Malfoy, Malfoy
Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling
...
Malfoy, Malfoy
WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T
by Juliette Apple
Rated: T (lime dikit)
Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!
Enjoy reading, review please... :D
Author's Note: Snape tidak bakal mati di fic ini! Say 'Yeah' guys! :D
~XOXOXOXOXOXO~
CHAPPIE 3
"Tunggu!" cegatku. "Rapalkan mufliato. Aku takut ada yang mendengarkan."
Narcissa menghentikan tangisnya sejenak. Wajahnya tampak pucat. "Bagaimana bisa aku melupakan hal itu!" pekiknya. "Mufliato," katanya pelan sambil melambaikan tongkat. Ia merapat padaku, bibirnya bergetar namun tetap tidak mengeluarkan suara.
"Ibu..." aku memulai. "Kau boleh cerita sekarang,"
Ia bergeser dan berusaha mendapatkan posisi duduk paling nyaman. Gesekan jubahnya dengan seprai menimbulkan bunyi gemerisik aneh. Tangannya terkepal di pangkuan.
"Ini bukan dongeng, Dear. Aku tak yakin bisa menceritakannya dengan tegar hati," Tengkuknya menegang. "Oh, tapi bolehkah aku mengucapkan terimakasih terlebih dahulu?" ia mengelus punggung tanganku dengan lemah.
"Berterimakasih untuk apa?" tanyaku pelan.
"Terima kasih karena sudah mau menikahi Draco, dear," ucapnya.
Telingaku menegak. "Apakah itu amat sangat bermakna sehingga pantas diberi ucapan terimakasih?" elakku. "Lagipula, aku tak mencintainya."
Wajahnya kembali muram, tapi ekspresinya tak sesengsara tadi. "Itu masalah waktu. Waktu yang memulihkan rasa benci. Waktu juga yang membawa cinta ke hati. Aku tahu kalau putraku hanya seorang banci, pengecut, dan musang pirang berkarat dimatamu; tapi dimataku, ia sebuah mutiara. Mungkin dunia boleh melucuti keberaniannya, dan orang-orang diluar sana boleh menganggap dia mutiara imitasi. Tapi aku akan selalu menganggap dia mutiara terbaik, karena ia berasal dari bagian tubuhku yang paling hangat: rahimku. Kelahirannya adalah sukacita terbesarku," ceramahnya. Bibirnya menipis. Sekarang aku menyesal telah berkata 'aku tak mencintainya' tadi.
"...aku mengerti. Kau ibunya," balasku singkat. "Dan soal misinya? Misi apa yang akan ia jalani sampai-sampai kau terlunta-lunta seperti ini, Ibu?"
Pelipisnya berkedut. "Ini misi terakhirnya," ucapnya parau, nyaris tak terdengar olehku.
"Misi terakhir, kaubilang?" aku merapat padanya. "Bukankah itu bagus? Dengan berakhirnya misi ini, ia takkan diberi misi lagi bukan?"
Narcissa menggeleng kuat-kuat sampai anak rambutnya tersibak. "Misi terakhir yang kumaksud disini adalah kematianya. Misi ini adalah misi berkorban nyawa!"
Aku terhenyak. Apakah telingaku mengkhianatiku? Benarkah yang dikatakannya itu?
"Ceritakan padaku misi apa itu!" tuntutku. "Cepat bongkar tirai-tirai misterinya! Aku ingin segera tahu, Ibu!"
Narcissa memandangku lewat manik matanya yang cokelat. Dari keseluruhan wajahnya yang menua, hanya matanya saja yang masih bersinar. Namun, saat membicarakan kematian, sinar matanya meredup. Kukunya yang merah muda pucat mencengkram seprai, seolah-olah ada yang menindihnya sampai ia kesakitan. Kemudian ia tampak seperti merenung. Kelopak matanya bergetar, dan ia menunduk kebawah sampai dagunya menusuk dada.
"Ibu?" panggilku. Ia kembali mendongak, dan matanya yang berani menampilkan sinarnya lagi. Ia kembali menjadikanku atensinya, berusaha menutupi setiap gurat cemas di wajahnya dengan senyuman tipis. "Aku tak apa, Dear,"
Aku meneguk ludahku dan berdeham. "Malfoy dalam bahaya," tiba-tiba saja aku menyimpulkan.
Narcissa memandangku tanpa bergerak. "Tepat," katanya membenarkan. Ia lalu mengelus pipiku.
"Apakah kau tahu tentang penyerangan waktu itu? Serangan luar biasa dari Potter yang membuat Pangeran Kegelapan remuk wujud?" tanyanya.
Aku mengingat ucapan Malfoy di hari pernikahan kami. Ya, aku mengangguk. Harry sempat terkena serangan, tapi ia masih hidup (meskipun aku tak tahu keadaannya sekarang). Sementara itu, Voldemort rusak fisiknya.
"Kau sudah tahu rupanya," Narcissa berdeham. "Selain rusak tubuhnya, ia juga melemah. Kekuatannya hilang. Ia tak bisa semena-mena meneriakkan kutukan seperti dulu karena keadaannya,"
Aku tak bisa menahan munculnya cengiran. Rasanya lucu membayangkan Voldemort yang lemah dan tak bisa melempar kutukan. Narcissa tersenyum lembut, seolah-olah ikut merasakan parodi dalam keadaan Voldemort.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanyaku.
Narcissa menautkan alisnya. "Para Pelahap Maut mati-matian mencari cara untuk mengembalikan kekuatannya seperti sedia kala, dan Bellatrix menemukannya dalam Kitab Mantra Hitam Terlarang. Sebuah ritual kuno yang berbahaya dan biadab akan dilangsungkan. Sebuah ritual yang mengharuskan adanya penyiksaan," katanya frustasi. "Pangeran Kegelapan memilih Draco malam itu. Malam dimana aku berkata kalau semuanya akan baik-baik saja. Malam dimana Draco menangis dan berkata kalau ia lelah. Pangeran Kegelapan meminta Draco menyerahkan jantungnya. Ia juga menetapkan hal itu sebagai misi terakhir Draco,"
Aku terlonjak. Ini gila! Ini diluar akal sehat! Narcissa tampak mati-matian menahan airmatanya.
"Mengapa harus Malfoy? Bukankah ada banyak orang? Ia bisa memilih dari salah satu anteknya, bukan?" aku menentang.
"Pangeran Kegelapan hanya menginginkan jantung Draco. Ia amat bengis." ucap Narcissa dengan suara bergetar.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Amor vincit omnia." Ucapnya.
Aku tahu kata-kata itu. Itu adalah ramuan legendaris yang pernah diciptakan sepasang kekasih untuk melawan maut. "Kalian harus menciptakan Amor vincit omnia—sebuah ramuan untuk melawan Pangeran Kegelapan,"
Aku terdiam. Untuk saat ini, aku rasanya tak punya kekuatan lebih untuk berbicara—jadi aku hanya sebatas mendengarkan.
Narcissa melepaskan mufliato. "Poppy!" jeritnya. "POPPY!"
Lecutan terdengar. Seorang peri rumah kotor berbaju kumal muncul dengan terbungkuk-bungkuk. "Nyo...nyonya.." gagapnya.
"Bawakan pensieve!" jeritnya lagi. Poppy kembali menghilang dalam lecutan. Narcissa memandangku kalem. "Kau akan lebih mengerti bila melihat sendiri,"
Kemudian Poppy muncul kembali dengan pensieve. Narcissa mengusirnya keluar setelah meletakkan pensieve-nya di sebuah meja cebol dekat ranjang.
"Tolong cermati tiap momennya, Dear. Dan pada akhirnya kau akan segera mengerti," katanya. Ia mengeluarkan memorinya dan memasukkannya dalam botol kaca.
Aku terpaku.
Ia pergi keluar meninggalkanku sendiri bersama pensieve di meja batu, dan botol memori.
Aku harus segera melihat memorinya.
Kutuangkan memori itu kedalam pensieve dan kucelupkan kepalaku kedalamnya.
"Avada Kedavra!" adalah suara yang pertama kali kudengar dalam memori Narcissa.
Kilatan cahaya merah dan hijau menyambar-nyambar. Aku melihat sosok Narcissa, Lucius, dan putra mereka sedang memojok. Harry ada di sana! Rupanya Voldemort sedang berduel dengan Harry.
Harry dengan gesit menghindari setiap kilat cahaya yang dimuntahkan tongkat Voldemort. Voldemort melemparkan kilat-kilat cahaya lain pada Harry, tapi setiap serangannya selalu meleset dan malah mengenai patung-patung ular di ruangan itu.
Harry balas melempar mantra. Sayangnya tak kena.
Voldemort dengan berang kembali menyerang. Tiba-tiba, mereka berhenti.
Mereka sama-sama berdiri di tengah ruangan, saling berhadapan. Ini klimaksnya.
Semuanya menjadi senyap. Dada Harry naik turun karena lelah. Suara derit kandil raksasa yang bergerak-gerak diatas mereka menambah suasana tegang.
Narcissa merapat pada tembok.
"Dalam hitungan ketiga," desis Harry.
Voldemort menyeringai kejam. "Satu..." ucapnya.
"Dua," lanjut Harry. Jari-jarinya melekat erat pada tongkatnya.
"TIGA!" teriak mereka.
Mereka berdua secara bersamaan melemparkan cahaya merah. Kilat merah dari Harry mengenai tubuh Voldemort. Sebelum kilatan dari tongkat Voldemort mengenai Harry, seorang gadis berambut merah muncul dan membuat matra perlindungan dengan tongkatnya.
Itu Ginny.
Oh, Merlin! Kuharap mereka berdua baik-baik saja!
Ruangan menjadi terang benderang bermandikan cahaya merah darah yang mengerikan. Mereka berdua sama-sama terpelanting kebelakang.
Aku melihat Voldemort tergeletak di lantai batu tanpa bergerak setelah terkena serangan Harry. "WORMTAIL!" jeritnya. Wormtail yang jelek dan berwajah bodoh muncul dari belakang pilar.
"Tuanku..." rengeknya.
"AKU TAK BISA BERGERAK!" gelegarnya.
Wormtail tampak seperti bebek kecil yang terdampar di sebuah pulau penuh buaya. Ia dan Lucius membantu Voldemort berdiri, dan aku segera melihat hal paling mengerikan dalam hidupku.
Voldemort benar-benar remuk wujud! Wajahnya hancur, dan indera-indera wajib di kepalanya hilang. Tangannya juga hilang sebelah, kakinya tidak ada.
"AKU MELEMAH!" desis Voldemort tajam. "BAWA AKU PERGI!"
"Ba..baik Tuan," jawab Lucius sembari mengangkat tubuh Voldemort seperti sedang menggendong bayi ringkih. Mereka—Wormtail dan Lucius—membawa Voldemort dan hilang dibalik sebuah pintu besar.
Tunggu... Harry? Harry!
Belum sempat kulihat Harry, memori-memori itu berubah menjadi asap hitam dan berganti adegan lain.
"Ibu! Ibu!" panggil seorang pria berambut pirang cemerlang dalam pelukan wanita tua. Itu Malfoy dan Narcissa. "Kapan semuanya berakhir? Ayah selalu berkata kalau semua akan kembali seperti sedia kala... tapi penderitaan ini tak berujung, Ibu! Aku lelah, Bu!"
"Semua akan baik-baik saja...aku janji padamu."
"Janji?"
"Janji."
Asap hitam kembali menyeruak dan mengaburkan sosok Narcissa dan Malfoy yang sedang dalam kesengsaraan mereka. Kini tampilan yang kulihat berganti menjadi ruang makan. Voldemort berwujud sama seperti yang kulihat terakhir kali.
"Draco Lucius Malfoy..." kata Voldemort. "Kau akan menjalankan tugas mulia. Kau akan mati untukku. Jantungmu akan kuambil sebagai penyembuh ketidakberdayaanku ini. Kau bersedia?"
Belum sempat aku melihat jawaban Malfoy, adegan berganti lagi. Kali ini aku melihat Narcissa berurai air mata sambil tengkurap di lantai batu. Ia bersujud di bawah Voldemort.
"Kumohon...beri Draco kesempatan..." raung Narcissa.
"Berikan aku alasan kuat untuk memberi putramu kesempatan!" seru Voldemort marah.
Emeraldina menyeruak muncul dengan postur gagah dan menantang.
"Kakakku mencintai seorang gadis. Ia berencana menikahi gadis itu, tapi hal itu takkan mungkin bila ia mati. Beri ia beberapa hari untuk mewujudkan impiannya itu! Kemudian ambil jantungnya!" kata Emeraldina.
"Alasan yang hina, Sayangku..." Voldemort menggerak-gerakkan tangannya yang sudah tak sepasang. "...tapi masih bisa kuterima. Lagipula..hanya beberapa hari saja, bukan?"
Emeraldina mengangguk mantap.
"AKU MEMBATALKAN MISI DRACO UNTUK SEMENTARA. KUBERI IA WAKTU SEPULUH HARI UNTUK BISA BERSAMA-SAMA DENGAN GADISNYA! SETELAH ITU, DI HARI YANG KESEPULUH, JANTUNGNYA MILIKKU!" kumandang Voldemort.
Narcissa semakin bersujud sampai dahinya menempel pada lantai batu. "Terimakasih, Tuan! Terima kasih!"
"Siapa gadis beruntung ini?" sembur Voldemort.
"Hermione Jane Granger..." kata Emeraldina.
Adegan kembali mengabur menjadi asap hitam.
Kini, yang kulihat hanya Narcissa, Emeraldina dan Malfoy dalam kegelapan kamar. "Amor vincit omnia adalah ramuan kuno yang bisa mematahkan sihir hitam apapun. Bahkan mengeringkan kekuatan jahat manapun. Ramuan ini amat langka. Ini satu-satunya harapan kita, Draco. Amor vincit omnia. Kita bisa menggunakan Miss Granger dan waktu sepuluh hari itu untuk menemukan ramuan ini. Miss Granger adalah seorang jenius. Keberadaannya menguntungkan kita. Ingat Draco, kau hanya punya sepuluh hari kurang untuk mendapatkan ramuan ini, lalu kita akan bergabung dengan Harry Potter dan membunuh Pangeran Kegelapan dengan ramuan ini bersama-sama dengan Harry Potter..."
Latar tempat kembali berganti menjadi kamar lain. Asap-asap hitam itu menyeruak kembali.
"Aku tak percaya kau lakukan ini, Cissy! Mengapa kau mengulur waktu untuk mengorbankan Draco? Semakin cepat Draco memberikan jantungnya, semakin cepat pula Pangeran Kegelapan bangkit! Mengapa kau malah memohon waktu sepuluh hari hanya untuk membiarkan Draco menjadi suami seorang Darah Lumpur? Mengapa! Seandainya Brandon yang terpilih, aku akan langsung menyuruhnya mati saat itu juga!" erang Bellatrix. "Daripada menunggu sepuluh hari, lebih baik kubunuh saja Si Manis Mudblood Granger. Hal itu mungkin akan mempercepat pengorbanan Draco..."
"Kau gila Bella!"
Secepat kilat, asap-asap itu menyeruak dan aku menarik kepalaku keluar dari pensieve.
Amor vincit omnia.
Gila.
Ini hal paling tidak mungkin yang pernah kulakukan dalam hidupku. Pertama, aku membantu musuh bebuyutanku untuk mendapatkan sebuah ramuan paling langka di dunia. Kedua, seperti kataku tadi, ini ramuan paling langka di dunia! Menurut buku-buku yang kubaca, Amor vincit omnia dibuat pada tahun 1855 oleh sepasang kekasih bernama Encanto dan Làstima. Mereka membuat ramuan ini untuk mengalahkan seorang Marquess kejam dari Inggris bernama Sir Cruel.
Amor vincit omnia tersisa tiga botol di dunia.
Belakangan ini, seorang penyihir muda kaya raya bernama Karenina Brandson menemukan dua botol Amor vincit omnia di kuburan neneknya.
Berarti hanya tersisa satu di dunia.
...dan kami harus mendapatkannya dalam waktu kurang dari sepuluh hari. Sekarang waktu yang tersisa hanya sembilan hari bila dihitung dari hari pernikahan kami. Kami harus cepat. Tidak boleh ada penundaan lagi.
Tapi bagaimana mencarinya? Amor vincit omnia bisa berada di mana saja.
~XOXOXOXOXOXO~
Malam itu, aku duduk sendirian di kamar dan berteman dengan kesunyian.
Tiba-tiba, pintu begeser terbuka. Malfoy ada disana. "Mione," panggilnya.
Entah apa yang merasukiku, aku melompat dan menghambur dalam pelukannya. Kemudian menyatukan bibirku dengan bibirnya. Aku merasa agak iba padanya setelah mengetahui fakta bahwa kematian membayanganginya sampai ia gila.
Bibirnya masih sehalus pertama kami berciuman. Kemudian aku mencium pucuk hidungnya, dahinya, dan kedua belah pipinya. Rasanya ada sejuta musang (kita ganti kupu-kupu dengan musang) yang beterbangan di perutku saking gugupnya. Sementara aku terdiam, ia malah menatapku kagum.
"Wow, apa yang membenturmu tadi?" tawanya. "Kau tampak beda,"
"Malfoy, we need to talk," ucapku tanpa aksen.
Ia terbelalak. "Should we?," ia tertawa lagi. "Kau jadi manis malam ini."
"Memangnya aku seperti apa di malam-malam sebelumnya?" ucapku jengkel.
"Haha, Love, jangan marah," ia mencium pipiku. "Apa yang perlu kita bicarakan?"
Aku tidak menjawab, hanya menariknya ke tempat tidur. Badannya berkeringat dan kurus. Ia tak sekurus ini sewaktu di Hogwarts. Aku membaringkan dia di sebelahku. Jariku dengan lihai melepas kancing-kancing kemejanya yang menyatu dan membiarkan dadanya terbuka.
Dan apa yang kulihat sangat menampar batin.
Dada mulus yang kulihat di hari pernikahan kini berubah menjadi dada penuh luka yang terkoyak-koyak. Kulihat luka yang belum mengering lengkap dengan darah yang setengah mengalir. Tidak hanya satu luka, tapi ada banyak!
"Merlin Malfoy!" aku setengah menjerit. "Ada apa? Apa yang terjadi?"
Kukira Malfoy akan menutup dadanya lagi, nyatanya ia malah melepas kemejanya dan membiarkan mataku ditampar-tampar. Dadanya penuh luka sayat. Aku menutup mulutku dengan tangan. Jariku kurapatkan.
"Sakit?" tanyaku prihatin. Jariku bergerak membelai luka-luka menonjol itu. Ia meringis kesakitan.
"Tak apa, Mione. Cuma serangan singkat dari... Ayah," katanya memelas.
"Apa?" kali ini aku benar-benar menjerit.
"Ssshh! Kau akan membangunkan seluruh isi Manor!" katanya berusaha menenangkanku. "Mufliato!"
"Maaf, Love," lidahku geli mengucapkan 'Love'. "Katakan apa yang terjadi,"
Malfoy menggeleng singkat. "Hanya pertemuan singkat seorang putra dengan ayahnya yang bengis bak mandor yang mendoktrin anaknya untuk menjadi monster!"
"Bisa lebih pelan bicaranya? Rentetan kata-katamu begitu licin. Aku takut telingaku tak mampu menangkapnya," candaku.
Ia hanya diam (dan ini membuatku malu karena candaku tidak dianggap lucu).
"Katakan padaku apa yang bisa membuatmu sedikit membaik," tawarku berbaik hati.
Seringainya muncul. "Cukup peluk aku. Aku selalu senang dipeluk,"
Aku refleks melingkarkan tanganku di pinggangnya dan merapatkan tubuhku padanya. Baunya tercium, bau-bau maskulin yang menempel di permukaan kulitnya bercampur dengan bau anyir darah. Aroma lemon dan mawar dari seprai dan kelambu belum cukup kuat untuk membunuh bau-bau penyiksaan di tubuh Malfoy. Bau-bau ini takkan kulupakan. Bau Malfoy. Aroma Malfoy dalam pelukanku.
Pundakku basah.
Kulirik pundakku. Ternyata kepala Malfoy bersandar disana. Aku bertaruh itu pasti air matanya yang jatuh.
Ternyata hidup Malfoy tak semenyenangkan dengan apa yang selalu ia umbar di Hogwarts. Kalau Harry adalah pria-yang-bertahan-hidup, maka Malfoy adalah pria-yang-terlanjur-hidup.
Ia terlanjur dilahirkan dalam permainan hidup yang kejam. Mandor waktu menggilasnya sebagaimana ia juga menggilas mahkluk lain yang berpijak di dalamnya. Malfoy hanyalah salah satu korbannya. Terkadang aku bisa merasakan kepedihan orang-orang yang dekat denganku. Kesedihan Harry atau kemarahan Ron yang sering meledak. Kali ini bukan Harry atau Ron. Kali ini Malfoy.
Malfoy memelukku makin erat, dan aku merasakan hatinya yang hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. "Tak apa, aku disini. Aku disini," bisikku di telinganya.
Hening.
"Kau takkan mati. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjagamu. Aku berjanji pada ibumu juga. Jadi, kau ada dalam lindunganku," aku kembali berbisik. "Kita harus bicara. Ini tentang Amor vincit omnia,"
Hening.
"Kau...berjanji?" tanya Malfoy tanpa memandangnku. Kepalanya masih bersandar di pundakku yang lemas. "...dan Ibu sudah memberitahumu tentang ramuan itu?"
"Ya," kataku. "Kita butuh rencana. Ramuan itu tersisa satu di seluruh dunia, dan ramuan itu bisa berada dimana saja,"
Malfoy menarik diri dariku. "Itu urusan nanti!" jeritnya. Air mata di pipinya mengering.
Malfoy menciumku. Ia menggigit bibirku sampai berdarah. Anehnya, aku malah menikmati ciuman itu. Kami berhenti berciuman karena alasan klasik: butuh suplai oksigen. Kemudian kami menarik napas dalam-dalam dan berciuman lagi. Ia tidak hanya mencium bibirku, tapi juga jiwaku yang takut dan mendidihkan darahku.
Ia menindihku. Ciumannya masih bertahan. Aku tak tahu apakah kami akan melakukan 'itu' malam ini. Tapi aku takkan melakukan 'itu' sebelum aku benar-benar mencintainya. Bahkan berciuman-pun rasanya tidak lumrah mengingat aku belum benar-benar menerima kehadirannya. Ia berhenti menciumku karena oksigen lagi.
"Her..Herh..Mii...Ohh..oh...Nee.." napasnya tersenggal-senggal. "Anggap saja besok kiamat, dan malam ini takkan datang lagi. Kita akan menjadi dua orang paling gila malam ini. Kita akan jadi bedebah semalaman ini. Setuju?"
Aku hendak menolaknya, tapi bibirku mengkhianatiku dengan berkata: "Aku setuju,"
Ia mencium leherku. Menandaiku. Tidak hanya satu, ia mencium leherku berkali-kali, dan rasanya geli. Ia meniup telingaku sampai aku terkikik. Kemudian ia mengelus pipiku dan rambutku.
Setelahnya, aku tak ingat apa-apa.
Yang kutahu, malam itu semakin panas dengan erangan dan desahan. Kemudian aku merasa nyaman, dan saat sampai di titik nikmatku, Malfoy meletakkan tangannya yang berkeringat di mulutku.
Setelahnya, malam itu berlalu bagai mimpi.
~XOXOXOXOXO~
Aku terbangun dalam keadaan berantakan, telanjang, dan kedinginan. Malfoy sama berantakannya denganku. Ia juga telanjang.
Merlin! Apakah semalam kami...
Oh! Aku menjilat bibirku. Rasanya nyeri. Aku ingat kalau semalam Malfoy menggigitnya sampai berdarah. Aku juga ingat ia meletakkan tangannya yang berkeringat di mulutku. Bibirku rasanya asin.
Aku melirik Malfoy. Ia tertidur lelap dan wajahnya amat damai. "Mione..." ia menggumamkan namaku dalam tidurnya. Apa? Apa yang ia mimpikan? Semoga saja bukan hal yang tidak-tidak.
Aku melongok kebawah. Gaun tidurku tergeletak di lantai batu bersama dengan kemeja dan celananya. Pakaian dalam bertebaran.
"Kakak ipar? Kakak?"
Itu suara Em dari luar kamar.
Aku harus membereskan kekacauan ini! Kupungut gaunku dan kukenakan. Tubuh Malfoy kuselimuti dan pakaian lain yang masih tergeletak di lantai kusembunyikan di kolong ranjang.
"Kakak? Halo?" suaranya mengeras.
"Tunggu!" balasku.
Aku segera bertingkah normal. Kubuka pintu itu pelan dan hanya berupa celah. "Hai," sapaku.
"Mione," panggilnya. Ia menatapku nakal. "Semalam apa yang terjadi?" godanya.
"Apa maksudmu?" aku berusaha tidak tampak canggung.
"Tak ada," katanya dengan senyum ganjil. "Kalian ditunggu untuk sarapan,"
Aku tersenyum. "Terimakasih,"
Ia berbalik dan hendak pergi. Tapi ia berbalik tiba-tiba. "Oh! Dan Mione..." panggilnya.
"Ya?"
Jarinya menunjuk leherku. "Sebaiknya tanda-tanda itu tidak dilihat oleh yang lain. Kan malu..." kemudian tanpa aba-aba, ia berputar dan setengah berlari menyusuri koridor.
Aku terhenyak dan meraih cermin di dekat lemari. Oh! Bekas kecupan Malfoy semalam.
"Engghhhh..." terdengar kuapan malas dari ranjang. Sepertinya Malfoy sudah bangun.
"Pagi, Pemalas," sindirku.
"Hei, kau!" ia tersenyum. "Semalam kau liar sekali. Gila. Kau nyaris berteriak. Semalam aku mencabut mufliato karena berpikir kau bisa lebih tenang. Ternyata kau tetap ribut seperti induk gajah yang suka mengamuk. Kau ingat? Waktu kita bercinta semalam? Kau nyaris berteriak, sampai aku harus menutup mulutmu dengan tanganku,"
Apa? Bercinta? Oh, tidak.
"Uh, jadi kita benar-benar melakukannya ya, Malfoy?" erangku. "Tanganmu yang berkeringat itu meninggalkan rasa asin di bibirku,"
Ia terkekeh.
"Ayo, Malfoy. Kita harus sarapan." Ajakku.
"Tidak ada ciuman selamat pagi untukku?" ia merajuk. Aku pura-pura cemberut. "Ayolah..." kedua tangannya terbentang seperti sedang bersiap-siap menerima lemparan bola raksasa.
Aku melompat ke ranjang dan ia menangkapku.
"Cium lalu sarapan, oke?" tanyaku.
"Setuju," katanya.
Aku menciumnya dan ia membalas ciumanku. Rasa asin itu hilang bersama-sama dengan berakhirnya ciuman kami.
Perasaanku lebih hangat, meskipun aku belum memantapkan hatiku untuk mencintainya.
Mungkin perasaanku lebih kepada rasa sayang atau iba. Tak lebih.
Setan apa yang merasukiku sehingga aku begini? Aku menciumnya! Aku bercinta dengannya! Tapi aku tak mencintainya! Hanya sekedar rasa iba! Aku mengutuk diriku karenanya.
Ada apa dengan hatiku?
Ternyata cinta adalah hal paling rumit di dunia. Tanpa kusadari, cinta bisa mengutuk dan bisa mendukung. Aku teringat kisah Harry. Cinta ibunya menyelamatkannya. Aku juga ingin cintaku menyelamatkan Malfoy.
Cinta yang kumaksud adalah cinta sejati. Bukan karena perasaan iba atau terpaksa.
~XOXOXOXOXO~
Sarapan berlangsung dengan sangat formal dan senyap.
Hari ini, makanan yang terhidang tak beragam. Hanya ayam dan martini.
Aku tak makan banyak. Malfoy juga.
Dan aku kembali menjumpai misteri! Kantung kain! Malfoy dan kantung kainnya masih menjadi misteri.
Sewaktu sarapan, ia juga menyisihkan daging dan dimasukkannya dalam kantung kain yang sama yang kulihat kemarin.
Ia juga pamitan ke suatu tempat.
"Kau pergilah ke kamar. Tunggu aku disana, ya? Aku harus rapat dengan Pelahap Maut lain," ia mengecupku di dahi. Aku yakin itu hanya bualan.
Aku pura-pura menurut dan mengiyakan. Kemudian, saat ia menutup pintu, aku melompat turun dan membuntutinya.
Ia berjalan tegang dengan pandangan waspada. Kantung kain itu disembunyikannya di dalam kemeja. Aku bersembunyi di pilar-pilar raksasa bila ia menoleh, dan kembali mengendap-endap di belakangnya bila ia tak memerhatikan.
Ia melewati lorong gelap yang familer dalam ingatanku. Aku ingat lorong ini.
Ini adalah lorong yang menghubungkan kurungan bawah tanah dengan lantai atas. Aku pernah melewati lorong ini saat pertama kali dibebaskan Em. Aku terus membuntutinya dari belakang, beharap ia tak sadar.
Sekarang ia sampai di depan sebuah pintu raksasa.
"Alohomora," desisnya. Pintu itu bergeser ke kanan, dan tampaklah bagian dalam ruangan. Ini ruangan bawah tanah yang tak pernah kuketahui. Ruangan ini bersebrangan dengan tahananku dulu.
Ia berjalan masuk, dan aku menyelinap diam-diam dibelakangnya seperti penguntit. Di dalam, ada jeruji besi.
Tempat ini lebih parah dari tahananku dulu.
Nyaris tak ada lampu dan penerangan. Lubang dan celah angin pun tak ada. Bayangkan bertapa gelapnya ruangan ini.
"Lumos," bisik Malfoy. Ruangan ini jadi sedikit terang, dan aku bersembunyi dibelakang guci tanah liat di sudut ruangan. Aku bisa melihat sampah, kotoran, dan debu serta lumut yang bergelayutan di temboknya. Bau ruangan ini seperti bau selokan!
"Malfoy..." kata suara lemah dibalik jeruji. Mataku menangkap siluet pria muda yang kurus kering dengan rambut hitam. Pipinya tirus dan ia bungkuk. Di sebelahnya, ada seorang gadis yang membantu memapahnya. Gadis itu berambut merah dan...
...Oh, Merlin! MERLIN!
"Potter, Weasley," kata Malfoy sambil menyodorkan kantung kainnya. "Ini makanan dari meja makan. Kucuri waktu sarapan,"
"HARRY! GINNY!" aku meloncat keluar dari persembunyianku. Aku tak bisa menahan emosiku lagi.
"HERMIONE!" jerit mereka semua.
Ya, ampun! Itu benar mereka! Mengapa mereka disini? Aku harus tahu! Aku harus membebaskan mereka!
~TBC~
Balasan reviews di chappie 4
Love,
Juliette Apple
