Dua orang pemuda berjalan berdua dan bercanda riang, Kuroko di belakang memperhatikan bagaimana interaksi kedua pemuda itu tampak normal dan wajar—sekilas hanya seperti sahabat yang terlalu dekat ataukah mungkin seperti kakak-adik? Kini mereka ada di pusat kota Tokyo, seperti biasa tak ada yang sadar dengan kehadiran Kuroko yang memiliki hawa keberadaan minim. Bukan maksud Kuroko untuk menjadi penguntit, hanya saja, entah kenapa tingkah laku kedua pemuda itu membuatnya penasaran.
Dan ketika mereka sampai di jalan yang sepi, mata Kuroko membulat sempurna dan tubuhnya mematung. Di depannya, dua orang pemuda, sesama jenis, berciuman.
Setelah ciuman lama dan memabukkan, keduanya memisahkan diri dan saling menatap di antara keremangan cahaya bulan dan pagar-pagar pembatas rumah. Salah satu pemuda itu, yang berambut hitam dan memiliki raut wajah dingin, membisikkan kata yang hampir membuat Kuroko tersedak dan keberadaannya diketahui oleh dua orang pemuda yang kini dibuai asrama.
"Daisuki yo, Rin."
Saat kedua wajah itu kembali mendekat, Kuroko memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Meninggalkan dua pasangan yang mencinta dan dia membawa puluhan pertanyaan serta satu kalimat yang terus menggaung di kepala.
"Daisuki yo?" ulangnya dengan bisikan lirih.
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi.
Pairing: jelas Akafuri.
Warn: Sho-ai, standart warning, dan alur maju mundur, OOC.
Aaa, g sanggup ngelihat FFN dan AO3 tapi Akafuri lama banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusen sendiri deh. Ayo gelakkan semangat Akafuri.
Happy reading minna ^-^
"Kouki, buka pintunya."
DEG!
Mata Furihata melebar sempurna, tangannya yang hampir mencapai kepala terhenti di udara—mengawang. Sensasi kejut yang menyebar di tubuhnya membuatnya limbung dan tak bisa bergerak, aliran darahnya berpacu dengan cara yang tidak normal. Suara itu, Furihata kenal sekali. Tapi, apa benar?
Tidak, tidak, tidak. Ini pasti hanya halusinasinya. Tidak mungkin Akashi kemari. Tidak mungkin Akashi yang itu kemari. Bukannya, Akashi yang itu sudah melupakannya?
"Kouki, kau mau aku mendobrak pintunya?"
Kenapa, kenapa khayalannya tak bisa berhenti? Kenapa halusinasi terus membayangi otaknya? Kenapa orang itu tidak mau pergi dari pikirannya? Kenapa dia seolah gila oleh orang itu? kenapa? kenapa? kenapa?
"Kouki,aku meminta sekali lagi. Buka pintunya."
Bahkan, nada memerintahnya pun sama. Haha, dia sudah benar-benar gila oleh orang itu ternyata.
Furihata menunduk, ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut—menyembunyikan diri. Seolah dengan begini semua rasa sakit yang melingkupi dirinya akan hilang, semua kenangan indah yang serasa hanya mimpi itu akan terlupa dari pikirannya dan ia akan bebas dari semua kesepian yang menggulungnya dan menghempaskannya di atas batu karang kehancuran. Ia remuk, hancur lebur dan sudah tak berbentuk. Lantas, kenapa luka yang menggerogoti hatinya dan melubangi jiwanya tak kunjung hilang?
Tes.
Tes.
Tes.
Tubuhnya terguncang, tawa pedih menggema sepenjuru lorong. Furihata terkikik, menertawai dirinya sendiri yang terus dirundung pilu. Menertawai dirinya sendiri yang dengan bodohnya tak bisa berhenti berharap jika pada akhirnya nanti Akashi akan kembali padanya, memeluknya lembut seperti dulu. Menertawai hatinya yang bahkan tak bisa membenci Akashi barang setitikpun.
Ia, bunga musim hujan yang diletakkan di tengah padang gurun. Bersaing dengan savanna dan berusaha meraup tetes kehidupan yang mungkin masih tersisa. Sayang, ia lupa dirinya hanyalah bunga di musim hujan yang membutuhkan banyak air. Tidak akan bertahan meski berjuang sepenuh hati. Pada akhirnya ia hanya akan mati.
"Kouki."
BRAK!
"Akh."
Badan Furihata refleks terlempar, ia terbaring tengkurap dengan kepala menghantam lantai—keras. Membuatnya pening dan rasa sakit menggelayuti pucuk-pucuk kepalanya dan menjalar ke setiap sendi tulangnya. Ia meringis, mencoba berbalik dan mengumpat pada tenaga asing yang membuatnya terjatuh. Namun kata-katanya tertambat di kerongkongan ketika yang ada di depannya adalah –
Mata yang gemilang, berkilau dan menyebarkan aura intimidasi. Badan yang kokoh dan dilumuti kuasa meski memiliki tinggi wajar pria kebanyakan. Semua yang ada di dirinya membuat ia seolah hal paling besar, menakutkan dan kuat yang pernah ada. Pemuda beraura regal yang sedari dulu menginvasi hatinya, memaksanya terus-terusan menggemakan nama itu dalam setiap alam sadar dan bawah sadarnya.
—Akashi Seijuurou.
Tap.
Tap.
Pemuda bertendensi pengecut mengerling, menatap dari atas ke bawah dan seterusnya sebelum pemikirannya terpenuhi akan konklusi yang dianggapnya benar. Yang ada di depannya itu hanyalah halusinasi. Menyedihkan, menyedihkan. Furihata menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pasti sudah benar-benar gila. Khayalannya kali ini terlalu nyata. Haah, pasti karena ia semakin rindu dengan Akashi.
"Kouki."
Dan suaranya lagi, mirip sekali.
Tertawa, Furihata hanya bisa melakukan itu. Ia menatap sosok khayalannya yang merefleksi sempurna kapten penuh absolutisme asal Rakuzan. Ia tertawa lagi, membiarkan sosok itu berjongkok di depannya. Tangannya perlahan terangkat, mencoba menggapai seorang Akashi yang hanya berupa mimpi.
Dan tangan itu pada nyatanya hanya mencapai udara, tertahan 2 inci dari wajah rupawan yang menampilkan seringai—kepala Furihata miring, bingung dengan apa yang terjadi. Ketika tangan sosok itu menyentuh keningnya, ia tersentak, meloncat mundur penuh waspada.
"Ka-kau, pe-pergi."
Matanya bergulir cepat, ketakutan langsung merajai tubuhnya. Ia sudah gila, pikirannya sudah dikuasai sosok Akashi Seijuurou. Halusinasinya sudah tidak wajar.
Akashi melangkah mendekat, meraup wajah Furihata yang terus-terusan menggeleng dengan tangannya yang berkapal. Wajah pemuda bersurai coklat menampakkan ekspresi ketakutan yang sangat, air mata bergulir seolah tanpa henti, bibirnya merapalkan keinginan agar Akashi pergi darinya. Pemuda Rakuzan mengernyit, kemudian ia menyeringai. Furihata Kouki rayuan sempurna untuk diabaikan.
.
.
.
Mata sewarna biji pinus itu menatap nyalang, menalar jarak mereka yang sudah hilang penghalang. Furihata bergeming, mencoba menghindar dari cumbuan bibir yang terasa begitu nyata. Membuatnya berpikir jika yang terjadi ini adalah benar adanya. Bukan sekedar halusinasi yang dia buat dalam dunia khayalannya ketika mimpi membuai tidurnya yang tak nyenyak.
Awalnya lumatan bibir. Kecup, kecup, kecup dan hisap. Kemudian lidah ikut menyertai, menyapu tepian bibir Kouki yang terkatup rapat. Mencoba mempertahankan semua rasionalitas yang ada, Furihata merapatkan belahan bibirnya, ia tidak mau terbuai mimpi.
Jarak mereka kemudian kembali memanjang, tiga senti dari wajah pasangan. Furihata menggerang, tak mau lepas dari kehangatan yang membalut bibirnya. Ia mengangkat tangannya, gemetar membelai surai-surai merah yang selalu menambah pesona sang pujaan. Matanya berairnya tak kunjung berhenti mengalirkan cairan, pipinya merona karena pasokan udara yang kurang, bibirnya yang memerah dan mengkilat karena hisapan menggumam lamat-lamat.
"La-lagi. Ci-cium aku lagi."
Bibir Akashi naik sebelah, menunjukkan kuasa dirinya yang sudah membawa Furihata dalam penjara nikmat. Tanpa perlu pikir panjang bibir itu kembali bertemu dengan bibir bergetar, disambut dengan antusias. Bergelut, saling mengecup, melumat, menghisap hingga pada akhirnya belah bibir terbuka—membiarkan sang dominan menjelajah rongga mulutnya.
Furihata tak peduli, meski ini semua hanya mimpi ia tak peduli. Biarkan ia sementara berada dalam dunia yang menyenangkan. Air mata tak kunjung kering, Furihata tak pernah memejamkan mata—takut jika nanti Akashi akan menghilang dari pandangannya jika ia sedetik saja berada dalam kegelapan.
"Kouki, kau merindukanku?"
Mata itu berkedip, lalu menoleh dan menyengir. Seolah tak memiliki beban hidup dan orang di depannya bukanlah penyebabnya. Tak masalah, toh yang ada di depannya hanyalah khayalan. Ia tak perlu risau dengan semua agresifitas yang ia tunjukkan. Furihata Kouki hanya ingin bahagia dengan dunia mimpinya. "Ya, aku merindukanmu."
Sekilas ada keterkejutan yang melintas dari mata merah dan emas. Hanya beberapa detik sebelum kembali berubah menjadi tatapan ,' aku tahu itu. Karena perkataanku mutlak.' Furihata terkekeh, kemudian tangannya bergerak melingkari leher Akashi dan menariknya mendekat pada Furihata. Ia memagut bibir itu lapar.
.
.
.
Decakan saliva, lidah yang bergelut dan kepala miring. Furihata mengalungkan kedua belah tangannya di leher Akashi sementara kakinya yang tak berbalut sehelai benang—entah teronggok dimana kini kain bernama celana itu—melingkari sempurna pinggang Akashi, solid dan tak terpisah. Akashi membawa mereka berdua menaiki tangga satu-satu, berpijak kuat meski menopang tubuh Furihata yang hampir menyamai tubuhnya.
Keduanya terus berciuman, menyampaikan kasih yang tak terucap dengan kata-kata sekaligus menyalurkan hasrat yang sudah di ujung tanduk. Sebelah kaki Akashi menendang pintu keras. Membuat pintu menjeblak terbuka dengan bunyi derit yang nyaring, seakan sekali saja diperlakukan kasar lagi pintu itu akan kehilangan riwayat hidup. Lepas dari engsel dan jatuh berdebam kehilangan fungsi.
Akashi melirik dari sudut matanya ketika ia memisahkan bibir mereka, membuat Furihata termegap-megap mengisi paru-parunya yang kosong dengan pasokan udara yang melimpah. Tapi tak lama setelah itu ia merajuk, menampakkan keinginan yang sangat untuk minta kembali dikecup. Nafasnya tersengal, hampir menangis—seolah anak kecil yang tak diberi mainan—ketika Akashi tak kunjung memberikan apa yang dia inginkan. Ia menggeliat, namun lirikan Akashi ke pintu di belakang mereka membuat pemuda kolong langit mengangguk—malas-malasan ia menendang pintu itu dengan kakinya yang masih menggantung di pinggang Akashi. Setelah memastikan pintu tertutup, kakinya kembali melingkar sempurna, seperti anak Koala yang tak mau kehilangan induk—melekat kuat.
Dengan itu, Akashi menghempaskan tubuh mereka berdua ke atas ranjang pemuda Seirin. Bibir mereka kembali bertautan seolah itu adalah pokok hidup mereka. Jemari yang terlatih dalam basket itu kemudian menjalar nakal, menggerayang punggung berbalut kaos basah oleh keringat. Kouki melenguh, sensasi aneh kembali membuat perutnya serasa di aduk-aduk. Punggungnya secara refleks terlengkung karena nikmat yang menyapa syaraf sensoriknya.
"Kouki."
Kepala Furihata perlahan terangkat, menatap pemuda ilusi yang makin gencar menggerayangi tubuhnya. Bibirnya tak terkatup sempurna, mendesah tiap kali bagian sensitifnya dirayu dengan cara yang menggoda, membuatnya menginginkan lebih dan lebih lagi. Badan pemuda itu terjerembad, tertarik oleh tangan kokoh yang kini membawanya dalam perangkap tubuh pemuda bersurai merah.
.
.
.
Akashi menggerang, memperhatikan setiap inci pemuda yang selalu menemani mimpinya tiap malam. Memperhatikan bagaimana bibir itu membuka tutup, saliva yang mengaliri dagu yang mengkilat, bola mata yang hampir terbalik ke belakang kepala karena dilanda nikmat yang tanpa henti menghujam. Ia menjilat bibir, tak sabar akan menyantap lebih dan lebih lagi bagian tubuh yang memanggil-manggil namanya minta dilayani. Dan tentu saja, Akashi akan melakukan itu dengan sepenuh hati.
"Kouki, tatap aku."
Dengan patuh pemuda yang di bawah membuka matanya perlahan. Membawa pandangan mereka satu garis lurus dan Akashi kembali menyelami kenikmatan dosa yang hanya mereka berdua yang tahu—menurut pikirnya. Walaupun pada nyatanya, jika seluruh dunia inipun tahu jika ia menjalin hubungan dengan pemuda biasa bernama Furihata Kouki. Itu sama sekali tak masalah, ia malah akan menyambut itu semua dengan seringai lebar. Karena dengan itu, semua orang tahu jika pemuda yang kini ditindihnya adalah miliknya, hanya dirinya, untuknya, dan kepadanya. Tak ada yang lain.
Akashi adalah orang yang posesif, catat itu dalam hati dan ingatan kalian, kalau perlu patri. Ia tak suka membiarkan miliknya diambil oleh orang lain, meski itu adalah kepribadiannya yang lain. Ia tetap saja takkan bisa menerima. Furihata hanyalah miliknya seorang diri.
Dalam-dalam ia tatap mata yang seolah melamun, yang ia ketahui pasti jika pemuda itu tak sadar secara pasti apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mana Akashi peduli, ia hanya ingin memiliki Kouki. Malam ini juga. Meski harus menjadi orang egois dan peran antagonis dalam hubungan mereka, ia tak masalah. Selama ia memastikan Kouki menjadi miliknya, semua yang salah akan tetap benar. Karena Akashi mutlak, yang membantahnya mati saja.
Ia meraup nafas berat sebelum menghembuskannya, jemarinya menjepit dagu itu di antara ibu jari dan telunjuk, mengangkat wajah itu dan membelai dagunya pelan—membuat Furihata melenguh dan menggesek-gesekkan tubuhnya pada Akashi.
"Kouki, katakan kau cinta padaku."
Furihata berjengit, matanya membelalak lebar seolah baru sadar dan kini tengah berada di kenyataan. Mata kucingnya bergulir liar, bulir-bulir air kembali menyapa kulit yang belum sepenuhnya kering dari aliran sebelumnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Suaranya bergetar.
"Y-ya-ya. A-aku—." Jeda panjang ketika tubuh Furihata bergetar hebat, matanya terpejam rapat. Pikirannya terus-terusan bergelut dan tak mau mengalah satu sama lain. Keheningan yang panjang diisi oleh deru nafas yang teratur dan satu lagi bernafas pendek-pendek. Ia memejamkan mata, memikirkan segala konsekuensi yang akan terjadi akan setiap jawaban yang ia luncurkan. Tapi kali ini, biarkan kali ini saja ia egois. Pemuda itu tersenyum, ia mengangguk mantap." Ya, aku mencintaimu," ucapnya sebelum kembali menarik Akashi dalam ciuman.
.
.
.
Malam itu, mereka menyatukan cinta, hati dan badan. Melebur baik secara lahiriah maupun batiniah, namun air mata Furihata tak berhenti mengalir di antara desah. Semua ini hanya mimpi, hanya mimpi. Furihata tak mungkin bisa menjadikan angannya menjadi kenyataan.
.
.
.
"Daisuki. Daisuki. Daisuki."
Satu kata itu konstan memenuhi rongga pikiran Kuroko, membuatnya kalut dan tak bisa berhenti merasa gugup. Haruskan ia artikan semua perasaannya pada Furihata tadi adalah rasa suka? Benarkah rasa sakit yang menerpa dadanya ketika melihat pemuda berambut coklat itu tak berdaya adalah rasa sayang pada pujaan? Benarkah semua rasa yang memenuhi hatinya dan tak jelas juntrungannya ini adalah cinta?
Deg!
Deg!
Deg!
Kenapa hatinya berdebar anomali? Kenapa keringatnya terasa berlebih? Kenapa bibirnya tak berhenti tersenyum ketika mengingat senyum Furihata? Kenapa hatinya serasa dicubit saat melihat pemuda itu menderita? Kenapa? Kenapa hal ini terjadi padanya?
Kuroko tidak paham, ia bukan penggemar novel berisi romansa. Ia lebih menyukai karya seni yang berisi pilosofi hidup. Meski kadang ia juga membaca buku tersebut, tetap saja ia tak kunjung paham. Perasaan itu tidak familiar. Perasaan asing yang sama ketika ia akhirnya mengenal basket. Olahraga yang membuat dirinya seolah ada tapi kemudian dihancurkan oleh teman-temannya sendiri. Perasaan bahagia yang muncul lagi ketika ia menjadi bagian dari Seirin, tim yang awalnya hanya ia mamfaatkan untuk melawan Generasi Keajaiban. Perasaan asing itu hampir sama dengan rasa cintanya terhadap basket namun juga terasa berbeda. Rasanya lebih posesif, lebih naïf dan hanya ingin menggapai apa yang ia inginkan lalu memilikinya seorang diri.
Pemuda berambut biru muda itu menatap langit-langit kamarnya, mencoba memejamkan matanya namun tak bisa. Ia membawa tangannya melingkupi bagian kiri dadanya." Sebenarnya, apa yang terjadi padaku?" gumamnya gamang.
'Kamu tahu kamu sedang jatuh cinta jika kamu tidak dapat tidur karena kenyataan akhirnya lebih baik dari mimpi.' (Dr. Seuss.)
TBC
Hahai, di sudah mulai gila-gilaan nih nulis. Lembur satu hari dan maksa update besok. Jadinya begini, oh kenapa chapter ini penuh dengan kalimat perulangan? #mewek kejer. Dan ini drama sekali ya? Hihihi, ya sudahlah.
Nah-nah, ini lemonnya sedikit aja, gk sanggup buat nulis. #lha, terus yang kau di tulis di FB itu apa? Oh, cuma khilaf. XD. Abaikan curhatan ini kawan.
Untuk yang gk login:
Icyng : iya ssu, akhirnya #nangis bahagia. Tapi, kalo jadi harem? Uhm, gimana ya? Di gak sanggup bikin harem-hareman, tapi kalo sekedar sahabat yang'piiiip' bisa. Dan kayaknya chapter ini yang kau gorok authornya deh, #lirik cerita di atas.
306yuzu: kurofuri emang jarang sih, sedikit banget buatnya. Walau di juga lebih prefer ke Akafuri tapi kalo Kurofuri gk nolak, soalnya mereka imut sih #diinjek. Daaan, Akashi emperor udah keluar dari kurungan Akashi!Teikou. kita lihat apa yang terjadi. :-3
Makasih buat semua review, follow dan favoritnya. Senengnya #peluk satu-satu.
Berkenan mereview lagi?
Review?
