Title : All is Lie
Cast : KyuMin Slight KyuWook, GS for Uke
Chapter : 3 of ?
.
.
.
Terkadang rasa benci itu lebih kuat dibanding dengan rasa cinta. Terkadang rasa dendam itu lebih mendominasi dibanding dengan rasa sayang. Dan terkadang rasa cinta itu lebih dipilih di banding dengan kebencian, tapi bagiku BENCI lah yang aku pilih untuk ku jalani.
- Unknow -
Sinar matahari memecah kegelapan di dalam kamar Kyuhyun, mata sembabnya terbuka menatap cerahnya cahaya yang membuatnya silau. Hari telah berganti sekarang dan ia masih tetap berdiam diri di dalam rumahnya. Bahkan kedua orang tuanya telah pulang sejak tadi malam, dia sendiri sekarang. Tapi mungkin ini lebih baik untuknya berpikir. Ryeowook? Dia sekarang berada di kamarnya sendiri yaitu di lantai bawah dan sepertinya dia tak ingin mengganggu Kyuhyun kali ini.
Drrt Drrt
Sebuah getaran yang cukup keras membuyarkan lamunan Kyuhyun, dengan perlahan diliriknya ponsel yang berada tak jauh darinya. Tak lama getaran itu pun berhenti, membuat Kyuhyun memalingkan wajahnya dari ponsel itu, namun getaran itu kembali sepertinya itu telepon yang cukup penting. Perlahan diambilnya ponsel yang terus bergetar itu.
"CHO KYUHYUN" sebuah teriakan langsung menyambutnya ketika menerima panggilan telepon itu. Di hembuskannya perlahan nafasnya yang terasa berat.
"Kau benar benar ne" kata orang itu lagi sambil mendengus, sepertinya orang yang berada di seberang sana begitu marahnya dengan Kyuhyun. Sungguh Kyuhyun tak lagi terkejut dengan teriakan atau makian, karena sejak kemarin dia sudah cukup banyak menerima itu semua.
"Kau masih bisa diam tanpa peduli sekarang istrimu tengah sekarat, kau benar benar namja tak punya perasaan" kata orang itu, sekarang mata Kyuhyun membelalak sempurna. Dia terkejut dengan berita yang baru saja dia dengar, Sungmin istrinya sekarat? Apa ini artinya semua kegelisahannya sejak kemarin.
"sekarat?" kata Kyuhyun lirih.
"kalau sekarang juga kau tak ke rumah sakit, kalian akan benar benar kupisahkan"
"Appa" kata Kyuhyun.
"Shappire International Hopital VIP 12A"
PIP
Sambungan telepon itu langsung mati dan tinggallah Kyuhyun yang menatap nanar ponsel di dalam genggamannya. Di remasnya dengan kuat hingga buku buku tangannya memutih tapi dia tidak peduli. Rasa sakit di tubuhnya tak berarti apapun di banding rasa sakit di hatinya.
"AARRRGGGHHH" teriaknya kemudian bersamaan dengan dilemparnya ponsel itu ke lantai hingga pecah berantakan.
Dengan air mata yang kembali mengalir dan pipi yang masih memerah, dia menyambar kunci mobilnya. Pikirannya semakin kalut sekarang, yang ada di pikirannya hanya Sungmin dan anak yang dikandungnya. Bahkan dia sama sekali tak mempedulikan Ryeowook yang ada di hadapannya sekarang. Dia langsung berlalu begitu saja.
Mobil mewah itu dikemudikan Kyuhyun dengan brutal, tak peduli banyaknya makian dari semua pengguna jalan. Dia hanya ingin cepat sampai ke rumah sakit, jantungnya kembali berdebar dengan cepat dan perasaannya benar benar tak enak. Banyak pertanyaan yang ada di dalam otak Kyuhyun, tapi dia sendiri tak bisa menjawab semuanya.
.
.
Sungmin masih tetap setia menutup matanya, seolah olah dia tak mau lagi bangun untuk merasakan kejamnya dunia untuknya. Sudah cukup dia begitu terluka kehilangan orang yang di cintainya dan kini dia kehilangan anak yang seharusnya bisa ia peluk dan cium. Sebuah pegangan tangan erat terus menyertai Sungmin, mencoba menyadarkan dan memberikan kekuatan untuknya. Pegangan erat seorang Umma untuk anak yang begitu disayanginya.
"Minnie, bangun nak" kata Ummanya kemudian bersama dengan derai air mata yang terus mengalir turun.
Tak lama, suara derit pintu di buka membuyarkan keheningan yang ada. Dari balik pintu muncullah Kyuhyun dengan begitu berantakannya membuat siapa saja yang berada di dalam ruangan itu tercengang kaget. Pipinya yang begitu merah dan memar, matanya yang terlihat begitu sembabnya, membuat siapapun pasti bertanya tanya apa yang telah terjadi.
Dengan langkah perlahan, Kyuhyun mendekat ke arah yeoja yang begitu ia cintai tengah menutup matanya. Segera sang Umma melepas pegangan tangannya dan menjauh dari sana. Kyuhyun menatap Sungmin dalam, menelisik jauh ke dalam kedua mata Sungmin yang masih terpejam. Hingga air matanya kembali menetes seolah ikut merasakan sakit hati yang Sungmin rasakan. Segera di rengkuhnya tangan lemah Sungmin dan menciumnya dalam.
"Mianhae" katanya setelah melepas ciumannya.
Setelah melihat ini semua apa kau baru sadar Cho Kyuhyun, kau telah menyia nyiakan istri yang begitu mencintaimu hanya untuk janjimu. Tapi apa penyesalanmu ini akan sebegitu mudahnya termaafkan oleh Sungmin.
.
.
"Cho Jungmo" Kata seorang namja sambil menatap wajahnya di sebuah cermin panjang . Seringai kembali nampak di wajah tampannya, satu persatu rencananya telah berhasil. Sepertinya dewi fortuna sedang singgah di dalam dirinya.
"Seluruh keluargamu akan merasakan rasanya kehilangan Cho, dan aku sudah memulainya dari dongsaengmu itu" Kata namja itu lagi, seringainya kini telah hilang dan berganti dengan mata yang penuh dengan rasa dendam.
Suara decihan yang cukup keras menggema di seluruh ruangan itu sebelum akhirnya dia berlalu dari sana. Sebuah kacamata minus tampak bertengger di hidung mancungnya, dia berjalan perlahan melewati beberapa orang yang tampak sibuk dengan urusannya masing masing.
Tak lama ia berhenti di sebuah ruangan, seringai kembali tercetak jelas di wajah tampannya. Sambil memperbaiki letak kacamatanya, dia terus melihat ke arah sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang berada di balik kaca. Seorang bayi mungil yang berada di dalam inkubator dengan beberapa dokter yang tengah menanganinya. Bayi yang lahir belum masanya itu terlihat masih begitu lemah.
Salah seorang dokter segera keluar dari ruangan setelah melihat namja itu berada di luar. Dengan senyum tipisnya dokter itu segera menyalami namja yang sekarang terlihat sedih, sungguh akting yang sangat baik kan.
"bagaimana anak saya dok" kata namja itu dengan nada di buat sememelas mungkin.
"keadaan anak anda sudah cukup stabil sekarang, tapi tindakan anda beberapa waktu lalu benar benar mengancam nyawa anak anda" Kata dokter itu sambil menatap sang namja yang kini tersenyum tipis, seolah lega mendengar kabar kalau anaknya baik baik saja.
"ne Mianhae dokter Kim, saya hanya tidak ingin anak saya di rawat di Rumah sakit yang tidak bagus jadi dengan segera saya membawanya kemari" kata namja itu sambil menatap bayi yang keadaannya sudah cukup normal itu di dalam inkubator.
Dokter yang mendengar penjelasan dari namja itu hanya bisa menghela nafas perlahan tanpa berniat bertanya hal lainnya lagi. Dokter spesialis anak yang sering di panggil Kim Junsu itu masih tetap menatap namja tinggi yang berada di sampingnya, sedikit menaruh curiga dengan namja tampan ini.
"Mianhae Dokter Kim, saya harus kembali bekerja, tolong rawat putra saya ne" kata namja itu sambil kembali menyalami Junsu yang kini tersenyum dan mengangguk perlahan.
Setelah itu dia berlalu meninggalkan Junsu yang tetap setia menatapnya hingga menghilang dari balik tembok Rumah Sakit. Setelah cukup jauh, namja itu melepas kacamatanya dan menaruhnya di dalam saku kemejanya. Suara decihan kembali terdengar, tapi kini terdengar pelan.
"putra?" katanya pada dirinya sendiri sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil sport warna merahnya.
.
.
Mata Sungmin membuka perlahan lahan, kembali mencoba untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar. Kyuhyun yang menatap Sungmin telah sadar kini semakin mengeratkan pegangan tangannya. Dia sadar akan kesalahan yang ia perbuat dan dia ingin menebusnya sekarang.
DEG
Jantung Sungmin seolah ingin berhenti berdetak saat itu juga ketika melihat seseorang yang cukup menyakiti hatinya berada di hadapannya kini. Menatapnya dengan mata sembab dan masih terlihat merah, namun itu semua tak membuat Sungmin luluh. Walaupun hatinya merasa sakit ketika melihat pipi Kyuhyun berwarna merah dan memar, pasti telah terjadi sesuatu sebelumnya.
"Pergilah Cho" kata Sungmin kemudian, setelah ia mendapatkan kesadaran sepenuhnya dan mengesampingkan rasa khawatirnya akan keadaan Kyuhyun.
"Min, Mianhae jeongmal Mianhae" kata Kyuhyun masih dengan memegang erat tangan Sungmin.
"aku tak akan pernah memaafkanmu Kyu" Kata Sungmin sambil meneteskan air matanya karena mengingat ia telah kehilangan anaknya.
"kau sudah membunuh anakku Kyu, aku sangat membencimu" kata Sungmin lagi. Kyuhyun kembali kaget dengan kata kata Sungmin. Membunuh? Anak? Apakah mungkin anaknya telah meninggal, tiba tiba pegangan tangan Kyuhyun melemas sekarang, setetes air mata turun dari mata sembabnya.
"membunuh" kata Kyuhyun lirih sekarang, dia menatap sendu Sungmin yang kini telah menangis keras dan memukul mukul dirinya.
"Anakku pergi karena kau Cho Kyuhyun, dia tahu kalau appanya hanyalah seorang namja pembohong" kata Sungmin lagi dengan sesenggukan. Kedua tangannya masih memukul mukul Kyuhyun yang kini terdiam dengan pandangan mata kosong. Apa yang ia dengar ini semuanya benar, apakah dia kehilangan anaknya. Otak jeniusnya masih mencerna semuanya, tapi sepertinya hatinya jauh lebih cepat tahu hingga air mata itu mengalir semakin deras dan bibirnya bergetar.
"KENAPA KAU DIAM CHO" Teriak Sungmin kemudian, nafasnya terengah engah karena teriakannya sendiri. Air matanya masih menetes tapi di sana bukan ada rasa sedih tapi kebencian yang besar.
Kyuhyun langsung tersentak kaget mendengar teriakan Sungmin yang begitu kerasnya. Bibirnya semakin bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan. Hingga akhirnya tangannya terarah untuk menyentuh Sungmin. Dipegangnya tangan dingin Sungmin, semakin lama semakin erat.
"Mianhae" akhirnya sebuah kata keluar dari mulut bergetar Kyuhyun. Sungmin menggeleng gelengkan kepalanya seolah mengatakan tidak untuk Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak menyerah, segera di rengkuhnya tubuh lemah Sungmin ke dalam pelukannya.
Tapi sepertinya Sungmin tak mau lagi untuk di sentuh oleh Kyuhyun, dengan kekuatannya yang tersisa dia mencoba melepaskan pelukan erat itu. Kedua orang tua Sungmin melihatnya, tapi tidak berani untuk mencampuri urusan keluarga kecil itu. Mereka hanya saling berpelukan dan menangis dalam diam.
"Min, jeongmal mianhae, jeongmal mianhae" kata Kyuhyun tepat di telinga Sungmin membuat Sungmin kembali menangis dan berteriak dengan keras. Hingga akhirnya dia menyerah, membiarkan Kyuhyun memeluknya dengan erat dan merasakan hangatnya pelukan dari namja yang telah mengisi hidupnya itu.
"aku membencimu Kyu" kata Sungmin berulang kali dengan lirih diiringi tangisannya yang tak berhenti.
.
.
Sebuah mobil sport berwarna merah tampak berlalu dengan cepat di jalanan kota Seoul, di dalamnya terdapat seorang namja yang tengah berkonsentrasi untuk mengemudi. Sepertinya dia begitu terburu buru hingga memacu mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
Tak lama ia sampai di sebuah gedung yang cukup tinggi, segera diparkirnya mobil mewahnya itu. Setelahnya dia mengambil jas yang ia taruh asal asalan di sandaran jok mobilnya dan dipakainya baru setelah itu dia keluar dari mobilnya.
Sapaan dari semua pegawai kantor itu dia terima dengan hangat, matanya terlihat teduh dan begitu berkharisma. Berbeda saat dia berada di Rumah Sakit tadi, tatapan mata tajam dan seringailah yang mendominasinya.
Segera dia naik lift menuju ke Ruangannya yang berada di paling atas gedung berlantai 15 itu. Seseorang tengah menunggunya di sana, dan itu tamu yang cukup mengejutkan untuknya. Tak lama sampailah ia di lantai 15, sebuah pintu besar berwarna coklat berada tak jauh dari sana. Itu adalah ruang kerjanya.
"Selamat pagi Sajangnim, Tuan Cho sudah menunggu di dalam" sapa seorang yeoja cantik yaitu sekretarisnya.
"ne" Katanya singkat sambil berlalu menuju ke ruangannya bekerja.
Cklek
Pintu besar itu dibukanya perlahan, dengan langkah penuh kharismanya dia berjalan masuk ke dalam dan menemukan seorang namja paruh baya tengah menunggunya di sofa. Namja paruh baya yang bernama Cho Hankyung, pemilik sebuah perusahaan besar yang bernama Cho Corporation. Sekaligus dia adalah Appa dari Cho Kyuhyun.
"Selamat datang Tuan Cho" kata namja itu sambil menjabat tangan Hankyung.
"Ne gamsahamnida, ku kira anda sudah sedikit berumur Yesung~ssi, ternyata masih begitu muda" kata Hankyung sambil menyambut jabatan tangan Yesung.
"banyak yang bilang seperti itu Tuan Cho" kata Yesung hangat sambil tersenyum. Setelah itu dia melepas jabatan tangan mereka dan segera duduk berhadapan dengan Hankyung.
"Ah ne, begini Yesung~ssi mungkin anda sangat kaget mendengar saya datang kemari, tapi kedatangan saya kemari benar benar keperluan yang sangat mendesak Yesung~ssi" kata hankyung dengan mimik wajah yang berubah serius.
"Anda butuh dana untuk perusahaan anda kan Tuan Cho" kata Yesung langsung to the point, dan di sambut dengan anggukan pelan oleh Hankyung. Yah setiap kata kata Hankyung sangat mudah untuk di tebak bahwa ia sekarang membutuhkan dana untuk perusahaannya yang sebentar lagi akan bangkrut itu.
"Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih karena seorang Cho Hankyung pemilik perusahaan besar itu mau datang ke kantorku yang tidak seberapa ini, tapi maaf saya tidak bisa membantu Hankyung~ssi" kata Yesung kemudian, dan di sambut dengan wajah terkaget kaget oleh Hankyung. Rahangnya tiba tiba mengeras dan menatap lurus ke wajah datar Yesung.
"tapi kenapa Yesung~ssi" kata Hankyung sedikit menahan emosinya, pasalnya semua perusahaan tak ada yang mau memberinya pinjaman dana dan harapannya hanya tinggal perusahaan milik Kim Yesung ini. Tapi ternyata sama saja.
"Saya sudah mendengar tentang perusahaan anda yang akan bangkrut itu, dan sangat sulit untuk mengangkatnya dari kejatuhan Tuan Cho, jadi saya tidak mau ambil resiko untuk membantu anda"
Tangan Hankyung langsung mengepal, rasa lelah dan emosinya sekarang sudah menguasainya. Segera di gebraknya meja kayu yang berada di antara dirinya dan Yesung. Tapi Yesung masih diam tak bergeming, wajahnya masih datar seolah gebrakan meja itu bukanlah ancaman untuknya.
"Perusahaanku belum bangkrut Kim Yesung" kata katanya sudah tak lagi sopan kepada Yesung. Yesung pun menghela nafasnya ringan dan menatap Hankyung seolah meremehkan.
"sudahlah Tuan Cho, akui saja perusahaanmu itu bangkrut, kalau tidak pasti akan ada yang mau membantumu dan sifat emosionalmu itu" kata Yesung dengan datar sekarang.
Emosi Hankyung sudah memuncak sekarang, segera tariknya kerah kemeja Yesung dan menatapnya tajam. Cengkraman tangannya yang kuat seperti mencekik leher Yesung, tapi Yesung masih tetap biasa saja dan menatap meremehkan ke arah Hangkyung.
Tanpa berkata kata, langsung di lepaskan dengan kasar cengkeraman tangannya sendiri hingga Yesung terjatuh di sofanya. Setelah itu Hankyung berlalu meninggalkan Yesung yang menyeringai lagi.
BRAK
Pintu kayu itu di tutup dengan kasar oleh Hankyung, membuat Yesung semakin tertawa menang.
"Satu lagi Cho, dan semua keluarga mu akan jatuh" kata Yesung sambil menyeringai.
Yah dialah namja di balik ini semua, tapi kedoknya tertutup dengan sempurna hingga tak ada yang tahu siapa dirinya sebenarnya. Walau di luar dia tampak seperti pribadi yang hangat dan baik tapi di dalam hatinya penuh dengan kebencian. Kebencian akan seluruh keluarga Cho, terutama Cho Jungmo. Namja itu telah menghancurkan keluarganya, terutama dongsaengnya yang kini telah di surga.
"Jaerin, Umma, Appa, lihatlah keluarga mereka akan hancur sekarang" katanya sambil menatap ke langit langit ruangannya.
Yesung segera berdiri dan merapikan kemeja dan jasnya lalu berjalan ke mejanya. Dan mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tak lama pintu besar itu di buka oleh seseorang.
"Mianhae lancang Sajangnim, tapi apakah anda baik baik saja?" tanya sekretaris pribadinya. Yesung segera tersenyum tipis dan mengangguk seolah mengatakan dia baik baik saja.
"ah ne kalau begitu saya akan segera keluar Sajangmin" kata sekretaris itu kemudian segera keluar dari ruangan besar Yesung.
Yesung menghembuskan nafasnya berat lalu kembali menekui pekerjaannya. Tapi tiba tiba dia berhenti dari pekerjaannya dan menyeringai, dia mengingat saat Sungmin berteriak teriak seperti orang gila karena kehilangan anaknya.
Drrt Drrt
Ponsel di dekat tangan Yesung bergetar, segera saja Yesung menengok ke arah ponsel touchscreennya dan langsung tersenyum tipis melihat ID caller di layarnya. Segera saja di angkatnya panggilan telepon itu.
"yeoboseyo?"
"..."
"Ne semuanya berjalan sangat baik, sepertinya kita akan berhasil"
"..."
"ne, yasudah jaga dirimu"
PIP
Yesung langsung menyandarkan dirinya di kursi besarnya dan kembali tersenyum menang karena semuanya memang berjalan seperti rencananya, dan kalau bukan karena seseorang yang meneleponnya tadi dia pasti tidak bisa sampai sekarang ini.
"satu persatu" katanya kemudian lalu mulai melakukan pekerjaannya yang sempat beberapa kali tertunda.
TBC
Mianhae lagi ne readerdeul, kalau updatenya masih kelamaan. Tapi silakan dibaca ne, mian kalau ceritanya membosankan dan ambur adul. Author hanya mengeluarkan apa yang ada di otak author saat ini.
Oh ya, spesial buat PaboGirl : reviewmu kebaca kok, tapi kalau masalah itu author juga kurang tahu soalnya author juga masih baru di Ffn.
Terimakasih ne buat semuanya yang masih mau ngebaca FF ini, dan buat yang udah mau nungguin.
- Shu Qiao Lian -
