Malfoy, Malfoy
Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling
...
Malfoy, Malfoy
by Juliette Apple
Rated: T
Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!
Balasan reviews ada dibawah ;))
Enjoy reading, review please... :D
Author's Note: disini akan ada misteri yang terungkap #plakk, sok dramatis XD
~XOXOXOXOXOXO~
CHAPPIE 2
Aku pergi ke ruang makan bersama Em. Kami menyusuri lorong-lorong Manor yang gelap karena minim penerangan. Hari sudah malam, dan yang menerangi rumah super megah ini hanyalah cahaya bulan yang menyusup lewat jendela raksasa dan cahaya dari tongkat Em.
Oh, sebagai catatan: tongkatku masih berada di tangan Malfoy.
"Kau berjalan layaknya merangkak! Bisa lebih cepat, kakak ipar?" raung Em. "Aku sudah lapar sekali,"
Mendengar itu, aku ingin sekali merusak wajahnya. Gadis ini begitu senang bersungut-sungut. Pada awalnya, ia baik bak malaikat. Sekarang, ia tak ada bedanya dengan Troll.
Sepanjang perjalanan menuju ruang makan, Em terus-terusan mengeluh soal ini dan itu. Ia mengeluh tentang rambutnya yang terlalu panjang, kemudian ia mengomentari rambut semakku. Dan yang paling menyebalkan: ia menyinggung status darah.
Aku memilih untuk diam dan pura-pura tuli atas segala ucapannya. Pikiranku melayang pada sikap Malfoy yang berubah. Dulunya, kami musuh. Sekarang, ia sendiri yang mengatakan kalau ia menyukaiku sejak—err, tahun keenam. Dan—oh, Merlin—sekarang kami suami-istri.
Selain Malfoy, ada lagi yang menggangguku. Harry dan Ron.
Sekarang mereka dimana? Apa yang mereka lakukan? Apakah Ron makan dengan benar? Apakah Harry terluka? Aku bisa mati penasaran bila begini terus.
Sementara ini, aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk bisa kabur. Jujur, aku tak begitu menyukai suasana Manor yang sangat gelap seperti kuburan—dan yang paling mengganjal pikiranku adalah para penghuninya yang sama-sama memiliki tato ular di lengan mereka. Mungkin kalau aku kabur, Malfoy akan kubawa serta.
Sekarang, keberadaan Malfoy dan statusnya sebagai suamiku sudah bisa kuterima, meskipun dengan getir.
Bila memikirkan semua hal itu, perjalanan menyebalkan bersama Em yang seharusnya panjang kini malah menjadi singkat. Di depan kami sekarang ada sebuah pintu besar yang diukir dengan gambar naga dan tengkorak. Samar-samar, kulihat ukiran ular yang rumit di kusennya.
"Masuk," kata Em sembari mengucapkan mantra. Pintu itu berderit dan terbuka. Aku menunggu ia masuk duluan, namun tak ada diantara kami yang bergerak selangkah-pun. Maka, dengan canggung, aku beranjak masuk. Ada tiga belas kursi, semuanya terbuat dari kayu-entah-apa. Voldemort duduk di ujung meja, masih dengan wujudnya yang jelek bin berantakan.
Pandangan-pandangan yang dilemparkan padaku bermacam-macam.
Kalau didaftar kira-kira seperti ini:
Pandangan Bellatrix kepadaku: tenang. Pandanganku padanya: takut.
Pandangan Lucius kepadaku: dingin. Pandanganku padanya: lebih dingin.
Pandangan Narcissa kepadaku: lembut. Pandanganku padanya: lembut.
Pandangan Brandon kepadaku: sinis. Pandanganku padanya: jengkel
Pandangan Voldemort kepadaku: tidak ada, matanya tak tampak. Pandanganku padanya: tidak ada, buat apa aku memandang hantu macam dia?
Dan berbagai pandangan lainnya dari Pelahap Maut yang tak kukenal.
Ada tiga kursi kosong. Em duduk di salah satunya, menyisakan dua kursi. Kurasa itu untukku dan Malfoy.
Aku duduk di sebelah Bellatrix. Kursi kosong di sebelahku kubiarkan untuk Draco. Em duduk disebelah Brandon. Lucius dan Narcissa berhadap-hadapan denganku. Kira-kira begitulah susunan tempat duduknya.
Ruangan ini begitu senyap. Ada sebuah kandil tanpa lilin ditengah meja. Dilangit-langit, tergantung lampu-lampu kristal yang berkilau. Tak ada yang berbicara ataupun begerak. Bahkan makanan ditengah meja-pun tak terjamah. Bicara soal makanan, aku sudah amat sangat lapar.
Di meja, tersusun daging panggang, bolu, anggur putih, fire-whiskey, ayam, dan sup. Gantungan kristal diatas kami berdenting saat angin bertiup.
"Well, well," ucap sebuah suara serak, Voldemort. "Mengapa ada satu kursi kosong disebelahmu, Miss Malfoy?"
Terjadi jeda yang panjang sebelum akhirnya aku menyadari kalau Voldemort memanggilku. Oh, Merlin, aku lupa kalau.. akulah... Miss Malfoy.
"Draco...eh...Malfoy..eh..Draco..eh...suami saya sedang di kamar," gagapku. Sekarang aku benar-benar buta akal.
"Mengapa ia lama sekali?" serunya, aku merasakan nada marah di suaranya.
"Saya... tidak..tahu," ucapku seadanya.
"Anak itu memang menyusahkan. Harusnya aku tidak membatalkan misi itu," erangnya. Ia melirik Narcissa yang kini menciut di kursinya. "Cissy, aku sudah menuruti maumu. Kuharap Draco bisa berterimakasih padaku dengan menunjukkan sikap yang baik,"
Aku tertegun. Apa yang terjadi? Apa yang tak kuketahui?
Tepat sebelum aku bertanya, pintu berdebam terbuka.
Draco Malfoy berdiri tegap disana dengan kemeja hitam. "Maaf terlambat," ucapnya.
Ia segera menarik kursi disebelahku dan duduk. "Hei, Hermy," bisiknya tepat di telingaku.
"Malfoy," desisku. "Apa yang membuatmu begitu lama? Kau berdandan seperti wanita?"
Malfoy terdiam. Kemudian memandang ibunya yang berkeringat.
"Kurasa dengan adanya Malfoy junior, kita bisa mulai makan," Voldemort mengumumkan. "Wormtail! Poppy!"
Lecutan terdengar, Poppy si peri rumah muncul dengan banyak serbet. Wormtail yang wajahnya masam muncul dengan seperangkat alat makan: garpu dan sendok berkilau.
Poppy dan Wormtail mulai membagikan bawaan mereka. Masing-masing orang dapat satu. Aku melihat Malfoy mengambil daging asap dan menjatuhkannya di sebuah kantung kain, kemudian menyembunyikannya.
Ia menyendok sup dan meletakkannya di mangkuknya. "Mione, mau sup?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Selama itu bukan sup darah, aku mau," singgungku.
Ia mendecak. "Tidak. Ini dari jagung dan jamur. Aku tahu kau pasti suka."
Aku memandang meja. Yang lainnya sedang sibuk menyendokkan makanan ke piring dan mulut mereka. Denting-denting garpu dan sendok yang beradu dengan piring membuat ruangan ini memiliki musik tersendiri, setidaknya ruangan ini tak sesepi tadi. Aku menyebutnya simfoni meja makan.
Malfoy menyendokkan daging ke mulutku. "Aaa, Hermione," rajuknya.
Aku menggeleng. "Hentikan. Kau membuatku malu. Kau sangat berbeda sekarang. Terakhir kali kita bertemu, kita bahkan saling melempar ejekan maut, Malfoy. Aku tak bisa berubah menjadi hangat secepat dirimu!"
Malfoy menggelitikiku sampai aku tertawa lebar dan menyendokkan daging enak itu.
"Salan ko Mafoy (Sialan kau Malfoy)," rutukku dengan mulut penuh (oh sial, aku teringat Ron!) Malfoy tertawa kekanakan. Ini aneh. Ia tak seperti dulu.
Sepertinya ada hal yang perlu kuketahui tapi tidak kuketahui.
Setengah jam berlalu, dan makan malam telah usai. Semuanya bersiap untuk tidur. Ada beberapa dari mereka yang harus tejaga semalaman untuk mempersiapkan rencana penyerangan berikutnya terhadap Harry (duh!). Aku dan Malfoy sebenarnya diizinkan tidur, tapi Malfoy malah duduk berdua denganku di meja makan.
Ruangan ini sepi, kosong dan gelap. Hanya ada aku dan Malfoy didalamnya. Tak ada seorangpun dari kami yang menyalakan lampu atau lilin. Malfoy bersandar di kursinya dan aku tetap di sebelahnya.
"Potter dan Weasley..." ia memulai, memecah keheningan. "...kira-kira mereka mencarimu tidak?"
Aku menahan airmataku. Aku merindukan mereka. "..pa..pastinya. Mereka sahabatku. Mereka pasti khawatir dan berusaha melepaskanku,"
"Kira-kira, bagaimana reaksi mereka saat mengetahui kalau kau seorang Malfoy sekarang?" tanyanya lagi.
Aku entah mengapa terkikik. "Mungkin Ron akan benyanyi 'Bloddy Hell' sepanjang hidupnya. Dan Harry akan memandangku tidak percaya,"
Malfoy tersenyum sendu. Aku melihat tangannya yang terkepal di pangkuan. Kantung kain itu masih ada.
"Malfoy...aku..."
"Mione! Oh, Merlin! Sekarang sudah malam! Ayo, kuantar tidur,"
Aku terdiam. Ia menariku keluar dari ruang makan.
~XOXOXOXOXO~
"Selamat malam, Mione," ia menyelimutiku sampai menutupi dada.
"Malam, Malfoy," aku pura-pura memejamkan mata. Aku mengintip sedikit. Si Malfoy bergerak menuju pintu. Aku penasaran hendak kemana dia.
"Ehm, Malfoy!" panggilku tiba-tiba.
Malfoy berbalik. "Ya?"
"Kau mau kemana? Kau tidak tidur? Sekarang sudah terlalu malam," omelku.
Ia menggeleng. "Merlin, Mione! Kau cerewet sekali," ia memutar bola matanya. "Aku akan segera kembali. Aku hanya... mencari udara segar,"
Kemudian ia keluar dan meninggalkanku sendiri.
Aku bersumpah demi apapun yang memijak bumi, kantung kain itu masih ada di genggamannya.
~XOXOXOXOXOXO~
Keesokan paginya, sebuah tangan kekar melingkari perutku. Aku merasakan embusan napas dingin di leherku.
"KYAAA!" jeritku.
"Ah!"
"Malfoy! Apa yang kau lakukan disini!" teriakku. "Apa kau tertidur di sebelahku?!"
Aku melempari wajahnya dengan bantal.
"Hahaha!" ia malah tertawa. "Apa ini, Mione? Semacam morning pillow fight?"
Aku mendengus kesal. "Kau berhutang jawaban, Malfoy!"
"Iya, iya. Semalam aku tidur di sebelahmu. Bukankah itu normal?" Malfoy menyeringai.
"Apa maksudnya 'normal'?" tuntutku.
"Bukannya aku suamimu?" ia menggelitik pinggangku. "Ohya, ngomong-ngomong..."
Ia diam tiba-tiba.
"...lingerie-mu bagus," ucapnya seraya kabur dari kamar.
Aku menengok kebawah. Oh! Aku hanya mengenakan lingerie tipis!
"MALFOYYYYYYYYYY!"
~XOXOXOXOXOXO~
Hari ini, Malfoy Manor sangat sepi.
"Kemana semua orang, Malfoy?" tanyaku. Malfoy telah mengenakan kemeja hitamnya dan dasi abu-abu.
"Aku tak bisa memberitahumu," ia berkata cepat.
"Malfoy! Aku harus tahu!" rajukku.
Ia mengangkat bahunya. "Aku harus pergi,"
Aku menarik lengannya. "Kau tak bisa meninggalkanku sendirian di rumah hantu ini! Jangan coba-coba, suamiku!" kutekankan kata 'suami' agar ia terpancing dan tak beranjak pergi.
"Maaf, Love," ia tersenyum tipis. "Aku hanya sebentar. Kembalilah ke kamar. Ada banyak buku di lemari."
Kemudian ia pergi. Belum sepuluh langkah ia berjalan, kepalanya diputar kembali kebelakang, dan ia menatapku. "Oh, Mione! Jangan buka laci eboni!" pesannya.
~XOXOXOXOXOXO~
Lapar.
Sejak Malfoy pergi, aku segera kembali ke kamar dan menemukan banyak buku tak bermutu. Satu-satunya buku yang menarik hanya 'Tahayul Muggle' karya Norman Geraldson.
Aku membaca buku seribu halaman itu dengan perut bernyanyi. Kapan ya, Malfoy kembali? Rasanya sudah satu jam ia pergi.
Aku melempar 'Tahayul Muggle' ke meja dan mataku menangkap sebuah laci dengan pegangan perunggu yang indah. Laci eboni.
Aku ingat ucapan Malfoy untuk tidak membuka laci ini.
Aku mundur kebelakang dan duduk di ranjang. Tidak! Aku tidak akan melanggar perintahnya. Kemudian aku berbaring dan berusaha mengalihkan pikiranku dari laci itu.
Lima menit aku bergulat dengan pikiranku agar tidak melanggar Si Malfoy. "Oh, aku tak tahan! Penasaran!" desahku.
Cepat-cepat aku melompat dari ranjang dan menyentuh pegangan laci. Kutarik perlahan-lahan dan aku melihat sesuatu kotak hijau besar. Kuangkat kotak itu. Ada gemboknya. Sial. Mencurangi Malfoy lebih susah dari yang kukira.
"Mione? Mione?" kudengar suara dari luar. Suara Em.
Aku dengan tegang mengembalikan kotak itu dan menutup lacinya. Tepat setelah aku melakukannya, Em menyeruak masuk.
"Em." Sapaku singkat.
"Kakak ipar," ia menatapku. Alisnya menyatu. Pandangannya menyapu kamarku dan Malfoy. "Kamar kalian berantakan sekali! Pergilah ke ruang makan! Aku akan merapikan kamar kalian,"
Aku segera keluar. Semalam aku ingat jalan menuju ruang makan. Cukup melewati koridor utama lalu berbelok sampai di pintu dengan banyak ukiran. Aku berjalan lambat agar bisa mengamati koridor ini lekat-lekat. Koridor ini memiliki banyak pilar hitam dan abu-abu. Karpetnya tak bercela dan tampak mahal. Langit-langitnya tinggi sekali, dan terbuat dari batu.
"...Cissy,"
Apa itu? Suara siapa?
"Aku...Draco...Miss Granger..."
Siapa itu? Suara itu tak jelas dan terpotong-potong. Aku mencari sumber suara dan menemukan Narcissa serta Bellatrix di balik salah satu pilar. Aku membungkuk dan bersembunyi dibalik patung jelek tak jauh dari mereka.
Narcissa tampak berantakan. Bellatrix berdiri dengan postur gagah bak pria. Tangannya disilangkan di dada.
"Cissy! Kau harusnya malu pada dirimu! Lihat! Kau terlalu lemah! Bahkan misi Draco kautolak. Lihatlah Brandon-ku! Ketika Pangeran Kegelapan memberi misi pada Brandon untuk menjadi Pelahap Maut, aku dengan senang hati mengizinkannya! Aku malah bangga! Kau bahkan berpikir dulu sebelum menyerahkan Draco sebagai Pelahap Maut!" cerca Bellatrix.
Aku merapat dengan patung jelek itu dan menajamkan telingaku. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Narcissa berurai air mata. "Oh..Bella, Bella," tangisnya. "Aku mencintai Draco. Dia putra tunggalku. Aku tak ingin ia menerima misi itu. Makanya aku memakai Miss Granger untuk mengulur waktu..."
"...dan membiarkan keturunan Draco menjadi Darah Campuran? Tidak, Cissy! Malfoy berarti Darah Murni! Dengan adanya Mudblood dalam keluarga kita, sama saja dengan melecehkan keluarga sendiri!" bentak Bellatrix.
Aku? Narcissa dan Emeraldina memakai aku untuk... menyelamatkan Malfoy?
"Aku akan membunuh Mudblood itu dengan tanganku sendiri!" semburnya. "Dan saat Mudblood itu mati, Draco harus menerima misi Pangeran Kegelapan!"
"TIDAK—TIDAK!" teriak Narcissa. "Aku tak mau Draco mati gara-gara menerima misi itu! Tak akan, Bella! Lagipula, Miss Granger hanya korban dari permainan kejam ini!"
"Mati karena menerima misi Pangeran Kegelapan itu mulia sekali! Lagipula, Mudblood itu sama sekali tidak berharga, ia bisa mati kapan saja sesukaku. Ia sampah. Kenapa kau begitu bodoh? Apa yang merasukimu, Saudari?" cercanya lagi.
Bellatrix rupanya tak menunggu jawaban Narcissa. Ia menyibakkan jubahnya dan pergi. Sementara itu, Narcissa masih berjongkok dan menangis.
Aku sekarang kehilangan napsu makan. Dan aku tahu kalau aku membutuhkan tongkatku—segera!
~XOXOXOXOXO~
Aku sedang berada di kamarku yang berteman dengan hening. Malfoy! Aku butuh Malfoy! Tapi ia belum kembali.
Kamarku berbau mawar dan lemon, membuatku tenang. Aku berterimakasih pada Em atas kemampuan dekornya yang hebat. Ia mendekor ulang kelambu ranjang yang sudah usang. Digantinya kelambu abu-abu itu dengan kelambu emas, mengingatkanku pada asramaku di Hogwarts.
Tiba-tiba, Narcissa melangkah masuk.
"Hai, Dear..." sapanya. Wajahnya pucat dan matanya sembab. Tangannya gemetar takut. Kurasa ancaman Bellatrix mengeringkan sisa-sisa keberaniannya. Jujur, aku amat kasihan padanya. Ia beda dengan para Pelahap Maut lain yang kejam. Ia keibuan. Ia amat mencintai putranya, Draco.
"Mrs. Malfoy," balasku ramah. Aku tak ingin membuatnya bertambah pusing.
"Panggil aku Ibu, Mione," ucapnya sambil duduk di sebelahku.
"Mana Pirang—ehm, maksudku, Draco," aku merasa pipiku memerah. Aku menghina Malfoy di depan Ibunya yang baik hati, rasanya itu amat kejam.
"Oh, Dear," wajahnya berubah sedih.
"Ada apa...I..I..Ibu?" gagapku.
"Draco..." ia mendesah. "Tidak. Tak ada apa-apa,"
Aku tanpa sadar meremas bahunya sehingga ia sempat terlonjak kaget. "Ibu! Aku harus tahu! Apa yang perlu kuketahui tapi tak kuketahui, Ibu? Ibu! Tolonglah! Misteri apa yang kausembunyikan? Rahasia apa yang coba kausamarkan?"
Aku melihat genangan airmata di ujung matanya. Genangan itu berubah menjadi badai di wajahnya. Ia menangis dan menangis.
"Oh, putraku, putraku," ia tersedu-sedu. "Draco!"
"Kau bisa cerita semuanya," jelasku.
"Accio tisu," ucapnya dengan lambaian tongkat. Ia membersit air matanya dengan tisu dan menatapku seolah-olah aku adalah malaikat maut. Ya. Ia menatapku takut. "Dear, setelah aku membuka kotak pandora yang kusimpan ini, maukah kau meninggalkan harapan di dasar kotak untukku?"
Aku mengangguk. "Apapun akan kucoba untuk menolongmu," ucapku heroik.
Ia kembali tersedu-sedu. "Sebenarnya..."
~TBC~
Aduh, terima kasih untuk perhatian kalian!
Julie amat senang loh!
Tarrimalfoy: iya, aku sebisanya update kilat! ;))
Cherry Evil: oww iya, soalnya Draco ma Hermione kan menikah terpaksa, jadi yang setuju cuman Cissy ma Em, karena ini rencana mereka.. gtu dehh! :D
DraconiSparkyu: oke, oke ;DD
Moku-Chan: ehm, sorry, kayaknya di chappie 3 deh... okeyy? :*
Fuuah: Okay! ;D
Merrya Narcissa Bellatrix: silahkan, dear! ;* thx ya
Fressia Athena: oce, oce.. ^^
Yuina Noe-chan: Kyaaa *ikutan blushing* thx reviewnya
Ms. Loony Lovegood: senangnya kamu review~ penasaran? Baca teyus ya! ;D
Christabelicious: *pelukciumeluscubit-cubitsayang*
Serenashield: hehe, tengkyu ;;)) thx reviewnya
Nyimi-chan: aduh kamu lucu deh, Myu! :3 thx reviewnya
ReishasyaA: thanks! Aku bakal Update kilat! ;D
