Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.

Pairing: jelas Akafuri.

Warn: Sho-ai, standart warning, dan alur maju mundur, OOC.

Aaa, g sanggup ngelihat FFN dan AO3 tapi Akafuri lama banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusen sendiri deh. Ayo gelakkan semangat Akafuri.


Happy reading minna ^-^


Kuroko Tetsuya.

Pemuda dengan rambut warna biru muda, lahir 31 Januari, umur 17—tahun ini, tinggi 168, berat 57, berzodiak Aquarius, golongan darah A dan berjenis kelamin jelas-jelas laki-laki hanya sedang ingin berkunjung.

Ia mengetahui jika Furihata sedang dilanda masalah—yang tidak ia tahu apa—tapi ia memutuskan untuk membiarkannya dahulu karena dia pikir—semuanya akan kembali seperti semula, dengan cepat. Namun, pada kenyataannya kondisi Furihata malah makin memburuk saja dari waktu ke waktu apalagi dengan hal yang dibicarakan tim Seirin kemarin.

Ada apa dengan Furihata kemarin, heh? Tidak datang latihan, tidak sekolah, tidak memberi kabar. Memangnya dia pikir, dia itu manusia individual yang tidak memiliki ruang lingkup sosial. Apa dia tidak berpikir bahwa semua temannya mengkhawatirkannya? Apa dia tidak berpikir bahwa ada yang memperhatikannya—menyayanginya? Apa bahkan dia tidak sadar, ada tim Seirin yang bersamanya?

Menyebalkan, kenapa ia menyimpan semuanya sendirian?

Menghela nafas, pemuda bentukan Teiko itu menekan bel rumah dan yang dia temukan malah membuatnya tercengang. Pintu rumah Furihata—tidak dikunci. Dan saat ia masuk yang dia temui hanya gelap.

Panik melanda dengan cepat, berbagai skenario kejadian yang buruk memenuhi pikirannya. Ia segera saja menyambar sakelar terdekat dan menghela nafas lega karena tak menemui tanda kejahatan dimanapun.

Kuroko mengerutkan kening—bingung. Apa Furihata tidak ada di rumah?

Ia hampir saja berniat pulang ketika mendengar suara teriakan dari lantai atas. 'Furihata-kun, sebenarnya kau kenapa?'

Setiap langkahnya ia percepat—bahkan dia melompat sekali dua anak tangga—agar sampai di puncak selekas mungkin ketika teriakan itu malah mulai disertai isakan. Pikiran Kuroko tidak bisa fokus. Yang berteriak itu jelas-jelas adalah Furihata.

"Furihata-kun."

BRUK!

Kuroko menghambur masuk dan mendapati ruangan ini sama dengan ruangan sebelumnya—gelap dan sunyi—dengan pengecualian suara isakan dan beberapa kali suara teriakan. Meraba dinding untuk menemukan saklar lampu, yang ia lihat setelahnya mengiris hatinya tipis-tipis.

Seorang pemuda, bergerak tidak nyaman di atas tempat tidur. Matanya terpejam rapat, bibirnya terus-terusan memanggil nama—yang berhasil membuatnya sport jantung—di sela isakan itu.

Seijuurou-san.

Katakan kalau ini telinganya sedang rusak. Katakan kalau saat ini ia pasti sedang berkhayal. Atau kalau memang benar itu Seijuurou, pasti itu Seijuurou yang lain 'kan? Bukan Seijuurou yang ada di Kyoto itu 'kan? Bukan Seijuurou yang bermarga Akashi itu 'kan? Ahaha, pasti memang dia salah dengar. Pasti. Memang dia yang menghayalkan orang yang salah. Yang jelas, tidak mungkin Seijuurou yang itu.

Sekali lagi, pemuda berambut coklat itu berteriak lirih. Kuroko berjalan mendekat, memperhatikan bagaimana tubuh itu bergerak tidak nyaman, keringat mengalir deras di tubuhnya, kepalanya menggeleng-geleng kuat. Belum lagi, baju yang ia pakai. Itu adalah jersey Seirin. Jangan bilang, Furihata tidak mengurus dirinya sendiri sejak dua hari yang lalu?

Kuroko tidak kuat. Ia tidak bisa melihat pemuda itu terlihat begitu menyedihkan. Ia sakit saat menangkap bagaimana air mata mengucur dari kelopak yang terpejam rapat. Kenapa sahabatnya jadi begini? Ia tak pernah menyangka orang yang biasanya selalu terlihat ceria dan bersikap biasa saja bisa berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Meremas kedua tangannya erat, Kuroko menahan semua kegundahan hatinya dalam-dalam. Yang terpenting saat ini adalah kembali menenangkan Furihata. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan sekarang.

Nafas pemuda itu—Furihata—masih tersengal-sengal ketika Kuroko memeluknya erat. Tubuh itu bahkan meronta lebih kuat. Sayangnya Kuroko tidak tinggal diam, ia mengeratkan pelukannya dan bergumam seolah dialah yang sedari tadi dipanggil Furihata—sebagai Seijuurou. Dan benar saja, perlahan pemuda yang bertendensi pengecut itu mulai bergelung dalam pelukannya dan menggumamkan kata,'jangan tinggalkan aku,' bagai mantra. Hati Kuroko rasanya tenang dan teriris di saat bersamaan. Tapi yang mengagetkannya adalah –

Adalah bibir yang tiba-tiba saja menempel ke bibirnya.

Astaga, Furihata menciumnya. MENCIUMNYA.

Kuroko rasanya bisa merasakan jantungnya yang tiba-tiba berhenti berdetak setelah satu degupan keras.


.

.

.

.


Menarik ulur pikirannya yang sedari tadi bertarung, Akashi kembali menatap ponsel berwarna coklat itu sebelum menghela nafas. Ia lelah dengan sengketa yang terjadi di hatinya tapi jujur saja ia juga ingin tahu mengenai pemuda itu. Di satu sisi hatinya membujuk agar ia segera saja mengutak-atik ponsel itu untuk mengetahui segala hal mengenai pemuda berambut coklat—yang oh kenapa membuat jantung Akashi berdetak anomali? Namun di sisi lain, dirinya jelas-jelas menolak mentah-mentah keputusan itu. Ponsel itu barang pribadi, ia tidak mau mengusik privasi orang lain.

Tapi, jika tidak mengecek ponselnya. Kau tidak akan tahu, bukan?

Lagi, satu sisi Akashi tidak bisa menerima hal itu, membuat pikirannya kalut. Lagipula, entah sisi apa itu yang seolah berbisik agar ia tak membuka ponsel itu—hal yang malah membuatnya penasaran, makin penasaran, terlalu penasaran dan akhirnya sangat penasaran. Pikirannya makin terbelah dengan cepat, begeser saling menjauh, menebarkan hawa panas.

Ini mudah, seharusnya. Ia mengecek ponsel ini juga untuk kebaikan si pemilik agar ia bisa mengembalikan ponsel itu pada empunya. Agar mereka bisa bertemu dan Akashi menyerahkan benda penting itu kepada pemuda coklat. Kalau bisa sekalian berkenalan, kalau bisa lagi kencan dan kalau bisa lagi pacaran.

PLAK!

Pikiranmu Akashi, sadarlah!

Pemuda berambut merah itu menghembus nafas penat, pikirannya hampir tidak bisa konsentrasi karena dua pemuda berambut coklat menghantui pikirannya, menginvasi otaknya, memenuhi sistem databasenya dan menjalankan program yang membuat ingatannya terus berputar mengenai mereka—satu pemuda yang ia tidak tahu wajahnya dan satu lagi pemuda yang bertabrakan dengannya di toilet Majiba. Ia bisa gila kalau begini terus-terusan.

Sekali lagi ia melihat pada layar yang menampilkan warna hitam—tadi masih menyala walau dengan peringatan, jadi mungkin sudah tak punya supply energy lagi. Akashi merebahkan dirinya pelan pada kasur tempatnya tidur selama ini, merilekskan diri dan mencoba mencari posisi nyaman. Matanya terpejam perlahan.

Biarlah dulu ia tunda mencari identitas pemuda itu.

Yah, selain karena ia lelah juga karena ia belum siap. Ada hal yang Akashi takutkan. Dan itu membuatnya merasa siaga dengan apa yang akan terjadi ke depan—atau diketahuinya ke depan.

Ya, ia tidak siap jika pada nyatanya sosok yang terus menari di pikirannya itu sudah ada yang mempunyai. Bagaimana kalau ia menyimpan foto orang yang disukainya disana? Bagaimana jika ternyata pemuda itu sudah memiliki kekasih seorang gadis manis, sopan dan periang? Atau yang paling parah, bagaimana jika pemuda itu sudah dimiliki oleh pemuda lainnya?

Tidak, Akashi tidak akan pernah siap menerima itu semua. Hatinya tidak terima jika hal yang dia ingini menjadi milik orang lain. Yang menjadi atensinya haruslah tunduk padanya. Kehormatan sebagai Akashi dipertaruhkan. Dan Akashi ingin memiliki pemuda itu, untuk dirinya sendiri. Seorang diri, hanya dia, untuk dirinya.

DEG! DEG! DEG!

Dentuman keras disertai dengan sengatan tiba-tiba meledak di rongga tengkoraknya, membuat kepala Akashi berdenyut nyeri. Pilu yang familiar kembali menggelayar di fisiknya, rasanya membuatnya hampir pingsan. Mengerikan, sakit sekali. Seperti di tusuk-tusuk oleh benda tajam dan kemudian luka yang dihasilkan ditarik secara paksa. Tempurung kepalanya terasa terbelah, saling menolak satu sama lain seolah magnet yang memiliki kutub yang sama.

Akashi bergelung tak nyaman, keringatnya bersimbah membasahi seluruh tubuh sementara tangannya mencengkram rambutnya kuat-kuat. Sekuat tenaga ia menahan teriakan yang tertambat di ujung bibir.

Tidak bisa, sakit sekali. Tidak sanggup. Menyakitkan.

Nafasnya berpacu seolah lari maraton, bergerak tidak teratur tanpa ritme. Setelahnya Akashi diam, tak bergerak dan nafasnya seolah orang tidur—relaks. Iris merah tersembunyi dalam beberapa waktu, kemudia kelopaknya terbuka perlahan, lalu menampakkan iris yang… berbeda warna.

Merah dan emas.


.

.

.


"Furihata-kun. Sebaiknya kau makan dulu."

Yang dibujuk hanya menggeleng. Setelah dengan sedikit paksaan, Kuroko berhasil membuat Furihata menuruti perintahnya. Pemuda itu sekarang sudah mandi, berganti pakaian dan jauh kelihatan lebih bersih daripada satu jam yang lalu. Furihata kembali menjadi dia yang manis di mata Kuroko—maksudnya, sikap manis khasnya sebagai seorang Furihata Kouki. Walau dengan raut wajah yang tetap pucat, tapi tak apa. Setelah makannya kembali teratur, Furihata pasti akan pulih seutuhnya.

"Furihata-kun." Kuroko mendorong semangkuk bubur tepat di hadapan Furihata, tapi pemuda itu hanya menggeleng dengan wajah merajuk.

"Furihata-kun ka –

"Katakan dulu kau tidak mendengar apapun saat aku tidur."

Pikiran Kuroko bergulir liar. Menelisik ingatan dimana ia memergoki Furihata yang berteriak di kamarnya—dalam tidurnya. Pendengaran mana yang tak ia dengar? Furihata meneriakkan nama Seijuurou berulang 'kah? Tangisan Furihata 'kah? Permohonannya pada Seijuurou agar tak ditinggalkan 'kah? Kuroko mendengar semuanya. Sekali lagi ia menatap pada Kouki yang menampakkan wajah luar biasa cemas. Haruskah –

"Tidak," pemuda berambut biru itu menggelengkan kepalanya." Kau tidak mengigaukan apapun."

—dia berbohong?

Merasakan pandangan Furihata yang masih saja tampak curiga dan waspada, Kuroko kembali menyodorkan bubur yang ia buat pada pemuda bersurai coklat itu." Ayo makan dulu, aku sudah menjawab pertanyaanmu, Furihata-kun."

Furihata lagi-lagi menggeleng, ia merebahkan kepalanya di atas meja." Lalu kenapa kau bisa ada di rumahku dan… di kamarku?" tanya Furihata dengan volume kecil di akhir.

Deg!

Jantung Kuroko rasanya berhenti saat pertanyaan tersebut meluncur mulus dari bibir tipis Furihata—setengah karena tidak tahu harus menjawab apa sementara setengah lagi karena malu luar biasa akibat ingatan Furihata menciumnya kala tidur.

"Orangtuamu tidak ada di rumah ya? Soalnya saat aku berkunjung—kau tahu Coach sangat khawatir dan menyuruh aku memeriksa keadaanmu—aku mendapati pintu rumahmu tidak dikunci."

Seketika wajah Furihata memucat. 'Jadi, ia lupa mengunci pintu ya? Haha, sebegitu depresinya 'kah dia karena ditinggalkan Akashi?' Furihata membayangkan seandainya ada penjahat masuk ke rumah dan terjadi perampokan. Semua itu karena kesalahannya, lebih-lebih hanya karena patah hatinya. Menyedihkan—ah tidak, menggenaskan sekali dia. Kenapa ia tidak bisa melupakan orang yang bahkan tak mengingat lagi namanya?

"Otou-san sedang ditugaskan keluar kota selama tiga bulan dan Okaa-san merawat Obaa-san di Kyoto, beliau sedang sakit. Sudah dua bulan ini."

Oh, pantas jika tidak ada orang di rumah selain dirinya membuat tak ada yang tahu bagaimana kondisi Furihata. Dan pastinya Furihata akan berbohong tentang keadaannya jika ditanyai kondisinya. Ceh, kalau saja ia tahu lebih awal. Keadaan Furihata pasti tak akan seburuk ini.

"Begitu. Pantas tak ada yang tahu kalau kau –

"Aku kenapa?"

Gawat, hampir kelepasan. Kuroko menahan nafas selama beberapa detik sebelum membuat wajahnya kembali seperti biasa—datar.

"Tidak ada yang tahu kalau kau… tidak enak badan."

Bunyi keramik yang ditarik di atas papan kayu terdengar, "emh, begitu?" tanya si pemuda bersurai coklat, setengah tak yakin tapi urung untuk melanjutkan pertanyaan—ia memilih menyendok bubur buatan Kuroko dan memakannya.

Kediaman mengisi udara di antara mereka.

Kuroko sibuk memperhatikan wajah Furihata, pucat, lesu dan jelas terpancar sedih disana. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menggumpal di ulu hatinya dan membuatnya merasa mual. Rasa aneh yang kenapa rasanya sakit sekali? Seolah getah lambung yang menggores kasar selaput tipis disana. Tapi bukan, Kuroko yakin bukan itu penyebabnya. Rasa ini belum pernah ia rasakan dan tidak familiar. Sebuah perasaan yang tumbuh sedikit demi sedikit pada diri Kuroko semenjak ia mengenal pemuda itu.

Sebenarnya, kenapa dia?

"A-ano."

Keheningan pecah oleh suara Furihata yang ragu-ragu, Kuroko mengambil milkshake yang entah kenapa ia lupakan keberadaannya begitu saja—mengalihkan perhatian, takutnya ia ketahuan oleh pemuda itu kalau ia sedang mengamatinya." Ya, Furihata-kun?"

"Aku… tidak melakukan sesuatu yang aneh kan tadi?"

"Maksudmu?"

Wajah Furihata memerah sekaligus horror. Ia menatap Kuroko takut-takut lalu berpaling dan menyendok sesuap bubur.

Lucu.

Eh? Kuroko berkedip. Apa yang baru saja ia pikirkan?

"Etto.. saat aku bangun. A-aku kan berada di-di pelukanmu. Aku tidak melakukan … apa-apa 'kan?"

Kuroko hampir tersedak minumannya sendiri, beruntungnya ia yang bisa mengendalikan ekspresinya setenang mungkin. Takkan mungkin ia mengatakan jika Furihata menciumnya, sudah barang tentu Furihata akan menghindarinya karena hal itu. Tapi, mengingat Furihata menciumnya membuat gelitik-gelitik halus di hatinya. Kuroko tersentak.

Kenapa ia tidak jijik? Kenapa ia tidak marah saat yang menciumnya adalah seorang lelaki sama seperti dirinya? Kenapa ia merasa senang?

Ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri. Yang jelas, ia tak mau menyudahi rasa senang itu.

"Aku hanya membenarkan posisimu yang hampir jatuh dari ranjang," ia melirik Furihata dari sudut mata, berpura-pura sibuk menyedot milkshake." Kau tidak melakukan hal aneh, kok."

Dengan itu, Furihata menghela nafas lega.' Syukurlah, hanya mimpiku saja kalau aku mencium seseorang. Dan orang itu… Akashi-san.' Sekejap, tenang yang ia rasakan tadi berganti begitu saja.


.

.

.

.


"Aku pulang dulu, Furihata-kun."

Furihata mengantar Kuroko sampai di depan pintu." Hai', Terimakasih untuk hari ini Kuroko-kun." Ia memamerkan senyumnya seolah tak terjadi masalah.

Dengan anggukan Kuroko meninggalkan rumah pemuda itu, saat tubuhnya membelakangi pagar rumah keluarga Furihata, Kuroko mendengus, ' teruslah berbohong, Furihata-kun.' Rasa tidak nyaman itu-kembali merasuki hatinya. Sakit.


Pemuda beriris pinus itu baru saja hendak kembali ke kemar, menjalani aktifitas rutinnya—meratapi nasib namun bel rumahnya berbunyi nyaring.

"Haih, siapa yang kemari jam malam begini? Apa Kuroko tadi ya?"

Deringan bel kembali terdengar, Furihata mempercepat langkahnya dan meneriakkan kata' Tunggu sebentar.'

"Apa ada barang yang ketinggalan –

Tangan yang tadinya menarik handle kembali mendorong daun pintu itu keras. Jantungnya berdegup dengan kecepatan di atas wajar, tubuhnya kaku di tempat lalu kemudian merosot ke lantai.

"—Seijuurou-san," bisiknya dengan suara lemah. Ia hampir tak mempercayai matanya sendiri, pasti ini semua hanya halusinasi, ya pasti. Ini semua karena ia terlalu merindukan orang sialan itu.

' Arghh, lupakan dia, Kouki! Lupakan!'

Saat ia ingin memukul dirinya sendiri karena tak kuat dengan rasa sakit yang terus menghantamnya tanpa henti, ia mendengar suara yang sangat familiar di gendang telinganya—tak mungkin ia lupa.

"Kouki, buka pintunya."


TBC

Duhh, di ngelembur buat ngerjain ini seharian. Sebenarnya ini udah dua pertiga jadi tapi yang namanya belum komplit ya belum komplit dan entah kenapa malas luar biasa melanda di. Semoga minggu depan bisa tetap update karena belum ada sedikitpun drafnya untuk chap 6. Haha, semoga. Akhirnya ada juga yang nge-comfort Furi dan saya malah membuatnya sulit dengan adanya cinta segitiga—ups, segi layang yang bertumbuk di Furi. Haha, soalnya gak asik kan ya, Furi udah menderita lahir batin tapi Akashi g berjuang bisa dapat Furi. *senyum manis ke Akashi dan digunting*

Chap depan naik pangkat—salah, rating maksudnya. Ada yang bisa menebak jalan ceritanya?

Untuk yang gk login.

Michiyo: hihi, emang dari awal udah ketahuan kan Cuma mimpi. soalnya ya gk mungkin mereka langsung sama-sama lagi dan bener-bener bahagia begitu. Kalau yang ngomong itu, Kuoki sendiri kok bukan Kuroko. Haha, g masalah kok :-) makasih juga sudah review terus

Icing: iya sih, sayang Bokushi g mau si Oreshi buat milikin Kouki. Makanya jadi gini. Haha, ternyata dia juga pengen di cium Kouki. Hayu-hayu sini saya bikin daftar siapa aja yang mau dicium sama Kou-chan unyu-unyu. XD

Koun: wahh, kau punya gejala buat jadi Kurofuri shipper? Hihi, maaf. Tak bermaksud. Tapi ini bakal happy ending kok.

306yuzu: eh? Ini udah seminggu sekali kok, maaf gk bisa lebih cepat TwT. Haha, iya. Akashi jatuh cinta sama orang yang sama dan gk nyadar #digunting. Kalo rate, chap 6 baru naik dan soal Kuroko. Sudah terjawab chapter ini kan?

Makasih buat semua review, follow dan favoritnya. Senengnya #peluk satu-satu.

Mohon review lagi, komentar, kritik dan sarana diperlukan untuk perbaikan fic.

Review?