Malfoy, Malfoy
Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling
...
Malfoy, Malfoy
WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T
by Juliette Apple
Rated: T
Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review!
Julie tidak sempat membalas review kalian, tapi Julie BERTERIMAKASIH yang banyaaaak sekali untuk kalian-kalian yang sudah bersedia review, read, fav, dan follow. Julie sibuk banget, jadi gak sempet balas review dan jawab pertanyaan kalian... ;A; maaf ya...
PS: untuk Wake up in the Future, Julie benar-benar BUNTU! X _x
~XOXOXOXO~
CHAPTER 8: PERANG
Draco berjalan dengan lagak pongah menuju gerbang utama Malfoy Manor.
Dibelakangnya, ada seorang gadis tercabik-cabik dan berdarah. Gadis itu meringis terus, dan Draco membentaknya. Ia menyeret gadis yang malang itu.
"Jalan!" bentak Draco emosi. Gadis itu dengan tersedu-sedu mengikuti perintah Draco yang bengis. Kaki-kaki kecil dibalik gaun putih si gadis sudah terseok-seok, ia seperti budak yang dijual dengan harga semurah kancing.
Gadis itu amat kumal, tapi bila melihat wajahnya, tak ada yang bisa menyangkal kalau ia cantik. Meski penuh darah, matanya itu seperti bola kristal cokelat—seperti opal yang mahal. Hidung itu begitu mungil dan manis, dan matanya...ah, berpelupuk tebal. Sungguh seperti mutiara yang tercebur dalam kubangan lumpur. Begitulah ia digambarkan.
Dia Hermione Malfoy. Dan ia tak sepenuhnya tersiksa.
Ini hanya drama. Draco dan dia—mereka—sedang memainkan drama ini.
"Aku akan menjadi Pelahap Maut yang kejam. Sekejam-kejamnya. Dan kau akan berpura-pura jadi tawananku yang paling menderita,"
Kira-kira begitulah.
Draco—secara pura-pura—menyeret istrinya itu menuju gerbang. Dan istrinya itu—secara pura-pura—melenguh kesakitan.
Ia melihat beberapa orang berjubah di depan gerbang. Yang satu seperti kera dan satunya lagi gendut. Mereka adalah Pelahap Maut yang ditugaskan untuk berjaga-jaga di depan gerbang.
"Lihat itu, Gav!" seru Si Gendut pada Wajah Kera. Si Gendut itu menunjuk-nunjuk Draco dan Hermione yang dengan susah payah melangkah. Draco mengatur rambut pirangnya dengan acak-acakan agar kesan bengisnya muncul dan aura jeleknya mencuat.
"Astaga, Gus! Itu Si Pemberontak! Mau apa dia kemari? Panggil Esperanza! Panggil Esperanza!" seru Wajah Kera heboh. Si Gendut segera menghilang ke dalam Manor untuk memanggil gadis paling jahat di dunia setelah Bellatrix Lestrange, Esperanza Paolo.
Esperanza muncul dengan wajah jelek, dan rambut keriting yang hancur-hancuran. Kukunya yang panjang melengkung ke dalam, dan bibirnya yang tipis amat buruk dilihat. Ia menyeringai saat melihat Draco menyeret Hermione ke gerbang.
"Anak Mama sudah pulang!" katanya penuh nada cela. Gus dan Gav berdiri dibawah bayangannya, merasa kotor dan kecil.
"Minggir, Paolo! Jangan halangi!" Draco meludah. Esperanza jelas tak menyukai penyambutan yang kasar itu. Ia menghadang Draco, dan menusukkan kukunya yang panjang ke pipi pria muda itu.
"Pengkhianat kecil..." bisik Esperanza.
"Jangan panggil aku begitu!" Draco mendecak. "Aku menyesali perbuatanku. Sekarang aku kembali lagi menjadi Pelahap Maut. Aku kembali mengabdi pada Pangeran Kegelapan. Aku bagian dari kalian, jadi biarkan aku masuk!"
Esperanza terperanjat. Ia menoleh kebelakang, ke arah Gus dan Gav yang mencicit. Kemudian ia kembali menatap Draco yang wajahnya penuh kemenangan.
"Aku tidak percaya!" Esperanza berkeras. "Kau pembohong! Buktikan kalau kau sudah menyesal!"
Draco tersenyum remeh, kemudian menarik Hermione dan mendorongnya sampai jatuh.
"Kupersembahkan, istriku yang cantik!" Draco terbahak. "Hermione," Draco merunduk untuk menghajarnya. Hermione berteriak—panjang dan memilukan, tentu saja ini bagian dari rencana.
Esperanza kelihatannya menikmati itu.
"Sudah cukup pembuktiannya? Aku mau masuk dan—"
"Belum cukup, Pirang!" Esperanza menghadang, kemudian melirik Hermione lewat matanya yang besar. Hermione berteriak-teriak, dan memegang pipinya yang berdarah. Gaun putih semata kaki itu sudah koyak, dan ia tak memakai sepatu, sehingga telapak kakinya sobek. "Kaukah yang lakukan ini? Kausiksa dia?"
Draco membusungkan dada minta dipuji. "Pastinya. Gadis ini benar-benar cerewet. Akan kubunuh dia di depan Pangeran Kegelapan. Lalu, dengan senang hati aku akan kembali menjadi Pelahap Maut yang berbakti,"
Esperanza masih tidak percaya.
"Oh, begitu," katanya menaikkan sebelah alis. "Kalau begitu siksa dia,"
Draco memucat. "Apa?"
Esperanza menodong telinganya. "Tuli? Kubilang SIKSA dia. Kalau kau bisa lakukan itu, aku akan percaya. Dan dengan senang hati kupersilahkan kau masuk,"
Draco tak menyangka bakal begini.
Esperanza mengangkat wajahnya penuh kemenangan. Melihat keraguan di mata keduanya, Esperanza berkata, "Sudah kuduga,"
Draco mundur sambil memikirkan rencana berikutnya. Hermione sudah tidak berakting kesakitan lagi—mengingat Esperanza sudah melucuti kebohongan mereka.
"Aku sudah tahu kalau kemungkinan berhasilnya amat rendah," Hermione tertawa—melecehkan kegagalan drama itu. "Jadi..."
Alis Esperanza menyatu. Dibalik punggungnya, ia menggenggam tongkat gendut dan sudah siap-siap mau menyerang.
"Jadi apa, Darah Lumpur?" Esperanza menyeringai, jarinya melekat erat di tongkat yang ia sembunyikan dibalik punggung.
"Jadi..." Hermione berdiri. "EXPULSO!"
"AVADA KEDAVRA!"
BLARR!
Tepian gerbang Malfoy Manor yang terbuat dari batu meledak, dan kepingannya beterbangan. Gus dan Gav berteriak tolol, lalu mencicit dan merangkak masuk. Esperanza tidak terkena serangan mendadak itu, begitu juga dengan lawannya, Hermione.
Draco menyiagakan tongkatnya juga, tersenyum sinis. "Drama kita gagal total," ringiknya pada Hermione.
Hermione membersit hidungnya dengan gaya anak badung. "Menggelikan sekali,"
Hermione melempar cahaya merah, dan membakar semak cranberry dibelakang pundak Esperanza, sebuah luka gores panjang tertoreh di pundak Esperanza yang terserempet mantra. Esperanza tentu tak mau kalah. Ia balas melempar kutukan biru dari tongkat gemuknya, yang segera ditangkis Draco.
"Dua lawan satu!" Esperanza terbahak. "Aku terima!"
Draco berbalik menghadap Hermione. "Dengar, Mione. Sekarang sudah bukan zamannya expluso dan petrificus, sekarang zamannya avada. Jadi, kalau kau tak mau mati, jangan segan-segan ucapkan mantra-mantra itu,"
Hermione membelalak. "Kaugila!" ia menangkis. "Maksudmu membunuh? Tak pernah kulakukan itu!"
Ditengah bincang mereka, Esperanza melempar kilat turkois dan Draco lagi-lagi menghalaunya.
"Dengar, perang sudah dimulai. Membunuh atau dibunuh, oke?" Draco melempar kutukan pembakar kepada Esperanza. Rambut Esperanza terbakar, kemudian ia menjerit-jerit marah.
"Aquamenti!" ia berteriak sambil menembakkan air dari tongkatnya kearah kepalanya yang dipenuhi tarian api merah. Rambutnya sekarang terlihat jelek, mengeluarkan asap, dan bercabang disana-sini. "Kau akan membayar ini!"
"AVADA KEDAVRA!" Draco berteriak.
"AVADA KEDAVRA!" Esperanza membalas.
BLAR!
Ledakan merah tercipta, ujung-ujungnya, Esperanza mengayunkan tongkat dan menembakkan lesatan-lesatan. Mantranya terbang mengelilingi kepala Hermione dalam bentuk bola api ungu, lalu meledak begitu saja.
Hermione terlempar kebelakang saat ledakan itu terjadi. "Mione!" Draco terpekik. Draco menoleh kebelakang, Hermione tersungkur diantara sesemakan elderberry yang ditanam di sebelah narcissus putih salju. "Mione!" Draco mendadak merasakan lonjakan aneh di perutnya, seperti perasaan mual yang benar-benar aneh.
"Aku tak apa!" Hermione mengangkat tangannya, tapi tidak dengan tubuhnya. "DRACO! AWAS!"
Draco menoleh, kilat hijau sudah setengah jalan kearahnya. Ia melempar pisau jingga dari tongkatnya.
Hampir saja kilat hijau itu memakannya. Esperanza meludahkan darah dari mulutnya, ia terkena pisau ilusi tadi.
"Duel, Sayangku?" ia berkata penuh gairah akan darah.
Draco tak menjawab, dan tak merasa harus menjawabnya.
"Kuanggap itu sebagai YA!" Esperanza mengayunkan tongkatnya diudara seperti banteng muda yang marah. Draco juga mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dengan kekuatan penuh.
Cahaya hijau dan cahaya kuning keluar dari tongkat mereka saat mereka menyentak, Draco adalah Cahaya Hijau itu dan Esperanza adalah yang satunya, Cahaya Kuning. Cahaya hijau dan cahaya kuning itu saling bertabrakan, banyak percik api keluar dari pertemuan kedua cahaya maut itu.
Suara gemuruh menjadi lagu pengantar duel, gemuruh dari cahaya-cahaya yang diludahkan dari tongkat masing-masing.
Untuk sesaat, mereka bertahan dalam posisi tegap, tangan kanan memegang tongkat teracung, dan kaki kiri lebih maju dibanding kaki kanan. Draco mengisap giginya, hangat-hangat terasa di dahinya—apalagi kalau bukan darah.
BLAR!
Cahaya kuning itu menghantamnya kebelakang sampai ia terpental. Pendaratannya-pun tak mulus. Punggung Draco menyapu lantai berdebu, dan tergeletak agak jauh dari Hermione yang lemas.
"DRACO!" Hermione menjerit, meluruskan tangannya untuk menggapai jari Draco, tapi tak sampai. Kalau Hermione sedang tegang, maka Draco kebalikannya. Ia merasa bagaikan pria paling tangguh di dunia. Semangat bertarungnya tiba-tiba mekar.
"Whooh!" ia berteriak sambil bangun, tongkatnya masih ada di genggaman. Darah itu memenuhi dahinya, sangat kontras dengan pucatnya kulit itu. Ia berlari maju, dan menerjang Esperanza dengan lengkung kilat perak dari tongkatnya.
Esperanza sempat tersungkur, namun, sebelum Draco menghabisinya, ia keburu bangun dan berteriak penuh amarah.
Tongkatnya memuntahkan cahaya merah disertai api yang menyambar-nyambar, Draco membalasnya dengan cahaya biru yang melesat bagai pisau-pisau es.
Sayatan demi sayatan mengahcurkan bentuk wajah Esperanza. Draco untuk sesaat merasa menang dalam duel ini. Sesaat.
Karena setelah itu, Esperanza bangkit kembali dan berteriak, "AVADA KEDAVRA!"
Draco tak memegang tongkatnya saat itu, jadi ia melemparkan tubuhnya ke samping untuk menghindari kutukan tersebut. Ia jatuh berguling-guling dan menabrak semak duri mawar beracun.
"DRACO!" Hermione berteriak penuh siksa. Ia tak bisa berdiri, ada bagian dari kakinya yang terluka dan membuatnya tak cukup kuat untuk memijak bumi.
Draco hanya melempar tatapan tangguh-nya, lalu kembali melempar kilat ungu pada Esperanza. Tanah dibawah mereka seolah-olah bergetar, pot-pot batu yang ditumbuhi narcissus dan daffodil meledak menjadi kepingan batu tak berarti.
"Tunggu!" cegat Esperanza. "Kubilang tunggu!"
Draco berhenti menyerang. Sepatunya bergesekan dengan tanah berdebu, yang debunya sudah memandikan tubuhnya. Esperanza memicingkan matanya, lalu menajamkan telinganya.
Ia memandang keatas, langit yang kelam menjadi makin kelam.
Ini pertanda.
Tiba-tiba saja, atap Malfoy Manor hancur. Bunyi retakan dan pecahan yang memekakkan telinga terdengar. Sesuatu seperti asap hitam keluar dari pecahannya. Asap hitam itu terbang lurus kedepan. Menuju Hogwarts.
"Whoops!" Esperanza mengelap pipinya yang berdarah. "Pangeran sudah tak bisa menunda perang, rupanya,"
"Apa maksudmu?" Draco berdiri goyah, Hermione ikut menajamkan telinga.
"Maksudku... Pangeran Kegelapan sudah memulai perangnya," Esperanza tersenyum sinis. "Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Asap hitam yang kaulihat tadi adalah rombongan Pelahap Maut dan Pangeran sendiri. Mereka menuju Hogwarts,"
Lalu dengan kekehan biadab, Esperanza berubah menjadi asap hitam juga dan bergabung dengan asap-asap lainnya di udara. Draco melihat mereka terbang, dan menjadi satu dengan awan kelabu.
"Mereka Pelahap Maut!" Draco mengejar laju mereka. "Mereka akan ke Hogwarts bersama Hidung Pesek! PERANG SUDAH DIMULAI!" Draco mendatangi badan Hermione yang terbujur kaku di tanah.
"Kakiku, Draco." Hermione meringis. "Sakit, sakit sekali."
Draco terdiam, memeriksa sekelilingnya, dan tak menemukan apapun yang bisa membantu. Ketika ia berbalik untuk melihat Manor, bangunan itu sudah sepi. Ia melihat retakan dan pecahan bekas pertarungannya tadi, dan atapnya yang bolong bekas dihancurkan Pelahap Maut. Ia kemudian berlutut di samping Hermione yang kesakitan dengan perasaan bersalah yang amat sangat. Ia membuka penyamaran Hermione (perban palsu, darah palsu, dan luka palsu)—yang tadinya digunakan sebagai pendukung drama mereka yang gagal total.
Ia melihat kaki dibalik gaun putih yang Hermione kenakan. Kaki kanan Hermione tidak berdarah, tapi ada sayatan panjang yang kelihatannya sangat menyakitkan.
"Aku tak tahu apakah ini dapat membantu," kata Draco. Ia membungkuk, lalu mencium luka panjang itu. "Apakah lebih baik?"
Hermione mengaduh kesakitan. "Tidak." Hermione mencoba tersenyum daripada meringis. "Ayo kita susul mereka ke Hogwarts,"
Draco memberikan senyumnya yang pasrah, lalu merangkul Hermione serta memapahnya berdiri. Ia meletakkan tubuh Hermione yang seringan bulu di punggungnya, kemudian menggendongnya lembut dan hati-hati.
"Kita ber-apparate?" Hermione berbisik.
Draco bersiap-siap. "Ya," katanya tegas. "Sudah siap? Dalam hitungan ketiga,"
"Satu," Hermione memulai.
"Dua," Draco menarik napas.
"Tiga," sembur mereka bersamaan.
Lalu mereka menghilang dibalik lecutan dan teriakan panjang.
~XOXOXOXO~
Voldemort berdiri, agak lemah, tapi penuh amarah.
Bellatrix berdiri disampingnya, tersenyum licik. Para Pelahap Maut menemukan Bellatrix dalam keadaan lidah terkunci dan tanpa-tongkat beberapa waktu yang lalu. Mereka segera membawa Bellatrix pulang, dan Bellatrix tak perlu waktu lama untuk bisa mendapatkan tongkat. Ia merampas tongkat Emeraldina, dan tentu saja tak ada yang melawan keputusan itu.
Lucius ada bersama Narcissa tak jauh dibelakang Bellatrix, Emeraldina dan Brandon mengekori mereka.
"Ibu, aku takut," Emeraldina berkata, perut dibalik jubahnya membesar, tapi selalu tidak tampak karena ditutupi.
"Jangan takut," Narcissa membelai rambutnya. Brandon menggenggam tangannya—meremas—karena ia juga sama takutnya dengan Emeraldina. Tapi untuk banyak alasan, ia harus berani.
"Brandy, akankah Draco datang?" Emeraldina menahan tangisnya yang mau pecah. "Apakah mereka selamat?"
Brandon menyikutnya pelan. "Aku percaya mereka selamat. Little bastard itu sepupuku yang paling tangguh. Lagipula, gadis bernama Mione itu punya tekad segunung. Tak mudah mengalahkan mereka," Brandon menguatkan, meski agak ragu terhadap kata-katanya sendiri.
Emeraldina menciut. "Aku merindukan mereka,"
Rombongan Voldemort bergerak maju, Hogwarts ada di depan mereka, diindungi kubah biru yang gemerlapan.
"Kita mulai sekarang," Voldemort berkata ringan, tapi mampu membius segala mahkluk disana, termasuk Lucius Malfoy. Lucius bergetar di sebelahnya, memegang tongkat yang nyaris tergelincir dari tangannya.
"SUDAH SIAP?" Voldemort berteriak. "Lucius, kau bisa membuka perang ini,"
Lucius bergetar makin hebat, semakin hebat ia gemetar, semakin hebat menyembunyikan ketakutan berakar itu. "Tuanku..." ia tergagap.
"Tuanku, tuanku!" Voldemort meniru ucapan Lucius, namun dengan nada mencela yang terbaik. "Jangan banyak tunda! MULAI, LUCIUS! SERANG!"
Lucius merunduk, lalu mengangkat tongkatnya ke udara. Bangunan besar di depannya—Hogwarts—tertutup selubung biru yang bergerak-gerak, seperti riak air. Langit diatas mereka begitu kelabu, begitu kelam dan hitam menyeramkan.
Dengan kekuataannya yang tersisa, Lucius mengarahkan tongkatnya pada selubung itu. Kilat biru keperakan keluar dari tongkatnya seperti peluru yang terbang melengkung, disusul kilatan biru dari tongkat Pelahap Maut lain yang berbaris dibelakangnya. Brandon dengan berat hati ikut melemparkan kilat biru yang sama—tentu saja untuk mengenyahkan pandangan buruk Pelahap Maut mengenai dia dan istrinya yang mengandung-dalam-diam itu.
Setelah kilat biru mereka menjamah selubung Hogwarts, tampaklah lubang-lubang di kubah itu. Kemudian selubung itu pecah, diiringi suara ledakan dan cahaya tajam keperakan. Lucius sedikit menutup matanya karena cahaya itu terlalu menyilaukan. Saat ia membuka mata, ia melihat Hogwarts sudah telanjang.
Perlindungan Hogwarts berhasil dibobol.
"Mulai," desis Voldemort.
Para Pelahap Maut berubah menjadi asap hitam lagi, dan Voldemort terbang kearah Hogwarts.
Lucius mengikutinya, Narcissa beraparate ke Hogwarts.
Para pejuang menyambut mereka. Murid-murid Hogwarts, para guru, dan banyak kroni yang melawan kebengisan Voldemort. Semuanya membentuk barisan semut, dan mulai menghambur melemparkan cahaya dan kilat. Tongkat-tongkat terangkat, dan nyawa-nyawa melayang.
Dengung ramai yang memekakkan telinga mewarnai aksi hari itu. Voldemort tidak melakukan apa-apa. Ia berdiri ditengah area peperangan, dilindungi oleh Lucius, Bellatrix, dan Roberto.
Esperanza berlari menuju ayahnya. "Papa!" katanya.
"Anza," Roberto maju dan membentangkan tangannya. "Mengapa kau tidak bertarung? Kaulihat Darah Lumpur yang bergerumbul disana? Itu targetmu. Bunuh mereka."
Esperanza menoleh. Joaquiin Jensen, Phyliss Eduardo, dan Carly Bradburry—si Darah Lumpur yang ditunjuk Roberto—berdiri disamping salah satu pilar Hogwarts. Mereka anak-anak tahun ketiga yang kikuk, yang mereka lakukan hanya berdempetan dan berteriak melihat semburan cahaya yang meledak dimana-mana. Esperanza akan menjadikan mereka makanan pembuka yang sedap.
"Aku senang sekali bisa menyantap mereka," ia mengelus tongkatnya. "Oh, Papa. Kautahu tidak? Si Pengkhianat dan istrinya datang ke Manor. Aku terlibat pertarungan singkat dengan dua bocah sial itu. Dan lihatlah! Lihat apa yang mereka perbuat dengan rambutku!"
"Draco?" Lucius maju, dan Voldemort merentangkan tangannya untuk menahan dada Lucius.
Roberto menoleh kearah Lucius, diiringi dengan tatapan ingin tahu dari Bellatrix.
"Keponakanku kembali ke Manor?" Bellatrix menyilangkan tangan di dada. "Apa mau mereka?"
"Mereka mencoba membohongiku tanpa tahu kalau aku seorang ahli legillimens," Esperanza mengangkat dagunya congkak. "Draco dan Darah Lumpur mencoba memainkan drama agar bisa masuk dan menyerang anda, Tuanku," kali ini, tatapan Esperanza beralih pada Voldemort yang berdiri dibalik Lucius. Lucius bergeser, sehingga Esperanza bisa dengan jelas melihat wajah Voldemort yang masih memakai topeng.
"Oh, sungguh memuakkan," Bellatrix menimpali.
"Tak apa, Bella." Voldemort berkata datar. "Lucius, anakmu itu sungguh banyak akal. Aku harus tahu apalagi yang ia rencanakan. Dan menantumu itu.. oh, sungguh Darah Lumpur paling cerdas yang pernah aku kenal. Benar-benar luar biasa," Voldemort berkata dengan nada dibuat-buat. Lucius sudah tahu kalau Voldemort sedang marah. Benar-benar marah, karena tuannya itu menurunkan suaranya.
Sekarang Draco dalam bahaya.
"Apakah Draco kita akan menyusul kemari? Bukankah menyenangkan kalau ia bergabung dalam... pesta?" Voldemort menggerak-gerakkan jarinya yang lentur. "Aku punya kejutan buatnya!"
"Oh, Tuanku, anda berwibawa sekali. Aku tak pernah menemui pribadi sekuat anda!" puja Bellatrix dengan linangan airmata penuh damba. Segaris cahaya merah melewati mereka, persis diatas kepala mereka. Dan Bellatrix—tanpa menoleh—melempar cahaya hijau kearah belakang, untuk membalas si pelempar cahaya merah. Lucius sudah bisa menebak cahaya itu sebagai kutukan penyayat non-verbal khas Bella. Dan benar saja.
Terdengar erangan dari belakang mereka, sepertinya kutukan itu berhasil mengenai seseorang. Saat Bellatrix berbalik untuk melihat siapa yang terkena serangan, ia mendapati tubuh padat yang sempurna, kepala penuh darah dan rambut hitam, dan mata berkilat yang tampan.
Brandon Lestrange.
"Ibu!" Brandon terengah, sedikit bungkuk karena kesakitan. Darahnya yang hangat mengaliri pipinya, kemudian menetes ke tanah. Tangannya bergerak-gerak terus, seperti kebas. Bellatrix melihat tongkat Brandon masih ada disana, sempurna.
"Brandon!" Bellatrix mengerang, matanya yang lebar seperti lorong hitam berbayang, tampak mengerikan. "Anakku sendiri!"
"AVADA KEDAVRA!" Brandon maju untuk menerjang Voldemort, tapi Esperanza melindungi Tuannya itu.
"Putraku sendiri! Mengkhianati aku! Putraku sendiri! Putraku sendiri! Aku tak percaya!" Bellatrix menyangkal kebenaran dengan menjerit-jerit sambil menatap Brandon. Ia berbalik, menghadap Esperanza yang mendecih kasar dan Tuannya yang tenang seperti granit berselimut salju. "Tuanku..." kata Bellatrix memelas.
Voldemort menyingkirkan Esperanza yang mengawalnya, dan berdiri sedekat mungkin dengan Bellatrix yang bimbang dan kecewa. "Apakah aku harus memberi opsi padamu? Seandainya iya, apa yang bisa kuberikan? Kau tak punya pilihan lain selain menghabisi dia," katanya datar dan berbahaya. Seandainya Bellatrix bisa menatap mata Voldemort, yang ia lihat mungkin sepasang manik terkutuk berkilat penuh kabut maut. Dari nada bicara Voldemort yang licin, Bellatrix sudah mengira kalau Tuannya itu takkan memberi ampun lagi pada putranya.
"Ibu, jangan dengarkan dia..." Brandon memohon. Untuk sesaat, Bellatrix merasa ingin merengkuh tubuh goyah Brandon. Tapi bila melihat Voldemort, rasa itu menguap dengan cepat.
"Bellatrix, putramu tumbuh menjadi pengkhianat. Apakah ia harus hidup? Haruskah kau membiarkan pemberontakku hidup?" Voldemort menggerakkan lehernya ke kanan, lalu kembali menegakkannya. "Pikirkanlah. Aku atau..." Voldemort mengangkat tangannya, mengarahkan jemari abu-abu kearah tubuh Brandon. "...dia?"
Alis Bellatrix menyatu.
"Ibu, aku ini penakut. Tapi, aku ini seorang putra—aku putramu. Aku seorang suami. Aku seorang sepupu—bagi Draco. Aku seorang ayah juga," Brandon mengatakannya dengan benar-benar sadar, ia tak berencana menyembunyikan apa-apa lagi. Bahkan tentang Emeraldina. "Aku harus berani. Karena aku laki-laki. Itu yang kau ajarkan padaku. Aku akan menerima segala kemungkinan yang terjadi."
Bellatrix menegang, matanya membesar lagi, dengan sorot kebencian yang meledak-ledak. "Seorang ayah kaubilang? Kau punya anak?"
Brandon mengelap darah di dahinya yang menetes di bibirnya, kemudian dengan berani berkata, "Ya."
Sesuatu meledak di belakang mereka, tapi tak satupun berbalik untuk menengok apa yang hancur. Semuanya terlajur terseret dalam ketegangan yang ditawarkan malam itu—antara seorang ibu yang kehilangan hatinya dan seorang putra yang menerima kembali keberaniannya. Terdengar teriakan, jerit frustasi, dan mantra-mantra peledak serta kutukan yang mengalir bagai musik mistis. Brandon berdiri tegap diatas kakinya, berusaha tak kehilangan pijakan. Berusaha jadi berani sebagai laki-laki yang menggendong banyak tanggung jawab. Dan Bellatrix—saat menatap Brandon—teringat kembali masa-masa dimana ia menimang tubuh Brandon, menyanyikan lagu pengantar tidur saat ia masih kecil, dan mencium pucuk kepalanya. Tapi semuanya akan berakhir dikubur di puing-puing Hogwarts. Tersapu bekas-bekas perang.
Karena Bellatrix memilih Voldemort.
Karena Bellatrix kehilangan hatinya dan segala kehangatan.
Karena Bellatrix sudah menukar segala kebahagian demi keangkuhan dan kepahitan.
Karena Bellatrix sudah mengambil keputusan.
Ia akan mengakhiri ini.
"Dalam hitungan ketiga, putraku," Bellatrix menggulung lengan jubahnya, mengangkat dagunya, dan melebarkan matanya penuh ambisi. "Satu,"
Brandon mengelap darahnya yang tak mau berhenti, kaki kanannya maju, dan kaki kirinya berada sedikit jauh dari kaki kanannya. Tangan kanannya terangkat, dan tongkatnya teracung. "Dua. Kau punya beberapa detik untuk kembali kepadaku, Ibu. Sebelum segalanya hancur dan tak bisa direkat lagi,"
Bellatrix pura-pura tuli. "TIGA!"
Kira-kira, tiga kutukan merah dan hijau beterbangan dari tongkat masing-masing. Voldemort, Esperanza, Lucius, dan Roberto menyingkir kebelakang. Bellatrix maju, melempar lima kilat biru sekaligus dalam satu lambaian tongkat sederhana. Brandon menangkis segalanya, dan balik menyerang Bellatrix dengan kilat ungu. Saat Bellatrix menghindari kilat ungu itu, kilat ungu itu berbelok dan menghantam pilar dibelakangnya, kemudian pilar itu rubuh dan terbakar oleh api ungu dengan ujung-ujung keemasan.
"Kutukan Indigo?" Bellatrix menatap bekas pilar yang terbakar. "Kau belajar banyak, eh?"
Brandon meludahkan darahnya, lalu menyeringai dengan satu sudut bibir terangkat. "Aku selalu belajar,"
"CRUCIO," Bellatrix mengerang.
Brandon menarik tangannya yang satu lagi, lalu dengan dua tangan terangkat, ia melempar cahaya kuning kusam yang mengeluarkan percik-percik api.
Tiga tubuh jatuh disamping Bellatrix, rupanya Esperanza telah membunuh Bradburry, Eduardo, dan Jensen. Mereka mati, dan jasad mereka terlempar ke samping Bellatrix.
Ledakan demi ledakan di belakang tubuh mereka semakin jelas. Mereka berduel ditengah perang yang makin panas. Teriakan dan lengkingan terdengar keras. Mereka tak bisa menahan diri untuk tidak menyerang, jadi mereka saling melempar kutukan hijau lagi.
"Aku tahu harusnya nama depanmu diambil dari nama rasi bintang. Aku menyesal tak mendengarkan nasehat Rodo dulu," Bellatrix menarik napas. "Aku sudah terkena kutukan keluarga Black. Dikatakan bahwa seorang keturunan Black yang nama depannya tidak menggunakan nama rasi bintang akan berkhianat. Aku menyesal telah menganggap enteng anggapan itu. Sekarang lihat dirimu! Sangat bertolak belakang denganku—dengan kemauanku!"
"Aku tidak rela menjadi pembela kejahatan!" Brandon mengelak. "Dan—ya! Kau sudah dikutuk! Harusnya namaku Ara atau Vulpecula. Tapi kau menamaiku Brandon—ha! Nama munggle!"
Bellatrix meludah. "Nak, kita selesaikan disini?"
"Kapanpun kau siap."
"Aku selalu siap."
"Avada Kedavra,"
"Avada Kedavra,"
TBC
BLARRRR!
Huueeeh siapa yang bakal menanggggg? #mimisankarenaditabokbrandon
Harry, Ron, dan Ginny muncul di chap depan bergabung dengan DraMione
Chapter depan adalah tamatnya Malfoy, Malfoy
Kita ketemu di chapter depan, ya!
Je t'aime
Juliette Apple
