Diterjemahkan dari 'POPPIES'
(story/view/551475)
Karya LoveisLife (profile/view/31038)
Copyright © LoveisLife, 2013
-tambahkan asianfanficsdotcom/ di depannya-
POPPIES
Hari ini tanggal 2 Agustus 1941, hari dimana Prajurit Wu Yifan menuliskan surat terakhirnya untuk seseorang yang amat dicintainya di dunia ini.
Byun Baekhyun.
-xxxxx-
Seiring dengan berlalunya tahun dan mereka berdua tumbuh semakin besar, mereka masih melanjutkan acara ngobrol-ngobrol istimewa mereka. Teman-teman bermain Baekhyun masih banyak sementara Yifan, yang sekarang jadi lebih sedikit terbuka—terimakasih pada Baekhyun—masih tetap setia hanya bermain dengan Yixing. Tetapi kenyataan bahwa lingkaran sosial mereka yang sangatlah berbeda tidak pernah menyurutkankan langkah mereka untuk kembali datang menghampiri satu sama lain di akhir hari.
Mereka berdua telah membentuk suatu ikatan istimewa selama bertahun-tahun yang rasanya mustahil untuk dipatahkan. Yifan sangat peduli terhadap Baekhyun dan dia menyayanginya bagaikan adiknya sendiri, namun hubungan yang dia miliki dengan Baekhyun berbeda dengan yang dia miliki dengan Yixing. Dia sangat menyayangi Yixing, tapi dengan anak lelaki berlesung pipi itu Yifan tidak merasa perlu untuk selalu menambatkan tangannya di punggungnya setiap kali mereka berjalan bersama atau merasa harus menjaganya setiap waktu untuk meyakinkan bahwa dia merasa senang seperti yang dia lakukan kepada Baekhyun.
Pikir Yifan, mungkin karena Baekhyun masih saja sedikit lebih kecil dari anak-anak lelaki seusianya—walaupun mereka semua sudah tumbuh lebih besar—dan karenanya, Yifan tanpa sadar telah membiarkan sisi penyayangnya muncul lebih lebih untuk si anak mungil itu.
Nyatanya Yifan salah.
Pertama kali dia menyadari jawaban tepatnya adalah ketika usianya menginjak angka tujuh belas dan Baekhyun lima belas. 6 Maret 1937.
Yifan dan beberapa anak lainnya sedang tenang menikmati sarapan pagi di dapur mereka yang bersambungan langsung dengan ruang makan ketika pintu tiba-tiba menjeblak terbuka dan Jongin dan Sehun berlari masuk dengan cengiran lebar dan mata nakal mereka, memberitahukan pada setiap anak bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang besar.
"Chanyeol mencium Baekhyun!" Jongin mengumumkannya—keras-keras—biar semua orang di dalam sana tahu, dan mungkin sampai orang-orang yang ada di luar, di jalanan sana juga tahu. Semua anak terdiam mendengar kabar mengejutkan tersebut sementara Yifan membeku di kursinya, jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat.
"Ya! Di bibir dan semuanya," tambah Sehun bersemangat, ingin semua anak tahu persis detailnya. Namun nyatanya anak-anak itu hanya memutarkan bola mata mereka tidak percaya karena, tolong deh, dua anak laki-laki berciuman itu 'kan konyol banget. Yifan akhirnya bisa menemukan nafasnya kembali lalu bergabung dengan anak-anak yang lain dan melakukan aktifitas mereka kembali sebelum dua anak itu tadi datang menginterupsi.
"Tidak baik mengarang-ngarang cerita," tegur Kyungsoo, matanya memerenguti Jongin yang tadi berteriak pertama.
"Tapi itu sungguhan, Kyungsoo!" erang Jongin, Kyungsoo sudah terlanjur berbalik dan tak mengacuhkannya.
Saat itu bertepatan dengan masuknya Baekhyun ke dalam dapur. Namun semua anak sedang terlalu sibuk untuk sekedar memperhatikan dirinya yang sedang berjalan ke arah meja dengan mata mengarah ke lantai, kepala merunduk dan rambutnya yang seolah-olah mau melindungi dirinya dari semua orang itu. Tak jauh di belakangnya ada teman baiknya, Park Chanyeol, yang nyengir seperti biasanya—namun kali ini terlihat lebih lebar pasti karena ada alasan tertentu—yang memancing kecurigaan Yifan kembali; matanya memperhatikan Chanyeol yang beranjak menuju Baekhyun yang sedang kesulitan untuk mengambil mangkuk di pucuk rak sana.
Yifan menarik nafasnya keras saat Chanyeol mengulurkan tangannya dari belakang tubuh Baekhyun—untuk membantu mengambilkannya mangkuk.
Tindakannya itu tidak akan mengejutkan siapa-siapa dan bukan apa-apa, tapi ketika Yifan melihat dengan jelas bagaimana Chanyeol dengan sengaja menempelkan dirinya ke tubuh Baekhyun dan meletakkan tangannya di pinggul anak yang lebih kecil darinya itu saat mengambilkannya mangkuk, dia tahu bahwa ada yang berbeda. Juga ketika Baekhyun harus berputar dan berhadapan langsung dengan wajah teman baiknya itu; wajahnya merona dan matanya melirik grogi ke sekelilingnya seraya mengucapkan terimakasih kepada anak yang sekarang sedang terkekeh itu dan buru-buru pergi dari hadapannya. Tangannya memegang mangkuknya erat, gemetaran dan puncaknya ketika dia mendudukan dirinya tepat di seberang Yifan kemudian mata mereka berdua saling bertemu, dia tahu.
Yifan tahu.
Baekhyun buru-buru menolehkan wajahnya tapi itu sudah terlambat karena Yifan telah melihatnya di mata Baekhyun. Semuanya tiba-tiba terasa masuk akal, Chanyeol yang nyengirnya kelewat senang, Baekhyun yang terang-terangan terlihat malu dan bersemu itu. Jongin dan Sehun tadi mengatakan yang sebenarnya.
Baekhyun telah dicium, oleh teman baiknya, yang—demi Tuhan—seorang anak laki-laki!
Yifan merasakan darahnya mendidih, amarah mulai menguasai dirinya sampe ke dalam-dalam dan dia tidak tahu mengapa, tapi dia tahu saja bila dia harus menguasai dirinya sebelum dia menghancurkan apapun disini bersamanya.
Secara kasar, dia mendorong dirinya keluar dari meja dan berdiri. Anak-anak lain… dan Baekhyun memandanginya bertanya-tanya, tapi dia tak mengacuhkannya. Kakinya melangkah keluar dari sana dan dia menutup pintu di belakangnya dengan kekuatan sedikit lebih dari yang dibutuhkan.
Yifan terus berjalan, melewati ruangan tengah dan langsung menuju pintu keluar. Dia bisa saja masuk ke dalam kamarnya tapi Yixing masih tetidur di sana dan sekarang, meskipun Yifan sedang sangat-sangatlah marah tapi dia masih sadar diri, tidak ingin melibatkan anak tak bersalah itu ke dalamnya.
Dan sejujurnya, dia hanya ingin sendiri saat ini.
Jadi dia memutuskan untuk berjalan ke satu-satunya tempat lain yang bisa dia datangi dan kemudian menemukan dirinya telah berdiri di sebuah ladang bunga poppy. Warna serupa merahnya darah mengelilingi dirinya sampai bermil-mil ke luar sana.
Dia tak sengaja menemukan tempat itu ketika usianya baru tujuh tahun dan seketika terkesima dibuatnya. Jelas, anak kecil sepertinya waktu itu tak akan begitu tertarik dengan bunga-bungaan, namun cara sinar matahari yang menerpa kelopak lembut poppy-poppy kala itu—yang seolah menegaskan warna merah mereka—bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilupakan. Dia telah menemukan pelipur laranya disana. Dia hamparkan tubuhnya di antara bunga-bunga, matanya memandangi awan yang bergulung-gulung dalam tenang, dan sejak saat itu dia sering pergi ke ladang ini untuk sekedar melepaskan penat dan bermacam-macam perasaan tak enak, perasaan seperti yang dia alami sekarang ini.
Melakukannya persis seperti saat pertama kali dulu, bertahun-tahun yang lalu, Yifan membaringkan tubuhnya, lengannya terlipat mengalasi kepalanya dan kedua matanya dipejamkan erat. Dia membiarkan rasa marah itu pergi perlahan-lahan darinya lalu habis dihisap tanah.
Amarahnya telah benar habis, tapi sekarang pikirannya diganggu oleh sederet pertanyaan.
Mengapa Baekhyun membiarkan dirinya dicium Chanyeol?
Apakah dia menyukai anak itu? Bayangan akan Baekhyun yang menyukai Chanyeol membuat darah Yifan membeku dan wajahnya cemberut. Mengapa itu sangat menganggunya? Tidak, Yifan tidak tidak suka pada Chanyeol, si anak kikuk yang hampir sama tinggi dengannya itu. Meskipun dia selalu nyengir lebar-lebar—yang seharusnya kelihatan mengganggu—semua anak menyukai senyumannya dan juga menyayangi dirinya, termasuk Kris sendiri.
Baekhyun dan Chanyeol seperti anak kembar dempet; mereka berdua luar biasa samanya dalam segala hal. Chanyeol sama-sama lucu, bandel, dan suka mengoceh seperti Baekhyun… mungkin karena itu Baekhyun menyukainya, karena mereka begitu mirip.
Apakah Baekhyun akan membiarkan dirinya menciumnya? Yifan iseng berpikir sebelum akhirnya mengenyahkan jauh-jauh ide gila macam itu dari pikirannya. Mengapa dia berpikiran begitu? Ide mencium Baekhyun itu konyol dan tak seharusnya dia berpikiran seperti itu. Dia anak laki-laki dan dia itu adiknya—tapi Yifan tak juga bisa merasa jijik, malahan dia merasa hangat dan hatinya mengembang bahagia karenanya.
Mungkinkah dia sebenarnya ingin mencium Baekhyun?
Apakah dia menyukai Baekhyun?
Atau bisa jadi dia telah jatuh cinta dengan—
"Yifan?" Suara semanis gula yang terdengar sangat akrab memanggil namanya, membuat Yifan membuka matanya.
Baekhyun.
Anak itu sedang memandanginya penasaran dari atas—tak seharusnya Yifan berpikiran dia itu manis, tidak setelah dia berpikir macam-macam seperti barusan itu, tapi dia memang sudah tak bisa mengontrol pikirannya sendiri.
"Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?"
"Aku… aku membuntutimu ke sini… setelah kau kabur." Yifan menghela nafasnya, pasti tindakannya tadi di dapur terlihat drama sekali.
"B-bolehkah aku ikut berbaring?" tanya Baekhyun hati-hati ketika dia tak kunjung menjawabnya. Yifan menggumamkan ya-nya pelan dan menutup matanya kembali sementara Baekhyun merebahkan tubuhnya di sampingnya.
Mereka berbaring di hamparan ladang bunga poppy selama beberapa menit atau beberapa jam, Yifan tak begitu menghitung, dia tak peduli meskipun Baekhyun ada di sampingnya, berbaring di bawah satu langit yang sama.
"Jadi, bagaimana?" tanya Yifan setelah beberapa saat. Baekhyun terlihat bingung.
"Bagaimana apanya?" tanyanya balik. Kemudian dia mendudukan dirinya untuk menatap si anak berambut pirang—Yifan.
"Ciumanmu dengan Chanyeol, tentunya," ucap Yifan santai, matanya dibuka dengan sengaja untuk memenjara Baekhyun tepat di matanya.
"Apaku? Tidak! Aku tidak… maksudku-" Baekhyun seketika memerepet, matanya bergerak-gerak panik, dia masih berusaha untuk menyangkal semuanya.
"Baekhyun sudahlah, jangan berbohong—semuanya sudah terlihat jelas di wajahmu," Yifan tersenyum melihat betapa meronanya wajah anak itu, meskipun penyebabnya adalah sesuatu yang telah membuatnya marah. Baekhyun bersemu merah dan merunduk, mulutnya berkomat-kamit mengucapkan sesuatu. "Apa tadi kau bilang?" tanya Yifan, matanya masih terkunci pada Baekhyun.
"Aku tak pernah meminta dia untuk… menciumku," ujar Baekhyun sebal, bibirnya manyun sedikit—Yifan akan berpura-pura tak melihat.
"Oh, benarkah?" Yifan bangun dan duduk, "Lalu bagaimana bisa dia jadi menciummu?"
"Aku, uh, kami sedang bertanya kepada satu sama lain apakah kita sedang menyukai seseorang, dan saat aku bertanya padanya, dia bilang dia menyukaiku d-dan dia, uh, menciumku, dan aku mendorongnya, tapi lalu ia tertawa dan aku merasa sangat malu, karena kita berdua sesama anak laki-laki. Dia bilang dia hanya bercanda, karena dia sedang menyukai seorang gadis di sekolahnya tapi dia bilang sangat suka melihatku malu-malu begitu, jadinya dia terus-terusan meledekku di dapur," jelas Baekhyun panjang lebar, ekspresi sebal kentara di wajahnya saat mengingat-ingat kejadian pagi itu dengan teman baiknya.
"Oh," balas Yifan. Penjelasan itu sudah cukup baginya dan tiba-tiba Yifan merasa sangat tolol juga kekanakkan karena sempat marah tadi. Semuanya terjadi cuma gara-gara dia merasa… cemburu?
Apa benar dia merasa cemburu? Cemburu pada Chanyeol?
"Itu ciuman pertamaku," gerutu Baekhyun setelah beberapa saat, jari-jari rampingnya membelai rerumputan hijau di bawahnya.
"Harusnya dengan seseorang yang aku sukai, bukan dengan teman bodohku itu," keluh Baekhyun, tangannya bergerak menggenggam erat—Yifan mengerenyit—dan rumput-rumput itu tercabut paksa dari tanahnya.
"Memangnya kau mau dengan siapa?"
"Aku t-tidak tahu." Wajah Baekhyun merona kembali, "Siapapun kecuali si badut jangkung itu."
"Kalau aku?" Yifan tak bermaksud mengucapkan itu kencang-kencang, tapi dia memang penasaran. Pertanyaanya telah membuat mereka berdua bersemu merah dan Baekhyun menjawabnya dengan erangan.
"Tapi 'kan kita b-berdua laki-laki," jerit Baekhyun, matanya melirik singkat pada bibir Yifan sebelum akhirnya dia menunduk menatapi rerumputan lagi.
"Tapi kau tadi mencium Chanyeol," balas Yifan meledek, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman kecil.
"Aku tidak menciumnya!" sergah Baekhyun, tangannya sibuk meremas-remas wajahnya dengan kesal.
"Oke, Baekhyun, aku cuma bercanda," ucap Yifan, dia menggeser tubuhnya mendekat untuk menghentikan Baekhyun yang masih berusaha untuk merusak keindahan wajahnya. Akan tetapi saat dia mengulurkan tangannya, si anak berambut coklat itu malah mengayunkan lengannya dengan brutal dan hampir memukul Yifan telak di wajahnya.
"Baek… hyun, hentikan," erang Yifan, sambil masih mencoba untuk meringkus tangan Baekhyun. Akhirnya dia berhasil mendiamkan Baekhyun, dengan cara menunggangi anak yang lebih kecil darinya itu dan menahan kedua lengannya dia atas kepala.
"Oh," ucap Baekhyun ketika menyadari bagaimana posisi mereka saat ini. Yifan juga membatu saat dia menyadari hal yang sama dan beranjak menatap wajah Baekhyun di bawahnya.
Kedua pipi Baekhyun masih berhiaskan semu dan—Yifan tahu dengan pasti bahwa selama bertahun-tahun ini, Baekhyun telah banyak kehilangan gembilnya—wajahnya yang dahulu bundar sekarang jauh lebih tirus dan berbentuk. Akan tetapi sisanya masih terlihat sama persis. Lembut dan halus. Iris kecoklatannya yang hangat terlihat berkilauan saat bertemu tatap dengan mata Yifan, dan kedua mata itu terbuka lebar, sarat akan sesuatu yang tak mampu dia sendiri jelaskan.
Matanya menjelajahi wajah Baekhyun, melewati hidung bangirnya kemudian berhenti pada bibirnya yang menurut Yifan terlalu indah untuk dimiliki seorang anak laki-laki. Baekhyun disini, tepat di bawahnya, dengan bibir yang sedikit terbuka seolah sedang menunggu sesuatu. Yifan bergerak seinchi demi seinchi mendekat, terhipnotis pada bibir manis itu. Perlahan jarak diantara keduanya mengecil dan semakin mengecil dan Yifan bergerak semakin mendekat, sangat dekat pada Baekhyun sampai-sampai dia bisa merasakan naf—
Tidak.
bersambung...
t/n Harusnya aku post ini minggu kemarin, tapi karena aku keburu berangkat ke Malang jadi ya…
yang udah baca dan mau review terimakasih ya!
