Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Pairing : jelas AkaFuri :3

Warn : sho-ai, standart warning, alur maju mundur.

Aaaa, gak sanggup liat FFN dan AO# tapi Akafuri lambat banget pertumbuhannya. Jadi, ngeprodusin sendiri deh. Ayo gelakkan semangat AkaFuri _.

Btw, Happy birthday Furi-chan sayang maaf ya telat banget.


Happy reading Minna -


Akashi pernah bahagia, dulu sekali sewaktu ia masih sangat kecil. Ketika umurnya masih 2 tahun—ia bahkan tak ingat waktu itu. Karena tahun selanjutnya saat ia sudah bisa bicara dan mendengarkan dengan baik, ayahnya mendatangkan seorang pengajar alphabet. Setengah tahun kemudian ketika ia sudah bisa membaca, ayahnya mendatangkan seorang guru privat. Les dijalani dari piano sampai dengan sastra lama, ia sudah diajarkan bagaimana caranya untuk menjadi seorang bangsawan.

Tahun-tahun bagi Akashi berlalu lambat, seperti air sungai yang tersendat sampah, laju airnya bahkan hampir tak terlihat. Akashi menjalani hari sebagaimana seorang Akashi, semenjak ayahnya pertama kali membisikkan kata 'mutlak' lalu selanjutnya ditambahkan kata 'Akashi harus menjadi yang terbaik. Mutlak menjadi yang terbaik.' Terakhir dibumbui dengan kata :

Akashi harus menjadi yang terbaik. Mutlak yang terbaik. Jika kau tidak bisa, maka kau bukan anakku.

Dia, bocah kecil empat tahun tanpa dosa adalah seorang penerus, menjadi boneka sang ayah dan digerakkan dengan tali tirani yang membelit hingga akhirnya mendarah daging. Bocah kecil yang malang kemudian kehilangan pegangangannya, satu-satunya harapan yang membuatnya dapat bertahan—ibunya. Setelah itu, tirani sang ayah makin kental membelenggu, membuatnya tercekik dan tidak bisa bernafas.

Akashi kecil yang sendirian dan kesepian, tidak punya pelarian. Dan tanpa ia sadari apa yang dipupuk ayahnya tumbuh pesat, subur makmur dan bercabang banyak. Kepribadian yang hidup terpisah dengan akal Akashi sendiri, ikut berkembang seiring usia Akashi yang bertambah.

Lalu ketika suatu waktu, satu-satunya hal yang membuatnya bertahan terancam terenggut darinya, Akashi tentu saja bereaksi seperti manusia normal. Bertahan agar semua bermain basket, bertahan agar tetap menjadi kapten yang bisa dibanggakan, bertahan untuk tak kalah—seperti apa yang diajarkan ayahnya padanya. Bertahan, bertahan, bertahan sampai ia tidak sadar ada dimana dirinya sekarang. Dan ketika ia membuka matanya lagi, tubuhnya sudah tak bisa ia gerakkan sendiri –

Fisiknya sudah jadi boneka, untuk dirinya yang lain. Tak bisa mengontrol diri hanya bisa melihat. Berpikir tapi hanya diam. Mendengar tapi tak bisa merespon. Dia tak punya kuasa lagi.

—Akashi sang emperor telah bangkit.


.

.

.


Itu waktu yang lama, tiga tahun yang lalu semenjak ia bisa berdiri dan memiliki fisik yang utuh. Dua setengah tahun lebih semenjak pertemuannya dengan Furihata Kouki. Dan ia menyukai pemuda itu dari pandangan pertama. Bukan, bukan karena manisnya atau sesuatu hal yang termasuk kelebihan—karena jujur saja dia memang sepertinya tidak memiliki kelebihan bagi Akashi. Tapi tubuh yang bergetar itu membuat jiwa Akashi menjeritkan kata kuasai, kuasai, kuasai dan kuasai sampai habis.

Ia sangat suka melihatnya, suka sekali membayangkan bagaimana jika tubuh itu bergetar di bawah tatapan tajamnya. Jika mata itu berair di bawah sentuhannya. Jika mulut itu bahkan hanya bisa membuka tutup tanpa suara saking takutnya. Tak pernah ia merasa sebergairah ini terhadap sesuatu. Ia suka dan ia ingin memilikinya.

Furihata Kouki harus jadi mainan Akashi Seijuurou.

Berlabel Akashi Seijuurou.

Properti Akashi Seijuurou, keseluruhan dan tampa terkecuali.

Milik Akashi Seijuurou, seutuhnya.

Seperti itu, hanya begitu, harusnya tetap seperti itu sampai akhir. Furihata Kouki hanya mainan. Dimainkan sesukanya tanpa perlu merasa bersalah dan dapat dibuang jikalau sudah bosan. Begitu, Akashi menargetkannya begitu tapi kenapa ia merasa ada yang aneh.

Kenapa mulutnya tak sanggup menghina?

Kenapa tangannya tak sanggup menggoreskan luka barang sesenti pada tubuh itu?

Kenapa bibirnya terkembang naik ke atas?

Kenapa

ia… malah berlaku lembut?

BUKAN!

Bukan ini yang Akashi ingini. Bukan ini rencana awalnya yang telah ia susun matang-matang. Bukan ini cara untuk membuat seseorang menjadi mainan. Tapi tidak bisa berhenti. Semakin ia mendekati pemuda itu maka semakin banyak yang ia kagumi. Pengecutnya, determinasinya, senyuman polosnya, kesetia-kawanannya—Akashi merasa sangat tidak nyaman dengan itu—kebaikannya, kebodohannya, bahkan matanya yang sekecil pupil kucing itupun Akashi suka.

Dan tanpa sadar rasa sukanya berevolusi kembali menjadi tujuan awal tapi dengan visi yang berbeda.

Ia ingin pemuda itu menatapnya. Menyukainya lalu akhirnya ia bisa seutuhnya menjadikan pemuda itu miliknya. SEUTUHNYA. Tak boleh ada yang memiliki pemuda itu selain dirinya.

Yang ia tidak pernah bisa perkirakan, ketika waktu bergulir tak semua yang ia rencanakan akan berjalan sesuai rencana. Winter Cup dan kekalahan satu angka membuat ia harus melepas Kouki yang sudah berada dalam genggamannya.


.

.

.


Matanya memandang eksistensi yang terbaring di sebelahnya. Seorang pemuda, bersurai coklat tertidur lelap, wajahnya damai. Ludah Akashi terasa kecut, kenapa semua terasa sulit sekali digapai. Kenapa terasa mustahil?

Jemarinya perlahan menyusuri anak rambut sewarna bumi, mengusapnya perlahan. Pemiliknya hanya menggerung, lebih mendekat pada Akashi seperti kucing minta dimanja. Senyum kecil mengembang di bibirnya, ia selalu suka hal apapun mengenai Kouki. Membuatnya ingin selalu berada bersama pemuda itu, berdua dan bahagia. Tapi tidak bisa, bagaimanapun ia mencoba.

Akashi tahu ia hanyalah parasit. Kepribadian lain dari diri Seijuurou yang telah luntur, tidak lagi bisa menempel di serat kain. Ia sebentar lagi hanya akan jadi bagian dari memori, asing dan jahat. Bukan seorang pemuda antagonis yang jatuh cinta pada pemuda biasa. Bukan seorang pemuda pasif sekaligus ofensif yang berusaha menjadi baik, menjadi orang yang mengerti orang lain. Ia hanya akan dikenang sebagai memori kelam. Tch, bahkan ia tak bisa mencintai orang yang ia cintai. Betapa mirisnya hidupnya.

Kemudian jemarinya perlahan menyusuri lekuk wajah itu, membelainya lembut, berusaha sebisa mungkin tak membuat Furihata terbangun. Betapa sedari dulu ia ingin melakukan ini. Sedari awal ia melihat pemuda itu bergetar, Akashi merasa kuasanya meningkat. Tapi tanpa sadar ia sendiri malah jatuh dalam ketidakberdayaan pemuda itu. Ia lemah setiap kali melihat pemuda itu ketakutan padanya. Niatnya setiap kali tangannya mencoba bergerak menyentuh Furihata ia tahan, dikurung dalam penjara terdalam hatinya. Agar ia bisa bersama pemuda itu, agar pemuda itu tak takut padanya. Karena dengan itu, Furihata juga akan menjadi tahanannya—seperti ia menahan Akashi.

Sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tak memeluk pemuda yang dibuai mimpi, mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih. Seharusnya Furihata menjadi miliknya, harusnya.


.

.

.


"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini padaku?"

Senyum miring tersungging di bibirnya, menampakkan seringai sinis.

"Karena kau, memuakkan." Karena kau ingin mengambil Kouki dariku.


Aku mencintaimu sepenuh hatiku, meski kau tak tahu.

Aku ingin menyimpanmu untukku sendiri, karena aku tak bisa kehilanganmu.

Aku mencintaimu sepenuh hatiku, meski kau tak tahu.

Membuatku semakin posesif dan tak mau berbagi tapi ini salahmu.

Karena kau manis, karena kau menggoda.

Aku ingin mengikatmu untukku sendiri tapi tidak bisa.

Aku harus pergi namun aku tetap tak rela berbagi dengannya.

Karena kau manis, karena kau menggoda.


.

.

.

.


Furihata terbangun dengan rasa sakit di punggung, rasanya lelah, badannya remuk tapi ia tidak tahu kenapa. Ia mencoba berbalik badan, hanya untuk membuat rasa sakitnya semakin menjadi karena bagian bawah—entah kenapa Furihata yakin bagian analnya—saling bergesekan akibat gerakannya. Mengingat-ingat hal apa yang mungkin saja terjadi hingga membuatnya seperti ini hanya berakhir dengan tambahan rasa sakit yang kini betah mendekam di hatinya.

Ia dan Akashi berhubungan badan

tapi… mana mungkin?

Bajunya jelas-jelas masih lengkap di badan—pengecualian dengan rasa sakit yang baru saja muncul ketika ia bangun tidur. Jadi, mana mungkin hal itu terjadi? Tidak mungkin, sungguh tidak mungkin.

Tangan Furihata bergerak naik, merapatkan selimut. Ia memejamkan mata untuk mencoba menghindari semua mimpi yang seakan terasa begitu nyata.

"Tidak mungkin, aku pasti berkhayal lagi."

Meskipun sakit, meskipun hatinya tertusuk ia sudah tidak punya air mata lagi. Furihata tak menangis, karena ia tak tahu mana yang nyata mana yang khayal.

"Haha, aku menyedihkan. Menyedihkan sekali."

Furihata melirik jendela yang entah kenapa terbuka, membiarkan angin masuk dan membelai wajahnya yang linglung. Kembali merapatkan selimut, ia membiarkan dirinya teralihkan dalam gelap kamarnya.

"Lampunya mati, kapan aku mematikan?"

Bangkit dari tempat tidur, pemuda bersurai coklat itu berjalan terseok-seok untuk menggapai pintu, mengabaikan rasa sakit yang kembali menyengat. Ketika jemarinya baru saja menekan sakelar, Furihata mendengar suara bel yang ia yakini secara pasti berasal dari bel rumahnya. Tubuhnya langsung berjengit, badannya panas dingin.

'Apakah Seijuurou-kun?'

Langkahnya ia percepat, rasa sakit terlupakan dan dadanya berdegup kencang.

Seijuurou-kun.

Deg! Deg! Deg!

Apa benar Akashi mencarinya? Apa benar mimpi itu nyata?

Seijuurou-kun.

Deg! Deg! Deg!

'Bagaimana ini? Aku tidak siap tapi ingin bertemu. Aduh, aku malu. Ba-bajuku berantakan!'

Seijuurou-kun.

Sebentar lagi sampai, tinggal tiga langkah di depan pintu. Sebentar lagi ia akan bertemu Akashi. Sebentar lagi.

"Ya. Siapa- eh, Kuroko-kun. Ada apa?"

Badannya serasa langsung jatuh dari tulang, lemas. Yang di depannya bukan Akashi. Berarti yang tadi itu… jelas-jelas hanya mimpi. Akashi sudah tak menginginkannya lagi, ia sudah dibuang. Ya mana mungkin Akashi mau dengannya. Dari awal ia hanya mainan tidak mungkin menjadi pasangan.

'Haha, harapanmu Furihata.'


TBC

Jeng, jeng, jeng. Aku beneran gila ini, kenapa jadi super desperate dan bikin sakit hati begini ceritanya? *banting NB eh gk jadi ding.

Tapi yang pasti aku minnta maaf karena lagi-lagi lama update, kesibukan di RL mulai menggila. Dan maaf juga karena pendek banget tapi yaa inikan Cuma sambungan yang kemarin doang yang pasti ini menjelaskan kalo yang kemarin itu bukan mimpi doang. :D

Oh ya, Cafein sekarang lagi ngadain event parade lho buat AkaFuri ayo gabung biar kita ngeramain merah-coklat kita sama-sama. Namanya Cafein First Ever Event (CAFEE). Happy birthday buat Furi-chan walau ini telat sekali.


Balas untuk yang gk login:

306yuzu : iyaa makasih do'anya. :3. Ini masih mencoba buat Akafuri lagi semoga nanti sempat publish pas parade dan juga lebih bagus dari yang ini. /(^-^)\ Dan semoga aja si Bokushi mau akur sama Oreshi kayak yang kamu dan yang lain juga pengenin (ini ceritamu Di!)

Aoki: Ah makasih, direview sekaligus gk masalah kok saya tetap senang karena kamu mau mereview, . Iya soalnya kurang sreg sama KuroAkaFuri dan kurang sreg juga sama OTP saya. Dan makasih juga sarannya ya saya sangat berterimakasih, semoga yang ini sudah lebih baik dari sebelumnya.

Makasih buat review, fav dan follownya. Senengnya #peluk satu-satu .

Berkenan mereview lagi?

Review?