Malfoy, Malfoy
Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling
...
Malfoy, Malfoy
WARNING: CERITA ANEH, dan gangguan lain (mohon dimaafkan) T^T
by Juliette Apple
Rated: T
Thanks a lot! Terimakasih untuk yang sudah review, fav, follow, dan read!
Terimakasih untuk semangat kalian sejak chapter 1 sampai terakhir. Julie senang sekali karena fict pertama Julie ini disambut dengan baik (?), padahal cerita ini buruk sekali. Malfoy, Malfoy sekarang tamat, tapi kita akan ketemu lagi di fict lainnya ya!
PS: Julie akan membuat epilog
Mungkin sekuel dan extra chapters? Entahlah, belum pasti :D
Cheerio,
-Julietta Lorraine Appleton a.k.a Juliette Apple-
Betewe, Draco dan Hermione tetep hidup, kalo ada kata 'mati', itu mereka gak beneran kok, Julie warning aja, takutnya kalian klik 'back' waktu baca ada yang 'mateeehh'. #ngalay
~XOXOXOXO~
CHAPTER 9: THIS IS THE END
Draco mendarat dengan kaki duluan diatas semak berduri. Perutnya terasa terpilin dan pipinya merah seperti habis ditonjok. Saat ia memandangi sekelilingnya, ia mendapati Hermione tergeletak di sebelah pohon birch hitam.
"Draco," Hermione berkata padanya, kemudian memberikan tangannya untuk disambut. "Bantu aku berdiri,"
Draco mengebas-ngebaskan debu di celananya, lalu menarik tangan Hermione dan membantunya berdiri.
"Kau tak apa?" tanya Hermione, menahan rasa mual.
"Tidak. Aku oke," jawab Draco jelas.
Hermione berjalan terpincang-pincang dengan susah payah, Draco menuntunnya menjauh dari pohon birch hitam. Draco memapahnya setengah jalan, lalu menggendong Hermione kembali di punggungnya. Mereka berada di tempat yang penuh pohon kurus tinggi menjulang, dengan rerumputan cokelat dan tanah basah yang lembek seperti bubur. Hujan sepertinya telah membuat tempat itu hancur.
"Kita di Hogwarts?" Hermione berbisik, mengacuhkan bayang-bayang mengerikan di sela-sela ranting pohon birch.
"Ya," jawab Draco meragu, pemandangan sekitar mereka tampak seperti bukan Hogwarts. "Mungkin. Mungkin bagian lain Hogwarts,"
Tiba-tiba, Hermione seperti disambar sesuatu. "Oh, yaampun!" ia memulai. "Ini sudah dekat Hogwarts (A/N: maaf, ambigu. I don't have any idea 'bout this). Bagaimana mungkin kita bisa..."
"Lupa?" Draco memotong ucapannya, seketika suasana berubah. "Hell, perjalanan ini membunuh ingatanku akan sekolah dan hal-hal normal lainnya."
Hermione menggeleng, meski ia setuju dengan suaminya. "Aku juga merasa begitu."
Draco kembali memandang menerobos bayang-bayang malam, dan mencari jalan keluar dari hutan. Di kejauhan ia mendengar suara gaduh—ledakan, teriakan, dan erangan tersiksa. Ia menyadari itu: perang sudah mulai tanpa mereka ada di dalamnya.
Ia mencoba menoleh kebelakang, ingin sekilas melihat wajah lelah istrinya yang terluka. Namun yang ia dapati malah kecupan ringan di telinga. "Hei, kalau perang ini mengakhiri hidupku, maukah kau memberi nama anakmu 'Scorpius'?" tanya Hermione tanpa beban.
Draco sedikit mengguncang gendongannya. "Bodoh. Persetan dengan kematian. Kalau perang ini mengakhiri hidupmu aku juga mati. Dan ada apa dengan 'maukah kau memberi nama anakmu Scorpius'? Anak? Jangan bilang kau hamil," tuntut Draco cepat.
Ia merasakan helaan napas. "Halo, Tuan Pintar? Apa aku terlihat gemuk?" Hermione menahan tawa. "Aku ini istri terpaksamu. Kau pastinya...pastinya—kita pastinya—akan berpisah setelah konflik berakhir. Well, mungkin Ayah Darah Murnimu akan menjodohkanmu dengan wanita Darah Murni yang memakai korset dan kalian akan memiliki anak pirang menyebalkan." Sekarang Hermione terdengar kecewa berat.
Draco ingin, ingin sekali memutar kepalanya lebih ekstrem dan mencium Hermione tepat di bibirnya, tapi sekali lagi, alam berkata bahwa ia bukan burung hantu, jadi ia hanya berkata, "Aku tidak akan menceraikanmu untuk menikahi wanita berkorset, aku hanya ingin wanita yang kucintai, dan itu adalah dirimu. Kau lupa kalau aku mencintaimu?" Draco tersenyum meski Hermione tak melihat itu, ia tersenyum pada udara hutan yang berbau tanah basah. "Dan.. anak kita nanti bukan anak pirang menyebalkan,"
Hermione memerah pipinya, ia merasa malu tapi mencoba menutupi itu. "Scorpius. Namanya harus Scorpius." Hermione mengingatkan.
"Tidak mau, kayak cewek," Draco mengernyit, menyesali selera istrinya yang aneh-aneh.
"Scorpius!"
"Tidak. Draco Junior terdengar seksi,"
"SCOR-PIUS,"
"Dra—"
DUAAARR-!
_XOXOXOXOX_
"Ibu?" Brandon membulatkan matanya, kesedihannya membludak menjadi tangis bisu.
Bellatrix berdiri, matanya sudah mengering—ia tak berkedip. Voldemort, Lucius, Esperanza, dan Roberto memandangi mereka. Betapa tragisnya. Betapa mengecewakannya. Betapa ricuhnya.
"Apa yang ia lakukan? Ia ikut campur..." Bellatrix menahan napasnya yang berat.
"Aku..aku.." Brandon tak bisa bicara. Sesuatu yang disebut kesedihan mengunci lidahnya, menempelkannya di langit-langit mulut.
Mayat, ditengah duel mereka ada mayat. Dan mayat itu bukan salah satu dari mereka—Bellatrix ataupun Brandon.
Itu gadis dengan dengan rambut hitam, jari lentik, wajah rupawan.
Itu Emeraldina.
Gadis bodoh itu—gadis heroik itu—melompat ke tengah Bellatrix dan Brandon, tepat saat kutukan kematian diucapkan. Dua kutukan kematian. Dua.
Dobel kematian untuk Emeraldina.
Mati.
Mati.
Brandon menjatuhkan dirinya, menyadari bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang amat sangat berhaga. Keluarga, cinta. Hanya saja ia tak kehilangan ibunya—itupun kalau Bellatrix masih menganggapnya anak setelah pertarungan saling bunuh mereka.
Karena itulah ia menjatuhkan dirinya, ia menangis, berlutut di depan istrinya, meletakkan kepalanya diatas pangkuannya, dan menciumnya.
Bellatrix mematung ditempatnya berdiri, bayangannya seolah jijik padanya. Semua orang meneriakinya. Ditengah kericuhan perang, hanya satu suara yang dengan jelas bisa ia dengar: tangisan itu—tangisan kehilangan.
Tangisan Brandon.
Voldemort mendekati Bellatrix, menjejal telinganya dengan kata-kata. "Pengkhianat pantas mendapatkan itu," gaungnya.
Kemudian Voldemort berlalu bersama Roberto dan Esperanza, Lucius memandang jenuh putri angkatnya yang sudah meninggal. Brandon menangisi mayatnya, dan memeluk tubuhnya yang dingin. Sudah tidak ada lagi Emeraldina.
Bila seseorang meninggal, saat kau pulang ke rumah, dia sudah tidak ada. Bila kau pergi ke tempat kenanganmu bersamanya, ia sudah tidak ada. Bila kau memanggil namanya, ia sudah tidak datang. Dan bila kau mencintainya, melepasnya akan jadi hal terberat.
Lucius meninggalkan setitik air mata untuk putrinya, putri angkatnya yang ia kasihi. Kemudian Roberto menariknya keluar dari momen pembunuh itu, dan mengajaknya bergabung dengan Sang Kegelapan, Pangeran Pembunuh Voldemort.
_XOXOXOXOX_
"Hermione, aku harus berlari," Draco memeringati.
Hermione menggeliat di punggungnya. "Aku mengerti. Kita harus ke area perang sekarang,"
Baru saja ada ledakan. Sepertinya berasal dari daerah perang. Ledakan itu membakar pohon-pohon birch dan sesemakan hitam. Draco dan Hermione akan terperangkap dalam hutan apabila mereka tidak cepat lari. Dan Draco telah melakukannya. Secepat kakinya membawanya, ia menembus jalan berliku dan keluar menerjang api.
Beberapa pohon jatuh di depan kakinya, namun ia melompatinya dengan sigap. Mereka sampai dengan selamat keluar dari zona berapi, dan jatuh berguling di tanah.
"Dray!" Hermione memanggil, berlari kearahnya lalu meraih tangannya.
Pipi Draco terluka, dan beberapa bagian tubuh lainnya terkena api. Tapi itu tidak seberapa. Ia bahkan tidak mengerang.
Mata Draco terpaku pada langit malam yang berpendar bukan karena bintang, melainkan ledakan.
"Lihat disana? Perangnya disana." Draco bangkit dan membersit darah di pipinya.
Dada Hermione turun-naik. Ia merasakan gejolak—sebuah pertanda. Sebuah isyarat. Entah apa perasaan ini, tapi yang pasti, ini bukan sesuatu yang bagus.
"Mione," Draco memanggil.
"Apa?"
"Amor vincit omnia tidak rusak?"
Hermione memeriksa saku gaun putihnya, ia mengeluarkan botol ramuan maut itu. Keadaan botolnya sedikit kotor, ada lecet di leher botol—namun isinya bisa dijamin baik-baik saja. Setelah itu, Hermione berani berkata, "Aman,"
Draco menghela napas, tapi tidak berkata apa-apa lagi mengenai amor vincit omnia. "Kau bisa berjalan? Atau mau kugendong lagi?" Draco melirik kaki Hermione.
Hermione tak mengerti maksudnya. Entah pertanyaan tadi itu cuma gurauan atau memang mengandung keseriusan (nada bicara Draco barusan agak menggoda, masalanhya). Tapi, Hermione memeriksa kakinya—ia menggerakkannya. Lumayan meningggalkan rasa nyeri, tapi sudah cukup baik untuk dipakai berjalan.
"Sempurna. Aku bisa jalan sendiri," katanya yakin.
Draco mengelus pipi Hermione dengan ibu jarinya. "Bagus. Ayo,"
Hermione menggandeng tangan Draco, lalu mereka berdua ber-apparate masuk daerah perang.
Saat mereka menapak Hogwarts, semuanya hancur dikoyak perang. Seakan-akan terlalu rakus untuk menyisakan sesuatu, perang mengambil kembali nyawa orang. Mayat. Seseorang baru melempar kutukan pada gadis Hufflepuff, Pamela Adoreè. Pamela jatuh tepat di kaki Hermione, membuat memekik ngeri. Wajahnya, tubuhnya, pucat pasi—tidak dialiri darah.
Draco dengan iba berjongkok, menutup mata Pamela yang terbuka, dan menggendong gadis itu. Ia dan Hermione mulai melangkahi daerah perang yang ricuh, dimana tiada seorangpun peduli atau memerhatikan mereka. Ia melihat ibunya—ibu Pamela, Nyonya Orlene Adoreè.
"Nyonya Orlene." Draco menghampiri, dan Nyonya Adoreè begitu terkejut melihat bawaannya. Putrinya. Putri bungsunya.
Ibunya tidak menangis. Hanya menarik napas, kemudian tersenyum pasrah. "Gadis bodoh," katanya kuyu. Ia mengecup pipi Pamela, mengambilnya dari Draco, dan membakar mayatnya dengan kutukan pembakar.
Abunya terbang kelangit, dihempas alunan mantra yang mengalir.
"Itu akan lebih baik," Orlene menutup matanya letih. "Gracias, Senora Malfoy,"
Draco tersenyum, ia tidak mengerti bahasa Spanyol.
_XOXOXOXOXO_
Voldemort, Roberto, Esperanza, dan Lucius berjalan menuju bagian dalam sekolah. Mereka meninggalkan Bellatrix bersama Brandon dan seorang mayat—Emeraldina.
"Tuanku, kudengar Potter ada didalam kastil." Roberto mencicit, mengekori Voldemort yang berjalan menggebu.
"Kami..kami bisa menangkapkannya untuk anda, Tuanku," Esperanza menambahkan dengan tidak percaya diri.
Voldemort menghentikan langkahnya.
"Jika ada orang yang berhak menangkap, membunuh, mencincang, menguliti, dan mencerna Potter dalam ususnya, maka orang itu adalah aku." Voldemort berkeras, marah.
Roberto dan Esperanza diam karenanya.
Lucius hanya membisu. Ia begitu waspada. Kastilnya sudah kosong, semua keluar untuk bertarung. Atap kastil hancur, lantai batu pecah-pecah. Hilang sudah gambaran menakjubkan Hogwarts.
Mata Lucius mengawasi keluar kastil, ia melihat lewat jendela pecah.
Seorang pria pirang, tampan, tinggi tegap, berjalan. Disebelahnya, seorang wanita rambut coklat—sesemakan berjalan.
Itu dia. Itu mereka. Itu Draco. Itu Hermione.
Mata Lucius membesar, langkah kakinya semakin lambat, tak lagi mengimbangi pergerakan Tuannya dan rekannya. Pada akhirnya, ia berhenti untuk memastikan.
Ia mendekati jendela, setelah sebelumnya memastikan bahwa Voldemort, Roberto dan Esperanza tidak memerhatikan. Ia melongokkan kepalanya keluar, itu dia. Itu benar dia.
"Draco..." Lucius berbisik pada dirinya sendiri, ia menyadarkan dirinya. "..Narcissa,"
Ia melihatnya. Selain putranya, diluar sana berjalanlah wanita anggun yang ia kasihi sebelum ia kehilangan hatinya. Itu Narcissa. Cissy-nya.
Narcissa sepertinya sudah melihat Draco dari jauh. Draco berlari kearah ibunya, dan Hermione mengekorinya seperti anjing yang patuh dan setia. Narcissa menyambut mereka dalam pelukannya—bukan hanya Draco, tapi Hermione sekaligus. Lucius mulai menebak-nebak percakapan mereka. 'Bagaimana keadaanmu?' atau 'Kalian selamat, ibu mencintai kalian.'
Cinta.
Lucius menajamkan matanya.
Cinta.
Ada perang yang lebih hebat di hatinya. Saat ia melihat Draco menyatu dengan Narcissa, ia mulai mengingat sesuatu yang ia lupakan sejak lama: keluarga.
Ya.
"Lucius?"
Ya, itu dia. Keluarga.
"Lucius Malfoy!"
Lucius menoleh, ia mendapati Roberto dalam raut wajah yang tidak menyenangkan seperti biasa.
"Apa yang kaulihat? Pangeran dan Anza sudah berjalan cukup jauh saat kami menyadari kau kabur!" desaknya.
Lucius tidak menjawab. Ia berjalan, melewati badan Roberto dengan dingin, diam. Roberto memaki di udara, kemudian berjalan di sampingnya. Lucius memberi satu lagi tatapan keluar jendela—Narcissa dan Draco masih disana, bersama Gadis Semak. Ia baru saja kehilangan Emeraldina, dan ia hanya menangisinya setetes. Ia memikirkan itu. Betapa ia sangat dingin, betapa ia lupa pada keluarganya. Padahal ialah kepala keluarga.
Naas.
Ia baru menyadari sesuatu yang berharga ketika itu direnggut darinya.
Ia menoleh lagi kebawah sambil terus berjalan pelan. Narcissa kembali memeluk putranya. Ia kembali memusatkan perhatian pada lorong yang dilaluinya. Lorong itu diam, tanpa gema. Mati dan gelap. Roberto berjalan congkak disebelahnya.
Lucius mengepalkan tangannya, ia ingin kembali pada putra dan istrinya. Tapi, sial. Yang ada di hadapannya hanya lorong hitam. Namun sekarang tidak lagi. Voldemort sudah disana, bersama gadis jelek Esperanza.
"Jadi?" Voldemort bertanya pada mereka bertiga, tapi matanya hanya ada pada Lucius. "Mana Potter sayangku itu?"
Roberto merunduk, memandang kakinya. Esperanza pura-pura mengagumi ukiran di tembok. Dan Lucius masih dalam momen matinya.
Voldemort mengeluarkan tongkatnya, mengibaskannya, dan membuat cahaya merah memuncrat keluar. Cahaya itu mendamprat pilar, menghancurkan menjadi keping dan abu.
"PENGHAMBAT!" ia berteriak murka.
Tepat pada saat itu, ia mendengar kegaduhan dibawah.
"Harry! Itu Harry! Itu Potter!"
Voldemort menjadi bergairah. Ia setengah melompat mendekati jendela, dan mendapati sosok incarannya: Bocah Yang Bertahan Hidup, Harry-sayangku-Potter.
Voldemort tersenyum. Ia berubah jadi asap hitam, lalu melesat turun lewat jendela menuju tempat perang. Ia mendekati Harry yang dikerumuni para pengagum.
Harry menyadari itu, ia keluar dari keramaian yang mendesaknya, lalu mengcungkan tongkatnya. Ia mengirim cahaya hijau pada Voldemort, namun Voldemort mengibaskan tongkatnya kembali, hendak menyambarnya dengan Avada Kedavra. Harry melompat, menggunakan tongkatnya untuk melawan.
"DIA DISANA!" Voldemort berteriak pada para pengikutnya yang sedang bahagia menyiksa tawanan mereka. "TANGKAP!"
Para Pelahap Maut suruhan itu menguap jadi asap hitam, mengerjar Harry dari belakang. Bellatrix tak diam saja. Ia juga ikut mengejar, meski ia tak tahu ini baik atau tidak. Hatinya masih sedikit—boleh dikatakan—miris.
Harry berlari keluar daerah Hogwarts, menuju Hutan Terlarang. Voldemort terbang lebih cepat, membelah lautan mayat. "IA MENUJU HUTAN TERLARANG!" jerit Voldemort menggila (haha).
Narcissa melihat kejadian itu, kemudian berbalik pada anaknya. "Draco, ibu harus lihat ada apa," kemudian ia berlari menyusul, dan hilang ber-apparate.
Draco tak berniat ikut, karena ia melihat sesuatu di tengah kerumunan. Brandon, bersama gadis di pangkuannya.
"Oh, tidak..." Hermione menutup mulutnya dengan tangan, alisnya melengkung sedih. Draco berlari. Mendorong orang-orang untuk melihat Brandon.
"Brandy! Brother! Little Bastard!" Draco memanggil. Brandon mendengarnya, tapi tak sedikitpun mengalihkan pandangaan dari sosok di pangkuannya.
Brandon menangis, mengasihani diri.
"Brandon!" Draco terengah, kemudian ia berteriak saat melihat adik angkatnya terbujur kaku. "Oh, tidak. Emmie!"
Draco berjongkok, meraih tangan adiknya, dan meremasnya. "Apa yang terjadi? Ia terluka? Ayo cari bantuan!" Draco hendak menarik tangan Brandon, tapi Brandon hanya membatu, menangis.
"Brandon!" Hermione sedikit jengkel. "Ayo bangun dan cari matron. Kita bisa memberinya ob.."
"Dia wafat."
Hermione membeku. "Apa?"
Brandon pada akhirnya mengangkat kepalanya, dan baik Draco maupun Hermione bisa melihat matanya yang merah. "Tidakkah kau lihat? Tidakkah kau lihat wajahnya?" Brandon mengelus pipi dingin Emeraldina. "Tidakkah akal kalian memberi tahu kalian bahwa ia sudah tidak bersama-sama dengan kita? Bahwa ia telah mati?"
Hermione kembali menutup mulutnya. "Tidak..tidak mungkin,"
"Ya!" Brandon berteriak pilu, sebagian rambutnya basah karena keringat dingin. "Ia mati! Aku membunuhnya! Aku! Itu keluar dari tongkatku!" akunya, ia menangis lebih pilu, lebih menyakitkan lagi.
Draco berlutut disampingnya, begitu juga Hermione. Hermione membelai rambut Emeraldina, wajahnya damai, tidak seperti mayat lainnya.
"Terimakasih," bisik Hermione pada Emeraldina.
Draco mengelus punggung tangannya. "Hei, Emmie. Kakak menyanyangimu," kemudian Draco mencium pipinya.
Brandon tidak tampak tersentuh, tetapi ia merasa sedikit hangat, karena perlakuan baik mereka.
"Hermione?" panggil suara wanita dari belakang punggung Hermione. Hermione menoleh, matanya melebar, dan senyum harunya mengembang. Ia berdiri, disusul Draco yang berpamitan pada Brandon. Hermione berlari dan memberi pelukan erat yang akrab pada gadis itu.
"Ginny! Ginny!" Hermione berteriak. Ginny Weasley—gadis yang memanggil tadi—tampak begitu bahagia karena bisa bertemu kembali dengan kawan baiknya, Hermione Granger.
"Mana yang lain, Gin? Mana Ronald? Mana Para Weasley?" tanya Hermione begitu bersemangat.
Mendengar itu, Ginny malah memberinya wajah memelas. "Aku tak tahu, Herms. Kami berpencar. Dan Harry—kau tahu, barusan Pesek mengejarnya. Fred tadi bersama George. Percy juga ada di sana, tapi aku tak tahu lagi. Aku kabur saat dikejar Pelahap Maut, kami terpisah," jelas Ginny panjang. "Oh, Herms. Aku sangat khawatir. Aku takut..aku takut..tak ada yang tersisa. Tak ada dari kami—Para Weasley—yang tersisa. Aku takut... keluargaku mati."
Hermione memberinya pelukan singkat yang menenangkan. "Kau tidak boleh memikirkan itu. Kita harus memenangkan perang, lalu semuanya akan kembali seperti semula. Semuanya akan menjadi bahagia," kata-kata Hermione dipenuhi amanat positif, meski ia sendiri meragu dalam hatinya. Ia sendiri meragukan keselamatan dirinya, keselamatan sahabat-sahabatnya, keselamatan Draco...
Tiba-tiba, ditengah pemikiran panjang Hermione, kerumunan perang bertambah riuhnya, orang-orang berhenti melempar mantra. Mereka mulai berisik, berdiri berjejal. Sebelum Hermione sadar apa yang terjadi, arena perang telah berubah. Ada dua kubu, kubu Voldemort yang dipenuhi Pelahap Maut berjubah hitam. Dan kubu pejuang Hogwarts.
Ada jarak yang memisahkan mereka. Sebuah lingkaran kosong ditengah arena peperangan. Voldemort berada di titik pusat lingkarang itu, pengikutnya semua memasang wajah licik dan seringai tajam. Harry Potter, berdiri di dekatnya, masih hidup, tetapi sudah lemah tak berdaya. Tongkatnya tak ada di tangannya.
Voldemort tersenyum puas, ia mengangkat tangannya, dan dengan suara bangga berseru: "HARRY POTTER TELAH KUTANGKAP!"
Hening. Mendung.
Tidak ada yang bersuara, kubu pejuang terdiam. Mata mereka kosong, mulut mereka tak bisa mengeluarkan desah. Semuanya terkejut, semuanya kecewa, semuanya takut. Satu-satunya harapan mereka untuk bisa bebas—Harry Potter—dia sudah tertangkap. Dan pertanyaannya, mengapa Voldemort belum membunuhnya?
"TIDAK—TIDAK!" hal mengejutkan terjadi. Ginny, yang berdiri di sebelah Hermione tiba-tiba menjerit panjang dan histeris, ia maju, hendak menerjang mahkluk satanik yang membunuh Harry—Voldemort itu—tetapi Hermione memeganginya agar ia tenang dan tidak meronta.
Voldemort penuh kepuasaan tertawa, dan dengan tololnya, para Pelahap Maut yang berjejer di belakangnya mengikuti tawanya. "Lihat—lihat. Gadis bodoh, dia pasti seorang Weasley."
Para Pelahap Maut kembali membentuk paduan suara tawa.
"Sekarang..." Voldemort berbalik untuk melihat para pengikutnya, yang dengan mata memuja memandang padanya. "Aku belum bisa membunuh kutu ini," ia berbalik pada Harry. Tangannya yang cacat meraup wajah Harry. Harry tak bisa melawan. Ia begitu lemah—lemas.
Voldemort dengan tidak senang kembali ke berdiri di tempat semula, kali ini memandang pembela Hogwarts. "Fisikku belum sempurna." Katanya. Itu menjelaskan semuanya. "Aku butuh jantung Draco Malfoy, untuk menyempurnakan kematian Potter,"
Semua pembela Hogwarts tertegun. Mata mereka bergerak, melihat orang yang dimaksud Voldemort. Draco Malfoy—ia berdiri dibelakang Hermione Granger dan Ginny Weasley. Wajahnya ketakutan seperti badai besar, tetapi ia berusaha terlihat tegar dan dingin. Voldemort mulai berbalik lagi, ia memusatkan perhatiannya pada Draco Malfoy. Ginny menyingkir karena jijik pada pandangan Voldemort dibalik topengnya. Hermione bergeser menutupi Draco, tangannya menggenggam tangan suaminya.
"Ah," Voldemort berjalan mendekat, jantung Hermione memburu. "Malfoy, bersembunyi dibalik...istrinya,"
Seluruh pembela Hogwarts berbisik riuh.
"Malfoy? Menikah dengan Granger?" Hermione bisa mendengar itu dimana-mana, bisikan kaget para pembela Hogwarts.
Voldemort mendengus, meletakkan tangan cacatnya pada Hermione. "Inilah gadis yang dikasihi Malfoy. Inilah Hermione Granger." Tangan Voldemort terasa dingin di pipi Hermione, Hermione memperkuat genggamannya pada Draco. "Nah, aku pinjam suamimu, ya, sayang?"
Hermione memberanikan dirinya menghadapi mahkluk di depannya.
"Selamanya tak akan." Balas Hermione dingin. Hampir seluruh manusia hidup disana bisa mendengar keteguhan dalam suaranya, mereka menahan napas.
Voldemort kelihatan sangat marah, tapi ia malah melepaskan tangannya dari pipi Hermione. "Berikan..."
Draco merasakan aura pembunuh Voldemort sudah mendidih, mengepul dan siap meledak, karena itu ia menepuk punggung Hermione pelan. "Mione, sweetheart." Ia berbisik lembut di telinga Hermione. "Let go, Dear."
Hermione terkejut, ia berbalik pada Draco dan menatapnya tepat pada maniknya yang terkenal itu. Maniknya yang abu-abu dingin. "Never," kata Hermione sedih. "Never."
Draco melepas senyumnya yang terbaik, mencium lembut bibir ranum Hermione, membuat seisi arena terharu.
Voldemort tak jelas apa yang ia pikirkan.
Draco meletakkan kepalanya di bahu Hermione, dan memiringkannya agar bibirnya bisa mendekati telinga istrinya itu.
"Amor vincit omnia," ia berbisik. Hampir tak ada yang bisa mendengarnya, bahkan Hermione sendiri pada awalnya kebingungan—namun ia akhirnya bisa menangkap maksud Draco.
"Benar," bisik Hermione.
Diseberang sana, Narcissa patah hatinya menyaksikan putranya. Lucius memelas, tanpa ia sadari, tangannya bergerak. Tangan Lucius mencari tangan Narcissa, dan menggenggamnya erat.
Narcissa sangat kebingungan dengan semua hal yang tiba-tiba ini. Ia menatap Lucius, dan Lucius balas menatapnya.
"Keluarga," bisik Lucius. "Kita keluarga,"
Narcissa membendung airmatanya. "Aku...mencintai keluargaku. Aku mencintaimu, dan Draco." Setelah itu ia merapat pada Lucius, dan Lucius merasa hangat.
Voldemort mengeluarkan tongkatnya. "Sekarang, Draco."
Draco masih bersandar pada bahu istrinya. "Aku punya rencana," katanya.
Hermione terdiam, sementara Draco membisikkan segalanya.
Setelah itu, Draco melepaskan dirinya dari Hermione. Hermione dan Draco menoleh pada Voldemort.
"Bawa aku bersamamu, Pangeran," ucap Draco. Para pembela Hogwarts mulai ricuh kembali.
Voldemort tampak puas.
"Asalkan..." Draco menambah, membuat kepuasan Voldemort menguap. Hermione dan Draco kini bergandengan tangan. "Aku ingin Hermione mati bersamaku saat eksekusi," kata Draco mantap.
Tidak adalagi ricuh. Semuanya diam.
"Dia sudah gila!" Ronald Weasley berteriak di ujung lain arena, ayahnya memegangnya dengan susah payah agar ia tak menerjang Malfoy Junior itu. Harry sedikit menoleh.
"Tidak..Malfoy..jangan..jangan temanku..jangan teman baikku..." Harry dengan usaha keras berucap. Ia amat lemas, dan ia memandang Hermione dengan tatapan 'TONJOK MALFOY ITU'.
Hermione malah tersenyum pada Harry, ia mengerlingkan matanya. Bila sudah begini, Harry tahu kalau sahabatnya yang cerdik itu punya ide brilian untuk memecahkan masalah.
"Baiklah." Voldemort tidak keberatan. Toh, membunuh adalah kesukaannya. "Ikut aku."
Draco dan Hermione digiring ke tengah lingkaran itu, kini, Voldemort berdiri bertiga bersama mereka di tengah lapangan, Harry dipinggirkan sejenak oleh Roberto.
"Draco Lucius Malfoy dan Hermione Jane Malfoy-Granger." Desis Voldemort. Ia mengacungkan tongkatnya, memanjangkan tangannya kedepan. Tangan Hermione menggenggam tangan Draco, namun tangan yang satunya berada di dalam saku gaunnya.
Voldemort mundur beberapa langkah, memajukan tangannya, mengayunkan tongkatnya dengan penuh keyakinan. "Jantungmu milikku," ia berkata pada Draco. "Avada.."
"HARRY TANGKAP!" Hermione melemparkan tongkatnya kepada Harry yang sudah kehilangan tongkat. Harry mengulurkan tangannya ke udara, dan menangkap tongkat itu.
"Gotcha!" seru Harry. "Thanks, Mione Malfoy!" Harry kemudian menyerang Roberto, dan kabur menuju kastil.
Voldemort menjadi berang. "INILAH YANG TERJADI APABILA AKU LUPA MENYITA TONGKAT TAWANANKU," Voldemort menunjuk Draco dan Hermione. "KUBERESKAN KALIAN NANTI. PAOLO! PATAHKAN TONGKAT MALFOY-MALFOY ITU! SISANYA IKUT AKU MENANGKAP POTTER!"
Kemudian Voldemort berubah menjadi asap hitam dan dengan kecepatan kilat membelah udara dalam kastil. Ia menyemburkan cahaya dan kilatan, cahaya-cahaya itu menghantam lantai dan pilar kastil, merubuhkan dan menghancurkannya. Sementara itu, Harry berlari dan merunduk-runduk—berusaha menghindari serangan brutal dari belakangnya tanpa punya niat membalas. Ia menginginkan tongkat eldernya—bukan berarti ia tak berterimakasih atas pinjaman tongkat Hermione—hanya saja, ia butuh kekuatan tongkat itu.
Sementara itu, hal yang lebih menakutkan terjadi di lingkaran lapangan, dimana tidak ada dari dua kubu yang bergerak kecuali Roberto Paolo, yang menyita tongkat Draco dan mematahkannya. Menginjaknya jadi abu.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan Tuanku," Roberto tersenyum sinis.
Hermione merasa dadanya panas. Ia marah.
"Telan lagi," Hermione menatap tajam Roberto, membuat pria itu merinding meski ia menyangkalnya.
"Apa?" Roberto perlahan menoleh, tidak ingin terlihat terpancing.
"Telan lagi, Paolo." Hermione menatap dengan matanya yang marah, yang merah, dan yang basah karena kesal. "Telan lagi ucapanmu."
Roberto mengangkat kedua alisnya, kemudian terbahak penuh cela. "Apa..apa yang bisa kaulakukan kalau aku tidak mau menelannya?" Roberto tertawa lagi, meski tak ada yang tertawa bersamanya kecuali kalangan busuk Pelahap Maut yang tidak punya selera humor.
Hermione merasa dipermalukan. Sementara Draco menatap para kubu Hogwarts—tatapannya memelas, meminta bantuan. Orang-orang menatap Draco dengan pandangan lain. Pandangan seperti: 'inilah Putra Malfoy itu, yang selalu membanggakan diri tetapi tersiksa batin'. Tatapan mengasihani. Tapi, dengan adanya Hermione disampingnya, tatapan-tatapan itu berubah menjadi: 'Dia masih beruntung.'
Dan Draco tahu itu
"Apa jawabanmu, Malfoy?" Roberto mencela. Hermione ingin meledak, tapi kenyataannya Draco-lah yang menjawabnya.
"Aku akan membuatmu memuntahkannya," kata Draco dingin.
Roberto merasa takut dengan pandangan Draco yang dingin dan menyiksa, tetapi ia tak boleh lengah hanya karena sebuah pandangan. Untuk memenangkan perdebatan tak berarti itu, Roberto berkata: "Dengan apa kau membuatku dan Tuanku...kalah?" ia tertawa lagi.
Draco tersenyum. Ia mendekat pada Hermione, mengambil botol bersinar dari kantungnya.
"Amor vincit omnia," Draco berkata, dingin dan datar.
Mata Roberto membelalak. "Tidak mungkin,"
"Mungkin." Draco menyangkal. "Kami mengambilnya dari sang pembuat langsung,"
Roberto tidak percaya ini. Pelahap Maut lainnya ikut berbisik-bisik resah.
Roberto tahu ini tidak baik. Jadi, ia berbalik pada kawanannnya. "Botol itu! Mereka ingin menggunakan botol itu untuk mengalahkan Tuan kita! Bunuh mereka! Hancurkan Amor vincit omnia!" teriaknya.
Para Pelahap Maut terlihat ragu sejenak, karena tidak biasa diperintah oleh orang lain selain Voldemort, tapi pergerakan mereka mulai terlihat. Beberapa dari mereka membawa tongkat pada tangan, dan mulai maju dengan wajah pembunuh.
Draco mengangkat botol itu di udara. "Untuk Hogwarts. Untuk kemenangan." Ia menoleh pada kubu Hogwarts yang ikut terbengong-bengong.
Ginny Weasley dan Ronald Weasley, muncul dibalik kerumunan. "UNTUK HOGWARTS!" Ginny berteriak. "UNTUK KEMENANGAN!" Ron menyambung. Kubu Hogwarts mulai memanas. "UNTUK HOGWARTS! UNTUK KEMENANGAN!"
Kemudian Ron berlari sambil berteriak panjang, layaknya ksatria yang hendak menembus pintu waktu dari dunia fantasi. Begitu pemberani. "Seranggg!"
"SERANG!" seru kubu Hogwarts bersamaan. Ron sepertinya telah menjadi pemimpin orang-orang di kubu Hogwarts. Para pejuang Hogwarts maju, begitu juga dengan Pelahap Maut. Seperti tabrakan. Putih menabrak hitam.
Sinar dimana-mana, ledakan, dan teriakan.
"Hermione!" Draco memanggil; mereka terpisah di kerumunan.
"DRACOOO!" Hermione menjerit, menyembunyikan botol itu. Seorang Pelahap Maut melihatnya, dan hendak merampas benda itu dari tangannya. Tetapi seseorang dari Hufflepuff maju dan menyerang Pelahap Maut itu hingga terpental. Seorang pria tampan.
"Lari," kata Si Hufflepuff padanya. Hermione bahkan lupa berkata 'terimakasih' saking paniknya dia. Ia lari. Tanpa tongkat, tanpa Draco. Dengan amor vincit omnia di tangannya.
"DRACOOOOO!" Hermione memanggil lagi. Sepertinya para pejuang Hogwarts telah memiliki inisiatif untuk melindungi Hermione dan Draco. Itu terbukti saat beberapa gadis kelas lima memagarinya selagi ia berlari. Mereka melempar cahaya-cahaya dan mantra pembakar pada setiap Pelahap Maut yang hendak merampas botol itu.
"Nona Malfoy, anda tidak terluka?" salah satu dari gadis-gadis itu—yang berkacamata dan cantik—bertanya padanya.
Hermione menggeleng, dan tersenyum karena sudah ditolong.
"Botol itu baik-baik saja?" yang lainnya bertanya, ia sangat mirip Emeraldina, membuat Hermione merindukan gadis itu.
"Baik." Jawab Hermione pendek. "DRACOOO!" Hermione memanggil lagi.
"Mione!"
Hermione mendengar suara Draco memanggilnya.
"Ehm..kalian liat Draco?" Hermione bertanya dengan suara keras.
Si Kacamata menggeleng, tetapi yang berambut gelombang berteriak. "Dia disana, nona Malfoy! Dia dilindungi cowok-cowok Ravenclaw!"
Hermione merasa sedikit lega. "DRACOOO!"
"Mione!"
Hermione mengintip keluar lewat celah-celah gadis-gadis itu, ia melihat sosok tampan yang terluka dibalik para lelaki dengan rambut hitam dan dasi biru.
"Draco!" Hermione sudah tak berteriak, hatinya menangis terharu dan takut. "Gadis-gadis, bisakah kita mendekat pada Draco dan cowok-cowok Ravenclaw!"
Si Kacamata menoleh. "Tentu, tentu. Asal aku bisa berkenalan dengan yang tampan itu." Ia bergurau sambil melihat cowok dengan rambut cepak hitam dan kacamata sepertinya. Tampan, dan pintar—pastinya.
"Oke, gadis-gadis. Setelah perang ini kalian bisa mengencaninya. Bisakah lebih cepat sedikit bergeraknya?" Hermione sedikit gusar.
"Tidak masalah, tapi sangat susah berlari kesana sambil menyerang keparat-keparat ini!" kata Rambut Gelombang. "Mereka terus memuntahkan cahaya dan peledak!"
"Oh, ayolah, Maggie!" Si Kacamata berkata.
Maggie—begitu ia dipanggil—mengangkat kedua bahunya. "Mereka disana, girls!"
Tiba-tiba, tiga Pelahap Maut menyatukan tongkat mereka. "EXPULSO!"
"PROTEGO MAXIMA! PROTEGO TOTALLUM!"
Maggie terkena.
"MAGGIE!" Hermione berteriak.
Maggie diseret salah seorang dari Pelahap Maut itu. "Tidaakkk! Pergilah Nona Malfoy! Untuk Hogwarts! Untuk kemenangan! Untuk cinta yang selalu ada dalam kita!" ia berteriak. "Menangkan perang untukku! Untuk kami!"
"GIRLS!" Hermione sedikit membentak. "Selamatkan dia!"
"Tidak bisa," Si Kacamata sudah berlinangan airmata. "Kami harus melindungimu. Tidakkah kau dengar kata Maggie? Kau heroin-nya."
Heroin.
Hermione meriding.
"Mereka disana!" Si Kacamata berteriak, kemudian ia melempar kutukan pada Pelahap Maut yang mendekat. "Girls! Ayo bergabung dengan cowok-cowok keren itu!"
Para gadis yang melindungi Hermione 'menabrakkan' diri mereka pada para lelaki Ravenclaw. Mereka membangun pagar yang lebih luas, Hermione bertemu Draco dalam pagar yang mereka buat.
"Dray!" Hermione menjerit senang, kemudian ia memeluk Draco, dan menggantungkan tangannya di leher pria itu. Ia mencium darah.
"Hermione," Draco menghirup dalam-dalam aromnanya.
Hermione menghapus airmata ketakutannya, karena kini Draco ada di dekatnya. "Oh, apa yang harus kulakukan untuk menghapuskan rasa ketakutan karena kehilanganmu?" Hermione menarik napas.
Draco tertawa kecil. "Sebut namaku sepuluh kali."
Hermione terkekeh. "Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Draco, Dra.."
"Cukup." Draco meletakkan telunjuknya di bibir mungil Hermione. "Itu terlalu banyak."
"Tidak sebanyak ketakutanku," balas Hermione.
"Padahal aku berencana menembak Draco Malfoy saat Natal," salah seorang gadis berkata tiba-tiba.
"Apa?" Hermione dan Draco bertanya bersamaan.
"Tidak ada." Kata gadis itu malu.
"Hey..." Si Kacamata menabrak cowok cepak, ia tersipu. "Maaf,"
Si cepak tersipu juga. "Maaf juga. Namaku.."
"MEREKA DISANA!"
"EXPULSOOOO! AAA!" Si Kacamata dan gadis-gadis lainnya menjerit.
"Siapa itu barusan!" Hermione bertanya karena tak dapat melihat keluar dari balik tubuh-tubuh mereka.
Salah seorang lelaki Ravenclaw memandangnya dengan tatapan horor. "Vol..demort."
Hermione dan Draco menahan napas.
"Draco.." Hermione menatapnya.
"Aku tahu."
"TANGKAP!" Voldemort berteriak marah. Para Pelahap Maut melempar kutukan terlarang. "AVADA KEDAVRA! AVADA KEDAVRA! AVADA KEDAVRA!" Sinar hijau menghantam mereka. Mereka berlari lebih kencang dibalik tubuh para gadis dan lelaki-lelaki Ravenclaw.
"EX...EXPULSO..." Rambut Gelombang menembakkan mantranya.
"Kurang pintar, nak." Seorang wanita Pelahap Maut melempar kilat merah. Rambut Bergelombang menghindar.
"AAAAA! LARI-LARI KAWAN-KAWAN! LINDUNGI HERO DAN HEROIN!" ia menjerit histeris.
"UNTUK HOGWARTS!" lelaki Ravenclaw mengumandangkan.
"UNTUK KEMENANGAN!" balas para gadis.
Tiba-tiba, Draco berhenti berlari. Ia terdiam di tempatnya.
"Draco?" Hermione berhenti dan mencengkram lengannya. "Ada apa? Ayo!"
Tapi Draco tidak beranjak.
"Ayo!"
"Tidak." Katanya, membuat Hermione terkejut.
"Ayo..mengapa disaat seperti ini..?"
Draco merunduk, menciumnya di bibir. "Kita menangkan ini sendiri. Kita sudah membunuh banyak orang. Aku tidak ingin gadis-gadis dan lelaki itu mati karena kita."
Hermione membelalak.
"Benar.." mulutnya berkata.
Draco segera menariknya keluar dari pagar gadis-gadis dan lelaki Ravenclaw.
"KALIAN MAU KEMANA!" Si Kacamata berteriak.
"Memenangkan perang!" Hermione menjawab. Saat mendengar itu, mereka tidak berniat mengejar. Mereka tahu ini akhirnya.
"Semoga berhasil!" mereka semua berteriak bersamaan.
"Untuk Hogwarts!" Hermione berteriak.
"Untuk kemenangan!" kata mereka.
Kemudian mereka berpisah. Mereka hilang dibalik kerumunan dan kegaduhan.
"AVADA KEDAVRA!" Draco menembakkan cahaya hijau pada Pelahap Maut yang hendak menerjang mereka. "Aku dapat tongkat dari cowok itu," jelas Draco tanpa ditanya.
Mereka berlari sambil terus menjatuhkan beberapa Pelahap Maut dengan kutukan, mereka berlari mencari Voldemort untuk membunuhnya dengan amor vincit omnia.
Voldemort tetiba muncul tanpa susah dipanggil. Ia disana.
"Berhenti.." ia berteriak dingin pada seisi arena perang. Tidak ada yang terjadi. "BERHENTIIII!"
Hening.
"Semuanya menyingkir," Voldemort memerintahkan. "Menyingkir dari lingkaran ini. Hanya ada aku, Potter, dan Malfoy."
Tidak ada yang menyingkir.
"Tidak akan!" balas suara di tengah gerombol pejuang Hogwarts.
"Tidak?" Voldemort berkata dingin. "Bunuh mereka dulu."
Sekejap, sekitar sepuluh Pelahap Maut membentuk lingkaran, berdiri di lingkaran dengan tongkat mereka.
"AVADA KEDAVRAAAAAAAAAAAAAA!" mereka melempar cahaya hijau kemana-mana. Merata. Beberapa menyerang, tapi tak cukup kuat.
Teriakan panjang terdengar memenuhi arena perang, banyak yang jatuh mati, entah dari kalangan Voldemort atau Hogwarts.
"Berhenti," Voldemort memerintahkan dengan samar.
Pelahap Maut itu berhenti.
"Masih tidak ingin menyingkir?" Voldemort menantang.
Perlahan, mereka yang tersisa mundur dan bergerombol.
Voldemort puas. Ia memerintahkan kesepuluh Pelahap Maut itu untuk undur diri juga. Sekarang, di pusat arena, hanya ada Voldemort, Harry yang berhasil ditangkap—lagi—Draco Malfoy, dan Hermione Malfoy.
Rupanya tongkat Harry—yang dipinjamkan Hermione—telah dipatahkan jadi dua. Voldemort sendiri yang melakukannya.
Ia melihat Hermione dibalik topengnya.
"Kenapa kau disini?" Voldemort berkata sinis padanya, mengusir.
"Aku bersama Draco," Hermione merangkul Draco erat.
Voldemort mendekatinya, berbisik di telinganya. "Kubilang, hanya Malfoy."
Hermione tidak takut, semua yang ia lalui membuatnya kuat. Ia mengangkat kepalanya. "Aku Malfoy."
Voldemort tidak percaya dengan yang ia dengar. Kemudian ia tertawa melecehkan. "Aku tak ada waktu untuk gadis sinting ini." Ia menggeleng. "PAOLO!"
Kali ini, bukan Roberto yang maju. Esperanza Brengsek Paolo.
"Tuanku..." ia merunduk.
Voldemort mencibir. "Kau tahu apa yang harus kaulakukan."
Esperanza mengeluarkan tongkatnya. "Pastinya." Ia menatap Hermione. "Evarolockia," ia menyebutkan mantra pengikat. Hermione segera merasakan sesuatu menariknya.
"Tidak!" ia menjerit. Draco menahannya, tapi ia tetap saja tertawan oleh Esperanza.
Esperanza membawanya kedalam kastil. Menjauh.
"TIDAK! DRACOO!" Hermione menjerit. "DRACOOOO!"
"Hermione..." Draco mengejar.
Voldemort mengayunkan tongkatnya, dan Draco terseret kembali ke tempatnya berdiri semula. "Kau tidak akan kemana-mana. Sudah cukup bermainnya. Setelah ini kau berikan jantungmu. Lalu aku akan sempurna lagi. Dan aku akan membereskan Potter."
Draco dimantrai, dan diletakkan beberapa jarak dari Voldemort.
"Kau akan kubereskan, Malfoy," kata Esperanza pada Hermione dengan nada sinis. Hermione tidak mendengarkannya, ia hanya melihat pada Draco.
Esperanza membawanya ke sebuah puing-puing tangga dalam kastil, dimana cahaya tidak dapat masuk dan ia tak bisa melihat Draco lagi.
"Ini akan sakit," Esperanza tertawa. "Selamat tinggal, Darah Lumpur."
Hermione menutup matanya.
Sementara itu, Voldemort menyiapkan segala kekuatannya untuk memulai ritual ini.
"Ini tidak akan sakit," Voldemort tersenyum. "Selamat tinggal, Malfoy Junior."
Draco menutup matanya.
"Ovriblo—"
"—kumohon jangan!"
Voldemort seolah-olah terbangun dari mimpi indah, merasa kesal. "Sekarang apalagi?!" ia melihat berkeliling. Lucius disana.
"Tuanku..." Lucius tidak membungkuk, namun nada suaranya terdengar tunduk. Ia tak lagi takut. "Maaf, tapi aku takkan pernah membiarkan kau menyentuh putraku." Jelasnya tegas.
Voldemort tertegun.
Narcissa muncul dibalik tubuh Lucius, terlihat anggun dan lemas, tetapi matanya memancarkan sorot lain dari kerapuhannya. "Aku tidak akan memberikan putraku."
Narcissa mencari tangan Lucius, lalu menggenggamnya erat. Mereka berdiri di depan Draco, menutupinya. Draco mengeluarkan sedikit airmatanya. Ia masih punya orangtua.
Hermione, di tempat lain dalam kastil, tidak mengetahui apa yang terjadi pada Draco karena Esperanza membawanya jauh.
"Kumohon Esperanza...jangan lakukan ini padaku. Jangan bunuh aku," Hermione memelas, menangis. Esperanza tidak peduli.
"Sebaiknya kau diam, atau aku akan membuatmu lebih tersiksa." Ia berkata tanpa rasa belas kasihan. Kemudian ia mengangkat tongkatnya. Hermione tak lagi menutup matanya. Ia melihat dibalik pundak Esperanza. Ada sosok berjalan di belakang Esperanza. Berambut merah menyala dan...
"AVADA—"
Terdengar suara 'psssiuu' seperti senapan angin yang mengenai badan seseorang. Esperanza terjatuh. Hermione terkejut, ia melihat sosok berjalan berambut merah itu. Penampakannya masih samar-samar, tetapi ketika ia mendekat, Hermione segera tahu.
"RON! GINNY! MOLLY!" Hermione berteriak kegirangan. "Kalian disini!"
Ron—yang berlari paling cepat diantara mereka—mendekati Hermione dan melepas mantra pengikatnya. "Kami mengendap-endap lewat belakang." Ia tertawa ganjil. "Kau belum tergores tongkatnya kan?" tanya Ron. Ginny dan ibu mereka, Molly ada di belakangnya dan tersenyum.
Hermione tersenyum penuh haru. "Aku tidak terluka."
Kemudian ia berdiri dengan gemetar dan memburu tubuh Ron, ia memeluknya, kemudian hal yang sama ia lakukan pada Ginny dan Molly.
"Oh, gadisku!" Molly tertawa renyah. "Amor vincit omnia masih ada padamu?"
Hermione memeriksa sakunya. "Ada. Aku sudah mengira-ngira kalau Esperanza akan mengambil botol terakhir ini untuk ia simpan sendiri setelah ia membunuhku. Tapi kalian datang dan..oh! semuanya berjalan dengan tidak terduga!" sergah Hermione takjub.
Molly tersenyum hangat. "Ada seseorang yang harus kau selamatkan." Ia menambahkan. "Pergilah, kami dibelakangmu." Kata Ginny. Hermione tersenyum dengan rasa terimakasih yang besar.
Ia berlari keluar kastil, namun sebelum mencapai Draco, ia kembali pada Ron dan Ginny.
"Aku butuh sebuah tongkat untuk Harry dan sebuah lagi untuk Draco," ia berkata. "Adakah dari kalian yang ingin meminjamkan?"
Ron, Ginny, dan Molly berpandangan.
"Sayangnya, kami hanya punya satu." Ginny mengayunkan sebuah tongkat cokelat gelap yang licin. "Dan ini punyaku. Milik Ron dan Mum sudah hancur saat penyerangan tadi."
Hermione menghela napas. "Kalau begitu ini akan jadi milik Harry. Bolehkah?"
Ginny tersenyum. "Tentu, tentu Hermione." Ia memberikan tongkatnya pada Hermione. Hermione berlari keluar dengan mengantungi amor vincit omnia, tongkat Ginny, dan sejumput keberanian serta sepeti cinta.
"HERMY!" Ginny berteriak dari belakang. Hermione menoleh.
Ginny tersenyum ramah. "Hati-hati," katanya pelan. Molly mengangguk padanya, dan Ron tersenyum dengan matanya. Hermione mendapat lebih lagi keberanian untuk dikantungi. Dengan keberanian dan kepercayaan banyak orang itulah, ia keluar kastil.
Dilihatnya Voldemort, Harry, dan Para Malfoy. Voldemort sedang mengcengkram jubah Lucius dengan geram, sementara Draco dipeluk ibunya. Harry dijaga ketat.
"VOLDEMORT!" Hermione berteriak, memecah udara. Voldemort terkejut, menoleh, dan mendapati bahwa seekor merpati telah menjadi elang. Hermione mengeluarkan botol amor vincit omnia dan tongkat Ginny.
"AMOR VINCIT OMNIA!" Voldemort berteriak.
"Ya!" Hermione balas berteriak. "Lepaskan mereka, atau kau akan mati dari ramuan ini!"
Voldemort melepas cengkramannya pada Lucius. Ia menatap tajam pada Hermione dengan matanya yang tersembunyi. "Apa yang kudapat, tidak akan kulepaskan. Seperti neraka yang merantai tahanannya."
Hermione tersenyum. "Itu maumu. Kalau begitu..." Hermione melepas penutup botol ramuan, dan mencelupkan tongkat Ginny kedalamnya. "...aku akan jadi malaikat pencabut nyawamu."
"CRUCIO!" erang Voldemort.
"EXPULSO!" balas Hermione. Mengherankan. Api yang biasanya dihasilkan mantra ini tidak sekuat yang barusan. Api yang keluar dari tongkat Hermione berwarna ungu, besar, dan ledakannya lebih kuat serta tampak gemerlapan. Voldemort terjatuh. Crucio-nya bahkan tidak dapat mencapai bayangan Hermione.
"Ini sungguh keren!" Hermione berteriak takjub. "AVIS! OPPUGNO!" Hermione berteriak. Burung-burung penyerang keluar dari tongkatnya. Burung merah muda dan ungu, burung yang memekik dan ganas. Mereka menuju Voldemort.
Voldemort terkepung. "ARRGGH! CONFRINGO!" Voldemort mencoba meledakkan burung-burung itu, sementara Hermione berlari menyebarangi lapangan, menuju Harry.
"CONFRINGO!" Hermione berteriak, menembak Pelahap Maut yang mencoba menghalanginya. Ledakan gemerlapan warna ungu membuat para Pelahap Maut itu bertebaran jatuh, dan Harry tampak polos tanpa ada siapapun menutupinya.
"Harry!" Hermione berteriak. Ia mendekat, ia melihat tali sihir mengikat Harry. "Tenang..tenang Harry. Ini.. bisa dihilangkan dengan diffindo!" padahal satu-satunya yang tidak tenang adalah Hermione sendiri. "Diffindo!" Hermione berteriak, mengahcurkan pengikat pada Harry.
Harry bebas, menggerakkan tangannya dan memeluk Hermione.
Hermione menyerahkan tongkat dan amor vincit omnia pada Harry.
Sementara itu, dibelakang mereka, Voldemort menyingkirkan Lucius dan Narcissa, membawa Draco pergi.
"AYO!" ia menarik Draco.
"DRACOO!" Hermione menjerit. "Harry ayo!"
Harry membuntutinya, sementara Pelahap Maut yang tersisa mengawasi Narcissa dan Lucius, kemudian membuntuti Tuan mereka masuk dalam kastil.
Voldemort membawa Draco ke puncak tertinggi kastil, Harry dan Hermione mengejar dari belakang. Para Pelahap Maut menutupi jalan masuk mereka, Pelahap Muat itu membentuk barisan dan sama-sama mengacungkan tongkat, mengitari Harry dan Hermione.
"Harry..." Hermione berbisik.
"Aku akan melindungimu." Balas Harry.
"Kalian akan kalah, anak-anak," salah satu Pelahap Maut menantang.
"CONFRINGO!" jerit Harry.
"CRUCIO!" balas beberapa Pelahap Maut yang menghadap Harry. Harry melemparkan mantra-mantra nonverbal yang memancarkan cahaya merah, melemparnya pada mereka semua.
Pelahap Maut itu terjatuh, berjubel, dan pingsan terkena serangan.
"Hermionnnneeee!" jerit Draco dari puncak kastil.
"Itu Draco!" Hermione berlari naik, disusul Harry.
Harry menyiagakan tongkatnya, sementara amor vincit omnia ada pada Hermione. Diatas kastil, Voldemort sudah setengah jalan mengucap mantra, ini persis seperti yang terjadi pada Hermione ketika Làstima Honey mengurungnya.
"Herm...mione.." Draco mengerang.
Hermione tak berkata-kata. Ia menuang beberapa tetes amor vincit omnia pada tutupnya, kemudian memercikkan itu pada Voldemort. Voldemort berteriak, mengerikan. Badannya terbakar api ungu. Ia terluka, ia terjatuh. Harry mengucap mantra nonverbal, membebaskan Draco.
Tiba-tiba, Voldemort kembali bangkit.
"Kembali kalian..." ia menjangkau mereka, tetapi mereka lari. Ia berubah menjadi asap, dan mengejar mereka dari belakang.
Harry, Hermione, dan Draco berlari keluar kastil. Voldemort mengejar mereka sampai lapangan perang. Ketika mereka datang, perang antar dua kubu ternyata meledak lagi selagi Voldemort tidak ada.
Tubuh Voldemort sudah kelihatan agak sempurna, sementara Draco terlihat lemas.
"Draco!" Hermione memanggilnya. Ia berhenti, menidurkan Draco di tanah. "Draco!"
Voldemort mendekat, Harry melompat dan melempar kilat merah menyala, Voldemort sudah bisa membalasnya.
"Aku sudah mengambil sebagian dari kekuatan jantungnya!" Voldemort tertawa. "Setidaknya, ini cukup untuk mengucapkan satu avada..."
Hermione meletakkan kepala Draco di pahanya, sementara Harry dan Voldemort saling serang. "Bicaralah padaku!" Hermione memohon pada Draco. Draco setengah menutup matanya, menangis. "Hei, verbenaku." Katanya.
Hermione membelai pipinya. "Tidak. Tidak boleh ada perpisahan lagi," ia berkata.
Draco membuka matanya. "Aku tidak lemah." Ia berkata lantang. "Aku kuat. Untukmu,"
Ia mencoba duduk, dan ia berhasil. Hermione memeluknya. Tiba-tiba, Harry berteriak dibelakangnya. "Hermione! Awas!"
Terlambat. Saat Hermione menoleh, kilatan hijau itu sudah di depan hidungnya.
Hermione terjatuh, berdarah, dan tergores. Darah merembes pada gaun putihnya yang koyak. Draco berteriak. Ia berdiri, dengan terpincang, dan menggendong Hermione.
"Inikah yang kaulakukan!" Draco berteriak, dengan Hermione di gendongannya. Hermione rambutnya tergerai, matanya tertutup, tapi ia masih bersuara. "Draco.." ia memanggil. "Draco.."
Ia sudah sekarat.
Draco merasakan jantungnya juga melemah. Ia jatuh berlutut, sekarang semua terbalik. Hermione ada pada pahanya.
"Draco.." Hermione memanggil. "Aku mencintaimu..."
Draco terbatuk, hanya darah yang keluar dari mulutnya. "Aku juga."
Kemudian, Draco jatuh. Kepalanya ada pada dada Hermione, tangannya menggenggam tangan Hermione. Hermione merasakan kalau Draco masih ada padanya, ia masih hidup. Mereka berdua sama-sama sekarat, dan mereka tak lagi memerhatikan apa yang terjadi.
Draco merapat pada Hermione, melingkarkan jari-jarinya pada milik Hermione. Hermione memeluknya, mereka terjatuh di tanah bersama, tertidur.
"Hei, Ferret," Hermione memanggil lembut pada telinga Draco.
"Hai, Mudblood," Draco mencium pipi Hermione, darahnya mengotori pipinya yang putih.
"Draco! Hermione! Bertahan! Bertahan!" Hermione dan Draco mendengar orang-orang berteriak, tetapi mereka sudah tak tahu siapa. Mungkinkah itu Harry? Ia sedang berduel dengan Voldemort? Mungkinkah itu Ron? Ginny?
"Draco! Draco!" Draco mendengar itu. Narcissa? Lucius?
"Draco... semua orang memanggil namamu," Hermione berbisik lemah.
Draco menggeliat dalam pelukannya. "Tapi hanya suaramu yang kudengar,"
Hermione tersenyum. "Sampai jumpa di surga. Aku tunggu di gerbangnya," kemudian Hermione menutup matanya, tapi tangannya masih ada pada Draco.
Kemudian Draco merasakan jantungnya melemah. Voldemort sudah mengambil sebagian kemampuannya berdetak. "Selamat tidur."
Mereka mati. Dengan tangan menyatu.
"DRACO! HERMIONE! STAY!" Harry berteriak, sambil terus melempar cahaya pada Voldemort yang menyerangnya beruntun.
Narcissa dan Lucius mendekati mereka, mereka menangisi kepergian anak-anaknya.
Voldemort mendorong Harry, Harry jatuh terjungkal.
"Kau akan mati!" Voldemort berdesis. "AVADA KEDAV..."
"POTTER!" Lucius berteriak. Ia melemparkan botol.
Itu amor vincit omnia.
Harry menggapainya, lalu menangkapnya. Ia melempar itu pada Voldemort, tak menghitung takaran. Voldemort berteriak. Kulit-kulitnya mengelupas, tongkatnya menjelma abu, dan tak ada lagi bentuk. Ia mundur, terjungkal, berteriak, dan berputar-putar seperti orang gila.
Api ungu menjalarinya, membakarnya dari kaki hingga kepala.
Kemudian ia lenyap.
Mati—
Mati.
Harry membelalak. "This is the end."
Seketika kegaduhan berhenti. Diantara dua kubu tidak ada yang berrtarung. Semuanya—bahkan waktu—berhenti. Harry, dengan kemenangannya, berdiri diatas abu Voldemort. Botol amor vincit omnia berkelontangan jatuh di tanah, dan sisa ramuannya yang berwarna bening merembes.
Harry mendekati mayat Hermione dan Draco. Ia memungut botol yang jatuh, mengumpulkan cairan yang merembes secara sihir, dan memindahkannya kembali masuk dalam botol. Ia meletakkan itu ditengah Draco dan Hermione, kemudian berdiri menghadap orang banyak.
"Inilah pahlawan yang sebenarnya," Harry membungkuk pada mayat Hermione dan Draco. Tangis dan tepuk tangan meluncur.
"UNTUK HOGWARTS!" Harry berteriak.
"UNTUK KEMENANGAN!" kubu Hogwarts membalas.
Narcissa dan Lucius masih menangis.
Tiba-tiba, sesuatu keluar dari dalam botol. Gemerlapan. Sinar ungu gemerlapan, sinar itu menjalar, membuat sebuah air mancur yang bersinar-sinar. Meledak! Sinar ungu meledak dari dalam botol amor vincit omnia meledak dan memenuhi langit Hogwarts yang tak lagi kelabu.
Seperti kembang api, yang sangat indah. Percikan-percikan emas jatuh dari langit, menyentuh kulit orang-orang, sungguh indah dan membuat takjub.
Tiba-tiba, Emeraldina terbangun.
Brandon yang menjagainya ikut celik. Mereka menangis, berpelukan. Kemudian keajaiban terjadi. Banyak yang terbangun.
Mereka yang seharusnya mati—mereka bangun kembali dan berpelukan dengan orang-orang yang mereka cintai.
Namun...
Draco dan Hermione tidak terbangun.
Narcissa membungkuk di sebelah mereka. "Nak?" ia berbisik.
Lucius, dan banyak orang lainnya menunggui.
"Bagaimana?" Lucius bertanya.
Narcissa menangis, lalu menggeleng.
Lucius menekuk wajahnya.
"Uhuk!"
Narcissa menoleh.
Kelopak mata Draco bergetar, kemudian terbuka. Iris kelabunya tampak bersinar. Yang pertama kali ia lihat adalah Hermione.
Ia berdiri, dan langsung dipeluk oleh Narcissa dan Lucius.
Narcissa tak berkata-kata, ia terlalu senang.
Harry mendekati Hermione. "Aku tak mengerti," ia berkata. "Kau bangun..dan dia tidak?"
Draco tersenyum. Ia mengambil Hermione, menggendongnya ala pengantin, menciumnya.
"Sudah cukup pura-pura tidurnya. Ayo bangun," kata Draco.
Hermione cegukan, lalu tertawa. Ia terbangun, dan menciumnya.
Semua orang tertawa bahagia. Mereka tak perlu tahu—dan tak perlu mencari tahu mengapa semua keajaiban ini dapat terjadi.
Cinta—itu saja.
Cinta yang tulus membangkitkan mereka yang mati.
Karena Amor vincit omnia artinya Cinta mengalahkan segalanya.
-THE END-
Ini jelek, Julie tahu.
Maaf atas kepergian Julie waktu itu yang sangat tiba-tiba, Julie membuat kalian menunggu. Julie berterimakasih untuk kalian yang sudah dengan setia menunggu, mereview, memfav dan memfollow Malfoy, Malfoy.
Terimakasih. Julie cinta kalian.
