Yunho tengah menikmati se cup ice cream stroberi, Yunho melihat keramaian disekitarnya. Yah, hari ini brand LV mengadakan pameran di distrik Gangnam, di wilayah pertokoan elite Gangnan. Yunho yang asik melahap ice creamnya menyipitkan pandangannya ketika ia melihat sang malaikat tengah berjalan dengan sosok bule. Err- kelihatannya Yunho mengenal gadis bule tersebut.

Yunho pun memutuskan untuk menghampiri Jaejoong. Ia pun berjalan dan pura-pura menabrakkan dirinya dengan sang gadis bule. Sang gadis bule pun mendongak, dan..

"Jung Yunho? Is it you?" Dianna nampak kaget dengan penampakan Yunho yang ternyata adalah sosok yang menabraknya. Dan Kim Jaejoong membelalakkan matanya. Jujur ia kesal dengan Yunho akhir-akhir ini.

.

.

Tittle : Love like this?

Genre : Romance, a bit humor, no Angst

Rate : T

Cast : Kim Jaejoong, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Dianna Agron, Yong Junhyung, Liu Yifei, Kitagawa Keiko and others

Warning : GS fanfiction, Typo(s), DLDR

Summary : Kim Jaejoong adalah seorang admin di situs biro jodoh online. Dan harus menghadapi seorang client yang sungguh menyebalkan, merepotkan, dan paling ajaib(?)
Siapakah client yang selalu membuat yeoja cantik tersebut uring-uringan? Let's check this^^

Chapter 6

Love and Tears

"Yah, it's me Jung Yunho." Yunho mendongakkan wajahnya dan sedikit melirik-mengejek- Kim Jaejoong yang berdirir dengan tatapan shock di samping Dianna.

"Oh my Lord, long time no see Handsome." Dianna pun memeluk Yunho sambil menepuk bahu Yunho lalu ia berkata.

"How are you, Handsome?"

"Selalu baik. Dan kupikir keadaanmu juga baik-baik saja Dianna. Sudahlah hentikan basa basi ini. Hehe." Yunho lalu berjalan di samping Dianna dan meninggalkan Kim Jaejoong yang berjalan dengan merengut dibelakang mereka.

"Oh, Yunho. Kau mengenal temanku ini?" Dianna pun mengajak Yunho dan Jaejoong duduk di salah satu bangku taman dengan Dianna yang duduk di antara Jaejoong dan Yunho.

"Siapa? Aku tak mengenalnya sebagai teman. Dia adalah admin dan konsultan cintaku." Yunho menjawab sambil menyeringai kepada Jaejoong, Jaejoong hanya memutar bola matanya malas.

"Yah, kau sudah tobat Yunho? Sudah berkonsultasi masalah cinta? Tapi kudengar kemarin-kemarin kau berkencan dengan salah satu aktris Jepang dan beberapa hari yang lalu kau pergi ke China menemui salah satu model China juga kan? Oh my God." Dianna berbicara panjang lebar dengan ekspresi yang sangat lucu, ekspresi yang selalu disukai sahabat Yunho.

"Ah lupakan gossip murahan itu." Yunho berujar sambil tersenyum ringan. Jaejoong yang diabaikan makin mempoutkan cherry lipsnya dan Jaejoong semakin kesal ketika—

"Ah Yunho, kau free kan? Tolong antarkan aku ke hotel yang akan aku tinggali. Mumpung ada kau, jadi aku tak perlu menghubungi sahabatmu." Dianna menatap Yunho dengan wajah berbinar-binar.

"Tapi Jaejoong?" Ah, ternyata Yunho masih menyadari keberadaan Jaejoong. Ia sedikit tidak tega kalau meninggalkan sang malaikat sendiri.

"Ajak Jaejoong juga, kau bawa mobil kan?"

"Ah iya. Ayo."

Mereka bertiga pun berjalan menuju parkiran dan memasuki mobil Yunho. Kali ini Jaejoong menyendiri lagi di jok belakang sungguh ia menatap iritasi Yunho dan Dianna yang sedang mengobrol ringan di jok depan.

Sepanjang jalan Jaejoong hanya diam sambil memainkan ponselnya, tampaknya ia tengah serius berkutat dengan situs biro jodohnya.

Setelah sampai, mereka segera menuju lobby hotel. Ternyata Dianna menyewa hotel yang berbintang dengan kamar yang luas. Jaejoong dan Yunho di persilahkan mampir. Mereka bertiga—berdua- Yunho dan Dianna nampak asik mengobrol dan mengabaikan Jaejoong 'lagi'.

"Dianna, bolehkah aku meminjam toiletmu?" Jaejoong lalu berdiri dari sofa nyaman yang ia duduk.

"Oh, silahkan. Toiletnya ada di samping dapur, sedikit lurus lalu belok kanan".

Jaejoong lalu beranjak meninggalkan Yunho dan Dianna, Yunho menatap sayang punggung Jaejoong yang semakin menjauh. Dianna yang melihat itu hanya tersenyum dalam diam. Jadi, ia dapat mengambil kesimpulan sekarang. Dan ia akan meluruskannya.

"So, kau menyukai Jaejoongie?" Dianna pun menepuk bahu Yunho menyadarkan Yunho dari daydream nya.

"Seperti yang kau lihat." Yunho menjawab dengan suara lirih. Dianna yang mendengarkan hanya bisa tersenyum.

"Jadi dia?" Dianna tiba-tiba teringat akan kisah sosok malaikat yang sangat diagungkan oleh Yunho.

"Ya."

"Aku ada ide Yunho."

.

.

.

Jaejoong kembali dari toilet dengan langkah gontai, ketika ia berbelok menuju ruang tamu pemandangan yang tiba-tiba membuat hatinya sakit tergambar jelas di depan bola matanya.

"Dianna, Yunho.." Jaejoong berucap lirih, dan tanpa diduga cairan bening merembes deras mambasahi pipinya.

Dengan keadaan yang tanpa di duganya sedikit pun ia lalu bergegas lari, menerobos Yunho dan Dianna. Ia berlari sambil menangis. Dianna yang menyadari itu segera mendorong Yunho, untung mereka belum sampai berciuman. Just taste?

"Yunho kejar dia dan ini tasnya." Dianna lalu menyodorkan tas Jaejoong yang ketinggalan.

"Tapi,"

"Tidak ada tapi-tapian Yunho. Cepat kejar dia, mungkin dia masih di sekitar hotel. Dan ungkapkan perasaanmu sebelum terlambat."

Dianna memberi nasihat lagi. Ia tampak senang akhirnya masalah mereka akan selesai, urusan Jaejoong yang akan membencinya itu urusan belakang. Yang terpenting kedua temannya ini bisa bersama dalam jalinan cinta.

.

.

.

Yunho berlari menyusuri lorong-lorong kamar hotel. Jaejoong ada di depan matanya, ia nampak akan memasuki lift yang pintunya akan tertutup, tapi—

Dengan tangannya ia masukkan di sela-sela pintu, Yunho mampu memasuki lift yang hampir tertutup tersebut. Ternyata di dalam lift hanya dirinya dan Jaejoong. Yunho yang melihat sang malaikat menitihkan air mata sungguh tak tega. Ia pun mendekati Jaejoong yang berdiri di salah satu sudut lift. Tapi, Jaejoong malah bergerak menjauh dari Yunho dan memalingkan wajahnya. Yunho lalu mendekati Jaejoong dan sebelum ia sempat berujar bunyi dentingan lift terpaksa harus mengurungkan niat Yunho.

Yunho lalu bergegas mengejar Jaejoong yang lari lagi menuju basement hotel. Dan akhirnya Yunho mampu merengkuh pinggang cantik Kim Jaejoong dari belakang. Yunho merengkuhnya erat, ia lalu menyandarkan dagunya di bahu Jaejoong. Yunho yang mendengar isakan Jaejoong, makin merasa tersayat hatinya. Ia pun membisikkan satu kata yang sangat lirih.

"Uljima." Yunho berujar dengan suara bassnya yang lirih, ia lalu melanjutkan dengan kata yang mampu membuat debaran jantung Jaejoong semakin tak terkontrol.

"Saranghae," Tidak ada respon dari Jaejoong, malah yang di dapat Jaejoong maikn terisak.

"Saranghae, my first love." Yunho lalu membalikkan tubuh Jaejoong dan menatap dalam mata bulat yang berlinangan air mata.

"Kenapa baru sekarang?" Jaejoong berucap sambil terus menitihkan air mata.

"Kenapa baru hari ini? Kenapa harus membuatku menunggu lagi? Kenapa harus membuatku menangis? Kenapa kau lama sekali, bear? Kenapa?" Jaejoong terus terisak ia memeluk Yunho erat, ia memukul-mukul dada bidang Yunho menyampaikan kekesalannya.

"Mian." Yunho hanya mengucapkan satu kata lirih.

"Should I confess first? Should I give you a second kiss again?" Jaejoong lalu mendongak dan mengecup bibir hati yang sangat dirindukannya.

"Nado saranghae, bear." Mereka berdua akhirnya berpelukan di tengah-tengah basement.

.

.

.

.

.

"Chunnie, kenapa kau terus memandang ponselmu? Ini kan film yang sudah kau tunggu-tunggu." Junsu sangat kesal dengan Yoochun kali ini. Yoochun terus memndangi ponselnya dan tak menghiraukan film yang sedang mereka tonton di bioskop.

"Ani, baby." Yoochun lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku dan melanjutkan menonton film yang sedang ia dan Junsu nikmati.

"Ah, endingnya sweet banget ya? Aku ingin hubungn kita berakhir seperti mereka. Hidup dalam kebahagiaan ikatan suci seumur hidup sampai akhir hayat." Junsu sampai menitihkan air mata menonton film ini. Ia pun berharap kehidupan cintanya akan berakhir dengan dirinya menyandang status resmi Ny. Park.

"Ne, baby. Aku akan menikahimu suatu hari nanti. Saranghae."

"Nado saranghae." Kemudian mereka berciuman panas sebelum meninggalkan bioskop.

Ketika akan memasuki mobil, Junsu melihat ponsel namjachingunya yang tergeletak di atas kursi pengemudi. Ia melihat layarnya berkedip-kedip tanda bahwa ada pesan masuk. Junsu pun berinisiatif membuka pesan tersebut, mungkin pesan penting dari atasan kekasihnya, selagi Yoochun sedang di toilet. Dan api cemburu mulai mambara di dalam hati dan pikirannya.

Aku sudah sampai di hotelku, Yoochunnie. Jadi tak perlu menjemputku, walau sebenarnya aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku merindukanmu..

-Dianna Agron-

Junsu yang membaca pesan tersebut langsung menangis. Apakah kekasihnya yang tadi berjanji akan menikahinya kini tengah bermain api dibelakangnya? Junsu langsung meletakkan kembali ponsel tersebut, dan sesegera menghapus air matanya dan duduk diam di kursinya karena Yoochun tengah berjalan menuju mobilnya.

"Maaf menunggu lama baby." Yoochunberujar sambil memasang safe beltnya.

"Tidak apa-apa." Junsu menjawab dengan nada datar sangat datar.

"Ada apa denganmu? Wajahmu memerah apalagi matamu, apa kau habis menangis sayang? Apa sesuatu terjadi padamu ketika aku pergi?" Yoochun nampak khawatir melihat wajah kekasihnya yang tak seperti biasanya. Ia lalu mengusap lembut pipi Junsu.

'Kenapa kau sangat perhatian? Inilah yang membuatku tak percaya jika kau mendua'. Bain Junsu, ia pun berujar.

"Aku tak apa, mungkin aku lelah. Ayo pulang kau terlihat sangat ingin segera pulang." Junsu berucap pelan sambil memandang sendu keluar jendela.

.

.

.

.

Laki-laki tampan yang mapan kini tengah melangkahkan kakinya di sebuah lorong gedung yang tak asing dipandangannya. Ia tersenyum sepanjang jalan, mungkin ia berfikir sesuatu akan membuat dirinya senang.

Ceklek..

"Junsu?" Laki-laki tersebut melangkah masuk ke dalam suatu ruangan yang telah berdiri sosok Junsu yang sedang melihat keadaan Seoul di siang hari melalui jendela kaca besar di kantor sahabatnya.

"Mau apa kau?" Junsu langsung menoleh ketika ada seseorang yang memasuki ruangan sahabatnya.

"Calm down, Junsu." Sang namja lalu menghampiri Junsu dan berdiri di depan Junsu.

"Apa maumu Yong Junhyung-sshi?" Junsu terus mencecar tujuan Junhyung mendatangi kantor Jaejoong.

"Mauku? Aku ingin menemui si cantik Jaejoong." Junhyung berbicara sambil menatap lurus mata Junsu. Junsu yang ditatap seperti itu malah mendelikkan matanya kepada Junhyung.

"Ingat Junhyung! Jaejoong tak pernah mencintaimu bahkan menyukaimu lagi." Junsu berkata semakin sengit. Ia sungguh kesal dengan kedatangan Junhyung yang tiba-tiba.

"Aku tak peduli, meski ia tak mau melirikku aku akan tetap mengejarnya."

"Kau seharusnya berkaca Junhyung-sshi. Ketika dulu Jaejoong sudah mulai menyukaimu, ketika ia akan menerimamu sebagai namjachingunya. Kau! Kau malah berselingkuh di depan matanya. Kau tidur dengan seorang yeoja di depan matanya. Coba bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Jaejoong saat itu. Sekarang, setelah kau menorehkan luka kau kembali, dan ketika kau kembali Jaejoong telah menutup luka itu. Kau, big bad boy!" Junsu berbicara sambil menangis histeris ia sangat tersentuh dengan perkataannya sendiri. Ia takut, apa yang terjadi kepada Jaejoong dulu akan terulang kepadanya. Ia membayangkan Yoochun melakukan hal itu dengan yeoja lain ketika ia berbicara meluapkan emosimu.

"Junsu-sshi.." Junhyung sungguh kebingungan kenapa Junsu malah histeris, bukankah ia tak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Apa karena ia wanita? Ia merasakan apa yang temannya rasakan. Tapi, jika seperti itu Junsu tak mungkin sehisteris ini.

"Sekarang pikirkan kembali apa yang kuucapkan, dan cepat keluar dari sini." Tanpa di komando dua kali Junhyung segera keluar dari ruangan Jaejoong.

.

.

.

Sudah sehari setelah kejadian Junsu yang meluapkan emosinya kepada Junhyung. Ia tak mendapat kabar dari sahabatnya Kim Jaejoong. Kim Jaejoong serasa di telan bumi, tak masuk kerja tak sms dan tak bertelpon.

Dan akhir-akhir ini Yoochun juga mulai jarang menghubunginnya. Ia makin membenarkan dugaannya bahwa Yoochun benar-benar selingkuh, tapi kenapa Yoochun tega sekali. Junsu pun memasuki restoran cepat saji yang tak jauh dari kantornya dengan langkah gontai, ketika ia sedang masuk langsung saja ada pemandangan yang sangat menusuk hatinya. Kekasihnya, Park Yoochun tengah makan siang dengan gadis bule. Junsu berfikir mungkin dia adalah Dianna.

Junsu hanya memandang, dan duduk tak jauh dari mereka. Ia pun memesan makanan. Setelah makanan datang, ia pun memakannya dengan santai tanpa minat memandang bahkan melirik Yoochun yang tak jauh dari mejanya.

"Jadi karena ini, kau bisa menangis histeris kemarin. Kekasihmu tengah berduaan dengan yeoja lain, Junsu-sshi?" Junhyung terkekeh melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.

"Berhenti bicara." Junsu sungguh malas meladeni namja yang dengan seenak jidatnya duduk di bangku di depannya.

"Apa kau ingin sesuatu pertunjukan yang menggemparkan, hmm?" Junhyung pun bangkit berdiri dan berteriak dengan lantang.

"Kim Junsu jadilah yeojachinguku. Saranghae..."

Junsu langsung membulatkan matanya tak percaya dengan kelakuan Junhyung, para pelanggan estoran pun nampak antusias dengan aksi pernyataan cinta di depan umum ini.

Park Yoochun yang berada tak jauh dari meja yang mereka duduki pun menoleh dan refleks menghampiri Junsu dan Junhyung, ia kalap dan ia pun meninju pipi Junhyung.

"Kau! Beraninya kau merebut yeojachinguku?" Yoochun kalap ia memelintir kerah pakaian Junhyung.

"Yeojachingumu? Lalu yeoja itu siapa? Selingkuhanmu? Bagus sekali Park Yoochun." Dianna Agron yang berada di belakang Yoochun pun sangat terkejut dengan perkelahian yang ada di depannya. Ia pun membantah.

"Dengar, tuan. Jangan asal bicara, kami hanya teman. Dan anda Junsu, jangan berburuk sangka aku bukan selingkuhan Yoochun. Dia adalah temanku dulu di Amerika." Dianna menengahi perkelahian ini, dia pun menghampiri Junsu dan memeluknya.

"Tolong percayalah padaku, Junsu." Dianna berucap sambil menenangkan Junsu yang kembali menangis.

"Bisakah aku mempercayaimu?"

"Meski aku adalah mantan kekasih Yoochun, kau harus percaya bahwa Yoochun hanya mencintaimu Junsu." Dianna terus meyakinkan Junsu.

"Aku mencintaimu Junsuie. Percayalah padaku, aku tulus mencintaimu. Saranghae." Yoochun pun memeluk Junsu dan membawanya keluar dari restoran.

"So, jangan membuat keributan di depan umum tuan." Dianna berujar di depan Junhyung dan membantu Junhyung berdiri,

"Dianna Agron." Dianna menjabat tangan Junhyung dan mulai mengenalkan dirinya.

"Yong Junhyung. Senang berkenalan denganmu." Junhyung menjabat tangan Dianna dengan senyum yang terpatri di wajah jokernya.

.

.

.

.

"Sudah 2 hari kita liburan di Hawaii. Bagaimana dengan Seoul? Aku merindukannya."

"Apakah rasa rindumu terhadap Seoul lebih besar daripada rasa rindumu kepadaku yang menghilang selama bertahun-tahun, Boo?" Sosok laki-laki tampan Jung Yunho pun memeluk Jaejoong di depan sunset yang sangat indah.

"Saranghae, my Boo."

"Nado Saranghae, my Bear."

.

.

.

.

.

END

Anyeong, readers. FF ini END saja ya? Apa mau dilanjut? Minta saran^^
Terima kasih telah membaca, mereview, memfollow, dan memfavorit.

Untuk project yang akan saya buat berikutnya "I Give My First Love to You" sabar ya, lagi mikirin konsep remake nya..

Untuk FF saya sebelah, gak tau mau lanjut apa tidak.

Yasudahlah, Thanks~

_Naem Naemie_

Jombang, 2 April 2015
09:57 P.M