Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Pairing : jelas AkaFuri :3
Warn : sho-ai, standart waring, alur maju mundur.
Aaaa, gak sanggup liat FFN dan AO# tapi Akafuri lambat banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusin sendiri deh. Ayo gelakkan semangat AkaFuri _.
Happy reading Minna -
Sepanjang malam Kuroko tak bisa memejamkan mata. Ada rasa khawatir berlebih yang sedari tadi menjalari hatinya. Mencoba tidur miring ke sebelah, pemuda berambut biru muda itu tetap tak merasa nyaman.
"Furihata-kun. Kau kenapa?"
Kuroko duduk, membiarkan matanya menatap kosong ke kaca jendela. Bulan di langit bersinar sendirian, kesepian.
"Aku tidak bisa tidur. Kenapa?"
Pikiran buruk menghampirinya terus-terusan. Mengingatkannya bagaimana Furihata terlihat seperti sebuah pohon lapuk di tengah padang pasir. Kesepian, sendirian, mati. Hal itu membuatnya ketakutan, membuatnya berpikira tentang skenario buruk yang mungkin terjadi pada Furihata.
Bagaimana kalau itu memang benar, Furihata sedang dalam keadaan benar-benar tidak baik? Bagaimana kalau ia memang benar-benar memerlukan sandaran?
"Furihata-kun."
Menarik selimut yang menutupi tubuhnya, Kuroko meloncat dari ranjang. Ia melirik jam weker di nakas, jam tiga malam. Tapi ia tidak bisa berhenti khawatir.
"Aku."
Drap. Drap. Drap.
Tidak bisa diam. Kuroko tidak bisa berdiam diri. Ia terlalu takut jika Furihata semakin depresi. Tidak boleh terjadi, jangan sampai terjadi.
"Hosh, hosh, hosh. Furihata-kun."
Pikirannya kacau, semuanya hanya mengenai Furihata dan Furihata. Dadanya sesak, rasa khawatirnya terus-menerus meningkat.
Tap. Tap. Tap.
Berdiri di depan pintu rumah Furihata. Kuroko tak tahu apa yang harus dilakukan selain berdiri diam, mematung di tempat. Pikirannya tiba-tiba kembali ke mode normal.
Bagaimana jika Furihata sedang tertidur? Ia hanya akan mengganggu istirahatnya. Tapi, bagaimana jika hal yang dikhawatirkannya benar?
Menekan bel sekali, Kuroko menunggu dengan pikiran luar biasa kalut. Hatinya menggalau, dimana ia ingin Furihata membuka pintu tapi ia juga berharap agar Furihata tetap tidur saja.
"Ya. Siapa- eh, Kuroko-kun. Ada apa?"
Kuroko memperhatikan Furihata yang memakai piyama berwarna coklat. Mengusapi matanya yang tampak mengantuk. Tentu saja, ia 'kan baru bangun tidur.
"Kau… baik-baik saja?"
Meski pertanyaannya aneh, Kuroko lebih memilih untuk langsung to the point. Tapi saat Furihata hanya memiringkan kepala dan berkata 'baik-baik saja' padahal wajahnya jelas menunjukkan ekspresi linglung, kontan membuat kekhawatiran Kuroko semakin meluap.
.
.
.
Burung berkicauan riang ketika Akashi membuka mata, seolah menyapanya untuk menyambut hari yang cerah. Ia tak pernah merasa sesegar ini sebelumnya, badannya terasa sedikit lelah tapi tubuhnya puas disaat bersamaan. Seperti beban lama yang terus menumpuk dan menumpuk hingga kemudian menggunung lalu hilang begitu saja. Ia heran, dia pikir tadi malam dirinya sedang belajar seperti biasanya. Membuka beberapa buku manajemen sekaligus mengerjakan beberapa tugas kantor yang sudah dilimpahkan ayahnya hampir sepenuhnya padanya. Semuanya berjalan begitu normal dan biasa, lalu apa yang membuat hatinya merasa puas dan tubuhnya relaks?
Akashi akan bangun, memulai aktivitas seperti jogging, mandi dan sarapan lalu berangkat ke sekolah, menghadapi hari penuh kesibukan seperti biasanya, ditambah dengan jadwal meeting dengan beberapa klien—hari-hari normalnya yang sebenarnya selalu membuat Akashi bosan. Namun ia hanya 'akan' bangun, bukan bangun karena tiba-tiba saja badannya sudah terpaku di ranjang dan tak punya penyadar untuk membuatnya bisa bangkit dari tempat itu.
Darahnya berdesir aneh, kepalanya mendadak pusing.
Memegangi kepalanya yang terasa ngilu, Akashi duduk pelan-palan—tak mau mengganggu eksistensi di sebelahnya. Ia memijit kepala, tertawa kecil karena pemikiran aneh yang terus merayapi sistem database otaknya.
Pemuda berambut coklat itu membuatnya gila. Kenapa bisa ia membayangkan pemuda itu hanya ditutupi selimut di samping dirinya yang tertidur? Apalagi, di sekitar bahunya banyak tanda ungu, membuat Akashi berpikir yang tidak-tidak. Apa ia yang membuat tanda biru itu? Apa iya mereka tidur bersama? Tapi, bukannya mereka belum kenal?
Hah, bodohnya kau, Akashi. Tentu saja. Kenapa bisa ia membayangkan pemuda itu hanya ditutupi selimut di samping dirinya yang tertidur? Apalagi, di sekitar bahunya banyak tanda ungu, membuat Akashi berpikir yang tidak-tidak. Apa ia yang membuat tanda biru itu? Apa iya mereka tidur bersama? Tapi, bukannya mereka belum kenal?
Hah, bodohnya kau, Akashi. Tentu saja mereka bisa melakukan itu, kenapa tidak? Inikan hanya mimpi Akashi.
Saat tangan itu mencoba membelai rambut kuyu yang berantakan, mata sewarna tanah itu terbuka. Sedikit terbelalak, lalu pemuda itu terdiam di tempat dan matanya…berair?
Kenapa?
Kenapa dia menangis?
Apakah Akashi melakukan sesuatu yang salah?
Katakan? Katakan padaku apa salahku? Jangan menangis, okey?
Deg. Deg. Deg.
Aku tidak suka melihatmu begini? Kumohon, berhenti.
Bibir yang sedikit memar itu terbuka, bergerak-gerak dan Akashi memutar silabel yang keluar seperti kaset rusak.
"Seijuurou-san, kau jahat."
Air mata itu semakin deras, panas mengalir di seluruh tubuh Akashi saat melihatnya.
"Kau menyakitiku. Jiwaku, hatiku, ragaku –
Akashi tidak mau dengar. 'Berhenti. Berhenti. Berhenti. Ku mohon berhenti.'
"Aku membencimu. Sangat membencimu."
DEG! DEG! DEG!
Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Tidak, pemuda itu tidak boleh membencinya. Ia harus memiliki pemuda itu, harus. Tidak boleh dibenci, Akashi setidaknya tidak mau dibenci olehnya. Meski ia tahu ia sudah dibenci semua orang karena sikap antagonisnya dan ia tidak peduli. Tapi jangan pemuda ini. Jangan dia.
Tubuh Akashi bergerak mendekat, mencoba menggapai pemuda itu. Namun pemuda itu menjauh, beringsut mundur, memandangnya dengan wajah penuh terror. Matanya menunjukkan ketakutan yang sangat.
"Pergi."
"Aku."
Sepasang kaki ramping itu secepat kilat meronta-ronta, bergerak tak tentu arah untuk menjauhkan Akashi darinya.
"Pergi! Pergi! PERGI!"
Ia sudah dilarang, tapi Akashi takkan berhenti. Karena Akashi selalu mendapat yang ia inginkan. Meski ia benci itu, tapi ia ingin pemuda itu ada di bawah kuasanya—menjadi miliknya.
"Hey –
BUG.
Rahangnya terasa ngilu, Akashi tak sengaja melonggarkan kewaspadaannya dan sebelah kaki pemuda itu berhasil menendangnya. Membuat rahangnya terasa bergeser. Tapi pemuda dengan mata merah delima itu tetap mendekat. Karena ia harus mendapatkan miliknya, harus.
"Aku –
"Jangan hiks mendekat." Surai coklat tanah itu bergoyang, mengikuti gerak kepalanya yang terus menggeleng. Telinganya ditutup rapat dengan kedua tangan, tubuhnya digulung menjadi bola." Aku membencimu. Kau menyakitiku. Kau jahat. Aku benci."
Serasa ada bunyi pisau yang menembus tubuh, rasanya jauh lebih sakit saat luka fisik menderanya. Akashi sudah terlalu sering bermain dengan luka jasmani, tapi ia tak pernah bermain dengan pisau rohani. Rasanya lebih sakit, sakit sekali. Sampai-sampai Akashi tidak bisa bernafas dan ia merasa tercekik—ia sekarat.
.
.
.
Gelap.
Gelap.
Gelap.
Mata yang tertutup rapat itu terbuka, menampakkan crimson yang semakin memerah.
"Hah, hah, hah."
Kepalanya berputar-putar, sementara matanya terus-terusan memperhatikan sekitar. Tak ada pemuda berambut coklat yang menatapnya ketakutan. Tak ada pemuda berambut coklat yang mengatakan ia membencinya. Tidak ada.
Akashi menghela nafas lega, hanya mimpi.
Tubuhnya bergerak untuk bangkit untuk memulai aktivitas harian. Namun, kenapa punggungnya perih? Awalnya ia mengabaikan, mungkin karena ia terlalu banyak latihan. Mandi seperti biasa,tapi rasa perih itu tak kunjung hilang. Mengeringkan rambutnya yang baru saja dikeramas, badannya ia palingkan dari cermin besar kamar mandi. Karena jujur saja, ia merasa risih saat melihat dirinya sendiri dan saat melihat cermin, matanya kembali terbelalak.
Kenapa ada garis-garis seperti cakaran?
Deg! Deg! Deg!
Baru kali ini Akashi merasakan jantungnya berhenti berdetak lalu berdebar super kencang. Ini, Akashi bukan orang yang polos untuk tahu apa arti garis-garis merah itu. Tapi kapan? Ia tak merasa keluar rumah. Kenapa bisa?
Deg! Deg! Deg!
Dan lagi, dengan siapa? Ini, bukan April mop 'kan?
Akashi melangkah mundur, tubuhnya membentur dinding. Ia frustasi, akalnya berulang kali menyatakan kalau hal itu tidak mungkin. Ia bukan seorang penjahat seksual yang meninggalkan pasangan setelah melakukan hubungan. Dan ia tahu, adiknya yang itu juga bukan orang yang sebrengsek itu. Tapi, kenapa ada garis-garis itu? Kenapa?
"Erhhh, sa-sakit."
Lenguhan tak nyaman, Akashi memeluk pemuda itu, mengecupi keingnya dan meremas bokongnya. Berusaha sebisa mungkin tak bergerak disaat rasa nikmat dan hangat membungkus bagian genitalnya.
"Shhhhh." Akashi menghembuskan nafas di cuping telinga pemuda itu." Setelah ini tidak akan sakit."
Pemuda berambut coklat itu hanya mengeratkan pelukannya di badan Akashi, membuat keduanya makin menempel. Sesekali kukunya masih menancap pada punggungnya, ditarik, ditancapkan lagi untuk sekedar mengalihkan rasa sakit. Akashi sendiri jelas merasakan rasa sakit, namun ia tak peduli. Bibirnya mengecupi cuping telinga pemuda itu, menjilati sewaktu-waktu lalu beralih pada pipi dan akhirnya bergulir pada bibir yang tak sepenuhnya tertutup. Membawa dalam ciuman yang penuh decakan.
Horor, Akashi hanya bisa menatap cermin horor. Menelisik bahunya yang juga tedapat memar seperti gengggaman. Dan ingatan tadi, apa benar hal itu terjadi? Bukan hanya khayalannya?
Kepalanya rasanya berdenyut, lenguhan pemuda itu, desahannya, desisan kesakitannya. Kenapa tidak bisa berhenti memikirkannya? Kenapa, kenapa berputar seperti lullaby?
Deg! Deg! Deg!
"Anhh, Se-seijuurou-san. Ngahh."
Bibir saling membentur, mengecup, menghisap dan lidah saling bertaut, membelai serta melilit otot lunak lawan main. Nafas mereka terasa panas, hangat. Akashi melepas ciuman tapi tak berarti melepaskan kontak. Ia mengecupi pipi yang memerah karena kekurangan oksigen, menjilati saliva yang mengalir turun dari bibir pemuda berambut coklat itu. Pemandangan di depannya terlalu menggoda, membuatnya tampa sadar menaikkan tempo permainan. Pemuda itu melenguh karena titik manisnya diserang dengan cara lebih agresif, menginvasi titik terdalamnya lebih banyak dan ia hanya bisa tenggelam dalam kenikmatan.
"Kau wangi."
Pemuda itu berpaling saat Akashi menjilati lehernya, membuat lebih banyak ruang yang terekspos dan Akashi tentu saja dengan senang hati memberikan lebih banyak kecupan. Kedua tumit menekan pinggang Akashi, mencoba menekan lebih dalam tubuh Akashi yang lain agar semakin menyatu dengannya. Akashi mengerang, menyukai sisi agresif pemuda itu.
BRUK.
Tanpa sadar ia terjatuh, tangannya mengepal erat menahan emosi yang berkecamuk. Akashi hanya bisa menatap nanar lantai marmer mahal berwarna putih gading.
"Itu… tidak mungkin," gumamnya lemah. Iya, itu tidak mungkin terjadi. Ia tidak mungkin melakukan itu pada orang yang dia suka. Ia, mencampakkan orang yang menarik hatinya?
Tidak mungkin.
Semua ini pasti bohong, tidak benar, kamuflase, fatamorgana, hanya ilusi, imaginasi, bunga tidur.
Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa?
Tidak mungkin.
Akashi menambah tempo gerakknya, menghujam lebih keras dan dalam. Membuat pemuda di bawahnya melenguh dan melenguh, menyebutkan namanya dalam nikmat yang menggugut. Akashi gila, gila karena pemuda ini.
Pemuda itu ekstasi, narkotika, wine berkadar tertinggi yang membuat pemuda bersurai merah itu ketagihan untuk menikmatinya lagi dan lagi. Candu terkuatnya yang membuatnya terus-terusan ingin menempel pada pemuda itu, mengikatnya dalam kuasanya dan tak membiarkan dia lari.
Lagi, agi, lagi. Lebih banyak pemuda berambut sewarna bumi yang melenguh menyerukan namanya. Lebih banyak desahan yang terbentuk karena dirinya. Lebih banyak erangan karena ulah dirinya.
Akashi ingin semua itu.
"Sial, brengsek! Kau brengsek, Akashi! Kau pria terbrengsek di muka bumi ini."
Wajahnya menjijikkan, membuatnya merasa muak. Bagaimana ia telihat maji tenshi di saat kepribadiannya yang lain telah membuat seseorang yang berharga baginya bagaikan sampah. Semua yang ada di dirinya menjijikkan. Seperti lendir siput, lengket dan tak ada yang suka. Sesuatu yang dijauhi.
Akashi tertawa dengan kalimat yang baru saja berputar di kepalanya.
Dia memang pantas dijauhi. Dia orang jahat, bukan orang baik-baik walaupun berkelakuan otoriter. Manusia licik, tidak berperasaan, otoriter dan sekarang apa?
Ia mencampakkan orang yang dia cintai, seperti sebuah daun dari jutaan daun yang menempel di pohon—tidak memiliki guna yang penting.
Dengan linglung ia kembali menatap cermin, menampakkan bayangan dirinya sendiri. Rambut terjuntai ke wajah—ia kembali membiarkan rambut itu panjang—hampir menutupi mata, garis wajah yang angkuh dan tatapan mata yang meremehkan.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?"
Senyum miring tersungging di bibirnya, menampakkan seringai sinis.
"Karena kau, memuakkan."
TBC
Sorry buat telat update selama tiga minggu. Semua folder fic dan SS Akafuri kehapus dan rasanya pengen nangis. Frustasi. Dan ini bangun mood lagi, jadi maafkan kalau chapter ini terkesan konstan dan sangat gk enak dibaca. TwT.
Beneran bangun mood dari awal lagi. Bahkan ini lanjutannya udah sekitar seminggu dianggurin. Dan maaf lagi karena ini Cuma 2/3 dari yang biasa. #nanges.
Buat yang gk login :
Icing : sorry, mau bikin batas M aja. Kalau mau yang MA silahkan datang ke CAFEIN . Hum, gomen. Nanti di fic lain deh dicobanya.
MeongNyan : haha, kamu suka dua-duanya ya? Makasih pujiannya, jadi gede kerah baju nih XD. Salam kenal juga
306yuzu : ini emang AkaFuriKuro kok. Cuma ya, lihat nantilah. Kalo bikin Akafuri di FB, itu di grup CAFEIN(special grup Akafuri). Silahkan datang berkunjung.
Yoshu, sampai juga minggu depan. (kalau moodku gk turun #diinjek)
Makasih buat review, fav dan follownya. Senengnya #peluk satu-satu .
Berkenan mereview lagi?
Review?
