Malfoy, Malfoy
Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling
...
Malfoy, Malfoy
WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T
by Juliette Apple
Rated: T
Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!
Balasan review ada dibawah :*
Enjoy reading, review please... :D
Note: Lucius Malfoy punya tongkat, anggap saja begitu. Lucius sebenarnya baik. Dia dan Cissy sayang Draco, hanya saja ia kurang ekspresif (?) dan terlalu pathetic and miserable. Maybe coward, too... and sometimes cruel. But actually, he just want to be a good father. Voldy used him as a servant. Btw, I like his hair.
~XOXOXOXOXOXOX~
CHAPPIE 5: SOLTAR PALABROTAS
"Kabur?" seru semuanya sambil menatap Hermione kaget. Hermione mengangguk mantap.
"Bagaimana caranya?" cicit Ginny. Hermione memandang wajah cemas Ginny. Ia tahu kalau Ginny tak begitu menyukai sapu tebang—atau terbang dengan sapu terbang. Hermione sendiri juga tak menyukai terbang, tapi yang terlintas di pikirannya hanya itu saja.
"Malfoy, dimana kau menyimpan sapu terbang?" tanya Hermione.
Draco mengangkat satu alisnya. "Di gudang. Ada lima," katanya dengan nada biasa.
Hermione menarik Peta Malfoy Manor dari sakunya lalu mencari-cari gambar yang bertuliskan 'Gudang'. Ia menemukan gambar itu tercetak di tengah gambar 'Ruang Makan' dan 'Kamar Tamu Satu'.
"Mengapa gudang diletakkan ditengah kamar tamu dan ruang makan?" protes Hermione sambil mendelik pada Draco. Draco mengernyit. "Mana kutahu! Manor ini sudah dibangun beratus tahun yang lalu! Tanyakan pada moyangku!"
Hermione mendengus sebal. "Kita akan kesini," katanya sambil menunjuk gambar gudang dengan jari telunjuknya. Harry mengangguk-angguk serius, sementara Ginny dan Ron tampak tegang.
"Lalu?" sahut Ron.
"Kita ambil sapu-sapunya. Lalu melesat keluar," kata Hermione tampak puas. Ia mengikat rambut semaknya keatas dengan kencang. Draco mengernyit.
"Melesat keluar lewat mana?" timpal Draco.
"Jendela, mungkin? Atau pintu luar. Yang penting kita sudah dapat sapunya," jelas Hermione. Draco mengangguk pelan.
Tiba-tiba, dari luar terdengar suara pintu digeser. Mereka semua berjengit kaget dan berdiri kompak. Suara kepak jubah terdengar jelas, menandakan kalau ada yang datang. Suara sepatu yang keras dan berat ikut menegaskan kehadiran orang itu. Ginny merapat pada Harry. Ron dengan tegang mencengkram tongkatnya. Draco melirik tongkat Ron. "Sihir tak berguna disini, Weasley," katanya.
"Apa maksudmu?" geram Ron. Wajahnya sudah merah padam karena stress.
"Pernah dengar ruang penangkal sihir?" cibir Draco buru-buru. "Sihir hanya akan bertahan sampai pintu masuk saja. Satu-satunya sihir yang bisa digunakan disini hanya lumos dan nox,"
Ron mengumpat pelan. "Pantas saja aku tidak berhasil membuka kurungan dengan sihir," Ron menyelipkan tongkatnya dalam saku celana.
Suara itu hilang sebentar. Mereka mundur selangkah. Kemudian suara langkah kaki kembali terdengar.
"Bagaimana ini?" bisik Ginny pelan dan lambat.
Sementara mereka berpikir, suara langkah itu makin kencang dan mendekat. Tangan Hermione berkeringat, begitu juga dahinya.
"Alohomora," terdengar gema suara diluar pintu. Pintu bergeser pelan, dan mereka melihat kaki. Kaki dengan sepatu kulit mahal, kemudian bila pandangan naik ke atas, mereka melihat tubuh tegap dengan jubah hitam dan bila keatas lagi, mereka melihat mata abu-abu dan rambut pirang.
Lucius Malfoy.
"Son?" gerungnya tak percaya sambil menatap Draco. Tangannya terkepal menahan marah.
"Ayah," Draco menyahut dengan datar, seolah-olah tak ada yang terjadi diantara mereka.
Mata Lucius menyipit kejam. Kemudian ia seperti tersadar dari mimpi yang amat panjang. Ia berteriak nyaring, kemudian secepat kilat berlari mendekati para tahanan yang terlepas: Harry, Ron, dan Ginny.
Berhubung ruangan itu amat kecil, sempit, dan gelap, mereka hanya kejar-kejaran di area sekitar situ saja. Harry yang masih lemah hampir tertangkap kalau saja Ron tak menariknya.
Punggung Ginny seolah-olah sudah menempel pada tembok. Matanya berair dan ia memandang ngeri adegan kejar-kejaran Lucius, Harry, dan Ron.
"Keluar!" jerit Hermione yang sudah menarik Ginny mendekati mulut pintu. "Alohomora!" pintu sudah bergeser tebuka. Hermione mendorong Ginny keluar.
Lucius yang mendengarnya segera menghalang-halangi Harry dan Ron agar makin menjauhi pintu. Draco diam-diam mengambil sebuah pecahan patung semen di ujung ruangan. Ia melemparkan pecahan semen itu dan kena tepat di tengkuk Lucius.
Lucius mengerang dan mengutuki putranya.
"Draco! Beraninya kau!" raungnya seram. Harry dan Ron mengambil kesempatan itu untuk keluar dari kepungan Lucius dan mendekati pintu. Mereka keluar dengan pontang-panting. Lucius ikut mengejar.
Hermione keluar dan mencuatkan kepalanya lewat celah pintu. "Draco, cepat!"
Dalam sekali lompat jauh, kaki Draco sudah menapak ambang pintu. Ia keluar lewat celah itu. "Colloportus!" dan pintu itu bergeser tertutup. Lucius menjerit marah. Ia terkurung di dalam.
"Ayo lari, Malfoy! Sebelum ayahmu merapalkan alohomora!" komando Hermione heboh. Draco malah berjalan santai, membuat Hermione menganga.
"Dia takkan bisa merapalkan apapun," sahut Draco. Kemudian ia mengayunkan sesuatu di depan mata Hermione. Sebuah tongkat. "Karena ia tak lagi punya tongkat," ia tersenyum nakal. Hermione tak jelas ekspresinya. Antara senang atau heran. "Pintu kurungan itu hanya bisa dibuka dengan tongkat," Draco menambahkan, seolah-olah bisa menenangkan Hermione yang keadaannya agak kacau dengan ujung-ujung rambut yang basah karena keringat.
"Ayo!" Hermione merengut kesal. "Masih ada yang harus kita lakukan. Harry, Ron, dan Ginny sudah duluan."
Draco dan Hermione berlari menaiki tangga dan bersua dengan Harry diujung tangga. Ginny dan Ron tersenyum menyambut mereka. "Ayo kita ambil sapunya!"
Mereka berlari cepat sampai-sampai menimbulkan gema di lorong-lorong Manor. Jari-jari Hermione sudah kaku karena kedinginan. Ron dan Harry memimpin di depan, padahal mereka tidak tahu jalan. Ginny nyaris tertinggal di belakang karena larinya tak begitu cepat.
"Lewat mana sekarang?" teriak Harry pada Draco.
Draco berteriak nyaring. "Kanan! Kanan!"
Harry berbelok ke kanan, diikuti Ron dan yang lainnya. Sepatunya berdecit ketika berlari. Hermione nyaris terjungkal karena tersandung tali sepatunya sendiri, sementara Ron—yang ceroboh—nyaris menabrak sebuah patung raksasa.
Mereka melewati deretan pintu-pintu kayu yang besar dan kecil. Kemudian, tanpa disangka-sangka, salah satu pintu terbuka.
Tebak siapa yang muncul.
"Harry Potter!" Voldemort berteriak. "Ia kabur! Tahanan kabur! Harry Potter kabur!" desisnya berbahaya. Wormtail merunduk-runduk di belakangnya, mengedarkan pandangan mencela.
"Sialan," Harry berkata pelan. Ia menggenggam tongkatnya terlalu erat sampai urat-urat di punggung tangannya menonjol.
"KEJAR! KEJAAAAAARRRRR!" komando Voldemort ribut. Ia seperti mandor bengis yang melihat salah satu budaknya lepas dari rantai. Dengan segera, kawanan Hermione dikejar-kejar bagai buronan nomer satu.
Segerombolan Pelahap Maut berlari dibelakang mereka. Yang terdepan namanya Roberto Paolo, seorang Spanyol. Tubuhnya pendek—ia malah yang terpendek diantara semuanya—tapi larinya cepat sekali. Ia nyaris botak, matanya berwarna hijau dan ia selalu kelihatan marah.
Esperanza Paolo, anak gadisnya, ada di belakangnya dengan tongkat teracung tinggi-tinggi. "Kejar dia terus, Papa!" kata Esperanza saat melihat ayahnya kelelahan. Suaranya melengking dan terdengar menjijikan macam kelelawar. Hidungnya kembang kempis saking semangatnya mengejar Harry. Ia memang haus darah.
"Crucio!" teriak Roberto keras. Lesat cahaya dari tongkatnya tak mengenai satupun dari para jagoan yang terus berlari. Roberto mendengus marah dengan gayanya yang aneh dan dibuat-buat. Ginny meringis dan berlari makin cepat meski lututnya nyeri.
Narcissa pura-pura mengejar Harry dengan ikut berlari diantara para Pelahap Maut yang murka, meski ia sendiri bukan Pelahap Maut. Ia berada di belakang Esperanza yang menjerit-jerit terus. Lari, Nak. Lari, batinnya cemas.
Roberto menggumamkan sesuatu dalam bahasa Spanyol dan disambut dengan kikikan putrinya yang tolol. Sepertinya ada yang ia rencanakan.
Harry menoleh pada Draco. "Lewat mana, sekarang?" tanyanya setengah berteriak.
"Terus saja! Lurus!" jawab Draco. Hermione sesekali menoleh kebelakang dan setelahnya berlari makin cepat karena takut. Roberto menggeram dan menyorongkan tongkatnya kedepan. Kemudian ia menembakkan cahaya kuning ke arah Harry, cahaya itu seperti laser panas yang siap membelah siapa saja. Rambut Ginny terkena cahaya itu, dan langsung terpotong. Sekarang Ginevra Weasley punya gaya rambut baru yang didapatnya dengan cara yang menyeramkan. Ginny memekik ngeri, dan mendelik pada Ron. "Awas, Ron!" jeritnya. Telat. Ron menabrak pilar marmer dan hidungnya berdarah. "RON!" pekik Harry.
Mereka berhenti sejenak dan menolong Ron berdiri. Draco melihat kebelakang. Roberto tersenyum bengis. "Crucio!" teriaknya. "MERUNDUK!" pekik Draco. Mereka semua merunduk dalam takut. Ron sudah berdiri sekarang, meskipun limbung. Mereka berlari lagi diiringi umpatan kasar Roberto.
Esperanza mulai liar melemparkan cahaya-cahaya kuning yang sama dengan yang memotong rambut Ginny tadi. Harry membalasnya dengan melemparkan cahaya merah mengilat. Beberapa ledakan tercipta.
"Kiri! Pintu dengan gagang perak!" jerit Draco.
Harry berbelok ke kiri, begitu juga dengan Ron, Hermione, Draco, dan Ginny. Ginny adalah yang paling lelah diantara mereka. Ia sudah tak memusingkan rambutnya—lagipula, tak jelek-jelek amat. Terimakasih pada Roberto yang liar dan putrinya yang sinting.
Seseorang merapalkan mantra peledak, dan tanah dibawah mereka bergetar karena sebuah pilar rubuh setelah terkena ledakan. Hermione melihat pintu-pintu. Semuanya hitam legam dan suram, seperti tak pernah terjamah. Ia melihat satu pintu dengan gagang perak.
"Disana, Harry! Itu dia!" tunjuk Hermione.
"Bombarda Maxima," Harry menghancurkan pintu itu sampai puing-puingnya terlempar. Tampaklah lima sapu berderet disamping beberapa peti kayu dan kuali logam. "Accio sapu terbang!" kata Ron. Kelima-limanya melayang kearah mereka. Draco dan Hermione dapat satu. Harry dan Ginny juga satu. Ron juga, dan ia sebal karena harus naik sendirian.
Draco segera menaikinya dan Hermione duduk dibelakangnya sambil memeluk pinggangnya erat. "Pegang erat-erat," perintah Draco. Sapu itu melesat lebih cepat dari perkiraan Hermione. Matanya berair, dan rambutnya liar beterbangan. Harry dan Ginny ada dibelakang. Ginny menjerit-jerit takut, Ron melayang sejajar dengan mereka.
"Kita keluar lewat mana?" pekik Ron jengkel.
"Gerbang depan!" kata Draco. Sapunya melesat paling kencang. Harry menjerit antusias. "Woooooo, Ginny!" serunya. Ginny hanya membalas dengan teriakan kencang. Ron mencibir.
"Harry, bila aku mati hari ini, maukah kau menikahi Ginny dan melindunginya?" kata Ron disela-sela terpaan angin yang menerbangkan rambutnya.
"Aku bersediaaaaawwwwhhhh!" jerit Harry saat sapunya menukik turun untuk menghindari sebuah pilar. Ginny nyaris jatuh karena malu. PYASS! Cahaya bedebah datang lagi dari belakang, mencoba menjatuhkan mereka. Ron menoleh, Roberto, Esperanza dan Narcissa mengejar dibawah. Sisanya berlari lebih cepat ke arah gerbang depan.
"Oh, gawat!" tukas Draco saat melihat beberapa Pelahap Maut merapalkan mantra untuk menutup gerbang depan yang super besar. "Mereka akan menutup pintunya!"
"Apa?" Ron menjerit. "Lalu kita lewat mana?"
Tak ada yang menjawab. Roberto dan Esperanza melempar lebih banyak lagi kilat cahaya. Harry membalas dengan sebuah mantra peledak. Esperanza terkena, dan ia tergeletak jatuh. Roberto berteriak kaget. "Putriku!" jeritnya. "Semua orang boleh memenggalku! Tapi tak ada yang boleh menyentuh p-u-t-r-i-k-u!" ia berteriak murka sambil mengayunkan tongkatnya.
"Avada Kedavra!" teriak seseorang dari bawah. Bukan Roberto. Bellatrix Lestrange. Dan sasarannya jelas-jelas Hermione.
"Bibi Bella!" jerit Draco. Ia beralih pada istrinya. "Kaubilang ada yang menangani dia!"
Hermione meneguk ludah. "Harusnya, sih." Ia teringat Brandon dan aksi heroiknya. Sekarang, Bellatrix ada di sini. Lalu, apa yang terjadi pada Brandon? Hermione bertanya-tanya dalam hati, kemudian melirik kebawah untuk melihat apa yang terjadi.
Bellatrix menarik Narcissa dan meletakkan tongkatnya di leher adiknya itu. "Draco! Turun kemari! Atau ibumu takkan bisa melihat sinar matahari lagi!" ancam Bellatrix licin.
Draco nyaris jatuh dari sapunya. "IBU!"
"Benar! Ibumu!" kata Bellatrix tajam. "SEKARANG TURUN!"
"Jangan dengarkan dia! Kabur, Nak!" teriak Narcissa. Bellatrix menampar adiknya. "Aku tak percaya kaulakukan ini, Cissy!" sergah Bellatrix marah. Narcissa tak peduli. "Jaga putraku, Hermione!" teriaknya dari bawah dengan suara bergetar hebat. Bellatrix makin murka saja saat Narcissa menyebutkan nama "Hermione". Ia sudah muak dengan gadis itu.
Draco gemetar. Hermione memeluk pinggangnya makin erat. "Draco.."
"Aku tak bisa!" jerit Draco. Ia memutar arah sapunya. Ia menukik turun untuk menyambar Ibunya. "Draco! Kau mau mati?" jerit Narcissa. "Terus terbang bersama Potter, Nak! Jangan pedulikan diriku!"
Draco malah mendekat, seolah-olah tak mendengar ucapan Narcissa. "Hermione, serang Bibi!" Kata Draco tegas. Hermione melempar kilat ungu dan ditangkal Bellatrix dengan melempar kilat merah. Percik-percik api tercipta dari bekas ledakan. Sementara itu, Harry, Ginny, dan Ron masih berputar-putar di atas sambil menyerang Roberto dan Pelahap Maut lain yang sudah setengah jalan menutup gerbangnya.
"LARI, IDIOT!" rutuk Narcissa yang kesabarannya mengering. Draco menggeleng bandel. "Tidak tanpamu!"
"Malfoyyyy! Kita harus cepat! Aku sudah tak bisa menahan yang ini!" jerit Harry sambil menangkis lemparan kutukan Roberto dan para Pelahap Maut lain. Ron ikut-ikutan melempar mantra dan berhasil mengenai seorang Pelahap Maut sampai pingsan.
"Menjauh! Ibu bisa mengatasi ini! Draco..." pinta Narcissa memelas. "Aku percaya padamu,"
Draco menggeleng lemah, kemudian menguatkan hatinya dan menjauh sesuai perintah Narcissa. "Potter! Weasley! Cepat! Lewat sini" jeritnya keras-keras. Sapu mereka terbang mendekati gerbang, tapi para Pelahap Maut berhasil menutupnya total.
Draco memandang jendela kaca di sebelah kandil logam yang digantung di langit-langit Manor. "Tutup matamu," bisiknya pada Hermione. Hermione segera menutup matanya sampai muncul kerut-kerut di sekitar kelopaknya. Tanpa pikir panjang, Draco menabrakkan sapunya dengan kaca sampai pecah. Terdengar bunyi PRANG yang memekakkan telinga, sebuah hiasan jendela dari pualam menghantam kepala Hermione. Mereka berada diluar Malfoy Manor sekarang. Sudah berhasil.
"Kau tak apa?" tanyanya pada Hermione. Pipi Hermione berdarah-darah kena pecahan kaca, kepalanya amat pusing, namun ia berkata, "Tak apa."
Harry, Ginny, dan Ron keluar lewah bekas pecahan kaca itu. Wajah Ron berkeringat, ada sebersit rasa bangga di dadanya bila mengingat kalau ia berhasil merubuhkan tiga Pelahap Maut yang berusaha menjatuhkan Harry dan Ginny.
"Ayo," ucap Draco.
Mereka benar-benar diluar sekarang.
Sayup-sayup terdengar teriakan dan jeritan marah dari dalam.
Draco memelankan laju sapunya. "Sekarang bagaimana?" tuntutnya pada Hermione.
Hermione menyeka darahnya. Rasanya perih, dan ia meringis pelan. "Aku dan kau pergi mencari ramuan. Harry, Ron, dan Ginny mencari hocruxes,"
Harry berjengit. "Ramuan apa?" tanyanya disela-sela giginya yang terkatup.
"Nanti saja kujelaskan," jawab Hermione, masih memegang kepalanya yang pusing.
"Kau tak ikut kami mencari horcrux?" kata Ron melengking. Hermione menggeleng lemah. Kuping Ron sudah memerah. "Sejak tadi kau selalu dengan Malfoy! Malfoy! Dan Malfoy! Sekarang kau bilang kau tidak ikut dengan kami? Apa sih yang ada di pikiranmu?!" timpalnya marah.
Hermione berjengit kaget. "Ronald! Tak seperti itu ceritanya!" katanya marah. Ron pura-pura tak mendengar. "Tidak ada tempat untuk Pelahap Maut!" cercanya tanpa melirik Draco.
Draco bisa melihat seluruh kerut-kerut di dahi Hermione berkumpul, kemudian wajahnya menjadi merah. "SELALU ADA TEMPAT UNTUK SUAMIKU!" ia menjerit murka.
Ron menganga lebar, Harry dan Ginny memilih untuk bungkam. Ron membuka mulutnya untuk bicara. "Bloody..."
"...Hell," Hermione merengut. "Ya."
"Kalian menikah?" Ron membelalak.
"Karena tak ada kata lain untuk menjawabnya, kukira sebuah 'ya' sudah cukup," jawab Hermione ragu, takut Ron meledak marah.
Hermione menceritakan segalanya. Tentang janjinya pada Narcissa. Tentang hidup Draco yang di ujung tanduk. Tentang penyerangan di perpustakaan. Semuanya.
Telinga Ron menegak, tangannya licin dan basah karena keringat. Sapunya nyaris oleng. Harry dan Ginny mendekat pada Ron dan Ginny mengelus pundaknya, menahannya agar tidak murka. Tapi Ron malah diam saja.
"Tak mungkin..." Ron mengerutkan hidungnya. "Tapi.. bagaimana kalau kau tidak bisa menemukan ramuan itu? Ibu pernah cerita. Amor vincit omnia itu amat sangat sangat sangat langka. Kau yakin kau tidak sedang menggali kuburmu sendiri?" tanya Ron dengan nada mencela yang terbaik, berharap Hermione mengubah keputusannya.
Draco meneguk ludahnya. Hermione menatapnya tegas. "Oh. Kami bisa!" katanya dengan mantap. Ron hanya mendengus, alisnya melengkung marah. "Kalau aku Bibi Muriel, kalian sudah kucerca sampai mati," tukasnya tajam. "Jadi sekarang bagaimana?" katanya agak lunak.
"Kau yakin kita harus pisah?" tanya Ginny tiba-tiba. Tampilannya berantakan, tapi setidaknya ia tak terluka parah.
"Yah. Kita nanti ketemu lagi di Hogwarts. Tunggu kami," jawab Hermione sederhana.
Harry melirik Ron dan Ginny, berusaha mencari gurat penolakan. Ron masih merengut, tapi diam dan tidak memprotes. Ginny tampak setuju meski kelihatan cemas juga. Itu artinya rencana Hermione disetujui. "Baiklah. Berjanjilah untuk terus selamat. Jaga diri, ya," kata Harry sebagai salam perpisahan. Ron mengangguk singkat pada Hermione dan Draco. Kemudian menyusul Harry yang sudah terbang agak jauh. Ginny tersenyum tipis.
"Stay alive! Be strong! This war won't end us!" teriak Hermione menguatkan. Draco merunduk mengingat ibunya. Tapi ia sudah memantapkan hatinya. Lagipula, bila ia berhasil mendapat ramuan itu, Ibunya akan merdeka.
Kemudian Harry, Ron, dan Ginny menjauh. Mereka benar-benar berpisah sekarang.
"Kemana kita sekarang?" tanya Draco, melirik Hermione lewat ekor matanya.
"Turun. Aku akan membangun kemah." Kata Hermione setengah berbisik.
Draco dengan lambat dan hati-hati menukik turun ke bawah. Yang tampak hanyalah hutan, hutan, dan hutan. Kemudian tampak sebuah bukit yang miskin pohon di belakang Manor. Langit sedang abu-abu suram, dipenuhi gumpalan awan yang tipis-tipis. Angin menderu terus, membuat wajah Draco serasa ditampar-tampar halus. Lengan Hermione terus memeluk pinggangnya erat, seolah-olah takut ia jatuh. Draco melirik sebuah petak rumput hijau terang dari atas. Letaknya di hutan sebelah barat. Ia tahu kalau itu sempurna untuk dijadikan tempat berkemah. Dengan sedikit menyentak, ia menurunkan sapunya.
Hermione cepat-cepat melompat dari sapunya saat mereka mendarat. Kakinya gemetar dan luka di pipinya parah sekali. Pasti gara-gara pecahan kaca, pikir Draco. Hermione mendudukkan dirinya dibawah sebuah pohon tua yang batangnya tegap, gosong dan tidak ada daunnya. Ia bersandar, namun tak tampak santai. Draco meletakkan sapunya dan duduk di sebelah Hermione. Dada Hermione naik turun karena lelah dan takut.
"Kau baik-baik saja?" tanya Draco.
Hermione mengangguk sedih. "Baik. Tapi Narcissa dan Brandon tidak," sesalnya. Wajahnya sekarang pucat pasi dan dingin.
"Brandon?" tatapan Draco terlihat khawatir.
Hermione menceritakan segalanya, semuanya. Mulai dari perkamen Emeraldina sampai kejadian di perpustakaan.
Draco terdiam cukup lama. Hermione merunduk lemas. Kemudian Draco berdiri dan mengacak rambutnya frustasi. "Little bastard itu menyelamatkanmu?" tanyanya tak percaya. Hermione tampak lugu dan mengangguk-angguk kaku. "Oh..." Draco memijat dahinya.
"Ada apa?" tanya Hermione merasakan ketegangan Draco saat ia menyinggung Brandon.
"Aku dan Brandon tak pernah akur. Emeraldina yang menyatukan kami, tapi kami tetap seperti orang asing. Bibi Bella selalu menyuruhnya jauh-jauh denganku karena aku dianggap tidak becus menjadi pengikut Vol—Hidung Masuk." Ratap Draco. Matanya tampak memelas, ada yang di sesalinya. "Aku tak menyangka ia menyelamatkanmu. Kukira ia selamanya akan menjadi budak ibunya yang tergila-gila pada Hidung Masuk,"
Hermione menyingkirkan anak rambutnya. "Tak semua orang yang tampak bengis itu jahat. Justru mereka-mereka yang memalsukan wajahnya di depanmu adalah orang yang sama yang menggali kuburmu di waktu malam," kata Hermione.
Draco menggeleng-geleng tak mengerti. "Apa sih, maksudmu?"
Hermione mengangkat bahunya. "Aku membaca buku Puisi Kematian Muggle karya Andrew John-Wilson,"
Draco hanya mengangguk hambar. "Bicara soal buku, dimana buku Ramuan Tak Terkalahkan itu?" tanyanya. Hermione terperanjat sekali. Ia merogoh tasnya dan mengangkat sebuah buku tebal dengan kaver biru laut. Ia membukanya. Halaman pertama kosong.
"Kosong..." Hermione berkata. Ia membalik halaman berikutnya dengan hidung mengernyit. Ia tak mengerti. Tetap kosong.
Hermione menatap Draco sekilas yang ikut memandangnya ngeri. "Jangan bilang kalau buku itu..."
Hermione bangkit berdiri dan dengan kasar membalik semua halaman. "KOSONG!" jeritnya geram. Draco merampasnya dan ikut-ikutan mencari. Matanya menyipit kemudian melebar, tiap-tiap halaman yang dibukanya kosong semua.
"Tidak mungkin," Draco melempar buku itu sampai menghantam tanah yang sedikit berlumpur.
Hermione menyembunyikan wajahnya dibalik jari-jarinya yang merapat. Pipinya memerah karena marah, begitu juga hidungnya. "Mungkin kita bisa mencoba mantra pemuncul," usul Hermione tiba-tiba sambil mengangkat tongkatnya. Satu tangannya dimasukkan ke saku karena kedinginan, kemudian tangan yang lainnya mencengkram tongkat. Tongkatnya diarahkan pada buku terbuka yang tergeletak di tanah.
"Aparecium," desis Hermione. Buku itu terpental dan tergeletak dengan posisi sampul di atas. Draco cepat-cepat meraih buku itu dan membaliknya.
"Huruf," katanya singkat. Pandangannya beralih dari buku menuju ke mata Hermione yang tampak terkesan.
"Huruf?" balas Hermione terheran-heran. Ia mendekat dan melihat halaman pertama buku. Sebuah huruf. Huruf 'S' yang melayang-layang di lembar pertama. Kemudian muncul huruf 'O', dan 'L'. Ketiganya bergabung di tengah halaman. 'SOL'.
"Sol?" Draco terbatuk.
Huruf 'T' dan 'A' menyusul dan ikut bergabung di ekor kata. 'SOLTA'. Sebuah cahaya kuning muncul, dan huruf 'R' mencuat dibalik cahaya kuning. 'SOLTAR'.
"Soltar..." ucap Hermione dan Draco bersamaan. Cahaya kuning di ujung lembaran kembali hadir, memuntahkan beberapa huruf lainnya. Sebuah 'P', 'A', 'L', 'A' muncul dan menyatu, ada sebuah spasi yang memisahkannya dengan kata pertama. 'B', 'R', dan 'O' tersambung di ekornya. Kemudian 'T', 'A', dan 'S'.
Soltar Palabrotas.
"Kurasa sudah semua," timpal Hermione yakin. "Soltar Palabrotas," gumam Hermione.
Draco mengerutkan dahinya. "Aku sepertinya pernah dengar," ucapnya ragu. Tangannya mengelus dagunya yang keras. Pandanganya terus menempel pada kata-kata asing di lembar pertama. Hermione membalik halaman berikutnya. Masih kosong. Hanya ada dua kata itu saja.
"Apa maksudnya?" Hermione mendongak menatap Draco yang setengah bingung-setengah serius. "Ibu pernah mengucapkan ini sewaktu aku kecil. Soltar Palabrotas. Tak asing lagi di telingaku," Draco mengangguk-angguk.
Hermione memandang tulisan itu kembali. Tiba-tiba saja, seperti ada sebuah tongkat bisbol menghantam kepalanya. Kemudian perutnya terpilin. Matanya berkunang-kunang, dan di pandangannya, Draco menjadi tiga bayangan samar. Ia merasa seluruh dunia sedang berteriak kepadanya, dan tanah bergetar.
Dalam lima menit, ia terjungkal kebelakang dengan tangan memegang kepala. Yang ia lihat hanya Draco yang merunduk dan memanggil namanya. "Hermione... Hermione..."
Setelahnya, semua menjadi gelap.
~XOXOXOXOXOXO~
Ruang Utama hening, gelap, dan menyeramkan. Seorang wanita duduk di kursi beludru hijau toska dengan wajah berkeringat. Di sampingnya, seorang pemuda dengan postur pasrah duduk dengan wajah berdarah-darah. Mata kanannya berdarah dan penuh lebam. Mata kirinya tak berani bergerak ataupun mengedarkan pandangan. Ia bahkan terlalu takut untuk bernapas. Di sekitar mereka, berkumpulah orang-orang dengan jubah hitam dan wajah pencemooh. Mereka semua menggenggam tongkat. Salah satu dari mereka—yang bertubuh pendek dan keji—sedang memapah seorang gadis dengan wajah berdarah.
Di depan wanita dan pemuda itu, seorang yang cacat tubuhnya dan seorang wanita dengan wajah mencela sedang menyandera seorang gadis. Gadis itu cantik, namun tak sepercik-pun ditemukan gurat bahagia di wajahnya.
"Katakan padaku, Narcissa," kata si tubuh cacat. "Apa yang kaurencanakan?"
"Tak ada, Tuanku," jawab wanita di kursi hijau toska.
Perempuan keji di sebelah si tubuh cacat menggeram murka. Si cacat itu—Voldemort—gantian menatap pria yang matanya berdarah.
"Brandon Orion Lestrange," katanya tenang berbahaya. "Apa kau tahu sesuatu mengenai ini semua? Pemberontakan terhadapku, misalnya?"
Pemuda bernama Brandon itu tak bergerak, apalagi menjawab. Ia meludahkan darah dari mulutnya ke arah lantai. Wanita yang bersama dengan Voldemort, Bellatrix, yang tak lain tak bukan adalah ibunya, menganggap itu sebagai penghinaan. Ia menampar pipi putranya yang keras kepala. "Anak bandel!" jeritnya jahat.
"Tunggu, Bella," lerai Voldemort licin pada Bellatrix yang sudah habis sabar. Bellatrix membungkuk-bungkuk mendamba. "Tuanku..." pujanya. Voldemort menghiraukannya.
"Jawab, Brandon. Apakah ada sesuatu yang kauketahui mengenai ini semua? Mengenai kakak iparmu? Mengenai Ibu mertuamu?" Voldemort mendekatkan wajahnya pada Brandon yang gemetar. Beberapa Pelahap Maut yang mengitari mereka terkikik melecehkan, ada juga yang memilih diam dan menonton penyiksaan batin itu.
Gadis yang disandera, duduk di kursi kayu yang rapuh dengan tangan terikat rantai sihir. Matanya menatap lurus-lurus pada pemuda yang nyaris goyah itu.
"Jangan tanya dia! Dia tak tahu apa-apa!" jerit gadis itu takut. Sebuah pembelaan yang riskan. Ia bisa mati.
"Beraninya dirimu!" bentak Bellatrix sambil mengacungkan tongkatnya. Voldemort memberi isyarat agar tidak melangkah lebih jauh lagi. Bellatrix hanya menurut sambil mundur perlahan-lahan dan melirik jengkel putranya.
"Sepertinya Emerald tahu sesuatu," kata Voldemort pada gadis yang terikat. Gadis itu tak berani menatap wajahnya yang sudah tak berbentuk. "Emerald..ceritakan pada kami semua yang engkau tahu,"
Emeraldina, si gadis, hanya menunduk memandang kakinya yang gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. "Jawab aku. Lihat aku," desis Voldemort. Suaranya pelan, namun mampu menggetarkan tulang-tulangnya. Emeraldina menahan genangan air matanya yang hampir merembes.
"JAWAB!" raung Voldemort.
"Jangan dekat-dekat putriku!" jerit Narcissa. Semua mata membelalak menatap sosok wanita yang pucat di bangku. Saat Voldemort balik melihatnya, Narcissa tengah menutup mulutnya. "Maafkan, hamba. Hamba tidak...ah.." Narcissa seperti sedang terombang-ambing dalam kapal menuju pulau maut. Wajahnya tertekuk takut.
Dari ujung ruangan, pintu berdebam terbuka. "Kami temukan dia. Terkurung di kurungan bekas Potter ditawan," kata seorang Pelahap Maut dengan rambut awut-awutan. Narcissa tak bisa menoleh. Lehernya terlalu kaku seperti kayu. Pelahap Maut itu menyodok punggung tawanannya yang menunduk seperti bebek kecil yang malang. Kemudian menyeretnya dan setengah melempar dirinya ke sebelah Voldemort. Pria yang dibawa Pelahap Maut itu jatuh tepat di sebelah kursi Narcissa. Narcissa memaksa lehernya bergerak, ia ingin memastikan siapa yang ditangkap.
Lucius Malfoy, suaminya.
"Lucius," Narcissa mendesah ngeri. Lucius menatap matanya yang sayu.
"Ah... Lucius," Voldemort pura-pura terkesan. Kemudian ia memerintahkan seorang Pelahap Maut untuk membantunya bangkit.
"Tuanku..." ia memelas.
"Tuanku..." Voldemort menirukan dengan nada mencemooh. "Lucius, bergabunglah di pesta kami..."
Lucius berbalik, menatap putri angkatnya yang tegang, matanya nyaris copot. Narcissa bergetar. Bibir bawahnya digigit kuat-kuat.
"Kau tentu tahu kemana putramu pergi?" kata Voldemort. Lucius merasa tertekan. "Tidak tahu..." jawabnya gusar. Voldemort tentu saja tidak senang. "Tidak tahu?" ulangnya marah. "Aku melihat menantu Darah Lumpur-mu dan putramu membebaskan Harry Potter dan teman-temannya. Aku yakin ada yang ia rencanakan! Aku yakin ada pemberontak! Aku yakin ia...ia... Uhuk!" Voldemort terjungkal kebelakang. Wormtail dan Bellatrix menangkapnya sambil membungkuk-bungkuk khawatir. "Oh, Tuanku yang malang! Tuanku! Tuanku!" raung Bellatrix. Voldemort mendesis.
Bellatrix melirik Lucius. "Ini salahnya. Putramu dan Darah Lumpur hina itu! Aku akan menemukannya. Kubunuh ia langsung dan kuambil jantungnya sesuai dengan keputusan! Aku yakin mereka belum jauh," Bellatrix mendelik kasar. Narcissa mengejang di kursinya.
"Jangan, Bella," pinta Narcissa lemas. "Perjanjian sepuluh hari itu..."
"AKU TIDAK PEDULI!" potong Bellatrix geram.
Voldemort yang melemah berdiri di antara Lucius dan Bellatrix, seolah-olah hal itu membantu. "Bellatrix, kurasa kau benar." Katanya, membuat Bellatrix menangis haru karena bahagia dipuji Voldemort. "Temukan Draco dan..Her..Her-siapa?"
"Hermione,"
"Ya. Temukan mereka. Lalu bawa kesini. Jangan bunuh Draco. Ia masih penting buatku," titah Voldemort seenaknya.
"Dan Hermione?"
Voldemort terdiam cukup lama, kemudian ia berbalik mendadak. "Bunuh saja,"
~XOXOXOXOXO~
"Hermione? Hermione?"
Hermione mengerjap-ngerjapkan matanya. Kelopak matanya bergetar, dan ia terbatuk. Draco ada disana, dengan iris abu-abu dan rambut pirang yang ujung-ujungnya basah. Sayup-sayup, terdengar desiran air, dan saat Hermione membuka matanya lebar, ia melihat air tejun dan sungai di sampingnya. Draco membantunya duduk.
"Dimana kita?" adalah pertanyaan pertama Hermione setelah ia sadar.
Draco tersenyum, "Kita di pinggir sungai. Aku tadi haus dan mencari-cari air, lalu menemukan sungai ini. Airnya bersih dan jernih sekali! Aku cukup kerepotan saat harus menggendongmu kemana-mana, tapi—untunglah—kau tidak berat."
Hermione terhenyak, tapi terlalu pening untuk mencerna ucapan Draco. Draco duduk dengan kaki merapat, kemejanya dilepas, dan hanya tampak dada bidangnya yang pucat. Kemudian buku itu, buku Ramuan Tak Terkalahkan, ada di pangkuannya.
Hermione menumpukan pandangannya pada buku itu, seolah-olah buku itu bakal lari kalau ia mengalihkan pandangannya. Draco dengan cepat memandang Hermione dan buku itu begiliran. Kemudian Draco mendekat, buku itu diletakkannya di sebuah batu dekat mereka. Ia membalik buku itu sampai ke bagian belakang. Ia menyodorkan bukunya pada Hermione yang matanya mulai fokus. Jari telunjuk Draco mengetuk halaman yang terbuka.
"Kau lihat, tidak?" tanyanya. Hermione menangguk takjub.
"Bagaimana bisa?" balas Hermione antusias.
Draco mengangkat bahunya. "Ketika aku sedang meneliti buku ini untuk mencari petunjuk, angin menebangkan lembar-lembarnya sehingga terbukalah halaman ini. Aku langsung memeriksanya, dan ternyata ini adalah halaman yang mengulas biografi si penulis,"
Hermione mengangkat buku itu, lalu membaca keras-keras: "Irena Darcior Cellenia Bertharuby Lianèè Honey, atau biasa dipanggil Irena Honey adalah seorang peneliti ramuan dan pencipta mantra-mantra penangkal sihir hitam. Ia pernah menciptakan mantra perlindungan yang mampu menangkis Kutukan Cruciatus. Ia juga pencipta ramuan penumbuh jiwa, yang bisa membuat seseorang hidup sampai berumur 2000 tahun. Dan ia adalah cucu dari Làstima Povana Honey. Làstima Honey adalah pencipta ramuan tak terkalahkan sepanjang masa: Amor vincit omnia yang bisa menangkal sihir hitam yang terjahat sekalipun. Sebagai cucu kesayangan, Irena Honey mewarisi ramuan itu. Làstima memberikannya pada Irena satu jam sebelum ia meninggal."
Draco membelalak. "Ia mewarisi..." ucapannya terhenti.
"Ya. Disini dikatakan kalau ia mewarisi sebotol Amor vincit omnia dari neneknya, yang tak lain tak bukan adalah Làstima sendiri," Hermione berkata lugas. Draco merasa senang untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka.
"Ini mudah!" katanya gembira. "Kita tinggal minta saja, kita ke rumahnya dan..."
"Ia wafat,"
"...apa?"
"Wafat. Meninggal, Malfoy," kata Hermione. Seketika, kesengangan Draco menguap. "Ia sudah meninggal. Dikuburkan di pemakaman keluarga di Bukit Farewell."
"Tunggu, tunggu!" Draco menyela. "Bila ia wafat, bukan berarti ramuan itu ikut hilang bersamanya bukan? Pasti ada di rumahnya.."
"Tidak, Malfoy. Botol terakhir itu dikuburkan di petinya. Bersamanya."
Draco menganga. "Tidak mungkin. Aku tak mau menggali kuburnya demi ramuan itu!"
Hermione menutup bukunya. "Ada cara lain." Ucapnya.
"Apa?"
"Kita ke rumahnya." Hermione menunjuk deretan kata di ujung halaman. "Desa Evanora. Rumah nomer lima ratus lima puluh lima. Desa dibalik bukit,"
Draco terdiam cukup lama. Kemudian membasuh wajahnya dengan air sungai dan berkata, "Kita pergi malam ini,"
TBC
Hi, Julie update chapter 5
Sekarang Julie akan membalas review kalian
Ochan Malfoy: Harold the Drawer memang menyebalkan, aku juga gak suka, sih :D nasib Brandina akan baik-baik saja, deh, bayinya akan kubuat selamat :D
Emmeradone: terimakasih, baca terus ya, biar penasarannya terjawab :D
Kebab: iya, nih, Julie telat update karena laptop merajuk XD
Drac malfoy: bukan, dia bukan pacar Ron sebelum menikah, seratus persen jomblo deh si Mione dulunya XD tentu saja Ron marah, kan Draco itu musuhnya, dia nggak rela Mione menikahi musuhnya, tapi setelah mendengar cerita Mione, dia luluh juga. Bagaimanapun, Ron tetap sosok yang baik :)
Shinta Malfoy: iya, Brandon itu baik kok :D waduh, Mbak Bella di chappie lima gak berhasil di obliviate, nih... XD Harry, Ginny, dan Ron nggak melongo doang sih, dalam hati mereka jungkir balik XD
BlueDiamond: terimakasih ^^ baca terus ya
Song Je Yoo: salam kenal juga ^_^ terimakasih ya sudah read and review
Ladyusa: makasih semangatnya! Aku jadi senang :D
Yummy: oke! ^_^
deejareed: thank you! Baca terus ya, biar penasarannya menguap! :D
putims: oke, deh! ^^
spaceship: thanks! Julie lanjut terus kok :D
ach4: oke, oke ~(^o^~)
kaorumouri: oh, gitu :D Julie gak mau terlalu cepet dan gak mau terlalu lambat juga, biar bacanya enak :D maaf kalo ada salah-salah
caca: sip! ^^
Naomi Averell: salam kenal juga! :D iya, ini fic pertamaku, makanya masih ada cacatnya. Makasih pujiannya. :D Julie juga lebih gampang menulis dengan sudut pandang org ketiga XD
SelfQuill: tidak. Draco gak mati selama ada Mione v(^o^v)
Ryoma Ryan- Le Renard Roux: sip! :3
Aira setiawan: Lucius muncul di chapter ini :D aku mengabulkan permintaan mu *plakk XD
Milkyways99: oke, deh ^o^)9
Ms. Loony Lovegood: hai Loony *peluk peluk, ditendang* kalung Mione akan kembali, tenang sajjaaaa... Jeng jeng jeng.. Harold emang matre tingkat tinggi :0 Brandon heroik di chapter 4 :D parfum Draco ikan asin? Oh, memang, disini seleranya agak-agak...antik XD
Thya. : terimakasihhh~ :D
Tsurugi De Lelouch: Brandina bakal happy end. Mione emang penyelamat :D Go, Mione! :D terimakasih sudah menunggu fic ini! :D
Fuuah: asiikk dapat pastel :D tahu aja kalau aku suka pastel :D kecepatan? Maaf..maaf, semoga Julie bisa lebih baik lagi, deh, makasih sudah review ya :D
Nyimi-chan: myu, apakah actionnya terasa? ^^a oke deh, sesuai dengan request-mu, akan kubuat scene yang manis antara Dramione ^^ tapi manis itu yang seperti apa? Katakan pada Julie, dan Julie akan mewujudkannya di fic depan XD
R. Jack Skelenton: hahaha, :D thx udah review Malfoy, Malfoy, Jack! :D
Moku-Chan: iya, nanti pasti Mione tetap jatuh dalam pesona Draco ^^a
DraconiSparkyu: iya, Brandon di pihak Mione, dia menginginkan Ibunya jadi lebih baik, itu salah satu alasan terbesarnya :D terimakasih semangatnya!
Fressia Athena: iya, happy end, kok.. penasaran? :3 baca trus yaaa!
diwiNerka: terimakassiihhh, Julie senang loh :D baca terus, ya
Me: pasti! \(^o^)/
Je t'aime!
Juliette Apple
See u in next chapter!
