Apakah kalian menyukai dongeng-dongeng indah dan penuh mimpi sebagai pengantar tidur kalian?
Sewaktu kecil kalian pasti pernah bermimpi ingin menjadi putri yang cantik jelita, menjadi seorang pahlawan sejati yang menolong orang-orang yang kesusahan atau kalian bias menjadi salah satu tokoh yang beruntung pada akhir ceritanya.
Aku pun juga sama dengan kalian. Aku menyukai dongeng-dongeng indah yang dapat mengantar kanku ke dalam mimpi yang indah.
Berada di dunia yang penuh dengan 'keindahan' tersendiri itu membuatku terpukau saat membacanya..
Tapi…
Sepertinya di dalam kehidupan nyata tidak sesuai dengan dongeng yang ada ya?
Aku ingin sekali membuat dongeng-dongeng itu menjadi kenyataan
Karena itu..
Aku akan membuatnya menjadi kenyataan
Agar hidup semua orang berakhir dengan bahagia, seperti yang ada di dalam dongeng…
Genre: Suspense? Gore (dikit) GAJE! Angst (ga, sih?)
Warning! TYPO-AU-alur kecepetan-aneh bin ajaib!
Dis-dis-disclaimer: Masa-chan~ #PLAKED!
Kanon Rizumu Present..
'Telling Story'
DLDR!
Enjoy~ (or not?)
.
.
.
.
" Sakura-chan, Kau ada di sini lagi?"
Gadis manis dengan rambut panjang yang di kepang satu yang di panggil Sakura itu menolehkan kepalanya ke sumber suara yang memanggilnya. Mata jadenya yang sendu menatap wanita paruh baya yang memanggilnya tadi, wajahnya datar dan apa yang saat ini sedang dipikirkannya tidak bisa di baca.
"Sakura-chan, asyik ya main ayunan?" Tanya wanita itu lagi sambil tersenyum lembut pada Sakura . Tidak ada reaksi yang berarti dari gadis berumur 12 tahun yang memiliki warna rambut cherry-blossom itu, hanya mengangguk pelan kemudian bermain kembali dengan ayunan-nya.
Wanita berambut pendek berwarna hitam itupun menghembuskan nafasnya perlahan. Dia bisa mengerti perasaan Sakura yang baru saja kehilangan ibu yang sangat di cintainya kemarin. Haruno Sakura, gadis berusia 12 tahun yang memiliki mata yang cantik seperti boneka dan rambut panjang yang lembut dan berwarna unik itu terlihat seperti boneka porselen di mata teman-eman sebayanya yang ada dipanti asuhan Hanabi.
Pertama kali dia tiba dipanti asuhan itu semua anak-anak yang senasib dengannya segera mendekatinya seraya mengajaknya berkenalan dan bermain bersama sebagai tanda perkenalan. Memang seharusnya seperti itu bukan? Anak kecil yang polos dan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, adalah gambaran anak-anak yang lazim kita lihat atau kita ketahui. Namun reaksi Sakura akan penyambutannya itu sedikit berbeda. Dia malah menjauhi teman-temannya dan segera berlari keayunan yang ada di halaman belakang panti, setelah itu dia membaca sebuah buku dengan cover bergambar dan bertuliskan 'Children's and Household Tales'. Pertama-tama, teman-teman sebayanya kembali mengajak Sakura untuk bermain bersama, namun Sakura selalu menepis tangan-tangan mereka dan kembali asyik dengan buku dongeng yang di bacanya di ayunan.
Melihat hal itu Tsunade dan Shizune yang mengelola panti asuhan Hanabi jadi bingung sendiri jika melihat sikap Sakura yang berbeda dengan teman sebayanya itu. Namun Shizune berusaha untuk membuat Sakura tinggal senyaman mungkin di panti asuhan tersebut. Karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai pengasuh bagi anak-anak yatim piatu. Terutama karena dia juga pernah mengalami nasib yang sama dengan mereka.
"Shizune-san.."
Tiba-tiba Sakura mengeluarkan suaranya yang baru kali ini di dengar oleh wanita yang bernama Shizune itu, Shizune segera tersadar dari lamunannya, dia menatap Sakura dengan pendangan takjub, merasa senang juga bingung karena akhirnya Sakura mau berbicara padanya.
"Ada apa Sakura-chan?"
Terjadi jeda sesaat, angin di musim gugur berhembus pelan, namun cukup dingin untuk membuat tubuh Shizune merinding. Daun-daun kering yang berjuntai di pohon yang terdapat di halaman tersebut mulai rontok karena tersapu angin. entah kenapa tiba-tiba suasana menjadi mencekam.
"Apakah kau memiliki dongeng yang kau suka?" Tanya Sakura lagi. Shizune sedikit mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Sakura, tapi kemudian dia tertawa kecil. Ternyata Sakura memang masih anak-anak buktinya saja dia bertanya tentang dongeng kesukaaan Shizune. Shizune berpikir sejenak sambil tersenyum.
"Hm.. aku rasa.. Cinderella, mungkin?"
Sakura menghentikan ayunan yang tengah dimainkannya dengan tiba-tiba, wajah manisnya yang datar tiba-tiba menyunggingkan sebuah seringaian yang misterius. Matanya yang sendu terlihat berkilat liar.
"kenapa.. kau memilih Cinderella?"
Shizune berpikir kembali, sambil mendudukkan tubuhnya di atas rerumputan lembut yang ada di halaman belakang panti asuhan Hanabi.
"Karena dia sangat sabar dengan penderitaan yang di alaminnya. Walaupun ibu tiri serta kedua saudara tirinya menyiksa Cinderella, dia tetap bersabar hingga ibu peri muncul dan mengabulkan keinginannya. Akhirnya sangat bahagia! Dia bertemu dengan pangeran dan menikah dengannya.."
Mata Shizune menutup pelan, membayangkan dongeng yang sejak kecil sangat di sukainnya itu, wajahnya memerah Senang, berharap suatu saat dia bertemu dengan seorang lelaki yang mirip dengan pangeran Cinderella. Namun ditepisnya khayalannya itu dengan cepat. Jujur saja,Shizune merasa jika memikirkan semua itu adalah hal yang benar-benar konyol, apalagi di usianya yang sudah bukan anak-anak lagi.
"Jadi..Cinderella ya? Dongeng yang cukup bagus, apakah kau ingin menjadi Cinderella, Shizune-san?" Sakura kembali bertanya tanpa menghilangkan seringaiannya.
"Boleh juga! Fu-fu-fu.." Shizune terkekeh kecil, senang juga bisa berbincang dengan Sakura. Ternyta dia emiliki sisi yang sangat unik, menyukai dongeng-doneng. Pantas saja Sakura terus membawa buku dongeng yang ada di pangkuannya kemana saja, bahkan ke kamar mandi! tak lama terdengar suara Tsunade dari dalam panti asuhan yang memanggil Shizune. Shizune pun segera bangkit dan dari duduknya dan menjawab panggilan dari Tsunade, sesaat dia menatap ke arah Sakura yang masih tersenyum menyeringai sambil menatap buku dongeng yang ada di pangkuannya.
"sakura, aku masuk dulu ya? Nanti kita lanjutkan!" ucap Shizune lembut, kemudian diapun berlari tergopoh-gopoh ke dalam panti asuhan. Tanpa di sadarinya, Sakura menatap kepergiaan Shizune dengan seringaian lebar yang menakutkan.
"Hei, kau dengar itu?" Sakura membuka kembali suaranya, entah dia sedang bertanya pada siapa. Yang pasti, tentu saja tidak ada seorang pun yang berada di dekatnya saat itu.
"Dia ingin menjadi Cinderella! Ayo tentukan peran ibu tirinya.." gumamnya sambil tertawa kecil. Sakura kembali memainkan ayunan yang di naikinya, angin dingin pun kembali bertiup memainkan helaian poni pink miliknya.
Sementara itu, Shizune yang sudah berada diruangan kerja milik Tsunade saat ini tengah menundukkan wajahnya untuk tidak bertatapan dengan wajah Tsunade yang terlihat dingin dan kesal.
"Bagaimana keadaan Sakura, Shizune?" Tanya Tsunade dengan raut wajah yang kesal. Yah, siapa yang tidak kesal jika ada seorang gadis kecil pendiam dan sikapnya dingin, menyebalkan yang tiba dipanti asuhan milikmu. Maaf saja, Tsunade bukan orang yang memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Dan bukan rahasia lagi jika Tsunade sering menyiksa anak-anak dipanti asuhan jika ada suatu hal yang membuatnya kesal. Bisa di bilang pelampiasan kekesalan, eh? Sayang sekali perilaku buruknya itu tidak di ketahui oleh orang-orang yang tinggal tak jauh dari panti Hanabi. Shizune sang asisten selalu takut untuk menceritakan sikap buruk Tsunade terhadap anak-anak yang ada dipanti, karena bagaimanapun juga Tsunade sudah mengangkatnya sebagai adik walaupun sikapnya sangat buruk, dia hanya ingin membalas budi pada Tsunade.
"Dia sudah mau berbicara sedikit padaku, kak! Aku sangat senang…" Ujar Sahizune dengan senyumnya yang merekah, Tsunade yang tadinya berwajah kesal berubah menjadi datar tanpa senyum sama sekali. Namun Shizune tahu bahwa Tsunade tidak jadi menyiksa Sakura karena sudah membuatnya kesal seharian dan dia cukup bersyukur akan hal itu. Ketahuilah, bahkan Sakura sudah membuat Tsunade kesal hanya dalam semalam! Padahal Sakura tidak berbuat nakal atau ribut dengan teman-teman sebayanya.
"Ano..kak Tsunade, kenapa kau tampaknya tidak menyukai kehadiran Sakura dari awal dia datang ke sini?" Tanya Shizune, memberanikan dirinya untuk bertanya. Tsunade melirikkan matanya ke arah Shizune dengan tatapan tajam, diapun mendengus kesal sambil memangku wajah cantiknya dengan tangan kanannya.
"Anak seperti itu sama sekali tidak asyik untuk di jadikan pelampiasan. Dia tidak akan berteriak jika kusiksa, ataupun menangis jika kupukul.."
DEG!
Jantung Shizune serasa berhenti saat mendengar jawaban keji yang keluar dari mulut Tsunade itu. Tidak habis pikir dia melihat kelakuan Tsunade selama ini hanya karena ada kelainan jiwa yang ada di dalam otak Tsunade. Apakah Tsunade ini seorang Sadisme? Mengapa Shizune baru menyadarinya sekarang?
"kenapa? Ada masalah?" Tanya Tsunade dengan sikap acuh tak acuhnya ,merasa bahwa sikapnya itu sudah biasa saja di depan Shizune. Shizune menundukkan wajahnya dan menggeleng pelan.
"T-tidak, kak.. a-aku permisi dulu, aku harus menyiapkan makan malam untuk anak-anak panti.."ucap Shizune dengan nada suara yang sangat pelan, diapun menundukkan badannya seraya member hormat pada Tsunade. Namun saat Shizune akan keluar dari ruangan keraja itu tiba-tiba Tsunade menahannya.
"Tunggu!"
Shizune membalikkkan tubuhnya menghadap Tsunade dan menatapnya takut-takut. Dengan seringaiannya yang kejam Tsunade memberikan perintah kepada Shizune.
"Masukkan Tabasco yang banyak kedalam makanan mereka, dan jangan beri mereka minum jika mereka kepedasan. Kau mengerti?"
"ap-"
"kau mengertikan, Shi-zu-ne?" Tsunade menekankan kata-katanya kepada Shizune, membuat Shizune merasa harus melaksanakan perintahnya jika tidak, mungkin saja akan terjadi hal-hal yang lebih mengerikan lagi dengan anak-anak tak berdosa itu. Dengan wajahnya yang menahan amarah dan sedih, Shizune kembali menundukkan kepalanya.
"Ha'I, Tsunade nee-san.."
Airmata Shizune terus mengalir melihat pemandangan yang kini ada di depannya saat ini. Anak-anak kecil yang tak berdosa itu saat ini tengah menangis menahan pedas, ada sekitar 12 anak kecil yang ada di ruang makan yang cukup sempit tersebut. Di tambah sakura menjadi 13 orang anak. Makan malam yang seharusnya menyenangkan menjadi mimpi buruk bagi anak-anak tersebut. Padahal menu makan malam hari ini adalah beef steak yang sangat jarang mereka makan. Dan parahnya walaupun mereka menangis kepedasan, Shizune tidak bisa memeberikan mereka minum walupun ingin. Sedangkan Tsunade yang tengah berdiri di dekat Shizune mulai tertawa kecil melihat anak-anak itu tersiksa secara tidak langsung.
"lihat, bukankah mereka tampak lucu Shizune?" Shizune bergidik ngeri menatap wajah Tsunade yang sangat kejam menertawakan kemalangan anak-anak itu.
"Shizu-chan..pe-pedas..hiks.." isak seorang anak kecil berambut coklat panjang yang memiliki mata lavender yang unik, namun kini matanya terlihat memerah karena kepedasan.
" Mi-zu..hiks! o..negai..!"
Sebagian dari mereka ada yang pingsan karena kepedasan. Bahkan ada yang terus memeletkan lidahnya seraya mendinginkan lidah. Sungguh pemandangan yang ironis. Namun ada satu anak yang Nampak diam dan tidak bergeming dari duduknya yang tenang. Gadis yang memiliki surang panjang yang di kepang itu justru memakan steak yang di hidangkan dengan cukup lahap dan elegan. Siapa lagi kalau bukan Sakura? Dan tidak ketinggalan buku dongeng yang selalu di bawanya saaat ini terus berada di pangkuannya.
Melihat sikap Sakura yang sangat tenang Tsunade pun terlihat sangat kesal dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju kursi Sakura.
"hei, kau..kenapa kau tidak kepedasan?" Tanya Tsunade, tidak ada tanggapan yang berarti dari Sakura. Dia terus memakan beef steak itu dengan tenang, seakan tidak ada teriakan rintihan ataupun pandangan yang mematikan dari Tsunade.
SRAK!
Tsunade menjambak rambut panjang Sakura dengan sangat kuat, giginya bergemeletuk memandang tajam Sakura, namun tatapan Sakura masih sama. Datar dan tenang, tidak ada rasa sakit sedikit pun.
"Kenapa kau tidak menangis?! Kenapa kau tidak berteriak-teriak?! Kau benar-benar ingin kubunuh ya?!" teriak Tsunade, tangan kanannya yang kosong segera meraih garpu yang di gunakan Sakura untuk memakan steak, dan mengarahkan garpu tersebut tepat ke leher Sakura.
"kak Tsunade! Ja-jangan-" teriak Shizune berlari mendekati Sakura dan Tsunade.
CRASH!
Terlambat.. garpu itu kini sudah menancap kuat di lehar putih Sakura, liquid berwarna merah marun itu memuncrat ke wajah Shizune dan juga Tsunade tentunya.
Shizune membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini, rintihan kepedasan dan tangisan anak-anak yang ada dip anti itu kian menjadi-jadi saat melihat kejadian yang mengerikan itu. Sebaliknya Tsunade terlihat tidak puas dengan hasil tusukkannya dan diapun kembali menusukkan garpu itu ke leher Sakura dengan seriangainya yang kejam.
"Mati kau..mati kau..MATI KAU!"
"Kak Tsunade, BERHENTII ATAU AKU JUGA AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Shizune, air matanya membanjiri wajahnya yang memerah karena amarah. Habis sudah kesabaran Shizune melihat sikap Sadistic yang ada di depan matanya itu. Tsunade menghentikan tusukannya dan perlahan membalikkan wajahnya kea rah Shizune. Dengan wajahnya yang penuh darah dia pun tersenyum meremehkan.
"Memangnya kau bisa apa? Melawanku saja kau tidak berani!"
Shizune sedikit menggeram marah tapi apa yang dikatakan Tsunade itu benar, bahkan dia tidak bisa menyakiti seekor semut kecil sekalipun.
"a-aku, ingin .. dunia yang penuh dengan akhir yang bahagia…" ucapnya pelan dengan nada sedih.
"bukan yang seperti ini…"
DING
DONG
DING
DONG
Tiba-tiba terdengar suara lonceng jam yang sangat nyaring dan memekakkan telinga di dalam ruangan tersebut, hal yang sangat aneh, setahu Tsunade dan Shizune panti asuhan Hnabi tidak memiliki jam bandul yang dengan suara lonceng seperti ini.
"khu..khu..khu..dongeng akan terwujud…Shizune-san…" tiba-tiba terdengar suara kekehan anak kecil yang familiar di telinga Shizune, di lihatnya Sakura tengah menatap dirnya dan Tsunade dengan pandangan mengerikan dan seriangai yang lebar, darah masih menetes di lehernya. Tsunade yang melihat kejadian aneh itupun membelalakan wajahnya ketakutan.
"ti-tidak mungkin!" ucapnya terbata-bata.
"mungkin saja..Tsunade-sama… aku adalah peri baik hati yang menolong Cinderella dari ibu tiri yang kejam.." ucapnya penuh senyum. Wajah polosnya sudah tidak terlihat lagi, yang ada di hadapan mereka saat ini adalah Sakura yang lain.
"PERGI KAU ANAK SETAN!" teriak Tsunade ketakutan, namun Sakura justru tambah tertawa mendengar umpatan Tsunade itu.
"Teruslah mengumpat ibu tiri aku akan menghukummu.."
Tsunade memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terjatuh , saat dirinya sudah sampai di dekat kaki Shizune.
"Shi-Shizune! Tolong usir anak setan itu! Kau mematuhi perintahkukan?" ujar Tsunade dengan nada memohon dan ketakutan, namun tidak ada respon dari Shizune. Dia terdiam menatap Tsunade dengan pandangan jijik dan geram.
"ufu-fu-fu..maaf saja ya..aku selalu melakukannya dengan cepat jadi kau tidak akan merasa sakit, karena aku peri yang baik hati..kan?" sakura mengambil sebuah pisau daging yang di gunakkan untuk memotong daging steak tadi. Dan mengarahkannya tepat ke leher Tsunade.
CRASHH!
Garis polisi terlihat membentang dip anti asuhan Hanabi, beberapa orang yang tinggal di sekitar panti asuhan itu tidak menyangka bahwa Tsunade mati dengan cara yang mengenaskan. Bahkan petugas tim forensic pun tidak pernah sekalipun melihat mayat yang mati seperti ini.
"mayat ini, sungguh mengerikan.." ujar salah seorang petugas tim forensic.
"benar aku saja ingin muntah melihatnya!"
Mayat Tsunade yang kepalanya terbelah dari badannya itu terlihat menganga lebar dengan mata tercongkel, lidahnya keluar seperti kepedasan, bahkan tubuhnya yang seksi kini jadi terbelah dua dengan sangat rapi. Anehnya, kedua kaki miliknya hilang.
"Kenapa bisa hilang ya? Inibenar-benar aneh…"
"benar, mau bertanya pada Shizune-san, tapi nampaknya dia masih shock dengan kejadian ini..begitu pula denagn anak-anak panti..kasihan.."
Dari kejauhan terlihat seorang anak gadis dengan seringainya yang lebar menatap panti asuhan itu dari kejauhan dia pun melangkahkan kakinya menjauhi kerumunan itu. Sambil membawa sebuah buku dongeng tebal dengan sebuah tas ransel besar yang jika di perhatikan baik-baik terlihat sebuah jari-jari kaki yang menyembul keluar dari ransel itu.
"hmm…kali ini dongeng apa lagi yang ajkan keberikan pada kalian?"
Tsundzuku….
A/N: sungguh mengerikan! Kenapa saya malah mengupdate cerita gaje ini?! Silahkan caci maki saya! Padahal fic UNMEI belon selesai! Saya benar-benar blank dengan cerita itu! GOMEN! OH IYA! Happy suspense week! Saya baru tahu kalau ada minggu suspense he..he..he..
Jaa…mata ashita!
