Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Pairing: jelas Akafuri.

Warn: Sho-ai, standart warning, dan alur maju mundur, OOC.

Aaa, g sanggup ngelihat FFN dan AO3 tapi Akafuri lama banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusen sendiri deh. Ayo gelakkan semangat Akafuri.


Happy reading minna ^-^


Tokyo Disneyland merupakan taman hiburan terpopuler ketiga di dunia dan terbesar di Tokyo. Terdiri dari lima area bermain dengan tema World Bazaar, Adventure land, Westren land, Fantasy land, Tomorrow Land, Toon Land, Critter Country dan di sertai 41 wahana hiburan. Dengan kelebihan yang dimiliki, tentu saja banyak pengunjung yang ingin menghabiskan akhir pekan disana. Begitu juga dengan dua pasangan merah-coklat itu.

Akashi memakai T-shirt berwarna hitam dan celana jeans biru malam selutut—sengaja ia berpakaian seperti ini agar tak ada orang yang mengenalinya—menggandeng tangan Furihata memasuki gerbang taman hiburan. Ia membetulkan letak topinya agar menutupi setengah wajahnya ketika Furihata masih menatap riskan tautan tangan mereka.

Pemuda itu tahu Furihata bukanlah orang yang masa bodoh dengan opini publik—Ia orang yang perasa. Dan Akashi tahu benar apa yang membuat Furihata begini. Dua pemuda, bertautan tangan dan baju yang—ehm hampir ehem—seperti couple, jelas membuat mereka jadi pusat perhatian dan juga mengundang tatapan meremehkan.

Kalau Akashi sih, mana peduli. Yang terpenting ia bisa bersenang-senang dengan Furihata dan ia sama sekali tak mau memikirkan orang lain. Hah, sudah syukur Furihata akhirnya mau dia ajak berjalan keluar berdua tanpa banyak alasan berbelit seperti biasanya. Mereka sudah sebulan tak bertemu, Akashi jujur saja sangat merindukan Furihata—entah dengan pemuda itu. Salahkan semua tugas ayahnya yang sudah hampir setengahnya dilimpahkan padanya—membuat waktunya bertemu dengan orang yang telah lama menginvasi hatinya itu menjadi jauh berkurang.

"Hey, jangan terus menunduk begitu. Memangnya kau mau mencari uang receh yang jatuh?"

Berjengit panik—itu adalah reaksi wajar Furihata Kouki setiap kali Akashi berbicara dengannya. Pelan-pelan ia mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan mata lain warna di bawah lindung topi hitam. Ia mundur selangkah ke belakang, merona ketika tadi mengingat bahwa jarak mereka terlalu dekat. Pemuda coklat itu ingin kembali menunduk tapi Akashi sudah memprotesnya secara tidak langsung—jadi ia tidak mau lagi melakukan hal yang membuat Akashi merasa jengkel, Furihata mengigit bibir.

'Ugh, ini pertemuanmu setelah tak bertemu dengannya sebulan,Kouk! Ayolah, angkat percaya dirimu!'

Perlahan Furihata menatap mata tajam yang kini melembut, membuatnya seolah dibalut rasa nyaman yang tiba-tiba menyelimutinya. Membuatnya tak merasakan lagi tatapan menusuk dari orang-orang yang terus memandangi mereka sepanjang jalan. Membuatnya merasa—aman.

Tapi, tatapannya terlalu intens. 'TIDAK KUAT, FURIHATA MENYERAHH!'. Ia sendiri tidak menyadari kalau pipinya kembali memerah padam.

Akashi terkekeh melihat reaksi dari wajah Furihata yang menurutnya—imut. Bagaimana pemuda itu menunduk, bagaimana pemuda itu berjengit, bagaimana pemuda itu memerah, bagaimana pemuda itu—menggigit bibir. Akashi ingin menggantikan fungsi gigi si Chihuahua-nya untuk yang satu ini.

"Ayo. Sudah jam sebelas dan kita belum menaiki satu wahanapun."

Pemuda yang dibalut kaos dalam berwana cream dan cardigan hitam tipis kembali berjengit, kemudian mengangguk. Rambut coklat halus seperti bulu anak kucingnya bergoyang lembut."U-uhm, ba-baiklah."

"Kau mau naik wahana apa, hm?"

Menatap pada denah taman hiburan, iris coklatnya menatap satu wahana yang langsung saja menarik perhatiannya. Jantungnya berdegup kencang, ia rasanya ingin memilin ujung baju. Ugh, seperti anak gadis.

"Jadi?"

"Ca-ca-cangkir putar!" Duhhhhhhh, Furihata malu sekali mengatakannya. Ia seperti remaja perempuan yang ingin berduaan dengan pacarnya. Ah, tidak masalah Furihata. Kau 'kan sudah sebulan tidak bertemu dengannya. Jadi, wajar jika kau ingin berdua dengannya walaupun permainannya… tidak pria-ish sekali.

"Seperti anak kecil," kekeh Akashi tapi ia sama sekali tak menolak.

"Bi-biar saja." Yang penting bisa berdua denganmu.

"Baiklah."

Kakinya yang berbalut celana panjang putih mengikuti langkah Akashi. Yang Furihata tahu, hari ini, ia akan bersenang-senang—dengan Akashi.


.

.

.

.


Hari sudah menunjukkan lewat pukul satu siang ketika Akashi dan Furihata duduk berdua di salah satu café kecil yang terdapat di taman hiburan. Akashi meminum segelas coffe latte dan Furihata sendiri sedang menikmati secangkir ice cream coklat. Suasana hening di antara mereka, sesekali Furihata mencuri pandang pada Akashi namun langsung memalingkan wajah ketika mata mereka bertemu.

Dilihat darimanapun. Akashi itu—uhm, tampan. Garis wajahnya maskulin, rahangnya tegas—namun tidak setegas Kagami yang membuat wajahnya terlihat sangar—dan juga hidungnya itu mancung. Keseluruhannya membuat Akashi terdefinisi sebagai salah satu makhluk berjenis laki-laki yang masuk golongan tampan. Belum lagi mata dwiwarna itu malah membuat tatapannya memikat Furihata makin dalam—walau awalnya malah membuatnya ingin kencing di celana. Satu poin plus lagi, rambut merah delimanya itu memberikan daya tarik tersendiri yang membuat ketampanan Akashi meningkat tajam.

Satu kata, sempurna.

Belum lagi, tambahan kalau ia anggota generasi keajaiban, makhluk dengan IQ yang jauh di atas rata-rata, berjiwa kepemimpinan kuat dan juga—keluarga konglomerat. Lengkaplah sudah. Pasti banyak sekali wanita yang mengincarnya.

Makanya itu, setiap kali Akashi meminta kejelasan hubungan mereka Furihata selalu menghindar. Bukannya ia tidak suka Akashi—ia sangat menyukai pemuda itu, walau tetap ketakutan jika di dekatnya—tapi status dan kedudukan mereka begitu jauh. Baik fisik, skill apalagi harta. Furihata hanya seujung kuku jari kelingking Akashi.

Extremely perfect man plus extremely ordinary man equivalen with extremely mixture for disaster life.

Yap, dia hanya akan jadi benalu jika ia memilih untuk bersamanya.

"Kouki?"

Akashi menatapnya dalam dan Furihata sama sekali tidak bisa berkutik karena hal itu.

Kenapa suasananya jadi tiba-tiba tegang begini?

"Kau memikirkan tentang strata lagi?" Suara Akashi dalam dan mencekam, menelisik langsung pada syaraf sensoriknya.

"Uhk-uhk, te-terimakasih." Furihata meneguk gelas air putih yang diberikan Akashi—yang entah sejak kapan ada disana—dengan tergesa-gesa. Ia menormalkan nafasnya." Ti-tidak kok."

Ctik

"A-awww," jeda saat ia mengelus-elus dahinya." Sa-sakit," gumamnya memberengut.

Menghela nafas, pemuda berambut merah itu melembutkan tatapannya pada Furihata yang mulai mengkeret. Ia meletakkan dagunya pada jemari menyatu yang disangga siku." Nikmati saja hari ini, Kouki."

Wajah Furihata menghangat, cepat-cepat ia mengambil gelas di depannya dan menyesap minuman itu pelan. Entah sejak kapan ice cream jadi panas begini, ahh mungkin karena Furihata yang terlalu gugup. Lalu, kenapa pahit… ya?

"Kouki, kau menciumku."

Eh, cium?

"Ti-tidak. A-aku kan dari tadi disini," kilah Furihata, ia menggeleng cepat.

"Iya."

Berusaha tetap tenang, padahal hati sudah tidak karuan. Furihata menenggelamkan wajahnya di balik cangkir—menutupi mukanya yang kian menghangat. "Ti-tidak."

"Iya."

"Ti-tidak."

"Iya."

"Ti-tidak."

"Tidak."

"Iya. Uphhhh!" Cepat-cepat si kucing manis menutup mulut. Tidak tahu lagi ia harus bereaksi seperti apa. Akashi benar-benar keterlaluan. Mempermainkannya. Sedangkan yang bersangkutan hanya mengukir seringai."Se-seijuurou-san," erang Kouki putus asa.

"Ya?"

"…"

Tuk

Mata Kouki membulat ketika jari telunjuk Akashi menyentuh hidungnya. Ia membeku di tempat, tak bisa bergerak, kaku, mati rasa sesaat. Pandangnya memaku wajah Akashi yang mendekat padanya.

Semakin dekat.

Kouki masih membeku.

Semakin semakin dekat.

Mata Kouki mulai berkedip-kedip lucu.

Semakin semakin semakin dekat.

Kouki memejamkan mata.

Deg. Deg. Deg. Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.

Gyuut

Refleks Furihata memekik ketika ujung hidungnya dicubit Akashi. Tangannya menggapai-gapai lengan Akashi agar bisa lepas dari pemuda yang dengan santainya masih meletakkan jari telunjuk dan ibu jari pada hidung Kouki—menjepitnya—sementara satu tangannya yang bebas menyangga dagunya. Bibirnya melengkungkan senyum tipis.

"Ngesiijoohrooh-ngaaannn, nghepaskhaaannn."

"Tidak."

"Ngepaskhaannn."

"Hukuman untuk yang berpikiran mesum."

"Nghaakk, nhaakuh ngaakk mhehhsummhhh. Ngesiijoohrooh-ngaaannn ngyanhhgg mhehhsummhh."

Akashi terkekeh, masih betah menjepit hidung kecil itu meski pemuda yang menjadi pemilik hidung sudah lunglai tak bisa meronta.

"Ngesiijoohrooh-ngaaannn, nhaakuh ngakhhh nghiisa nhahhhfhhaassshh. Puahhhh. Hah, hah, hah."

Furihata memompa paru-parunya kuat-kuat. Mengisi lagi kekosongan yang tercipta karena kekejaman Akashi padanya. Ia menatap Akashi sebentar dengan pipi menggembung—namun ketakutannya muncul lagi dengan cepat ketika matanya bertemu dengan iris dwiwarna, ia menunduk." Ja-jahat."

"Hm?"

"Ti-tidak ada."

Hening kembali mengisi ruang dengar mereka.

"A-ano. Ya-yang itu tadi."

"Yang?"

Menunduk dalam."Yang ki-ki-ki-ki-ki-ki-ki –

"Kissu?" Akashi melengkapi dengan santai.

Furihata mengangguk cepat namun tak mau menatap Akashi. Ia malu sekali.

"Oh, kau meminum minumanku." Kepala Furihata langsung terangkat, duduk tegap sempurna, matanya membulat lucu." Indirect kiss, Kouki," serang Akashi dengan senyum jahil.

Yang diberitahu menggeleng cepat. Wajahnya yang hangat semakin menghangat. Jika ada yang bisa mengalahkan merahnya kulit strawberry, mungkin itu adalah wajah Furihata saat ini.

"Ma-mana mungkin. Tadi itu aku minum –." Suaranya langsung mengecil saat melihat cangkir apa yang kini ada dihadapannya." Ko-ko-ko-ko-ko-ko –

"Kopiku," ucap Akashi melengkapi—lagi.

Furihata ingin pingsan saja. Lalu amnesia dan akhirnya dia lupa segalanya.


.

.

.

.


"Seijuurou-san."

Furihata memasuki ruangan yang penuh dengan aura suram dan pernak-pernak aneh yang membuat bulu kuduk meremang. Obake's House, wahana untuk ajang uji adrenalin yang membuat Furihata benar-benar menciut setengah mati. Sebenarnya ia ingin masuk dengan Akashi, tapi keadaan tak mengizinkan. Pasangan straight boleh masuk berdua, lesbian boleh masuk bersama dan gay sendiri-sendiri.

Tidak adil, diskriminasi. Padahal 'kan—Furihata juga ingin masuk bersama Akashi. Dan alasan ia masuk kesini juga agar bisa berduaan dengan Akashi. Padahal, Furihata takut setan setengah mati. Jadi, kalau takut 'kan bisa minta perlindungan Akashi.

Singkatnya, Kouki modus.

"Seijuurou-san."

Langkah Furihata kecil-kecil. Ia menatapi setiap sudut ruangan depan wahana. Mereka berdua sudah berjanji akan bertemu disini—Akashi masuk terlebih dahulu. Tapi, kenapa disini tidak ada Akashi? Kenapa hanya ada pasangan lainnya saja? Mana Akashi? Dimana pemuda itu menunggunya?

"Se-seijuurou-san," panggil Furihata hampir menangis. Pasangan lain sudah mulai melakukan perjalanan, ruangannya tiba-tiba makin gelap belum lagi suara-suara mencurigakan yang membuat urat-urat keberanian Furihata meluncur ke titik terendah. Ia sendirian dan dia ketakutan.

"Se-seijuurou-san."

Tak ada sahutan. Hening.

Deg!

Menelusuri lorong lagi, matanya sudah tak fokus menatap sekeliling. Semuanya seolah berbayang-bayang.

"Se-seijuurou-san, a-aku takut."

Mendadak pikirannya berputar. Final Winter Cup, tatapan Akashi yang berbeda, janji yang tak ditepati Akashi, tak ada kabar dari Akashi dan Akashi melupakannya.

"Se-seijuurou-san. Ja-jangan bercanda!"

Isakan halus terdengar, tapi bukan dari sudut seperti biasanya kejadian sebelum pemunculan hantu yang ada di film. Ini berasal dari Furihata sendiri. Ia menahan nafas.

Tidak, bohong. Tadi itu nyata. Ia bersama Akashi.

"Seijuurou-saaannnn. A-aku mohooonn, berhenti!"

Tanpa sadar ia melangkah mundur, menabrak meja dan merasakan punggungnya keram. Rasanya sakit sekali.

Deg. Deg. Deg.

"Se-seijuurou-saaann. To-tolong berhenti! Hiks."

'Furihata-kun.'

Bagaimana kalau Akashi benar-benar meninggalkannya? Ini hanyalah imajinasinya?

"Ti-tidak. Se-seijuurou-san. Ja-jangan hiks pergi!"

Grep

Furihata meronta kesetanan, ia mencoba melepaskan diri dari kungkungan orang yang tiba-tiba saja memeluknya." Lepaskaan. Hiks. Lepaskannn! Aku mau mencari Seijuurou-saaannn! Hiks, hiks."

Tidak peduli, masa bodoh kalau ia terlihat seperti perempuan. Ia hanya ingin mencari Akashi. Ia belum mengatakan kalau ia menyayangi Akashi. Ia belum menyatakan kalau ia mencintai pemuda itu.

"Lepas, hiks. Lepas."

"Shhhh. Tenanglah. Aku disini. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Dengan cepat ia mengangkat wajah, rasanya lehernya hampir patah. Tapi terserah, asal yang di depannya benar-benar Akashi.

"Se-seijuurou-san?" Kouki bertanya ragu. Matanya menatap menyelidik. Ia tidak mau tertipu.

"Ya, ini aku."

Nafas Kouki berhenti, kemudian kembali cepat lalu memelan dan akhirnya teratur. Kedua tangannya melingkari punggung pemuda itu seolah tak ingin lepas. Wajahnya ia tenggelamkan di dada bidang itu, mencari kehangatan.

"Ka-kau tidak akan meninggalkanku 'kan?!"

Pemuda itu tersenyum. Hati Kouki menghangat seketika. Perlahan, tangannya bergerak naik, menyusuri leher kemudian sampai di kepala bersurai merah—ia meremas rambut itu pelan.

"Se-seijuurou-san."

Kakinya ia jinjitkan, memejamkan matanya perlahan, Kouki membawa wajahnya mendekat pada wajah yang menunduk. Tidak peduli dengan wajahnya yang memerah, ia hanya ingin bergerak maju.

Cup

Kouki ingin mengungkapkan perasaannya dengan jujur kali ini. Ingin mengatakan semua yang ada di kepalanya. Apa yang selama ini ia pikirkan. Apa yang ia pendam dalam hatinya. Bahwa ia—mencintai Akashi Seijuurou.

Bibir yang bertaut itu awalnya hanya diam, kemudian bergerak lambat lalu melumat. Kouki sudah tak peduli apa yang akan ia lihat dari wajah Akashi. Ia hanya ingin menunjukkan perasaannya. Matanya terpejam rapat, tak berani melihat kenyataan sebenarnya.

Decak saliva, bibirnya—iya, bibir Furihata—yang memagut bibir Akashi yang terasa terlampau lembut, dan nafas yang tak teratur.

Furihata tak sanggup membayangkan semua ini. Wajahnya memerah padam dan jauh lebih merah dari sebelum-sebelumnya. Tidak ada dalam pikirannya ia akan bertindak seagresif ini. Tapi, pikirannya jikalau ia kehilangan Akashi membuatnya mematikan urat malunya. Ia hanya ingin Akashi terus bersamanya dan jika dengan bersikap agresif bisa membuatnya terus di sisi Akashi, kenapa tidak?

Saat satu kebutuhan pokok sebagai makhluk hidup meraung minta dipenuhi. Kedua pemuda itu melepaskan tautan bibir, mengambil udara banyak-banyak untuk menormalkan nafas. Karena malu luar biasa yang menyerangnya, Furihata yang menenggelamkan wajahnya ke dada Akashi lagi. Hidungnya sibuk membaui aroma parfum yang selalu saja membuatnya nyaman. Bau khas Akashi—wangi…vanilla?

Deg!

Sejak kapan Akashi mengganti parfum musk menjadi aroma vanilla?

Deg. Deg. Deg.

Furihata benar-benar takut membuka mata. Ia takut dengan kenyataan yang terjadi. Tapi, ia harus tahu. Pelan-pelan kelopak matanya terbuka dan yang ia temui adalah terang. Mencoba mengenali ruangan yang ia tempati, matanya memindai sekeliling ruangan dan menemukan segala hal yang familiar baginya. Tidak salah lagi—ini kamarnya.

Kepalanya langsung menunduk, kenyataan menghantamnya telak di ulu hati.

"Tuh 'kan! Hanya mimpi. Aku benar-benar menyedihkan."

Badannya kemudian bergerak menuju sebuah rasa hangat yang nyaman. Matanya terpejam rapat." Terima saja, Kouki. Dia mencampakkanmu," gumannya malas. Ia sadari air matanya meleleh namun ia biarkan mengalir, toh tak ada yang melihat.

"Furihata-kun."

"Yah-yah. Siapa yang memanggilku, sih?! Tidak bisa membiarkan orang yang patah hati ini menghayalkan hari bahagianya dengan orang yang mencampakkannya, hah?!"

"Furihata-kun."

"Eh, kenapa suaranya makin jelas, ya?" Furihata menggaruk kepalanya." Ah, hanya mimpi!"

Dengan malas, ia kembali menenggelamkan dirinya pada kehangatan berbau vanilla. Sejak kapan kasurnya bisa memeluknya ya?

Sekejap, mata Furihata langsung melebar. Ia menatap ke samping dengan kecepatan kilat dan menemukan dirinya dalam pelukan…KUROKO TETSUYA?!

"GYAAAAAAAAAAAAA!"


TBC

Sebelum saya digulung sama fans Akafuri(selain saya sendiri) karena PHP. Saya mau nangis dulu.

Yakkk, seriusan lu tangan kenapa g nurut sama hatiku yang brokoro karena ternyata itu hanya mimpi.

Ini parah dah otak di, chap selanjutnya mulai serius lagi. Ada niatan buat ini fic jadi naik pangkat—ups, rate maksudnya, tapi nanti deh mikirnya lagi.

Soal Obake's House ada gk di Disney Land Tokyo, adakan aja deh #maksa. XD

Buat yang g log in:

Icyng: kan Akashi yang satunya neng yang nyebelin, oreshi nda tau apa-apa. XD Iyaaa, ada kok yang bakal comfort-in furi tapi maaf kalau bukan Mayuzumi. Di lebih sreg Furi ditemeninnya sama Kuroko sih. gomen.

Michiyo: sama-sama ^_^. Iyup, Oreshi galau karena dia gay/ups salah. Haha, iya. Baik Bokushi maupun Oreshi emang cinta ama Kouki doang, harus itu X"D

Makasih buat semua review, follow dan favoritnya. Senengnya #peluk satu-satu.

Mohon review lagi, komentar, kritik dan sarana diperlukan untuk perbaikan fic.

Review?