Chapter 3

Hello hello hello hello tell me what you want right now /apasih wolfy malah nyanyi.

FF ini wolfy persembahin buat para readers yang udah selalu setia nungguin FF aku wkwk. Buat para HunKai shippers yang semoga makin berjaya di tahun 2015 /apaan:"

Dan wolfy juga mau ngucapin Selamat Tahun Baru 2015 ya semua, semoga tahun ini menjadi tahun yang bahagia buat semuanya. Mwah. *lopeklopekdilangit*

Here you are, happy reading~

Author POV

"Oh Taeoh! Kemana saja kau?" suara lantang Sehun membuat Kai dan Taeoh sontak menoleh.

"Daddy!" si kecil Taeoh yang tadinya sibuk memperlihatkan karya nya pada Kai berlari menghambur menuju pelukan sang daddy.

Kai hanya terdiam. Itu Sehun kan? Yang tadi pagi menyuntiknya dengan obat penenang. Daddy ya? Jadi Taeoh itu putra Sehun?

"Kau kemana saja? Sedang apa disini?" Sehun mengangkat tubuh anak nya itu ke dalam gendongan nya.

"Tadi Taeoh bosan karena bibi Sulli sedang sibuk. Jadi Taeoh bermain ke sini dan bertemu dengan paman itu." Taeoh menunjukkan jari telunjuk nya ke arah Kai. Sehun mengikuti jari putra nya dan melihat sosok Kai sedang tersenyum canggung ke arahnya.

"Taeoh, dengar. Paman itu sedang tidak boleh diganggu, jadi Taeoh jangan nakal ne." Sehun mengelus kepala putra nya. Ia tentu saja melarang putra nya bertemu dengan Kai karena psikis Kai yang masih sangat labil dan belum bisa bertemu dengan orang baru.

Sehun menurunkan Taeoh dari gendongan nya. "Taeoh sekarang dengan bibi Sulli ya, Taeoh boleh minta apa saja pada nya."

"Baik daddy." Taeoh pun berlari riang masuk kembali ke rumah sakit.

Sehun berjalan menghampiri Kai yang saat ini sedang duduk di kursi taman sambil memandangi kolam air mancur di hadapannya. Sepertinya ia terlalu asik hingga tak menyadari kehadiran Sehun di samping nya.

"Boleh aku temani?"

Kai menoleh terkejut. "Dokter Sehun? Bo..boleh saja." Kai agak sedikit canggung. Mengingat pertemuan nya dengan Sehun beberapa hari ini selalu berakhir dengan hal yang tak mengenakkan.

"Panggil Sehun saja. Umur kita tidak terlalu jauh kok." Sehun tersenyum ke arah Kai, mencoba mencairkan atmosfer canggung di antara keduanya. Kai hanya diam sambil memandangi ikan-ikan di kolam. Kemudian ia teringat, gambar milik Taeoh masih ada padanya. Bocah itu terlalu bersemangat tadi dan lupa mengambil kembali miliknya.

"Mmm, Sehun. Ini punya putra mu." Kai menyodorkan gambar Taeoh pada Sehun. Sehun menerima gambar milik putra nya dan diam selama beberapa saat.

"Sepertinya kalian bahagia sekali di gambar itu." Kai tersenyum dan mengikuti arah pandang Sehun yang masih mencermati karya putra nya itu.

Sehun tersenyum kecil. Seandainya saja memang begitu, seandainya saja keluarga nya sesempurna itu. Seandainya saja ia dan Krystal memang akur. Pasti Sehun sudah dengan bangga nya memuji gambar Taeoh.

"Tidak, kami tidak sebahagia itu." Sehun tersenyum sedih, ia menyimpan gambar Taeoh di saku jas dokter nya. Kai hanya memandang nya bingung. "Kenapa?"

Sehun diam. Perlahan senyum di wajahnya memudar. "Ah, maaf. Aku tidak bermaksud." Kai jadi tidak enak sendiri. Ia bahkan baru mengenal Sehun beberapa hari dan sudah dengan lancang nya menanyakan masalah keluarga nya.

"Tidak apa-apa. Kau tau kan? Tidak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk aku dan keluarga ku." Sehun terlihat sedih. Pria yang biasanya terlihat datar itu, terlihat sedih. Kai hanya diam, tidak ingin membuka kembali luka dalam hidup Sehun. Ia sungguh jadi tidak enak.

Ternyata… Sehun yang tampan, baik, sukses dan memiliki putra yang lucu juga mempunyai masalah dalam kehidupan nya. Ternyata, masih banyak orang yang memiliki hidup yang menyedihkan, walaupun tidak seburuk Kai.

"Maafkan aku yang sudah lancang." Kai hanya meremas ujung baju pasien nya dan menunduk. "Tidak apa." Sehun tersenyum. Setidaknya ia senang karena pasien nya itu sudah mampu mengendalikan dirinya di dekat orang lain.

"Lebih baik kau kembali ke kamar sebelum Sulli khawatir dengan mu." Sehun berdiri, mengulurkan tangannya pada Kai. Kai terlihat ragu walaupun pada akhirnya menerima uluran tangan Sehun. Mereka berjalan, bergandengan menuju kamar rawat Kai.

Ketika mereka sudah sampai di depan kamar Kai, Sehun mengelus pucuk kepala namja tan itu. "Kau harus banyak istirahat, orang baik seperti mu pantas mendapat kebahagiaan." begitu kata Sehun sebelum ia berlalu meninggalkan Kai yang entah kenapa merasa hangat setelah mendengar nasihat Sehun.

Sehun POV

Aku merebahkan tubuhku di kasur. Merasakan bagaimana empuknya busa kasur menyentuh punggung ku yang terasa sangat pegal. Ini baru jam 7 malam tapi entah kenapa aku merasa sangat mengantuk. Setidaknya hari ini aku tidak pulang terlalu malam.

Aku bangkit dari tidurku, menyenderkan punggung ku pada sandaran tempat tidur. Aku membuka jam tangan yang belum sempat aku buka, juga jas dokter yang masih melekat pada tubuhku. Ada kertas putih terjatuh ketika aku sedang berusaha melepas jas ku. Aku memungutnya di lantai, ternyata itu gambar milik Taeoh yang tadi sore Kai berikan padanya.

Aku memandang nya lama. Gambar Taeoh memang tidak sebagus gambar milik anak-anak lain. Tapi apapun yang dilakukan bocah kecil itu selalu bisa membuatku tersenyum. Gambar tentang keluarga kami, diriku, Taeoh dan Krystal berada dalam sebuah gambar yang sama dengan senyum mengembang dengan taman sebagai background nya. Aku mencermati nya lama, hingga ku sadari ada sesuatu yang aneh. Tangan kami, di gambar itu Taeoh menggandeng tanganku tapi tidak dengan Krystal. Taeoh berada di tengah-tengah aku dan Krystal dalam gambar itu. Dan entah benar atau hanya perasaan ku saja, kenapa gambar Krystal dibuat agak menjauh dari gambar ku dan Taeoh?

Aku benar-benar tidak tau jika anak ku menjadi sepeka ini. Selama ini, aku sudah berusaha keras untuk menutupi keretakan rumah tangga kami yang benar-benar sudah di ambang kehancuran dari Taeoh. Taeoh tidak pernah mengatakan apapun padaku, membuat perkiraan ku tentang Taeoh yang tidak tau apapun menjadi kuat. Aku tidak menyangka ia tau tentang ini semua, tapi sedetik kemudian aku tersenyum. Aku memandangi gambarku dan Taeoh yang sedang bergandengan, si kecil itu terlihat sedang memberiku kekuatan, seolah-olah lewat gambar itu ia mengatakan bahwa aku tidak sendiri.

Aku membuka laci nakas di samping tempat tidurku. Mencoba mencari pigura foto yang kebetulan sekali pas dengan ukuran gambar Taeoh. Aku memasang nya dan menggantungkan nya di dinding.

Entah berapa kali ucapan syukur yang aku panjatkan pada Tuhan karena di saat kondisi ku seburuk ini, aku masih punya Taeoh yang akan selalu menjadi penyemangat ku. "Terima kasih Tuhan, terima kasih."

Aku merebahkan kembali tubuh ku di kasur. Memejamkan mata ku yang mulai terasa berat. Kai. Eh? Kenapa tiba-tiba aku memikirkan Kai? Apa dia tidur dengan nyenyak? Apa dia minum obat nya? Entahlah, hari ini aku jadi memikirkannya terus. Aku juga tidak tau kenapa. Otak ku seakan kembali memutar kejadian tadi sore. Saat Sulli dengan panik mengatakan Taeoh menghilang, aku pun juga menjadi panik dan berusaha menemukan putra ku. Ternyata Taeoh sedang di taman belakang, bermain dengan… Kai. Ia tersenyum, Kai tersenyum pada Taeoh. Aku bersumpah senyuman nya sangat manis tapi matanya tetap tidak bisa berbohong. Ada sejuta kesedihan disana.

Kalau boleh, aku ingin ia membagi nya dengan ku.

Eh?

….

*Author POV*

Kai membuka matanya perlahan. Matahari yang mulai muncul di langit menyebarkan cahaya nya yang menembus jendela ruang rawat Kai. Kai bangkit dari tidurnya. Meneguk segelas air putih yang tersedia di nakas samping tempat tidurnya. Sejenak ia berfikir dan menyadari sesuatu. Ia tidak bermimpi buruk tadi malam, malahan tidurnya kelewat nyenyak. Mungkinkah ini pertanda baik?

Cklek.

Kai menoleh ke arah pintu. Itu Sulli, suster yang menjaga nya selama di rumah sakit. "Selamat pagi Kai." Sulli tersenyum dan berjalan mendekati ranjang Kai untuk mengganti infus Kai. "Selamat pagi." Kai balas tersenyum.

Sulli yang sempat kaget dengan reaksi yang diberikan Kai hanya bisa tersenyum. Biasanya Kai hanya melamun atau menjawab sapaan nya dengan wajah datar. "Kau sedang senang ya?" tanya Sulli yang masih sibuk dengan jarum infuse. "Entahlah." jawab Kai datar.

"Kau harus tersenyum terus, hari ini dokter Sehun akan mulai memberikan terapi untuk mu. Kalau kau ingin cepat sembuh, kau harus berusaha." Sulli mengusap lengan Kai lembut, berusaha memberikan dukungan untuk pasien nya ini.

"Menurut mu, aku bisa sembuh?" Kai hanya bertanya ragu.

"Tentu saja. Tidak ada yang mustahil Kai. Kau harus percaya pada diri mu sendiri, Kai yang ceria pasti akan kembali lagi." Kai hanya tersenyum mendengar nasihat Sulli. Ya, Sulli benar. Ia harus berusaha dan percaya pada dirinya sendiri. Kai tidak ingin terus terjebak dalam bayang-bayang kelam masa lalu nya, ia ingin jadi Kai yang dulu. Yang ceria, yang selalu tersenyum dan membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekitar nya.

"Aku ambilkan sarapan mu dulu, ne? Dan setelah itu kau mandi." Sulli melirik jam tangan nya sekilas. "Jam 10 dokter Sehun akan memulai jadwal terapi untuk mu. Semangat!"

Sulli berlalu menuju pintu. "Sulli?"

"Ya?" Sulli menghentikan langkah nya sejenak dan menoleh pada Kai yang memanggil nama nya.

"Terima kasih." Kai tersenyum tulus.

"Sama-sama."

Ruangan itu cukup luas. Dengan semua perabotan nya yang berwarna pastel. Lukisan-lukisan pemandangan terpajang apik di dinding. Sudah hampir 10 menit Kai disini. Sulli mengantarkan nya ke ruangan ini dan mengatakan bahwa ini adalah ruang terapi. Sulli bilang Sehun akan sedikit terlambat karena ada pasien lain yang harus ia tangani.

Kai terduduk di sofa empuk dengan warna cokelat muda. Kai mengayunkan kaki nya dan memandang ke sekeliling. Mencermati berbagai objek di ruangan itu. Matanya berhenti pada sebuah miniatur mickey mouse di meja di sudut ruangan. Mickey Mouse, mengingatkan nya pada noona nya.

Flashback

"Noona, aku pinjam bantal mickey mouse mu ya?" pinta Kai dengan wajah nya yang sengaja dibuat –buat.

"Tidak, yang lain saja." Jessica terlihat acuh. Ia masih mendekap bantal kesayangan nya itu.

"Tapi yang lain tidak empuk, aku tidak bisa tidur nanti." Kai masih saja merengek sambil sesekali menarik-narik ujung baju noona kesayangan nya itu.

"Tidak Kai, yang lain saja. Yang ini kesayangan ku, aku tidak mau mickey mouse ku kotor jika kau pinjam."

Kai menghentakkan kaki nya sebal. Oh ayolah, dia baru berumur 10 tahun dan noona nya 5 tahun lebih tua darinya tapi sama sekali tidak mau mengalah. "Noona jahat! Aku benci noona!" Kai membanting pintu kamar Jessica dengan kasar dan berlari menuju kamar nya. Sungguh, ia benci sekali pada Jessica yang pelit dan posesif pada bantal Mickey Mouse nya.

Jessica yang merasa bersalah pun akhirnya menyusul sang adik ke kamarnya. Ia hanya tertawa geli melihat gundukan yang tertutup selimut di atas kasur. Adik lelaki nya ini memang manja sekali, apalagi bila ngambek.

"Kai?" Jessica mengguncang pelan tubuh Kai yang berbalut selimut.

"Tidak mau. Pergi sana!" mendengar Kai yang mengusir nya Jessica malah tertawa kencang dan berhasil membuat Kai bertambah sebal. Ia menyingkap selimut nya dan menatap Jessica penuh dendam.

"Hey hey, jangan menatap ku begitu. Kau ini, sudah besar tapi masih manja." Kai malah semakin menjadi-jadi dan menatap kakak nya tajam.

Jessica menyodorkan bantal Mickey nya pada Kai. Kai hanya menatap bingung. "Apa? Katanya ingin pinjam?" Jessica tersenyum dan menaruh bantal itu di pangkuan adiknya.

"Tapi tadi tidak mau meminjamkan, dasar labil." Kai masih ngambek sepertinya.

"Haha, aku hanya bercanda kok. Jangankan hanya bantal, apapun untuk adik kecil ku ini akan aku berikan." Jessica tersenyum dan mengacak rambut Kai.

"Yak noona! Aku sudah besar tau." Kai pura-pura sebal tapi kemudian ia memeluk Jessica erat.

"Terserah saja, sampai kapanpun kau tetap adik kecil ku." Jessica balas memeluk Kai tak kalah erat dan mengusap sayang rambut adiknya yang walaupun 5 tahun lebih muda darinya tapi tinggi badan nya sudah hampir menyamai nya.

Flashback end

Kai tersenyum. Ia merindukan noona nya. Ia merindukan Jessica noona nya. Ia merindukan cake ulang tahun yang selalu noona nya buatkan setiap ulang tahun nya. Ia merindukan bagaimana Jessica memeluk erat tubuh nya ketika ia sedang sedih. Ia merindukan nyanyian selamat tidur yang selalu Jessica nyanyikan untuk nya. Ia merindukan nya. Ia ingin Jessica kembali, bisakah?

Cklek.

Suara pintu dibuka membuyarkan lamunan Kai. Itu Sehun. Dengan jas dokter nya yang entah kenapa membuatnya terlihat begitu gagah. "Maaf aku terlambat." Sehun duduk di sofa di hadapan Kai.

"Tidak apa." Kai tersenyum kecil.

"Bisa kita mulai terapi nya?"

"Tentu." jawab Kai yakin.

Sehun menyuruh nya untuk bersandar pada kepala sofa. Yang terakhir kali Kai ingat adalah Sehun menyuntikkan cairan ke dalam tubuh nya dan ia mulai kehilangan kesadaran. Entahlah, bagaimana menjelaskannya. Kai merasa setengah tersadar, ia hanya bisa memejamkan mata nya. Ia bisa mendengar suara Sehun, ia mendengar Sehun menanyakan banyak hal pada nya dan Kai menjawab nya dengan jujur dan apa adanya, seperti tidak ada beban. Mungkin 30 menit Kai dalam keadaan setengah sadar dan ia merasakan jarum suntik menembus kulit lengan nya dan Kai tertidur. Tapi, berbeda. Rasanya tenang.

Kai membuka kelopak mata nya perlahan, mengerjap-ngerjapkan nya, mencoba beradaptasi dengan lampu terang di ruangan itu.

"Dokter?" Kai melihat Sehun tersenyum padanya. Kai menatap sekeliling nya, ini masih di ruangan terapi.

"Sudah sadar?" Sehun tersenyum lembut pada Kai.

Kai mengusap pelan pipinya sendiri dan merasakan liquid bening disana. Ia menangis? Tapi kenapa? Ah, Kai ingat, 10 menit yang lalu Sehun menyuntik nya kembali dan ia tertidur. Ia juga ingat, sebelum itu Sehun membuat nya setengah sadar dan menanyakan nya berbagai macam hal. Tapi Kai tidak ingat apa pertanyaan nya dan bagaimana ia menjawab.

Sehun menyodorkan segelas air putih pada Kai. "Minum lah, terapi pertama berjalan cukup lancar."

Kai meneguk habis air yang diberikan Sehun. "Kenapa aku menangis?"

"Kau baru saja memutar kembali kisah masa lalu mu dan menceritakan nya pada ku. Tapi, tidak apa. Tadi kau sudah berjanji pada ku untuk melupakan nya." jawab Sehun.

"Kapan aku berjanji pada dokter?" tanya Kai bingung, sungguh ia tidak ingat apapun.

"Aish, sudah ku bilang jangan panggil aku dokter."

"Tapi aku suka memanggil mu dokter." jawab Kai polos. Mata innocent Kai entah kenapa mengingatkan nya pada Taeoh.

"Aish, baiklah. Terserah kau saja. Terapi pertama mu sudah selesai, besok kau akan terapi lagi. Sekarang kau bisa kembali ke ruang rawat mu." Sehun berdiri merapikan peralatan nya dan Kai juga hendak beranjak menuju pintu.

"Kai?"

"Ya?" Kai menoleh.

"Kau merindukan noona mu?"

Kai hanya diam. Entah darimana Sehun tau.

"Kau tau? Semua orang akan pergi pada saat nya. Tidak seorang pun bisa merubah takdir. Tidak ada yang salah dengan takdir, jika Tuhan sudah menentukan nya, tidak satu orang pun yang bisa membantah. Aku tau kau begitu menyayangi nya, tapi itu semua sudah berlalu. Dan tak ada yang bisa kau lakukan untuk mengembalikan noona mu, yang perlu kau lakukan sekarang adalah menerima semua yang sudah terjadi dan kembali menata semua nya dari awal."

Kai memalingkan wajahnya dari Sehun. Dadanya sesak, matanya berembun karena penuh oleh air mata yang mendesak ingin keluar. Sehun benar. Ini takdir dan Kai harus menerima nya. Tapi ini semua begitu sulit.

"Aku permisi." Kai beranjak keluar meninggalkan Sehun sendiri. Sehun tau bahwa pemuda itu menangis. Sehun tidak bermaksud membuatnya menangis, ia hanya ingin Kai mengerti bahwa takdir tetap lah takdir dan hidup tetaplah hidup yang harus ia teruskan, sesulit apapun keadaan nya.

TBC~

Haii, maafin wolfy ya yang update nya lama banget:" liburan ini wolfy banyak kegiatan sama keluarga dan temen-temen. Jadi mohon maaf ya buat para readers yang udah nungguin updatean FF wolfy dari lama hehe.

Mianhae *bbuing bbuing*

Annyeong~ /deep bow/