Mata emerald sang gadis kecil berambut soft-pink datar menatap langit-lagit kamarnya yang berhiaskan tempelan-tempelan glowing in the dark. Diluar sana hujan turun dengan derasnya, gadis itu bahkan dapat tidak dapat mendengar deru nafasnya sendiri karena derasnya hujan yang bersatu padu dengan badai tersebut. Udara dingin yang menusuk kulit porselennya tidak membuatnya kedinginan, entah kenapa dia merasa tubuhnya mati rasa saat ini.
Cklek
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka perlahan, berdiri seorang wanita paruh baya berambut kuning yang sengaja di kepang satu dan memakai gaun tidur berwarna putih. Sakura menolehkan kepalanya ke arah wanita tersebut dan menampilkan senyuman kecil yang kaku kepada wanita tersebut.
"Sakura, belum tidur?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita paruh baya berambut kuning tersebut direspon dengan anggukan kecil dari sang empunya nama Sakura tersebut. Wanita itu tersenyum lebar dan melangkahkan kakinya mendekati anak perempuan satu-satunya yang sangat dia cintai di tempat tidurnya yang lembut dan empuk. Dengan perlahan dia merengkuh tubuh gadis kecil berambut panjang soft-pink itu ke dalam pelukan hangatnya dan membuka sebuah buku cerita bergambar yang penuh warna, Sakura mengeratkan pelukannya ke tubuh ibunya. Wanita itu hanya tersenyum lebar melihat sikap maja Sakura yang tidak sinkron dengan wajah stoic yang dimilikinya.
"So…I will read a wonderfull telling story for you, my lovely daughter… "
.
.
.
.
.
.
Telling Story
Warning!OOC-TYPO RUSH-GAJE-AU-Tema kacangan-bahasa kasar-gore gagal
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
Keramaian yang terpampang di mata Ino saat ini benar-benar sangat dirindukannya. Pergi ke taman bermain sehabis bekerja sepanjang hari di salah satu perusahaan ternama memang sangat menenangkan jiwa, terlebih lagi ketika kau sudah janjian dengan kekasihmu.
Gadis pirang dengan model rambut pony tail itu menapakan kaki jenjangnya dengan langkah ceria, setelah 3 bulan tidak bertemu dengan Sai-kekasihnya-akhirnya mereka ada kesempatan untuk bertemu kembali seraya melepas rindu.
Selama ini, Sai terlalu sibuk dengan galeri lukisannya yang sering berpindah-pindah tempat, sedangkan Ino sendiri sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO di sebuah perusahaan ternama di Tokyo.
Ino masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Sai di taman bermain ini, kebetulan yang sangat manis-menurutnya-. Ino tidak sengaja menginjak kertas sketsa Sai yang ternyata bergambar dirinya sedang memakan permen Lolipop kesukaannya di bangku kayu taman bermain tersebut.
'Ah, maaf aku tidak sengaja!'
'Tidak apa, itu sebenarnya memang untukmu..'
"Eh? Maksudmu?"
'Sedari tadi aku menggambar seorang gadis kecil yang sedang asyik memakan permen, dan dimataku dia terlihat sangat menawan, namanya Gretel'
'Ta-Tapi, ini gambar diriku lho..'
'Kalau begitu kaulah yang kumaksud dengan Gretel..'
Mengingat kata-kata itu Ino tertawa kecil, apalagi dengan sebutan Gretel yang sering di lontarkan oleh Sai. Kenapa juga dia harus disebut Gretel? Lalu dia adalah Hansnya, begitu?
Sambil menggelengkan kepalanya kecil, Ino kemudian pergi ke salah satu kedai yang menjual manisan yang hanya berada tidak jauh dari Feris Wheel bermaksud untuk membeli permen Lolipop kesukaannya dan juga beberapa coklat kacang kesukaan Sai. Setiap kali mereka berkencan di taman bermain ini pastilah mereka tidak lupa membeli manisan untuk mengingat pertemuan pertama mereka.
Ino mendekati kaca etalase yang memperlihatkan aneka macam manisan, menghitung apa saja yang akan dibelinya hari ini. Tiba-tiba bibi penjual manisan menyapa Ino dengan ramah.
"Ara, Ino-chan! Lama tidak bertemu apa kabarmu?"
"Baik Bi, maaf kalau aku jarang datang kemari akhir-akhir ini. Bibi tahukan aku dan dia sibuk, he he.." Ino tersenyum ceria memperlihatkan dereta giginya yang putih, seraya bersiap mengeluarkan lembaran Yen dari dalam dompet kulitnya.
"Ah, Sai-kun? Rasanya aku melihat dia di sini akhir-akhir ini.."
"Eh? Benarkah?"
"Ya, tapi aku lihat dia seperti menunggu seseorang dan Bibi piker itu dirimu, tapi ternyata bukan ya?" Bibi penjual manisan tersebut memasang wajah bingung sambil memasukkan banyak berbagai macam manisan yang bahkan tidak Ino pesan. Otomatis Ino jadi sedikit bingung saat menerima bungkusan bening yang berisikan banyak manisan itu.
"Bibi, aku tidak memesan sebanyak ini,"
Bibi tersebut hanya tersenyum penuh arti dan membisiki Ino dengan wajah jahilnya, sehingga wajah Ino yang semula normal berubah menjadi merah merona.
"Itu bonus untukmu, kelak ketika kau menikah dengan Sai undang lah bibi dan akan bibi berikan lebih banyak manisan lagi, oke?"
"Bi-Bibi!"
"Hahaha.. sudahlah cepat kau temui Sai, kasihan dia sudah lama menunggumu, mungkin?" Tawa renyah dan bersahabat dari bibi penjual manisan tersebut membuat Ino bertambah bahagia, sudah lama dia tidak se rileks ini. Andai saja bukan karena banyak pekerjaaan dan kehidupanya yang keras, mungkin dia akan memiliki banyak teman seperti wanita-wanita membeli beberapa manisan tersebut Ino pun membungkukan badannya dan mengucapkan terima kasih dan disambut dengan lambaian tangan sang bibi penjual manisan.
Kali ini mata aquamarinenya bersinambung dengan langit senja berwarna kuning, jingga dan kemerahan bersatu padu membentuk gradasi warna yang indah. Semakin larut waktu, taman bermain ini semakin ramai, karena akan ada acara pesta kembang api setiap malamnya. Walaupun tidak dirayakan besar-besaran sih, tapi tetap saja romantis bukan? Namun karena keasyikan melihat keindahan langit senja, Ino tidak menyadari sesosok gadis kecil dengan rambut soft pink bergelombang tengah berjalan pelan kearahnya.
BRUK!
"Kyaa! Maaf aku meleng!" Ino segera meminta maafpada gadis kecil yang ditabraknya tersebut, namun matanya terlihat terpesona dengan wajah imut dan polos yang terpatri diwajah sang gadis pink yang ditabraknya. Baju yang dikenakannya bergaya Lolita yang manis dengan banyak renda dan pita-pita kecil yang menghiasai gaun Lolita putihnya, di bahu Gadis tersebut ada sebuah ransel berwarna pink tua besar yang terlihat penuh untuk seukuran anak kecil. Bagaiman dia bisa tahan membawa ransel itu? Ino juga dapat melihat sebuah buku dongeng bergambar yang dipeluk erat oleh gadis kecil itu.
'Manisnya! Seperti boneka!' Ungkapnya dalam hati.
Gadis itu tidak segera menjawab pernyataan maaf dari Ino, mata emeraldnya yang datar kini memandang ke arah bungkusan plastik bening berisikan permen-permen aneka rasa. Dan Ino menyadari hal itu, dengan segera dia mengeluarkan beberapa lollipop aneka rasa dari palstik pembungkus tersebut dan meletakannya di tangan mungil sang gadis soft pink.
"Sebagai permintaan maafku, ini kuberikan permen,"
Kali ini Ino dapat melihat sebuah senyuman manis nan polos terbentuk di wajah Gadis itu, dengan malu-malu sang gadis soft pink mengambil dan menggenggam lollipop yang diberikan oleh Ino.
"A-Ari..gatou.." UJarnya terbata-bata, Ino sekali lagi tersenyum lebar melihat reaksi anak gadis ini. Andai saja dia memiliki anak perempuan semanis ini kelak, bersama Sai tentu. Ino menepuk lembut kepala gadis tersebut.
"Siapa namanu gadis manis?"
Ada sedkit jeda setelah Ino bertanya nama sang gadis soft pink, angin sepoi-sepoi berhembus cukup kencang menerbangkan rambut pony tail dan helaian poni pink gadis kecil itu. Senyuman polos dan manis kini bergantidnegan senyuman misterius dari sang gadis kecil tersebut. Entah kenapa melihat hal itu agak membuat Ino agak bergidik merinding.
"Sakura..Haruno Sakura, Gretel-san.."
.
.
.
.
.
Sakura Haruno? Nama yang cantik secantik orangnya. Menandakan bahwa gadis manis tadi lahir pada saat bunga kebanggaan Jepang tersebut tengah bermekaran,dan membentuk lautan pink yang indah.
Ino tidak habis pikir dapat bertemu gadis semanis Sakura, namun ada hal yang masih menjadi pertanyaan dibenak Ino. Bagaimana Sakura bias tahu nama panggilan Gretel yang sering diucapkan oleh Sai kepada dirinya? Nama Gretel sengaja diberikan Sai kepada Ino yangmengingatkan Sai pada dongeng Hans and Gretel.
"Aneh juga, apa mungkin di itu peramal?" Ino menggumam kecil namun pada akhirnya tertawa karena kebodohannya, tentu tidak mungkin bukan anak sekecil itu bisa meramal atau melakukan hal-hal yang aneh?
Tak lama Ino meilhat ke arah Ferish Wheel yang ini penuh dengan sepasang kekasih yang ingin berkencan sambil menatap kembang api dari dalam gerbong Ferish Wheel. Ah, dirinya juga sebentar lagi akan berkencan dengan..
"Sai?"
Ino menatap terkejut pemandangan didepannya saat ini. Kekasihnya saat ini tengah berciuman panas dnegan seorang gadis yang lebih muda dari dirinya-terlihat dari seragam sekolah yang dikenakannya-bahkan mereka terlihat tidak malu-malu ketika pulhan mata menatap pasangan muda mudi itu bercumbu bebas di depan umum.
'Ti-Tidak..'
Dengan perlahan Ino melangkah maju mendekati mereka berdua, mata aquamarinenya kini dapat memastikan bahwa orang yang dilihatnya saat ini adalah sang kekasih, sai. Tapi kenapa?
"Ino?" Pria berambut Eboni itu tidak terlihat terkejut dengan kemunculan Ino, malah dia terlihat seperti menantang dan meremehkan Ino yang ini hanya bisa diam dengan wajah kaku yang sendu.
"Ah, kenalkan ini Pacarku. Kami sudah jadian beberapa bulan ini," Ucapnya santai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sang gadsi remaja berambut hitam sebahu itu hanya entapa Ino dengan sinis.
"Sa-Sai, apa maksud ini semua?" Ino mencoba untuk bertanya dengan tenang walaupun bibir dan tubuhnya sudah bergetar hebat, dia menahan airmatanya untuk keluar. Jangan pernah membuat dirinya kelihatan lemah di depan orang,Ino paling benci akan hal itu.
"Kau tahu? Hm..kau itu cukup membosankan, dan aku ingin memutuskan hubungan kita. Wanita kaku dan tua sepertimu hanya akan jadi masalah di kehidupanku kedepannya, karena itu aku memilih dia." Kali ini Sai tidak ragu-ragu kembali mencium bibir sang gadis remaja tersbut bahkan Ino dapat melihat Sai meremas bokong sang gadis.
'menjijikan' Bisiknya dalam hati.
"Jadi..kau mau kita putus?" Tanya Ino lagi, kai ini suaranya hanpir habis karena menahan tangis. Sai tersenyum licik dan membelai pelan pipi lembut Ino.
"Begitulah, Jalang.."
Seiring bertiupnya ngin malam yang dingin, Sai dan kekasih barunya segera pergi meninggalkan Ino sendirian di dalam keramaian taman bermain tersebut, mereka berdua menaiki Ferish Wheel. Ino dapat melihat tawa yang mengejak dari wajah licik mereka berdua.
Sakit hati? Haruskah dia mengatakan hal itu? Menangis sepanjang hari meratapi nasib buruknya hari ini?
Tidak mengapa jika Sai ingin pergi meniggalkannya, namun bukan dengan cara seperti ini. Mereka sudah berpacaran selama 5 tahun, dan kau tahu..Ino saat ini tengah mengandung anak dari Sai. Itu bukanlah cobaan yang ringan yang selama ini pernah dialaminya-mungkin-.
Selama ini, Sailah yang mengajarkannya kehangatan cinta, karena dulu Ino sangat membenci cinta. Karena cinta Ibunya bunuh diri dengan cara menggantung dirinya di rumah mereka saat Ino masih kecil, karena cinta ayahnya berpaling dari ibunya kewanita lain yang lebih di cintainya, karena cinta Ino hampir dibunuh oleh sahabatnya karena cowok yang dicintainya ternyata menyukai Ino,karena cinta kini dia seorang diri hidup sebatang kara tanpa ada yang mau mencintainya setulus hati. Hanya berdasarkan kepada uang yang dimilikinya saat ini.
Namun hatinya tidak dapat berbohong jika rasa sakit hati itu ada. Bahkan tanpa dia ketahui perasaan sakit hati itu dapat membuahkan rasa benci yang dapat diendus oleh seorang gadis manis bersurai soft pink yang meilhat kejadian tersebut dari kejauhan. Menatap sepasang insan itu dengan senyuman lebar yang misterius dan tertawa kecil seraya mengayunkan sebuah dagger yang ada di tangan kanannya.
.
.
.
.
.
.
"Sai-kun, kau memang hebat bisa memutuskan wanita itu dengan cepat! Panta saja kau disebut sebagi playboy kelas tinggi," Gadis bersurai hitam legam itu tertawa licik seraya memainkan ujung rambutnya yang lembut. Sai hanya tersenyum mengejek sambil melihat kerarah luar jendela Ferish Wheel, dai tahu Ino pasti sangat sedih hari ini, dan memang itulah tujuannya.
"Kau bisa mengatakan aku adalah lebah yang mengambil sari madu dari sebuah bunga yang cantik, dan aku akan menghisap madu tersbut sampai bunga itu layu,"
"Tapi kau tidak akan begitu padakukan?" Tanya sang gadis dengan wajah sedikit cemberut, Sai segera mencium gadisnya dan berbisik lembut ditelinganya.
"Tentu tidak, kau berbeda dari wanita-wanita itu.."
GRAAK!
Tiba-tiba saja gerbong yang mereka naiki berhenti mendadak, lampu neon yang semula menyala terang di dalam kini meredup dengan perlahan.
"Ada apa ini?" Bentak Sai kesal, ada yang aneh. Saat Sai memandang keluar jendela. Dia dapat melihat bahwa gerbong-gerbong yang lain berjalan sebagaimana mestinya, tapi kenapa hanya gerbongnya saja yang berhenti?
"Kau mencintaiku Sai?"
Suara itu. Sai sangat mengenalnya, suara gadis pirang yang baru saja kini mengalir perlahan dari pelipis Sai. Dai bahkan tidak dapatmelihat sang kekasih di sekitarnya. Sai terjebak kedalam kegelapan yang dalam, seperti terjun ke dalam sebuah jurang tanpa batas.
"Kau mencintaiku bukan? Karena itu, matilah untukku.."
"Apa?! Hei siapa ka-"
CRASH!
Lelehan liquid kemerahan merembes dari leher Sai, kepalanya kini putus dengan urat-urat leher yang terkoyak, tulang berwarna putih terlihat jelas.
"Ini belum cukup tuan Hans,"
Kini sebuah benda tajam mengoyak kulit pucatnya hingga darah kembali merembes dan membentuk genangn seperti anak sungai yang tiada habisnya.
CRASHH!
Kedua kaki Sai terpotong dengan cepat sehingga membuat kesemimbangan tubuhnya limbung dan jatuh ke lautan darah. Tiba-tiba sebuah tangan mungil menjambak keras rambut sang pria Eboni.
Sesosok gadis berambut soft pink tengah tersenyum menyeringan memperlihatkan deretan giginya yang bercampur dengan darah segar, wajah polosnya tertutupi oleh liquid merah marun tersebut, sambil menjilat pelan bibir mungilnya gadis kecil itu terkikik kecil, menatap kepala Sai yang kini sudah terpisah dari tubuhnya tersebut dengan mata yang berkilat liar.
"Wajah kesakitan yang indah, kau pasti akan sangat senang jika lidah manismu ini kumabil untuk kenang-kenangan, Hans-san.."
..
..
..
..
"Ino-chan!"
Ino yang tengah bersiap untuk pergi dari taman bermain yang ramai itu kini harus terhenti langkahnya saat melihat bibi penjual manisan yang berlari-lari kecil ke arahnya. Ada apa gerangan? Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan.
"I-Ino, kau tahu? Sai, meninggla dibunuh oleh pacarnya. Aku kira itu kau ternyta bukan.."
Dahi Ino berkedut heran, namun entah kenapa kini tubuhnya kembali bergetar pelan.
"Kematiannya sangat tragis, kepalnya terputus dan kulitnya terkoyak habis, aku..aku tdiak sanggup melihatnya.. Ino-chan..bersabarlah ya ," Hibur bibi penjual manisan sambil mengusap airmatanya yang sudah keluar lebih dulu.
Ino tidak menjawab dengan segera, namun dia memeluk erat tubuh sang bibi dan menepuk punggungnya dengan lembut.
"Aku sangat senang mendengarnya Bi, terima kasih…" senyum Ino meleber dengan tatapan puas melihat kembang api yang menyala di tengah-tengah ramainya pengunjung, tepat di Ferish Wheel sesosok tubuhyang terpotong dan terkoyak kini bermandikan cahaya rembulan dan kembang api yang indah. Lautan darah menggenangi gerbong tersebut dengan indahnya.
"Hans and Gretel, someday will be together forever, in the hell.."
TBC
.
.
.
.
A/N: maki saja saya karena mempublish cerita acak adul ini?! Maaf ya kalu aneh, dan terima kasih bagi yang membaca dan juga mereview-Fujishuki Charlottie-I lap yu pul dah!*hueek*
kalau ada kekurangan saya minta maaf ya..masih belajar buat gore tapi kenapa ga bisa-bisa ya? Ada yang berniat untuk ngajarin? *serempak bilang: "GAAA!"*
ada yang bisa ngasih tahu juga kesalahan dalam bahasa inggrisnya? pastilah saya ini gaptek seh..*bohong!*
