Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Pairing: jelas Akafuri.

Warn: Sho-ai, standart warning, dan alur maju mundur.

Aaa, g sanggup ngelihat FFN dan AO3 tapi Akafuri lama banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusen sendiri deh. Ayo gelakkan semangat Akafuri.

Happy reading minna ^-^

Ketika sebuah kebiasaan yang selalu kau jalani tiap hari tiba-tiba menghilang, bagaimana rasanya?

Pasti tidak nyaman.

Pasti ada yang kurang. Seolah aneh, seolah tidak lengkap dan seolah semuanya terasa gamang—tidak sempurna.

Misalnya saja, kau terbiasa memelihara seekor kucing dan ketika kucing itu hilang atau mati. Keesokan harinya, kau mengecek kandangnya seperti biasa dan kau tak menemukan apapun selain kosong.

Rasanya, hidupmu menjadi tidak lengkap lagi.

Dan itu juga yang Furihata rasakan, walaupun tidak sama tapi deskribsinya mungkin begitu. Yah, walau nyatanya rasanya jauh lebih sakit ketika setiap kali ia mengecek ponsel hanya menemukan, ' no new message.'

Begini ya, rasanya digantung oleh pacar?

Eh, bukannya ia sendiri yang membuat hubungan mereka rumit? Dan, mereka juga tidak pacaran. Hubungan mereka tidak jelas—tanpa status.

Tapi, ketika Akashi yang mengabaikannya. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Sakit sekali.

Padahal, padahal ia hanya masih tidak yakin tentang hubungan mereka. Akashi terlalu jauh untuk ia jangkau—terlalu sempurna—dan ia biasa-biasa saja, sangat standar. Ia hanya tidak yakin bagaimana orang sekelas Akashi mungkin berhubungan dengannya. Bagaimana dengan status mereka yang sangat berbeda? Bagaimana dengan pandangan orang-orang terhadap dirinya? Semua orang pasti mengganggap ia orang yang materialistis dan Kouki tak mau itu terjadi.

Lagipula, mereka berdua sama-sama pria. Hubungan sejenis meskipun sudah ramai bukanlah hal yang legal. Masyarakat masih memandang mereka dengan sebelah mata. Mengatakan mereka sakit dan tidak pantas berada dalam struktur sosial. Seolah mereka ada di strata terbawah dalam piramida masyarakat.

Dan ia yang biasa-biasa saja ini, tidak akan sanggup menerima dua judgment sekaligus. Ia manusia normal yang punya hati selayaknya manusia biasa, bukan malaikat, tidak putih bersih. Ia juga bisa menggila seandainya orang-orang memandangnya dengan buruk. Ia belum siap dikucilkan.

Kenapa Akashi tidak bisa mengerti? Kenapa Akashi menjauhinya?

Yah, yah. Pergi saja sana. Itu juga kan hal yang Furihata harapkan sedari dulu. Ia selalu meminta pada tuhan agar orang yang selalu membuatnya mengalami tremor hebat itu pergi darinya. Meninggalkannya dan semua kedamaiannya bersama. Jadi ia bisa kembali ke kehidupannya yang normal, perjalanan hidupnya yang normal, dan kisah cinta yang normal.

Namun, kenapa rasanya sakit? Kenapa serasa ditusuk-tusuk? Kenapa giginya bergemeletuk? Kenapa tangannya meremas dadanya? Kenapa jantungnya berdenyut nyeri?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Sadarlah Furihata. Sudah kubilang, dia hanya mau mengerjaimu. Ia terlalu sempurna untukmu, Furihata. Ia hanya menyukai kau yang mengalami tremor dan merasa ingin mati di tempat setiap kali ia dekat-dekat denganmu. Coba saja kau pikirkan, jarakmu seperti plato dan matahari. Lihat, bahkan perbandingan mereka jauh sekali. Lebih jauh dari peribahasa.

Akashi permata yang sudah dipoles dan Furihata batu kali, menyedihkan.

Pungguk merindukan bulan. Takkan pernah kesampaian.

Furihata terduduk di sisi tempat tidurnya, merosot ke lantai, handphonenya sudah tergeletak di sudut lain kamar. Tubuhnya beringsut mundur, bersandar pada sisi kasur, kakinya menekuk, wajahnya ia tenggelamkan dalam-dalam. Isakan halus samar-samar terdengar. Badannya bergetar menahan gejolak emosi yang tak tersampaikan.

"Kenapa, Seijuurou-san? Kenapa?"

Hanya itu yang ia bisa ucapkan, karena, ia sendiri tak tahu lagi kata apa yang bisa mewakili seluruh pertanyaan yang berkecamuk di hatinya.

.

.

.

.

Akashi merasa bebas, merasa semua beban dalam pundaknya terangkat dan ia sudah lepas dari kungkungan pesonalisasinya yang lain. Memejamkan mata, ia menikmati kebebasan yang rasanya nyaris seperti mimpi. Ia pikir, ia takkan bisa lagi merasakan bagaimana bisa memfungsikan tubuh sendiri. Rasanya seperti baru, seolah perangkat rusak diganti dengan piranti ter-update.

Saat itu, setidaknya ia bisa merasakan bermain sebagai dirinya sendiri. Sebagai sosok Akashi Seijuurou yang sebagaimana mestinya. Menatap bola basket yang memantul sebagai suatu kesenangan, setiap gerakan sebagai hiburan, sebagai sesuatu yang membuat hatinya menghangat. Seperti waktu kecil, ketika basket menjadi satu-satunya hiburan di tengah tirani sang ayah.

Ia...telah menang menghadapi pertarungan dengan dirinya sendiri.

Dan ketika ia kalah—melawan Seirin—rasa sakit itu tetap mencengkramnya. Tapi, mungkin ini sebagai balasannya terhadap semua sikap buruknya. Sebagai permintaan maaf—penebus dosanya. Walau mungkin itu tidak cukup. Jadi, sebulan setelah final Winter Cup itu, Akashi memutuskan untuk mengajak semua anggota generasi keajaiban berkumpul.

Menyesap milkshake yang dipesankan Kuroko—satu-satunya yang mungkin ia minum di Majiba, karena minuman bersoda bukan kegemarannya—ia menatap satu per satu orang yang ada disana. Semua matapun juga tak mengalihkan pandangan darinya, memperhatikan bagaimana detail Akashi yang tampak berbeda dari biasanya.

Akashi berdiri, semua orang hampir kaget dan khawatir—kalau tidak mau dibilang takut—jika Akashi akan bertindak nekat. Yah, walaupun warna matanya kembali normal, tidak jadi jaminan jika orang di depan mereka ini aman 'kan?

Murasakibara mengabaikan sementara makanannya, Aomine berhenti membaca majalah yang-kau-tahu-apa( heran juga kenapa ia bisa dengan santai membawa hal tersebut ke tempat umum), Kise meletakkan handphone yang terus berdering, Midorima menaikkan kacamata namun matanya fokus pada Akashi, Kuroko? Tak terdengar lagi suara isapan milkshake. Semuanya memberikan gestur waspada pada manusia paling freak di antara gerombolan ajaib yang punya kebiasaan ajaib juga.

Jantung Akashi berdenyut tak nyaman. Jadi, sebegitu buruknya ia di pandangan teman-temannya? Ya, itupun kalau mereka menganggapnya teman. Akashi memejamkan mata, kelima masyarakat pelangi menahan nafas.

"Maaf untuk semua hal yang kulakukan selama ini."

Udara tiba-tiba saja memekat.

Semua mata membulat tak percaya, kali ini fokus yang tadinya sudah intens langsung kacau. Pikiran mereka melayang pada hal non-logic yang bisa mereka bayangkan. Sebenarnya, ada apa dengan Akashi?

"Akashi-kun, kau…aneh." Kuroko yang memecah keheningan ketika Akashi kembali bangkit dari posisi membungkuk sembilan puluh derajat.

Akashi hanya melirik pada Kuroko lewat kerlingan mata, ia menutup sebelah wajahnya dengan tangan, membawa jemarinya menyusuri rambutnya hingga hanya mata kiri yang tertutup oleh telapak tangan. Ia tersenyum." Yah, mungkin memang begitu. Tetsuya."

Brust

"A-ah, maaf, Akashi. Aku tidak sengaja."

Aomine sudah berubah pucat, hampir kehilangan kepercayaan diri. Badan besar bukan suatu jaminan jika berhadapan dengan Akashi, kawan.

Lagi, Akashi hanya membersihkan wajahnya dengan tissue. Tidak mengambil alat tajam terdekat untuk mengagresi kepercayaan dan pertahanan diri orang yang membuatnya merasa marah.

"Tidak apa. Sebaiknya aku ke toilet."

Mata warna-warni bertatapan bingung, kaget, takut.

"Errr, Akashi tidak mengalami retardasi mental 'kan?"

"Kau yang katanya paling pintar setelah Akashi saja mengatakan hal begitu, apalagi kami."

"Iya, ssu. Akasicchi aneh sekali."

"Meskipun Akachin membelikan makanan, tapi Akachin terlalu baik kali ini."

"Kalian tidak berpikir bahwa Akashi-kun kembali ke kepribadian lamanya?" Kuroko dengan tenang memberi komentar yang masuk akal tapi ke empat orang lainnya serempak menggeleng.

"Tidak mungkin."

.

.

.

Mampir ke Majiba merupakan kebiasaan wajar Furihata, apalagi semenjak berakhirnya final Winter Cup teman-temannya rajin membawanya kemari—katanya, agar ia tak merasa kesepian. Ia sebenarnya tak mengerti dengan maksud Fukuda dan Kawahara, tapi perhatian kedua temannya cukup menghiburnya. Ia hanya bisa menerima walaupun saat ditanya olehnya, alasannya benar-benar membuatnya ingin headbang.

"Kau kelihatannya masih belum bisa menggebet si gadis yang kau sukai itu. Kelihatan sekali wajahmu setiap hari terlihat sedih. Jadi, hitung-hitung menemanimu agar tidak bergalau ria sendirian. Takutnya, kau malah bunuh diri."

Haha, sebegitu menyedihkannya ya wajahnya sampai teman-temannya melakukan semua ini untuknya?

Yah, walau ia memang dicampakkan saat ini. Tapi, dulu, bukan dia yang mengincar, malah dirinya yang diincar.

Huh, diincar?

Harapannya. Haha, dia makhluk menyedihkan. Lihat saja, sebulan sudah bahkan Akashi tak memberikan kabar sama sekali. Tidak ada pesan, tidak ada telpon apalagi kejutan ia berdiri di depan rumah Furihata tiba-tiba—hanya untuk mengatakan surprise. Lagipula, Furihata tidak butuh itu, yang ia butuhkan hanyalah Akashi Seijuurou.

Akashi Seijuurou yang bahkan melupakannya.

Akashi Seijuurou yang bahkan tak pernah mengiriminya pesan, tak pernah menelponnya, tak pernah memberi kabar.

Akashi Seijuurou yang jelas-jelas mempermainkannya.

Tapi, kenapa ia masih butuh Akashi di sampingnya?

Dia –

"Furihata, kau menangis?"

Mendengar kalimat itu, Furihata membawa tangannya ke wajahnya, menyapu sudut mata. Ah, ada air. "Tidak kok."

"Jangan bohong, kau kenapa?"

Furihata menggeleng, bibirnya ia gigit keras-keras. Hubungannya dengan Akashi dahulu adalah suatu rahasia. Jadi, di saat hubungan itu berakhirpun tetaplah menjadi rahasia.

"A-aku tidak apa. Kalian pesan saja dulu, aku mau ke toilet sebentar. Nanti aku… menyusul."

Fukuda dan Kawahara hanya bisa berpandangan, membiarkan Kouki pergi sendiri. Tatapan mereka berdua meredup saat punggung Furihata terlihat kuyu. Bukannya mereka tidak sadar jika Furihata jauh dari kata baik, tapi, yang ini jelas bukan karena ia tidak bisa mendekati gadis incaran. Mereka ingat sekali, waktu awal kelas satu Furihata dengan semangatnya mengatakan ingin mendapat pacar sebagai obsesinya bermain basket—ia berucap dengan malu-malu. Karena katanya, gadis incarannya hanya mau berkencan dengannya jika ia bisa jadi nomor satu dalam satu hal.

Dan setelah menjadi nomor satu, harusnya semuanya berjalan semulus jalan tol 'kan?

.

.

.

.

Ayolah, Furihata. Jangan membuat dirimu sendiri malu. Jangan jadi lelaki cengeng, kau pria, Furihata—bukan wanita. Dari awal kau sudah membentengi dirimu agar tak menyukainya 'kan, lalu apa yang harus ditangisi?

Semuanya sudah benar begini, Kouki. Sudah tepat. Kau tidak perlu lagi alasan untuk menjauhinya, karena dia yang kini menjauhimu.

Pemuda berambut coklat itu bergetar, duduk di sudut kamar mandi, memegangi ponselnya yang menampilkan daftar nomor. Ia mengigit bibir.

Seijuurou.

Telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, tidak, telepon, tidak, tel –

Arghhhhh, apa yang kau lakukan?

Menelponnya hanya akan membuat kau semakin rendah di matanya. Jika Akashi memutuskan untuk pergi, ya sudah. Tidak usah dipikirkan.

"Be-benar..hiks…jika Seijuurou-san ingin ..hiks..mengakhiri ini..hiks..terima saja. Yang berhak menutuskan 'kan," ucapan pemuda itu terhenti, ia memegangi dadanya yang berdenyut tak nyaman, rasanya diremas." Hanya …Akashi-san."

.

.

.

.

Furihata merasa menjadi orang terceroboh di dunia karena berjalan dengan kepala tertunduk. Ia bisa saja menabrak orang dengan mudah jika jalannya sempoyongan begitu. Tapi, sungguh, Furihata tidak berniat begitu. Ia hanya tidak ingin ada yang melihat jejak air mata di sudut wajahnya.

Tapi yang namanya nasib sial, baru saja ia keluar dari kamar mandi, seseorang hendak berjalan masuk—matanya tak menuju ke depan—berjalan berlawan arah dengan Furihata. Seperti magnet, ada kutub utara dan selatan yang makin mendekat, posisi sejajar dan terjadi tabrakan.

"Kau, tidak apa-apa?"

Deg

Ini, telinganya masih berfungsi dengan benar kan? Itu tadi suara, Seijuurou-san 'kan?

"Hei, kau bisa bangun?"

Tapi, kenapa nada suaranya beda?

Deg,deg,deg.

Mengangkat wajah, iris sewarna buminya bertemu pandang dengan mata scarlet yang indah. Furihata buru-buru menunduk dalam. Ya tuhan, itu memang Seijuurou-san. Ia kelihatan tetap tampan. A-apa Seijuurou-san memutuskan untuk kembali padaku? Be-benarkah?

"Hei, kepala tidak terbetur 'kan saat jatuh?"

Akashi berjongkok, menunduk agar sejajar dengan si pemuda yang dalam posisi terduduk. Ia mengangkat dagu Furihata dan membawa pandangan pemuda itu satu garis lurus dengan dirinya. Furihata kontan memanas tidak karuan.

Aaaa, Seijuurou-san memegangku.

Aaaa, dia tetap tampan.

A-aku tidak kuat.

Tapi yang penting, akhirnya Seijuurou kembali padanya. Bibirnya melengkungkan senyum.

"Se –

"Maaf. Apa kita pernah bertemu?"

Deg. Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.

Haha, lihat hasil harapanmu yang terlalu tinggi Furihata. Ia bahkan melupakanmu sampai-sampai tidak mau mengingat lagi namamu. Kau, terlalu percaya diri.

"Ma-maaf. Aku harus pergi."

Akashi mengernyit, tidak suka diperlakukan sebagai orang yang menakutkan. Mata itu bahkan tak mau menatapnya.

"Hei."

"Pe-permisi."

Tes.

Tes.

Tes.

BakaKouki. Jangan menangis, bego.

Pemuda berambut merah hanya bisa menatap kepergian Furihata bingung. Kok rasanya tidak nyaman ya? Kenapa rasanya sesak?

Dan lagi, apa ia tidak salah melihat ada butir air mata di pipi pemuda itu? Apa Akashi menabraknya terlalu kencang?

"Aku harus minta maaf."

Memegangi dadanya, Akashi kembali menatap lorong yang Furihata lewati. Kenapa melihat pemuda itu menangis seolah sebuah petaka baginya?

Rasanya, ugh, sakit.

Saat hendak melangkah, matanya tak sengaja tertuju pada sebuah benda persegi panjang kecil yang tergeletak di lantai. Memutuskan untuk mengambilnya, ia melihat wallpaper seorang pemuda berambut coklat tengah memeluk boneka singa yang hampir menyamai tubuhnya. Lucu sekali, apa tidak ada hewan lain yang bisa disukai selain hewan buas itu? Tapi, walaupun begitu. Senyum pemuda itu…imut.

Ahhh, apa yang ia pikirkan? Pria, imut? Tidak, tidak, tidak. Kau masih normal Akashi.

Tapi tetap saja, ia harus minta maaf karena tadi dan juga mengembalikan ponsel ini.

"Baguslah. Dengan ini aku bisa mengetahui siapa dia dan menemukan alamatnya, mungkin?

Memikirkan akan bertemu pemuda itu, kenapa rasanya senang ya?

Akashi mempertemukan wajahnya dengan kedua telapak tangan." Ingat, kau masih normal. Akashi."

TBC

Fyuhh. Akhirnya bisa update chapter 2. Di g tau ngomong apa? Speechless sendiri. Yang pasti di kali ini menikmati menulis ini fic. Jadwal update rencananya satu minggu sekali, jadi yang tau acc Facebook di silahkan ingatkan di tentang hari update. Di orangnya kalau g kepepet suka bosan dan males ngerjain sih.

Untuk icying yang g log in.

Kyaaaa. Kamu paham apa maksud summary. Senengnya. Hehe, iyadong pasti Akashi punya alsan kenapa begitu. Semoga setelah baca chapter ini kamu g mau motong-motong Akashi lagi ya. Kan kasian Kouki jadi janda. TwT.

Makasih untuk review, follow dan fave. Di seneng banget atas apresiasinya,# peluk satu-satu.

Saran, kritik dan komentar diperlukan untuk perbaikan fic.

Review?