Chapter 4
Let Me Still Love You
Wolfy present…
Cast: Kim Jongin, Oh Sehun, Krystal Oh, Oh Taeoh, Sulli, Jessica Jung and many more
Pair: HunKai, slight HunStal
Genre: Drama, Romance and Hurt/comfort
Warn: Yaoi, Boys love, Typos
Rating: T
Summary: Sehun hanyalah seorang psikiater yang memiliki kehidupan rumah tangga yang rumit dan Kai hanyalah seorang penderita gangguan jiwa yang harus berjuang untuk kembali meneruskan hidupnya. "Maukah kau menunggu ku?" / "Menunggu mu dimana?" / "Menunggu ku di kehidupan selanjutnya."/ I'm back with this HunKai Fanfiction! Hun!Seme Kai!Uke
Disclaimer: Casts are not mine but this fanfiction belongs to me, don't copy, don't bash, click close button if you don't like, critics are accepted but with polite words, review if you like it. I don't respect silent readers. Thank you.
Happy reading
Kai tidak bisa tidur. Ia sudah mencoba memejamkan matanya dari 30 menit yang lalu, tapi pikirannya seakan-akan penuh oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tau apa. Ia kembali teringat pada masa lalunya, pada kata-kata Sehun tadi juga. Ia merindukan kakak nya, ibu nya, ayah nya, teman-teman nya. Keluarga Kai adalah keluarga impian seperti yang biasa ia tonton di drama dan Kai bangga akan itu. Walaupun sedari kecil, ia tidak pernah bertemu sanak saudaranya. Bibi, paman, sepupu, bahkan nenek atau kakek pun ia tidak pernah bertemu. Hanya paman dan bibi di Seoul yang menampung nya setelah sebatang kara itu yang ia kenal. Lagipula, Kai sendiri baru mengenal mereka setelah keluarganya meninggal. Entah ada hubungan biologis atau tidak dengan nya.
Kai masih ingat. Saat itu ia baru masuk sekolah menengah atas. Ia baru pulang dari sekolahnya sore itu dan menyaksikan ayah nya dipukuli oleh sekelompok laki-laki bertubuh besar dan mendengar mereka menyebut-nyebut tentang hutang. Sejak saat itu, keluarganya yang biasanya terasa hangat dan menyenangkan perlahan-lahan berubah bagai neraka bagi Kai. Ayahnya mulai bersikap kasar, ibu nya yang biasanya lembut pun tiba-tiba berubah, hanya Jessica yang masih tetap sama. Ia selalu berusaha melindungi Kai saat preman-preman yang menagih hutang pada ayah nya datang.
Malam itu hujan deras, Kai hanya berdua dengan Jessica dirumah. Petir dan kilat diluar sana benar-benar membuat Kai ketakutan dan Jessica memeluknya sepanjang malam. Kai tertidur dan terbangun tengah malam ketika mendengar suara tembakan. Ia terbangun tanpa Jessica disampingnya, Kai panik saat itu dan berlari keluar kamar. Lututnya terasa begitu lemas melihat ayah dan ibunya bersimbah darah di pangkuan Jessica yang menangis dan sekelompok preman yang segera kabur dengan mobil mereka.
Butuh waktu sangat lama bagi Kai untuk menerima semuanya. Jessica yang saat itu masih berkuliah pun terpaksa harus berhenti meneruskan kuliahnya untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri dan adiknya karena memang tidak ada saudara yang bisa ia mintai bantuan. Semuanya berjalan normal kembali, hingga Jessica mengenalkan seorang lelaki yang ia bilang kekasihnya pada Kai. Seseorang yang membuat hidup Kai pada akhirnya lebih hancur dari sebelumnya. Kai tau ada yang aneh pada kakaknya ketika ia baru pulang dari cafe tempat ia bekerja. Jessica tampak tidak fokus, wajahnya lelah dan penampilan nya berantakan. Kai sangat marah ketika pada suatu hari ia menemukan alat tes kehamilan dengan dua garis merah di tas milik Jessica. Kakaknya itu menangis, tampak seperti orang yang tidak waras. Menggumamkan nama kekasihnya yang pergi begitu saja tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Malam itu, lagi-lagi hujan deras. Ia bersikeras pergi untuk mencari lelaki brengsek itu untuk bertanggung jawab, tidak peduli jika nyawa nya sendiri yang harus ia taruhkan untuk kakaknya. Tapi, hasilnya nihil. Lelaki itu menghilang bagai ditelan bumi. Kai pulang ke rumahnya, dengan tubuh yang basah kuyup. Dan kenyataan tidak pernah berpihak padanya. Kai seperti merasakan déjà vu. Ia melihat kakak nya tergeletak di lantai dengan pergelangan tangan yang penuh darah dan pisau yang ia genggam di tangan satunya.
Semua itu seperti rol film, selalu kembali berputar di pikirannya. Tak peduli, seberapa pun Kai mencoba untuk melupakannya. Tapi ia teringat pada Sehun. Sehun benar. Ia memang tidak boleh begini. Ini sama saja seperti ia membunuh dirinya sendiri perlahan-lahan. Mungkin setahun yang lalu, mati adalah hal yang paling Kai inginkan. Entah sudah berapa kali ia mencoba untuk bunuh diri tapi hasilnya selalu gagal. Tapi saat ini, ia tak mau kembali lari dari kenyataan. Mungkin hidupnya memang pahit, tapi Kai tak ingin jadi pengecut. Ia harus bangkit dan menunjukkan bahwa dirinya tidak selemah yang orang lain pikirkan.
….
Sehun meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku di kursi kerja nya. Kepalanya mendadak pusing. Sudah beberapa hari ini Taeoh mengeluh rindu pada ibu nya. Sehun sendiri tidak tau dimana Krystal sekarang. Krystal tak pernah bisa dihubungi. Mungkin saja ia di China dengan kekasihnya, Sehun tentu tidak masalah. Tapi Krystal tetaplah seorang ibu.
Sehun memijat kepalanya. "Dokter? Pasien Kai sudah menunggu untuk terapi keduanya." suara Sulli menghentikan sejenak aktivitas Sehun. "Ah, iya. Aku hampir lupa." Sehun segera memakai kembali jas dokternya dan segera menuju ruang terapi.
Disana sudah ada Kai. Masih dengan pakaian pasien nya, tapi wajahnya terlihat lebih baik dari terakhir kali Sehun melihatnya. "Sudah merasa lebih baik?" Kai tersenyum mendengar sapaan Sehun. "Tentu." Ia mengangguk mantap. Sehun sedang mempersiapkan jarum suntik. Kai memejamkan matanya, mencoba rileks.
"Sudah siap?"
"Tentu." Kai merasakan jarum itu kembali menusuk kulitnya.
Semua berjalan seperti kemarin. Hanya saja, kali ini terasa lebih cepat bagi Kai. Sehun merapikan jarum suntiknya saat terapi nya sudah selesai. "Baiklah, kau bisa kembali ke kamarmu, Kai." ujar Sehun. Kai tidak beranjak dari duduknya. "Bisakah aku tetap disini?" ia menatap Sehun ragu.
Sehun mengangguk. "Tentu, ada apa?"
Kai terdiam sejenak. "Entahlah, aku merasa lebih baik jika berada di samping mu."
Sehun terdiam, lalu ia tersenyum. Perasaan nya menghangat. Entah kapan dan siapa terakhir kali ada orang yang mengatakan hal semacam itu padanya. "Sehun… aku boleh memanggil mu begitu kan?" Kai menoleh padanya. Ia masih terduduk di kursi pasien dengan Sehun disampingnya. Sehun mengangguk.
"Terima kasih."
Sehun menyerngitkan dahinya. "Untuk?"
"Membuatku kembali bersemangat." Kai tersenyum, menatap Sehun yang sekarang ikut tersenyum. "Aku sudah memikirkan perkataan mu kemarin. Sehun benar. Aku tidak boleh terjebak pada masa lalu ku, aku ingin kembali seperti dulu."
Sehun mengelus perlahan pundak Kai. "Aku senang mendengar nya. Kau tau, jika kau butuh aku akan selalu disini." Hari ini Kai banyak tersenyum dan entah mengapa kehadiran Sehun membuatnya lebih nyaman sekarang. Sehun beranjak dari kursinya, menarik tangan Kai untuk ikut berdiri. "Mau jalan-jalan?"
…..
Sehun dan Kai terududuk di kursi taman. Rasanya asing, ada Sehun disamping nya. Biasanya Kai hanya akan duduk disini sendirian selama berjam-jam hanya untuk melamun dan memikirkan nasib nya sendiri. Sehun disini, menemani nya menatap langit sore yang berwarna kecoklatan. Kai selalu suka pemandangan ini. Sudah hampir musim gugur dan daun-daun berjatuhan, wangi tubuh Sehun yang dapat Kai tangkap jelas melengkapi senja hari ini.
Sehun masih mendongakkan kepalanya ke atas, begitu juga dengan Kai. "Kau tau? Ada banyak hal yang ingin ku ketahui tentang dirimu. Aku selalu penasaran dengan senyuman pertama mu yang aku lihat saat kau bersama anak ku." Sehun berkata tanpa melepas pandangan nya dari langit.
"Kau akan lebih sering melihatnya setelah ini." Kai menjawabnya sambil tersenyum. "Kau lihat awan yang disana itu?" jari telunjuknya menunjuk salah satu gumpalan awan di langit. "Bentuknya seperti beruang. Itu mengingatkan ku pada suster Sulli. Ia seperti beruang, hangat dan menenangkan."
Sehun tertawa. "Kalau aku seperti apa?"
Jari telunjuk Kai berpindah arah menunjuk gumpalan awan yang lain. "Seperti itu." Sehun mengikuti arah jari Kai. Ia menerawang bentuk awan itu. "Bentuknya seperti… serigala?"
Kai mengangguk. "Sehun seperti serigala. Tegas, kuat, tapi juga baik. Dulu, aku kira pangeran hanya ada di negeri dongeng. Tapi setelah mengenal Sehun, aku rasa Sehun seperti pangeran. Pasti istri mu beruntung sekali."
Sehun terdiam. Matanya menerawang ke depan. Istri? Sedang apa istri nya saat ini? Bercumbu dengan lelaki lain? "Aku rasa kau terlalu berlebihan." Sehun terkekeh kecil. Tentu saja Kai berlebihan, kalau memang Sehun seperti pangeran-pangeran yang ada dalam dongeng, permaisuri nya tak akan meninggalkan nya dan memilih pangeran lain. Seperti apa yang Krystal lakukan.
"Kalau kau ingin jadi seperti apa?" tanya Sehun. Ia menatap wajah polos Kai yang ternyata begitu manis dari dekat. "Seperti itu." Kai mengalihkan jari nya pada gumpalan awan yang lain lagi. "Seperti burung."
Sehun menyerngitkan dahi nya bingung. "Kenapa seperti burung?"
"Aku ingin bisa terbang bebas, seakan tidak memiliki masalah apapun. Bisa terbang menelusuri awan-awan, melihat pemandangan dari atas juga pasti akan sangat menyenangkan." Kai tersenyum. Ia mensejajarkan pandangan nya dengan Sehun. Mereka berdua bertatapan, tidak lama tapi cukup untuk membuat jantung Sehun berdetak lima kali lebih cepat dan membuat perut Kai tiba-tiba terasa tergelitik. Kai lah yang pertama memutuskan kontak keduanya dan suasana pun menjadi canggung.
"Tapi, kalau kau terbang, aku tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi. Serigala kan tidak bisa terbang." ujar Sehun. Membuat Kai berpikir sejenak untuk menjawab nya. "Ah, aku akan membawa Sehun terbang kalau begitu." Sehun tertawa mendengar jawaban konyol Kai. Kai pun ikut tertawa menyadari jawaban konyol yang ia lontarkan. Karena serigala itu berat dan seekor burung tidak akan sanggup untuk mengangkat serigala dan membawa nya terbang.
"Sehun, itu apa?" tanya Kai. Sehun mengikuti arah pandang Kai yang menunjuk pada sebuah gedung pencakar langit yang bisa mereka lihat dari taman belakang rumah sakit. "Itu Namsan tower."
"Bagus tidak?" tanya Kai polos.
"Tentu saja. Kau bisa melihat pemandangan kota Seoul dari lantai paling atas gedung itu. Kau belum pernah kesana?"
Kai menggeleng. Dulu, saat keluarga nya masih utuh, ia sering mendengar Jessica berkata tentang Namsan tower dengan temannya. Tapi, Kai tidak pernah tau apa sebenarnya Namsan tower itu. Mungkin, kalau Jessica masih hidup, ia akan dengan senang hati mengajak Kai untuk pergi bersama nya ke Namsan tower. Menikmati pemandangan kota Seoul dari sana pasti akan sangat menyenangkan.
"Kau mau ke sana?"
Kai menatap kaget. "Eh? Tentu saja mau."
"Kalau kau sudah sembuh nanti, aku janji akan mengajak mu ke sana." Kai menatap Sehun tidak percaya. "Kau serius?" Sehun mengangguk mantap. "Tentu saja serius. Kalau perlu, aku akan mengajak mu ke Lotte world, Gangnam district, atau kemana pun yang kau suka." Sehun tersenyum menatap wajah Kai yang berbinar. Ia sungguh manis kalau begini. Entah kenapa Sehun berpikir bahwa Kai itu mirip dengan Taeoh, bukan hanya wajahnya, tapi juga dengan senyuman nya. Sama-sama membuat Sehun tenang jika melihatnya dan dapat mengurangi beban Sehun. Kai dan Sehun hanya terus disana, terduduk di kursi taman belakang rumah sakit sambil memandangi langit, hingga matahari terbenam.
…
Sehun baru saja pulang, ia baru saja memarkirkan mobil nya di garasi nya yang luas. Langkah sepatu nya yang bersentuhan dengan lantai juga menimbulkan suara yang keras di rumah nya yang sunyi. Lagi-lagi Sehun merasa sendiri. Di rumah nya yang sebesar ini, harta nya bahkan sudah lebih dari cukup tapi ia tetap merasa sendiri. Selarut ini, Taeoh pasti sudah tertidur, para maid nya juga pasti sedang berisitirahat.
Sehun menaiki tangga menuju lantai dua, dimana kamarnya berada. Sehun menyerngitkan dahi nya, ia mendengar suara yang familiar bagi nya sedang menangis? Terdengar begitu pilu. Sehun membuka pintu kamarnya, tubuhnya mendadak kaku. Itu Krystal, dengan rambut yang acak-acakan sedang duduk menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya pada lututnya.
"Krystal?" Sehun mendekatinya dan memegang pundak wanita itu.
Krystal mengangkat wajahnya. "Se..Sehun?" suaranya terdengar serak. Ia menghambur memeluk Sehun. Sehun sendiri, hanya terdiam karena terkejut oleh perlakuan Krystal. Wanita itu menangis di pundaknya, membuat kemeja nya basah oleh air mata Krystal.
"Sehun hiks, maafkan aku…"
TBC
Ini juga telat ya update nya-_- maaf sekali dan harus TBC di saat yang nanggung wkwk. Maksudnya sih biar pada penasaran yaa, buat FF lainnya dimohon sabar menanti yaa, karena butuh waktu yang pas dulu buat bikin FF. Kalo lagi semangat dan dapet banyak ide, mau nulis 3000 words juga bukan masalah, tapi kalo dalam keadaan males sih 1000 words aja kayak lama bangett hehe. Maap curhat eakk.
Buat drabble, aku juga lagi pengen bikin yang manis-manis biar diabetes eakk. Ditunggu aja, ne.
With love, Wolfy.
