Malfoy, Malfoy

Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling

...

Malfoy, Malfoy

WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T

by Juliette Apple

Rated: T

Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!

Balasan review ada dibawah :*

Enjoy reading, review please... :D

Note: ganti jadi sudut pandang orang ketiga ;9

~XOXOXOXOXOXOX~

CHAPPIE 4

"Harry! Ginny!" Hermione memekik tertahan. Napasnya tercekat. Harry ada di sana bersama Ginny.

Harry tampak kurus, kelaparan, dan haus. Ginny juga sama saja. Penuh luka dan lemah.

"Mione," panggil Harry. Tangannya terjulur keluar lewat celah-celah kurungan. Tangannya menggapai-gapai, berusaha memeluk Hermione.

Hermione mendekat dengan pandangan mendamba, air matanya mengalir deras seperti pancuran. Hermione melangkah maju dan memburu tangan Harry yang penuh luka dan peluh.

"Aku disini, aku disini, Harry," tangis Hermione. "Trio Emas tidak akan pernah berpisah. Kita selalu bersama sampai akhir. Abadi," katanya melankoli. Jari-jarinya yang ramping terjulur kedalam kurungan dan membelai wajah Harry. Harry tersenyum sendu bercampur bahagia.

"Kukira aku takkan pernah melihat wajahmu lagi, Mione. Ternyata kau disini. Terima kasih, Malfoy," kata Harry sambil tersenyum pada Draco. Draco hanya membalas dengan senyum ganjil yang canggung.

"Malfoy!" Hermione berbalik memandang Draco. "Mengapa kau merahasiakan ini dariku?"

Draco mundur selangkah. "A...aku.."

"Sudahlah, Mione," Harry mengelus pundak Hermione. "Aku yang menyuruhnya tutup mulut,"

Hermione membelalak. "Benarkah?"

Draco berdiri dengan goyah diatas kedua kakinya.

"Aku tak ingin kau khawatir. Masalahmu sendiri sudah banyak. Lagipula, Malfoy selalu membantu kami," jelas Harry.

Hermione mengangguk. Ia merasa agak tenang sekarang.

Pandangan Hermione beralih pada sosok mungil di samping Harry: Ginny.

"Ginevra!" jeritnya. Hermione mengelus rambut Ginny. "Aku merindukanmu..."

Ginny tersenyum lemah. "Aku juga, Mione. Begitu juga dengan Ron," kata Ginny memberi penekanan pada nama 'Ron'.

Hermione bagai dihantam palu raksasa. Ia tersadar. "RON!" pekiknya.

Matanya mendelik. Yang ia lihat bukan pria humoris dengan rambut merah—melainkan pria kurus penuh luka berambut merah yang terbaring di sudut kurungan yang tertutup bayangan.

"Ron! Ron!" teriaknya ganas. "Apa yang terjadi padanya? Tak bisakah ia berdiri? Apa yang terjadi! Ceritakan padaku! Cepat! Mengapa ia—"

"—MIONE!" pekik Harry. "Sudah, jangan terlalu panik. Ia baik-baik saja. Ia sehat, tapi ia terlalu lelah untuk berdiri,"

"Biarkan ia tidur," tambah Ginny prihatin. "Oh, Mione. Kau harus tahu kalau.. kalau Dobby sudah tiada. ("Oh, astaga!" tangis Hermione). Saat kami ber-apparate bersamanya, Bellatrix melemparkan belatinya, dan itu—itu mengenai Dobby. Kami sangat..berduka, Mione. Apalagi saat kami melihatmu ditawan waktu itu. Kami kira kau sudah.. kau sudah.."

"...mati?" sela Hermione sambil membersit air matanya.

"Ya!" Ginny berseru. "Oh, kami tak menyangka kau ternyata masih sehat seperti ini! Ceritakan apa yang terjadi padamu, Mione,"

Hermione melirik Draco lewat ekor matanya. "Ceritanya panjang. Nanti saja kujelaskan," katanya singkat. "Yang terpenting adalah membebaskan kalian dari sini,"

Hermione memperlajari bentuk kurungan itu. Ia memandang lekat-lekat tiap bagian kurungan raksasa itu, dan masih saja tak punya ide untuk membuka kurungan super besar itu.

Ia tercenung dan tiba-tiba saja terlonjak. "Malfoy! Tongkatku ada padamu, bukan?"

Draco seolah-olah takut menatap langsung matanya. Ia hanya berkata pelan, "Tidak."

Mata Hermione melebar. "Terakhir kali ada padamu bukan?"

Draco mengangkat bahunya. "Seharusnya ada padaku. Tapi Bibi Bella..."

"APA?!" Hermione terperanjat. "Oh, crap!"

Harry mendengus pelan. "Tak apa, Mione. Tak usah khawatir. Kau harus tenangkan dirimu dulu baru kau bisa menolong kami. Aku percaya padamu," senyumnya.

Hermione merasa jantungnya jatuh ke perut. "Oh, kau benar." Ia memijat dahinya. Ia sudah dingin sekarang.

Tiba-tiba saja, Draco mendekati Hermione dan memegang kedua bahunya. "Kita tak bisa lama-lama, Mione," bisiknya. Hermione bisa merasakan ketakutan dalam nada suara Draco. Ia tahu kalau akan ada masalah besar bila ia memaksakan diri berlama-lama di dalam sini bersama Harry. Ia mengelus punggung tangan Draco. "Ya, kita akan pergi sebentar lagi," ia mengiyakan pelan.

Harry menatap mereka dengan cara yang amat-sangat aneh. Harry benar-benar bingung karena Draco dan Hermione menjadi lebih dekat dibanding sebelumnya.

"Maafkan aku, Harry. Aku harus pergi. Aku tidak bisa lama-lama, yang lain bisa curiga," desis Hermione. "Aku akan kembali lagi nanti. Aku janji,"

Hermione mengelus pundak Ginny dan Harry pelan, kemudian meniup ciuman jauh pada Ron yang masih tertidur.

Saat punggung Hermione dan Draco menjauh, Harry tiba-tiba saja memekik, "Mione.. apa yang terjadi antara kau dan Malfoy?"

Hermione dan Draco terhenyak. Kemudian secara kompak mereka berbalik menghadap Harry. "Kami sudah menikah," kata Hermione. Kemudian ia menarik Draco menaiki tangga dan menghilang dibalik pintu.

Harry dan Ginny hanya melongo.

~XOXOXOXOXO~

Hermione dan Draco dengan tergesa-gesa berjalan lurus menuju ke kamar mereka. Tangan mereka bertautan. Draco bisa merasakan dinginnya peluh yang mengalir di telapak tangan Hermione, menandakan kalau ia sedang takut.

Langkah mereka tidak seirama. Hermione berjalan seperti sedang dikejar dementor, sementara Draco berjalan selambat siput. "Apa yang merasukimu?" rutuk Hermione. Nada bicaranya jadi seketus Emeraldina. "Cepat sedikit, Malfoy,"

Draco meneguk ludahnya. "Mione, aku mendengar sesuatu dibelakang kita," katanya.

Hermione hanya menanggapi kecut. "Ada apa dibelakang kita?"

"Suara. Ada suara janggal dan.. aku merasa kalau ada orang mengikuti kita," Draco tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, hampir membuat Hermione tersandung.

"Ada apa?" tanyanya bingung. Draco menoleh kebelakang. Tak ada apapun—atau siapapun.

"Kosong," kata Hermione sambil melongokkan kepalanya melewati pundak Draco. Sejauh mata memandang, hanya ada pilar-pilar dan patung ular berderet-deret. Lantai batu yang mereka pijak juga tidak memantulkan suara, menandakan kalau tidak ada yang melangkah.

"Entahlah. Tadi aku melihat siluet seseorang," Draco mengelus tengkuknya. "Hanya perasaanku saja, mungkin,"

Hermione mempererat genggaman tangannya pada Draco, kemudian secepat mungkin beranjak.

Mereka kembali berjalan lurus tanpa bersuara ataupun menoleh. Hanya tangan mereka yang berbicara lewat bahasa tubuh. Tangan Hermione yang dingin menyiratkan ketakutannya, sementara Draco, amat sangat yakin kalau ada yang membuntuti dibelakang.

Mereka sampai di depan pintu kamar mereka. Cepat-cepat Hermione membukanya, kemudian mendorong Draco masuk. Lalu menutup pintu raksasa itu hingga menimbulkan gema keras. Dikuncinya pintu itu rapat.

Diluar kamar, dibalik pilar-pilar yang tadi mereka lewati, Bellatrix Lestrange memainkan rambutnya sambil tersenyum picik.

~XOXOXOXOXOXO~

"Kita harus segera bertindak!" jerit Hermione. "Ayo—ayo! Kita harus susun rencana sekarang!"

Draco memandang ngeri istrinya yang berjalan bolak-balik seperti musang kepanasan. "Tenang..tenang," usulnya.

"Aku tak bisa!" sergah Hermione. "Bagaimana ini? Tersisa delapan hari, Malfoy! Delapan hari untuk menemukan ramuannya! Kemudian Harry! Kita harus membebaskan mereka. Lalu tongkatku! Tong—"

"Shoo!" decak Malfoy. "Kemarilah," panggilnya.

Draco menarik Hermione ke meja rias, kemudian ia meraih perkamen lusuh diatas meja kayu. Draco membentangkan perkamen panjang itu sehingga tampak seluruh isinya.

"Ini peta Malfoy Manor," kata Draco.

"Seperti Peta Perampok," gumam Hermione.

"Betul. Tapi yang ini lebih sederhana," kata Draco ringan. "Kau lihat ini?" tanyanya sambil menunjuk gambar kotak yang tercetak di perkamen. Tertulis kata 'Perpustakaan' besar-besar di kotak itu.

"Perpustakaan? Oh, Malfoy! Rumah ini punya perpustakaan? Kau bengis sekali karena tak memberitahukan hal ini padaku!" sindirnya.

"Maaf," balas Draco datar. "Kita akan kesini. Kita akan mencari buku-buku yang menuliskan informasi tentang Amor vincit omnia,"

Gurat cemas di wajah Hermione sedikit berkurang. "Ide bagus," katanya. "Dan Harry? Kita tetap harus membebaskan mereka bukan?"

Draco menggulung kembali perkamennya. "Kuncinya kurungannya ada pada Bibi Bella," ucapnya. Iris kelabunya bersinar. Ia meletakkan perkamen itu di meja rias dan mendekati jendela. Di luar, udara sangat dingin, padahal ini bukan musim dingin. Siang hari di Malfoy Manor selalu terasa dingin. Selalu begitu dari dulu.

Draco bersandar pada kusen jendela, melirik Hermione yang sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

"Kunci...tongkatku...ramuan...blablabla" yang didengar Draco sedari tadi hanya itu saja. Hermione tak henti-hentinya mencemaskan banyak hal. Ia mengoceh sendiri.

"Aku jadi bingung. Sebenarnya yang terancam mati disini siapa? Aku atau kau?" kata Draco licin.

Hermione bungkam. "Kau, Malfoy," katanya lambat.

"Lalu kenapa kau lebih terlihat takut daripada aku?"

"KARENA AKU MENGKHAWATIRKAN DIRIMU LEBIH DARI KAU MENGKHAWATIRKAN DIRIMU SENDIRI!" teriak Hermione sambil terengah. "Aku tak ingin kau mati!"

Draco tersenyum sendu. "Benarkah itu? Gadis yang selalu kucemooh, gadis keras kepala yang memanggilku ferret, sekarang ingin menolongku?"

"Lupakan itu. Terkadang ada hal yang lebih baik dibiarkan menjadi kenangan kecut saja. Tidak usah diingat," sembur Hermione. "Sekarang mari kita..."

"...tidak," kata Draco. "Aku sendiri sudah pasrah. Tak apa kalau aku mati. Tak apa, Mione."

Hermione melengos. Seperti ada tangan-tangan tak kasat mata yang memukul lututnya sehingga ia nyaris jatuh. "Kau bercanda," sergahnya cepat.

"Aku tidak bercanda. Lagipula, ini bukan saatnya melucu," kata Draco. "Biarkan aku mati, Mione. Aku sudah tidak kuat. Aku bahkan bisa membahayakan dirimu kalau kita nekat mencari ramuan itu. Kurasa aku sudah melihat ujung hidupku,"

"Tidak," desah Hermione. "Tidak."

"Ya,"

"Tidak!" raungnya. "Aku takkan membiarkanmu mati!" emosi Hermione sudah di ujung kepalanya.

"MENGAPA?" Draco meninju cermin sampai pecah. Tangannya yang penuh darah terkulai lemah. Draco sendiri tidak tahu kalau tangannya berdarah.

Hermione membatu di tempatnya.

"Mengapa aku tak boleh mati?" tuntutnya.

"Karena kalau kau mati, aku mati." Jawab Hermione.

Draco terduduk lemas. Darahnya menciprati lantai. Hermione duduk disampingnya. Dalam beberapa menit, keheningan mengambil alih ruangan.

"Mengapa bisa begitu?" tanya Draco tiba-tiba. Nadanya takut dan tak percaya.

"Karena aku sudah berjanji pada diriku. Draco sudah jadi bagian hidupku. Jadi kalau Draco tidak ada, Hermione juga tidak ada. Sederhana, Malfoy. Sederhana." Ucapnya pelan. "Aku tahu ini konyol. Mengatakan hal itu sangat konyol. Aku bahkan tak mencintaimu. Tapi kau selalu jadi bagian hidupku. Entah bagaimana. Tak ada yang bisa memberiku alasan,"

Draco menyandarkan kepalanya pada bahu Hermione. "Kau tidak mencintaiku?" tanyanya.

"Tidak," hanya satu kata, tapi sudah membuat hati Draco teriris.

"Bagaimana kalau aku mencintaimu?" Draco berkata lagi.

Hermione menggeleng. "Silahkan saja. Tapi aku selalu bertanya-tanya pada hatiku. Mengapa aku tidak mencintaimu? Padahal kita sudah...bercinta dan menikah. Tapi ada satu tembok yang belum bisa kutembus,"

Draco merunduk lalu diam.

"Makanya, teruslah hidup. Siapa tahu aku masih bisa...memberimu kesempatan," kata Hermione. Kemudian ia menangkup wajah yang tak dialiri darah itu dan menutup matanya. Dalam keadaan mata tertutup-pun, bibir Hermione tetap bisa—dan selalu bisa—menemukan letak bibir Draco. Cuma ciuman singkat, tapi tidak mudah dilupakan.

Hermione menarik wajahnya menjauh. Mereka bertatapan. Kemudian Hermione menutup matanya lagi. Draco mengira kalau Hermione akan menciumnya lagi, maka ia memajukan bibirnya. Tapi nyatanya, Hermione hanya ingin mengecup bagian yang jarang ia sentuh: hidungnya.

Ia mengecup hidungnya.

"Aku akan terus hidup," kata Draco kemudian.

"Berjanjilah padaku," bisik Hermione.

"Aku janji,"

Dan setiap janji harus ditepati.

~XOXOXOXOXOXOXO~

Bellatrix Lestrange terduduk di kursinya yang dilapisi kain mahal. Putranya, Brandon, sedang minum anggur di depannya.

"Ibu," panggil Brandon.

Bellatrix tak menanggapi. Pikirannya sedang dipenuhi hal-hal keji. Rencana jahat.

"Ibu!" Brandon membating gelas kacanya sampai pecah.

"OH!" Bellatrix mengerang. "Ada apa, Manisku?"

Brandon menyeringai puas. "Apa yang membuatmu begitu uring-uringan, Ibu?" tanyanya. Ia menjilat sisa-sisa anggur di jarinya yang panjang.

Bellatrix hanya diam. Ia meremas sesuatu di tangannya: kunci.

Brandon memerhatikan gerak-gerik ibunya yang gelisah. "Kau tampak lelah. Berhentilah memikirkan masalah pengorbanan Draco, Bu. Kau butuh istira—"

"TIDAK!" tolaknya kasar. "Aku tak bisa berhenti memikirkan hal itu! Pengorbanan Draco berarti kebangkitan Pangeran Kegelapan. Kau harusnya mengerti. Bila Pangeran Kegelapan bangkit, kita akan—merdeka!"

Brandon mengambil gelas baru dan menuang anggur lagi. "Vin Blanc?" tawarnya sambil menyodorkan gelas itu pada Ibunya.

"Tidak sekarang," jawab Bellatrix datar.

Emeraldina sedang berjalan mendekat. Dilihatnya ibu mertuanya sedang duduk berdua dengan suaminya. Ia hendak menyapa, tapi niatnya itu diurungkan saat mendengar kata-kata Bellatrix.

"Aku yakin si Darah Lumpur merencanakan sesuatu. Malam ini juga, ia akan mati di tanganku," ucapnya tajam.

Emeraldina tertegun. Tangannya berkeringat dan wajahnya pucat.

Entah mengapa, Brandon menoleh dan mendapati sosok istrinya yang berdiri kaku.

"Emmie, Sayangku," panggil Brandon cepat. "Mari bergabung dengan kami, Sayang,"

Emeraldina sebenarnya ingin cepat-cepat kabur. Tapi pandangan Brandon begitu memaksa. "Baiklah," ucapnya parau.

Bellatrix menyilangkan tangannya di dada. Brandon memangku Emeraldina. "Kalian amat akrab," sahut Bellatrix cepat.

"Kau aneh, Bu. Tentu saja kami akrab. Kami suami istri," jawab Brandon cepat.

"Bukan itu maksudku, Nak. Maksudku... kalian tampak lebih bahagia dari biasanya. Apa ada sesuatu yang spesial?" tanya Bellatrix penuh curiga.

Brandon melirik Emeraldina yang sudah bersusah payah menyembunyikan rasa tegangnya.

"Tak ada apa-apa, Bella. Sungguh." Kata Emeraldina parau.

"Oh," Bellatrix mendengus. "Kukira ada apa,"

Brandon memandang istrinya lagi. Emeraldina memberikan sinyal-sinyal tidak nyaman pada suaminya.

"Kembali ke kamar, Manisku," perintah Brandon. "Secepatnya," tambahnya sebelum badan Emeraldina bergerak keluar.

"Istrimu aneh," komentar Bellatrix. "Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu. Kalian menyembunyikan sesuatu."

Brandon menghabiskan isi gelasnya dalam sekali teguk. "Tak ada apapun yang bisa dicurigai dari kami. Kami selalu menuruti permintaan Pangeran Kegelapan. Kami juga tak pernah bercinta sesuai dengan kemauanmu," sergahnya.

Bellatrix mendengus sebal. "Itu memang benar. Repot sekali kalau kalian bercinta dan tiba-tiba punya anak. Aku juga dilarang bercinta dulu," Bellatrix tiba-tiba meraih gelas dan menuang anggur. "Aku pernah melanggar titah itu. Terakhir kali aku melakukannya, lahirlah kau," ia mengendikkan kepalanya pada putranya.

Brandon tertawa hambar. "Dan aku ini menghambatmu?"

"Ya. Pada awalnya kau merepotkanku. Sungguh!" kata Bellatrix serius. "Tapi saat aku melihatmu tumbuh, aku jadi bahagia,"

Brandon menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. "Kau akhirnya menerimaku, bukan?"

"Itu benar," Bellatrix mengiyakan. "Tapi kalau kau dan istrimu punya seorang bayi, seharipun takkan kubiarkan ia hidup. Kau dan istrimu adalah Pelahap Maut terbaik yang dipunyai Pangeran Kegelapan. Kalau ada bayi, tugas kalian akan tersendat,"

Dan Brandon menjatuhkan gelas anggurnya sampai pecah.

~XOXOXOXOXO~

Emeraldina setengah berlari menuju kamarnya dan Brandon.

Pikirannya penuh dengan kecemasan. Pertama, Hermione—satu-satunya orang yang bisa menolong kakaknya—akan mati ditangan ibu mertuanya. Kedua, ibu mertuanya akan membunuhnya kalau tahu. Tahu akan hal yang sudah ia sembunyikan selama dua bulan. Tahu kalau ia hamil.

Brandon dan dirinya sudah pernah kehilangan seorang anak. Anak itu masih berupa janin mungil dan tidak berdosa. Emeraldina dan Brandon sangat menyayangi anak mereka itu. Tiba-tiba saja, anak itu harus mati gara-gara Pangeran Kegelapan yang tidak menyetujui hal itu. Kini, ia sudah melanggar larangan bercinta itu. Ia diberi bayi lagi. Tak mungkin ia akan membiarkan anak ini mati lagi. Ia tak mau menyesal untuk kedua kalinya. Tidak akan.

Emeraldina mengunci pintu dibelakangnya. Ia terengah dan menangis takut. Tiba-tiba, pintu terketuk dan ia terlonjak. Dibukanya pintu itu dengan perasaan was-was. Ternyata suaminya.

"Gila!" rutuk Brandon. "Ibu mencurigai kita,"

Emeraldina terisak-isak. "Aku tak ingin yang ini mati. Tidak mau," isaknya menyedihkan.

Brandon terenyuh melihat istrinya. Ia memeluknya pelan. "Tidak. Aku juga tidak mau,"

Emeraldina tersedak tangisnya, kemudian minum air sebanyak-banyaknya.

"Tenang, tenang," seru Brandon. "Kita hanya perlu tutup mulut, oke? Hanya kita berdua saja yang tahu, Emmie,"

Emeraldina mengelus perutnya yang masih datar. "Dia akan tumbuh. Bella dan yang lainnya akan segera tahu!"

Brandon meletakkan tangannya diatas perut istrinya. "Tidak. Untuk saat ini, kita hanya perlu diam saja. Tidak ada yang boleh tahu. Dia akan lahir seperti keinginan kita. Kau ingat dengan Amberly? Amberly sekarang ada di surga. Ia sudah bahagia. Dan adiknya yang sedang kaukandung ini pasti lahir. Jadi tidak perlu khawatir, ya?"

"Amberly..." Emeraldina menangisi janinnya yang sudah dibunuh itu. "Amberly..."

"Cukup Amberly saja. Kali ini, kau akan melahirkannya. Kita harus diam. Jangan biarkan siapapun tahu. Oke, Emmie?" bujuk Brandon.

Emeraldina berhenti terisak. "Oke, Brandy,"

Kemudian Emeraldina teringat Draco dan... Hermione.

"Aku harus bertemu Hermione!"

~XOXOXOXOXO~

Hermione sedang duduk di tepi ranjang. Ia memandang Draco yang tertidur dengan posisi kepala bersandar di pangkuannya. Draco sudah amat sangat lelah. Hermione sengaja tak membalut luka di tangan Draco, ia tahu kalau Draco tak mengizinkannya melakukan hal itu.

Sementara Draco sedang dalam alam mimpi, Hermione sedang dalam alam sekarat.

Ramuan itu, Harry, dan berbagai hal lain berseliweran di otak cerdasnya. Ia sesekali— dan tanpa ia sadari—membelai dahi Draco yang berkeringat dingin.

Tiba-tiba, pintu digedor liar. Ia segera bangkit dan dengan perlahan-lahan meletakkan kepala Draco di bantal yang jauh lebih empuk dari pahanya.

"Ada ap—" ucapan Hermione terhenti saat melihat sosok dengan mata membara dihadapannya. Emeraldina.

Gadis itu mendorong Hermione masuk dan mengunci pintunya rapat.

"Hei—hei! Tunggu!" cegat Hermione saat melihat Emeraldina mengacak-acak lemarinya.

Emeraldina mengambil pena bulu, tinta, dan perkamen. Ia menulis sesuatu.

"Baca ini. Lalu lakukan tindakanmu!" katanya. Kemudian ia pergi bersama hentakan kakinya yang kelewat keras. Draco masih tidur dengan nyamannya.

Hermione memandang perkamen itu.

Bellatrix akan membunuhmu malam ini.

Tongkatmu ada padanya. Ia menyembunyikan tongkat itu di kamarnya, di laci ajaib yang bisa bicara. Ambil tongkat itu segera. Kemudian serang dia sebelum ia melakukan itu duluan. Kalau bisa, malam ini kaburlah bersama Draco untuk mencari ramuan itu.

Note: tadi aku melihatmu masuk ke dalam kurungan Harry Potter bersama Draco. Kau pasti kaget karena mengetahui kalau selama ini ia dikurung. Kalau kau mau ia bebas, buka kunci kurungannya. Kuncinya ada di leher Bellatrix. Ia menjadikan kunci itu sebagai bandul kalungnya.

Dengan cinta,

Emeraldina

Adik iparmu tersayang

Hermione terkejut bagai dihantam palu raksasa.

Ini akan sulit, batinnya. Ia hendak menggulung perkamen itu lagi, tapi ia cepat-cepat berhenti saat melihat ada tulisan lain yang lebih kecil di pinggir perkamen.

Ramuan Tak Terkalahkan karangan Irena Honey—rak nomer 3. Buku dengan kaver biru laut. Ada di perpusatakaan.

Hermione benar-benar menggulung perkamennya saat selesai membaca itu. Ia melirik Draco. Tak tega rasanya membangunkan pria itu. Maka, dengan langkah tegar dan berani, ia berjalan keluar dengan Peta Malfoy Manor dan perkamen dari Emeraldina. Untuk jaga-jaga (karena tongkatnya belum ada padanya), ia mencuri—meminjam sebentar, lebih tepatnya—tongkat Draco yang diselipkan di kemejanya.

Tujuan pertamanya adalah perpustakaan.

~XOXOXOXOXO~

Tangan Hermione menelusuri garis-garis dan bentuk-bentuk yang tercetak di peta. Perpustakaan terletak di sebelah barat. Ia sudah dekat, hanya perlu berbelok sekali lalu berjalan lurus ke depan.

Dimasukkannya kembali peta itu dalam sakunya. Tongkat Draco yang ia curi tadi lengket dengan tangannya, ia memang sengaja memegangnya erat agar tak jatuh.

Kakinya berjalan cepat, takut kalah cepat dengan waktu yang terus berjalan. Ia berbelok dan terdiam, diambilnya peta itu lagi dan diperhatikan seksama. Benar. Perpustakaan tinggal beberapa langkah lagi.

Ia merasa sedikit lega dan was-was. Kakinya terus berjalan cepat.

"Expulso!"

DAARR!

Sebuah patung terbakar di hadapannya. Hermione menoleh kebelakang dengan tatapan horor.

Matanya melebar, kakinya berayun makin cepat. Karena Bellatrix ada dibelakangnya dengan tatapan haus darah!

"Oh, Merlin! MERLINNN!" jeritnya saat ada patung terbakar lagi.

"Itu baru permulaan, gadis kotor!" geram suara dibelakangnya, suara Bellatrix yang penuh dendam. "Confringo!"

Hermione berlari makin cepat, begitu juga dengan Bellatrix.

"AVADA KEDAVRA!" jerit Bellatrix.

Hermione berlari dan merunduk untuk menghindari serangan biadab dari Bellatrix. Pintu perpustakaan sudah ada di pelupuk matanya. Tak terhitung ledakan-ledakan yang tercipta dari tongkat Bellatrix.

"Alohomora!" kata Hermione cepat. Pintu itu berayun terbuka dan ia segera masuk dan menutupnya. Terdengar teriakan Bellatrix diluar. "Colloportus," ucapnya. Dan pintu itu terkunci sendiri.

Ia berlari secepat mungkin.

"Rak nomer tiga!" ia berteriak pada dirinya sendiri.

Ia mendengar jeritan Bellatrix diluar. "Bombarda Maxima,"

DUAR!

Meledaklah pintu itu bersama sebagian tembok. Hermione terpaku sejenak, kemudian kembali mengayunkan kakinya menuju rak nomer tiga di ujung ruangan.

"Mau kemana, Darah Lumpur?" teriak Bellatrix melengking. "Kemarilah.. mari bermain dengan Bibi Bella yang haus darah ini, Manis..."

Hermione terengah-engah. Ia menjerit saat mendengar jendela di sampingnya pecah. Bellatrix memecahkan semua benda berbahan dasar kaca yang ditemuinya, mulai dari jendela, bola-bola kristal, sampai cermin raksasa yang digantung di dinding.

Beberapa pecahan kaca beterbangan dan menyayat pipi Hermione yang tak terlindungi. Kakinya berhenti di depan sebuah rak mahoni yang megah. Ribuan buku ada di sana, dan mencari buku yang dimaksud Em bagaikan mencari jarum dalam setumpuk jerami.

"AVADA KE—"

"Expelliarmus," cegat Hermione. Tongkat Bellatrix terpental agak jauh dibelakangnya. Ini memberinya waktu ekstra untuk sekedar menarik napas.

"Accio buku Ramuan Tak Terkalahkan," kata Hermione. Tak perlu menunggu lama, sebuah buku dengan kaver biru laut terlempar kearahnya. Ia cepat-cepat menangkap benda itu.

Lengkingan Bellatrix terdengar lagi, kali ini murka. "Mau apa kau dengan buku itu?!" jeritnya. Hermione sudah tidak menanggapi. Ia melompati pecahan kaca dan berlari.

"AVADA KEDAVRA!" jerit Bellatrix marah. Hermione bersembunyi dibalik rak kayu dan rak itu meledak menjadi puing-puing.

"AVADA KEDAVRA! AVADA KEDAVRA! AVADA KEDAVRA!" ronta Bellatrix murka.

Rak-rak kayu maupun patung batu yang ada disana hancur menjadi abu. Cedera ringan yang didapat Hermione tak membuatnya berhenti selangkahpun.

"Petrificus Totalus!" balas Hermione yang sedari tadi selalu lolos dari lemparan mantra Bellatrix.

Bellatrix tak kalah pintar. Ia mengelak dan kembali menyerang dengan mantra-mantra lain. Kilat merah meluncur dari tongkat Bellatrix. Hermione membalas kilatan cahaya itu dengan melempar mantra lain. Sebuah kilat hijau menyeruak keluar dari tongkat Hermione dan nyaris mengenai Bellatrix yang sempat lengah. Buku itu dipeluknya dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya memegang tongkat.

Draco, aku butuh Draco, batin Hermione takut. "Draco!" jerit Hermione tanpa sadar.

Bellatrix menghentikan serangannya. "Sia-sia kaupanggil dia, brengsek!" sebuah kilat ungu keluar dari tongkat Bellatrix dan menyerempet bahu Hermione. Bahunya nyeri, berdarah, dan lukanya menganga lebar.

"Ah!" erang Hermione sambil melirik bahunya. Ia kembali melemparkan mantra sambil terus berlari keluar perpustakaan.

"A-a-a-a! Jangan coba-coba keluar kau tikus kecil!" sergah Bellatrix yang melihat Hermione makin mendekati pintu. Tiba-tiba saja, Hermione tersandung. Ia jatuh dan tongkatnya terlempar kemudian menggelinding menjauh. Hermione menjerit. Ia menutup matanya.

"Kena kau, Mudblood!" Bellatrix memekik senang. "CRU—"

"PETRIFICUS TOTALUS!"

Hermione membuka matanya. Bellatrix terdiam seperti patung. Posisinya sungguh seram. Mata membelalak, kaki yang merapat, dan satu tangan terangkat keatas dengan tongkat yang masih menempel di genggamannya.

"Kau tak apa?" tanya si penolong. Hermione menengadah. Ia mengenal sosok itu sebagai Brandon.

Hermione terdiam.

"Kakak ipar? Kakak ipar? Kau tak apa?" tanya Brandon.

Hermione terdiam dan memandangnya lama. "Brandon? Kau baru saja..."

"Aku tahu," katanya kalem. Ia melirik ibunya yang sedang dalam dalam kutukan pengikat tubuh. "Ibu, aku akan melepaskan kutukan ini nanti. Aku minta maaf, bu. Kau boleh membenciku selamanya. Tapi aku mohon, aku tak ingin kau menodai tanganmu lagi. Aku tak ingin kau membunuh lagi,"

Hermione sangat terkejut mendengarnya. Ia pikir Brandon adalah orang yang keji sama seperti ibunya. Ternyata ia punya sisi terang juga.

"Pergilah, kakak ipar. Biar kutangani Ibu," katanya.

Hermione memungut tongkatnya dan berdiri. "Aku tak tahu harus berkata apa," katanya. "Terimakasih... adik ipar,"

Kemudian ia berlari kabur dengan sangat cepat. Brandon memandang punggung Hermione yang menjauh. Namun, Hermione tiba-tiba berhenti dan berbalik.

"Ada apa? Mengapa kau kembali lagi?" tanya Brandon keheranan.

"Aku lupa sesuatu," katanya. Ia berjalan menuju tubuh Bellatrix yang membatu. Bola mata Bellatrix bergerak mengikuti arah gerakan Hermione. Hermione dengan gemetar mengarahkan tangannya ke arah leher Bellatrix. Ia melihatnya. Kalung dengan bandul kunci.

Dengan sekali tarikan, kalung itu terlepas dari leher Bellatrix. Hermione segera menjauhi tubuh Bellatrix dan berdiri sejajar dengan Brandon. "Terima kasih," katanya senang. Kemudian ia berlari menjauh. Kali ini benar-benar pergi dan tak lagi berbalik.

~XOXOXOXOXO~

Draco terbangun dengan perasaan merinding luar biasa.

Ia terlonjak cemas saat mengetahui istrinya tak ada disana bersamanya. Ia tak tahu kalau istrinya mengalami kejadian hebat selama ia tertidur tenang.

Tiba-tiba, pintunya terbuka.

Hermione muncul dengan penuh luka dan dekil. Bajunya robek di sana-sini dan ia memeluk sebuah buku tebal.

"MIONE!" jerit Draco. Hermione meringis. "Hei, Sayang," katanya.

"Oh, astaga! Demi kolor Merlin! Apa yang terjadi padamu! Oh! Lihat luka itu! Dan sayatan itu! Dan darah itu! Dan—"

"Shoo, Malfoy!" sergah Hermione. "Ayo pergi," Hermione menarik lengan Draco yang masih terbengong-bengong.

"Oh!" Hermione memekik pelan. "Sebentar,"

Hermione mengambil sebuah ransel dan memantrai tas itu dengan mantra perluasan tak terdeteksi. Ia membongkar lemarinya. Mengeluarkan gaun-gaun, baju, sepatu, dan beberapa celana serta kemeja Draco.

Ia mendekati meja rias dan menuang semua kosmetiknya. Kemudian beberapa parfum Draco yang baunya sama sekali tidak enak. Beberapa gulungan peta ia masukkan dalam tas itu. Kemudian ia membongkar laci dan menemukan beberapa obat-obatan. Ia mencemplungkan semuanya tanpa pikir-pikir.

Kemudian ia mendekati laci eboni.

Ia teringat laci itu. Itu laci yang dilarang Draco untuk dibuka olehnya. Hermione sudah pernah membuka laci itu sekali (tanpa sepengetahuan Draco) dan ia menemukan kotak hijau toska yang digembok. Ia tak tahu apa isi kotak itu.

"Jangan dibuka," larang Draco.

"Mengapa?"

"Lebih baik barang yang ada di dalam laci itu kita tinggal saja."

Hermione mengangguk setuju. Mereka segera keluar meninggalkan kamar itu dan menguncinya.

"Ada apa di dalam laci itu?" tanya Hermione pura-pura tidak tahu.

"Sesuatu."

"Boleh kubuka?"

"Nanti saja,"

Hermione mendengus sebal mendengar jawaban Draco yang singkat-singkat dan terdengar ketus.

"Sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi," kata Draco.

Hermione menggeleng. "Nanti saja," katanya dengan nada yang sama ketusnya dengan Draco tadi.

Draco mengangkat bahunya. "Sekarang kemana tujuan kita?"

"Kamar Bellatrix," kata Hermione tanpa adanya nada takut. "Aku harus mengambil tongkatku,"

"Kau tak takut? Bibiku bisa..."

"Bibimu sudah ada yang menangani," kata Hermione datar.

"Apa? Bagaimana bisa?"

"Nanti akan kujelaskan. Kautahu jalan menuju kamarnya?"

Akhirnya, Draco memimpin perjalanan menuju kamar Bellatrix. Hermione berpikir kalau kamarnya terletak di lantai atas dengan banyak ornamen sihir hitam. Ternyata kamarnya terletak di bawah tanah. Mereka menuruni tangga dan meluncur lewat perosotan. Sebuah pintu simpel menyambut mereka saat mereka sampai.

Pintu itu gagangnya masih kuat, merkipun catnya mengelupas. "Alohomora," kata Draco yang tongkatnya sudah dikembalikan Hermione.

Hermione berjalan masuk. Kamar itu sempit, jauh dari perkiraan Hermione selama ini. Dinding dan lantainya sangat sederhana. Tidak ada ornamen sihir hitam di dalamnya. Hanya ada lemari kecil dan tempat tidur yang tak kalah kecil.

"Dimana laci cerewetnya?" tanya Hermione.

"Laci cerewet? Maksudmu Harold?" jawab Draco menerka-nerka.

"Siapa disana?" tanya sebuah suara. Hermione menoleh ke kanan dan kiri. Ia tak menemukan sosok lain selain Draco yang berdiri di mulut pintu.

"Gadis rambut semak! Aku disini!" protes suara itu.

Hermione menoleh, dan ia melihat sebuah laci yang membuka dan menutup sendiri. Suara tadi berasal dari laci itu, Si Harold.

"Kau lacinya Bellatrix yang bisa bicara?" tanya Hermione lambat-lambat.

"Benar. Aku Harold the Drawer. Ada yang bisa kubantu?" tanya laci itu.

Mata Hermione melebar senang. "Apakah Bellatrix menyimpan tongkatku di dalammu? Bisakah kau memberikannya padaku?"

Harold Drawer terdiam. "Tentu bisa," katanya kemudian.

"Bagus!" kata Hermione ceria. Draco menautkan alisnya. Ia tahu Harold bersifat picik, dan itu artinya ia takkan membiarkan Hermione mendapatkan apa yang ia mau sebelum dapat bayaran.

"Tapi.." Harold memulai, Draco memicingkan matanya kesal. "Kau harus membayar,"

Hermione terbelalak. Belum ada orang—atau dalam kasus ini laci—yang pernah memerasnya seperti ini. "Membayar bagaimana maksudmu?" tanya Hermione.

"Membayar. Aku tak bisa dikosongkan. Bila satu benda diambil, kau harus mengisiku dengan benda lain, kalau tidak... aku tidak akan memberikan tongkat yang kaumau," kata Harold.

"Oke—oke," Hermione mendengus sebal. Ia membongkar tasnya. "Kau mau kuisi dengan parfum?" ia menyodorkan sebuah parfum yang baunya seperti ikan asin ("Hey, that's mine!" said Draco).

"Tidak!" tolak Harold. "Aku mau yang lain!" rengeknya.

Hermione memasukkan kembali parfum itu ke dalam tas ("Fortunately!" Draco said relief) dan ia mengeluarkan sebuah arloji kecil yang indah.

"Kalau ini?" tanya Hermione. Ia yakin Harold akan menerima arloji itu. Arloji itu dibelinya dengan harga mahal, dan—

"T-i-d-a-k!"

"Apa?"

"Tidak mau yang itu!" rengek Harold lagi.

Hermione kembali memasukkan arloji itu. Ia membongkar tasnya dan mengeluarkan banyak barang-barang lain. Sebuah perekam suara, boneka, botol kaca, topi rajutan yang indah, dan bola ping-pong, tapi semua ditolak Harold.

"Oh!" Hermione menjerit frustasi. "Malfoy! Mengapa laci ini menolak segalanya? Apa sih yang diinginkannya?"

Draco berdeham singkat. "Ia tak ingin barang remeh seperti itu, Mione. Ia ingin sebuah barang yang memiliki kenangan. Barang yang berharga dan sangat berguna. Apa yang tidak ingin kita berikan, itu yang ia mau. Laci ini hanya tunduk pada Bibi Bella. Laci ini memang picik. Kalau ia tidak mendapatkan apa yang ia mau, ia akan terus merengek dan itu akan menghambat kita," kata Draco panjang lebar. "Pikirkan benda yang berharga,"

Hermione terdiam dan berpikir. Kemudian tangannya berayun pelan. "Aku ingat suatu barang yang berharga. Tapi... aku tidak rela,"

Draco menghela napas panjang. "Berikan saja. Kalau tidak, kita akan terhambat disini..."

Hermione merunduk lesu. "Aku tak yakin..." katanya lagi. Kemudian ia menarik sesuatu dari dalam tas: kalung emas. Kalung yang dipakaikan Narcissa pada hari pernikahannya dengan Draco. Kalung pusaka Malfoy.

"Oh Merlin!" giliran Draco yang menjerit. "Kalung Ibu! Kalung yang diturunkan pada setiap mempelai wanita pertama Malfoy!"

"AKU MAU!" jerit Harold tiba-tiba. "Aku mau yang itu!"

"Bagaimana ini?" kata Hermione. Alisnya melengkung tidak senang. "Kau mau anting emas? Aku punya sepasang. Akan kuberikan padamu..."

"TIDAK!" Harold menimbulkan suara rusuh. "Aku hanya mau yang itu!"

Hermione menggenggam kalung itu erat. Draco mengangguk pasrah. "Berikan padanya," kata Draco kecut.

Hermione memandang kalung itu. "Baiklah, Harold. Ini akan jadi milikmu!"

Harold lagi-lagi merusuh. "Akan kuberikan tongkatmu setelah kau memasukkan kalung itu ke dalamku! Ayo cepat—cepat!" katanya tak sabaran.

Hermione mengecup liontin emas yang terikat rantai emas kalung itu. Kemudian dengan gerakan lambat, ia memasukkan kalung itu.

—PLOP!

Tongkatnya melompat keluar. "Maaf Malfoy. Kalung itu kandas di tanganku," sesal Hermione.

Draco meringis. "Lebih baik kita keluar,"

Kemudian secepat kilat, mereka keluar dari kamar itu dan menaiki tangga serta perosotan (perlu diketahui kalau perjalanan keluar lebih susah daripada perjalanan masuk). Mereka berlari ke kurungan Harry.

"Alohomora!" Draco berkata cepat saat mereka sampai di depan pintu. Pintu itu bergeser dan mereka menyeruak masuk. Harry dan Ginny sedang bersandar pada tembok. Ron termenung di sudut kurungan.

"Itu Hermione!" seru Ron heboh.

"RON! RON!" Hermione berteriak senang.

"Sebaiknya kita tidak ribut." Kata Draco.

"Baik," Hermione tersenyum. "Aku akan membebaskan kalian," katanya sambil menarik kunci yang ia ambil dari Bellatrix.

Ia memasukkan kunci itu ke lubangnya, dan pintu kurungan terbuka.

Harry, Ginny dan Ron berbondong-bondong keluar dan menyerbu Hermione. "Oh.. kami merindukanmu!"

"Aku juga! Aku juga!" Hermione berkata bahagia. Ia senang sekali bisa bercengkrama kembali dengan sahabat-sahabatnya setelah terpisah beberapa minggu.

"Mione... sekarang rencananya bagaimana?" tanya Harry.

Hermione mengernyit. Kemudian wajahnya kembali cerah. "Aku punya ide," ia menoleh pada Draco. "Siapkan sapu terbangmu, Sayangku! Kita akan kabur!"

TBC

Julie balas reviews kalian ya!

Tapi pertama-tama, Julie mau bilang...

TERIMA KASIH KARENA SUDAH REVIEW!

Saat fict ini di publish, Julie pikir tidak ada yang mau baca... ternyata ada juga yang baca... TERIMA KASIH SEMUA! *bungkuk-bungkuk sampai patah tulang*

mbak bro: iya, aku cewe dan aku bisa dipanggil begitu... maaf kalau alurnya kecepatan, ya... terimakasih, mohon review kembali XD

Drac M: thank youu :))

Shinta malfoy: entar hepi ending kok Terimakasih sudah review ^^

Shizyldrew: thanks ya sudah baca! ^^

Spaceship: iya, ini multichap :D

Ajeng Puspita: wah, review kamu baru muncul sekarang... Julie juga gatau kenapa.. btw, 'Misi Bunuh Diri' itu apa, ya? Julie newbie jadi nggak tau.. T^T

Hikari rhechen: thankyou sudah baca! Baca terus ya, Julie akan terus update! ;D

Ochan malfoy: dramione means romance! Jadi emang selalu ada scene romance gitu deh! Terimakasih atas dukungannya! :))

Princess: oke, oke, oke! ;)

Fressia Athena: jangan sedih terus! Voldy bakal kalah kok! :D

R. Jack Skelenton: maaf ya kalau kependekan dan buru-buru :D Julie senang Jack mau mampir loo! Julie ngefans sama Jack :D

Moku-Chan: makasih udah review! :))

Fuuah: XD makasih sudah review, ya.. muah, muah! Kecepetan? Maafkan daku *nangis dibawah tetesan jemuran* :D

Ms. Loony Lovegood: maaf, kukira Aunt Cissy itu Death Eater! Wah, wah.. aku salah nih :D

You're a good guesser, sista! Ternyata kamu tau kalo Draco nyisihin daging buat Harry dkk! Wkwkwkwkwk~ terimakasih ya!

P.S: I love all of your stories, keep writing, Loony

Cheerio!

Ladyusa: iya, Drakkie suka Mione lohh :D maaf baru bales review kamu sekarang... padahal kamu udah review dari chappie 2 tapi dibalesnya baru chappie 4 XD wah kamu review chappie 3 juga... saia jadi senang ! makasih!

DraconiSparkyu: penasaran? Baca terrrruuuuuussss! Jangan lupa review! #plakk :D

Malaijahhat: OOC, ya? Waduh maaf, deh! XD Julie still immature mereka kecepetan jatuh cinta? Wah! Sorry! XD

Nyimi-chan: Nyimi-chan review lagi! Julie jadi senang! Myu!

Lintang0007: thanks! ^^

Antares Malfoy: dari dulu aku selalu membayangkan Bella punya baby boy... dan baru diwujudkan dalam fict ini! Hahaha! Terimakasih! :D

Tsurugi De Lelouch: terimakasih sudah baca dan review! Entar hepi ending kok! :D tidak selamanya hujan, pelanginya di akhir, oke?

Deejareed: okay! :D

Supertrapnew: ditunggu aja ya kelanjutannya! Terimakasih sudah R&R! :*

Blackrose: pastinya! :D

Caca: AAA! Baca terus yahh! :3

Lolf: makasih! Baca terus ya! :D

Drac Malfoy: nyesek ya? Tenang, nanti ending nya hepi koK! Hehe :D

PL Therito: terimakasih! Aku jadi semangat nih! :D

Thya. : makasih banyak ya! :))

TarriMAL: sip deh! ^^

Je t'aime!

Juliette Apple

See u in next chapter!