Enough
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Boys Love! OOC! Typo(s)! Bahasa tidak baku!
(Terinspirasi dari Ending Card Kuroko no Basuke S3 Ep. 4)
Enjoy!
"Apa maumu?"
"Mana sopan santunmu terhadap seorang tamu, eh?"
"Tamu?" si merah memunculkan kepalanya keluar teritori apartemen miliknya, mencari sosok tamu yang dibicarakan oleh si biru. "Aku tidak melihat seorang pun yang—OI! Jangan masuk seenaknya!"
"Berisik." tanpa mengindahkan si merah, pemuda biru itu terus melenggang masuk ke dalam apartemen minimalis si merah. Dan tanpa izin langsung mendudukan dirinya pada sofa yang berada di ruang tamu.
"OI! Jangan—arggh!"
Si merah mengerut kesal.
.
.
"Kagami, aku haus." Si biru membuka suara setelah bermenit-menit mereka habiskan dengan saling mendiamkan satu sama lain.
Tidak, bukan maksud Kagami mendiamkan rivalnya dalam bermain basket itu. Ia hanya… sedang memasak. Dan ucapan si biru sukses membuyarkan konsentrasinya—membuatnya semakin kesal.
"Ambil sendiri di lemari es. Aku sedang sibuk."
"Sibuk? Memangnya sesibuk apa kau sampai mengambilkan aku minum saja tidak bisa?"
"Kau tidak lihat? Aku sedang memasak bodoh." Kagami menyalak—garang. "Dan kau bukan tamuku, A-o-mi-ne-san."
"Hee, memangnya orang sepertimu bisa memasak?"
"Tentu saja. Memangnya aku itu kau yang hanya bisa membaca majalah—"
"Yang masih kalah one-on-one diem aja deh."
"…kuso."
Si biru menyerigai—puas.
.
.
"Heh alis cabang."
"Apa lagi, item?"
'Kampret' batin Aomine mulai kesal. "Aku lapar. Mana makanannya?" Aomine masih belum berpindah dari posisinya—tiduran di sofa empuk milik Kagami. Namun kedua maniknya yang tadi terpejam kini menatap malas si merah yang tengah berkutat dengan sayur-mayur di dapur.
"Ha?"
"Aku menunggu masakanmu, bodoh. Lapar." Ucap Aomine (sedikit) songong, "Atau jangan-jangan kau hanya bisa memasak telur rebus?" kini kalimat ejekan yang keluar dan disambut dengan dengusan geli dari si pemilik apartemen, "Memangnya aku Kuroko?"
"Hm, mungkin saja." Balasnya malas. "Atau masakanmu satu level dengan Satsuki?"
'Anjrit!' sebuah perempatan imajiner muncul di kepala Kagami. "Khusus untukmu, akan kubuat rasanya seperti milik Momoi-san."
"Hee, mari kita lihat apa kau berani membuatnya."
"Memangnya aku takut?"
Cukup.
Aomine sudah cukup kesal dengan berbagai penolakan yang Kagami berikan kepadanya. Apa salahnya sih, baik dikit sama rival basket sendiri?
Salah. Abis situ tipe yang dikasih hati minta jantung.
"Hm…" tiba-tiba Aomine sudah menyenderkan kepalanya di bahu Kagami, tak lupa kedua tangannya juga melingkar di pinggang si merah. "Dari baunya, sepertinya tidak terlalu buruk."
"A-apa—menyingkir sana!"
"Tidak mau."
"AOMINE!" bentak Kagami kesal sekaligus panik dengan kelakuan Aomine yang terlalu tiba-tiba. Alarm di kepalanya berbunyi. "Hei nanti masakanku gos—ngh!"
"Aku lapar."
"Makanya minggir sa-ngh! A-AHO—"
"Aku mau makan yang ini saja."
"H-Hei!"
"Itadakimasu~"
.
.
FIN
A/n: MASYA ALLAH GUE BIKIN APA INI?
Ya udah lah. Intinya saya geregetan liat ending card episode empat. Tapi fanfiknya baru selesai sekarang (karena fanfik fandom sebelah terlalu menggoda /hah). Ya gitu deh. Ehehehehe
Btw, makasih kalo seandainya ada yang mau baca sampe abis, apalagi yang mau review :'3
Salam hangat berbalut cokelat panas,
Ren.
