pikir kehidupan ku tidak seburuk Kai. Pasien ku yang baru saja masuk rumah sakit tadi. Kalau dipikir-pikir, setidaknya aku harus bersyukur karena masih memiliki Taeoh, sementara Kai? Ia bahkan tidak punya siapa-siapa lagi.

Author POV

Sehun terbangun dalam bathub yang airnya sudah dingin. Oh shit, sepertinya ia ketiduran ketika mandi tadi malam. Sehun segera memakai handuk dan keluar dari kamar mandi. Well, jam enam pagi. Setidaknya ia tidak harus mandi pagi lagi.

Sehun menuruni tangga rumah mewah nya untuk sarapan. Pelayan setianya, bibi Jung sudah menyiapkan sarapan untuk nya dan Taeoh yang akan pergi sekolah. Taeoh harus sekolah di sekolah khusus penyandang autis, biarpun begitu bocah berpipi gembul itu selalu terlihat ceria setiap akan pergi sekolaj dan secara tidak langsung menjadi penyemangat bagi Daddy nya.

"Daddy, Taeoh akan ada ujian menggambar hari ini." Taeoh terlihat bersemangat menghampiri Daddy nya ketika bibi Jung selesai memakaikan nya sepatu.

"Benarkah? Taeoh harus menggambar yang bagus ne." Sehun mengusak kepala putra kesayangan nya itu.

"Kalau Taeoh sudah pulang sekolah, Daddy jemput Taeoh ya? Taeoh ingin main ke rumah sakit dan bertemu suster yang cantik." Taeoh menatap Sehun penuh harap.

Sebenarnya, Sehun tidak bisa membayangkan jika Taeoh ikut ke rumah sakit lagi. Terakhir kali Taeoh disana, ia benar-benar membuat Sulli kerepotan karena mengacak-acak berkas pasien di ruangan Sehun. Tapi, mau bagaimana lagi? Anak penyandang autis seperti Taeoh tidak bisa tidak dituruti keinginan nya.

"Baiklah, nanti Daddy jemput. Sekarang makan sarapan nya ya."

Dan Taeoh pun tersenyum senang dan segera melahap sarapan nya dengan semangat. Sepertinya pipinya yang terlampau chubby itu akan bertambah chubby setelah ini.

….

"Jadi, sudah mau cerita?" Sehun tersenyum sabar. Sepertinya ini tidak akan mudah. Ya, saat ini Sehun sedang menangani kesembuhan untuk salah satu pasien nya, Kim Jongin atau biasa dipanggil Kai.

Sudah hampir setengah jam Sehun menunggu Kai untuk membuka mulutnya, tapi Kai justru malah meringkuk di ujung ruang rawatnya dan tidak berniat menceritakan masalah nya pada Sehun. Walaupun ia tidak selabil kemarin, tapi Kai sepertinya masih enggan dan merasa takut bertemu dengan orang asing.

"Tidak apa, Sehun bukan orang jahat." Sehun berusaha meyakinkan Kai. Ia sengaja menggunakan panggilan tidak formal agar Kai merasa lebih nyaman.

Kai mulai mengintip Sehun dari balik bantal yang ia peluk. Sepertinya Kai mulai merasa nyaman. "Se...Sehun?"

"Iya, aku Sehun. Kau Kai kan? Bisa ceritakan sedikit tentang diri mu?" Sehun tersenyum melihat Kai yang sudah mau berbicara padanya.

"Aku Kai. Kim Jongin." Kai melepas bantal yang sedari tadi dipeluknya agar wajahnya bisa menatap Sehun.

Kai POV

Sehun? Apa ia orang baik? Apa ia tidak seperti paman? Apa ia tidak akan menyakiti ku? Eomma, Kai takut.

Aku memberanikan diri ku menatap wajahnya. Ia… tampan. Sepertinya baik. Ah tidak, orang jalanan yang dulu memperkosa ku juga tampan, tapi mereka jahat. Apa Sehun seperti mereka?

"Apa Sehun orang baik?" aku bertanya padanya. Ia memandangku dan tersenyum. "Tentu saja. Sehun baik."

"Kalau begitu, jangan biarkan paman menangkap Kai, ne?"

"Tentu saja. Kai boleh pegang tangan Sehun jika takut." Sehun mengulurkan tangannya padaku. Takut-takut aku menggenggam nya. Tangan Sehun hangat, aku suka.

"Dasar bocah tidak tau diri!"

"Kau seharusnya melayani ku!"

"Kau harus baik-baik ne, noona menyayangi mu."

"Pergi jauh-jauh dari hidup ku!"

"Hey, mau kemana kau bocah bodoh?!"

Suara itu lagi. Sekelebat suara yang selalu mengganggu tidur ku tiba-tiba muncul. "Arghhh!" aku menutup telinga ku, berharap tidak mendengar kata-kata itu lagi. Tapi kata-kata itu, kata-kata paman di malam ia melecehkan ku, kata-kata bibi saat mengusir ku, kata-kata noona semalam sebelum ia bunuh diri terasa menghantui ku. Aku menjambak rambut ku frustasi karena suara itu tak kunjung hilang. Sehun menatap ku khawatir.

"Tidak! Tolong jangan! Berhenti!" aku berteriak histeris dan ketika Sehun mengambil jarum suntik dari jas putih nya dan menusukkan jarum itu pada lengan ku semuanya terasa menghitam. Gelap.

….

Author POV

Sehun hampir saja lupa jika ia harus menjemput Taeoh. Dan ini sudah jam dua belas siang, Taeoh sudah pulang sekolah setengah jam yang lalu. Sehun jadi khawatir, putra nya itu pasti sudah menangis karena ia tak kunjung datang menjemputnya.

Sehun segera mengambil kunci mobil dan mengendarai jaguar nya menuju sekolah Taeoh. Dan benar saja, putra nya itu sudah menunggu Sehun di depan gerbang dengan mata yang berkaca-kaca.

"Taeoh, maafkan daddy ne?" Sehun memeluk Taeoh yang hanya diam sambil memeluk leher ayah nya.

"Taeoh jangan menangis lagi, kan daddy sudah disini." Sehun menggunakan ibu jari nya untuk mengusap mata Taeoh yang berair.

"Taeoh tidak menangis kok. Kan Taeoh sudah janji pada daddy akan jadi anak yang kuat." Sehun tersenyum mendengar perkataan putra nya. Ia segera menggendong Taeoh memasuki mobil dan kembali ke rumah sakit.

"Taeoh bersama bibi Sulli ne? Daddy harus memeriksa pasien dulu. Jangan nakal jagoan daddy." Sehun menepuk pelan pipi chubby milik Taeoh. Ia terpaksa harus merepotkan Sulli karena ia harus mengurus beberapa pasien hari ini.

Taeoh mengacungkan jempolnya pada Sehun. Sulli yang sedikit sibuk juga tidak keberatan untuk menjaga Taeoh karena anak atasannya itu memang menggemaskan dan sangat lucu.

Taeoh memainkan boneka pororo pemberian Sehun sambil menatap lalu lalang orang-orang di rumah sakit. Sulli memang agak sibuk hari ini sehingga tidak bisa selalu menemani nya bermain, ia jadi bosan. Taeoh melirik Sulli yang sedang menerima telepon, sepertinya berkeliling sebentar tidak apa kan?

Taeoh berjalan menuju taman belakang rumah sakit. Disana cukup sepi dan Taeoh suka itu. Ia jadi bisa bebas bermain tanpa diganggu. Taeoh duduk di tepi kolam ikan di tengah taman. Sesekali tangan mungil nya ia celupkan ke dalam kolam untuk bermain dengan ikan-ikan. Kalau begini, Taeoh jadi rindu mommy. Dulu, mommy selalu menemani nya bermain di rumah, menyuapi nya, mengurus nya saat sakit. Tapi sekarang mommy jarang di rumah, Taeoh sedih tapi Taeoh tidak tau harus bagaimana.

Taeoh mulai bosan bermain dengan ikan. Ia menatap ke sekeliling nya dan mendapati seorang paman yang mungkin seusia dengan mommy nya. Eh, itu paman atau bibi ya?

Taeoh berjalan mendekati orang itu yang sedang duduk di bangku taman. Ia memiringkan kepala nya lucu. "Paman ini laki-laki atau perempuan? Kenapa manis sekali?" Kai, menoleh pada bocah kecil yang sedang menatap bingung dirinya.

Taeoh berjalan mendekati Kai dan menatapnya dengan seksama. "Aku.. aku laki-laki. Panggil saja Kai." Kai yang merasa risih dipandang seperti itu pun akhirnya menjawab.

"Aku Oh Taeoh paman, senang berkenalan dengan paman." Taeoh tersenyum dan menyulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Kai. Ragu-ragu Kai menerima jabatan bocah kecil itu.

"Kenapa paman disini? Paman sedang sakit ya? Sakit apa?" Taeoh kecil mulai memberondong nya dengan pertanyaan. Sepertinya ia terlalu bersemangat bertemu dengan orang baru.

"Aku…"

"Oh iya paman, tadi Taeoh ujian menggambar di sekolah dan dapat nilai A." Taeoh membuka tas ransel nya dan mengambil selembar kertas.

"Tadinya, Taeoh ingin memperlihatkan ini pada Daddy. Tapi daddy sedang sibuk." Taeoh memperlihatkan hasil karya nya pada Kai. Itu adalah gambar keluarga nya. Taeoh menggambar Sehun, Krystal dan dirinya sendiri yang terlihat bahagia dengan senyum mengembang dalam gambar itu.

Kai tersenyum. Pasti menyenangkan jadi Taeoh, punya keluarga yang utuh dan bahagia. Tidak seperti dirinya, hidup sebatang kara dan tidak punya siapa-siapa lagi. Taeoh anak yang baik dan ceria, orang tua nya pasti mendidik nya dengan baik, pikir Kai.

"Taeoh sayang mommy dan daddy. Taeoh ingin mommy dan daddy akur lagi seperti dulu." Taeoh menundukkan kepala nya sedih.

"Memangnya daddy dan mommy Taeoh kenapa?" Kai menatap Taeoh yang sekarang memainkan ujung sepatunya.

"Daddy dan mommy…"

Tiba-tiba…. "Oh Taeoh! Kemana saja kau?"

TBC

ini chap 2 nya yapp, wolfy ga nyangka deh kalo respon nya bagus hehe. terus tinggalin review yapp,

With love, wolfy.