Malfoy, Malfoy

EPILOGUE

Harry Potter dan seluruh karakternya (minus karakter ciptaan saya) adalah milik J.K Rowling

...

Epilogue

Memoar Hermione Malfoy.

Musim panas berlalu secepat kedipan mata, lalu musim gugur yang melankoli menghampiri dengan sihirnya yang ajaib. Rasanya butuh waktu lebih dari selamanya untuk melupakan mereka yang telah pergi, untuk bisa keluar dari jerat kesedihan. Tapi kita semua tahu, kalau kita tak bisa berdiam dalam masa lalu.

Hogwarts telah dibangun kembali.

Aku kembali melihat cahaya-cahaya lorong yang sempat hilang, dan kehangatan yang sempat dingin. Aku kembali melihat lautan manusia, yang dengan segala kekuatannya, telah melupakan perang. Aku sendiri sudah melupakan apa yang terjadi, dan telah menjadi bagian dari kegembiraan tahun ketujuh yang diulang kembali.

Aku sangat bahagia, apalagi ketika Prof. McGonagall memilihku dan Draco menjadi Ketua Murid Perempuan dan Ketua Murid Laki-Laki. Aku masih ingat kata-kata pertama Draco saat kami disematkan pin Ketua Murid: "Jadi..kita berbagi kamar yang sama?" lalu ia mengerling nakal. Aku tahu apa maksudnya, dasar mesum.

Oh, dan bicara soal Draco..ia jauh lebih bahagia sekarang. Pipinya sudah tak sepucat dulu, dan bibirnya telah belajar bagaimana cara tersenyum. Tak ada yang membuatku lebih bahagia lagi selain senyumnya dan tawanya yang renyah. Aku tak akan melupakan bagaimana Lucius memeluknya setelah perang, dan bagaimana Lucius berlutut di kakiku untuk mohon pengampunan. Inikah yang dinamakan putaran roda kehidupan? Dimana yang angkuh telah berubah hangat?

Aku kini tinggal di Manor, dan Manor tak lagi hitam pekat seperti dulu. Lucius menyalakan lebih banyak penerangan, dan memajang foto-foto keluarga dalam pose tersenyum yang santai—bukannya foto formal dengan wajah datar dan kaku.

Sekitar 3 bulan, aku menghabiskan waktu di Manor, bersama Draco, Lucius, Narcissa, Brandon, dan Emeraldina.

Jujur saja, di hari-hari pertama saat perang usai, aku masih dihantui mimpi buruk akan kematian dan mayat-mayat di Hogwarts. Juga tentang Draco yang disiksa. Beberapa malam kuhabiskan dengan menangis tiba-tiba, dan berteriak di tengah malam saat mimpi buruk datang. Disaat-saat seperti itu, lengan Draco selalu ada buatku. Ia datang setiap aku berteriak, memelukku, dan menyadarkanku bahwa aku masih hidup, aku masih disini, dan kebahagiaan lebih mendominasi saat ini. Itu membuatku tenang, dan sekarang aku tak pernah bermimpi buruk.

Dan, saat yang menyenangkan tiba saat surat Hogwarts dikirim ke Manor. Surat itu menyatakan bahwa Hogwarts telah kembali dibangun, dan semuanya baik-baik saja. Kami sebagai murid harus kembali untuk menyelesaikan tahun ketujuh.

Sehari sebelum aku, Draco, Em, dan Brandy kembali ke Hogwarts, Draco dan aku meringkuk dalam selimut tebal dibawah bulan musim gugur. Aku masih ingat bagaimana kepalaku bersandar di dadanya dalam kedamaian, dan bisikan-bisikannya yang lembut.

"Aku mencintaimu,"

Ya, aku juga. Kemudian kami membicarakan Scorpius kami—yeah, Draco menyerah, dan akhirnya mengalah dalam urusan memberi nama pada anak—di masa depan. Saat itu, Scorpius belum ada, tapi kami membicarakan dia seolah-olah ia telah disana. Kami membicarakan warna matanya, rambutnya, dan sifatnya.

Aku sangat antusias pada Scorpius, yeah, aku tak tahu apakah aku akan siap untuk—mengandung, uh tentu, tapi aku berusaha untuk menyenangkan Draco. Lagipula, bila nanti Scorpius lahir, itu akan jadi kebahagiaanku juga, bukan?

Malam itu sungguh indah, sampai kemudian aku mendengar jeritan dari kamar Emeraldina dan Brandon. Singkatnya, Emeraldina akan melahirkan malam itu. Mengerikan sekaligus indah, mengingat melahirkan adalah perangnya para wanita. Malam itu, bayi laki-laki bernama Casillax Lestrange lahir, dengan mata yang persis seperti milik ibunya, dan rambut yang seperti ibunya, dan hidung yang seperti ibunya. Oke, tidak ada tempat tersisa bagi Brandy yang putus asa. Cash—begitu kami memanggilnya—adalah kebahagiaan baru keluarga Malfoy.

Lalu, saat yang kutunggu tiba: kereta Hogwarts.

Aku, Draco, Brandy, dan Em duduk satu kompartemen. Jangan tanyakan Cash—kita semua tahu ia aman bersama Narcissa yang baik hati. Sepanjang perjalanan, kami jarang bicara. Dan selagi memandang keluar jendela, perasaanku tentang memori Hogwarts menguar. Tahun pertama sampai yang keenam, kematian, pertemuan, semuanya terjadi dalam satu kastil.

Benar, rumah. Hogwarts bagiku lebih dari rumah. Disanalah hatiku berada, meski sesekali kenangan buruk kembali membuatku takut, tapi aku tahu kebahagiaan selalu ada.

Perjalanan terasa lambat, sampai-sampai Em dan Brandy tertidur dalam posisi yang 'menyenangkan'. Em meletakkan kepalanya di paha Brandy, dan bocah lelaki itu tertidur dengan mulut menganga. Well, kurasa itu dampak karena ia lelah menjaga Cash yang semalaman menangis.

Aku masih mengingat percakapanku dengan Draco saat itu.

"Kau baik-baik saja Hermione?" ia bertanya.

Aku melihat keluar jendela, dan menempelkan kepalaku di kacanya. "Kau tahu, aku tak pernah sebaik ini. Terutama, sekarang kau disini. Ini tahun yang spesial karena sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya," aku mendesah saat itu.

Draco merapatkan dirinya padaku, lalu menarik tubuhku.

"Aku kesal," katanya. "Kau memilih bersandar pada kaca jendela daripada bersandar pada bahuku yang seksi,"

Aku tertawa, lalu meletakkan kepalaku di bahunya. Aku tahu, tak pernah ada istilah 'bahu seksi', tapi bahu Draco saat itu begitu kekar dan tegap, mampu menahan kepalaku dan segala isinya yang berjumpalitan. Aku tak menyadari kalau perlahan aku tertidur di bahunya dan melewatkan pemandangan sepanjang perjalanan ke Hogwarts. Saat aku terbangun, kami sudah sampai. Dan kembali kudengar Hagrid berteriak mengumpulkan para kelas satu, suara jejeritan anak-anak, dan peluit kereta Hogwarts.

Saat aku turun, Em dan Brandy berjalan duluan. Mereka sangat rapat, dengan koper di tangan masing-masing. Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang kastil. Draco ternyata memerhatikan aku yang sedang mengamati Em dan Brandy.

"Kau mengamati mereka?" Draco menunjuk bayangan mereka yang menjauh. Aku mengangguk.

"Cih," Draco tertawa sinis, ini tawanya yang menyebalkan dulu. "Kita bukan tipe pasangan seperti itu." Ia kemudian merebut koperku dan berlari.

"Tangkap aku saja," ia berteriak sambil mengangkat koperku. Saat itulah aku tersenyum.

Kemudian, hari-hari di Hogwarts kembali berjalan normal: berbagai pelajaran, petualangan, dan keceriaan bersama Harry, Ron, dan Ginny yang amat kucintai. George, terkadang tampak lesu, tapi kami selalu mengajaknya makan satu meja, dan memintanya menceritakan lelucon. Kami tahu, leluconnya tak lagi lucu, tapi kami selalu tertawa saat semua guyonannya berakhir untuk mengobati lukanya. Kami hanya ingin ia tahu, kalau ia tetap akan bisa tertawa meski tanpa Fred. Karena Fred sendiri sedang tersenyum di tempat yang bahagia.

Hari-hari sebagai Ketua Murid sangat melelahkan, terutama jika ada musang melambung di kamarmu. Draco selalu menggodaku tiap malam, dan mencuri-curi momen untuk menciumku.

Inilah yang membuatku merasa aneh selama berada di asrama ketua murid: Aku tertidur di kamarku, dan bangun di kamar Draco.

Hal itu selalu terjadi hampir tiap hari. Dan Draco berkata bahwa aku tidur sambil berjalan dan aku selalu menyelusup ke kamarnya saat malam. Ini sungguh aneh, padahal aku merasa baik-baik saja. Kemudian aku merasa ada yang tak beres.

Suatu malam, aku pura-pura tidur, tak lama kemudian pintuku terbuka, dan sosok itu datang. Oh, Merlin, itu Draco-ku. Draco duduk di tempat tidurku, dan berbisik di telingaku: "Tega sekali kau membiarkanku tidur sendiri," lalu ia mengangkatku lembut dengan lengannya yang perkasa itu. Ia menggendongku sampai kamarnya, lalu membaringkanku di tempat tidurnya, barulah ia meringkuk di sebelahku dan memelukku.

Hal ini jelas membuatku tertawa! Oh, Pangeranku tercinta tak bisa tidur tanpa aku!

Untung saja, aku tak mengacaukan malam itu dengan tiba-tiba terbangun. Aku membiarkan Draco melakukannya, dan pura-pura tak tahu apapun. Kemudian, di malam musim dingin, Draco melakukannya lagi. Ia menggendongku. Dan ketika setengah jalan ke kamarnya, aku tak bisa menahan diriku. Aku membuka mata, dan mendapati mata Draco ada padaku. Ia terkejut sekali, dan aku tertawa menang.

"Aku..kupikir kau.." Draco mulai meracau. Aku masih dalam gendongannya, tertawa.

"Tak apa, Drake. Aku juga harus jujur," kataku. "Kalau aku tak bisa tidur tanpamu,"

Ia melebarkan matanya, lalu dengan dalam menciumku penuh perasaan sampai-sampai aku tak bisa merasakan dinginnya malam itu. Ia meletakanku di sofa terdekat, menciumku sampai aku takut wajahku habis, lalu dengan lembut mulai 'bermain' denganku.

Malam itu, kami begitu panas meski belahan bumi yang kami singgahi tengah membeku dalam musim dingin. Paginya, kami mendapati diri kami sedang tidur bersama di dalam pelukan masing-masing.

Itulah yang terindah: saat aku tidur menatap wajahnya, dan bangun menatap wajahnya. Sempurna.

Aku lulus dari Hogwarts dengan nilai tertinggi. Draco dibawahku. Oke, aku juara satu dan dia juara dua, simpel.

Kami kembali ke Manor. Aku bekerja di Kementrian, dan dia menjadi Auror bersama Harry, Ron, dan Brandon. Ehm, sebenarnya, Auror hanyalah pekerjaan sampingan. Lucius sudah menyerahkan seluruh kekayaan dan perusahaan keluarga ke tangan Draco, dan itu membuatku pusing. Mengatur uang yang begitu banyak tanpa memboroskannya sangat susah, jadi kami memutuskan untuk menyimpan uang itu di bank untuk jaga-jaga, dan Draco mulai mengelola perusahaan yang besarnya keterlaluan itu.

Em dan aku terkadang duduk berdua menunggu Draco dan Brandy pulang. Cash berusia satu tahun saat aku mendapat promosi di kementrian, dan Draco mulai meronta ingin punya Scorpius.

Aku tidak yakin saat itu. Memiliki Scorpius bukan hal gampang, aku masih ingin menikmati pekerjaanku, dan...kandunganku yang kosong.

Oke, aku keterlaluan.

Dan keajaibanku belum sampai disana. Ginny dan Harry menikah! Oh, inilah yang kutunggu! Aku akan menghadiri pernikahan sahabatku! Pernikahan mereka menyadarkanku bahwa, kami semua telah tumbuh, dan kenangan masa kecil kami akan selalu berada di hati. Hal itu membuatku terharu. Aku ingin kembali ke masa dimana rambutku masih sangat semak, gigiku masih sangat tupai, dan wajahku tak semenarik sekarang.

Dan benar saja! Aku menangis saat Arthur menggandeng Ginny menuju altar. Harry sangat tampan dengan jas-nya, dan Ron tampak keren dibalik jubah emasnya (aku serius soal emas). Kami berfoto.

Aku, Ginny, Harry, Ron, Draco.

Dan yang menyenangkan adalah: aku dan Draco makan malam di The Burrow bersama Para Weasley. Ron membuatku ingin menangis lagi saat ia menuang butterbeer ke sebuah gelas kaca yang di sebarkan untuk semua orang di meja makan.

"Mengapa butterbeer?" aku bertanya sambil melirik-lirik wine yang tampak enak di tengah meja makan.

Ron hanya tertawa, lalu mengangkat gelasnya sambil keras-keras berkata: "Untuk masa kecil kita yang penuh kenangan! Harry, Ginny, Ron, Hermione, dan...yeah Malfoy!"

Kenangan, ia bilang begitu.

Aku sambil menahan airmata, segera meneguk satu gelas butterbeer sambil mengingat bagaimana kami berjalan ke Hogsmeade bertiga, lalu Draco mengerjai Ron, lalu Harry menengahi mereka, lalu aku balas mengerjai Draco.

Ah, kami semua telah tumbuh.

Malamnya, aku duduk berdua bersama Draco di atap Manor sambil menatap bintang.

Malam itu begitu dingin, tapi Draco menghilangkan segala rasa itu dengan mendekapku erat. Aku mendengar Cash menangis dari atas sana, tapi bila melihat mata Draco yang lebih indah daripada langit malam berbintang, aku jadi tak mendengar apa yang seharusnya kedengaran.

"Mione," Draco memanggil. "Aku bisa melihat gugusan bintangku dari sini, itu disana. Rasi bintang Draco,"

Aku melihat ke langit, kearah kerlap-kerlip bintang yang rupawan.

"Yeah," balasku takjub.

Ia merapat. Lalu memeluk leherku, dan menyembunyikan wajahnya dibalik rambutku. Aku mencium baunya, yang sangat enak dan mewah. Ia berubah banyak.

Aku berbalik agar bisa mendapatkan bibirnya. Aku menciumnya. Bibirnya ranum, begitu empuk, dan indah. Apa yang bisa kukatakan untuk mendefinisikan betapa indahnya malam itu. Ciuman itu, dan bintang-bintang itu. Dan salju.

Kami cepat-cepat masuk saat salju turun, ia menggendongku di punggungnya, mengingatkanku pada saat perang. Kami tertawa dalam perjalanan ke kamar, dan sesampainya di kamar, ia mendudukkanku di atas kasur. Ia mendekat ke laci ebony.

"Kau ingat laci ini? Laci yang terlarang untuk dibuka? Aku melarangmu membukanya saat kita baru saja menikah waktu itu," kata Draco.

Aku ingat laci itu. Waktu itu, aku hampir membukanya, tapi aku tidak jadi melakukannya karena kotak itu terkunci (A/N: lihat chapter 2). Kali ini Draco akan membukanya, aku penasaran apa isinya.

Sebuah kotak hijau, masih sama bagusnya seperti dalam ingatanku.

Ia meletakkan kotak itu ditanganku.

"Boleh buka?" tanyaku antusias. Ia memerah.

"Bukalah kalau aku pergi," ia tersipu. Kemudian ia keluar dari kamar dan menutup pintunya.

Aku membuka kotak itu, MERLIN!

Itu semua fotoku di tahun keenam. Aku yang mencatat di kelas sejarah. Aku yang makan kentang tumbuk. Aku yang berjalan lewat lorong. Aku yang menonton Quidditch. Aku yang digoda McLaggen (oh, that bastard). Aku yang...yucks! Aku yang masuk ke toilet perempuan.

"MALFOYY!" aku memanggilnya. Tapi ia tak datang.

Kemudian aku menelusuri kotak itu lagi, dan menemukan buku bersampul kulit binatang warna cokelat tua.

Aku membukanya.

Isinya: Mione, Mione

Senin

Aku mencintai Hermione Mudblood. Aku sudah gila.

-DLM.

Halaman kedua lebih seru lagi:

Senin lainnya

Potter menyerangku dengan Sectumsempra, yang ada di benakku hanya Hermione. Aku mencintainya, entah sejak kapan. Aku mulai meminjam kamera sihir tua dari bocah Ravenclaw itu, dan sejak hari ini mulai memotretnya. Aku menyukai caranya tertawa dan tersenyum. Kelembutannya, dan sifatnya yang keras. Ia seperti bagian lain dariku yang memang dibuat khusus buatku.

Tapi ia bersama Potter dan Weasley. Aku tak punya celah.

Tapi aku mencintainya.

Dan cinta selalu menemukan jalannya.

-DLM.

Aku terkesima. Aku tak tahu Draco sebegitu dalamnya mencintaiku, dan..hei! Ia penulis yang keren!

Sabtu

Voldemort semakin dekat.

Lucius Bodoh diacamnya, dan aku bisa-bisa juga kena masalah. Tapi Hermione selalu mengingatkanku kalau aku ini masih punya harapan. Hanya dengan melihat senyumnya saja, aku tenang.

Aku selalu ingin menjadi miliknya.

Atau kalau tidak—ia yang harus jadi milikku.

-DLM.

Oh, Draco.

Hanya tiga halaman tapi semua itu menggugah hatiku. Aku tak menyadari itu. Aku sangat senang karena ia memerhatikanku. Tapi maaf saja, aku tak suka dipotret ketika masuk toilet.

Aku memasukkan kembali barang-barang itu kedalam kotak, lalu menciumnya dan menyimpannya kembali kedalam laci.

Aku mencari Malfoy, dan ia sedang memerhatikan salju di balkon. Semalaman itu, aku tak bicara apa-apa. Hanya duduk di pangkuannya dan menikmati salju yang menimpa mawar serta narcissus. Kemudian kembali tertidur bersamanya.

Beberapa bulan setelah pernikahan Ginny dan Harry, kabar baik kembali mengetuk jendela kamarku. Seekor burung hantu cantik mengirimkan surat dari Ginny. Dia hamil.

Yaampun! Seorang Harry kecil!

Aku menyampaikan itu pada Draco, dan seharian ia bertingkah aneh.

Ia menolak makan, lalu tidur dengan kepala dibawah bantal. Aku merayunya, tapi ia merajuk seperti anak kecil.

"Ada apa?" aku bertanya.

Ia hanya diam. Kukira ia sudah tertidur, tapi sekejap kemudian ia melompat sampai bantalnya terpental. "Potter punya anak!" begitu katanya.

Nah, sampai sini aku mengerti.

"Kau mau Scorpius?" aku tertawa. Ia menatapku dalam, lalu menggeleng.

"Aku sangat ingin, tapi aku menunggu ibunya siap," ia melirikku, dan aku merasa malu. Saat itulah aku merasa, sekarang saatnya mengisi kandungan. Sekarang saatnya jadi ibu!

Jadi malam itu aku berkata ya, dan Draco segera melaksanakan tugasnya.

Dan benar saja. Aku hamil. Wow, secepat itukah? Draco hebat...

Setelah melewati sembilan bulan menyesakkan yang penuh dengan 'Draco, tolong' dan 'Hermione jangan capek-capek', aku akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Sangat tampan, matanya...oh tidak, itu abu-abu.

Ginny juga sudah melahirkan putranya bulan lalu. Aku yakin anaknya dan anakku akan jadi sahabat.

Draco sangat senang, Cash berusia dua tahun saat Scolpy lahir. Hari-hariku dipenuhi tangisan bayi dan tawa Draco yang senang karena telah menjadi ayah. Scorpius adalah hidupku. Aku mencintainya.

Setiap malam, aku menghabiskan waktuku untuk menatap wajah bayi Scorpius yang sedang tidur di tempat tidurnya. Lalu Draco datang dan memelukku dari belakang. Dan aku bertanya, "Hei, benarkah kita malaikat ini dititipkan pada kita?"

Dan Draco segera menciumku. "Benar,"

Narcissa dan Lucius sudah menyiapkan lemari besi untuk Scorp (Cash sudah punya) dan Lucius memutuskan untuk mengambil foto keluarga.

Hari itu, Lucius ada di dekat Narcissa. Draco, Scorp yang tertidur, dan aku ada di sofa merah. Brandy, Em, dan Cash yang tertawa dengan liurnya (oh, yaampun) duduk di sofa hijau.

Fotografer mengambil foto kami, dan aku menyimpan salinan foto itu di dalam laci.

Beberapa tahun kemudian, Scorp sudah berusia lima tahun, dan Chas tujuh. Mereka selalu bersama, dan keduanya tampan. Cash bermata cokelat, dengan rambut hitam dari Em. Sementara itu, Scorp...cetak biru Draco. Mata abu-abu, rambut pirang, dan seringai.

Suatu hari, Scorp menghilang. Aku menangis seharian dan Draco segera pulang ke Manor saat mendengar kabar dari Narcissa. Mataku bengkak, berantakan. Bahkan Cash menangis karena Scorp tak ditemukan dimanapun.

Draco dengan segala kepanikannya, menelusuri seisi rumah. Dan kami menemukan ia di kamar lama Bellatrix, sedang bicara dengan laci Harold. Harold! Aku teringat kalung Narcissa yang masih ada di dalamnya. Namun, yang membuatku terkejut, benda itu ada dalam genggaman Scorpius Hyperion Malfoy-ku yang tercinta!

"Scorp!" aku meneriakinya. Ia melihatku, lalu berlari untuk memelukku.

"Mia!" ia berseru senang.

"Oh kau membuatku nyaris mati!" aku menangis senang. "Apa itu, Nak?" aku memancingnya.

"Kalung Mia," ia berkata lucu, lalu memakaikannya di leherku. "Scolp tukal cepatu Scolp buat dapat kalung Mia,"

Sepatu? Benarkah?

Aku melihat kakinya: hanya ada satu sepatu. Satunya lagi tak ada. Aku sudah dapat menebak kalau Scorpius memberikan sepatunya pada Harold untuk mengambil kalung ini. Oh, aku tak percaya kalung ini kembali.

"Grandma Cissy pasti sangat senang," aku mencium pipinya.

Dan aku mengembalikan kalung itu pada Narcissa, tapi ia menolaknya. Jadi aku menyimpan kalung itu dalam laciku.

Kenangan yang menyenangkan bersama anakku.

Dan disinilah aku sekarang: di depan Hogwarts Express.

Aku mengantar Scorpius sekolah, Cash dengan tampannya berjalan bersama Scorpius. Oh, anakku terlihat sangat keren!

Aku memeluk Scorp, lalu Cash. "Aku mencintai kalian,"

"Yeah, Aunt, aku juga," Cash berkata, lalu ia berbalik untuk memeluk Emeraldina dan Brandon.

Draco mengacak rambut Scorpius kami, dan aku tersenyum bahagia. Kedua pria inilah hidupku. Aku mencium pipi Scorpius, dan ia mengelak.

"Uh, Mum, jangan di depan Rose..." ia mendesah malu. Aku tertawa pelan. Aku tahu ia naksir anaknya Ron dan Lavender. Si Rose Weasley yang cantik dan langsing.

Aku meninggalkan Scorp dan Draco sebentar untuk menyapa Potters dan Weasleys.

"Hai, cowok-cowokku!" aku memeluk Harry dan Ron. "Aku tidak percaya. Kita mengantar anak-anak kita sekolah? Merlin, ini seperti mimpi."

Ginny tertawa, lalu mencium satu-satu anaknya. James, Albus, dan Lily yang masih kecil. "Kau berlebihan, Hermione. Harusnya kau tahu saat ini akan datang," Ginny memelukku juga.

"Aku..hanya takjub," aku tersipu.

Draco dan Scorp ternyata bergabung denganku. Well, hanya Draco, karena Scorp-ku yang tampan sedang mendekati Rose si Cantik.

"Jadi..kau suka Quidditch?"

Oh, Merlin, Scorp, itu garing sekali, seperti Draco.

Peluit Hogwarts Express berbunyi nyaring. Anak-anak naik, dan aku bisa melihat mereka duduk di kompartemen mereka lewat jendela. Scorp melambai padaku dan Draco, ia duduk di sebelah Rose yang memerah seperti mawar. James, Cash, dan Albus duduk di depan mereka, lalu melambai juga.

Aku melambai balik. Mereka baru akan memulai perjalanan menakjubkan.

Perlahan kereta melaju menuju kastil dimana hatiku berada.

"Kau baik-baik saja?" tanya Draco. Persis seperti perjalanan kami menuju Hogwarts di tahun ketujuh.

Aku memeluknya. "Aku sangat bahagia."

Ia tersenyum, dan aku balas tersenyum.

Dan musim semi kembali membuatku takjub dengan sihirnya yang ajaib.

THE END