Malfoy, Malfoy

Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling

...

Malfoy, Malfoy

WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T

by Juliette Apple

Rated: T

Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!

Balasan review ada dibawah :*

Enjoy reading, review please... :D

Note: Malfoy, Malfoy akan tamat (meski bukan di ch. ini), untuk fict selanjutnya, ada Rosepius.. terima kasih untuk semua yang mendukung, membaca, dan mereview :D

Note lagi: apakah kalian menginginkan epilog untuk fict ini?

~XOXOXOXOXOXOX~

CHAPPIE 6: KEBENARAN YANG GILA DI PONDOK LASTIMA HONEY

Mereka terdiam di pinggiran sungai, sama sekali tidak bicara.

Setelah Draco mengumumkan kalau mereka akan pergi malam ini, Hermione tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk, lalu duduk di sebelah Draco dalam diam.

Draco—yang benci kecanggungan diantara mereka—sesekali menciprati wajah Hermione yang kaku dengan air sungai, membuat gadis itu tertawa. Tiba-tiba saja, Draco berdiri dan mencelupkan kakinya di air sungai, kemudian menarik Hermione untuk ikut dengannya ke tengah sungai. Gadis itu tertawa, saraf-sarafnya yang malang bisa sedikit santai saat Draco dan dia menyusuri sungai dangkal itu. Draco senang sekali melihat istrinya tertawa, mengingat kalau mereka jarang-jarang tertawa selama masa pencarian ramuan.

Air sungai itu jernih sekali, mereka bisa melihat batu-batu kerikil di dasar sungai. Di tepian sungai, pohon-pohon maple yang daunnya hijau berderet membentuk pagar. Draco berlari ke tepi sungai, dan Hermione mengejarnya. Mereka seperti sepasang anak kecil yang sedang bermain petak umpet ketimbang orang dewasa yang hidupnya di ujung tanduk.

Mereka berjalan menyusuri deretan pohon maple yang indah dan tegap. Hermione benar-benar takjub melihat semua pohon-pohon itu.

Tiba-tiba, Hermione merasa ada lengan besar di belakangnya. Lengan itu memeluknya hangat. Hermione menoleh, dan langsung saja Draco mencium bibirnya. Hanya satu detik.

"Malfoy.." Hermione terheran-heran akan ciuman mendadak itu, namun pada akhirnya ia tertawa. Draco tersenyum melihatnya. Ia merebahkan dirinya di rumput hijau. Hermione ikut merebahkan dirinya di samping Draco, di petak rumput hijau yang lembut. Mereka basah. Baju Hermione basah, juga celananya. Karena Draco tidak memakai atasan, jelas kalau yang basah adalah celananya.

Di samping kepala Draco, tumbuh gerumbulan bunga liar berwarna ungu. Bunga-bunga itu terkena pancaran sinar matahari yang lembut, sinar matahari yang menyusup lewat celah-celah daun maple. Draco memetiknya, dan memberikannya pada Hermione.

"Verbena," kata Hermione, tersenyum. Suaranya menyiratkan kesenangan luar biasa. Draco tersenyum dan memeluknya. Mereka sudah lelah main-main. Sekarang mereka terkantuk-kantuk karena angin sepoi-sepoi bertiup terus, seolah-olah membujuk mereka untuk tidur.

"Kau tahu, aku menginginkan saat-saat seperti ini," kata Draco, rambutnya sudah mulai mengering. Hermione terlentang di sebelahnya, tangannya menggenggam segerumbul bunga verbena yang dipetik Draco.

"Aku juga," sahut Hermione, suaranya tenang seperti sungai yang jernih. Draco menceritakan kisah-kisah lucu, tentang ayahnya dan ibunya, atau tentang kenakalan masa kecilnya. Hermione tertawa lembut dan mencium keningnya. Draco terus bercerita, dan ia berhenti saat tidak mendengar tawa Hermione lagi. Saat ia menoleh, gadis itu tertidur damai dengan serumpun verbena di sela-sela jarinya. Matanya tertutup, dan bulu matanya melentik. Sungguh indah. Rambut cokelatnya mengilap terkena sinar matahari. Draco mendekatinya, dan mencium bibirnya lama.

Bibirnya semanis ceri, dan Draco ingin selalu mencicipi rasa itu. Lama berselang, yang ia inginkan hanya bersama Hermione. Sejak tahun keenam. Sejak saat itu, ia merasa kalau ia bukan dirinya. Sesuatu merambati hatinya yang dingin. Cinta. Mengatakan cinta itu konyol sekali. Apalagi di saat-saat genting macam sekarang.

Setelah semua yang terjadi, ia tahu Voldemort dan antek-anteknya tidak akan membiarkan ia dan istrinya hidup lebih lama. Mungkin, bila ia mati, Hermione akan membangun rumah di Wiltshire, rumah dibawah pelangi. Lalu ia akan menikahi Ron Weasley dengan upacara pernikahan yang layak, tidak seperti upacara pernikahannya. Draco memikirkannya getir. Mengangkat salah satu sudut bibirnya, ia tersenyum sinis membayangkan kematiannya.

Kemudian ia tersadar, Hermione masih disini. Hermione masih bersamanya. Berarti tidak ada alasan untuk meratap.

Sekitar sepuluh menit berlalu. Hermione akhirnya terbangun.

Gadis itu terduduk, dan Draco masih terlentang di rerumputan. Hermione meminta Draco untuk mengepang rambutnya yang kusut. Ia bilang, ia sedikit terganggu dengan rambutnya yang panjang. Draco dengan senang hati duduk, kemudian mengepang rambutnya yang kecokelatan indah. Hermione bisa merasakan jemari Draco yang dingin seperti es sedang mengelus rambutnya dan merangkainya menjadi sebuah kepangan indah.

Draco menyelipkan verbena ungu sebagai sentuhan terakhir dari kepangan Hermione itu.

Sementara mereka bersenang-senang, matahari tenggelam. Draco berdiri, celananya sudah kering. Ia menggendong Hermione di punggungnya, dan Hermione tertawa bahagia. Ketika mereka menyusuri sungai itu lagi, air sungai yang jernih memantulkan cahaya bulan perak—jelas kalau hari sudah berubah menjadi malam. Hermione membuat kemah di pinggir sungai, dan Draco membuat api unggun.

Hermione dan Draco berkeliling mencari makanan, mereka menemukan pohon apel—kelihatannya sih apel—raksasa, dan segera saja Draco memanjatnya.

"Ayo, Mione. Naiklah," kata Draco dari atas dahan pohon. Hermione menunggu dibawah dengan wajah 'mustahil-aku-naik'.

"Aku tidak bisa memanjat," katanya beralasan. Draco terpaksa turun kembali dan membantu Hermione memanjat. Ketika Hermione sudah sampai di atas, ia melihat hal paling indah. Bulan perak yang besar, seperti berlian di kanvas langit malam. Draco memanjat kembali, dan duduk di dahan gemuk pohon apel.

"Indah, ya?" tanya Hermione. Di tangan Draco ada sebuah apel merah segar yang sudah digigit sebagian. Hermione dengan hati-hati bersandar di dahan pohon dan duduk menghadap Draco.

"Ini indah sekali!" kata Hermione memuja. Ia memetik apel yang menggantung di ranting dekatnya. Ketika ia menggigitnya, ia merasakan rasa manis yang tidak biasa.

"Ini bukan pohon apel. Dan ini juga bukan buah apel," putus Hermione. Ia mengendus-endus "apel"-nya dan melirik Draco yang sedang mengunyah. "Aku pernah baca di buku herbologi. Ini pohon austellar. Pohon ini ajaib, dan buahnya memang mirip apel, tapi bukan apel."

"Benarkah?" tanya Draco takjub. "Pantas saja, pohon ini lebih besar dibanding pohon apel."

Setelah kenyang melahap buah "bukan-apel" itu, Hermione dan Draco duduk bersebelahan di dahan yang besar, dan bulan pucat itu membelai mata mereka. Saat Hermione melirik dada Draco, ia melihat bekas-bekas luka yang mengering, ia ingat bekas luka itu. Bekas luka yang didapatnya dari Lucius. Bekas luka itu berbentuk garis panjang yang besar, tampilannya tidak separah waktu mereka bercinta dulu. Bekas luka itu sudah agak mendingan tampilannya dibanding dengan waktu malam bercinta itu. Hermione menyandarkan kepalanya di pundak Draco. Ranting-ranting pohon mengangguk-angguk tertiup angin.

Siapa yang menyangka, di balik daun-daunnya yang rimbun dan hijau gelap, pohon itu menyimpan keajaiban. Draco melihat cahaya di balik daun-daun, Hermione menyibaknya, dan hujan cahaya segera terjadi.

"Kunang-kunang?" bisik Hermione kagum, suaranya begitu senang dan segar. Draco meluruskan jarinya, dan beberapa kunang-kunang bercahaya mendekatinya. Draco tersenyum senang, Hermione menahan napasnya.

Setelah senang-senang bersama para kunang-kunang, Draco tertidur. Hermione mencium keningnya dan tertidur di dadanya. Pohon itu seolah-olah mengerti keadaan Hermione dan Draco. Ranting-rantingnya meliuk-liuk dan daun-daunnya membentuk atap, menutupi mereka berdua. Dahan tempat mereka berbaring membesar, sehingga mereka punya banyak ruang gerak.

Pohon Austellar memanggil kunang-kunangnya, dan segera saja para kunang-kunang itu mendekat dan kembali bersembunyi di daun-daunnya.

Sekitar satu jam mereka tertidur dibawah kasih pohon austellar. Saat Draco membuka matanya, bulan sudah tidak secemerlang tadi. Ia melirik Hermione yang pulas berbaring di dadanya.

"Mione, Mione," panggil Draco. Hermione mengerang, kemudian matanya terbuka.

"Ada apa?" tanyanya. Draco bisa melihat matanya yang merah, ia pasti capek sekali. Draco melihat kemah dan api unggun yang mereka bangun dari jauh. Ia melihat seseorang mendekati kemah itu.

"Ada orang," bisik Draco waspada. Hermione mencengkram lengan Draco. Ranting-ranting pohon austrella mengkerut dan meliuk, menandakan kalau pohon itu takut. Kunang-kunang dibalik dedaunan menyeruak keluar dan kabur, membuat pohon itu makin takut. Dahan pohon itu mengecil tanpa aba-aba. Draco dan Hermione terjatuh. Sebelum hidung mereka mencapai tanah, Draco menggumamkan 'aresto momentum' sehingga mereka tidak terluka dan mendarat dengan nyamannya diatas rumput berembun.

Pohon austrellar mengecil, dan batangnya menjadi rapuh. Hermione menutup mulutnya, dan menahan tangis. Benar-benar pohon malang. Ini semua karena kemampuan sense fear dari Si Pohon. Bila ia takut, ia akan menjadi abu. Setidaknya itulah yang dibaca Hermione di buku herbologi.

"Kita harus mencapai kemah duluan sebelum orang itu," cetus Draco. "Kita ambil ranselmu, sapu, dan buku itu."

Draco tak perlu menunggu lama untuk sebuah 'oke' dari Hermione. Segera saja mereka menyelinap balik lewat pohon-pohon maple yang tampak menyeramkan di waktu malam. Daun-daun hijau mereka berubah jadi biru—menurut Hermione—dan batang tegap mereka seolah-olah punya mata.

Ketika Hermione dan Draco sampai di ujung sungai, mereka melihat sebuah cahaya di seberang sana, mendekati kemah. Hermione melompati sungai, dan Draco membuntutinya. Suara kecipak langkah mereka saat melewati sungai membuat orang-yang-mendekati-kemah-dan-mengeluarkan-cahaya itu menjerit.

"Aku dengar sesuatu di sungai!" kata orang-yang-mendekati-kemah-dan-mengeluarkan-cahaya .

Saat sosok itu mendekat dan terlepas dari bayang-bayang gelap ranting pohon, Hermione dan Draco bisa dengan jelas melihat dia. Ternyata Bellatrix.

Draco setengah menggerutu saat menyebarangi sungai. Sungguh, sungai itu terasa makin berat dilewati saat malam hari. Dewi Fortuna—ada atau tidak ada—memang tidak berpihak pada mereka.

Tinggal beberapa langkah lagi mereka akan memijak area kemah, tapi sosok Bellatrix keburu datang duluan dibanding mereka.

Mata Bellatrix mengilat, antara kemurkaan dan kelicikan. Kemudian ia menyihir air sungai yang sedang dilewati Hermione dan Draco dengan dua lambaian tongkat.

Seketika, air yang merendam mereka sampai mata kaki itu bergulung-gulung, kemudian membentuk wajah seorang monster. Monster air dengan mata bolong, tanpa hidung, dan mulut lebar yang jelek seperti retakan piring porselen.

Monster itu punya tangan—oh, bagus deh.

"Serang mereka," perintah Bellatrix. Suaranya rendah, namun berbahaya. Monster air itu menyambar Hermione dan Draco. Hermione terlempar dan lengannya menghantam batu besar di tengah sungai. Draco melemparkan 'kutukan pembeku' dan salah satu lengan monster itu membeku menjadi es—dan tentu saja tak bisa digerakkan. Monster itu AMAT SANGAT marah. Ia mendorong Draco dengan lengannya yang lain, membuat tongkatnya terlepas dan hanyut. Sekarang hanya Hermione yang punya senjata. Tapi Hermione juga belum tentu bisa menyerang, mengingat kalau lengannya sakit.

"Lakukan sesuatu!" erang Draco sambil memelototi Hermione. Hermione kita tersayang mencoba beberapa mantra, tapi Bellatrix kita tersayang melempar kutukan pengikat tubuh sempurna padanya, sehingga kita tahu apa yang bakal terjadi.

Hermione membatu, dan Draco berteriak-teriak marah pada Bellatrix.

Bellatrix menarik tubuh gadis itu secara sihir sehingga ia bisa memelototi wajahnya, dan membelai dagunya. "Bagaimana rasanya, Kotor?" tanya Bellatrix habis sabar. "BAGAIMANA rasanya diberi kutukan pengikat tubuh?!" teriaknya tanpa ampun. Ia mendorong tubuh Hermione ke belakang, keluar sungai.

"BIBI BELLA!" Draco mengerang, berusaha menghalau monster air yang murka. Kalau kau ingin tahu apa yang Draco rasakan, coba saja guyur kepalamu dengan air es jam dua belas malam, kau akan tahu seberapa dinginnya. Well, jagoan kita—Draco—merasakan itu. Ia bagaikan ditusuk sebilah pedang es dingin yang merusak ulu hatinya. Berkali-kali ia menghalau monster itu, tapi monster itu memojokkan dirinya dengan menyemprotkan air sungai dingin—sudah termasuk kerikil dan batu kali keras—ke wajah Draco. Draco merasa pembuluh darah di hidungnya pecah saat sebuah batu kali abu-abu menghantam wajahnya.

Bellatrix tampak bengis dibawah cahaya bulan. Ia melempar cahaya biru tipis dari tongkatnya ke arah mahkluk biadab yang menyerang Draco, dan monster itu melebur hancur menjadi genangan air biasa. Bellatrix memelototi Draco yang menggigil dan luka-luka. "Nah, Sayang, kurasa aku akan membawamu kembali ke Manor," ucapnya dengan senyum sinis. Ia melirik Hermione yang tubuhnya diikat dengan tali olehnya di pohon raksasa.

Draco menggigil. Sekujur tubuhnya kaku, dan tulang hidungnya nyeri sekali. Dadanya juga sakit. "Ja..jangan.. aku..aku," Draco meracau sambil menggigil.

Bellatrix—entah mengapa—melepaskan kutukan pengikat tubuh sempurna pada Hermione, dan Hermione yang baru saja bebas dari kutukan segera melirik Draco. "Lari, lari!" jeritnya. Namun, sebelum suaminya itu melakukan perintahnya, Bellatrix menyeret Draco secara sihir menuju ke tepian sungai dan melemparkan tubuhnya yang tidak berdaya sampai menghantam pohon pinus. Hermione menengang, dengan ngeri ia memandang. Bellatrix menancapkan tongkatnya di leher Hermione yang urat-uratnya tampak.

"Avada.." ucap Bellatrix manis. "Ke.."

"BIBI BELLA!" jerit Draco. Bellatrix—sambil tersenyum—melirik Draco yang pucat pasi dan berdarah. "Jangan..jangan bunuh.. Mione," kata Draco ngeri.

Bellatrix mengeluarkan wajah prihatinnya—pura-pura—dan mendekati Draco. Jubah hitamnya menyapu tanah berdebu. "Draco Sayang..." ucapnya mengejek. "Bergembiralah! Malam ini juga, kau akan kubawa ke Manor sebagai hadiah untuk Pangeran Kegelapan! Dan Si Kotor ini..." ia menunjuk Hemione dengan jari telunjuknya yang melentik. "...akan mati,"

"TIDAK!" Draco menolak keras. Ia berdiri, namun Bellatrix melempar kilat ungu dan membuatnya kembali duduk. "APA yang akan kaulakukan? APA yang kaurencanakan, heh? MENGAPA kau membela Si Kotor?" erang Bellatrix marah.

Hermione menangis tanpa suara, sosoknya tampak menyedihkan dibawah pantulan sinar bulan yang keperakan dan pucat. "Dari awal, aku sudah mencium... pemberontakan," kata Bellatrix datar. "Sejak kau menikahi Si Kotor, aku sudah tahu kalau kalian punya rencana. Nah..." ia berpaling pada Hermione yang ketakutan dan nyaris menjerit. "Kurasa Si Kotor punya informasi penting mengenai 'pemberontakan' ini. Ayo, Manis, beritahu aku..."

Hermione bungkam, namun air matanya bercucuran terus sampai-sampai matanya merah dan sembab.

Bellatrix jelas tak menyukai hal ini. Ia menyentak maju dan mengerang. "KATAKAN rencana busuknya, Darah Lumpur! Anggap saja ini kata-kata terakhir sebelum kematian menjemputmu!" desak Bellatrix. Kemudian, karena Hermione tidak bergerak atau bicara, dan Draco juga tidak bisa dipaksa bicara, Bellatrix berdiri diam seperti patung jelek yang keji.

Tiba-tiba saja, matanya membesar, dan ia bergerak mendekati ransel Hermione disamping api unggun yang sudah padam karena tersiram air dari monster sungai tadi. Bellatrix mengacak-acaknya dengan marah, ia menemukan sesuatu. Buku Ramuan Tak Terkalahkan itu. Ia ingat jelas, Hermione mencari buku itu di perpustakaan sebelum ia kabur dengan keponakannya.

"AHA!" jeritnya puas. "INI dia! Aku tahu kalian sedang mencari sesuatu! Nah, aku harus tahu apa yang kalian lakukan dengan buku ini!" ujarnya penuh penekanan.

Sementara Bellatrix meneliti buku itu, Draco memberi isyarat pada Hermione untuk mencurangi bibinya yang gila itu. Untunglah tongkat Hermione masih ada padanya. Jadi...

"Expelliarmus!" jerit Hermione lemah dengan tangan bergetar. Tongkat Bellatrix terkena mantra pelucutan itu dan terpental. Tongkat itu melayang-layang sebentar di udara, lalu dengan bunyi 'plung' kencang, tongkat itu sudah hanyut dalam sungai besar dibelakang tubuh Bellatrix.

"LANCANG KAU!" jerit Bellatrix marah, ia tanpa sengaja melempar buku Ramuan Tak Terkalahkan yang sedang ditelitinya. Ia mencekik Hermione yang ketakutan tapi Draco membekapnya dari belakang. Bellatrix meronta-ronta marah seperti kucing yang dicekoki minuman jahe panas.

Draco meminjam tongkat Hermione dan mengikat Bellatrix dengan rantai sihir berwarna hijau yang muncul dari tongkatnya. Dengan cepat, Draco melepas ikatan Hermione. Hermione—dengan tubuh gemetar hebat—langsung menghambur ke pelukan Draco dan mencium bibirnya sampai berbunyi 'emmmhh'. Bellatrix yang melihatnya jelas murka dan takkan memberi ampun. Tapi sekarang, Bellatrix tak punya tongkat dan diikat dengan rantai sihir.

"Well, Mione. Kita apakan bibi Bella?" tanya Draco. Bellatrix mengumpat marah dan terus meludahi Hermione.

Draco mendelik pada bibinya, lalu melirik Hermione. "Sebentar," katanya. Pria itu menghambur ke sungai dan berjongkok mencari tongkatnya. Ia menemukan tongkatnya di sela-sela kerikil sungai. Ia juga mencari tongkat bibinya itu. Tongkat Bellatrix terselip diantara batu besar di tepi sungai dan sebuah lubang yang mirip rumah kepiting. Draco menarik tongkat Bellatrix dan menyimpan tongkatnya sendiri di saku celana.

"DRACO! KEMBALIKAN ITU PADA BIBIMU!" raung Bellatrix dengan wajah paling menyeramkan yang pernah dilihat Draco.

"Dan membiarkanmu membunuh istriku? Tidak akan," tolaknya. Ia mematahkan tongkat itu jadi dua—di depan hidung Bellatrix. Bellatrix melebarkan matanya, sulit memercayai tingkah keponakannya. "Kau.. kau.. KAUUUUUUUUUUU!"

Bellatrix meronta-ronta marah, menjerit seperti orang gila, dan menyentak-nyentak.

"Langlock." Kata Draco, dan lidah Bellatrix terlipat kebelakang sehingga ia tak mampu berucap sedikitpun. Wanita itu makin marah dan mulai menyentak-nyentak lagi.

"Ki..kita.. apa..kan dia?" tanya Hermione bergetar. Draco menaikan kedua alisnya.

"Karena ia hampir membunuh kita—dan akan selalu melakukannya—bagaimana kalau kita..."

Draco berbisik ke telinga Hermione, dan mata Hermione membesar. "Kau sungguh-sungguh? Draco Lucius Malfoy, benarkah itu? Tapi dia bibimu..." kata Hermione dengan nada iba.

Draco untuk sementara tampak bimbang. Jelas itu bibinya. Dan kenyataan miris lainnya: ia ibunya Brandon.

"Pertimbangkan perasaan Brandon," kata Hermione baik hati. Sementara itu, Bellatrix terus beragumen jahat dengan dirinya sendiri. Ia menggumamkan sesuatu yang tak jelas, lalu menyentak-nyentak rusuh.

Draco mendekati bibinya, dan mendorongnya ke batang pohon willow yang kekar di jantung hutan. Diikatnya Bellatrix disana—dengan rantai sihir yang sepuluh kali lebih kuat dibanding yang tadi—lidahnya dibiarkan terikat.

Setelah itu, Draco cepat-cepat berlari meninggalkan Bellatrix yang masih marah-marah tanpa henti. Kemudian ia mengambil sapunya, dan Hermione memakai ranselnya. Buku ramuan itu dipegangnya—beruntung Bellatrix menjatuhkannya tadi.

"Kemana kita sekarang?" tanya Draco.

Hermione membaca dengan teliti bukunya. "Desa Evanora, rumah nomer lima ratus lima puluh lima. Desa dibalik bukit Aulther Putih Menjulang,"

"Apakah itu jauh?" tanya Draco yang memakai kemejanya kembali. Hermione menggeleng sebagai jawabannya.

"Bukit itu dekat dari sini. Mungkin memakan waktu delapan jam bila mau kesana. Sekarang-kah kita pergi?" tanya Hermione agak enggan.

Draco mengangguk. "Waktu kita menipis. Ayolah, kita pergi. Adakah peta rumahnya?" tanya Draco lagi.

Hermione membenamkan hidungnya ke buku itu, dan menatap lekat-lekat halaman yang dibukanya. Kemudian dengan wajah cerah ia mengangguk.

"Ada," jawabnya. Draco menghela napas lega. "Tidak terlalu susah. Ayolah!" kata Draco yang sudah siap di sapunya, ia sudah tak sabar. Hermione mengempit bukunya di ketiak lalu naik bersama Draco ke atas sapu. Ranselnya sudah ia pakai di punggung, dan kemahnya—yang rusak dihantam air—sudah ia singkirkan dibalik semak-semak.

Dengan agak kasar, mereka naik ke angkasa. Langit diatas mereka begitu kelam dan gelap. Hanya ada bulan yang semakin memudar di langit. Mereka bisa melihat bintang-bintang yang indah di angkasa, tanpa tahu nama dari kesemua bintang-bintang itu. Ada awan tipis abu-abu misterius di angkasa, dan Hermione merinding karena kedinginan. Draco juga kedinginan, tapi punggungnya tidak, karena Hermione merapat pada punggungnya dan memeluk pinggangnya.

"Kau sudah menemukan arti 'Soltar Palabrotas' itu?" tanya Draco tiba-tiba, melawan dingin udara yang menampar mukanya seperti cambuk.

"Tidak," Hermione mendesah kecewa. "Kalau kau? Bukankah kau bilang kau pernah dengar?"

Draco terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata, "Ya. Ibu dulu sering menyebut-nyebutnya sebelum aku tidur,"

Hermione mengerutkan keningnya, berpikir keras. "Sebelum tidur?"

Draco mengangguk, rambut pirangnya bergoyang lembut.

"Aneh sekali bukan. Seorang Ibu menyebut-nyebut kata asing sebelum anaknya tidur. Tapi... Narcissa tak akan melakukannya tanpa alasan," kata Hermione mencoba mencari jawaban. "Coba pikirkan, apa yang kira-kira dibacakan seorang Ibu pada anaknya sebelum tidur."

Seketika itu juga, Draco berteriak menyimpulkan. "Lagu pengantar tidur! Atau—atau dongeng!"

"Itu dia!" kata Hermione bersemangat. Draco menjadi cerah.

"Aku ingat sekarang," cetus Draco tiba-tiba. "Soltar Palabrotas, jangan bunuh diriku. Dia yang jahat mati, dibawah cahaya kuning keemasan. Apakah kau akan mati dalam pelukku, Sayang? Mari mati berdua dalam kekejaman Soltar Palabrotas,"

"Apa itu, Malfoy?" tanya Hermione setelah mendengar ucapan Draco.

"Itu lagu tidur, Sayangku!" Draco menyimpulkan cepat. "Itu lagu tidur!"

"Bisa kau ulangi lagi?" Hermione mengajukan. Draco kembali menyanyi.

Soltar Palabrotas, jangan bunuh diriku

Jangan bunuh kekasihku

Soltar Palabrotas, ambilkan tali

Mari gantung diri, Sayang

Soltar Palabrotas, kalau bukan dia yang mati

Maka aku yang mati

Soltar Palabrotas, dia yang jahat mati dalam cahaya kuning keemasan

Apakah kau akan mati dalam pelukku, Sayang?

Mari mati berdua dalam kekejaman Soltar Palabrotas

Hermione tercengang. Bukan karena suara Draco yang amat bagus—nyatanya, suaranya biasa saja. Tapi liriknya.. untuk sebuah lagu tidur, itu lirik yang amat jelek—dan menakutkan, tentu saja.

"IBUMU menyanyikan ini UNTUKMU sebelum kau TIDUR?" tuntut Hermione tak percaya. "Kalau ibuku yang melakukannya, aku pasti tak bisa tidur. Nadanya sangat mencekik. Seram, sekali," ia bergidik.

Draco malah menyanyikan itu terus di setengah perjalanan. "Aku tak pernah takut pada lagu ini," katanya meremehkan. "Ibuku bilang, ini lagu bersejarah yang punya banyak misteri." Draco bergumam. Sapu mereka melaju terus tanpa henti, malahan makin cepat karena Draco tak ingin berlama-lama lagi.

Mereka melewati selimut malam yang gelap dan mencengangkan. Rambut mereka tertiup angin kencang. Dibawah sana, ada sungai panjang yang meliuk-liuk. Dari atas, airnya tampak seperti kaca hitam yang memantulkan sinar bulan yang mistis. Beberapa pohon pinus dibawah sana tampak seperti garis-garis lurus yang memenuhi tanah dan berjejal di hutan. Setelah lima jam perjalanan yang berat dan dingin, mereka melihat semburat keemasan di langit, dan keadaan sudah tak segelap tadi. Mereka tahu kalau pagi sudah datang.

"Itu bukitnya!" seru Hermione senang, ia melihat gundukan tanah tinggi dari jauh. Sekarang masih subuh, dan udara sangat dingin dan menggigit, tapi Draco dan Hermione tak mau selangkahpun berhenti. "Tinggal kesana, ke balik bukit! Oh, ternyata ini tak sesulit yang kubayangkan! Bahkan tak sampai delapan jam kita berkeliaran di langit!" seru Hermione semangat.

Draco yang lelah dibangunkan oleh awan-awan merah jambu yang menggantikan posisi awan kelabu malam hari. Ia tak menyadari kalau fajar seindah ini. Hermione—yang kelewat senang—mencium belakang telinga Draco, membuat pria itu geli.

"Aku janji akan menciummu saat kita berhasil menemukan ramuannya," kata Draco senang. Hermione terkikik dibelakangnya, kepangan Draco masih bertahan, dan para verbena yang diselipkan Draco di rambut cokelat gadis itu juga tidak rusak.

"Lebih cepat—lebih cepat, Malfoy!" perintah Hermione. Draco dengan senang hati mempercepat lajunya. Hermione tertawa-tawa senang saat mereka menabrak burung layang-layang (menurutnya itu seru?).

"Ngomong-ngomong, kau selalu memanggilku 'Malfoy'," protes Draco saat sapu mereka mendekati bukit menjulang, dibalik awan keunguan dan merah jambu tipis.

"Memangnya aku harus memanggilmu apa? Drakkie Tersayang?" balas Hermione sedikit konyol.

Draco hampir menabrak sebatang pinus, saat mereka terbang rendah.

"Tidak! Kau terdengar seperti Pansy yang menjijikkan!" Draco mengerang jijik.

"Lalu? Kau mau kupanggil apa?" Hermione memutar bola matanya.

Draco menyeringai tipis. "Draco. Tentu saja 'Draco'," katanya.

Hermione memutar bola matanya lagi. "Oke. Draco,"

Dan kita bersyukur karena Draco tak lagi menabrak pinus.

Sapu mereka terbang dengan sangat ringan di langit, seperti pesawat kertas yang melayang tinggi diterbangkan angin sepoi-sepoi. Mereka sudah melintasi bukit—memutarinya—dan sekarang mereka melihat tujuan mereka.

Sebuah desa, dipenuhi gubuk-gubuk dengan atap jerami. Rumah-rumah bata berjejer rapi, banyak pohon yang ditanam, kebanyakan pohon jeruk yang rimbun. Mereka bisa melihat orang-orang keluar dari gubuknya subuh-subuh, masih mengenakan baju tidur dan menguap. Draco mencari-cari tempat aman untuk mendarat. Dan ia mendarat di sebuah jalan becek yang belum dipadati orang.

Draco dan Hermione bergandengan tangan setelah turun dari sapu, menyusuri jalanan berwarna kusam. Orang-orang baru saja keluar dari gubuk mereka. Tangan mereka dipenuhi keranjang buah dan botol-botol susu. Hermione melihat seorang gadis kecil dengan kepangan sedang bermain-main dengan kucingnya. Hermione menarik Draco ke arahnya, dan mendekati si gadis untuk bertanya.

"Gadis kecil, bisakah kau membantuku?" tanya Hermione ramah. Gadis itu membelai kucingnya dengan sayang, kemudian menatap Hermione dengan ramah juga.

"Tentu, Nona," katanya dengan sebuah senyum lucu.

"Nah," kata Hermione. "Bisakah kau memberitahuku dimana rumah Irena Ho..."

Seketika, senyum diwajahnya menghilang. Gadis itu melempar kucing yang sedang dipangkunya. "PAPA!" jeritnya histeris sambil mundur perlahan. Seorang pria muda dengan janggut tipis dan mata biru keluar dari gubuk sambil membawa kapak. "ADA APA?" tanyanya pada gadis itu. Gadis itu mendekat dan bersembunyi dibalik ayahnya.

"Mereka..mereka bertanya tentang Si Malapetaka," kata gadis itu gemetar, tangannya teracung menunjuk Draco dan Hermione yang membeku. Ayah gadis itu menggerutu dan menyuruh anaknya masuk rumah, kemudian ia berpaling pada Draco dan Hermione.

"Lancang benar mulut kalian," katanya galak. Kapaknya masih digenggam.

"Kami.. kami hanya bertanya!" jelas Draco membela diri. "Kami ingin tahu dimana rumah Ire.."

"CUKUP!" pria itu menutup kupingnya. "Jangan sebut nama kotor itu. Sekarang pergi sebelum ada yang mati!" kemudian pria itu pergi dengan geram sambil memainkan kapaknya yang tajam.

Draco membelalak cukup lama. Hermione mengernyit tidak puas. "Orang gila," katanya tiba-tiba. "Kita hanya bertanya!" gerung Draco marah.

Hermione meremas bahunya. "Biarkan saja dia! Masih banyak orang disini yang bisa kita tanyai. Mari kita bertanya pada orang lain."

Dan usulan itu diterima. Mereka berkeliling, mendekati semua orang yang lewat: seorang ibu dengan gaun biru, bocah lelaki yang bekerja memerah susu sapi, gadis terpelajar dengan mata hijau toska, dan berbagai orang lainnya.

Reaksi mereka selalu sama.

"Jangan sebut nama kotor itu," lalu, "Pergi sebelum ada yang mati," atau, "Jangan dekat-dekat rumahnya!"

Hermione sudah muak dengan semua ini. Draco menjadi amat geram, apalagi saat matahari sudah mulai bersinar dengan teriknya. Mereka capek sekali berkeliling, mereka juga kecewa karena tak ada yang mau menjawab. Dan tentu saja, mereka bertanya-tanya, siapakah Irena Honey itu?

Sampai pada akhirnya, mereka melintasi alun-alun desa. Dengan keberanian dan kekuatan yang tersisa, Hermione mengatur agar suaranya terdengar manis.

"Tuan yang baik, apakah kau tahu tentang Irena Honey yang tinggal di rumah nomer lima ratus lima puluh lima?" tanyanya sabar.

Pemuda yang ia tanyai hanya melongo, kemudian dengan kemarahan memuncak pria itu memarahi Hermione dan menyuruhnya pergi saja. Draco menyembunyikan Hermione dibalik tubuhnya, agar semburan marah si pemuda tidak mengenai istrinya itu.

Pria itu terus mengamuk sampai-sampai mengundang orang untuk menyaksikan apa yang terjadi. "Mulutmu begitu tidak sopan! Si Malapetaka sudah bertahun-tahun tak disebut, dan sekarang kau menyebut namanya seolah-olah ia adalah orang biasa? Oh, dasar sinting! PERGI SEKARANG SEBELUM ADA YANG..."

"Mati?" ucap sebuah suara ditengah gerombolan manusia yang memadati alun-alun. Pria itu menoleh kebelakang, dan matanya langsung membelalak ngeri. Ia segera pergi dengan takut sambil merunduk. Hermione dan Draco melihat siapa orang yang berucap tadi.

Seorang nenek tua berdiri dengan alis melengkung jahat, hidungnya mancung dengan tahi lalat di bawah bibirnya yang pucat. Ada ribuan keriput di wajah tuanya, dan kepalanya seratus persen uban murni. Ia bungkuk, dan memakai pakaian yang sungguh aneh. Kalung dari lobak, baju dari kain tebal yang murahan. Sepatunya terbuat dari kulit sapi, dan kelihatan berat. Dengan tertatih ia mendekati Hermione dan Draco. Mata kecilnya yang jahat dan berwarna biru menatap mereka galak.

"Apa yang kalian inginkan?" desisnya. Hermione merapat pada Draco. Dengan berani ia berkata kalau ia ingin bertemu Irena Honey. Wanita itu mendelik garang, lalu dengan cepat ia berkata, "Mari ikut,"

Dalam sekejap saja, mereka berjalan menyusuri alun-alun diiringi dengan tatapan jijik dan tak sedap dari orang-orang yang melintas. Nenek itu sepertinya tak peduli—sepertinya ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.

Mereka melewati deretan pohon karet yang menjulang tinggi, dan meninggalkan area desa. Sebuah jalan batu terpampang di depan, dan nenek itu menyuruh mereka lewat. Mereka—dengan curiga—melewati jalanan batu itu sambil bergandengan, takut pada nenek misterius itu. Setelah jalan batu, masih ada lagi yang harus mereka lewati: sebuah jembatan dengan tali yang bergoyang dan kayu serapuh kertas.

Setelah saling meneguhkan diri—dan menelan ludah—mereka berjalan dengan ragu melewati jembatan goyang yang seram itu. Nenek itu ada dibelakang, dengan punggung bungkuk yang mengerikan dan mata yang terus menatap tajam.

Di langkah-langkah pertama, jembatan itu bergoyang terus dengan gilanya, dan ada saatnya ketika Hermione nyaris jatuh karena menginjak kayu yang amat rapuh dan amat rusak. Untung Draco menangkapnya.

Di ujung jembatan, ada sebuah rumah dengan halaman penuh lobak, wortel, dan kentang. Saat mereka sampai, si nenek tidak mengizinkan mereka menyentuh lobak-lobaknya (menurut si nenek, lobak-lobak itu adalah sahabatnya). Mereka sampai di pintu rumah. Mereka bisa membaca angka keemasan yang digantung di pintu depan: lima ratus lima puluh lima.

"Inikah rumah Irena Honey?" tanya Draco dalam bisikan. Hermione mengangguk ragu. "Sepertinya, Draco." Jawabnya gusar.

Nenek itu tanpa banyak bicara mengambil gantungan kunci besi besar dari dalam sakunya. Ada sepuluh kunci di gantungan kunci bulat itu, dan salah satunya adalah kunci pintu depan rumah ini. Setelah menemukan kunci yang tepat, nenek itu membuka pintunya, dan tampaklah bagian dalam rumah yang begitu rapi, bersih, dan indah.

Mereka dipersilahkan masuk ke dalam. Ada tangga spiral berwarna biru gelap di dekat pintu masuk, menandakan kalau rumah itu bertingkat. Nenek itu tidak membiarkan mereka berlama-lama memandangi tangga. Ia segera menggiring mereka masuk ke sebuah ruang dengan nuansa biru pastel musim semi. Ada meja bundar di tengah ruangan—mirip seperti meja di kelas Ramalan, pikir Hermione—kemudian ada beberapa kursi kayu sederhana. Di ujung ruangan, ada deretan meja panjang dan rak-rak buku raksasa yang penuh sesak dengan buku-buku berdebu.

"Ayo, Anak-Anak," kata si nenek yang berubah ceria. "Duduklah—duduk!"

Draco dan Hermione memilih untuk duduk berimpitan di sofa beludru di dekat jendela. Bila memandang keluar jendela, Hermione bisa melihat laut biru dan pohon karet yang tinggi-tinggi dan lebat.

"Nah," ucap si nenek sembari menarik kursi untuk dirinya sendiri. Ia duduk berhadapan dengan Hermione dan Draco. "Mengapa kalian mencari ibuku?" tanya si nenek tanpa keraguan. Draco mencondongkan tubuhnya.

"Almarhum Irena Honey...adalah ibu anda?" tanyanya blak-blakan. Nenek itu tertawa seperti dibuat-buat lalu mengiyakan.

"Ia ibu yang tidak baik." Kata nenek itu sambil menggeram aneh macam serigala. "Aku ditakuti yang lainnya karena aku aneh. Dan ini semua ulah ibuku yang tidak normal!" protesnya dengki.

"Maaf.. tapi bisakah kau menceritakan apa yang terjadi?" tanya Hermione malu-malu, takut kalau si nenek bakal marah. Tapi ternyata si nenek hanya tersenyum dan berkata 'iya'.

"Baiklah. Aku mulai dengan namaku. Namaku Kelly Honey. Cicit dari Làstima Honey si genius yang menciptakan Amor vincit omnia dan aku putri dari Irena Honey yang sinting. Aku akan menceritakan tentang ibuku. Ia dibenci para masyarakat desa, kalian tahu? Semua orang jijik dan takut dengan dia. Itu sebabnya ia dipanggil Si Malapetaka dan semua orang merasa hina sekali bila menyebut namanya. Kalian pasti bertanya-tanya tentang ini semua. Benar tidak?"

Hermione dan Draco mengangguk kompak. Kelly membenarkan posisi duduknya yang kurang nyaman, dan melanjutkan.

"Ia membunuh sebagian warga desa beberapa tahun yang lalu. Tidak ada pembantaian sebesar itu sebelumnya. Malam itu, ia sedang menciptakan ramuan terhebat sepanjang masa. Dan ia butuh darah ribuan warga desa untuk bisa membuat ramuan tersebut. Jadi ia menyelinap ke rumah warga, dan membunuh mereka. Masing-masing warga diambil satu tetes darahnya, dan sudah terkumpul seribu tetes—berarti seribu orang mati. Dan ternyata..."

Nenek itu menahan napasnya. Draco dan Hermione tak bisa menahan diri untuk tidak penasaran.

"...kurang dua tetes darah lagi," kata Kelly dramatis. "Ia berniat untuk membunuh dua orang lagi dan mengeruk darah di jantung mereka (note: maaf, Julie tak bermaksud membuat siapapun jijik) lalu mengambil tetes darah mereka. Tapi.. sebelum ia melakukan itu... ia dibunuh. Dibakar hidup-hidup sampai mati! Setelah itu, warga desa membenciku, dan mengucilkan aku. Mereka pikir aku ini seperti ibuku. Tapi aku TIDAK seperti dirinya. Aku ini baik-baik saja, aku normal! Warga desa akhirnya tak mau menyebutkan nama ibuku, karena dia begitu kejam! Keji!"

Hermione dan Draco meneguk ludahnya ngeri. Kelly wajahnya merah karena emosi, tapi kini ia sudah melunak kembali.

"Nah, Anak-Anak, apa yang kalian inginkan sampai-sampai harus mencari ibuku?" tanya Kelly dengan mata melengkung. Kerut-kerutnya seperti bertambah banyak saja.

"Kami ingin amor vincit omnia," kata Draco berani.

Seketika itu, mata Kelly berubah kejam. Matanya berkilat galak.

"TIDAK ADA!" geramnya jahat. "Tidak ada disini! Atau dimanapun! Tidak ada!"

Ia mendorong jagoan-jagoan kita keluar ruangan dengan kekuatan penuh. Tak ada yang menyangka kalau ia begitu kuat, tak seperti tampilan luarnya. Hermione dan Draco tentu saja bingung dengan perubahan suasana hati yang sangat mendadak itu.

Hermione berbalik, dan menghalau Kelly yang terus mendorong. "Maaf, Kelly! Kami betul-betul butuh! BUTUH SEKALI!" jerit Hermione. "Kau harus dengar!"

Kelly yang urat-uratnya menonjol itu mulai melunak sedikit. Ia mendengus dan menarik mereka masuk lagi. "CERITAKAN PADAKU," katanya masih dengan nada jelek yang jahat.

Hermione—dengan air mata palsu untuk membujuk dan nada melankoli—menceritakan segalanya, bahkan nama Narcissa yang malang ikut terseret. Ia menceritakan betapa menderitanya Draco, Emeraldina, bahkan Brandon. Kelly menatapnya tanpa arti, ekspresinya susah dibaca dibalik kerut-kerut itu. Setelah Hermione bercerita panjang lebar dengan nada memelas yang hebat, Kelly beranjak dari duduknya dan meminta buku ramuan tak terkalahkan itu.

Hermione memberikan buku Ramuan Tak Terkalahkan pada Kelly, dan nenek itu memeriksanya dengan teliti lewat matanya yang menyipit serius. "Soltar Palabrotas," katanya penuh penghayatan.

"Anda tahu sesuatu?" timpal Draco yang sangat penasaran.

Kelly melempar buku itu ke meja bundar di tengah ruangan.

"Itu cerita legendaris, bukan?" kata Kelly. Draco mengernyit. Draco bilang ia tak tahu. "Setahuku itu lagu," kata Draco.

Kelly sedikit galak menanggapi ucapan terakhir Draco. "Dasar! Itu kerjaan seniman kota! Itu cerita legendaris yang patut di hormati, bukan dijadikan lagu pengantar tidur jelek!" celanya.

"Bisakah kau..bisakah kau cerita pada kami?" tanya Hermione dengan kehati-hatian penuh. "Tentang Soltar Palabrotas,"

Kelly mendengung seperti lebah, ia berpikir keras. Tak disangka-sangka, ia bersedia menceritakannya. Ia menyuruh Draco menutup semua jendela, mematikan setiap obor yang tergantung, dan merapalkan mantra peredam suara.

"Soltar Palabrotas artinya kutukan," katanya sebagai awal kisah. "Làstima, nenek dari ibuku adalah tokoh utama dalam kisah ini. Ini kisah NYATA. Dan aku tidak terlalu suka versi lagunya. Nadanya terlalu norak. Harusnya mereka memainkan lagu itu dengan piano, tapi para seniman kota memainkan lagu itu dengan biola. Ehm—kita kembali pada cerita. Jadi...Nenek dari ibuku, Làstima Honey, adalah seorang pembantu di rumah keluarga kaya. Tuannya adalah Encanto yang amat tampan dan kaya raya raya dan raya. Encanto punya seorang ibu yang sudah tua—aku tak ingat namanya—dan ibu itu hidup dibawah pengawasan Cruel, Si Jahat."

Hermione berkeringat, entah mengapa ruangan itu jadi panas. Draco tak bergeming, tapi dari ekspresinya sudah diketahui kalau ia sedang berkonsentrasi penuh.

"Encanto dan Làstima ternyata saling mencintai. Mereka sering bersama-sama, dan menyanyikan lagu-lagu ceria berdua. Encanto adalah ilmuan di dunia sihir, sementara itu, Làstima memiliki kebun di kampungnya. Encanto sering ke kampung itu dan meminta bahan-bahan dari kebun Làstima untuk membuat ramuan. Cruel tidak menyukai Làstima karena gadis itu adalah putri dari musuhnya yang sudah wafat. Suatu hari, Encanto akan menikahi Làstima. Tentu saja Cruel menentang itu. Ia mengutuk mereka, ia berkata bahwa salah seorang dari mereka akan mati sebelum mereka menikah.

"Encanto dan Làstima hidup dalam pelarian. Sang Ibu yang kasihan pada anaknya, memberitahu kalau mereka harus mengalahkan kutukan itu dengan membuat sesuatu yang sangat kuat, sangat kejam, dan sanggup mematahkan apa saja. Kemudian, selama sepuluh tahun, Encanto dan Làstima berkelana untuk mengumpulkan bahan. Encanto berencana untuk membuat sesuatu yang spektakuler. Akhirnya, terciptalah Amor vincit omnia. Ada empat botol di dunia. Satu sudah mereka gunakan. Saat mereka menggunakan itu, Cruel langsung mati dalam cahaya emas. Tiga botol lainnya hilang—kabarnya dua sudah ditemukan—dan yang terakhir..."

Draco tiba-tiba saja bergeser dari duduknya dan berdiri dengan postur menantang. "Tunggu!" selanya. "Kau bilang, mereka butuh.. sepuluh tahun untuk amor vincit omnia? Itu waktu yang lama," katanya tak percaya.

Hermione bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Draco. "Maaf, dimanakah... botol terakhir?" tanya Hermione hati-hati agar Kelly tak mengusir mereka keluar.

Kali ini, Kelly hanya membisu. "Botol terakhir ada di peti mati, bersama abu ibuku yang malang dan sinting," katanya pelan.

"Apakah—apakah kami, ehm, kami ingin tahu apakah kami boleh memilikinya?" tanya Hermione.

Kelly tidak mengernyit marah, ia malah memunculkan wajah kalem dan berkata. "Tidak," tetapi, meski ucapannya datar dan tenang, Draco tahu kalau nenek itu kejam.

Hermione merasakan tubuhnya bergetar hebat karena penolakan itu. Draco sendiri tampak stress, itu kelihatan dari kerut-kerut di dahinya yang berkeringat.

"Nah, kalian sekarang sudah puas? Sekarang kalian ikut aku," tawarnya dengan suara misterius yang aneh dan tak bisa ditebak. Draco curiga, curiga sekali.

Kelly membawa mereka naik tangga spiral penuh misteri tadi. Ketika mereka sampai di lantai atas, mereka mendapati adanya sebuah peti abu-abu yang usang dan meja panjang yang makan tempat.

Kelly mengambil sesuatu dari sebuah kotak perkakas yang diletakkan di ujung ruangan. Ternyata ia mengambil pisau mengilat yang kelihatannya sudah diasah dengan baik. Kemudian ia mendekati Draco dan Hermione. Draco sebenarnya ingin pergi saja, tapi Hermione sedikitpun tak menaruh rasa curiga berlebihan.

Kelly merobek kulitnya dengan pisau itu, dan setelah kulitnya—ehm—mengelupas, tampak seorang gadis cantik di dalamnya. Gadis itu langsing dengan lekuk tubuh sempurna, rambutnya panjang sampai menyentuh pantat dan warnanya hitam. Matanya biru cemerlang dan tanpa kerut—dia gadis muda yang cantik!

Gadis itu—gadis yang keluar dari balik kulit Kelly—masih memegang pisaunya.

"Kelly?!" seru Draco tak percaya. Ia dan Hermione mundur tanpa sadar.

"Aku bukan Kelly," katanya renyah. "Namaku, Làstima Honey..."

"Mengapa bisa?" Hermione angkat suara. "Làstima Honey sudah wafat!"

Làstima terlihat tidak senang. "Biar kujelaskan," katanya datar. Ruangan itu berpendar-pendar, lalu penerangan padam semudah membalik telapak tangan. Remang-remang dan menyeramkan suasananya. Làstima ada di jantung ruangan, dengan rambut hitam panjang tergerai dan bibir tipis.

"Setelah Cruel mati, aku dan Encanto belum juga menikah. Kami pikir kutukan itu sudah hilang bersama dengan kematian Cruel. Ternyata tidak. Amor vincit omnia membunuh Cruel, tapi tidak dengan kutukan itu. Dan kami akhirnya tahu, kalau salah satu dari kami akan mati sebelum pernikahan, sesuai kutukan Cruel.

"Dan itu terjadi. Memang terjadi. Dan Encanto mati karena aku. Aku membunuh dia," sembur Làstima, lebih kepada dirinya sendiri. "Kami punya anak diluar pernikahan. Irena. Aku benci bayi. Encanto menyayangi Irena dan setiap hari menumpahkan cintanya pada segumpal daging yang selalu menangis. Bayi itu. Aku benci sekali padanya. Suatu malam, aku menyiapkan pisau untuk membunuh Irena yang tak bisa berhenti menangis. Encanto ada di luar, dan kupastikan agar ia tak tahu. Saat aku sedang setengah jalan melayangkan pisauku, Encanto masuk dan menghadangku. Dan aku... aku..." Làstima meratap dan wajahnya penuh sesak dengan sesal. Punggung tangannya mengerut, dan matanya menyipit tidak bahagia.

"Aku tanpa sadar melayangkan pisauku pada Encanto yang kucintai. Ia mati. MATI. Sejak saat itu, aku hidup berdua dengan Irena yang amat kubenci. Saat usianya empat belas, aku pura-pura mati. Jasad bohonganku dikubur jauh dari sini. Dan botol terakhir amor vincit omnia kuberikan padanya. Setelah itu, aku meminum ramuan sisa milik Encanto di laboratoriumnya. Aku berubah jadi anak-anak, kemudian aku merayunya dan dia dengan senang hati menjadi ibu angkatku. Ia menamaiku Kelly. Selama bertahun-tahun aku membuat ramuan rahasia dengan lobak-lobak yang ia tanam. Kemudian aku yang membunuh seribu orang di desa. Aku meletakkan barang bukti di kamarnya. Aku membuat warga desa membunuhnya, kemudian aku mengambil satu tetes darahnya. Berarti kurang satu tetes darah lagi. Bila satu tetes darah dari jantung segar kuterima, ramuanku akan sempurna! Dan Encanto akan hidup kembali!"

Ucapan Làstima—kisahnya—begitu menyihir, terutama suaranya yang dingin dan keji. Untuk sesaat, Draco dan Hermione masih terkaget-kaget saat melihat kenyataan edan ini. Ruangan kembali disusupi rasa dingin dan panas sekaligus.

"Oh, Anak-Anak. Kukira kalian sedang butuh amor vincit omnia," kata Làstima licin, memecah ketegangan. Hermione maju selangkah.

"Memang," sergah Hermione.

Làstima menyeringai. "Nah, aku bisa beri itu pada kalian." Katanya tanpa ragu.

Hermione membelalak. Ia tersenyum dan menoleh pada Draco. "Kaudengar, Draco?" tanyanya berbinar. Draco memang sempat dirambati rasa senang, tapi bila ia melihat mata Làstima, ia mengira kalau tawaran itu hanya pura-pura.

"Tapi," kata Làstima, membuat rasa senang Hermione menguap. "Salah satu dari kalian, harus mati. Dan tentu saja, tetes darahnya jadi milikku."

Draco dan Hermione menganga. Tak mungkin mereka rela bila salah seorang harus mati. Tentu saja mereka bakal menolak itu mentah-mentah. Tapi...

"Draco," Hermione memandangnya takut. "Kita harus bagaimana?"

Draco menatapnya balik. Itu tatapan paling sendu, paling kecewa, dan paling menyakitkan dari seorang Draco Malfoy. Hermione tak pernah—dan tak mengira—akan mendapat tatapan seperti itu.

"Aku saja," putus Hermione tanpa banyak pikir. Setelah mendapat pandangan seperti itu, sulit rasanya untuk tidak berkorban. Draco menatap kosong kearahnya. Gadis yang ia kasihi harus mati demi sebotol ramuan yang nantinya akan menyelamatkan dan memerdekakan keluarganya. Tapi ia sendiri tak yakin. Ia jelas tak ingin Hermione mati. Tapi ia juga ingin membunuh Voldemort, ia ingin membebaskan ibunya dan keluarganya.

Tapi kalau itu artinya kematian Hermione...

"Tidak," Draco mendorong Hermione menjauh dari hadapan Làstima yang tampak puas. Hermione memegang tangan Draco, dan Draco merasakan sentuhan magis yang membuatnya kuat.

Làstima terus tersenyum diatas kesengsaraan mereka, ia terus berdengung diatas hati mereka yang hancur. Ia membuka peti diujung ruangan, dan tampaklah abu—sepertinya milik Irena Honey—dan sebuah botol kaca warna biru buram.

"Ini yang kalian cari?" Làstima memancing sambil menggoyang-goyangkan botolnya di depan hidung Draco. Hermione menjadi mual.

"Ya! Itu dia!" seru Hermione dibalik bayang-bayang tubuh suaminya yang kekar. Làstima tersenyum terus, senyum kelelawar yang seram.

Draco beringsut maju. "Kalau aku mati, biarkan istriku memilikinya, biarkan ia keluar dengan selamat," kata Draco pasrah dengan mengerahkan seluruh jiwa beraninya yang tersisa. Làstima dengan sedikit mencela tergelak-gelak. "Tentu saja, tampan!" katanya.

Hermione menarik Draco menjauh—sedikit mendorong. "Siapa bilang aku yang harus keluar dari sini!" bantah Hermione. "Kau, Draco. Aku akan tinggal. Bunuh aku saja," bila Draco membelalak, maka Hermione tersenyum seolah-olah ini permainan menyenangkan yang harus dimenangkan.

Làstima mengedarkan pandangan mencela dan terus tergelak. "Biar aku yang memilih!" katanya senang. Draco merengut, ia menggenggam tangan Hermione terus.

Làstima memandang Draco, lalu Hermione. Lalu Draco, dan kembali lagi ke Hermione. Tangannya teracung.

"Gadis muda, aku memilihmu,"

TBC

Hi, Julie update chapter 6

Sekarang Julie akan membalas review kalian

Adisti Malfoy: wah, aku jarang-jarang buka tweet (bahkan gak pernah buka akhir-akhir ini) waduh, kamu fans berat? Julie tersanjung *jatuh dari tangga*

Last-Heir Black: ada apa dengan akun anda, Black? Mengapa tak bisa login T^T hahaha, sampe gebrak meja segala makasih pujiannya *menembus langit-langit* :D

Tsurugi de Lelouch: memang tidak gampang :P terimakasih reviewnya :D

Me: Julie sangat jarang buka, bahkan Julie gak yakin apakah tweet dan Fb Julie itu masih aktif atau tidak :O

Drac malfoy: voldy moldy honey gak bisa diserang begitu saja, karena penjaganya dia banyak :D

Hamba Allah: terimakasih sudah read and review :D

Shinta Malfoy: emeraldina selamat kok :D terimakasih semangatnya

Kaourumouri: silent reader? *cubit-cubit gemes* gapapa, sih.. makasih udah baca dan review! :D

Caca: Julie punya, tapi keduanya kritis... :( alias tak pernah dibuka :D

Fuuchi: sudah diwujudkan dalam chapter ini, Mione manggil Draco 'Draco' :D terimakasih sarannya

Mumumu: mati? Dramione kan jagoan utama fict ini, Julie gak tega membunuh salah satu dari merekkkaaa *nangis bombay*

Kebab: emeraldina gak selamanya menderita kok ;D nanti juga ada hepinya dia

Naomi Averell: maafkan diriku yang amatir ini *nangis dibawah sinar bulan purnama* terimakasih semangatnyaaa! Kamu juga semangat nulis ya! :D

Milkyways99: iya, tapi kadang-kadang nggak bisa update kilat.. biasa halangan :C tapi sebisa mungkin, Julie update kilaaatttt :D

Ryoma Ryan- Le Renard Roux: pertanyaan bagus! Lucius masih bimbang antara mematuhi Voldy atau anaknya..kira-kira begitu

Emmie dan bayinya gak mati kok, tunggu aja ya :D

Bunga Sakura: terimakasih, Julie jadi tahu letak salahnya :D

Githa Aikawa: nanti ditambah :D

Ms. Loony Lovegood: Loonnyyyyy! *tebar bunga terus bersin-bersin* Soltar Palabrotas penjelasannya di chap ini :D dalam bahasa Spanyol artinya kutukan

Ginny sengaja kubuat kayak gitu, entah mengapa, lagi kepingin aja bikin Ginny manja XD

Moku-Chan: oke, deh :D

Fuuah: nyima nyasih ya (terimakasih ya) *gak bisa ngomong karena mulut penuh pastel* :D

Nyimi-chan: ntar Julie bikin yang spektakuler deh :D myu :3

Fressia Athena: aku gak terlalu paham gimana caranya legilimens, makanya aku gak bikin scene legilimens, takut salah ;D baca terus ya

DraconiSparkyu: oke :D

R. Jackskelenton: nanti karakter Draco di benerin deh sama Julie, baca trus :)

Je t'aime!

Juliette Apple

See u in next chapter!