Malfoy, Malfoy

Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling

...

Malfoy, Malfoy

WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T

by Juliette Apple

Rated: T

Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!

~XOXOXOXO~

Pengumuman dari Julie.

Berhubung Julie sedang repot, fict ini mungkin agak telat update-nya. Tetap tunggu, ya.

Oh, ya... Julie bikin twitter, karena waktu itu banyak yang minta twitter Julie, jadi Julie bikin baru

Silahkan follow JulietteApple

Disana, kalian bisa ngelabrak Julie kalau Julie telat update, atau kalau ada yang mau tanya-tanya, silahkan

Selain itu, kita bisa mengenal lebih dekat, bukan?

Enjoy reading, r.e.v.i.e.w please ^^

~XOXOXOXO~

CHAPTER 7: NYARIS

Hermione tidak terkejut, ia sudah rela.

Kakinya maju mendekati Làstima yang tersenyum puas. Draco ada dibelakangnya, dan tubuhnya gemetar. Bagaimana tidak? Cintanya sedang berjalan menuju maut.

"Mione, kumohon," bisik Draco dibelakang punggung Hermione. Hermione mendengarnya, dan mengangguk tanpa menoleh.

"Sudahlah, Draco. Terkadang ada seseorang yang lebih baik dibiarkan mati," Hermione tidak berbalik untuk menatap suaminya. Draco menahan ledakan emosinya. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Ada perasaan kesal, sedih, sakit, dan marah yang meluap-luap. Meski begitu, tak ada yang ia lakukan selain meratap diatas kakinya.

Hermione memperlambat langkahnya. Làstima mengelus permukaan pisaunya yang mengilap dan bercahaya. Hermione bisa melihat pantulan bayangannya di permukaan pisau. Pantulan kematiannya.

Setidaknya, bila ia mati hari ini, kematiannya tak sia-sia.

Draco akan hidup dari kematiannya, dan keluarganya akan merdeka diatas makamnya. Itupun kalau ia punya makam.

"Mione..." Draco mendesah tertahan dibelakangnya. Deru napas Hermione tidak sejalan dengan langkah kakinya. Napasnya cepat, dan jantungnya berdetak kilat, tapi langkahnya bak kura-kura pincang. Kura-kura ini sedang berjalan menuju tiang gantungan. Draco mengawasi setiap langkah-langkah yang diciptakan Hermione dengan hati was-was. Ia tak pernah membayangkan kalau Hermione harus meninggal demi dirinya.

Làstima sepertinya sudah beku hati. Ia tak terguncang, ataupun tersentuh sedikitpun. Satu demi satu langkah Hermione bagaikan tahun-tahun terbuang yang disia-siakan Draco. Seandainya ia tahu hari ini akan datang, mungkin ia akan menyatakan cintanya pada Hermione di tahun keenam. Seandainya ia tahu hari ini akan datang, ia takkan pernah menghina Hermione ataupun teman-temannya. Seandainya saja.

Sekarang hanya penyesalan yang tersisa.

Saat Hermione hanya berjarak tiga langkah dari Làstima, Hermione tiba-tiba saja berbalik, dan dengan cepat menerjang tubuh Draco. Ia memeluk Draco-nya, sampai-sampai mereka terjungkal kebelakang.

"Draco, aku takut." Bisiknya ditengah isak yang meledak. "Draco, aku takut."

Draco mendekapnya erat, ia juga takut.

"Mione, biar aku saja." Jawab Draco lemah. "Aku saja."

Tangan Draco mengelus rambut Hermione yang masih terkepang indah. Kepangan buatannya. Verbena-verbena masih awet di sela-sela helai rambutnya yang indah. Verbena mereka.

Làstima kelihatan muak, tapi berusaha untuk tidak berkata-kata. Hermione menciumi Draco. Bibirnya akan selalu mengingat kenikmatan ini. Draco menikmati tiap-tiap kecupan di bibirnya, kemudian kecupan di kelopak matanya, dan hidungnya. Bibir Hermione adalah kekuatannya. Kemudian, ketika Hermione mengecup kedua belah pipinya yang tak dialiri darah, ia tercenung. Ia tahu kalau dirinya-lah yang harus menjadi penjaga. Bukannya dijaga. Tapi Hermione sendiri sudah bersumpah pada dirinya sendiri, kalau Draco adalah bagian hidupnya. Sederhana.

Mengapa cinta malah tumbuh di saat-saat seperti ini?

Mengapa sebatang padi harus tumbuh di lautan ilalang?

Làstima berdeham kesal. "Biarlah gadis itu yang berkorban nyawa. Tak usah berbelit lagi," katanya tanpa perasaan.

Hermione menarik dirinya dari Draco, lalu mencium bibirnya. "Ini bukan yang terakhir,"

Draco mengerjap-ngerjapkan matanya lemah. Ini bukan yang terakhir.

"Terimakasih..." kata Draco saat Hermione sudah mendekati Làstima. Làstima membuat kurungan sihir untuk memerangkapnya. "...untuk segalanya. Segala-galanya."

Hermione tersenyum dibalik kurungan sihirnya yang transparan. Tangannya diletakkan di permukaan kurungan yang seperti cermin satu arah. Dari dalam sana, ia masih bisa melihat Draco dan wajah sendunya.

"Terimakasih sudah berbagi kehangatan di ranjangku. Tidak ada yang lebih hangat dibanding senyumanmu," kata Draco.

Hermione menitikkan airmatanya, Làstima mengucapkan mantra-mantra tak jelas.

"Terimakasih untuk segala kecupan yang menyembuhkan sakit hatiku,"

Hermione merasa dadanya sakit, seperti ditusuk ribuan belati. Làstima masih mengucap mantra-mantra panjang yang mengerikan.

"Terimakasih sudah menjadi istriku. Kehormatan terbesar yang bisa diberikan perempuan untuk laki-laki,"

Hermione memaksa bibirnya untuk membentuk lengkung senyum, meski rasa sakit itu sudah menyetrum tulang-tulangnya. Rasanya ia ingin jatuh pingsan, tapi ia masih ingin melihat wajah Draco. Draco akan menjadi orang terakhir yang ia temui menjelang ajalnya.

"Terimakasih untuk pelukan-pelukan, dan pertumpahan darahmu untukku,"

Hermione tak tahan lagi, lututnya lemas. Ia jatuh terduduk, tapi masih sadar. Làstima tersenyum puas karena mantranya berhasil. Ia mengucap beberapa baris mantra lagi, membuat Hermione semakin tersiksa. Pisaunya yang mengilap digosok-gosokkan di kurungan, sepertinya itu bagian dari ritual.

"Terimakasih untuk segala tangis yang tercurah untukku,"

Hermione mencengkram dadanya, darah keluar dari mulutnya. Draco mendekat, dan Làstima tidak melarangnya meski ia melihatnya. Draco menempelkan telapak tangannya di permukaan kurungan, dan menyejajarkannya dengan telapak tangan Hermione yang sudah amat sangat tersiksa.

"Terimakasih untuk janji-janji yang selalu kautepati,"

Hermione mengeluarkan airmatanya, bukan karena sakit secara fisik, tapi sakit karena ini saat terakhirnya bertemu Draco. Ia takkan bisa melihat kegigihan Harry lagi, banyolan Ron, gosip Ginny, pelukan Mrs. Weasley, ataupun merasakan kasih sayang orang tuanya. Tapi, yang paling ia sesali adalah: tak akan ada lagi ciuman Draco Malfoy.

Làstima menyentak, dan Hermione berteriak panjang. Draco makin mendekat, dan matanya berair.

"TERIMA KASIH! Terimakasih untuk ejekan-ejekan, dan kasih sayang,"

"Draco, a—aku,"

"Terimakasih untuk belaian tanganmu,"

"Draco, aku tidak mau pergi. Tidak mau,"

"Terimakasih untuk perlindunganmu dan tatapanmu yang meneduhkan,"

"Draco, sakit sekali. Jantungku serasa mau pecah,"

Làstima sekali lagi menyentak, dan Hermione tidak berteriak. Ia tidak lagi berteriak. Telapak tangannya yang menempel di permukaan kurungan sudah merosot perlahan. Merosot bersama dengan tubuhnya yang terkulai di lantai.

Matanya masih terbuka, dan senyumnya masih ada. Meski itu senyum sakit yang amat sangat tersiksa.

Draco tahu kalau Hermione belum mati, tapi akan mati dalam hitungan detik.

Draco menangis. Sesuatu yang dilarang keluarganya selama bertahun-tahun. Tapi, apakah mungkin ia tak menangis saat melihat seseorang yang ia cintai harus... pergi?

Draco hendak berterimakasih lagi. Namun, sebelum bibirnya terbuka untuk berucap, Hermione sudah terlebih dulu berucap.

"Draco, aku mencintaimu. Dan ini bukan yang terakhir,"

Draco terhenyak, hatinya sakit sekali. Hermione menutup matanya perlahan. Draco menatapnya kosong, Làstima sudah tak berkomat-kamit. Ia terbahak puas, dan pisaunya jatuh berkelontang ditengah tawanya.

"Mione?" Draco memancing.

Hening. Tidak ada jawaban keluar dari bibir Hermione.

"Mione?"

Hening. Sia-sia.

"MIONE?"

Làstima mendorong Draco menjauh. "Minggir." Draco bergeser dan menatapnya dengki.

"Mana yang kaujanjikan?" tuntut Draco murka. "Mana amor vincit omnia yang kau janjikan sampai-sampai Mione harus mati. MANA?"

Làstima mengernyit jijik, dan melirik Draco lewat ekor matanya yang sinis. "Bodoh kau. Tidak mungkin kuberikan botol terakhir itu padamu. Aku hanya berbohong, tidakkah kau tahu?"

Saat itulah, Draco mengetahui apa arti marah yang sebenarnya. Ia mendorong Làstima sampai wanita licik itu menghantam tembok. Draco menjambaknya, dan meludah kearahnya.

"BUSUK! KAU BUSUK! PEMBOHONG! HINA!" sembur Draco marah. Marah sekali. Làstima hanya tertawa. Sudah gila benar wanita itu. Pantas ia terima kutukan.

Saat Làstima sudah berhenti tertawa, Draco menghampiri kurungan Hermione. Hermione masih terkulai, mati. Seperti kupu-kupu yang sayapnya sobek.

"Mione. Bangun." Tangis Draco. Ia menangis, menangis, dan menangis. Cintanya sudah tidak ada, dan airmata yang tumpah tidak membantu. Bahkan tak mengembalikan detak jantungnya kembali. Hermione tinggal jasad beku yang tergeletak di lantai kayu. Dan Draco tetap lelaki patah hati yang dirayapi penyesalan seumur hidup.

"Mione!"

"Percuma," Làstima mengejek, ia bangkit dan mendorong Draco. "Sekarang, pergi kau. Aku akan mengurus ramuanku dan gadis ini. Kau bisa keluar sekarang. Ayo, biar kuantar kau ke pintu depan," ucap Làstima yang tak punya hati.

Draco menghalaunya dan kembali berlutut di depan kurungan Hermione. "Aku tidak akan meninggalkanmu." Draco menangis. "Kau mati, aku mati. Sederhana."

Làstima terkikik. "Kau juga mau mati?"

Draco tidak menjawab. Ia terus menatap jasad Hermione.

Tidak ada yang lebih menyakitkan dibanding perpisahan. Apalagi perpisahan abadi.

Draco memungut pisau Làstima yang terjatuh di lantai. Pisau mengilat yang terkutuk. Permukaannya yang licin memantulkan cahaya lilin. Draco bisa merasakan permukaannya yang dingin, dan saat pisau itu menyentuh kulit tangannya yang telanjang, ia membeku.

Ia mendekatkan pisaunya ke arah perut, ingin mati dengan menusukkan pisau itu.

"Mione, maaf."

Làstima tertawa berguling-guling.

"Aku mencintaimu, dan ini bukan yang terakhir."

Làstima masih tertawa, dan cahaya muncul dari kurungan Hermione. Cahaya.

Keajaiban terjadi. Siapa yang menduga?

Keajaiban bisa terjadi dimana saja, pada siapa saja, dalam keadaan apa saja.

Bahkan dalam jurang maut sekalipun.

Kurungan Hermione meledak, dan hancur menjadi keping-keping kristal yang menghambur ke seluruh penjuru ruangan.

"BAGAIMANA BISA?" Làstima menjerit, ia ketakutan. Ia bersandar ke tembok, dan serpih-serpih kristal itu menghujam tubuhnya seperti pisau. Kulitnya terkoyak, dan darahnya mengalir. Ia menjerit, berteriak, dan melengkingkan suara paling menyedihkan dan paling sengsara di dunia. Tak lama setelahnya, pisau yang dipegang Draco melesat kearahnya, dan menghujam jantungnya sendiri.

Senjata makan tuan, selamat tinggal Làstima.

Draco melindungi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia juga takut ditimpa serpih-serpih kristal dan mati seperti Làstima. Tapi nyatanya, ia tak terluka sedikitpun. Saat ia membuka matanya yang tertutup, ia melihat sosok wanita yang ia cintai. Gadisnya tersayang. Hermione.

Hermione segar, tak terluka, dan darah yang mengering di bibirnya sudah tak ada. Luka-lukanya lenyap, dan wajahnya tampak bahagia. Ia tersenyum, dan melompat kearah Draco yang sedang tergeletak di lantai. Draco tak memercayai penglihatannya. Bagaimana bisa?

"Draco!" Hermione memburu tubuh Draco yang atletis. Ia memeluknya, dan mencium bibirnya lembut. "Draco! Draco! Draco!"

Draco masih tak percaya. Meski begitu, ia tetap membalas ciuman-ciuman dan pelukan-pelukan Hermione. "Terus sebut namaku, terus." Pinta Draco senang.

"Draco!" Hermione mencium kelopak mata Draco. "Draco!"

Barulah Draco percaya, rasa bibir Hermione menyadarkannya.

"Mione," Draco menangis. Ia membalas pelukan Hermione yang erat dan hangat, seolah-olah ia baru pertama kali dipeluk dan dicumbu. Tangan Hermione lembut seperti kapas yang langsung diimpor dari negeri impian, dan bibir Hermione yang semerah ceri menempel dengan bibirnya yang basah.

Kepangan Hermione masih bagus. Bahkan verbenanya makin segar.

Draco menangkup wajah Hermione dengan kedua tangannya. Mereka memandang satu sama lain, berbagi kata-kata manis lewat kontak mata. Mata Draco yang abu-abu tampak bahagia. Dan mata Hermione yang kecokelatan tampak seperti manik berkilau yang mengisap Draco kedalam kedamaian tak berujung.

Draco memajukan wajahnya, makin dekat dengan wajah Hermione sehingga desah napas Hermione yang keluar dari hidungnya bisa dirasakan oleh pipi Draco. Kemudian, bibir mereka menyatu. Ah, indah. Ciuman kelegaan yang membahagiakan. Draco memelukanya, dan tak mau sedetikpun melepas ciumannya.

Saat mereka kekurangan napas, barulah mereka melepaskan ciumannya.

Hermione tersenyum penuh arti, dan Draco membalasnya.

Tepat setelah mereka berciuman, rumah itu bergetar, lalu atapnya setengah rubuh. Potongan kayu berjatuhan menimpa lantai.

"Apa ini? Apa yang terjadi?" pekik Draco ngeri. Ia dan Hermione berdiri. Pijakan mereka bergetar. Rumah ini akan hancur.

"Cepat keluar!" perintah Hermione pada Draco. Draco segera berlari kearah pintu.

"Terkunci!" pekik Draco sambil berusaha mendobrak pintu bandel itu.

Hermione untuk sementara terpaku melihatnya, kemudian otaknya berputar cepat. "Kuncinya! Draco! Kunci yang ada pada Làstima!"

Draco berhenti mendobrak pintu itu, ia membelalak dan mendekati jasad Làstima di pojok ruangan. Ia merogoh sakunya, dan menemukan gantungan kunci bundar dari besi.

"Yang mana kuncinya?" tanya Draco, karena kunci di gantungan itu ada banyak sekali, dan Draco tak bisa memutuskan kunci mana yang cocok dengan lubang kunci pintu itu.

"Pilih salah satu!" jerit Hermione saat mendengar derak-derak dari atap diatas mereka yang hendak rubuh. Ups! Kalau atap itu runtuh, pasti mereka bakal tertimpa. Hermione merasakan getaran yang hebat di pijakannya. Mengerikan sekali, seperti gempa yang amat dahsyat.

Draco mendekati pintu, dan mulai mencoba satu demi satu kuncinya. Kunci pertama tidak behasil, begitu juga dengan kunci-kunci berikutnya. Draco mengerang dan mengumpat. Terutama saat peti mati Irena Honey berderak dan meledak sendiri.

Hermione kemudian teringat sesuatu yang penting. Benar-benar penting.

Tujuan utama perjalanan mereka.

Amor vincit omnia.

"Draco! Urusi pintu itu! Aku akan mencari botol amor vincit omnia." Kata Hermione pada Draco. Draco tak mau repot-repot menjawab karena ia sedang kesusahan membuka pintu itu. Draco hanya mengangguk, dan Hermione segera mengedarkan pandangan, mencari botol biru pudar.

Ada banyak 'DUAR' dan 'BRAK' di ruangan sempit itu. Mata Hermione kelilipan debu bekas runtuhan atap. Sekarang, penglihatannya terbatas. Matanya perih dan gatal. Draco terus mencoba kunci demi kunci dengan terburu-buru, namun semuanya gagal total!

Hermione mengucek matanya, berusaha untuk memfokuskan pandangan dan mencari botol itu. Tiba-tiba, sepotong kayu jatuh dari atap dan menimpa punggungnya. Ia berteriak, dan jatuh terngkurap. Hermione sempat mendengar pekikan Draco yang memanggil namanya, dan setelahnya, ia langsung bangkit. Lagipula, tidak terlalu sakit, pikirnya.

Dengan langkah sedikit diseret, tangannya membongkar debu-debu dan serpih-serpihan kayu di lantai.

"Coba cari disekitar mayat Làstima!" usul Draco. Hermione tersadar, lalu setengah merangkak menuju mayat Làstima. Ia membalik tubuhnya, dan tampaklah botol biru buram itu.

Sudah.

Amor vincit omnia sudah ditemukan.

Mereka hanya tinggal bertolak pulang. Hermione mengayunkan botol itu di depan hidungnya, masih dengan tatapan kaget. Ia melihat cairan berkilau yang bergerak-gerak di dalam botol kaca itu. Sepanjang sejarah, mereka—Draco dan Hermione—akan dikenal sebagai orang terakhir yang menggunakan ramuan paling hebat itu.

Dan secepat mungkin mereka akan menggunakannya. Voldemort harus mati, dan keluarga Malfoy harus dibebaskan dari perbudakan gelap.

'DRAK DRAK DRAK'

Hermione menoleh keatas, penyangga atap itu sudah patah. Draco masih berkutat dengan kunci-kunci yang luar biasa rumit itu.

Hermione memeluk botol itu, jangan sampai botol itu pecah, mengingat itu adalah botol terakhir di dunia dan mereka sangat butuh ramuan itu. Kayu penyangga atap itu benar-benar patah sekarang, tebelah jadi dua.

Atap itu rubuh, hendak menimpa Hermione yang kakinya sudah kaku. Tapi, sebelum itu terjadi, Draco sudah berhasil membuka pintunya.

"Mione, ayo kita—" Draco menoleh, tepat ketika atap itu runtuh mengenai Hermione.

"MIONE!" teriak Draco. "Oh, jangan lagi!"

Draco berlari kearah runtuhan atap itu. Tubuh Hermione tertimbun di dalamnya. "Mione? Kaubisa dengar aku?"

Tidak ada jawaban.

Bukankah tidak lucu kalau jagoan kita harus mati dibawah runtuhan atap?

"M-I-O-N-E?" panggil Draco memaksa. Tidak ada jawaban lagi, tapi ada sebuah tangan terjulur dari balik runtuhan itu.

Itu Hermione. Dia masih hidup.

Tak lama kemudian, ia menyeruak keluar dan menyingkirkan setiap bongkahan kayu dan tripleks. Bajunya sedikit kotor, tapi ia baik-baik saja. Di tangannya, ada botol biru. Draco sudah menduganya sebagai amor vincit omnia yang terkenal itu.

Draco membantu Hermione keluar dari lingkup pengap itu, dan menggandengnya menuju pintu yang sudah menganga. Mereka keluar, dan menuruni tangga ditengah derak-derak dan bunyi dentuman. Ketika mereka menyusuri anak tangga, tangga itu tiba-tiba saja hancur. Mereka terjatuh berguling-guling. Tapi tentu saja, mereka baik-baik saja meski lecet di bagian pipi.

Kini, dapur rumah itu yang merusuh. Piring-piring pecah sendiri, dan keran air meledak, membuat air terciprat kemana-mana dan membasahi tembok serta lantai marmer. Semua piala dan gelas langsing di rak dapur berguling jatuh dan pecah dengan suara keras. Ruang baca dan ruang tengah juga sama gilanya.

Buku-buku sobek sendiri, dan karpet terkoyak-koyak. Lemari disamping mereka terjatuh dan merusak lantai kayu dibawahnya.

"Ayo bukam pintu depannya!" perintah Hermione. Draco mengeluarkan kuncinya dan berbalik memandang Hermione.

Lantai dibawah mereka membentuk ombak, dan patah-patah. Kandil emas diatas mereka jatuh ke lantai, membuat Hermione berteriak. Ia mendengar lengkingan panjang dari dapur.

"CEPAT BUKA!" jeritnya tak sabar. Draco—sangat gemetar dan berkeringat—memilah-milah kunci dan mencobanya satu-satu. Hermione sudah muak, dan sudah tak sabar lagi. Ia menyambar kunci itu dan membuangnya. "Tak perlu kunci," ia menegaskan.

Atas usul mendadak Hermione, Draco—yang tubuhnya kuat dan atletis—berjalan mundur, dan berlari.

BRAK!

Pintu itu didobrak oleh tubuh Draco.

Pintu itu dengan mudahnya terlepas dan terpelanting keluar, mereka sudah bisa melihat dunia luar. Tinggal melangkah keluar saja.

Suara lengking di dapur kembali terdengar. Hermione menduganya sebagai 'suara-kompor-yang-mau-meledak'. Dan benar saja. Sesaat setelah kaki mereka melangkah keluar dan memijak taman lobak, rumah itu meledak dan terbakar. Semuanya menjadi puing-puing gosong.

Draco hilang keseimbangan dan terjatuh di rumput basah, ia berkeringat namun bernapas lega. Hermione masih berdiri, namun posturnya limbung.

"Draco, benarkah ini?" ucap Hermione setelah Draco menarik napas panjang. Hermione mengangkat tinggi-tinggi botol ramuan itu, sehingga sebaris sinar matahari menerobosnya. "Kita sudah berhasil?"

Draco mengelap keringat sebiji-biji yang menggantung di dahinya. Kemudian bangkit berdiri untuk memeluk Hermione.

"Kau yang berhasil. Bukan kita." Kata Draco. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Hermione. Hermione mencium tengkuknya, dan berkata kalau semuanya sudah selesai. Perjuangan yang tidak sia-sia.

"Aku tidak berhasil menjagamu, Mione," sesal Draco, nadanya menyedihkan dan keningnya berkerut penuh sesak dengan kesedihan. "Kegagalan terbesarku adalah saat melihat kau tergeletak tak berdaya, tapi aku bahkan tak bisa menjangkaumu."

Draco melihat kedua telapak tangannya. "Kedua tanganku tidak cukup kuat untuk menjagamu,"

Hermione tidak kuat lagi melihatnya. Mana mungkin ia mengungkit masalah itu lagi? Hatinya tersentuh juga. Setiap laki-laki—yang paling kuat sekalipun—mereka selalu punya kelemahan. Dan kelemahan itu bukan untuk disesali.

Hermione sendiri tidak pernah menganggap kalau Draco telah gagal. Hermione memeluknya lagi, mencoba mengalirkan semangat dan cinta ke dadanya yang dingin, dan Draco hanya membalas dengan senyum singkat.

"Tidak." Hermione menyangkal. "Kau tak pernah gagal. Kita berpijak disini—bernapas dan hidup—karena ada kau. Kau berhasil. Kita berhasil. Dan sekarang... sudah waktunya untuk pulang, bukan?"

Hermione mencium bibirnya, dan Draco bersyukur sudah dilahirkan ke dunia.

~XOXOXOXO~

Matahari tenggelam, langit diatas Desa Evanora telah berubah menjadi oranye saat Draco dan Hermione menaiki sapunya untuk kembali ke Malfoy Manor.

Mereka sudah keluar dari rumah edan itu—yang tak diketahui penyebab meledaknya. Làstima juga telah mati. Sebelum mereka meninggalkan desa, mereka berdiri di alun-alun, dan berpidato singkat.

"Ada kenyataan yang harus dibuka. Irena Honey bukan pembunuh. Ia wanita mulia yang dijebak ibunya sendiri. Làstima Honey pembunuhnya. Kalian—para warga desa—harus tahu itu. Sekarang, Làstima sudah mati di pondoknya sendiri. Ia dengan jujur menceritakan segalanya. Tentang pembunuhan Encanto, dan seribu warga desa. Ia juga yang membuat kalian membunuh Irena," kata mereka heroik.

Segera saja, ribuan warga desa mengerumuni alun-alun, berdengung dan berbisik seperti lebah. Hermione dan Draco tak menunggu jawaban mereka. Mereka terbang menembus awan tak lama setelah warga desa berbondong-bondong menuju ke pondok Làstima yang sudah hancur.

Dibawah mereka, terdengar gumaman tak jelas para warga desa yang ribut. Mereka sudah tak mendengar gumaman itu saat sapu terbang mereka memutari bukit.

Entah mengapa, hutan pinus dan sungai berkelok yang sudah pernah mereka lewati menjadi lebih indah tampilannya. Air sungai itu jernih, seperti sekeping berlian yang berkilau. Hutan pinus berbaris-baris tampak hijau dan apik. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Amor vincit omnia sudah ada di tangan mereka, dan sedikit kecemasan mereka sudah musnah.

Angin yang lembut membelai wajah Draco dan Hermione. Hermione menggelitik pinggang Draco, dan sesekali menutup matanya dari belakang depan kedua tangannya, sekedar bermain-main. Entah sudah berapa kali Draco salah belok dan hampir mengolengkan sapu itu. Hermione memutuskan untuk berhenti bermain-main, sebelum mereka benar-benar jatuh dengan kepala lebih dulu menghantam tanah.

"Mione, aku bertanya-tanya," kata Draco memulai saat mereka melesat menyusuri deretan maple dan willow. "Mengapa kau bisa bangun saat itu? Bukankah waktu itu kau sudah—ehm—mati?"

Hermione terdiam. Terjadi jeda yang panjang sebelum ia menuturkan jawaban. "Aku tak tahu. Tapi, aku melihat seberkas cahaya." Ungkapnya dramatis. "Aku sedang berada di kotak gelap. Lalu aku menjerit-jerit ketakutan. Aku lupa segalanya. Lalu, ada suara yang membangunkanku. Dan aku melihat cahaya. Cahaya warna putih yang menyilaukan sampai-sampai mataku tak bisa terbuka. Saat mataku bisa dibuka kembali, aku—aku sudah hidup kembali. Entah bagaimana,"

"Oh ya?" tanya Draco masih bingung. "Dan suara apa yang kaudengar?"

Hermione terdiam lama lagi.

"Entah suara siapa. Pokoknya itu suara yang indah. Dia bilang begini: 'Aku mencintaimu, dan ini bukan yang terakhir,'" kata Hermione jujur. "Setelah mendengar suara itu, aku terbangun,"

Draco terhenyak, wajahnya datar dan pucat. Apa artinya ini? "Kautahu tidak? Itulah yang kukatakan sesaat ketika kau mati. Aku.. aku yang mengucapkannya, Mione. Itu suaraku,"

Hermione terlonjak di tempat duduknya. Kepangannya berkibar kebelakang dipermainkan angin. Hermione tak menjawab lagi. Ia mencoba menarik kesimpulan dari segala peristiwa yang terjadi, tapi berakhir dengan diam. Otaknya buntu, ia tak bisa menarik kesimpulannya.

Amor vincit omnia aman dibalik kantungnya. Hermione tertidur di sisa-sisa perjalanan. Saat ia membuka mata, mereka berada di hutan maple, di bekas abu pohon austrella. Pohon itu masih belum tumbuh, dan Hermione menyesali itu.

Draco menarik napas dalam-dalam. "Nah, kita kembali ke Manor? Lalu apa?"

Hermione tidak mendengarkan. Ia memanjangkan lehernya, berusaha mengintip bangunan hitam nan suram dibalik deretan pohon beranting kurus disepanjang hutan lebat itu. Matanya menangkap bangunan itu. Malfoy Manor yang sudah ia tinggalkan. Ia tak yakin kalau ia punya keberanian untuk kembali masuk. Belum lagi kalau harus menghadapi para Pelahap Maut bahkan Voldemort sendiri.

"Bagaimana caranya kita masuk?" Hermione meremas jarinya sampai berbunyi. "Kita keluar lewat pecahan kaca. Mungkin mereka sudah menutup setiap jendela. Bahkan gerbang utama sudah tidak beroperasi. Lalu kita lewat mana?" tuntut Hermione.

Draco tak bisa mencerna kata-kata sebanyak itu. Ia sendiri juga tak bisa menyusun rencana saat ini.

Hermione mendengus, dan bersungut-sungut tak jelas. "Serbu saja?" usul Hermione. "Kita hancurkan kaca-kacanya, dan masuk. Setelah itu, kita bunuh Si-Tanpa-Hidung-Ataupun-Lubang-Hidung. Dan kita bebaskan yang lainnya. Bukankah itu ide cemerlang?" ucap Hermione dalam satu tarikan napas. Draco tampak menimbang-nimbang.

"Kita hanya berdua. Mereka ADA BANYAK. Kita tak boleh melupakan fakta kalau mereka juga kuat-kuat," kata Draco. "Aku bicara soal Pelahap Maut. Lagipula, kalau kau mau membunuh STHALH alias Si-Tanpa-Hidung-Ataupun-Lubang-Hidung, pasti akan jadi amat sulit, mengingat ia dilindungi oleh Roberto dan Esperanza yang kuat. Dan tentu saja, bukan hanya Roberto dan putrinya. Ayahku mungkin melindungi dia juga,"

Kening Hermione berkerut bingung. Bibirnya seperti disegel, ia tak mampu bicara karena otaknya macet. M-A-C-E-T.

Draco menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri bak ksatria yang kehilangan pedang. "Drama," ucapnya singkat.

Hermione yang tidak mengerti hanya menatapnya tanpa arti. "Apa maksudmu, Draco?"

"Drama." Ulangnya. "Bisakah kau berakting?"

Hermione memutar kedua bola matanya. "Kurasa itu bukan hal yang tepat untuk dibicarakan sekarang. Akting? Apa sih maksudmu?"

Draco mengibaskan tangannya ke udara kosong didepan hidungnya. "Kita akan mencurangi Pelahap Maut," kata Draco. Ia menarik lengan kemejanya, dan tato ular yang ditakuti Hermione itu tampak di kulit Draco. Itu lambang Pelahap Maut yang dimiliki para pengikut Voldemort.

"Jelaskan rencanamu," tutur Hermione penuh minat. Ia berusaha agar matanya tak melihat tato itu, karena ia sudah dipenuhi kengerian malam yang mulai merambat. Tentu akan sangat mengerikan bila melihat tato itu malam-malam.

"Kita akan berakting," Draco memulai, ia menutup tatonya dengan lengan kemeja karena ia tahu kalau Hermione tak nyaman melihatnya. "Statusku masih Pelahap Maut, bukan? Kita bisa memainkan drama ini. Dengar, aku dan kau akan masuk dengan cara ini."

Draco mulai berbisik di telinga Hermione. Mata Hermione melebar mendengar rencana Draco yang bisa dibilang unik ini. Kemungkinan berhasilnya... mungkin cuma tiga puluh lima persen.

"Kauyakin?" Hermione mendelik. "YAKIN?"

Draco menengadah, menatap langit malam yang menyelimuti Malfoy Manor yang seram. "Yakin." Katanya mantap. "Keterlaluan sekali bila aku tak bisa masuk rumahku sendiri,"

TBC

Hi, Julie update chapter 7

Julie geregetan banget nulisnya.

R.e.v.i.e.w sangat ditunggu-tunggu

Balasan reviews:

Adisti Malfoy: hai, Disti (boleh panggil gitu kan?) Julie bakal berusaha update kilat, tapi akhir-akhir ini, banyak halangan. Kyaa XD Julie berharap, sekali update langsung dua chapter, tapi jari-jari Julie nggak bisa ngetik scepat kilat.. jadi, maaf kalau update-nya lama banget

Terimakasih udah review, baca terus ya! :D

Cintaihya: makasih, :D Julie jadi semangat membara nih.. baca terus ya =D

Ochan malfoy: bunuh atau gak ya? *evil smirk* nggak, bercanda kok.. ntar yang mati Voldemort, jagoan kita hidup terus kok :D hahaha

Kaouromouri kiddo: wah, Julie gak bisa memastikan itu. Mungkin kamu bener deh, gatau lagi :D baca terus ya

Fuuchi: bener tuh, kalau ada seorang yang mati diantara mereka, jadinya sia-sia... 'Semuanya sia-sia kalau kita tidak bersama' XD gitu deh.. ^^ creepy? Merinding? Ah, masa? :D

Isobella Cerina: hai Ceri (kupanggil gitu ya?) iya, fict ini nanti pake epilog kok.. baca terus ya :D makasih semangatnya

Deejareed: happy ending? Pastinya :D

Hikari rhechen: nggak kok, gak bakalan mati :D Julie lindungi deh

Kebab: nggak, nggak :D

Spaceship: oke! :D

Caca: nggak, nggak mati kok ^^V gak tega diriku

Malfoy-ish: i..iya...si..siap *gemetar* :D Julie pasti memberi happy end, karena Julie amat sangat sangat sangat menyukai Dramione, jadi Julie gak tega kalau gak happy end ;D

Rosie: makasih, Rosie! :* yang mati Cuma voldy dan beberapa orang jahat kok

Selena Hallucigenia: Làstima itu jahat. Irena itu baik. Dan Kelly tidak pernah ada. Amor vincit omnia memang tidak berguna bila digunakan sendiri, amor vincit omnia tercipta karena kesatuan cinta dari dua manusia yang amat kuat. Bisa dibayangkan? Tapi, Draco tidak mengerti cara penggunaanya, begitu juga dengan Mione. Jadi mereka pikir, bila dipakai sendiri tidak masalah. Padahal, salah satu peraturan penting amor vincit omnia adalah: 'Semuanya sia-sia bila kita tidak bersama'. Draco waktu itu gak tega liat Mione, jadi dia pikir, biar dia aja yang mati. Brandina baik-baik saja, begitu juga dengan baby-nya. Lucius? Kita lihat saja nanti. HaRoGi sedang mencari hocruxes, dan DraMione yang mencari ramuan, nanti mereka bertemu di Hogwarts dan melawan Voldemort. Benarkah emosimu berubah-ubah saat membaca ini? Whhaa XD Read and review terus ya :D

PL Therito: salam kenal juga, terimakasih sudah membaca dan mereview fict Julie.. Honey itu sudah gak punya perasaan XD Tapi akhirnya dia mati juga tuh :D

Chavenake: no, she's alive :D baca terus ya :*

Supertrapnew: terimakasih :D

Naomi Averell: hai :D terimakasih review nya, Naomi, aku tersanjung dengan pujian mu *nangis terharu* makasih semangatmu untukku, aku jadi berapi-api! XD

BlueDiamond13: makasih, baca terus ya (^o^b)

: makasih, baca terus ya! :D

Ladyusa: oke, oke.. terimakasih untuk reviewnya :D

Tsurugi de Lelouch: nggak ada yang mati :D makasih sudah read and review

Nara Endah: oki doki! :D baca terus ya

Moku-Chan: hahaha, makasih udah R&R :D

Nyimi-chan: rate M? Hm, Julie gak kepikiran tuh :D makasih Nyimi :3 baca terus ya

DraconiSparkyu: oke, makasih udah baca dan review :D

Ryoma Ryan- Le Renard Roux: memang waktu menulis opening chap, Julie ngebayangin hal-hal manis yang biasanya dilewatkan para kekasih (meskipun Julie sendiri belum pernah XD) Lucius? Kita lihat saja nanti ya, Ryo

Terimakasih.

Thankyou

Je t'aime

Juliette Apple